0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan12 halaman

Perencanaan Drainase Wisma Ababil 2

Dokumen ini membahas perencanaan sistem drainase untuk Perumahan Wisma Ababil 2 di Gresik, yang bertujuan untuk mengatasi limpasan permukaan akibat perubahan tata guna lahan. Menggunakan software SWMM, direncanakan 30 saluran drainase dan kolam detensi dengan kapasitas 280 m3, serta estimasi biaya pembangunan sebesar Rp 796.286.000. Hasil analisis menunjukkan debit maksimum 0,45 m3/det dan kecepatan maksimum 2,39 m2/det pada saluran tertentu.

Diunggah oleh

irfanalfanan30
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan12 halaman

Perencanaan Drainase Wisma Ababil 2

Dokumen ini membahas perencanaan sistem drainase untuk Perumahan Wisma Ababil 2 di Gresik, yang bertujuan untuk mengatasi limpasan permukaan akibat perubahan tata guna lahan. Menggunakan software SWMM, direncanakan 30 saluran drainase dan kolam detensi dengan kapasitas 280 m3, serta estimasi biaya pembangunan sebesar Rp 796.286.000. Hasil analisis menunjukkan debit maksimum 0,45 m3/det dan kecepatan maksimum 2,39 m2/det pada saluran tertentu.

Diunggah oleh

irfanalfanan30
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No.

01 (2025) 508 - 519


© Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

JTRESDA
Journal homepage: [Link]
p-ISSN : 2798-3420 I e-ISSN : 2477-6068

Perencanaan Sistem Drainase Perumahan Wisma Ababil 2


Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik
The Planning of Drainage System for Wisma Ababil 2 Residential Banjarsari Cerme
District Gresik Regency
Naufa Tasha Nabila1*, Pitojo Tri Juwono2, Sumiadi3
Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No.167,
Malang, 65145, Indonesia

Korespondensi Email : Abstrak: Perubahan tata guna lahan menjadi lahan


tashanabila1703@[Link] Perumahan Wisma Ababil 2 menyembabkan timbulnya
limpasan permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk
DOI: merencanakan sistem drainase dengan menggunakan
[Link] software SWMM untuk mengatasi limpasan
permukaan di kawasan perumahan dan menghitung
Kata kunci: Drainase, Perencanaan, estimasi biaya yang dibutuhkan proyek. Sistem
Perumahan, SWMM, Kolam Detensi jaringan drainase direncanakan menggunakan 30
saluran dengan bentuk segi empat dan 8 jenis ukuran
Keywords: Drainage, Planning, yang dilengkapi dengan outlet sebanyak 2 buah. Selain
Residential, SWMM, Detention Pond itu, perencanaan kolam detensi juga dilakukan dengan
kapasitas volume tampungan sebanyak 280 m3 di
Article history: bagian depan perumahan. Hasil analisis menggunakan
Received: 19-07-2024 program SWMM 5.1 diperoleh debit maksimum
Accepted: 25 -10-2024 sebesar 0,45 m3/det dengan kecepatan maksimum
sebesar 2,39 m2/det pada saluran D3. Biaya untuk
pembangunan sistem jaringan drainase pada
Perumahan Wisma Ababil 2 adalah sebesar Rp
796.286.000.

Abstract: The change in land use to become Wisma


Ababil 2 residential land has resulted in surface runoff.
This study aims to plan a drainage system using SWMM
software to overcome surface runoff in residential
areas and calculate the estimated costs required for the
project. The drainage network system is planned to use
30 channels with a rectangular shape and 8 types of
sizes equipped with 2 outlets. Apart from that, planning
for a detention pond was also carried out with a storage
volume capacity of 280 m3 at the front of the housing
complex. The results of analysis using the SWMM 5.1
program obtained a maximum discharge of 0,45 m 3/sec
with a maximum speed of 2,39 m2/sec on channel D3.
The cost for building a drainage network system at
Wisma Ababil 2 Residential is Rp 796,286,000.

*Penulis korespendensi: tashanabila1703@[Link]


Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

1. Pendahuluan
Kebutuhan lahan semakin meningkat akibat dari pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan alih
fungsi lahan hijau menjadi lahan perumahan atau pemukiman. Perubahan fungsi lahan dapat
mengurangi daerah resapan air yang dapat menambah limpasan permukaan. Penambahan limpasan
permukaan membawa pengaruh yang kurang baik bagi lingkungan seperti dapat menyebabkan banjir.
Oleh karena itu dibutuhkan penanganan berupa perencanaan prasarana drainase yang baik khususnya
pada kawasan yang akan dibangun pemukiman. Sistem drainase menjadi aspek penting dalam
pengelolaan dan pengendalian air permukaan pada suatu wilayah. Sistem drainase dapat dikatakan baik
apabila dapat menampung buangan air sebanyak-banyaknya sehingga ketika debit air lebih banyak dari
yang diharakan, sistem masih dapat menampung sehingga mencegah banjir. Penerapan konsep
ekodrainase dalam sistem drainase diperlukan untuk mencegah air mengalir dengan cepat sehigga dapat
terserap dalam tanah. Konsep tersebut dapat mengurangi limpasan air, sebagai perlindungan air tanah,
dan mengurangi resiko terjadinya banjir.
Perumahan Wisma Ababil 2 adalah salah satu perumahan yang akan dibangun di Kabupaten Gresik
dengan luas wilayah sebesar 2,8 Hektar. Perumahan ini membutuhkan perencanaan sistem jaringan
drainase dengan harapan dapat menampung limpasan air hujan dan menghindari genangan air dan banjir
pada saat musim hujan. Hasil perencanaan perlu disimulasi untuk mengetahui terjadinya genangan.
Simulasi dapat dilakukan dengan menggunakan program Environmental Protection Agency Storm
Water Management Model (EPA SWMM) 5.1. Dengan mencaantumkan hasil perencanaan sistem
drainase daerah penelitian, maka dapat diketahui kemampuan masing-masing saluran dalam menerima
limpasan air.

2. Bahan dan Metode


2.1 Bahan
2.1.1 Lokasi Studi
Objek Penelitian berada di Kawasan Perumahan Wisma Ababil 2, Banjarsari, Kecamatan Cerme
Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi perumahan tepatnya berada di jalan menuju ke Desa
Padeg. Luas wilayah perumahan yang direncanakan adalah sebesar 2,8 Hektar dengan total jumlah
rumah sebanyak 278 rumah. Lokasi studi yang menjadi objek penelitian ditampilkan pada Gambar 1.

Desa Banjarsari

Kecamatan
Cerme

Kabupaten
Gresik
Lokasi Perumahan
Wisma Ababil 2

Gambar 1: Lokasi Studi

509
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

2.1.2 Data Penelitian


Pelaksanaan penelitian diawali dengan pengumpulan data penelitian dan dilanjutkan dengan
proses analisis data. Terdapat dua macam data yang perlu dikumpulkan yaitu primer dan sekunder. Data
primer yang ditinjau dalam penelitian berupa panjang saluran, panjang jalan, luas area, dan dimensi
saluran eksisting. Sedangkan data sekunder yang ditinjau berupa data curah hujan pada Stasiun Hujan
Bunder dan topografi wilayah Perumahan Wisma Ababil.
2.2 Metode
2.2.1 Analisis Hidrologi
Pelaksanaan analisis hidrologi dilakukan terhadap data hujan pada area studi yang ditinjau. Hasil
yang dapat diperoleh dalam analisis hidrologi yang dibutuhkan dalam perencanaan bangunan air berupa
debit banjir rencana pada periode ulang tertentu. Tujuan dari perhitungan debit banjir rancangan adalah
diharapkan saluran drainase yang direncanakan dapat menampung debit banjir maksimum. Analisis
hidrologi terdiri dari beberapa tahapan analisis yaitu uji konsistensi data, analisa distribusi frekuensi
curah hujan rancangan, uji kesesuaian distribusi, perhitungan intensitas hujan jam-jaman, dab
perhitungan debit banjir rancangan.
2.2.2 Analisis Hidrolika
Analisis hidrolika berguna untuk mendapatkan perencanaan bangunan untuk sistem jaringan
drainase. Dalam pelaksanaan analisis diperlukan pertimbangan terhadap karakteristik hidrolik saluran.
Tahapan yang dilakukan dalam analisis hidrolika adalah perhitungan jari-jari hidrolik, perhitungan
kecepatan aliran (V), perhitungan debit (Q), perhitungan kapasitas saluran, dan perencanaan bangunan
ekodrainase.
2.2.3 Pemodelan Sistem Drainase dengan EPA SWMM 5.1
Pemodelan pada rancangan sistem drainase dilakukan dengan menggunakan program EPA
SWMM 5.1. Metode yang digunakan dalam program ini adalah dengan mensimulasikan hujan menjadi
aliran sehingga dapat diketahui kualitas dan kuantitas limpasan air di permukaan. Pemodelan sistem
jaringan drainase dengan EPA SWMM 5.1 dilaksanakan dengan menginput berbagai parameter untuk
dilakukan simulasi. Simulasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terjadi genangan pada
suatu saluran yang direncanakan.
2.2.4 Rencana Anggaran Biaya
Perencanaan anggaran biaya diawali dengan menentukan harga satuan dasar yang diperoleh dari
Peraturan Bupati Gresik Nomor 35 Tahun 2022, kemudian dilakukan perhitungan harga satuan dasar,
dan dilanjutkan dengan perhitungan harga satuan pekerjaan pada masing-masing pekerjaan. Harga
Harga satuan pekerjaan selanjutnya akan dikalikan dengan volume pekerjaan yang diperoleh dari
dimensi konstruksi. Dari perkalian tersebut maka didapatkan total rencana anggaran biaya konstruksi.
2.3 Persamaan
2.3.1 Debit Banjir Rancangan
Tujuan dari perhitungan debit banjir rancangan adalah diharapkan saluran drainase yang
direncanakan dapat menampung debit banjir maksimum. Perhitungan debit banjir rancangan dapat
dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut:

