0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Program PAMSIMAS: Akses Air dan Sanitasi

Program PAMSIMAS adalah inisiatif pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi di wilayah perdesaan dan peri-urban, menargetkan tambahan 22,1 juta orang untuk air minum aman dan 14,9 juta untuk sanitasi layak. Program ini melibatkan pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan terintegrasi, serta berfokus pada desa miskin dan berisiko tinggi penyakit diare. Sejak 2006, program telah menjangkau lebih dari 80% kabupaten dan diharapkan mencapai akses universal air minum dan sanitasi layak pada tahun 2030.

Diunggah oleh

p3aengasmakmur
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Program PAMSIMAS: Akses Air dan Sanitasi

Program PAMSIMAS adalah inisiatif pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi di wilayah perdesaan dan peri-urban, menargetkan tambahan 22,1 juta orang untuk air minum aman dan 14,9 juta untuk sanitasi layak. Program ini melibatkan pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan terintegrasi, serta berfokus pada desa miskin dan berisiko tinggi penyakit diare. Sejak 2006, program telah menjangkau lebih dari 80% kabupaten dan diharapkan mencapai akses universal air minum dan sanitasi layak pada tahun 2030.

Diunggah oleh

p3aengasmakmur
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Program PAMSIMAS adalah inisiatif pemerintah Indonesia untuk menyediakan air minum dan

sanitasi berbasis masyarakat di wilayah perdesaan dan peri-urban, dengan tujuan meningkatkan
akses layanan berkelanjutan bagi jutaan penduduk.

Tujuan Utama

Program ini menargetkan tambahan 22,1 juta orang akses air minum aman dan 14,9 juta akses
sanitasi layak, serta mempromosikan perilaku hidup bersih sehat seperti Stop BABS (Buang Air Besar
Sembarangan) dan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) di minimal 60% masyarakat dusun sasaran.
Sasaran lokasi mencakup desa dengan cakupan air minum dan sanitasi di bawah 100%, prioritas pada
daerah miskin, tertinggal, dan berisiko tinggi penyakit diare.
Sejak 2006, program telah menjangkau lebih dari 80% kabupaten, dengan pendekatan inklusif
disabilitas sejak 2016.

Komponen Program

Program dibagi menjadi lima komponen utama untuk pengelolaan terintegrasi.

Komponen Deskripsi Singkat

1: Pemberdayaan Pengembangan kapasitas masyarakat, desa, dan daerah melalui


Masyarakat & pelatihan, perencanaan RKM (Rencana Kerja Masyarakat), dan
Kelembagaan fasilitasi fasilitator.

2: Peningkatan Perilaku Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan pilar seperti Stop
Hidup Bersih BABS, CTPS, pengelolaan air/sampah/limbah rumah tangga.

Pembangunan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum), sanitasi


sekolah, dan komunal; opsi teknologi dipilih masyarakat (baru,
3: Penyediaan Sarana perluasan, peningkatan).

Insentif untuk desa/kabupaten berkinerja baik (HIK/HID), dengan


4: Hibah Insentif porsi APBN 80% ditambah kontribusi masyarakat 20%.

5: Dukungan Koordinasi, monitoring, dan pengembangan kebijakan


Pengelolaan nasional/daerah.

Pelaksanaan dan Prosedur

Masyarakat sebagai pelaku utama melalui LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) dan Satlak
Pamsimas, didukung fasilitator.
Dana BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) dicairkan bertahap (20%-40%-40%) setelah verifikasi
kemajuan dan penggunaan dana minimal 90% tahap sebelumnya; kontribusi masyarakat minimal
20% (in-cash 4%, in-kind 16%).
Prosedur mencakup perencanaan RKM, pelatihan, konstruksi transparan (papan info), promosi PHBS,
dan penyelesaian dengan BAST (Berita Acara Serah Terima).
Prinsip dan Dampak

Prinsip utama: berbasis masyarakat, partisipatif, gender-inclusive, berkelanjutan, dan akuntabel.


Hingga 2021, program bermanfaat bagi 24 juta jiwa air minum dan 16 juta sanitasi; terus berlanjut
hingga 2025 dengan petunjuk teknis terbaru.

Pembangunan dalam Program PAMSIMAS terutama berada di Komponen 3, yang fokus pada
penyediaan sarana air minum dan sanitasi melalui swakelola masyarakat. Ini mencakup tiga opsi
utama: pembangunan baru, perluasan, dan peningkatan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum)
desa/peri-urban.

Jenis Pembangunan SPAM

• Pembangunan baru: Membangun SPAM lengkap dari sumber air hingga distribusi, untuk
desa tanpa sistem eksisting atau sistem rusak total.

