0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan37 halaman

Faktor dan Ranah Hasil Belajar Siswa

Dokumen ini membahas hasil belajar ekonomi, mencakup pengertian, faktor-faktor yang mempengaruhi, ranah hasil belajar, pengukuran, dan indikator hasil belajar. Hasil belajar mencerminkan perubahan perilaku siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Evaluasi juga dijelaskan sebagai proses untuk menilai kualitas pembelajaran dan keberhasilan siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan37 halaman

Faktor dan Ranah Hasil Belajar Siswa

Dokumen ini membahas hasil belajar ekonomi, mencakup pengertian, faktor-faktor yang mempengaruhi, ranah hasil belajar, pengukuran, dan indikator hasil belajar. Hasil belajar mencerminkan perubahan perilaku siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Evaluasi juga dijelaskan sebagai proses untuk menilai kualitas pembelajaran dan keberhasilan siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori


2.1.1 Hasil Belajar Ekonomi
[Link] Pengertian Hasil Belajar
Untuk memahami hasil belajar dengan benar, kita harus memahami
hakekat belajar. Secara psikologis, hakikat belajar adalah sebuah
proses perubahan, yakni perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil
dari interaksi individu dengan lingkungannya untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Menurut Gagne & Briggs dalam Nurrita, T. (2018)
: the outcomes of educational refer particularly to those activities
made possible by learning, which in turn is often brought about by
deliberately planned instruction. Hasil belajar merupakan
kemampuan peserta didik untuk menampilkan berbagai aktivitas,
dimana kegiatan tersebut dipelajari melalui kegiatan instruksional.
Selanjutnya Gagne mengemukakan: five varieties of capability: (1)
intellectual skill, (2) verbalizable information or simply verbal
information, (3) cognitive strategies, (4) motor skill, (5) attitudes.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dapat dibagi menjadi lima
kategori, yakni: kemampuan intelektual, pengetahuan verbal, strategi
kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
Sudjana mengatakan bahwa hasil belajar merupakan bentuk
pencapaian atau tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-
tujuan instruksional yang telah ditetapkan dan diperlihatkan setelah
peserta didik menempuh pengalaman

13
14

belajarnya. Tiga komponen membentuk belajar dan mengajar: tujuan


pengajaran (instruksional), pengalaman (proses), kegiatan belajar-
mengajar, dan hasil belajar saling terkait. Hubungan antara ketiga
unsur tersebut dapat digambarkan melalui diagram berikut:

Tujuan
Instruksional

Pengalaman Hasil Belajar


Belajar

Gambar 2.1 Hubungan Tujuan Instruksional, Pengalaman Belajar,


Dan Hasil Belajar

Lebih lanjut Sudjana (2009) mengatakan pada dasarnya, hasil


belajar siswa mencerminkan perubahan perilaku yang meliputi tiga
aspek utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Anderson, et al
(2001) menyampaikan enam dimensi dari aspek kognitif yang
merupakan revisi dari taksonomi bloom: the cognitive process
dimension contains six categories: remember, understand, apply,
analyze, evaluate, and create. Keenam dimensi itu meliputi,
mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis,
mengevaluasi, dan kreativitas.
Secara dasar, hasil belajar siswa menunjukkan adanya perubahan
dalam perilaku mereka. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar
mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Setiap kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh siswa akan menghasilkan tingkat
pencapaian belajar. Dalam proses tersebut, guru berperan penting
15

sebagai pengajar dan pendidik, memikul tanggung jawab besar dalam


mendukung kesuksesan belajar siswa, yang dipengaruhi oleh mutu
pengajaran serta faktor-faktor internal yang ada pada diri siswa.
Dalam bukunya Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar,
Abdurrahman mengatakan bahwa: " Hasil belajar merujuk pada
kemampuan yang diperoleh siswa setelah mengikuti aktivitas
pembelajaran." Percobaan seseorang untuk mengalami perubahan
prilaku yang agak stabil dikenal sebagai belajar. Dalam aktivitas yang
direncanakan dan dipantau, yang biasa disebut sebagai kegiatan
pembelajaran atau kegiatan instruksional, guru telah menetapkan
tujuan terlebih dahulu.

[Link] Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa menurut
Muhibbin Syah (2003) di bedakan menjadi tiga macam yaitu:
1) Faktor internal merujuk pada elemen yang berasal dari
dalam diri siswa, seperti kondisi fisiologis serta psikologis.
Aspek fisiologis berkaitan dengan kondisi fisik siswa,
sementara aspek psikologis mencakup faktor-faktor seperti
motivasi, bakat, minat, dan keterampilan kognitif siswa.
2) Faktor eksternal adalah elemen yang berasal dari luar diri
siswa, mencakup faktor lingkungan sosial maupun non-
sosial (instrumen). Faktor lingkungan sosial diantaranya
seperti pengaruh dari guru, staf administrasi, dan teman
sekelas yang dapat memengaruhi motivasi belajar siswa.
Selain itu, masyarakat, tetangga, dan teman bermain di
lingkungan sekitar juga merupakan bagian dari lingkungan
sosial. Namun, faktor sosial yang memiliki pengaruh
terbesar terhadap kegiatan belajar siswa adalah orang tua,
pengelolaan keluarga, dinamika hubungan dalam keluarga,
serta lokasi tempat tinggal, yang semua faktor tersebut
16

dapat memberikan pengaruh baik yang positif maupun


negatif pada proses pembelajaran dan hasil yang diperoleh.
Sementara itu, faktor lingkungan non-sosial meliputi
bangunan sekolah dan lokasinya, tempat tinggal siswa, alat-
alat belajar, kondisi cuaca, serta waktu yang tersedia untuk
kegiatan belajar.
3) Faktor pendekatan belajar mencakup upaya siswa dalam
menggunakan berbagai strategi dan metode untuk
menjalani proses pembelajaran, yang dipengaruhi oleh
lingkungan belajar, kurikulum, program, fasilitas belajar,
serta peran guru. Pendekatan pembelajaran memiliki
pengaruh besar terhadap hasil yang dicapai siswa. Oleh
karena itu, semakin efektif dan mendalam metode
pembelajaran yang diterapkan, semakin baik pula hasil
yang diperoleh siswa.

[Link] Ranah Hasil Belajar


Indonesia menggunakan suatu sistem pendidikan yang
menggunakan Taksonomi Bloom guna melakukan klasifikasi atas
hasil belajar siswa melalui 3 (tiga) ranah dimana ranah pertama
merupakan ranah kognitif. Ranah ini meliputi suatu perkenalan
sekaligus ingatan yang dimiliki terkait dengan fakta atau konsep yang
mana hal tersebut dapat dilakukan guna meningkatkan dan
mengembangkan intelektual skill dari siswa. Keahlian seorang peserta
didik yang memiliki kesesuaian dengan harapan dari tenaga didik
diurutkan pada ranah kognitif ini, dimana kemudian dalam ranah ini
terdapat 6 (enam) tingkatan yakni pengetahuan, pemahaman,
penerapan, pemaparan, pemaduan dan evaluasi yang disebut juga
dengan penilaian (Magdalena et al., 2020)
Ranah kognitif dalam pembelajaran peserta didik meliputi aspek
intelektual atau disebut dengan pengetahuan atau knowledge, yang
17

meliputi berbagai keterampilan berpikir dari siswa. Hal ini diketahui


dari kemampuan peserta didik dalam memori berpikir yang dimiliki
termasuk dalam penerimaan hal baru ataupun teori yang dipahami
peserta didik. Peserta didik dikatakan memiliki kekuatan dalam ranah
kognitif ketika dapat mengingat, memahami dan menghafal definisi
yang baru didapatkannya (Magdalena et al., (2020)
Peninjauan dari motivasi, sikap, perasaan dan nilai yang ada pada
diri peserta didik atau dikatakan pula sebagai aspek moral merupakan
termasuk pada ranah afektif yang dapat dikuasai oleh peserta didik.
Tingkatan baik atau tidaknya ranah afektif yang dimiliki oleh peserta
didik dapat diketahui dari baiknya hubungan pertemanan yang
dimiliki, sosialisasi yang baik dan perilakunya dalam menghadapi
suatu permasalahan. Baiknya, seorang peserta didik dapat
membangun ranah ini ketika dalam proses KBM atau kegiatan belajar
mengajar di sekolah atau pun di luar sekolah (Magdalena et al., 2020).
Ketiga, adalah ranah psikomotorik dimana dalam ranah ini
memberikan suatu informasi dari bagaimana keterampilan yang
dimiliki setiap siswa yang terjadi selama berada dalam suatu kegiatan
belajar, baik itu di dalam atau di luar sekolah, namun pada penelitian
ini difokuskan pada pembelajaran di dalam sekolah. Aktualisasi dari
ranah ini dapat ditinjau dari mampunya seorang peserta didik dalam
melakukan penghafalan atas serangkaian teori yang didapatkannya
selama kegiatan pembelajaran dan menerapkan konsep abstrak yang
terdapat pada teori tersebut, di dalam kehidupannya. Pemahaman dan
penerapan teori ini kemudian digunakan sebagai acuan dalam
meakukan pengukuran atas pemahaman ilmu oleh peserta didik secara
komprehensif (Magdalena et al., 2020).

