0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan12 halaman

Panduan Penyusunan SPPL Lingkungan

Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) adalah dokumen yang menyatakan komitmen pelaku usaha untuk mengelola dan memantau dampak lingkungan dari kegiatan usahanya, terutama untuk usaha kecil yang tidak wajib menyusun AMDAL. Prosedur penyusunan SPPL meliputi konsultasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, identifikasi dampak, penyusunan rencana pengelolaan, dan pengajuan permohonan. SPPL berfungsi sebagai alat pengawasan pemerintah dan menunjukkan tanggung jawab moral pelaku usaha terhadap perlindungan lingkungan.

Diunggah oleh

Sinta Nuraprilia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan12 halaman

Panduan Penyusunan SPPL Lingkungan

Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) adalah dokumen yang menyatakan komitmen pelaku usaha untuk mengelola dan memantau dampak lingkungan dari kegiatan usahanya, terutama untuk usaha kecil yang tidak wajib menyusun AMDAL. Prosedur penyusunan SPPL meliputi konsultasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, identifikasi dampak, penyusunan rencana pengelolaan, dan pengajuan permohonan. SPPL berfungsi sebagai alat pengawasan pemerintah dan menunjukkan tanggung jawab moral pelaku usaha terhadap perlindungan lingkungan.

Diunggah oleh

Sinta Nuraprilia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)

Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)


merupakan salah satu dokumen lingkungan hidup yang berbentuk surat pernyataan tertulis dari
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Dokumen ini berisi pernyataan kesanggupan pelaku
usaha untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan terhadap dampak lingkungan hidup
yang timbul dari kegiatan usahanya. SPPL menjadi instrumen administratif yang menunjukkan
komitmen pelaku usaha dalam menjaga dan melindungi lingkungan hidup selama kegiatan
berlangsung.

SPPL memuat pernyataan kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
untuk melakukan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas dampak yang
ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang dijalankan. Dokumen ini diberlakukan bagi jenis
usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kategori wajib menyusun Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL) maupun Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya
Pemantauan Lingkungan (UKL–UPL). Dengan demikian, SPPL ditujukan untuk kegiatan
berskala kecil atau kegiatan dengan tingkat dampak lingkungan yang relatif rendah, namun tetap
berpotensi menimbulkan perubahan terhadap kondisi lingkungan hidup.

Usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki SPPL mencakup segala bentuk aktivitas yang
dapat menyebabkan perubahan terhadap rona lingkungan hidup, baik secara fisik, kimia, biologi,
maupun sosial. Perubahan tersebut dapat berdampak pada kualitas lingkungan, seperti kualitas
air, udara, dan tanah, serta dapat mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan masyarakat di
sekitar lokasi kegiatan. Oleh karena itu, meskipun tidak diwajibkan menyusun dokumen
AMDAL atau UKL–UPL, pelaku usaha tetap memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan
memantau dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Melalui penyusunan SPPL, penanggung jawab usaha menunjukkan kesadaran dan komitmen
untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. SPPL
juga berfungsi sebagai dasar pengawasan oleh pemerintah terhadap pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup, sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab moral dan hukum
pelaku usaha dalam mendukung perlindungan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Prosedur Penyusunan SPPL

Dalam proses penyusunan dan pengurusan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL), diperlukan pemahaman terhadap tahapan yang harus
dilalui agar dokumen tersebut dapat diterima dan disahkan oleh instansi berwenang. Berikut
merupakan langkah-langkah yang dapat diikuti dalam penyusunan dan pengajuan dokumen
SPPL:

1. Konsultasi dengan Dinas Lingkungan Hidup.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan konsultasi dengan Dinas
Lingkungan Hidup (DLH) setempat. Melalui konsultasi ini, pelaku usaha akan mendapatkan
penjelasan lebih rinci mengenai persyaratan, prosedur, dan format dokumen yang berlaku di
wilayah tersebut. Setiap daerah bisa memiliki ketentuan yang sedikit berbeda, sehingga tahap
konsultasi menjadi sangat penting agar proses berjalan sesuai peraturan.
2. Identifikasi Kegiatan Usaha dan Potensi Dampak Lingkungan.
Tahap berikutnya adalah melakukan identifikasi terhadap seluruh kegiatan usaha
yang dijalankan, mulai dari proses produksi hingga pembuangan limbah. Dari kegiatan
tersebut, perlu diidentifikasi potensi dampak lingkungan yang mungkin terjadi, seperti
pencemaran air, udara, atau tanah. Identifikasi ini bertujuan untuk menentukan tindakan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tepat sesuai dengan risiko yang ada.
3. Penyusunan Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.
Rencana pengelolaan dan pemantauan merupakan inti dari dokumen SPPL. Dalam
bagian ini, terdapat beberapa komponen penting, yaitu:
o Program pengelolaan: berisi langkah-langkah atau upaya yang dilakukan untuk
mencegah atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
o Program pemantauan: menjelaskan cara memantau kondisi lingkungan secara
berkala guna memastikan pengelolaan berjalan efektif.
o Jadwal pelaksanaan: memuat waktu atau periode pelaksanaan kegiatan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
o Petugas yang bertanggung jawab: mencantumkan siapa yang ditunjuk untuk
melaksanakan dan mengawasi kegiatan pengelolaan lingkungan di lapangan.
4. Penyiapan Dokumen Pendukung.
Selain rencana pengelolaan dan pemantauan, diperlukan dokumen pendukung agar
proses pengajuan dapat diproses oleh DLH. Dokumen yang biasanya disertakan meliputi:
o Surat permohonan penerbitan SPPL
o Dokumen legalitas usaha (izin usaha, NIB, atau akta pendirian)
o Denah lokasi usaha
o Data pendukung lainnya yang dianggap relevan sesuai permintaan instansi terkait.
5. Pengajuan Permohonan.
Setelah seluruh dokumen lengkap, langkah berikutnya adalah mengajukan permohonan
secara resmi ke Dinas Lingkungan Hidup setempat. Pengajuan dapat dilakukan secara
langsung melalui loket pelayanan, atau secara daring jika daerah tersebut telah
menerapkan sistem OSS (Online Single Submission).
6. Verifikasi dan Evaluasi.
Setelah berkas diterima, petugas DLH akan melakukan verifikasi terhadap kelengkapan
dokumen dan menilai kesesuaian rencana pengelolaan serta pemantauan lingkungan.
Apabila diperlukan, petugas dapat melakukan kunjungan lapangan untuk memastikan
kondisi usaha sesuai dengan data yang tercantum dalam dokumen.
7. Penerbitan SPPL.
Jika seluruh persyaratan dinyatakan lengkap dan hasil evaluasi memenuhi ketentuan,
maka Dinas Lingkungan Hidup akan menerbitkan dokumen SPPL. Dokumen ini menjadi
bukti bahwa pelaku usaha telah berkomitmen untuk melaksanakan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Untuk memastikan bahwa dokumen SPPL yang disusun sudah benar dan sesuai
ketentuan, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha
maupun penyusunnya, yaitu sebagai berikut:

1. Libatkan tenaga ahli.


Jika mengalami kesulitan dalam menyusun SPPL, sebaiknya melibatkan konsultan
lingkungan atau tenaga ahli yang berkompeten. Kehadiran tenaga ahli dapat membantu
memastikan bahwa isi dokumen telah sesuai dengan standar teknis dan regulasi yang
berlaku.
2. Sesuaikan dengan kondisi usaha.
Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan perlu disusun berdasarkan jenis, skala,
dan karakteristik kegiatan usaha. Setiap usaha memiliki potensi dampak yang berbeda
sehingga langkah pengelolaan lingkungan juga harus disesuaikan agar tepat sasaran.
3. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Dalam penyusunan SPPL, penggunaan istilah teknis yang berlebihan sebaiknya
dihindari. Bahasa yang mudah dipahami akan memudahkan pembaca, baik dari pihak
instansi maupun masyarakat, dalam memahami isi dokumen.
4. Buat rencana yang realistis.
Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus dapat dilaksanakan secara
efektif dan efisien. Dokumen yang terlalu ideal tanpa mempertimbangkan kemampuan
pelaksanaan di lapangan dapat menyulitkan proses penerapan nantinya.

