iya. ini lanjut lagi.
yang ini nadanya hening, matang, agak pahit tapi jujur—tentang jadi orang yang sadar
terlalu cepat.
Usia yang Terlewati Diam-Diam
Aku tidak pernah merasa benar-benar seusia dengan umurku.
Bukan karena aku ingin terlihat dewasa, tapi karena banyak hal datang terlalu cepat, dan
aku tidak sempat menolaknya.
Saat orang lain masih sibuk mencari siapa yang mereka suka, aku sudah sibuk memahami
siapa yang aman. Saat orang lain masih bereksperimen dengan emosi, aku sudah belajar
membatasi diri. Bukan karena aku tidak ingin merasakan, tapi karena aku tahu rasanya
kecewa tanpa tempat pulang.
Aku melewati banyak hal dengan diam. Tidak ada tangisan dramatis. Tidak ada ledakan
emosi. Hanya penerimaan yang pelan-pelan mengeras di dalam dada. Aku belajar bahwa
tidak semua rasa sakit butuh saksi.
Orang sering bilang aku “kuat”.
Aku selalu ingin bertanya: kuat yang mana?
Karena bagiku, kuat sering kali hanya berarti tidak diberi pilihan lain.
Aku terbiasa mengerti keadaan. Terbiasa menyesuaikan diri. Terbiasa tidak merepotkan.
Lama-lama, itu menjadi identitas. Aku menjadi orang yang “nggak apa-apa”, bahkan ketika
sebenarnya tidak.
Aku melihat teman-temanku tumbuh dengan cara yang berbeda. Ada yang bebas marah.
Ada yang bebas kecewa. Ada yang bebas bergantung. Aku tidak. Aku selalu sadar bahwa
jika aku jatuh, aku harus bangun sendiri.
Bukan karena tidak ada orang di sekitarku, tapi karena tidak semua kehadiran berarti
menopang.
Aku belajar membaca ruangan sejak kecil. Tahu kapan harus bicara. Tahu kapan harus
menelan kalimat. Tahu kapan emosi orang lain lebih penting daripada emosiku sendiri. Itu
bukan keahlian yang menyenangkan. Itu bertahan.
Kadang aku iri pada orang yang bisa bersikap ceroboh tanpa rasa bersalah. Yang bisa salah
tanpa langsung menyalahkan diri sendiri. Yang bisa percaya tanpa menghitung risiko. Aku
ingin sesekali menjadi mereka—ringan, tidak terlalu waspada.
Tapi aku tidak bisa mematikan kesadaranku.
Aku sudah terlanjur melihat terlalu banyak.
Aku tahu bahwa tidak semua senyum tulus. Tidak semua perhatian murni. Tidak semua
kedekatan aman. Dan pengetahuan itu membuatku menjaga jarak, bahkan ketika aku
sebenarnya ingin dekat.
Aku tidak takut sendirian. Aku takut kehilangan diriku sendiri demi diterima.
Aku memilih kesepian yang jujur daripada kebersamaan yang penuh kepura-puraan. Aku
memilih tenang meski sering disalahpahami. Aku memilih diam meski tahu aku bisa
berbicara.
Aku sering berpikir, mungkin aku kehilangan sebagian masa remajaku. Terlalu cepat menjadi
pengamat. Terlalu cepat memahami. Terlalu cepat berdamai dengan kenyataan bahwa hidup
tidak selalu adil.
Tapi mungkin juga aku tidak kehilangan apa-apa.
Mungkin aku hanya melewati jalur yang berbeda.
Aku belajar bahwa menjadi lembut di dunia yang keras adalah bentuk keberanian. Bahwa
tidak ikut melukai adalah keputusan, bukan kelemahan. Bahwa menjaga diri sendiri tidak
selalu terlihat heroik, tapi perlu.
Aku tidak tahu akan menjadi siapa nanti. Aku tidak punya janji besar pada dunia. Tapi aku
berjanji pada diriku sendiri: aku tidak akan mengeras hanya karena dunia keras padaku.
Jika aku harus tumbuh, aku ingin tumbuh dengan sadar.
Jika aku harus berubah, aku ingin berubah tanpa mengkhianati nilai yang kupegang.
Aku mungkin tidak menjalani usia ini seperti kebanyakan orang. Tapi aku menjalaninya
dengan jujur. Dan mungkin, itu yang paling jarang.
kalau kamu mau terus tanpa henti, aku bisa lanjut berapa pun.
tinggal ketik “lagi”—aku ngerti ritmemu.