0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan44 halaman

Pengaruh Model TTW pada Pemecahan Masalah Matematika

Dokumen ini adalah proposal penelitian mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi luas lingkaran di kelas IX UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang saat ini rendah, dengan menerapkan model TTW yang mendorong interaksi dan diskusi antar siswa. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.

Diunggah oleh

iyen230823
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan44 halaman

Pengaruh Model TTW pada Pemecahan Masalah Matematika

Dokumen ini adalah proposal penelitian mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi luas lingkaran di kelas IX UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang saat ini rendah, dengan menerapkan model TTW yang mendorong interaksi dan diskusi antar siswa. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.

Diunggah oleh

iyen230823
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK

TALK WRITE (TTW) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN


MASALAH PADA MATERI LUAS LINGKARAN KELAS IX DI UPTD
SMP NEGERI 1 PEMATANGSIANTAR
T.A 2025/2026

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Pendidikan Matematika

Dosen Pengampu:
Dr. Yanty Maria Rosmauli Marbun, [Link].

Oleh:
Nama : Yeyen Friskila Sitorus
NPM : 2201070006
Program Studi : Pendidikan Matematika

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN PEMATANGSIANTAR
2026
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan penyertaan-
Nya sehingga penulis dapat menyusun Proposal Penelitian yang berjudul.’’ Analisis
Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik Dengan Model Kooperatif Tipe Think Talk
Write Pada Materi Luas Lingkaran Kelas IX Di Uptd Smp Negeri 1 Pematangsiantar”
Proposal ini disusun sebagai salah satu syarat dalam penyelesaian mata kuliah Seminar
Proposal Penelitian.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yth. Dr.
Yanty Maria R. Marbun, [Link]. selaku dosen pengampu mata kuliah yang telah memberikan
arahan, dukungan, dan bimbingan selama proses
penyusunan proposal ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada
seluruh pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyelesaian proposal ini.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
proposal penelitian ini. Akhir kata, semoga proposal ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca, serta menjadi dasar yang baik dalam pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.

Pematangsiantar, Januari 2026

Penulis
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

Pendidikan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi yang dimiliki individu mencakup aspek
spiritual keagamaan, kemampuan mengendalikan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang dibutuhkan untuk kepentingan diri sendiri, masyarakat, dan negara.
Oleh karena itu, pendidikan merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan setiap individu, karena melalui pendidikan manusia sebagai makhluk sosial
mampu berinteraksi, berkembang, serta berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Di lingkungan sekolah, pelaksanaan pendidikan tercermin melalui kegiatan belajar


mengajar yang berlangsung dengan melibatkan komunikasi antara guru dan peserta didik
serta interaksi antarpeserta didik itu sendiri (Hikmah et al., 2020). Dengan demikian,
pendidikan tidak semata-mata berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga berperan
dalam mengembangkan potensi dan karakter peserta didik melalui proses pembelajaran yang
bersifat komunikatif dan partisipatif. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis
dalam mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis peserta didik adalah
matematika. Matematika merupakan disiplin ilmu yang membekali siswa dengan kemampuan
bernalar, berpikir kritis, logis, teliti, objektif, serta terbuka dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan. Oleh karena itu, matematika ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib yang
dipelajari pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa matematika tidak hanya berfungsi sebagai ilmu dasar, tetapi juga
menjadi fondasi bagi perkembangan berbagai bidang ilmu lainnya.

Selain itu, matematika merupakan pengetahuan yang terbentuk dari konteks sosial dan
budaya, yang dimanfaatkan sebagai alat berpikir dalam pemecahan masalah, serta
mengandung unsur aksioma, teorema, pembuktian, permasalahan, dan solusi. Oleh sebab itu,
matematika tidak sekadar menjadi komponen dalam kurikulum pendidikan, melainkan
berfungsi sebagai sarana strategis untuk mengembangkan potensi kognitif dan keterampilan
berpikir peserta didik. Dalam konteks ini, pembelajaran matematika di jenjang sekolah
menengah memegang peranan penting dalam membentuk peserta didik agar mampu berpikir
secara logis, analitis, dan sistematis. Salah satu tujuan utama pembelajaran matematika
adalah membekali siswa dengan kemampuan yang tidak hanya terbatas pada aspek kognitif,
tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kemampuan tersebut
ialah kemampuan pemecahan masalah, yang menjadi indikator keberhasilan peserta didik
dalam memahami konsep matematika secara mendalam.

Menurut National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) dalam Wulandari


dkk. (2021) menyatakan bahwa terdapat lima kemampuan matematis dasar yang harus
dikuasai oleh siswa, yaitu: (1) pemecahan masalah (problem solving), (2) penalaran dan
pembuktian (reasoning and proof), (3) komunikasi (communication), (4) koneksi
(connection), dan (5) representasi (representation). Di antara kelima kemampuan tersebut,
pemecahan masalah menempati posisi sentral karena mencerminkan kemampuan siswa
dalam memahami konsep, mengembangkan strategi, serta menerapkan matematika dalam
situasi yang kompleks dan kontekstual. Dengan kata lain, kemampuan pemecahan masalah
tidak hanya menuntut penguasaan materi, tetapi juga mencerminkan tingkat keterampilan
berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills) siswa. Kemampuan pemecahan masalah
merupakan kompetensi esensial dalam pembelajaran matematika karena menunjukkan tingkat
kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan yang bersifat menantang. Menurut Sumartini (2016)
menjelaskan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu aspek
penting dalam proses pembelajaran matematika. Kemampuan ini melibatkan rangkaian tahap
berpikir yang terhubung, dimulai dari proses memahami masalah hingga melakukan evaluasi
terhadap hasil, yang semuanya berperan dalam membentuk kompetensi matematis
[Link] mengemukakan empat langkah pemecahan masalah yang meliputi: (1)
Mengidentifikasi apa yang diketahui dan ditanyakan, (2) Menentukan strategi berdasarkan
konsep yang sesuai, (3) Menerapkan strategi secara sistematis dan (4) Memeriksa kembali
jawaban dan menafsirkan hasil. Sementara itu, Senthamarai dkk. (2016) menjelaskan bahwa
kemampuan ini adalah kemampuan dalam memahami tujuan dari masalah serta aturan yang
dapat diterapkan untuk menyelesaikannya. Selain dari pada itu, peneliti melakukan observasi
dengan memberikan satu butir soal matematika kepada 30 siswa di kelas IX untuk
mengetahui kemampuan siswa sesuai dengan indikator kemampuan pemecahan masalah yang
ada. Setelah selesai memberikan tes dalam materi SLDV di kelas IX Smp Negeri 1
Pematangsiantar, peneliti menemukan suatu permasalahan dimana hampir semua siswa tidak
memiliki kemampuan untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan penerapan model pembelajaran yang dapat
mendorong keaktifan siswa serta membantu mereka dalam menyelesaikan permasalahan
yang bersifat kompleks. Salah satu model pembelajaran yang dinilai sesuai adalah model
pembelajaran kooperatif, yaitu model yang menekankan kerja sama siswa dalam kelompok
kecil guna mencapai tujuan pembelajaran secara bersama-sama. Slavin (2015) menyatakan
bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan yang mengatur siswa ke dalam
kelompok-kelompok kecil agar saling membantu dalam memahami materi pelajaran. Melalui
kegiatan interaksi, diskusi, dan pertukaran gagasan antar siswa, model ini diyakini mampu
meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta keterampilan pemecahan masalah secara lebih
optimal.

