0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan25 halaman

Panduan Lengkap Diabetes Melitus

Dokumen ini membahas tentang Diabetes Melitus (DM), termasuk pengertian, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, patofisiologi, dan komplikasi yang terkait. DM adalah penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan metabolisme insulin, dengan faktor risiko seperti genetik, obesitas, dan pola hidup. Komplikasi DM dapat dibagi menjadi akut dan kronik, yang dapat berakibat serius jika tidak terkelola dengan baik.

Diunggah oleh

tanayaagus09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan25 halaman

Panduan Lengkap Diabetes Melitus

Dokumen ini membahas tentang Diabetes Melitus (DM), termasuk pengertian, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, patofisiologi, dan komplikasi yang terkait. DM adalah penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan metabolisme insulin, dengan faktor risiko seperti genetik, obesitas, dan pola hidup. Komplikasi DM dapat dibagi menjadi akut dan kronik, yang dapat berakibat serius jika tidak terkelola dengan baik.

Diunggah oleh

tanayaagus09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEPERAWATAN GERONTIK

LAPORAN PENDAHULUAN DM

OLEH

Ni Putu Ari Kencana Dewi (N1225047)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA USADA BALI
2025
A. Konsep Dasar Diabetes Melitus

1. Pengertian Diabetes Melitus

Kata diabetes berasal dari bahasa latin yang berarti "melewati", mengacu pada
poliuria - gejala khas diabetes mellitus (DM). Kata mellitus berarti "dari madu", yang
berarti glikosuria, merupakan ciri dari diabetes insipidu (Rodriguez-Saldana, 2019).
Diabetes Melitus didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai sindrom
metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronis akibat salah satu dari beberapa
kondisi yang menyebabkan sekresi dan / atau tindakan insulin yang rusak.
Pradiabetes adalah keadaan yang ditandai dengan kelainan metabolisme yang
meningkatkan risiko terkena DM dan komplikasinya.

Penyakit Diabetes Melilitus (DM) adalah penyakit kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme
dalam tubuh. Gangguan metabolisme tersebut disebabkan karena kurangnya produksi
hormon insulin yang diperlukan tubuh. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit
kencing manis atau penyakit gula darah. Penyakit diabetes merupakan penyakit endokrin
yang paling banyak ditemukan (Susanti, 2019) Diagnosis DM dapat ditegakkan dengan 3
cara yaitu jika terdapat keluhan klasik, pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL
sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM, yang kedua bila pemeriksaan glukosa
plasma puasa ≥126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik dan yang ketiga tes toleransi
glukosa oral (TTGO) >200mg/dL.(American Diabetes Association. Diabetes Guidelines.
Diabetes Care, 2016)

2. Etiologi Diabetes Melitus

Dalam (Walker, 2020) Semua sel tubuh Anda membutuhkan energi. Sumber
utamanya adalah glukosa, yang membutuhkan hormon insulin untuk masuk ke dalam sel.
Pada penyakit diabetes, terdapat kekurangan insulin atau insulin tidak dapat bekerja
dengan baik, yang menyebabkan berbagai gejala dan gangguan kesehatan. Pada penderita
diabetes, glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke sel tubuh sehingga kehilangan
sumber energi yang biasa. Tubuh mencoba membuang kelebihan glukosa dalam darah
dengan mengeluarkannya melalui urin, dan menggunakan lemak dan protein (dari otot)
sebagai sumber energi alternatif. Hal ini mengganggu proses tubuh dan menyebabkan
gejala diabetes. Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam darah dan menyebabkan gejala
seperti mengeluarkan banyak air seni, karena tubuh Anda mengeluarkan kelebihan
glukosa dengan menyaringnya ke dalam urin. Karena tubuh Anda tidak dapat
menggunakan glukosa untuk energi, ia menggunakan otot dan simpanan lemaknya, yang
dapat menyebabkan gejala seperti penurunan berat badan. Kadar glukosa darah yang
hanya sedikit. Penyebab dari penyakit diabetes melitus meliputi :

a. Genetik

Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit Diabetes Melitus.
Sekitar 50% penderita diabetes tipe 2 mempunyai orang tua yang menderita
diabetes, dan lebih dari sepertiga penderita diabetes mempunyai saudara yang
mengidap diabetes. Diabetes tipe 2 lebih banyak kaitannya dengan faktor genetik
dibanding diabetes tipe 1.

b. Ras atau etnis

Ras Indian di Amerika, Hispanik dan orang Amerika Afrika, mempunyai risiko
lebih besar untuk terkena diabetes tipe 2. Hal ini disebabkan karena ras-ras tersebut
kebanyakan mengalami obesitas sampai diabetes dan tekanan darah tinggi. Pada
orang Amerika di Afrika, usia di atas 45 tahun, mereka dengan kulit hitam lebih
banyak terkena diabetes dibanding dengan orang kulit putih. Suku Amerika
Hispanik terutama Meksiko mempunyai risiko tinggi terkena diabetes 2-3 kali lebih
sering daripada non-hispanik terutama pada kaum wanitanya.

