PENGARUH PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF PESERTA DIDIK
PADA MATA PELAJARAN FIKIH KELAS V DI MIN 7 TULUNGAGUNG
SKRIPSI
OLEH :
WAHYU IRAWATI
NIM 126205211077
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
MARET 2025
PENGARUH PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA MATA
PELAJARAN FIKIH KELAS V DI MIN 7 TULUNGAGUNG
SKRIPSI
Disusun untuk Menyelesaikan Skripsi pada Program Strata Satu (S-1)
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
OLEH :
WAHYU IRAWATI
NIM 126205211077
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
MARET 2025
ii
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
1. Pengertian Model Pembelajaran PBL
Menurut Bekti Ariyani model pembelajaran PBL merupakan
sebuah model pembelajaran yang diawali dengan masalah yang
ditemukan dalam suatu lingkungan pekerjaan untuk mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan yang baru yang dikembangkan oleh siswa
secara mandiri.1 Lalu, menurut Hamdiyah model pembelajaran berbasis
masalah merupakan suatu strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa,
mengembangkan pembelajaran aktif, keahlian pemecahan masalah dan
pengetahuan lapangan, dan didasarkan pada pemahaman dan pemecahan
masalah.2
Sedangkan menurut Hadits Awalia, model pembelajaran PBL
adalah pembelajaran yang menitik beratkan kepada peserta didik sebagai
pembelajar serta terhadap permasalahan yang otentik atau relevan yang
akan dipecahkan dengan menggunakan seluruh pengetahuan yang
dimilikinya atau dari sumber-sumber lainnya. 3 Selanjutnya menurut Selvi
model PBL merupakan pembelajaran yang berdasarkan pada masalah-
masalah kontekstual, yang membutuhkan upaya penyelidikan dalam usaha
memecahkan masalah.4 Husnul Hotimah mengatakan model PBL adalah
metode pembelajaran yang dipicu oleh permasalahan, yang mendorong
siswa untuk belajar dan bekerja kooperatif dalam kelompok untuk
mendapatkan solusi, berpikir kritis dan analitis, mampu menetapkan serta
1
Bekti Ariyani, Firosalia Kristin, “Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa SD’, Jurnal Ilmiah dan Pembelajaran, Vol. 5, No. 2, 2021,
hal. 354.
2
Hamdiah Ahmar, “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning”, Jurnal
Keperawatan Muhammadiyah, 2020, hal. 11.
3
Hadist Awalia Fauzia, “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika SD”, Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, Vol. 7, No. 1, 2018, hal.
42.
4
Selvi Meilasari, dkk, “Kajian Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl)
Dalam Pembelajaran di Sekolah”, BIOEDUSAINS: Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains, Vol. 3,
No. 2, 2020, hal. 196.
1
2
menggunakan sumber daya pembelajaran yang sesuai.5 Jadi kesimpulan
dari model PBL adalah model pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik dan dimulai dengan pengenalan masalah yang autentik atau relevan
dari dunia nyata.
2. Karakteristik Model PBL
Karakteristik model PBL menurut Herminarto Sofyan adalah sebagai
berikut6:
a. Aktivitas didasarkan pada pernyataan umum, setiap masalah memiliki
pertanyaan umum, yang diikuti oleh masalah yang bersifat ill-
structured atau masalah–masalah yang dimunculkan selama proses
pemecahan masalah. Hal ini agar dapat menyelesaikan masalah yang
lebih besar, peserta didik harus menurunkan dan meneliti masalah-
masalah yang lebih kecil. Problem ini dibuat yang bersifat baru bagi
peserta didik.
b. Belajar berpusat pada peserta didik (student center learning), guru
sebagai fasilitator Esensinya yaitu guru membuat lingkungan belajar
yang memberi peluang peserta didik meletakkan dirinya dalam pilihan
arah dan isi belajar mereka sendiri, peserta didik mengembangkan
sub-pertanyaan yang akan diteliti, menetapkan metode pengumpulan
data, dan mengajukan format untuk penyajian temuan mereka.
c. Peserta didik bekerja kolaboratif pada pembelajaran PBL. Peserta
didik dengan pembelajaran berbasis masalah membangun
keterampilan bekerja dalam tim. Untuk alasan ini. Pembelajaran
berbasis masalah adalah ideal untuk kelas yang memiliki rentang atau
variasi kemampuan akademik. Peserta didik dalam setiap kelompok
dapat bekerja pada aspek yang berbeda dari masalah yang
diselesaikan.
d. Belajar digerakkan oleh konteks masalah Dalam lingkungan
pembelajaran berbasis masalah, peserta didik diberi kesempatan
menentukan apa dan berapa banyak mereka memerlukan belajar untuk
5
Husnul Hotimah.., hal. 5.
6
Herminarto Sofyan, dkk, Problem Based Learning dalam Kurikulum 2013,
(Yogyakarta : UNY Press, 2017), hal. 54.
