0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan17 halaman

Storytelling untuk Engagement Nano Influencer

Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan storytelling marketing communication oleh akun TikTok @tenscoffeeid untuk membangun engagement dengan audiens mahasiswa. Melalui pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa narasi berbasis cerita berhasil menciptakan koneksi emosional dan meningkatkan interaksi audiens dengan merek. Temuan ini menunjukkan potensi strategi naratif dalam memperkuat hubungan antara merek kecil dan konsumen di platform media sosial.

Diunggah oleh

Nabilla Sujana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan17 halaman

Storytelling untuk Engagement Nano Influencer

Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan storytelling marketing communication oleh akun TikTok @tenscoffeeid untuk membangun engagement dengan audiens mahasiswa. Melalui pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa narasi berbasis cerita berhasil menciptakan koneksi emosional dan meningkatkan interaksi audiens dengan merek. Temuan ini menunjukkan potensi strategi naratif dalam memperkuat hubungan antara merek kecil dan konsumen di platform media sosial.

Diunggah oleh

Nabilla Sujana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)

ISSN 2798-0243, Vol 5, No 1, 2025, 101-117 [Link] v5i1.5004

Storytelling Marketing Communication dalam Membangun


Engagement pada Nano Influencer Tiktok @Tenscoffeeid
(Storytelling Marketing Communication in Building
Engagement on TikTok Nano Influencer @tenscoffeeid)
Nabila Pramudhita Cahyaningrum¹, Hendri Prasetya², Mustiawan³
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta, Indonesia1,2,3
nabilapramudhitac@[Link]¹, hendri_prasetya@[Link]²,
mustiawan@[Link]³
Abstract
Purpose: TikTok has become one of the most influential
marketing platforms, enabling brands to connect with audiences
through short-form narrative-driven content. For small brands and
nano-influencers, storytelling is essential for standing out and
building engagement. This study examines how the TikTok
account @tenscoffeeid applies storytelling as a marketing
communication strategy to engage its primarily student audience
and explores how digital storytelling fosters emotional connections
and promotes products.
Methodology/approach: This study used a qualitative case study
approach. Data were collected through in-depth interviews,
Riwayat Artikel: observations, documentation, and literature reviews. The
Diterima pada 10 Mei 2025 informants included the brand owner, account manager, and active
Revisi 1 pada 23 Mei 2025 audience members.
Revisi 2 pada 1 Juni 2025 Results: The study found that The narrative-based content on
Revisi 3 pada 15 Juni 2025 @tenscoffeeid’s TikTok successfully created emotional
Disetujui pada 20 Juni 2025 connections with viewers and encouraged greater audience
interaction. The storytelling strategy strengthened the brand’s
identity and encouraged active audience participation through
three key dimensions: consumption, contribution, and creation.
Conclusions: Storytelling on @tenscoffeeid’s TikTok fosters
engagement by aligning narratives with students’ experiences,
responding to trends, and applying data-driven content plans.
These findings demonstrate the potential of narrative strategies for
small brands to build lasting audience relationships.
Limitations: Focusing on student audiences may limit the
applicability of the findings to other groups, and cultural or
platform differences were not examined.
Contribution: This study contributes to the fields of marketing
communication and digital media studies by demonstrating how
storytelling on TikTok can be an effective tool for nano-influencers
and small brands to build engagement. It provides insights for
marketers and researchers in social media engagement and digital
branding.
Keywords: Marketing Communication, Social Media
Engagement, Storytelling Marketing.
How to Cite: Cahyaningrum, N. P., Prasetya, H., Mustiawan, M.
(2025). Storytelling Marketing Communication Dalam
Membangun Engagement Pada Nano Influencer Tiktok
@Tenscoffeeid. Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik, 5(1), 101-
117.
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara perusahaan memasarkan produk dan menjangkau
audiens. Media sosial kini tidak hanya digunakan untuk komunikasi antar individu, tetapi juga sebagai
sarana iklan, branding, dan kampanye pemasaran (Prasetya et al., 2024). Salah satu platform media
sosial yang mengalami pertumbuhan pesat dalam dunia pemasaran adalah TikTok.

Gambar 1. Data pengguna TikTok


Sumber: (TEMPO, 2025)

Pada Tahun 2024, Indonesia merupakan negara dengan pengguna TikTok terbanyak di dunia, mencapai
157,6 juta (TEMPO, 2025). TikTok tidak lagi sekadar aplikasi hiburan, tetapi telah menjadi platform
penyebaran informasi yang efektif. Karakteristik visual dan audio dalam bentuk video pendek menjadi
kekuatan utama konten di TikTok (Mustiawan et al., 2025). Hal tersebut menjadikannya sarana yang
strategis bagi perusahaan untuk menjangkau konsumen sekaligus memperkuat aktivitas pemasaran.
Bagi para pelaku bisnis, memanfaatkan media sosial seperti TikTok menjadi salah satu cara yang efektif
dalam mengkomunikasikan informasi serta memasarkan produk dan jasa kepada konsumen (Gunawan
Aji et al., 2022). Pemanfaatan konten media sosial TikTok sebagai sarana pemasaran suatu bisnis, dapat
membantu memperluas jangkauan audiens serta membangun engagement. Penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa konten menjadi bagian penting dalam strategi social media marketing, khususnya
melalui pembuatan konten video yang mudah dipahami, relevan, dan konsisten dalam aplikasi TikTok
sehingga mampu mendapatkan engagement yang tinggi (Fadhilah & Nurjanah, 2024).

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk menghasilkan konten yang menarik perhatian di
TikTok adalah dengan storytelling. Storytelling adalah kegiatan menyampaikan informasi atau
peristiwa melalui narasi yang bersifat emosional, autentik, dan relevan, sehingga mampu menciptakan
koneksi yang lebih dalam dengan audiens (Agung et al., 2024). Narasi sendiri merupakan struktur cerita
yang disusun secara kronologis untuk menyampaikan makna atau nilai tertentu kepada audiens
(Isroyati, 2016). Maka, dengan kekuatan narasi yang terstruktur dan bermakna, storytelling tidak hanya
berperan dalam membangun kedekatan emosional, tetapi juga menjadi strategi yang efektif untuk
meningkatkan daya ingat dan preferensi konsumen terhadap suatu merek. Storytelling juga merupakan
bagian dari strategi marketing communication yang lebih luas. Marketing communication merupakan
segala bentuk komunikasi yang dilakukan brand kepada konsumen, dengan tujuan membentuk persepsi
dan memengaruhi keputusan pembelian (Kotler & Keller, 2016).

Pada praktik komunikasi pemasaran, pendekatan storytelling ini kemudian berkembang menjadi
strategi yang dikenal sebagai storytelling marketing. Konsep Storytelling Marketing menurut
Alexander, merupakan media komunikasi yang digunakan perusahaan untuk mempromosikan produk
yang dikemas dalam bentuk narasi atau cerita, dengan menerapkan strategi tertentu agar mampu
memikat perhatian audiens (Mavilinda et al., 2023). Pada praktiknya, terdapat empat indikator dalam

102 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
storytelling marketing. Yang pertama aksi, yaitu cerita perjalanan sukses yang memungkinkan audiens
membayangkan relevansinya. Kemudian komunikasi, yakni berperan sebagai alat perusahaan untuk
mempromosikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen tentang produk atau merek. Lalu transmisi
nilai, berupa penyampaian nilai-nilai penting. Dan pengetahuan, yakni informasi yang membentuk
respons audiens berdasarkan pemahaman mendalam (Arifin, 2023).

Konten storytelling yang disusun dengan tepat akan memancing engagement atau keterlibatan
pengguna di media sosial, seperti menyukai, mengomentari, dan saling membagikan konten atau
bahkan mengikuti akun. Engagement, dalam bentuk klik atau interaksi sosial, menjadi tolok ukur
penting yang menampilkan seberapa efektif pesan periklanan dalam memikat dan melibatkan audiens
nya (Safrin et al., 2024). Oleh karena itu, strategi untuk meningkatkan engagement menjadi aspek
penting dalam membangun komunikasi yang berkelanjutan antara brand dan audiens. Engagement
dalam media sosial terdiri atas tiga dimensi, yaitu konsumsi, kontribusi, dan kreasi. Dimensi konsumsi,
merupakan tingkat keterlibatan terendah yaitu aktivitas seperti melihat gambar atau video dan membaca
komentar. Dimensi kontribusi, merupakan tingkat keterlibatan menengah yang mencakup kegiatan
mengomentari atau memberikan tanggapan. Sementara dimensi kreasi, merupakan tingkat keterlibatan
tertinggi yang ditunjukkan dengan aktivitas membuat dan membagikan ulang konten yang sebelumnya
dikonsumsi dan dikontribusi oleh orang lain (Sulistyono & Jakaria, 2022). Storytelling menjadi salah
satu pendekatan yang dianggap efektif untuk mendorong keterlibatan ini.

