0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan111 halaman

Manajemen Digital Government Indonesia

Dokumen ini membahas manajemen digital government di Indonesia, dengan fokus pada Kementerian Keuangan dan Kementerian Sekretariat Negara dalam menghadapi tantangan digitalisasi, terutama selama pandemi Covid-19. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi telah diterapkan, masih terdapat kendala dalam penggunaan aplikasi persuratan elektronik oleh pegawai. Rekomendasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pegawai dalam menggunakan teknologi untuk memperlancar pelayanan publik.

Diunggah oleh

adelyaviky02
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan111 halaman

Manajemen Digital Government Indonesia

Dokumen ini membahas manajemen digital government di Indonesia, dengan fokus pada Kementerian Keuangan dan Kementerian Sekretariat Negara dalam menghadapi tantangan digitalisasi, terutama selama pandemi Covid-19. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi telah diterapkan, masih terdapat kendala dalam penggunaan aplikasi persuratan elektronik oleh pegawai. Rekomendasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pegawai dalam menggunakan teknologi untuk memperlancar pelayanan publik.

Diunggah oleh

adelyaviky02
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUNGA RAMPAI

Manajemen Digital Government


di Indonesia
(Kumpulan Kajian Kebijakan)

Dian Indriyani, dkk.


BUNGA RAMPAI
Manajemen Digital Government di Indonesia
(Kumpulan Kajian Kebijakan)

Malang: AE Publishing
vi + 105 halaman, 15,5 x 23 cm
Cetakan Pertama, Juni 2022

Penulis
Dian Indriyani, dkk.

Desain Sampul
Ara Kimoto

Tata Letak
Mamik Erina, [Link].

Manajemen Digital Government di Indonesia


ii (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Diterbitkan Oleh:
Anggota IKAPI (240/JTI/2019)
Jln. Banurejo B no.17 Kepanjen
HP : 081231844977 / 085103414877
Email : [Link]@[Link]
[Link]

Kutipan Pasal 72 terkait Ketentuan Pidana Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta:

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagai-
mana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan
dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)

(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau


menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta
atau Hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

BUNGA RAMPAI iii


DAFTAR ISI

CHAPTER 1
IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN DIGITAL
GOVERNMENT KEMENTERIAN KEUANGAN DAN
SEKRETARIAT NEGARA
Aprilla Mulia Dermawati, Aris Setiawan, dan Dian Indriyani

MEWUJUDKAN EFEKTIVITAS JAK LINGKO SEBAGAI


IMPLEMENTASI SMART CITY DI JAKARTA
Adelya Viky, Anis Isdiarti, Arindea Sari, Charty Seti Andina,
dan Naufan Afif Arbiansyah

PENINGKATAN KUALITAS AIR SUNGAI SEBAGAI


PERBAIKAN INFRASTUKTUR DASAR SMART CITY DI
KOTA SURABAYA
Alifah Fitri Ani, Anggita Dian Puspa Rini, Azhar Khoiri Naufal,
Bella Afriza Zahra, dan Della Adistya

PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN SDM GUNA


MENDUKUNG BRANDING PROGRAM SMART CITY DI
KOTA BANDUNG
Afifah Hadiyati Thahirah, Aulia Rahmawati, Agnes Larasati, Arsyia
Fedila, dan Chris Emerald

PENERAPAN SISTEM DRAINASE DALAM


IMPLEMENTASI SEMARANG SMART CITY
Aditya Nurdiansyah, Alfin Syahriya, Andi Mohammad Fauwa Abadi,
Annisaa Dhia Fadhilah, dan Audrey Dhea Azzahra

PENERAPAN APLIKASI PRO DENPASAR DALAM


IMPLEMENTASI SMART CITY DI KOTA DENPASAR
Alvirasyah Putri Omega, Aira Tiara Putri, Bagus Rizki Fadillah,
Andini Delila Fransiska Damitri, dan Ajeng Prita Arivia

Manajemen Digital Government di Indonesia


iv (Kumpulan Kajian Kebijakan)
CHAPTER 2
PENINJAUAN INFRASTRUKTUR DI DKI JAKARTA
SMART CITY: STUDI KASUS MRT (MASS RAPID
TRANSIT) JAKARTA DAN FASILITAS RUANG PUBLIK
SKATEPARK
Luthfi Prathama, Muhamad Fazri, Muhammad Marco, Kezia Mauren
Masinambow, Muhammad Obi Akroman

INFLUENCER PERANTARA PEMERINTAH-


MASYARAKAT ATAU CELAH KORUPSI?
Mohammad Iqbal Muhibullah, Muhammad Ghazy Alghaffaru,
Muhammad Ramadhani Iskandar, Nabiilah Huwaidaa Zatira, Rafael
Owen Kristian, Revansa Zulfikar Darojatun

EVALUASI BERKELANJUTAN APLIKASI


PENDUKUNG SMART CITY DI KOTA SEMARANG
Nabella Zakiyanti, Nabillah Intan Maharani, Luna Heriani, Madeline
Chaney Leonita, Muhammad Nazri Efendi

MENUJU KOTA SURABAYA BEBAS MACET


Lufnatul Jannah, Mariani Amelia, Miftakhul Janah, Muhammad
Abdul Kadir, Muhammad Alfath Mulyana, dan Muhamad Maulana
Robbani

CHAPTER 3
MEWUJUDKAN IBU KOTA NEGARA NUSANTARA
SEBAGAI KOTA IMPIAN
Bahtiar Prahara, Sri Bawono Wahyu Legowo, Tri Angga Putra
Pamungkas

BUNGA RAMPAI v
MySAPK SEBAGAI GERBANG MENUJU SISTEM
INFORMASI DATA APARATUR SIPIL NEGARA
YANG TERINTEGRASI
Febri Ayu Pransiska, Muhammad Abdul Jabar, dan Siti Nur Sakinah

EVALUASI IMPLEMENTASI APLIKASI PEDULI


LINDUNGI DALAM MENDUKUNG EGOV DI
INDONESIA GUNA MENGENDALIKAN VIRUS
COVID-19
Emil Fauzi, Mhd Rizal Hasibuan dan Mira Aprianti

APLIKASI “SEKALI SENTUH” BAGI PENINGKATAN


KINERJA ANGGOTA DPD RI SEBAGAI WUJUD
PENERAPAN E-GOVERNMENT DI LINGKUNGAN
KERJA DPD RI
Annissa Annashr Syarifah, Alifa Maulidia, Dian Puji Raharti

CHAPTER 4
EFEKTIVITAS PUBLIKASI LAYANAN APLIKASI JAKI
SEBAGAI WUJUD IMPLEMENTASI JAKARTA SMART
CITY
Randy Tamara, Mustofa, Mikhela Nafi

MEWUJUDKAN EFEKTIVITAS PELAYAN E-KTP


SEBAGAI IMPLEMENTASI SMART CITY DI JAKARTA
Fidiah Rahmah dan Nur Majdina Hibaturrahman

MEWUJUDKAN EFEKTIVITAS BANDUNG


COMMANDCENTER SEBAGAI IMPLEMENTASI
SMART CITY DI BANDUNG
Riska Widna, Rosmawati

Manajemen Digital Government di Indonesia


vi (Kumpulan Kajian Kebijakan)
CHAPTER
1

BUNGA RAMPAI 1
IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN DIGITAL
GOVERNMENT KEMENTERIAN KEUANGAN
DAN SEKRETARIAT NEGARA

Aprilla Mulia Dermawati, Aris Setiawan, dan Dian Indriyani

Ringkasan Eksekutif
Memasuki perkembangan teknologi komunikasi yang
semakin pesat serta perubahan kehidupan masyarakat menuju
masyarakat smart age menjadi pendorong utama reformasi
birokrasi dan transformasi kelembagaan kementerian/lembaga
mulai diarahkan pada arah pembangunan digital government.
Terlebih ketika Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia
dan berdampak juga pada dunia birokrasi Indonesia, dimana
Pemerintah selain bertugas mengendalikan penyebaran Covid-
19, juga harus tetap melaksanakan tugas pelayanan kepada
publik. Hal itu semakin mendorong gencarnya pembangunan
digital governement, baik oleh Pemerintah Pusat
(Kementerian/lembaga) maupun Pemerintah Daerah, untuk
menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya. Pada kesempatan
ini, para penulis akan menyampaikan menjadi kian krusialnya
kebutuhan digital government pada Kementerian Keuangan dan
Kementerian Sekretariat Negara.
1. Pendahuluan
Perkembangan era modernisasi yang semakin pesat dan
semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan pemerintah yang
bersih serta handal mendorong kementerian/lembaga semakin
gencar melakukan perbaikan di seluruh lini
kementerian/lembaga. Instruksi Presiden no 3/2003 tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Egovernment
dapat diartikan bahwa pemerintah mempunyai komitmen
terhadapt pembangunan e-government di Indonesia. Pada tahun
2007, Kementerian Keuangan termasuk yang paling awal
Manajemen Digital Government di Indonesia
2 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
melakukan reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan,
namun pada saat itu reformasi birokrasi yang dilakukan masih
dalam peningkatan kualitas good governance. Kemudian disusul
oleh kementerian/lembaga lain melakukan reformasi birokrasi
dan transformasi kelembagaan yang serupa.
Melihat perkembangan era industri 4.0 dan melihat
perkembangan negara – negara di Asia seperti Korea Selatan
dan Singapura yang semakin canggih dalam pelayanan publik
serta timbulnya fenomena di masyarakat tentang kesadaran akan
kebutuhan mendapatkan pelayanan public yang memadai,
memaksa Indonesia khususnya kementerian/lembaga
menjadikan pelayanan publik sebagai isu strategis arah
pembangunan dan image branding organisasi. Memasuki tahun
2020, dimana pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, yang
kemudian memberikan efek yang sangat besar dalam roda bisnis
dan ekonomi Indonesia, Pemerintah ditantang untuk
melaksanakan pengendalian covid-19 namun juga disatu sisi
memastikan ekonomi Indonesia tidak semakin terpuruk. Salah
satunya pelayanan publik harus dipastikan berjalan, dan
kementerian/lembaga dipaksa membuat inovasi untuk
memenuhi proses bisnis masing -masing kementerian/lembaga.
Pelayanan publik tentunya tidak lepas dari proses
administrasi dibelakangnya, melalui digitalisasi administrasi
maka semua proses bisnis terasa mudah. Program Flexyble
Working Arrangement (FWA) merupakan program yang telah
diwacanakan jauh sebelum pandemi Covid-19. Namun sebagai
bentuk adaptasi terhadap situasi pandemi Covid-19 ini,
digitalisasi administrasi publik akhirnya dirasa selaras dengan
konsep wacara FWA tersebut.

2. Tujuan
Kementerian Keuangan dan Kementerian Sekretariat Negara
telah menciptakan e-office dan Sistem Persuratan Disposisi
Elektronik (SPDE) salah satunya kegiatan utamanya sebagai

BUNGA RAMPAI 3
bentuk digitalisasi administrasi persuratan baik untuk persuratan
internal maupun persuratan eksternal (untuk surat keluar
instansi). Bekerjasama dengan Badan Siber dan Sandi Negara
(BSSN) dalam penciptaan digital signature (DS), pelaksanaan
persuratan elektronik ini semakin mempermudah dan lebih
efisien serta tentunya mendukung konsep pelaksanaan FWA
terutama WFH yang saat ini masih dilaksanakan oleh banyak
kementerian/lembaga. Selain itu juga sesuai dengan gerakan
efisiensi less-paper dan paperless yang digaungkan oleh
pemerintah sebagai tindakan peduli lingkungan. Contoh fitur
dalam aplikasi persuratan pada Kementerian Keuangan dan
Kementerian Sekretariat Negara

Gambar 1. Tampilan E-Office Kementerian Keuangan

Gambar [Link] E-Office Kementerian Keuangan

3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode fishbone dimana metode ini digunakan untuk
Manajemen Digital Government di Indonesia
4 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
menganalisis apakah pemanfaatan aplikasi persuratan telah
optimal. Analisis fishbone merupakan sebuah metode yang
mana di dalamnya terdapat diagram yang menyerupai diagram
ikan, dimana masing-masing bagian ikan adalah sebab akibat
dari suatu permasalahan (john bank, 1992). Sebelum
menganalisis menggunakan metode fishbone, penulis terlebih
dahulu mengumpulkan data mengenai permasalahan yang ada di
lapangan.

4. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil penelitan mengenai
tingkat/kualitas optimalisasi aplikasi e-office dan Sistem
Persuratan Disposisi Elektronik (SPDE) / digitalisasi persuratan.
Bahwa ditemukan permasalahan dalam hal penggunaan dan
pemanfaatan, antara lain :
a) Banyak pegawai, baik pegawai struktural maupun
fungsional, yang belum familiar dengan menu – menu
pada aplikasi persuratan elektronik;
b) Beberapa pegawai tidak memiliki perangkat elektronik
(laptop), sedangkan ruang kerja sudah berbentuk open
space, sehingga pegawai sudah tidak memiliki personal
PC di kantor;
c) Cukup banyak pejabat dan pegawai yang menganggap
pola kerja yang terdigitalisasi justru sebagai pekerjaan
tambahan bukan sebagai upaya memudahkan pekerjaan
sehinggabertahan pada pola kerja lama.
d) Banyak pegawai senior yang tidak memiliki kemampuan
dan ketrampilan untuk mengoperasikan komputer/laptop
dan enggan untuk belajar.
e) Tidak semua pegawai memahami penggunaan gawai
yang menunjang digitalisasi kerja dan mempunyai akses
internet yang unlimited.

BUNGA RAMPAI 5
5. Rekomendasi
Hal yang dapat kami rekomendasikan adalah sebagai berikut :
a) Sosialisasi terhadap seluruh pegawai terutama pegawai –
pegawai yang belum familiar dengan aplikasi persuratan
elektronik tentang menu – menu pada aplikasi dan cara
pengoperasiaannya sehingga semua proses persuratan dalam
satu platform yang sama;
b) Untuk pegawai – pegawai yang tidak memiliki perangkat
elektronik bisa dibantu dengan penggunaan dan
pemanfaatan BMN;
c) Memberikan pemahaman bahwa digitalisasi pekerjaan
bukanlah pekerjaan tambahan melainkan upaya
memudahkan pekerjaan dan pekerjaan dengan pola lama
harus berangsur- angsur dihilangkan dengan penerapan SOP
baru.
d) Untuk pegawai senior, harus dipaksa dan dilatih untuk
mengoperasikan komputer/laptop dan mulai menggunakan
aplikasi persuratan elektornik. Karena dengan tidak
berkinerja para pegawai tersebut, maka ada pegawai lain
yang melaksanakan beban kerja pelimpahan. Dikhawatirkan
hal ini akan mengganggu pelaksanaan pelayanan publik;
e) Jika dimungkinkan bisa diberikan bantuan penggantian
paket data dengan perhitungan proporsional terhadap beban
kerja

6. Kesimpulan
Pelaksanaan digitalisasi government pada Kementerian
Keuangan dan Sekretariat Negara pada dasarnya sudah sangat
bagus dan sesuai dengan perkembangan akselerasi pemahaman
penggunaan teknologi para pegawai dalam menghadap pola
kerja di era 4.0, Pegawai telah mampu beradaptasi dengan
perkembangan modernisasi dan pandemi covid-19 namun tetap
menjamin birokrasi dan pelayanan tetap berjalan.

Manajemen Digital Government di Indonesia


6 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Pemanfaatan teknologi juga digunakan sebagai
pengembangan sektor esensial yaitu proses adminitrasi.
Mengingat pola kerja aterkini yang bersifat Agile, atau bisa
dilaksanakan dimana saja dan kapan saja dalam kondisi apapun,
maka pekerjaan bisa diselesaikan tidak hanya dikantor namun
juga di rumah dan di lapangan. Tapi tentu saja upaya ini
memiliki beberapa hambatan yang sudah mulai terihat semenjak
diterapkanya pola digitalisasi kerja ini dari belum familiar nya
para pejabat dan pegawai dengan menu – menu pada aplikasi
persuratan elektronik hingga cukup banyak pejabat dan pegawai
yang menganggap pola kerja yang terdigitalisasi justru sebagai
pekerjaan tambahan bukan sebagai upaya memudahkan
pekerjaan sehingga bertahan pada pola kerja lama, namun bila
permasalahan bisa terselesaikan dengan rekomendasi-
rekomendari solusi yang tepat guna, tentunya aplikasi ini akan
bisa sangat optimal digunakan. Dan bisa menjadi backbone
FWA yang mumpuni.

BUNGA RAMPAI 7
MEWUJUDKAN EFEKTIVITAS JAK LINGKO
SEBAGAI IMPLEMENTASI SMART CITY DI
JAKARTA

Adelya Viky, Anis Isdiarti, Arindea Sari, Charty Seti Andina,


dan Naufan Afif Arbiansyah

Ringkasan Eksekutif
Jakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang menerapkan
Smart City untuk pengembangan kotanya. Smart City hadir
untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kota Jakarta.
Salah satu bukti penerapan Jakarta Smart City adalah hadirnya
Jak Lingko. Tujuan awal adanya Jak Lingko ini untuk
menggabungkan armada angkutan massal dalam meningkatkan
minat warga DKI jakarta untuk menggunakan armada angkutan
umum. Namun, dalam penerapannya masih ditemukan berbagai
macam permasalahan. Dalam hal ini, penulis menggunakan
analisis fishbone untuk menemukan fokus akar permasalahannya
dan menemukan rekomendasi dari permasalahan tersebut.

1. Latar Belakang
Jakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang
menerapkan konsep Smart City untuk kemajuan kotanya.
Konsep Smart City adalah pengembangan kota dengan
memanfaatkan teknologi dan informasi untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada. Di bawah Dinas Komunikasi,
Informasi, dan Statistik (Diskominfo Tik) DKI Jakarta,
dibentuklah Jakarta Smart City sebagai sebuah Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD) yang kini mengelola penerapan Smart
City di Jakarta. Salah satu bukti penerapan Jakarta Smart City
adalah hadirnya Jak Lingko.
Jak Lingko adalah sistem integrasi transportasi publik di
Jakarta yang juga merupakan transformasi dari program OK-
Manajemen Digital Government di Indonesia
8 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Otrip. Jak yang merepresentasikan dari kata “Jakarta” dan
“Lingko” yang mempunyai makna jaringan yang terintegrasi.
Jak Lingko (yang dulunya bernama OK - Otrip) berarti sistem
transportasi yang terintegrasi baik dari rute, manajemen,
maupun pembayaran dimana integrasi layanan transportasi
publik di Jakarta yang semakin luas. Integrasi yang dimaksud
juga melibatkan Transjakarta, KRL, MRT, LRT dan sebagainya.
Tujuan awal adanya Jak Lingko ini untuk menggabungkan
armada angkutan massal dalam meningkatkan minat warga DKI
Jakarta untuk menggunakan armada angkutan umum. Hal ini
pun selaras dengan tugas Pemerintah daerah dalam upaya
memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat
secara adil, merata, cepat dan tepat.

2. Fokus Permasalahan
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Statistik
pemerintah Jakarta menunjukan bahwa keluhan paling banyak
dirasakan oleh masyarakat adalah Sopir ngebut dengan
persentase 25,2%. Sopir dengan nomor 50, jurusan Kalideres -
Puri Kembang menjadi salah satu contoh sopir yang kerap
berkendara dengan tidak mentaati aturan di wilayah Semanan.
Kepala Seksi Angkutan Jalan Sudinhub Jakarta Barat
menerima banyak pengaduan masyarakat terkait pengemudi Jak
Lingko yang berkendara dengan tidak taat aturan. Bukti nyata
lainnya terjadi juga di kawasan Jakarta Selatan banyak keluhan
dari masyarakat ketika menaiki angkutan, mendapati pengemudi
angkutan yang mengemudi secara tidak baik/nakal.

3. Metode dan Hasil


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
fishbone. Analisis Fishbone atau Ishikawa adalah suatu
pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan suatu
analisis lebih terperinci dalam menemukan penyebab-penyebab

BUNGA RAMPAI 9
suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada
(Gaspers, V. 2002).

Diagram 1 Metode Fishbone

Langkah-Langkah yang harus dilakukan adalah :


Pengumpulan data. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan
data dari studi literatur, hasil review masyarakat, NGO, pihak
swasta, konsultan IT, dan pemerintah, dan mengumpulkan dari
survei layanan Jak Lingko.

Menggambarkan bagan faktor penyebab.