[Link] Pengukuran Hasil Belajar


Dapat dilakukan pengukuran atas hasil belajar yang didapatkan
oleh peserta didik dengan dua teknik, yang mana teknik pertama
18

adalah Teknik Non-Tes yang meliputi rating scale atau skala


bertingkat yang dapat memberikan penggambaran atas nilai yang
diwakili dengan angka atau skala, dimana teknik ini dapat
dicontohkan seperti penilaian seseorang atas suatu karya seni dengan
skala 1 yang mewakili nilai sangat tidak suka hingga skala 5 yang
mewakili nilai sangat suka. Kedua adalah kuesioner dimana penilaian
ini berbentuk suatu pernyataan dengan nilai yang diisi oleh pihak yang
akan diukur atau dalam hal ini adalah responden guna mengetahui
terkait diri responden, pendapat, pengalaman atau sikap dari
responden tersebut. Ketiga yakni checklist dimana maksudnya adalah
pemberian tanda centang atau cocok pada suatu daftar pernyataan
yang diberikan. Selanjutnya adalah wawancara yang dapat dilakukan
pada responden secara langsung melalui suatu tanya jawab dan juga
teknik observasi atau pengamatan secara mendetail dan teliti yang
kemudian dicatat secara sistemik. Keenam adalah riwayat hidup dari
subyek yang akan dievaluasi guna dapat memberikan kesimpulan atas
perilaku, kebiasaan dan kepribadian dari obyek penilaian (Arikunto,
2015).
Arikunto (2015) juga mengemukakan bahwa terdapat teknik kedua
yakni teknik tes, meliputi tes diagnostik yakni suatu pengujian guna
memberikan informasi mengenai kelemahan yang dimiliki oleh
peserta didik sehingga kemudian dapat diperbaiki. Kedua adalah tes
formatif dimana biasanya berupa post-test atau dapat disamakan
dengan ulangan harian, guna mengetahui informasi yang dimiliki oleh
peserta didik pada awal mula kegiatan hingga titik akhir dari kegiatan
pembelajaran tersebut. Ketiga, tes sumatif yang merupakan bentuk tes
yang serupa dengan tes formatif namun dalam cakupan yang lebih
luas, seperti ujian akhir semester. Kemudian dapat dilakukan pula tes
subjektif yang berbentuk esai atau suatu urain yang dapat
menunjukkan pemahaman lebih dalam dari seorang peserta didik atas
suatu bahasan. Terakhir adalah tes objektif, yakni sebuah tes dengan
19

jumlah soal yang lebih bervariasi dengna butir pertanyaan lebih


banyak, seperti true-false, pilihan ganda hingga isian (Arikunto,
2015).

[Link] Indikator Hasil Belajar


Siswa mengikuti suatu proses pembelajaran yang kemudian akan
dilakukan evaluasi dan mendapatkan hasil belajar, dimana hal tersebut
dibagi menjadi tiga ranah seperti yang telah termaktub di atas, yakni
ranah kognitif, afektif dan juga psikomotorik. Berdasarkan ketiga
ranah yang telah diketahui tersebut, dapat diperoleh pula indikator
yang terdapat dalam masing-masing ranah. Dalam penelitiannya
Enneking et al., (2019) menyebutkan bahwa beberapa indikator yang
terdapat dalam setiap ranahnya seperti ranah kognitif mengenai
knowledge, pemahaman, application, pembuatan hingga evaluasi;
ranah afektif berisi mengenai penerimaan siswa, cara menjawab serta
menentukan nilai yang diperoleh; ranah yang terakhir berupa
psikomotorik berisi perubahan secara fundamental, pergeseran
general hingga kreativitas dari siswa dalam belajar.
Indikator dalam ranah hasil belajar juga dikemukakan oleh Graham
et al., (2010) dimana ranah kognitif disebutkan berisi mengenai cara
siswa dalam memberikan fokus pada diri dalam hal memperoleh
pengetahuan dalam pendidikan akademik; ranah afektif berisi
mengenai siswa yang menunjukkan sikap dan nilai serta keyakinan
dalam diri yang memiliki peran guna mengubah perilaku siswa dan
belajar; dan pada ranah psikolotorik terlihat pada kreativitas yang
digunakan siswa dalam mengembangkan diri terutama dalam
performanya ketika belajar.
Muhibbin (2003) menyebutkan bahwa dalam setiap ranah terdiri
dari beberapa indikator yang dapat diuraikan sebagai berikut
1. Ranah kognitif
20

• Memiliki ingatan mengenai pengetahuan yang dimiliki


dengan baik
• Mampu menerapkan yang dieproleh dari belajar dengan
tepat
• Menguraikan dan mengklasifikasikan permasalahan yang
ditemui dalam proses belajar
• Menghubungkna hingga menggeneralisasikan materi
berlajar yang diperoleh
• Dapat menilai hingga menyimpulkan dari yang diperoleh
dalam proses belajar
2. Ranah afektif
• Mampu menunjukkanan sikap dan nilai yang dimiliki
hingga memberikan tanggapan dalam proses belajar
• Memiliki kesediaan untuk turut serta secara aktif dalam
setiap kegiatan belajar
• Mampu mendalami materi yang diperoleh selama belajar
dengan baik
3. Ranah psikomotorik
• Memiliki kecakapan yang baik dalam mengkoordinasikan
anggota tubuh ketika proses belajar
• Memiliki kefasihan dalam mengucapkan setiap hal yang
diperoleh dari belajar
Berdasarkan penjelasan beberapa tokoh di atas mengenai indikator
hasil belajar, maka pada penelitian ini dilakukan pengukuran
menggunakan indikator satu ranah yakni ranah kognitif yang
berkaitan dengan pemahaman akademis dari peserta didik. Ranah
tersebut diwujudkan dalam suatu bentuk nilai yakni nilai rapor dari
siswa dengan peminatan ekonomi di SMA Negeri 53 Jakarta.
21

2.1.2 Evaluasi Berbasis Digital


[Link] Pengertian Evaluasi
Menurut istilah, evaluasi merupakan proses berkelanjutan yang
melibatkan pengumpulan dan analisis informasi untuk menilai
keputusan yang telah diambil dalam merancang suatu sistem
pembelajaran. dan untuk memperoleh kesimpulan tentang keadaan
sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan membandingkan
hasilnya dengan tolak ukur.
Evaluasi dalam pendidikan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu evaluasi
pembelajaran yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana siswa
menguasai materi, evaluasi program yang digunakan untuk menilai
sejauh mana program mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan
evaluasi sistem yang berfungsi untuk mengukur sejauh mana tujuan
lembaga tercapai serta sejauh mana komitmen kepemimpinan
terhadap tujuan dan fungsi utama lembaga. Dalam konteks lain,
evaluasi, pengukuran, dan penilaian merupakan kegiatan yang bersifat
hierarkis. Ini berarti ketiga kegiatan tersebut saling terkait dalam
proses pembelajaran dan tidak dapat dipisahkan. Selain itu,
pelaksanaannya harus dilakukan secara berurutan untuk memastikan
hasil yang sesuai. (Magdalena, Ridwanita, et al., 2020).
Arifin dalam Asrul (2015) berpendapat bahwa pada dasarnya,
evaluasi merupakan suatu metode yang terstruktur dan berkelanjutan
untuk menilai kualitas, yaitu nilai dan makna, berdasarkan standar dan
sudut pandang tertentu yang digunakan dalam proses pengambilan
keputusan. Evaluasi juga merupakan suatu proses untuk menilai
sesuatu berdasarkan kriteria atau standar objektif yang telah
ditentukan, yang kemudian digunakan untuk membuat keputusan atau
menilai objek yang dievaluasi. Hasil evaluasi merupakan suatu
gambaran kualitas, baik yang menyangkut nilai maupun arti. Adanya
evaluasi memungkinkan peserta didik untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan mereka selama mengikuti pendidikan. Siswa akan
22

mendapatkan nilai yang menyenangkan dan mendorong mereka untuk


meningkatkan hasil belajar mereka. (Magdalena, Ridwanita, et al.,
2020).