Penerapan strategi storytelling marketing communucation ini banyak dilakukan oleh para influencer.
Influencer merupakan seseorang atau akun yang mampu memengaruhi opini audiens melalui kontennya
(Binandari & Muksin, 2024). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa influencer tidak selalu merujuk
pada individu atau tokoh publik, melainkan juga dapat berupa akun atau entitas lainnya yang memiliki
pengaruh di hadapan audiens. Berdasarkan jumlah pengikut, influencer diklasifikasikan menjadi lima,
yaitu Nano-influencer (kurang dari 10.000 pengikut), micro-influencer (10.000-50.000), mid-tier
influencer (50.000-500.000), macro-influencer (500.000-1 juta), dan mega-influencer (lebih dari 1 juta)
(Sahril et al., 2024). Nano-influencer merupakan kategori dengan jumlah pengikut yang paling sedikit.
Namun, meskipun memiliki jangkauan yang kecil, penelitian dari Enke & Borchers, mengatakan bahwa
nano-influencer sering kali memiliki hubungan yang lebih dekat dengan audiensnya, sehingga dapat
menghasilkan engagement yang lebih tinggi (Enke & Borchers, 2019).

Gambar 2. Tampilan TikTok @tenscoffeeid


Sumber: (Tens Coffee, 2025)

Salah satu contoh akun yang berperan sebagai nano-influencer adalah akun TikTok @tenscoffeeid.
Meskipun memiliki jumlah pengikut kurang dari 10.000, akun ini mampu membangun engagement

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 103
secara signifikan melalui storytelling marketing nya. Kontennya tidak hanya mempromosikan produk,
tetapi juga menyampaikan cerita bisnis, pengalaman konsumen, dan narasi yang relatable dengan
keseharian audiens. Hal ini menunjukkan bahwa brand kecil pun dapat membangun keterlibatan yang
kuat melalui storytelling yang tepat.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa storytelling marketing efektif dalam meningkatkan perhatian
dan minat beli. Seperti pada penelitian yang dilakukan Rahmadhani, menunjukkan bahwa storytelling
marketing dengan pendekatan emosional, cerita unik, V-A-K (visual-auditory-kinesthetic), serta unsur
TRUTH (Topical, Relevant, Unusual, Troubled, & Human) di TikTok mendorong respons positif
konsumen (Rahmadhani et al., 2023). Hal ini sejalan dengan penelitian Arifin, yang menemukan bahwa
storytelling marketing dan brand trust berpengaruh signifikan terhadap purchase intention (Arifin,
2023). Penelitian selanjutnya, membuktikan bahwa storytelling kreatif memunculkan desire audiens
(Fauziyyah & Putri, 2024). Temuan ini diperkuat oleh penelitian Fauzan, yang menyatakan bahwa
gabungan storytelling dan content marketing memperkuat keterlibatan dan jangkauan brand (Fauzan,
2024). Lalu penelitian yang dilakukan oleh Sudarsono, juga menemukan bahwa storytelling melalui
influencer meningkatkan ekuitas brand, terutama di kalangan Gen Z (Sudarsono et al., 2025).

2. Tinjauan pustaka dan pengembangan hipotesis


Sebagian besar studi masih menekankan pada individu sebagai influencer atau fokus pada efek
storytelling terhadap keputusan pembelian. Belum banyak yang membahas bagaimana sebuah akun,
yang juga berperan sebagai nano-influencer, menggunakan strategi storytelling untuk membangun
engagement di TikTok. Berdasarkan kondisi tersebut, fokus penelitian ini diarahkan pada strategi
storytelling marketing communication yang diterapkan oleh akun TikTok @tenscoffeeid sebagai nano
influencer dalam membangun engagement. Penelitian ini mengkaji bagaimana narasi dalam konten
dibentuk, strategi komunikasi yang digunakan, serta bagaimana keterlibatan audiens terbentuk melalui
dimensi konsumsi, kontribusi, dan kreasi. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
wawasan bagi brand lokal lainnya yang ingin membangun engagement dalam mengoptimalkan
pemasaran melalui TikTok dengan pendekatan storytelling.

3. Metodologi penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Menurut Moleong, penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek
penelitian seperti tindakan, perilaku, motivasi, dan persepsi, secara menyeluruh dalam konteks alami
(Fathoni, 2025). Pendekatan ini dipilih karena bertujuan menggali dan memahami secara mendalam
strategi storytelling marketing communication yang dilakukan oleh akun TikTok @tenscoffeeid dalam
membangun engagement. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik
purposive sampling, yaitu teknik penentuan informan berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan
tujuan penelitian (Hildawati et al., 2024). Informan yang dipilih terdiri dari empat orang, yaitu pemilik
brand, pengelola akun TikTok, dan dua orang audiens yang aktif berinteraksi dengan konten
@tenscoffeeid.

Tabel 1. Informan
Kode Peran/Posisi Keterangan
Informan
I Pemilik Brand Owner Tens Coffee, memahami visi, misi, dan
strategi pemasaran brand.
2 Pengelola Akun Social Media Manager @tenscoffeeid, bertanggung
TikTok jawab atas pembuatan dan pengelolaan konten.
3 Audiens 1 Mahasiswa, konsumen, dan pengikut aktif yang
sering berinteraksi dengan konten.
4 Audiens 2 Mahasiswa, konsumen, dan pengikut aktif yang
berpartisipasi dalam komentar dan berbagi konten.
Sumber: Olahan Peneliti, 2025

104 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi, dan
studi dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk menggali pengalaman dan perspektif para informan
terhadap praktik storytelling dan engagement. Observasi digunakan untuk mengamati interaksi dan
elemen-elemen storytelling marketing yang diterapkan dalam konten TikTok @tenscoffeeid.
Dokumentasi, meliputi tangkapan layar video, dan materi promosi yang digunakan sebagai data
pendukung (Pratiwi et al., 2023). Penelitian ini dilakukan di Tens Coffee yang berlokasi di Depok, Jawa
Barat. Kemudian data dianalisis menggunakan model Miles dan Hubberman, yang terdiri dari tiga
tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Fiantika et al., 2022).

4. Hasil dan pembahasan


4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Strategi Storytelling Marketing Communication
Strategi storytelling marketing menjadi inti dari pendekatan konten yang diterapkan oleh akun TikTok
@tenscoffeeid. Berdasarkan hasil penelitian, narasi yang dibangun dalam setiap konten dirancang
secara terencana, berangkat dari pengalaman atau perjalanan brand, dan dikemas dalam bentuk cerita
yang dekat dengan kehidupan mahasiswa sebagai target audiens utama. Pendekatan ini menghasilkan
komunikasi yang tidak hanya bersifat promosi, tetapi juga membangun kedekatan emosional,
menyampaikan nilai, dan memberikan edukasi secara halus. Untuk memahami lebih dalam, strategi
storytelling marketing ini diidentifikasi melalui empat indikator yakni aksi, komunikasi, transmisi nilai,
dan pengetahuan (Arifin, 2023).

Gambar 3. Hasil Penelitian Strategi Stroytelling Marketing Communication


Sumber : Olahan Peneliti, 2025

4.1.2 Aksi
Indikator aksi mengacu pada penceritaan tentang perjalanan sukses atau pengalaman nyata dari brand
yang memungkinkan audiens membayangkan relevansinya dengan kehidupan mereka sendiri (Arifin,
2023). Cerita ini biasanya menyentuh aspek emosional dan situasional yang dapat dialami secara
langsung atau tidak langsung oleh audiens. Pada konteks TikTok @tenscoffeeid, narasi yang disusun
berasal dari pengalaman nyata brand yang dikaitkan dengan situasi sehari-hari yang dialami mahasiswa.
Cerita seperti ekspansi cabang, pembukaan lokasi baru, hingga pengalaman awal berdirinya brand di
kantin Vokasi UI dikemas dalam bentuk storytelling yang mengajak audiens merasa terlibat. Pemilik
brand sebagai informan 1, menyatakan:

“Kontennya pure dari perjalanan bisnisnya Tens Coffee... kita buka di mana, alasannya kenapa, dan
di akhir video kita tanya ke teman-teman kira-kira next-nya buka di mana lagi.” (Informan 1, 2025).

