PERENCANAAN PEMBELAJARAN SENI
MENGENAL PERANCANGAN PEMENTASAN DRAMA MUSIKAL
Dosen Pembimbing:
Cut Zuriana, [Link]., [Link]
NIP : 197801142006042002
Disusun oleh:
SHINTA ALVIA HUSNA 2206102030080
PROGRAM STUDI SENI DRAMA TARI DAN MUSIK
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
TAHUN AJARAN 2024
1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMP
Mata Pelajaran : Seni Budaya Aspek Seni Teater
Materi Pokok : Perancangan Pementasan Drama Musikal
Kelas/Semester : IX/Ganjil
Tahun Pelajaran : 2024
Alokasi Waktu : 2 JP (2x 45 Menit) = 90 Menit (1 x Pertemuan)
a. Kompetensi Inti
1. Menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong),
santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian
tampak mata.
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, serta
menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan
sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
b. Kompetensi Dasar Dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
Indikator
Kompetensi Dasar (KD)
1.1 Memahami perancangan pementasan 1.1.1 Menganalisis konsep
drama musical atau operet sesuai konsep, perancangan pementasan drama
teknik, dan prosesdur. musikal atau operet.
1.1.2 Menjelaskan teknik
perancangan pementasan drama
musikal atau operet.
1.1.3 Merancang pementasan drama
musikal dan operet sesuai dengan
konsep, teknik dan prosedur.
2
C. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu menganalisis konsep perancangan pementasan drama musikal atau
operet.
2. Siswa mampu menjelaskan konsep perancangan pementasan drama musikal atau
operet.
3. Siswa mampu merancang pementasan drama musikal atau operet sesuai dengan
teknik dan prosedur.
D. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Drama Musikal atau operet
2. Konsep perancangan drama musikal atau operet
3. Teknik peraacanan drama musikal atau operet
E. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model : Kooperatif Tipe Stad.
3. Metode : Metode Campuran ( metode ceramah, kelompok, demonstrasi)
F. Media Pembelajaran
Media: Infocus, ppt, Lebar Kerja Peserta Didik (LKPD), ilustrasi (gambar)
Alat: Labtop
G. Kegiatan Pembelajaran
no Kegiatan/
Kegiatan
Perilaku Guru
1. Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan
syukur kepada Allah Swt dan menyapa peserta didik.
2. Berdoa bersama untuk memulai pembelajaran dengan meminta
salah satu peserta didik memimpin doa.
3. Memeriksa kehadiran peserta didik.
1 Pendahuluan 4. Menyapa dan menanyakan kabar peserta didik
5. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
6. Guru menanyakan tentang materi pembelajaran sebelumnya.
1. Guru menampilkan materi pembelajaran melalui power point.
2 2. Siswa mengamati materi yang tampilkan guru.
3
Kegiatan Inti 4. Guru menyampaikan materi mengenai pengertian Drama Musikal
atau operet.
3. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan
memberikan tugas pada siswa terkait macam-macam teknik dalam
merancang pemebtasan drama musikal atau operet.
4. Guru Membimbing kelompok-kelompok belajar yang telah
terbentuk pada saat mereka mengerjakan tugas.
5. Mengamati siswa selama proses pengerjaan tugas kelompok.
6. Menanyakan kepada siswa terkait hal yang kurang dipahami.
7. Peserta didik melakukan diskusi dalam kelompok guna
menghasilkan penyelesaian permasalahan di LKPD dengan teliti.
8. Peserta didik menalar dalam membedakan teknik dan prosedur
dalam merancang pementasan drama musikal atau teater.
9. Guru Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk
mempresentasikan hasil penyelesaian LKPD.
10. Peserta didik menyimak, menanggapi dan mengkomunikasikan
hasil presentasi kelompok.
11. Guru memberikan apresiasi kepada semua peserta didik atas
usahanya dalam kerja kelompok.
1. Guru meminta salah seorang dari siswa untuk menyimpulkan
3 Penutup materi yang sudah dipelajari.
2. Guru menginformasikan kepada siswa terkait pembelajaraan pada
pertemuan berikutnya.
3. Guru meminta siswa untuk mempelajari dirumah terkait materi
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
4. Guru berterima kasih kepada peserta didik atas perhatian dan
semangatnya mengikuti pembelajaran.
5. Guru bersama siswa berdo’a bersama dengan dipimpin oleh salah
satu siswa.
