BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan salah satu kunci sukses dalam dunia pendidikan.
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti bahwa
berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan secara optimal pada setiap
individu ditentukan dari bagaimana proses belajar yang dilakukan dan dialami.
Salah satu hal yang paling penting yang sangat mendukung berhasilnya siswa
dalam belajar yaitu bagaimana siswa membangkitkan semangat dan motivasi
untuk belajar. Sebagai upaya memperoleh pendidikan yang baik sesuai dengan
tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Dalam dunia pendidikan, motivasi belajar
merupakan salah satu hal penting.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang
tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak
menyentuh kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain, belum
tentu menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan
kebutuhannya.
Dengan adanya motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan
memiliki konsentrasi penuh dalam proses belajar pembelajaran. Dorongan
motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu di bangkitkan dalam
upaya pembelajaran di sekolah. Proses pembelajaran akan berhasil manakala
siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu
1
2
menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang
optimal, guru BK dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimiyanti & Mudjono
(2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang mendorong
terjadinya proses belajar”, lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada
hasil belajarnya. Menurut Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar
dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.
Motivasi belajar memegang peranan penting dalam menggairahkan dan
penyemangatan dalam belajar, sehingga peserta didik yang termotivasi kuat dan
memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Keberadaan motivasi
belajar yang optimal dapat memicu peserta didik agar berkeinginan dan
berkemauan untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tujuan pendidikan
yang diharapkannya dapat tercapai maksimal.
Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan guru BK MAN 1 Makassar
yang dilakukan pada tanggal 11 Maret 2017, bahwa beberapa siswa sering tidak
mengikuti pelajaran bahkan sering tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Dari
wawancara tersebut, juga diketahui beberapa siswa sering tidak mengerjakan
tugas yang diberikan guru. Hal tersebut juga diperkuat dari hasil belajar mereka
yang kurang memuaskan.
Hasil wawancara yang dilakukan kepada para siswa, diketahui bahwa
beberapa siswa mengaku berangkat sekolah hanya karena terpaksa disuruh orang
tua sehingga ketika di sekolah siswa tidak tertarik dengan apa yang di sampaikan
3
oleh guru, yang ada dipikirannya hanya kapan bel pulang sekolah berbunyi.
Bahkan ada beberapa siswa yang sering membolos karena malas mengikuti
pelajaran. Menurut pengakuan siswa kurangnya perhatian dan dukungan orang tua
menyebabkan siswa malas untuk belajar. Orang tua siswa juga tidak pernah
menyuruh siswa untuk belajar di rumah, sehingga siswa tidak pernah belajar di
rumah. Dari hasil wawancara tersebut juga diketahui bahwa beberapa siswa
mudah menyerah dan tidak mau belajar lagi ketika menghadapi kesulitan belajar,
dan saat ditanya mengenai cita-cita, mereka bingung menjawabnya. Hasil
observasi yang dilakukan di sekolah, diketahui hasil belajar beberapa siswa
nilainya dibawah rata-rata. Hal ini dilihat dari nilai raport mereka yang kurang
memuaskan karena untuk mencapai nilai standar kelulusan mereka harus
mengikuti ujian remidial. Selain itu saat pelajaran berlangsung beberapa siswa
terlihat ramai sendiri dan tidak memperhatikan guru. Beberapa siswa juga terlihat
sedang berada dikantin saat jam pelajaran.
Motivasi belajar rendah ini perlu penanganan. Salah satu teknik yang bisa
dilakukan yaitu teknik home room. Menurut Pietrofesa (Romlah, 2006), teknik
home room adalah teknik untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok
siswa diluar jam-jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan, dan dipimpin oleh
guru BK. Penggunaan teknik home room diharapkan lebih efektif membantu
permasalahan siswa. Karena, dengan teknik home room guru BK dapat
memberikan layanan tentang kebiasaan sehari-hari dalam belajar, cara-cara belajar
seperti cara mempelajari buku, membuat rangkuman, karangan membaca kamus,
juga masalah kelanjutan studi, pekerjaan dan cita-cita. Dengan dilakukannya
4
bimbingan kelompok dengan teknik home room, siswa dapat lebih terbuka dalam
mengemukakan masalahnya karena siswa merasa nyaman dalam kelompok
tersebut dan siswa akan merasa lebih santai seperti saat mereka bersama
keluarganya di rumah. Hal–hal semacam ini yang dapat memotivasi siswa untuk
menjadi lebih baik.
Alasan lain diberikannya teknik home room karena di sekolah ini belum
pernah menerapkan layanan tersebut dalam membantu memecahkan masalah
belajar siswa. Berdasarkan wawancara dengan guru BK, cara yang ditempuh oleh
guru untuk mengatasi masalah belajar siswa masih sangat kurang yaitu dengan
memberikan bimbingan klasikal dan jarang sekali memberikan bimbingan
individu/kelompok sehingga masalah yang dialami siswa kurang bisa dipahami
guru. Hal ini jelas akan berbeda apabila menerapkan teknik home room karena
siswa akan merasa nyaman dalam mengungkapkan masalahnya. Diterapkannya
layanan ini, diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan semangat
mengikuti pelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh Acik Citra Saptanti (2012)
tentang peningkatan motivasi belajar siswa melalui bimbingan kelompok dengan
menggunakan teknik home room pada siswa kelas VIII C SMP N 2 Pabelan
kabupaten Semarang tahun ajaran 2011/2012, menyimpulkan bahwa setelah
dilaksanakan layanan ini, motivasi belajar siswa meningkat. Dari studi
pendahuluan ini dan melihat hasil yang didapat, diharapkan layanan bimbingan
kelompok teknik home room lebih efektif dalam meningkatkan motivasi belajar
siswa.
5
Berdasarkan fenomena di sekolah yang siswa alami mengenai motivasi
belajar rendah maka peneliti mencoba mengkaji dalam kajian empirik dengan
judul “Penerapan Teknik Home Room untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa di MAN 1 Makassar”, dengan pertimbangan bahwa teknik home room
dapat menjadi alat bagi siswa untuk lebih memanfaatkan layanan bimbingan dan
konseling dan menjadi alternatif tambahan dalam pengembangan pelaksanaan
layanan bimbingan dan konseling di MAN 1 Makassar khususnya siswa yang
mengalami masalah motivasi belajar rendah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan dalam penelitian dirumuskan
sebagai berkikut:
1. Bagaimanakah tingkat motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar?
2. Bagaimanakah pelaksanaan teknik home room dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa di MAN 1 Makassar?
3. Apakah penerapan teknik home room dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa di MAN 1 Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai untuk mengetahui:
1. Tingkat motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar.
2. Pelaksanaan teknik home room dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di
MAN 1 Makassar.
3. Apakah penerapan teknik home room dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa di MAN 1 Makassar.
6
D. Manfaat Penulisan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau konstribusi
dalam :
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya
berkaitan dengan bimbingan dan konseling, utamanya dalam penggunaan
teknik home room.
b. Bagi Jurusan Psikologi pendidikan dan Bimbingan (PPB), sebagai masukan
bagi mahasiswa sebagai calon guru pembimbing dalam mengatasi berbagai
masalah siswa di sekolah.
2. Manfaat Praktis:
a. Bagi guru BK/konselor disekolah, sebagai masukan dalam penerapan teknik
home room untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh anak
bimbingannya.
b. Bagi siswa, sebagai informasi untuk membantu dirinya dalam mengatasi
masalah yang dihadapi, khususnya masalah yang berkaitan dengan motivasi
belajar rendah.
c. Bagi peneliti, sebagai bahan referensi bagi peneliti yang berminat mengkaji
permasalahan yang sejenis.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Bimbingan Kelompok
a. Pengertian Bimbingan Kelompok
Pelaksanaan bimbingan kelompok merupakan suatu layanan yang
memungkinkan sejumlah siswa secara bersama-sama melalui dinamika kelompok
memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu dan membahas secara
bersama-sama pokok bahasan tertentu yang berguna untuk menunjang
pemahaman dan kehidupan mereka sehari-hari.
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam
suasana kelompok. Menurut Gazda (Prayitno, 1995) bahwa:
Bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi
kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun
rencana dan keputusan yang tepat dan diselenggarakan untuk
memberikan informasi yang bersifat personal, vokasional, dan sosial.
Dengan demikian, jelas bahwa dalam bimbingan kelompok ialah
pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para anggota
kelompok.
Hallen (2005: 80-81) mengemukakan definisi dari bimbingan kelompok,
yaitu:
Bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang
memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui
dinamika kelompok memperoleh bahan baru dari narasumber
tertentu (terutama dari guru pembimbing) dan membahas secara
bersama-sama pokok bahasan tertentu yang berguna untuk
menunjang pemahaman dan kehidupan sehari-hari dan untuk
perkembangan dirinya sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan
8
untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan tindakan
tertentu.
Romlah (1989: 3) mengemukakan bahwa “bimbingan kelompok adalah
proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok”.
Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa
dan mengembangkan potensi siswa. Sedangkan menurut Nurihsan (2006: 23)
bimbingan kelompok adalah “bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam
situasi kelompok, bimbingan kelompok berupa penyampaian informasi atau
aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi
dan sosial”.
Berdasarkan paparan di atas maka bimbingan kelompok adalah proses
pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa dalam situasi kelompok.
Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa
dan mengembangkan potensi siswa. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagai
salah satu teknik bimbingan, bimbingan kelompok memiliki prinsip, kegiatan, dan
tujuan yang sama dengan bimbingan. Perbedaanya hanya terletak pada
pengelolaannya, yaitu dalam situasi kelompok.
b. Tujuan bimbingan kelompok
Tujuan bimbingan kelompok yaitu untuk membantu individu menemukan
dirinya sendiri, mengarahkan diri, dan dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
9
Tujuan bimbingan yang dikemukakan oleh Bennet (Romlah, 1989) yaitu:
1) Dengan bimbingan itu, diharapkan mampu memudahkan anak
didik memperoleh kesempatan belajar hal-hal penting yang
berguna bagi pengembangan dirinya yang berkaitan dengan
masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.
2) Selain itu juga dimaksudkan dengan bimbingan dapat memberikan
layanan penyembuhan melalui kegiatan kelompok dengan:
a) Mempelajari masalah-masalah manusia pada umumnya
b) Menghilangkan ketegangan-ketegangan emosi, menambah
pengertian mengenai dinamika kepribadian, dan mengarahkan
kembali energi yang terpakai untuk memecahkan masalah-
masalah tersebut dalam suasana yang permisif.
3) Untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan secara ekonomis dan
efektif daripada melalui kegiatan bimbingan individual.
4) Untuk melaksanakan layanan konseling individual secara lebih
efektif. Dengan memperlajari masalah-masalah yang umum
dialami oleh individu dan dengan meredakan atau menghilangkan
hambatan-hambatan emosional melalui kegiatan kelompok, maka
pemahaman terhadap masalah individu menjadi lebih mudah.
Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa hal yang paling penting
dalam kegiatan bimbingan kelompok pada umumnya yaitu bertujuan untuk
membantu siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok dan
bimbingan kelompok pada khususnya yaitu bertujuan melatih agar siswa berani
mengemukakan pendapat dihadapan teman-temannya, dapat bersikap terbuka
dalam kelompok, dapat mengendalikan diri dalam kegiatan diskusi kelompok,
dapat bertenggang rasa dengan orang lain, memperoleh keterampilan sosial, dan
membantu siswa untuk memahami dan mengenali dirinya dalam berhubungan
dengan orang lain.