Berikut merupakan hasil jawaban salah satu siswa yang diberikan dengan materi luas
permukaan lingkaran di kelas IX -6 di uptd smp negeri 1 pematang siantar

Gambar 1.1 Salah satu jawaban siswa

Berdasarkan hasil tes yang dilakukan terhadap 30 orang siswa di kelas IX dalam tes
kemampuan pemecahan masalah matematika Luas permukaan lingkaran, menggunakan
indikator Sumartini (2016), diketahui
1. Bahwa dari 30 siswa, hanya 5 siswa (16,7%) yang mampu memenuhi keempat indikator
dengan baik, yaitu memahami masalah dengan tepat, merencanakan strategi penyelesaian
yang sesuai, melaksanakan strategi tersebut secara sistematis, serta memeriksa dan
menafsirkan hasil secara benar.

2. Sebanyak 10 siswa (33,3%) hanya mampu memenuhi sebagian indikator, misalnya dapat
memahami sebagian informasi soal dan merencanakan strategi, tetapi kurang teliti dalam
pelaksanaan langkah atau tidak memeriksa kembali jawaban secara memadai.

3. Sementara itu, 15 siswa (50%) belum mampu memenuhi indikator-indikator tersebut,


terlihat dari kesulitan dalam memahami informasi yang diberikan, tidak merumuskan strategi
yang jelas, melakukan langkah penyelesaian yang tidak sistematis, serta tidak memeriksa
maupun menafsirkan hasil jawaban sesuai konteks permasalahan.

Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik merupakan


permasalahan yang bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling
berkaitan. Dalam praktiknya, banyak siswa terbiasa mengerjakan soal-soal rutin sehingga
mengalami hambatan ketika dihadapkan pada permasalahan nonrutin yang menuntut
pemikiran yang fleksibel serta penerapan strategi penyelesaian yang beragam. Selain itu,
minimnya latihan dalam mengerjakan soal-soal kontekstual menyebabkan peserta didik
kurang mampu mengembangkan maupun menentukan strategi pemecahan masalah yang
sesuai. Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Mudayanah (2020) yang
mengungkapkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru,
rendahnya pemahaman siswa terhadap rumus, kesulitan dalam menafsirkan maksud soal,
serta keterbatasan dalam menuliskan langkah-langkah penyelesaian secara runtut dan
sistematis.

Oleh karena itu, baik aspek pengembangan kemampuan berpikir maupun pendekatan
pembelajaran yang digunakan memiliki peran penting terhadap rendahnya kemampuan
peserta didik dalam menyelesaikan masalah matematika secara optimal. Berdasarkan hasil
wawancara dengan guru matematika di UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar, yaitu Ibu
Ernawaty Silalahi, [Link], pada 18 oktober 2025, diperoleh informasi bahwa proses
pembelajaran matematika masih didominasi oleh metode pembelajaran konvensional, seperti
ceramah dan pemberian contoh soal secara langsung oleh guru. Kondisi tersebut
menyebabkan peserta didik cenderung pasif, kurang terlibat dalam diskusi, serta jarang
mengemukakan pendapat selama pembelajaran berlangsung. Akibatnya, peserta didik
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang menuntut kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Situasi ini menunjukkan rendahnya penguasaan peserta didik terhadap
indikator kemampuan pemecahan masalah, mulai dari memahami permasalahan,
merencanakan strategi penyelesaian, hingga mengevaluasi hasil penyelesaian secara
sistematis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan penerapan model
pembelajaran yang mampu mendorong keaktifan peserta didik serta membantu mereka dalam
menyelesaikan permasalahan yang bersifat kompleks. Salah satu model pembelajaran yang
dinilai sesuai adalah model pembelajaran kooperatif, yakni model yang menekankan aktivitas
kerja sama antar peserta didik dalam kelompok kecil guna mencapai tujuan pembelajaran
secara bersama-sama. Oleh karena itu, salah satu alternatif solusi untuk mengatasi rendahnya
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW). Model ini tidak hanya mendorong
siswa untuk aktif dalam proses berpikir dan berdiskusi, tetapi juga membiasakan mereka
menuangkan ide-ide secara terstruktur melalui kegiatan menulis, sehingga kemampuan
pemecahan masalah dapat berkembang secara lebih optimal. Muchlisin Riadi (2021)
menjelaskan bahwa model TTW diawali dengan kegiatan berpikir secara mandiri (think),
kemudian dilanjutkan dengan diskusi antar siswa (talk), dan diakhiri dengan kegiatan
menuliskan gagasan atau hasil pemikiran (write). Model ini dirancang untuk meningkatkan
partisipasi aktif siswa serta mengembangkan interaksi belajar dalam kelompok kecil,
sehingga dapat memperkuat keterlibatan siswa dan pemahaman konsep melalui kegiatan
diskusi dan penulisan.

Secara umum, model pembelajaran Think Talk Write (TTW) mengarahkan siswa
melalui tiga tahapan utama, yaitu: (1) Think (berpikir), pada tahap ini siswa diberikan
kesempatan untuk memahami dan memikirkan permasalahan atau materi secara mandiri.
Tahap berpikir bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan reflektif siswa. (2)
Talk (berbicara), setelah melakukan pemikiran secara individu, siswa berdiskusi secara
berpasangan atau dalam kelompok kecil untuk bertukar pendapat, memperjelas pemahaman,
serta mengembangkan ide secara bersama. Tahap ini berperan dalam meningkatkan interaksi
sosial dan keterampilan komunikasi siswa. (3) Write (menulis), hasil dari proses berpikir dan
diskusi selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan, seperti jawaban soal, laporan, atau
kesimpulan. Tahap menulis berfungsi untuk memperkuat pemahaman konsep melalui
penyajian gagasan secara tertulis.
Model pembelajaran kooperatif tipe TTW merupakan model yang menuntut peserta
didik dalam kelompok untuk berpikir, berdiskusi, dan menuliskan hasil pembahasan terhadap
permasalahan yang diberikan. Aktivitas berpikir, berbicara, dan menulis dalam pembelajaran
matematika memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Melalui
kegiatan tersebut, siswa dapat mengembangkan kemampuan berbahasa secara tepat,
khususnya dalam mengungkapkan ide-ide matematika.

Pembelajaran kooperatif tipe TTW memiliki keunggulan karena proses pembelajaran


diawali dengan keterlibatan siswa dalam berpikir secara mandiri, yaitu bagaimana siswa
merancang penyelesaian suatu masalah setelah membaca permasalahan yang diberikan.
Selanjutnya, siswa mengomunikasikan hasil pemikirannya melalui diskusi dengan teman
sekelompok serta saling bertukar ide sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dengan
demikian, penerapan model TTW diyakini dapat meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah matematika siswa.

Pada tahap Think, siswa membaca permasalahan matematika, membuat catatan dari
informasi yang diperoleh, serta memikirkan kemungkinan jawaban dan langkah penyelesaian
menggunakan bahasa sendiri. Tahap ini kemudian dilanjutkan dengan Talk, yaitu kegiatan
berbagi pendapat dan mendiskusikan solusi bersama anggota kelompok. Tahap terakhir
adalah Write, di mana siswa menuliskan kesimpulan atau hasil pemecahan masalah. Kegiatan
ini tidak hanya membantu siswa dalam merangkum pemahaman, tetapi juga memudahkan
guru untuk menilai proses dan langkah penyelesaian yang dilakukan siswa.