c. Obesitas

Obesitas merupakan faktor risiko diabetes yang paling penting untuk diperhatikan.
Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes tipe 2 adalah orang yang gemuk. Hal
disebabkan karena semakin banyak jaringan lemak, maka jaringan ubuh dan otot
akan semakin resisten terhadap kerja insulin, terutama jika lemak tubuh terkumpul
di daerah perut. Lemak ini akan menghambat kerja insulin sehingga gula tidak
dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah.
d. Metabolic syndrome

Metabolic syndrome adalah suatu keadaan seseorang menderita tekanan darah


tinggi, kegemukan dan mempunyai kandungan gul dan lemak yang tinggi dalam
darahnya. Menurut WHO dan NCEP-ATP III, orang yang menderita metabolic
syndrome adalah mereka yang mempunyai kelainan yaitu tekanan darah tinggi
lebih dari 140/90 mg/dl, kolesterol HDL kurang dari 40 mg/dl, trigliserida darah
lebih dari 150 mg/dl, obesitas sentral dengan BMI lebih dari 30, lingkar pinggang
lebih dari 102 cm pada pria dan 88 cm pada wanita atau sudah terdapat
mikroalbuminuria.

e. Pola makan dan pola hidup

Pola makan yang terbiasa dengan makanan yang banyak mengandung lemak dan
kalori tinggi sangat berpotensi untuk meningkatkan resiko terkena diabetes. Adapun
pola hidup buruk adalah pola hidup yang tidak teratur dan penuh tekanan kejiwaan
seperti stres yang berkepanjangan, perasaan khawatir dan takut yang berlebihan dan
jauh dari nilai-nilai spiritual. Hal ini diyakini sebagai faktor terbesar untuk
seseorang mudah terserang penyakit berat baik diabetes maupun penyakit berat
lainnya. Di samping itu aktivitas fisik yang rendah juga berpotensi untuk seseorang
terjangkit penyakit diabetes.

f. Usia

Pada diabetes melitus tipe 2, usia yang berisiko ialah usia diatas 40 tahun.
Tingginya usia seiring dengan banyaknya paparan yang mengenai seseorang dari
unsur-unsur di lingkungannya terutama makanan.

g. Konsumsi obat

Konsumsi obat yang dimaksud ialah riwayat mengonsumsi obatobatan dalam waktu
yang lama seperti adrenalin, diuretika, kortokosteroid, ekstrak tiroid dan obat
kontrasepsi.
3. Manifestansi Klinis
Seseorang dapat dikatakan menderita diabetes mellitus apabila menderita dua dari tiga
gejala yaitu :

a. Keluhan TRIAS : banyak minum, banyak kencing, dan penurunan berat badan.

b. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120mg/dl

c. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl keluhan yang
sering terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah polyuria, polidipsi, polifagia,
berat badan menurun, lemah, kesemutan gatal, visus menurun, bisul/luka,
keputihan ([Link] Rendy Margaret TH, 2019)

Adapun manifestasi klinis DM Tipe II menurut (Priscilla LeMone dkk, 2015)


Penyandang DM tipe II mengalami awitan, manifetasi yang lambat dan sering kali tidak
menyadari penyakit sampai mencari perawatan Kesehatan untuk beberap masalah lain.
Polifagia jarang dijumpai dan penurunan berat badan tidak terjadi. Manifestasi lain juga
akibat hiperglikemi, penglihatan buram, keletihan, paratesia, dan infeksi kulit.

4. Klasifikasi
Diabetes Melitus diklasifikasikan dalam 8 kategori Klinis (Walker, 2020) yaitu :

a. Diabetes Melitus tipe 1


Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat memproduksi insulin karena sel-sel
penghasil insulin di pankreas telah dihancurkan. Pada kebanyakan orang, hal ini
disebabkan oleh respons autoimun di mana sistem kekebalan secara keliru
menyerang sel-sel yang mensekresi insulin. Penyebab reaksi ini belum diketahui.
Terlepas dari orang yang memiliki kerusakan pada pankreas, diabetes tipe 1 hanya
terjadi pada mereka yang memiliki kecenderungan genetik terhadap kondisi tersebut.
Diabetes tipe 1 tampaknya datang tiba-tiba, tetapi penghancuran sel-sel penghasil
insulin dapat dimulai beberapa bulan atau tahun sebelumnya, dan baru sekitar 80
persen atau lebih dari selsel ini telah dihancurkan sehingga gejala biasanya muncul.

b. Diabetes Melitus tipe 2


Pada jenis diabetes ini, pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin atau sel
kurang dapat meresponsnya. Ini berarti glukosa tetap berada di dalam darah dan tidak
dapat digunakan untuk energi. Awalnya, pankreas merespons resistensi insulin
dengan memproduksi lebih banyak insulin, tetapi seiring waktu, pankreas tidak dapat
mengatasi peningkatan permintaan. Inilah sebabnya mengapa pengobatan diabetes
tipe 2 sering berubah seiring waktu dan pada akhirnya cenderung membutuhkan
insulin. Diabetes tipe 2 seringkali, meskipun tidak selalu, dikaitkan dengan kelebihan
berat badan, dan juga dengan penumpukan timbunan lemak di sekitar hati dan
pankreas.

