Panduan Lengkap Diabetes Melitus
Panduan Lengkap Diabetes Melitus
LAPORAN PENDAHULUAN DM
OLEH
Kata diabetes berasal dari bahasa latin yang berarti "melewati", mengacu pada
poliuria - gejala khas diabetes mellitus (DM). Kata mellitus berarti "dari madu", yang
berarti glikosuria, merupakan ciri dari diabetes insipidu (Rodriguez-Saldana, 2019).
Diabetes Melitus didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai sindrom
metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronis akibat salah satu dari beberapa
kondisi yang menyebabkan sekresi dan / atau tindakan insulin yang rusak.
Pradiabetes adalah keadaan yang ditandai dengan kelainan metabolisme yang
meningkatkan risiko terkena DM dan komplikasinya.
Penyakit Diabetes Melilitus (DM) adalah penyakit kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme
dalam tubuh. Gangguan metabolisme tersebut disebabkan karena kurangnya produksi
hormon insulin yang diperlukan tubuh. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit
kencing manis atau penyakit gula darah. Penyakit diabetes merupakan penyakit endokrin
yang paling banyak ditemukan (Susanti, 2019) Diagnosis DM dapat ditegakkan dengan 3
cara yaitu jika terdapat keluhan klasik, pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL
sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM, yang kedua bila pemeriksaan glukosa
plasma puasa ≥126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik dan yang ketiga tes toleransi
glukosa oral (TTGO) >200mg/dL.(American Diabetes Association. Diabetes Guidelines.
Diabetes Care, 2016)
Dalam (Walker, 2020) Semua sel tubuh Anda membutuhkan energi. Sumber
utamanya adalah glukosa, yang membutuhkan hormon insulin untuk masuk ke dalam sel.
Pada penyakit diabetes, terdapat kekurangan insulin atau insulin tidak dapat bekerja
dengan baik, yang menyebabkan berbagai gejala dan gangguan kesehatan. Pada penderita
diabetes, glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke sel tubuh sehingga kehilangan
sumber energi yang biasa. Tubuh mencoba membuang kelebihan glukosa dalam darah
dengan mengeluarkannya melalui urin, dan menggunakan lemak dan protein (dari otot)
sebagai sumber energi alternatif. Hal ini mengganggu proses tubuh dan menyebabkan
gejala diabetes. Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam darah dan menyebabkan gejala
seperti mengeluarkan banyak air seni, karena tubuh Anda mengeluarkan kelebihan
glukosa dengan menyaringnya ke dalam urin. Karena tubuh Anda tidak dapat
menggunakan glukosa untuk energi, ia menggunakan otot dan simpanan lemaknya, yang
dapat menyebabkan gejala seperti penurunan berat badan. Kadar glukosa darah yang
hanya sedikit. Penyebab dari penyakit diabetes melitus meliputi :
a. Genetik
Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit Diabetes Melitus.
Sekitar 50% penderita diabetes tipe 2 mempunyai orang tua yang menderita
diabetes, dan lebih dari sepertiga penderita diabetes mempunyai saudara yang
mengidap diabetes. Diabetes tipe 2 lebih banyak kaitannya dengan faktor genetik
dibanding diabetes tipe 1.
Ras Indian di Amerika, Hispanik dan orang Amerika Afrika, mempunyai risiko
lebih besar untuk terkena diabetes tipe 2. Hal ini disebabkan karena ras-ras tersebut
kebanyakan mengalami obesitas sampai diabetes dan tekanan darah tinggi. Pada
orang Amerika di Afrika, usia di atas 45 tahun, mereka dengan kulit hitam lebih
banyak terkena diabetes dibanding dengan orang kulit putih. Suku Amerika
Hispanik terutama Meksiko mempunyai risiko tinggi terkena diabetes 2-3 kali lebih
sering daripada non-hispanik terutama pada kaum wanitanya.
c. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko diabetes yang paling penting untuk diperhatikan.
Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes tipe 2 adalah orang yang gemuk. Hal
disebabkan karena semakin banyak jaringan lemak, maka jaringan ubuh dan otot
akan semakin resisten terhadap kerja insulin, terutama jika lemak tubuh terkumpul
di daerah perut. Lemak ini akan menghambat kerja insulin sehingga gula tidak
dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah.
d. Metabolic syndrome
Pola makan yang terbiasa dengan makanan yang banyak mengandung lemak dan
kalori tinggi sangat berpotensi untuk meningkatkan resiko terkena diabetes. Adapun
pola hidup buruk adalah pola hidup yang tidak teratur dan penuh tekanan kejiwaan
seperti stres yang berkepanjangan, perasaan khawatir dan takut yang berlebihan dan
jauh dari nilai-nilai spiritual. Hal ini diyakini sebagai faktor terbesar untuk
seseorang mudah terserang penyakit berat baik diabetes maupun penyakit berat
lainnya. Di samping itu aktivitas fisik yang rendah juga berpotensi untuk seseorang
terjangkit penyakit diabetes.
f. Usia
Pada diabetes melitus tipe 2, usia yang berisiko ialah usia diatas 40 tahun.
Tingginya usia seiring dengan banyaknya paparan yang mengenai seseorang dari
unsur-unsur di lingkungannya terutama makanan.
g. Konsumsi obat
Konsumsi obat yang dimaksud ialah riwayat mengonsumsi obatobatan dalam waktu
yang lama seperti adrenalin, diuretika, kortokosteroid, ekstrak tiroid dan obat
kontrasepsi.
3. Manifestansi Klinis
Seseorang dapat dikatakan menderita diabetes mellitus apabila menderita dua dari tiga
gejala yaitu :
a. Keluhan TRIAS : banyak minum, banyak kencing, dan penurunan berat badan.
c. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl keluhan yang
sering terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah polyuria, polidipsi, polifagia,
berat badan menurun, lemah, kesemutan gatal, visus menurun, bisul/luka,
keputihan ([Link] Rendy Margaret TH, 2019)
4. Klasifikasi
Diabetes Melitus diklasifikasikan dalam 8 kategori Klinis (Walker, 2020) yaitu :
c. Diabetes gestasional
Diabetes yang muncul pertama kali dalam kehamilan dikenal sebagai diabetes
gestasional. Terkadang, diabetes tipe 1 atau tipe 2 tidak terdiagnosis sebelum
kehamilan. Lebih sering, bagaimanapun, pertama kali muncul selama kehamilan,
sekitar 24-28 minggu, dan menghilang saat bayi lahir. Wanita yang mengidap
diabetes tipe ini berisiko tinggi terkena diabetes gestasional lagi di kehamilan
berikutnya dan juga mengembangkan diabetes tipe 2 permanen dalam beberapa tahun.
Saat Anda hamil, tubuh Anda meningkatkan glukosa darahnya untuk memenuhi
kebutuhan bayi yang sedang tumbuh dan dibutuhkan lebih banyak insulin. Namun,
hormon yang diproduksi oleh plasenta membuat insulin menjadi kurang efektif. Jika
produksi insulin Anda tidak dapat mengatasi penurunan efektivitas ini, glukosa tetap
berada dalam darah dan diabetes gestasional berkembang. Kondisi ini mungkin tidak
menimbulkan gejala tetapi akan terdeteksi selama pemeriksaan antenatal rutin. Jika
Anda mengalami diabetes gestasional, Anda akan ditawari perawatan dan perawatan
yang dipersonalisasi selama kehamilan.
Kondisi ini (sering disebut hanya LADA Latent autoimmune diabetes in adults)
memiliki ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 sehingga kadang-kadang disebut sebagai
“diabetes tipe satu setengah”. LADA biasanya berkembang dari usia 30-an dan
seterusnya. Seperti tipe 1, ini terjadi karena pancreas berhenti memproduksi insulin,
yang diduga disebabkan oleh sistem kekebalan yang menyerang sel-sel penghasil
insulin. Namun, tidak seperti tipe 1, sel penghasil insulin terus memproduksi insulin
selama berbulanbulan atau bahkan bertahun-tahun. Gejala LADA khas diabetes dan
cenderung datang secara bertahap: kelelahan terus-menerus; buang air kecil
berlebihan haus terus menerus; dan penurunan berat badan. Jika dicurigai menderita
LADA, pengobatan akan dilakukan dengan tablet dan / atau insulin, tergantung kadar
glukosa darah.
e. Diabetes neonatal
Jenis diabetes ini sangat jarang dan didefinisikan sebagai diabetes yang didiagnosis
sebelum usia 6 bulan. Ini disebabkan oleh mutasi genetik yang mempengaruhi
produksi insulin. Ada dua jenis kondisi yaitu: sementara dan permanen. Pada tipe
sementara, kondisi biasanya menghilang pada usia sekitar 12 bulan. Jenis permanen
seumur hidup dan dapat dikonfirmasi dengan pengujian genetik. Perawatan mungkin
dengan tablet atau insulin.