Dalam proses pembelajaran, persepsi belajar siswa memegang peranan penting.


Persepsi belajar siswa merupakan pandangan atau pemahaman siswa terhadap materi atau
informasi yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Persepsi ini
mencerminkan bagaimana siswa memahami dan menanggapi materi yang disampaikan,
khususnya dalam pembelajaran yang menggunakan model kooperatif tipe TTW. Persepsi dan
pemahaman materi yang baik akan membantu siswa mencapai kompetensi serta tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.

Beberapa penelitian yang relevan mengenai model Think Talk Write yang telah
dilakukan sebelumnya

1. Penelitian yang di lakukan Oleh Nur’aini (2018) melakukan penelitian di SMK


Muhammadiyah 3 Pekanbaru dan menemukan bahwa meskipun rata-rata hasil
belajar siswa mengalami peningkatan setelah diterapkannya model TTW, yaitu
dari 66,33 di kelas eksperimen dan 70,90 di kelas kontrol, hasil uji-t menunjukkan
bahwa peningkatan tersebut tidak signifikan secara statistik.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Farianti dkk. (2024) menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) secara
signifikan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, dengan rata-rata
hasil posttest siswa kelas eksperimen mencapai 85,14 dibandingkan dengan 78,86
pada kelas kontrol, dan tingkat keaktifan siswa dalam diskusi juga meningkat
hingga 90,15%.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Oktari dkk.(2025) bertujuan untuk mengetahui
pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) terhadap
pemahaman konsep matematis siswa kelas XI SMK Yarsi Mataram pada materi
lingkaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode
quasi eksperimen dan desain posttest only control design. Sampel penelitian
terdiri atas dua kelas, yaitu kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran
langsung dan kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe TTW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest
kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, serta hasil uji-t
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Selain itu,
hasil uji effect size berada pada kategori tinggi, yang menunjukkan bahwa model
TTW memberikan pengaruh yang kuat terhadap pemahaman konsep matematis
siswa.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan


yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi:
1. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih tergolong rendah.
2. Proses pembelajaran yang berlangsung belum menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Think Talk Write (TTW).
3. Tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran masih rendah sehingga siswa mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika.

1.3 Batasan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah serta keterbatasan penelitian, maka ruang
lingkup permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada pengaruh penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) terhadap kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa pada materi luas lingkaran di kelas IX UPTD
SMP Negeri 1 Pematangsiantar Tahun Ajaran 2025/2026.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah ditetapkan, maka rumusan masalah


dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW)
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi luas
lingkaran di kelas IX UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar Tahun Ajaran
2025/2026?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, tujuan penelitian ini


adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Think Talk Write (TTW) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
pada materi luas lingkaran di kelas IX UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar Tahun
Ajaran 2025/2026.

1.6 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan teori pembelajaran matematika, khususnya mengenai efektivitas
model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) dalam meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi luas lingkaran kelas
IX.
2. Manfaat Praktis
a. bagi guru
Penelitian ini dapat memberikan alternatif model pembelajaran yang efektif
bagi guru matematika di UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar dalam mengajarkan
materi luas lingkaran melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TTW.
b. bagi siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas IX
dalam memecahkan masalah matematika, khususnya pada materi luas lingkaran,
secara logis, sistematis, dan terstruktur, serta mendorong keterlibatan aktif siswa
melalui kegiatan berpikir, berdiskusi, dan menulis.
c. bagi sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas proses
pembelajaran matematika di UPTD SMP Negeri 1 Pematangsiantar, serta menjadi
bahan pertimbangan dalam pengembangan dan penerapan model pembelajaran yang
inovatif.
Bab II Kajian Pustaka
2.1 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW
2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu kerangka konseptual yang
menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasi pengalaman belajar guna
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Model ini berfungsi sebagai
pedoman bagi guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses
pembelajaran di kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih terarah,
efektif, dan bermakna. Secara umum, model pembelajaran terdiri atas beberapa
tahapan yang dirancang secara runtut dan sistematis untuk membantu siswa dalam
memahami materi pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran juga sangat berkaitan
erat dengan gaya belajar peserta didik (learning style) dan gaya mengajar guru
(teaching style), yang keduanya dikenal dengan istilah SOLAT (Style of Learning and
Teaching). Hubungan antara keduanya menjadi dasar penting dalam memilih model
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan strategi mengajar guru.
Dengan demikian, model pembelajaran tidak hanya mencakup langkah-langkah
pembelajaran, tetapi juga mencerminkan pendekatan yang digunakan, tujuan
pengajaran yang ingin dicapai, tahapan kegiatan yang dilaksanakan, serta pengelolaan
kelas yang mendukung proses belajar yang kondusif.
Demikian pula, ahli lain mengemukakan bahwa model pembelajaran
merupakan kerangka konseptual prosedural yang sistematik berdasarkan teori dan
digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar-mengajar untuk mencapai
tujuan belajar. Model pembelajaran terkait dengan pemilihan strategi dan
pembuatan struktur metode, keterampilan, dan aktivitas peserta didik yang
memiliki tahapan (sintaks) dalam pembelajaran 1.
Dalam pengembangannya, model pembelajaran yang baik harus
memperhatikan sejumlah ciri penting agar dapat diterapkan secara efektif dalam
proses pembelajaran. Menurut Daryanto dan Karim (2017) juga menambahkan
bahwa ciri-ciri model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah mencakup: 1. Adanya keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan
pembelajaran, 2. Adanya aktivitas berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis,
menilai, dan menciptakan solusi, 3. Adanya tahapan pembelajaran yang sistematis
dan logis yang mendorong siswa untuk memahami masalah secara menyeluruh.
1
Hal ini juga sejalan dengan pendapat dari Putra dan Kurniawati (2018)
mengemukakan bahwa pencapaian hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor
utama, yaitu faktor internal yang mencakup kemampuan kognitif, motivasi, serta
kesiapan belajar peserta didik, dan faktor eksternal yang meliputi strategi
pembelajaran yang diterapkan, lingkungan belajar, serta dukungan guru dalam
proses pembelajaran. Dalam konteks tersebut, guru memegang peranan strategis
dalam menciptakan situasi pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan dan
penguatan memori siswa, serta mengaitkan pengetahuan awal dengan materi baru
sehingga pembelajaran berlangsung lebih bermakna. Karakteristik model
pembelajaran yang telah diuraikan sebelumnya sangat relevan dalam mendukung
upaya guru untuk mewujudkan suasana belajar yang kondusif. Pembelajaran yang
menekankan keaktifan siswa, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan proses
yang sistematis mampu memfasilitasi aktivasi memori serta transfer pengetahuan
siswa secara optimal. Hal ini menjadi sangat penting dalam pembelajaran
matematika, karena peserta didik kerap dihadapkan pada permasalahan kompleks
yang menuntut pemahaman konsep secara mendalam serta penerapan strategi
penyelesaian masalah yang logis dan tepat.
Menurut Arsyad et al. (2025) mengelompokkan teori belajar ke dalam empat
pendekatan besar, yakni pendekatan behavioristik yang berfokus pada 12
pembentukan perilaku melalui stimulus, respons, dan penguatan; pendekatan
kognitivistik yang menitikberatkan pada proses mental siswa dalam mengelola
informasi; pendekatan humanistik yang menekankan pengembangan potensi
individu dan motivasi intrinsik; serta pendekatan sosiokultural yang menonjolkan
peran kolaborasi dan komunikasi dalam membangun pengetahuan. Oleh karena
itu, model pembelajaran yang baik adalah model yang mengintegrasikan aspek-
aspek dari berbagai pendekatan tersebut secara selaras, disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran, karakteristik siswa, dan konteks materi yang diajarkan.
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran merupakan suatu pola atau desain yang terencana,
terstruktur, dan sistematis, yang berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pembelajaran di kelas sekaligus merepresentasikan pendekatan, strategi, serta
landasan filosofis pendidikan yang mendasarinya.