c. Diabetes gestasional

Diabetes yang muncul pertama kali dalam kehamilan dikenal sebagai diabetes
gestasional. Terkadang, diabetes tipe 1 atau tipe 2 tidak terdiagnosis sebelum
kehamilan. Lebih sering, bagaimanapun, pertama kali muncul selama kehamilan,
sekitar 24-28 minggu, dan menghilang saat bayi lahir. Wanita yang mengidap
diabetes tipe ini berisiko tinggi terkena diabetes gestasional lagi di kehamilan
berikutnya dan juga mengembangkan diabetes tipe 2 permanen dalam beberapa tahun.
Saat Anda hamil, tubuh Anda meningkatkan glukosa darahnya untuk memenuhi
kebutuhan bayi yang sedang tumbuh dan dibutuhkan lebih banyak insulin. Namun,
hormon yang diproduksi oleh plasenta membuat insulin menjadi kurang efektif. Jika
produksi insulin Anda tidak dapat mengatasi penurunan efektivitas ini, glukosa tetap
berada dalam darah dan diabetes gestasional berkembang. Kondisi ini mungkin tidak
menimbulkan gejala tetapi akan terdeteksi selama pemeriksaan antenatal rutin. Jika
Anda mengalami diabetes gestasional, Anda akan ditawari perawatan dan perawatan
yang dipersonalisasi selama kehamilan.

d. Diabetes autoimun laten pada orang dewasa

Kondisi ini (sering disebut hanya LADA Latent autoimmune diabetes in adults)
memiliki ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 sehingga kadang-kadang disebut sebagai
“diabetes tipe satu setengah”. LADA biasanya berkembang dari usia 30-an dan
seterusnya. Seperti tipe 1, ini terjadi karena pancreas berhenti memproduksi insulin,
yang diduga disebabkan oleh sistem kekebalan yang menyerang sel-sel penghasil
insulin. Namun, tidak seperti tipe 1, sel penghasil insulin terus memproduksi insulin
selama berbulanbulan atau bahkan bertahun-tahun. Gejala LADA khas diabetes dan
cenderung datang secara bertahap: kelelahan terus-menerus; buang air kecil
berlebihan haus terus menerus; dan penurunan berat badan. Jika dicurigai menderita
LADA, pengobatan akan dilakukan dengan tablet dan / atau insulin, tergantung kadar
glukosa darah.

e. Diabetes neonatal
Jenis diabetes ini sangat jarang dan didefinisikan sebagai diabetes yang didiagnosis
sebelum usia 6 bulan. Ini disebabkan oleh mutasi genetik yang mempengaruhi
produksi insulin. Ada dua jenis kondisi yaitu: sementara dan permanen. Pada tipe
sementara, kondisi biasanya menghilang pada usia sekitar 12 bulan. Jenis permanen
seumur hidup dan dapat dikonfirmasi dengan pengujian genetik. Perawatan mungkin
dengan tablet atau insulin.

f. Diabetes sekunder
Diabetes yang diakibatkan oleh masalah kesehatan lain atau perawatan medis dikenal
sebagai diabetes sekunder. Ada berbagai kemungkinan penyebab, termasuk infeksi
virus yang menghancurkan sel-sel penghasil insulin di pankreas; kerusakan pankreas
akibat kondisi seperti fibrosis kistik atau pankreatitis; operasi pengangkatan pankreas;
kelainan hormonal tertentu, misalnya penyakit Cushing; atau sebagai efek samping
dari beberapa obat, seperti kortikosteroid. Perawatan bervariasi sesuai dengan
penyebab yang mendasari.

g. Pradiabetes

Istilah "pradiabetes" mengacu pada glukosa darah yang sedikit meningkat tetapi tidak
cukup tinggi untuk digolongkan sebagai diabetes. Jika Anda didiagnosis dengan
pradiabetes, Anda dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2 dengan nasihat
praktis dan dukungan dari ahli kesehatan Anda.
5. Patifisiologi

DM tipe 2 merupakan suatu kelainan metabolik dengan karakteristik utama adalah


terjadinya hiperglikemik kronik. Meskipun pola pewarisannya belum jelas, faktor genetik
dikatakan memiliki peranan yang sangat penting dalam munculnya DM tipe 2. Faktor
genetik ini akan berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan seperti gaya hidup, obesitas,
rendahnya aktivitas fisik, diet, dan tingginya kadar asam lemak bebas (Smeltzer dan Bare,
2015). Mekanisme terjadinya DM tipe 2 umumnya disebabkan karena resistensi insulin
dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus
pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi
suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Resistensi insulin pada
DM tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin
menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk
mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus
terjadi peningkatan jumlah insulin yang disekresikan (Smeltzer dan Bare, 2015). Pada
penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang
berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit
meningkat. Namun demikian, jika sel-sel β tidak mampu mengimbangi peningkatan
kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi DM tipe 2.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe 2, namun
masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak
dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu, ketoasidosis diabetik tidak
terjadi pada DM tipe 2. Meskipun demikian, DM tipe 2 yang tidak terkontrol akan
menimbulkan masalah akut lainnya seperti sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Non-
Ketotik (HHNK) (Smeltzer dan Bare, 2015).

Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahuntahun) dan


progresif, maka awitan DM tipe 2 dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami
pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan, seperti: kelelahan, iritabilitas, poliuria,
polidipsia, luka pada kulit yang lama-lama sembuh, infeksi vagina atau pandangan kabur
(jika kadar glukosanya sangat tinggi). Salah satu konsekuensi tidak terdeteksinya
penyakit DM selama bertahun-tahun adalah terjadinya komplikasi DM jangka panjang
(misalnya, kelainan mata, neuropati perifer, kelainan vaskuler perifer) mungkin sudah
terjadi sebelum diagnosis ditegakkan (Smeltzer dan Bare, 2015).

6. Pohon Masalah

Kesiapan Peningkatan
Manajemen Kesehatan

7. Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien DM tipe 2 akan menyebabkan
berbagai komplikasi. Komplikasi DM tipe 2 terbagi dua berdasarkan lama terjadinya
yaitu: komplikasi akut dan komplikasi kronik (PERKERNI, 2015)

a. Komplikasi akut

a) Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan komplikasi akut DM yang ditandai


dengan peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL),
disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat.
Osmolaritas plasma meningkat (300-320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan
anion gap (PERKENI, 2015).

b) Hiperosmolar non ketotik (HNK)


Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200
mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat
(330-380 mOs/mL), plasma keton (+), anion gap normal atau sedikit
meningkat (PERKENI, 2015).

c) Hipoglikemia
Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah mg/dL.
Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan
hipoglikemia. Gejala hipoglikemia terdiri dari berdebar-debar, banyak
keringat, gementar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan kesadaran menurun
sampai koma (PERKENI, 2015).

b. Komplikasi kronik

Komplikasi jangka panjang menjadi lebih umum terjadi pada pasien DM saat ini
sejalan dengan penderita DM yang bertahan hidup lebih lama. Penyakit D yang
tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya komplikasi
kronik. Kategori umum komplikasi jangka panjang terdiri dari :

a) Komplikasi makrovaskular
Komplikasi makrovaskular pada DM terjadi akibat aterosklerosis dari
pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak
ateroma. Makroangiopati tidak spesifik pada DM namun dapat timbul lebih
cepat, lebih sering terjadi dan lebih serius. Berbagai studi epidemiologis
menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dan
penderita DM meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal. Komplikasi
makroangiopati umumnya tidak ada hubungan dengan control kadar gula
darah yang baik. Tetapi telah terbukti secara epidemiologi bahwa
hiperinsulinemia merupakan suatu factor resiko mortalitas kardiovaskular
dimana peninggian kadar insulin dapat menyebabkan terjadinya risiko
kardiovaskular menjadi semakin tinggi. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL
akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat.
Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar antara lain adalah
pembuluh darah jantung atau penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak
atau stroke, dan penyakit pembuluh darah. Hiperinsulinemia juga dikenal
sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya
komplikasi makrovaskular (Smeltzer dan Bare, 2015)

b) Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah
kecil khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati diabetik dan nefropati
diabetik. Retinopati diabetic dibagi dalam 2 kelompok, yaitu retinopati non
proliferatif dan retinopati proliferatif. Retinopati non proliferatif merupakan
stadium awal dengan ditandai adanya mikroaneurisma, sedangkan retinopati
proliferatif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler,
jaringan ikat dan adanya hipoksia retina. Seterusnya, nefropati diabetik adalah
gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah.
Nefropati diabetic ditandai dengan adanya proteinuria persisten (>0,5gr/24
jam), terdapat retinopati dan hipertensi. Kerusakan ginjal yang spesifik pada
DM mengakibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga molekul- molekul
besar seperti protein dapat masuk ke dalam kemih (albuminuria). Akibat dari
nefropati diabetik tersebut dapat menyebabkan kegagalan ginjal progresif dan
upaya preventif pada nefropati adalah kontrol metabolisme dan kontrol
tekanan darah (Smeltzer dan Bare, 2015)

c) Neuropati
Diabetes neuropati adalah kerusakan saraf sebagai komplikasi serius akibat
DM. Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer,
berupa hilangnya sensasi distal dan biasanya mengenai kaki terlebih dahulu,
lalu ke bagian tangan. Neuropati berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki
dan amputasi. Gejala yang sering dirasakan adalah kaki terasa terbakar dan
bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis DM
ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi
adanya polineuropatidistal.

Apabila ditemukan adanya polineuropati distal, perawatan kaki yang memadai


akan menurunkan risiko amputasi. Semua penyandang DM yang disertai
neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi
risiko ulkus kaki (PERKENI, 2015).