Gambar 3 Data Buku Tahunan Survei Jaklingko


Sumber : Website Resmi Statistik Jakarta

Hasil survei diatas menunjukan masalah paling banyak


dirasakan berada pada peringkat 1 yaitu sopir ngebut/berkendara
dengan kecepatan tinggi (25,2%), mesin Tapping rusak (18,8%),
waktu kedatangan terlalu lama (17,9%), dan posisi rambu tidak
sesuai tempat (16,9%).

Manajemen Digital Government di Indonesia


10 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Identifikasi akar masalah. Berdasarkan bagan fishbone di
atas, maka banyak ditemukan akar masalah pada bagian SDM,
yaitu sopir berkendara dengan kecepatan tinggi dan tidak taat
aturan. Hal ini juga telah sesuai dengan fakta, permasalahan, dan
realitas yang terjadi pada hasil survei. Maka, hal ini perlu
dijadikan perhatian khusus dan dicari pemecahan masalahnya
agar tidak mengurangi kepuasan dan efektivitas penggunaan Jak
Lingko.

4. Kesimpulan
Keluhan paling banyak dirasakan oleh masyarakat dalam
menikmati Jak Lingko ialah permasalahan sopir ngebut dengan
persentase 25,2%. Hal ini, menjadi masalah utama dalam
pengimplementasian Jak Lingko sehingga perlu solusi dan
penanganan yang efektif agar kepuasan masyarakat tidak
berkurang dan tidak mengganggu keefektifan penggunaan Jak
Lingko.

5. Rekomendasi dan Saran


a) Memberikan penekanan sosialisasi kepada sopir Jak Lingko
untuk tidak ngebut/berkendara dengan kecepatan tinggi.
b) Mengadakan pelatihan atau diklat bagi sopir agar tidak
berkendara dengan tidak taat aturan lagi
c) Memberikan punishment apabila sopir membahayakan
penumpang.
d) Memberikan keterangan kontak emergensi agar penumpang
bisa menghubungi kontak tersebut apabila sopir berkendara
dengan kecepatan tinggi dan tidak taat aturan.

Referensi :
Pusat Pelayanan Statistik Dinas Komunikasi, Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta. (2019). Survei Evaluasi
Layanan Transportasi Terintegrasi Jak Lingko 2019.

BUNGA RAMPAI 11
PENINGKATAN KUALITAS AIR SUNGAI
SEBAGAI PERBAIKAN INFRASTUKTUR DASAR
SMART CITY DI KOTA SURABAYA

Alifah Fitri Ani, Anggita Dian Puspa Rini, Azhar Khoiri Naufal,
Bella Afriza Zahra, dan Della Adistya

Ringkasan Eksekutif
Sebagai salah satu kota dengan konsep smart city terbaik di
Indonesia, Surabaya masih memiliki kekurangan dalam hal
infrastruktur dasar yaitu kualitas air bersih. Sebagian besar
masyarakat Kota Surabaya bergantung pada air sungai Surabaya
sebagai kebutuhan air sehari-hari dan air minum. Sungai di Kota
Surabaya sangat penting bagi masyarakat dan industri yang
terdapat di sekitarnya. Kondisi fisik sungai di Surabaya semakin
memburuk dikarenakan pembuangan limbah domestik dan
industri. Lebih dari 3 juta konsumen PDAM Surabaya
bergantung pada air sungai Surabaya, karena air baku berasal
dari Sungai Surabaya. Saat musim kemarau, ditemukan
tingginya konsentrasi polutan zat organic yang dapat
membahayakan kesehatan masyarakat yang menjadi konsumen
dari PDAM Kota Surabaya. Senyawa polutan zat organik tidak
mampu dihilangkan dengan pengolahan secara konvensional,
selain itu biaya pengolahan akan semakin mahal karena air baku
sungai Surabaya semakin buruk kualitasnya. Salah satu
alternatif untuk permasalahan ini adalah menggunakan teknologi
biofilter dengan menerapkan proses pengolahan awal atau pre-
treatment untuk meningkatkan kualitas air baku PDAM.

1. Pendahuluan
Seiring dengan pertumbuhan yang cepat mulai dari
pembangunan perumahan dan industri, sehingga pencemaran
sungai di Surabaya mengarah ke tingkat yang lebih tinggi. Hal

Manajemen Digital Government di Indonesia


12 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
tersebut berdampak pada kualitas air yang menurun, akibat
polutan khususnya polutan organik dari Limbah domestik dan
limbah industri. Sehingga Kali Surabaya memiliki kualitas air
baku yang kurang memenuhi ketentuan baku mutu yang
dipersyaratkan oleh Pemerintah.
Dengan kondisi ini, biaya pengolahan air akan menjadi lebih
besar dan risiko penurunan kualitas air olahan menjadi lebih
besar. Penurunan kualitas air sungai ini biasanya ditandai
dengan penurunan kadar oksigen terlarut dalam air, dimana
standar oksigen terlarut dalam air mencapai 2 - 4 mg/l, agar air
bisa masuk pada golongan yang bisa diolah kembali. Jika
oksigen turun di bawah 2 mg/l, pada kasus pencemaran air,
biasanya tidak hanya mempengaruhi masyarakat saja, tetapi juga
dapat mempengaruhi biota liar alami dan dapat terjadi fenomena
ikan mabuk.
Tanpa proses pengolahan, limbah industri yang dibuang
langsung ke sungai dapat mencemari air sungai tersebut. Dalam
kasus ini, air sungai Surabaya dipakai oleh PDAM sebagai air
baku yang nantinya akan dikonsumsi dan digunakan oleh
masyarakat untuk kehidupan sehari-hari. Tentu saja hal tersebut
membahayakan kesehatan masyarakat yang menggunakan air
tersebut. pada kesempatan kali ini, kami menggunakan Kaizen
system yaitu konsep PDCA sebagai alat pemecahan masalah
dari buruknya kualitas air di Surabaya dengan teknologi
biofilter.

2. Metode dan Hasil


Kaizen Sistem : Konsep PDCA

Gambar 4 Siklus PDAC


Sumber : Website muhamadakmal
[Link]
plan-do-check-action/

BUNGA RAMPAI 13
Menurut Hardjosoedarmo (2001), kaizen adalah perbaikan
proses secara terus menerus untuk selalu meningkatkan mutu
dan produktivitas output. Implementasi konsep PDCA pada
permasalahan peningkatan kualitas air sungai di Surabaya,
antara lain:
A. Planning: Identifikasi Masalah
1. Alasan Pemilihan
- PDAM menggunakan air sungai Surabaya sebagai air
baku
- Lebih dari tiga juta masyarakat Surabaya adalah
konsumen PDAM
2. Analisa Kondisi yang Ada
- Kondisi fisik sungai Surabaya semakin memburuk
- Pencemaran sungai Surabaya semakin meningkat
- Menurunnya kualitas air akibat polutan organik dari
limbah domestik dan industri
- Kualitas air baku tidak memenuhi ketentuan baku
mutu yang dipersyaratkan oleh pemerintah
- Pemantauan Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya
pada 2013 menunjukkan 69,45% berstatus cemar
ringan, 22,22% cemar sedang dan 8,33% cemar berat
dengan parameter BOD dan TSS konsentrasinya
melebihi baku mutu air kelas II
3. Penetapan Target
Penetapan target penurunan terhadap persentase
cemar pada tahun 2022:
- Cemar ringan sebesar 35,50%
- Cemar sedang 13,20%
- Cemar berat 5,65%
4. Analisa Sebab Akibat
- Sebab : Kualitas air baku yang diolah
mengandung polutan organik yang cukup tinggi.
- Akibat : Ada senyawa hasil samping proses
desinfeksi menggunakan klorin, misalnya
Manajemen Digital Government di Indonesia
14 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
trihalometan dan klorofenol yang menjadikan air tidak
layak dikonsumsi.
5. Rencana Penanggulangan
Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu
alternatif yang dapat digunakan adalah proses
pengolahan awal (pre-treatment) dengan proses biologis
menggunakan teknologi biofilter yang menggunakan
media isian dari bahan plastik tipe sarang tawon (honney
comb tube) pada sungai yang terdapat di Surabaya.

B. Do : Penanggulangan dan Pemeriksaan Hasil


1) Observasi Kondisi Air Kali
Konsentrasi zat organik di sungai Surabaya relatif
tinggi, dan meningkat terutama pada saat musim
kemarau. Hal ini dapat dilihat bahwa
konsentrasi BOD tertinggi mencapai 14,84 mg/l dan
konsentrasi COD tertinggi mencapai 53,87 mg/l. Jika
dibandingkan dengan Standar Mutu Air Kelas I sesuai
dengan PP Nomor 82 Tahun 2001, hal ini menunjukkan
bahwa air Kali Surabaya telah tercemar oleh polutan
organik cukup tinggi.
2) Melakukan Percobaan Menggunakan Teknologi
Biofilter
Masa percobaan: selama 1 bulan. Lokasi percobaan:
Intek PDAM dari Sungai Surabaya. Tim peneliti:
a) Ketua tim, bertanggung jawab atas kegiatan dan
evaluasi yang berlangsung.
b) Bendahara, bertanggung jawab seluruh proses
transaksi keuangan.
c) Seksi Perlengkapan, bertanggung jawab atas
penyediaan tempat, alat, perlengkapan bahan yang
diperlukan pada kegiatan.
d) Peneliti, bertanggung jawab atas proses uji coba dan
laporan teknologi biofilter.

BUNGA RAMPAI 15
3) Pemeriksaan Hasil
Dari uji coba yang dilakukan selama 1 bulan lamanya
ditemukan bahwa penggunaan teknologi biofilter efektif
untuk mengurangi polutan organik. Sehingga, air baku
yang akan diolah tidak akan menghasilkan senyawa baru
setelah disinfeksi dan aman untuk dikonsumsi

C. Check : Evaluasi Proses dan Hasil


Satmoko dan Nusa telah melakukan penelitian pada
tahun 2019, mengenai kondisi kualitas air sungai Surabaya.
Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa efisiensi
penghilangan polutan di dalam proses biofiltrasi sangat
dipengaruhi oleh waktu tinggal di dalam reaktor biofilter.
Makin pendek waktu tinggal maka efisiensi penghilangan
semakin rendah. Untuk mendapatkan kualitas air olahan
agar memenuhi standar kualitas air baku air minum maka
waktu tinggal di dalam reaktor biofilter minimal 1 jam.
Lumpur tanah yang terbawa air hujan menyebabkan
tingginya konsentrasi TSS dan turbidity yang sebagian
besar juga menyebabkan lapisan biomassa pada media
sarang tawon tertutup. Hal ini menyebabkan efisiensi
pengolahan menurun. Dengan adanya lumpur tanah yang
mengendap di dalam media biofilter, kemampuan degradasi
polutan akan berkurang. Untuk itu dalam aplikasinya dalam
skala penuh perlu dilengkapi dengan pre sedimentasi untuk
mengendapkan lumpur tanah yang dapat mengganggu
proses biodegradasi senyawa polutan di dalam reaktor
biofilter.

D. Action: Implementasi Solusi Terbaik Penerapan


Teknologi biofilter
Beberapa kriteria perencanaan yang akan digunakan
untuk merancang reaktor biofilter adalah sebagai berikut:
1) Waktu Kontak Di Dalam reaktor biofilter: 1–2 jam.
Manajemen Digital Government di Indonesia
16 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
2) Beban Organik Yang digunakan dasar perencanaan:0,3–
1,0 kg Organik/m3 media per hari.
3) Perlu mekanisme pengurasan lumpur.
4) Perlu penghilangan lumpur (TSS) di dalam air baku
sebelum masuk reaktor biofilter.
Pengolahan pendahuluan (pre- treatment) dilakukan
dengan cara reactor biofilter yang dirancang harus dapat
terintegrasi dengan unit IPA konvensional (pengendapan
bahan kimia). Setelah itu, air baku dialirkan ke bak
pengendap tipe lamella yang dilengkapi dengan peralatan
pembubuhan bahan kimia koagulan dan soda ash untuk
control pH dari Kanal Intake PDAM. Jika konsentrasi TSS
air baku tinggi pada saat musim hujan, maka pembubuhan
bahan kimia koagulan harus dilakukan. Namun, jika Jika
konsentrasi TSS air baku rendah pada saat musim hujan,
maka pembubuhan bahan kimia soda ash harus dilakukan.
Dari bak pengendap, air dialirkan lagi ke reactor biofilter
sambil dihembus dengan udara. Air limpasan yang berasal
dari reactor biofilter akan ditampung di bak penampung
antara, dan akan digunakan sebagai air baku Unit IPA
konvensional. mekanisme penghilang lumpur harus
melengkapi reactor biofilter.

3. Kesimpulan
Dengan semakin buruknya kualitas air baku yang berasal dari
sungai di Surabaya, maka proses pengolahan secara
konvensional dan penggunaan bahan kimia sebagai pengendap
menyebabkan biaya pengolahan semakin besar. Selain itu jika
konsentrasi senyawa polutan yang ada di dalam air baku sangat
tinggi, maka pengolahan secara konvensional dengan
pengendapan kimia tidak akan mampu menghilangkan senyawa
polutan tersebut. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan
terutama klorin dapat menyebabkan reaksi samping antara klorin
dengan senyawa polutan. Efisiensi penghilangan polutan di

BUNGA RAMPAI 17
dalam proses biofiltrasi sangat dipengaruhi oleh waktu tinggal
dalam reaktor biofilter. Makin pendek waktu tinggal maka
efisiensi penghilangan semakin rendah. Untuk mendapatkan
kualitas air olahan agar memenuhi standar kualitas air baku air
minum adalah minimal 1 jam waktu tinggal di dalam reactor
biofilter.

4. Rekomendasi dan Saran


a) Menggunakan proses pengolahan awal (pre-treatment)
dengan proses biologis menggunakan teknologi biofilter
dan menggunakan media isian dari bahan plastik tipe
sarang tawon (honney comb tube).
b) Pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
juga perlu ditambah dan dilakukan pemantauan lebih
berkala karena pada musim- musim tertentu, khususnya
pada musim penghujan limpasan air yang masuk ke
badan air sungai cukup tinggi dan dapat dijadikan
kesempatan para pelaku industri untuk membuang
limbah cairnya ke aliran sungai.

Referensi :
Aufar, D. F. G. 2019. “Analisis Kualitas Air Sungai pada Aliran
Sungai Kali Surabaya” dalam Swara Bhumi Volume V
Nomor 8 Tahun 2019.
Said, Nusa Idaman. Yudo, Satmoko. 2019. “Kondisi Kualitas
Air Sungai Surabaya, Studi kasus: Peningkatan Kualitas Air
Baku PDAM Surabaya” dalam Jurnal Teknologi Lingkungan
Vol. 20, No 1. BPP

Manajemen Digital Government di Indonesia


18 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN SDM
GUNA MENDUKUNG BRANDING PROGRAM
SMART CITY DI KOTA BANDUNG
Afifah Hadiyati Thahirah, Aulia Rahmawati, Agnes Larasati,
Arsyia Fedila, dan Chris Emerald

Ringkasan Eksekutif
Kota Bandung merupakan salah satu kota yang termasuk
dalam daftar kota-kota besar di Indonesia. Keikutsertaan Kota
Bandung sangat serius dalam pembangunan inovasi pelayanan
publik berbasis Smart City. Namun tentu dalam
penyelenggaraannya pemerintah kota bandung masih belum
dapat memenuhi seluruh aspek Smart City. Implementasi
program Smart City kota Bandung masih kurang dirasakan oleh
sejumlah masyarakat. Pemerintah kota Bandung juga masih
kurang dalam penempatan pegawai di Pemerintahan yang sesuai
dengan skill dan kompetensi yang dimiliki. Sehingga dalam
penyelenggaraan pelayanan publik pun, aparat pelayan publik
masih keliru dalam menjalankannya operating procedure
berbasis Smart City kepada masyakat. Dalam penelitian ini
digunakan metode fishbone diagram untuk menunjukkan sebab
akibat dari suatu permasalahan.

1. Pendahuluan
Dalam keikutsertaannya Kota Bandung sangat serius dalam
melakukan pembangunan inovasi pelayanan publik berbasis
kota cerdas atau Smart City. Kota Bandung merupakan salah
satu kota yang termasuk dalam daftar kota-kota besar di
Indonesia, yakni posisi nya di bawah kota Jakarta serta kota
Surabaya. Dibawah kepemimpinan walikota Bandung masa
jabatan tahun 2013-2018, Ridwan Kamil membentuk Dewan
Pengembangan Bandung Kota Cerdas atau Dewan Smart City.

BUNGA RAMPAI 19
Namun tentu dalam penyelenggaraannya pemerintah kota
bandung masih belum dapat memenuhi seluruh aspek Smart
City, yang terdiri atas: Aplikasi. Data, Infrastruktur, SDM, serta
tata kelola pemerintahan. Program Smart City masih banyak
mengalami kendala dalam melakukan sosialisasi program yang
telah dan atau yang akan dijalankan, serta masalah sumber daya
manusia baik di dalam segi SDM instansi mampu SDM dalam
konteks masyarakat luas di kota Bandung. Sehingga untuk
memaksimalkan penyelenggaraan program Smart City ini,
Pemerintah Kota Bandung harus dapat menemukan solusi
alternatif kebijakan yang paling tepat dilakukan.

2. Fokus Permasalahan
Implementasi program Smart City kota Bandung masih
kurang dirasakan oleh sejumlah masyarakat. Inovasi berbasis
Smart City yang dibangun oleh pemerintah belum digunakan
secara maksimal karena kurang adanya sosialisasi yang
dilakukan Pemerintah kota Bandung, belum merata di setiap
wilayah daerah serta kebijakan tersebut belum seluruhnya
terimplementasikan oleh pemerintah kabupaten / kota.
Pemerintah kota Bandung juga masih kurang dalam
penempatan pegawai di Pemerintahan yang sesuai dengan skill
dan kompetensi yang dimiliki. Dalam pemenuhan kebutuhan
SDM yang handal di bidang teknologi (IT) Pemerintahan Kota
Bandung merekrut tenaga outsourcing khususnya dalam bidang
IT. Sehingga dalam penyelenggaraan pelayanan publik pun,
aparat pelayan publik masih keliru dalam menjalankannya
operating procedure berbasis Smart City kepada masyarakat.

Manajemen Digital Government di Indonesia


20 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Gambar 5: Arsitektur Smart City Kota Bandung
Sumber: [Link]

3. Metode dan Hasil


Dalam penelitian ini digunakan metode fishbone diagram
sering disebut Cause and Effect diagram adalah sebuah diagram
yang menyerupai tulang ikan yang dapat menunjukkan sebab
akibat dari suatu permasalahan (John Bank, 1992). Fishbone
diagram digunakan ketika ingin mengidentifikasi kemungkinan
penyebab masalah dan terutama ketika sebuah team cenderung
jatuh berpikir pada rutinitas.

Langkah-Langkah yang harus dilakukan dan Hasil


Pengamatan
Untuk memperoleh data data yang digunakan dalam analisa
ini, maka langkah-langkah yang ditempuh serta hasil analisa
adalah sebagai berikut:
1) Pengumpulan data diawali dengan pernyataan masalah-
masalah utama yang penting dan mendesak terlebih dahulu
berdasarkan hasil dari review masyarakat pihak swasta,
NGO, vendor dan pemerintah terkait penyelenggaraan
program Smart City di bandung.
2) Lalu menuliskan rincian masalah tersebut pada bagian
kepala ikan yang merupakan gejala utama mengapa masalah
tersebut bisa terjadi.

BUNGA RAMPAI 21
3) Tuliskan faktor-faktor penyebab utama (sebab-sebab) yang
mempengaruhi masalah kualitas sebagai tulang besar, juga
ditempatkan dalam kotak. Faktor- faktor penyebab atau
kategori- kategori utama dapat dikembangkan melalui
Stratifikasi ke dalam pengelompokan dari faktor-faktor:
manusia (people), kebijakan (policy), lingkungan
(environment).
4) Berdasarkan hasil pengamatan lewat metode fishbone
tersebut ditunjukan bahwa kondisi sumber daya manusia
(SDM) dan penerapan program kebijakan (policy) menjadi
faktor yang paling banyak mendukung terhambatnya
implementasi Smart City dengan maksimal.