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 105
Gambar 4. Narasi dalam Konten TikTok @tenscoffeeid
Sumber: (Tens Coffee, 2025)

Strategi yang disampaikan oleh informan 1 dan Gambar 4, menunjukkan bahwa storytelling tidak hanya
menjadi alat komunikasi satu arah, tetapi juga sebagai sarana partisipatif yang menjadikan audiens
bagian dari cerita brand. Audiens sebagai informan 3 juga menyampaikan bahwa pendekatan tersebut
membuatnya merasa terkoneksi secara personal dengan narasi yang dibagikan:

“Rasanya itu kayak mereka paham banget lifestyle mahasiswa. Jadi kita connect sama brand-nya.”
(Informan 3, 2025).

Lalu, untuk menjaga relevansi cerita dengan kehidupan audiens, pengelola akun juga secara aktif
mengikuti tren yang sedang berlangsung di TikTok. Tren tersebut tidak hanya digunakan sebagai cara
agar konten mudah ditemukan, tetapi juga sebagai bagian dari bahan narasi yang kontekstual dan terasa
“hidup” di mata audiens. Hal ini dijelaskan oleh pengelola akun sebagai informan 2:

“Biasanya kita juga melihat tren terkini... kalau misalkan ada suatu tren dan kita bisa ikut ke
dalamnya... itu salah satu hal yang cukup bagus untuk mengikuti tren.” (Informan 2, 2025)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa storytelling tidak dibuat asal, tetapi terinspirasi dari tren yang
sedang populer di media sosial. Dengan memanfaatkan tren yang sedang viral, @tenscoffeeid
menjadikan cerita yang mereka bangun terasa akrab, relevan, dan seolah-olah merupakan bagian dari
keseharian audiens. Ini memperkuat indikator aksi, karena cerita yang berhasil menggabungkan
peristiwa aktual dapat membuat audiens lebih mudah membayangkan diri mereka dalam cerita tersebut.
Kemudian, penyesuaian tidak hanya dilakukan pada tema cerita, tetapi juga pada bentuk dan gaya visual
konten. Hal ini dijelaskan oleh pengelola akun sebagai informan 2, yang menyebut bahwa mereka
mengatur elemen visual secara fleksibel namun tetap menjaga identitas brand:

“Paling kalau misalnya kita menyesuaikan visual, yang pertama kita punya identitas brand. Yang
kedua, identitas brandnya kita terkadang memakai voice over, terkadang carousel, terkadang juga kita
memakai tren.” (Informan 2, 2025).

Gambar 5. Penggunaan Elemen Visual


Sumber: (Tens Coffee, 2025)

Makna dari pernyataan informan 2 diatas dan Gambar 5, menegaskan bahwa storytelling tidak hanya
terlihat dari kata-kata atau narasinya saja, tetapi juga dari tampilan visual, serta cara penyusunannya
secara keseluruhan. Dengan berganti-ganti format seperti voice over, carousel post, atau gaya video

106 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
yang sedang tren, @tenscoffeeid berusaha mengkomunikasikan cerita dengan cara yang sesuai dengan
gaya konsumsi konten target audiens. @tenscoffeeid tidak terpaku pada satu bentuk penyajian,
melainkan menyesuaikan narasi agar selaras dengan media yang digunakan. Meskipun @tenscoffeeid
mengikuti tren yang sedang populer, mereka tetap menjaga ciri khas brand-nya, sehingga kontennya
tetap terasa sebagai bagian dari identitas @tenscoffeeid.

4.1.3 Komunikasi
Indikator komunikasi dalam storytelling marketing didefinisikan sebagai kemampuan cerita untuk
menjadi alat perusahaan dalam mempromosikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen tentang
produk atau merek secara halus dan tidak memaksa (Arifin, 2023). Komunikasi yang efektif bukan
ditunjukkan melalui promosi langsung, tetapi dibungkus dalam cerita yang terasa menyatu dengan
kehidupan audiens. Strategi ini diterapkan oleh pengelola akun TikTok @tenscoffeeid sebagai informan
2, melalui pendekatan edutainment, yaitu gabungan antara edukasi (education) dan hiburan
(entertainment), sehingga pesan produk tetap tersampaikan tanpa kehilangan unsur kesenangan.
Mereka menjelaskan bahwa konten tidak dibuat sembarangan, melainkan disusun melalui riset tren dan
pemahaman terhadap kehidupan mahasiswa, terutama isu-isu emosional dan sosial yang sedang
berkembang:

“Kita riset tren dan juga empathize... kehidupan mahasiswa itu sangat melekat dengan buku, pesta,
dan cinta. Hal-hal ini kita angkat ke konten.” (Informan 2, 2025).

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa strategi komunikasi yang dijalankan diawali dengan empati
terhadap keseharian audiens, seperti akademik, relasi sosial, dan rutinitas kampus. Tema-tema tersebut
kemudian dibungkus dalam bentuk cerita yang dekat dengan pengalaman mereka. Dengan cara ini,
brand tidak sekadar menyampaikan informasi produk, tetapi membujuk secara halus melalui narasi
yang terasa relevan dan akrab. Efektivitas strategi ini juga terlihat dari cara audiens merespons. Salah
satu audiens sebagai informan 4, menyampaikan bahwa ia menikmati gaya penyampaian yang tidak
terasa memaksa:

“Menurutku lebih kayak bercerita sih, santai. Ada promosinya, tapi diselipin ke dalam cerita jadi nggak
kerasa hard selling atau maksa beli.” (Informan 4, 2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa komunikasi yang dibangun oleh brand tidak bersifat satu arah atau
formal. Narasi yang dikemas secara ringan membuat audiens merasa nyaman, sehingga promosi
menjadi lebih dapat diterima. Strategi ini menjadikan storytelling sebagai media yang mengalir alami,
bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mengajak audiens masuk ke dalam percakapan. Selain
itu, bentuk komunikasi yang mereka bangun juga didukung dengan penggunaan teknik call to action di
akhir video, yang bertujuan untuk mendorong interaksi audiens secara aktif. Hal ini dijelaskan oleh
pemilik brand sebagai informan 1:

“Kita biasanya menggunakan kata-kata di akhir video untuk call to action-nya. Jadi, setiap akhir video
kita akan melemparkan pertanyaan ke audiens, ‘bagaimana menurut kalian?’, ‘bagaimana menurut
teman-teman?” (Informan 1, 2025).

Teknik ini mencerminkan bahwa narasi yang mereka bangun tidak berhenti pada penyampaian
informasi, tetapi juga dirancang untuk membuka ruang percakapan. Pertanyaan-pertanyaan terbuka di
akhir video bukan hanya alat untuk mendorong komentar atau likes, tetapi juga strategi untuk
memperkuat kedekatan emosional, serta membuat audiens merasa bahwa pendapat mereka dihargai
dalam narasi brand. Dengan demikian, storytelling yang diterapkan oleh @tenscoffeeid pada indikator
komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi yang halus, tetapi juga membentuk gaya
percakapan yang dekat, responsif, dan mendorong partisipasi audiens secara aktif.

4.1.4 Transmisi Nilai


Transmisi nilai dalam storytelling marketing adalah penyampaian nilai-nilai penting yang mewakili
identitas, sikap, atau posisi brand terhadap isu atau kehidupan audiens (Arifin, 2023). Storytelling yang

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 107
efektif tidak hanya menghibur, tetapi juga menyisipkan pesan moral atau makna sosial yang mampu
membentuk pandangan audiens terhadap brand. Pada konten TikTok @tenscoffeeid, nilai-nilai ini
disampaikan melalui cerita yang menggambarkan empati terhadap kondisi mahasiswa. Misalnya, pada
konten promo bagi mereka yang gagal seleksi masuk perguruan tinggi, brand menyampaikan pesan
bahwa setiap orang layak diapresiasi, terlepas dari keberhasilan akademis. Hal ini dirasakan oleh
audiens, sebagaimana diungkapkan olehnya sebagai informan 4:

“Mereka tuh nyampein kalau semua orang itu layak dirayakan.” (Informan 4, 2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa storytelling yang dibangun berhasil menyampaikan pesan tentang
penerimaan dan penghargaan terhadap berbagai situasi hidup audiens. Brand tidak sekadar menjual
produk, tetapi juga menunjukkan kepedulian emosional. Ini memperkuat posisi brand sebagai pihak
yang tidak hanya hadir untuk tujuan bisnis, tetapi juga peduli secara sosial dan emosional terhadap
audiensnya. Selain nilai empati, brand juga menyampaikan nilai kualitas dan profesionalisme. Pemilik
brand menjelaskan bahwa mereka ingin memberikan pengalaman lebih dari ekspektasi, sebagaimana
tergambar dalam tagline mereka:

“Tagline kita ‘Tens out of Ten’... harapannya bisa memberikan ekspektasi lebih dari 10 ke customer.”
(Informan 1, 2025).