3
mencapai kompetensi tertentu. Hal ini menyebabkan diperlukannya
informasi dan konsep yang dipelajari dan strategi yang digunakan
secara langsung pada konteks situasi belajar. Tanggung jawab guru
bukan sebagai satu-satunya sumber belajar melainkan sebagai
fasilitator, manajer, dan ahli strategi yang memberikan layanan
konsultasi dan akses pada sumber.
e. Belajar interdisipliner, pendekatan interdisipliner dilakukan pada
peserta didik dalam PBL mengingat dalam proses pembelajaran
menuntut peserta didik membaca dan menulis, mengumpulkan dan
menganalisis data, berpikir dan menghitung, masalah diberikan
kadang kala pada lintas disiplin dan mengarahkan pada belajar lintas
disiplin.
3. Langkah-langkah model pembelajaran PBL
Langkah-langkah model pembelajaran PBL menurut Arends terdiri
dari lima tahap utama sebagai berikut7:
a. Mengorientasikan siswa pada masalah
Guru memperkenalkan masalah yang relevan dengan dunia nyata
kepada peserta didik. Masalah ini dirancang sedemikian rupa sehingga
menarik dan menantang peserta didik untuk berpikir serta mencari
solusi.
b. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
Pada tahap ini, guru membagi peserta didik dalam kelompok kecil dan
memberikan instruksi mengenai tugas yang akan dikerjakan. Guru
juga membantu mengidentifikasi peran masing-masing anggota dalam
kelompok, sumber daya yang diperlukan, serta tujuan pembelajaran.
c. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
Guru berperan sebagai fasilitator, mendorong peserta didik untuk
mengumpulkan informasi yang relevan, menyusun hipotesis, serta
melakukan penyelidikan. Guru juga memberikan dukungan jika
peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami masalah atau
menemukan solusi.
7
Syamsidah, Hamidah Suryani, Buku Model Problem Based Learning (PBL),
(Yogyakarta : Deepublish, 2018), hal. 18.
4
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Peserta didik menyusun hasil penyelidikan mereka dalam bentuk
presentasi atau produk lain yang menunjukkan solusi atas masalah
yang diberikan. Hasil ini kemudian dipresentasikan di depan kelas
untuk didiskusikan.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah
Pada tahap akhir, peserta didik bersama guru merefleksikan proses
pembelajaran yang telah mereka lalui. Guru membantu siswa
mengevaluasi solusi yang mereka buat, efektivitas strategi yang
digunakan, serta bagaimana mereka dapat meningkatkan keterampilan
berpikir kritis di masa mendatang.
4. Kelebihan Model Pembelajaran PBL
Sebagai suatu model pembelajaran, PBL memiliki beberapa
kelebihan, yaitu8 :
a. Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
b. Meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran peserta didik.
c. Membantu peserta didik dalam mentransfer pengetahuan peserta didik
untuk memahami masalah dunia nyata.
d. Membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya
dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di
samping itu, PBL dapat mendorong peserta didik untuk melakukan
evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
e. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan
pengetahuan baru.
f. Memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
g. Mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus
belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
8
Husnul Hotimah.., hal. 7.
5
h. Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari
guna memecahkan masalah dunia.
5. Kekurangan Model Pembelajaran PBL
Model Pembelajaran PBL juga memiliki kelemahan, yaitu9 :
a. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,
maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
b. Untuk sebagian peserta didik beranggapan bahwa tanpa pemahaman
mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang
sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin
pelajari.
B. Kemampuan Berpikir Kritis
1. Pengertian kemampuan berpikir kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir yang
melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif
terhadap permasalahan.10 Muhfahroyin mengungkapkan kemampuan
berpikir kritis adalah suatu kemampuan proses yang melibatkan
operasional mental seperti deduksi induksi, klasifikasi, evaluasi, dan
penalaran. Pentingnya kemampuan berpikir kritis agar pembelajaran
terlaksana dengan bermakna bagi siswa.11 Berpikir kritis atau biasa disebut
berpikir tingkat tinggi merupakan keterampilan berpikir mengolah segala
informasi, observasi dan permasalahan yang didapat, dengan membuat
keputusan apa yang harus dilakukan disertai dengan logika.12
Kemampuan berpikir kritis merupakan cara berpikir peserta didik
dalam menganalisis suatu objek atau permasalahan dengan beberapa
9
Ibid.., hal. 7.
10
Hardika Saputra, “Kemampuan Berpikir Kritis Matematis”, Jurnal IAI Agus Salim,
2020, hal. 2.
11
Ely Syafitri, “Aksiologi Kemampuan Berpikir Kritis”, Journal of Science and Social
Research”, Vol. 4, No.3, 2021, hal. 323.
12
Yohana Wuri Satwika, dkk, “Penerapan Model Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa, Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik),
Vol. 3, No. 1, 2018, hal. 8.
6
pertimbangan, untuk menentukan sebuah keputusan yang dilakukan
secara rasional dan aktif.13 Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir
secara logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai
situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik. 14 Jadi
kesimpulan dari kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang
melibatkan proses kognitif yang mendalam, di mana individu diajak untuk
berpikir reflektif, logis, dan produktif dalam menganalisis suatu
permasalahan.
