0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Strategi Penanganan Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen ini membahas tentang gangguan perilaku kekerasan dan risiko bunuh diri, termasuk definisi, faktor predisposisi, tanda dan gejala, serta strategi penatalaksanaan untuk mencegah tindakan bunuh diri. Penekanan diberikan pada pentingnya dukungan sosial, pengelolaan kesehatan mental, dan intervensi keperawatan untuk individu berisiko. Selain itu, strategi pelaksanaan risiko bunuh diri juga dijelaskan untuk membantu klien dan keluarganya dalam mengatasi masalah ini.

Diunggah oleh

keren naswa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Strategi Penanganan Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen ini membahas tentang gangguan perilaku kekerasan dan risiko bunuh diri, termasuk definisi, faktor predisposisi, tanda dan gejala, serta strategi penatalaksanaan untuk mencegah tindakan bunuh diri. Penekanan diberikan pada pentingnya dukungan sosial, pengelolaan kesehatan mental, dan intervensi keperawatan untuk individu berisiko. Selain itu, strategi pelaksanaan risiko bunuh diri juga dijelaskan untuk membantu klien dan keluarganya dalam mengatasi masalah ini.

Diunggah oleh

keren naswa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

GANGGUAN PERILAKU KEKERASAN

Guna Memenuhi Tugas Laboratorium Klinik Keperawatan Jiwa

Pembimbing Akademik : Nur Wulan Agustina, [Link].,Ns.,[Link]

Disusun Oleh :

Isnaini Sri Wahyuni

202201025

3A

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KLATEN (UMKLA)

2025
A. Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa. Dalam
sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku destruktif terhadap diri
sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri
yang mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan
individu menyadari hal ini sebagai sesuatu yang diinginkan. (Stuart dan Sundeen,
1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009).
Bunuh diri merupakan suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk
mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berupaya melaksanakan hasratnya untuk
mati. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal,
yang akan mengakibatkan kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri. (Clinton, 1995,
hal. 262).

B. Rentang Respon

Rentang respon protektif diri mempunyai peningkatan diri sebagai respon paling
adaptif, sementara perilaku destruktif-diri, pencederaan diri, dan bunuh diri
merupakan respon maladaptif.

1. Peningkatan diri.

Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap
situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.

2. Beresiko destruktif.
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat
mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya
dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara
optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung.
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap
situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena
pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan
menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
4. Pencederaan diri.
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri.
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.

C. Faktor Predisposisi

a. Diagnosis Psikiatrik

Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat
individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.

b. Lingkungan Psikososial

Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah


pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif
dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan
dukungan social sangat penting dalam menciptakan intervensi yang terapeutik,
dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.

c. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor penting
yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

d. Faktor Biokimia

Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti serotinin, adrenalin,
dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui ekaman gelombang
otak Electro Encephalo Graph (EEG).

D. Faktor Presipitasi

Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang [Link] lain yang
dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang
melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil,
hal tersebut menjadi sangat rentan.

E. Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala menurut Fitria, Nita (2009) :

1. Mempunyai ide untuk bunuh diri.

2. Mengungkapkan keinginan untuk mati.

3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.

4. Impulsif.

5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).

6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.

7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat


dosis mematikan).

8. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan


mengasingkan diri).
9. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi,
psikosis dan menyalahgunakan alcohol).

10. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal).

11. Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami


kegagalan dalam karier).

12. Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun.

13. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).

14. Pekerjaan.

15. Konflik interpersonal.

16. Latar belakang keluarga.

17. Orientasi seksual.

18. Sumber-sumber personal.

19. Sumber-sumber social.

20. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.

F. Psikodinamika

1. Ancaman Bunuh Diri

Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi


keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan
dan persiapan alat untuk melaksanakan reneana tersebut. Secara aktif
pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan
percobaan bunuh diri. Walaupun dalam kondisi ini pasien belum pemah
meneoba bunuh diri, pengawasan ketat harus dilakukan. Kesempatan
sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan rencana bunuh
dirinya.
2. Upaya Bunuh Diri
• Upaya bunuh diri (scucide attempt) yaitu kegiatan itu sampai tuntas
akan menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah tanda peringatan
terlewatkan atau diabaikan. Orang yang hanya berniat melakukan upaya
bunuh diri dan tidak benarbenar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-
tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
• Isyarat bunuh diri (suicide gesture) yaitu bunuh diri yang
direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
• Ancaman bunuh diri (suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara
langsung verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang mengupayakan
bunuh diri. Orang tersebut mungkin menunjukkan secara verbal bahwa
dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau juga mengungkapkan secara
nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, dan sebagainya. Kurangnya
respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikan sebagai dukungan
untuk melakukan tindakan bunuh diri.

G . Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri
yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping alternatif.

H. Sumber Koping

Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan


dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar
memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri
berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun budaya. Struktur
social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien
melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi social dapat menyebabkan kesepian dan
meningkatkan keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang
yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan
menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat
mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
I. Penatalaksanaan umum

Klien risiko bunuh diri perlu pengelolaan untuk mencegah tindakan


bunuh diri. Pengelolaan dapat dilakukan dengan pemberian obat antipsikotik
tipikal dan atipikal yang digunakan untuk penderita gangguan psikotik
(skizofrenia dan psikotik lainnya), Electro Convlusif Theraphy (ECT), Terapi
Kognitif, dan Terapi Keluarga (Yusuf,2015).

J. Diagnosa Keperawatan

a. Perilaku Kekerasan (Resiko mencederai diri sendiri)

b. Resiko Bunuh Diri

c. Gangguan Interaksi Sosial (Menarik diri)

d. Gangguan Konsep Diri (Harga Diri Rendah)

K. Fokus Intervensi

a. Tindakan keperawatan untuk pasien percobaan bunuh diri

Tujuan umum : Klien tetap aman dan selamat / Klien tidak menciderai diri sendiri.

Tujuan khusus
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dan latihan cara
mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri dengan membuat
daftar aspek positif diri sendiri.
Tindakan:
1.1. Perkenalkan diri dengan klien
1.2. Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak
menyangkal.
1.3. Bicara dengan tegas, jelas, jujur, bersifat hangat dan
bersahabat.
1.4. Identifikasi beratnya masalah resiko bunuh diri : isarat,
ancaman, percobaan (jika percobaan segera rujuk)
1.5. Identifikasi benda-benda berbahaya dan
mengamankannya (lingkungan aman untuk pasien).
1.6. Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri:
buat daftar aspek positif diri sendiri, latihan
afirmasi/berpikir aspek positif yang dimiliki
1.7. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif 5 x / hari
2. Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri
dengan membuat daftar aspek positif keluarga dan lingkungan.
2.1. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri, beri
pujian. Kaji ulang resiko bunuh diri.
2.2. Latih cara cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh
diri dengan membuat daftar aspek positif keluarga dan
lingkungan, latih afirmasi/berfikir aspek positif keluarga
dan lingkungan.
2.3. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri,
keluarga dan lingkungan.
3. Diskusikan dan latih cara mencapai harapan dan masa depan
Tindakan:
3.1. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri,
keluarga dan lingkungan beri pujian. Kaji resiko bunuh
diri.
3.2. Diskusikan harapan dan masa depan klien.
3.3. Diskusikan cara mencapai harapan dan masa depan klien.
3.4. Latih cara-cara mencapai harapan dan masa depan klien
secara bertahap.
3.5. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri,
keluarga, lingkungan dan tahapan kegiatan yang dipilih.
4. Latih mencapai harapan dan masa depan (berikutnya)
Tindakan:
4.1. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri,
keluarga dan lingkungan beri pujian. Kaji resiko bunuh
diri.
4.2. Latih tahap kedua cara mencapai harapan dan masa depan
klien.
4.3. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri,
keluarga, lingkungan dan tahapan kegiatan yang dipilih
untuk persiapan masa depan
4.4. Evaluasi tahapan kegiatan mencapai harapan dan masa
depan
4.5. Nilai kemampuan yang telah mandiri dan nilai apakah
resiko bunuh diri telah teratasi
b. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien percobaan
bunuh diri
Tujuan umum: Keluarga berperan serta merawat dan melindungi anggota
keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri
Tujuan khusus
1. Latih keluarga mengenal tanda gejala dan proses terjadinya
resiko bunuh diri Tindakan:

1.1. Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien.


1.2. Jelaskan pengertian, tanda & gejala, serta proses terjadinya resiko
bunuh diri.
1.3. Jelaskan cara merawat pasien dengan resiko bunuh diri.
1.4. Latih cara memberikan pujian hal positif pasien, dan cara memberi
dukungan pencapaian masa depan.
1.5. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan pujian.