Tagline ini bukan hanya ungkapan promosi, tetapi juga representasi dari niat brand untuk memberikan
layanan terbaik. Melalui cerita yang mereka bangun, brand menyampaikan janji tersebut dengan cara
yang terasa lebih dekat dan meyakinkan, agar audiens percaya bahwa mereka benar-benar serius
terhadap kepuasan pelanggan. Nilai kebersamaan dan hubungan jangka panjang juga dibangun melalui
penggunaan hashtag #temantens dalam setiap unggahan. Hashtag ini tidak hanya berfungsi sebagai
alat distribusi konten, tetapi juga sebagai sapaan akrab kepada audiens sebagaimana yang disebutkan
oleh pengelola akun sebagai informan 2:

“Kita selalu menggunakan hashtag #temantens setiap postingan kita… supaya menciptakan hubungan
jangka panjang atau customer lifetime.” (Informan 2, 2025)

Penggunaan hashtag ini menunjukkan bahwa brand tidak ingin terkesan berjarak atau terlalu formal.
Sebaliknya, mereka berupaya menciptakan hubungan yang dekat dan berkesinambungan dengan
audiens. Melalui sapaan 'Teman Tens,' audiens merasa lebih dihargai sebagai bagian dari komunitas,
bukan sekadar konsumen. Dengan demikian, pada indikator transmisi nilai, strategi storytelling yang
diterapkan oleh @tenscoffeeid tidak hanya menyampaikan produk, tetapi juga membawa pesan sosial
dan emosional yang memperkuat hubungan antara brand dan audiens. Nilai yang dibawa terasa nyata
karena disisipkan dalam cerita yang relevan, hangat, dan mudah diterima.

4.1.5 Pengetahuan
Indikator pengetahuan dalam storytelling marketing berkaitan dengan penyampaian informasi yang
mampu membentuk respons audiens berdasarkan pemahaman mendalam (Arifin, 2023). Pada konteks
ini, storytelling menjadi media edukatif yang tidak kaku, melainkan menyampaikan informasi melalui
narasi yang ringan dan mudah diterima. Strategi ini diterapkan oleh @tenscoffeeid dengan cara
menyisipkan informasi produk ke dalam cerita, alih-alih menyajikannya secara langsung. Brand tidak
hanya menyebutkan jenis atau manfaat produk, tetapi menjelaskan dengan cara yang terasa personal
dan tidak terasa seperti mengarahkan audiens secara kaku. Hal ini dijelaskan oleh pemilik brand sebagai
informan 1:

“Kita edukasiin audiens tentang produk matcha yang kita gunakan... grade-nya apa, rasanya kayak
apa.” (Informan 1, 2025).

Penyampaian ini tidak terasa seperti penjelasan yang kaku atau terlalu resmi, melainkan dibungkus
dalam cerita yang sesuai dengan situasi nyata konsumen. Audiens diajak memahami kualitas produk
secara alami melalui narasi yang terhubung dengan gaya hidup mereka. Cara ini membuat proses

108 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
memahami informasi terasa santai, namun tetap memberi makna. Dengan pendekatan seperti ini, brand
tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kedekatan, karena cerita yang digunakan
membuat pesan terasa lebih akrab dan mudah diterima. Salah satu audiens sebagai informan 3, juga
merasakan pendekatan ini membantu pemahaman:

“Mereka tuh selalu bikin konten yang dari awal udah kasih tau konteksnya gimana sebelum promosiin
produknya.” (Informan 3, 2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa storytelling yang dibangun oleh @tenscoffeeid memiliki struktur
naratif yang terencana. Mereka tidak langsung menunjukkan produk atau fitur unggulan, tetapi
menyusun alur cerita yang membantu audiens memahami situasi atau kebutuhan terlebih dahulu,
sehingga informasi produk terasa lebih relevan dan tidak mengganggu. Selain itu, strategi konten
mereka dalam penyampaian informasi ini dilakukan melalui proses berbasis data. Pemilik brand sebagai
informan 1 menjelaskan bahwa mereka secara aktif menggunakan berbagai jenis tools untuk mengukur
engagement rate, retention rate, dan lain sebagainya dalam konten:

“Kita pasti menggunakan data-data tersebut, nggak cuma engagement, tapi juga banyak data lain.”
(Informan 1, 2025).

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa setiap narasi yang mereka bangun disesuaikan dengan pola
respons dan minat audiens yang sudah mereka pelajari. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan konten
dilakukan dengan pertimbangan yang matang, tidak hanya mengandalkan feeling atau tebakan, tapi juga
berdasarkan pemahaman nyata tentang apa yang dibutuhkan dan disukai audiens. Hal ini kemudian
dirancang ke dalam perencanaan mingguan yang dibuat oleh tim kreatif, sebagaimana dijelaskan oleh
pengelola akun TikTok sebagai informan 2:

“Betul, kita mempunyai konten planner buatnya weekly, mingguan berarti ya, untuk upload mingguan.”
(Informan 2, 2025)

Perencanaan ini memperlihatkan bahwa strategi storytelling mereka bukan sekadar hasil kreativitas
spontan, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang terus diperbarui. Konten yang disajikan
adalah hasil dari pengamatan, analisis, dan pemahaman yang mendalam tentang audiens mereka.
Dengan demikian, pada indikator pengetahuan strategi storytelling marketing terlihat dari dua sisi. Yang
pertama, dari isi narasi yang memuat informasi secara halus dan kontekstual, dan kedua, dari proses
perancangannya yang berbasis pada pemahaman mendalam tentang audiens. Pada TikTok
@tenscoffeeid, kedua pendekatan ini digabungkan menjadi strategi komunikasi yang tidak hanya
menarik secara visual dan emosional, tetapi juga memperkaya wawasan audiens terhadap brand dan
produknya.

4.1.6 Storytelling Engagement


Engagement atau keterlibatan pada audiens adalah indikator penting dalam menilai efektivitas strategi
komunikasi di media sosial. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, penelitian ini
menemukan bahwa keterlibatan audiens terhadap konten storytelling yang diunggah oleh akun TikTok
@tenscoffeeid terjadi secara aktif. Keterlibatan ini tidak hanya ditunjukkan melalui aktivitas melihat
dan menyukai konten, tetapi juga dalam bentuk interaksi sosial seperti memberi komentar,
membagikan, hingga membuat ulang konten berdasarkan narasi yang disampaikan brand, untuk
menganalisis keterlibatan ini secara lebih terstruktur, penelitian mengacu pada dimensi engagement
dalam media sosial menurut Tsai dan Men, yakni konsumsi, kontribusi, dan kreasi. Ketiga dimensi ini
menjadi kerangka analisis untuk memahami bagaimana audiens merespons strategi storytelling dan
berpartisipasi dalam proses komunikasi digital yang dibangun oleh brand. Pemaparan berikut
menjelaskan hasil penelitian berdasarkan masing-masing dimensi tersebut.