8. Penatalaksanaan

Menurut Smeltzer dan Bare (2015), tujuan utama penatalaksanaan terapi pada Diabetes
Mellitus adalah menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosas darah, sedangkan
tujuan jangka panjangnya adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi. Tatalaksana
diabetes terangkum dalam 4 pilar pengendalian diabetes. Empat pilar pengendalian
diabetes, yaitu :

a. Edukasi

Penderita diabetes perlu mengetahui seluk beluk penyakit diabetes. Dengan


mengetahui faktor risiko diabetes, proses terjadinya diabetes, gejala diabetes,
komplikasi penyakit diabetes, serta pengobatan diabetes, penderita diharapkan
dapat lebih menyadari pentingnya pengendalian diabetes, meningkatkan
kepatuhan gaya hidup sehat dan pengobatan diabetes. Penderita perlu menyadari
bahwa mereka mampu menanggulangi diabetes, dan diabetes bukanlah suatu
penyakit yang di luar kendalinya. Terdiagnosis sebagai penderita diabetes bukan
berarti akhir dari segalanya. Edukasi (penyuluhan) secara individual dan
pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku
yang berhasil.

b. Pengaturan makan (Diit)


Pengaturan makan pada penderita diabetes bertujuan untuk mengendalikan gula
darah, tekanan darah, kadar lemak darah, serta berat badan ideal.
Dengan demikian, komplikasi diabetes dapat dihindari, sambil tetap
mempertahankan kenikmatan proses makan itu sendiri. Pada prinsipnya, makanan
perlu dikonsumsi teratur dan disebar merata dalam sehari. Seperti halnya prinsip
sehat umum, makanan untuk penderita diabetes sebaiknya rendah lemak terutama
lemak jenuh, kaya akan karbohidrat kompleks yang berserat termasuk sayur dan
buah dalam porsi yang secukupnya, serta seimbang dengan kalori yang
dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari penderita.

c. Olahraga / Latihan Jasmani


Pengendalian kadar gula, lemak darah, serta berat badan juga membutuhkan
aktivitas fisik teratur. Selain itu, aktivitas fisik juga memiliki efek sangat baik
meningkatkan sensitivitas insulin pada tubuh penderita sehingga pengendalian
diabetes lebih mudah dicapai. Porsi olahraga perlu diseimbangkan dengan porsi
makanan dan obat sehingga tidak mengakibatkan kadar gula darah yang terlalu
rendah. Panduan umum yang dianjurkan yaitu aktivitas fisik dengan intensitas
ringan-selama 30 menit dalam sehari yang dimulai secara bertahap. Jenis olahraga
yang dianjurkan adalah olahraga aerobik seperti berjalan, berenang, bersepeda,
berdansa,berkebun, dll. Penderita juga perlu meningkatkan aktivitas fisik dalam
kegiatan sehari-hari, seperti lebih memilih naik tangga ketimbang lift, dll.
Sebelum olahraga, sebaiknya penderita diperiksa dokter sehingga penyulit seperti
tekanan darah yang tinggi dapat diatasi sebelum olahraga dimulai.

d. Obat / Terapi Farmakologi


Obat oral ataupun suntikan perlu diresepkan dokter apabila gula darah tetap tidak
terkendali setelah 3 bulan penderita mencoba menerapkan gaya hidup sehat di
atas. Obat juga digunakan atas pertimbangan dokter pada keadaan-keadaan
tertentu seperti pada komplikasi akut diabetes, atau pada keadaan kadar gula
darah yang terlampau tinggi.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Asuhan keperawatan pada tahap pertama yaitu pengkajian. Dalam pengkajian perlu
dikaji biodata pasien dan data data untuk menunjang diagnosa. Data tersebut harus
seakurat akuratnya, agar dapat digunakan dalam tahap berikutnya, meliputi nama
pasien,umur, keluhan utama

a. Riwayat Kesehatan

a) Riwayat kesehatan sekarang


Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri, kesemutan pada
esktremitas,luka yang sukar sembuh Sakit kepala, menyatakan seperti mau
muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.

b) Riwayat kesehatan lalu

Biasanya klien DM mempunyai Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti


Infark miokard

c) Riwayat kesehatan keluarga

Biasanya Ada riwayat anggota keluarga yang menderita DM

b. Pengkajian Pola Gordon

a) Pola persepsi
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tatalaksana
hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren pada
kaki diabetik, sehingga menimbulkan persepsi negatif terhadap diri dan
kecendurangan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan
yang lama,lebih dari 6 juta dari penderita DM tidak menyadari akan
terjadinya resiko kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi
(Debra Clair,Jounal Februari 201)

b) Pola nutrisi metabolic

Akibat produksi insulin yang tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin
maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan
keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun
dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengarui status kesehatan penderita.
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek , mual muntah.

c) Pola eliminasi

Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang


menyebabkan pasien sering kencing(poliuri) dan pengeluaran glukosa pada
urine(glukosuria). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.

d) Pola ativitas dan Latihan

Kelemahan, susah berjalan dan bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan
tidur,tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan bahkan sampai
terjadi koma. Adanya luka gangren dan kelemahanotot otot pada tungkai
bawah menyebabkan penderita tidak mampu melakukan aktivitas sehari hari
secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan.