2. Latih cara memberikan pujian dan penghargaan pada pasien.


2.1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan
penghargaan atas keberhasilan dan aspek positif pasien.
2.2. Latih cara memberi penghargaan pada pasien dan menciptakan
suasana positif dalam keluarga: tidak membicarakan keburukan
anggota keluarga.
2.3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberi pujian atas
pencapaian aspek positif pasien.
3. Diskusikan dan latih cara mencapai harapan dan masa depan
pasien Tindakan:
3.1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan
penghargaan pada pasien serta menciptakan suasana positif dalam
keluarga.
3.2. Bersama keluarga berdiskusi dengan pasien tentang harapan masa
depan serta langkah-langkah untuk mencapainya.
3.3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberi pujian.

4. diskusikan langkah dan kegiatan untuk mencapai harapan masa


depan Tindakan:
4.1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian, penghargaan,
menciptakan suasana keluarga yang positif dan kegiatan awal dalam
mencapai harapan masa depan.
4.2. Bersama keluarga berdiskusi tentang langkah dan kegiatan untuk
mencapai harapan masa depan.
4.3. Jelaskan follow up ke PKM / RS, tanda kambuh, rujukan
4.4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan pujian
4.5. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien dan kemampuan
keluarga melakukan kontrol ke PKM / RS.
STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI

SP 1

A. Proses keperawatan.
1. Kondisi klien Ds :
✓ Klien mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri.
✓ Klien mengatakan lebih baik mati saja.
✓ Klien mengatakan sudah bosan hidup.

Do :

✓ Ekspresi murung.
✓ Tak bergairah.
✓ Ada bekas percobaan bunuh diri.
2. Diagnose keperawatan Resiko Bunuh Diri.
3. Tujuan
Klien tidak dapat melakukan percobaan bunuh diri.
4. Tindakan keperawatan
a. Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan
pasien.
b. Mengamankan benda-benda yang dapat mengamankan pasien.
c. Melakukan kontrak treatment.
d. Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh diri.
e. Melatih cara mengendalikan bunuh diri.
B. Strategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a). Salam terapeutik
“selamat pagi ibu, sebelumnya perkenalkan saya perawat Anisa
Intan yang bertugas pada pagi hari ini, sebelumnya boleh
diperkenalkan dengan ibu siapa?, ibu senang dipanggil dengan
sebutan apa?”

b). Validasi

“Bagaimana perasaan dan kabar bapak/ibu hari ini ?


Bagaimana tidur bapak/ibu semalam?”
c). Kontrak

“Bagaimana pak/ibu kalua hari ini kita berbincangbincang


tentang benda-benda apa saja yang dapat membahayakan diri
bapak/ibu,serta bagaimana cara mengendalikan dorongan
bunuh diri ?Tujuannya agar bapak/ibu tahu benda-benda apa
saja yang dapat membahayakan diri bapak/ibu,serta
bapak/ibu dapat mengetahui dorongan bunuh [Link]
kita akan bicara? Bagaimana kalua di taman pak/bu? Berapa
lama kita akan berbincang-bincang ?bagaimana kalua waktu
berbincangbincang kita selama 15 menit? Apakah bapak/ibu
setuju ?

