0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Dialog Semi Final

Cerita ini menggambarkan konflik antara sekelompok siswa dengan latar belakang berbeda yang mengalami prasangka dan diskriminasi di sekolah. Setelah insiden kekerasan yang melibatkan salah satu siswa, mereka mulai saling memahami dan bersatu untuk menghadapi tantangan bersama. Akhirnya, mereka belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang, tetapi kekuatan dalam kebersamaan.

Diunggah oleh

Flaring Gamer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Dialog Semi Final

Cerita ini menggambarkan konflik antara sekelompok siswa dengan latar belakang berbeda yang mengalami prasangka dan diskriminasi di sekolah. Setelah insiden kekerasan yang melibatkan salah satu siswa, mereka mulai saling memahami dan bersatu untuk menghadapi tantangan bersama. Akhirnya, mereka belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang, tetapi kekuatan dalam kebersamaan.

Diunggah oleh

Flaring Gamer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIALOG

NARATOR :

Pagi itu, matahari bersinar terik di halaman sekolah. Suasana tampak biasa, namun di balik seragam
yang sama, tersimpan latar belakang yang berbeda. Bahasa, logat, dan kebiasaan yang beragam
perlahan akan bertabrakan, menimbulkan gesekan yang tak terhindarkan.

•••

Di halaman sekolah hari itu, matahari sudah mulai terik, rasa panas lama2 menyelimuti tubuh. Sorot
mata orang itu yang semakin melotot membuat suasana tidak nyaman

Salsa : Heh berhenti! kalian mau kemana! kok baru dateng jam segini!

*Mereka ber4 tidak mendengarkan malah sibuk ngomong sendiri (cengengesan)

Salsa : kalian dengar ga saya lagi ngomong?

Edo: Bu… tadi angin kencang, suaranya ketutup. (logat timur sedikit terdengar)

Otong : Iya bu, rame banget, kayak pasar.

Mereka ber4 malah tertawa

Salsa : ga sopan banget ya kalian! silahkan hormat bendera selama 2 jam!

•••

NARATOR :

Empat siswa itu dikenal sebagai pembuat onar. Salah satunya, Edo bertubuh besar dengan logat
timur yang khas. Di sampingnya ada Mamat yang berbicara lembut dengan intonasi melayu nya itu.
Mereka sering dicap, bahkan sebelum sempat membuktikan siapa diri mereka sebenarnya.

•••

Dani : sekian anak2 wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh anak-anak :

waalaikum salam warahmatullahi wabatakatuh, terimakasih bu sepersekian detik

kelas hening, tak lama maju seseorang

Teguh : minta perhatiannya teman2, kita hari ini bakal bahas soal lomba fesmus di acara p8

Anak2 mulai berbisik kebingungan siapa yang akan dipilih

Tak lama datang 4 anak yang telah dijemur

Edo : beuh panasss bangett

Mamat : Aduh, panasnya nggak main-main, bro… kayak di pantai Sanur jam dua belas

Bejo : gurunya tega buangett

Otong : eh teguh ngapain itu wajahmu bonyok?,emang bisa bertengkar?(sambil nyengir ngeledek ke
teguh)
Situasi kelas sempat hening ketika mereka ber4 masuk ke kelas. tatapan sinis

Teguh : baik aku lanjutkan, aku udah nyiapin orang buat fesmus jumlahnya 10 orang dengan
perannya masing2

Salah satu murid mengangkat tangan

"aku, putra, bagas, aji gabisa guh, kami mau belajar buat ngejar nilai, gaada waktu buat latihan"

Teguh : berarti kurang 4 orang?, apa ada yang mengajukan diri? segerombolan anak nakal

saling tatap menatap

Edo : kita ber 4 guh (sambil menunjuk gerombolannya)

Teguh tidak menggubris

Teguh : ada yang minat?

Edo : guh? kita siap mengajukan diri lo

Teguh menatap penuh diskriminasi

Teguh : nama kalian itu itu dimata para guru uda jelek, nanti nama kelas malah tambah jelek kalo
ada kalian

"lah? ". Edo keheranan sambil membuka ke2 telapak tangan

Salah satu murid berbisik cukup keras:

Murid : Orang dari pedalaman emang keras kepala.

Kelas tertawa kecil. Mamat menegang.

Mamat :Eh, jangan bawa-bawa asal orang dong. Kita semua di sini sama-sama siswa.

Teguh : Sudahlah. Aku nggak mau ambil risiko.

Edo (menahan emosi): Kau kira aku nggak punya otak Cuma karena logatku beda?

Teguh diam, lalu berkata pelan tapi menusuk.

Teguh : beban2 seperti kalian emang bener gausa ikut, mending bolos kalo ga tidur aja, yakan
teman2?

Salah satu murid nyeletuk “biasa orang ga punya masa depan”

Satu kelaspun tertawa.

•••

NARATOR :
Perbedaan mulai terasa seperti jarak. Logat menjadi bahan ejekan, latar belakang menjadi alasan
untuk merendahkan. Tanpa disadari, konflik kecil ini adalah awal dari pertarungan yang lebih besar:
antara prasangka dan kemanusiaan.

