Perencanaan Drainase Wisma Ababil 2
Perencanaan Drainase Wisma Ababil 2
JTRESDA
Journal homepage: [Link]
p-ISSN : 2798-3420 I e-ISSN : 2477-6068
1. Pendahuluan
Kebutuhan lahan semakin meningkat akibat dari pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan alih
fungsi lahan hijau menjadi lahan perumahan atau pemukiman. Perubahan fungsi lahan dapat
mengurangi daerah resapan air yang dapat menambah limpasan permukaan. Penambahan limpasan
permukaan membawa pengaruh yang kurang baik bagi lingkungan seperti dapat menyebabkan banjir.
Oleh karena itu dibutuhkan penanganan berupa perencanaan prasarana drainase yang baik khususnya
pada kawasan yang akan dibangun pemukiman. Sistem drainase menjadi aspek penting dalam
pengelolaan dan pengendalian air permukaan pada suatu wilayah. Sistem drainase dapat dikatakan baik
apabila dapat menampung buangan air sebanyak-banyaknya sehingga ketika debit air lebih banyak dari
yang diharakan, sistem masih dapat menampung sehingga mencegah banjir. Penerapan konsep
ekodrainase dalam sistem drainase diperlukan untuk mencegah air mengalir dengan cepat sehigga dapat
terserap dalam tanah. Konsep tersebut dapat mengurangi limpasan air, sebagai perlindungan air tanah,
dan mengurangi resiko terjadinya banjir.
Perumahan Wisma Ababil 2 adalah salah satu perumahan yang akan dibangun di Kabupaten Gresik
dengan luas wilayah sebesar 2,8 Hektar. Perumahan ini membutuhkan perencanaan sistem jaringan
drainase dengan harapan dapat menampung limpasan air hujan dan menghindari genangan air dan banjir
pada saat musim hujan. Hasil perencanaan perlu disimulasi untuk mengetahui terjadinya genangan.
Simulasi dapat dilakukan dengan menggunakan program Environmental Protection Agency Storm
Water Management Model (EPA SWMM) 5.1. Dengan mencaantumkan hasil perencanaan sistem
drainase daerah penelitian, maka dapat diketahui kemampuan masing-masing saluran dalam menerima
limpasan air.
Desa Banjarsari
Kecamatan
Cerme
Kabupaten
Gresik
Lokasi Perumahan
Wisma Ababil 2
509
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
510
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
Qrancangan adalah debit banjir rancangan (m3/dt) yang diperoleh dari hasil perkalian nilai faktor konversi
dengan nilai koefisien pengaliran (C), intensitas hujan (I), dan luas area pengaliran (A). Nilai koefisien
pengaliran dihitung dengan persamaan ini:
∑𝑛
𝑖=1 𝐶𝑖 .𝐴𝑖
𝐶= ∑𝑛
Pers. 2
𝑖=1 𝐴𝑖
Koefisien pengaliran (𝐶) dihitung dengan meninjau luas area (𝐴𝑖 ) sesuai dengan jenis lahannya. Setiap
jenis lahan memiliki koefisien yang berbeda (𝐶𝑖 ). Koefisien pengaliran diperoleh dengan
menjumlahkan seluruh hasil perkalian antara luas area dan koefisien pengaliran pada masing-masing
jenis lahan kemudian dibagi dengan luas daerah secara keseluruhan. Nilai intensitas hujan diperoleh
dari rumus Mononobe.
2
𝑅24 24 3
𝐼= (𝑇𝑐 ) Pers. 3
24
𝐿 0,77
𝑇𝑐 = 0,0195 + ( 𝑠) Pers. 4
√
Nilai intensitas hujan ditentukan dengan dua parameter yaitu curah hujan maksimum 24 jam (R 24) dan
waktu konsentrasi (Tc). Waktu konsentrasi diperoleh dengan mengetahui panjang saluran (L) dan
kemiringan saluran (s).
2.3.2 Perencanaan Dimensi Saluran
Perencanaan dimensi saluran dihitung dengan menggunakan persamaan:
𝑄𝑠𝑎𝑙𝑢𝑟𝑎𝑛 = 𝐴𝑡 . 𝑉 Pers. 5
2
1
𝑉 = 𝑛 . 𝑅 3 . 𝑆 0,5 Pers. 6
Qsaluran adalah debit yang dapat ditampung oleh saluran yang telah direncanakan. Perhitungan kapasitas
saluran dimulai dengan merencanakan lebar saluran (b), tinggi jagaan (w), dan tinggi air (h air). Hasil
perencanaan tersebut dapat menentukan luas penampang saluran (At). Kecepatan aliran (V) diperoleh
dengan mengetahui nilai koefisien kekasaran manning (n), jari-jari hidrolis (R) dan kemiringan saluran
(s). Jari-jari hidrolis dihitung dengan membagi luas penampang (At) dengan keliling basah penampang
(P). Nilai Qsaluran harus sama dengan nilai Qrancangan agar saluran dapat menampung debit yang terjadi
pada suatu saluran.