[Link] Pengertian Evaluasi Berbasis Digital


Evaluasi berbasis digital mengacu pada proses evaluasi yang
menggunakan teknologi digital atau perangkat lunak khusus untuk
mengukur, menganalisis, dan menyediakan umpan balik terhadap
kinerja atau hasil suatu aktivitas pembelajaran. Menurut pendapat para
ahli, evaluasi berbasis digital menawarkan sejumlah keunggulan,
termasuk fleksibilitas dalam pengumpulan data, akurasi yang lebih
tinggi dalam analisis, dan kemampuan untuk menyajikan informasi
dengan cara yang interaktif dan menarik bagi peserta didik. Bukti-
bukti kinerja yang dikumpulkan secara digital juga dapat dengan
mudah dilacak dan dikelola, memungkinkan pendidik untuk memberi
umpan balik yang lebih terperinci dan tepat waktu kepada siswa.
Selain itu, evaluasi berbasis digital juga dapat meningkatkan
efisiensi proses evaluasi dengan mengurangi waktu dan tenaga yang
dibutuhkan untuk mengumpulkan, mengelola, dan menganalisis data.
Dengan menggunakan perangkat lunak atau platform khusus, para
pendidik dapat secara otomatis menghasilkan laporan evaluasi yang
terstruktur dan mudah dipahami, yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran individu serta memperbaiki
desain pembelajaran secara keseluruhan. Ini juga memberikan
kesempatan bagi siswa untuk menerima umpan balik secara langsung
dan segera, memungkinkan mereka untuk melacak kemajuan mereka
dengan lebih baik dan mengidentifikasi area di mana mereka perlu
meningkatkan kinerja mereka.
Namun demikian, ada beberapa pertimbangan yang perlu
diperhatikan dalam mengimplementasikan evaluasi berbasis digital.
Salah satu faktor penting adalah kebutuhan akan infrastruktur
23

teknologi yang cukup, seperti akses internet yang lancar dan


perangkat keras yang memadai. Selain itu, penting juga untuk
memastikan bahwa instrumen evaluasi yang digunakan sesuai dengan
capaian pembelajaran yang diinginkan dan dapat mengukur aspek-
aspek kritis dari kompetensi siswa. Dengan memperhatikan aspek-
aspek ini, evaluasi berbasis digital dapat menjadi sarana yang sangat
efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta
mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan dunia yang semakin
terhubung secara digital.
Dengan adanya alat evaluasi berbasis digital, pembelajaran tanpa
tatap muka menjadi lebih efektif karena tidak terbatas oleh waktu dan
tempat. Pembelajaran jenis ini disebut pembelajaran daring atau e-
learning. Salah satu keuntungan dari pembelajaran daring adalah
siswa diharuskan untuk lebih aktif dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional, karena mereka dilatih untuk secara mandiri mencari
informasi dari berbagai sumber. Pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada siswa ini juga merupakan salah satu ciri khas dalam
kurikulum 2013. Siswa dan pengajar dapat melakukan pembelajaran
dari rumah masing-masing menggunakan perangkat digital atau
ponsel pintar berbasis daring.

[Link] Macam-Macam Alat Evaluasi Berbasis Digital


Perkembangan teknologi dan informasi dalam dunia pendidikan
tidak hanya digunakan sebagai media dan sumber belajar, tetapi juga
sebagai alat untuk melakukan evaluasi pembelajaran. Alat evaluasi
merupakan perangkat yang membantu mempermudah pengerjaan
tugas secara lebih efektif dan efisien. Berbagai perangkat lunak telah
dikembangkan sebagai alat evaluasi dalam pembelajaran berbasis
teknologi informasi dan komunikasi, seperti PowerPoint, Adobe
Flash, Hot Potatoes, Wondershare Quiz Creator, Quizizz, dan lainnya.
Dengan menggunakan program-program tersebut, guru dapat
24

membuat tes berbasis komputer yang menarik, sementara siswa dapat


mengerjakan soal di mana saja tanpa terbatas waktu. Evaluasi
pembelajaran dalam situasi belajar dari rumah dapat dilakukan
melalui ujian jarak jauh. Kemajuan teknologi yang pesat, terutama
penggunaan internet, memudahkan implementasi ujian jarak jauh.
Pengajar dapat memanfaatkan berbagai aplikasi online untuk
melakukan evaluasi hasil belajar secara daring, baik berupa tes, kuis,
tugas portofolio, atau evaluasi lainnya secara online. Penelitian ini
fokus pada penggunaan aplikasi Quizizz untuk mengevaluasi hasil
belajar siswa.

[Link] Fungsi Evaluasi


Evaluasi mempunyai tujuan untuk memperoleh data yang akan
menunjukan peserta didik apakah peserta didik berhasil dalam
menggapai tujuan kurikulum. Selain itu, evaluasi juga berguna bagi
guru dan pengamat pendidikan untuk mengukur atau menilai sejauh
mana keefektifan metode pengajaran, aktivitas belajar, serta
pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dengan
demikian, dalam kegiatan belajar mengajar evaluasi merupakan hal
yang sangat penting. Secara detail, fungsi evaluasi dalam
pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi empat fungsi, yaitu:
1) Akhir kegiatan belajar mengajar untuk jangka waktu tertentu,
pahami status siswa senior dan berkembang kemudian
menggunakan hasil evaluasi yang diperoleh untuk
menyempurnakan metode pembelajaran peserta didik atau
mengisi transkip. Menentukan peningkatan jumlah kelas atau
lulusan.
2) Memahami taraf keberhasilan rencana evaluasi dalam
memberikan pembelajaran. Metode yang digunakan dalam
pengajaran terdiri dari beberapa unsur yang [Link],
materi, bahan ajar, metode pembelajaran, perangkat dan akar
25

dari pembelajaran, dan perangkat penilaian merupakan unsur


yang digunakan.
3) Butuh bimbingan dan konsultasi. Hasil berbagai evaluasi yang
dilakukan pendidik terhadap peserta didi dapat digunakan
sebagai informasi atau sumber data untuk pelayanan
bimbingan konseling.
4) Memahami berbagai kebutuhan untuk pengembangan dan
peningkatan kurikulum sekolah.

2.1.3 Motivasi Belajar


[Link] Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan salah satu faktor krusial yang berperan
dalam menentukan efektivitas proses pembelajaran adalah kualitas
interaksi antara pendidik, peserta didik, serta lingkungan belajar.
Seorang siswa cenderung belajar dengan optimal jika didorong oleh
faktor yang memotivasi, yaitu motivasi belajar. Seorang siswa
cenderung belajar dengan penuh kesungguhan apabila memiliki
motivasi belajar yang kuat.
Menurut Hamzah (2012) “Motivasi belajar merupakan dorongan
internal maupun eksternal yang mendorong siswa dalam proses
belajar untuk melakukan perubahan perilaku, yang ditandai oleh
sejumlah indikator pendukung. Indikator-indikator tersebut meliputi
keinginan dan tekad untuk meraih keberhasilan, didukung oleh
dorongan serta kebutuhan akan pembelajaran, harapan dan tujuan
masa depan, penghargaan terhadap usaha belajar, serta lingkungan
belajar yang supportive merupakan faktor utama yang mendorong
seseorang untuk belajar secara optimal.”
Selain itu, Winkel (2005), motivasi belajar merupakan keseluruhan
kekuatan psikologis dalam diri siswa yang mendorong terjadinya
aktivitas belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sejalan
26

dengan pandangan tersebut, Sardiman (2012) mengatakan bahwa


motivasi belajar adalah seluruh dorongan internal yang memicu dan
mempertahankan kegiatan belajar, memberikan arahan pada proses
belajar, serta membantu siswa mencapai tujuan yang diinginkan.”
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi
belajar adalah segala bentuk kekuatan psikologis yang terdapat dalam
diri siswa untuk mendorong mereka dalam proses belajar, yang
mendorong mereka untuk belajar dan meraih tujuan belajar.