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 109
Gambar 6. Hasil Penelitian Storytelling Engagement
Sumber : Olahan Peneliti, 2025

4.1.7 Konsumsi
Menurut Tsai dan Men, dimensi konsumsi merupakan tingkat keterlibatan terendah yaitu aktivitas
seperti melihat gambar atau video dan membaca komentar (Sulistyono & Jakaria, 2022). Meskipun
tampak pasif, bentuk keterlibatan ini penting karena menjadi langkah awal dalam membangun
hubungan antara audiens dan brand. Pada konteks akun TikTok @tenscoffeeid, keterlibatan pada
dimensi konsumsi tercermin dari bagaimana audiens menyimak konten secara penuh, karena gaya
penyampaian yang ringan, kasual, dan sesuai dengan karakteristik kehidupan mahasiswa. Narasi yang
dibangun terasa akrab, sehingga mendorong audiens untuk menonton hingga akhir tanpa merasa
diganggu oleh promosi yang bersifat memaksa. Hal ini disampaikan oleh salah satu audiens sebagai
informan 4:

“Gaya ngomongnya enak, santai, kayak Gen Z banget... jadi pengen nonton sampai akhir.” (Informan
4, 2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa storytelling yang dikemas secara santai mampu menciptakan
pengalaman menonton yang menyenangkan. Meski audiens belum berinteraksi langsung, ketertarikan
untuk menyimak sampai selesai mencerminkan adanya koneksi emosional awal antara audiens dan
brand. Dengan demikian, keterlibatan dalam bentuk konsumsi tidak bisa dianggap sepele, karena dari
sanalah proses pengenalan, pemahaman, dan penerimaan terhadap pesan brand dimulai. Tahap ini
menjadi fondasi penting sebelum audiens melangkah ke bentuk keterlibatan yang lebih aktif, seperti
memberi komentar atau membuat ulang konten.

4.1.8 Kontribusi
Menurut Tsai dan Men, dimensi kontribusi berada pada tingkat keterlibatan menengah, yang mencakup
aktivitas seperti memberikan komentar, menyukai, atau membagikan ulang konten (Sulistyono &
Jakaria, 2022). Meskipun belum sampai pada tahap menciptakan ulang konten, kontribusi merupakan
bentuk partisipasi yang menunjukkan audiens tidak hanya mengamati, tetapi juga mulai terlibat dalam
dialog yang dibangun brand. Pada konteks TikTok @tenscoffeeid, kontribusi ini dimunculkan melalui
strategi komunikasi yang sengaja dirancang untuk mendorong respons. Salah satunya adalah
penggunaan call to action di akhir video, berupa pertanyaan terbuka yang mengajak audiens untuk
memberikan pendapat atau pengalaman pribadi. Hal ini dijelaskan oleh pengelola akun TikTok sebagai
informan 2:

“Kita biasanya menggunakan kata-kata di akhir video untuk call to action-nya. Jadi, setiap akhir video
kita akan melemparkan pertanyaan ke audiens, ‘bagaimana menurut kalian?’, ‘bagaimana menurut
teman-teman?’” (Informan 2, 2025).

110 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
Pendekatan ini menunjukkan bahwa narasi tidak dibiarkan berakhir begitu saja, tetapi justru dibuka
untuk ditanggapi oleh audiens. Ini menciptakan komunikasi dua arah, di mana brand memberi ruang
bagi audiens untuk merespons dan menempatkan diri dalam cerita yang sedang dibangun. Pada
praktiknya, strategi ini terbukti berhasil mendorong audiens untuk berkontribusi, seperti yang
diungkapkan oleh salah satu audiens sebagai informan 4:

“Aku pernah komen juga beberapa kali, terutama pas relate banget kayak konten promo gagal SNBT
itu.” (Informan 4, 2025).

Komentar yang diberikan oleh audiens tidak hanya sekedar komentar umum, tetapi juga menunjukkan
bahwa mereka tersentuh atau merasa relate denga nisi ceritanya. Ketika audiens merasa kontennya
mirip dengan pengalaman mereka sendiri, mereka jadi lebih terdorong untuk menanggapi. Hal ini
menunjukkan bahwa kontribusi bukan hanya soal fitur komentar yang tersedia, tetapi juga tergantung
pada seberapa kuat cerita bisa menyentuh perasaan dan mendorong tanggapan yang tulus dari audiens.
Kontribusi juga bisa berupa interaksi yang lebih spesifik terhadap produk, seperti bertanya atau
memberi masukan. Sebagaimana yang dikatakan oleh audiens sebagai informan 4:

“Pernah komentar… kasih feedback positif, terus nanya varian menunya.” (Informan 4, 2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa keterlibatan audiens tidak hanya sebatas mengikuti ceritanya saja,
tetapi juga sampai pada hal-hal yang lebih nyata, seperti produk dan pengalaman mereka sebagai
pelanggan. Ini menunjukkan bahwa storytelling yang dibuat brand mampu mengarahkan audiens ke
obrolan yang lebih jelas dan spesifik, misalnya soal menu, rasa, atau pelayanan, sesuai dengan apa yang
mereka butuhkan atau ingin tahu. Menurut sisi pengelola, komentar-komentar ini tidak dibiarkan begitu
saja, melainkan ditanggapi dengan gaya yang disesuaikan dengan karakteristik audiens. Hal ini
diungkapkan oleh pengelola akun sebagai informan 2:

“Biasanya kita selalu membalas komentar… selalu kita tuliskan seperti nada bicara Gen Z atau Gen
Alpha.” (Informan 2, 2025).

Gambar 7. Bentuk Kontribusi dalam Komentar


Sumber: (Tens Coffee, 2025)

Berdasarkan pernyataann dari informan 2 dan gambar 7, respons semacam ini memperkuat hubungan
antara brand dan audiens karena menciptakan kesan bahwa komunikasi bersifat setara dan akrab. Gaya
balasan yang ringan dan relevan memperkuat identitas brand sebagai teman, bukan sekadar penjual.
Maka, kontribusi dalam konteks ini tidak hanya menunjukkan keterlibatan pengguna, tetapi juga
membangun suasana komunikasi yang terbuka dan saling merespons, di mana audiens merasa
dilibatkan dan dihargai. Dengan demikian, pada dimensi kontribusi, storytelling marketing yang
diterapkan oleh @tenscoffeeid terbukti mampu mendorong partisipasi aktif audiens secara emosional
dan komunikatif. Brand bukan hanya membagikan cerita, tetapi juga mengundang audiens untuk ikut
terlibat di dalamnya sebagai bagian dari komunitas yang sedang bertumbuh.

4.1.9 Kreasi
Menurut Tsai dan Men, dimensi kreasi merupakan tingkat keterlibatan tertinggi dalam media sosial.
Dimensi ini ditunjukkan melalui aktivitas membuat dan membagikan ulang konten berupa gambar atau
video, yang sebelumnya telah dikonsumsi dan dikontribusi oleh orang lain (Sulistyono & Jakaria, 2022).
Pada tahap ini, audiens tidak hanya menjadi penonton atau pemberi tanggapan, tetapi juga turut

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 111
memperluas cerita brand dengan gaya dan sudut pandang mereka sendiri. Keterlibatan dalam bentuk
kreasi pada TikTok @tenscoffeeid, terlihat ketika audiens mulai menyebarkan ulang konten brand
kepada orang lain dalam konteks personal. Misalnya, seperti pengalaman yang disampaikan oleh salah
satu audiens sebagai informan 3 berikut ini:

“Pernah, aku share kontennya ke pasangan pas valentine waktu itu.” (Informan 3, 2025).

Tindakan membagikan konten seperti ini merupakan bentuk keterlibatan kreasi, karena audiens tidak
hanya menikmati cerita, tetapi juga menilai bahwa konten tersebut layak disebarluaskan kepada orang
lain. Ini menunjukkan bahwa nilai atau emosi dalam konten berhasil menyentuh audiens secara pribadi,
sehingga mereka terdorong untuk ikut menyebarkan pesan tersebut sebagai bagian dari komunikasi
brand. Keterlibatan dalam bentuk kreasi juga terlihat dari konten yang dibuat sendiri oleh audiens
berdasarkan pengalaman pribadinya. Misalnya, seperti yang dikatakan audiens sebagai informan 4,
mengunggah konten saat sedang berkunjung langsung ke outlet:

“Cuma pernah post story IG pas lagi di outlet mereka.” (Informan 4, 2025).

