Makalah
“PERTANGGUNGJAWABAN KORPORASI TERHADAP KORBAN
KEJAHATAN”
OLEH :
AMRAN
MH2231007
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUMPASCASARJANA
UNIVERSITAS SULAWESI TENGGARA
KENDARI
2023
I. PENDAHULUAN
Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peran korporasi saat ini
menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Tujuan korporasi untuk terus
meningkatkan keuntungan yang diperolehnya mengakibatkan sering terjadinya
tindakan pelanggaran hukum. Apapun jenis kejahatan yang dilakukan, korbanlah
yang selalu menderita kerugian akibat kejahatan yang terjadi. Demikian juga
kejahatan yang dilakukan oleh korporasi yang menimbulkan korban kejahatan
korporasi yang menderita kerugian. Korban kejahatan korporasi cakupannya lebih
luas daripada korban kejahatan pada umumnya baik dari segi jumlah korban
maupun kerugian yang ditimbulkan, sehingga korban kejahatan korporasi perlu
mendapat perhatian khusus dalam pencegahan dan penanggulangan kejahatan
korporasi dalam hal ini berupa pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap
korban kejahatan korporasi. Memperhatikan akibat negatif yang ditimbulkan oleh
kejahatan korporasi seperti yang telah diuraikan sebelumnya, maka dalam hal ini
penulis telah menyusun skripsi ini dengan menggunakan judul “Pertanggungjawaban
Korporasi Terhadap Korban Kejahatan”
II. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sistem pertanggungjawaban pidana korporasi ?
2. Bagaimana penerapan sanksi terhadap korporasi menurut peraturan perundang-
undangan di Indonesia dalam upaya memberikan perlindungan terhadap korban
kejahatan?
III. PEMBAHASAN
A. Sistem Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
Pertanggungjawaban pidana memiliki hubungan yang erat dengan penentuan
subyek hukum pidana. Subyek hukum pidana dalam ketentuan
perundangundangan merupakan pelaku tindak pidana yang dapat
dipertanggungjawabkan atas segala perbuatan hukum yang dilakukannya sebagai
perwujudan tanggung jawab karena kesalahannya terhadap orang lain (korban).
Kongres PBB VII pada tahun 1985, diantaranya membicarakan jenis kejahatan
dalam tema “Dimensi Baru Kejahatan Dalam Konteks Pembangunan”, dan melihat
gejala kriminalitas yang merupakan suatu kelanjutan dari kegiatan dan
pertumbuhan ekonomi dimana korporasi banyak berperan di dalamnya, seperti
terjadinya penipuan pajak, kerusakan lingkungan hidup, penipuan asuransi,
penipuan iklan yang dampaknya dapat merusak sendi-sendi perekonomian suatu
negara. Melihat perkembangan dan pertumbuhan korporasi yang berdampak
negatif tersebut, kedudukan korporasi mulai bergeser dari hanya subyek hukum
perdata menjadi termasuk juga subyek hukum pidana
Sekarang, zaman sudah semakin berkembang dan kehidupan masyarakat
sudah sedemikian kompleksnya, oleh karena itu pemahaman tentang suatu
kejahatanpun juga harus bergeser dari pandangan lama (klasik) tersebut. Tidak
dapat dibayangkan bagaimana mungkin konsep dengan kaca mata klasik
digunakan untuk memotret terhadap gejala-gejala yang timbul dan terjadi di dalam
kehidupan masyarakat yang sudah semakin canggih dan modern ini. Apalagi untuk
memotret pelaku kejahatan yang sekarang berkembang sehingga meliputi bukan
hanya dalam wujud manusia dalam arti bukan lagi kejahatan konvensional,
sekarang sudah bergeser, disamping dilakukan oleh subjek hukum manusia,
namun juga dapat dilakukan oleh pelaku yang disamakan dengan manusia yaitu
korporasi. Dengan demikian tentu saja kaca mata lama sudah tidak mengena pada
sasaran lagi jika tetap bersikukuh untuk digunakan pada masa sekarang. Maka
mau tidak mau fokus kajian kriminologi harus mengembangkan diri yaitu lewat
telaah kritis terhadap berbagai bentuk fenomena dalam kehidupan masyarakat
yang serba modern.