𝑄𝑟𝑎𝑛𝑐𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 = 0,278 . 𝐶. 𝐼 . 𝐴 Pers. 1

510
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Qrancangan adalah debit banjir rancangan (m3/dt) yang diperoleh dari hasil perkalian nilai faktor konversi
dengan nilai koefisien pengaliran (C), intensitas hujan (I), dan luas area pengaliran (A). Nilai koefisien
pengaliran dihitung dengan persamaan ini:
∑𝑛
𝑖=1 𝐶𝑖 .𝐴𝑖
𝐶= ∑𝑛
Pers. 2
𝑖=1 𝐴𝑖

Koefisien pengaliran (𝐶) dihitung dengan meninjau luas area (𝐴𝑖 ) sesuai dengan jenis lahannya. Setiap
jenis lahan memiliki koefisien yang berbeda (𝐶𝑖 ). Koefisien pengaliran diperoleh dengan
menjumlahkan seluruh hasil perkalian antara luas area dan koefisien pengaliran pada masing-masing
jenis lahan kemudian dibagi dengan luas daerah secara keseluruhan. Nilai intensitas hujan diperoleh
dari rumus Mononobe.
2
𝑅24 24 3
𝐼= (𝑇𝑐 ) Pers. 3
24

𝐿 0,77
𝑇𝑐 = 0,0195 + ( 𝑠) Pers. 4

Nilai intensitas hujan ditentukan dengan dua parameter yaitu curah hujan maksimum 24 jam (R 24) dan
waktu konsentrasi (Tc). Waktu konsentrasi diperoleh dengan mengetahui panjang saluran (L) dan
kemiringan saluran (s).
2.3.2 Perencanaan Dimensi Saluran
Perencanaan dimensi saluran dihitung dengan menggunakan persamaan:

𝑄𝑠𝑎𝑙𝑢𝑟𝑎𝑛 = 𝐴𝑡 . 𝑉 Pers. 5
2
1
𝑉 = 𝑛 . 𝑅 3 . 𝑆 0,5 Pers. 6

Qsaluran adalah debit yang dapat ditampung oleh saluran yang telah direncanakan. Perhitungan kapasitas
saluran dimulai dengan merencanakan lebar saluran (b), tinggi jagaan (w), dan tinggi air (h air). Hasil
perencanaan tersebut dapat menentukan luas penampang saluran (At). Kecepatan aliran (V) diperoleh
dengan mengetahui nilai koefisien kekasaran manning (n), jari-jari hidrolis (R) dan kemiringan saluran
(s). Jari-jari hidrolis dihitung dengan membagi luas penampang (At) dengan keliling basah penampang
(P). Nilai Qsaluran harus sama dengan nilai Qrancangan agar saluran dapat menampung debit yang terjadi
pada suatu saluran.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1 Analisa Hidrologi
Analisis hidrologi membutuhkan data berupa data curah hujan maksimum tahunan dengan satuan dalam
bentuk mm/hari. Dalam penelitian ini, data hujan yang diperlukan adalah data curah hujan Stasiun
Bunder tahun 2014 sampai dengan tahun 2023 yang ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1: Data Curah Hujan Maksimum


Tahun 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023
Curah Hujan
112 103 76 115 98 95 85 80 70 93
Maksimum (mm)
3.1.1 Uji Konsistensi Data
Uji konsistensi data berfungsi untuk menentukan tingkat kesesuaian suatu data curah hujan di setiap
wilayah. Metode uji konsistensi pada penelitian ini menggunakan metode RAPS (Rescaled Adjusted