Romlah (1989: 15-16) mengemukakan bahwa kegiatan bimbingan
kelompok masing-masing siswa dapat belajar berbagai hal sebagai berikut:
a) Siswa dapat memahami dan menghadapi masalah-masalah yang ril, dan
terhadap masalah-masalah yang dihadapinya secara objektif.
b) Siswa belajar teknik-teknik menganalisis masalah.
10
c) Siswa dapat menggunakan berbagai sumber informasi yang relevan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi.
d) Belajar memahami dan mengarahkan dorongan-dorongan dalam dirinya
kearah tindakan nyata siswa dapat bertanggung jawab atas setiap
tindakannya, sehingga siswa dapat mengambil keputusan sendiri tanpa
harus berpangku tangan pada orang lain.
e) Terjalinnya interaksi sosial yang baik, memudahkan siswa belajar bergaul
dengan orang lain di sekitarnya.
f) Belajar merumuskan rencana-rencana hidup jangka panjang.
g) Dengan kegiatan-kegiatan yang muncul dalam kelompok, maka siswa
dapat belajar membuat keseimbangan antara tujuan jangka panjang dan
tujuan jangka pendek.
h) Belajar membuat kriteria untuk memilih pengalaman-pengalaman belajar
yang sesuai dengan kebutuhannya.
i) Belajar merealisasikan rencana-rencana yang telah dibuat menjadi
tindakan-tindakan nyata.
j) Belajar menilai kemajuan yang telah dicapai dan merumuskan kembali
rencana-rencana serta tujuan-tujuan yang telah dibuat sesuai dengan
kebutuhan.
Romlah (1989:17) dengan memperhatikan tujuan bimbingan kelompok di
atas, dapat dikemukakan bahwa setelah para siswa selesai mengikuti bimbingan
kelompok, diharapkan para siswa akan berkembang sikap dan keterampilannya
sebagai berikut:
(1) Sikap tidak mau menang sendiri, tidak bermaksud menyenangkan
orang lain, tidak gegabah dalam berbicara, ingin membantu orang
lain, lebih melihat aspek positif dalam menanggapi teman-
temannya, sopan, bertenggang rasa, menahan dan mengendalikan
diri, mau mendengar pendapat orang lain, tidak memaksakan
pendapat sendiri, dan mendengar pendapat orang lain.
(2) Keterampilan mengemukakan pendapat pada orang lain,
menerima pendapat orang lain secara tepat dan positif.
c. Teknik-teknik bimbingan kelompok
Menurut Romlah (1989: 95) Menyatakan ada beberapa ”teknik bimbingan
kelompok yaitu pemberian informasi, diskusi kelompok, pemecahan masalah,
permainan peranan (Role Playing), permainan simulasi, karyawisata, dan Home
room”.
11
Adapun penjelasan mengenai teknik bimbingan kelompok menurut
Romlah (1989) antara lain :
1) Pemberian Informasi
Teknik pemberian informasi sering juga disebut dengan metode ceramah,
yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok
pendengar. Pelaksanaan teknik pemberian informasi mencakup tiga hal, yaitu
perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.
2) Diskusi kelompok
Diskusi kelompok adalah percakapan yang telah direncanakan antara tiga
orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk
memperjelas suatu persoalan, di bawah pimpinan seorang pemimpin.
3) Pemecahan masalah
Teknik pemecahan masalah merupakan suatu proses kreatif dimana
individu menilai perubahan yang ada pada dirinya dan lingkungannya, dan
membuat pilihan-pilihan baru, keputusan-keputusan atau penyesuaian yang
selaras dengan tujuan dan nilai hidupnya.
4) Permainan peran (role playing)
Permainan peranan adalah suatu alat belajar yang menggambarkan
keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan antar
manusia dengan jalan memerankan situasi-situasi yang paralel dengan yang terjadi
dalam kehidupan yang sebenarnya.
12
5) Permainan simulasi
Permaianan simulasi adalah permainan yang dimaksudkan untuk
merefleksikan situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan yang sebenarnya.
Permainan simulasi dapat dikatakan merupakan gabungan antara teknik
permainan peranan dan teknik diskusi.
6) Karyawisata
Karyawisata adalah kegiatan yang diprogramkan oleh sekolah untuk
mengunjungi objek-objek yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari
siswa, dan dilaksanakan untuk tujuan belajar secara khusus.
7) Home room
Kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok siswa diluar jam pelajaran
dalam suasana kekeluargaan dan dipimpin oleh guru atau konselor. Kegiatan
home room dapat dilakukan secara periodik, misalnya seminggu sekali. Dalam
kegiatan ini konselor sekolah dan siswa dapat lebih dekat, seperti dalam situasi
rumah.
d. Pelaksanaan bimbingan kelompok
Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok menurut Prayitno (1999: 40) ada
empat tahapan, yaitu:
1) Tahap I Pembentukan
Terdiri dari beberapa kegiatan antara lain adalah sebagai
berikut:
a) Mengungkapkan pengertian, tujuan kegiatan kelompok dalam
rangka bimbingan kelompok. Ini dilakukan agar masing-masing
13
anggota mengerti mengenai bimbingan kelompok dan kenapa
bimbingan kelompok dilaksanakan dan akhirnya membuat
masing-masing anggota akan melaksanakan proses ini dengan
lebih serius.
b) Menjelaskan cara dan aturan kegiatan kelompok. Dengan
memberikan penjelasan tentang hal ini agar masing-masing
anggota mengetahui aturan main yang akan diterapkan dalam
bimbingan kelompok tersebut.
c) Saling memperkenalkan diri, mengungkapkan diri, saling
mempercayai dan saling menerima, agar suasana kelompok
dapat terjalin menjadi lebih hidup. Sehingga tidak ada rasa
sungkan antara anggota kelompok yang satu dengan yang
lainnya, dan ditekankan dengan asas kerahasiaan.
d) Menentukan agenda kegiatan. Apabila agenda kegiatan
ditentukan dan disepakati secara bersama-sama, maka akan
memberikan suasana kebersamaan serta akan terjalin suasana/
hubungan yang lebih akrab.
2) Tahap II Peralihan
Tahap II terdiri dari beberapa kegiatan antara lain sebagai
berikut:
a) Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap
berikutnya.
14
b) Mengamati dan menawarkan apakah anggota kelompok sudah
siap memasuki tahap selanjutnya.
c) Membahas suasana yang terjadi.
d) Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.
e) Bila perlu kembali pada beberapa aspek tahap pertama.
3) Tahap III Kegiatan
Tahap III terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain sebagai
berikut:
a) Pemimpin kelompok mengungkapkan suatu masalah atau topik.
b) Tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok
tentang hal-hal yang belum jelas yang menyangkut masalah atau
topik yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok.
c) Anggota kelompok membahas masalah atau topik tersebut
secara mendalam sampai tuntas.
d) Kegiatan selingan.
4) Tahap IV Pengakhiran
Tahap pengakhiran terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain
sebagai berikut:
a) Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan
berakhir.
b) Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan
hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan.
c) Merencanakan kegiatan selanjutnya.
15
d) Mengemukakan pesan dan harapan.
e) Menghentikan kegiatan.
2. Home Room
a. Pengertian Home Room
Menurut Pietrofesa (Romlah, 2006), home room adalah teknik untuk
mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar jam-jam pelajaran
dalam suasana kekeluargaan, dan dipimpin konselor. Menurut Sukmadinata
(Romlah, 2006), home room adalah suatu program pembimbingan siswa dengan
cara menciptakan situasi atau hubungan bersifat kekeluargaan. Sedangkan
menurut Nursalim (2002: 57) “home room adalah suatu kegiatan bimbingan
kelompok yang dilakukan dalam ruangan atau kelas dalam bentuk pertemuan
antara konselor dengan kelompok untuk membicarakan beberapa hal yang
dianggap perlu terutama hal-hal atau masalah-masalah yang berhubungan dengan
pelajaran, masalah sosial, masalah tata tertib dan moral, cara berpakaian, atau
masalah-masalah lain di luar sekolah”.
Sedangkan menurut Salahudin (2010: 96-97) bahwa:
“Home room yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan
agar guru mengenal murid-muridnya lebih baik sehingga dapat
membantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan di dalam kelas
dalam bentuk pertemuan antara guru dan murid di luar jam-jam
pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu”.
Ahmadi dan Rohani (1991: 169) mengemukakan pendapatnya tentang
pengertian “teknik home room yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan
dengan tujuan agar guru dapat mengenal peserta didiknya lebih baik, sehingga
dapat membantunya secara efisien”. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas, dalam
16
bentuk pertemuan antar guru dengan murid di luar jam-jam pelajaran untuk
membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Dalam program ini home room
ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga
peserta didik dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah. Atau dengan kata
lain home room ialah membuat suasana kelas seperti dirumah. Dalam kesempatan
ini diadakan tanya jawab, menampung pendapat, merencanakan suatu kegiatan
dan sebagainya. Program home room dapat diadakan secara periodik (berencana)
atau dapat pula dilakukan sewaktu-waktu.
Mahmud A. dan Sunarty, (2012: 43) menyatakan bahwa “Home room
adalah teknik bimbingan kelompok berbentuk pertemuan dengan sekelompok
siswa di luar jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan yang dipimpin oleh
konselor. Fokus home room adalah terciptanya suasana yang penuh kekeluargaan
seperti suasana rumah yang menyenangkan agar siswa merasa aman dan dapat
mengungkapkan masalah-masalah yang tak dapat dibicarakan pada waktu jam
pelajaran bidang studi. Kegiatan home room mempunyai 2 fungsi, yaitu:
menyediakan program bimbingan yang sistematis dan proses penyaringan siswa-
siswa yang mempunyai masalah yang lebih mendalam yang perlu dikirim ke
konselor. Hal-hal yang dibicarakan dalam home room antara lain: pemilihan
lanjutan sekolah, pembagian kerja dalam kegiatan kelompok, pemilihan
pekerjaan, penggunaan waktu luang atau senggang dan perencanaan masa depan.
Masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam home room di teruskan ke konselor
untuk mendapatkan layanan lebih lanjut, baik berupa konseling individual atau
kegiatan kelompok lainnya. Waktu untuk melaksanakan kegiatan ini satu minggu
17
satu kali pertemuan atau dua minggu satu kali satu jam pelajaran dan
dirundingkan dengan kepala sekolah serta guru-guru lainnya atau menggunakan
jam-jam pelajaran yang lowong/kosong”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan
kelompok teknik home room adalah teknik penciptaan suasana kekeluargaan yang
digunakan untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar jam-
jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu terutama
hal-hal atau masalah-masalah yang berhubungan dengan pelajaran, kegiatan
sosial, masalah tata tertib dan moral, cara berpakaian, atau masalah- masalah lain
di luar sekolah.
b. Pelaksanaan Teknik Home Room
Menurut Nursalim (2002: 7) pelaksanaan teknik home room yaitu:
1) Konselor atau guru menyiapkan ruangan atau kelas yang
diperlukan dengan segala sarana dan prasarananya
2) Menghubungi siswa dari berbagai kelas dengan jumlah terbatas
untuk berkumpul
3) Konselor atau guru menjelaskan tujuan kelompok home room
dilaksanakan
4) Dialog terbuka antara konselor dan kelompok home room
dilaksanakan
5) Menyimpulkan hasil kegiatan
c. Ciri-ciri dan Tujuan Teknik Home room
Terdapat ciri-ciri dalam teknik home room, antara lain:
1) Bersifat kekeluargaan
2) Bersifat terbuka
3) Bebas
4) Menyenangkan
18
5) Berkelompok
Tujuan dari pelaksanaan teknik home room:
a) Mengidentifikasi masalah dan dapat membantu siswa mampu mengatasi
masalahnya
b) Menjadikan peserta didik akrab dengan lingkungan baru
c) Untuk memahami diri sendiri (mampu menerima kekurangan dan
kelebihan diri sendiri) dan memahami orang lain dengan (lebih) baik
d) Untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok
e) Untuk mengembangkan sikap positif dan kebiasaan belajar
f) Untuk menjaga hubungan sehat dengan orang lain
g) Untuk mengembangkan minat dan keterlibatan dalam kegiatan
ekstrakurikuler
h) Untuk membantu peserta didik dalam memilih bidang spesialisasi
d. Manfaat Teknik Home room
Dari tujuan-tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat teknik home
room bagi guru pembimbing yaitu guru dapat lebih mengenal dan memahami
siswa, guru juga dapat membangun hubungan yang akrab antara guru dengan
murid. Sedangkan bagi siswa yaitu menciptakan suasana yang akrab antara
sesama siswa sehingga tercipta suasana yang harmonis disekolah, prososial,
timbulnya rasa bekerja sama dan gotong royong.
