ASAS-ASAS ADMINISTRASI DALAM HUKUM ACARA
PERADILAN TATA USAHA NEGARA
TUGAS PAPER
OLEH :
FERY SETIAWAN
(21.01.0001 PM)
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PERTIBA PANGKALPINANG
2023
DAFTAR ISI
BAB 1..............................................................................................................................................3
PENDAHULUAN..........................................................................................................................3
Latar Belakang...........................................................................................................................3
BAB II.............................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.............................................................................................................................5
BAB III...........................................................................................................................................9
PENUTUP......................................................................................................................................9
Kesimpulan.................................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................10
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Rozali Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara adalah rangkaian
peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak, satu sama lain untuk
melaksanakan berjalannya peraturan Hukum Tata Usaha Negara (Hukum Administrasi Negara).
Dengan kata lain hukum yang mengatur tentang cara-cara bersengketa di Peradilan Tata Usaha
Negara serta mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam proses penyelesaian
sengketa tersebut.1 Peradilan Tata Usaha Negara merupakan salah satu pelaksana kekuasaan
kehakiman yang ditugasi untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa dalam bidang
Tata Usaha Negara. Peradilan Tata Usaha Negara ini diatur dalam Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang telah direvisi dengan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-
undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dan saat ini telah direvisi
kembali dengan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009. 2Pasal 4 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 9 Tahun 2004 Peradilan TUN Mengatur Bahwa Peradilan Tata Usaha Negara
Adalah Salah Satu Pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa
tata usaha negara. Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 1986 Peradilan Tun, pada pokoknya mengatur bahwa kekuasaan kehakiman di
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara dan
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dan berpuncak pada Mahkamah Agung sebangai
Pengadilan Negara Tertinggi.
Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di ibu kota Kabupaten/Kota, dan daerah
hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota. Sedangkan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
berkedudukan di Ibu kota Provinsi, dan daerah hukumnya meliputi wilayah Provinsi. Namun
1
Rozali Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Cetakan Ketiga, RajaGrafindo Persada,
Jakarta, 1994, hlm. 1-2
2
Keterangan Pemerintah di hadapan Sidang Paripurna DPR-RI mengenai RUU-PTUN, tanggal 29 April
1986, selanjutnya lihat Penjelasan Umum Angka ke-1 UU No. 5 Tahun 1986 PTUN. Lihat juga W. Riawan Tjandra,
Teori & Praktek Peradilan Tata Usaha Negara, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2010, hlm. 1.
demikan sampai dengan saat Pengadilan TUN belum terbentuk di tiap ibu kota Kabupaten/Kota,
dan Pengadilan Tinggi TUN juga belum terbentuk di tiap Ibu Kota Propinsi. Bahwa Pengadilan
TUN tingkat pertama maupun tingkat banding mengadili Sengketa TUN. Menurut Pasal 1 angka
10 Uu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Peradilan TUN, Sengketa
TUN adalah sengketa yang timbul dalam bidangTUN antara orang atau badan hukum perdata
dengan badan atau pejabat TUN baik di tingkat pusat maupun di daerah, sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan TUN termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian pengertian hukum acara peradilan TUN
adalah hukum yang mengatur tentang cara menyelesaikan Sengketa TUN antara orang atau
badan hukum perdata dengan badan atau pejabat TUN akibat dikeluarkannya keputusan TUN
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku.
Hukum Acara Peradilan TUN termuat dalam UU Peradilan TUN, karena UU Peradilan TUN
selain memuat aturan hukum tentang lembaga Peradilan TUN juga memuat tentang hukum acara
yang berlaku dalam Peradilan TUN.