Diagram 2. Hasil Penerapan Metode Fishbone

4. Kesimpulan
Implementasi kebijakan Smart City di kota Bandung belum
tersosialisasi secara merata dan dikomunikasikan dengan baik
kepada masyarakat sehingga banyak masyarakat kota bandung
yang belum mengetahui tentang Smart City. Selain itu Kota
Bandung masih kurang dalam penempatan pegawai yang sesuai
dengan skill dan kompetensi yang dimiliki, terutama pada SDM
di bidang teknologi (IT).
Kendala lainnya yang dihadapi oleh pemerintah kota
Bandung terdapat di dalam operating procedure Kota Bandung,
terdapat Roadmap jangka panjang dan jangka pendek. Kendala
nya yaitu dalam mensosialisasikan Roadmap tersebut sehingga
Manajemen Digital Government di Indonesia
22 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
beberapa pegawai belum memahami. Sehingga diperlukan
dukungan dari para implementor untuk menjadikan Pemerintah
Kota Bandung sebagai Smart Government karena itu merupakan
suatu bentuk tanggung jawab juga terhadap pelaksanaan Smart
City di Kota Bandung dengan cara menjalankan tugas pokok dan
fungsi sesuai dengan arahan Roadmap dari Pemerintah Kota
Bandung.
Sistem birokrasi yang sangat mendukung dalam program
Smart City adalah terciptanya Smart Government dan Smart
People sehingga Smart City bisa berhasil. Jika kedua aspek itu
saling berkorelasi maka akan sangat menunjang terhadap Smart
City. Sampai detik ini sistem birokrasi yang berada di
Pemerintahan Kota Bandung adalah yang terbaik yang sudah
dilakukan

5. Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan dari pengamatan yang telah dilakukan, maka
rekomendasi kebijakan yang dapat diberikan adalah sebagai
berikut:
a. Pemerintah perlu melakukan branding Smart City.
Branding dalam konteks Smart City Bandung diperlukan
untuk sosialisasi dan meningkatkan motivasi mensukseskan
Smart City, atau secara sederhana diperlukan sebagai
semangat untuk bergerak bersama.
b. Memaksimalkan implementasi Smart City dalam pelayanan
publik dengan mengalokasikan barang dan tenaga ahli ke
tiap- tiap kantor urusan pemerintahan dengan lebih merata.
Serta memaksimalkan kembali program-program Smart
City yang belum terlaksana
c. Diberikannya pelatihan terkait sistem teknologi,
informasi, dan komunikasi kepada para aparat pelayan
publik untuk memaksimalkan kinerja nya serta dapat
meningkatkan kepuasan masyarakat kepada pelayanan

BUNGA RAMPAI 23
publik dengan sistem berbasis Smart City yang telah
terimplementasikan.
d. Memaksimalkan fungsi dari Dewan Smart City yang sudah
adalah, untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat
terhadap kebijakan Smart City untuk dapat mendorong
pemerintah memaksimalkan kebijakan yang telah
diterapkan.

Referensi
Widharetno, S. (2017). Implementasi Kebijakan Smart
City di Kota Bandung. Bandung: Universitas Sangga
Buana YPKP Bandung. [Link]
.php/jia/article/viewFile/1/pdf

Manajemen Digital Government di Indonesia


24 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
PENERAPAN SISTEM DRAINASE DALAM
IMPLEMENTASI SEMARANG SMART CITY
Aditya Nurdiansyah, Alfin Syahriya, Andi Mohammad Fauwa
Abadi, Annisaa Dhia Fadhilah, dan Audrey Dhea Azzahra

Ringkasan Eksekutif
Kota Semarang dalam implementasi Smart City atau Semarang
Hebat yang dirancang untuk membantu penataan kota, sistem,
fasilitas, pemerintah, serta memberikan kemudahan untuk
masyarakat dalam akses informasi sampai mengantisipasi
kejadian yang tidak diduga dari sebelumnya. Kota Semarang
dengan menerapkan sistem drainase perkotaan yang merupakan
salah satu komponen prasarana perkotaan yang sangat erat
kaitannya dengan penataan ruang

1. Pendahuluan
Banjir adalah kata yang sangat umum di Indonesia, terutama
saat musim hujan. Peristiwa ini terjadi hampir setiap tahun,
namun hingga saat ini permasalahan tersebut belum teratasi,
bahkan cenderung memburuk, baik dalam frekuensi, jangkauan,
kedalaman maupun durasi. Sumber masalah banjir di perkotaan
adalah pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, di atas rata-
rata nasional, yang disebabkan oleh urbanisasi, baik migrasi
musiman maupun permanen. Pertumbuhan penduduk yang tidak
dibarengi dengan infrastruktur dan fasilitas perkotaan yang
memadai telah membuat pemanfaatan kawasan perkotaan
menjadi kacau (chaotic).

2. Fokus Permasalahan
Tata guna lahan yang tidak teratur membuat permasalahan
drainase perkotaan menjadi sangat kompleks. Sebagaimana
diketahui bahwa letak geografis Kota Semarang berada di

BUNGA RAMPAI 25
wilayah pesisir dan memiliki risiko tinggi terjadinya banjir lokal
bahkan dampak dari muka air laut (pasang surut) yang kini
semakin merambah kota tersebut. Permasalahan pembangunan
Kota Semarang dalam hal pengendalian banjir disebabkan oleh
beberapa hal yaitu kondisi fisik dasar antara Kota Semarang dan
hinterland nya memungkinkan terjadinya daerah krisis geologi
dan hidrologi yang akan menimbulkan permasalahan ekologis
antara lain banjir, sedimen di sungai, longsor, banjir di Kota
Semarang, ini perkembangan fenomena alam, sebagian besar
wilayah yang tergenang banjir lokal menutupi wilayah
perkotaan, daerah tangkapan air berkurang, terutama di wilayah
hulu Kota Semarang kesungai-sungai menjadi semakin besar.
Besarnya volume air kiriman dan sistem drainase yang buruk
menjadi penyebab banjir di Kota Semarang. Enam kecamatan
yang sering terkena banjir, sebagian besar karena tidak adanya
saluran air, saluran tersumbat sampah, dan bangunan yang
mengganggu saluran. Dari penyebab tersebut, faktor sistem
drainase yang buruk memberikan peranter besar. Sistem
drainase kini yang menyebabkan banjir dan menyebabkan aliran
air tidak lancar, sehingga terjadi genangan setiap hujan deras.

3. Metodologi
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode fishbone.
Menurut Heizer dan Render (2001), fishbone adalah grafik yang
menghubungkan hubungan antara masalah atau akibat dengan
faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Metode fishbone
digunakan untuk mengidentifikasi berbagai penyebab atau
faktor utama yang mempengaruhi pengendalian kualitas
masalah yang berkelanjutan.

Manajemen Digital Government di Indonesia


26 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Diagram 3 Hasil Penerapan Metode Fishbone

Langkah-Langkah yang dilakukan


1) Penulis mengumpulkan data Semarang Smart City dari hasil
pemerintah, review masyarakat, NGO, swasta, dan
konsultan IT (Vendor)
2) Penulis mengidentifikasi akar masalah dari bagan fishbone,
dilihat terdapat masalah dari environment, man, method,
dan machine.
3) Melihat peta drainase dari website Kota Semarang.

Gambar 6 Peta Drainase Kota Semarang


Sumber: Semarang Smart City (2022)

4) Penulis mencatat dan mengumpulkan data dari berbagai


studi literatur lainnya sebagai data tambahan dan
pendukung untuk validitas membuat policy brief.

BUNGA RAMPAI 27
4. Hasil dan Temuan
Seluruh drainase di Kota Semarang di bagian hilir
mempunyai ketinggian dasar saluran lebih rendah daripada dasar
pantai. Hal ini terjadi jika hujan yang menyebabkan sedimentasi
serius dan terjadi pendangkalan. Sistem drainase utama
sebagian besar belum memiliki garis sempadan yang jelas. Jenis
banjir di Kota Semarang dapat dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu
a. Banjir kiriman yang datangnya dari arah hulu di luar
kawasan yang tergenang. Ini terjadi jika hujan di daerah
hulu menjadi aliran banjir yang melebihi dari kapasitas
sungai atau banjir kanal.
b. Banjir dari genangan air akibat hujan yang jatuh di daerah
itu sendiri. Ini dapat terjadi jika hujan yang terjadi melebihi
kapasitas sistem drainase yang ada. Dari banjir ini,
ketinggian genangan air rata-rata dari 0.2 – 0.7 m dan
lamanya 1 hingga 8 jam dan terjadi di daerah rendah
Dari temuan yang penulis dapatkan, nampaknya perlu belajar
dari Negara Belanda yang salah satu negara dengan memiliki
sistem pengelolaan air terbaik di dunia. Salah satu kota di
Indonesia yang drainasenya dikelola oleh Belanda pada masa
kolonial adalah Yogyakarta, daerah Kotabaru yang dahulu
dikenal dengan nama Nieuwe Wijk. Nieuwe Wijk adalah daerah
pemukiman yang dikelola Belanda dengan desain pola radial
rapi serta infrastruktur yang terencana. Dibangun juga saluran
bawah tanah untuk mengelola limbah rumah tangga untuk
mencegah pencemaran lingkungan, dan mengalirkan air hujan
ke selokan kecil yang nantinya bermuara di pembuangan akhir.
Maka dari itu, Nieuwe Wijk tidak pernah banjir.
Belanda menerapkan sistem polder yang beragam untuk
menahan wilayah Belanda dari banjir dan air pasang. Sistem ini
dikelola pada abad ke-11 dan kemudian disempurnakan dengan
penggunaan kincir angin pada abad ke-13. Polder adalah dataran
rendah yang membuat daerah dikelilingi dengan tanggul. Pada
Manajemen Digital Government di Indonesia
28 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
daerah tersebut, air kotor dan air hujan dikumpulkan di suatu
badan air, misalnya sungai dan dipompakan ke badan air ke
lebih tinggi posisinya dan berujung airnya akan kelaut. Sistem
polder ini banyak diterapkan reklamasi laut atau muara sungai,
juga dengan manajemen air buangan (air kotor dan drainase
hujan) di daerah rendah dari permukaan laut dan sungai. Air
didalamnya dikendalikan, jika kelebihan air yang menyebabkan
banjir, maka air akan dipompa keluar sistem polder, sehingga
sistem polder bisa mengatasi masalah banjir di perkotaan.

5. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Kota Semarang perlu mencontoh
pengelolaan sistem drainase dari Belanda, yaitu sistem polder
pada zaman dahulu di Indonesia yaitu Kotabaru, Yogyakarta
yang dulunya dikelola oleh Belanda dan dikenal dengan nama
Nieuwe Wijk yang dimana penerapan sistem polder dapat
memecahkan masalah banjir perkotaan.
Namun kekurangan dari sistem polder, yaitu perlunya
pengadaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
yang besar, dan Kota Semarang memiliki jumlah penduduk
lebih padat daripada Belanda, Sehingga penggunaan air tanah
jelas digunakan lebih besar, baik dari industri, rumah tangga
bisa memicu penurunan muka tanah (land subsidence). Di sisi
lain, resapan air berkurang karena adanya peningkatan
penggunaan lahan di Semarang bawah untuk pembangunan
sarana baru seperti bandara, hotel, gedung bertingkat tinggi, dan
mall.

6. Rekomendasi dan Saran


Dari hasil dan temuan yang penulis dapatkan, rekomendasi
untuk pengendalian sistem drainase di kota Semarang
bersumber dapat melalui beberapa pendekatan, yaitu:
1. Pengendalian banjir akibat pasang surut atau rob.
pengendalian banjir yang datang dari daerah aliran sungai di

BUNGA RAMPAI 29
hulunya bisa dilakukan dengan mengendalikan aliran
permukaan. Paradigma yang berlaku saat ini untuk
menanggulangi banjir harus diubah dari paradigma drainase
menuju paradigma manajemen sumber daya air.
2. Setiap tahun Kota Semarang terbiasa dengan banjir. Banjir
yang melanda kota Semarang tidak mudah dilepas dari
kontur tanah. Kondisi kontur tanah kota Semarang
umumnya lebih rendah dari ketinggian air laut, sehingga air
laut akan mengalir ke daerah yang lebih rendah. Untuk itu,
wilayah kota Semarang harus melakukan peninggian tanah
secara periodik.
3. Permasalahan banjir tidak hanya diselesaikan dengan jalan
membuang air dari daerah yang dilindungi dengan jalan
membuat saluran-saluran, tetapi mengelola sumber
banjirnya. Banjir yang berasal dari air hujan perlu
melakukan kelola aliran permukaan dengan jalan
pengembangan pembuatan sumur resapan, selain itu juga air
yang datangnya dari laut (rob) harus dihambat supaya tidak
masuk daerah yang dilindungi.
Saran yang penulis berikan adalah pemerintah daerah
memperketat pengawasan penggunaan lahan di Semarang,
seperti izin penggunaan lahan untuk bangunan tersebut penting
dalam mencegah penggunaan lahan yang serampangan untuk
kegiatan pembangunan.

Referensi
Nam, T. P., Theresa A. (2011) Smart City As Urban Innovation:
Focusing On Management,Policy, And Context
(Icegov2011). 5th International Conference On Theory
And Practice Of Electronic Governance 2011 New York.
185- 194.
Semarang Smart City. (2022). Daftar Informasi Semarang Smart
City. [Link]
semarang-smart-city. Diakses 19 Februari 2022, pukul 19:32
WIB.
Manajemen Digital Government di Indonesia
30 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
PENERAPAN APLIKASI PRO DENPASAR
DALAM IMPLEMENTASI SMART CITY DI
KOTA DENPASAR

Alvirasyah Putri Omega, Aira Tiara Putri, Bagus Rizki


Fadillah, Andini Delila Fransiska Damitri,
dan Ajeng Prita Arivia

Ringkasan Eksekutif
PRO Denpasar dibuat untuk mengumpulkan aspirasi-aspirasi
dari masyarakat secara mudah digunakan dimanapun dan kapan
pun. Dalam Penanganan Pengaduan Online pada PRO Denpasar
memiliki beberapa asas yang digunakan yaitu kepastian hukum,
transparansi, efektifitas dan efisiensi, akuntabilitas, objektivitas,
kerahasiaan, partisipatif, dan proporsional. Pengaduan dari
masyarakat dalam PRO Denpasar dikelola dengan berbasis
website dan Aplikasi serta terintegrasi dengan jajaran Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota
Denpasar dengan pemakaian data base bersama. PRO Denpasar
telah terhubung dengan 52 instansi yang terdiri dari Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Denpasar,
Perusahaan Daerah dan Kelurahan – kelurahan di Kota
Denpasar.

1. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kota Denpasar merupakan salah satu Kabupaten di Bali
yang sedang berproses untuk menuju kota smart city
berbasis elektronik atau yang biasa dikenal dengan istilah
E-Government. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar saat
ini telah memiliki situs laman web yang berisikan informasi
mengenai Kota Denpasar dan pemerintahannya, namun
layanan untuk mendukung partisipasi masyarakat secara
elektronik belum dapat terakomodasi dengan baik.

BUNGA RAMPAI 31
Masyarakat di Kota Denpasar tentunya memiliki berbagai
macam keluhan atau kendala yang dihadapi. Biasanya
masyarakat Kota Denpasar harus datang ke Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk menyampaikan
keluhan mereka, namun tidak semua masyarakat di Kota
Denpasar mengetahui lokasi OPD ini.
Sebuah media sangatlah dibutuhkan untuk
menyampaikan aspirasi masyarakat dengan mudah dan
dapat digunakan baik kapan pun dan di mana pun. Media
tersebut juga perlu memiliki fungsi-fungsi yang tepat guna
dan sasaran agar aspirasi masyarakat dapat tersampaikan
kepada pemerintah maupun dinas dengan tepat, sehingga
segala masukan dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah
dengan baik. Fitur pengaduan online ini terintegrasi dengan
jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di wilayah Kota
Denpasar, yang diterapkan pertama kali oleh Kota Denpasar
untuk tingkat wilayah Kabupaten/Kota di Bali.

B. Tujuan
Berdasarkan pada Undang- Undang nomor 25 tahun
2009 tentang Pelayanan Publik, merupakan kegiatan yang
wajib dilakukan seiring harapan dari masyarakat tentang
peningkatan pelayanan publik, maka Pemerintah Kota
Denpasar sangat menyadari bahwa dalam upaya
menciptakan pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab
serta mampu menjawab tuntutan perubahan adalah dengan
membuka media komunikasi yang terbuka antara
pemerintah dengan masyarakat.
Untuk itulah dibangun sebuah media yang dipertanggung
jawabkan dalam pengelolaan penanganan pengaduan
masyarakat yaitu dengan melalui Pelayanan Rakyat Online
yang disingkat PRO Denpasar. PRO Denpasar merupakan
aplikasi mobile yang berfungsi sebagai wadah masyarakat
untuk melakukan komunikasi dua arah dan untuk berperan
Manajemen Digital Government di Indonesia
32 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
serta dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya
pemerintahan Kota Denpasar.

2. Metodologi
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode fishbone, dimana metode ini digunakan untuk
menganalisis penerapan aplikasi PRO Denpasar dalam
Implementasi Smart City di Kota Denpasar. Analisis fishbone
merupakan sebuah metode yang mana di dalamnya terdapat
diagram yang menyerupai diagram ikan, dimana masing-masing
bagian ikan adalah sebab-akibat dari suatu permasalahan (John
Bank, 1992). Sebelum menganalisis menggunakan metode
fishbone, penulis terlebih dahulu mengumpulkan data mengenai
permasalahan yang ada di lapangan.

3. Hasil dan Temuan


Pemerintah Kota Denpasar menyadari bahwa dalam upaya
mewujudkan pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab
serta mampu menjawab tuntutan perubahan adalah dengan
membuka media komunikasi yang terbuka antara pemerintah
dengan masyarakat. Untuk itulah dibangun suatu media yang
dipertanggung jawabkan dalam pengelolaan penanganan
pengaduan masyarakat yaitu melalui Pelayanan Rakyat Online
yang disingkat PRO Denpasar. PRO Denpasar merupakan
sebuah aplikasi mobile yang berguna sebagai wadah masyarakat
untuk melakukan komunikasi dua arah dan untuk berperan serta
dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan
Kota Denpasar.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan
permasalahan. Masalah yang terjadi adalah "Aplikasi PRO
Denpasar belum sepenuhnya dioptimalkan dengan baik untuk
masyarakat Kota Denpasar”.

BUNGA RAMPAI 33
Diagram 4 Hasil Cause and Effect Metode Fishbone

Langkah kedua adalah menuliskan masalah tersebut pada


kepala ikan yang merupakan akibat atau effect. Langkah ketiga,
menuliskan faktor – faktor yang mungkin menjadi penyebab
utama dalam masalah mengapa aplikasi PRO Denpasar belum
sepenuhnya dioptimalkan dengan baik untuk masyarakat Kota
Denpasar. Misalkan yang menjadi faktor penyebab utama
masalah ini adalah:
a) Infrastruktur
b) SDM (Tenaga Kerja)

Diagram 5 Hasil Penerapan Metode Fishbone

4. Solusi
Solusi dari permasalahan “Aplikasi PRO Denpasar belum
sepenuhnya dioptimalkan dengan baik untuk masyarakat Kota
Denpasar”
a. Perlu adanya perbaikan serta pengembangan yang berlanjut
terkait aplikasi PRO Denpasar.
b. Sosialisasi kepada masyarakat Kota Denpasar terkait
dengan aplikasi PRO Denpasar ini, dengan harapan
masyarakat Kota Denpasar dapat menggunakan aplikasi ini
sebagai alat pengaduan utama dibanding dengan

Manajemen Digital Government di Indonesia


34 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
mengadukannya secara langsung karena membutuhkan
proses yang lama.
c. Adanya perbaikan dalam proses pengaduan dengan harapan
agar kedepannya respon yang ditangkap oleh pemerintah
lebih cepat dari sebelumnya.
d. Apabila aplikasi tersebut dijalankan dengan bantuan pihak
swasta, perlu adanya kerjasama lebih lanjut untuk proses
perbaikan dan pengembangan.

Referensi
Implementasi Kebijakan Pemerintah Mengenai Program PRO
Denpasar Kota Denpasar (2019) 2211 – ArtArticle Text-
4504 20191001

BUNGA RAMPAI 35
Manajemen Digital Government di Indonesia
36 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
CHAPTER
2

BUNGA RAMPAI 37
PENINJAUAN INFRASTRUKTUR DI DKI JAKARTA
SMART CITY: STUDI KASUS MRT (MASS RAPID
TRANSIT) JAKARTA DAN FASILITAS RUANG
PUBLIK SKATEPARK

Luthfi Prathama, Muhamad Fazri, Muhammad Marco, Kezia


Mauren Masinambow, Muhammad Obi Akroman

Ringkasan Eksekutif
DKI Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi di wilayah
Jabodetabek dengan tingkat mobilitas yang tinggi, baik dari
daerah di sekitarnya maupun di dalam Kota Jakarta itu sendiri.
Tingginya tingkat mobilitas masyarakat di wilayah DKI Jakarta
dan sekitarnya mengakibatkan timbulnya berbagai tantangan,
salah satunya adalah tingginya ketergantungan pada transportasi
pribadi. Kemudian, pembangunan fasilitas terbuka bagi
masyarakat seperti ruang-ruang kosong juga sudah mulai
dilakukan, mulai dari pembangunan taman kota, hutan kota,
sampai dengan fasilitas lainnya dan salah satu fasilitas yang
menarik perhatian kawula muda adalah skatepark. Meskipun
begitu, pembangunan ini memicu persoalan yang ada dalam
masyarakat. Kami penulis memilih metode penyelesaian SWOT
(Strength, Weakness Opportunities, Threats) untuk membahas
isu dan persoalan yang terjadi dalam perkembangan
pembangunan infrastruktur ini.