Manfaat teknik home room juga tak jauh beda dengan bimbingan
kelompok, adapun manfaat bimbingan kelompok adalah adanya kesempatan untuk
berkontak dengan banyak siswa; memberikan informasi yang dibutuhkan oleh
19
siswa; siswa dapat menerima dirinya setelah menyadari bahwa teman-temannya
sering menghadapi persoalan, kesulitan, dan tantangan yang kerap kali sama;
siswa menyadari tantangan yang dihadapinya; lebih berani mengemukakan
pandanganya ketika berada dalam suatu kelompok; lebih menerima pandangan
atau pendapat yang dikemukakan oleh seorang teman dari pada yang diutarakan
oleh seorang konselor.
e. Cara Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Teknik Home room
Cara pelaksanaan bimbingan kelompok teknik home room menurut
Nursalim (2002: 7) yaitu:
1) Konselor/guru menyiapkan ruangan atau kelas yang diperlukan
dengan segala sarana dan prasarananya.
2) Menghubungi siswa dari berbagai kelas dengan jumlah terbatas
untuk berkumpul.
3) Konselor/guru menjelaskan tujuan kelompok home room
dilaksanakan.
4) Dialog terbuka antara konselor dan kelompok home room
dilaksanakan.
5) Menyimpulkan hasil kegiatan.
6) Dari cara pelaksanaan di atas dapat dijabarkan mengenai tahap-
tahap dalam bimbingan kelompok teknik home room,yaitu:
a) Pembentukan
(1)Konselor menyiapkan ruangan yang diperlukan dengan segala
sarana dan prasarana, kemudian menghubungi siswa dari
20
berbagai kelas dengan jumlah terbatas. Pemilihan siswa terbatas
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Selanjutnya,
konselor menjelaskan tujuan bimbingan kelompok teknik home
room dilaksanakan dan menjelaskan aturan bimbingan
kelompok teknik home room.
(2)Peralihan
(a)Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap
berikutnya pada kegiatan bimbingan kelompok teknik home
room.
(b)Mengamati dan menawarkan apakah anggota kelompok sudah
siap memasuki tahap selanjutnya.
(c)Membahas suasana yang terjadi.
(d)Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.
(e)Bila perlu kembali pada beberapa aspek tahap pertama.
(3)Kegiatan
(a)Pemimpin kelompok mengungkapkan suatu masalah atau topik.
(b)Tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok
tentang hal-hal yang belum jelas yang menyangkut masalah atau
topik yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok.
(c)Anggota kelompok membahas masalah atau topik tersebut
secara mendalam sampai tuntas.
(d)Kegiatan selingan.
21
(4)Pengakhiran
(a)Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan bimbingan
kelompok teknik home room akan segera berakhir,
mengemukakan pesan dan kesan, merencanakan kegiatan
selanjutnya serta menyimpulkan hasil kegiatan
3. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Nashar (Clayton, 2004), motivasi belajar adalah kecenderungan
siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk
mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.
Menurut Nurwahidah (Sardiman, 2004) menyatakan motivasi belajar
merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual, peranannya yang khas
dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Adanya motivasi dalam diri siswa akan membangkitkan semangat belajar bagi
siswa it u sendiri. Artinya bahwa bila seorang siswa mempunyai motivasi sukses
yang lebih kuat, maka ia akan mencari jalan keluar dari kesulitan yang
dihadapinya. Akan tetapi bila motivasi suksesnya itu lemah, maka ia cenderung
untuk mencari jalan pintas dan bahkan menempuh jalan yang sulit sebagai bentuk
pelarian dari masalah yang dihadapinya itu.
Menurut Donald (Islamuddin, 2011) mengatakan bahwa motivasi adalah
suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang di tandai dengan
timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Sedangkan
22
menurut Hamalik (Djamarah, 2011) menyatakan bahwa suatu perubahan energi
dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik.
Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang
mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai dengan segala upaya yang dapat
dia lakukan untuk mencapainya. Menurut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Depdikbud, 1988: 593) dinyatakan:
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang
sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan
tujuan tertentu atau usaha-usaha yang menyebabkan seseorang
atau sekelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu
karena ingin mencapai sesesuatu yang dikehendakinya atau
mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang
tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak
menentu kebutuhannya (Djamarah, 2011).
Belajar dan motivasi adalah dua hal yang saling mempengaruhi, belajar
akan maksimal dilakukan siswa jika dibarengi motivasi yang kuat baik dari dalam
diri sendiri maupun dari luar diri siswa. Ini sesuai dengan pendapat Dimiyanti &
Mudjono (2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang
mendorong terjadinya proses belajar”. Lemahnya motivasi belajar siswa akan
berdampak pada hasil belajarnya. Sementara Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi
belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan
kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai
tujuan”.
23
Menurut Maslow (Djamarah, 2011) kebutuhan dibagi menjadi 5 tingkatan
yaitu:
(i) kebutuhan fisiologis, (ii) kebutuhan akan perasaan aman, (iii) kebutuhan social,
(iv) kebutuhan akan penghargaan diri, (v) kebutuhan untuk aktualisasi diri.
kebutuhan fisiologis berkenan dengan kebutuhan pokok manusia seperti pangan,
sandang, perumahan, kebutuhan rasa aman berkenaan dengan perwujudan berupa
di terima oleh orang lain, jati diri yang khas, berkesempatan maju, merasa diikut
sertakan dan pemilikan harga diri, kebutruhan aktualisasi diri berkenaan
kebutuhan individu untuk menjadi sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.
Daruma, dkk (2002: 29) menjelaskan bahwa: Manifestasi dari siswa yang
kurang motivasi belajar dapat dilihat pada sejumlah gejala, yaitu:
1) Kelesuan dan ketidak berdayaan: malas, segan, lambat bekerja,
mengulur waktu, pekerjaan tidak selesai, kurang konsentrasi,
acuh tak acuh, apatis, keadaan jasmani kurang baik, mudah lupa,
pusing-pusing, mual dan mengantuk.
2) Penghindaran atau pelarian diri: absen dari sekolah, suka bolos
dan datang terlambat, tidak mencatat pelajaran, dan sebagainya.
3) Penentangan: kenakalan, suka mengganggu atau merusak, tidak
menyukai pelajaran atau kegiatan tertentu, mengeritik dan
berdalih.
4) Mencari kompensasi: mencari kesibukan lain di luar pelajaran,
mengerjakan tugas lain pada saat belajar, mendahulukan
24
pelajaran yang tidak penting.
Dari beberapa definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli mengenai
motivasi belajar maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi belajar
adalah usaha yang dilakukan seseorang karena adanya maksud serta tujuan
tertentu yang ingin dicapai. Sehingga motivasi selalu mendorong rasa ingin tahu
dan membangkitkan semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.
Adanya motivasi dalam diri siswa akan membangkitkan semangat belajar
bagi siswa itu sendiri. Artinya bahwa bila seorang siswa mempunyai motivasi
sukses yang lebih kuat, maka ia akan mencari jalan keluar dari kesulitan yang
dihadapinya. Akan tetapi bila motivasi suksesnya itu lemah, maka siswa
cenderung untuk mencari jalan pintas dan bahkan menempuh jalan yang sulit
sebagai bentuk pelarian dari masalah yang dihadapinya itu.
b. Tujuan motivasi belajar
Berdasarkan uraian pada latar belakang sampai pada pengertian motivasi
dan motivasi belajar, maka secara umum peneliti memandang bahwa motivasi
belajar memberikan tujuan untuk memberikan dorongan serta membangkitkan
semangat individu untuk melakukan suatu perubahan sesuai dengan harapan yang
diinginkan guna memperoleh hasil dan tujuan tertentu. Menurut Zaenuddin
(2008: 17) menjelaskan “tujuan motivasi menurut profesinya, bagi seorang
manajer, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan pegawai atau bawahan
dalam usaha meningkatkan prestasi kerjanya sehingga tercapai tujuan organisasi
yang dipimpinnya”. Bagi guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau
memicu para siswa agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan
25
prestasi belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan harapan yang
telah ditetapkan dalam kurikulum sekolah.
Sebagai calon pembimbing atau pendidik di sekolah mesti dibekali
kemampuan untuk bisa menjadi motivator bagi peserta didik. Sehingga siswa
dalam menuntut ilmu bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai tapi
bagaimana siswa mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam
kehidupan sehari-hari. Pendidik harus mampu mengenali karakter serta pribadi
peserta didiknya sehingga dalam proses belajar mengajar berlangsung secara
menyenangkan baik untuk peserta didik maupun pendidik.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang
terhadap suatu objek terdiri atas dua faktor yaitu faktor dari dalam diri seseorang
dan faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Begitupun faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar siswa dipengaruhi faktor dari dalam dan dari luar
diri siswa.
Djamarah (2011: 115) mengklasifikasikan faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar yaitu:
a) motivasi intrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri
setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Sebagai contoh orang yang senang membaca. b) motivasi
ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif berfungsinya karena ada
rangsangan dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar
untuk mendapat nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacar atau
temannya.
26
Untuk melakukan kegiatan baik belajar maupun bekerja motivasi sangat
mempengaruhi hasil yang diperoleh dari setiap usaha. Antara motivasi yang satu
dengan yang lainnya saling mempengaruhi seperti motivasi ekstrinsik mempunyai
peranan penting untuk menimbulkan motivasi intrinsik.
Adapun ciri-ciri motivasi intrinsik menurut Winkel (1989: 4) diantaranya
sebagai berikut:
a) Keseriusan dalam belajar
b) Belajar karena ingin memecahkan masalah
c) Belajar untuk mengetahui mekanisme sesuatu berdasarkan
hukum dan rumus
d) Belajar demi mencapai cita-cita dan impian pada intinya
motivasi adalah dorongan untuk mencapai tujuan.
Dapat diketahui bahwa dengan adanya keinginan yang kuat bisa memicu
dorongan yang tumbuh dari dalam diri seseorang. Ciri motivasi ekstrinsik
menurut Winkel ( 1989: 94) :
1) Belajar demi memenuhi kewajiban
2) Belajar demi menghindari hukuman
3) Belajar demi memperoleh hadiah material yang disajikan
4) Belajar demi meningkatkan gengsi
5) Belajar demi peroleh pujian dari orang yang penting seperti
orang tua dan guru.
6) Belajar demi memperoleh tuntutan jabatan yang ingin
dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan
pangkat atau golongan administrasi.
d. Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar
Menurut Djamarah (2011: 158), Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat
di manfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai
berikut :
1) Memberi angka
Angka di maksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas
belajar anak didik.
27
2) Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai
penghargaan atau kenang-kenangan/cindera mata.