e) Pola tidur dan istirahat

Istirahat tidak efektif adanya poliuri,nyeri pada kaki yang luka,sehingga klien
mengalami kesulitan tidur

f) Kongnitif persepsi Pasien dengan gangren cendrung mengalami neuropati/


mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan
mengalami penurunan, gangguan penglihatan.

g) Persepsi dan konsep diri

Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh menyebabkan penderita


mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh , lamanya
perawatan, banyaknya baiaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien
mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem)

h) Peran hubungan

Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu
dan menarik diri dari pergaulan.
i) Seksualitas

Angiopati daoat terjadi pada pebuluh darah diorgan reproduksi sehingga


menyebabkan gangguan potensi sek,gangguan kualitas maupun ereksi seta
memberi dampak dalam proses ejakulasi serta orgasme. Adanya perdangan
pada vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria. Risiko
lebih tinggi terkena kanker prostat berhubungan dengan nefropatai.

j) Koping toleransi
Lamanya waktu perawatan,perjalannya penyakit kronik, persaan tidak
berdaya karena ketergantungan menyebabkan reasi psikologis yang negatif
berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung, dapat menyebabkan penderita
tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang kontruktif/adaptif.

k) Nilai kepercayaan

Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka
pada kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi
mempengarui pola ibadah penderita.

c. Pemeriksaan fisik

a) Pemeriksaan Vital Sign

Yang terdiri dari tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu. Tekanan darah
dan pernafasan pada pasien dengan pasien DM bisa tinggi atau normal, Nadi
dalam batas normal, sedangkan suhu akan mengalami perubahan jika terjadi
infeksi.

b) Pemeriksaan Kulit

Kulit akan tampak pucat karena Hb kurang dari normal dan jika kekurangan
cairan maka turgor kulit akan tidak elastis. kalau sudah terjadi komplikasi
kulit terasa gatal.

c) Pemeriksaan Kepala dan Leher


Kaji bentuk kepala,keadaan rambut Biasanya tidak terjadi pembesaran
kelenjar tiroid, kelenjar getah bening, dan JVP (Jugularis Venous Pressure)
normal 5-2 cmH2.

d) Pemeriksaan Dada (Thorak)

Pada pasien dengan penurunan kesadaran acidosis metabolic pernafasan cepat


dan dalam.

e) Pemeriksaan Jantung (Cardiovaskuler)

Pada keadaan lanjut bisa terjadi adanya kegagalan sirkulasi.

f) Pemeriksaan Abdomen

Dalam batas normal

g) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Sering BAK

h) Pemeriksaan Muskuloskeletal

Sering merasa lelah dalam melakukan aktifitas, sering merasa kesemutan

i) Pemeriksaan Ekstremitas

Kadang terdapat luka pada ekstermitas bawah bisa terasa nyeri, bisa terasa
baal

j) Pemeriksaan Neurologi
GCS :15, Kesadaran Compos mentis Cooperative(CMC)

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan resitensi urin


b. Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi,
terbakar, terpotong, mengangkat berat, proedur operasi, trauma, latihan fisik
berlebihan)

c. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kekakuan sendi


d. Kesiapan peningkatanan manajemen kesehatan berhubungan dengan Diabetes Melitus

3. Intervensi Keperawatan

Diagnosis Tujuan dan Kriteria Intervensi Keperawatan Rasional


Hasil
(SIKI)
(SLKI)