KUHP yang berlaku saat ini belum mengatur mengenai pertanggungjawaban
pidana korporasi dalam arti belum mengenal korporasi sebagai subjek tindak
pidana. KUHP yang digunakan sampai saat ini masih menganut paham bahwa
suatu delik hanya dapat dilakukan oleh manusia (naturalijk person). Pasal 59
KUHP,“ adalah Dalam hal-hal dimana pelanggaran ditentukan pidana terhadap
pengurus, anggota-anggota badan pengurus atau komisaris-komisaris, maka
pengurus, anggota badan pengurus atau komisaris yang ternyata tidak ikut campur
melakukan pelanggaran tindak pidana”.1 Makna tersebut adalah bahwa tindak
pidana tidak pernah dilakukan oleh korporasi tetapi dilakukan oleh pengurusnya.
KUHP hanya mengatur perbuatan-perbuatan pidana yang dilakukan oleh orang
perorangan yang pertanggungjawabannya juga dilakukan secara individu.
1
Andi Hamzah, KUHP dan KUHAP, PT Ri neka Cipta, Jakarta, 1990, ha l 28
Pembatasan pengertian inilah yang kemudian telah menutupi atau melindungi
badan hukum dari segala tindak kejahatan yang telah dilakukan. Dengan
mengatasnamakan badan hukum (korporasi) para pelaku menjadi aman dan
terlindungi dari jerat hukum dan dapat bebas bertindak. Tidak ada sanksi hukum
pidana yang dapat dijatuhkan terhadap badan hukum tersebut karena pada saat itu
tidak ada pengaturan hukum yang mengatur pertanggungjawaban pidana bagi
badan hukum. Tuntutan-tuntutan yang dapat dimintakan hanya berkaitan dalam
lingkup keperdataan saja misalnya dengan meminta pembayaran ganti kerugian
karena tindakan badan hukum keperdataan yang telah merugikan subjek hukum
lain.
Adanya tindak pidana yang tidak diatur didalam KUHP agar tidak terjadi
kekosongan hukum (rechtvaccum) maka untuk menghindarinya diberlakukan
Hukum Pidana Khusus. Hukum Pidana Khusus merupakan Undang-Undang
pidana yang memiliki penyimpangan dari Hukum Pidana Umum, baik dari segi
Hukum Pidana Formil maupun dari segi Hukum Pidana Materiilnya. Hal tersebut
diperlukan atas dasar kepentingan hukum. “Seperti Undang-Undang Darurat No. 7
Drt 1955 tentang tindak Pidana Ekonomi, UndangUndang No. 15 Tahun 1985
tentang Ketenagalistrikan, Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika, UndangUndang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, Undang-
Undang No. 23 Tahun 1997 tentang lingkungan hidup, UndangUndang No. 20
Tahun 2001 tentang Tindak Pidana korupsi”.2
Perluasan subjek hukum di dalam Undang-Undang ini menjadi salah satu
kekhususan tersendiri dibandingkan dengan tindak pidana lain, yaitu dapat
dipidananya korporasi (badan hukum) yang tidak terdapat dalam KUHP.
Penetapan korporasi sebagai pelaku dan juga sebagai yang bertanggungjawab
motivasinya adalah dengan memperhatikan perkembangan korporasi itu sendiri,
yaitu bahwa ternyata untuk beberapa delik tertentu ditetapkannya pengurus saja
sebagai yang dapat dipidana ternyata tidak cukup. Di dalam delik korupsi bukan
mustahil denda yang dijatuhkan sebagai hukuman kepada pengurus dibandingkan
dengan keuntungan yang telah diterima oleh korporasi dengan melakukan
perbuatan pidana itu, adalah lebih besar daripada denda yang dijatuhkan sebagai
pidana.
2
Huda . Chairil, Dari Tiada Pi dana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan,
Kenca na, Ja karta
Tujuan dari pertanggungjawaban pidana korporasi yaitu :
1) memberikan suatu dampak penting bagi direktur untuk mengatur manajemen
yang efektif agar korporasinya berjalan sesuai dengan kewajiban korporasi
tersebut. Pemidanaan terhadap korporasi, pada dasarnya memiliki tujuan yang
sama dengan hukum pidana pada umumnya, yaitu Untuk menghentikan dan
mencegah kejahatan di masa yang akan datang.