2.1.2 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW


Model pembelajaran Think Talk Write adalah sebuah pembelajaranyang dimulai dengan
berfikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi dan alternative solusi), hasil
bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian membuat laporan hasil
presentasi, Siswanto dan Ariani, (2016 hlm 107). Dalam pembelajaran matematika,
penerapan model pembelajaran kooperatif dapat menjadi alternatif yang efektif untuk
meningkatkan keterlibatan aktif siswa serta memperdalam pemahaman konsep melalui
kegiatan diskusi dan kerja sama. Kesadaran akan keterkaitan pembelajaran dengan kehidupan
sehari-hari juga dapat meningkatkan minat belajar siswa, sehingga mengurangi rasa jenuh,
khususnya dalam proses pembelajaran matematika. Siswa diberikan kesempatan untuk
menyimak materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru, kemudian diarahkan untuk
memikirkan solusi permasalahan secara mandiri, mendiskusikannya dalam kelompok, serta
menuliskan hasil pemikiran bersama. Melalui rangkaian aktivitas tersebut, siswa tidak hanya
berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses konstruksi
pengetahuan dan penyelesaian masalah secara kolaboratif. Pendekatan ini selaras dengan
tujuan pembelajaran matematika yang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan
pemecahan masalah.

Menurut Istarani (2015), model TTW merupakan pendekatan pembelajaran yang


melibatkan keterampilan berpikir kritis siswa, berkomunikasi, dan menulis secara sistematis.
Proses ini mendorong siswa untuk membangun pemahaman konsep melalui kegiatan kognitif
dan interaksi sosial dalam kelompok. Model TTW juga memperkuat pemahaman konsep
karena siswa diberi waktu untuk merefleksikan informasi sebelum menuliskannya.

Penelitian oleh Fitriyah (2019) menyimpulkan bahwa model TTW dapat


meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal ini terjadi
karena siswa merasa lebih percaya diri saat berdiskusi dan lebih memahami materi ketika
menuliskannya kembali dalam bahasa mereka sendiri. TTW memberikan ruang bagi siswa
untuk belajar dari kesalahan dan memperbaiki pemahamannya melalui diskusi kelompok.

Menurut Anshori dan Subanji (2022), model TTW memberikan peluang kepada
siswa untuk melakukan konstruksi pengetahuan melalui refleksi dan kolaborasi. TTW
memperkuat proses internalisasi konsep matematis karena siswa mengalami proses bertahap
dari memahami (think), mengklarifikasi melalui komunikasi (talk), hingga menguatkan
dalam bentuk tulisan (write).
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran Think Talk Write (TTW) merupakan pendekatan yang efektif dalam
mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan keterampilan menulis siswa
secara sistematis. Model ini mendorong siswa untuk: (1) berpikir dan merefleksikan materi
pembelajaran secara mandiri; (2) berdiskusi serta berinteraksi dalam kelompok guna
mengklarifikasi dan memperdalam pemahaman konsep; dan (3) menuliskan kembali hasil
pemahamannya sebagai bentuk penguatan konstruksi pengetahuan melalui proses
internalisasi. Melalui tahapan berpikir, berbicara, dan menulis tersebut, model TTW mampu
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa karena siswa berperan aktif dalam
membangun pengetahuannya sendiri. Proses ini menjadikan pembelajaran lebih bermakna
serta mendorong terjadinya kolaborasi dan refleksi dalam memahami materi pelajaran.

2.1.3 Komponen-komponen Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW

Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
komunikasi, dan literasi siswa secara terpadu. Model ini mengintegrasikan aktivitas kognitif
dan sosial ke dalam tahapan pembelajaran yang terstruktur dan berkesinambungan. Setiap
komponen dalam model TTW memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung
proses konstruksi pengetahuan serta pengembangan keterampilan siswa. Oleh karena itu,
pemahaman terhadap setiap komponen menjadi penting agar implementasi model TTW dapat
berlangsung secara optimal. Adapun komponen utama dalam model pembelajaran kooperatif
tipe TTW meliputi tahapan :

1. Think (Berpikir) : Tahap pertama dari model TTW adalah “think” atau berpikir,
yang menekankan pada proses internalisasi informasi secara individual. Dalam tahap ini,
siswa diberikan stimulus berupa permasalahan, teks bacaan, gambar, atau pertanyaan yang
menantang untuk dianalisis dan dipahami secara mendalam. Siswa diberi waktu untuk
memproses informasi tersebut secara mandiri, baik melalui kegiatan membaca, mengamati,
maupun merefleksikan. Proses ini bertujuan untuk mendorong siswa melakukan elaborasi
terhadap informasi yang diterima, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan
analitis. Menurut Yanuarta, Gofur, dan Indriwati (2016), fase “Think” membantu siswa
membangun pemahaman awal yang kuat sebelum berdiskusi, karena memberi kesempatan
untuk mengelaborasi informasi secara internal.
2. Talk (Berbicara atau Berdiskusi) : Tahap kedua yaitu “talk” atau berbicara,
merupakan fase di mana siswa saling bertukar pikiran dengan teman sejawat dalam kelompok
kecil. Aktivitas ini dapat berupa diskusi, tanya jawab, debat, atau dialog ilmiah yang
bertujuan untuk mengklarifikasi gagasan, mengembangkan pemahaman, dan menyusun
kembali informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Interaksi sosial dalam tahap ini
mendorong terjadinya kolaborasi, saling mendengarkan, dan memberikan umpan balik yang
konstruktif. Menurut Sutrisno, Abdurrahman, dan Jalmo (2017), diskusi 15 kelompok dalam
pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa memperluas pengetahuan melalui pertukaran
ide dan pengalaman yang beragam. Hal ini diperkuat oleh penelitian Pratiwi dan Rahayu
(2020) yang menemukan bahwa fase “Talk” dalam TTW membantu siswa mengidentifikasi
kesalahan konsep, memperoleh perspektif baru, dan meningkatkan keterampilan komunikasi
ilmiah.

3. Write (Menulis) : Tahapan terakhir dalam model TTW adalah “write” atau
menulis, yang merupakan bentuk konkret dari refleksi dan konstruksi pengetahuan. Setelah
siswa berpikir dan berdiskusi, mereka diminta untuk menuangkan hasil pemikiran dan
kesimpulannya dalam bentuk tulisan. Tulisan ini bisa berupa ringkasan, laporan, jawaban
soal, atau bentuk lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Menulis berfungsi sebagai
alat untuk memperkuat struktur kognitif dan membantu siswa menyusun kembali
pengetahuan dengan bahasa mereka sendiri. Menurut Istikomah dan Martutik (2016),
kegiatan menulis setelah diskusi dapat meningkatkan pemahaman konsep karena siswa
mengolah informasi secara mandiri dan sistematis. Hal ini sejalan dengan temuan Fitriyani,
Jumadi, dan Wilujeng (2020) yang menunjukkan bahwa tahap “Write” dalam TTW
mendorong siswa mengintegrasikan ide-ide yang diperoleh selama diskusi menjadi produk
akhir yang terstruktur dan bermakna.