•••

Bel istirahat berbunyi.

Disisi lain 4 anak yang ingin memanjat dinding pembatas sekolah

Edo : nyebelin ya Teguh toh mentang2 kita nakal, gini2 kan juga pengen bantu

Otong : biarin aja do, Teguh emang kaku orangnya (sambil memberi tangan ke Edo untuk naik)

Mamat : ayo cepetan! keburu ada orang

Sesampainya diwarung.

Otong : mba es nya 2 kayak biasa

Bejo : nih do, daripada pusing mikir (sambik menyodorkan sebungkus rokok ke Edo)

Edo pun mengambilnya, setelah agak tenang Edo mulai bicara

Edo : menurut kalian kelas kita kurang kompak kan?

Mamat : mereka aja ngga tahu mana yang harus di prioritasin

Bejo : belajar ya belajar tapi kalo sampe dijadiin alesan buat ga ikut fesmus ya ga masuk akal

Otong : ya namanya teladan pastinya banyak yang dipikir, kalo kita kan sekola aja ga mikir

Edo : iya itu kalian aku aslinya teladan kok

Semua sejenak menatap Edo.

Seketika suasananya pecah dengan saling tertawa

Edo : Tapi kesel juga, ya. Baru ngomong dikit, langsung dicap.

Otong : Biasalah, do—eh, Ko. Orang lihat kulit sama logat dulu, baru hati.

Mamat :Di Bali ada pepatah, “tong ngelahang awak, tong ngelahang rasa.” Jangan Cuma lihat
badan, lihat juga perasaan.

Bejo : Yang penting kita tau diri kita siapa.

Mereka duduk. Suasana hening sebentar, lalu Otong memukul meja pelan, seperti bikin irama.

•••

NARATOR:

Di lain sisi pada sore hari itu, Teguh dan teman" nya pulang sekolah dengan berjalan kaki

•••
Bimo:
Besok ada ulangan fisika, jangan lupa belajar ya rek.

Mamat:
Tenang aja, udah aku udah belajar kok.

•••

NARATOR:

Perjalanan pulang itu menjadi hening ketika kaki mereka sampai didepan rumah Teguh

•••

Debt Kolektor 1:
HEH Teguh sini kamu!

Semua orang seketika terdiam, suasana dingin menyelimuti mereka di sore hari itu.

Teguh:
I-iya, kenapa pak?

Debt Kolektor 2:
Bapak kamu itu suruh bayar utangnya, beraninya pinjol doang.

Naya berbisik ke Sasa:


Plis ngeri banget, ayo pergi sa...

Debt Kolektor 3 (nunjuk Teguh): hei Teguh, sini bayar utang bapakmu itu.

Teguh: Gamau pak, itu bukan utang saya.

Deden:
Guh… kita pergi aja deh.

Teguh (kaget):
Hah? Kalian mau ke mana?

Bimo (ragu):
Maaf, Guh… kayaknya udah sore ini.

Mereka mundur, dengan pelan" mereka meninggalkan Teguh sendirian.

Teguh:
Rekk tulung, Bimo! Naya! Sasa!

Debt Kolektor 2 (nyindir): Gaya-gayaan gamau bayar utang, jadi gimana? temen mu kabur semua itu

Teguh: Aduh pak saya ga punya uang, lagian bapak harusnya tagih ke bapak saya.

Debt Colector 1: Ah brisik kamu


BUK! Teguh dipukul oleh 2 debt collector sekaligus

Debt Kolektor 3: Rasain. Ini gara-gara bapak kamu beban, nggak bisa bayar utang, bodoh!

Debt kolektor 2: makanya punya utang ya dibayar, berani ngutang kok setahun ga dibayar bayar.

Debt collector 3: mampus lu, kurang ajar emang

Teguh mencoba melawan para penagih utang tersebut, namun apa daya dengan 1 vs 2 ya jelas kalah
lah kocak

Edo: OI. Ngapain rame-rame?

Edo dkk datang dari luar pekarangan rumah Teguh

Edo: Ngapain mukul anak sekolah? keren kaya gitu?

Karena gertakan Edo tidak menghasilkan apapun, mau tidak mau dia harus melerai debt collector
dengan kawannya itu

bugh, niat melerai hilang seketika setelah Edo terkena pukulan dari salah satu debt collector itu

Otong: Beraninya sama remaja (bug bug bug sambil memukul debt collector tersebut)

karena suara yang amat mengganggu, warga mulai berdatangan menghampiri serta melerai
mereka.

Bejo: Preman apa kek gitu, tanggung jawab dong.

Otong: Urusan utang sama orang tuanya, bukan sama anaknya.

Debt Kolektor 2: Awas aja kalian.

Para debt collector itu pun kepalang malu dengan warga dan berakhir meninggalkan mereka semua

Bejo: Masih bisa berdiri?

Teguh: Masih… makasih.

Bejo: Mana temen" mu tadi?

Teguh: Udah pergi.

Bejo: tck penakut.

•••

Setelah insiden itu, Teguh mengajak Edo dan yang lain duduk di pekarangan rumahnya.