[Link] Macam-macam Motivasi Belajar


Pembahasan tentang jenis-jenis motivasi akan difokuskan pada dua
perspektif, yaitu motivasi tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu motivasi
yang berasal dari dalam diri individu, yang dikenal sebagai "motivasi
intrinsik," serta motivasi yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang
disebut "motivasi ekstrinsik." (Sardiman, 2012).
1) Motivasi Intrinsik
Motivasi yang bersifat aktif atau dapat berfungsi tanpa
memerlukan rangsangan dari luar, karena adanya dorongan
untuk melakukan suatu hal sudah ada dalam diri setiap individu.
Ini dikenal sebagai motivasi intrinsik. Motivasi instrinsik sangat
penting untuk aktivitas belajar, terutama dalam hal belajar
sendiri. Jika seseorang tidak memiliki motivasi dari dalam
dirinya, maka akan sulit untuk mempertahankan proses belajar.
Sebaliknya, individu yang memiliki dorongan intrinsik akan
selalu terdorong untuk terus belajar lebih banyak. Pemikiran
positif yang menyadarkan bahwa setiap pelajaran yang
dipelajari memiliki manfaat besar, baik saat ini maupun di masa
depan, akan memperkuat dorongan untuk belajar.
Djamarah (2011) mengatakan motivasi dianggap intrinsik
ketika tujuan pembelajaran tidak terpisahkan dari proses belajar
itu sendiri, serta berkaitan dengan kebutuhan dan keinginan
27

siswa untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam


materi pelajaran. Contohnya, siswa merasa tertantang dan
menikmati tugas yang sulit, serta berusaha untuk menemukan
solusi secara mandiri. Motivasi belajar siswa didorong semata-
mata oleh keinginan untuk menguasai materi pelajaran, bukan
untuk mendapatkan pujian, nilai maksimal, atau hadiah,
melainkan karena memiliki tujuan jangka panjang yang ingin
dicapai. Akhirnya, kegiatan belajar dianggap sebagai langkah
menuju pencapaian cita-cita.
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merujuk pada dorongan yang muncul
karena adanya rangsangan dari faktor luar. Sebagai contoh,
siswa belajar karena mengetahui ada ujian besok dan berharap
untuk mendapatkan nilai baik, lulus ujian dengan hasil
memuaskan, serta upaya untuk menghindari hukuman dari guru
atau orang tua, mendapatkan pujian dari teman, atau
memperoleh hadiah. Dengan demikian, tujuan dari kegiatan
yang dilakukan tidak selalu berkaitan langsung dengan inti dari
aktivitas tersebut. Dengan demikian, motivasi ekstrinsik dapat
diartikan sebagai dorongan yang membuat siswa memulai dan
melanjutkan aktivitas belajar, yang berasal dari faktor eksternal
yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan proses pembelajaran
itu sendiri.
Motivasi ekstrinsik bukanlah motivasi tidak penting atau
tidak bermanfaat dalam dunia belajar. Sebaliknya, motivasi ini
sangat dibutuhkan agar siswa tetap bersemangat dan ingin
belajar. Berbagai cara dapat dilakukan, terutama oleh guru di
sekolah, untuk menjaga motivasi siswa dalam belajar. Menurut
Djamarah (2011) guru yang efektif yaitu guru yang mampu
meningkatkan minat belajar siswa dengan cara memanfaatkan
motivasi ekstrinsik sebagai bagian dari proses pembelajaran di
28

kelas. Sardiman juga menegaskan bahwa motivasi ekstrinsik


tidak hanya penting, tetapi juga sangat diperlukan dalam
kegiatan belajar mengajar, karena kondisi siswa yang dinamis
dan berubah-ubah, serta kemungkinan beberapa aspek dalam
proses pembelajaran kurang diminati oleh siswa, sehingga
memerlukan dorongan motivasi eksternal.

[Link] Aspek-Aspek Motivasi Belajar


Ketercapaian dalam kegiatan belajar dapat diukur melalui motivasi
belajar yang terlihat dari partisipasi siswa selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek dari motivasi belajar
menurut Sudjana (2009) adalah sebagai berikut:
1) Minat dan perhatian siswa pada mata pelajaran, siswa yang
memiliki motivasi belajar tinggi akan fokus dan tertarik
pada pelajaran serta aktif dalam mengikuti kegiatan belajar
yang berlangsung.
2) Semangat siswa untuk mengerjakan tugas, siswa yang
termotivasi dalam belajar cenderung berusaha
menyelesaikan tugas dengan usaha penuh, memiliki sikap
mandiri, serta memiliki tujuan untuk meraih nilai yang
lebih baik, yang akan mendorong semangat mereka dalam
menyelesaikan pekerjaan.
3) Tanggung jawab siswa akan tugas-tugasnya, siswa dengan
motivasi belajar tinggi selalu bertanggung jawab terhadap
tugas-tugasnya, yang berarti mereka tidak akan
mengabaikan tugas tersebut.
4) Reaksi siswa terhadap stimulus yang diberikan guru, siswa
dengan motivasi tinggi akan memperhatikan guru saat
mengajar dan aktif bertanya selama proses pembelajaran
berlangsung.
5) Rasa senang dan puas dalam pengerjaan tugas yang
diberikan, siswa akan fokus sepenuhnya pada tugas yang
29

diberikan dan tidak mudah menyerah atau putus asa dalam


mengerjakan tugas-tugas tersebut.
Dalam penelitian ini, berbagai aspek yang dianalisis sebagai aspek-
aspek yang dijelaskan dalam penelitian ini meliputi alat ukur atau
angket motivasi belajar oleh Sudjana (2009) dikarenakan aspek-aspek
tersebut menggambarkan inti dari motivasi belajar secara lebih
mendalam. Aspek-aspek tersebut mencakup bagaimana motivasi
dapat membangkitkan ketertarikan siswa terhadap materi pelajaran,
mendorong antusias siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas,
meningkatkan rasa tanggung jawab yang dimiliki siswa terhadap
tugas dan kewajiban siswa, respon siswa terhadap rangsangan yang
diberi oleh guru, serta bagaimana motivasi mampu menciptakan rasa
senang dan kepuasan bagi siswa dalam menyelesaikan tugas yang
diberikan.

[Link] Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar


Menurut Dimyati & Mudjiono (2013) faktor-faktor yang
memengaruhi motivasi belajar siswa meliputi:
1) Cita-cita atau aspirasi siswa
Cita-cita atau aspirasi siswa merupakan tujuan yang
hendak dicapai dan berbeda untuk setiap siswa. Mereka
didefinisikan sebagai sasaran yang ditentukan dalam suatu
kegiatan yang memiliki arti bagi seorang siswa.
2) Kemampuan Siswa
Kemampuan siswa dapat meningkatkan motivasi mereka
dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya. Setiap
keinginan yang dimiliki anak perlu didukung oleh
keterampilan yang memadai. Sebagai contoh, keinginan
siswa untuk membaca harus dilengkapi dengan
kemampuan untuk mengenali dan melafalkan bunyi setiap
huruf.
30