1. Latar Belakang
Pada era modern saat ini, perkembangan teknologi sudah
semakin canggih dengan adanya internet terutama di kota seperti
DKI Jakarta yang mempunyai akses yang cukup besar dan
cepat, disisi lain pemerintah setempat memanfaatkan keberadaan
teknologi ini untuk mengembangkan kota DKI Jakarta menjadi
Smart City. Tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas
Manajemen Digital Government di Indonesia
38 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan,
bahwa semua sarana prasarana infrastrukur dan linkungan
dibangun untuk memberikan akses serta manfaat bagi seluruh
masyarakat.
Dengan begitu, salah satu yang dikembangkan oleh
pemerintah DKI Jakarta untuk masyarakatnya adalah dengan
keberadaan MRT (Mass Rapid Transit) sebagai moda
transportasi alternatif di sekitaran daerah Jakarta untuk
membantu mobilitas mayarakat. Tetapi penggunaan transportasi
MRT (Mass Rapid Transit) ini memiliki berbagai kekurangan.
Selain transportasi, mengenai taman skatepark di DKI Jakarta
guna berikan ruang hiburan gratis bagi masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, topik pembahasan diatas akan kami kaji lebih
lanjut untuk menemukan kekurangan dan menemukan suatu
rumusan kebijakan infrastruktur yang tepat di daerah DKI
Jakarta.

2. Fokus Permasalahan
Dari isu atau permasalahan yang akan dibahas dalam Policy
Brief ini, akan dijelaskan tanggung jawab dalam mengatasi atau
memperbaiki permasalahan Smart City di DKI Jakarta. Isu atau
permasalahan pertama mengenai faktor geografis pembangunan
MRT fase 2 proyek ini sangat berisiko untuk dibangun mulai
dari bangunan bersejarah, dan bangunan yang tidak boleh
sembarang di runtuhkan.
Kedua, fasilitas ruang publik skatepark yang kurang menjadi
perhatian, seperti di daerah Jakarta Selatan yang tidak ada
skatepark, sehingga para skater terpaksa menggunakan jalan
umum untuk bermain skateboard.

3. Hasil dan Metodologi


Untuk penyelesaian isu ini, maka kami memilih metode
SWOT untuk menjelaskan secara rinci proses pemberian solusi
dan mempermudah dalam pengambilan keputusan, dalam hal

BUNGA RAMPAI 39
menghadapi permasalahan infrastruktur di DKI Jakarta Smart
City. Berikut di bawah ini adalah gambaran dari metode analisis
SWOT dalam melihat apakah metode ini dapat membantu
penyelesaian pembangunan yang ada.

Diagram 1. Gambaran Analisis Metode SWOT

Berikut penjelasan yang dapat kami jabarkan:


A. Strength (Kekuatan)
Sesuai dengan yang diamati, antara lain:
1) Sumber Daya Manusia dan teknologi yang mendukung
pembangunaninfrastruktur.
2) Penggunaan MRT mening-katkan perekonomian.

B. Weakness (Kelemahan)
1) Sulitnya telepon genggam atau smartphone mendapatkan
kon-eksi jaringan yang baik ketika kereta berada di jalur
bawah tanah.
2) Pihak internal, yaitu penang-gung jawab pembangunan
fasilitas ruang terbuka masih lemah untuk
mempertahankan skatepark yang dilakukan oleh Dinas
Provinsi DKI Jakarta tanpa melibatkan mereka dal- am
perencanaannya.
3) Peraturan dan kebijakan yang kurang tegas dalam
mengontrol pembangunan infrastruktur dan fasilitas.

Manajemen Digital Government di Indonesia


40 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
C. Opportunities (Peluang)
1) Dalam penerapan Smart City di Jakarta, peluang yang
bisa membantu usaha menerapkan Smart City ialah
dengan adanya sektor privat atau perusahaan yang
mendukung pemban-gunan infrastruktur.
D. Threats (Ancaman)
1) Partisipasi masyarakat masih rendah untuk menjaga
fasilitas ruang terbuka skatepark dan transportasi publik
seperti MRT.
2) Komunikasi antar penanggung jawab masih belum
optimal.

Langkah yang dilakukan untukmengumpulkan data:


1. Mengadakan survei lokasi di stasiun MRT dan fasilitas
skatepark.
2. Melakukan wawancara kep-ada karyawan stasiun MRT,
dan pengguna transportasi MRT untuk menanyakan
permasalahan yang terjadi dalam pengembangan trans-
portasi publik seperti MRT dan penilaian subjektif
terhadap fasilitas ruang terbuka skatepark.

3. Kesimpulan
Pembangunan infrastruktur baik transportasi maupun ruang
terbuka skatepark untuk memenuhi kebutuhan daerahnya, cukup
baik. Namun perlu dikembangkan dan dioptimalkan lagi
mengenai sosialisasi kepada setiap pengguna fasilitas dan
transportasi, untuk lebih peduli akan pembangunan yang ada.
Anggaran yang di keluarkan dari sektor publik dan sektor pirvat
tentunya tidak sedikit. Maka perlu diimbangi dengan tanggung
jawab, kerja sama dari berbagai pihak dan juga pengawasan.
Mulai dari memperkuat peraturan dan kebijakan, kemudian
membangun kerja sama dan tanggung jawab dari setiap
stakeholders untuk mendukung infrastruktur kota.

BUNGA RAMPAI 41
5. Rekomendasi dan Saran
a) Seluruh pemangku kepentingan perlu mendukung
pembangunan dan ope- rasional transportasi umum dan
fasilitas ruang terbuka di wilayah perkotaan, termasuk
pembangunan MRT Jakarta dan Skatepark.
b) Mendorong kerja sama dan koordinasi dengan berbagai
pihak. Kajian ini merekomendasikan penguatan antara
MRT Jakarta dan pembangunan Skatepark atas kerja sama
dengan pemerintah pusat dan daerah, serta pihak swasta
dalam melakukan pen-gumpulan dan analisis lebih banyak
data untuk melakukan evaluasi manfaat yang lebih
mendalam.

Daftar Pustaka
LPEM FEB UI. September 2021. Policy Brief Akselerasi
Jaringan Transportasi Pub-lik Modern sebagai Upaya Peni-
ngkatan Produktivitas dan Perek- onomian Masyarakat
Kota: StudiKasus MRT Jakarta.
Policy_Brief_MRTJ_21_10_01-FINAL [Link]. Diakses secara
daring pada tanggal 23 Februari 2022
LPEM FEB UI. Policy Brief Infrastruktur Tahan Iklim dan
Bencana di Indonesia: Apakah Sudah Cukup? Po-
licy_Brief_Infrastructure_ID-[Link]. Diakses pada tanggal
23 Februari2022
Arista, Yovi. 2022. Analisis Pembangunan Infrastruktur DKI
Jakarta. (DOC) Analisis Pembangunan InfrastrukturDKI
Jakarta | Yovi Arista - [Link] diakses pada tanggal 23
Februari 2022
Detik Finance. Juni 2014. Ini Tantangan Terberat Membangun
MRT di Jakarta. Ini Tantangan Terberat Membangun MRT di
Jakarta ([Link]). Diakses pada tanggal 23 Februari 2022
Setia, N.R. 2019. SWOT Analysis in MRT Jakarta. Global
Research on Sustainability Transport & Logistics. 204-1724-
1-PB (1).pdf diakses pada tanggal 10 Maret 2022
Manajemen Digital Government di Indonesia
42 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Krisnadi, Midian. Optimalisasi Program Jakarta Smart City
dengan Pendekatan Analisis Swot dan Tows pada Pemerintah
Kota DKI Jakarta. (PDF) OPTIMALISASI PROGRAM
JAK-ARTA SMART CITY DENGAN PENDEKATAN
ANALISIS SWOT DAN TOWS PADA PEMERINTAH
KOTA DKI
JAKARTA | Iwan Krisnadi and Midian Petra Halomoan -
[Link] Diakses pada tanggal 10 Maret 2022
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. 2006. Pedoman Teknis
Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan
Lingkungan.
Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta. Permen PU-No 30-
2006-Ped-Teknis [Link] Diakses pada tanggal 11 Maret
2022

BUNGA RAMPAI 43
INFLUENCER PERANTARA PEMERINTAH-
MASYARAKAT ATAU CELAH KORUPSI?

Mohammad Iqbal Muhibullah, Muhammad Ghazy


Alghaffaru, Muhammad Ramadhani Iskandar, Nabiilah
Huwaidaa Zatira, Rafael Owen Kristian, Revansa Zulfikar
Darojatun

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah membayar influencer 90 Milliar rupiah untuk


mensosialisasikan kebijakan (termasuk smart city) kepada
masyarakat. Namun, kebijakan ini menimbulkan polemik di
berbagai pihak. Mengikuti perkembangan tren dan berupaya
menjadi smart city atau malah hanya “membuang uang”? atau
mungkin menjadi peluang korupsi?. Melihat ketidakefisienan
dari kebijakan ini, pakar kebijakan publik Universitas Indonesia
menyebutkan, tidak masalah "membuang uang asalkan efektif".
Berharap influencer dapat menjadi perantara, merupakan tujuan
pemerintah mengeluarkan kebijakan ini. Dalam
implementasinya masih belum mencapai target utama dan masih
sulitnya menggedor sekat dinding transparans.

1. Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital telah merubah aktivitas
manusia. Aktivitas seperti administrasi, penyimpanan data, serta
pelayanan publik berbasis digital juga mulai gencar dilakukan
oleh pemerintah demi mengikuti arus tren. Ini juga dilakukan
demi mendukung program smart city yang dicanangkan
beberapa tahun lalu. Melihat mulai banyaknya masyarakat yang
menggunakan internet terutama sosial media (facebook,
Instagram, dll) menuntut pemerintah untuk berinovasi dan
beradaptasi dengan social media marketing.

Manajemen Digital Government di Indonesia


44 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Pemerintah mengeluarkan kebijakan penggunaan jasa
influencer sebagai perantara pemerintah dengan masyarakat
untuk menyampaikan informasi terkini dan mempromosikan
kebijakan pemerintahan. Dalam penerapannya Indonesian
Corruption Watch (ICW) menemukan bahwa terdapat
penggunaan anggaran sebesar 1,29 Triliun rupiah untuk aktivitas
digital pemerintah dari tahun 2014 – 2018, sekitar 10%
digunakan untuk penggunaan jasa influencer. Dengan besarnya
anggaran ini dipertanyakan efektifitasnya dan dikhawatirkan
mengenai akuntabilitasnya.

2. Fokus Permasalahan
Kebijakan pemerintah dalam menggunakan jasa influencer
menciptakan pro-kontra. Hal utamanya mengenai aspek
anggaran dan peran kehumasan pemerintah yang ada. Hal
menimbulkan kekhawatiran melihat kurangnya transparansi dan
akuntabilitas pemerintahan terkait anggaran yang dikeluarkan.
Muncullah pertanyaan: Apakah dana yang digelontorkan untuk
menyewa influencer sudah efektif? Apakah sosialisasi yang
dilakukan influencer dapat menarik masyarakat? Apa manfaat
dari kebijakan tersebut jika berjalan dengan baik?

3. Metodologi
Dalam mengulas kebijakan ini kami menggunakan teknik
analisis Fishbone. Analisis Fishbone merupakan metode yang
digunakan untuk memecahkan suatu masalah yang ada dengan
melakukan analisis sebab dan akibat dari suatu keadaan dalam
suatu keadaan dengan menggunakan diagram yang berbentuk
seperti tulang ikan. Analisis fishbone memiliki fungsi sebagai
pengidentifikasi penyebab yang mungkin ada dari suatu masalah
dengan cara memesihkan akar dari masalah tersebut.

BUNGA RAMPAI 45
4. Hasil dan Pembahasan
a) Big Effect as a Headline (Display): SocialSociety Issues
about available loopholes for corruption
Penemuan anggaran belanja influencer sebesar 90,45 M
per 2014 - 2018 oleh ICW membuat pemerintah kembali
dilanda kritikan. Penggunaan para influencer disebut mulai
marak dilakukan pemerintah sejak 2017. Anggaran yang
besar ini dinilai masyarakat kurang efektif dan
menghamburkan pengeluaran serta berpotensi terdapat celah
terjadinya KKN.
b) Root cause as Core problem (Core bone/Head
Fish):Controlling,Transparation, Accountability
Transparansi pemerintah belum melakukannya dengan
maksimal dimana tidak jelasnya arah penggunaan dana
dalam anggaran yang ada. Akuntabilitas pemerintah juga
ikut dipertanyakan, karena jika transparansi saja tidak ada
maka akuntabilitas mereka juga bisa dibilang tidak ada.
Masalah peran salah satu divisi juga menjadi tanda tanya
tersendiri. Untuk apa pemerintah memiliki kehumasan jika
perannya dalam menyampaikan informasi dan menjalin
komunikasi dengan masyarakat tidak terlaksana.
c) Causes (The Bones)
Menggunakan pendekatan kewirausahaan dengan aspek
3M (Money, Man, & Methode) sebagai Causes (Sebab)
permasalahan. Ditemukan 3 akar masalah dalam kebijakan
ini, yakni anggaran yang tidak transaparan (money),
akuntabilitas (man), dan peran pemerintah (methode).

5. Kesimpulan
Influencer merupakan individu yang menjadi daya tarik di
masyarakat pada bidang industri hiburan yang mempunyai
kemampuan untuk dapat mempengaruhi suatu lingkungan.
Membayar influencer untuk mensosialisasikan kebijakan itu
justru menjadi polemik. Anggaran yang diturunkan hingga
Manajemen Digital Government di Indonesia
46 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
mencapai Milliaran tentu saja sangat disayangkan. Sebab hal
tersebut mungkin bisa dialih gunakan untuk hal – hal yang lebih
penting. Kebijakan pemerintah dalam membayar influencer
untuk mengajak orang orang merupakan hal yang masih kurang
efektif dan efisien serta perlu dikaji ulang kebijakannya.

6. Rekomendasi/Saran
a. Ada baiknya anggaran tersebut digunakan untuk
menciptakan project baru untuk pembangunan negara kita
indonesia agar dapat berkembang dengan lebih cepat
b. Pemerintah dapat mengalokasikan jasa influecer tersebut
bisa ke bidang – bidang seperti Pariwisata seperti
memperkenalkan budaya, explorasi tempat baru, dan lain –
lain
c. Melakukan transparansi anggaran serta menunjukkan
akuntabilitas pemerintah terutama peran kehumasan di
pemerintah.

Daftar Pustaka
Lestyowati, J. & Hadisaputra T. Mandar. “Analisis Pengadaan
Jasa Influencer pada Satuan Kerja Pemerintah: Studi
Kritis”, diakses dari [Link]
mapan/article/download/365/160/
“BBC News Indonesia. 2020. “Pemerintah Indonesia bayar
influencer Rp90 miliar untuk sosialiasi kebijakan,
'buang duit yang efektif?’ ”, diakses dari Pemerintah
Indonesia bayar influencer Rp90 miliar untuk sosialiasi
kebijakan, 'buang duit yang efektif?' - BBC News Indonesia

BUNGA RAMPAI 47
EVALUASI BERKELANJUTAN APLIKASI
PENDUKUNG SMART CITY DI KOTA
SEMARANG

Nabella Zakiyanti, Nabillah Intan Maharani, Luna Heriani,


Madeline Chaney Leonita, Muhammad Nazri Efendi

Ringkasan Eksekutif
Indonesia menempati posisi ke-33 dalam penerapan digital
government. Ada banyak hal yang telah dilakukan oleh
pemerintah termasuk penerapan kota cerdas atau Smart City dan
beragam peraturan lainnya serta pembangunan infrastruktur
Teknologi Informasi dan Komuniasi. Sebagai Langkah awal dan
salah satu bentuk nyata penerapan digital government di
Indonesia, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor
95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik
serta Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu
Data Indonesia. Salah satu kota di Indonesia yang
mengimplementasikan konsep Smart City sejak tahun 2013
hingga sekarang. Namun, dalam penerapannya masih ditemukan
berbagai macam permasalahan. Dalam hal ini, penulis
menggunakan analisis fishbone untuk menemukan focus akar
permasalahannya dan menemukan rekomendasi dari
permasalahan tersebut.

1. Latar Belakang
Kota Semarang menjadi salah satu kota di Indonesia yang
menerapkan konsep Smart City yang memiliki tujuan utama
untuk membentuk suatu kota yang aman dan nyaman bagi warga
serta untuk memperkuat daya saing kota dalam hal
perekonomian.
Terdapat program-program tiap dimensi Smart City, yaitu
Smart Governance (E-Surat, LONPIA, E-Pokir, Monitoring

Manajemen Digital Government di Indonesia


48 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Pajak, SILK, PPID Kota Semarang), Smart Branding (Website
Smart Tourism, Pemandu Wisata Wis Semar, Ticketing BRT
Non Tunai, Sosial Media Kota Semarang), Smart Economy (I-
Jus Melon, Kredit Wibawa, Gerbang Hebat), Smart Living
(Semarang Digital Kreatif, UHC, Konter, Ambulance Siaga
Hebat), Smart Society (LAPOR Hendi, Pusat Layanan
Informasi Publik, Call Center), dan Smart Environment (SIP
Jantan, Aplikasi SIPU, Peta Padam, Pedestrian Jalan, SiMentel).
Pada dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah) tidak dimuat sama sekali data terkait
pengguna atau pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi
oleh masyarakat Kota Semarang. Sebagian besar aplikasi telah
diketahui oleh masyarakat tetapi aplikasi belum digunakan oleh
sebagian besar masyarakat Kota Semarang. Maka dari itu,
penelitian ini akan mencari tahu apa penyebab dari
permasalahantersebut.

2. Fokus Permasalahan
Analisis awal penelitian menunjukkan bahwa belum
optimalnya pemanfaatan aplikasi terkait Smart City dalam
mendukung pembangunan daerah. Masyarakat merasa belum
mendapatkan manfaat secara langsung terkait adanya aplikasi
tersebut. Kemudian banyaknya pertanyaan mengenai kemana
dan bagaimana data hasil aplikasi tersebut dikelola. Dan juga
peran aktor yang terlibat masih minim dalam hal kontribusi
perkembangan dan pemeliharaan aplikasi.

3. Metode dan Hasil


Metode penelitian yang digunakan yaitu Fishbone. Analisis
Fishbone adalah suatu pendekatan terstruktur yang
memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam
menemukan penyebab-penyebab suatu masalah,
ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada (Gaspers, V. 2002.)

BUNGA RAMPAI 49
Gambar 1. Diagram Fishbone

Sebagaimana gambar diatas, terdapat bagian- bagian didalam


diagram yaitu:
a) Bagian Kepala Ikan
Topik permasalahan yang akan kita analisis yaitu,
pemanfaatan aplikasi pendukung Smart City di Kota
Semarang.
b) Bagian Tulang Ikan
Pada bagian tulang ikan ini, ditulis kategori-kategori apa
saja yang dapat mempengarui topik yang tertulis pada
kepala ikan tersebut.

Biasanya, penentuan kategori ini menggunakan metode


5M1E yaitu:
a. Man, yaitu semua orang yang terlibat dalam sebuah proses.
Dari hasil analisis beberapa pihak yang terlibat antara lain
pemerintah, dan masyarakat. Permasalahan yang ditemui:
Kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam
pengenalan aplikasi kepada masyarakat luas, yang
kemudian menyebabkan rendahnya pengetahuan dan tingkat
penggunaan TIK oleh masyarakat.
b. Method atau metode mengenai bagaimana proses tersebut
dilakukan, apa saja kebutuhan yang spesifik dari proses.
Pada penelitian ini, kendala metode yang ditemukan ialah
belum adanya SOP khusus dalam mengelola dan
Manajemen Digital Government di Indonesia
50 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
mengoperasikan aplikasi yang ada.
c. Material, yaitu semua material yang dibutuhkan untuk
menjalankan proses. Satu- satunya material disini adalah
aplikasi tersebut yang dinilai belum efisien dan efektif.
d. Machine, yakni mesin-mesin yang diperlukan untuk
menjalankan proses langsung atau pekerjaan pendukung
lainnya. Berkaitan dengan yang sebelumnya, aplikasi
tersebut dinilai kurang efektif dan efisien karena banyaknya
fitur yang sama pada aplikasi yang berbeda, dan banyaknya
fitur yang kurang lengkap/belum ada dalam aplikasi unuk
mencapai tujuan aplikasi tersebut.
e. Measurement atau pengukuran, yaitu cara pengambilan data
dari proses. Dari proses penggunaan aplikasi, output yang
dihasilkan merupakan sebuah data. Tetapi sayangnya
pemanfaatan data di lingkungan OPD belum optimal.
Sehingga data yang ada terkesan diabaikan.

4. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian diatas, dapat dilihat kekuatan yang
diberikan dari sebuah aplikasi sangatlah berpengaruh terhadap
jalannya Smart City. Hal ini, menjadi masalah utama dalam
pengimplementasian Smart City di Kota Semarang. Sehingga
perlu solusi dan penanganan yang efektif agar kepuasan
masyarakat tidak berkurang dan tidak mengganggu keefektifan
penggunaan aplikasi Smart City di Kota Semarang.

5. Rekomendasi
Membuat program optimalisasi efektivitas dan efisiensi
pembuatan aplikasi pelayanan pendidikan dan kesehatan,
dengan mengadakan kegiatan pengembangkan aplikasi seputar
pelayanan pendidikan dan kesehatan berbasis kajian.
Membuat program peningkatan penggunaan aplikasi
pelayanan pendidikan oleh masyarakat, dengan mengadakan

BUNGA RAMPAI 51
kegiatan sosialisasi penggunaan aplikasi seputar pendidikan bagi
masyarakat.
Membuat program optimalisasi pemanfaatan data aplikasi
seputar pendidikan di lingkungan OPD, dengan mengadakan
kegiatan penyusunan SOP pengelola pelayanan pendidikan
yang terintegrasi.
Terdapat fitur atau konten tentang aplikasi layanan
pendidikan, aplikasi layanan kesehatan, aplikasi layanan
perijinan, aplikasi layanan pengaduan dan aplikasi layanan
informasi pariwisata

Daftar Pustaka
Ali, Aditya. 2019. “Presentasi Studio Tata Kelola
Perkotaan 2019 Smart City Kota Semarang”.
[Link]
presgab_fix_v2/2?ff
Diagram Fishbone diakses: [Link]
diagram- fishbone/
Daftar Informasi Semarang Smart City. [Link].
Published 2018.
PDSI KOMINFO. Indonesia Peringkat 33 Penerapan Digital
Government. Website Resmi Kementerian Komunikasi dan
Informatika RI. Published 2020.

Manajemen Digital Government di Indonesia


52 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
MENUJU KOTA SURABAYA BEBAS MACET

Lufnatul Jannah, Mariani Amelia, Miftakhul Janah,


Muhammad Abdul Kadir, Muhammad Alfath Mulyana, dan
Muhamad Maulana Robbani

Ringkasan Eksekutif
Kota Surabaya merupakan salah satu kota dengan jumlah
penduduk terbesar di Indonesia. Kota Surabaya menjadi salah
satu kota termacet di Indonesia. Kemacetan di kota Surabaya
disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan bermotor atau
kendaraan pribadi yang dimiliki masyarakat setiap tahunnya,
kurangnya transportasi umum yang ada seperti bus atau kereta,
serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan
transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Selain
masyarakat, beberapa sarana prasarana lalu lintas kurang
memadai seperti jalan-jalan rusak dan berlubang di jalan utama
kota Surabaya yang kurang diperhatikan oleh pemerintah kota
Surabaya, sehingga membuat kemacetan parah di sepanjang
jalan kota Surabaya. kota Surabaya belum menyusun strategi
integrasi sistem transportasi dalam kota guna menyelesaikan
permasalahan kemacetan di jalan kota Surabaya. Pemerintah
kota Surabaya masih berfokus pada peningkatkan kapasitas
jaringan jalan

1. Latar Belakang
Kota Surabaya merupakan kota di wilayah Provinsi Jawa
Timur yang memiliki luas wilayah sekitar 33.048 Ha, serta luas
wilayah laut yang dikelola oleh pemerintah Kota Surabaya yaitu
seluas 19.039 Ha. Jumlah masyarakat Kota Surabaya pada tahun
2021 mencapai hampir 3 juta jiwa. Kota Surabaya dinobatkan
sebagai peringkat pertama kota termacet di Indonesia

BUNGA RAMPAI 53
berdasarkan Global Traffic Scorecard 2021. Penobatan tersebut
dapat dilihat dari status kota Surabaya sebagai kota metropolis
dan kota terbesar kedua di Indonesia. Dahulu kemacetan di kota
Surabaya tidak separah sekarang, rata-rata masyarakat kota
Surabaya memilih menggunakan transportasi publik daripada
kendaraan pribadi sehingga menyebabkan kendaraan di jalan
sangat sedikit dan tidak padat. Namun saat ini masyarakat kota
Surabaya lebih senang menggunakan kendaraan pribadi. Badan
Pusat Statistika (BPS) menyebutkan bahwa pada tahun 2020
Jawa Timur menjadi provinsi yang memiliki jumlah kendaraan
bermotor terbanyak dengan jumlah 22 juta unit, jumlah tahun
2020 jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Global Traffic
Scorecard Inrix sebagai lembaga riset dan perusahaan
transportasi di Inggris. Lembaga tersebut menetapkan Surabaya
sebagai kota termacet di Indonesia pada tahun 2021 dan kota
termacet peringkat 41 secara global. Dinas perhubungan kota
Surabaya (Dishub) menerima banyak laporan dari masyarakat
mengenai tingkat kemacetan yang terjadi di jalan-jalan utama
kota Surabaya.

2. Fakus Permasalahan
Surabaya adalah salah satu kota terbesar di Indonesia, oleh
karena itu, tidak heran jika Surabaya mengalami pertumbuhan
penduduk dan arus urbanisasi yang cepat. Hal tersebut
meningkatkan volume kendaraan sebagai sarana mobilisasi
masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dengan
bertambahnya jumlah kendaraan, kapasitas jalan di kota
Surabaya menjadi terbatas. Pemerintah kota Surabaya perlu
mampu meningkatkan kapasitas dan jaringan jalan guna
mengimbangi peningkatan volume lalu lintas di Surabaya.
Kemacetan di Surabaya disebabkan oleh beberapa faktor, antara
lain pesatnya pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di kota,
serta meningkatnya kemacetan lalu lintas. Minimnya petugas
Manajemen Digital Government di Indonesia
54 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
lalu lintas di Surabaya membuat masyarakat tidak mematuhi
peraturan lalu lintas yang dapat menyebabkan kemacetan.
Mengingat pola pikir masyarakat Indonesia, kebutuhan mereka
perlu diperhatikan untuk menaati peraturan lalu lintas.
Banyaknya mobil yang parkir sembarangan di pinggir jalan juga
menyebabkan penyempitan jalan.

3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif.
Metode analisis deskriptif adalah sebuah metode yang
digunakan untuk menyajikan data dalam bentuk deskriptif.
Pengambilan data didasarkan pada studi literatur yaitu
pendekatan yang dilakukandengan membaca dan mencatat, serta
mengolah bahan dari penelitian. Metode analisis deskriptif
menggunakan referensi dari jurnal, buku, artikel laporan
penelitian, wawancara dan situs-situs dari internet, sehingga
dapat sesuai dengan perumusan masalah.

Gambar 2 Data Survei Kemacetan di Indonesia

Pengambilan data dilakukan dengan wawancara yang


diperoleh dari narasumber pilihan dan juga dari situs internet
(youtube Narasi).

BUNGA RAMPAI 55
Langkah-Langkah Penelitian
1) Mengumpulkan data Dalam analisis ini, penulis
mengumpulkan data dari beberapa literatur, survey
kemacetan kota, dan hasil review masyarakat,
pemerintah, pihak swasta, dan NGO.
2) Mengumpulkan faktor-faktor utama kemacetan di Kota
Surabaya Jumlah kendaran bermotor naik secara
signifikan. Menurut Katadata, Provinsi Jawa Timur pada
tahun 2020 menjadi Provinsi yang memiliki jumlah
kendaraan paling banyak di Indonesia dengan total 22
juta unit. Dengan jumlah yang semakin meningkat
menjadikan faktor utama kemacetan di kota Surabaya
3) Sedikitnya transportasi umum di Kota Surabaya di kota
Surabaya hanya sedikit KRL tidak seperti di kota-kota
lainnya serta Suroboyo bus yang dimiliki Kota Surabaya
hanya melewati enam rute pemberhentian dan haltenya
pun hanya berada di pusat Kota Surabaya.
4) Durasi traffic light yang memakan waktu durasi lampu
merah di Kota Surabaya menjadi salah satu faktor utama
kemacetan yang terjadi, dengan total durasi mencapai
300 detik dan lampu hijau hanya 20 detik membuat
kemacetan tidak dapat dihindarkan
5) Jalan rusak di Kota Surabaya banyak sekali jalan-jalan
yang rusak dan bolong sehingga para pengguna jalan
sering mengeluhkan hal tersebut.

Berdasarkan wawancara Narasi Daily dengan Inanta Indra


seorang anggota komunitas transport for Surabaya, Ia
menjelaskan bahwa kemacetan kota Surabaya dikarenakan
transportasi publik yang kurang, sehingga masyarakat tidak
memiliki opsi bermobilitas sehingga semua bergantung pada
kendaraan yang pilihannya paling logis, yaitu kendaraan
bermotor. Pada wawancara tersebut juga terdapat tanggapan
lain dari tugas (Hutomo Putra) seorang anggota komunitas
Manajemen Digital Government di Indonesia
56 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
transport for Surabaya, Ia menjelaskan kemacetan
dikarenakan fasilitas pejalan kaki seperti trotoar dan
pedestrian tidak hanya digunakan pejalan kaki tapi
“dimakan” oleh banyak orang. Dari faktor utama kemacetan
Kota Surabaya diatas dapat dijadikan perhatian khusus oleh
semua pihak serta dicari solusi dari masalahnya agar
mengurangi kemacetan di jalan kota Surabaya. AKBP Teddy
Chandra juga menjelaskan bahwa kota Surabaya menjadi
daerah aglomerasi jalan keluar masuknya kendaraan pekerja
dari dalam maupun luar kota, hal ini juga menjadi faktor
kepadatan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan kota
Surabaya.

4. Kesimpulan
Kemacetan Kota Surabaya disebabkan oleh beberapa faktor
seperti jumlah kendaraan bermotor yang selalu bertambah
setiap tahunnya, durasi lampu merah yang lama, parkir
sembarangan, beberapa jalan yang rusak kurang diperhatikan
oleh pemerintah daerah kota Surabaya. Sedikitnya transportasi
umum yang menyebabkan masyarakat memilih menggunakan
kendaraan pribadi

5. Rekomendasi
Pemerintah Kota Surabaya dapat menerapkan strategi guna
memperbaiki sistem transportasi untuk mengurangi kemacetan
yaitu dengan:
a) Membuat kebijakan transportasi perkotaan yang
komprehensif
Pemerintah kota Surabaya dapat melakukan konsolidasi,
kooordinasi, integerasi, sinkronisasi, dan equivalensi dalam
memberikan pelayanan transportasi terutama pada sarana
dan prasarana di Kota Surabaya.

BUNGA RAMPAI 57
b) Manajemen lalu lintas yang efektif
Pemerintah kota Surabya dapat memasang dan mengatur
durasi yang tepat di lampu merah, memasang rambu lalu
lintas, dan menempatkan petugas lalu lintas di jam sibuk.

c) Mengoperasikan sarana transportasi umum


Pemerintah kota Surabaya dapat menyediakan berbagai
angkutan umum yang memiliki kapasitas berbeda, seperti
bus kota, busway, monorail, commuter line, dan subway
atau MRT.

d) Membangun prasarana transportasi yang berkapasitas


Pemeritah kota Surabaya dapat menambah kapasitas
jalan. Kapasitas jalan yang tersedia di Kota Surabaya sudah
sangat tidak berimbang dengan volume kendaraan yang
berlalu-lalang.

Daftar Pustaka
Arifiyananta, R. D. (2015). Strategi Dinas Perhubungan Kota
Surabaya Untuk Mengurangi Kemacetan Jalan Raya Kota
Surabaya. Surabaya: UNESA.
Badan Pusat Statistik. (2022). Badan Pusat Statistik. Retrieved
March 15, 2022, from [Link]: [Link]
Farmita, A. R. (2022, January 15). [Link]. Retrieved
March 10, 2022, from [Link] JERNIH MELIHAT
DUNIA: [Link]
063900281/surabaya-kota-termacet-diindonesia-kalahkan-
jakarta-bagaimana-bisa-?page=all
Noorca, D. (2022, January 12). [Link].
Retrieved March 10, 2022, from [Link]:
[Link] ota/2022/surabaya-
peringkatpertama- kota-termacet-se-indonesia/ Pemerintah
Kota Surabaya. (2022,
Manajemen Digital Government di Indonesia
58 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
January 14). Pemerintah Kta Surabaya. Retrieved March 15,
2022, from [Link]: [Link]
id/berita/64709/dishub-dan-pakartransportasi-s
Uci, T. (2022, January 17). [Link]. Retrieved March
10, 2022, from Terminal: [Link]
penyebab-surabaya-jadi-kota-termacet-di-indonesia/
Yahya, R. (2022, January 14). Narasi News Room. Video
YouTube,[Link]

BUNGA RAMPAI 59
Manajemen Digital Government di Indonesia
60 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
CHAPTER
3

BUNGA RAMPAI 61
MEWUJUDKAN IBU KOTA NEGARA
NUSANTARA SEBAGAI KOTA IMPIAN

Bahtiar Prahara, Sri Bawono Wahyu Legowo, Tri Angga


Putra Pamungkas

Ringkasan Eksekutif
Kota idaman merupakan harapan bagi semua masyarakat,
dibangunnya Ibu Kota Negara baru bernama Nusantara ini
diharapkan menjadi kota idaman. Kota Nusantara diharapkan
dapat meratakan perekonomian di Indonesia dan didalamnya
akan dibangun beberapa insfratruktur yang menunjang kegiatan
masyarakat kelas internasional. Namun diharapkan dalam
pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan tidak adanya
penyalahgunaan dari pejabat yang berkepentingan, alokasi
ketersediaan anggaran dan sumber anggaran terkait IKN harus
jelas dan transparan.

1. Latar Belakang
Sebuah kota yang menjadi idaman bagi setiap penduduknya,
dimana kota itu memberi rasa aman, nyaman, bersih, tertata rapi
bila perlu artistik, dengan tingkat polusi yang tidak parah, serta
sarana prasarana yang mendekati titik ideal plus menyediakan
lapangan pekerjaan yang layak. Kota semacam itu yang menjadi
idaman bagi siapapun.
Ibu Kota Negara Indonesia saat ini yaitu Jakarta, dapat
dikatakan sebagai kota yang produktif atau bisa juga dibilang
kota yang sibuk. Segala industri yang ada di Jakarta bisa
dipastikan berjalan 24 jam, mereka mejalankan aktivitasnya
hampir selama 24 jam maka juga dijuluki kota yang tak pernah
tidur. Saat ini Jakarta menikmati keistimewaan sebagai ibu kota

Manajemen Digital Government di Indonesia


62 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
negara dan pusat pemerintahan, sekaligus pusat ekonomi, bisnis
dan jasa, termasuk pusat investasi.
Namun mulai tahun ini 2024, pemerintah pusat mulai
memindahkan ibu kota dari Jakarta ke ibu kota baru ke
Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi
Kalimantan Timur. Dengan pemindahaan ibu kota negara di
Kalimantan ini diharapkan dapat meratakan perekonomian dan
mengurangi beban kota Jakarta.
Lebih lanjut, ibu kota negara yang dijuluki dengan nama
Nusantara ini dikatakan sebuah perubahan atau transformasi
baik di bidang lingkungan, cara kerja, basis ekonomi, teknologi,
pelayanan kesehatan dan pendidikan yang lebih berkualitas.
Serta transformasi tata sosial yang lebih majemuk, toleran dan
menjunjung tinggi etika. Harapan masyarakat begitu tinggi
dengan adanya pembangunan ibu kota ini. Namun tidak sedikit
pula yang kontra dengan proyek pemerintahan Presiden Joko
Widodo ini.

2. Fokus Permasalahan
Pemerataan ekonomi menjadi salah satu alasan pemerintah
untuk melakukan pemindahan ibu kota negara. Presiden Joko
Widodo atau Jokowi mengatakan Produk Domestik Bruto
(PDB) ekonomi 58 persen ada di Jawa. Selanjutnya Jokowi juga
menginginkan dengan dibangunnya Ibu Kota Nusantara,
Indonesia memiliki kota dengan standar internasional yang
memilki fasilitas-fasilitas berstandar internasional pula.
Pembangunan ibu kota ini menelan tidak sedikit biaya
diperkirakan akan diperlukan 400 triliun lebih, dan
pembangunannya akan dibangun diantaranya diatas tanah PT.
Perkebunan Kaltim Utama I seluas sekitar 17.000 hektar yang
dikatakan dimiliki oleh keluarga Luhut Binsar Pandjaitan,
Menteri Koordinator Maritim dan Investasi saat ini. Banyak
yang beredar berita proyek pembangunan ini sangat kental
dengan politik.

BUNGA RAMPAI 63
Dengan mengusung konsep smart capital city tentunya
tekhnologi telekomunikasi menjadi titik utama fokus dari IKN.
Pemerintah melalui Kominfo menegaskannya lewat Siaran Pers
No. 16/HM/KOMINFO/01/2022 Tentang Tindak Lanjut
Pengesahan UU Ibukota Negara (IKN), Kominfo Siap
Melakukan Pembangunan Infrastruktur Telekomunikasi di
Nusantara. Infrastruktur Telekomunikasi yang dimaksud adalah
penyiapan layanan telekomunikasi menggunakan tekhnologi 5G.
Dalam Dialog Apa Kabar Indonesia Malam TV One Tentang
IKN Menkominfo menegaskan Pemerintah telah
mempersiapkan rancangan pembangunan infrastruktur TIK
berbasis teknologi 5G di IKN. Menurutnya, Kementerian
Kominfo bekerja sama dengan Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas) merancang IKN sebagai
sustainable city. Indonesia sebenarnya sudah meluncurkan
jaringan 5G, pada tanggal 27 Mei 2021 secara resmi jaringan 5G
di Indonesia sudah diluncurkan. Operator pertama yang
menyediakan layanan jaringan 5G di Indonesia adalah
Telkomsel, setelah mengantongi Surat Keterangan Laik Operasi
(SKLO) 5G dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Permasalahannya adalah untuk menggunakan jaringan 5G
secara luas, merata dan stabil di IKN bukan perkara murah dan
mudah perlu dilakukan riset yang lebih dalam dan memerlukan
biaya yang tidak sedikit.
Sektor berikutnya pada pembangunan IKN adalah sektor
pertahanan dan keamanan negara, Direktur Pertahanan dan
Keamanan Kementerian PPN/Bappenas Bogat Widyatmoko
menerangkan pemindahan IKN dari Jakarta ke Kalimantan
Timur menciptakan perspektif geostrategis baru sistem
pertahanan dan keamanan IKN menggunakan teknologi modern,
yakni surface air missile. Ia menyebut, teknologi ini mampu
melakukan penjajakan terhadap serangan rudal dalam radius di
atas 200 kilometer seperti dari China dan Korea Utara.

Manajemen Digital Government di Indonesia


64 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Jadi, sebelum rudal 200 kilo dari sasaran sudah mampu
dijangkau radar. Dengan kecepatan supersonic, rudal
pengamanan ibu kota yang sekarang diinstal di teluk naga
mampu menghancurkan rudal tersebut. Konsepnya seperti iron
drone di Israel. Hanya saja perbedaannya ada di misilnya," jelas
Bogat.
Dalam arsitektur sistem pertahanan dan keamanan, itu terdiri
dari empat komponen. Komponen pertama intelligence, kedua
pertahanan, ketiga keamanan termasuk keamanan dalam negeri
dan masyarakat, dan keempat adalah siber," kata dia. Panglima
TNI Jenderal Andika Perkasa berujar kalau sudah menjadi
keputusan, kami pasti akan berusaha untuk menjabarkan dan
memaksimalkan apa yang bisa dilakukan untuk memastikan ibu
kota baru juga memiliki sistem pengamanan yang memadai,"
kata Andika Perkasa saat ditemui di Kompleks Parlemen,
Jakarta, Senin, 24 Januari 2022. Akan tetapi, dia menekankan,
saat ini TNI belum membangun sistem pertahanan khusus di
kawasan tersebut. Sebab, selain belum adanya anggaran yang
tersedia, juga belum adanya arahan khusus dari panitia
pembangunan IKN saat ini terkait pembentukan sistem
pertahanan itu.