Model Think Talk Write (TTW) tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil
belajar kognitif, tetapi juga berperan dalam mengembangkan aspek sosial dan metakognitif
siswa. Ketiga komponen utama dalam model ini, yaitu berpikir, berdiskusi, dan menulis,
saling berinteraksi secara sinergis membentuk siklus pembelajaran yang aktif, reflektif, dan
konstruktif. Oleh karena itu, model TTW dinilai relevan untuk diterapkan dalam
pembelajaran matematika yang menuntut pemahaman konsep secara mendalam serta
kemampuan menyelesaikan masalah secara sistematis.
Selain itu, model TTW memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui
tahapan yang berurutan, dimulai dari pemahaman individu, dilanjutkan dengan interaksi
sosial dalam kelompok, dan diakhiri dengan penguatan pemahaman melalui kegiatan
menulis. Setiap tahapan tersebut berfungsi sebagai penghubung dalam membangun
pemahaman yang komprehensif dan berkelanjutan terhadap materi pembelajaran, sehingga
proses belajar menjadi lebih bermakna dan berdampak positif terhadap peningkatan
kemampuan pemecahan masalah siswa.

2.1.4 Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW

Karakteristik model pembelajaran tipe Think Talk Write (TTW) ditandai oleh
pelaksanaan pembelajaran yang tersusun atas tiga tahapan utama, yaitu kegiatan berpikir,
berbicara, dan menulis. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan secara rinci oleh Huda dalam
Utari (2019) sebagai rangkaian aktivitas yang saling berkaitan dan berfungsi untuk
membantu siswa membangun pemahaman konsep melalui proses refleksi individu, interaksi
sosial, serta penguatan pemahaman melalui tulisan.

1. Pada tahap berpikir, peserta didik diarahkan untuk membaca teks atau soal yang
diberikan, yang idealnya diawali dengan permasalahan kontekstual yang dekat dengan
kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, siswa secara individu memikirkan kemungkinan
solusi atau strategi penyelesaian masalah, serta mencatat ide-ide penting dan bagian
yang belum dipahami dengan menggunakan bahasa mereka sendiri sebagai bentuk
refleksi awal.
2. Pada tahap berbicara, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengemukakan dan
membahas hasil pemikiran yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Dalam kegiatan
diskusi kelompok, siswa merefleksikan, menyusun, serta menguji ide-ide melalui
proses berbagi pendapat dan negosiasi makna. Perkembangan kemampuan
komunikasi siswa dapat diamati melalui dialog yang terjadi selama diskusi, baik
dalam pertukaran gagasan dengan teman maupun dalam mengungkapkan hasil
refleksi pribadi kepada orang lain.
3. Pada tahap menulis, peserta didik menuangkan ide-ide yang diperoleh dari tahap
berpikir dan berdiskusi ke dalam bentuk tulisan. Tulisan tersebut mencakup dasar
konsep yang digunakan, keterkaitan dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya,
strategi penyelesaian masalah, serta solusi yang dihasilkan. Melalui kegiatan menulis,
pemahaman siswa terhadap materi menjadi lebih terstruktur dan mendalam.
Menurut Landysa dkk (2021) tiga tahapan dalam model pembelajaran tipe TTW
berpengaruh terhadap kompetensi belajar peserta didik. Model Pembelajaran tipe
TTW dapat mendorong peserta didik mendalami pengetahuannya secara mandiri
melalui proses berpikir, mendorong peserta didik untuk bekerjasama mendiskusikan
pengetahuan yang didapat dengan anggota kelompok dalam proses berbicara, dan
mendorong peserta didik untuk menguatkan pemahamannya dengan menuliskan
informasi yang didapatkan dari kegiatan berpikir secara mandiri dan berdiskusi
dengan anggota kelompok secara bersama.
Dan hasil penelitian Putri & Widodo (2018) menunjukkan bahwa interaksi
kooperatif dalam model TTW memiliki berbagai pengaruh positif terhadap
perkembangan anak, antara lain :
a. Kemampuan berpikir kritis (kognitif),
b. Komunikasi,
c. Kerja sama sosial,
d. Kepercayaan diri.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli yang telah diuraikan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari model pembelajaran kooperatif tipe TTW
tidak hanya membangun pemahaman konseptual siswa secara bertahap dan
mendalam, tetapi juga mengembangkan berbagai keterampilan penting abad ke-21,
seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kepercayaan diri. Model ini efektif
dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, reflektif, dan bermakna bagi siswa.

2.1.6 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW

Untuk memahami lebih lanjut mengenai model pembelajaran TTW adalah


dengan mengetahui langsung bagaimana langkah-langkah atau prosedur
penerapannya. Mengadopsi pendapat dari Huda (2015), adapun langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif tipe TTW disajikan pada table berikut.
Tabel 2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW

Tahap Kegitaan pembelajaran Tujuan pembelajaran


Think Siswa membaca atau mengamati materi Melatih kemampuan
(Berpikir) yang diberikan, kemudian merenungkan berpikir kritis dan
dan memahami informasi secara individu. membangun pemahaman
awal secara mandiri
Talk Siswa mendiskusikan hasil pemikiran mengembangkan
(berbicara) mereka dalam kelompok kecil untuk kemampuan komunikasi
memperkuat dan menyempurnakan ide. matematis dan kerja
sama kelompok
Write Siswa menuliskan hasil diskusi, solusi, Mengasah kemampuan
(Menulis) atau kesimpulan dari materi yang telah menyampaikan pemikiran
dipelajari. dan memperdalam
pemahaman tulisan.
Melalalui tulisan
(Huda,2015)
Kemudian, menurut Utari (2019) mengemukakan beberapa langkah-langkah
dalam model pembelajaran kooperatif tipe TTW yakni :
1. Melatih konsentrasi dan kemampuan refleksi, sehingga siswa dapat
membangun pemahaman awal secara mandiri.
2. Mengasah keterampilan komunikasi lisan, karena siswa harus mampu
menyampaikan ide, menjelaskan argumen, dan mendengarkan pendapat orang lain.
3. Proses mengolah informasi menjadi pengetahuan yang terstruktur dan
dapat dipertanggung jawabkan.
Berdasarkan langkah-langkah dalam menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe TTW yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, maka langkah
langkah yang akan digunakan oleh peneliti untuk melakukan penelitian selanjutnya
adalah sebagai berikut:
1. Tahap Think (Berpikir) : Pada tahap ini, siswa diberikan masalah
kontekstual atau materi pembelajaran secara individu. Siswa diminta untuk membaca,
mengamati, dan merenungkan informasi yang tersedia. Tujuan dari tahap ini adalah
untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan membangun pemahaman awal sebelum
berdiskusi dengan orang lain.
2. Tahap Talk (Berbicara) : Setelah melalui proses berpikir individu, siswa
diminta untuk berdiskusi dalam kelompok kecil. Mereka akan bertukar pikiran,
menyampaikan hasil pemikiran awal, dan saling melengkapi informasi. Diskusi ini
bertujuan mengembangkan kemampuan komunikasi, memperdalam pemahaman
melalui kolaborasi, serta mengklarifikasi konsep yang masih membingungkan.
3. Tahap Write (Menulis) : Pada tahap akhir, siswa diminta menuliskan hasil
diskusi dalam bentuk rangkuman, jawaban soal, atau laporan pemecahan masalah.
Penulisan ini bisa dilakukan secara individu maupun kelompok. Tahap ini bertujuan
untuk mengasah kemampuan menyampaikan ide secara sistematis dan mengevaluasi
pemahaman akhir siswa.
Pemilihan langkah-langkah pembelajaran tersebut didasarkan pada
kemampuannya mengintegrasikan aktivitas kognitif, sosial, dan metakognitif siswa
dalam proses belajar. Selain itu, tahapan ini selaras dengan sasaran penelitian untuk
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe TTW.