3) Kondisi Siswa
Keadaan fisik dan mental siswa dapat memengaruhi
motivasi belajarnya. Siswa yang sedang mengalami sakit,
kelaparan, atau emosi negatif seperti marah akan kesulitan
untuk fokus dalam belajar, dan sebaliknya.
4) Kondisi lingkungan
Lingkungan dari siswa mencakup kondisi alam, tempat
tinggal, pergaulan dengan teman sebaya, serta kehidupan
sosial. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan
kualitas lingkungan yang sehat, harmonis, dan tertib.
Lingkungan yang aman, nyaman, rapi, dan menarik akan
membantu memperkuat semangat serta motivasi belajar
siswa.
5) Unsur-unsur dinamis dalam keadaan belajar dan
pembelajaran
Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran merupakan
elemen-elemen yang keberadaannya tidak selalu stabil
selama proses belajar. Terkadang unsur tersebut kuat,
namun bisa juga melemah atau bahkan menghilang
sepenuhnya. Contohnya adalah faktor-faktor yang bersifat
situasional, seperti emosi siswa, semangat belajar, dan
kondisi dalam keluarga.
6) Upaya guru pada kegiatan pembelajaran siswa
Upaya guru yang dimaksud yaitu bagaimana persiapan
guru untuk mengajar siswa, dimulai dari penguasaan
materi yang akan diajar, metode penyampaian, cara
menarik minat siswa, hingga pengelolaan hasil belajar
mereka.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Sardiman (2012) menyatakan


bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu:
31

1) Kebudayaan
Masing-masing kelompok budaya memiliki perspektif
atau pandangan tertentu yang berbeda mengenai
pendidikan. Jika suatu daerah memiliki nilai budaya yang
kuat mengenai pentingnya pendidikan, masyarakat di
wilayah tersebut akan memberi dukungan penuh anak-
anak untuk belajar dengan tekun agar menjadi individu
yang benar-benar berpendidikan.
2) Lingkungan keluarga
Menurut penelitian yang telah dilakukan, keluarga
memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar
siswa, karena perkembangan motivasi belajar mereka
terpengaruh oleh keadaan yang terjadi pada setiap tahap
perkembangan.
3) Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah mencakup fasilitas, sumber bahan
ajar, media pembelajaran, hubungan siswa dengan teman
sebaya, guru, serta karyawan sekolah lainnya, dan
lingkungan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
Sekolah yang memiliki beragam kegiatan belajar,
didukung oleh sarana dan prasarana belajar yang
memadai, pengelolaan yang baik, serta suasana akademis
yang kondusif, akan sangat meningkatkan semangat
belajar siswa.
4) Keinginan siswa itu sendiri untuk belajar
Keinginan belajar yang muncul dari diri siswa sendiri
adalah faktor yang penting. Ketika siswa memiliki
dorongan belajar yang berasal dari dalam dirinya, mereka
akan mendapatkan keuntungan dari hasil pembelajaran-
nya dan berkembang menjadi individu yang terdidik, dan
memiliki keahlian di bidang tertentu. Upaya mencapai
32

tujuan tersebut dilakukan atas dasar kemauan pribadi


tanpa unsur paksaan dari orang tua atau pengaruh
eksternal seperti hadiah, pujian, dan sejenisnya.
Mengacu pada pemikiran beberapa ahli tersebut, dapat dibuat
kesimpulan bahwa motivasi belajar siswa perlu terus ditingkatkan
untuk meraih hasil belajar yang lebih baik dan mendorong
terbentuknya program pembelajaran sepanjang hayat. Namun, dalam
kenyataannya, motivasi belajar siswa tidak selalu bersifat konsisten.
Ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tujuan atau aspirasi,
kemampuan, kondisi pribadi siswa, lingkungan, elemen-elemen yang
bersifat dinamis dalam proses pembelajaran, serta peran guru dalam
mengajar. Selain itu, motivasi belajar turut dipengaruhi oleh faktor
budaya, kondisi lingkungan keluarga, suasana di lingkungan sekolah,
serta motivasi internal yang mendorong siswa untuk belajar.

[Link] Indikator Motivasi Belajar


Sebagai penentu tingkat kesuksesan tindakan belajar yang
dilakukan, motivasi belajar memiliki beberapa indikator yang dapat
dipakai untuk menilai tingkat motivasi belajar dalam diri seseorang.
Uno dalam Nasrah dan Muafiah (2020) menyatakan bahwa terdapat 6
(enam) indikator dalam motivasi belajar, yakni:
1) Adanya keinginan atau hasrat dalam mencapai kesuksesan.
2) Terdapat dorongan serta kebutuhan pada proses pembelajaran.
3) Memiliki pandangan, harapan, dan tujuan untuk masa depan.
4) Menerima penghargaan atau imbalan dari proses belajar.
5) Adanya aktivitas yang menarik dalam aktivitas belajar.
6) Suasana belajar yang kondusif dan mendukung.
Sumiyati (2017) mengemukakan juga beberapa indikator dalam
motivasi belajar, sebagai berikut:
1) Aktivitas dalam pembelajaran
2) Tekun dalam belajar dan menghadapi rasa sulit dalam
pembelajaran
33

3) Pengerjaan tugas dengan tekun


4) Guru memberikan dukungan dan informasi dalam belajar
5) Feedback dalam pembelajaran
6) Ada rasa penguatan dalam belajar
Sardiman (2000) mengemukakan beberapa indikator yang
mengukur motivasi belajar siswa yaitu:
1) Rajin dan tekun menyelesaikan tugas (dapat bekerja dalam
jangka waktu panjang tanpa berhenti sebelum tugas selesai).
2) Tangguh menghadapi tantangan (tidak mudah menyerah).
3) Menunjukkan minat pada macam-macam masalah.
4) Lebih nyaman mengerjakan secara mandiri.
5) Cepat merasa jenuh dengan tugas-tugas yang monoton (tugas
berulang dan kurang menantang kreativitas).
6) Mampu mempertahankan argumennya.
7) Tidak mudah berubah pendapat atau melepaskan keyakinan.
8) Menikmati proses mencari dan menyelesaikan masalah.

Penelitian ini menggunakan paduan indikator yang telah


dikemukakan di atas, yakni:
1) Terdapat hasrat dan keinginan berhasil
2) Terdapat dorongan serta kebutuhan dalam tindakan belajar
3) Pengerjaan tugas dengan tekun
4) Ulet dalam menghadapi rasa sulit dalam pembelajaran
5) Adanya aktivitas menarik dalam tindakan belajar.

2.2. Penelitian Terdahulu

1. Azzahro & Subekti (2022) melakukan penelitian


menggunakan metode Systematic Literature Review untuk
mengevaluasi efektivitas media evaluasi pembelajaran digital
melalui berbagai jurnal yang membahas topik evaluasi
34

pembelajaran di sekolah. Mereka menginterpretasi literatur


dari berbagai database dan menghasilkan tinjauan mengenai
penggunaan serta efektivitas media evaluasi digital dalam
pembelajaran matematika yang berbasis web atau aplikasi
pembelajaran khusus. Dalam penelitiannya, Azzahro dan
Subekti menyatakan bahwa media evaluasi digital dapat
membuat proses pembelajaran lebih variatif dan interaktif bagi
siswa, yang pada akhirnya dapat meningkatkan minat serta
motivasi mereka dalam mempelajari matematik. Selain itu,
penggunaan evaluasi berbasis digital mempermudah guru dan
siswa dalam melakukan evaluasi di akhir kegiatan belajar,
sehingga proses penilaian hasil belajar siswa menjadi lebih
efisien.

2. Indah Larasati dkk (2023) Penelitian ini mengkaji dampak


penggunaan media evaluasi berbasis Quiziz dalam mata
pelajaran Simulasi Komunikasi dan Digital terhadap hasil
belajar siswa di SMK Pasundan 1 Kota Serang. Penelitian ini
memiliki tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya
perbedaan hasil pembelajaran antara penggunaan media
evaluasi online berbasis Quiziz dan media pembelajaran
konvensional, serta untuk mengevaluasi ke-efektifan media
pembelajaran tersebut untuk meningkatkan pemahaman dan
hasil belajar siswa. Metode yang diterapkan dalam penelitian
ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian
pretest-posttest control group. Penelitian ini membandingkan
dampak penerapan media evaluasi berbasis Quiziz dengan
media konvensional pada hasil belajar siswa dalam mata
pelajaran Simulasi Komunikasi dan Digital di SMK Pasundan
1 Kota Serang. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
media evaluasi online berbasis Quiziz memiliki dampak yang
35

lebih signifikan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa


jika dibandingkan dengan penerapan media pembelajaran
konvensional. Hal ini terbukti dari nilai indeks normalized
gain yang lebih unggul pada kelas eksperimen yang
menggunakan Quiziz, serta hasil uji t yang menunjukkan
adanya perbedaan signifikan antara kedua metode
pembelajaran tersebut.