2. Indikator berpikir kritis
Indikator yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kemampuan
berpikir kritis menurut Facione, yaitu: interpretasi (kemampuan siswa
dalam memahami dan mengartikan informasi), analisis (kemampuan untuk
memecah informasi ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil),
evaluasi (kemampuan menilai kualitas argumen dan bukti), inferensi
(kemampuan membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia),
eksplanasi (kemampuan menjelaskan hasil pemikiran secara logis),
pengaturan diri (kemampuan merefleksikan dan mengatur proses berpikir
secara mandiri).
3. Manfaat kemampuan berpikir kritis
Berpikir kritis juga memiliki beberapa manfaat, Eliana Crespo
menyebutkan beberapa manfaat dari berpikir kritis untuk berbagai aspek
seperti manfaat untuk performa akademis, tempat kerja, dan kehidupan
sehari-hari.15
a. Performa akademis
1) Memahami argumen dan kepercayaan orang lain,
2) Mengavaluasi secara kritis argumen dan kepercayaan itu,
3)Mengembangkan dan mempertahankan argumen dan percayaan
sendiri yang didukung dengan baik.
13
Syifaun Nadhiroh, “Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Dalam Pengembangan
Kemampuan Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, Fitroh : Jurnal of
Islamic Education, Vol. 4, No.1, 2023, hal. 57.
14
Halimah Dwi Cahyani, dkk.., hal. 920.
15
Linda Zakiah, Ika Lestari, Berpikir Kritis dalam Konteks Pembelajaran, (Bogor :
Erzatama Karya Abadi, 2019), hal. 5-6.
7
b. Tempat kerja
1) Membantu kita untuk menggambarkan dan mendapat pemahaman
yang lebih dalam dari keputusan orang lain dan kita sendiri,
2) Mendorong keterbukaan pikiran untuk berubah,
3) Membantu kita menjadi lebih analisis dalam memecahkan
masalah.
c. Kehidupan sehari-hari
1) Membantu kita terhindar dari membuat keputusan personal yang
bodoh,
2) Mempromosikan masyarakat yang berpengetahuan dan peduli
yang mampu membuat keputusan yang baik di masalah sosial,
politis, dan ekonomis yang penting,
3) Membantu dalam pengembangan pemikir otonom yang dapat
memeriksa asumsi, dogma, dan prasangka mereka sendiri.
C. Kemampuan Berpikir Kreatif
1. Pengertian kemampuan berpikir kreatif
Menurut Rusman, berpikir kreatif adalah proses belajar yang
menuntut guru untuk mampu memotivasi serta mendorong munculnya
kreativitas peserta didik selama pembelajaran dengan menerapkan
berbagai metode dan strategi, seperti kerja kelompok, bermain peran, dan
pemecahan masalah.16 Krulik dan Rudnik menyatakan bahwa berpikir
kreatif adalah salah satu tingkat tertinggi dalam proses berpikir seseorang,
yang dimulai dari ingatan (recall), berpikir dasar (basic thinking), berpikir
kritis (critical thinking), hingga berpikir kreatif (creative thinking).
Pemikiran yang berada di atas tingkat ingatan (recall) disebut penalaran
(reasoning), sedangkan pemikiran yang lebih tinggi dari berpikir dasar
disebut berpikir tingkat tinggi (high order thinking).17 Lalu, menurut
Munandar, kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk
menemukan berbagai kemungkinan jawaban atas suatu masalah, dengan
menitikberatkan pada jumlah, relevansi, dan variasi jawaban. Pendapat ini
16
Ikhsan Faturohman dan Ekasatya Aldila Afriansyah.., hal. 108.
17
Abdul Aziz Saefudin.., hal. 40.
8
menunjukkan bahwa berpikir kreatif melibatkan pemikiran logis dan
intuitif guna menghasilkan ide-ide dalam memecahkan masalah. 18 Dapat
disimpulkan bahwa keterampilan berpikir kreatif adalah kemampuan
untuk menghasilkan berbagai ide atau solusi baru terhadap suatu masalah,
dengan menekankan pada kuantitas, keunikan, relevansi, dan variasi
jawaban.
2. Indikator Berpikir Kreatif
Indikator berpikir kreatif merupakan suatu ukuran keberhasilan
untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif. Indikator yang digunakan
untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif menurut Munandar
meliputi19:
a. Kelancaran (Fluency), yaitu mencetuskan banyak gagasan, jawaban,
penyelesaian masalah atau pertanyaan, memberikan banyak cara atau
syarat untuk melakukan berbagai hal, selalu memikirkan lebih dari
satu jawaban.
b. Keluwesan dan fleksibilitas (Flexibility), yaitu menghasilkan gagasan,
jawaban, atau pertanyaan yang lebih bervariasi, dapat melihat masalah
dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternatif atau
arah yang berbeda-beda, mampu mengubah cara pendekatan atau cara
pemikiran.
c. Orisinalitas (Originality) yaitu mampu mengungkapkan hal yang baru
dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan
diri, mampu membuat kondisi yang tidak lazim dari bagian-bagian
atau unsur-unsur.
d. Kerincian atau elaborasi (Elaboration), yaitu mampu memperkaya dan
mengembangkan suatu gagasan atau produk, menambah atau merinci
secara detail dari suatu objek gagasan atau situasi sehingga menjadi
lebih menarik.