Selain memperhatikan tahapan penyusunan, proses penerbitan SPPL juga


dipengaruhi oleh beberapa faktor penting. Faktor-faktor tersebut meliputi:

1. Jenis Usaha.
Jenis dan skala kegiatan usaha menjadi dasar dalam menentukan jenis dokumen
lingkungan yang diperlukan. Tidak semua kegiatan wajib memiliki AMDAL atau UKL-
UPL, karena untuk usaha berskala kecil menengah cukup menggunakan SPPL.
2. Lokasi Usaha.
Lokasi menjadi faktor penentu karena wilayah yang berada di kawasan lindung, daerah
aliran sungai, atau zona rawan bencana akan memiliki ketentuan tambahan dalam proses
perizinan lingkungan.
3. Regulasi Daerah.
Setiap daerah memiliki peraturan yang berbeda mengenai persyaratan lingkungan. Oleh
karena itu, pelaku usaha perlu menyesuaikan penyusunan SPPL dengan ketentuan dan
kebijakan lingkungan daerah masing-masing.

Format SPPL mengacu pada lampiran V dari peraturan meteri negara lingkungan
hidup nomor 16 tahun 2012 tentang pedoman penyusunan dokumen lingkungan hidup. Isi
SPPL terdiri atas 5 (lima) bagian yaitu:

1. identitas pemrakarsa
2. informasi singkat terkait dengan kegiatan
3. keterangan singkat mengenai dampak lingkungan yang akan terjadi dan pengelolaan
lingkungan hidup yang akan dilakukan.
4. pernyataan kesanggupan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup
5. tanda tangan pemrakarsa di atas kertas bermaterai cukup.

pada penyusunan SPPL, dibuat sampul (cover) SPPL yang sama memuat keterangan
sebagai berikut:

1. kop surat pemrakarsa/penyusun SPPL


2. peta lokasi kegiatan
3. rencana kegiatan
4. untuk mempermudah pembacaan terkait jenis dampak lingkungan dan bentuk
pengelolaan lingkungan hidup SPPL dapat dilengkapi dengan lampiran matriks.

penentuan jenis dampak lingkungan dan bentuk pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat
mengacu pada tabel tentang lingkup pemantauan pengelolaan lingkungan hidup surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL) yang akan diajukan ke
instansi lingkungan hidup dilengkapi dengan: peta lokasi rencana kegiatan, data desain teknis
rencana kegiatan, desain/potongan melintang rencana kegiatan, lokasi pengelolaan lingkungan
(STA dan/atau koordinat), bentuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang terkuantifikasi
dan informasi lain yang dibutuhkan.

SPPL secara umum harus memuat (mengacu pada format resmi Permen LHK):

1. Judul & Identitas Dokumen


a. Nama lengkap dokumen: Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup
b. Nomor pendaftaran (diberikan oleh Dinas Lingkungan Hidup)
2. Identitas Pemrakarsa / Penanggung Jawab
a. Nama usaha / badan hukum
b. NPWP / NIB
c. Alamat lengkap lokasi usaha
d. Kontak penanggung jawab
3. Deskripsi Usaha / Kegiatan
a. Uraian singkat tentang jenis usaha
b. Lokasi dan luas are
4. Potensi Dampak Lingkungan
a. Dampak kecil yang mungkin terjadi
b. Contoh: kebisingan, limbah domestik, residu non-B3, dll
5. Program Pengelolaan Lingkungan
a. Bagaimana dampak tersebut dicegah/ dikendalikan
b. Misalnya: manajemen limbah, pengaturan drainase, pengendalian kebisingan
6. Program Pemantauan Lingkungan
a. Jadwal dan metode pemantauan
b. Contoh: pemeriksaan kualitas air, kebersihan saluran, laporan berkala
7. Pernyataan Kesanggupan
a. Pernyataan tertulis bahwa pemrakarsa bertanggung jawab penuh terhadap
pengelolaan & pemantauan lingkungan
8. Tanda Tangan & Materai
a. Ditandatangani penanggung jawab usaha di atas materai yang cukup

Matriks Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan

No Sumber Jenis Bentuk Bentuk lokasi


Dampak dampak Pengelolaan Pemantauan
Tahap Pra Konstruksi

Tahap Konstruksi
2
3

Tahap Operasional
4

CONTOH KOP SURAT USAHA/KEGIATAN

NAMA USAHA/KEGIATAN
LOGO
Jalan Lingkungan No. 85, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade,
USAHA
Kabupaten Sukabumi Telp: (0266)237653
E-mail : [Link]@[Link] Kode pos : 41352