3. Wijayanti dkk (2023) Dalam penelitian ini, mengembangkan


instrumen penilaian digital untuk mengukur hasil belajar mata
pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) pada siswa kelas IV
Sekolah Dasar. Mereka fokus pada pengembangan instrumen
penilaian yang inovatif dan berbasis teknologi untuk
mengatasi masalah kurangnya inovasi dalam proses penilaian
yang hanya dilakukan secara konvensional menggunakan
lembaran kertas. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan
instrumen penilaian yang lebih efisien, praktis, dan sesuai
dengan perkembangan teknologi saat ini. Dalam studi ini,
peneliti menerapkan metode penelitian Research and
Development (R&D). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas
IV SD Negeri 1 Tejoasri Kecamatan Laren Kabupaten
Lamongan. Teknik pengumpulan data melibatkan observasi
aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik dan guru saat
menggunakan aplikasi instrumen penilaian digital, serta
wawancara untuk mendapatkan informasi sepanjang
penelitian. Hasil yang lebih detail tentang penelitian ini
dijelaskan sebagai berikut:
• Instrumen penilaian digital yang dikembangkan
mempunyai tingkat validitas dan kelayakan yang
cukup tinggi. Penilaian dari dosen ahli isi materi
memperoleh prosentase kevalidan seluruhnya sebesar
36

91%, sementara penilaian yang diberikan oleh dosen


ahli media menghasilkan persentase kevalidan
seluruhnya sebesar 96%.
• Instrumen penilaian digital juga memiliki tingkat
kepraktisan yang cukup tinggi. Hasil uji kepraktisan
dari sisi guru menunjukkan prosentase 99%,
menandakan bahwa instrumen tersebut sangat praktis
untuk digunakan. Selain itu, hasil uji kepraktisan dari
sisi peserta didik memperoleh prosentase 98%,
menunjukkan bahwa instrumen tersebut juga sangat
praktis bagi siswa.
• Analisis hasil belajar peserta didik menunjukkan
adanya peningkatan yang signifikan dari pre-test (rata-
rata 64,2) ke post-test (rata-rata 85,8). Berdasarkan
analisis statistik, ditemukan terdapat perbedaan yang
signifikan dalam hasil belajar peserta didik sebelum
dan sesudah suatu intervensi atau perlakuan diterapkan
menggunakan instrumen penilaian digital pada materi
IPS Kompetensi Dasar 3.2.
Dengan demikian, penelitian ini mengungkapkan bahwa
penggunaan instrumen penilaian digital mampu memberikan
dampak positif terhadap hasil belajar dalam mata pelajaran IPS
kelas IV Sekolah Dasar.

4. Kurniawati (2019) melakukan penelitian tentang penggunaan


media Kahoot sebagai media evaluasi dalam pembelajaran
tematik untuk kelas V di SD Negeri 1 Kerjo Lor Ngadirojo
Wonogiri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh media Kahoot terhadap peningkatan hasil belajar
siswa serta mengevaluasi sejauh mana efektivitas media
Kahoot dalam proses evaluasi pembelajaran tematik. Metode
37

yang diterapkan yaitu pendekatan kuantitatif dengan desain


Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian ini
adalah siswa kelas V di SD Negeri 1 Kerjo Lor Ngadirojo
Wonogiri. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa media
Kahoot memegang peran penting dalam meningkatkan hasil
belajar siswa. Beberapa manfaat media Kahoot pada penelitian
ini adalah penyajian soal dengan gambar, warna, dan tampilan
yang menarik, yang dapat menambah minat dan motivasi
siswa, serta memudahkan guru untuk melakukan evaluasi
secara interaktif dan menyenangkan, menjadikan
pembelajaran lebih menarik dan efektif. Berdasarkan analisis
menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari penggunaan
media Kahoot terhadap peningkatan hasil belajar siswa,
dengan nilai F yang diperoleh sebesar 44,200, lebih besar
daripada nilai F tabel, dan nilai signifikansi 0,000, yang lebih
kecil dari 0,05, menunjukkan pengaruh yang signifikan.

5. Wijayanti R dkk (2021) melakukan penelitian untuk mengkaji


tingkat efektivitas penerapan Quizizz dalam matakuliah
Matematika sekolah, dengan fokus pada dua topik utama, yaitu
motivasi belajar serta hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini
menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain
Randomized Posttest-Only Control Group Design di STKIP
PGRI Bangkalan. Data dikumpulkan melalui pemberian
angket motivasi dan tes yang diberikan pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Analisis data dilakukan dengan uji paired
sample t-test pada aplikasi SPSS. Berdasarkan hasil penelitian,
penggunaan Quizizz terbukti efektif dalam meningkatkan
motivasi serta hasil belajar mahasiswa pada matakuliah
Matematika sekolah. Hasil uji paired sample t-test dengan
aplikasi SPSS menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) yang lebih
38

kecil dari tingkat signifikansi (0,000 < 0,005) untuk kedua


aspek tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Quizizz mempunyai pengaruh positif dalam meningkatkan
motivasi dan hasil belajar mahasiswa dalam pembelajaran
Matematika sekolah.

6. Ricardo & Meilani (2017) melakukan penelitian yang


mengkaji hubungan pengaruh minat belajar dan motivasi
belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran
mengelola peralatan kantor di kelas X program Administrasi
Perkantoran. Penelitian ini menggunakan metode explanatory
survey dengan responden sebanyak 47 orang siswa kelas X.
Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket yang
menilai minat belajar siswa dengan menggunakan empat
indikator, yaitu perhatian, ketertarikan, rasa senang, dan
keterlibatan. Minat dan motivasi belajar siswa dianggap
sebagai faktor penting yang dapat meningkatkan hasil belajar
karena keduanya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
prestasi akademik siswa. Minat belajar memberikan dorongan
dalam diri siswa yang memacu siswa untuk lebih aktif dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran, sementara motivasi belajar
memliki fungsi sebagai pendorong yang memacu siswa untuk
mencapai tujuan belajarnya, serta meningkatkan ketekunan,
konsistensi, dan ketabahan dalam belajar. Hasil penelitian ini
memperlihatkan adanya pengaruh yang positif serta signifikan
dari minat dan motivasi belajar terhadap hasil belajar dalam
mata pelajaran mengelola peralatan kantor di kelas X program
Administrasi Perkantoran. Hal ini terbukti dari analisis
statistik yang memperlihatkan adanya hubungan positif antara
variabel minat dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa.
Dengan meningkatnya minat dan motivasi belajar, hasil
39

belajar siswa juga cenderung mengalami peningkatan, dan


sebaliknya.

7. Hartanti (2019) melakukan penelitian terkait penggunaan


Kahoot dalam proses pembelajaran, peran siswa dalam
penggunaan media tersebut, serta respons siswa terhadap
pemanfaatannya dan dampaknya terhadap hasil belajar.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Prambanan
Klaten, dengan melibatkan 32 siswa kelas XII IPA5 sebagai
subjek penelitian. Metode yang digunakan yaitu gabungan
antara pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, dengan
pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan analisis.
Penelitian menunjukkan penggunaan media Kahoot dalam
pembelajaran memberikan pengaruh posirif terhadap motivasi
dan hasil belajar siswa. Penggunaan Kahoot sebagai media
pembelajaran interaktif, mampu meningkatkan minat dan
motivasi belajar siswa, menjadikan proses pembelajaran lebih
menyenangkan, dan membantu siswa dalam pemahaman
mengenai materi yang diajarkan oleh guru. Selain itu, hasil
belajar siswa yang menggunakan Kahoot cenderung lebih
unggul dibanding dengan pembelajaran konvensional.
Penggunaan Kahoot juga meningkatkan tingkat keberhasilan
siswa, mendorong keaktifan mereka dalam belajar, dan
memudahkan pemahaman materi yang disampaikan. Maka
dari itu, penerapan Kahoot dalam pembelajaran dapat
mendukung pencapaian kompetensi pembelajaran dengan
lebih efektif.