Edo: Tadi temen-temen kamu ninggalin ya?

Teguh (nahan emosi): Iya. Mereka takut. Aku ngerti… tapi tetep rasanya pengen emosi.

Edo: Utang bapak kamu gara-gara pinjol?

Teguh: Iya. Bapak nggak sekolah, gampang percaya omongan orang. Akhirnya ketipu, kita yang kena.

Teguh :Maaf… soal di sekolah. Aku pikir kalian Cuma bikin masalah.
Edo : Beta sering dibilang keras, liar, nggak punya masa depan. Padahal beta Cuma pengen dihargai.

Mamat : Aku juga sering dibilang lamban karena logatku halus. Padahal tiap orang punya cara
sendiri.

Teguh (mata berkaca): Aku juga sering dicap dingin, sombong, Cuma karena aku beda dan
keluargaku punya masalah. Aku takut… takut hidupku hancur kayak bapakku.

Edo : Takut itu manusiawi. Tapi merendahkan orang lain bukan cara buat nutupin takut.

Teguh terdiam lama.

•••

NARATOR :

Untuk pertama kalinya, mereka saling melihat bukan dari warna kulit, logat, atau stereotip. Mereka
melihat luka yang sama: rasa takut, rasa ditinggalkan, dan keinginan untuk dihargai.

•••

Teguh : Kalau nanti soal fesmus… kalian masih mau bantu?

Edo (tersenyum kecil): Kelas ini juga kelas beta.

Bejo:Kita jalan bareng aja.

Otong : Biar beda, asal satu tujuan.

•••

(akhirnya temen" teguh pulang, dan bapak teguh baru pulang saat pukul 9 malam setelah bekerja)

Bapak Teguh: Le wajah kamu kenapa itu?

Teguh: Dikeroyok dept collector lagi pak

Bapak Teguh: Astaghfirullah anak ganteng bapak sampe begini

Teguh: Gapapa pak, teguh tau kok bapak ketipu.

Bapak Teguh: maafin bapak le, bapak memang orang miskin dan nggak sekolah. Tapi bapak beneran
gak berniat buat pinjol le...

Teguh: iya pak, aku juga tau karena itu aku niat belajar

pak biar ga mudah ketipu

Bapak teguh: maafin bapak le, bapak janji bakal lunasin hutang bapak

•••
Pagi itu mendung. Kelas terlihat suram. Empat siswi mulai dance TikTok mengikuti musik yang ceria.
Setelah musik berhenti, mereka tertawa dan mulai membahas fenomena yang terjadi di kelas
mereka.

A : heh kalian tau ga sih? Teguh kemaren habis dipukuli orang

B : sama debt kolektor kan? Kayaknya bapaknya banyak utang

C : iya ga sih yang dibantu sama anak nakal nakal itukan

A : lah masa si?

C : Iya kalian gatau?…

Beberapa jam kemudian datang kabar jikalau guru jelas tidak bisa masuk krlas karena ada

Kepentingan mendadak

A : gimana kalo kita bahas fesmus aja?

C : tapi temen kita banyak yang ga masuk, si Teguh, Eko, dan kawan kawannya itu

A,B : Oiya ya…

Kelas ricuh. [Link] sela-sela keramaian itu salah satu anak maju ke depan. Seketika sorot mata
anak2 tertuju kepada

Orang itu

B : ngapain kamu jo?

A : sok asik, bolos aja sana

Edo menelan [Link] pembicaraan.

Edo : sssttt, ini kelas kita bersama jangan gara kurangnya personil kelas jadi ricuh, berisik tau!

Bejo : berisikk puoll

Edo : namaku emang jelek di mata guru, di mata kalian, tapi buat kali ini tolong percaya ke kami,
kami ber 4 pingin ikut

Seisi kelas langsung berbisik

C : hm gimana ya, lagian kan mereka yang kemarin bantuin Teguh

A : iya ga sih, tapi mereka kan- ( ga sempet menyelesaikan perkataannya)

A : mereka kemaren yang nolong Teguh, sekarang mereka pengen nolong kelas ini. Kenapa ga?

B : iya si, coba kali ini kita percayakan pada mereka

Seisi kelas saling menatap. Mengangguk. Saling mengiyakan

tersenyum.
•••

NARATOR: Satu minggu kemudian, hasil kerja keras mereka terbayar.

•••

Pembawa Acara: Juara umum lomba fesmus diraih oleh… kelas XI!

Kelas bersorak.

Naya: Maaf ya dulu suka salah nilai.

Sasa: Iya… kita keburu mikir yang beda itu aneh.

Mamat: Yang penting sekarang kita satu tim.

Teguh: Makasih… kalian udah ngajarin aku buat lihat orang lebih dari sekadar luarnya.

Edoo: Kita memang beda, tapi satu kelas.

Bejo: Satu perjuangan.

•••

NARATOR: Di antara logat yang tak sama, kebiasaan yang berbeda, dan cara berpikir yang beragam,
mereka belajar satu hal: Bukan keseragaman yang membuat kuat, tapi saling memahami.

•••

TAMAT

Anda mungkin juga menyukai