511
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Partial Sums) karena data yang ditinjau dalam penelitian berasal dari satu stasiun hujan saja [7].
Pengujian pada data hujan Stasiun Bunder memberikan hasil bahwa nilai Qhitung < Qkritis yang berarti
data konsisten.
3.1.2 Perhitungan Parameter Statistik
Sebelum melakukan analisis distribusi, terdapat langkah yang perlu dilakukan untuk menentukan
distribusi yang dapat digunakan. Pemilihan distribusi dilakukan dengan menghitung nilai parameter
statistic berupa Cs dan Ck [6]. Hasil perhitungan diperoleh nilai Cs dan Ck non logaritmik masing-
masing adalah sebesar 0,028 dan 3,024. Sedangkan, nilai Cs dan Ck logaritmik masing-masing adalah
sebesar -0,271 dan 3,081. Nilai parameter tersebut kemudian disesuaikan berdasarkan kriteria pada
masing-masing distribusi.
3.1.3 Analisis Distribusi Hujan Rancangan
Curah hujan rancangan merupakan besarnya hujan maksimum yang turun pada suatu area. Curah
hujan rancangan dihitung dengan kala ulang yang sudah ditetapkan sesuai kebutuhan perencanaan. Kala
ulang yang umum digunakan dalam perencanaan drainase perumahan adalah 5 tahun dan 10 tahun.
Curah hujan rancangan dengan suatu kala ulang dapat ditentukan melalui analisis distribusi hujan
rancangan [1]. Analisis distribusi yang dipilih dalam penelitian ini berdasarkan parameter statistic
adalah Gumbel dan Log Pearson III.
3.1.4 Uji Kesesuaian Distribusi
Kedua metode analisa distribusi frekuensi perlu dilakukan uji kesesuaian dengan dua macam
metode pengujian yaitu uji Chi-Square dan Uji Smirnov Kolmogorov [3]. Pengujian dilakukan guna
menentukan apakah distribusi bisa diterima atau tidak. Pada masing-masing pengujian memiliki
parameter untuk mengambil keputusan pengujian. Hasil pengujian dengan dua metode pengujian pada
masing-masing distribusi menunjukkan bahwa distribusi dapat diterima karena memenuhi kriteria ∆hitung
< ∆cr. ∆hitung pada pengujian Chi-square untuk distribusi Gumbel dan Log Pearson III memiliki nilai
yang sama yaitu 1,20. ∆hitung pada pengujian Smirnov Kolmogorov untuk distribusi Gumbel dan Log
Pearson III masing-masing bernilai 0,10 dan 0,07. Distribusi Log Pearson III memiliki nilai ∆hitung yang
lebih kecil sehingga distribusi tersebut merupakan distribusi yang paling tepat digunakan untuk analisis
selanjutnya.
3.1.5 Distribusi Hujan Jam-jaman
Distribusi hujan jam-jaman dapat dikalkulasi menggunakan metode Mononobe dengan kala ulang
10 tahun [2]. Penentuan distribusi hujan memerlukan data berupa data curah hujan dan koefisien
pengaliran yang sesuai dengan karakteristik lokasi penelitian. Distribusi hujan jam-jaman dengan kala
ulang 10 tahun dapat ditinjau melalui Gambar 2.

60.0
49.570
50.0
Hujan Jam-jaman (mm)

40.0
30.0
20.0 12.884
9.038 7.195
10.0 6.076 5.311
0.0
1 2 3 4 5 6
T (jam)

Gambar 2: Distribusi hujan Jam-jaman Tr = 10 Tahun

512
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

3.2 Analisis Hidrolika


3.2.1 Perencanaan Skema Aliran Drainase
Penentuan skema aliran drainase dilakukan dengan meninjau topografi lokasi dan peta rencana
bangunan perumahan. Skema aliran drainase harus diperhatikan dengan seksama agar air dapat
mengalir dengan baik mulai dari hulu saluran hingga hilir saluran. Skema aliran drainase di Perumahan
Wisma Ababil 2 ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3: Layout Jaringan Drainase Perumahan


3.2.2 Perhitungan Koefisien Aliran
Koefisien pada masing-masing daerah memiliki nilai yang berbeda-beda. Nilai koefisien akan
semakin besar jika jumlah daerah kedap airnya semakin besar [4]. Koefisien aliran (C) diperoleh dari
membandingkan hasil penjumlahan dari perkalian koefisien pengaliran dan luas pada masing-masing
bentuk lahan dengan luas seluruh [Link]-rata koefisien pengaliran pada saluran diperumahan
Wisma Ababil 2 adalah sebesar 0,75.
3.2.3 Perhitungan Debit Banjir Rancangan
Perhitungan debit banjir rencana merupakan komponen utama dalam perencanaan konstruksi
bangunan air. Konstruksi yang berskala besar direncanakan memiliki umur puluhan hingga ratusan
tahun. Oleh karena itu, perencanaan membutuhkan debit banjir rancangan perlu agar konstruksi dapat
digunakan digunakan secara maksimal [8]. Debit banjir rancangan dihitung dengan menggunakan
persamaan pada metode rasional (Pers.1). Tabel 2 menunjukkan hasil perhitungan debit banjir
rancangan dengan kala ulang 10 Tahun.