6. Guru mengucapkan salam penutup.
Mengetahui, Banda Aceh, 27 April 2022
Dosen Pembimbing MK Mata Pelajaran Seni Budaya
Cut Zuriana,S. Pd
NIP : 1999305312022032012 Shinta Alvia Husna
4
I. ASESMEN/PENILAIAN
a. Penilaian Pengetahuan
Penilaian ini dapat dilakukan saat mengamati kegiatan siswa ketika mengerjakan lembar
aktivitas atau soal latihan yang diberikan. Penilaian ini bertujuan untuk melihat
pemahaman siswa dalam menyerap dan menerima materi atau informasi yang berkaitan
dengan bentuk-bentuk dalam seni rupa.
Kriteria Penilaian
Nama Menyerap dan Presentasi atau
Memberikan Keterangan
No Peserta menjelaskan menyampaikan
kesimpulan Nilai
Didik kembali konsep gagasan terkait
diakhir pelajaran
perancangan teknik teater
tentang konsep
pementasan teater musikal atau
dan teknik teater
musikal operet
1 Tiara
2 Karina Sangat Baik
(skor : 30)
3 Sulis
4 Putri Baik
(skor : 25)
5 Lili
6 Indah Cukup Baik
(skor : 20 )
7 Reza
8 Nada Kurang Baik
(skor : 15)
9 Nanda
10 Yura
Contoh Soal Penilaian Pengetahuan:
1. Apa yang kalian ketahui tentang drama musical?
2. Sebutkan satu teknik yang terdapat dalam drama teater operet?
3. Apa yang akan terjadi jika suatu drama tidak memilki cukup actor?
Jawaban:
1. Drama musikal adalah pertunjukan teater yang menggabungkan seni tari, musik, dan seni
peran. Drama musikal lebih mengedepankan tiga unsur tersebut dibandingkan dialog para
pemainnya.
5
2. Teknik dalam perancangan pementasan teater berarti mencakup semua kegiatan mulai
dari merencanakan, mengorganisasikan, serta melaksanakan dan mengevaluasi pasca
pementasan. Teknik perancangan pementasan teater dibagi menjadi dua wilayah kegiatan,
yaitu wilayah artistik dan non artistik. Wilayah artistik bertugas untuk menyiapkan materi
yang akan dipentaskan dipimpin oleh manager artistik atau sutradara, sedangkan wilayah
non artistik bertugas sebagai penyelenggara pementasan yang dipimpin oleh seorang
manager produksi atau pimpinan produksi.
3. Jika suatu drama tidak memiliki cukup aktor, beberapa langkah yang dapat diambil
termasuk: Revisi skrip: Skenario dapat direvisi untuk mengakomodasi jumlah aktor yang
tersedia. Beberapa karakter dapat digabungkan atau beberapa adegan dapat
disederhanakan untuk mengurangi kebutuhan akan pemain. Pencarian tambahan aktor:
Upaya dapat dilakukan untuk mencari aktor tambahan melalui audisi terbuka, perekrutan
di antara anggota tim produksi, atau mengajak anggota komunitas lokal yang tertarik
untuk bergabung. Memanfaatkan teknik casting ganda: Beberapa aktor dapat ditugaskan
untuk memainkan beberapa peran dalam produksi, terutama jika karakter-karakter
tersebut tidak muncul dalam adegan yang sama. Menggunakan teknologi: Dalam
beberapa kasus, teknologi seperti proyeksi video atau rekaman suara dapat digunakan
untuk menciptakan karakter tambahan tanpa kehadiran langsung aktor. Pengeditan
kreatif: Pengeditan kreatif dalam penyutradaraan dan penulisan skrip dapat membantu
mengurangi kebutuhan akan jumlah aktor tanpa mengorbankan kualitas cerita atau
pertunjukan secara keseluruhan. Dengan kreativitas dan kerja keras, produksi drama
dapat tetap berhasil meskipun menghadapi keterbatasan dalam jumlah aktor yang tersedia
6
b. Penilaian Sikap
Pengambilan nilai ini dpat dilakukan saat mengamati kegiatan siswa seperti diskusi, dan
menyimak penjelasan materi yang disampaikan.
Penulisan ini bertujuan untuk melihat kemampuan siswa dalam berdiskusi yang sesuai
dengan materi, menggali dan menjelaskan kembali apa yang telah ia diskusikan.
No Kunci Jawaban Skor
1 Ketertarikan (Interest)
a. Selalu menunjukkan minat dan antusiasme yang tinggi terhadap seni teater 10
musikal atau operet.
b. Terkadang menunjukkan minat dan antusisame yang baik terhadap materi 7
seni teater musikal atau operet.
c. Tidak menunjukkan minat atau antusisame sama sekali terhadap materi 4
seni teater musikal atau operet.
