BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori
Definisi dan konsep terkait
Standar dan peraturan yang digunakan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian
Lokasi dan Waktu penelitian
Objek dan Subjek penelitian
Metode dan analisis
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Hasil penelitian
Analisis dan Perhitungan
Pembahasan Hasil
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stabilitas lereng merupakan salah satu aspek penting dalam bidang geoteknik,
khususnya pada daerah aliran sungai yang memiliki kondisi tanah relatif labil dan
dipengaruhi oleh perubahan muka air secara periodik. Lereng tebing sungai yang
tidak stabil berpotensi mengalami longsor, penyebab terjadinya longsor lereng adalah
akibat adanya perubahan tegangan efektif yang disebabkan oleh perubahan tekanan
air pori, dan bertambahnya berat sendiri tanah akibat infiltrasi air hujan ke dalam
tanah. Kondisi tersebut dapat mengancam keselamatan lingkungan sekitar,
infrastruktur di sekitarnya, serta kelancaran fungsi sungai itu sendiri.
Pada lokasi studi dalam tugas besar ini, teridentifikasi kondisi lereng tebing
sungai yang menunjukkan indikasi ketidakstabilan, seperti retakan tanah di bagian
puncak lereng, kemiringan lereng yang relatif curam, serta terjadinya pengikisan kaki
lereng akibat aliran sungai. Keadaan ini mengindikasikan bahwa lereng berada pada
kondisi mendekati kelongsoran dan memerlukan evaluasi teknis untuk mengetahui
tingkat keamanannya. Tanpa adanya penanganan yang tepat, potensi terjadinya
longsor dapat meningkat terutama pada saat debit sungai tinggi atau ketika terjadi
hujan dengan intensitas besar.
Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan analisis stabilitas lereng
tebing sungai untuk mengetahui kondisi keamanan lereng eksisting serta
mengevaluasi efektivitas penggunaan timbunan sebagai solusi perkuatan. Analisis ini
diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai perubahan faktor keamanan
lereng sebelum dan sesudah penambahan timbunan, sehingga dapat menjadi dasar
dalam perencanaan penanganan lereng yang aman dan berkelanjutan guna mencegah
terjadinya longsor kembali di masa mendatang.
1.2 Rumusan Masalah
a. Jenis longsor apa yang terjadi pada lereng sungai kulon ?
b. Bagaimana analisis penyelesaian yang digunakan supaya lereng aman ?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi jenis longsor yang terjadi pada kondisi
yang ditinjau.
b. Mahasiswa mampu menganalisis untuk menyelesaikan permasalahan pada
kondisi lereng longsor yang ditinjau.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stabilitas Tanah
Stabilitas tanah dalam bidang teknik sipil merupakan kemampuan massa tanah
untuk mempertahankan keseimbangannya terhadap gaya-gaya yang bekerja, baik
gaya internal maupun eksternal, tanpa mengalami keruntuhan atau deformasi yang
berlebihan. Stabilitas tanah sangat berpengaruh terhadap keamanan dan keberlanjutan
suatu konstruksi, terutama pada struktur seperti lereng, timbunan, tebing sungai, dan
fondasi bangunan. Apabila kestabilan tanah tidak terpenuhi, maka dapat terjadi
kegagalan berupa longsoran, penurunan tanah (settlement), maupun keruntuhan
struktur.
2.2 Konsep Keseimbangan Lereng
Stabilitas tanah umumnya dikaji melalui analisis stabilitas lereng, yaitu
analisis keseimbangan antara gaya penahan dan gaya penggerak pada suatu massa
tanah. Gaya penggerak berasal dari berat sendiri tanah, beban tambahan, serta
tekanan air pori, sedangkan gaya penahan berasal dari kuat geser tanah. Kondisi
lereng dikatakan stabil apabila gaya penahan lebih besar dibandingkan gaya
penggerak. Tingkat keamanan lereng dinyatakan dengan faktor keamanan (factor of
safety), yang merupakan perbandingan antara kuat geser maksimum tanah terhadap
kuat geser yang bekerja.
2.3 Kuat Geser Tanah
Kuat geser tanah merupakan parameter utama dalam analisis stabilitas tanah.
Kuat geser didefinisikan sebagai kemampuan tanah untuk menahan tegangan geser
akibat beban yang bekerja. Menurut kriteria Mohr Coulomb, kuat geser tanah
dipengaruhi oleh dua parameter utama, yaitu kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ).