2. Fase Kerja
"Bapak?Ibu apakah Bapak/Ibu tahu benda-benda yang dapat
membahayakan diri bapak/ibu? coba sebutkan apa saja bendabenda
tersebut, Bagus sekali Bapak/ibu, Bapak/ibu tahu bendabenda yang
dapat membahayakan diri Bapak/ibu. Apakah salah satu benda
tersebut ada dikamar Bapak/ibu? Kalau ada benda tersebut jangan
Bapak/ibu dekati atau pegang ya Pak/ibu. Apa bapak /ibu sering
mendengar bisikan yang mendorong Bapak/ibu untuk melakukan
bunuh diri? Apa yang Bapak /ibu lakukan ketika suara-suara itu
datang? Bapak/ibu, bagaimana kalau saya ajarkan cara-cara lain
untuk mengusir suara-suara itu, apakah Bapak/ibu mau? Pak/bu,
kalau suara-suara itu ada, bapak tutup kedua telinga rapat-rapat
seperti ini Pak/bu, dan katakan dengan kerus JAUHI SAYA, PERGI
KAMU !!! KAMU PALSU. Coba Bapak/ibu lakukan seperti yang
saya ajarkan tadi. Iya Pak /bu seperti itu, bagus sekuli"
3. Fase terminasi
a. Evaluasi subyektif dan Obyektif
Bagaimana perasaan Bapak/ibu setelah Bapak/ibu mengetahui
benda-benda yang dapat membahayakan diri Bapak/ibu, dan
mengetahui cara mengusir suara- suara yang menyuruh
Bapak/ibu melakukan bunuh diri? Coba Bapak/ibu ulangi lagi
apa yang saya ajarkan tadi. Iya begitu pak/bu, bagus"
b. RTL
"Bapak/ibu, selama kita tidak bertemu, bila Bapak/ibu melihat
benda-benda yang dapat membahayakan Bapak/ibu, segera
jauhi, dan jika Bapak/ibu mendengar suara-suara itu kembali,
segera Bapak/ibu usir dengan cara yang sudah kita pelajari tadi
ya Pak/bu"
c. Kontrak yang akan datang
"Baiklah sekarang Bapak saya tinggal dulu, kapan kita bisa
hertemu lagi Pak/bu? Bagaimana kalau besok? Baiklah besok
kita akan membahas tentang cara berfikir positif tentang diri
sendiri dan menghargai diri sebagai individu yang berharga.
Tempatnya mau dimana Pak/bu? Bagaimana kalau di taman
Pak/bu? Jam berapa Pak/bu? Bagaimana kalau jam 09.00?
Apakah Bapak/bu setuju? Baiklah Pak/bu selamat beristirahat

SP 2

1. Fase Orientasi.
a). salam terapeutik.
“Assallamualikum…..perkenalkan saya perawat….saya
senang dipanggil….Saya mahasiswa dari universitas
Muhammadiyah klaten.
Nama bapak/ibu siapa ? senang dipanggil apa ?”
b). Validasi

“Bagaimana perasaan dan kabar bapak/ibu hari ini ? Bagaimana


tidur bapak/ibu semalam?”

c). Kontrak

Bapak/ibu masih ingat dengan kontrak kita kemarin? lya, kita


akan berbincang-bincang tentang cara berfikir positif tentang
diri sendiri dan mengahargai diri sebagai individu yang berharga.
Tujuannya agar Bapak/ibu lebih berfikir positif terhadap diri
Bapak/ibu sendiri, dan Bapak/ibu lebih menghargai diri sendiri.
Bagaimana kalau kita berbincang-bincang ditaman sesuai dengan
kontrak kita kemarin? Apa bapak mau? Berapa lama kita akan
berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai kontrak kita kemarin
juga yang telah di tentukan? Apakah Bapak/ibu setuju?"

2. Fase Kerja
"Apa yang Bapak/ibu tidak sukai dari anggota tubuh Bapak/ibu?
Bisa Bapak /ibu jelaskan alasan Bapak/ibu tidak suka dengan bagian
anggota tubuh tersebut? Jadi kalau Bapak/ibu merasa anggota tubuh
tersebut tidak Bapak /ibu sukai, coabalah dari sekarang Bapak/ibu
mulai mencoba menyukainya, contoh Bapak/ibu bisa menulis
dengan teknik yang berbeda, lihat Pak/bu seperti saya. Coba
Bapak/ibu lakukan seperti saya tadi, ya begitu Pak/ibu....bagus..."
3. Fase terminasi

a). Evaluasi subjektif dan objektif

"Bagaimana perasaan Bapak/ibu setelah apa yang kita bicarakan


tadi? Saya senang jika Bapak/ibu mulai sekarang mencoba
menyukai anggota tubuh Bapak/ibu yang Bapak/ibu anggap tidak
suka. Nah sekarang Coba bapak/ibu lakukan kembali apa yang
sudah kita bicarakan tadi, dan tekhnik cara menulis, lya bagus
Pak/bu, Bapak luar biasa".

b). RTL

Bapak/ibu , selama kita tidak bertemu, Bapak/ibu bisa melakukan


teknik menulis yang seperti saya ajarkan tadi".

c). Kontrak yang akan datang

"Baiklah sekarang bapak/ibu saya tinggal dulu, kapan kita bisa


bertemu lagi Pak/bu? Bagaimana kalau besok? Baiklah besok kita
akan membahas tentang cara melakukan hal yang baik ketika sedang
mengalami masalah, mau dimana kita berbicara Pak/bu? Bagaimana
kalau di taman lagi Pak/bu? Mau jam berapa Pak/bu? Bagaimana
kalau jam 10.00? Baik besok kita bertemu lagi di taman jam 10.00
yu Pak/bu? Apakah Bapak/ibu setuju? Baiklah Pak/bu selamat
beristirahat. Wassalamualaikum"