Gambar 1 Smart Defense & Dual Strategi


Sumber
:[Link]
303982/pertahanan-ikn-super-canggih-bisa-atasi-rudal-china-
korut/2

BUNGA RAMPAI 65
3. Metode dan Hasil
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Focus
Group Discussion (FGD). Menurut Irwanto (2006), FGD
merupakan suatu proses pengumpulan data dan informasi yang
sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat
spesifik melalui diskusi kelompok.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :


1) Kepastian anggaran serta perencanan yang detail dan
mendalam terkait proyek pembangunan Ibukota Negara.
2) Di tengah isu climate change dan pemanasan global,
pemerintah Indonesia harus mengedepankan konsep green
technology dalam membangun infrastruktur di IKN.
Ketersediaan listrik merupakan kebutuhan dasar yang wajib
dimiliki IKN. Pemerintah harus memberdayakan
pembangkit listrik alternatif selain dari fosil yaitu dari
PLTA. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diharapkan
pemerintah segera menyelesaikan proyek bendungan
lambakan di Kecamatan Long Kali dan Bendungan Arsari
di Kecamatan Sepaku Kabupaten PPU yang diperkirakan
dapat mensuplai 3000 MW listrik.
3) Dalam pelaksanaan proyek pembangunan infrastruktur
pemerintah diharapkan melibatkan pemerintah daerah dan
masyaraka setempat dengan mempertimbangkan kearifan
lokal sehingga tidak merusak keseimbangan alam disana.
4) Untuk mendukung fasilitas-fasilitas berstandar internasional
dibutuhkan infrastruktur berbasis digital dengan dukungan
internet/provider yang cepat (5 G).
5) Pengoperasian fasilitas-fasilitas berstandar internasional
diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dari warga
setempat.
6) Dukungan fasilitas dan internet yang berstandar
internasional akan menjadi sia- sia apalagi user/pemakai
nya kurang mengeksplorasi fitur-fitur yang ada di
Manajemen Digital Government di Indonesia
66 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
dalamnya. Untuk itu pemerintah disarankan untuk
memberikan pelatihan terkait teknologi informasi kepada
warga setempat.

4. Kesimpulan
IKN merupakan sebuah solusi yang baik terkait pemerataan
penduduk dan ekonomi. Pemerintah menargetkan pada tahun
2024 pemindahan dilakukan ke IKN yang artinya tahun 2024
IKN sudah siap beroperasi, UU IKN sendiri sudah ditanda
tangani oleh Presiden RI pada tanggal 15 Febuari 2022. Dalam
sisa waktu kurang dari 2 tahun pemerintah harus bisa
mewujudkannya.

5. Rekomendasi dan Saran


Hasil diskusi kelompok, kami menyepakati beberapa hal
yang dapat kami sarankan danrekomendasikan sebagai berikut :
a. Penundaan terkait proyek IKN dikarenakankondisi pandemi
COVID 19 dan rencana PEMILU mendatang yag akan
menelan banyak biaya.
b. Alokasi ketersediaan anggaran dan sumber anggaran terkait
IKN yang jelas dan transparan. Pemerintah perlu menarik
lebih banyak investor sehingga dana pembangunan IKN
tidak mengganggu sekto perekonomian lainnya yang sudah
direncanakan dengan matang.
c. Pemanfaatan dan implementasi sistem yang terbangun nanti
dengan pengembangan SDM terutama ASN dalam hal
pengelolaan tekhnologi yang ada demi mewujudkan World
Class Government.

Daftar Pustaka
Umur Idris. 2021. “Jakarta tetap jadi pusat bisnis dan ekonomi,
meski ibu kota pindah” [Link]
analisis/jakarta- tetap-jadi-pusat-bisnis-dan-ekonomi-meski-
ibu- kota-pindah/2283966, diakses pada 15 Maret 2022,

BUNGA RAMPAI 67
20.34.
2022. “Pindahkan Ibu Kota Demi atasi Ketimpangan Ekonomi”
[Link] 436-4-
322392/pindahkan-ibu-kota-jokowi-demi- atasi-ketimpangan-
ekonomi, diakses pada 15 Maret 2022, 21.20.
2022. “Pertahanan IKN Super Canggih Bisa Atasi Rudan China
– Korut” [Link]
314-4-303982/pertahanan-ikn-super-canggih-bisa- atasi-
rudal-china-korut/2, diakses pada 16 Maret 2022, 19.00
Irso. 2022. “Jadi Penggerak Ekonomi, Menteri Johnny:
Pemerintah Bangun IKN dengan Teknologi Terbaru”
[Link] i-
penggerak-ekonomi-menteri-johnny-pemerintah- bangun-ikn-
dengan-teknologi- terbaru/0/berita_satker, 16 Maret 21.45.
2022. “Panglima TNI Pastikan Keamanan Ibu Kota Negara
Bakal Maksimal” [Link]
panglima-tni-pastikan-keamanan-ibu-kota-negara-baru-bakal-
maksimal/full&view=ok, diakses pada 17 Maret 19.22.

Manajemen Digital Government di Indonesia


68 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
MySAPK SEBAGAI GERBANG MENUJU
SISTEM INFORMASI DATA APARATUR SIPIL
NEGARA YANG TERINTEGRASI

Febri Ayu Pransiska, Muhammad Abdul Jabar, dan Siti Nur


Sakinah

Ringkasan Eksekutif
Pembangunan Sistem Informasi ASN (SIASN) merupakan
sistem yang sedang dibangun dan dikembangkan secara
berkelanjutan oleh Badan Kepegawaian Negara dalam rangka
mempermudah pelayanan kepegawaian dan mengintegrasikan
data Aparatur Sipil Negara (ASN) secara nasional yang meliputi
seluruh Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah berbasis digital.
Untuk mewujudkan satu data tersebut diawali dengan
pemutakhiran data mandiri ASN melalui My SAPK BKN.
BPSDMI Kementerian Perindustrian sebagai bagian dari
Kementerian Perindustrian telah melaksanakan pemutakhiran
data mandiri tersebut pada bulan Juli hingga Desember 2021.
Namun dalam pelaksaanaannya masih banyak kendala yang
ditemukan. Dibutuhkan komitmen dalam mengembangkan dan
merawat aplikasi yang sudah dibangun secara berkelanjutan,
peningkatan keamanan sistem agar data yang telah diinput tidak
mudah dicuri dan disalahgunakan, monitoring dan evaluasi serta
sanksi yang harus ditegakkan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

1. Latar Belakang
Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang
Satu Data Indonesia menuntut pengelolaan data di Indonesia
dikelola secara terintegrasi. Salah satunya menyangkut data
informasi kepegawaian ASN. Hal ini dikarenakan kondisi sistem
informasi kepegawaian masih dikembangkan oleh masing-

BUNGA RAMPAI 69
masing Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah. Sistem Informasi
ASN (SIASN) merupakan sistem yang sedang dibangun dan
dikembangkan secara berkelanjutan untuk mengintegrasikan
data ASN secara nasional yang meliputi seluruh Instansi
Pemerintah Pusat dan Daerah.
SIASN merupakan aplikasi yang diciptakan sebagai wujud
transformasi teknologi yang handal guna mendukung kinerja
ASN agar lebih cepat dan transparan dalam melayani
kepentingan masyarakat. SIASN diluncurkan oleh Badan
Kepegawaian Negara (BKN) sebagai bentuk kontribusi kecil
dari BKN untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa
Indonesia.
Dengan hadirnya aplikasi SIASN ini, pelaksanaan
manajemen ASN seperti manajemen kepegawaian, penetapan
NIP, kenaikan pangkat, peremajaan data, penetapan pensiun,
mutasi kepegawaian dan lainnya. SIASN juga menyatukan
sistem yang sebelumnya terpecah-pecah menjadi satu kesatuan,
sehingga proses monitoring dan pelayanan menjadi lebih
mudah. SIASN telah menerapkan sistem pelayanan berbasis
paperless. Jadi seluruh berkas akan disampaikan melalui
aplikasi ini dan ASN diberikan akses untuk melakukan
monitoring atas semua capaian atau progress yang dilakukan
oleh BKN. Ada dua sasaran pembangunan SIASN jika dilihat
dari perspektif implementasi sistem merit yaitu:
a. Menginternalisasi target tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, transparan, dan akuntabel melalui
implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
(SPBE) sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun
2018, khususnya tentang satu data ASN atau integrasi data
ASN yang dimandatkan kepada BKN;
b. Sistem ini akan digunakan untuk fokus pada penegakan
hukum dan reformasi birokrasi dalam Strategi Nasional
Pencegahan Korupsi (Stranas PK) sesuai Peraturan Presiden
Nomor 54 Tahun 2018.
Manajemen Digital Government di Indonesia
70 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Jika dilihat dari perspektif pencegahan korupsi, SIASN akan
dimanfaatkan untuk transparansi pengisian jabatan di lingkup
Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah.

Gambar 2 Ekosistem SI-ASN

2. Fokus Permasalahan
Pembangunan SIASN selain memiliki tujuan untuk
kemudahan dalam pelayanan administrasi kepegawaian, juga
mempunyai tujuan untuk mengintegrasikan data ASN yang ada
di masing-masing K/L sehingga mengurangi inefisiensi data dan
anggaran serta untuk memastikan terselenggaranya transformasi
tata kelola pemerintahan dengan berbasis digital dalam rangka
memberikan pelayanan publik yang prima.
Dalam rangka mewujudkan satu data informasi ASN tersebut
melalui SIASN, salah satu tahapannya yaitu dimulai dari
pemutakhiran data pegawai ASN secara mandiri melalui aplikasi
My SAPK. BKN telah meluncurkan SIASN pada tanggal 1 Juli
2021 saat Rapat Koordinasi Kepegawaian (Rakornas) di Bali.
Pada saat tersebut juga disampaikan terkait My SAPK.
Kementerian dan Lembaga diharapkan dapat mengisi pendataan
pegawai melalui aplikasi tersebut.
Pengisian My SAPK sendiri dilakukan sejak Juli 2021
sampai dengan bulan Oktober 2021 dan dapat diperpanjang
sesuai dengan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan
oleh admin instansi. Namun dengan catatan tetap
memperhatikan waktu yang diberikan BKN yaitu sampai dengan

BUNGA RAMPAI 71
akhir Desember 2021. Sedangkan untuk proses verifikasi dan
persetujuan data dilakukan sampai dengan bulan Januari 2022.
Di Kementerian Perindustrian telah ditunjuk Person In Contact
(PIC) sebagai admin instansi dan PIC Unit Pelaksana Teknis
(UPT) sebagai admin verifikator dalam rangka untuk melayani
keluhan dan pertanyaan serta memberikan update informasi
kepada pegawai dalam pengisian My SAPK.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri
(BPSDMI) yang merupakan bagian dari Kementerian
Perindustrian sudah melaksanakan pemutakhiran data mandiri
ini sejak 15 Juli 2021 hingga selesai di awal Desember 2021.
Dalam perjalanannya, ada beberapa kendala yang dialami oleh
BPSDMI Kementerian Perindustrian terkait teknis pelaksanaan
pengisian data ASN melalui aplikasi My SAPK yaitu:
a. Setting awal untuk login akun My SAPK menggunakan e-
mail instansi sehingga mengakibatkan banyak pegawai yang
lupa akan akses ke e-mail instansi, jadi admin verifikator
harus mengubah dari e-mail instansi ke e-mail pribadi atau
membantu pegawai untuk mereset password e-mail instansi;
b. Server sering kali maintenance, sehingga untuk login harus
mencari jam-jam luang yang jarang digunakan oleh pegawai
untuk mengisi data;
c. Sumber daya manusia yang tergolong dalam usia baby
boomers, dalam pelaksanaan pendataan ulang melalui My
SAPK tersebut membutuhkan pendampingan dalam
pengisiannya;
d. Dalam pengunggahan dokumen sering kali gagal dan butuh
mencoba berkali-kali dalam pengunggahan dokumen.

3. Metode dan Hasil


Metode pembahasan menggunakan jenis penelitian deskriptif
dengan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono (2016:9)
metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang
berdasarkan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk
Manajemen Digital Government di Indonesia
72 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya
adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument
kunci teknik pengumpulan data dilakukan secara trigulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada
generalisasi.
Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk
menggambarkan, melukiskan, menerangkan, menjelaskan dan
menjawab secara lebih rinci permasalahan yang akan diteliti
dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu,
suatu kelompok atau suatu kejadian. Dalam penelitian kualitatif
manusia merupakan instrumen penelitian dan hasil penulisannya
berupa kata-kata atau pernyataan yang sesuai dengan keadaan
sebenarnya.

4. Hasil
Sebagai payung hukum atas aplikasi My SAPK BKN ini,
BKN menerbitkan Keputusan Kepala Badan Kepegawaian
Negara Nomor 87 Tahun 2021 tentang Pemutakhiran data
Mandiri Aparatur Sipil Negara dan Pejabat Pimpinan Tinggi
Non Aparatur Sipil Negara Secara Elektronik. Dalam ketentuan
tersebut mengatur tentang tujuan dilakukan pemutakhiran data,
prosedur pengisian, dan sanksi bagi yang tidak melakukan
pemutakhiran data. Sejauh observasi penulis, dalam
pelaksanaan pengisian data pada My SAPK terdapat kendala
seperti tidak dapat masuk menggunakan ID yang telah terdaftar,
data yang telah diinput tersimpan walaupun sudah dilakukan
penyimpanan sehingga membuat pegawai menginput data secara
berulang, akun admin verifikator tidak bisa melihat progress
jumlah pegawai yang telah melakukan penginputan.

BUNGA RAMPAI 73
Gambar 3 Alur Updating Data Mandiri MySAPK

Setelah pemutakhiran data melalui My SAPK belum ada


kejelasan secara teknis terkait integrasi data antar K/L.

5. Kesimpulan
a. Desain SIASN sudah sangat baik namun dalam
pelaksanaannya belum didukung dengan infrastruktur yang
memadai. Hal ini dapat dilihat dari banyak nya kendala saat
pengisian data melalui My SAPK;
b. Belum ada output dan evaluasi yang jelas tentang data yang
telah diinput pegawai melalui My SAPK sebagai awal
perwujudan SIASN.

6. Rekomendasi/Saran
a. Berkomitmen dalam mengembangkan dan merawat aplikasi
yang sudah dibangun secara berkelanjutan serta
memperjelas output yang ingin dicapai sesuai dengan tujuan
pemberlakuan sistem informasi ASN ini;
b. Mitigasi antihacker dengan bekerja sama dengan Badan
Siber dan Sandi Negara (BSSN) agar data tidak mudah
bocor dan tersebar
c. Monitoring dan evaluasi pendataan lebih dioptimalkan dan
sebaiknya sanksi yang telah diatur dalam aturan dapat
dijalankan dengan baik dan tepat sasaran.

Manajemen Digital Government di Indonesia


74 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Daftar Pustaka
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Bandung: PT Alfabet.
Bahan Presentasi. Direktorat Pembangunan dan Pengembangan
SIASN BKN. Arah Pengembangan Sistem Informasi ASN.
2021.
Ramadhani Y. Tirto. Apa Itu SIASN, Sistem Informasi &
Integrasi Data PNS dari BKN. . diakses 16 Maret 2022 pada
laman: [Link]
-data-pns-dari-bkn-f8hb.
Aditya, Nicholas Riyan. Mudahkan Transformasi Kerja, BKN
Luncurkan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara.
Diakses 16 Maret 2022 pada laman [Link]
com/read/2020/12/17/11085241/mudahkan-transformasi-
kerja-bkn-luncurkan-sistem-informasi-aparatur-sipil?page=2

BUNGA RAMPAI 75
EVALUASI IMPLEMENTASI APLIKASI PEDULI
LINDUNGI DALAM MENDUKUNG EGOV DI
INDONESIA GUNA MENGENDALIKAN VIRUS
COVID-19

Emil Fauzi, Mhd Rizal Hasibuan dan Mira Aprianti

Ringkasan Eksekutif
PeduliLindungi adalah aplikasi yang dikembangkan untuk
membantu instansi pemerintah terkait dalam melakukan pelacakan
untuk menghentikan penyebaran Coronavirus Disease (COVID-
19). Aplikasi ini mengandalkan partisipasi masyarakat untuk saling
membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran
riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dapat dilakukan.
Pengguna aplikasi ini juga akan mendapatkan notifikasi jika berada
di keramaian atau berada di zona merah, yaitu area atau kelurahan
yang sudah terdata bahwa ada orang yang terinfeksi COVID-19
positif atau ada Pasien Dalam Pengawasan. Namun, aplikasi ini
ternyata memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan terutama
dalam hal teknis dan tata kelola serta permasalahan terkait
regulasinya dimana saat ini menuai perhatian. Aplikasi
PeduliLindungi masih terdapat permasalahan yaitu terkait
kebijakan kewajiban PeduliLindungi untuk seluruh penduduk
Indonesia menimbulkan diskriminasi pada hak masyarakat
Indonesia untuk mendapatkan layanan publik dan belum
terdaftarnya aplikasi peduliLindungi kedalam daftar Penyelenggara
Sistem Elektronik (PSE) resmi yang terdaftar di Kemenkominfo
sebagaimana bisa dilihat di laman [Link] .
Selain itu masih terdapat permasalahan pada Fitur vaksinasi di
PeduliLindungi sulit dipahami, tidak menampilkan data dan lokasi
akurat, serta tidak real time dan Sistem input PeduliLindungi
memiliki celah keamanan karena dilakukan secara manual melalui
PCare oleh ratusan ribu nakes. Sehingga membuat waktu vaksinasi
lebih lama dan banyaknya kesalahan data penerima vaksin.

Manajemen Digital Government di Indonesia


76 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
1. Latar Belakang
Pandemi merupakan sebuah epidemi yang telah menyebar ke
berbagai benua dan negara, yang umumnya menyerang banyak
orang. Sementara epidemi sendiri adalah sebuah istilah yang
telah digunakan untuk mengetahui peningkatan jumlah kasus
penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi area tertentu.
Pasalnya, istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan
tingginya tingkat suatu penyakit, melainkan hanya
memperlihatkan tingkat penyebarannya saja. Perlu diketahui,
dalam kasus pandemi COVID-19 menjadi yang pertama dan
disebabkan oleh virus corona yang telah ada sejak awal tahun
2020 lalu.
PeduliLindungi adalah aplikasi yang dikembangkan untuk
membantu instansi pemerintah terkait dalam melakukan
pelacakan untuk mengendalikan penyebaran Coronavirus
Disease (COVID-19). Ketika pandemi mulai merebak pada awal
tahun 2020, dibutuhkan suatu aplikasi untuk melacak
penyebaran virus Corona. Aplikasi PeduliLindungi menjadi
platform yang diandalkan pemerintah dan dimanfaatkan
masyarakat di tengah pandemi COVID-19. Ide pembuatan
aplikasi PeduliLindungi datang dari Ditjen Penyelenggara Pos
dan Informatika (PPI) lalu mereka berkolaborasi dengan
Telkom. PPI bekerjasama dengan Telkom. Lalu, dibuat Surat
Keputusan dikarenakan sifatnya yang darurat maka harus segera
dirujuk dengan ada payung hukum.
Tujuan dibuatnya aplikasi PeduliLindungi, tidak hanya untuk
melacak penyebaran COVID-19, tapi juga bisa dimanfaatkan
agar masyarakat tetap beraktivitas selama pandemi dengan
mengedepankan prinsip kehati-hatian. Aplikasi PeduliLindungi
berperan tidak hanya melacak penyebaran COVID-19 dengan
tracing hingga tracking, namun juga dipakai untuk dokumen
perjalanan, masuk ke mal, supermarket, sampai urusan
download sertifikat vaksin COVID-19.

BUNGA RAMPAI 77
2. Fokus Permasalahan
Forum Tata Kelola Internet Indonesia atau Indonesia Internet
Governance Forum (ID-IGF) mengumumkan telah menemukan
beberapa masalah pada PeduliLindungi, aplikasi yang dijadikan
ujung tombak dalam upaya meredam wabah Covid-19 di Tanah
Air oleh pemerintah. Salah satu yang paling menarik adalah
PeduliLindungi belum ada dalam daftar Penyelenggara Sistem
Elektronik (PSE) resmi Kominfo, seperti yang diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang
Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Padahal
aplikasi ini mulai diwajibkan pada masyarakat. Total sebanyak
12 masalah yang ditemukan oleh tim ID-IGF dibagi dalam dua
kelompok besar. Pertama adalah soal teknis. Kedua terkait tata
kelola. Adapun masalah PeduliLindungi belum terdaftar sebagai
PSE di Kominfo masuk dalam sisi tata kelola.