511
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
Partial Sums) karena data yang ditinjau dalam penelitian berasal dari satu stasiun hujan saja [7].
Pengujian pada data hujan Stasiun Bunder memberikan hasil bahwa nilai Qhitung < Qkritis yang berarti
data konsisten.
3.1.2 Perhitungan Parameter Statistik
Sebelum melakukan analisis distribusi, terdapat langkah yang perlu dilakukan untuk menentukan
distribusi yang dapat digunakan. Pemilihan distribusi dilakukan dengan menghitung nilai parameter
statistic berupa Cs dan Ck [6]. Hasil perhitungan diperoleh nilai Cs dan Ck non logaritmik masing-
masing adalah sebesar 0,028 dan 3,024. Sedangkan, nilai Cs dan Ck logaritmik masing-masing adalah
sebesar -0,271 dan 3,081. Nilai parameter tersebut kemudian disesuaikan berdasarkan kriteria pada
masing-masing distribusi.
3.1.3 Analisis Distribusi Hujan Rancangan
Curah hujan rancangan merupakan besarnya hujan maksimum yang turun pada suatu area. Curah
hujan rancangan dihitung dengan kala ulang yang sudah ditetapkan sesuai kebutuhan perencanaan. Kala
ulang yang umum digunakan dalam perencanaan drainase perumahan adalah 5 tahun dan 10 tahun.
Curah hujan rancangan dengan suatu kala ulang dapat ditentukan melalui analisis distribusi hujan
rancangan [1]. Analisis distribusi yang dipilih dalam penelitian ini berdasarkan parameter statistic
adalah Gumbel dan Log Pearson III.
3.1.4 Uji Kesesuaian Distribusi
Kedua metode analisa distribusi frekuensi perlu dilakukan uji kesesuaian dengan dua macam
metode pengujian yaitu uji Chi-Square dan Uji Smirnov Kolmogorov [3]. Pengujian dilakukan guna
menentukan apakah distribusi bisa diterima atau tidak. Pada masing-masing pengujian memiliki
parameter untuk mengambil keputusan pengujian. Hasil pengujian dengan dua metode pengujian pada
masing-masing distribusi menunjukkan bahwa distribusi dapat diterima karena memenuhi kriteria ∆hitung
< ∆cr. ∆hitung pada pengujian Chi-square untuk distribusi Gumbel dan Log Pearson III memiliki nilai
yang sama yaitu 1,20. ∆hitung pada pengujian Smirnov Kolmogorov untuk distribusi Gumbel dan Log
Pearson III masing-masing bernilai 0,10 dan 0,07. Distribusi Log Pearson III memiliki nilai ∆hitung yang
lebih kecil sehingga distribusi tersebut merupakan distribusi yang paling tepat digunakan untuk analisis
selanjutnya.
3.1.5 Distribusi Hujan Jam-jaman
Distribusi hujan jam-jaman dapat dikalkulasi menggunakan metode Mononobe dengan kala ulang
10 tahun [2]. Penentuan distribusi hujan memerlukan data berupa data curah hujan dan koefisien
pengaliran yang sesuai dengan karakteristik lokasi penelitian. Distribusi hujan jam-jaman dengan kala
ulang 10 tahun dapat ditinjau melalui Gambar 2.