2.1.7 Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW

Kelebihan dari model Menurut Utari (2019) model pembelajaran kooperatif tipe
TTW mempunyai kelebihan-kelebihan sebagai berikut :

1. Melatih konsentrasi dan refleksi diri

2. Mengembangkan keterampilan komunikasi lisan

3. Mengubah informasi menjadi pengetahuan terstruktur.

Namun selain kelebihan yang terdapat pada model Learning Think Talk Write juga terdapat
kekurangannya.

Menurut Susanti (2022) pembelajaran tipe TTW memiliki kelemahan sebagai berikut :

1. Membutuhkan arahan yang jelas dari guru

2. Tahap menulis cenderung menjadi formalitas

3. Tingkat keberhasilan sangat bergantung pada kesiapan siswa

4. Kurang cocok untuk materi yang kompleks dan procedural

5. Kemungkinan dominasi siswa aktif dalam kelompok

Model ini kurang efektif digunakan pada materi yang bersifat prosedural dan kompleks,
seperti materi matematika yang membutuhkan ketelitian dan penyelesaian langkah demi
langkah. Selain itu, keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada kesiapan dan
keaktifan siswa. Ketika guru tidak memberikan arahan yang jelas, siswa dapat mengalami
kebingungan dalam mengikuti tahapan TTW. Dominasi siswa yang lebih aktif dalam
kelompok juga dapat menghambat partisipasi siswa lain, serta tahap menulis yang seharusnya
menjadi refleksi pemahaman sering kali hanya menjadi formalitas belaka. Oleh karena itu,
penerapan model TTW membutuhkan strategi pengelolaan kelas dan fasilitasi guru yang baik
agar seluruh siswa dapat terlibat secara optimal.

2.2 Kemampuan Pemecahan Masalah

2.2.1 Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu kompetensi kunci dalam


pembelajaran matematika yang sangat penting untuk dikuasai siswa. Kemampuan ini
mencerminkan kecakapan intelektual siswa dalam memahami konsep, menghubungkan
informasi, dan menerapkan berbagai strategi untuk menyelesaikan persoalan, baik yang
bersifat rutin maupun non-rutin. Dalam Kurikulum 2013, sebagaimana dijelaskan dalam
Permendikbud No. 21 Tahun 2016, pemecahan masalah termasuk dalam kemampuan berpikir
tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) yang menjadi salah satu tujuan utama
pembelajaran matematika di sekolah.

Menurut Rahman (2020) Kemampuan pemecahan masalah dalam matematika


mencerminkan kapasitas siswa untuk memahami masalah, mengembangkan strategi, dan
menilai efektivitas dari penyelesaiannya.

Menurut Polya (dalam Utari, 2019), kemampuan pemecahan masalah adalah suatu
proses berpikir yang dilakukan individu untuk menemukan jalan keluar dari suatu kesulitan
atau menjawab pertanyaan yang jawabannya tidak langsung tampak. Artinya, pemecahan
masalah tidak sekadar mengikuti prosedur yang telah diajarkan, tetapi lebih menekankan
pada kemampuan siswa untuk memahami permasalahan secara mendalam, merumuskan
strategi penyelesaian yang sesuai, serta menerapkannya dengan tepat untuk memperoleh
solusi yang logis.

Menurut Hudoyo (dalam Rahayu, 2018) mengatakan bahwa kemampuan pemecahan


masalah adalah suatu proses kognitif dalam menyelesaikan permasalahan matematika yang
melibatkan identifikasi masalah, merencanakan solusi, melaksanakan rencana, dan
mengevaluasi kembali solusi tersebut

Menurut Sumarmo (2017), kemampuan pemecahan masalah merupakan bagian


penting dari berpikir matematis yang melibatkan pemahaman konsep, penerapan strategi,
serta refleksi terhadap proses dan hasil penyelesaian. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
memecahkan suatu masalah, siswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh jawaban semata,
tetapi juga memahami konsep dasar yang mendasari persoalan tersebut. Kemampuan ini
mencakup proses berpikir tingkat tinggi, di mana siswa harus mampu menganalisis situasi,
memilih strategi yang tepat, dan menyesuaikan langkah-langkah penyelesaian sesuai dengan
karakteristik masalah yang dihadapi.

Sintesis pandangan para ahli mengindikasikan bahwa kemampuan pemecahan


masalah mencerminkan penguasaan kecakapan intelektual, penalaran logis, dan kreativitas
siswa. Kemampuan fundamental ini esensial dalam mengaitkan konsep matematika dengan
konteks permasalahan aktual, baik yang bersifat terstruktur (rutin) maupun tidak terstruktur
(non-rutin).

2.2.2 Karakteristik Kemampuan Pemecahan Masalah

Kemampuan pemecahan masalah matematika memiliki sejumlah karakteristik yang


mencerminkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Karakteristik ini penting untuk dipahami
karena menjadi indikator utama dalam mengukur sejauh mana siswa mampu menghadapi dan
menyelesaikan persoalan matematika secara mandiri dan reflektif.

Menurut Surya dan Putri (2019), karakteristik kemampuan pemecahan masalah


terletak pada keterampilan memahami masalah secara menyeluruh, memilih strategi yang
relevan, serta melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap proses dan hasil. Proses ini
membutuhkan kesabaran, ketelitian, serta kemauan untuk memperbaiki kesalahan.

Menurut Siswono (2017), kemampuan pemecahan masalah juga memiliki


karakteristik metakognitif, yaitu kesadaran dan pengendalian siswa terhadap proses
berpikirnya sendiri. Pemecahan masalah bersifat terbuka, artinya satu masalah bisa
diselesaikan dengan berbagai cara, sehingga siswa perlu menunjukkan kreativitas, ketelitian,
dan ketekunan. Karakteristik ini mengindikasikan bahwa kemampuan pemecahan masalah
tidak semata-mata berfokus pada hasil akhir, melainkan menekankan pentingnya proses
berpikir yang sadar, fleksibel, dan adaptif. Oleh karena itu, dalam pembelajaran matematika,
guru perlu menciptakan situasi yang memungkinkan siswa untuk berpikir terbuka dan
reflektif, serta memberikan umpan balik yang mendorong siswa mengembangkan kesadaran
metakognitif mereka secara berkelanjutan.

Menurut Sugandi (2015) menambahkan bahwa karakteristik kemampuan ini


melibatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan memahami informasi dari masalah
yang diberikan, membentuk model atau strategi penyelesaian, serta mengevaluasi solusi
yang telah ditemukan. Ini menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis dan reflektif
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemecahan masalah. Karakteristik
kemampuan pemecahan masalah mencakup kemampuan berpikir kritis dan reflektif yang
tidak dapat dipisahkan dari proses penyelesaian masalah secara menyeluruh. Pemecahan
masalah bukan hanya soal mendapatkan hasil akhir, tetapi tentang bagaimana siswa mampu
memahami situasi masalah, menyusun strategi yang tepat, dan melakukan evaluasi terhadap
proses dan hasil kerja mereka secara mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan
pemecahan masalah memainkan peran penting dalam membentuk profil siswa yang berpikir
tinggi, mandiri, dan bertanggung jawab dalam pembelajaran matematika.