SP 3

1. Fase orientasi
a). Salam Terapeutik
“Assallamualikum…..perkenalkan saya perawat….saya senang
dipanggil….Saya mahasiswa dari universitas Muhammadiyah
klaten.
Nama bapak/ibu siapa ? senang dipanggil apa ?”

b). Validasi
“Bagaimana perasaan dan kabar bapak/ibu hari ini ? Bagaimana
tidur bapak/ibu semalam?”

c). Kontrak

Bapak/ibu masih ingat dengan kontrak kita kemarin? kita akan


berbincang- bincang tentang bagaimana cara Bapak/ibu melakukan
hal yang baik ketika sedang mengalami masalah. Tujannya supaya
Bapak/ibu dapat melakukan hal yang positif ketika Bapak/ibu sedang
mengalami masalah. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang
ditaman sesuai dengan kontrak kita kemarin? Apa Bapak/ibu mau?
Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai
kontrak kita kemarin? Apakah Bapak/ibu setuju?"

2. Fase kerja
"Bapak/ibu, ketika Bapak/ibu sedang mangalami masalah, apa yang
Bapak /ibu lakukan? Apalagi Pak/bu? Bagus sekali Bapak/ibu ini.
Jadi kalau Bapak/ibu sedang mengalami masalah seperti itu,
Bapak/ibu bisa melakukan hal-hal yang membuat Bapak/ibu sibuk,
tapi sibuk dengan hal-hal yang positif, seperti apa yang bapak/ibu
katakan tadi, misalnya main bola, menyapa halaman dan shalat,
Sekarang coba Bapak/ibu sebutkan lagi kegiatankegiatannya! Iya
bagus Pak/bu"
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif dan objektif
"Bagaimana perasaan Bapak/ibu setelah apa yang kita bicarakan
tadi? Saya senang jika Bapak/ibu melakukan kegiatan-kegiatan yang
tadi kita bicarakan. Sekarang coha Bapak/ibu sebutkan kembali apa
yang sudah kita bicarakan tadi! Pintar sekali bapak/ibu ini...."
b. RTL
"Bapak/ibu, selama kita tidak bertemu, Bapak/ibu bisa melakukan
kegiatan- kegiatan tadi, seperti main bola, menyapu, dan shalat.
Kemudian Bapak/ibu masukan kedalam jadwal kegiatan harian
Bapak/ibu ya"
c. Kontrak yang akan datang
"Baiklah sekarang Bapak/ibu saya tinggal dulu, kapan kita bisa
bertemu lagi Pak/bu? Bagaimana kalau besok? Baiklah besok kitu
akan membahas tentang membuat rencana untuk masa depan.
Dimana kita akan berbicara Pak/bu? Bagaimana kalau di taman lagi
Pak/bu? Mau jam berapa Pak/bu? Bagaimana kalau jam 10 lagi?
Baik besok kita bertemu lagi jam 10 di taman ya Pak/bu. Apakah
bapak /ibu Wassalamualaikum" setuju? Baiklah pak/ibu selamat
beristirahat.

SP 4

1. Orientasi
a. Salam terapetik
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya?
Benar, saya perawat Ulfa” b.
Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur
Bapak semalam?” c. Kontrak
“ Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin? Kita akan
berbincang- bincang tentang bagaimana cara Bapak melakukan hal
yang baik ketika sedang mengalami masalah. Tujuannya supaya
Bapak dapat merencanakan masa depan yang jauh lebih baik dari
sebelumnya dan Bapak dapat mencapai masa depan yang nyata.
Bagaimana kalau kita berbincang- bincang ditaman sesuai dengan
kontrak kita kemarin? Apa Bapak mau? Berapa lama kita akan
berbicara?Bagaimana kalau 15 menit sesuai kontrak kita kemarin juga
yang telah di tentukan? Mau dimana kita berbicara?
Bagaimana kalau di taman seperti kontrak kita kemarin?
Apakah bapak setuju?”
2. Fase Kerja
“Bapak, apa keinginan Bapak dari dulu sampai sekarang? Apalagi
Pak? Apakah masih ada? Sampai saat ini sudah ada keinginan Bapak
yang sudah tercapai? Wah hebat….. yang belum tercapai apa Pak?
Harapan Bapak sangat bagus sekali, Bapak bisa berusaha semampu
Bapak dengan cara yang sabar, lebih giat, ikhtiar dan berdoa.
Kegagalan bukan akhir dari sebuah harapan Pak, namun cobaan yang
nantinya akan membawa Bapak ke arah yang bapak harapkan selama
ini. Jadi, selalu berusaha menjadi yang terbaik ya Pak, kejar cita-cita
Bapak sampai dapat dan ingat, kejar harapan itu sesuai kemampuan
Bapak”.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi Subjektif dan Objektif
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi?
Saya senang jika Bapak melakukan apa yang sudah tadi kita
bicarakan. Coba Bapak sebutkan kembali apa yang seharusnya kita
lakukan ketika kita menginginkan sesuatu! Pintar sekali Bapak ini”
b. RTL
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan hal seperti
tadi untuk mencapai keinginan Bapak yang nyata, Bapak mesti lebih
sabar, lebih giat, ikhtiar dan berdoa. Jangan sampai menyerah ya Pak.
Sukses untuk Bapak”