2) Mengandung unsur penghukuman yang mencerminkan kewajiban masyarakat
untuk menghukum siapapun yang membawa kerugian.
3) Untuk merehabilitasi para penjahat korporasi.
4) Pemidanaan korporasi harus mewujudkan sifat kejelasan, dapat diperdiksi dan
konsitensi dalam prinsip hukum pidana secara umum
5) Untuk efisiensi, dan
6) Untuk keadilan.
Pertanggungjawaban pidana korporasi penting untuk dimintakan karena sangat
tidak adil apabila perusahaan-perusahaaan yang mengabaikan regulasi yang
ditetapkan lepas dari jeratan hukum padahal perbuatan perusahaan tersebut
menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Kedudukan korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan sifat
pertanggungjawaban pidana korporasi, terdapat model pertanggungjawaban
korporasi antara lain :
1. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggung
jawab.
Model pertanggungjawaban pidana korporasi dimana pengurus korporasi
sebagai pembuat dan sekaligus sebagai yang bertanggungjawab, pada hakikatnya
dijiwai oleh asas “societas / universitas delinquere non potest”, yaitu badan hukum
tidak dapat melakukan tindak pidana. Sistem pertanggungjawaban ini ditandai
dengan usaha-usaha agar sifat tindak pidana yang dilakukan korporasi dibatasi
pada perorangan. Mengenai pengurus korporasi sebagai pembuat dan yang
bertanggungjawab, maka terhadap pengurus diberikan kewajiban-kewajiban yang
sebenarnya adalah kewajiban korporasi. Pengurus yang tidak memenuhi kewajiban
itu diancam dengan pidana. Sistem ini terdapat alasan yang menghapuskan
pidana. Dasar pemikirannya adalah korporasi tidak dapat dipertanggungjawabkan
terhadap sutau pelanggaran, melainkan selalu penguruslah yang melakukan delik
itu. Menentukan Pertanggungjawaban pidana korporasi dengan menggunakan
sistem ini dapat ditentukan beberapa illustrasi :
1) Berkaitan dengan fungsi, yakni: perbuatan yang dilakukan atas diperintahkan
oleh pelaku tindak pidana, akan tetapi perbuatan tersebut tidak ada kaitannya
dengan tugas dan pekerjaan pengurus, maka tidak berwenang mengambil
keputusan yang mengikat untuk korporasi dalam melakukan tindak pidana.
2) Pengurus atau pegawai korporasi yang tidak ada kaitannya dengan tugas dan
pekerjaan pengurus tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan
yang mengikat korporasi dalam melakukan atau tidak melakukan perbuatan itu
agar dilakukan oleh orang lain, merupakan yang tidak sesuai dengan tujuan dan
maksud korporasi sebagaimana yang ditentukan dalam anggaran dasarnya
maka korporasi tidak dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana.
2. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggung jawab.
Sistem pertanggungjawaban ini ditandai dengan pengakuan yang timbul dalam
perumusan undang-undang bahwa suatu tindak pidana dapat dilakukan oleh
perserikatan atau badan usaha (korporasi), akan tetapi tanggungjawab untuk itu
menjadi beban dari pengurus badan usaha (korporasi) tersebut. Secara perlahan-
lahan tanggungjawab pidana tersebut beralih dari anggota pengurus kepada mereka
yang memerintahkan, atau dengan larangan melakukan apabila melalaikan
memimpin secara sesungguhnya. Dalam sistem pertanggungjawaban ini korporasi
dapat menjadi pembuat tindak pidana, akan tetapi yang bertanggungjawab adalah
para anggota pengurus, asal saja dinyatakan dengan tegas dalam peraturan itu.