60.0
49.570
50.0
Hujan Jam-jaman (mm)
40.0
30.0
20.0 12.884
9.038 7.195
10.0 6.076 5.311
0.0
1 2 3 4 5 6
T (jam)
512
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
513
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
514
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
A1 0.30 0.06 0.34 0.40 0.10 0.98 0.10 0.015 0.0010 0.477 0.049 0.049
A2 0.30 0.09 0.31 0.40 0.09 0.92 0.10 0.015 0.0011 0.478 0.045 0.045
A3 0.30 0.01 0.39 0.40 0.12 1.08 0.11 0.015 0.0010 0.472 0.055 0.055
A4 0.30 0.01 0.39 0.40 0.12 1.08 0.11 0.015 0.0010 0.487 0.057 0.057
A5 0.30 0.02 0.38 0.40 0.12 1.07 0.11 0.015 0.0011 0.500 0.058 0.058
A6 0.30 0.06 0.34 0.40 0.19 0.99 0.10 0.015 0.0011 0.483 0.050 0.050
A7 0.30 0.10 0.30 0.40 0.10 0.90 0.10 0.015 0.0014 0.540 0.048 0.048
A8 0.30 0.05 0.25 0.30 0.07 0.79 0.09 0.015 0.0015 0.530 0.039 0.039
A9 0.30 0.09 0.31 0.40 0.09 0.93 0.10 0.015 0.0010 0.449 0.042 0.042
A10 0.30 0.09 0.21 0.30 0.06 0.73 0.09 0.015 0.0019 0.575 0.037 0.037
A11 0.30 0.13 0.17 0.30 0.05 0.64 0.08 0.015 0.0018 0.518 0.027 0.028
A12 0.30 0.02 0.28 0.30 0.09 0.87 0.10 0.015 0.0006 0.357 0.030 0.030
A13 0.30 0.15 0.15 0.30 0.04 0.59 0.07 0.015 0.0014 0.438 0.019 0.020
A14 0.30 0.09 0.21 0.30 0.06 0.72 0.09 0.015 0.0009 0.396 0.025 0.025
A15 0.30 0.03 0.37 0.40 0.11 1.05 0.10 0.015 0.0009 0.452 0.051 0.051
B1 0.35 0.05 0.35 0.40 0.12 1.06 0.12 0.015 0.0009 0.489 0.061 0.061
B2 0.40 0.03 0.47 0.50 0.19 1.35 0.14 0.015 0.0009 0.543 0.103 0.103
B3 0.45 0.05 0.55 0.60 0.25 1.56 0.16 0.015 0.0009 0.604 0.150 0.150
B4 0.50 0.01 0.64 0.65 0.32 1.77 0.18 0.015 0.0009 0.645 0.205 0.205
B5 0.50 0.03 0.62 0.65 0.31 1.74 0.19 0.015 0.0016 0.834 0.258 0.258
B6 0.55 0.01 0.64 0.65 0.35 1.82 0.19 0.015 0.0017 0.918 0.321 0.321
C1 0.30 0.19 0.11 0.30 0.03 0.52 0.06 0.015 0.0012 0.363 0.012 0.012
C2 0.30 0.03 0.42 0.45 0.13 1.15 0.11 0.015 0.0012 0.535 0.068 0.068
C3 0.40 0.02 0.53 0.55 0.21 1.46 0.15 0.015 0.0011 0.621 0.131 0.131
C4 0.50 0.01 0.54 0.55 0.27 1.58 0.17 0.015 0.0012 0.714 0.193 0.193
C5 0.55 0.05 0.65 0.70 0.36 1.85 0.19 0.015 0.0011 0.754 0.270 0.269
C6 0.60 0.04 0.71 0.75 0.43 2.02 0.21 0.015 0.0012 0.815 0.346 0.346
D1 0.35 0.03 0.42 0.45 0.15 1.20 0.12 0.015 0.0005 0.357 0.053 0.053
D2 0.75 0.01 0.84 0.85 0.63 2.43 0.26 0.015 0.0005 0.598 0.377 0.377
D3 0.85 0.01 0.84 0.85 0.71 2.53 0.28 0.015 0.0013 1.038 0.740 0.740
515
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
Tabel 4: Perubahan Dimensi Saluran Setelah Simulasi dengan EPA SWMM 5.1
Kode Saluran Panjang (m) h (m) b (m) Kode Saluran Panjang (m) h (m) b (m)
A1 136.00 0.40 0.30 B1 23.42 0.30 0.30
A2 136.00 0.40 0.30 B2 29.73 0.30 0.30
A3 224.53 0.40 0.30 B3 23.25 0.35 0.35
A4 218.00 0.40 0.30 B4 43.29 0.35 0.35
A5 218.00 0.50 0.50 B5 8.33 0.50 0.45
A6 192.81 0.40 0.30 B6 21.00 0.50 0.50
A7 103.22 0.35 0.30 C1 11.83 0.40 0.40
A8 79.07 0.30 0.30 C2 4.95 0.40 0.40
A9 6.26 0.35 0.30 C3 21.07 0.40 0.40
A10 51.13 0.30 0.30 C4 4.97 0.45 0.40
A11 40.52 0.30 0.30 C5 20.98 0.50 0.50
A12 6.34 0.30 0.30 C6 17.63 0.50 0.50
A13 18.09 0.30 0.30 D1 183.50 0.50 0.45
A14 29.57 0.30 0.30 D2 10.28 0.50 0.50
A15 181.18 0.40 0.30 D3 11.46 0.50 0.50
Simulasi dilakukan kembali dengan menggunakan dimensi saluran yang baru sehingga diperoleh nilai
kecepatan maksimum dan debit maksimum saluran di perumahan Wisma Ababil 2 terjadi pada saluran
D3 yaitu sebesar 3,25 m2/det dan 0,461 m3/det yang terjadi pada jam ke 02:00.