Di tingkat Kejaksaan pun Hukum Tata Usaha Negara berlaku, yang mana dengan kuasa
khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara
atau pemerintah (vide Pasal 30 ayat (2) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan RI). Selain itu Kejaksaan juga dapat memberikan pertimbangan dalam bidang hukum
kepada instansi pemerintah lainnya (Pasal 34 UU Nomor 16 Tahun 2004). 3 Jaksa Agung Muda
Perdata dan Tata Usaha Negara (JAM DATUN) adalah unsur pembantu pimpinan dalam
melaksanakan tugas dan wewenang Kejaksaan di bidang perdata dan tata usaha negara (Pasal 23
ayat (1) dan Pasal 24 ayat (1) Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan RI sebagaimana diubah dengan Perpres Nomor 29 Tahun
2016). Salah satu tugas dan fungsi dari JAM DATUN adalah mewakili negara dan pemerintah
dalam hal ini badan atau pejabat tata usaha negara di dalam dan di luar pengadilan tata usaha
negara dalam rangka menjaga kewibawaan negara/pemerintah. Tugas dan fungsi ini
dilaksanakan oleh Direktorat Tata Usaha Negara pada JAM DATUN, Asisten Perdata dan Tata
Usaha Negara Kepala Seksi Tata Usaha Negara untuk tingkat Kejaksaan Tinggi dan Kepala
Seksi DATUN untuk tingkat Kejaksaan Negeri. 4
3
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI
4
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan RI
sebagaimana diubah dengan Perpres Nomor 29 Tahun 2016
BAB II
PEMBAHASAN
Hukum acara yang digunakan pada Peradilan Tata Usaha Negara mempunyai persamaan
dengan hukum acara yang digunakan pada Peradilan Umum untuk perkara perdata (Penjelasan
Umum angka (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara),
meskipun proses pemeriksaan di Peradilan Tata Usaha Negara memiliki kekhususan jika
dibandingkan dengan pemeriksaan di Peradilan Umum untuk perkara perdata. Kekhususan
hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara menurut Hadjon , terletak pada asas-asas yang
melandasinya yaitu5:
A. Asas Praduga Rechmatig (vermoeden van rechmatigheid)
Asas ini mengandung makna bahwa setiap tindakan penguasa selalu harus dianggap
sah/menurut hukum (rechmatig) sampai ada pembatalannya,
B. Asas Pembuktian Bebas
Hakim yang menetapkan beban pembuktian. Sistem pembuktian mengarah kepada
pembuktian bebas (vrijbewijs) yang terbatas. Menurut Pasal 107 UU Nomor 51 Tahun
2009 (UU Peradilan TUN hakim dapat menentukan apa yang harus dibuktikan, beban
pembuktian, beserta penilaian pembuktian, tetapi Pasal 100 menentukan secara limitatif
mengenai alat-alat bukti yang digunakan.
C. Asas Keaktifan Hakim
Maksudnya adalah untuk menyeimbangkan kedudukan para pihak dalam sengketa yaitu
Tergugat (Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara) dan Penggugat (Orang atau Badan
Hukum Perdata) Hakim berperan lebih aktif dalam proses persidangan, guna mencari
kebenaran materiil. Keaktifan hakim dapat ditemukan antara lain dalam ketentuan Pasal
63 ayat (2) butir a dan b, Pasal 80, Pasal 85, Pasal103 ayat (1), Pasal 107 UU Nomor 51
Tahun 2009 (UU Peradilan TUN). Asas keaktifan hakim secara prinsip memberikan
kewenangan yang luas kepada hakim Tata Usaha Negara dalam proses pemeriksaan
sengketa tata usaha negara menyangkut pembagian beban pembuktian dan penentuan hal-
hal yang harus dibuktikan. Konsekuensi dari keberadaan asas keaktifan hakim adalah
5
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
dimungkinkannya penerapan asas ultra petita yang pertama kali dituangkan dalam
Putusan MA Nomor : 5K/TUN/1992 tanggal 23 Mei 1991, yaitu tindakan hakim
menyempurnakan atau melengkapi objek sengketa yang diajukan para pihak kepadanya.
Lebih lanjut dengan mengutip van Buren, Marbun menyatakan bahwa Hakim
administrasi diberikan peran aktif karena hakim tidak mungkin membiarkan dan
mempertahankan tetap berlakunya suatu keputusan administrasi negara yang nyata keliru
dan jelas bertentangan dengan undang-undang yang berlaku, hanya karena alasan para
pihak tidak mempersoalkannya dalam objek sengketa. Sesuai dengan pasal 63 UU
PTUN, sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap pokok sengketa hakim mengadakan
rapat permusyawaratan untuk menetapkan apakah gugatan dinyatakan tidak diterima atau
tidak berdasar atau dilengkapi dengan pertimbangan (pasal 62 UU PTUN), dan
pemeriksaan persiapan untuk mengetahui apakah gugatan penggugat kurang jelas,
sehingga penggugat perlu untuk melengkapinya. Keaktifan hakim dimaksudkan untuk
mengimbangi kedudukan para pihak yang tidak berimbang, sebagaimana inti dari pasal
58, 63, ayat (1) dan (2), Pasal 80 dan Pasal 85 Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 1986.
D. Asas Putusan Pengadilan mempunyai kekuatan mengikat (erga omnes)
Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara mengikat secara publik, tidak hanya mengikat
para pihak yang bersengketa saja. Hal ini sebagai konsekuensi sifat sengketa tata usaha
negara yang merupakan sengketa hukum publik.
E. Asas Gugatan
Pada dasarnya tidak dapat menunda pelaksanaan KTUN yang dipersengketakan, kecuali
ada kepentingan yang mendesak dari penggugat sebagaimana terdapat pada pasal 67ayat
1dan ayat 4 huruf a.