18
Tatag Yuli Eko Siswono..., hal. 17.
19
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta : Rineka
Cipta, 2012), hal. 65.
9
3. Manfaat kemampuan berpikir kreatif
Berpikir kreatif memiliki berbagai manfaat yang berperan penting
dalam perkembangan pribadi dan profesional seseorang. Berikut beberapa
manfaat utamanya:
a. Memecahkan masalah dengan inovatif
Berpikir kreatif memungkinkan seseorang untuk melihat masalah dari
sudut pandang yang berbeda dan menemukan solusi yang tidak biasa,
meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan dengan cara
yang lebih efektif.
b. Meningkatkan fleksibilitas berpikir
Dengan berpikir kreatif, seseorang lebih terbuka terhadap perubahan
dan lebih adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru atau
yang tidak terduga.
c. Mendorong pertumbuhan pribadi dan profesional
Kreativitas membantu seseorang terus belajar dan berkembang, baik
secara pribadi maupun dalam karier, karena memicu rasa ingin tahu
dan dorongan untuk mencari pengetahuan baru.
d. Meningkatkan produktivitas
Kreativitas sering menghasilkan pendekatan yang lebih efisien dalam
bekerja, sehingga mampu menghemat waktu dan sumber daya serta
meningkatkan produktivitas.
e. Menghasilkan ide-ide baru
Berpikir kreatif memunculkan ide-ide segar yang dapat mengarah
pada inovasi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat
kerja, serta memberikan kontribusi positif dalam perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
f. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
Proses berpikir kreatif melibatkan analisis yang mendalam dan kritis,
sehingga seseorang lebih cermat dalam menilai informasi dan
membuat keputusan yang lebih baik.
g. Memperkaya relasi sosial
10
Kreativitas memungkinkan seseorang untuk lebih ekspresif dan
komunikatif, membantu dalam membangun hubungan yang lebih baik
serta memahami orang lain dengan lebih baik.
D. Mata Pelajaran Fikih
1. Pengertian Fikih
Secara bahasa Fikih berasal dari lafal يفقه – فقها- فقهyang
berarti mengerti atau paham.20 Ilmu fikih hanya membahas masalah
hukum-hukum praktis berkenaan dengan kewajiban dan hak manusia.
Menurut Imam Syafi’i, fikih merupakan ilmu yang mengkaji tentang
hukum syara’ yang berhubungan dengan amalan praktis, yang diperoleh
dari (meneliti) dalil-dalil syara’ yang terperinci. Sedangkan menurut
Hanafiyah fikih adalah ilmu yang membahas tentang hak dan kewajiban
diri dalam masalah amal praktikal.21 Ilmu fikih adalah salah satu ilmu
keislaman yang hingga kini cukup berkembang, hal ini terbukti
dengan kekayaan warisan khazanah klasik yang dimilikinya hingga
maraknya berbagai kegiatan atau forum kajian ilmu fikih seperti bahts
al-masail fiqhiyah yang dilakukan lembaga dan ormas-ormas Islam
maupun lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pesantren.22
Sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, Abdul Wahab Khallaf
mengatakan bahwa ilmu fikih menurut istilah syara’ (agama) adalah ilmu
yang membahas hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis yang
didasarkan pada dalil-dalil terperinci, atau sekumpulan hukum syara’ yang
bersifat praktis yang diambil dari berbagai dalil yang terperinci. 23 Mata
pelajaran Fikih merupakan salah satu rumpun dalam pendidikan agama
Islam yang bertujuan untuk mempersiapkan siswa mengenal, memahami,
dan menghayati masalah ibadah, muamalah, dan lainnya yang kemudian
20
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), hal.
321.
21
Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Terj. Abdul Hayyie al-Kattani (Depok:
Gema Insani, 2010), hal. 28.
22
Arif Shaifudin, “Fiqih dalam Perspektif Filsafat Ilmu : Hakikat dan Objek Ilmu Fiqih”,
Al-Manhaj : Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, Vol. 1, No. 2, 2019, hal. 198.
23
Abuddin Nata, Fikih Kedokteran & Ilmu Kesehatan (Jakarta: Salemba Diniyah, 2017),
h. 9-10.