• Perluasan: Tambah jaringan distribusi atau SPAM baru untuk tingkatkan jumlah layanan.

• Peningkatan: Perbaiki/upgrade kinerja SPAM rusak, ganti komponen utama, minimal tambah
30% layanan dari sebelumnya.

Masyarakat pilih teknologi berdasarkan informed choice (sumber air, biaya, kompleksitas, manfaat),
dengan dana Pamsimas 70-80%, sisanya APBD (10%) dan kontribusi masyarakat (20%, in-cash 4% +
in-kind 16%).

Sarana Sanitasi Pendukung

Pembangunan juga meliputi sarana PHBS seperti jamban sekolah (terpisah gender), tempat cuci
tangan (TCT) di sekolah dan tempat umum. Semua direncanakan dalam RKM (Rencana Kerja
Masyarakat), dilaksanakan partisipatif dengan verifikasi tahap demi tahap.

Program PAMSIMAS menargetkan kelompok masyarakat miskin di pedesaan dan pinggiran kota (peri-
urban) dengan prevalensi penyakit terkait air tinggi serta akses layanan rendah.

Sasaran Manusia

• Jumlah jiwa yang mendapat akses air minum aman: target 22,1 juta orang tambahan.

• Akses sanitasi layak: 14,9 juta orang tambahan, termasuk promosi PHBS di 60% dusun
sasaran (Stop BABS, CTPS).

• Prioritas desa tertinggal, miskin, dengan cakupan air minum/sanitasi <100% dan risiko diare
tinggi.

Sasaran Geografis

• Desa/kelurahan di 80%+ kabupaten Indonesia, hingga 4.466 desa di fase awal (15 provinsi,
110 kabupaten).

• Kriteria pemilihan: desa miskin, rendah akses sarana, kejadian penyakit air tinggi, belum
bantuan serupa 2 tahun terakhir.
Item pekerjaan dalam Program PAMSIMAS terutama pada Komponen 3 (penyediaan sarana),
mencakup pembangunan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) baru/perluasan/peningkatan,
sanitasi sekolah (jamban & TCT), serta pendukung PHBS seperti papan informasi dan pengujian air.
Estimasi biaya bervariasi berdasarkan skala (kapasitas 1-1.5 L/detik untuk ~1.000 jiwa, total ~Rp 350
juta per desa), dengan porsi APBN/Pamsimas 70-80%, APBDes 10%, masyarakat 20% (in-cash 4%, in-
kind 16%).

Item Pekerjaan SPAM

RAB (Rencana Anggaran Biaya) disusun berdasarkan RKM masyarakat, dengan item utama seperti
berikut (contoh dari RAB tipikal).

Kategori Item Pekerjaan Contoh Estimasi Biaya (Rp)

Mobilisasi Plank proyek, alat safety 150.000 - 500.000 ls

Pekerjaan Tanah Penggalian/galian pipa, timbun 50.000/hok pekerja

Struktur Reservoir, intake mata air, pompa 50-100 juta/unit

Pipa transmisi/distribusi (HDPE/PVC), fitting, 39-40 juta (788 hok


Pemasangan Pipa sambungan rumah (SR) pekerja + material)

Mekanikal/Elektrik Pompa, genset, panel listrik 20-50 juta/set

Upah Pekerja (50k/hok), tukang (60k/hok) 2-40 juta total

Item Pekerjaan Sanitasi Sekolah

• Jamban sekolah (2 pintu, terpisah gender): Rp 10-20 juta/unit.

• Tempat Cuci Tangan (TCT): Rp 5-10 juta/unit, termasuk sumur resapan.

• Total sanitasi sekolah: 10-30% dari RAB keseluruhan (~Rp 50-100 juta untuk 2-4 sekolah).

Biaya Pendukung & Operasional

• Pelatihan/PHBS: Modul (Rp 360k/12 buah), notes (Rp 54k), upah fasilitator (Rp
25k/orang/hari).

• Operasional LKM/Satlak: Rapat, ATK, transport, notaris (~Rp 5-10 juta).

• Pasca Konstruksi: Pengujian air (Rp 1,5 juta/tahun), listrik/BBM (Rp 10-17 juta/tahun),
pemeliharaan (Rp 6 juta/tahun).
Biaya disesuaikan lokal (2025: inflasi ~5-10%/tahun), diverifikasi DPMU/Pakem, dicairkan
bertahap 20%-40%-40% via BLM. Contoh RAB lengkap desa: Rp 19-40 juta untuk pipa saja,
hingga Rp 350 juta total SPAM.
Implementasi Program PAMSIMAS sering menghadapi kendala lapangan seperti rendahnya
partisipasi masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia, masalah teknis sarana, dan kurangnya
pemeliharaan pasca-pembangunan.