513
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Tabel 2: Debit Banjir Rancangan dengan Kala Ulang 10 Tahun


Kode L A Tc I Qsaluran Keterangan Qrancangan
s C
Saluran (m) (m2) (jam) (mm/jam) (m3/dt) (m3/dt)
A1 136.00 1751.51 0.001 0.20 0.88 113.88 0.049 A1 0.049
A2 136.00 1599.19 0.001 0.20 0.87 115.10 0.045 A2 0.045
A3 224.53 2615.83 0.001 0.30 0.88 86.52 0.055 A3 0.055
A4 218.00 2699.73 0.001 0.29 0.86 89.12 0.057 A4 0.057
A5 218.00 2672.82 0.001 0.28 0.86 90.51 0.058 A5 0.058
A6 192.81 2209.76 0.001 0.26 0.85 95.76 0.050 A6 0.050
A7 103.22 1685.80 0.001 0.14 0.73 141.83 0.048 A7 0.048
A8 79.07 1020.58 0.002 0.12 0.84 164.88 0.039 A8 0.039
A9 6.26 23.66 0.001 0.02 0.80 540.81 0.003 A8+A9 0.042
A10 51.13 728.11 0.002 0.08 0.83 219.33 0.037 A10 0.037
A11 40.52 501.14 0.002 0.06 0.82 242.18 0.028 A11 0.028
A12 6.34 26.73 0.001 0.02 0.81 482.77 0.003 A11+A12 0.030
A13 18.09 280.66 0.001 0.04 0.73 344.66 0.020 A13 0.020
A14 29.57 136.24 0.001 0.07 0.56 240.79 0.005 A13+A14 0.025
A15 181.18 2231.96 0.001 0.26 0.86 94.75 0.051 A15 0.051
B1 23.42 96.74 0.001 0.05 0.72 273.45 0.005 A14+A12+B1 0.061
B2 29.73 162.19 0.001 0.07 0.52 239.81 0.006 A10+B1+B2 0.103
B3 23.25 92.36 0.001 0.05 0.72 274.91 0.005 A9+B2+B3 0.150
B4 43.29 232.58 0.001 0.09 0.48 198.64 0.006 A7+B3+B4 0.205
B5 8.33 28.57 0.002 0.02 0.75 529.49 0.003 A6+B4+B5 0.258
B6 21.00 162.53 0.002 0.04 0.81 337.44 0.012 A15+B5+B6 0.321
C1 11.83 135.53 0.001 0.03 0.79 411.97 0.012 C1 0.012
C2 4.95 54.27 0.001 0.01 0.72 647.86 0.007 A1+C1+C2 0.068
C3 21.07 285.94 0.001 0.05 0.77 303.31 0.019 A2+C2+C3 0.131
C4 4.97 53.89 0.001 0.01 0.72 646.46 0.007 A3+C3+C4 0.193
C5 20.98 308.59 0.001 0.05 0.73 304.29 0.019 A4+C4+C5 0.269
C6 17.63 375.34 0.001 0.04 0.55 336.18 0.019 A5+C5+C6 0.346
D1 183.50 2900.14 0.001 0.35 0.83 79.26 0.053 D1 0.053
D2 10.28 55.79 0.001 0.04 0.65 352.37 0.004 B6+D1+D2 0.377
D3 11.46 284.77 0.001 0.03 0.49 429.69 0.017 D2+C6+D3 0.740

3.2.4 Perhitungan Kapasitas Saluran


Dimensi saluran direncanakan dapat menampung limpasan yang terjadi pada suatu wilayah.
Perencanaan dimensi harus mempunyai dimensi yang ekonomis dengan pengertian memiliki
penampang yang efisien tetapi mampu menyalurkan debit air secara maksimal [9]. Perhitungan dimensi
saluran akan dilakukan dengan menggunakan rumus Manning. Tabel 3 menampilkan hasil perencanaan
dimensi saluran di Perumahan Wisma Ababil 2.

514
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Tabel 3: Perencanaan Dimensi Saluran

Kode b w hw H A P R V Qsal Qrenc


n S
Saluran (m) (m) (m) (m) (m2) (m) (m) (m/s) (m3/s) (m3/s)