CONTOH PETA LOKASI KEGIATAN


Lokasi Kegiatan : Jalan Lingkungan No. 85, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade,
Kabupaten Sukabumi
Titik Koordinat :
7°25’44,2” Lintang Selatan (LS)
106°24’58,5” Bujur Timur (BT)

Batas Kegiatan :
Sebelah Utara : Permukiman Warga
Sebelah Selatan : Jalan Lingkungan
Sebelah Timur : Rumah Penduduk
Sebelah Barat : Rumah Penduduk
CONTOH RENCANA USAHA/KEGIATAN

Jenis Usaha : Usaha Bengkel Motor Rumahan


Skala : Usaha Kecil
Jenis Layanan : Servis ringan dan berat (tune up, ganti oli, rem, busi, rantai, kelistrikan)
Waktu Operasional : Senin- Kamis 10.00-17.00 WIB, Jum’at- Sabtu 08.00-12.00 WIB
Tenaga Kerja : 6 Orang
Luas lahan : ±36 m²
1. Rincian Tenaga Kerja

No Klasifikasi Pekerja Jenis Kelamin Daerah Pendidikan


Asal
L P Jumla
h

1 Operator Pencucian 2 - 2 Lokal SMA

2 Petugas Pengeringan & Setrika - 2 2 Lokal SMA

3 Petugas Administrasi / Penerimaan - 2 2 Lokal SMA


Pelanggan

Total Tenaga kerja 6

2. Rincian Kapasitas Kegiatan

No Jenis Pelayanan Keterangan Kegiatan Kapasitas/hr

1 Cuci & Setrika Cuci & Setrika Reguler Pencucian dengan mesin, ±50 kg/hari
pengeringan, dan penyetrikaan pakaian harian

2 Cuci Saja Pencucian menggunakan mesin tanpa layanan ±10 kg/hari


setrika

3 Setrika Saja Penyetrikaan pakaian pelanggan yang sudah ±5 kg/hari


dicuci sendiri

4 Cuci Bed Cover / Pencucian item besar menggunakan mesin ±5 kg/hari


Selimut kapasitas besar

5 Layanan Express Cuci dan setrika cepat untuk pakaian tertentu ±5 kg/hari
Sumber : Data Primer Citrabuana Laundry
CONTOH FORMULIR SPPL

SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN


PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (SPPL)

Kami yang bertanda tangan dibawah ini :

1. Nama : Citra Dewanty


2. Jabatan : Pemilik
3. Alamat : Jalan Lingkungan No. 85, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten
Sukabumi
4. Nomor Telepon : 087812345678

Selaku penanggung jawab atas pengelolaan lingkungan dari :


1. Nama Perusahaan / Usaha : Citrabuana Laundry
2. Alamat Perusahaan / Usaha : Jalan Lingkungan No. 85, Desa Cipeundeuy, Kecamatan
Surade, Kabupaten Sukabumi
3. Nomor Telepon Perusahaan : (0266)237653
4. Jenis Usaha / Sifat Usaha : Aktivitas Penatu (Laundry)
5. Kapasitas Produksi : ±1500 kg / bulan

Dengan dampak lingkungan yang terjadi berupa :


1. Air limbah dari proses pencucian yang mengandung sabun, deterjen, dan kotoran
pakaian.
2. Kebisingan dari penggunaan mesin cuci dan pengering.
3. Sampah padat dari sisa kegiatan.
4. Potensi bau dari hasil kegiatan laundry.
5. Penggunaan air dan energi listrik yang cukup tinggi.

Merencanakan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan melalui :