10
2 Kerja sama (Collaboration)
a. Selalu bekerja sama dengan baik dalam kelompok, mendukung teman- 7
teman dan berkontribusi pada pengerjaan tugas.
b. Terkadang bekerja sama dengan baik dalam kelompok, mendukung 4
teman-teman dan berkontribusi pada pengerjaan tugas.
c. Tidak bekerja sama dalam kelompok, dan tidak mendukung teman-teman
dalam berkontribusi pada pengerjaan tugas. 10
7
3 Kreativitas (creativity)
a. Selalu menghadirkan ide-ide kreatif dan orisional dalam pengerjaan tugas
4
seni teater musikal atau operet.
b. Terkadang menghadirkan ide-ide kreatif dan orisional dalam pengerjaan
tugas seni teater musikal atau operet.
c. Tidak menghadirkan ide-ide kreatif dan orisional dalam pengerjaan tugas
seni teater musikal atau operet.
Total Skor 63
Contoh Penialaian Sikap:
1. Buatlah resume, mengenai actor-aktor serta arah jalan cerita dari naskah plesetan drama
“Romeo and Juliet”!
2. Apa-apa saja property yang dapat digunakan untuk drama”Romeo and Juliet”?
3. Bagaimana ending dari drama “Romeo and Juliet”?
7
c. Penilaian Psikomotorik
Skor
No Aspek Keterampilan
1 2 3 4 5
2 Siswa menyelesaikan suatu pementasan
teater musikal atau operet
3 Siswa mampu menggunakan berbagaai
prosedur dan teknik dalam pementasan
drama teater musikal atau operet
4 Siswa mampu mengguunakan berbagai
handprop dalam pementasan drama
teater musikal atau operet
5 Menilai kemampuan siswa dalam
bekerja sama dengan teman-teman
selama proses latihan sebelum
pementasan drama
6 Penilaian terhadap pementasan drama
musikal atau operet
Keterangan:
5 : Sangat Tepat
4: Tepat
3: AgakTepat
2: Tidak Tepat
1: Sanagat Tidak Tepat
Contoh Penilaian Psikomotorik
1. Tampilkanlah sebuah drama musical atau operet, pada pertemuan berikutnya dan juga
lengakap dengan property serta handprop masing-masing!
8
BAHAN BACAAN SISWA
MENGANALISIS KONSEP PERANCANGAN PEMENTASA DRAMA MUSIKAL
ATAU OPERET
a. Pengertian Seni Drama
Drama merupakan sebuah genre dari sastra yang menampilkan tentang fisik suatu karakter
menggunakan percakapan. Ada beberapa ciri-ciri dari seni drama diantaranya: Seni drama
menghasilkan sebuah naskah prosa ataupun puisi untuk dibaca dan ditampilkan. Di dalam sebuah
drama harus memiliki setidaknya sebuah konflik. Teater merupakan genre seni yang menyatukan
berbagai disiplin ilmu (kolektif). Seni rupa, tari, akting, seni musik adalah beberapa disiplin ilmu
yang dilibatkan dalam proses penciptaan peristiwa teater. Salah satu jenis teater tersebut adalah
Drama Musikal atau operet. Drama musikal atau Operet adalah bentuk ekspresi kesenian yang
menggabungkan antara seni peran, musik, gerak dan tari. Pementasan drama ini menggambarkan
kisah atau cerita yang dikemas dengan tata koreografi dan musik sehingga menjadi sajian drama
musik yang menarik.
Kekuatan akting para aktor dan aktris yang dipadukan dengan kemampuan olah vokal dan
tari menjadi kekuatan khusus yang membedakan antara drama musikal atau operet dengan jenis
teater lainnya. Pementasan adalah suatu kegiatan dalam rangka mempertunjukkan karya teater
kepada orang lain agar mendapat tanggapan dan penilaian. Merencanakan pementasan teater
perlu dikonsep secara sistematis dan logis agar pada waktu pelaksanaannya dapat berjalan lancar.
Tanpa konsep perencanaan yang baik sebuah pementasan teater tidak dapat berjalan lancar sesuai
dengan yang diharapkan. Konsep pementasan sebaiknya didiskusikan secara bersama dipimpin
sutradara, dihadiri oleh para pemain dan kru pementasan. Selain jenis naskah, tema, jumlah
pemain, pesan yang ingin disampaikan, apa saja yang harus dikonsep? Tata pentas, Tata Rias,
Tata Busan, Lighting (tata lampu), Musik Illustrasi, Tata gerak atau koreografi, Properti, dan
lain-lain.
b. Konsep Perancangan Pementasan Drama Musikal atau Operet.