Ketidakstabilan Kestabilan Kadar Manajemen Hiperglikemia Manajemen Hiperglikemia


Glukosa Darah
Kadar Glukosa (I.03115) (I.03115)
(L.03022)
Darah (D.0027) Observasi Observasi
Setelah di berikan
1. Identifikasi kemungkinan 1. Untuk mengetahui
tindakan asuhan
penyebab hiperglikemia penyebab hiperglikemia
keperawatan selama 3x
2. Monitor kadar glukosa 2. Untuk mengetahui jumlah
24 jam diharapakan
darah, jika perlu kadar glukosa darah
kestabilan kadar glukosa
3. Monitor tanda dan gejala pasien
darah meningkat dengan
hiperglikemia (mis. 3. Untuk mengtahui tanda
kriteria hasil :
poliuria, polidipsia, dan gejala dari
1. Pusing menurun
polifagia, kelemahan, hiperglikemia
2. Lelah / lesu menurun
malaise, pandangan 4. Untuk mengetahui jumlah
3. Mulut kering
kabur, sakit kepala) cairan yang masuk dan
menurun
4. Memonitor intake dan keluar
4. Rasa haus menurun
output cairan 5. Untuk mengetahui tanda-
5. Kadar glukosa dalam
5. Monitor keton urin, kadar tanda vital pasien
darah membaik
Analisa gas darah,
6. Kadar glukosa dalam
elektrolit, tekanan darah
urine membaik
ortostatik dan frekuensi
7. Jumlah urine
nadi
membaik
Terapeutik Terapeutik
1. Berikan asupan cairan 1. Agar cairan pasien
oral tercukupi
2. Konsultasi dengan medis 2. Agar pasien dapat
jika tanda dan gejala memahami tanda dan
hiperglikemia tetap ada gejala dari penyakitnya
atau memburuk
Edukasi Edukasi
1. Anjurkan monitor kadar 1. Agar pasien dapat
glukosa darah secara mengetahui kadar glukosa
mandiri darah normal
2. Anjurkan kepatuhan 2. Agar pasien dapat lebih
terhadap diet dan cepat sembuh
olahraga
Kolaborasi Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
1. Dengan dilakukannya
cairan IV, jika perlu.
tindakan kolaborasi ini
diharapkan mampu
membantu
memperbaiki kondisi
kadar glukosa dalam
darah / urine pasien
sehingga kondisi
pasien dapat membaik
Gangguan Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri (I.08238) Manajemen Nyeri (I.08238)
Pertukaran Gas (L.08066) Observasi Observasi
(D.0003) Setelah dilakukan asuhan - Identifikasi - Untuk
keperawatan 3x24 jam lokasi, karakteristik, mengetahui lokasi,
diharapkan tingkat nyeri durasi, frekuensi, kualitas, karakteristik, durasi,
menurun dengan kriteria intensitas nyeri frekuensi, kualitas,
hasil : - Identifikasi skala nyeri intensitas nyeri
1. Keluhan nyeri - Identifikasi faktor yang - Untuk
menurun memperberat dan mengetahui skala nyeri
2. Meringis menurun memperingan nyeri pasien
3. Sikap protektif - Identifikasi pengetahuan - Untuk
menurun dan keyakinan tentang mengetahui faktor yang
4. Gelisah menurun nyeri memperberat dan
5. Menarik diri - Identifikasi pengaruh memperingan nyeri
menurun nyeri pada kualitas hidup - Untuk
6. Tekanan darah - Monitor efek samping mengetahui pengetahuan
membaik penggunaan analgetik dan keyaninan tentang
7. Nafsu makan Terapeutik nyeri
mmbaik - Berikan teknik - Untuk
nonfarmakologi untuk mengetahui pengaruh nyeri
mengurangi rasa nyeri pada kualitas hidup
(mis. TENS, hipnosis, - Untuk
akupresure, terapi musik, memantau efek samping
biofeedback, terapi pijat, penggunaan analgetik
aromaterapi, teknik Terapeutik
imajinasi terbimbing, - Untuk mengurangi rasa
kompres hangat/dingin, nyeri
terapi bermain. - Untuk meminimalisir
- Kontrol lingkungan yang rasa nyeri dan
memperberat rasa nyeri meningkatkan rasa
(mis. suhu ruangan, nyaman pasien
pencahayaan, kebisingan - Agar pemeberian
) Tindakan lebih efektif
- Pertimbangkan jenis dan untuk meredakan nyeri
sumber nyeri dalam Edukasi
pemilihan strategi - Agar pasien dapat
meredakan nyeri memahami penyebab,
Edukasi periode, dan pemicu
- Jelaskan penyebab, nyeri
periode, dan pemicu - Agar pasien dapat
nyeri meredakan nyeri secara
- Jelaskan strategi mandiri
meredakan nyeri - Agar pasien dapat
- Anjurkan memonitor memantau keadaan
nyeri secara mandiri. nyerinya secara mandiri.
- Anjurkan menggunakan - Agar nyeri pasien lebih
analgetik secara tepat. cepat pulih.
- Ajarkan teknik - Agar pasien menegtahui
nonfarmakologi untuk teknik nonfarmakologi
mengurangi rasa nyeri untuk mengurangi rasa
Kolaborasi nyeri
- Kolaborasi pemberian Kolaborasi
analgetik, jika perlu - Untuk meredakan nyeri
pasien
Mobilitas Fisik Dukungan Ambulasi Dukungan Ambulasi
(L.05042) (I.06171) (I.06171)
Setelah diberikan Observasi: Observasi:
asuhan keperawatan - Identifikasi adanya nyeri - Untuk mengetahui nyeri
selama 3 x 24 jam atau keluhan fisik lainnya. atau keluhan fisik pasien.
diharapkan mobilitas - Identifikasi toleransi fisik - Untuk mengetahui
fisik meningkat dengan melakukan ambulasi. toleransi fisik melakukan
kriteria hasil : - Monitor frekuensi jantung ambulasi.

1. Pergerakan dan tekanan darah - Untuk memantau

ekstremitas sebelum. memulai frekuensi jantung dan

meningkat ambulasi tekanan darah pasien

2. Kekuatan otot sebelum memulai


- Monitor kondisi umum
meningkat selama melakukan ambulasi.