3. Metode dan Hasil


Metode yang kelompok kami gunakan dalam pengamatan ini
adalah menggunakan Fishbone diagram (diagram tulang ikan —
karena bentuknya seperti tulang ikan) yang sering juga disebut
Cause- and-Effect Diagram atau Ishikawa Diagram.
Diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa, seorang ahli
pengendalian kualitas dari Jepang, sebagai satu dari tujuh alat
kualitas dasar (7 basic quality tools). Fishbone diagram
digunakan ketika kita ingin mengidentifikasi kemungkinan
penyebab masalah dan terutama ketika sebuah team cenderung
jatuh berpikir pada rutinitas (Tague, 2005, p. 247).
Suatu tindakan dan langkah improvement akan lebih mudah
dilakukan jika masalah dan akar penyebab masalah sudah
ditemukan. Manfaat fishbone diagram ini dapat menolong kita
untuk menemukan akar penyebab masalah secara user friendly,
tools yang user friendly disukai orang-orang di industri
manufaktur di mana proses di sana terkenal memiliki banyak

Manajemen Digital Government di Indonesia


78 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
ragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya
permasalahan (Purba, 2008, para. 1–6)

Diagram 1. Fishbone Diagram

Langkah-langkah yang dilakukan


Untuk memperoleh data-data yang digunakan dalam analisa
ini, maka langkah-langkah yang dilaksanakan adalah sebagai
berikut :
1) Mengumpulkan data, mencari referensi melalui media
online dan melakukan diskusi kelompok terkait
permasalahan aplikasi peduliLindungi
2) Menggambarkan permasalahan pada table brainstorming
berdasarkan diagram fishbone.
3) Dari hasil diskusi masalah aplikasi peduliLindungi paling
banyak terdapat pada permasalahan di regulasi, teknologi

Possible Root Discussion Root Cause


TEKNOLOGI
1 PeduliLindungi di Play Store Aplikasi peduliLindungi saat N
sudah diunduh lebih dari 10 ini memperoleh rating yang
juta kali, dengan rating 3,8 cukup baik (4.3), dan
dari 345 ribu reviewer. keluhan yang disebutkan
Sedangkan di App Store, berdasarkan survey
PeduliLindungi memiliki kelompok tidak ditemukan
rating 2,7 dari 17 ribu
reviewer. Komentar paling
relevan didominasi oleh
bintang 1 dan dengan keluhan

BUNGA RAMPAI 79
umum berupa: Aplikasi sering
hang akibat tingginya jumlah
pengguna Aplikasi
mensyaratkan Global
Positioning System (GPS)
aktif 24 jam sehingga batere
ponsel cepat habis Kesalahan
data penerima vaksin
Penerbitan sertifikat vaksin
terlalu lama Pengguna terus
menerus diminta login ulang
dan memasukkan NIK OTP
sering gagal terkirim
2 Fitur vaksinasi di Masih sering terjadi Y
PeduliLindungi sulit keterlambatan update status
dipahami, tidak menampilkan peduliLindungi, data,dll
data dan lokasi akurat, serta
tidak real time
3 Database PeduliLindungi dan Aplikasi peduliLindungi saat N
berbagai fiturnya tidak ini memperoleh rating yang
terintegrasi antara aplikasi cukup baik (4.3), dan
web dan mobile apps, yang keluhan yang disebutkan
mengakibatkan duplikasi berdasarkan survey
akun dan kerancuan kelompok tidak ditemukan
penggunaan oleh pengguna

SECURITY
1 Kebijakan Kerahasiaan Telah membentuk satuan N
PeduliLindungi tidak tugas yang terdiri dari
menjamin keamanan data bila Kemkominfo, Kemenkes,
terjadi akses illegal
BSSN, dan Telkom untuk
melaksanakan tata kelola
terhadap aplikasi
PeduliLindungi. Satgas
tersebut akan bekerja 24/7
untuk menanggulangi dan
mengatasi serangan-
serangan siber tersebut
2 Sistem input PeduliLindungi Calon penerima vaksin N
memiliki celah keamanan verifikasi data menggunakan
karena dilakukan secara aplikasi Pcare vaksinasi. Jika
manual melalui PCare oleh mengalami masalah
ratusan ribu nakes. Sehingga verifikasi data, bisa
membuat waktu vaksinasi dilakukan secara manual

Manajemen Digital Government di Indonesia


80 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
lebih lama dan banyaknya (format atau data sasaran
kesalahan data penerima diunduh dan dicetak saat
vaksin pagi hari H pelayanan)
3 Security audit dan bug bounty Masih sering dirasakan Y
perlu dilaksanakan secara adanya masalah dengan data
periodik untuk menjamin yang belum terupdate di
keamanan sistem aplikasi sistem
PeduliLindungi maupun data- pedulilindungi
data pengguna yang tersimpan
4 PeduliLindungi Telah mengubah poin N
mencantumkan 'Syarat tersebut agar dengan
Penggunaan' yang tidak Peraturan Pemerintah
menjamin layanannya selalu nomor 71/2019 tentang
bisa diakses serta tidak Penyelenggara Sistem dan
menjamin data yang akurat Transaksi Elektronik pasal 3
dan aman yang mewajibkan setiap
Penyelenggara Sistem
Elektronik (PSE)
bertanggungjawab terhadap
penyelenggaraan sistemnya.
5 PeduliLindungi Kementerian komunikasi N
mengumpulkan data- data dan Informasi melakukan
yang melebihi kebutuhannya reverse method (metode
sehingga memperbesar terbalik), yaitu perangkat
peluang pelanggaran data digitalnya berada di
pribadi pengguna:. pengelola area publik.
Mengirimkan swa-foto dan Warga cukup membawa
KTP untuk kredensial semacam QR code tentang
permintaan bantuan dan akses dirinya untuk dipindai.
24 jam GPS mengumpulkan
IP address yang bisa
mengidentifikasi perangkat
6 Keamanan database di cloud PeduliLindungi dienkripsi N
(aspek integrity) dan domain dan hanya bisa dideskripsi
alamat Pedulilindungi serta oleh aplikasi PeduliLindungi
ketahanan (resilience) akses
Pusat Data Nasional terkait
isu utama availabilty

SDM
Layanan call center Aplikasi peduliLindungi N
PeduliLindungi sangat lambat memasukan fitur About
merespons keluhan pengguna PeduliLindungi menu
Contact us yang

BUNGA RAMPAI 81
memungkinkan pengguna
mendapatkan informasi dan
respon cenderung cukup
cepat, dan pemerintah
menggunakan layanan
pelanggan profesional multi-
channel 24 jam yang
memperlakukan pengguna
PeduliLindungi seperti
nasabah sebuah bank.

REGULASI
1 Kewajiban PeduliLindungi Masih banyak warga yang Y
untuk seluruh penduduk tidak bisa mengunduh app
Indonesia menimbulkan PL (Peduli Lindungi), misal
diskriminasi pada hak karena tidak punya HP
masyarakat Indonesia untuk
mendapatkan layanan publik.
Sebab, penetrasi ponsel
cerdas di Indonesia baru
mencapai 58% populasi,
sehingga ada 42% masyarakat
yang tidak bisa
mengunduhnya meski sudah
vaksin
2 Aplikasi Peduli Lindungi Saat ini masi belum terdaftar Y
bersifat mandatory bagi sebagai
masyarakat, tetapi tidak ada PenyelenggaraSistem
dalam daftar Penyelenggara Elektronik (PSE)
Sistem Elektronik (PSE)
resmi yang terdaftar di
Kemenkominfo sebagaimana
bisa dilihat di laman
[Link]
Karenanya, aplikasi ini perlu
segera didaftarkan sebagai
PSE sehingga statusnya legal
dan terpercaya
Tabel 1. Table Brainstorming

4. Kesimpulan
Aplikasi PeduliLindungi masih terdapat permasalahan yaitu
terkait kebijakan kewajiban PeduliLindungi untuk seluruh
penduduk Indonesia menimbulkan diskriminasi pada hak

Manajemen Digital Government di Indonesia


82 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan publik dan
belum terdaftarnya aplikasi peduliLindungi kedalam daftar
Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) resmi yang terdaftar di
Kemenkominfo sebagaimana bisa dilihat di laman
[Link] Selain itu masih terdapat
permasalahan pada Fitur vaksinasi di PeduliLindungi sulit
dipahami, tidak menampilkan data dan lokasi akurat, serta tidak
real time dan Sistem input PeduliLindungi memiliki celah
keamanan karena dilakukan secara manual melalui PCare oleh
ratusan ribu nakes. Sehingga membuat waktu vaksinasi lebih
lama dan banyaknya kesalahan data penerima vaksin.

5. Rekomendasi dan Saran


Dari permasalahan yang ditemukan, kami memberikan
rekomendasi dan saran sebagai berikut:
a. Fitur vaksinasi di PeduliLindungi sulit dipahami, tidak
menampilkan data dan lokasi akurat, serta tidak real time
Rekomendasi :
Tim Teknis Peduli lindungi Perlu melakukan maintenance
secara berkala, menguji aplikasi terkait permasalahan eror
dan bug pada aplikasi. Referensi permasalahan dapat
diambil dari komentar kritis pada play store, aduan via
email dan opini-opini yang berkembang masyarakat.
b. Sistem input PeduliLindungi memiliki celah keamanan
karena dilakukan secara manual melalui PCare oleh ratusan
ribu nakes. Sehingga membuat waktu vaksinasi lebih lama
dan banyaknya kesalahan data penerima vaksin
Rekomendasi :
Kementerian Kesehatan perlu membuat aturan teknis terkait
sertifikasi untuk nakes yang akan mengelola PCare, pola
sertifikasinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan
permasalahan tersebut, seperti kompetensi khusus terkait
pemahaman pentingnya keamanan data dan integritas dalam

BUNGA RAMPAI 83
mengelola data publik yang bersifat rahasia agar tidak
disalahgunakan.
c. Kewajiban PeduliLindungi untuk seluruh penduduk
Indonesia menimbulkan diskriminasi pada hak masyarakat
Indonesia untuk mendapatkan layanan publik. Sebab,
penetrasi ponsel cerdas di Indonesia baru mencapai 58%
populasi, sehingga ada 42% masyarakat yang tidak bisa
mengunduhnya meski sudah vaksin
Rekomendasi :
Di setiap tempat publik disediakan terminal check-in
manual dengan input Nomor Induk Kependudukan (NIK)
melalui layar dashboard terhubung ke front-end Peduli
Lindungi melalui API, alternatif input lainnya dengan RFID
reader untuk tap chip KTP Elektronik atau dengan scan QR
Code, dengan cara tersebut, masyarakat umum hanya perlu
membawa kartu vaksin atau e-KTP untuk dipindai oleh
petugas di area publik.
d. Aplikasi Peduli Lindungi bersifat mandatory bagi
masyarakat, tetapi tidak ada dalam daftar Penyelenggara
Sistem Elektronik (PSE) resmi yang terdaftar di
Kemenkominfo sebagaimana bisa dilihat di laman
[Link] Karenanya, aplikasi ini perlu
segera didaftarkan sebagai PSE sehingga statusnya legal
dan terpercaya.
Rekomendasi :
Aplikasi Peduli Lindungi didaftarkan ke Penyelenggara
Sistem Elektronik (PSE) resmi yang terdaftar di
Kemenkominfo, agar dapat memberikan pelayanan yang
cepat, akurat, transparan sehingga mendorong peningkatan
kualitas penyelenggara sistem transaksi elektonik serta
meningkatkan peran serta dan tingkat kepercayaan
masyarakat dalam pemanfaatan TIK.
e. Penambahan Fitur Foto untuk user Aplikasi Peduli
Lindungi. agar pada saat dilakukan scan barcode oleh user,
Manajemen Digital Government di Indonesia
84 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
petugas Aplikasi Peduli Lindungi dapat memeriksa
kesesuaian foto dengan user.

Daftar Pustaka
[Link]. 9 September 2021. Ini 15 Masalah di Aplikasi
PeduliLindungi yang Harus Diperbaiki. Diakses pada 13
Maret 2022 dari [Link]
5716818/ini-15-masalah-di-aplikasi-pedulilindungi-yang-
harus-diperbaiki
[Link]. September 2021. ID-IGF Ungkap 15 Masalah
Aplikasi PeduliLindungi, Termasuk Belum Terdaftar di
Kominfo. Diakses pada 13 Maret 2022 dari
[Link]
ungkap-15-masalah-aplikasi-pedulilindungi-termasuk-belum-
terdaftar-di-kominfo
[Link]. 24 Desember 2011. Fishbone Diagram dan
Langkah-Langkah Pembuatannya. Diakses pada 15 Maret
2022 dari [Link]
diagram-dan-langkah-langkah-pembuatannya/

BUNGA RAMPAI 85
APLIKASI “SEKALI SENTUH” BAGI
PENINGKATAN KINERJA ANGGOTA DPD RI
SEBAGAI WUJUD PENERAPAN E-GOVERNMENT
DI LINGKUNGAN KERJA DPD RI

Annissa Annashr Syarifah, Alifa Maulidia, Dian Puji


Raharti

Ringkasan Eksekutif
Lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia
merupakan lembaga negara yang merepresentasikan
kepentingan rakyat. Berbagai aspirasi rakyat dari daerah
terfokus pada sejauh mana kelembagaan tersebut yang terdiri
darianggota DPD RI dengan dukungan perangkat staf keahilan
dan kesekretariatan DPD RI mengemban amanah yang
dititipkan kepada mereka. Namun dalam kenyataannya, aspirasi
masyarakat senantiasa terhambat dengan informasi yang
cenderung diterima secara lambat, tidak secara langsung
danterkesan berbelit-belit untuk sekedar ditindaklanjuti sebagai
isu kelembagaan. Maka diciptakan aplikasi “Sekali Sentuh”
dimana hal ini dimaksudkan untuk anggota DPD RI menerima
kemudahan dalam memperoleh data yang cepat, tepat dan akurat
dimanapun berada dengan waktu yang tidak terbatas sesuai
kebutuhan alat kelengkapan masing-masing anggota DPD RI.

1. Latar Belakang
Berdasarkan data Kesekretariatan Jenderal DPD RI isu-isu
kedaerahan terbilang sulit ditindaklanjuti secara langsung akibat
dari informasi yang lambat diperoleh dan jangkauan informasi
yang cukup jauh. Demikian juga, jawaban-jawaban atas
persoalan masyarakat pun terkadang tersosialisasi dengan baik
akibat informasi yang tidak mudah menyebar.
Hal lain adalah, anggota DPD RI terbiasa dengan
dokumentasi fisik untuk menindaklanjuti sebuah persoalan.

Manajemen Digital Government di Indonesia


86 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
Mereka terbiasa dengan menerima dokumen yang bertumpuk
di atas meja kerja, lalu merangkumnya dan meminta staf atau
kesekretariatan untuk membawanya ke sana kemari. Selain
waktu membaca yang terbatas, dokumen tersebut hanya bisa
diperoleh saat aktivitas kantor sedang berlangsung.
Sementara di tempat lain, dimana anggota DPD RI juga
beraktivitas di luar kantor, justru dokumentasi tersebut tidak
terjamah.

2. Fokus Permasalahan
Dalam menjalankan tugas sehari hari sekertariat DPD RI
masih dilaksankaansecara konvensional (manual), tidak adanya
digitalisasi dan aplikasi. Sehingga berpengaruh terdahap
jalannya kerja pegawai. Terlebih lagi Anggota DPD RI masih
terbiasa dengan dokumen fisik. Akibatnya, dalam menyajikan
data, sekertariat DPD RI sering mengalami kesulitan, karena
sulit menemukan data, data hilang, penglolahan data tidak bisa
dilakukan di luar kantor. Dari permasalahan tersebut maka
diperlukan aplikasi untuk mendukung kerja harian bagian
sekertariat DPD RI. Maka dibuatlah Aplikasi “Sekali Sentuh”
untuk menwujudkan penerapan E-Government.

3. Metode dan Hasil


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis
SWOT. Analisis SWOT adalah metode analisis perencanaan
strategis yang digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi
lingkungan perusahaan baik lingkungan eksternal dan internal
untuk suatu tujuan bisnis tertentu. SWOT merupakan
akronimdari kata: kekuatan (strengths), kelemahan(weaknesses),
peluang (opportunities), danancaman (threats) dalam suatu
proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang
membentuk akronim SWOT.
Metode yang diajukan dalam mengajukan kebijakan ini
adalah kepentingan bersama tentang pentingnya e-government.

BUNGA RAMPAI 87
Menurut World Bank, e-Government didefinisikan sebagai
“Penggunaan/pemanfaatan teknologi informasi oleh lembaga
pemerintah untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat,
pelaku bisnis, dan sekaligus menfasilitasi kerja sama dengan
lembaga pemerintah lainnya”. Lebih lanjut, menurut World
Bank, e-Government harus diarahkan pada pemberdayaan
masyarakat melalui akses yang luas terhadap informasi yang
tersedia.

ANALISIS Aplikasi “Sekali Sentuh”


A. STRENGTH
- Kemudahan dalam pengiriman surat dari masyarakat ke
DPD RI.
- Kemudahan berkas dapat diakses dimana saja.
- Meningkatkan efisiensi kerja.
- Paperless.
- Data terintegritas.
B. WEAKNESS
- Bila tidak ada internet aplikasitidak dapat diakses.
- Penggunaan memory yangbesar dalam aplikasi.
- Perlu pemahaman mengenai teknologi.
- Maintenance aplikasi yang biayanya tidak murah.
C. OPPORTUNITY
- Anggota DPD dan Sekertariat DPD mengikuti
perkembangan teknologi
D. THREAT
- Hacker.
- Sistem yang terpisah membuat masyarakat harus akses
banyakaplikasi.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :


Untuk menindaklanjuti kebijakan ini, diperlukan dukungan
semua pihak yang berkepentingan langsung dengan peningkatan

Manajemen Digital Government di Indonesia


88 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
kinerja DPD RI. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1) Sosialisasi kebijakan Aplikasi “Sekali Sentuh” sebagai
bagian penting dari e-government.
2) Melakukan pembiasaan baru terhadap Anggota DPD RI
yang notabene dihuni oleh orang-orang yang belum tentu
mampu menjalankan aplikasi tersebut dengan akibat. Belum
lagi resistensi mereka atas penggunaan teknologi digital
yang seakan memantau seluruh kinerja mereka dalam layar
sentuh.
3) Menganalisasi potensi-potensi jangkauan informasi dari
masyarakat daerah serta memetakan jangakaun informasi
tersebut agar dapat diaksessecara timbal-balik, baik oleh
DPD RI maupun olehmasyarakat.
4) Sebagai hasil teknologi, e- government juga harus
memenuhi penerimaan secara luas oleh seluruh pihak yang
berada dalam lingkungan DPD RI. Halini penting
diperhatikan agar siapapun yang berada dalam lingkungan
DPD RI dapat melakukan pemantauan atas kinerja DPD RI.

4. Kesimpulan
Diperlukan visi dan misi yang sama tentang pentingnya
keterbukaan informasi di era digital. Tanpa kesamaan visi dan
misi, maka resistensi e- government melalui aplikasi “sekali
sentuh” tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu, diperlukan
dukungan keahlian dari SDM DPD RI untuk menjalankan
aplikasi tersebut secara baik agar tidak disalahgunakan justru
untuk mengibarkan eksistensi DPD RI di mata publik.

BUNGA RAMPAI 89
Manajemen Digital Government di Indonesia
90 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
CHAPTER
4

BUNGA RAMPAI 91
EFEKTIVITAS PUBLIKASI LAYANAN APLIKASI
JAKI SEBAGAI WUJUD IMPLEMENTASI
JAKARTA SMART CITY

Randy Tamara, Mustofa, Mikhela Nafi

Ringkasan Eksekutif
Jakarta menjadi salah satu kota di dunia yang menerapkan
konsep Smart City untuk kemajuan kotanya. Konsep Smart City
adalah pengembangan kota dengan memanfaatan teknologi dan
informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Salah
satunya dengan menghadirkan aplikasi super JAKI (Jakarta
Kini) untuk melayani beragam kebutuhan warga Jakarta.
Aplikasi Jakarta Kini (JAKI) dirancang sebagai aplikasi yang
dapat memujudkan kota pintar efisien dan efektif dalam
mengubah Jakarta menjadi kota metropolitan yang cerdas dan
lebih baik. Jakarta Smart City memiliki 6 karakteristik yaitu
Smart Governance, Smart People, Smart Living, Smart Mobility,
Smart Economy, dan Smart Environment. Namun dalam
penerapannya masih terdapat permasalahan. Dalam hal ini
penulis mengunakan metode analisis kualitatif untuk
menemukan focus akar permasalahan dan menemukan
rekomendasi bagi permasalahn tersebut.