1. Tata pentas, adalah cara mendesain pentas atau tempat pertunjukan. Konsep tata pentas
didasari oleh bentuk fisik bangunan panggung. Bentuk fisik akan berpengaruh pada tata
ruang dalam gedung pertunjukan dan posisi pandang penonton terhadap peristiwa
pertunjukan.
2. Tata Rias, Tata rias dalam pementasan teater adalah tata rias karakter, yang berfungsi
untuk memperkuat karakter/watak tokoh. Selain itu juga dapat menyembunyikan wajah
asli para pemain.
3. Tata Busana, Konsep busana atau tata kostum sangat tergantung dengan naskah yang
dibawakan, kapan peristiwa itu terjadi. Tokoh apa yang diperankan. Sehingga busana
yang dipakai oleh para aktor dan aktris dapat menggambarkan tema, waktu dan
karakter/watak tokoh.
9
4. Tata cahaya, Cahaya selain berfingsi sebagai penerangan juga memberi efek atau
memberi nuansa, memperkuat, memperlemah, menonjolkan atau menyembunyikan,
bahkan memperkuat suasana dalam setiap adegan.
5. Segala sesuatu benda mati yang digunakan dalam pementasan teater baik yang dipakai
oleh pemain atau sebagai dekorasi panggung
(Tata pentas) (Tata rias)
Gambar 1.2 Gambar 1.3
Pentas tidak hanya persoalan bentuk Tata rias Selain berfungsi untuk memperkuat
panggung, tapi bagaimana artistik pentas karakter tokoh, tata rias dalam teater juga dapat
mampu mendukung suasana pertunjukan menyembunyikan wajah asli pemain
menjadi lebih hidup. (Sumber: pojokseni/2018)
(Sumber: pojokseni/2018)
(Tata cahaya) (Tata cahaya)
Gambar 1.4 Gambar 1.4 Tata busana
Tata busana Kostum yang dipakai aktor dan Kostum yang dipakai aktor dan aktris
aktris menggambarkan tema, waktu peristiwa menggambarkan tema, waktu peristiwa
terjadi dan karakter atau watak tokoh terjadi dan karakter atau watak tokoh
(Sumber: Lis Pratiwi/2018) (Sumber: Lis Pratiwi/2018)
10
(Properti) (Gerak Tari)
Gambar 1.6 Properti Gambar 1.7 Gerak tari
Properti membantu menghidupkan Gerak tari yang dipadukan kekuatan multimedia
suasana di atas panggung pementasan merupakan bagian dari pementasan drama musikal
(Sumber: Kirana/[Link]/2019) atau operet yang dapat menambah artistic
pementasan.
(Sumber: Sora)
N/[Link]/2018)
c. Teknik dan Prosedur Perancangan Pementasan Drama Musikal Operet
Teknik dalam perancangan pementasan teater berarti mencakup semua kegiatan mulai dari
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengevaluasi pasca pementasan. Teknik
perancangan pementasan teater dibagi menjadi dua wilayah kegiatan, yaitu wilayah artistik dan
non artistik. Wilayah artistik bertugas untuk menyiapkan materi yang akan dipentaskan dipimpin
oleh manager artistik atau sutradara, sedangkan wilayah non artistik bertugas sebagai
penyelenggara pementasan yang dipimpin oleh seorang manager produksi atau pimpinan
produksi. Wilayah artistik dalam drama musikal atau operet meliputi kegiatan menyiapkan
naskah, artistik pentas, tata rias, kostum pemain, properti, musik illustrasi, koreografi dan olah
vokal.
Sedangkan wilayah non artistik meliputi kegiatan merencanakan pementasan, pembentukan
panitia inti, menentukan naskah lakon, melengkapi kepanitian beserta tugas pokok dan
fungsinya, menyiapkan publikasi, mengorganisasikan penonton dan lain-lain. Sedangkan
prosedur atau langkah-langkah perancangan pementasan drama musikal atau operet berupa
kegiatan menentukan naskah yang akan dimainkan, menentukan sutradara, casting atau
pemilihan pemain, pemilihan kru pementasan antara lain: bidang artistik, bidang administrasi,
dan lain-lain.
11
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
KELAS IX
Kelompok :
Anggota : 1.
2.
3.
4.
1. Berdasarkan analisa kalian, buatlah ulasan singkat terhadap konsep-konsep pementasan
drama musikal atau operet yang telah kalian saksikan di youtube atau dimanapun itu!