Sistem pertanggungjawaban yang kedua ini sejalan dengan sistem
pertanggungjawaban yang pertama namun perbedaannya disini adalah, bahwa hal
korporasi sebagai badan usaha yang dapat dijadikan pelaku kejahatan telah dapat
diterima, namun dalam hal korporasi melakukan kejahatan, tidak mungkin tanpa
kehendak dari pengurusnya. Disini ditegaskan bahwa korporasi sebagai pembuat,
sedangkan pengurus ditunjuk sebagai yang bertanggung jawab. Hal ini berkenaan
dengan pandangan bahwa apa yang dilakukan oleh korporasi merupakan apa yang
dilakukan oleh alat perlengkapan korporasi menurut wewenang berdasarkan
anggaran dasarnya. Tindak pidana yang dilakukan korporasi merupakan tindak
pidana yang dilakukan orang tertentu sebagai pengurus dari badan hukum tersebut.
Sifat dari perbuatan yang menjadikan tindak pidana itu yaitu onpersoonlijk. Orang
yang memimpin korporasi bertanggung jawab secara pidana, terlepas dari apakah
dia mengetahui atau tidak mengenai dilakukannya perbuatan itu. Pandangan ini juga
sejalan dengan pandangan Roeslan Saleh yang setuju bahwa prinsip ini hanya
berlaku untuk pelanggaran saja.
3. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggung jawab.
Yang menjadi motivasi dari model pertanggungjawaban ini yaitu dengan
memerhatikan perkembangan korporsi itu sendiri. Ternyata untuk beberapa delik
tertentu, ditetapkannya pengurus saja sebagai yang dapat dipidana ternyata tidak
cukup. Dalam delik ekonomi bukan mustahil denda yang dijatuhkan sebagai
hukuman kepada pengurus, jika dibandingkan dengan keuntungan yang telah
diterima oleh korproasi dengan melakukan perbuatan itu, atau kerugian yang
ditimbulkan dalam masyarakat, atau yang diderita saingannya, keuntungan dan/atau
kerugian itu lebih besar jumlahnya daripada denda yang dijatuhkan sebagai pidana.
Dipidananya pengurus tidak memberikan jaminan yang cukup bahwa korporasi tidak
sekali lagi melakukan perbuatan yang telah dilarang oleh undang-undang itu.
Karenanya, diperlukan pula untuk memidana korporasi dan pengurus atau
pengurusnya saja.
4. Pengurus dan korporasi sebagai pelaku tindak pidana dan keduanya pula
yang bertanggung jawab.
Alasan – alasan pembebanan pertanggungjawaban pidana korporasi
khususnya menyangkut terhadap pengurus dan korporasi sebagai pelaku tindak
pidana dan pula yang bertanggung jawab, dapat diberlakukan terhadap keduanya.
Pertama, apabila hanya pengurus yang dibebani pertanggungjawaban pidana, maka
tidak adil bagi masyarakat yang telah menderita kerugian akibat perbuatan pengurus
yang bertindak atas nama korporasi serta dimaksudkan untuk memberikan
keuntungan bagi korporasi. Kedua, apabila hanya korporasi yang dibebani
pertanggungjawaban pidana sedangkan pengurus tidak memikul tanggung jawab,
maka sistem ini akan dapat memungkinkan pengurus bersikap lempar batu
sembunyi tangan.
B. Penerapan Sanksi Terhadap Korporasi Menurut Peraturan Perundang-
Undangan Indonesia Dalam Upaya Memberikan Perlindungan Terhadap
Korban Kejahatan
Bentuk-bentuk kerugian dan juga korban akibat kejahatan korporasi, tidak
seketika itu dapat dirasakan (korban aktual), akan tetapi baru terasa dan terlihat
pada saat kemudian (korban potensial). Menurut Clinard dan Yeager, ada enam
jenis korban kejahatn korporasi berdasarkan studi yang dilakukannya terhadaap
kejahatan korporasi, yaitu ;
1) Konsumen (keamanan atau kualitas produk). Bilamana resiko keamanan dan
kesehatan dihubungkan dengan penggunaan produk, maka konsumen telah
menjadi korban dari produk tersebut.
2) Konsumen (kekuasaan ekonomi). Pelanggaran kredit yakni, yakni memberikan
informasi yang salah dalam periklanan denga tujuan untuk mempengaruhi
konsumen.
3) Sebaian besar sistem ekonomi telah terpengarruh oleh praktik-praktik
perdagangan yang tidak jujur secara langsung (pelanggaran terhadap ketentuan
anti monopoli dan pelanggaran-pelanggaran terhadaap peraturan persaingan
lainnya) dan kebanyakan pelanggaran keuangan kecuali yang berkaitan dengan
belanja konsumen.