Unggahan seperti ini termasuk dalam kategori user-generated content (UGC) karena dihasilkan
langsung oleh audiens tanpa arahan dari brand (Adam et al., 2023). Artinya, storytelling yang dibangun
oleh @tenscoffeeid telah cukup kuat untuk memicu partisipasi sukarela dari konsumen, bahkan di luar
platform TikTok. Pada beberapa kasus, audiens juga terdorong untuk membuat konten video khusus
sebagai bentuk respons terhadap salah satu konten yang sedang viral:

“Pernah bikin, karena konten soal menu nya ada yang sempet viral waktu itu di TikTok jadi tertarik
buat bikin video ala ala review gitu.” (Informan 4, 2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa ketika konten brand berhasil menarik perhatian luas dan menjadi
viral, audiens terdorong untuk ikut terlibat secara kreatif. Mereka tidak hanya mengonsumsi informasi,
tetapi juga menyebarkan ulang narasi brand melalui interpretasi mereka sendiri. Hal ini memperluas
jangkauan pesan dan memperkuat keterikatan emosional, karena audiens merasa menjadi bagian dari
cerita yang sedang berkembang. Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan bagian
dari strategi yang secara sadar dibangun oleh brand. Pengelola akun sebagai informan 2, menjelaskan
bahwa partisipasi audiens dalam bentuk UGC sering kali muncul:

“Pernah. Biasanya setiap ada campaign, produk baru, itu selalu ada. Minimal banget tuh lima konten
secara user-generated content itu tercipta.” (Informan 2, 2025).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa UGC telah menjadi indikator keberhasilan kampanye,
sekaligus memperlihatkan seberapa kuat audiens terdorong untuk ikut serta menciptakan konten sebagai
bentuk keterlibatan, untuk memfasilitasi dan mendorong keterlibatan seperti ini, brand juga
menggunakan hashtag khusus #temantens dalam setiap unggahan, seperti yang dijelaskan oleh
pengelola akun sebagai informan 2:

“Kita selalu menggunakan hashtag #temantens setiap postingan kita… untuk nantinya ketika mereka
searching kita itu bisa ada trend baru tersendiri yang menciptakan hubungan jangka panjang atau
customer lifetime.” (Informan 2, 2025).

Penggunaan hashtag ini tidak hanya membantu agar konten lebih mudah ditemukan oleh pengguna lain
di TikTok, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk membangun komunitas, menciptakan rasa memiliki,
dan memperkuat kesan kebersamaan antara brand dan audiensnya. Pada konteks ini, storytelling tidak
lagi bersifat satu arah, melainkan menjadi titik awal dari kolaborasi antara brand dan pengikutnya.

Maka, dapat dikatakan bahwa dimensi kreasi mencerminkan bentuk keterlibatan audiens yang paling
kuat, karena melibatkan inisiatif pribadi, ide-ide kreatif, dan kedekatan emosional dengan cerita yang
dibawa oleh brand. Pada tahap ini, audiens tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen atau pemberi

112 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
komentar, tetapi juga ikut berkontribusi membentuk dan menyebarkan cerita brand secara aktif di media
sosial. Berdasarkan analisis keseluruhan temuan, strategi storytelling marketing communication yang
diterapkan oleh akun TikTok @tenscoffeeid sebagai nano influencer mampu membangun engagement
audiens secara efektif. Penelitian ini menyoroti bagaimana narasi konten dibentuk secara terstruktur,
strategi storytelling marketing communication yang digunakan untuk membujuk tanpa kesan memaksa,
serta bagaimana keterlibatan audiens muncul melalui dimensi konsumsi, kontribusi, dan kreasi. Hasil
ini menunjukkan bahwa pendekatan storytelling tidak hanya memperkuat citra brand, tetapi juga
mendorong partisipasi aktif dari audiens. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi brand
lokal lainnya dalam mengembangkan strategi pemasaran berbasis narasi di platform TikTok.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembentukan Narasi Storytelling pada Konten TikTok
Narasi merupakan struktur cerita yang disusun secara kronologis untuk menyampaikan makna atau nilai
tertentu kepada audiens (Isroyati, 2016). Pada konteks pemasaran digital, narasi menjadi fondasi dari
praktik storytelling, yakni kegiatan menyampaikan informasi atau peristiwa melalui narasi yang bersifat
emosional, autentik, dan relevan, untuk menciptakan koneksi yang lebih dalam dengan audiens (Agung
et al., 2024). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan narasi pada konten TikTok
@tenscoffeeid dilakukan secara terencana, dimulai dengan riset tren dan pendekatan empathize
terhadap mahasiswa sebagai target audiens. Narasi dikembangkan dengan menggabungkan unsur
edukasi dan hiburan (edutainment), menggunakan tema yang dekat dengan kehidupan, serta gaya
penyampaian yang ringan dan emosional untuk membangun kedekatan sosial dengan audiens.
Pengelola akun menjelaskan,

”Kita riset tren dan juga empathize… kehidupan mahasiswa itu sangat melekat dengan buku, pesta,
dan cinta. Hal-hal ini kita angkat ke konten” (Informan 2, 2025).

Temuan ini mencerminkan tujuan penelitian, yakni untuk memahami narasi dalam konten dibentuk.
Temuan tersebut sejalan dengan beberapa studi sebelumnya. Penelitian Anita & Rachmawati,
menyatakan bahwa pendekatan edutainment di TikTok efektif dalam menyampaikan informasi dan
hiburan secara bersamaan kepada generasi muda (Rachmawati & Anita, 2023). Kemudian, penelitian
Fadhilah & Nurjanah, juga menegaskan bahwa storytelling yang efektif membutuhkan proses analisis
audiens dan evaluasi konten secara berkala untuk menjaga relevansi pesan (Fadhilah & Nurjanah,
2024). Selain itu, penelitian yang dilakukan Assalamah, menyatakan bahwa strategi storytelling yang
berhasil harus didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap realitas sosial dan karakteristik audiens.
(Assalamah, 2024). Dengan demikian, praktik yang dilakukan oleh @tenscoffeeid memperkuat
temuan-temuan tersebut.

Jika ditinjau dari perspektif konsep storytelling marketing menurut Alexander, narasi yang dibentuk
oleh @tenscoffeeid mencakup empat indikator utama, yaitu aksi, komunikasi, transmisi nilai, dan
pengetahuan (Mavilinda et al., 2023). Unsur aksi tampak dalam cerita tentang ekspansi usaha, unsur
komunikasi melalui gaya bahasa yang santai dan relevan, unsur transmisi nilai dalam bentuk pesan
moral atau sosial yang disisipkan, dan unsur pengetahuan yang muncul dalam bentuk informasi produk
atau tips harian. Dengan demikian, narasi yang dibangun tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi
juga membangun hubungan emosional dan sosial antara brand dan audiens.

4.2.2 Strategi Storytelling Marketing Communication


Marketing communication merupakan segala bentuk komunikasi yang dilakukan brand kepada
konsumen, untuk membentuk persepsi dan memengaruhi keputusan pembelian (Boangmanalu &
Indrawati, 2025). Pada era digital, strategi komunikasi pemasaran berkembang menjadi lebih personal
dan emosional, salah satunya melalui storytelling. Storytelling tidak hanya menyampaikan informasi
produk, tetapi juga membangun koneksi emosional dengan audiens melalui cerita yang relevan dan
autentik (Agung et al., 2024).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi storytelling marketing communication yang
diterapkan oleh @tenscoffeeid dilakukan secara terencana dan disesuaikan dengan karakteristik

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 113
audiens. Strategi ini tidak hanya berfokus pada promosi langsung, melainkan pada pembentukan
hubungan yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Strategi ini tercermin dalam penggunaan narasi
ringan yang menghibur namun tetap informatif, penggunaan identitas visual yang konsisten,
perencanaan konten mingguan, pemanfaatan hashtag komunitas (#temantens), dan penerapan call to
action untuk mendorong keterlibatan. Pendekatan ini terbukti membuat audiens merasa dilibatkan,
sebagaimana diungkapkan audiens,

“Menurutku lebih kayak bercerita sih, santai. Ada promosinya, tapi diselipin ke dalam cerita jadi nggak
kerasa hard selling” (Informan 4, 2025).

Hal ini menjawab tujuan penelitian, yaitu untuk memahami strategi storytelling marketing
communication yang digunakan oleh akun TikTok @tenscoffeeid. Temuan ini sejalan dengan penelitian
terdahulu. Penelitian dari Izra & Nurudin, menyatakan bahwa storytelling yang dikemas secara edukatif
dan menghibur dapat meningkatkan penerimaan pesan, khususnya di kalangan generasi muda (Izra &
Nurudin, 2022). Sementara itu, penelitian Putri & Burhan, menjelaskan bahwa kekuatan TikTok terletak
pada kombinasi visual, narasi, dan ekspresi diri yang membentuk identitas brand (Putri & Burhan,
2025). Lalu aspek perencanaan konten yang ditemukan dalam penelitian ini juga sejalan dengan temuan
Anesti & Diniati, bahwa strategi konten yang sistematis dapat membangun hubungan emosional yang
kuat dengan audiens (Anesti & Diniati, 2024).