1. Latar Belakang
Jakarta menjadi salah satu kota di dunia yang menerapkan
konsep Smart City untuk kemajuan kotanya. Konsep Smart City
adalah pengembangan kota dengan memanfaatan teknologi dan
informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Di
bawah Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik
(Diskominfotik) DKI Jakarta, dibentuklah Jakarta Smart City
sebagai sebuah Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang
kini mengelola penerapan Smart City di Jakarta. Salah satunya
Manajemen Digital Government di Indonesia
92 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
dengan menghadirkan aplikasi super JAKI (Jakarta Kini) untuk
melayani beragam kebutuhan warga Jakarta.
JAKI sebagai aplikasi yang memuat berbagai fitur ini bisa
hadir dalam genggaman kita karena memanfaatkan
pengembangan aplikasi berbasis Android dan iOS. JAKI
menjadi sebuah tempat dimana berbagai teknologi yang menjadi
dasar setiap fiturnya berkumpul menjadi satu. Contohnya, fitur
JakISPU yang bisa melihat kualitas udara di Jakarta dengan
menggunakan teknologi sensor yang dipasang di berbagai titik
di Jakarta. Berbagai fitur lain dalam JAKI, seperti JakPangan,
JakWifi, dan sebagainya bersumber dari dinas-dinas tertentu
yang mengelola berbagai informasi terkait. Hal ini menunjukkan
bahwa JAKI merupakan platform yang memfasilitasi dinas-
dinas untuk menyajikan layanan atau data yang mudah
dikonsumsi publik.
Ada pula fitur andalan JAKI, JakLapor, yang terkait dengan
platform Cepat Respon Masyarakat (CRM) untuk mengelola
berbagai pengaduan warga Jakarta. Aplikasi JAKI “Jakarta
Kini” merupakan sebuah perwujudan dari konsep Jakarta Smart
City yang mengacu kepada pemanfaatan teknologi internet
dalam mewujudkan kota Jakarta yang lebih pintar. Aplikasi ini
merupakan aplikasi yang berbasiskan teknologi internet.
Aplikasi JAKI diproyeksikan menjadi aplikasi pusat informasi
resmi untuk masyarakat Jakarta.

2. Fokus Permasalahan
Berdasarkan data yang ditemukan dari berbagai sumber
referensi,tanggapan dari pengguna, penulis menemukan salah
satu focus permasalahan adalah proses komunikasi yang
dilakukan Humas Pemprov DKI Jakarta dalamm
menyebarluaskan terkait program pemerintah Jakarta Smart City
dalam aplikasi JAKI “Jakarta Kini”. Kemudian, dilihat dari
jumlah pengguna yang menggunakan secara aktif aplikasi JAKI
“Jakarta Kini” belum sesuai target terlihat dari jumlah penduduk

BUNGA RAMPAI 93
masyarakat DKI Jakarta, sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwa proses komunikasi yang digunakan selama ini dapat
dinilai excellence tetapi tidak seimbang.
Dari jumlah penduduk DKI Jakarta yang lebih dari 10 juta
penduduk, dengan jumlah penduduk usia produktif yang
berkisar kurang lebih 7,5 juta penduduk, dan hanya 500.000 ribu
lebih downloader yang telah mendownload aplikasi tersebut.
Terlihat dari kurang optimalnya kinerja yang dilakukan Humas
Pemprov DKI Jakarta dalam mengkomunikasikan aplikasi JAKI
“Jakarta Kini” kepada masyarakat.

3. Metode dan Hasil


Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi
kasus menggunakan metode kualitatif yakni penelitian yang
menekankan kualitatif dan deskriptif analisis data yang diambil
dari berbagai sumber data.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :


1) Pengumpulan data. Dalam hal ini penulis mengumpulkan
data dari studi literatur berdasarkan refensi digital, hasil
review masyarakat, pihak swasta dan mengumpulkan dari
survei layanan aplikasi JAKI
2) Identifikasi akar masalah
Kurang optimal kinerja dari Humas Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta, dalam hal ini merencanakan dan
mengembangkan komunikasi yang lebih bersifat up to
down, untuk memperlancar tujuan utama dari Humas dan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut yaitu
mempublikasikan kepada masyarakat Provinsi DKI Jakarta
mengenai aplikasi JAKI “Jakarta Kini”.

4. Kesimpulan
Dari data yang penulis dapatkan melalui google play store
dapat terlihat bahwasannya efek dari publikasi aplikasi JAKI
Manajemen Digital Government di Indonesia
94 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
“Jakarta Kini” yang dilakukan Humas Pemprov DKI Jakarta dan
jakarta smart city selama dua tahun dinilai masih jauh dari
target, dari data yang didapatkan yaitu sudah 500.000 ribu lebih
downloader dari 10,56 juta penduduk di Provinsi DKI Jakarta
dan tak dipungkiri masih banyak masyarakat yang belum
mengetahui tentang aplikasi JAKI “Jakarta Kini” atau belum
tertarik untuk mendownloadnya. Sehingga diperlukan solusi
bagi permasalahan tersebut.

5. Rekomendasi/Saran
a. Mengoptimalkan sosialisasi dan diskusi kepada masyarakat
dengan cara terjun langsung di masyarakat dan memberikan
edukasi tentang manfaat pelayanan public yang dapat
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pengguna Aplikasi
JAKI
b. Mempromosikan JAKI melalu berbagi media, baik media
massa maupun media cetak dan sarana informasi umum
lainnya yang di miliki oleh pemerintah.

BUNGA RAMPAI 95
MEWUJUDKAN EFEKTIVITAS PELAYAN
E-KTP SEBAGAI IMPLEMENTASI SMART
CITY DI JAKARTA

Fidiah Rahmah dan Nur Majdina Hibaturrahman

Ringkasan Eksekutif
Surabaya menjadi salah satu kota di Indonesia yang
menerapkan Smart City untuk pengembangan kotanya. Smart
City hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kota
Surabaya. Salah satu bukti penerapan Smart City adalah
hadirnya E-KTP. Pembuatan Kartu Tanda Penduduk atau KTP
diharapkan juga memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu
maupun prosedur dalam pelayanannya. Tujuan awal adanya E-
KTP yakni terbangunnya data base yang online hingga dari
pemerintah desa hingga ke pemerintah pusat. Namun, dalam
penerapannya masih ditemukan berbagai macam permasalahan.
Dalam hal ini, penulis menggunakan analisis fishbone untuk
menemukan fokus akar permasalahannya dan menemukan
rekomendasi dari permasalahan tersebut.

1. Latar Belakang
Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang
menerpakan konsep smart city untuk kemajuan kotanya. Dalam
implementasinya, Surabaya sudah menerapkan beberapa
teknologi Smart City diantaranya adalah Smart Government,
Smart Economy, Smart Environment, Smart Living, Smart
People, dan Smart Mobility. Smart Government merupakan
salah satu elemen dasar yang harus dipenuhi untuk mewujudkan
Smart City. Smart Government dapat menopang dan menjamin
kemudahan akses layanan secara efektif.

Manajemen Digital Government di Indonesia


96 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
KTP elektronik salahsatu wujud smart government dalam
smart city. e-KTP merupakan program yang diselenggarakan
oleh pemerintah sejak tahun 2011. Manfaat KTP Elektronik
dimana diperlukan lagi perpanjangan KTP karena berlaku
seumur hidup, tidak dapat dipalsukan, digandakan, mendukung
terwujudnya data base yang akurat. Namun seiring dengan
perubahan tersebut ditemukan kendala kendala dalam
pemrosesannya sehingga menyebabkan tidak kurang dari
masyarakat yang belum memiliki e-KTP karena kendala tersebut

2. Fokus Permasalahan
Berdasarkan data yang kami dapat dari beberapa sumber
faktor permasalahan yang di termukan selain permasalahan
material seperti alat pencetakan perekaman e-KTP dan blanko
yang kosong, faktor SDM merupakan faktor yang paling
dominan, kurang sigap serta lamban dalam memberikan
pelayanan dan kurang terampil dalam menggunakan alat cetak
e-KTP dikarenakan kurangnya pengawasan dan pelatihan.

3. Metode dan Hasil


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
fishbone. atau yang sering disebut juga Cause Effect Diagram
merupakan sebuah metode yang digunakan untuk membantu
memecahkan masalah yang ada dengan melakukan analisis
sebab dan akibat dari suatu keadaan dalam sebuah diagram yang
terlihat seperti tulang ikan

Diagram 1. Metode Fishbone

BUNGA RAMPAI 97
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
1) Pengumpulan data. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan
data dari studi literatur dan hasil review masyarakat
2) Identifikasi akar masalah. Berdasarkan bagan
fishbone di atas, maka banyak ditemukan akar masalah pada
bagian SDM yaitu kurang sigap serta lamban dalam
memberikan pelayanan dan kurang terampil dalam
menggunakan alat cetak e-KTP dikarenakan kurangnya
pengawasan dan pelatihan

Namun Saat ini Dispendukcapil Surabaya sudah memiliki


aplikasi Surabaya e-ID. Didalammya ada beberapa layanan
seperti cek status kependudukan sehingga dapat diketahui
apakah e-KTP sudah selesai proses atau belum sehingga akan
cepat dalam memberikan informasi kepada masyarakat

4. Kesimpulan
Keluhan paling banyak yang dirasakan oleh masyarakat
dalam pelayanan e-KTP adalah lambannya pelayanan e-KTP
yang didominasi dari kurang terampilnya pegawai dalam
mengaplikasikan sistem dan kurangnya pengetahuan dalam
penggunanaan alat e-KTP

6. Rekomendasi/Saran
a) Memberikan pelatihan kepada pegawai terkait penggunaan
alat perekaman dan pencetakaan secara maksimal agar
pelayanan yang diberikan lebih efektif dan efisien serta
sebagai langkah antisipasi jika terdapat hambatan dan
kendala dalam penggunaan alat selama proses pelayanan
diberikan.
b) Memberikan pelatihan juga diberikan pada bagian
administrasi berupa pembekalan dalam menangani berbagai
permasalahan dan keluhan yang dialami masyarakat terkait

Manajemen Digital Government di Indonesia


98 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
pembuatan e-KTP beserta langkah dan solusi yang harus
diberikan
c) Penambahan jam pelayanan juga dilakukan diluar hari kerja
yaitu sabtu dan minggu meski pelayanannya hanya dibuka
sampai sore.
d) Menerapkan pembagian shift pegawai agar tugas aparatur
tidak terlalu berat karena lamanya jam pelayanan yang
diberikan
e) Penambahan tenaga outsourcing dan magang di tingkat
Kecamatan

BUNGA RAMPAI 99
MEWUJUDKAN EFEKTIVITAS BANDUNG
COMMANDCENTER SEBAGAI
IMPLEMENTASI SMART CITY DI BANDUNG

Riska Widna, Rosmawati

Ringkasan Eksekutif
Bandung menjadi salah satu kota di Indonesia yang
menerapkan Smart City untuk pengembangan kotanya. Smart
City hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kota
Bandung. Salah satu bukti penerapan Bandung Smart City
adalah hadirnya Bandung Command Center. Fungsi utama
adanya Bandung Command Center ini untuk pusat komando itu
adalah mengawasi kerja pegawai negeri sipil dalam melayani
publik, memasok data lengkap dari dinas serta badan, serta
memantau kondisi kota lewat kamera pengawas. Namun, dalam
penerapannya masih ditemukan berbagai macam permasalahan.
Dalam hal ini, penulis menggunakan analisis fishbone untuk
menemukan fokus akar permasalahannya dan menemukan
rekomendasi dari permasalahan tersebut.

1. Latar Belakang
Kota Bandung merupakan salah satu kota yang mencoba
merespon perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Sejak Kota Bandung di pimpin oleh walikota periode 2013-
2018, salah satu terobosan baru yang pertama kali dilakukan
adalah dengan memanfaatkan media sosial untuk menyapa
warganya. Berdasarkan hal tersebut Walikota mengeluarkan
kebijakan kepada seluruh perangkat daerah untuk memiliki akun
media sosial dalam menjalankan tupoksinya hal tersebut
berguna agar masyarakat dapat melihat kinerja nyata dari setiap
satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Kota Bandung. Tidak

Manajemen Digital Government di Indonesia


100 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
hanya itu kebijakan ini juga berfungsi untuk mempermudah
komunikasi antara Walikota dengan SKPD maupun sesama
SKPD.
Pesatnya perkembangan teknologi rupanya dipandang
sebagai suatu peluang baru untuk mereformasi sistem
pemerintahan yang ada di Kota Bandung. Sekarang pemerintah
Kota Bandung mulai gencar memanfaatkan TIK dalam
menjalankan pemerintahannya. Pemanfaatan TIK dalam
penyelenggaraan pemerintahan di Kota Bandung di anggap akan
mempermudah saluran komunikasi baik itu komunikasi yang
bersifat vertikal ataupun horizontal, dan dapat mempercepat
pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Selain itu dengan
memanfaatkan TIK juga dapat menghemat waktu dan biaya
yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Bandung karena segala
sesuatu dapat diakses secara online dan terintegrasi

2. Fokus Permasalahan
Masalah kemacetan menjadi perhatian utama Walikota
Bandung,Ridwan Kamil. Dimana melalui janji politiknya
selama masa kampanye,Ridwan Kamil menjanjikan Bandung
Resik dengan salah satu indikatornya adalah bebas macet dalam
4 tahun. Hal ini dilatar belakangi karena kemacetan menjadi
masalah yang paling sering terjadi di kota Bandung.
Dibandingkan dengan masalah banjir, sampah dan kriminalitas,
kemacetan menempati urutan pertama dengan persentase 40%1.
Menurut Kementrian Perhubungan, kota Bandung merupakan
salah satu dari tiga kota di Indonesia yang memiliki tingkat
kemacetan paling tinggi. Hal ini didasari pada hasil penilaian
terhadap perbandingan antara jumlah kendaraan dengan daya
tampung jalan (VCR) dengan laju kendaraan yang melintas.
Berdasarkan hasil identifikasi Dinas Perhubungan Kota
Bandung, kondisi kemacetan jalan dipengaruhi oleh 32 (tiga
puluh dua) aspek sebagai berikut : (1) Panjang jalan/lebar jalan;
(2) Kondisi jalan; (3) Jumlah kendaraan pribadi; (4)

BUNGA RAMPAI 101


Persimpangan yang terlalu dekat; (5) Sekolah; (6) Pasar
Tumpah/PKL; (7) Pangkalan liar; (8) Parkir; (9) Kendaraan
jemputan anak sekolah; (10)Angkot; (11) Kesadaran
masyarakat; (12) Displin pengemudi; (13) Kendaraan dari luar
Kota Bandung; (14) Becak melawan arus; (15) Shelter;
(16)Traffic light; (17) Perumahan; (18) Perubahan Fungsi
bangunan; (19)Banjir; (20) Marka jalan dan rambu lalu lintas;
(21) SDM petugas; (22) Dana; (23) Anak jalanan; (24) Jaringan
jalan; (25) Perbaikan jalan/galian kabel/perbaikan; (26)
Perlintasan kereta api; (27) Pusat perbelanjaan/Mall; (28)
Bongkar muat; (29) Penerangan jalan umum; (30) Gerakan
pejalan kaki; (31) Pool/Agen bus; (32) Luas terminal.

3. Metode dan Hasil


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dijadikan
sebagai pendekatan utama digunakan karena mampu
menghasilkan deskripsi atas sesuatu keadaan secara obyektif
melalui serangkaian langkah- langkah pengumpulan data,
pengelolaan data dan analisisnya dengan memanfaatkan
berbagai sumber yang relevan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :


1) Desk Research, Desk research dilakukan untuk memperoleh
berbagai data sekunder melalui studi dokumentasi yang
dilakukan sebelum dan setelah dari lapangan. Sebelum ke
lapangan, studi dokumentasi dilakukan untuk
mengumpulkan dan menggali data sekunder yang berkaitan
dengan permasalahan dari buku-buku teks, website dan
dokumen-dokumen yang relevan sebagai bahan penyusunan
latar belakang masalah, tinjauan pustaka dan kerangka
pemikiran dan analisis dokumen kebijakan yang terkait
dengan kebijakan pengembangan BCC. Sedangkan studi
dokumentasi yang dilakukan setelah dari lapangan adalah
Manajemen Digital Government di Indonesia
102 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
untuk menganalisis substansi kebijakan pengembangan
BCC.
2) Field Research (Penelitian Lapangan) Field research
(penelitian lapangan) dilakukan untuk mengumpulkan data
primer secara purposive sampling dengan strategi snowball
sampling dimana pemilihan informan yang dijadikan
sampel dipilih secara berantai tergantung data yang
dikumpulkan. Informan adalah dari Walikota Bandung dan
pejabat di beberapa instansi pemerintah Kota Bandung yaitu
Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Perhubungan,
dan Kecamatan Cinambo Adapun teknik pengumpulan data
lapangan dilakukan dengan wawancara semi struktur
dimana peneliti telah menyiapkan intrumen penelitian
berupa pedoman wawancara namun dalam pelaksanaanya
pewawancara tidak mengatur proses wawancara secara
sistematis dikarenakan waktu yang terbatas. faktor
penyebab kemacetan di Kota Bandung secara berurutan
yaitu (1) political will dan political action, (2) tata guna
lahan, (3) kendaraan pribadi, (4) penegakan hukum, (5)
gangguan samping (pemukiman dan pembangunan), (6)
kondisi manajemen infrastruktur, (7) kondiisi jaringan,
(8) psikologi masyarakat, (9) komuter, dan (10) kegiatan
pariwisata. Selain itu juga mengklasifikan faktor turunan
yang paling berkontribusi terhadap kemacetan di Kota
Bandung secara berurutan yaitu (1) kendaraan pribadi, (2)
pembangunan perumahan, perdagangan dan pendidikan, (3)
penyimpangan tata guna lahan, (4) political willdan political
action kurang tegas dalam tata guna lahan, (5) political will
dan political action kurang mendukung sarana dan
prasarana transportasi publik, (6) tingginya aktiivitas
ekonomi namun tidak merata, dan (7) transportasi publik
yang tidak aman, tidak nyaman, tidak tepat waktu, dan tidak
terintegrasi.

BUNGA RAMPAI 103


4. Kesimpulan
Sosok Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung menjadi
faktor kunci keberhasilan pengembangan BCC. Dan dalam
tahap implementasi kebijakan, Walikota Bandung masih
terkendala masalah birokrasi dalam hal pengintegrasian data dan
sistem antar instansi seperti Dishub dan Kepolisian.

5. Rekomendasi dan Saran


a. Pemerintah kota Bandung hendaknya menyusun rencana
induk (masterplan) pengembangan BCC agar strategi dan
perencanaan ke depannya menjadi jelas dan
terukuremergensi agar penumpang bisa menghubungi
kontak tersebut apabila sopir berkendara dengan cepat dan
tidak sesuai aturan.
b. BCC lebih berperan aktif dalam menindaklanjuti data
dilapangan. Misalnya jika terdeteksi penumpukan
kendaraan di satu titik, hendaknya operator BCC langsung
berkoordinasi dengan Dishub dan Kepolisian untuk
menindaklanjuti. Jadi tidak hanya sebatas berperan dalam
pengumpulan data.

Daftar Pustaka
“Kinerja Dinas Komunikasi dan Informatiku (DISKOMINFO)
Kota Bandung dalam Mewujudkan Bandung Smart City
Governance” , Dari Link ([Link]
1/741/jbptunikompp-gdl-adityazulp-37045-1-unikom_a-[Link])
2015. Bandung Command Center-Awas Ada Star Trek di
Bandung dari Link ([Link]
bandung-commandcenter/#:~:text=Sahabat%20traveller's%
20wisata%20bandung%2CCommand,di%20dalam%20sebua
h%20ruangan%20khusus.)
Pengukuran Indikator Keberhasilan Bandung Smart City “
Kasus Studi Bandung Command Center dari Link
([Link]
Manajemen Digital Government di Indonesia
104 (Kumpulan Kajian Kebijakan)
[Link])
Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur.
Pengembangan Bandung Command Center : Kebijakan dan
Peranannya dalam Mengatasi Permasalahan (2015), dari Link
([Link]
M%20BCC%[Link])

BUNGA RAMPAI 105

Anda mungkin juga menyukai