4) Pelanggaran lingkuangan (Pencemaran udara dan air) yang menjadi korban
yakni lingkungan fisik.
5) Tenaga kerja menjadi korban dalam pelanggaran terhadap ketentuan upah.
6) Pemerintah menjadi korban, karena adanya pelanggaran-pelanggaran atau
administrasi atau perintah pengadilan dan kasus-kasus penipuan pajak3
Secara Garis besar kerugian yang ditimbulkan kejahatan korporasi meliputi ;
1) Kerugian dibidang ekonomi.
Meskipun sulit mengukur secara tepat jumlah kerugian yang ditimbulkan
kejahatan korporasi, namun dalam berbagai peristiwa yang ditimbulkan
menunjukan tingkat kerugian ekonomi yang luar biasa besarnya.
2) Kerugian dibidang kesehatan dan keselamatan jiwa. Melalui studi di Amerika,
banyaknya korban kematian dan catat sebagai akibat perbuatan korporasi baik
3
[Link] Korban-Kejahatan-Korporasi
dari produk yang dihasilkan oleh korporasi maupun dalam proses produksi,
sehingga yang menjadi korban adalah masyarakat luas, konsumen dan pekerja
korporasi itu sendiri.
3) Kerugian dibidang sosial dan moral. Dampak yang ditimbulkan korporasi adalah
merusak kepercayaan masyarakat perilaku bisnis. Bahwa kejahatan korporasi
merupakan kejahatan yang paling mencemaskan, bukan saja kerugian yang
ditimbulkannya melainkan merusak terhadap ukuran-ukuran moral perilaku
bisnis.4
Dengan melihat banyaknya korban yang ditimbulkan oleh korporasi, maka
sangatlah wajar jika korporasi juga harus bertanggungjawab atas semua
perbuatannya.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sistem pertanggungjawaban korporasi adalah : Pengurus korporasi sebagai
pembuat dan penguruslah yang bertanggung jawab, korporasi sebagai
pembuat dan pengurus bertanggung jawab, korporasi sebagai pembuat dan
juga sebagai yang bertanggung jawab, dan pengurus dan korporasi sebagai
pelaku tindak pidana dan keduanya pula yang bertanggung jawab. Dan Dalam
kepustakaan hukum pidana dapat dimintainya pertanggungjawaban korporasi
dikenal dengan beberapa doktrin, diantaranya adalah : identification doctrine,
aggregation doctrine, reactive corporate fault, vicarious liability, management
failures model, corporate mens rea doctrine, specific corporate offences dan
strict liability
2. Penerapan sanksi terhadap korporasi menurut peraturan perundang –
undangan, penulis telah menyimpulkan bahwa sanksi yang dapat dijatuhkan
kepada korporasi dalam upaya memberikan perlindungan terhadap korban
kejahatan adalah :
1) Pidana pokok meliputi pidana denda.
2) Pidana tambahan dan
3) Sanksi Tindakan
4
Mul ya di Mahmud dan Surbakti Feri Antono, Politik Hukum Pi dana Terhadap Kejahatan Korporasi, PT Sofmedia, Ja karta,
2010
B. Saran
1) Sanksi yang diberikan kepada korporasi harus memperhatikan pemenuhan dan
pemulihan hak-hak korban berupa pembayaran ganti kerugian atas kejahatan
yang dilakukan oleh korporasi.
2) Harus diatur secara rinci dalam peraturan perundang-undangan yang
menentukan korporasi sebagai subjek tindak pidana mengenai kapan suatu
korporasi dapat dikatakan melakukan tindak pidana. Demikian juga halnya
dengan ketentuan mengenai siapa yang dapat dituntut dan dijatuhi pidana atas
DAFTAR PUSTAKA
Andi Hamzah, KUHP dan KUHAP, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1990
Mulyadi Mahmud dan Surbakti Feri Antono, Politik Hukum Pidana Terhadap Kejahatan
Korporasi, PT Sofmedia, Jakarta, 2010
Huda. Chairil, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada
Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Kencana, Jakarta
[Link] Korban-Kejahatan-Korporasi