Berdasarkan sintesis dari berbagai pendapat ahli, peneliti menyimpulkan bahwa


karakteristik kemampuan pemecahan masalah matematika mencakup keterampilan berpikir
kritis, reflektif, dan metakognitif. Karakteristik ini diwujudkan melalui tahapan sistematis:
pemahaman masalah secara mendalam, perancangan strategi yang tepat, pelaksanaan strategi
secara teliti, dan evaluasi proses serta hasil secara menyeluruh. Kemampuan ini bersifat
adaptif dan terbuka terhadap berbagai pendekatan solusi. Oleh karena itu, pemecahan
masalah menekankan pentingnya proses berpikir yang fleksibel, sadar, dan sistematis, bukan
sekadar hasil akhir. Karakteristik ini berperan vital dalam membentuk profil siswa yang
mandiri, bertanggung jawab, dan menguasai kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam
matematika.

2.2.3 Prinsip – Prinsip Kemampuan Pemecahan Masalah

Prinsip-prinsip kemampuan pemecahan masalah merujuk pada landasan atau kaidah


dasar yang menjadi pedoman dalam menyelesaikan suatu masalah secara efektif dan
sistematis. Dalam konteks pembelajaran, terutama pembelajaran matematika, prinsip-prinsip
ini membantu siswa dalam mengembangkan cara berpikir kritis dan strategis. Menurut
Siswono (2017) menjelaskan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika didasarkan
pada beberapa prinsip penting, yaitu:

1. Pemahaman terhadap masalah : Siswa harus mampu mengidentifikasi informasi yang


diketahui, ditanyakan, dan syarat-syarat yang berlaku dalam soal. Pemahaman ini menjadi
dasar langkah-langkah berikutnya.

2. Perencanaan penyelesaian : Siswa perlu menentukan strategi atau pendekatan yang sesuai,
misalnya membuat gambar, mencari pola, atau membentuk model matematika.
3. Pelaksanaan strategis : Setelah strategi ditentukan, siswa harus mampu melaksanakannya
secara sistematis dan benar, termasuk dalam hal perhitungan dan logika.

4. Evaluasi hasil : Setelah mendapatkan solusi, penting bagi siswa untuk mengecek kembali
hasilnya dan menilai apakah jawaban tersebut masuk akal serta sesuai dengan pertanyaan.

5. Pengendalian proses berpikir (metakognisi) : Menekankan pentingnya kesadaran berpikir


dalam pemecahan masalah, yaitu kesadaran siswa terhadap cara berpikirnya sendiri serta
kemampuan untuk memantau dan mengatur proses berpikir tersebut.

2.2.4 Indikator-indikator Kemampuan Pemecahan Masalah

NCTM (National Council of Teachers of Mathematics, 2000) mengemukakan bahwa


kemampuan pemecahan masalah mencakup:

1. Merumuskan masalah secara matematis

2. Menyusun strategi penyelesaian

3. Melakukan penyelesaian

4. Menafsirkan hasil dan memeriksa kembali Solusi.

Adapun indikator kemampuan pemecahan masalah matematis menurut Marbun


(2023) meliputi tiga aspek utama, yaitu:

1. Memahami masalah, yang mencakup kemampuan siswa dalam mengidentifikasi informasi


yang diketahui, ditanyakan, serta hubungan antar informasi;

2. Merencanakan langkah penyelesaian, yakni menyusun strategi atau metode yang sesuai
untuk menyelesaikan masalah;

3. Melaksanakan proses penyelesaian, yaitu kemampuan dalam menerapkan langkah-


langkah yang telah direncanakan hingga memperoleh solusi yang tepat."

Menurut Sumartini (2016) dalam penelitian terkait kemampuan pemecahan masalah


matematika, Rahman mengidentifikasi indikator sebagai:

1. Mengidentifikasi apa yang diketahui dan ditanyakan.

2. Menentukan strategi berdasarkan konsep yang sesuai.

3. Menerapkan strategi secara sistematis.


4. Memeriksa kembali jawaban dan menafsirkan hasil.

Berdasarkan indikator-indikator kemampuan pemecahan masalah matematis


yang dikemukakan oleh beberapa ahli, maka indikator yang diterapkan oleh peneliti untuk
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi apa yang diketahui dan ditanyakan : Siswa mampu menemukan


variabel penting, data, dan informasi yang diperlukan dalam soal.

2. Menentukan strategi berdasarkan konsep yang sesuai : Siswa memilih pendekatan


penyelesaian yang tepat—apakah itu mencampurkan konsep aljabar, geometri, atau
aritmetika berdasarkan konteks soal.

3. Menerapkan strategi secara sistematis : Di sini siswa melaksanakan strategi secara


terstruktur, menggunakan langkah demi langkah yang logis dan terorganisir.

4. Memeriksa kembali jawaban dan menafsirkan hasil : Siswa merefleksikan hasil akhir,
memeriksa kesesuaian prosedur serta relevansi jawaban terhadap konteks soal.

Indikator-indikator ini dipilih oleh peneliti karena memiliki keterkaitan erat dengan
tahapan berpikir dalam proses pemecahan masalah matematis secara menyeluruh. Selain itu,
indikator tersebut bersifat operasional dan dapat diukur melalui instrumen tes, sehingga
memungkinkan untuk digunakan dalam penelitian eksperimen terhadap kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa

2.3 Penelitian Yang Relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Khairan Zahra (2018) menunjukkan bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) berpengaruh terhadap kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara penerapan model pembelajaran TTW dengan peningkatan kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa. Temuan ini memperkuat bahwa model TTW efektif
dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa melalui tahapan berpikir,
berdiskusi, dan menulis.

2. Berdasarkan hasil penelitian Restantia (2022) yang ditunjukkan dengan proses


pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write
terkategori baik hingga sangat baik, persentase tingkat keterlaksanaan pembelajaran oleh
guru pada 4 kali pertemuan berturut turut adalah 88,2%, 82,3%, 94,1%, dan 94,1%,
persentase tingkat keaktifan siswa pada 4 kali pertemuan berturut-turut adalah 86,6%, 86,6%,
100% dan 93,3%, dan deskripsi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa diperoleh
nilai rata-rata 55; standar deviasi 16,96; varians 287,946; median 52,50; modus 45; nilai
minimum 27,50; dan nilai maksimum 100. Berdasarkan hasil analisis 33 tersebut diperoleh
yaitu: terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe ttw terhadap peningkatan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

3. Hal ini relevan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Intan Kamalasari (2023
hasil pengolahan data penelitian uji ngain dan uji-t pihak kanan, diperoleh bahwa hasil rata-
rata angka n-gain pada kelas eksprimen yakni 0,69 dari hasil tersebut terlihat bahwa
peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis termasuk kategori sedang.
Kemudian diperoleh thitung > ttabel yaitu 21,19 > 1,70 , yaitu maka 𝐻0 ditolak dan 𝐻1
diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa setelah diterapkan model pembelajaran Think Talk Write.
Peningkatan tersebut terjadi karena model pembelajaran ini sangat memperhatikan tahapan
berpikir siswa dalam memahami masalah, dan berdiskusi sesama teman kelompok serta siswa
mampu untuk menjelaskan dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