Selain itu, penggunaan hashtag sebagai bagian dari strategi komunitas juga sejalan dengan penelitian
Nufus & Handayani, yang menyatakan bahwa hashtag di TikTok mempermudah konsumen
menemukan produk dan memperluas jangkauan promosi (Nufus & Handayani, 2022). Strategi call to
action pun menjadi elemen penting dalam membangun interaksi dua arah, sebagaimana dikemukakan
dalam penelitian Maulana, yang menyatakan bahwa CTA efektif untuk mendorong partisipasi aktif dan
memperkuat keterikatan audiens terhadap brand (Maulana, 2024).

Berdasarkan temuan tersebut, strategi storytelling marketing communication yang diterapkan oleh
@tenscoffeeid mencerminkan penerapan indikator storytelling marketing menurut Alexander, dalam
aspek aksi, komunikasi, transmisi nilai, dan pengetahuan (Mavilinda et al., 2023). Unsur aksi tampak
dalam cerita tentang ekspansi usaha, komunikasi dibangun dengan gaya bahasa yang ringan dan
relevan, transmisi nilai disampaikan melalui pesan moral dan sosial dalam narasi, dan pengetahuan
muncul dalam bentuk informasi produk atau tips ringan. Dengan demikian, strategi ini tidak hanya
menunjukkan kreativitas, tetapi juga mengedepankan pendekatan yang terstruktur, adaptif, dan berbasis
data dalam membangun engagement audiens melalui platform TikTok.

4.2.3 Strategi Storytelling dalam Membangun Engagement


Engagement merupakan keterlibatan aktif audiens dalam berinteraksi dengan konten media sosial, yang
mencakup aktivitas seperti menyukai, berkomentar, membagikan, hingga memproduksi ulang konten
(Scharlach & Hallinan, 2023). Bentuk keterlibatan ini tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga mencakup
keterlibatan sosial dan emosional antara audiens dan brand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
strategi storytelling yang diterapkan oleh @tenscoffeeid berhasil membangun engagement audiens
secara aktif. Keterlibatan ini mencakup tiga dimensi utama, yaitu konsumsi, kontribusi, dan kreasi.
Temuan ini menjawab tujuan penelitian, yaitu untuk memahami storytelling membangun engagement
melalui dimensi konsumsi, kontribusi, dan kreasi.

Pada dimensi konsumsi, audiens secara aktif menikmati konten storytelling yang dirasa dekat dengan
kehidupan mereka sebagai mahasiswa. Temuan ini didukung oleh penelitian Nisa et al., yang
menyatakan bahwa mahasiswa cenderung tertarik pada konten yang relevan dengan gaya hidup dan
nilai-nilai keseharian mereka, serta mudah terpengaruh oleh tren yang berkembang di TikTok (Nisa et
al., 2024). Seorang audiens mengatakan,

“Gaya ngomongnya enak, santai, kayak Gen Z banget… jadi pengen nonton sampai akhir” (Informan
4, 2025).

114 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
Selanjutnya, dimensi kontribusi terlihat dari partisipasi audiens dalam bentuk komentar, likes, dan
berbagi konten. Gaya komunikasi yang santai dan pendekatan visual yang menarik membuat audiens
merasa nyaman merespons pesan brand. Strategi soft selling yang diterapkan @tenscoffeeid sejalan
dengan penelitian Nurhayati & Islam, yang menunjukkan bahwa pendekatan promosi tidak langsung
melalui konten naratif lebih efektif dalam membangun hubungan dengan audiens di media sosial
(Nurhayati & Islam, 2022).

Dimensi terakhir, yaitu kreasi, ditunjukkan melalui aktivitas memproduksi konten baru yang terinspirasi
dari storytelling @tenscoffeeid. Meskipun tidak semua audiens mempublikasikan konten tersebut
secara terbuka, adanya minat untuk membuat konten pribadi mencerminkan tingkat keterlibatan yang
tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Sulistiyono & Jakaria, yang menyatakan bahwa dimensi
kreasi merupakan bentuk engagement tertinggi karena melibatkan penciptaan konten baru oleh audiens
(Sulistyono & Jakaria, 2022).

Keterlibatan audiens terhadap konten storytelling @tenscoffeeid mencerminkan partisipasi aktif yang
berlangsung dalam tiga dimensi utama, yaitu konsumsi, kontribusi, dan kreasi. Strategi storytelling yang
diterapkan tidak hanya membangun komunikasi yang informatif tetapi juga menciptakan kedekatan
emosional serta relevansi sosial dengan kehidupan mahasiswa. Penerapan strategi ini terbukti mampu
membangun engagement audiens secara efektif. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi bagi
pengembangan ilmu komunikasi pemasaran digital, khususnya pada praktik storytelling marketing oleh
nano influencer dalam membangun engagement di media sosial seperti TikTok. Strategi ini dapat
menjadi acuan bagi brand lokal dalam merancang komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga
membangun hubungan yang bermakna dengan audiens.

5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis wawancara, observasi, dan dokumentasi, penelitian ini menyimpulkan bahwa
strategi storytelling marketing communication akun TikTok @tenscoffeeid sebagai nano-influencer
terbukti efektif membangun engagement audiens mahasiswa melalui narasi yang relevan, responsif
terhadap tren, dan disusun berbasis data. Efektivitas strategi ini terlihat pada dimensi konsumsi, di mana
audiens menonton konten hingga selesai karena gaya komunikasi santai dan visual yang variatif.
Dimensi kontribusi, ketika interaksi meningkat akibat narasi yang memancing kesamaan pengalaman
sehingga mendorong komentar, likes, dan berbagi konten. Serta dimensi kreasi, saat audiens
memproduksi ulang atau membagikan konten dalam bentuk user-generated content. Temuan ini
memperluas konsep storytelling marketing Alexander dengan menunjukkan bahwa, dalam konteks
nano-influencer, kekuatan narasi ditentukan oleh personalisasi cerita sesuai karakteristik audiens,
konsistensi respons terhadap tren, dan perencanaan konten yang terstruktur. Dengan demikian, strategi
ini dapat menjadi acuan praktis bagi brand lokal dalam membangun engagement berkelanjutan di
TikTok melalui pendekatan naratif yang adaptif dan berbasis pemahaman mendalam terhadap audiens.

Limitasi dan studi lanjutan


Penelitian ini memiliki beberapa batasan yang perlu diperhatikan. Salah satunya fokus yang terbatas
hanya pada audiens mahasiswa, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat diterapkan secara luas pada
kelompok lain. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar cakupan audiens diperluas dan
mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi efektivitas storytelling, seperti
perbedaan budaya atau penggunaan platform media sosial yang berbeda, agar pemahaman tentang topik
ini menjadi lebih menyeluruh.

Ucapan terima kasih


Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Hendri Prasetya, [Link]., [Link]. dan Bapak
Mustiawan, [Link]. atas bimbingan dan dukungannya selama penelitian ini. Ucapan terima kasih
juga disampaikan kepada semua pihak dari Tens Coffee yang telah berkontribusi, serta kepada keluarga
dan rekan sejawat atas dukungan mereka. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak.