3) Kompetisi
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk
mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar.
4) Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras
dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk
motivasi yang cukup penting.
5) Memberi ulangan
Ulangan biasa di jadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya
mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi
ulangan. Ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi
anak didik agar lebih giat belajar.
6) Mengetahui hasil
Belajar biasa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil,
anak didik terdorong untuk belajar lebih giat.
7) Pujian
Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan
motivasi yang baik.
28
8) Hukuman
Meski hukuman sebagai reinsforcement yang negative, tetapi bila
dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik
dan efektif.
9) Hasrat untuk belajar
Berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat untuk
belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar,
sehingga sudah tentu hasilnya akan lebih baik dari pada anak didik yang
tak berhasrat untuk belajar.
10) Minat
Adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa aktivitas.
11) Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan
alat motivasi yang sangat pening.
e. Upaya meningkatkan motivasi belajar
Menurut Djamarah (2011: 168), ada 4 fungsi guru sebagai pengajar yang
berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivsi belajar anak
didik, yaitu:
1) Menggairahkan anak didik
Sebagai seorang guru, harus memelihara minat anak didik dalam
belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk
29
berpindah dari satu aspek ke aspek lain pelajaran dalam situasi
belajar
2) Memberikan harapan realistik
Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang
realistic dan memodifikasi harapan-harapan yang tidak realistis
3) Memberikan insentif
Bila anak didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan
memberikan hadiah kepada anak didik (dapat berupa pujian atau
angka yang baik), atas keberhasilannya, sehingga anak didik
terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai
tujuan-tujuan pengajaran.
4) Mengarahkan perilaku anak didik
Mengarahkan perilaku anak didik adalah tugas guru. Di sini
kepada guru dituntuk untuk memberikan respon terhadap anak
didik yang tak terlibat langsung dalam kegiatan belajar dikelas.
B. KERANGKA PIKIR
Motivasi belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang karena adanya
maksud serta tujuan tertentu yang ingin dicapai. Sehingga motivasi selalu
mendorong rasa ingin tahu dan membangkitkan semangat untuk melakukan
sesuatu yang lebih baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimiyanti & Mudjono
(2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang mendorong
terjadinya proses belajar”, Lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada
30
hasil belajarnya. Menurut Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar
dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.
Fakta di lapangan, tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang
tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan kepada guru
BK dan beberapa siswa di MAN 1 Makassar, diketahui bahwa beberapa siswa
malas mengikuti kegiatan belajar mengajar disekolah, siswa sering bolos, mudah
menyerah dan tidak mau belajar lagi ketika menghadapi kesulitan belajar, dan
belum memiliki orientasi masa depan atau cita-cita yang jelas, sehingga prestasi
belajarnya masih kurang memuaskan.
Solusi yang diberikan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah
dengan memberikannya teknik home room dengan materi tentang motivasi
belajar. Metode ini dirasa cukup efektif karena dalam teknik home room yang
ditekankan adalah suasana kekeluargaan, seperti suasana rumah yang
menyenangkan dan akrab, sehingga, siswa merasa aman dan nyaman sehingga
dapat mengungkapkan masalah-masalah yang tak dapat dibicarakan dalam kelas
pada waktu jam pelajaran bidang studi. Dengan terciptanya suasana kekeluargaan
dalam teknik home room, masalah motivasi belajar siswa dapat terselesaikan
karena siswa tidak canggung dalam mengungkapkan masalahnya kepada anggota
lain sehingga akan terjadi disuksi mengenai materi yang sudah ditentukan
sebelumnya yaitu mengenai motivasi belajar yang akan membuat siswa mengerti
dan sadar akan pentingnya motivasi belajar. Dalam teknik home room juga akan
tercipta komitmen antar anggota kelompok, sehingga tidak ada lagi sikap tertutup
31
dari masing-masing anggota kelompok. Disisi lain, guru BK belum pernah
menerapkan teknik home room dalam penyelesaian masalah siswa, khususnya
dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Melihat kenyataan tersebut dengan
diterapkannya teknik home room, diharapkan dapat memberikan solusi mengatasi
permasalahan yang dihadapi siswa.
Memberikan teknik home room berarti memberikan variasi metode dalam
pemecahan masalah siswa sehingga masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan
layanan yang sudah dilakukan sebelumnya dapat diselesaikan dengan teknik home
room. Jika siswa sudah mempunyai motivasi belajar yang tinggi siswa akan lebih
rajin dalam belajar.
32
Berdasarkan penjelasan sebelumya, adapun skema kerangka pikir sebagai
berikut:
Motivasi belajar siswa rendah
a. Siswa malas mengikuti kegiatan belajar mengajar
di sekolah
b. Siswa sering bolos
c. Mudah menyerah dan tidak mau belajar lagi
ketika menghadapi kesulitan belajar
d. Belum memiliki orientasi masa depan atau cita-
cita yang jelas
Penerapan teknik home room
a. Membangun suasana kekeluargaan
b. Diskusi/dialog terbuka
c. Feedback
Motivasi belajar siswa meningkat
a. Siswa rajin mengikuti kegiatan belajar mengajar
di sekolah
b. Siswa tidak bolos lagi
c. Siswa tidak mudah menyerah dan mampu
menghadapi kesulitan belajar
d. Siswa memiliki orientasi masa depan atau cita-
cita yang jelas
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
C. HIPOTESIS
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir, yang telah diuraikan di
atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Teknik home room dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 MAKASSAR”
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Menurut Sugiyono (2015: 14) metode penelitian kuantitatif adalah sebagai
metode penelitian yang berlandaskan pada hubungan gejala yang bersifat sebab
akibat, terukur, dan teramat. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
pendekatan eksperimen yang bersifat kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan
disini adalah Pre-Experimental, yang akan mengkaji tentang penerapan teknik
home room untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Di MAN 1 Makassar. Desain
yang digunakan adalah Pre-Experimental.
B. Variabel dan Desain Penelitian
Penelitian ini mengkaji dua variabel, yaitu independent variable (variabel
bebas) dan dependent variable (variabel terikat). Penerapan teknik Home Room
sebagai variabel bebas (X) atau yang mempengaruhi (independent variable), dan
motivasi belajar sebagai variabel terikat (Y) atau yang dipengaruhi (dependent
variable). Desain eksperimen yang digunakan adalah one group pretest-posttest
design yang dapat digambarkan sebagai berikut :
O1 X O2
Gambar 3.1 Desain Penelitian
Keterangan :
O1 : pengukuran pertama sebelum diberi perlakuan (pre-test)
X : treatment atau perlakuan ( teknik home room )
O2 : pengukuran kedua setelah diberi perlakuan (post-test)
(Sugiyono, 2015: 111)
Prosedur pelaksanaan penelitian yaitu mulai dari tahap perencanaan,
pretest, pemberian perlakuan berupa teknik home room, kemudian posttest.
Adapun prosedur pelaksanaan sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah, yakni menentukan subjek eksperimen yaitu siswa
yang mengalami motivasi belajar rendah.
2. Pelaksanaan pretest terhadap subjek eksperimen berupa pemberian angket
penelitian yang berisi daftar item pernyataan tentang motivasi belajar.
3. Pemberian perlakuan berupa pemberian teknik home room dalam bentuk
layanan bimbingan kelompok.
4. Pelaksanaan posttest terhadap subjek eksperimen berupa pemberian
angket penelitian yang berisi item pernyataan tentang motivasi belajar
setelah diberi perlakuan. Pemberian angket ini serupa halnya dengan yang
diberikan saat pretest.
5. Menerapkan analisis statistik yang sesuai, dalam hal ini untuk mengetahui
pengaruh penerapan teknik home room untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa dengan menggunakan uji Wilcoxon kemudian memberikan
tafsiran atau interpretasi atau memberi makna dari hasil pengujian
statistik.
C. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan batasan-batasan digunakan untuk
menghindari perbedaan interpretasi terhadap variabel yang diteliti dan sekaligus
menyamakan persepsi tentang variabel yang dikaji, maka dikemukakan definisi
operasional variabel penelitian sebagai berikut :
1. Motivasi belajar adanya dorongan rasa ingin tahu dan membangkitkan
semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Adapun kriteria dalam
motivasi belajar yaitu keseriusan dalam belajar, belajar karena ingin
memecahkan masalah, belajar demi mencapai cita-cita, dan belajar demi
memenuhi kewajiban.
2. Teknik home room adalah teknik penciptaan suasana kekeluargaan yang
digunakan untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar
jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu
terutama hal-hal atau masalah-masalah yang berhubungan dengan
pelajaran, kegiatan sosial, masalah tata tertib dan moral, cara berpakaian,
atau masalah- masalah lain di luar sekolah.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Sugiyono (2015: 80) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan
populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Peneliti memberikan angket
tentang motivasi belajar siswa pada kelas X IIS 1, X IIS 2, X IIS 3, dan X IIS 4,
sebanyak 50 orang. Hasil analisis angket tersebut diperoleh 30 orang siswa yang
memiliki motivasi belajar rendah, dan 20 sisanya termasuk dalam kategori tinggi.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti ingin meningkatkan motivasi belajar
siswa, jadi dalam penarikan populasi saya hanya mengambil 30 siswa yang akan
menjadi subjek penelitian yang akan diteliti. Berikut data sebelum penetuan
populasi dan setelah penyebaran populasi sebagai berikut:
Tabel 3.2 Data Sebelum Penentuan Populasi di MAN 1 Makassar
Interval Kategori F P(%)
127–150 Sangat tinggi 10 20%
103–126 Tinggi 10 20%
79–102 Sedang - -
55–78 Rendah 30 60%
30 –54 Sangat rendah - -
Jumlah 50 100%
Tabel 3.3 Data Penyebaran Populasi Penelitian
NO Kelas Jumlah Siswa
1 X IIS 1 8
2 X IIS 2 8
3 X IIS 3 7
4 X IIS 4 7
TOTAL 30
Sumber : Hasil Perolehan Angket
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Jadi dapat dikatakan sampel merupakan wakil populasi yang
diteliti. Dari jumlah populasi sebanyak 30 siswa di kelas X IIS 1, 2 3, dan 4, ada
10 siswa yang teridentifikasi mengalami motivasi belajar rendah. Adapun teknik
sampling yang digunakan adalah purposive sampling dimana subjek penelitian
diambil dengan pertimbangan berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru
pembimbing yaitu ibu Mikiawati [Link] sebelum penelitian di MAN 1 Makassar,
terdapat siswa yang teridentifikasi mengalami motivasi belajar yang rendah
dengan indikasi seperti tingkah laku siswa malas mengikuti kegiatan belajar
mengajar di sekolah, siswa sering bolos, mudah menyerah dan tidak mau belajar
lagi ketika menghadapi kesulitan belajar, belum memiliki orientasi masa depan
atau cita-cita yang jelas. Adapun menurut Sugiyono (2015: 132) “untuk penelitian
eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan
kelompok control maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s/d 20”.
Sependapat dengan Prayitno (1999: 70) “perbandingan aspek-aspek dalam
bimbingan kelompok dapat dikelompokkan berdasarkan anggota yang dibatasi 10-
50 orang”.
Tabel 3.4 Penyebaran Siswa Yang Menjadi Sampel Penelitian Kelompok
Eksperimen
NO Kelas Banyaknya siswa
1 X IIS 1 2
2 X IIS 2 2
3 X IIS 3 3
4 X IIS 4 3
TOTAL 10
Sumber : Guru BK MAN 1 Makassar Tahun 2016-2017
E. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data sangat dibutuhkan dalam penelitian, sebab
dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan oleh
kualitas alat pengumpulan data yang cukup valid.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Bahan Perlakuan
Bahan perlakuan berupa skenario teknik home room, yang sesuai dengan
tahap-tahap bimbingan kelompok. Kegiatan ini terbagi dalam 5 pertemuan
termasuk pre-test dan post-test. Adapun tahap penerapan teknik home room dalam
bimbingan kelompok terbagi menjadi 3 tahap yang dideskripsikan sebagai
berikut:
a. Membangun suasana kekeluargaan
b. Melakukan diskusi/dialog terbuka
c. Feedback
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data sangat dibutuhkan dalam penelitian, sebab
dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan oleh
kualitas alat pengumpulan data yang cukup valid.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Teknik Angket (kuesioner)
Teknik pengumpulan data sangat di butuhkan dalam penelitian, sebab
dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan kualitas
alat pengumpulan data yang cukup valid. Instrument ini diberikan dan diedarkan
kepada subjek eksperimen untuk memperoleh gambaran tentang motivasi belajar
siswa, baik pada saat pre-test maupun post-test setelah diberikan perlakuan berupa
teknik home room. Menurut Sugiyono (2015: 134) “Skala likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena sosial”. Setiap item pertanyaan yang diberikan dilengkapi dengan
jawaban dengan lima pilihan dengan pembobotan rentang 1 sampai 5 yaitu, untuk
item positif Jawaban SS bobotnya 5, Jawaban S bobotnya 4, Jawaban CS
bobotnya 3, Jawaban KS bobotnya 2, Jawaban TS bobotnya 1, Sedangkan untuk
item negatif pilihan jawaban SS bobotnya 1, Jawaban S bobotnya 2, jawaban CS
bobotnya 3, jawaban KS bobotnya 4, dan jawaban TS bobotnya 5.
Tabel 3.5 Pembobotan Angket Penelitian
Kategori
Pilihan Jawaban
Favorable Unfavorable
Sangat Sesuai (SS) 5 1
Sesuai (S) 4 2
Cukup Sesuai (CS) 3 3
Kurang Sesuai (KS) 2 4
Tidak Sesuai (TS) 1 5
Sebelum angket digunakan untuk penelitian lapangan, angket terlebih
dahulu diuji dilapangan terbatas untuk mengetahui validitas dan realibilitasnya.
1) Uji Validitas
Uji validitas rasional bertujuan mengetahui tingkat kelayakan instrumen
dari segi bahasa, konstruk dan isi. Penimbangan atau uji validitas rasional
dilakukan oleh dosen ahli dan pengolahan computer program SPSS 20,00.
Ditemukan bahwa dari 40 item pernyataan, yang tidak valid sebanyak 10 item
disebabkan nilai r yang diperoleh < (lebih kecil atau kurang) dari 0,3 yaitu item
nomor 1 (0,052 ), nomor 2 (-0,158), nomor 4 (0,070), nomor 5 (0,155), nomor 13
(0,200), nomor 16 (0,272), nomor 22 (0,053 ) nomor 25 (-0, 085), nomor 28
(0,281), nomor 31 (0,242) sehingga jumlah item setelah uji validitas sebanyak 30
item pernyataan. Hasil pengujian validitas dapat dilihat pada lampiran 8.
2) Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas adalah suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang
baik apabila alat ukur tersebut dapat memberikan skor yang relatif sama pada
seorang responden, jika responden tersebut mengisi angket pada waktu yang
tidak bersamaan atau pada tempat yang berbeda, walaupun harus memperhatikan
adanya aspek persamaan karakteristik. Dalam penentuan tingkat reliabilitas suatu
instrumen penelitian dapat diterima apabila memiliki koefisien alpha lebih besar
dari 0,60. Sehingga instrumen penelitian ini dikatakan reliabel karena memiliki
koefisien alpha > 0,60 sesuai yang dikemukakan oleh Nugroho & Suyuthi
(Sugiyono, 2015). Sehingga instrument penelitian ini dikatakan reliabel karena
memiliki koefisien alpha > 0,60 yaitu 0,856. Hasil penguji reliabilitas item secara
lengkap dapat dilihat pada lampiran 8.
b. Teknik Observasi
Teknik observasi dibuat oleh peneliti yang digunakan untuk mengetahui
partisipasi siswa selama mengikuti bimbingan kelompok dengan menggunakan
teknik home room, melalui pengamatan langsung terhadap kelompok penelitian.
Cara penggunaannya dengan cara memberi tanda cek (√) pada setiap aspek yang
muncul. Adapun kriterianya ditentukan sendiri oleh peneliti berdasarkan
persentase dilakukan pada waktu pengamatan. Persentase kemunculan setiap
aspek pada setiap kali pertemuan latihan dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
nm
Analisis Individual = × 100%
N
Nm
Analisis Kelompok = × 100%
P
(Abimanyu, 1983: 26)
Dimana:
nm : Jumlah item yang tercek dari satu siswa
N : Jumlah item dari seluruh aspek yang diobservasi
Nm : Jumlah cek pada item aspek tertentu yang tercek dari seluruh siswa
P : Jumlah siswa
Kriteria untuk penetuan hasil observasi dibuat berdasarkan hasil analisis
persentase individu dan kelompok yaitu nilai tertinggi 100% dan terendah 0%
sehingga diperoleh kriteria sebagai berikut:
Tabel 3.6 Kriteria Penentuan Hasil Observasi
Persentase Kriteria
80%-100% Sangat tinggi
60%-79% Tinggi
40%-59% Sedang
20%-39% Rendah
0%-19% Sangat rendah
F. Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian dimaksudkan untuk menganalisis data hasil tes
penelitian berkaitan dengan motivasi belajar siswa, teknik analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriftif dan non parametric Wilcoxon Signed Ranks
Test (Z).
1. Analisis Statistik Deskriftif
Analisis statistik deskriftif dimaksudkan untuk menggambarkan motivasi
belajar pada siswa MAN 1 Makassar sebelum dan sesudah perlakuan berupa
pemberian Teknik home room, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi
dan persentase dengan rumus persentase, yaitu :
(Tiro, 2004: 242)
Dimana :
P : Persentase
f : Frekuensi yang dicari persentase
N : Jumlah subyek (sampel)
Guna memperoleh gambaran umum tentang motivasi belajar siswa di
MAN 1 Makassar sebelum dan sesudah perlakuan berupa teknik home room,
maka untuk keperluan tersebut, dilakukan perhitungan rata-rata skor variabel
dengan rumus:
(Hadi, 2004: 40)
Dimana:
: Mean (rata-rata)
Xi : Nilai X ke i sampai ke n
N : Banyaknya subjek
Guna memperoleh gambaran umum tentang tingkat motivasi belajar siswa
di MAN 1 Makassar sebelum dan sesudah perlakuan, dilakukan dengan
mengetahui skor ideal tertinggi 150 (30 x 5 = 150), kemudian dikurang dengan
skor ideal terendah yaitu 30 (30 x 1 = 30), selanjutnya dibagi 5 kelas interval
sehingga diperoleh interval kelas 24.
Adapun kategorisasi tingkat motivasi belajar pada siswa yaitu:
Tabel 3.7 Kategorisasi Tingkat Motivasi Belajar Siswa
Interval Kategori
127–150 Sangat tinggi
103–126 Tinggi
79–102 Sedang
55–78 Rendah
30 –54 Sangat rendah
Sumber: Berdasarkan Hasil Perhitungan Skor Ideal
2. Uji hipotesis
Untuk menguji hipotesis penelitian mengenai perbedaan tingkat motivasi
belajar sebelum dan sesudah perlakuan berupa teknik home room dalam
bimbingan kelompok dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan
statistik Z (non parametrik). Dalam pengujian taraf kesalahan ditetapkan sebesar
0,05%.
Uji nonparametrik Wilcoxon Signed Ranks Test digunakan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Hipotesis statistic yang diajukan sebagai berikut :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
Taraf signifikansi yang digunakan 0,05 dengan kriteria adalah( H0) ditolak
jika Z (hitung) ≤ Z ( tabel) atau sign (2 tailed) > dari 0,05 dan (H0) diterima jika Z
(hitung) ≥ Z (tabel) atau sign (2 tailed) < dari 0,05 (Kariadinata, 2012). Hal ini
berarti terdapat perbedaan motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah pemberian
teknik home room, ini berarti penerapan teknik home room dianggap dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar. Data tersebut diolah
melalui komputer program SPSS seri 20,00.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Pre-Experimental yang dilakukan
terhadap 10 orang siswa mengenai penerapan teknik home room untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar. Hasil penelitian
tersebut akan dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif untuk
menggambarkan tingkat motivasi belajar siswa sebelum (pretest) dan sesudah
(posttest) diberi perlakuan, dan analisis non parametric (Uji Wilcoxon Signed
Rank Test) untuk menguji hipotesis penelitian tentang penerapan teknik home
room untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar adalah
sebagai berikut:
1. Gambaran Tingkat Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar
Berdasarkan hasil penyebaran angket tanggal 21 Agustus 2017 sebagai
pengambilan data awal penelitian di MAN 1 Makassar pada kelas X IIS 1, 2, 3,
dan 4 atas rekomendasi guru bimbingan dan konseling terdapat 30 siswa diketahui
diantaranya 10 siswa dalam kategori sedang dengan persentase 33,3%, 20 siswa
dalam kategori rendah dengan persentase 66,7% dalam indikator motivasi belajar.
Peneliti menyebarkan angket motivasi belajar pada 30 siswa pada kelas X IIS 1, 2,
3, dan 4, atas rekomendasi guru BK yakni kelas tersebut merupakan kelas yang
memiliki kriteria motivasi belajar rendah. Hasil pengambilan data awal tentang
motivasi belajar di MAN 1 Makassar, berikut disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel 4.1. Data Tingkat Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar
Interval Kategori F P(%)
127-150 Sangat Tinggi - -
103-126 Tinggi - -
79-102 Sedang 10 33,3%
55-78 Rendah 20 66,7 % -
30-54 Sangat Rendah - -
Jumlah 30 100 %
Sumber: Hasil angket penelitian
2. Gambaran Pelaksanaan Penerapan Teknik Home Room Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar
Pelaksanaan teknik home room yang diberikan kepada kelompok
eksperimen yang berlangsung selama 5 kali pertemuan (lihat daftar lampiran).
Adapun rincian kegiatan sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan
Persiapan dilakukan satu minggu sebelum pelaksanaan kegiatan yaitu pada
tanggal 14 Agustus 2017. Dalam tahap ini peneliti menyiapkan segala sesuatu
yang dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik home room. Adapun kegiatan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan bahan/media yaitu:
a) Menyiapkan angket, pedoman observasi, bahan informasi, lembar evaluasi.
b) Menetapkan waktu pelaksanaan kegiatan yang telah disepakati oleh guru
BK yang akan digunakan untuk kegiatan ini.
c) Menghubungi siswa dari berbagai kelas dengan jumlah terbatas untuk
berkumpul.
2) Menata setting pertemuan
a) Tempat : Pelaksanaan teknik home room ini dilaksanakan dalam
ruangan atau kelas yang diperlukan dengan segala sarana
dan prasarananya
b) Perlengkapan : Meja, kursi, dan alat tulis
c) Waktu : kegiatan ini dilaksanakan dengan waktu 60 menit
b. Tahap pelaksanaan kegiatan
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada tanggal 21
Agustus 2017 sampai tanggal 20 September 2017. Pada setiap pelaksanaan teknik
home room telah dijadwalkan sebelumnya pada saat pertemuan awal dengan
siswa. Selama pelaksanaan teknik home room peneliti sebagai konselor bertindak
sebagai fasilitator dalam kegiatan ini. Penelitian ini dilakukan dalam 5 kali
pertemuan.
Adapun proses penelitiannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Tahap Permulaan
Pretest dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2017, peneliti melakukan
pertemuan dengan konselor di ruangan BK di MAN 1 Makassar untuk
menentukan 10 siswa yang akan menjadi subyek dalam pelaksanaan teknik home
room tersebut. Sebelum peneliti melakukan teknik home room, guru BK sekolah
terlebih dahulu memperkenalkan peneliti pada siswa, menjelaskan maksud dan
tujuan kedatangan peneliti, serta menjelaskan tujuan dikumpulkannya siswa
tersebut di ruang kelas. Pada pertemuan ini peneliti membangun rapport dengan
siswa selanjutnya peneliti dan siswa saling memperkenalkan diri.
Setelah perkenalan selesai peneliti kemudian memberikan penjelasan
kepada siswa tentang pentingnya mengikuti kegiatan teknik home room secara
berkesinambungan agar masalah bagi siswa yang motivasi belajarnya rendah
dapat meningkat. Ditempat itu, peneliti meminta kesediaan dan kesanggupan
siswa, dan dengan semangat siswa-siswa tersebut menyatakan sanggup dan
bersedia mengikuti bimbingan kelompok dengan teknik home room mulai tes
awal atau pretest hingga pada akhir pertemuan dan diadakan tes ulang atau
posttest.
Sebelum peneliti membagikan angket motivasi belajar, peneliti
menjelaskan tujuan pengisian angket guna mengetahui tingkat motivasi belajar
siswa sebelum diberikan teknik home room. Selanjutnya peneliti
menginstruksikan kepada siswa untuk jujur dan teliti dalam mencentang item-item
pernyataan dalam angket.
Setelah merasa cukup penjelasan, peneliti membagi angket kepada 10 siswa
sebagai subyek penelitian yang diketahui memiliki kategori mengalami motivasi
belajar rendah dan mempersilahkan siswa untuk mengisinya selama 30 menit.
Setelah diisi peneliti mengumpulkan angket tersebut dan mengakhiri pertemuan
dengan mengucapkan terima kasih dan membicarakan tahap selanjutnya.
2) Tahap Peralihan
Pada tahap ini dijelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap
berikutnya. Setelah itu mengamati apakah para anggota apakah sudah siap
menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya dan membahas kembali suasana yang
terjadi, hal ini dilakukan untuk menarik dan memantapkan keikutsertaan peserta
untuk melanjutkan kegiatan. Para peserta menjawab semua dan secara kompak
bahwa mereka sepakat untuk ikut dan melanjutkan kegiatan.
3) Tahap Kegiatan
a. PERTEMUAN KE-1 ( Membangun suasana kekeluargaan)
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2017, peneliti
melakukan pertemuan dengan 10 siswa yang akan menjadi subyek dalam
pelaksanaan teknik home room tersebut.
Membuka pertemuan dengan mengucapkan salam dan sapaan “apa kabar
semuanya” dan dijawab oleh semua siswa dengan antusias, dimana perhatian
peserta tertuju pada pembicara pada saat itu. Setelah itu tidak lupa mengucapkan
terimakasih karena kehadiran seluruh peserta kelompok. Selanjutnya memberikan
gambaran umum kegiatan yang akan dilaksanakan, mengungkapkan pengertian
dan tujuan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan kelompok
teknik home room, menjelaskan cara-cara dan peraturan kelompok serta asas-asas
kegiatan sehingga seluruh anggota memahami apa yang harus dilakukan dan apa
yang tidak harus dilakukan.
Pada tahap ini juga diberikan permainan penghangatan dan pengakraban
sehingga tumbuhnya minat anggota mengikuti kegiatan, munculnya perasaan
suasana kelompok, kelompok berupa keakraban, nyaman, saling peduli,
mengenal, percaya, menerima, dan saling membantu di antara anggota. Adapun
permainan penghangatan yang dilakukan yaitu “membaca watak dan karakter
pasangan, teman, bahkan orang yang baru anda temui berdasarkan huruf awal
pada nama”. Para siswa diundi sehingga menimbulkan ketegangan dan
meningkatkan konsentrasi semua anggota. Kalimat humor juga diberikan agar
mencairkan ketegangan, sehingga seluruh peserta terbuka dalam mengemukakan
pendapatnya. Dalam permainan tersebut sekaligus pengenalan peserta kepada
seluruh anggota. Game ini mampu meningkatkan suasana yang diinginkan dalam
teknik home room yaitu keakraban antara siswa dan konselor. Hasil yang
diperoleh dari pertemuan ini adalah :
- Siswa mulai terbuka satu sama yang lainnya, hal ini disebabkan permaianan
penghangatan yang diberikan, namun belum terbuka seluruhnya dikarenakan
para peserta baru saling mengenal satu sama lainnya.
- Kenyaman siswa mengikuti kegiatan mulai tampak, namun keegoisan beberapa
peserta menyebabkan siswa saling memotong pembicaraan peserta yang
sedang memberikan tanggapan dan pendapatnya.
- Keaktifan semua peserta dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup
tinggi, dimana para peserta saling menonjolkan diri mereka masing-masing.
- Keakraban peserta mulai terbentuk, namun masih sebatas teman yang sekelas,
hal ini dikarenakan peserta baru mengenal satu sama lainnya.
- Kepedulian antar peserta cukup rendah, hal ini karena tingkat keegoisan yang
tinggi.
b. PERTEMUAN KE-2 (Diskusi/dialog terbuka)
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 5 September 2017, peneliti
melakukan pertemuan dengan 10 siswa yang akan menjadi subyek dalam
pelaksanaan teknik home room tersebut.
Sebelum membuka topik pembahasan, konselor membagikan lembaran
berisi bahan informasi tentang motivasi belajar dan memberikan waktu selama 5
menit untuk membacanya. Selanjutnya dilakukan berbagai pertanyaan terbuka
terhadap siswa mengenai motivasi belajar, ciri-ciri motivasi belajar, dan faktor
yang mempengaruhi motivasi belajar. Pada awal penelitian ini siswa sudah cukup
memahami pengertian dari motivasi belajar sehingga diskusi dilanjutkan
mengenai ciri-ciri motivasi belajar, dan dari diskusi tersebut diketahui bahwa
anggota kelompok masih mempunyai motivasi belajar yang rendah. tentu saja hal
ini menyebabkan siswa tidak mempunyai minat dalam belajar.
Diawal kegiatan setelah dijelaskan dan membuka topik mengenai motivasi
belajar, kemudian anggota kelompok ditanya apakah mereka tahu apa yang
dimaksud dengan motivasi belajar, dari hasil jawaban peserta, didapat dari para
anggota sudah cukup mengerti mengenai apa yang dimaksud dengan motivasi
belajar, sehingga lebih menjelaskan mengenai ciri-ciri dari motivasi belajar,
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, fungsi motivasi belajar, dan
upaya dalam meningkatkan motivasi belajar.
Selama kegiatan berlangsung, lebih banyak dijelaskan mengenai ciri-ciri
dari motivasi belajar, dan di dapat bahwa semua anggota kelompok masih
mempunyai motivasi belajar yang rendah. Setelah diketahui bahwa semua anggota
kelompok masih mempunyai motivasi belajar rendah, maka dilanjutkan dengan
diskusi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, dalam diskusi
terkadang para peserta mengajukan pertanyaan kembali selama dilakukan
penjelasan dan ada beberapa peserta yang ikut menjawab dari pertanyaan anggota
lainnya juga. Dalam penjelasan, terkadang diberikan pertanyaan kepada seluruh
anggota dan hal ini dijawab oleh seluruh anggota kelompok, namun ada beberapa
siswa yang diam karena tidak tahu dikarenakan kurangnya informasi yang
dimiliki, sehingga munculnya pertanyaan-pertanyaan lanjutan sesama peserta dan
kepada pemimpin kelompok, tentu saja hal ini membuat suasana lebih hidup dan
dinamis. Terkadang ada beberapa siswa yang aktif bertanya dan aktif menjawab
pertanyaan yang muncul dalam kelompok, ada juga siswa yang membuat
kekacauan serta adanya pertentangan kecil mengenai pendapat mereka masing-
masing mengenai topik tersebut dikarenakan perbedaan pendapat.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, terkadang rasa humor dibuat untuk
mengatasi ketegangan diantara peserta, serta untuk menarik perhatian dari seluruh
para peserta. Hal ini membuat para peserta lebih terbuka dan tidak kaku dalam
mengajukan pendapat. Dalam penjelasan juga sering diberi contoh-contoh
pengalaman dan tentu saja menarik peserta untuk mengajukan pertanyaan diluar
topik bahasan dan menjawab langsung secara singkat dan efektif. Selanjutnya
pemimpin kelompok menjelaskan topik yang akan dibahas adalah mengenai
fungsi motivasi belajar dan diteruskan dengan bagaimana upaya meningkatkan
motivasi belajar.
Selama kegiatan berlangsung, jawaban dari peserta kelompok yang kurang
tepat diarahkan dan diluruskan agar peserta kelompok mengetahui hal yang benar,
terkadang para peserta pun mengajukan pertanyaan mengenai hal yang tak
diketahuinya. Dalam penjelasan, terkadang pertanyaan diajukan kepada seluruh
peserta dan hal ini dijawab oleh seluruh peserta, namun ada beberapa siswa yang
diam karena tidak tahu dikarenakan mereka masih bingung untuk apa motivasi
belajar itu, dan disitu terjadi sharing pendapat, hal ini membuat suasana kelompok
menjadi lebih hidup dan dinamis dengan keterbukaan untuk mengemukakan
pertanyaan maupun tanggapan sangat memberikan informasi bagi peserta yang
masih belum mengerti apa fungsi dan bagaimana cara meningkatkan motivasi
belajar. menjelaskan topik mengenai fungsi dan cara meningkatkan motivasi
belajar, selanjutnya pertanyaan terbuka diberikan kepada para peserta apakah
mereka sudah tahu apa fungsi motivasi belajar dan bagaimana cara
meningkatkannya, dari hasil jawaban peserta, didapat bahwa sebagian dari peserta
telah mengetahui fungsi dari motivasi belajar dan apa yang harus mereka lakukan
agar motivasi belajar mereka meningkat. Kemudian terjadi diskusi kelompok
terntang pendapat peserta dalam meningkatkan motivasi belajarnya dan peserta
tampak sudah yakin akan pentingya dari belajar itu sendiri sehingga peserta
tampak semangat dalam mengutarakan pendapatnya. Satu persatu peserta
kelompok ditanyai tentang bagaimana cara meningkatkan motivasi belajar
mereka, dan seluruh peserta menanggapi pertanyaan serta menjelaskan alasan
mereka. Peserta juga menanggapi pendapat dari peserta lain, hal ini sangat bagus
karena mereka saling tukar pendapat mengenai bagaimana cara meningkatkan
motivasi belajar dan untuk apa motivasi belajar itu ditingkatkan. Pada tahap ini
sudah terlihat bahwa peserta yang pada awal pertemuan bimbingan kelompok
sangat tidak peduli dengan belajar menjadi lebih semangat dalam belajar, hal ini
terlihat saat para peserta mengutarakan pendapatnya dan peserta lain juga ikut
menanggapinya. Dalam kegiatan layanan ini penjelasan dari peserta lebih banyak
ditanggapi, hal ini dilakukan agar peserta lebih yakin bahwa dengan motivasi
belajar yang tinggi mereka dapat memperoleh apa yang mereka inginkan. Hasil
yang diperoleh dari pertemuan kedua ini adalah :
- Ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan lebih antusias dari pada
pertemuan pertama, hal ini dikarenakan topik yang dibahas lanjutan dari topik
sebelumnya yang mereka belum paham.