11
menjadi dasar pedoman hidup (way of life) melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, latihan, dan pembiasaan.24
Materi fikih di MI bertujuan untuk membekali siswa dengan
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang hukum-hukum agama
Islam, sehingga mereka dapat menjalankan ibadah dengan benar dan
mempraktikkan nilai-nilai moral serta etika Islam dalam kehidupan sehari-
hari. Selain itu, materi fikih juga membantu siswa untuk memahami
prinsip-prinsip dan konsep-konsep dasar dalam Islam yang berhubungan
dengan tata cara beribadah dan menjalani kehidupan dengan bimbingan
ajaran agama yang benar.
2. Tujuan Pembelajaran Fikih di MI
Adapun tujuan pembelajaran fikih di Madrasah Ibtidaiyah antara
lain yaitu25:
a. Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan tata
cara pelaksaan hukum Islam, baik yang menyangkut aspek akidah
maupun muamalah untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani
kehidupan pribadi dan sosial.
b. Melaksanakan dan mengamalkan hukum Islam dengan benar dan
sebagai perwujudan ketaatan dan ketundukan dalam menjalankan
ajaran agama Islam dalam berhubungan manusia dengan Allah Swt
dan manusia dengan manusia yang lain serta manusia dengan
lingkungan sekitarnya.
E. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dicantumkan agar dapat mengetahui perbedaan
penelitian yang terdahulu sehingga tidak terjadi plagiasi dan untuk
mempermudah fokus yang akan dikaji dalam penelitian ini. Adapun beberapa
hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain :
24
Zaenudin, “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqh Melalui
Penerapan Strategi Bingo,” Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, Vol. 10, No. 2, 2015,
hal. 301–318.
25
Juanda Sikumbang, “Evaluasi Pembelajaran Fikih pada Pendidikan Madrasah
Ibtidaiyah (MI), Al-Fatih : Jurnal Pendidikan dan Keislaman, Vol. 4, No. 1, 2021, hal. 72-73.
12
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ubaidilah Faizah Mukti yang berjudul
Pengaruh Penerapan Model PBL Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih di MTs Negeri 2 Pekalogan program
studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Penulis menyimpulkan hasil
penelitiannya bahwa penerapan model PBL mempengaruhi peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa setelah dilakukan tindakan terbukti
dengan nilai rata-rata ulangan harian sebelum dilakukan penerapan model
PBL sebesar 71,2 dan setelah diterapkan model PBL diperoleh nilai rata-
rata post test penerapan model PBL mempengaruhi peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa setelah dilakukan tindakan terbukti
dengan nilai rata-rata ulangan harian sebelum dilakukan penerapan model
PBL sebesar 71,2 dan setelah diterapkan model PBL diperoleh nilai rata-
rata post test 77,1.26 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis
yaitu lokasi, waktu penelitian, subjek penelitian, serta penelitian ini hanya
memiliki 1 variabel terikat (berpikir kritis). Sedangkan persamaan
penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu sama-
sama menggunakan penelitian kuantitatif yang meneliti tentang PBL dan
mata pelajaran yang diteliti.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Yumnia yang berjudul Pengaruh Model
PBL Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V Pada Materi
Persatuan dan Kesatuan di MI Attaqwa 18 program studi Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Penulis menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa
terdapat pengaruh pada penerapan model PBL terhadap kemampuan
berpikir kritis siswa kelas V pada materi persatuan dan kesatuan di MI
Attaqwa 18. Hal tersebut dapat ditarik berdasarkan hasil uji hipotesis
berbantuan Software SPSS dengan jenis penarikan data hipotesis
independent sample t test yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir
kritis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan.
26
Ubaidilah Faizah Mukti, Pengaruh Penerapan Model Problem Based Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih di MTs Negeri 2 Pekalongan.
Dalam [Link], diakses pada tanggal 22 Agustus 2024 pukul 18.10 WIB.
13
Hasil pengujian hipotesis posttest kelas eksperimen dan kelas control
dapat diperoleh t hitung sebesar 7,640 dan t tabel sebesar 1,667. Maka,
dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi terdapat
perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa untuk siswa kelas eksperimen
yang menggunakan model PBL dan siswa kelas control yang
menggunakan model pembelajaran konvensional.27 Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian penulis yaitu lokasi penelitian, waktu penelitian,
mata pelajaran yang diteliti, dan penelitian ini hanya memiliki 1 variabel
terikat (berpikir kritis). Sedangkan persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu sama-sama menggunakan
penelitian kuantitatif yang meneliti tentang PBL.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Nurhidayati yang berjudul Pengaruh
Model Pembelajaran PBL Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Kelas VIII Tahun Pelajaran 2022/2023 program studi Pendidikan
Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Hamzanwadi. Penulis menyimpulkan penelitiannya bahwa terdapat
pengaruh yang positif dan signifikan penggunaan model pembelajaran
PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Untuk melihat seberapa
kuat pengaruh model pembelajaran PBL terhadap kemampuan berpikir
kritis siswa, hasil yang diperoleh yaitu sebesar 0,548, dan tergolong ke
dalam kategori cukup kuat dilihat dari kategori korelasi. Sedangkan untuk
koefisien determinasi mencapai 30,1%, artinya kemampuan berpikir kritis
siswa dipengaruhi oleh model pembelajaran PBL dan sisanya dipengaruhi
oleh faktor lain.28 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu
terletak pada subjek penelitian, lokasi, dan waktu penelitian, mata
pelajaran yang diteliti, dan penelitian ini hanya memiliki 1 variabel terikat
(berpikir kritis). Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian
yang akan dilakukan penulis yaitu sama-sama menggunakan penelitian
kuantitatif yang meneliti tentang PBL.