A1 0.30 0.06 0.34 0.40 0.10 0.98 0.10 0.015 0.0010 0.477 0.049 0.049
A2 0.30 0.09 0.31 0.40 0.09 0.92 0.10 0.015 0.0011 0.478 0.045 0.045
A3 0.30 0.01 0.39 0.40 0.12 1.08 0.11 0.015 0.0010 0.472 0.055 0.055
A4 0.30 0.01 0.39 0.40 0.12 1.08 0.11 0.015 0.0010 0.487 0.057 0.057
A5 0.30 0.02 0.38 0.40 0.12 1.07 0.11 0.015 0.0011 0.500 0.058 0.058
A6 0.30 0.06 0.34 0.40 0.19 0.99 0.10 0.015 0.0011 0.483 0.050 0.050
A7 0.30 0.10 0.30 0.40 0.10 0.90 0.10 0.015 0.0014 0.540 0.048 0.048
A8 0.30 0.05 0.25 0.30 0.07 0.79 0.09 0.015 0.0015 0.530 0.039 0.039
A9 0.30 0.09 0.31 0.40 0.09 0.93 0.10 0.015 0.0010 0.449 0.042 0.042
A10 0.30 0.09 0.21 0.30 0.06 0.73 0.09 0.015 0.0019 0.575 0.037 0.037
A11 0.30 0.13 0.17 0.30 0.05 0.64 0.08 0.015 0.0018 0.518 0.027 0.028
A12 0.30 0.02 0.28 0.30 0.09 0.87 0.10 0.015 0.0006 0.357 0.030 0.030
A13 0.30 0.15 0.15 0.30 0.04 0.59 0.07 0.015 0.0014 0.438 0.019 0.020
A14 0.30 0.09 0.21 0.30 0.06 0.72 0.09 0.015 0.0009 0.396 0.025 0.025
A15 0.30 0.03 0.37 0.40 0.11 1.05 0.10 0.015 0.0009 0.452 0.051 0.051
B1 0.35 0.05 0.35 0.40 0.12 1.06 0.12 0.015 0.0009 0.489 0.061 0.061
B2 0.40 0.03 0.47 0.50 0.19 1.35 0.14 0.015 0.0009 0.543 0.103 0.103
B3 0.45 0.05 0.55 0.60 0.25 1.56 0.16 0.015 0.0009 0.604 0.150 0.150
B4 0.50 0.01 0.64 0.65 0.32 1.77 0.18 0.015 0.0009 0.645 0.205 0.205
B5 0.50 0.03 0.62 0.65 0.31 1.74 0.19 0.015 0.0016 0.834 0.258 0.258
B6 0.55 0.01 0.64 0.65 0.35 1.82 0.19 0.015 0.0017 0.918 0.321 0.321
C1 0.30 0.19 0.11 0.30 0.03 0.52 0.06 0.015 0.0012 0.363 0.012 0.012
C2 0.30 0.03 0.42 0.45 0.13 1.15 0.11 0.015 0.0012 0.535 0.068 0.068
C3 0.40 0.02 0.53 0.55 0.21 1.46 0.15 0.015 0.0011 0.621 0.131 0.131
C4 0.50 0.01 0.54 0.55 0.27 1.58 0.17 0.015 0.0012 0.714 0.193 0.193
C5 0.55 0.05 0.65 0.70 0.36 1.85 0.19 0.015 0.0011 0.754 0.270 0.269
C6 0.60 0.04 0.71 0.75 0.43 2.02 0.21 0.015 0.0012 0.815 0.346 0.346
D1 0.35 0.03 0.42 0.45 0.15 1.20 0.12 0.015 0.0005 0.357 0.053 0.053
D2 0.75 0.01 0.84 0.85 0.63 2.43 0.26 0.015 0.0005 0.598 0.377 0.377
D3 0.85 0.01 0.84 0.85 0.71 2.53 0.28 0.015 0.0013 1.038 0.740 0.740

3.2.5 Perencanaan Sistem Drainase Konsep Ekodrainase


Perencanaan sistem drainase menggunakan konsep ekodrainase dilakukan dengan tujuan mengatur
air hujan agar tidak menimbulkan limpasan permukaan yang berlebihan serta memanfaatkannya
semaksimal mungkin [5]. Konsep ekodrainase yang digunakan dalam penelitian ini adalah kolam
detensi. Kolam detensi mampu menampung kelebihan air sementara dan ketika debit puncak terlewati
maka air akan dialirkan kembali menuju jaringan selamjutnya, Selain itu, kolam detensi juga dapat
digunakan sebagai ornament yang menarik dari perumahan. Lahan yang tersedia di wilayah perumahan
Wisma Ababil 2 memiliki luasan sebesar 140 m2 sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kolam detensi
dengan rencana kedalaman kolam adalah 2 m. Rencana dimensi untuk kolam detensi ditunjukkan pada
Gambar 4.

515
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Gambar 4: Dimensi Kolam Detensi


3.3 Simulasi Sistem Drainase dengan Menggunakan Software EPA SWMM 5.1
Pemodelan dengan pengaplikasian software EPA SWMM 5.1 dilaksanakan dengan menginput
beberapa object pada program sesuai dengan data-data yang diperoleh pada perhitungan. Object yang
diinput dalam program berupa data Subcatchment, Junction, Conduit, Storage Units, Orifices Link,
Outfalls dan Raingages. Hasil input object tersebut dapat disimulasikan untuk mengetahui genangan
yang terjadi. Simulasi dengan menggunakan data saluran pada perhitungan sebelumnya memberikan
hasil bahwa masih terdapat penguapan pada sebagian saluran sehingga dengan pengaplikasian software
SWMM dapat diperoleh dimensi saluran yang baru seperti pada Tabel 4.