f. Diabetes sekunder
Diabetes yang diakibatkan oleh masalah kesehatan lain atau perawatan medis dikenal
sebagai diabetes sekunder. Ada berbagai kemungkinan penyebab, termasuk infeksi
virus yang menghancurkan sel-sel penghasil insulin di pankreas; kerusakan pankreas
akibat kondisi seperti fibrosis kistik atau pankreatitis; operasi pengangkatan pankreas;
kelainan hormonal tertentu, misalnya penyakit Cushing; atau sebagai efek samping
dari beberapa obat, seperti kortikosteroid. Perawatan bervariasi sesuai dengan
penyebab yang mendasari.
g. Pradiabetes
Istilah "pradiabetes" mengacu pada glukosa darah yang sedikit meningkat tetapi tidak
cukup tinggi untuk digolongkan sebagai diabetes. Jika Anda didiagnosis dengan
pradiabetes, Anda dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2 dengan nasihat
praktis dan dukungan dari ahli kesehatan Anda.
5. Patifisiologi
6. Pohon Masalah
Kesiapan Peningkatan
Manajemen Kesehatan
7. Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien DM tipe 2 akan menyebabkan
berbagai komplikasi. Komplikasi DM tipe 2 terbagi dua berdasarkan lama terjadinya
yaitu: komplikasi akut dan komplikasi kronik (PERKERNI, 2015)
a. Komplikasi akut
c) Hipoglikemia
Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah mg/dL.
Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan
hipoglikemia. Gejala hipoglikemia terdiri dari berdebar-debar, banyak
keringat, gementar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan kesadaran menurun
sampai koma (PERKENI, 2015).
b. Komplikasi kronik
Komplikasi jangka panjang menjadi lebih umum terjadi pada pasien DM saat ini
sejalan dengan penderita DM yang bertahan hidup lebih lama. Penyakit D yang
tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya komplikasi
kronik. Kategori umum komplikasi jangka panjang terdiri dari :
a) Komplikasi makrovaskular
Komplikasi makrovaskular pada DM terjadi akibat aterosklerosis dari
pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak
ateroma. Makroangiopati tidak spesifik pada DM namun dapat timbul lebih
cepat, lebih sering terjadi dan lebih serius. Berbagai studi epidemiologis
menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dan
penderita DM meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal. Komplikasi
makroangiopati umumnya tidak ada hubungan dengan control kadar gula
darah yang baik. Tetapi telah terbukti secara epidemiologi bahwa
hiperinsulinemia merupakan suatu factor resiko mortalitas kardiovaskular
dimana peninggian kadar insulin dapat menyebabkan terjadinya risiko
kardiovaskular menjadi semakin tinggi. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL
akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat.
Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar antara lain adalah
pembuluh darah jantung atau penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak
atau stroke, dan penyakit pembuluh darah. Hiperinsulinemia juga dikenal
sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya
komplikasi makrovaskular (Smeltzer dan Bare, 2015)
b) Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah
kecil khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati diabetik dan nefropati
diabetik. Retinopati diabetic dibagi dalam 2 kelompok, yaitu retinopati non
proliferatif dan retinopati proliferatif. Retinopati non proliferatif merupakan
stadium awal dengan ditandai adanya mikroaneurisma, sedangkan retinopati
proliferatif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler,
jaringan ikat dan adanya hipoksia retina. Seterusnya, nefropati diabetik adalah
gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah.
Nefropati diabetic ditandai dengan adanya proteinuria persisten (>0,5gr/24
jam), terdapat retinopati dan hipertensi. Kerusakan ginjal yang spesifik pada
DM mengakibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga molekul- molekul
besar seperti protein dapat masuk ke dalam kemih (albuminuria). Akibat dari
nefropati diabetik tersebut dapat menyebabkan kegagalan ginjal progresif dan
upaya preventif pada nefropati adalah kontrol metabolisme dan kontrol
tekanan darah (Smeltzer dan Bare, 2015)
c) Neuropati
Diabetes neuropati adalah kerusakan saraf sebagai komplikasi serius akibat
DM. Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer,
berupa hilangnya sensasi distal dan biasanya mengenai kaki terlebih dahulu,
lalu ke bagian tangan. Neuropati berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki
dan amputasi. Gejala yang sering dirasakan adalah kaki terasa terbakar dan
bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis DM
ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi
adanya polineuropatidistal.