Simulasi juga dilakukan pada saluran yang terletak sebelum inlet kolam detensi yang menunjukkan
adanya perubahan tinggi muka air pada saluran sebelum adanya kolam dengan sesudah adanya kolam.
516
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
Hasil simulasi sistem drainase sebelum dan sesudah adanya kolam masing-masing dapat dilihat melalui
Gambar 4 dan Gambar 5.
517
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa total biaya yang dibutuhkan dalam perencanaan sistem
drainase Perumahan Wisma Ababil 2, Banjarsari, Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik adalah sebesar
Rp 796.286.000 (Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Dua Ratus Delapan Puluh Enam Ribu
Rupiah).
4. Kesimpulan
Sistem jaringan drainase Perumahan Wisma Ababil 2 mengalirkan air berdasarkan topografi
wilayah. Air dialirkan menuju saluran drainase eksisting Jl. Menuju Padeg melalui dua titik keluaran
518
Naufa Tasha Nabila et al., Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Air Vol. 05 No. 01 (2025) p. 508 - 519
yang berasal dari saluran dan limpasan kolam detensi. Titik keluaran berada di bagian depan
perumahan. Hasil perhitungan perencanaan dimensi saluran pada Perumahan Wisma Ababil 2 dengan
kala ulang 10 tahun diperoleh jumlah saluran berbentuk segi empat sebanyak 30 buah dengan 8 jenis
ukuran, 2 titik keluaran (outlet). Ukuran saluran bervariasi mulai dari 0,3 m sampai dengan 0,5 m.
Penerapan ekodrainase pada sistem menggunakan kolam detensi dengan kapasitas tampungan sebesar
280 m3 yang memiliki outlet berupa pintu air dengan ukuran 1 m x 2 m. Hasil running software EPA
SWMM 5.1 pada sistem drainase perumahan Wisma Ababil 2 dengan menggunakan kala ulang 10
tahun diperoleh nilai debit maksimum dan kecepatan maksimum masing-masing sebesar 0,45 m3/detik
dan 2,39 m2/detik yang terjadi pada saluran D3. Debit maksimum dan debit rata-rata pada titik keluaran
O1 sebesar 0,438 m3/detik dan 0,218 m3/detik. Volume maksimum dan volume rata-rata yang diterima
kolam detensi sebesar 29 m3 dan 24 m3 yang terjadi pada jam ke 2:00. Biaya untuk pembangunan sistem
jaringan drainase pada Perumahan Wisma Ababil 2 yang berlokasi di Kelurahan Banjarsari Kecamatan
Cerme Kabupaten Gresik terbilang sebesar Rp. 796.286.000 (Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Juta
Dua Ratus Delapan Puluh Enam Ribu Rupiah).
Daftar Pustaka
[1] Andayawanti, U, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terintegrasi. Malang: UB Press,
2019
[2] Arsana, I. N., Tonyes, G. S., & Astiti, S. P., Sistem Drainase Berkelanjutan. Bandung: Kaizen
Media Publishing., 2023.
[3] Harisuseno, D., & Bisri, M., Limpasan Permukaan secara Keruangan : Spatial Runoff. Malang:
UB Press, 2017
[4] Juwono, P. T., & Subagiyo, A., Ruang Air dan Tata Ruang : Pendekatan Penataan Ruang dan
Pengelolaan DAS Berkelanjutan. Malang: UB Press, 2017
[5] Riyadi, A.. Bahaya Banjir dan Penanggulangannya. Semarang: ALPRIN, 2019
[6] Sri Harto, B., Analisis Hidrologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993
[7] Subarkah, I., Hidrologi untuk Perencanaan Bangunan Air. Bandung: Idea Darma, 1980
[8] Suwignyo, Hidrologi Aplikasi untuk Teknik Sipil. Malang: UMM Press, 2021
[9] Syarifudin, A., Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan. Yogyakarta: ANDI, 2017
[10] Wismantoro, B. D., Manajemen Konstruksi Profesional. Yogyakarta: Deepublish, 2022
[11] Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Peraturan Menteri PUPR Nomor 1
Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi, Jakarta:
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2022
[12] Pemerintah Kabupaten Gresik, Peraturan Bupati Gresik No. 35 Tahun 2023 tentang Standar
Harga Satuan Pekerjaan Konstruksi dan Standar Harga Satuan Tertinggi Pemerintah Kabupaten
Gresik Tahun Anggaran 2023, Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik, 2023
519