SP 1 KELUARGA

1. Fase Orientasi
“Assalamu’alaikum. Selamat pagi Bapak dan Ibu. Perkenalkan nama saya
Perawat , saya senang dipanggil . Saya mahasiswa praktek dari universitas
muhammadiyah klaten. Nama Bapak dan Ibu siapa? Senang dipanggil apa
Pak, Bu? Benar kalian adalah orang tua dari Anne? Saya yang merawat putra
Anda selama disini. Sekarang kita akan mendiskusikan tentang tanda dan
gejala bunuh diri dan cara melindungi dari bunuh diri. Dimana kita akan
mendiskusikannya? Bagimana kalau di ruang tamu saja? Berapa lama
Bapak dan Ibu ingin mendiskusikannya?
Bagaimana kalau 30 menit?“
2. Fase Kerja
“Apa yang Bapak dan Ibu lihat dari perilaku Anne selama ini? Bapak, Ibu
sebaiknya lebih sering memperhatikan tanda dan gejala bunuh diri. Pada
umumnya orang yang akan melakukan tindakan bunuh diri menunjukkan
tanda melalui percakapannya seperti “saya tidak ingin hidup lagi”. Apakah
Anne sering mengatakannya Pak? Kalau Bapak/Ibu mendengarkan Anne
berbicara seperti itu, maka sebaiknya Bapak mendengarkan secara serius.
Pengawasan terhadap kondisi Anne perlu ditingkatkan, jangan biarkan Anne
mengunci diri di kamar. Bapak perlu menjauhkan benda berbahaya seperti
gunting, silet, gelas dan lain- lain. Hal ini sebaiknya perlu dilakukan untuk
melindungi Anne dari bahaya dan memberi dukungan untuk tidak
melakukan tindakan tersebut. Usahakan 5 hari sekali Bapak dan Ibu memuji
dengan tulus. Tetapi kalau sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya
Bapak dan Ibu mencari bantuan orang lain. Apabila tidak dapat diatasi
segeralah ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih
serius. Setelah kembali ke rumah, Bapak/ Ibu perlu membantu Anne terus
berobat untuk mengatasi keinginan bunuh diri”
3. Fase Terminasi
“Bagaimana Bapak dan ibu ada yang mau ditanyakan? Bapak dan Ibu dapat
mengulangi lagi cara-cara merawat anggota keluarga yang ingin bunuh diri?
Ya, Bagus. Jangan lupa untuk selalu mengawasi Anne ya Pak, Bu jika ada
tanda-tanda keinginan bunuh diri segera menghubungi kami.
Terima kasih Bapak/Ibu. Selamat Siang”
SP 2 KELUARGA
1. Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya? Benar,
saya perawat . Sesuai janji kita minggu lalu kita sekarang ketemu lagi.
Bagaiamana Pak, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan
minggu lalu? Sekarang kita akan latihan cara cara merawat tersebut ya Pak?
kita akan coba disini dulu, setelah itu kita coba langsung, ke Anne ya?
berapa lama Bapak mau kita latihan? Bagaimana kalau 10 menit?”
2. Fase Kerja
“Sekarang anggap saya Anne, coba Bapak dan Ibu perhatikan cara bicara
yang benar jika Anne sedang mengalami perasaan ingin mati. Sekarang coba
praktekkan cara berikan pujian kepada Anne. Bagus, bagaimana kalau cara
memotifasi Anne minum obat dan melakukan kegiatan positifnya sesuai
jadwal? Bagus sekali, ternyata Bapak dan Ibu sudah mengerti cara merawat
Anne. Bagaiama kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada Anne?
(ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien) “
3. Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu, setelah kita berlatih cara merawat
Anne dirumah? setelah ini coba Bapak dan Ibu lakukan apa yang sudah
dilatih tadi setiap kali Bapak dan Ibu membesuk Anne. Baiklah bagaimana
kalau 2 hari lagi Bapak dan Ibu datang kembali kesini dan kita akan
mencoba lagi cara merawat Anne sampai Bapak dan Ibu lancar
melakukannya. Jam berapa Bapak dan Ibu bisa kemari? Baik saya tunggu,
kita ketemu lagi di tempat ini ya Pak, Bu”