F. Asas Kesatuan Beracara
Adalah asas kesatuan beracara dalam perkara sejenis baik dalam pemeriksaan di
peradilan judex facti, maupun kasasi dengan MA sebagai Puncaknya.
G. Asas Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka dan Bebas
Menurut Pasal b 24 UUD 1945 jo pasal 4 4 UU 14/1970, penyelenggaraan kekuasaan
kehakiman yang merdeka dan bebas dari segala macam campur tangan kekuasaan yang
lain baik secara langsung dan tidak langsung bermaksud untuk mempengaruhi
keobyektifan putusan peradilan.
H. Asas Sidang Terbuka Untuk Umum
Asas ini membawa konsekuensi bahwa semua putusan pengadilan hanya sah dan
mempunyai kekuatan hukum apabila di ucapkan dalam siding terbuka untuk umum (pasal
17 dan pasal 18 UU 14/1970 jo pasal 70 UU PTUN).
I. Asas Peradilan Berjenjang
Jenjang peradilan di mulai dari tingkat yang paling bawah yaitu Pengadilan Tata Usaha
Negara (tingkat pertama), kemudian Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (banding),
dan puncaknya (Kasasi) adalah Mahkamah Agung, dimungkinkan pula PK (MA).
J. Asas Pembuktian Bebas.
Hakim lah yang menetapkan beban pembuktian. Hal ini berbeda dengan ketentuan 1865
BW, seperti yang dijelaskan pada pasal 101, yang dibatasi dengan ketentuan Pasal 100.
K. Asas para pihak harus didengar (audi et alteram partem)
Asas para pihak harus didengar (audi et alteram partem) dan para pihak mempunyai
kedudukan yang sama.
L. Asas peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan ringan
Sebagaimana pasal 4 UU 14/1970, asas peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan
biaya ringan. Sederhana dalam hukum acara, cepat dalam waktu dan murah dalam biaya.
M. Asas putusan pengadilan mempunyai kekuatan mengikat (erga omnes)”
Sengketa TUN adalah sengketa hukum publik. Dengan demikian putusan pengadilan
berlaku bagi siapa saja-tidak hanya bagi para pihak yang bersengketa.
N. Asas pengadilan sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan keadilan
Asas pengadilan sebagai upaya terakhir (ultimum remidium)”, sengketa administrasi
sedapat mungkin diselesaikan melalui upaya administrasi (musyawarah mufakat), jika
belum puas, maka ditempuh upaya peradilan (Pasal 48 UU PTUN).
O. Asas Obyektivitas
Untuk tercapainya putusan yang adil, maka hakim atau panitera wajib mengundurkan
diri, apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga atau
hubungan suami atau istri meskipun telah bercerai dengan tergugat, penggugat atau
penasihat hukum atau antara hakim dengan salah seorang hakim atau panitera juga
terdapat hubungan sebagaimana yang di sebutkan di atas, atau hakim atau panitera
tersebut mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung dengan sengketanya,
sebagaimana penjelasan pasal 78 dan pasal 79 UU PTUN.6
6
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan dipaparkannya beberapa asas dalam melakukan peradilan tata usahan
negara diharapkan dapat menjamin hak hak warga negara indonesia sebagai pihak yang
akan melakukan acara dalam peradilan tata usaha negara. Dan dengan di jelaskannya asas
asas dalam beracara peradilan tata usaha negara diharapkan tuntutan akan kewajiban
pelaksana dan pihak pihak terkait dalam peradilan tata usaha negara dapat terkawal
dengan ketat. Sebagai bagian materi kuliah hukum peradilan tata usaha negara dapat
menjadi bagian materi yang dapat dimanfaatkan oleh akademisi sebagai bahan tambahan
untuk menjadi referensi tambahan. Dengan dipaparkannya materi diatas diharapkan
bermanfaat untuk pembaca dan terlebih kepada penulis sendiri sebagai bagian dari
masyarakat hukum yang bernaung di bawah pancasila dan peraturan dibawahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Rozali Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Cetakan Ketiga, RajaGrafindo
Persada, Jakarta, 1994, hlm. 1-2
Keterangan Pemerintah di hadapan Sidang Paripurna DPR-RI mengenai RUU-PTUN, tanggal 29
April 1986, selanjutnya lihat Penjelasan Umum Angka ke-1 UU No. 5 Tahun 1986 PTUN. Lihat
juga W. Riawan Tjandra, Teori & Praktek Peradilan Tata Usaha Negara, Universitas Atma Jaya
Yogyakarta, Yogyakarta, 2010, hlm. 1.
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kejaksaan RI sebagaimana diubah dengan Perpres Nomor 29 Tahun 2016
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara