0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan69 halaman

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang

Dokumen ini membahas pentingnya motivasi belajar siswa dalam mencapai tujuan pendidikan di MAN 1 Makassar, serta tantangan yang dihadapi siswa terkait motivasi yang rendah. Penelitian ini mengusulkan penerapan teknik home room sebagai solusi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui bimbingan kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat motivasi belajar siswa dan efektivitas teknik home room dalam meningkatkan motivasi tersebut.

Diunggah oleh

WULAN YUNIA -
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan69 halaman

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang

Dokumen ini membahas pentingnya motivasi belajar siswa dalam mencapai tujuan pendidikan di MAN 1 Makassar, serta tantangan yang dihadapi siswa terkait motivasi yang rendah. Penelitian ini mengusulkan penerapan teknik home room sebagai solusi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui bimbingan kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat motivasi belajar siswa dan efektivitas teknik home room dalam meningkatkan motivasi tersebut.

Diunggah oleh

WULAN YUNIA -
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar merupakan salah satu kunci sukses dalam dunia pendidikan.

Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti bahwa

berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan secara optimal pada setiap

individu ditentukan dari bagaimana proses belajar yang dilakukan dan dialami.

Salah satu hal yang paling penting yang sangat mendukung berhasilnya siswa

dalam belajar yaitu bagaimana siswa membangkitkan semangat dan motivasi

untuk belajar. Sebagai upaya memperoleh pendidikan yang baik sesuai dengan

tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Dalam dunia pendidikan, motivasi belajar

merupakan salah satu hal penting.

Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang

tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas

belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak

menyentuh kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain, belum

tentu menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan

kebutuhannya.

Dengan adanya motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan

memiliki konsentrasi penuh dalam proses belajar pembelajaran. Dorongan

motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu di bangkitkan dalam

upaya pembelajaran di sekolah. Proses pembelajaran akan berhasil manakala

siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu

1
2

menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang

optimal, guru BK dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimiyanti & Mudjono

(2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang mendorong

terjadinya proses belajar”, lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada

hasil belajarnya. Menurut Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi belajar adalah

keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar

dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.

Motivasi belajar memegang peranan penting dalam menggairahkan dan

penyemangatan dalam belajar, sehingga peserta didik yang termotivasi kuat dan

memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Keberadaan motivasi

belajar yang optimal dapat memicu peserta didik agar berkeinginan dan

berkemauan untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tujuan pendidikan

yang diharapkannya dapat tercapai maksimal.

Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan guru BK MAN 1 Makassar

yang dilakukan pada tanggal 11 Maret 2017, bahwa beberapa siswa sering tidak

mengikuti pelajaran bahkan sering tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Dari

wawancara tersebut, juga diketahui beberapa siswa sering tidak mengerjakan

tugas yang diberikan guru. Hal tersebut juga diperkuat dari hasil belajar mereka

yang kurang memuaskan.

Hasil wawancara yang dilakukan kepada para siswa, diketahui bahwa

beberapa siswa mengaku berangkat sekolah hanya karena terpaksa disuruh orang

tua sehingga ketika di sekolah siswa tidak tertarik dengan apa yang di sampaikan
3

oleh guru, yang ada dipikirannya hanya kapan bel pulang sekolah berbunyi.

Bahkan ada beberapa siswa yang sering membolos karena malas mengikuti

pelajaran. Menurut pengakuan siswa kurangnya perhatian dan dukungan orang tua

menyebabkan siswa malas untuk belajar. Orang tua siswa juga tidak pernah

menyuruh siswa untuk belajar di rumah, sehingga siswa tidak pernah belajar di

rumah. Dari hasil wawancara tersebut juga diketahui bahwa beberapa siswa

mudah menyerah dan tidak mau belajar lagi ketika menghadapi kesulitan belajar,

dan saat ditanya mengenai cita-cita, mereka bingung menjawabnya. Hasil

observasi yang dilakukan di sekolah, diketahui hasil belajar beberapa siswa

nilainya dibawah rata-rata. Hal ini dilihat dari nilai raport mereka yang kurang

memuaskan karena untuk mencapai nilai standar kelulusan mereka harus

mengikuti ujian remidial. Selain itu saat pelajaran berlangsung beberapa siswa

terlihat ramai sendiri dan tidak memperhatikan guru. Beberapa siswa juga terlihat

sedang berada dikantin saat jam pelajaran.

Motivasi belajar rendah ini perlu penanganan. Salah satu teknik yang bisa

dilakukan yaitu teknik home room. Menurut Pietrofesa (Romlah, 2006), teknik

home room adalah teknik untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok

siswa diluar jam-jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan, dan dipimpin oleh

guru BK. Penggunaan teknik home room diharapkan lebih efektif membantu

permasalahan siswa. Karena, dengan teknik home room guru BK dapat

memberikan layanan tentang kebiasaan sehari-hari dalam belajar, cara-cara belajar

seperti cara mempelajari buku, membuat rangkuman, karangan membaca kamus,

juga masalah kelanjutan studi, pekerjaan dan cita-cita. Dengan dilakukannya


4

bimbingan kelompok dengan teknik home room, siswa dapat lebih terbuka dalam

mengemukakan masalahnya karena siswa merasa nyaman dalam kelompok

tersebut dan siswa akan merasa lebih santai seperti saat mereka bersama

keluarganya di rumah. Hal–hal semacam ini yang dapat memotivasi siswa untuk

menjadi lebih baik.

Alasan lain diberikannya teknik home room karena di sekolah ini belum

pernah menerapkan layanan tersebut dalam membantu memecahkan masalah

belajar siswa. Berdasarkan wawancara dengan guru BK, cara yang ditempuh oleh

guru untuk mengatasi masalah belajar siswa masih sangat kurang yaitu dengan

memberikan bimbingan klasikal dan jarang sekali memberikan bimbingan

individu/kelompok sehingga masalah yang dialami siswa kurang bisa dipahami

guru. Hal ini jelas akan berbeda apabila menerapkan teknik home room karena

siswa akan merasa nyaman dalam mengungkapkan masalahnya. Diterapkannya

layanan ini, diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan semangat

mengikuti pelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh Acik Citra Saptanti (2012)

tentang peningkatan motivasi belajar siswa melalui bimbingan kelompok dengan

menggunakan teknik home room pada siswa kelas VIII C SMP N 2 Pabelan

kabupaten Semarang tahun ajaran 2011/2012, menyimpulkan bahwa setelah

dilaksanakan layanan ini, motivasi belajar siswa meningkat. Dari studi

pendahuluan ini dan melihat hasil yang didapat, diharapkan layanan bimbingan

kelompok teknik home room lebih efektif dalam meningkatkan motivasi belajar

siswa.
5

Berdasarkan fenomena di sekolah yang siswa alami mengenai motivasi

belajar rendah maka peneliti mencoba mengkaji dalam kajian empirik dengan

judul “Penerapan Teknik Home Room untuk Meningkatkan Motivasi Belajar

Siswa di MAN 1 Makassar”, dengan pertimbangan bahwa teknik home room

dapat menjadi alat bagi siswa untuk lebih memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling dan menjadi alternatif tambahan dalam pengembangan pelaksanaan

layanan bimbingan dan konseling di MAN 1 Makassar khususnya siswa yang

mengalami masalah motivasi belajar rendah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan dalam penelitian dirumuskan

sebagai berkikut:

1. Bagaimanakah tingkat motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar?

2. Bagaimanakah pelaksanaan teknik home room dalam meningkatkan motivasi

belajar siswa di MAN 1 Makassar?

3. Apakah penerapan teknik home room dapat meningkatkan motivasi belajar

siswa di MAN 1 Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai untuk mengetahui:

1. Tingkat motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar.

2. Pelaksanaan teknik home room dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di

MAN 1 Makassar.

3. Apakah penerapan teknik home room dapat meningkatkan motivasi belajar

siswa di MAN 1 Makassar.


6

D. Manfaat Penulisan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau konstribusi


dalam :

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai bahan informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya

berkaitan dengan bimbingan dan konseling, utamanya dalam penggunaan

teknik home room.

b. Bagi Jurusan Psikologi pendidikan dan Bimbingan (PPB), sebagai masukan

bagi mahasiswa sebagai calon guru pembimbing dalam mengatasi berbagai

masalah siswa di sekolah.

2. Manfaat Praktis:

a. Bagi guru BK/konselor disekolah, sebagai masukan dalam penerapan teknik

home room untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh anak

bimbingannya.

b. Bagi siswa, sebagai informasi untuk membantu dirinya dalam mengatasi

masalah yang dihadapi, khususnya masalah yang berkaitan dengan motivasi

belajar rendah.

c. Bagi peneliti, sebagai bahan referensi bagi peneliti yang berminat mengkaji

permasalahan yang sejenis.


7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. TINJAUAN PUSTAKA

1. Bimbingan Kelompok

a. Pengertian Bimbingan Kelompok

Pelaksanaan bimbingan kelompok merupakan suatu layanan yang

memungkinkan sejumlah siswa secara bersama-sama melalui dinamika kelompok

memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu dan membahas secara

bersama-sama pokok bahasan tertentu yang berguna untuk menunjang

pemahaman dan kehidupan mereka sehari-hari.

Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam

suasana kelompok. Menurut Gazda (Prayitno, 1995) bahwa:

Bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi


kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun
rencana dan keputusan yang tepat dan diselenggarakan untuk
memberikan informasi yang bersifat personal, vokasional, dan sosial.
Dengan demikian, jelas bahwa dalam bimbingan kelompok ialah
pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para anggota
kelompok.

Hallen (2005: 80-81) mengemukakan definisi dari bimbingan kelompok,

yaitu:

Bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang


memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui
dinamika kelompok memperoleh bahan baru dari narasumber
tertentu (terutama dari guru pembimbing) dan membahas secara
bersama-sama pokok bahasan tertentu yang berguna untuk
menunjang pemahaman dan kehidupan sehari-hari dan untuk
perkembangan dirinya sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan
8

untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan tindakan


tertentu.

Romlah (1989: 3) mengemukakan bahwa “bimbingan kelompok adalah

proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok”.

Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa

dan mengembangkan potensi siswa. Sedangkan menurut Nurihsan (2006: 23)

bimbingan kelompok adalah “bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam

situasi kelompok, bimbingan kelompok berupa penyampaian informasi atau

aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi

dan sosial”.

Berdasarkan paparan di atas maka bimbingan kelompok adalah proses

pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa dalam situasi kelompok.

Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa

dan mengembangkan potensi siswa. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagai

salah satu teknik bimbingan, bimbingan kelompok memiliki prinsip, kegiatan, dan

tujuan yang sama dengan bimbingan. Perbedaanya hanya terletak pada

pengelolaannya, yaitu dalam situasi kelompok.

b. Tujuan bimbingan kelompok

Tujuan bimbingan kelompok yaitu untuk membantu individu menemukan

dirinya sendiri, mengarahkan diri, dan dapat menyesuaikan diri dengan

lingkungannya.
9

Tujuan bimbingan yang dikemukakan oleh Bennet (Romlah, 1989) yaitu:

1) Dengan bimbingan itu, diharapkan mampu memudahkan anak


didik memperoleh kesempatan belajar hal-hal penting yang
berguna bagi pengembangan dirinya yang berkaitan dengan
masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.
2) Selain itu juga dimaksudkan dengan bimbingan dapat memberikan
layanan penyembuhan melalui kegiatan kelompok dengan:
a) Mempelajari masalah-masalah manusia pada umumnya
b) Menghilangkan ketegangan-ketegangan emosi, menambah
pengertian mengenai dinamika kepribadian, dan mengarahkan
kembali energi yang terpakai untuk memecahkan masalah-
masalah tersebut dalam suasana yang permisif.
3) Untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan secara ekonomis dan
efektif daripada melalui kegiatan bimbingan individual.
4) Untuk melaksanakan layanan konseling individual secara lebih
efektif. Dengan memperlajari masalah-masalah yang umum
dialami oleh individu dan dengan meredakan atau menghilangkan
hambatan-hambatan emosional melalui kegiatan kelompok, maka
pemahaman terhadap masalah individu menjadi lebih mudah.

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa hal yang paling penting

dalam kegiatan bimbingan kelompok pada umumnya yaitu bertujuan untuk

membantu siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok dan

bimbingan kelompok pada khususnya yaitu bertujuan melatih agar siswa berani

mengemukakan pendapat dihadapan teman-temannya, dapat bersikap terbuka

dalam kelompok, dapat mengendalikan diri dalam kegiatan diskusi kelompok,

dapat bertenggang rasa dengan orang lain, memperoleh keterampilan sosial, dan

membantu siswa untuk memahami dan mengenali dirinya dalam berhubungan

dengan orang lain.

Romlah (1989: 15-16) mengemukakan bahwa kegiatan bimbingan

kelompok masing-masing siswa dapat belajar berbagai hal sebagai berikut:

a) Siswa dapat memahami dan menghadapi masalah-masalah yang ril, dan


terhadap masalah-masalah yang dihadapinya secara objektif.
b) Siswa belajar teknik-teknik menganalisis masalah.
10

c) Siswa dapat menggunakan berbagai sumber informasi yang relevan untuk


memecahkan masalah yang dihadapi.
d) Belajar memahami dan mengarahkan dorongan-dorongan dalam dirinya
kearah tindakan nyata siswa dapat bertanggung jawab atas setiap
tindakannya, sehingga siswa dapat mengambil keputusan sendiri tanpa
harus berpangku tangan pada orang lain.
e) Terjalinnya interaksi sosial yang baik, memudahkan siswa belajar bergaul
dengan orang lain di sekitarnya.
f) Belajar merumuskan rencana-rencana hidup jangka panjang.
g) Dengan kegiatan-kegiatan yang muncul dalam kelompok, maka siswa
dapat belajar membuat keseimbangan antara tujuan jangka panjang dan
tujuan jangka pendek.
h) Belajar membuat kriteria untuk memilih pengalaman-pengalaman belajar
yang sesuai dengan kebutuhannya.
i) Belajar merealisasikan rencana-rencana yang telah dibuat menjadi
tindakan-tindakan nyata.
j) Belajar menilai kemajuan yang telah dicapai dan merumuskan kembali
rencana-rencana serta tujuan-tujuan yang telah dibuat sesuai dengan
kebutuhan.

Romlah (1989:17) dengan memperhatikan tujuan bimbingan kelompok di

atas, dapat dikemukakan bahwa setelah para siswa selesai mengikuti bimbingan

kelompok, diharapkan para siswa akan berkembang sikap dan keterampilannya

sebagai berikut:

(1) Sikap tidak mau menang sendiri, tidak bermaksud menyenangkan


orang lain, tidak gegabah dalam berbicara, ingin membantu orang
lain, lebih melihat aspek positif dalam menanggapi teman-
temannya, sopan, bertenggang rasa, menahan dan mengendalikan
diri, mau mendengar pendapat orang lain, tidak memaksakan
pendapat sendiri, dan mendengar pendapat orang lain.
(2) Keterampilan mengemukakan pendapat pada orang lain,
menerima pendapat orang lain secara tepat dan positif.

c. Teknik-teknik bimbingan kelompok

Menurut Romlah (1989: 95) Menyatakan ada beberapa ”teknik bimbingan

kelompok yaitu pemberian informasi, diskusi kelompok, pemecahan masalah,

permainan peranan (Role Playing), permainan simulasi, karyawisata, dan Home

room”.
11

Adapun penjelasan mengenai teknik bimbingan kelompok menurut

Romlah (1989) antara lain :

1) Pemberian Informasi

Teknik pemberian informasi sering juga disebut dengan metode ceramah,

yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok

pendengar. Pelaksanaan teknik pemberian informasi mencakup tiga hal, yaitu

perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.

2) Diskusi kelompok

Diskusi kelompok adalah percakapan yang telah direncanakan antara tiga

orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk

memperjelas suatu persoalan, di bawah pimpinan seorang pemimpin.

3) Pemecahan masalah

Teknik pemecahan masalah merupakan suatu proses kreatif dimana

individu menilai perubahan yang ada pada dirinya dan lingkungannya, dan

membuat pilihan-pilihan baru, keputusan-keputusan atau penyesuaian yang

selaras dengan tujuan dan nilai hidupnya.

4) Permainan peran (role playing)

Permainan peranan adalah suatu alat belajar yang menggambarkan

keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan antar

manusia dengan jalan memerankan situasi-situasi yang paralel dengan yang terjadi

dalam kehidupan yang sebenarnya.


12

5) Permainan simulasi

Permaianan simulasi adalah permainan yang dimaksudkan untuk

merefleksikan situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan yang sebenarnya.

Permainan simulasi dapat dikatakan merupakan gabungan antara teknik

permainan peranan dan teknik diskusi.

6) Karyawisata

Karyawisata adalah kegiatan yang diprogramkan oleh sekolah untuk

mengunjungi objek-objek yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari

siswa, dan dilaksanakan untuk tujuan belajar secara khusus.

7) Home room

Kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok siswa diluar jam pelajaran

dalam suasana kekeluargaan dan dipimpin oleh guru atau konselor. Kegiatan

home room dapat dilakukan secara periodik, misalnya seminggu sekali. Dalam

kegiatan ini konselor sekolah dan siswa dapat lebih dekat, seperti dalam situasi

rumah.

d. Pelaksanaan bimbingan kelompok

Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok menurut Prayitno (1999: 40) ada

empat tahapan, yaitu:

1) Tahap I Pembentukan

Terdiri dari beberapa kegiatan antara lain adalah sebagai

berikut:

a) Mengungkapkan pengertian, tujuan kegiatan kelompok dalam

rangka bimbingan kelompok. Ini dilakukan agar masing-masing


13

anggota mengerti mengenai bimbingan kelompok dan kenapa

bimbingan kelompok dilaksanakan dan akhirnya membuat

masing-masing anggota akan melaksanakan proses ini dengan

lebih serius.

b) Menjelaskan cara dan aturan kegiatan kelompok. Dengan

memberikan penjelasan tentang hal ini agar masing-masing

anggota mengetahui aturan main yang akan diterapkan dalam

bimbingan kelompok tersebut.

c) Saling memperkenalkan diri, mengungkapkan diri, saling

mempercayai dan saling menerima, agar suasana kelompok

dapat terjalin menjadi lebih hidup. Sehingga tidak ada rasa

sungkan antara anggota kelompok yang satu dengan yang

lainnya, dan ditekankan dengan asas kerahasiaan.

d) Menentukan agenda kegiatan. Apabila agenda kegiatan

ditentukan dan disepakati secara bersama-sama, maka akan

memberikan suasana kebersamaan serta akan terjalin suasana/

hubungan yang lebih akrab.

2) Tahap II Peralihan

Tahap II terdiri dari beberapa kegiatan antara lain sebagai

berikut:

a) Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap

berikutnya.
14

b) Mengamati dan menawarkan apakah anggota kelompok sudah

siap memasuki tahap selanjutnya.

c) Membahas suasana yang terjadi.

d) Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.

e) Bila perlu kembali pada beberapa aspek tahap pertama.

3) Tahap III Kegiatan

Tahap III terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain sebagai

berikut:

a) Pemimpin kelompok mengungkapkan suatu masalah atau topik.

b) Tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok

tentang hal-hal yang belum jelas yang menyangkut masalah atau

topik yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok.

c) Anggota kelompok membahas masalah atau topik tersebut

secara mendalam sampai tuntas.

d) Kegiatan selingan.

4) Tahap IV Pengakhiran

Tahap pengakhiran terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain

sebagai berikut:

a) Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan

berakhir.

b) Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan

hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan.

c) Merencanakan kegiatan selanjutnya.


15

d) Mengemukakan pesan dan harapan.

e) Menghentikan kegiatan.

2. Home Room

a. Pengertian Home Room

Menurut Pietrofesa (Romlah, 2006), home room adalah teknik untuk

mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar jam-jam pelajaran

dalam suasana kekeluargaan, dan dipimpin konselor. Menurut Sukmadinata

(Romlah, 2006), home room adalah suatu program pembimbingan siswa dengan

cara menciptakan situasi atau hubungan bersifat kekeluargaan. Sedangkan

menurut Nursalim (2002: 57) “home room adalah suatu kegiatan bimbingan

kelompok yang dilakukan dalam ruangan atau kelas dalam bentuk pertemuan

antara konselor dengan kelompok untuk membicarakan beberapa hal yang

dianggap perlu terutama hal-hal atau masalah-masalah yang berhubungan dengan

pelajaran, masalah sosial, masalah tata tertib dan moral, cara berpakaian, atau

masalah-masalah lain di luar sekolah”.

Sedangkan menurut Salahudin (2010: 96-97) bahwa:

“Home room yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan


agar guru mengenal murid-muridnya lebih baik sehingga dapat
membantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan di dalam kelas
dalam bentuk pertemuan antara guru dan murid di luar jam-jam
pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu”.

Ahmadi dan Rohani (1991: 169) mengemukakan pendapatnya tentang

pengertian “teknik home room yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan

dengan tujuan agar guru dapat mengenal peserta didiknya lebih baik, sehingga

dapat membantunya secara efisien”. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas, dalam
16

bentuk pertemuan antar guru dengan murid di luar jam-jam pelajaran untuk

membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Dalam program ini home room

ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga

peserta didik dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah. Atau dengan kata

lain home room ialah membuat suasana kelas seperti dirumah. Dalam kesempatan

ini diadakan tanya jawab, menampung pendapat, merencanakan suatu kegiatan

dan sebagainya. Program home room dapat diadakan secara periodik (berencana)

atau dapat pula dilakukan sewaktu-waktu.

Mahmud A. dan Sunarty, (2012: 43) menyatakan bahwa “Home room

adalah teknik bimbingan kelompok berbentuk pertemuan dengan sekelompok

siswa di luar jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan yang dipimpin oleh

konselor. Fokus home room adalah terciptanya suasana yang penuh kekeluargaan

seperti suasana rumah yang menyenangkan agar siswa merasa aman dan dapat

mengungkapkan masalah-masalah yang tak dapat dibicarakan pada waktu jam

pelajaran bidang studi. Kegiatan home room mempunyai 2 fungsi, yaitu:

menyediakan program bimbingan yang sistematis dan proses penyaringan siswa-

siswa yang mempunyai masalah yang lebih mendalam yang perlu dikirim ke

konselor. Hal-hal yang dibicarakan dalam home room antara lain: pemilihan

lanjutan sekolah, pembagian kerja dalam kegiatan kelompok, pemilihan

pekerjaan, penggunaan waktu luang atau senggang dan perencanaan masa depan.

Masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam home room di teruskan ke konselor

untuk mendapatkan layanan lebih lanjut, baik berupa konseling individual atau

kegiatan kelompok lainnya. Waktu untuk melaksanakan kegiatan ini satu minggu
17

satu kali pertemuan atau dua minggu satu kali satu jam pelajaran dan

dirundingkan dengan kepala sekolah serta guru-guru lainnya atau menggunakan

jam-jam pelajaran yang lowong/kosong”.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan

kelompok teknik home room adalah teknik penciptaan suasana kekeluargaan yang

digunakan untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar jam-

jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu terutama

hal-hal atau masalah-masalah yang berhubungan dengan pelajaran, kegiatan

sosial, masalah tata tertib dan moral, cara berpakaian, atau masalah- masalah lain

di luar sekolah.

b. Pelaksanaan Teknik Home Room

Menurut Nursalim (2002: 7) pelaksanaan teknik home room yaitu:

1) Konselor atau guru menyiapkan ruangan atau kelas yang


diperlukan dengan segala sarana dan prasarananya
2) Menghubungi siswa dari berbagai kelas dengan jumlah terbatas
untuk berkumpul
3) Konselor atau guru menjelaskan tujuan kelompok home room
dilaksanakan
4) Dialog terbuka antara konselor dan kelompok home room
dilaksanakan
5) Menyimpulkan hasil kegiatan

c. Ciri-ciri dan Tujuan Teknik Home room

Terdapat ciri-ciri dalam teknik home room, antara lain:

1) Bersifat kekeluargaan

2) Bersifat terbuka

3) Bebas

4) Menyenangkan
18

5) Berkelompok

Tujuan dari pelaksanaan teknik home room:

a) Mengidentifikasi masalah dan dapat membantu siswa mampu mengatasi

masalahnya

b) Menjadikan peserta didik akrab dengan lingkungan baru

c) Untuk memahami diri sendiri (mampu menerima kekurangan dan

kelebihan diri sendiri) dan memahami orang lain dengan (lebih) baik

d) Untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok

e) Untuk mengembangkan sikap positif dan kebiasaan belajar

f) Untuk menjaga hubungan sehat dengan orang lain

g) Untuk mengembangkan minat dan keterlibatan dalam kegiatan

ekstrakurikuler

h) Untuk membantu peserta didik dalam memilih bidang spesialisasi

d. Manfaat Teknik Home room

Dari tujuan-tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat teknik home

room bagi guru pembimbing yaitu guru dapat lebih mengenal dan memahami

siswa, guru juga dapat membangun hubungan yang akrab antara guru dengan

murid. Sedangkan bagi siswa yaitu menciptakan suasana yang akrab antara

sesama siswa sehingga tercipta suasana yang harmonis disekolah, prososial,

timbulnya rasa bekerja sama dan gotong royong.

Manfaat teknik home room juga tak jauh beda dengan bimbingan

kelompok, adapun manfaat bimbingan kelompok adalah adanya kesempatan untuk

berkontak dengan banyak siswa; memberikan informasi yang dibutuhkan oleh


19

siswa; siswa dapat menerima dirinya setelah menyadari bahwa teman-temannya

sering menghadapi persoalan, kesulitan, dan tantangan yang kerap kali sama;

siswa menyadari tantangan yang dihadapinya; lebih berani mengemukakan

pandanganya ketika berada dalam suatu kelompok; lebih menerima pandangan

atau pendapat yang dikemukakan oleh seorang teman dari pada yang diutarakan

oleh seorang konselor.

e. Cara Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Teknik Home room

Cara pelaksanaan bimbingan kelompok teknik home room menurut

Nursalim (2002: 7) yaitu:

1) Konselor/guru menyiapkan ruangan atau kelas yang diperlukan

dengan segala sarana dan prasarananya.

2) Menghubungi siswa dari berbagai kelas dengan jumlah terbatas

untuk berkumpul.

3) Konselor/guru menjelaskan tujuan kelompok home room

dilaksanakan.

4) Dialog terbuka antara konselor dan kelompok home room

dilaksanakan.

5) Menyimpulkan hasil kegiatan.

6) Dari cara pelaksanaan di atas dapat dijabarkan mengenai tahap-

tahap dalam bimbingan kelompok teknik home room,yaitu:

a) Pembentukan

(1)Konselor menyiapkan ruangan yang diperlukan dengan segala

sarana dan prasarana, kemudian menghubungi siswa dari


20

berbagai kelas dengan jumlah terbatas. Pemilihan siswa terbatas

berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Selanjutnya,

konselor menjelaskan tujuan bimbingan kelompok teknik home

room dilaksanakan dan menjelaskan aturan bimbingan

kelompok teknik home room.

(2)Peralihan

(a)Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap

berikutnya pada kegiatan bimbingan kelompok teknik home

room.

(b)Mengamati dan menawarkan apakah anggota kelompok sudah

siap memasuki tahap selanjutnya.

(c)Membahas suasana yang terjadi.

(d)Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.

(e)Bila perlu kembali pada beberapa aspek tahap pertama.

(3)Kegiatan

(a)Pemimpin kelompok mengungkapkan suatu masalah atau topik.

(b)Tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok

tentang hal-hal yang belum jelas yang menyangkut masalah atau

topik yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok.

(c)Anggota kelompok membahas masalah atau topik tersebut

secara mendalam sampai tuntas.

(d)Kegiatan selingan.
21

(4)Pengakhiran

(a)Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan bimbingan

kelompok teknik home room akan segera berakhir,

mengemukakan pesan dan kesan, merencanakan kegiatan

selanjutnya serta menyimpulkan hasil kegiatan

3. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Menurut Nashar (Clayton, 2004), motivasi belajar adalah kecenderungan

siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk

mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.

Menurut Nurwahidah (Sardiman, 2004) menyatakan motivasi belajar

merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual, peranannya yang khas

dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.

Adanya motivasi dalam diri siswa akan membangkitkan semangat belajar bagi

siswa it u sendiri. Artinya bahwa bila seorang siswa mempunyai motivasi sukses

yang lebih kuat, maka ia akan mencari jalan keluar dari kesulitan yang

dihadapinya. Akan tetapi bila motivasi suksesnya itu lemah, maka ia cenderung

untuk mencari jalan pintas dan bahkan menempuh jalan yang sulit sebagai bentuk

pelarian dari masalah yang dihadapinya itu.

Menurut Donald (Islamuddin, 2011) mengatakan bahwa motivasi adalah

suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang di tandai dengan

timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Sedangkan


22

menurut Hamalik (Djamarah, 2011) menyatakan bahwa suatu perubahan energi

dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik.

Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang

mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai dengan segala upaya yang dapat

dia lakukan untuk mencapainya. Menurut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(Depdikbud, 1988: 593) dinyatakan:

Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang


sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan
tujuan tertentu atau usaha-usaha yang menyebabkan seseorang
atau sekelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu
karena ingin mencapai sesesuatu yang dikehendakinya atau
mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang

tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas

belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak

menentu kebutuhannya (Djamarah, 2011).

Belajar dan motivasi adalah dua hal yang saling mempengaruhi, belajar

akan maksimal dilakukan siswa jika dibarengi motivasi yang kuat baik dari dalam

diri sendiri maupun dari luar diri siswa. Ini sesuai dengan pendapat Dimiyanti &

Mudjono (2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang

mendorong terjadinya proses belajar”. Lemahnya motivasi belajar siswa akan

berdampak pada hasil belajarnya. Sementara Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi

belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan

kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai

tujuan”.
23

Menurut Maslow (Djamarah, 2011) kebutuhan dibagi menjadi 5 tingkatan

yaitu:

(i) kebutuhan fisiologis, (ii) kebutuhan akan perasaan aman, (iii) kebutuhan social,

(iv) kebutuhan akan penghargaan diri, (v) kebutuhan untuk aktualisasi diri.

kebutuhan fisiologis berkenan dengan kebutuhan pokok manusia seperti pangan,

sandang, perumahan, kebutuhan rasa aman berkenaan dengan perwujudan berupa

di terima oleh orang lain, jati diri yang khas, berkesempatan maju, merasa diikut

sertakan dan pemilikan harga diri, kebutruhan aktualisasi diri berkenaan

kebutuhan individu untuk menjadi sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.

Daruma, dkk (2002: 29) menjelaskan bahwa: Manifestasi dari siswa yang

kurang motivasi belajar dapat dilihat pada sejumlah gejala, yaitu:

1) Kelesuan dan ketidak berdayaan: malas, segan, lambat bekerja,

mengulur waktu, pekerjaan tidak selesai, kurang konsentrasi,

acuh tak acuh, apatis, keadaan jasmani kurang baik, mudah lupa,

pusing-pusing, mual dan mengantuk.

2) Penghindaran atau pelarian diri: absen dari sekolah, suka bolos

dan datang terlambat, tidak mencatat pelajaran, dan sebagainya.

3) Penentangan: kenakalan, suka mengganggu atau merusak, tidak

menyukai pelajaran atau kegiatan tertentu, mengeritik dan

berdalih.

4) Mencari kompensasi: mencari kesibukan lain di luar pelajaran,

mengerjakan tugas lain pada saat belajar, mendahulukan


24

pelajaran yang tidak penting.

Dari beberapa definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli mengenai

motivasi belajar maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi belajar

adalah usaha yang dilakukan seseorang karena adanya maksud serta tujuan

tertentu yang ingin dicapai. Sehingga motivasi selalu mendorong rasa ingin tahu

dan membangkitkan semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

Adanya motivasi dalam diri siswa akan membangkitkan semangat belajar

bagi siswa itu sendiri. Artinya bahwa bila seorang siswa mempunyai motivasi

sukses yang lebih kuat, maka ia akan mencari jalan keluar dari kesulitan yang

dihadapinya. Akan tetapi bila motivasi suksesnya itu lemah, maka siswa

cenderung untuk mencari jalan pintas dan bahkan menempuh jalan yang sulit

sebagai bentuk pelarian dari masalah yang dihadapinya itu.

b. Tujuan motivasi belajar

Berdasarkan uraian pada latar belakang sampai pada pengertian motivasi

dan motivasi belajar, maka secara umum peneliti memandang bahwa motivasi

belajar memberikan tujuan untuk memberikan dorongan serta membangkitkan

semangat individu untuk melakukan suatu perubahan sesuai dengan harapan yang

diinginkan guna memperoleh hasil dan tujuan tertentu. Menurut Zaenuddin

(2008: 17) menjelaskan “tujuan motivasi menurut profesinya, bagi seorang

manajer, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan pegawai atau bawahan

dalam usaha meningkatkan prestasi kerjanya sehingga tercapai tujuan organisasi

yang dipimpinnya”. Bagi guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau

memicu para siswa agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan
25

prestasi belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan harapan yang

telah ditetapkan dalam kurikulum sekolah.

Sebagai calon pembimbing atau pendidik di sekolah mesti dibekali

kemampuan untuk bisa menjadi motivator bagi peserta didik. Sehingga siswa

dalam menuntut ilmu bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai tapi

bagaimana siswa mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam

kehidupan sehari-hari. Pendidik harus mampu mengenali karakter serta pribadi

peserta didiknya sehingga dalam proses belajar mengajar berlangsung secara

menyenangkan baik untuk peserta didik maupun pendidik.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang

terhadap suatu objek terdiri atas dua faktor yaitu faktor dari dalam diri seseorang

dan faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Begitupun faktor yang

mempengaruhi motivasi belajar siswa dipengaruhi faktor dari dalam dan dari luar

diri siswa.

Djamarah (2011: 115) mengklasifikasikan faktor-faktor yang

mempengaruhi motivasi belajar yaitu:

a) motivasi intrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau


berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri
setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Sebagai contoh orang yang senang membaca. b) motivasi
ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif berfungsinya karena ada
rangsangan dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar
untuk mendapat nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacar atau
temannya.
26

Untuk melakukan kegiatan baik belajar maupun bekerja motivasi sangat

mempengaruhi hasil yang diperoleh dari setiap usaha. Antara motivasi yang satu

dengan yang lainnya saling mempengaruhi seperti motivasi ekstrinsik mempunyai

peranan penting untuk menimbulkan motivasi intrinsik.

Adapun ciri-ciri motivasi intrinsik menurut Winkel (1989: 4) diantaranya


sebagai berikut:
a) Keseriusan dalam belajar
b) Belajar karena ingin memecahkan masalah
c) Belajar untuk mengetahui mekanisme sesuatu berdasarkan
hukum dan rumus
d) Belajar demi mencapai cita-cita dan impian pada intinya
motivasi adalah dorongan untuk mencapai tujuan.

Dapat diketahui bahwa dengan adanya keinginan yang kuat bisa memicu
dorongan yang tumbuh dari dalam diri seseorang. Ciri motivasi ekstrinsik
menurut Winkel ( 1989: 94) :
1) Belajar demi memenuhi kewajiban
2) Belajar demi menghindari hukuman
3) Belajar demi memperoleh hadiah material yang disajikan
4) Belajar demi meningkatkan gengsi
5) Belajar demi peroleh pujian dari orang yang penting seperti
orang tua dan guru.
6) Belajar demi memperoleh tuntutan jabatan yang ingin
dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan
pangkat atau golongan administrasi.

d. Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar

Menurut Djamarah (2011: 158), Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat

di manfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai

berikut :

1) Memberi angka

Angka di maksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas

belajar anak didik.


27

2) Hadiah

Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai

penghargaan atau kenang-kenangan/cindera mata.

3) Kompetisi

Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk

mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar.

4) Ego-Involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya

tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras

dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk

motivasi yang cukup penting.

5) Memberi ulangan

Ulangan biasa di jadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya

mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi

ulangan. Ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi

anak didik agar lebih giat belajar.

6) Mengetahui hasil

Belajar biasa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil,

anak didik terdorong untuk belajar lebih giat.

7) Pujian

Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan

motivasi yang baik.


28

8) Hukuman

Meski hukuman sebagai reinsforcement yang negative, tetapi bila

dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik

dan efektif.

9) Hasrat untuk belajar

Berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat untuk

belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar,

sehingga sudah tentu hasilnya akan lebih baik dari pada anak didik yang

tak berhasrat untuk belajar.

10) Minat

Adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan

mengenang beberapa aktivitas.

11) Tujuan yang diakui

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan

alat motivasi yang sangat pening.

e. Upaya meningkatkan motivasi belajar

Menurut Djamarah (2011: 168), ada 4 fungsi guru sebagai pengajar yang

berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivsi belajar anak

didik, yaitu:

1) Menggairahkan anak didik

Sebagai seorang guru, harus memelihara minat anak didik dalam

belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk


29

berpindah dari satu aspek ke aspek lain pelajaran dalam situasi

belajar

2) Memberikan harapan realistik

Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang

realistic dan memodifikasi harapan-harapan yang tidak realistis

3) Memberikan insentif

Bila anak didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan

memberikan hadiah kepada anak didik (dapat berupa pujian atau

angka yang baik), atas keberhasilannya, sehingga anak didik

terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai

tujuan-tujuan pengajaran.

4) Mengarahkan perilaku anak didik

Mengarahkan perilaku anak didik adalah tugas guru. Di sini

kepada guru dituntuk untuk memberikan respon terhadap anak

didik yang tak terlibat langsung dalam kegiatan belajar dikelas.

B. KERANGKA PIKIR

Motivasi belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang karena adanya

maksud serta tujuan tertentu yang ingin dicapai. Sehingga motivasi selalu

mendorong rasa ingin tahu dan membangkitkan semangat untuk melakukan

sesuatu yang lebih baik.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimiyanti & Mudjono

(2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang mendorong

terjadinya proses belajar”, Lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada
30

hasil belajarnya. Menurut Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi belajar adalah

keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar

dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.

Fakta di lapangan, tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang

tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan kepada guru

BK dan beberapa siswa di MAN 1 Makassar, diketahui bahwa beberapa siswa

malas mengikuti kegiatan belajar mengajar disekolah, siswa sering bolos, mudah

menyerah dan tidak mau belajar lagi ketika menghadapi kesulitan belajar, dan

belum memiliki orientasi masa depan atau cita-cita yang jelas, sehingga prestasi

belajarnya masih kurang memuaskan.

Solusi yang diberikan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah

dengan memberikannya teknik home room dengan materi tentang motivasi

belajar. Metode ini dirasa cukup efektif karena dalam teknik home room yang

ditekankan adalah suasana kekeluargaan, seperti suasana rumah yang

menyenangkan dan akrab, sehingga, siswa merasa aman dan nyaman sehingga

dapat mengungkapkan masalah-masalah yang tak dapat dibicarakan dalam kelas

pada waktu jam pelajaran bidang studi. Dengan terciptanya suasana kekeluargaan

dalam teknik home room, masalah motivasi belajar siswa dapat terselesaikan

karena siswa tidak canggung dalam mengungkapkan masalahnya kepada anggota

lain sehingga akan terjadi disuksi mengenai materi yang sudah ditentukan

sebelumnya yaitu mengenai motivasi belajar yang akan membuat siswa mengerti

dan sadar akan pentingnya motivasi belajar. Dalam teknik home room juga akan

tercipta komitmen antar anggota kelompok, sehingga tidak ada lagi sikap tertutup
31

dari masing-masing anggota kelompok. Disisi lain, guru BK belum pernah

menerapkan teknik home room dalam penyelesaian masalah siswa, khususnya

dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Melihat kenyataan tersebut dengan

diterapkannya teknik home room, diharapkan dapat memberikan solusi mengatasi

permasalahan yang dihadapi siswa.

Memberikan teknik home room berarti memberikan variasi metode dalam

pemecahan masalah siswa sehingga masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan

layanan yang sudah dilakukan sebelumnya dapat diselesaikan dengan teknik home

room. Jika siswa sudah mempunyai motivasi belajar yang tinggi siswa akan lebih

rajin dalam belajar.


32

Berdasarkan penjelasan sebelumya, adapun skema kerangka pikir sebagai

berikut:

Motivasi belajar siswa rendah


a. Siswa malas mengikuti kegiatan belajar mengajar
di sekolah
b. Siswa sering bolos
c. Mudah menyerah dan tidak mau belajar lagi
ketika menghadapi kesulitan belajar
d. Belum memiliki orientasi masa depan atau cita-
cita yang jelas

Penerapan teknik home room


a. Membangun suasana kekeluargaan
b. Diskusi/dialog terbuka
c. Feedback

Motivasi belajar siswa meningkat


a. Siswa rajin mengikuti kegiatan belajar mengajar
di sekolah
b. Siswa tidak bolos lagi
c. Siswa tidak mudah menyerah dan mampu
menghadapi kesulitan belajar
d. Siswa memiliki orientasi masa depan atau cita-
cita yang jelas
Gambar 2.1 Kerangka Pikir

C. HIPOTESIS

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir, yang telah diuraikan di

atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Teknik home room dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 MAKASSAR”


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono (2015: 14) metode penelitian kuantitatif adalah sebagai

metode penelitian yang berlandaskan pada hubungan gejala yang bersifat sebab

akibat, terukur, dan teramat. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan

pendekatan eksperimen yang bersifat kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan

disini adalah Pre-Experimental, yang akan mengkaji tentang penerapan teknik

home room untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Di MAN 1 Makassar. Desain

yang digunakan adalah Pre-Experimental.

B. Variabel dan Desain Penelitian

Penelitian ini mengkaji dua variabel, yaitu independent variable (variabel

bebas) dan dependent variable (variabel terikat). Penerapan teknik Home Room

sebagai variabel bebas (X) atau yang mempengaruhi (independent variable), dan

motivasi belajar sebagai variabel terikat (Y) atau yang dipengaruhi (dependent

variable). Desain eksperimen yang digunakan adalah one group pretest-posttest

design yang dapat digambarkan sebagai berikut :

O1 X O2

Gambar 3.1 Desain Penelitian


Keterangan :
O1 : pengukuran pertama sebelum diberi perlakuan (pre-test)
X : treatment atau perlakuan ( teknik home room )
O2 : pengukuran kedua setelah diberi perlakuan (post-test)

(Sugiyono, 2015: 111)

Prosedur pelaksanaan penelitian yaitu mulai dari tahap perencanaan,

pretest, pemberian perlakuan berupa teknik home room, kemudian posttest.

Adapun prosedur pelaksanaan sebagai berikut :

1. Identifikasi masalah, yakni menentukan subjek eksperimen yaitu siswa

yang mengalami motivasi belajar rendah.

2. Pelaksanaan pretest terhadap subjek eksperimen berupa pemberian angket

penelitian yang berisi daftar item pernyataan tentang motivasi belajar.

3. Pemberian perlakuan berupa pemberian teknik home room dalam bentuk

layanan bimbingan kelompok.

4. Pelaksanaan posttest terhadap subjek eksperimen berupa pemberian

angket penelitian yang berisi item pernyataan tentang motivasi belajar

setelah diberi perlakuan. Pemberian angket ini serupa halnya dengan yang

diberikan saat pretest.

5. Menerapkan analisis statistik yang sesuai, dalam hal ini untuk mengetahui

pengaruh penerapan teknik home room untuk meningkatkan motivasi

belajar siswa dengan menggunakan uji Wilcoxon kemudian memberikan

tafsiran atau interpretasi atau memberi makna dari hasil pengujian

statistik.
C. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan batasan-batasan digunakan untuk

menghindari perbedaan interpretasi terhadap variabel yang diteliti dan sekaligus

menyamakan persepsi tentang variabel yang dikaji, maka dikemukakan definisi

operasional variabel penelitian sebagai berikut :

1. Motivasi belajar adanya dorongan rasa ingin tahu dan membangkitkan

semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Adapun kriteria dalam

motivasi belajar yaitu keseriusan dalam belajar, belajar karena ingin

memecahkan masalah, belajar demi mencapai cita-cita, dan belajar demi

memenuhi kewajiban.

2. Teknik home room adalah teknik penciptaan suasana kekeluargaan yang

digunakan untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar

jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu

terutama hal-hal atau masalah-masalah yang berhubungan dengan

pelajaran, kegiatan sosial, masalah tata tertib dan moral, cara berpakaian,

atau masalah- masalah lain di luar sekolah.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Sugiyono (2015: 80) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan

populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Peneliti memberikan angket

tentang motivasi belajar siswa pada kelas X IIS 1, X IIS 2, X IIS 3, dan X IIS 4,
sebanyak 50 orang. Hasil analisis angket tersebut diperoleh 30 orang siswa yang

memiliki motivasi belajar rendah, dan 20 sisanya termasuk dalam kategori tinggi.

Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti ingin meningkatkan motivasi belajar

siswa, jadi dalam penarikan populasi saya hanya mengambil 30 siswa yang akan

menjadi subjek penelitian yang akan diteliti. Berikut data sebelum penetuan

populasi dan setelah penyebaran populasi sebagai berikut:

Tabel 3.2 Data Sebelum Penentuan Populasi di MAN 1 Makassar


Interval Kategori F P(%)
127–150 Sangat tinggi 10 20%
103–126 Tinggi 10 20%
79–102 Sedang - -
55–78 Rendah 30 60%
30 –54 Sangat rendah - -
Jumlah 50 100%

Tabel 3.3 Data Penyebaran Populasi Penelitian


NO Kelas Jumlah Siswa
1 X IIS 1 8
2 X IIS 2 8
3 X IIS 3 7
4 X IIS 4 7
TOTAL 30
Sumber : Hasil Perolehan Angket

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. Jadi dapat dikatakan sampel merupakan wakil populasi yang

diteliti. Dari jumlah populasi sebanyak 30 siswa di kelas X IIS 1, 2 3, dan 4, ada

10 siswa yang teridentifikasi mengalami motivasi belajar rendah. Adapun teknik

sampling yang digunakan adalah purposive sampling dimana subjek penelitian

diambil dengan pertimbangan berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru

pembimbing yaitu ibu Mikiawati [Link] sebelum penelitian di MAN 1 Makassar,


terdapat siswa yang teridentifikasi mengalami motivasi belajar yang rendah

dengan indikasi seperti tingkah laku siswa malas mengikuti kegiatan belajar

mengajar di sekolah, siswa sering bolos, mudah menyerah dan tidak mau belajar

lagi ketika menghadapi kesulitan belajar, belum memiliki orientasi masa depan

atau cita-cita yang jelas. Adapun menurut Sugiyono (2015: 132) “untuk penelitian

eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan

kelompok control maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s/d 20”.

Sependapat dengan Prayitno (1999: 70) “perbandingan aspek-aspek dalam

bimbingan kelompok dapat dikelompokkan berdasarkan anggota yang dibatasi 10-

50 orang”.

Tabel 3.4 Penyebaran Siswa Yang Menjadi Sampel Penelitian Kelompok


Eksperimen
NO Kelas Banyaknya siswa
1 X IIS 1 2
2 X IIS 2 2
3 X IIS 3 3
4 X IIS 4 3
TOTAL 10
Sumber : Guru BK MAN 1 Makassar Tahun 2016-2017

E. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data sangat dibutuhkan dalam penelitian, sebab

dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan oleh

kualitas alat pengumpulan data yang cukup valid.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:


1. Bahan Perlakuan

Bahan perlakuan berupa skenario teknik home room, yang sesuai dengan

tahap-tahap bimbingan kelompok. Kegiatan ini terbagi dalam 5 pertemuan

termasuk pre-test dan post-test. Adapun tahap penerapan teknik home room dalam

bimbingan kelompok terbagi menjadi 3 tahap yang dideskripsikan sebagai

berikut:

a. Membangun suasana kekeluargaan

b. Melakukan diskusi/dialog terbuka

c. Feedback

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data sangat dibutuhkan dalam penelitian, sebab

dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan oleh

kualitas alat pengumpulan data yang cukup valid.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Teknik Angket (kuesioner)

Teknik pengumpulan data sangat di butuhkan dalam penelitian, sebab

dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan kualitas

alat pengumpulan data yang cukup valid. Instrument ini diberikan dan diedarkan

kepada subjek eksperimen untuk memperoleh gambaran tentang motivasi belajar

siswa, baik pada saat pre-test maupun post-test setelah diberikan perlakuan berupa

teknik home room. Menurut Sugiyono (2015: 134) “Skala likert digunakan untuk

mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang

fenomena sosial”. Setiap item pertanyaan yang diberikan dilengkapi dengan


jawaban dengan lima pilihan dengan pembobotan rentang 1 sampai 5 yaitu, untuk

item positif Jawaban SS bobotnya 5, Jawaban S bobotnya 4, Jawaban CS

bobotnya 3, Jawaban KS bobotnya 2, Jawaban TS bobotnya 1, Sedangkan untuk

item negatif pilihan jawaban SS bobotnya 1, Jawaban S bobotnya 2, jawaban CS

bobotnya 3, jawaban KS bobotnya 4, dan jawaban TS bobotnya 5.

Tabel 3.5 Pembobotan Angket Penelitian


Kategori
Pilihan Jawaban
Favorable Unfavorable
Sangat Sesuai (SS) 5 1
Sesuai (S) 4 2
Cukup Sesuai (CS) 3 3
Kurang Sesuai (KS) 2 4
Tidak Sesuai (TS) 1 5

Sebelum angket digunakan untuk penelitian lapangan, angket terlebih

dahulu diuji dilapangan terbatas untuk mengetahui validitas dan realibilitasnya.

1) Uji Validitas

Uji validitas rasional bertujuan mengetahui tingkat kelayakan instrumen

dari segi bahasa, konstruk dan isi. Penimbangan atau uji validitas rasional

dilakukan oleh dosen ahli dan pengolahan computer program SPSS 20,00.

Ditemukan bahwa dari 40 item pernyataan, yang tidak valid sebanyak 10 item

disebabkan nilai r yang diperoleh < (lebih kecil atau kurang) dari 0,3 yaitu item

nomor 1 (0,052 ), nomor 2 (-0,158), nomor 4 (0,070), nomor 5 (0,155), nomor 13

(0,200), nomor 16 (0,272), nomor 22 (0,053 ) nomor 25 (-0, 085), nomor 28

(0,281), nomor 31 (0,242) sehingga jumlah item setelah uji validitas sebanyak 30

item pernyataan. Hasil pengujian validitas dapat dilihat pada lampiran 8.


2) Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas adalah suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang

baik apabila alat ukur tersebut dapat memberikan skor yang relatif sama pada

seorang responden, jika responden tersebut mengisi angket pada waktu yang

tidak bersamaan atau pada tempat yang berbeda, walaupun harus memperhatikan

adanya aspek persamaan karakteristik. Dalam penentuan tingkat reliabilitas suatu

instrumen penelitian dapat diterima apabila memiliki koefisien alpha lebih besar

dari 0,60. Sehingga instrumen penelitian ini dikatakan reliabel karena memiliki

koefisien alpha > 0,60 sesuai yang dikemukakan oleh Nugroho & Suyuthi

(Sugiyono, 2015). Sehingga instrument penelitian ini dikatakan reliabel karena

memiliki koefisien alpha > 0,60 yaitu 0,856. Hasil penguji reliabilitas item secara

lengkap dapat dilihat pada lampiran 8.

b. Teknik Observasi

Teknik observasi dibuat oleh peneliti yang digunakan untuk mengetahui

partisipasi siswa selama mengikuti bimbingan kelompok dengan menggunakan

teknik home room, melalui pengamatan langsung terhadap kelompok penelitian.

Cara penggunaannya dengan cara memberi tanda cek (√) pada setiap aspek yang

muncul. Adapun kriterianya ditentukan sendiri oleh peneliti berdasarkan

persentase dilakukan pada waktu pengamatan. Persentase kemunculan setiap

aspek pada setiap kali pertemuan latihan dengan menggunakan rumus sebagai

berikut:
nm
Analisis Individual = × 100%
N

Nm
Analisis Kelompok = × 100%
P

(Abimanyu, 1983: 26)

Dimana:
nm : Jumlah item yang tercek dari satu siswa
N : Jumlah item dari seluruh aspek yang diobservasi
Nm : Jumlah cek pada item aspek tertentu yang tercek dari seluruh siswa
P : Jumlah siswa
Kriteria untuk penetuan hasil observasi dibuat berdasarkan hasil analisis

persentase individu dan kelompok yaitu nilai tertinggi 100% dan terendah 0%

sehingga diperoleh kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.6 Kriteria Penentuan Hasil Observasi


Persentase Kriteria
80%-100% Sangat tinggi
60%-79% Tinggi
40%-59% Sedang
20%-39% Rendah
0%-19% Sangat rendah

F. Teknik Analisis Data

Analisis data penelitian dimaksudkan untuk menganalisis data hasil tes

penelitian berkaitan dengan motivasi belajar siswa, teknik analisis data yang

digunakan adalah analisis deskriftif dan non parametric Wilcoxon Signed Ranks

Test (Z).

1. Analisis Statistik Deskriftif

Analisis statistik deskriftif dimaksudkan untuk menggambarkan motivasi

belajar pada siswa MAN 1 Makassar sebelum dan sesudah perlakuan berupa
pemberian Teknik home room, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi

dan persentase dengan rumus persentase, yaitu :

(Tiro, 2004: 242)

Dimana :
P : Persentase
f : Frekuensi yang dicari persentase
N : Jumlah subyek (sampel)

Guna memperoleh gambaran umum tentang motivasi belajar siswa di

MAN 1 Makassar sebelum dan sesudah perlakuan berupa teknik home room,

maka untuk keperluan tersebut, dilakukan perhitungan rata-rata skor variabel

dengan rumus:

(Hadi, 2004: 40)

Dimana:
: Mean (rata-rata)
Xi : Nilai X ke i sampai ke n
N : Banyaknya subjek

Guna memperoleh gambaran umum tentang tingkat motivasi belajar siswa

di MAN 1 Makassar sebelum dan sesudah perlakuan, dilakukan dengan

mengetahui skor ideal tertinggi 150 (30 x 5 = 150), kemudian dikurang dengan

skor ideal terendah yaitu 30 (30 x 1 = 30), selanjutnya dibagi 5 kelas interval

sehingga diperoleh interval kelas 24.

Adapun kategorisasi tingkat motivasi belajar pada siswa yaitu:


Tabel 3.7 Kategorisasi Tingkat Motivasi Belajar Siswa

Interval Kategori
127–150 Sangat tinggi
103–126 Tinggi
79–102 Sedang
55–78 Rendah
30 –54 Sangat rendah
Sumber: Berdasarkan Hasil Perhitungan Skor Ideal

2. Uji hipotesis

Untuk menguji hipotesis penelitian mengenai perbedaan tingkat motivasi

belajar sebelum dan sesudah perlakuan berupa teknik home room dalam

bimbingan kelompok dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan

statistik Z (non parametrik). Dalam pengujian taraf kesalahan ditetapkan sebesar

0,05%.

Uji nonparametrik Wilcoxon Signed Ranks Test digunakan untuk menguji

hipotesis yang diajukan. Hipotesis statistic yang diajukan sebagai berikut :

H0 : µ1 = µ2

H1 : µ1 ≠ µ2

Taraf signifikansi yang digunakan 0,05 dengan kriteria adalah( H0) ditolak

jika Z (hitung) ≤ Z ( tabel) atau sign (2 tailed) > dari 0,05 dan (H0) diterima jika Z

(hitung) ≥ Z (tabel) atau sign (2 tailed) < dari 0,05 (Kariadinata, 2012). Hal ini

berarti terdapat perbedaan motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah pemberian

teknik home room, ini berarti penerapan teknik home room dianggap dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar. Data tersebut diolah

melalui komputer program SPSS seri 20,00.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian Pre-Experimental yang dilakukan

terhadap 10 orang siswa mengenai penerapan teknik home room untuk

meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar. Hasil penelitian

tersebut akan dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif untuk

menggambarkan tingkat motivasi belajar siswa sebelum (pretest) dan sesudah

(posttest) diberi perlakuan, dan analisis non parametric (Uji Wilcoxon Signed

Rank Test) untuk menguji hipotesis penelitian tentang penerapan teknik home

room untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar adalah

sebagai berikut:

1. Gambaran Tingkat Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar

Berdasarkan hasil penyebaran angket tanggal 21 Agustus 2017 sebagai

pengambilan data awal penelitian di MAN 1 Makassar pada kelas X IIS 1, 2, 3,

dan 4 atas rekomendasi guru bimbingan dan konseling terdapat 30 siswa diketahui

diantaranya 10 siswa dalam kategori sedang dengan persentase 33,3%, 20 siswa

dalam kategori rendah dengan persentase 66,7% dalam indikator motivasi belajar.

Peneliti menyebarkan angket motivasi belajar pada 30 siswa pada kelas X IIS 1, 2,

3, dan 4, atas rekomendasi guru BK yakni kelas tersebut merupakan kelas yang

memiliki kriteria motivasi belajar rendah. Hasil pengambilan data awal tentang

motivasi belajar di MAN 1 Makassar, berikut disajikan dalam bentuk tabel:

Tabel 4.1. Data Tingkat Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar


Interval Kategori F P(%)
127-150 Sangat Tinggi - -
103-126 Tinggi - -
79-102 Sedang 10 33,3%
55-78 Rendah 20 66,7 % -
30-54 Sangat Rendah - -
Jumlah 30 100 %
Sumber: Hasil angket penelitian

2. Gambaran Pelaksanaan Penerapan Teknik Home Room Untuk


Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar

Pelaksanaan teknik home room yang diberikan kepada kelompok

eksperimen yang berlangsung selama 5 kali pertemuan (lihat daftar lampiran).

Adapun rincian kegiatan sebagai berikut:

a. Tahap Persiapan

Persiapan dilakukan satu minggu sebelum pelaksanaan kegiatan yaitu pada

tanggal 14 Agustus 2017. Dalam tahap ini peneliti menyiapkan segala sesuatu

yang dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik home room. Adapun kegiatan yang

dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Menyiapkan bahan/media yaitu:

a) Menyiapkan angket, pedoman observasi, bahan informasi, lembar evaluasi.

b) Menetapkan waktu pelaksanaan kegiatan yang telah disepakati oleh guru

BK yang akan digunakan untuk kegiatan ini.

c) Menghubungi siswa dari berbagai kelas dengan jumlah terbatas untuk

berkumpul.
2) Menata setting pertemuan

a) Tempat : Pelaksanaan teknik home room ini dilaksanakan dalam

ruangan atau kelas yang diperlukan dengan segala sarana

dan prasarananya

b) Perlengkapan : Meja, kursi, dan alat tulis

c) Waktu : kegiatan ini dilaksanakan dengan waktu 60 menit

b. Tahap pelaksanaan kegiatan

Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada tanggal 21

Agustus 2017 sampai tanggal 20 September 2017. Pada setiap pelaksanaan teknik

home room telah dijadwalkan sebelumnya pada saat pertemuan awal dengan

siswa. Selama pelaksanaan teknik home room peneliti sebagai konselor bertindak

sebagai fasilitator dalam kegiatan ini. Penelitian ini dilakukan dalam 5 kali

pertemuan.

Adapun proses penelitiannya dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Tahap Permulaan

Pretest dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2017, peneliti melakukan

pertemuan dengan konselor di ruangan BK di MAN 1 Makassar untuk

menentukan 10 siswa yang akan menjadi subyek dalam pelaksanaan teknik home

room tersebut. Sebelum peneliti melakukan teknik home room, guru BK sekolah

terlebih dahulu memperkenalkan peneliti pada siswa, menjelaskan maksud dan

tujuan kedatangan peneliti, serta menjelaskan tujuan dikumpulkannya siswa

tersebut di ruang kelas. Pada pertemuan ini peneliti membangun rapport dengan

siswa selanjutnya peneliti dan siswa saling memperkenalkan diri.


Setelah perkenalan selesai peneliti kemudian memberikan penjelasan

kepada siswa tentang pentingnya mengikuti kegiatan teknik home room secara

berkesinambungan agar masalah bagi siswa yang motivasi belajarnya rendah

dapat meningkat. Ditempat itu, peneliti meminta kesediaan dan kesanggupan

siswa, dan dengan semangat siswa-siswa tersebut menyatakan sanggup dan

bersedia mengikuti bimbingan kelompok dengan teknik home room mulai tes

awal atau pretest hingga pada akhir pertemuan dan diadakan tes ulang atau

posttest.

Sebelum peneliti membagikan angket motivasi belajar, peneliti

menjelaskan tujuan pengisian angket guna mengetahui tingkat motivasi belajar

siswa sebelum diberikan teknik home room. Selanjutnya peneliti

menginstruksikan kepada siswa untuk jujur dan teliti dalam mencentang item-item

pernyataan dalam angket.

Setelah merasa cukup penjelasan, peneliti membagi angket kepada 10 siswa

sebagai subyek penelitian yang diketahui memiliki kategori mengalami motivasi

belajar rendah dan mempersilahkan siswa untuk mengisinya selama 30 menit.

Setelah diisi peneliti mengumpulkan angket tersebut dan mengakhiri pertemuan

dengan mengucapkan terima kasih dan membicarakan tahap selanjutnya.

2) Tahap Peralihan

Pada tahap ini dijelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap

berikutnya. Setelah itu mengamati apakah para anggota apakah sudah siap

menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya dan membahas kembali suasana yang

terjadi, hal ini dilakukan untuk menarik dan memantapkan keikutsertaan peserta
untuk melanjutkan kegiatan. Para peserta menjawab semua dan secara kompak

bahwa mereka sepakat untuk ikut dan melanjutkan kegiatan.

3) Tahap Kegiatan

a. PERTEMUAN KE-1 ( Membangun suasana kekeluargaan)

Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2017, peneliti

melakukan pertemuan dengan 10 siswa yang akan menjadi subyek dalam

pelaksanaan teknik home room tersebut.

Membuka pertemuan dengan mengucapkan salam dan sapaan “apa kabar

semuanya” dan dijawab oleh semua siswa dengan antusias, dimana perhatian

peserta tertuju pada pembicara pada saat itu. Setelah itu tidak lupa mengucapkan

terimakasih karena kehadiran seluruh peserta kelompok. Selanjutnya memberikan

gambaran umum kegiatan yang akan dilaksanakan, mengungkapkan pengertian

dan tujuan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan kelompok

teknik home room, menjelaskan cara-cara dan peraturan kelompok serta asas-asas

kegiatan sehingga seluruh anggota memahami apa yang harus dilakukan dan apa

yang tidak harus dilakukan.

Pada tahap ini juga diberikan permainan penghangatan dan pengakraban

sehingga tumbuhnya minat anggota mengikuti kegiatan, munculnya perasaan

suasana kelompok, kelompok berupa keakraban, nyaman, saling peduli,

mengenal, percaya, menerima, dan saling membantu di antara anggota. Adapun

permainan penghangatan yang dilakukan yaitu “membaca watak dan karakter

pasangan, teman, bahkan orang yang baru anda temui berdasarkan huruf awal

pada nama”. Para siswa diundi sehingga menimbulkan ketegangan dan


meningkatkan konsentrasi semua anggota. Kalimat humor juga diberikan agar

mencairkan ketegangan, sehingga seluruh peserta terbuka dalam mengemukakan

pendapatnya. Dalam permainan tersebut sekaligus pengenalan peserta kepada

seluruh anggota. Game ini mampu meningkatkan suasana yang diinginkan dalam

teknik home room yaitu keakraban antara siswa dan konselor. Hasil yang

diperoleh dari pertemuan ini adalah :

- Siswa mulai terbuka satu sama yang lainnya, hal ini disebabkan permaianan

penghangatan yang diberikan, namun belum terbuka seluruhnya dikarenakan

para peserta baru saling mengenal satu sama lainnya.

- Kenyaman siswa mengikuti kegiatan mulai tampak, namun keegoisan beberapa

peserta menyebabkan siswa saling memotong pembicaraan peserta yang

sedang memberikan tanggapan dan pendapatnya.

- Keaktifan semua peserta dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup

tinggi, dimana para peserta saling menonjolkan diri mereka masing-masing.

- Keakraban peserta mulai terbentuk, namun masih sebatas teman yang sekelas,

hal ini dikarenakan peserta baru mengenal satu sama lainnya.

- Kepedulian antar peserta cukup rendah, hal ini karena tingkat keegoisan yang

tinggi.

b. PERTEMUAN KE-2 (Diskusi/dialog terbuka)

Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 5 September 2017, peneliti

melakukan pertemuan dengan 10 siswa yang akan menjadi subyek dalam

pelaksanaan teknik home room tersebut.


Sebelum membuka topik pembahasan, konselor membagikan lembaran

berisi bahan informasi tentang motivasi belajar dan memberikan waktu selama 5

menit untuk membacanya. Selanjutnya dilakukan berbagai pertanyaan terbuka

terhadap siswa mengenai motivasi belajar, ciri-ciri motivasi belajar, dan faktor

yang mempengaruhi motivasi belajar. Pada awal penelitian ini siswa sudah cukup

memahami pengertian dari motivasi belajar sehingga diskusi dilanjutkan

mengenai ciri-ciri motivasi belajar, dan dari diskusi tersebut diketahui bahwa

anggota kelompok masih mempunyai motivasi belajar yang rendah. tentu saja hal

ini menyebabkan siswa tidak mempunyai minat dalam belajar.

Diawal kegiatan setelah dijelaskan dan membuka topik mengenai motivasi

belajar, kemudian anggota kelompok ditanya apakah mereka tahu apa yang

dimaksud dengan motivasi belajar, dari hasil jawaban peserta, didapat dari para

anggota sudah cukup mengerti mengenai apa yang dimaksud dengan motivasi

belajar, sehingga lebih menjelaskan mengenai ciri-ciri dari motivasi belajar,

faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, fungsi motivasi belajar, dan

upaya dalam meningkatkan motivasi belajar.

Selama kegiatan berlangsung, lebih banyak dijelaskan mengenai ciri-ciri

dari motivasi belajar, dan di dapat bahwa semua anggota kelompok masih

mempunyai motivasi belajar yang rendah. Setelah diketahui bahwa semua anggota

kelompok masih mempunyai motivasi belajar rendah, maka dilanjutkan dengan

diskusi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, dalam diskusi

terkadang para peserta mengajukan pertanyaan kembali selama dilakukan

penjelasan dan ada beberapa peserta yang ikut menjawab dari pertanyaan anggota
lainnya juga. Dalam penjelasan, terkadang diberikan pertanyaan kepada seluruh

anggota dan hal ini dijawab oleh seluruh anggota kelompok, namun ada beberapa

siswa yang diam karena tidak tahu dikarenakan kurangnya informasi yang

dimiliki, sehingga munculnya pertanyaan-pertanyaan lanjutan sesama peserta dan

kepada pemimpin kelompok, tentu saja hal ini membuat suasana lebih hidup dan

dinamis. Terkadang ada beberapa siswa yang aktif bertanya dan aktif menjawab

pertanyaan yang muncul dalam kelompok, ada juga siswa yang membuat

kekacauan serta adanya pertentangan kecil mengenai pendapat mereka masing-

masing mengenai topik tersebut dikarenakan perbedaan pendapat.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, terkadang rasa humor dibuat untuk

mengatasi ketegangan diantara peserta, serta untuk menarik perhatian dari seluruh

para peserta. Hal ini membuat para peserta lebih terbuka dan tidak kaku dalam

mengajukan pendapat. Dalam penjelasan juga sering diberi contoh-contoh

pengalaman dan tentu saja menarik peserta untuk mengajukan pertanyaan diluar

topik bahasan dan menjawab langsung secara singkat dan efektif. Selanjutnya

pemimpin kelompok menjelaskan topik yang akan dibahas adalah mengenai

fungsi motivasi belajar dan diteruskan dengan bagaimana upaya meningkatkan

motivasi belajar.

Selama kegiatan berlangsung, jawaban dari peserta kelompok yang kurang

tepat diarahkan dan diluruskan agar peserta kelompok mengetahui hal yang benar,

terkadang para peserta pun mengajukan pertanyaan mengenai hal yang tak

diketahuinya. Dalam penjelasan, terkadang pertanyaan diajukan kepada seluruh

peserta dan hal ini dijawab oleh seluruh peserta, namun ada beberapa siswa yang
diam karena tidak tahu dikarenakan mereka masih bingung untuk apa motivasi

belajar itu, dan disitu terjadi sharing pendapat, hal ini membuat suasana kelompok

menjadi lebih hidup dan dinamis dengan keterbukaan untuk mengemukakan

pertanyaan maupun tanggapan sangat memberikan informasi bagi peserta yang

masih belum mengerti apa fungsi dan bagaimana cara meningkatkan motivasi

belajar. menjelaskan topik mengenai fungsi dan cara meningkatkan motivasi

belajar, selanjutnya pertanyaan terbuka diberikan kepada para peserta apakah

mereka sudah tahu apa fungsi motivasi belajar dan bagaimana cara

meningkatkannya, dari hasil jawaban peserta, didapat bahwa sebagian dari peserta

telah mengetahui fungsi dari motivasi belajar dan apa yang harus mereka lakukan

agar motivasi belajar mereka meningkat. Kemudian terjadi diskusi kelompok

terntang pendapat peserta dalam meningkatkan motivasi belajarnya dan peserta

tampak sudah yakin akan pentingya dari belajar itu sendiri sehingga peserta

tampak semangat dalam mengutarakan pendapatnya. Satu persatu peserta

kelompok ditanyai tentang bagaimana cara meningkatkan motivasi belajar

mereka, dan seluruh peserta menanggapi pertanyaan serta menjelaskan alasan

mereka. Peserta juga menanggapi pendapat dari peserta lain, hal ini sangat bagus

karena mereka saling tukar pendapat mengenai bagaimana cara meningkatkan

motivasi belajar dan untuk apa motivasi belajar itu ditingkatkan. Pada tahap ini

sudah terlihat bahwa peserta yang pada awal pertemuan bimbingan kelompok

sangat tidak peduli dengan belajar menjadi lebih semangat dalam belajar, hal ini

terlihat saat para peserta mengutarakan pendapatnya dan peserta lain juga ikut

menanggapinya. Dalam kegiatan layanan ini penjelasan dari peserta lebih banyak
ditanggapi, hal ini dilakukan agar peserta lebih yakin bahwa dengan motivasi

belajar yang tinggi mereka dapat memperoleh apa yang mereka inginkan. Hasil

yang diperoleh dari pertemuan kedua ini adalah :

- Ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan lebih antusias dari pada

pertemuan pertama, hal ini dikarenakan topik yang dibahas lanjutan dari topik

sebelumnya yang mereka belum paham.

- Siswa mulai terbuka satu sama yang lainnya, hal ini disebabkan para peserta

mulai saling mengenal satu sama lainnya dan memahami sifat dan karakter satu

sama lainnya.

- Kenyaman siswa mengikuti kegiatan mulai tampak, namun keegoisan beberapa

peserta menyebabkan siswa saling memotong pembicaran peserta yang sedang

memberikan tanggapan dan pendapatnya. Namun tingkat kenyaman siswa

cukup tinggi, hal ini dikarenakan siswa memiliki pola kebiasaan yang ribut

sehingga mereka sudah saling memahami dan terbiasa. Hal ini juga

dikarenakan dilakukannya kontrol yang membuat peraturan untuk berbicara

satu-persatu.

- Keaktifan semua peserta dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup

tinggi, dimana para peserta saling menonjolkan diri mereka masing-masing.

- Keakraban peserta mulai terbentuk, dimana sikap simpati dan empati siswa

mulai terbentuk dalam kegiatan berlangsung.

- Kepedulian antar peserta masih cukup rendah, hal ini karena tingkat keegoisan

yang tinggi dan kegaduhan yang terjadi lebih banyak dari pertemuan pertama.
- Pada pertemuan kedua ini kondisi peserta lebih hidup walaupun agak sedikit

ribut.

c. PERTEMUAN KE-3 (Feedback)

Pertemuan ke tiga dilaksanakan pada tanggal 11 September 2017, peneliti

melakukan pertemuan dengan 10 siswa yang menjadi subyek dalam pelaksanaan

teknik home room tersebut. Pada pertemuan ini dijelaskan bahwa kegiatan akan

segera berakhir. Kemudian peserta kelompok ditanyai tentang kesan, pesan, saran,

harapan dan kritik. Peserta menjawab dengan spontan bahwa kegiatan ini

menyenangkan dan menambah banyak informasi serta para peserta yakin dengan

motivasi belajar yang tinggi mereka akan menjadi orang yang sukses di kemudian

hari. Sebelum acara ditutup seluruh anggota berdoa bersama, kemudian

mengungkapkan ucapan terima kasih dan maaf bila terdapat kesalahan dan

diakhiri dengan salam. Hambatan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok teknik

home room berlangsung masih ada siswa yang kurang serius. Hasil yang diperoleh

dari pertemuan kedua ini adalah :

- Ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan sangat antusias, hal ini

dikarenakan topik yang dibahas merupakan pemahaman tentang diri peserta itu

sendiri.

- Kenyaman siswa dalam mengikuti kegiatan tampak munncul, karena para

siswa sudah saling akrab dan saling mengenal satu dengan yang lainnya serta

fokus dalam pembahasan.

- Keaktifan semua peserta dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup

tinggi, karena seluruh peserta.


- aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan serta peserta menjelaskan dengan

rinci tentang dirinya kepada seluruh peserta.

- Peserta cukup akrab, hal ini dapat dilihat dari sikap peduli dan saling

memahami satu dengan yang lainnya serta seluruh peserta yang hadir sudah

saling mengenal, hail ini dapat dilihat dari para peserta saling menanggapi

penjelasan dari peserta lainya.

- Kepedulian antar peserta cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari sikap saling

memberika masukan, arahan dan motivasi kepada masing-masing peserta.

4) Terminasi (Tahap Pengakhiran)

Sesuai kesepakatan pada pertemuan sebelumnya, posttest dilaksanakan

pada tanggal 20 September 2017, dalam pertemuan ini peneliti meminta siswa

untuk mengisi lembar evaluasi dan memberikannya waktu selama 15 menit dalam

menjawab lembar evaluasi tersebut. Hasil analisis lembar evaluasi siswa yang

pertama di peroleh dari 10 siswa adalah rata-rata siswa menjawab bahwa kurang

menariknya cara guru menjelaskan, dan adanya sikap acuh tak acuh orang tua

terhadap nilai yang dicapai anaknya. Maka dari itu sangat penting siswa

mengikuti kegiatan home room ini, yang dalam kegiatan ini siswa di tuntut

mengalami perubahan dari motivasi belajar rendah hingga mengalami

peningkatan. Hasil analisis yang kedua di peroleh dari 10 siswa adalah masih

dominannya rasa malas dan sulitnya siswa dalam membagi waktu belajar, serta

mudah terpengaruh dengan lingkungan luar sehingga dalam masalah ini peneliti

ingin menjelaskan lebih dalam lagi tentang apa motivasi belajar itu, agar mereka

dapat merubah kebiasaan buruknya menjadi positif. Dan terakhir hasil analisis
yang ketiga di peroleh dari 10 siswa adalah adanya kepuasan yang dirasakan,

karena sudah mampu mengutarakan masalah yang dihadapinya dan juga para

siswa merasa lebih semangat untuk mengikuti proses belajar mengajar. Setelah

siswa mengikuti kegiatan home room ini siswa mengalami banyak perubahan

sehingga nanti kedepannya siswa sudah mampu menerapakan hal-hal yang positif

dan sadar betapa pentingnya motivasi belajar itu sendiri bagi dirinya maupun

dalam kehidupan sehari-hari.

Dan dilanjutkan membagi angket sebelumnya (pretest). Sebelum membagi

angket terlebih dahulu peneliti bertanya kepada siswa mengenai pengalaman yang

mereka peroleh dari proses bimbingan kelompok dan perubahan perilaku mereka

sehari-hari di kelas setelah melaksanakan kegiatan dan kesediaan mereka untuk

menerapkan komitmen perubahan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Masing-masing siswa mengungkapkan perasaan dalam bentuk yang berbeda-beda

dengan semangat yang sama, pada hakikatnya mereka merasa bertanggung jawab

untuk melakukan perilaku-perilaku yang telah mereka rencanakan terkait tingkat

motivasi belajarnya.

Setelah mendengar ungkapan siswa, peneliti kemudian membagikan (post-

test) angket motivasi belajar pada siswa dan seperti pertemuan sebelumnya

kegiatan diawali dengan do’a dengan menanyakan kesiapan siswa mengikuti

kegiatan. Kegiatan inti yaitu peneliti menjelaskan petunjuk pengisian angket

sebagaimana pada pertemuan pertama, dan mempersilahkan siswa untuk

mengisinya.
Setelah diisi oleh siswa, peneliti mengumpulkan angket tersebut. Pada

tahap akhir peneliti berterima kasih kepada siswa atas partisipasi dan kesediaan

siswa mengikuti proses teknik home room hingga selesai. Selanjutnya, peneliti

menitipkan harapan semoga kedepannya siswa lebih baik lagi dalam berperilaku

di kelas. Peneliti mengevaluasi dan memberikan penilaian melalui hasil observasi

yang dibuat oleh peneliti yang dimulai dari awal pertemuan sampai akhir

pertemuan.

Selama pemberian perlakuan, peneliti melakukan observasi terhadap

responden. Observasi dilakukan terhadap 10 siswa untuk melihat gambaran

partisipasi siswa selama mengikuti kegiatan teknik home room. Dalam hal ini,

peneliti dibantu oleh guru BK mencentang lembar observasi terhadap segala

sesuatu yang terjadi dalam proses pelaksanaan kegiatan yang selanjutnya

dianalisis hasilnya. Dari hasil observasi selama pelaksanaan kegiatan bimbingan

kelompok dengan teknik home room yang dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan

diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2 Data Hasil Persentase Observasi Saat Pelaksanaan Teknik Home
Room
Tahap pelaksanaan kegiatan
Persentase Kriteria
I II III
80 – 100% Sangat tinggi 0 4 6
60 – 79% Tinggi 2 4 4
40 – 59% Sedang 0 2 0
20 – 39% Rendah 8 0 0
0 – 19% Sangat rendah 0 0 0
Jumlah 10 10 10
Sumber: Hasil Analisis Data Observasi
Berdasarkan hasil pengamatan observasi pada pertemuan pertama terdapat

2 siswa berada pada kategori tinggi, dan 8 orang berada pada kategori rendah.

Pada pertemuan kedua 4 siswa berada pada kategori sangat tinggi, 4 orang siswa

berada pada kategori tinggi, dan 2 siswa berada pada kategori sedang. Pada

pertemuan ketiga 6 siswa berada pada kategori sangat tinggi dan 4 orang siswa

berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil yang diperoleh partisipasi siswa

yang meningkat selama pertemuan memberikan bukti bahwa kegiatan yang

dilaksanakan dapat diikuti dengan baik oleh para siswa.

3. Penerapan Teknik Home Room Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar


Siswa di MAN 1 Makassar

Berdasarkan hasil analisis deskriptif melalui SPSS 20,00 for windows

maka di dapatkan data sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Analisis Statistik Deskriptif


Data N Rata-rata SD Min. Max. Ket
Pretest 10 80.10 8.478 66 90 Sedang
Posttest 10 109.90 6.773 97 117 Tinggi
Sumber: SPSS 20,00 For Windows

Dari tabel diatas, tampak rata-rata tingkat motivasi belajar siswa dari 10

subjek penelitian sebelum (pretest) pemberian teknik home room yakni 80.10 dan

setelah (posttest) pemberian teknik home room meningkat 109.90. Standar deviasi

sebelum (pretest) perlakuan 8.478 dan setelah (posttest) perlakuan 6.773, serta

jumlah maksimum sebelum (pretest) perlakuan 90 dan setelah (posttest) perlakuan

sebanyak 117. Jadi tampak bahwa setelah diberikan perlakuan berupa teknik home

room terdapat peningkatan motivasi belajar siswa dari rendah ke tinggi. Hasil

analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa

meningkat setelah pemberian perlakuan berupa teknik home room.


Untuk mengetahui penerapan teknik home room digunakan untuk

meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar, di ungkap melalui uji

hipotesis. Hipotesis penelitian ini adalah “Teknik home room dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar”. Untuk memenuhi

persyaratan uji analisis statistik maka hipotesis kerja (H 1) diubah kedalam

hipotesis nol (H0) sehingga berbunyi “Tidak terdapat perbedaan tingkat motivasi

belajar siswa di MAN 1 Makassar sebelum dan setelah pemberian perlakuan

berupa teknik home room”. Untuk pengujian hipotesis diatas, terlebih dahulu

disajikan data tingkat motivasi belajar siswa.

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian Menggunakan SPSS 20,00 For
Windows
N Mean Z Asymp. Sig. (2-tailed) Ket
Sebelum 80.10
10 -2.805b .005 H0 ditolak
Sesudah 109.90
Sumber: Uji Wilcoxon

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS 20.00 for

windows melalui Wilcoxon signed ranks test terdapat perbedaan nilai rata-rata

setelah diberikan perlakuan mengalami peningkatan dari pada sebelum diberikan

perlakuan yakni sebelum diberi perlakuan hasil nilai rata-rata pretestnya sebesar

80.10 namun setelah diberi perlakuan hasil rata-rata nilai posttestnya terjadi

peningkatan menjadi 109.90. Kemudian setelah data tersebut dianalisis maka

diperoleh nilai Z yaitu -2,805b dengan nilai Asymp Sig yaitu 0, 005 < 0, 05. Taraf

signifikansi yang digunakan 5% atau 0,05. Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai

[Link] (2-tailed) yaitu 0,005 < α. Hal ini berarti bahwa hipotesis kerja (H0)

yang menyatakan bahwa “Tidak terdapat perbedaan tingkat motivasi belajar siswa

antara sebelum dan setelah diberikan perlakuan teknik home room” dinyatakan
ditolak. Sehingga hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa “Terdapat

perbedaan tingkat motivasi belajar siswa antara sebelum dan setelah diberikan

perlakuan berupa teknik home room” dinyatakan diterima. Dengan demikian

dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik home room dapat meningkatkan

motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Motivasi belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang karena adanya

maksud serta tujuan tertentu yang ingin dicapai. Sehingga motivasi selalu

mendorong rasa ingin tahu dan membangkitkan semangat untuk melakukan

sesuatu yang lebih baik.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimiyanti & Mudjono

(2006: 239) bahwa ”motivasi belajar merupakan kekuatan yang mendorong

terjadinya proses belajar”, Lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada

hasil belajarnya. Menurut Winkel (1989: 94) bahwa ”motivasi belajar adalah

keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar

dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.

Mahmud A. dan Sunarty, (2012: 43) menyatakan bahwa Home room

adalah teknik bimbingan kelompok berbentuk pertemuan dengan sekelompok

siswa di luar jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan yang dipimpin oleh

konselor. Fokus home room adalah terciptanya suasana yang penuh kekeluargaan

seperti suasana rumah yang menyenangkan agar siswa merasa aman dan dapat

mengungkapkan masalah-masalah yang tak dapat dibicarakan pada waktu jam

pelajaran bidang studi. Kegiatan home room mempunyai 2 fungsi, yaitu:


menyediakan program bimbingan yang sistematis dan proses penyaringan siswa-

siswa yang mempunyai masalah yang lebih mendalam yang perlu dikirim ke

konselor. Hal-hal yang dibicarakan dalam home room antara lain: pemilihan

lanjutan sekolah, pembagian kerja dalam kegiatan kelompok, pemilihan

pekerjaan, penggunaan waktu luang atau senggang dan perencanaan masa depan.

Masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam home room di teruskan ke konselor

untuk mendapatkan layanan lebih lanjut, baik berupa konseling individual atau

kegiatan kelompok lainnya. Waktu untuk melaksanakan kegiatan ini satu minggu

satu kali pertemuan atau dua minggu satu kali satu jam pelajaran dan

dirundingkan dengan kepala sekolah serta guru-guru lainnya atau menggunakan

jam-jam pelajaran yang lowong/kosong.

Menurut Nurihsan (2006: 23) bimbingan kelompok adalah “bantuan

terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok, bimbingan

kelompok berupa penyampaian informasi atau aktivitas kelompok membahas

masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial”.

Menurut Prayitno (1999: 40) Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok ada

empat tahapan yaitu, tahap pembentukan, tahap peralihan, kegiatan, dan tahap

pengakhiran. Tujuan bimbingan kelompok yaitu untuk membantu individu

menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri, dan dapat menyesuaikan diri

dengan lingkungannya. Melalui bimbingan kelompok dengan menggunakan

teknik home room , siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dan membicarakan

bersama-sama masalah-masalah, serta cara-cara pemecahannya dengan benar dan

positif dalam meningkatkan motivasi belajarnya, yang dari sedang hingga


mengalami peningkatan. Berdasarkan rumusan masalah yang dirumuskan maka

dapat diperoleh pembahasan:

1. Gambaran Tingkat Motivasi Belajar Siswa di MAN

1 Makassar

Data awal penelitian di MAN 1 Makassar pada kelas X IIS 1, 2, 3, dan 4

atas rekomendasi guru bimbingan dan konseling terdapat 30 siswa diketahui

diantaranya 10 siswa dalam kategori sedang dengan persentase 33,3%, 20 siswa

dalam kategori rendah dengan persentase 66,7% dalam indikator motivasi belajar.

2. Gambaran Pelaksanaan Penerapan Teknik Home

Room Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar

Berdasarkan hasil pengamatan observasi pada pertemuan pertama, peneliti

memberikan gambaran umum kegiatan yanga akan dilaksanakan, mengungkapkan

pengertian dan tujuan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan

kelompok menggunakan teknik home room. Peneliti memberikan kesempatan

kepada anggota kelompok untuk mengajukan pertanyaan terhadap hal yang belum

di mengerti. Peneliti memberikan permainan penghangatan dan pengakraban

sehingga tumbuhnya minat anggota mengikuti kegiatan.

Pertemuan kedua, peneliti membagikan lembaran berisi bahan informasi

tentang motivasi belajar dan memberikan waktu 5 menit untuk membacanya.

Peneliti mengajukan pertanyaan terbuka terhadap siswa mengenai motivasi

belajar. Peneliti melakukan diskusi dengan kelompok tentang ciri-ciri motivasi

belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, fungsi motivasi

belajar dan cara meningkatkan motivasi belajar. Peneliti memberikan kesempatan


kepada siswa untuk bertanya . dan siswa memberikan tanggapan secara

bergantian.

Pertemuan ketiga, peneliti mengajukan pertanyaan kepada anggota

kelompok tentang kesan, pesan, saran, harapan, dan kritik. Peneliti meminta

anggota kelompok menjawab secara langsung pertanyaan yang diajukan. Dan

siswa saling bergantian dalam mengutarakan kesan, pesan, saran, harapan, dan

kritik,

3. Penerapan Teknik Home Room Untuk

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MAN 1 Makassar

Berdasarkan hasil analisis deskriptif, hasil penelitian terhadap 10

responden menunjukkan bahwa saat pretest menunjukkan tingkat motivasi belajar

rendah siswa sebanyak 6 orang yang memiliki kategori sedang dengan jumlah

persentase 60% dan 4 orang yang berada pada kategori rendah dengan persentase

sebanyak 40%. Namun demikian, setelah diberi perlakuan berupa teknik home

room menunjukkan dampak positif. Hal ini disebabkan karena tingkat motivasi

belajar siswa mengalami perubahan dari sedang menjadi tinggi. Dalam proses

penelitian ini siswa diberikan perlakuan berupa teknik home room dalam

bimbingan kelompok sebanyak 3 tahap..

Selama proses penelitian berlangsung banyak kendala yang dialami oleh

peneliti. Diantaranya siswa masih merasa ragu ketika menjadi subyek penelitian

karena mereka berfikir jika mereka mengikuti proses kegiatan akan

mempengaruhi nilai pelajarannya. Selain itu, pada tahap awal keterbukaan siswa

dalam mengemukakan masalah sangat sedikit. Sehingga peneliti sangat kesulitan


menentukan masalah dan sumber masalah yang dihadapi oleh siswa. Selanjutnya,

pada saat awal pelaksanaan teknik home room, ada beberapa siswa yang tidak

mengikuti instruksi dengan baik dikarenakan teknik yang peneliti lakukan

merupakan hal yang baru bagi mereka. Namun, dari sekian banyak keterbatasan

yang peneliti dapatkan selama proses pelaksanaan kegiatan, tidak menyurutkan

antusias subyek setelah mereka mengetahui manfaat dari penelitian ini. Sehingga

proses pelaksanaan kegiatan di hari-hari berikutnya dapat berlangsung dengan

lancar dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh peneliti.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan

sebagai berikut:

1. Tingkat motivasi belajar siswa di MAN 1 Makassar sebelum diberikan

perlakuan berupa penerapan teknik home room berada pada kategori rendah,

akan tetapi setelah diberikan perlakuan, tingkat motivasi belajar siswa di

MAN 1 Makassar mengalami peningkatan yaitu berada pada kategori tinggi.

2. Pelaksanaan penerapan teknik home room dilakukan dalam bimbingan

kelompok yang terdiri atas 3 tahap dan berjalan sesuai dengan skenario yaitu ,

tahap pertama (membangun suasana kekeluargaan), tahap kedua (melakukan

diskusi/dialog terbuka), tahap ke tiga (feedback) tahap pengakhiran yaitu

peneliti menjelaskan bahwa kegiatan bimbingan kelompok ini akan segera

berakhir.

3. Penerapan teknik home room dapat meningkatkan motivasi belajar siswa

secara signifikan di MAN 1 Makassar.

B. Saran

Berdasar dari kesimpulan penelitian diatas, maka diajukan saran sebagai

berikut:

1. Guru pembimbing, hendaknya dapat menerapkan teknik home room sebagai

salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.


2. Siswa, untuk senantiasa mengubah keyakinan yang irrasional menjadi

rasional dalam hal motivasi belajar dan menjalankan komitmen untuk

berubah sebagaimana yang telah disampaikan dalam proses penerapan

teknik home room melalui bimbingan kelompok dan menjadi lebih baik dari

teman-temannya yang lain.

3. Kepada rekan-rekan mahasiswa dan peneliti, di Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan, agar dapat mengembangkan penerapan teknik

home room melalui bimbingan kelompok untuk permasalahan yang berbeda

agar dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan.


DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, S. 1983. Teknik Pemahaman Individu (Teknik Nontesting). Makassar :
FIP UNM
Ahmadi dan Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka
Cipta.
Asmoro, R. 2013. Meningkatkan Kualitas Kebiasaan Belajar Siswa Melalui
Bimbingan Kelompok dengan Teknik Homeroom Pada Siswa Kelas XII A
SMK PGRI 1 SALATIGA. Skripsi Pada Jurusan Bimbingan Dan Konseling
FKIP: Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Djamarah, S. B. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Daruma, A. R. Samad, S & Sofiani, S. 2002. Studi Kasus. Makassar: Fakultas
Ilmu Pendidikan
Dimiyati, dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka cipta
Dewa. K. S. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya:
Usaha Nasional.

Hamdu G. dan Agustina L. 2011. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap


Prestasi Belajar Ipa di Sekolah Dasar. (Online: Jurnal Penelitian
Pendidikan) Vol.12 (1): 82-83.

Hildegard, Wenzler dkk. 1993. Proses Pengembangan Diri. Jakarta;


[Link]
Hallen. 2005. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching.

Islamuddin. 2011. Psikologi Pendidikan. Jember : Pustaka Belajar


Jumriana. 2012. Penerapan Konseling Kelompok dengan Teknik Logoterapi
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Di SMA Negeri 1 Sinjai
Selatan. Skripsi pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP:
UNM.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1988).Jakarta: Balai Pustaka

Kariadinata, dkk. 2012. Dasar-Dasar Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka

Setia

Mahmud A. dan Sunarty. 2012. Mengenal Teknik-Teknik Bimbingan dan


Konseling. Makassar: Badan Penerbit UNM
Miru A.S. 2009. Hubungan Antara Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajat
Mata Diklat Instalasi Listriks Siswa SMK 3 Makassar. (Online: Jurnal
MEDTEK) Vol.1 (1): 2-3.

Nashar. 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan


Pembelajaran. Jakarta: Delia Press.
Nidya damayanti. 2012. Panduan Bimbingan Konseling .Yogyakarta: Araska
Nursalim. 2002. Layanan Bimbingan dan Konseling. Surabaya: Unesa University
Press.
Nurihsan. 2006. Bimbingan dan konseling dalam berbagai latar kehidupan.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Nurwahidah. 2011. Pengaruh Metode Learning Together (Belajar Bersama) dalam
Bimbingan Kelompok Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di
SMA Negeri 9 Makassar. Skripsi Pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan
Bimbingan FIP: UNM.
Prayitno. 1999. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil).
Jakarta: Ghalia Indonesia.

Renjana P dan Sutijono. 2013. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Home


Room Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Bahaya Seks Bebas,
(Online: Jurnal Mahasiswa Bimbingan Konseling) Vol.1 (1): 91-92.

Romlah Tatiek. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok . Malang:


Universitas Negeri Malang

Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.
Salahudin, Anas. 2010. Bimbingan dan Konseling. Bandung: CV Pustaka Setia.
Sugiyono. [Link] Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Suprihatin, S. 2015. Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.
(Online: Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro) Vol.3 (1): 74-80.

Tiro. 2004. Dasar-Dasar Statistik. Makassar: Badan Penerbit UNM

Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : Raja
Grasindo Perseda.
Winkel, 1989. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah. Jakarta:
Gramedia.
Zaenuddin, F. 2008. Keefektifan Penggunaan Modeling Tersembunyi dalam
Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Kelas 1 SMAN 1
Anggeraja Kabupaten Enrekang. Skripsi pada Jurusan Psikologi Pendidikan
dan Bimbingan FIP: UNM.

Anda mungkin juga menyukai