27
Yumnia, Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa Kelas V Pada Mata Materi Persatuan dan Kesatuan di MI Attqwa 18. Dalam
[Link], diakses pada tanggal 22 Agustus 2024 pukul 19.35 WIB.
28
Siti Nurhidayati, Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII Tahun Pelajaran 2022/2023. Dalam
[Link], diakses pada tanggal 22 Agustus 2024 pukul 20.07 WIB.
14
4. Penelitian yang dilakukan oleh Tia Rosa Aldilah yang berjudul Pengaruh
Model PBL Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X di SMA
Negeri 11 Kota Jambi program studi Pendidikan Ekonomi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Batanghari Jambi. Penulis
menyimpulkan penelitiannya bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
dan positif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas 10 di SMA
Negeri 11 kota Jambi. ini terlihat dengan nilai b constan 49,271 dan nilai x
terbesar 1,048. Maka, dari nilai itu persamaan regresi sederhana yakni Y =
a + bx adalah Y = 49,271 + 1,048x dengan nilai t = 11,654. Ini berarti bila
PBL naik 1,048% maka kemampuan berpikir kritis naik 1% sebaliknya
PBL turun 1,648% maka kemampuan berpikir kritis turun 1%.29 Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu terletak pada subjek
penelitian, lokasi, dan waktu penelitian, serta penelitian ini hanya memiliki
1 variabel terikat (berpikir kritis). Sedangkan persamaan penelitian ini
dengan penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu sama-sama
menggunakan penelitian kuantitatif yang meneliti tentang PBL.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Umiatur Rohmania yang berjudul
Pengaruh Model PBL Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas
IV-A Pada Mata Pelajaran Fikih di MINU Waru 1 Sidoarjo program studi
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis menyimpulkan penelitiannya bahwa
terdapat pengaruh model PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa
kelas IV-A pada mata pelajaran fikih di MINU Waru I Sidoarjo berada
pada tingkat sedang.30 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis
yaitu terletak pada subjek penelitian, lokasi, dan waktu penelitian, serta
penelitian ini hanya memiliki 1 variabel terikat (berpikir kritis). Sedangkan
persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan penulis
yaitu sama-sama menggunakan penelitian kuantitatif yang meneliti tentang
PBL dan mata pelajaran yang diteliti.
29
Tia Rosa Aldilah, Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X di SMA Negeri 11 Kota Jambi. Dalam
[Link], diakses pada tanggal 22 Agustus pukul 20.37 WIB.
30
Umiatur Rohmania, Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Kelas IV-A Pada Mata Pelajaran Fikih di MINU Waru 1 Sidoarjo. Dalam
[Link] , diakses pada tanggal 22 Agustus 2024 pukul 21.17 WIB.
15
6. Penelitian yang dilakukan oleh Yenny Putri Pratiwi yang berjudul
Pengaruh Model PBL Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Berpikir
Kreatif Siswa pada Mata Pelajaran Biologi program studi Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Penulis menyimpulkan penelitiannya bahwa terdapat
pengaruh secara signifikan penggunaan model pembelajaran terhadap
kemampuan berpikir kritis bagi siswa pada pembelajaran biologi. Hasil
keputusan uji ditunjukkan dari nilai (sig) yaitu 0,001 sehingga (sig) < 0,05.
Hal tersebut juga didukung dari nilai rata-rata aspek kemampuan berpikir
kritis yang menunjukkan sehingga rata-rata nilai kemampuan berpikir
kritis terdapat perbedaan yang relatif besar yaitu 66,91 pada kelas kontrol
dan 76,95 pada kelas eksperimen, dengan selisih rata-rata yaitu 10,4. Rata-
rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa yang diperoleh kelas
eksperimen dengan model PBL lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol
yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan
ceramah bervariasi. Kemudian juga terdapat pengaruh secara signifikan
penggunaan model pembelajaran terhadap kemampuan unsur-unsur kreatif
siswa pada pembelajaran biologi. Hasil keputusan uji hipotesis
ditunjukkan dari nilai (sig) yaitu 0,000 sehingga (sig) < 0,05. Hal tersebut
juga didukung dari nilai rata-rata aspek kemampuan berpikir kreatif yang
menunjukkan peningkatan pada tabel 4.6 sehingga rata-rata nilai
kemampuan berpikir kritis terdapat perbedaan yang relative besar yaitu
66,37 pada kelas kontrol dan 77,37 pada kelas eksperimen, dengan selisih
11,00. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kreatif siswa yang diperoleh
kelas eksperimen dengan model PBL lebih tinggi dibandingkan kelas
kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional yaitu
ceramah bervariasi.31 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis
yaitu terletak pada subjek penelitian, lokasi, dan waktu penelitian.
Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan
dilakukan penulis yaitu sama-sama menggunakan penelitian kuantitatif
31
Yenny Putri Pratiwi, Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Siswa Pada Mata Biologi. Dalam [Link], diakses
pada tanggal 4 November 2024 pukul 22.29 WIB.
16
yang meneliti tentang PBL dan variabel terikatnya sama (kemampuan
berpikir kritis dan berpikir kreatif).
7. Penelitian yang dilakukan oleh Anik Handayani dan Henny Dewi
Koeswanti yang berjudul Meta-Analisis Model Pembelajaran PBL untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Universitas Kristen Satya
Wacana. Penulis menyimpulkan penelitiannya bahwa model pembelajaran
PBL mampu meningkatkan daya pikir kreatif siswa dengan diperoleh
angka terendah 2,20 % dan angka terbesar 39,90% sehingga 13,06%
merupakan angka rata-rata. Angka pretest rata-rata adalah 49,34%, dan
angka posttest rata-rata adalah 61,22%. Jadi, penggunaan model PBL
dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa dengan angka 11,88%. 32
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu metode penelitian,
waktu, tempat, lokasi penelitian, dan penelitian ini hanya memiliki 1
variabel terikat (berpikir kreatif). Sedangkan persamaan penelitian ini
dengan penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu sama-sama meneliti
tentang PBL.
Berdasarkan penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat
persamaan dan perbedaan dari penelitian yang penulis lakukan, adapun
persamaannya terletak pada variabelnya yang sama-sama mengkaji masalah
model pembelajaran PBL, sedangkan perbedaannya terletak pada objek
penelitian dari penulis.
Tabel 2.1
Perbedaan dan persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang
dilakukan
No Judul Hasil Penelitian Perbedaan Persamaan
1. Pengaruh Penerapan model Perbedaan Sama-sama
Penerapan Model PBL mempengaruhi penelitian menggunakan
PBL Terhadap peningkatan ini terletak penelitian
Kemampuan kemampuan berpikir lokasi, kuantitatif
Berpikir Kritis kritis siswa setelah waktu yang meneliti
Siswa Pada Mata dilakukan tindakan penelitian , tentang PBL.
Pelajaran Fiqih di terbukti dengan nilai subjek
MTs Negeri 2 rata-rata ulangan penelitian,
32
Anik Handayani, Henny Dewi Koeswanti, “Meta-Analisis Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif”, Jurnal
Basicedu, Vol. 5, No. 3, 2021, hal. 1350-1355.
17
Pekalogan. harian sebelum serta
dilakukan penerapan penelitian
model PBL sebesar ini hanya
71,2 dan setelah memiliki 1
diterapkan model variabel
PBL diperoleh nilai terikat.
rata-rata post test
77,1.
2. Pengaruh Model Terdapat pengaruh Perbedaan Sama-sama
PBL Terhadap pada penerapan penelitian menggunakan
Kemampuan model PBL terhadap ini terletak penelitian
Berpikir Kritis kemampuan berpikir pada lokasi, kuantitatif
Siswa Kelas V kritis siswa kelas V waktu yang meneliti
Pada Materi pada materi penelitian, tentang PBL.
Persatuan dan persatuan dan mata
Kesatuan di MI kesatuan di MI pelajaran
Attaqwa 18. Attaqwa 18. Hal yang
tersebut dapat ditarik diteliti, dan
berdasarkan hasil uji penelitian
hipotesis berbantuan ini hanya
Software SPSS memiliki 1
dengan jenis variabel
penarikan data terikat
hipotesis (berpikir
independent sample t kritis).
test yang
menunjukkan bahwa
kemampuan berpikir
kritis antara kelas
eksperimen dan
kelas kontrol
berbeda secara
signifikan.
3. Pengaruh Model Terdapat pengaruh Perbedaan Sama-sama
Pembelajaran yang positif dan penelitian menggunakan
PBL Terhadap signifikan ini terletak penelitian
Kemampuan penggunaan model pada subjek kuantitatif
Berpikir Kritis pembelajaran PBL penelitian, yang meneliti
Siswa Kelas VIII terhadap lokasi, dan tentang PBL.
Tahun Pelajaran kemampuan berpikir waktu
2022/2023. kritis siswa. Untuk penelitian,
melihat seberapa mata
kuat pengaruh model pelajaran
pembelajaran PBL yang
terhadap diteliti, dan
kemampuan berpikir penelitian
kritis siswa, hasil ini hanya
yang diperoleh yaitu memiliki 1
18
sebesar 0,548, dan variabel
tergolong ke dalam terikat
kategori cukup kuat (berpikir
dilihat dari kategori kritis).
korelasi.