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 115
Referensi
Adam, R., Lionardo, A., & Lamato, R. (2023). Pesan Moral dalam Konten TikTok Polisi
@hermanhadibasuki (Analisis Semiotik Ferdinand de Saussure). Jurnal Studi Ilmu Sosial Dan
Politik (JASISPOL), 3(1), 29–47. [Link]
Agung, H. P., Lubis, L. A., Pane, N. F., Rangkuti, R. N., Siregar, O. M., & Siregar, A. M. (2024). Peran
Storytelling Dalam Menyusun Dan Mempertahankan Identitas Brand Heritage Di Destinasi
Wisata Tjong A Fie. Warta Dharmawangsa, 18(3), 865–878.
[Link]
Anesti, S., & Diniati, A. (2024). Perencanaan Media Sosial Instagram Wormhole Store dalam
Membangun Customer Engagement. Jurnal Ilmiah Komunikasi (JIKOM) STIKOM IMA, 16(01),
1. [Link]
Arifin, M. (2023). PENGARUH STORYTELLING MARKETING DAN BRAND TRUST TERHADAP
PURCHASE INTENTION (Studi pada Video Promosi Sibambo Studio di Pulau Jawa).
Assalamah, T. (2024). Strategi Viral Marketing Melalui Konten Edutainment Clash of Champions by
Ruangguru Viral Marketing Strategy Through Edutainment Content Clash of Champions by
Ruangguru. JOURNAL OF MEDIA AND COMMUNICATION SCIENCE, 7(3).
[Link]
Binandari, & Muksin, N. N. (2024). MANAJEMEN KOMUNIKASI NANO INFLUENCER DI
INSTAGRAM BERBASIS INTERAKTIVITAS. 8(2), 251–262.
Boangmanalu, S., & Indrawati, I. (2025). The effect of marketing mix on purchasing decisions modified
with variables of education level and monthly allowance (Study on By.U products). Journal of
Digital Business and Marketing (JDBM), 1(1), 1–13.
[Link] The
Coffee, T. (2025). Akun TikTok @tenscoffeeid. Https://[Link]/@tenscoffeeid.
Enke, N., & Borchers, N. S. (2019). Social Media Influencers in Strategic Communication: A
Conceptual Framework for Strategic Social Media Influencer Communication. International
Journal of Strategic Communication, 13(4), 261–277.
[Link]
Fadhilah, S., & Nurjanah, S. (2024). Strategi Optimalisasi Konten Tiktok Effa Design Dalam
Meningkatkan Engagement Rate. Kalbisocio, Jurnal Bisnis & Komunikasi, 11(2).
Fathoni, M. A. (2025). Studi Instrumen Kebijakan dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting Kota
Kediri. Jurnal Studi Ilmu Sosial Dan Politik (JASISPOL), 5(1), 55–68.
[Link]
Fauzan, M. A. (2024). PENGARUH STORYTELLING DAN CONTENT MARKETING TERHADAP
BRAND AWARENESS PROGRAM KERELAWANAN DALAM ORGANISASI BAKTI MILENIAL.
Fauziyyah, D. Z., & Putri, Y. R. (2024). Pengaruh Storytelling Marketing dalam Video Tiktok
pencarian matcha ke jepang terhadap minat pembelian followers tiktok @bittersweetbynajla.
Fiantika, F. R., Wasil, M., Jumiyati, S., Honesti, L., Wahyuni, S., Mouw, E., Jonata, Mashudi, I.,
Hasanah, N., Maharani, A., Ambarwati, K., Noflidaputri, R., Nuryami, & Waris, L. (2022).
Metodologi Penelitian Kualitatif. In Rake Sarasin (Issue Maret).
Gunawan Aji, Fatimah, S., Fatkhul Minan, & Muhammad Aufal Azmi. (2022). Analisis Digital
Marketing Tiktok Live sebagai Strategi Memasarkan produk UMKM Anjab Store. Jurnal Bisnis
Dan Pemasaran Digital (JBPD), 2(1), 13–24. [Link]
Hildawati, Suhirman, L., Prisuna, B. F., Husnita, L., Mardikawati, B., Isnaini, S., Wakhyudin, Setiawan,
H., Hidayat, Y., Sroyer, A. M., & Saktisyahputra. (2024). BUKU AJAR METODOLOGI
PENELITIAN KUANTITATIF & APLIKASI PENGOLAHAN ANALISA DATA STATISTIK. PT.
Sonpedia Publishing Indonesia.
Isroyati. (2016). PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF NARASI DENGAN
PENGGUNAAN METODE FIELD TRIP PADA SISWA KELAS IX DI SMP DWIGUNA
DEPOK. DEIKSIS, 08(03), 267–278.
[Link]
Izra, N. S. N., & Nurudin, N. (2022). Strategi Komunikasi Konten Digital Akun Instagram
@[Link] sebagai Media Storytelling bagi Millenial. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan,
5(7), 2220–2229. [Link]
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management 15th Global Edition. In Pearson Education

116 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117
Limited (Vol. 37, Issue 1). [Link]
Maulana, M. fadhil. (2024). Pengaruh Strategi Call To Action Marketing dalam Konten Tiktok dan
Instagram Terhadap Keputusan Pembelian Pelanggan di Kalangan Mahasiswa Politeknik Negeri
Bandung. International Journal Administration, Business & Organization, 5(1), 69–81.
[Link]
Mavilinda, H. F., Putri, Y. H., & Nazaruddin, A. (2023). Is Storytelling Marketing Effective in Building
Customer Engagement and Driving Purchase Decisions? Jurnal Manajemen Bisnis, 14(2), 274–
296. [Link]
Mustiawan, Saputra, A. R., & Putra, G. K. (2025). Account Persuasive Communication @ kuliner _
laper in Building Culinary Choice Preferences of Tiktok Viewers. 5(1), 39–56.
[Link]
Nisa, P. K., Hana, M., Azzahra, S. M., Bintang, M., Zarkasyi, J. M. A., & M, A. A. (2024). Peran
Aplikasi Tiktok Dalam Transformasi Perilaku Mahasiswa. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu
Sosial, 2(December), 145–157.
Nufus, H., & Handayani, T. (2022). STRATEGI PROMOSI DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA
SOSIAL TIKTOK DALAM MENINGKATKAN PENJUALAN (Studi Kasus Pada TN Official
Store). Jurnal EMT KITA, 6(1), 21–34. [Link]
Nurhayati, & Islam, M. A. (2022). Perancangan Konten Media Sosial TikTok Sebagai Media Promosi
Dedado Batik Di Surabaya. Jurnal Barik, 3(2), 112–124.
Prasetya, H., Nasution, N. F., & Khohar, A. (2024). Peran Electronic Word of Mouth sebagai Strategi
Komunikasi Pemasaran pada Produk Avoskin. Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika Dan
Komunikasi, 13(1), 428–435.
Pratiwi, K. S. A. L., Luh Putu Agustini Karta, N., Ramanita, N. W. S., Aprilia, N. P. N., & Wardani, R.
K. (2023). Penerapan Digital Marketing sebagai Media Pemasaran Global Guna Meningkatkan
Penjualan Kain Tenun Gringsing Desa Tenganan Pegringsingan Bali. Jurnal Bisnis Dan
Pemasaran Digital (JBPD), 2(2), 105–113. [Link]
Putri, & Burhan. (2025). STRATEGI AKUN @SHELMADESS DALAM MEMBANGUN
PERSONAL BRANDING DAN KARIER MELALUI PLATFORM TIKTOK. JMD: Jurnal Riset
Manajemen Dan Bisnis Dewantara, 8(1), 1–23.
Rachmawati, F., & Anita, D. R. (2023). Konten Edutainment Di Media Sosial Tiktok @[Link].
Restorica: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Dan Ilmu Komunikasi, 9(2), 40–46.
[Link]
Rahmadhani, F., Gumilar, A., & Rauf, A. (2023). Storytelling Marketing Strategy Of Tiktok In Creating
Brand Awareness At The@ Icgalbrand Online Store. International Social Sciences and
Humanities, 2(3), 951–959.
Safrin, Larisu, Z., Permadi, D., & Muyassaroh, I. S. (2024). MANAJEMEN PERIKLANAN DI ERA
DIGITAL.
Sahril, Pakaya, A. R., & Machmud, R. (2024). Pengaruh Strategi Endorsement Nano Influencer
Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Produk Fashion (Studi Kasus Pengguna Social Media
Instagram Pada Mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Angkatan 2019 Universitas Negeri
Gorontalo). JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis, 7(1), 281–288.
Scharlach, R., & Hallinan, B. (2023). The value affordances of social media engagement features.
Journal of Computer-Mediated Communication, 28(6). [Link]
Sudarsono, D. R. P. E., Mangantar, M., & Soepeno, D. (2025). STRATEGI STORY TELLING
MARKETING MELALUI INFLUENCER UNTUK MENINGKATKAN EKUITAS MERK DI
TIKTOK (STUDI KASUS PADA [Link] CABANG KOTA MANADO).
MUSYTARI, 15(10).
Sulistyono, A., & Jakaria, J. (2022). Analisis Pengaruh Social Media Engagement Terhadap
Relationship Quality Yang Dimediasi Oleh Faktor – Faktor Relationship Management.
Equilibrium : Jurnal Ilmiah Ekonomi, Manajemen Dan Akuntansi, 11(1), 53.
[Link]
TEMPO. (2025). Negara dengan Pengguna TikTok Terbanyak. TEMPO.

2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 101-117 117

Anda mungkin juga menyukai