Selain itu, tegangan efektif dan tekanan air pori juga berperan penting dalam
menentukan besar kuat geser tanah, terutama pada tanah jenuh air.
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Tanah
Stabilitas tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
a. Sifat fisik dan mekanik tanah, seperti jenis tanah, kepadatan, kohesi, dan
sudut geser dalam.
b. Geometri lereng, meliputi tinggi lereng dan kemiringan lereng.
c. Kondisi air tanah, termasuk muka air tanah dan tekanan air pori.
d. Beban tambahan, seperti beban bangunan, lalu lintas, atau timbunan.
e. Pengaruh lingkungan, seperti curah hujan, erosi, dan getaran gempa.
Perubahan pada salah satu faktor tersebut dapat menurunkan stabilitas tanah dan
meningkatkan potensi terjadinya longsor.
2.5 Metode Analisis Stabilitas Tanah
Analisis stabilitas tanah umumnya dilakukan dengan metode keseimbangan
batas (limit equilibrium method), yang mengasumsikan bahwa kondisi keruntuhan
terjadi ketika gaya penggerak dan gaya penahan berada pada kondisi kritis. Beberapa
metode yang sering digunakan antara lain metode Fellenius, Bishop, Janbu, dan
Morgenstern Price. Metode-metode tersebut digunakan untuk menghitung faktor
keamanan lereng berdasarkan asumsi bidang longsor tertentu, baik berbentuk
lingkaran maupun non-lingkaran.
2.6 Upaya Peningkatan Stabilitas Tanah
Apabila hasil analisis menunjukkan bahwa stabilitas tanah tidak memenuhi
faktor keamanan yang disyaratkan, maka diperlukan upaya perbaikan. Salah satu
metode yang umum digunakan adalah penambahan timbunan pada kaki lereng untuk
meningkatkan gaya penahan. Selain itu, stabilitas tanah juga dapat ditingkatkan
melalui perbaikan drainase, penggunaan dinding penahan tanah, perkuatan geotekstil,
serta pengaturan kemiringan lereng agar lebih landai.
BAB III
METODOLOGI ANALISIS
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode analisis
kuantitatif dengan pendekatan teknik geoteknik. Penelitian dilakukan melalui
pengumpulan data primer dan data sekunder yang berkaitan dengan kondisi tanah,
geometri lereng, serta faktor lingkungan yang mempengaruhi stabilitas lereng. Data
yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode stabilitas lereng untuk
menentukan tingkat keamanan lereng dan mengevaluasi alternatif penanganan yang
sesuai.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada lokasi tebing tanah di sekitar alur Sungai
Kulon yang mengalami indikasi ketidak-stabilan lereng. Lokasi penelitian dipilih
berdasarkan kondisi eksisting yang menunjukkan potensi terjadinya longsor akibat
faktor geometri lereng dan pengaruh air. Waktu penelitian dilaksanakan pada hari
Rabu, 17 Desember 2025, pada pukul 14.30 s.d 16.00 WIB, yang mencakup
kegiatan pengumpulan data lapangan dengan mengukur ketinggian, kemiringan dan
lebar lereng. Pengolahan data meliputi penggambaran pada Autocad dengan skala,
serta analisis stabilitas lereng hingga penyusunan laporan hasil penelitian.
3.3 Objek dan Subjek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah lereng tanah pada tebing sungai yang
berpotensi mengalami longsor. Aspek yang ditinjau meliputi kondisi tanah,
kemiringan lereng, tinggi lereng, serta pengaruh muka air tanah. Subjek penelitian
berupa data teknis yang digunakan dalam analisis, seperti parameter tanah hasil
pengujian laboratorium dan data pendukung lainnya yang berkaitan dengan stabilitas
lereng.
3.4 Metode dan Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis stabilitas
lereng dengan metode Pias (irisan). Analisis dilakukan dengan membagi massa tanah
ke dalam beberapa irisan dan menghitung faktor keamanan lereng berdasarkan
parameter kuat geser tanah. Metode yang digunakan bertujuan untuk mengetahui
kondisi kestabilan lereng eksisting serta mengevaluasi pengaruh penambahan
timbunan sebagai solusi perbaikan stabilitas tanah. Hasil analisis digunakan sebagai
dasar dalam menarik kesimpulan dan memberikan rekomendasi teknis penanganan
lereng.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil penelitian
4.2 Analisis dan Perhitungan
4.3 Pembahasan Hasil