3. Rentang gerak - Untuk mengetahui kondisi


(ROM) ambulasi. umum pasien selama
meningkat Terapeutik: melakukan ambulasi.
4. Nyeri menurun - Fasilitasi aktivitas Terapeutik:
5. Kecemasan ambulasi dengan alat - Untuk mengetahui
menurun bantu (mis. tongkat, aktivitas ambulasi pasien
6. Kaku sendi kruk). dengan alat bantu (mis.
menurun - Fasilitasi melakukan tongkat, kruk).
7. Gerakan tidak mobilisasi fisik, jika - Untuk mempermudah
terkoordinasi perlu. pasien dalam
menurun - Libatkan keluarga untuk menggerakan anggota
8. Gerakan terbatas membantu pasien dalam gerak.
menurun meningkatkan ambulasi. - Untuk lebih mendekatkan
9. Kelemahan fisik Edukasi: pasien dengan
menurun - Jelaskan tujuan dan keluarganya.
prosedur ambulasi. Edukasi:
- Anjurkan melakukan - Agar pasien dan keluarga
ambulasi dini. dapat mengetahui
- Ajarkan ambulasi ambulasi.
sederhana yang harus - Membantu agar pasien
dilakukan (mis. Berjalan dapat cepat berjalan.
dari tempat tidur ke kursi - Agar pasien tidak
roda, berjalan dari tempat mengalami risiko
tidur ke kamar mandi, komplikasi.
berjalan sesuai toleransi).
Kesiapan Setelah dilakukan pertemuan Edukasi Kesehatan (l. 12383) Edukasi Kesehatan (l. 12383)
peningkatanan selama 3x 30 menit Observasi Observasi
manajemen diharapkan Manajemen a. Identifikasi kesiapan dan a. Untuk mengetahui kesiapan
kesehatan Kesehatan Meningkat kemampuan menerima informasi pasien dalam meneriman
(L12104) dengan kriteria informasi
hasil : b. Untuk mengetahui factor-faktor
b. Identifikasi factor-faktor yang
1. Melakukan tindakan untuk yang dapat meningkatkan dan
dapat meningkatkan dan
mengurangi faktor risiko menurunkan motivasi pasien
menurunkan motivasi perilaku
meningkat dalam berperilaku hidup sehat
hidup sehat
2. Menerapkan program Terapeutik
Terapeutik
perawatan meningkat a. Sebagai bahan untuk
a. Sediakan materi dan media
3. Aktivitas hidup sehari-hari memberikan informasi kesehatan
pendidikan kesehatan
efektif memenuhi tujuan kepada pasien
kesehatan b. Untuk mengefisienkan waktu
4. Verbalisasi kesulitasn b. Jadwalkan pendidikan kesehatan
dalam menjalani program sesuai kesepakatan
Edukasi
perawatan/ pengobatanEdukasi
a. Agar pasien mengetahui factor
menurun a. Jelaskan factor risiko yang dapat
risiko yang dapat mempengaruhi
mempengaruhi kesehatan
kesehatannya
b. Ajarkan perilaku hidup bersih
b. Agar pasien dapat berperilaku
dan sehat (Berjemur dipagi hari)
hidup bersih dan sehat

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh


perawat maupun tenaga medis lain untuk membantu pasien dalam proses
penyembuhan dan perawatan serta masalah kesehatan yang dihadapi pasien yang
sebelumnya disusun dalam rencana keperawatan (Nursallam, 2011).
5. Evaluasi Keperawatan

Menurut Nursalam, 2011 , evaluasi keperawatan terdiri dari dua jenis yaitu :

a. Evaluasi formatif. Evaluasi ini disebut juga evaluasi berjalan dimana evaluasi
dilakukan sampai dengan tujuan tercapai

b. Evaluasi somatif , merupakan evaluasi akhir dimana dalam metode evaluasi ini
menggunakan SOAP.
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. Diabetes guidelines. Diabetes Care. (2016). S1–106.

Andarmoyo, S. (2012). Keperawatan Keluarga. Graha Ilmu.

Bhatt, H., Saklani, S., & Upadhayay, K. (2016). Anti-oxidant and anti-diabetic activities of
ethanolic extract of Primula Denticulata Flowers. Indonesian Journal of Pharmacy, 27(2),
74–79. [Link] Harmoko. (2012). Asuhan
Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

KEMENKES P2PTM. (2020). [Link].

Kesehatan, D., & Balikpapan, K. (2018). Profil 2018 kesehatan. Data Dan Informasi Profil
Kesehatan Indonesia. [Link]

[Link] Rendy Margaret TH. (2019). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan Penyakit Dalam
(Nurha Medi).

Notoatmodjo, S. (2012). Metedeologi Penelitihan Kesehatan. Rineka Cipta.


Padila. (2019). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Nuha Medik).

Perilaku, H., Dengan Kadar, K., Darah, G., Hidup, K., & Diabetes, P. (2019). The Relationship
of Health Behavior with the Area of Sugar Content and Quality of Life of Diabetes Patients.
Jurnal Kesehatan Primer, 108(2), 114–123.

[Link]

PERKERNI. (2015). Konsensus pengelolaan dan pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di


Indonesia (PERKERNI).

PPNI, T. P. S. D. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.

Priscilla LeMone dkk. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Intergumen,
Gangguan Endrokrin, dan Gangguan Gastrointestinal (EGC).

Anda mungkin juga menyukai