- Siswa mulai terbuka satu sama yang lainnya, hal ini disebabkan para peserta
mulai saling mengenal satu sama lainnya dan memahami sifat dan karakter satu
sama lainnya.
- Kenyaman siswa mengikuti kegiatan mulai tampak, namun keegoisan beberapa
peserta menyebabkan siswa saling memotong pembicaran peserta yang sedang
memberikan tanggapan dan pendapatnya. Namun tingkat kenyaman siswa
cukup tinggi, hal ini dikarenakan siswa memiliki pola kebiasaan yang ribut
sehingga mereka sudah saling memahami dan terbiasa. Hal ini juga
dikarenakan dilakukannya kontrol yang membuat peraturan untuk berbicara
satu-persatu.
- Keaktifan semua peserta dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup
tinggi, dimana para peserta saling menonjolkan diri mereka masing-masing.
- Keakraban peserta mulai terbentuk, dimana sikap simpati dan empati siswa
mulai terbentuk dalam kegiatan berlangsung.
- Kepedulian antar peserta masih cukup rendah, hal ini karena tingkat keegoisan
yang tinggi dan kegaduhan yang terjadi lebih banyak dari pertemuan pertama.
- Pada pertemuan kedua ini kondisi peserta lebih hidup walaupun agak sedikit
ribut.
c. PERTEMUAN KE-3 (Feedback)
Pertemuan ke tiga dilaksanakan pada tanggal 11 September 2017, peneliti
melakukan pertemuan dengan 10 siswa yang menjadi subyek dalam pelaksanaan
teknik home room tersebut. Pada pertemuan ini dijelaskan bahwa kegiatan akan
segera berakhir. Kemudian peserta kelompok ditanyai tentang kesan, pesan, saran,
harapan dan kritik. Peserta menjawab dengan spontan bahwa kegiatan ini
menyenangkan dan menambah banyak informasi serta para peserta yakin dengan
motivasi belajar yang tinggi mereka akan menjadi orang yang sukses di kemudian
hari. Sebelum acara ditutup seluruh anggota berdoa bersama, kemudian
mengungkapkan ucapan terima kasih dan maaf bila terdapat kesalahan dan
diakhiri dengan salam. Hambatan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok teknik
home room berlangsung masih ada siswa yang kurang serius. Hasil yang diperoleh
dari pertemuan kedua ini adalah :
- Ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan sangat antusias, hal ini
dikarenakan topik yang dibahas merupakan pemahaman tentang diri peserta itu
sendiri.
- Kenyaman siswa dalam mengikuti kegiatan tampak munncul, karena para
siswa sudah saling akrab dan saling mengenal satu dengan yang lainnya serta
fokus dalam pembahasan.
- Keaktifan semua peserta dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup
tinggi, karena seluruh peserta.
- aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan serta peserta menjelaskan dengan
rinci tentang dirinya kepada seluruh peserta.
- Peserta cukup akrab, hal ini dapat dilihat dari sikap peduli dan saling
memahami satu dengan yang lainnya serta seluruh peserta yang hadir sudah
saling mengenal, hail ini dapat dilihat dari para peserta saling menanggapi
penjelasan dari peserta lainya.
- Kepedulian antar peserta cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari sikap saling
memberika masukan, arahan dan motivasi kepada masing-masing peserta.
4) Terminasi (Tahap Pengakhiran)
Sesuai kesepakatan pada pertemuan sebelumnya, posttest dilaksanakan
pada tanggal 20 September 2017, dalam pertemuan ini peneliti meminta siswa
untuk mengisi lembar evaluasi dan memberikannya waktu selama 15 menit dalam
menjawab lembar evaluasi tersebut. Hasil analisis lembar evaluasi siswa yang
pertama di peroleh dari 10 siswa adalah rata-rata siswa menjawab bahwa kurang
menariknya cara guru menjelaskan, dan adanya sikap acuh tak acuh orang tua
terhadap nilai yang dicapai anaknya. Maka dari itu sangat penting siswa
mengikuti kegiatan home room ini, yang dalam kegiatan ini siswa di tuntut
mengalami perubahan dari motivasi belajar rendah hingga mengalami
peningkatan. Hasil analisis yang kedua di peroleh dari 10 siswa adalah masih
dominannya rasa malas dan sulitnya siswa dalam membagi waktu belajar, serta
mudah terpengaruh dengan lingkungan luar sehingga dalam masalah ini peneliti
ingin menjelaskan lebih dalam lagi tentang apa motivasi belajar itu, agar mereka
dapat merubah kebiasaan buruknya menjadi positif. Dan terakhir hasil analisis
yang ketiga di peroleh dari 10 siswa adalah adanya kepuasan yang dirasakan,
karena sudah mampu mengutarakan masalah yang dihadapinya dan juga para
siswa merasa lebih semangat untuk mengikuti proses belajar mengajar. Setelah
siswa mengikuti kegiatan home room ini siswa mengalami banyak perubahan
sehingga nanti kedepannya siswa sudah mampu menerapakan hal-hal yang positif
dan sadar betapa pentingnya motivasi belajar itu sendiri bagi dirinya maupun
dalam kehidupan sehari-hari.
Dan dilanjutkan membagi angket sebelumnya (pretest). Sebelum membagi
angket terlebih dahulu peneliti bertanya kepada siswa mengenai pengalaman yang
mereka peroleh dari proses bimbingan kelompok dan perubahan perilaku mereka
sehari-hari di kelas setelah melaksanakan kegiatan dan kesediaan mereka untuk
menerapkan komitmen perubahan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Masing-masing siswa mengungkapkan perasaan dalam bentuk yang berbeda-beda
dengan semangat yang sama, pada hakikatnya mereka merasa bertanggung jawab
untuk melakukan perilaku-perilaku yang telah mereka rencanakan terkait tingkat
motivasi belajarnya.
Setelah mendengar ungkapan siswa, peneliti kemudian membagikan (post-
test) angket motivasi belajar pada siswa dan seperti pertemuan sebelumnya
kegiatan diawali dengan do’a dengan menanyakan kesiapan siswa mengikuti
kegiatan. Kegiatan inti yaitu peneliti menjelaskan petunjuk pengisian angket
sebagaimana pada pertemuan pertama, dan mempersilahkan siswa untuk
mengisinya.
Setelah diisi oleh siswa, peneliti mengumpulkan angket tersebut. Pada
tahap akhir peneliti berterima kasih kepada siswa atas partisipasi dan kesediaan
siswa mengikuti proses teknik home room hingga selesai. Selanjutnya, peneliti
menitipkan harapan semoga kedepannya siswa lebih baik lagi dalam berperilaku
di kelas. Peneliti mengevaluasi dan memberikan penilaian melalui hasil observasi
yang dibuat oleh peneliti yang dimulai dari awal pertemuan sampai akhir
pertemuan.
Selama pemberian perlakuan, peneliti melakukan observasi terhadap
responden. Observasi dilakukan terhadap 10 siswa untuk melihat gambaran
partisipasi siswa selama mengikuti kegiatan teknik home room. Dalam hal ini,
peneliti dibantu oleh guru BK mencentang lembar observasi terhadap segala
sesuatu yang terjadi dalam proses pelaksanaan kegiatan yang selanjutnya
dianalisis hasilnya. Dari hasil observasi selama pelaksanaan kegiatan bimbingan
kelompok dengan teknik home room yang dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan
diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.2 Data Hasil Persentase Observasi Saat Pelaksanaan Teknik Home
Room
Tahap pelaksanaan kegiatan
Persentase Kriteria
I II III
80 – 100% Sangat tinggi 0 4 6
60 – 79% Tinggi 2 4 4
40 – 59% Sedang 0 2 0
20 – 39% Rendah 8 0 0
0 – 19% Sangat rendah 0 0 0
Jumlah 10 10 10
Sumber: Hasil Analisis Data Observasi
Berdasarkan hasil pengamatan observasi pada pertemuan pertama terdapat
2 siswa berada pada kategori tinggi, dan 8 orang berada pada kategori rendah.
Pada pertemuan kedua 4 siswa berada pada kategori sangat tinggi, 4 orang siswa
berada pada kategori tinggi, dan 2 siswa berada pada kategori sedang. Pada
pertemuan ketiga 6 siswa berada pada kategori sangat tinggi dan 4 orang siswa
berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil yang diperoleh partisipasi siswa
yang meningkat selama pertemuan memberikan bukti bahwa kegiatan yang
dilaksanakan dapat diikuti dengan baik oleh para siswa.
3. Penerapan Teknik Home Room Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa di MAN 1 Makassar
Berdasarkan hasil analisis deskriptif melalui SPSS 20,00 for windows
maka di dapatkan data sebagai berikut:
Tabel 4.3 Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Data N Rata-rata SD Min. Max. Ket
Pretest 10 80.10 8.478 66 90 Sedang
Posttest 10 109.90 6.773 97 117 Tinggi
Sumber: SPSS 20,00 For Windows
Dari tabel diatas, tampak rata-rata tingkat motivasi belajar siswa dari 10
subjek penelitian sebelum (pretest) pemberian teknik home room yakni 80.10 dan
setelah (posttest) pemberian teknik home room meningkat 109.90. Standar deviasi
sebelum (pretest) perlakuan 8.478 dan setelah (posttest) perlakuan 6.773, serta
jumlah maksimum sebelum (pretest) perlakuan 90 dan setelah (posttest) perlakuan
sebanyak 117. Jadi tampak bahwa setelah diberikan perlakuan berupa teknik home
room terdapat peningkatan motivasi belajar siswa dari rendah ke tinggi. Hasil
analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa
meningkat setelah pemberian perlakuan berupa teknik home room.
Untuk mengetahui penerapan teknik home room digunakan untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar, di ungkap melalui uji
hipotesis. Hipotesis penelitian ini adalah “Teknik home room dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar”. Untuk memenuhi
persyaratan uji analisis statistik maka hipotesis kerja (H 1) diubah kedalam
hipotesis nol (H0) sehingga berbunyi “Tidak terdapat perbedaan tingkat motivasi
belajar siswa di MAN 1 Makassar sebelum dan setelah pemberian perlakuan
berupa teknik home room”. Untuk pengujian hipotesis diatas, terlebih dahulu
disajikan data tingkat motivasi belajar siswa.
Tabel 4.4 Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian Menggunakan SPSS 20,00 For
Windows
N Mean Z Asymp. Sig. (2-tailed) Ket
Sebelum 80.10
10 -2.805b .005 H0 ditolak
Sesudah 109.90
Sumber: Uji Wilcoxon
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS 20.00 for
windows melalui Wilcoxon signed ranks test terdapat perbedaan nilai rata-rata
setelah diberikan perlakuan mengalami peningkatan dari pada sebelum diberikan
perlakuan yakni sebelum diberi perlakuan hasil nilai rata-rata pretestnya sebesar
80.10 namun setelah diberi perlakuan hasil rata-rata nilai posttestnya terjadi
peningkatan menjadi 109.90. Kemudian setelah data tersebut dianalisis maka
diperoleh nilai Z yaitu -2,805b dengan nilai Asymp Sig yaitu 0, 005 < 0, 05. Taraf
signifikansi yang digunakan 5% atau 0,05. Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai
[Link] (2-tailed) yaitu 0,005 < α. Hal ini berarti bahwa hipotesis kerja (H0)
yang menyatakan bahwa “Tidak terdapat perbedaan tingkat motivasi belajar siswa
antara sebelum dan setelah diberikan perlakuan teknik home room” dinyatakan
ditolak. Sehingga hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa “Terdapat
perbedaan tingkat motivasi belajar siswa antara sebelum dan setelah diberikan
perlakuan berupa teknik home room” dinyatakan diterima. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik home room dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Motivasi belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang karena adanya
maksud serta tujuan tertentu yang ingin dicapai. Sehingga motivasi selalu
mendorong rasa ingin tahu dan membangkitkan semangat untuk melakukan
sesuatu yang lebih baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimiyanti & Mudjono
(2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang mendorong
terjadinya proses belajar”, Lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada
hasil belajarnya. Menurut Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar
dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.