2. Buatlah ulasan singkat kalian mengenai naskah, tata pentas, dan tata rias!
3. Sebutkan teknik-teknik yang digunakan dalam naskah teater dukun-dukunan!
4. Terdapat beberapa prosedur dalam pementasan teater musical atau operet, apa yang akan
terjadi jika seorang actor tidak mengikuti prosedur yang sudah ditentukan tersebut?
5. Jelaskan menurut pendapat kalian, apa yang akan terjadi jika sebuah drama tidak di
komandoi oleh seorang sutradara? Apakah drama tersebut akan berhasil? Jelaskan
alasannya!
12
KUNCI JAWABAN
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
1. Karena ini soal analisa, jadi tergantung jawaban siswa. Dan pastinya tidak jauh seputar
tata busana, tata rias, tata pentas, dan sebagainya.
2. Naskah sendiri merupakan cerita yang diuraikan dengan urutan adegan demi adegan yang
dilengkapi dengan tempat atau latar, keadaan, dialog, dan juga seringkali ada penokohan
di dalamnya. Tulisan pada pengertian naskah tersebut disusun secara sistematis dalam
konteks struktur dramatis sehingga menjadi acuan dalam proses produksi. Tata pentas,
adalah cara mendesain pentas atau tempat pertunjukan. Konsep tata pentas didasari oleh
bentuk fisik bangunan panggung. Bentuk fisik akan berpengaruh pada tata ruang dalam
gedung pertunjukan dan posisi pandang penonton terhadap peristiwa pertunjukan. Tata
Rias, Tata rias dalam pementasan teater adalah tata rias karakter, yang berfungsi untuk
memperkuat karakter/watak tokoh. Selain itu juga dapat menyembunyikan wajah asli
para pemain.
3. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam naskah drama "Dukun Dukunan" mungkin
termasuk: Dialog yang kuat: Untuk menggambarkan interaksi antar karakter dan
memperjelas konflik yang ada. Deskripsi visual: Untuk menciptakan gambaran yang jelas
tentang setting dan suasana di sekitar tokoh-tokohnya. Monolog: Untuk mengungkapkan
pemikiran dalam diri tokoh-tokoh secara mendalam. Flashback: Untuk mengungkapkan
masa lalu tokoh-tokoh yang mungkin memengaruhi jalannya cerita. Tension building:
Untuk meningkatkan ketegangan dan menjaga minat penonton terhadap alur cerita.
Dengan menggabungkan teknik-teknik ini dengan cerita yang kuat, naskah drama
"Dukun Dukunan" dapat menjadi karya yang menarik dan menggugah.
4. Kemungkinan besar yang akan terjadi adalah pementasan drama gagal.
5. Jika suatu drama tidak dibimbing oleh seorang sutradara, maka beberapa hal berikut
dapat terjadi:
Kurangnya kesempurnaan dalam penyajian: Tanpa bimbingan sutradara,
pengaturan adegan, blocking, dan arah keseluruhan produksi mungkin tidak
terkoordinasi dengan baik, menyebabkan kekacauan atau kurangnya keteraturan
dalam pertunjukan.
Kurangnya interpretasi karakter yang konsisten: Sutradara membantu para aktor
memahami peran mereka dan mengekspresikannya secara konsisten. Tanpa
bimbingan ini, interpretasi karakter bisa bervariasi secara luas antara berbagai
pertunjukan.
Kesulitan dalam mengatur teknis panggung: Sutradara juga bertanggung jawab
untuk mengatur aspek teknis panggung seperti pencahayaan, suara, dan efek
13
khusus. Tanpa bimbingan yang tepat, kemungkinan terjadi kesalahan teknis dan
gangguan dalam pertunjukan.
Kehilangan visi keseluruhan: Sutradara bertanggung jawab untuk mengarahkan
visi artistik dan tema keseluruhan produksi. Tanpa bimbingan ini, drama bisa
kehilangan arah dan fokusnya, menyebabkan ketidakjelasan dalam pesan yang
ingin disampaikan kepada penonton.
Dengan demikian, bimbingan seorang sutradara sangat penting untuk memastikan
bahwa drama disajikan dengan baik dan berhasil mengkomunikasikan pesannya
kepada penonton.
14
DAFTAR PUSTAKA
Mufid, M. F. (n.d.). Buku Panduan Guru Seni Rupa. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
Sofyan Salam, S. B. (n.d.). Pengetahuan Dasar Seni Rupa. Makassar : Badan Penerbit UNM.
Sumber Gambar:
[Link]
starry-night-karya-vincent-van-gogh?page=all
[Link]
15