8. Penatalaksanaan
Menurut Smeltzer dan Bare (2015), tujuan utama penatalaksanaan terapi pada Diabetes
Mellitus adalah menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosas darah, sedangkan
tujuan jangka panjangnya adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi. Tatalaksana
diabetes terangkum dalam 4 pilar pengendalian diabetes. Empat pilar pengendalian
diabetes, yaitu :
a. Edukasi
1. Pengkajian
Asuhan keperawatan pada tahap pertama yaitu pengkajian. Dalam pengkajian perlu
dikaji biodata pasien dan data data untuk menunjang diagnosa. Data tersebut harus
seakurat akuratnya, agar dapat digunakan dalam tahap berikutnya, meliputi nama
pasien,umur, keluhan utama
a. Riwayat Kesehatan
a) Pola persepsi
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tatalaksana
hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren pada
kaki diabetik, sehingga menimbulkan persepsi negatif terhadap diri dan
kecendurangan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan
yang lama,lebih dari 6 juta dari penderita DM tidak menyadari akan
terjadinya resiko kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi
(Debra Clair,Jounal Februari 201)
Akibat produksi insulin yang tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin
maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan
keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun
dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengarui status kesehatan penderita.
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek , mual muntah.
c) Pola eliminasi
Kelemahan, susah berjalan dan bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan
tidur,tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan bahkan sampai
terjadi koma. Adanya luka gangren dan kelemahanotot otot pada tungkai
bawah menyebabkan penderita tidak mampu melakukan aktivitas sehari hari
secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan.
Istirahat tidak efektif adanya poliuri,nyeri pada kaki yang luka,sehingga klien
mengalami kesulitan tidur
h) Peran hubungan
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu
dan menarik diri dari pergaulan.
i) Seksualitas
j) Koping toleransi
Lamanya waktu perawatan,perjalannya penyakit kronik, persaan tidak
berdaya karena ketergantungan menyebabkan reasi psikologis yang negatif
berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung, dapat menyebabkan penderita
tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang kontruktif/adaptif.
k) Nilai kepercayaan
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka
pada kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi
mempengarui pola ibadah penderita.
c. Pemeriksaan fisik
Yang terdiri dari tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu. Tekanan darah
dan pernafasan pada pasien dengan pasien DM bisa tinggi atau normal, Nadi
dalam batas normal, sedangkan suhu akan mengalami perubahan jika terjadi
infeksi.
b) Pemeriksaan Kulit
Kulit akan tampak pucat karena Hb kurang dari normal dan jika kekurangan
cairan maka turgor kulit akan tidak elastis. kalau sudah terjadi komplikasi
kulit terasa gatal.
f) Pemeriksaan Abdomen
Sering BAK
h) Pemeriksaan Muskuloskeletal
i) Pemeriksaan Ekstremitas
Kadang terdapat luka pada ekstermitas bawah bisa terasa nyeri, bisa terasa
baal
j) Pemeriksaan Neurologi
GCS :15, Kesadaran Compos mentis Cooperative(CMC)
2. Diagnosa Keperawatan
3. Intervensi Keperawatan
4. Implementasi Keperawatan
Menurut Nursalam, 2011 , evaluasi keperawatan terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Evaluasi formatif. Evaluasi ini disebut juga evaluasi berjalan dimana evaluasi
dilakukan sampai dengan tujuan tercapai
b. Evaluasi somatif , merupakan evaluasi akhir dimana dalam metode evaluasi ini
menggunakan SOAP.
DAFTAR PUSTAKA
Bhatt, H., Saklani, S., & Upadhayay, K. (2016). Anti-oxidant and anti-diabetic activities of
ethanolic extract of Primula Denticulata Flowers. Indonesian Journal of Pharmacy, 27(2),
74–79. [Link] Harmoko. (2012). Asuhan
Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kesehatan, D., & Balikpapan, K. (2018). Profil 2018 kesehatan. Data Dan Informasi Profil
Kesehatan Indonesia. [Link]
[Link] Rendy Margaret TH. (2019). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan Penyakit Dalam
(Nurha Medi).
Perilaku, H., Dengan Kadar, K., Darah, G., Hidup, K., & Diabetes, P. (2019). The Relationship
of Health Behavior with the Area of Sugar Content and Quality of Life of Diabetes Patients.
Jurnal Kesehatan Primer, 108(2), 114–123.
[Link]
Priscilla LeMone dkk. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Intergumen,
Gangguan Endrokrin, dan Gangguan Gastrointestinal (EGC).