Mahmud A. dan Sunarty, (2012: 43) menyatakan bahwa Home room
adalah teknik bimbingan kelompok berbentuk pertemuan dengan sekelompok
siswa di luar jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan yang dipimpin oleh
konselor. Fokus home room adalah terciptanya suasana yang penuh kekeluargaan
seperti suasana rumah yang menyenangkan agar siswa merasa aman dan dapat
mengungkapkan masalah-masalah yang tak dapat dibicarakan pada waktu jam
pelajaran bidang studi. Kegiatan home room mempunyai 2 fungsi, yaitu:
menyediakan program bimbingan yang sistematis dan proses penyaringan siswa-
siswa yang mempunyai masalah yang lebih mendalam yang perlu dikirim ke
konselor. Hal-hal yang dibicarakan dalam home room antara lain: pemilihan
lanjutan sekolah, pembagian kerja dalam kegiatan kelompok, pemilihan
pekerjaan, penggunaan waktu luang atau senggang dan perencanaan masa depan.
Masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam home room di teruskan ke konselor
untuk mendapatkan layanan lebih lanjut, baik berupa konseling individual atau
kegiatan kelompok lainnya. Waktu untuk melaksanakan kegiatan ini satu minggu
satu kali pertemuan atau dua minggu satu kali satu jam pelajaran dan
dirundingkan dengan kepala sekolah serta guru-guru lainnya atau menggunakan
jam-jam pelajaran yang lowong/kosong.
Menurut Nurihsan (2006: 23) bimbingan kelompok adalah “bantuan
terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok, bimbingan
kelompok berupa penyampaian informasi atau aktivitas kelompok membahas
masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial”.
Menurut Prayitno (1999: 40) Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok ada
empat tahapan yaitu, tahap pembentukan, tahap peralihan, kegiatan, dan tahap
pengakhiran. Tujuan bimbingan kelompok yaitu untuk membantu individu
menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri, dan dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Melalui bimbingan kelompok dengan menggunakan
teknik home room , siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dan membicarakan
bersama-sama masalah-masalah, serta cara-cara pemecahannya dengan benar dan
positif dalam meningkatkan motivasi belajarnya, yang dari sedang hingga
mengalami peningkatan. Berdasarkan rumusan masalah yang dirumuskan maka
dapat diperoleh pembahasan:
1. Gambaran Tingkat Motivasi Belajar Siswa di MAN
1 Makassar
Data awal penelitian di MAN 1 Makassar pada kelas X IIS 1, 2, 3, dan 4
atas rekomendasi guru bimbingan dan konseling terdapat 30 siswa diketahui
diantaranya 10 siswa dalam kategori sedang dengan persentase 33,3%, 20 siswa
dalam kategori rendah dengan persentase 66,7% dalam indikator motivasi belajar.
2. Gambaran Pelaksanaan Penerapan Teknik Home
Room Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar
Berdasarkan hasil pengamatan observasi pada pertemuan pertama, peneliti
memberikan gambaran umum kegiatan yanga akan dilaksanakan, mengungkapkan
pengertian dan tujuan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan
kelompok menggunakan teknik home room. Peneliti memberikan kesempatan
kepada anggota kelompok untuk mengajukan pertanyaan terhadap hal yang belum
di mengerti. Peneliti memberikan permainan penghangatan dan pengakraban
sehingga tumbuhnya minat anggota mengikuti kegiatan.
Pertemuan kedua, peneliti membagikan lembaran berisi bahan informasi
tentang motivasi belajar dan memberikan waktu 5 menit untuk membacanya.
Peneliti mengajukan pertanyaan terbuka terhadap siswa mengenai motivasi
belajar. Peneliti melakukan diskusi dengan kelompok tentang ciri-ciri motivasi
belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, fungsi motivasi
belajar dan cara meningkatkan motivasi belajar. Peneliti memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya . dan siswa memberikan tanggapan secara
bergantian.
Pertemuan ketiga, peneliti mengajukan pertanyaan kepada anggota
kelompok tentang kesan, pesan, saran, harapan, dan kritik. Peneliti meminta
anggota kelompok menjawab secara langsung pertanyaan yang diajukan. Dan
siswa saling bergantian dalam mengutarakan kesan, pesan, saran, harapan, dan
kritik,
3. Penerapan Teknik Home Room Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, hasil penelitian terhadap 10
responden menunjukkan bahwa saat pretest menunjukkan tingkat motivasi belajar
rendah siswa sebanyak 6 orang yang memiliki kategori sedang dengan jumlah
persentase 60% dan 4 orang yang berada pada kategori rendah dengan persentase
sebanyak 40%. Namun demikian, setelah diberi perlakuan berupa teknik home
room menunjukkan dampak positif. Hal ini disebabkan karena tingkat motivasi
belajar siswa mengalami perubahan dari sedang menjadi tinggi. Dalam proses
penelitian ini siswa diberikan perlakuan berupa teknik home room dalam
bimbingan kelompok sebanyak 3 tahap..
Selama proses penelitian berlangsung banyak kendala yang dialami oleh
peneliti. Diantaranya siswa masih merasa ragu ketika menjadi subyek penelitian
karena mereka berfikir jika mereka mengikuti proses kegiatan akan
mempengaruhi nilai pelajarannya. Selain itu, pada tahap awal keterbukaan siswa
dalam mengemukakan masalah sangat sedikit. Sehingga peneliti sangat kesulitan
menentukan masalah dan sumber masalah yang dihadapi oleh siswa. Selanjutnya,
pada saat awal pelaksanaan teknik home room, ada beberapa siswa yang tidak
mengikuti instruksi dengan baik dikarenakan teknik yang peneliti lakukan
merupakan hal yang baru bagi mereka. Namun, dari sekian banyak keterbatasan
yang peneliti dapatkan selama proses pelaksanaan kegiatan, tidak menyurutkan
antusias subyek setelah mereka mengetahui manfaat dari penelitian ini. Sehingga
proses pelaksanaan kegiatan di hari-hari berikutnya dapat berlangsung dengan
lancar dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh peneliti.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Tingkat motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar sebelum diberikan
perlakuan berupa penerapan teknik home room berada pada kategori rendah,
akan tetapi setelah diberikan perlakuan, tingkat motivasi belajar siswa di
MAN 1 Makassar mengalami peningkatan yaitu berada pada kategori tinggi.
2. Pelaksanaan penerapan teknik home room dilakukan dalam bimbingan
kelompok yang terdiri atas 3 tahap dan berjalan sesuai dengan skenario yaitu ,
tahap pertama (membangun suasana kekeluargaan), tahap kedua (melakukan
diskusi/dialog terbuka), tahap ke tiga (feedback) tahap pengakhiran yaitu
peneliti menjelaskan bahwa kegiatan bimbingan kelompok ini akan segera
berakhir.
3. Penerapan teknik home room dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
secara signifikan di MAN 1 Makassar.
B. Saran
Berdasar dari kesimpulan penelitian diatas, maka diajukan saran sebagai
berikut:
1. Guru pembimbing, hendaknya dapat menerapkan teknik home room sebagai
salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
2. Siswa, untuk senantiasa mengubah keyakinan yang irrasional menjadi
rasional dalam hal motivasi belajar dan menjalankan komitmen untuk
berubah sebagaimana yang telah disampaikan dalam proses penerapan
teknik home room melalui bimbingan kelompok dan menjadi lebih baik dari
teman-temannya yang lain.
3. Kepada rekan-rekan mahasiswa dan peneliti, di Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan, agar dapat mengembangkan penerapan teknik
home room melalui bimbingan kelompok untuk permasalahan yang berbeda
agar dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan.
DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, S. 1983. Teknik Pemahaman Individu (Teknik Nontesting). Makassar :
FIP UNM
Ahmadi dan Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka
Cipta.
Asmoro, R. 2013. Meningkatkan Kualitas Kebiasaan Belajar Siswa Melalui
Bimbingan Kelompok dengan Teknik Homeroom Pada Siswa Kelas XII A
SMK PGRI 1 SALATIGA. Skripsi Pada Jurusan Bimbingan Dan Konseling
FKIP: Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Djamarah, S. B. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Daruma, A. R. Samad, S & Sofiani, S. 2002. Studi Kasus. Makassar: Fakultas
Ilmu Pendidikan
Dimiyati, dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka cipta
Dewa. K. S. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya:
Usaha Nasional.
Hamdu G. dan Agustina L. 2011. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap
Prestasi Belajar Ipa di Sekolah Dasar. (Online: Jurnal Penelitian
Pendidikan) Vol.12 (1): 82-83.
Hildegard, Wenzler dkk. 1993. Proses Pengembangan Diri. Jakarta;
[Link]
Hallen. 2005. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching.
Islamuddin. 2011. Psikologi Pendidikan. Jember : Pustaka Belajar
Jumriana. 2012. Penerapan Konseling Kelompok dengan Teknik Logoterapi
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Di SMA Negeri 1 Sinjai
Selatan. Skripsi pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP:
UNM.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1988).Jakarta: Balai Pustaka
Kariadinata, dkk. 2012. Dasar-Dasar Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka
Setia
Mahmud A. dan Sunarty. 2012. Mengenal Teknik-Teknik Bimbingan dan
Konseling. Makassar: Badan Penerbit UNM
Miru A.S. 2009. Hubungan Antara Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajat
Mata Diklat Instalasi Listriks Siswa SMK 3 Makassar. (Online: Jurnal
MEDTEK) Vol.1 (1): 2-3.
Nashar. 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan
Pembelajaran. Jakarta: Delia Press.
Nidya damayanti. 2012. Panduan Bimbingan Konseling .Yogyakarta: Araska
Nursalim. 2002. Layanan Bimbingan dan Konseling. Surabaya: Unesa University
Press.
Nurihsan. 2006. Bimbingan dan konseling dalam berbagai latar kehidupan.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Nurwahidah. 2011. Pengaruh Metode Learning Together (Belajar Bersama) dalam
Bimbingan Kelompok Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di
SMA Negeri 9 Makassar. Skripsi Pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan
Bimbingan FIP: UNM.
Prayitno. 1999. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil).
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Renjana P dan Sutijono. 2013. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Home
Room Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Bahaya Seks Bebas,
(Online: Jurnal Mahasiswa Bimbingan Konseling) Vol.1 (1): 91-92.
Romlah Tatiek. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok . Malang:
Universitas Negeri Malang
Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.
Salahudin, Anas. 2010. Bimbingan dan Konseling. Bandung: CV Pustaka Setia.
Sugiyono. [Link] Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Suprihatin, S. 2015. Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.
(Online: Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro) Vol.3 (1): 74-80.
Tiro. 2004. Dasar-Dasar Statistik. Makassar: Badan Penerbit UNM
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : Raja
Grasindo Perseda.
Winkel, 1989. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah. Jakarta:
Gramedia.
Zaenuddin, F. 2008. Keefektifan Penggunaan Modeling Tersembunyi dalam
Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Kelas 1 SMAN 1
Anggeraja Kabupaten Enrekang. Skripsi pada Jurusan Psikologi Pendidikan
dan Bimbingan FIP: UNM.