Tabel 4: Perubahan Dimensi Saluran Setelah Simulasi dengan EPA SWMM 5.1

Kode Saluran Panjang (m) h (m) b (m) Kode Saluran Panjang (m) h (m) b (m)
A1 136.00 0.40 0.30 B1 23.42 0.30 0.30
A2 136.00 0.40 0.30 B2 29.73 0.30 0.30
A3 224.53 0.40 0.30 B3 23.25 0.35 0.35
A4 218.00 0.40 0.30 B4 43.29 0.35 0.35
A5 218.00 0.50 0.50 B5 8.33 0.50 0.45
A6 192.81 0.40 0.30 B6 21.00 0.50 0.50
A7 103.22 0.35 0.30 C1 11.83 0.40 0.40
A8 79.07 0.30 0.30 C2 4.95 0.40 0.40
A9 6.26 0.35 0.30 C3 21.07 0.40 0.40
A10 51.13 0.30 0.30 C4 4.97 0.45 0.40
A11 40.52 0.30 0.30 C5 20.98 0.50 0.50
A12 6.34 0.30 0.30 C6 17.63 0.50 0.50
A13 18.09 0.30 0.30 D1 183.50 0.50 0.45
A14 29.57 0.30 0.30 D2 10.28 0.50 0.50
A15 181.18 0.40 0.30 D3 11.46 0.50 0.50

Simulasi dilakukan kembali dengan menggunakan dimensi saluran yang baru sehingga diperoleh nilai
kecepatan maksimum dan debit maksimum saluran di perumahan Wisma Ababil 2 terjadi pada saluran
D3 yaitu sebesar 3,25 m2/det dan 0,461 m3/det yang terjadi pada jam ke 02:00.
Simulasi juga dilakukan pada saluran yang terletak sebelum inlet kolam detensi yang menunjukkan
adanya perubahan tinggi muka air pada saluran sebelum adanya kolam dengan sesudah adanya kolam.

516
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Hasil simulasi sistem drainase sebelum dan sesudah adanya kolam masing-masing dapat dilihat melalui
Gambar 4 dan Gambar 5.

Gambar 4: Profil Aliran Sebelum direncanakan Kolam Detensi

Gambar 5 : Profil Aliran Sesudah direncanakan Kolam Detensi


Hasil simulasi menunjukkan bahwa terdapat air yang masuk dalam kolam detensi dengan volume
rata-rata yag ditampung kolam detensi (STO1) adalah sebesar 24 m3. Sedangkan, volume maksimum
yang ditampung kolam adalah sebesar 29 m3 yang terjadi pada jam ke 02:00.
3.4 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya
Perhitungan rencana anggaran biaya didasarkan pada dimensi dari konstruksi yang telah
direncanakan. Tujuan dari perhitungan rencana anggaran biaya adalah untuk mengetahui kebutuhan
biaya dalam pembangunan konstruksi [10]. Perencanaan anggaran biaya membutuhkan daftar harga
satuan tenaga kerja dan material, koefisien, dan volume pekerjaan. Pada masing-masing pekerjaan
terdapat uraian bahan, tenaga kerja, dan koefisien yang dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat nomor 1 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya
Pekerjaan dan Konstruksi bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat [11]. Analisa harga satuan
pokok Harga Satuan tenaga kerja dan material yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan
Peraturan Bupati Gresik Nomor 35 Tahun 2022 [12]. Hasil rencana anggaran biaya untuk seluruh sistem
drainase di wilayah perumahan dapat dilihat pada Tabel 5.

517
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

Tabel 5: Rencana Anggaran Biaya untuk Sistem Drainase


Harga Satuan
No Uraian Pekerjaan Volume Satuan Total Harga (Rp)
(Rp)
I Pekerjaan Saluran
Rp Rp
1 Pekerjaan Galian Tanah 1029,18 m3
82.610 85.020.785
m3 Rp Rp
2 Pekerjaan Urugan Pasir 68,14
513.188 34.970.455
m3 Rp Rp
3 Pekerjaan Urugan Tanah 181,45
54.079 9.812.454
Rp Rp
4 Pekerjaan Lantai Kerja 70,22 m2
1.871.738 111.457.247
m3 Rp Rp
5 Pekerjaan Pasangan Batu Bata 261,51
402.915 105.366.989
Pekerjaan Plesteran Tebal 1 cm m3 Rp Rp
6 18,95
dengan Mortar 1 PC : 4 PP 87.072 1.649.812
m3 Rp Rp
7 Pekerjaan Pelat Beton 56,72
1.904.159 108.010.148
m2 Rp Rp
8 Pekerjaan Cetakan Plat Beton 774,88
178.423 138.255.180
m2 Rp Rp
9 Pekerjaan Wiremesh 359,59
58.995 21.214.052
Rp
Jumlah I
615.757.122
II Pekerjaan Pembangunan Kolam Detensi
Rp Rp
1 Pekerjaan Pembersihan Lahan 143,145 m2
14.490 2.074.171
m3 Rp Rp
2 Pekerjaan Galian Tanah 336
45.466 15.276.710
Pembuangan Sisa Galian m3 Rp Rp
3 336
Tanah 97.244 32.673.984
Pekerjaan Pasangan Batu untuk m3 Rp Rp
4 88,97
Dinding Penahan 1.401.327 124.679.965
Pekerjaan Plesteran untuk Rp Rp
5 14,4 m2
Dinding Penahan 130.297 1.876.278
Rp Rp
6 Pemasangan Pintu pada Outlet 1 bh
3.947.376 3.947.376
Rp
Jumlah II
180.528.484
Jumlah Total (I + II) Rp 796.285.606
Jumlah Hasil Pembulatan Rp 796.286.000