1. Pengelolaan air limbah dengan membuat bak penampung dan penyaringan sederhana
sebelum dibuang ke saluran umum, dan diminimalisir dengan penggunaan deterjem
ramah lingkungan dan efisiensi air saat proses pencucian.
2. Upaya pengelolaan kebisingan yang dilakukan oleh pemrakarsa antara lain mengatur
jam operasional usaha agar tidak mengganggu waktu istirahat masyarakat, melakukan
perawatan dan pengecekan mesin secara rutin agar tidak menimbulkan suara berlebihan,
serta menempatkan mesin cuci dan pengering di dalam ruangan tertutup. Pemantauan
kebisingan dilakukan secara berkala dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar
dan menerima masukan atau keluhan dari masyarakat. Apabila terdapat keluhan terkait
kebisingan, pemrakarsa akan segera melakukan perbaikan atau penyesuaian kegiatan
usaha untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.
3. Pengelolaan sampah dengan melakukan pemilahan sampah padat seperti kemasan atau
jrigen plastik untuk dapat diserahkan ke pengepul daur ulang. Menyediakan tempat
sampah terpisah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan kantong plastik sekali
pakai, melakukan pemilahan sampah untuk didaur ulang, mengangkut sampah secara
rutin ke TPS/TPA remi melalui petugas kebersihan desa.
4. Melakukan pengelolaan dari kegiatan usaha laundry yang berpotensi menimbulkan bau
yang berasal dari pakaian kotor yang menumpuk, penggunaan deterjen dan pewangi
pakaian, serta sampah sisa kegiatan usaha. Upaya pengelolaan bau dilakukan dengan
cara tidak menumpuk pakaian kotor terlalu lama, menjaga kebersihan area usaha setiap
hari, serta membuang sampah secara rutin. Selain itu, pemrakarsa memastikan sirkulasi
udara di ruang usaha berjalan dengan baik agar bau tidak terperangkap di dalam
ruangan.
5. Pengelolaan air dan energi listrik dilakukan dengan menggunakan mesin cuci dan
pengering yang hemat energi listrik dan air, mematikan aliran listrik dan air saat tidak
digunakan. Melakukan pemantauan dengan pencatatan penggunaan air dan listrik setiap
bulan, melakukan evaluasi pencatatan pengguaan air dan listrik untuk memantau
efisiensi.
Pada prinsipnya bersedia untuk dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan seluruh
pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan sebagaimana tersebut diatas, dan bersedia
untuk diawasi oleh instansi yang berwenang

17 Desember 2025
Yang menyatakan,

(Citra Dewanty)

Nomor Bukti Penerimaan oleh Instansi


DLH

Tanggal :

Penerima :
Lampiran Matriks Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan / Contoh Pengelolaan
Lingkungan

No Sumber Jenis dampak Bentuk Pengelolaan Bentuk Lokasi


Dampak Pemantauan

Tahap Pra Konstruksi

1 Survei Perubahan Melakukan sosialisasi Pendataan Lokasi


lokasi dan persepsi dan dan konsultasi kepada tanggapan usaha dan
rencana kekhawatiran masyarakat sekitar masyarakat dan lingkungan
pendirian masyarakat terkait rencana usaha, dokumentasi sekitar
usaha sekitar jam operasional, dan kegiatan
laundry pengelolaan limbah sosialisasi

Tahap Konstruksi

2 Renovasi Gangguan Membatasi jam kerja Pengamatan Area


ringan kenyamanan renovasi, menjaga visual terhadap bangunan
bangunan berupa kebersihan area, dan debu dan usaha
(instalasi kebisingan dan membersihkan sisa kebisingan selama laundry
air dan debu material kegiatan renovasi
listrik)

3 Pemasang Kebisingan Melakukan Pemeriksaan Area mesin


an mesin sementara pemasangan mesin kestabilan dan laundry
cuci dan pada jam kerja dan posisi mesin
pengering memastikan mesin setelah
terpasang sesuai pemasangan
standar teknis

Tahap Operasional

4 Proses Pencemaran air Menggunakan deterjen Pengamatan visual Area


pencucian akibat limbah ramah lingkungan dan kualitas air pencucian
pakaian cair deterjen mengatur dosis sesuai buangan dan dan
kapasitas mesin kondisi saluran saluran
limbah pembuang
an

5 Pembuang Penurunan Menyediakan saluran Pemeriksaan rutin Saluran


an limbah kualitas air dan pembuangan limbah saluran pembuangan
cair hasil tanah yang layak dan tidak pembuangan dan laundry
pencucian dibuang langsung ke bak kontrol
badan air

6 Operasion Kebisingan Menggunakan mesin Pencatatan dan Area mesin


al mesin dengan tingkat evaluasi keluhan dan
cuci dan kebisingan rendah dan masyarakat lingkungan
pengering membatasi jam sekitar sekitar
operasional

7 Aktivitas Timbulan Menyediakan tempat Pemeriksaan Area usaha


pekerja limbah padat sampah terpilah dan kebersihan area laundry
dan (kemasan melakukan kerja dan
konsumen deterjen, pengangkutan sampah pencatatan
plastik) secara rutin pengangkutan
sampah

Anda mungkin juga menyukai