SP 3 KELUARGA
1. Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya? Benar,
saya perawat . Sesuai janji kita minggu lalu kita sekarang ketemu lagi.
Bagaiamana Pak, ada pertanyaan tentang cara berdiskusi dengan Anne
tentang harapan masa depan yang kita bicarakan minggu lalu? Sekarang kita
akan latihan sekarang ya Pak? kita akan coba disini dulu, setelah itu kita
coba langsung ke Anne ya? berapa lama Bapak mau kita latihan?
bagaimana kalau 10 menit?”
2. Fase Kerja
“Sekarang anggap saya Anne, coba Bapak dan Ibu perhatikan cara bicara
yang benar jika Anne sedang mengalami perasaan ingin mati. Coba Bapak
sekarang diskusikan dengan Anne apa yang dia harapkan di masa depannya.
Jika Anne memikirkan masa depan yang buruk segera diberikan
pengarahan. Coba Bapak praktekkan cara beri pengarahan kepada Anne.
Bagus, bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada
Anne? (ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien) “
3. Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu? Setelah ini coba Bapak dan Ibu
lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali Bapak dan Ibu membesuk
Anne. Baiklah bagaimana kalau 2 hari lagi Bapak dan Ibu datang kembali
kesini dan kita akan mencoba lagi cara merawat Anne sampai Bapak dan iIu
lancar melakukannya. Jam berapa Bapak dan Ibu bisa kemari? Baik saya
tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya Pak,Bu”
SP 4 KELUARGA
1. Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya? Benar,
saya perawat , sesuai janji kita minggu lalu kita sekarang ketemu lagi.
Bagaiamana Pak, ada pertanyaan tentang cara berdiskusi dengan Anne
tentang harapan masa depan yang kita bicarakan minggu lalu? Sekarang kita
akan latihan cara untuk mencapai harapan masa depan sekarang ya Pak? kita
akan coba disini dulu, setelah itu kita coba langsung ke Anne ya?
berapa lama Bapak mau kita latihan? bagaimana kalau 10 menit?”
2. Fase Kerja
“Langkah pertama, Bapak Ibu mengajak seluruh anggota keluarga untuk
berkumpul di ruang keluarga. Agar antara anak satu dengan anak yang lain
tidak ada perselisihan. Kedua, Bapak mulai percakapan untuk membahas
tindakan apa yang akan pasien lakukan untuk mencapai harapan yang
diinginkan. Jika tindakan yang dilakukan tidak sesuai maka Bapak harus
segara mencari solusi yang lain agar harapan tersebut dapat tercapai“

3. Fase Terminasi
“Bagaimana perasaanBbapak dan Ibu? Setelah ini coba Bapak dan Ibu
lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali Bapak dan Ibu membesuk
Anne. baiklah bagaimana kalau besok Bapak dan Ibu datang kembali kesini
dan kita akan mencoba lagi cara merawat Anne sampai Bapak dan Ibu lancar
melakukannya. Jam berapa Bapak dan Ibu bisa kemari? baik saya tunggu,
kita ketemu lagi di tempat ini ya pak,bu”
DAFTAR PUSTAKA

Draft Standar Asuhan Keperawatan Jiwa Program Spesialis Jiwa, Program Magister
Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, tahun 2008

Gail [Link] & Michele [Link] ; Princilple And Practise Of Psychiatric


Nursing, Eighth Edition , Elsever Mosby Inc, 2005

Modul Model Praktik Keperawatan Jiwa Profesional, Badan Pelayanan Kesehatan


Jiwa Banda Aceh & World Health Organization

Anda mungkin juga menyukai