Kendala Partisipasi & Kesadaran

• Rendahnya kesadaran masyarakat akan PHBS, termasuk buang air sembarangan dan minim
kontribusi (in-cash/in-kind), menyebabkan target akses tidak tercapai.

• Kurangnya komitmen pemerintah desa dan LKM dalam mendampingi, akibat lambatnya
respons daerah dan minim pelatihan fasilitator.
Cara mengatasi: Intensifkan sosialisasi STBM via kampanye door-to-door, pelatihan rutin
KPSPAM/LKM, dan insentif HIK untuk desa berkinerja baik.

Kendala Teknis & Sumber Daya

• Sumber air terbatas, penyaluran pipa sulit di medan berbukit, dan kualitas air tidak aman
(kontaminasi).

• SDM desa kurang terampil (pendidikan rendah tim KPSPAM), menyebabkan


konstruksi/swakelola tidak optimal.
Cara mengatasi: Survei hidrogeologi awal, pilih teknologi informed choice sederhana, dan
kolaborasi dengan DPMU untuk pelatihan teknis plus pengujian air berkala.

Kendala Pengelolaan & Pemeliharaan

• Kurang pengawasan fasilitator, sehingga fasilitas rusak cepat tanpa perbaikan (hanya 24% KK
gunakan di beberapa desa).

• Minim dana operasional pasca-konstruksi (listrik, BBM, perawatan reservoir).


Cara mengatasi: Bentuk pengelola profesional dengan tarif layanan (UU No.7/2021),
monitoring rutin via aplikasi Satu PMD, dan alokasi dana desa 10% untuk O&M.

Program PAMSIMAS telah mencapai hasil signifikan dalam meningkatkan akses air minum dan
sanitasi di perdesaan serta peri-urban Indonesia sejak 2006. Hingga akhir 2021, program bermanfaat
bagi 24 juta jiwa akses air minum aman dan 16 juta jiwa sanitasi layak, dengan cakupan di lebih dari
80% kabupaten.

Capaian Utama

• Tambahan akses air minum aman bagi 22,1 juta penduduk dan sanitasi layak bagi 14,9 juta
penduduk, termasuk minimal 60% dusun sasaran mencapai Stop BABS.

• Inklusi disabilitas di 10.676 desa sejak 2016, dengan pendekatan murah dari tahap
perencanaan.

• Keberhasilan lokal bervariasi: 94% responden puas dengan WC/sanitasi, kategori "amat baik"
di beberapa desa seperti Lam Reh (keberfungsian sarana 100%), dan "cukup efektif" di desa
Panggung (80 dari 185 KK terlayani).
Hasil Akhir Keseluruhan

Program dinilai "baik" secara nasional (skor 64,44/100 di beberapa evaluasi kabupaten), dengan
peningkatan akses 50-100% di desa sasaran miskin. Sarana SPAM dan sanitasi sekolah berkelanjutan
di sebagian besar lokasi, meski tantangan seperti pemeliharaan tetap ada; kontribusi terhadap target
nasional SPAM 2015-2024 tercapai parsial hingga 2025.

Program PAMSIMAS diharapkan mencapai akses universal air minum aman dan sanitasi layak bagi
seluruh masyarakat pedesaan/peri-urban Indonesia, selaras dengan SDGs 6.1-6.2 pada 2030.

Target Jangka Pendek (2026)

• 100% desa dengan SPAM berfungsi penuh (data himpunan PUPR-Kesehatan-Perkim),


penguatan KP-SPAMS profesional untuk operasional berkelanjutan.

• Cakupan layanan air bersih minimal 58% di daerah prioritas seperti Kutai Timur.

• Tambahan desa dengan RPAM (Rencana Pengamanan Air Minum) terimplementasi, fokus
optimalisasi sistem existing via HID MAMA.

Target Jangka Panjang (2029-2030)

• Akses air minum aman 100% nasional (termasuk 15% kategori aman), dengan 47.000 desa
tersisa ditargetkan.

• Sanitasi layak 100%, PHBS di semua dusun (Stop BABS, CTPS), pengelolaan mandiri via tarif
layanan dan dana desa.

• Keberlanjutan sarana >92%, inklusi disabilitas total, dan kontribusi SDGs melalui program
padat karya Cipta Karya.

Anda mungkin juga menyukai