4. Pengaruh Model Terdapat pengaruh Perbedaan Sama-sama
PBL Terhadap yang signifikan dan penelitian menggunakan
Kemampuan positif terhadap ini terletak penelitian
Berpikir Kritis kemampuan berpikir pada subjek kuantitatif
Siswa Kelas X di kritis siswa kelas 10 penelitian, yang meneliti
SMA Negeri 11 di SMA Negeri 11 lokasi, dan tentang PBL.
Kota Jambi. kota Jambi. ini waktu
terlihat dengan nilai penelitian,
b constan 49,271 dan serta
nilai x terbesar penelitian
1,048. Maka, dari ini hanya
nilai itu persamaan memiliki 1
regresi sederhana variabel
yakni Y = a + bx terikat
adalah Y = 49,271 + (berpikir
1,048x dengan nilai t kritis).
= 11,654. Ini berarti
bila PBL naik
1,048% maka
kemampuan berpikir
kritis naik 1%
sebaliknya PBL
turun 1,648% maka
kemampuan berpikir
kritis turun 1%.
5. Pengaruh Model Terdapat pengaruh Perbedaan Sama-sama
PBL Terhadap model PBL terhadap penelitian menggunakan
Kemampuan kemampuan berpikir ini terletak penelitian
Berpikir Kritis kritis siswa kelas IV- pada subjek kuantitatif
Siswa Kelas IV-A A pada mata penelitian, yang meneliti
Pada Mata pelajaran fikih di lokasi, dan tentang PBL
Pelajaran Fikih di MINU Waru I
waktu dan mata
MINU Waru 1 Sidoarjo berada pada penelitian, pelajaran yang
Sidoarjo. tingkat sedang. serta diteliti.
penelitian
ini hanya
memiliki 1
variabel
terikat
(berpikir
kritis).
6. Pengaruh Model Terdapat pengaruh Perbedaan Sama-sama
PBL Terhadap secara signifikan penelitian menggunakan
19
Kemampuan penggunaan model ini terletak penelitian
Berpikir Kritis pembelajaran PBL pada subjek kuantitatif
dan Berpikir terhadap penelitian, yang meneliti
Kreatif Siswa kemampuan berpikir lokasi, dan tentang PBL
pada Mata kritis dan berpikir waktu dan variabel
Pelajaran Biologi kreatif siswa pada penelitian. terikatnya
pembelajaran biologi sama.
.
7. Meta-Analisis Pembelajaran PBL Perbedaan Sama-sama
Model mampu penelitian meneliti
Pembelajaran meningkatkan daya ini terletak tentang PBL.
PBL untuk pikir kreatif siswa pada
Meningkatkan dengan diperoleh metode
Kemampuan angka terendah 2,20 penelitian,
Berpikir Kreatif % dan angka waktu,
terbesar 39,90% tempat,
sehingga 13,06% lokasi
merupakan angka penelitian,
rata-rata. Angka dan
pretest rata-rata penelitian
adalah 49,34%, dan ini hanya
angka posttest rata- memiliki 1
rata adalah 61,22%. variabel
Jadi, penggunaan terikat
model PBL dapat (berpikir
meningkatkan kreatif)
berpikir kreatif siswa
dengan angka
11,88%.
F. Hipotesis
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan maka peneliti merumuskan
hipotesis sebagai berikut :
Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model
PBL terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik
pada mata pelajaran Fikih Kelas V di MIN 7 Tulungagung.
Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model PBL
terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik pada
mata pelajaran Fikih Kelas V di MIN 7 Tulungagung.
20
G. Kerangka Konseptual
Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir secara logis
dan sistematis dalam membuat keputusan atau menyelesaikan suatu
permasalahan yang ada. Keterampilan berpikir kritis dan kreatif merupakan
salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan pada saat ini. Pembelajaran di
abad ke-21 menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir kritis
dan kreatif dengan baik dalam menentukan suatu keputusan. Peserta didik
yang memiliki keterampilan berpikir kritis dan kreatif akan dapat mengatasi
suatu permasalahan dengan terstruktur dan kreatif.
PBL atau bisa juga disebut dengan Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBM) adalah model pembelajaran yang mengutamakan adanya permasalahan
yang nyata sebagai gambaran bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis
dan mengembangkan keterampilan untuk memecahkan suatu masalah serta
memperoleh pengetahuan.
Y1
Kemampuan
Berpikir Kritis
X
Model Pembelajaran
Problem Based Learning
Y
(PBL) 2
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
Keterangan :
1. Model PBL (X) yaitu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
permasalahan yang nyata sebagai gambaran bagi peserta didik untuk
21
belajar berpikir kritis dan mengembangkan keterampilan untuk
memecahkan suatu masalah serta memperoleh pengetahuan.
2. Kemampuan berpikir kritis (Y1) yaitu kemampuan berpikir secara logis
dan sistematis dalam membuat keputusan atau menyelesaikan suatu
permasalahan yang ada.
3. Kemampuan berpikir kreatif (Y2) yaitu kemampuan untuk menghasilkan
berbagai ide atau solusi baru terhadap suatu masalah, dengan menekankan
pada kuantitas, keunikan, relevansi, dan variasi jawaban.