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa total biaya yang dibutuhkan dalam perencanaan sistem
drainase Perumahan Wisma Ababil 2, Banjarsari, Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik adalah sebesar
Rp 796.286.000 (Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Dua Ratus Delapan Puluh Enam Ribu
Rupiah).

4. Kesimpulan
Sistem jaringan drainase Perumahan Wisma Ababil 2 mengalirkan air berdasarkan topografi
wilayah. Air dialirkan menuju saluran drainase eksisting Jl. Menuju Padeg melalui dua titik keluaran

518
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519

yang berasal dari saluran dan limpasan kolam detensi. Titik keluaran berada di bagian depan
perumahan. Hasil perhitungan perencanaan dimensi saluran pada Perumahan Wisma Ababil 2 dengan
kala ulang 10 tahun diperoleh jumlah saluran berbentuk segi empat sebanyak 30 buah dengan 8 jenis
ukuran, 2 titik keluaran (outlet). Ukuran saluran bervariasi mulai dari 0,3 m sampai dengan 0,5 m.
Penerapan ekodrainase pada sistem menggunakan kolam detensi dengan kapasitas tampungan sebesar
280 m3 yang memiliki outlet berupa pintu air dengan ukuran 1 m x 2 m. Hasil running software EPA
SWMM 5.1 pada sistem drainase perumahan Wisma Ababil 2 dengan menggunakan kala ulang 10
tahun diperoleh nilai debit maksimum dan kecepatan maksimum masing-masing sebesar 0,45 m3/detik
dan 2,39 m2/detik yang terjadi pada saluran D3. Debit maksimum dan debit rata-rata pada titik keluaran
O1 sebesar 0,438 m3/detik dan 0,218 m3/detik. Volume maksimum dan volume rata-rata yang diterima
kolam detensi sebesar 29 m3 dan 24 m3 yang terjadi pada jam ke 2:00. Biaya untuk pembangunan sistem
jaringan drainase pada Perumahan Wisma Ababil 2 yang berlokasi di Kelurahan Banjarsari Kecamatan
Cerme Kabupaten Gresik terbilang sebesar Rp. 796.286.000 (Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Juta
Dua Ratus Delapan Puluh Enam Ribu Rupiah).

Daftar Pustaka
[1] Andayawanti, U, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terintegrasi. Malang: UB Press,
2019
[2] Arsana, I. N., Tonyes, G. S., & Astiti, S. P., Sistem Drainase Berkelanjutan. Bandung: Kaizen
Media Publishing., 2023.
[3] Harisuseno, D., & Bisri, M., Limpasan Permukaan secara Keruangan : Spatial Runoff. Malang:
UB Press, 2017
[4] Juwono, P. T., & Subagiyo, A., Ruang Air dan Tata Ruang : Pendekatan Penataan Ruang dan
Pengelolaan DAS Berkelanjutan. Malang: UB Press, 2017
[5] Riyadi, A.. Bahaya Banjir dan Penanggulangannya. Semarang: ALPRIN, 2019
[6] Sri Harto, B., Analisis Hidrologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993
[7] Subarkah, I., Hidrologi untuk Perencanaan Bangunan Air. Bandung: Idea Darma, 1980
[8] Suwignyo, Hidrologi Aplikasi untuk Teknik Sipil. Malang: UMM Press, 2021
[9] Syarifudin, A., Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan. Yogyakarta: ANDI, 2017
[10] Wismantoro, B. D., Manajemen Konstruksi Profesional. Yogyakarta: Deepublish, 2022
[11] Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Peraturan Menteri PUPR Nomor 1
Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi, Jakarta:
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2022
[12] Pemerintah Kabupaten Gresik, Peraturan Bupati Gresik No. 35 Tahun 2023 tentang Standar
Harga Satuan Pekerjaan Konstruksi dan Standar Harga Satuan Tertinggi Pemerintah Kabupaten
Gresik Tahun Anggaran 2023, Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik, 2023

519

Anda mungkin juga menyukai