8. Nurmala dkk (2014) melakukan penelitian untuk mengkaji


dampak motivasi belajar pada aktivitas belajar, pengaruh
motivasi belajar terhadap hasil belajar, serta hubungan antara
40

aktivitas belajar dengan hasil belajar, serta pengaruh motivasi


belajar terhadap hasil belajar secara tidak langsung melalui
kegiatan belajar akuntansi. Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dengan pendekatan ex post facto. Data yang
dikumpulkan untuk penelitian ini diperoleh melalui angket,
dokumentasi, dan observasi, selanjutnya dianalisis dengan
analisis jalur. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa
motivasi belajar memberikan kontribusi terhadap peningkatan
hasil belajar akuntansi melalui pengaruhnya terhadap aktivitas
belajar siswa. Temuan ini mengungkapkan adanya pengaruh
dari motivasi belajar pada aktivitas belajar siswa, yang
selanjutnya berkontribusi pada peningkatan hasil belajar
akuntansi. Dengan demikian, motivasi belajar tidak hanya
mempengaruhi hasil belajar secara langsung, tetapi juga secara
tidak langsung melalui kegiatan belajar siswa kelas X
Akuntansi di SMK Negeri 1 Singaraja pada tahun ajaran
2013/2014.

9. Datu dkk (2022) melakukan penelitian mengenai dampak


motivasi belajar terhadap pencapaian akademik siswa yaitu
hasil belajar selama pandemi Covid-19. Penelitian ini
dilakukan pada siswa kelas IV di SD Negeri 2 Tomohon.
Peneliti tertarik untuk melihat seberapa jauh motivasi belajar
siswa mempengaruhi hasil belajar mereka dalam kondisi
pandemi Covid-19. Metode yang dipakai dalam penelitian ini
adalah metode korelasional dengan pendekatan penelitian
kuantitatif, dan dilakukan melalui survei di kelas IV SD Negeri
2 Tomohon. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh
motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa di tengah
pandemi Covid-19. Hal ini terbukti dari analisis statistik yang
menunjukkan nilai t-hitung sebesar 2,15, yang lebih besar
41

daripada t-tabel 2,00. Dengan demikian, hipotesis yang


mengemukakan adanya pengaruh motivasi belajar terhadap
hasil belajar siswa dapat diterima. Menurut hasil penelitian ini,
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang
menunjukkan bahwa motivasi belajar memiliki pengaruh
positif terhadap hasil belajar siswa, terutama dalam mata
pelajaran matematika.

10. Widiarti (2018) melakukan penelitian untuk mengkaji


pengaruh motivasi belajar dan kesiapan belajar siswa pada
hasil belajar ekonomi pada siswa kelas X di SMA N 2
Banguntapan, Bantul. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan populasi sebanyak 97 siswa kelas X
program Ilmu-Ilmu Sosial tahun ajaran 2016/2017 yang
dijadikan subjek dalam penelitian. Metode pengumpulan data
yang dipakai adalah dokumentasi dan kuesioner. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh dari motivasi belajar serta kesiapan belajar secara
bersama-sama terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa motivasi belajar
memiliki dampak positif terhadap pencapaian hasil belajar
dalam mata pelajaran ekonomi. Dengan nilai t-hitung sebesar
9,984 dan nilai signifikansi sebesar 0,000, penelitian ini
membuktikan, jika semakin tinggi tingkat motivasi belajar
siswa, semakin optimal pula pencapaian mereka dalam mata
pelajaran ekonomi yang dicapai oleh siswa kelas X di SMA N
2 Banguntapan, Bantul.

11. Stevani (2016) melakukan penelitian untuk menganalisis


dampak dari motivasi belajar terhadap hasil belajar ekonomi
pada siswa kelas X di SMA Negeri 5 Padang. Penelitian ini
42

bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara motivasi


belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa. Metode yang
dipakai pada penelitian ini adalah metode deskriptif dan
asosiatif. Metode deskriptif digunakan untuk mendefinisikan
kondisi yang diteliti, sementara itu metode asosiatif dipakai
untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang ada,
baik itu simetris, kausal, maupun interaktif. Menggunakan
desain penelitian deskriptif dan asosiatif, penelitian ini dapat
menggambarkan hubungan antar variabel, menguji hipotesis,
serta mengembangkan teori dengan validitas yang bersifat
universal. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner
yang telah diuji coba kepada 112 siswa kelas X SMA Negeri 5
Padang. Kuesioner yang disusun berdasarkan skala Likert ini
memberikan alternatif jawaban dengan bobot penilaian positif.
Setelah data terkumpul, dilakukan analisis deskriptif dan
induktif yang terdiri dari uji normalitas, multikolonialitas,
heteroskedastisitas, autokorelasi, dan regresi linear berganda.
Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencapaian
akademik siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Koefisien
sebesar 0,451 menunjukkan bahwa jika motivasi belajar
meningkat sebesar 0,451 satuan, maka hasil belajar ekonomi
siswa akan meningkat sebesar 0,451 satuan.

2.3. Kerangka Teori dan Pengembangan Hipotesis


2.3.1 Kerangka Teori

1. Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi siswa SMA Negeri


53 Jakarta pada penggunaan evaluasi berbasis digital dengan
alat evaluasi konvensional
43

Evaluasi berbasis digital yang digunakan dalam pembelajaran


merupakan salah satu alternatif sekaligus pembaruan dari alat
evaluasi konvensional. Evaluasi berbasis digital dinilai memiliki
keakuratan dan efektivitas yang lebih baik dari alat evaluasi
konvensional dalam mengukur sekaligus meningkatkan hasil
belajar. Dalam penelitian Indah Larasati et al., (2023) menyatakan
benar bahwa adanya peningkatan hasil belajar yang merupakan
pengaruh dari penggunaan Quizizz sebagai evaluasi berbasis
digital. Mendukung pernyataan tersebut R. W. Wijayanti et al.,
(2023) dalam penelitian yang dia lakukan, dia menemukan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil belajar siswa sebelum
dan setelah menggunakan instrumen penilaian digital. Selanjutnya
Kurniawati, (2019) dalam penelitiannya menggunakan Kahoot
sebagai evaluasi berbasis digital juga menyatakan bahwa
implementasi media Kahoot memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
2. Terdapat perbedaan tingkat hasil belajar siswa SMA Negeri 53
Jakarta yang memiliki motivasi belajar tinggi dan rendah
Peranan penting dalam mempengaruhi hasil belajar siswa adalah
motivasi belajar, yang memacu individu untuk berpartisipasi dalam
kegiatan belajar. Semakin tinggi tingkat motivasi dari siswa,
semakin besar kemungkinan mereka untuk mengejar hasil belajar
yang lebih optimal. Menurut Ricardo dan Melani (2017), temuan
ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara hasil
belajar siswa dan minat & motivasi belajar. Jika minat dan motivasi
belajar siswa meningkat, hasil belajar mereka cenderung
meningkat, dan sebaliknya. Adapun pendapat lain yang
disampaikan, Nurmala dkk (2014) menemukan bahwa dalam
penelitian mereka, motivasi belajar memengaruhi aktivitas belajar
siswa, yang pada gilirannya meningkatkan hasil belajar akuntansi.
Dengan demikian, motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar
44

siswa baik secara langsung maupun tidak langsung melalui


kegiatan belajar mereka.

3. Terdapat interaksi pada penggunaan evaluasi berbasis digital


dengan motivasi belajar yang tinggi dan rendah terhadap hasil
belajar siswa SMA Negeri 53 Jakarta
Hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan penggunaan
evaluasi berbasis digital, dan pernyataan tersebut didukung oleh
penelitian Hartanti (2019). Dimana Hartanti menyatakan bahwa
hasil belajar yang menggunakan media Kahoot sebagai evaluasi
berbasis digital cenderung mengalami peningkatan dibandingkan
dengan evaluasi pembelajaran konvensional. Proses pembelajaran
dengan Kahoot dapat meningkatkan prosentase ketuntasan siswa,
membuat siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar, dan
memudahkan mereka dalam mengerti dan menyerap informasi
yang diajarkan oleh guru. Tingkat motivasi siswa juga
memengaruhi hasil belajar mereka. Dalam penelitiannya, Widiarti
(2018) menemukan bahwa dorongan untuk belajar tentang ekonomi
memiliki pengaruh positif pada hasil belajar mereka. Dengan nilai
t hitung 9,984 dan nilai signifikansi 0,000, ini menunjukkan bahwa
lebih banyak dorongan untuk belajar, lebih banyak hasil belajar
ekonomi yang dicapai oleh siswa.

4. Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi konvensional dan kelas yang diterapkan
evaluasi berbasis digital pada siswa yang memiliki tingkat
motivasi belajar tinggi
Hasil belajar ekonomi siswa dengan tingkat motivasi belajar
yang tinggi di kelas metode evaluasi berbasis digital lebih unggul
dibandingkan siswa dengan motivasi belajar tinggi di kelas metode
evaluasi konvensional. Pernyataan tersebut juga sejalan dengan
45

Akila dan Hayati (2023) dalam penelitiannya yang mengemukakan


bahwa nilai rata - rata siswa di kelas yang menerapkan evaluasi
berbasis digital lebih unggul dibandingkan dengan kelas yang
menerapkan evaluasi konvensional, yaitu pada kelas metode
evaluasi konvensional memiliki rata-rata nilai 30,55 pada pre-test
dan 40,48 pada post-test, sedangkan kelas metode evaluasi berbasis
digital memiliki nilai rata-rata 41,41 pada pre-test dan 58,66 pada
post-test.
Dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa di kelas dengan
metode evaluasi berbasis digital dan metode evaluasi konvensional
berbeda. Siswa yang menggunakan metode evaluasi berbasis
digital cenderung lebih unggul dari siswa yang menerapkan metode
evaluasi konvensional, terutama mereka yang memiliki tingkat
motivasi belajar yang lebih tinggi.

5. Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi konvensional dan kelas yang diterapkan
evaluasi berbasis digital pada siswa yang memiliki tingkat
motivasi belajar rendah
Hasil belajar ekonomi siswa dengan motivasi belajar yang
rendah saat menggunakan metode evaluasi berbasis digital lebih
unggul jika dibanding dengan siswa yang memakai metode
evaluasi konvensional. Pada penelitiannya Akila dan Hayati (2023)
memaparkan bahwa nilai terendah dari siswa yang menggunakan
metode evaluasi konvensional lebih rendah dari siswa yang belajar
memakai metode evaluasi berbasis digital, nilai terendah pada kelas
metode evaluasi konvensional yaitu 15 pada pre-test dan 25 pada
post-test, sedangkan pada kelas metode evaluasi digital memiliki
nilai terendah 25 pada pre-test dan 44 pada post-test. Selain itu
Sukmah dkk (2021) pada penelitiannya menunjukkan bahwa siswa
yang menggunakan evaluasi berbasis digital lebih banyak belajar di
46

kelas daripada siswa yang menggunakan evaluasi konvensional,


yaitu sebanyak 32 dari 33 siswa (97%) tuntas pada kelas yang
menggunakan evaluasi berbasis digital, sedangkan pada kelas yang
menggunakan evaluasi konvensional hanya 21 dari 33 siswa (64%)
yang tuntas.

6. Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi konvensional pada siswa yang memiliki
tingkat motivasi belajar tinggi dan rendah
Faktor yang sangat berpengaruh pada kegiatan belajar dan
keinginan untuk meraih hasil yang optimal adalah motivasi belajar.
Ricardo dan Meilani (2017) mengatakan jika minat dan motivasi
belajar meningkat, dengan demikian hasil belajar siswa akan
cenderung meningkat, dan sebaliknya. Pernyataan ini juga
didukung oleh Widiarti (2014) yang menemukan bahwa tingkat
motivasi siswa untuk belajar terkait dengan hasil belajar ekonomi
mereka.
Pada kelas konvensional, hasil belajar sangat dipengaruhi oleh
tingkat motivasi yang dimiliki oleh siswa. Dengan mempengaruhi
aktivitas belajar siswa, motivasi belajar meningkatkan hasil belajar
(Nurmala dkk., 2014). Artinya, siswa yang kurang memiliki
motivasi belajar sering kali tidak menjalankan kegiatan belajar
secara optimal, membuat mereka tertinggal dan menghasilkan hasil
belajar yang buruk.

7. Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi berbasis digital pada siswa yang memiliki
tingkat motivasi belajar tinggi dan rendah
Menurut Stevani (2016), motivasi belajar mempunyai dampak
yang positif serta signifikan terhadap hasil belajar siswa. Dengan
kata lain, jika motivasi belajar siswa ditingkatkan, hasil belajar
47

mereka juga akan meningkat. Selanjutnya Akila dan Hayati (2023)


menunjukkan bahwa penggunaan evaluasi berbasis digital dapat
menaikan nilai terendah siswa dari 25 menjadi 44. Dalam penelitian
mereka, Sukmah dkk. (2021) menemukan bahwa metode evaluasi
berbasis digital menunjukkan peningkatan nilai siswa di kelas, yang
ditunjukkan dengan Uji N-Gain yang lebih tinggi, dengan skor
0,70. Ini memperlihatkan bahwa penerapan metode evaluasi
berbasis digital dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa.
Perbedaan tingkatan motivasi belajar sangat mempengaruhi
aktivitas belajar dan hasil belajar siswa, namun dengan penggunaan
evaluasi berbasis digital dapat meminimalisir perbedaan
pencapaian hasil belajar antara siswa dengan motivasi tinggi dan
rendah. Hal ini dikarenakan penerapan evaluasi berbasis digital
memungkinkan dapat meningkatkan motivasi belajar pada siswa.

8. Perbedaan hasil belajar ekonomi antara kelompok siswa yang


memiliki motivasi belajar tinggi di kelas konvensional dengan
kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah di kelas
evaluasi berbasis digital
Hasil belajar siswa dengan tingkat motivasi tinggi lebih baik
dibandingnkan dengan siswa bermotivasi belajar rendah, hal ini
berlaku dalam kelas metode evaluasi konvensional maupun dalam
kelas metode evaluasi berbasis digital. Yang mana artinya variabel
motivasi belajar mempunyai peran pengaruh yang lebih besar
terhadap variabel hasil belajar dibandingkan variabel lain. Hal ini
sejalan dengan penelitian Anwar et al., (2022) yang menemukan
siswa dengan motivasi belajar yang tinggi cenderung memperoleh
hasil belajar yang lebih optimal dibandingkan dengan siswa yang
memiliki motivasi belajar rendah, baik yang menggunakan model
STAD atau pendekatan SAVI.
48

Motivasi belajar berkontribusi pada peningkatan hasil belajar


siswa melalui pengaruhnya terhadap kegiatan belajar siswa
(Nurmala dkk, 2014). Artinya, siswa bermotivasi belajar rendah
cenderung tidak berpartisipasi dalam aktivitas belajar secara
efektif, menyebabkan mereka tertinggal dan menghasilkan hasil
belajar yang buruk.

2.3.2 Pengembangan Hipotesis

Berdasarkan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian dan penelusuran


kepustakaan, maka penjabaran hipotesis penelitian terhadap kerangka
tersebut adalah sebagai berikut:
H1 : Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi antara kelompok
siswa yang diterapkan evaluasi berbasis digital dengan
kelompok siswa yang diterapkan evaluasi konvensional

H2 : Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi antara kelompok


siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar tinggi dengan
kelompok siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar rendah

H3 : Terdapat interaksi antara evaluasi berbasis digital dan motivasi


belajar terhadap hasil belajar ekonomi

H4 : Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi konvensional dan kelas yang diterapkan
evaluasi berbasis digital pada siswa yang memiliki tingkat
motivasi belajar tinggi
49

H5 : Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi konvensional dan kelas yang diterapkan
evaluasi berbasis digital pada siswa yang memiliki tingkat
motivasi belajar rendah

H6 : Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi konvensional pada siswa yang memiliki
tingkat motivasi belajar tinggi dan rendah

H7 : Terdapat perbedaan hasil belajar_ekonomi dalam kelas yang


diterapkan evaluasi berbasis digital pada siswa yang memiliki
tingkat motivasi belajar tinggi dan rendah

H8 : Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi antara kelompok


siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi di kelas
konvensional dengan kelompok siswa yang memiliki motivasi
belajar rendah di kelas evaluasi berbasis digital

Anda mungkin juga menyukai