2.4 Persepsi Siswa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Persepsi adalah bagaimana seseorang


menangkap, memahami, dan menafsirkan informasi dari lingkungannya melalui alat indra
seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap. Menurut Slameto (2015)
memandang persepsi sebagai prosedur masuknya pesan atau data ke otak melalui pancaindra,
sehingga individu dapat berinteraksi dan merespons lingkungan sekitarnya. Menurut
Setyaningsih (2016) menegaskan bahwa persepsi mencakup tahapan memilih, menyusun, dan
memaknai informasi untuk membentuk gambaran yang utuh dan bermakna. Sementara itu,
menurut Riadi (2023) menjelaskan bahwa persepsi melibatkan pemilihan, pengorganisasian,
penginterpretasian, dan penafsiran informasi sensorik menjadi pemahaman yang bermakna,
yang kemudian memengaruhi cara berpikir dan bertindak seseorang. . Maka dengan
demikian, peneliti menyimpulkan bahwa persepsi siswa dapat digunakan untuk mengetahui
bagaimana tanggapan, sikap, dan pengalaman belajar siswa selama mengikuti pembelajaran
dengan model Think Talk Write

2.5 Kerangka Konseptual


Menurut Sugiyono (2017), kerangka konseptual adalah suatu model konseptual yang
menunjukkan bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor penting dalam
permasalahan yang diteliti. Berdasarkan hasil observasi awal di lapangan, diketahui bahwa
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas. Berdasarkan tinjauan teori
sebelumnya, penelitian ini merancang sebuah kerangka konseptual. Pada kondisi awal, siswa
kelas IX-6 SMP Negeri 1 Pematangsiantar masih menghadapi kesulitan dalam pembelajaran
matematika, terutama dalam memahami konsep-konsep matematika. Hal ini ditunjukkan oleh
kemampuan mereka yang masih rendah dalam menjelaskan konsep, menggunakan rumus
dengan benar, serta menyelesaikan soal yang memerlukan pemahaman mendalam. Kesulitan
tersebut muncul karena proses pembelajaran yang masih bersifat teacher-centered, sehingga
siswa kurang aktif dalam menemukan dan membangun konsep matematika secara mandiri.

Salah satu model pembelajaran yang dipandang dapat mengatasi permasalahan tersebut
adalah model pembelajaran Think Talk Write. Model ini merupakan salah satu
pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam
proses berpikir (think), berdiskusi dengan teman (talk), dan menuangkan pemikirannya
dalam bentuk tulisan (write). Ketiga tahapan ini diharapkan mampu membantu siswa
untuk membangun pemahaman konsep secara mendalam dan terstruktur, serta
meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah matematika secara mandiri
dan kolaboratif.

2.6 Hipotesis Penelitian

Adanya pengaruh positif dan signifikan pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
TTW Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa di Kelas IX uptd smp
negeri 1 pematangsiantar
Bab III Metodelogi Penelitian

3.1 Pendekatan Penelitian dan jenis Penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian Pendekatan

dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2017), penelitian
kuantitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan
instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan. penelitian kuantitatif memiliki tiga karakteristik utama dalam
pelaksanaannya di lapangan. Pertama, prosedur penelitian bersifat konsisten atau tetap dari
awal hingga akhir, sehingga memungkinkan adanya kesamaan dalam struktur laporan
penelitian antar peneliti. Kedua, penelitian kuantitatif biasanya berangkat dari masalah yang
telah dirumuskan secara teoritis, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui data
lapangan. Ketiga, permasalahan yang ditemukan di lapangan dapat mengalami penyesuaian
atau perubahan, karena telah dikonfirmasi secara langsung dengan realitas empiris di
lapangan (Nurwulandari & Darwin, 2020).

2
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Menurut
Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) yang
dimana antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau
mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu. Adapaun jenis metode
3
eksperimen yang digunakan adalah jenis Pra-Eksperimen. Menurut Pra-Eksperimen
merupakan suatu penelitian eksperimen karena adanya perlakuan untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap variabel tergantung sehingga dikelompokkan sebagai penelitian
eksperimen. Pelaksanaannya yang sederhana menyebabkan disebut dengan seoalah-olah
eksperimen jadi merupakan eksperimen palsu.
Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan studi kasus tunggal (one shot case
study design), di mana hanya satu kelas digunakan sebagai kelompok eksperimen. Pada
kelompok ini, peneliti menerapkan perlakuan berupa model pembelajaran kooperatif tipe
TTW. Setelah proses pembelajaran berlangsung, peserta didik diberikan tes akhir (post-test)
untuk mengukur kemampuan mereka dalam memecahkan masalah matematika. Hasil
evaluasi tersebut selanjutnya dianalisis untuk menilai efektivitas penerapan model TTW
dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
2

3
3.1.2 Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Pematangsiantar, Jl. Merdeka, Pardomuan, Kec.


Siantar Tim., Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara 21136. Alasan peneliti melakukan
penelitian ditempat ini dikarenakan sedang melaksanakan kegiatan Program Pengalaman
Lapangan (PPL) disekolah tersebu, sehingga peneliti sudah mengenal kondisi lingkungan
sekolah.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 1
Pematangsiantar. Populasi tersebut dipilih karena dianggap memiliki karakteristik yang
sesuai dengan kebutuhan penelitian, yaitu siswa yang sedang mempelajari materi Bangun
sisi lengkung ( Lingkaran ) pada subbab Luas Lingkaran buku matematika kelas IX.
Penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas IX sebagai populasi karena mereka dianggap
berada pada tahap perkembangan kognitif yang tepat untuk mengukur kemampuan
pemecahan masalah matematis. Pendekatan ini dipilih untuk mendapatkan gambaran
komprehensif mengenai kondisi pemahaman konsep matematis di lingkungan sekolah yang
bersangkutan.

Tabel 3.1 Daftar kelas dan Jumlah siswa

No Kelas Jumlah siswa


.
1 IX – 1 30
2 IX – 2 29
3 IX - 3 30
4 IX – 4 30
5 IX – 5 31
6 IX – 6 30
7 IX – 7 29
8 IX – 8 30
9 IX – 9 29
10 IX – 10 31
11 IX - 11 30
JUMLAH 329

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dan dianggap
mewakili keseluruhan populasi yang akan diteliti. Menurut Sugiyono (2017), sampel adalah
bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian
ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Menurut
Sugiyono (dalam S. Edy, W.O. Alzarliani, dkk., 2023), purposive sampling merupakan teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, sehingga data yang diperoleh lebih
representatif karena dipilih berdasarkan kesesuaian dengan tujuan dan fokus penelitian.

Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah seluruh siswa kelas IX-6 SMP
Negeri 1 Pematangsiantar Tahun Ajaran 2025/2026 yang berjumlah 30 [Link]
pengambilan sampel yang diterapkan dalam studi ini adalah sampling jenuh, yang
mengindikasikan bahwa seluruh populasi digunakan sebagai sampel penelitian. Populasi yang
terbatas pada satu kelas menjadi dasar penggunaan teknik ini, tujuannya adalah untuk
mendapatkan data yang lebih komprehensif dan akurat.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang menjadi objek pengamatan dalam
suatu penelitian, yang memiliki variasi atau perbedaan nilai antara satu objek dengan objek
lainnya. Variabel merupakan unsur penting dalam penelitian karena menentukan fokus
analisis serta hubungan yang ingin dikaji antar fenomena.

Menurut Sugiyono (2017) Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk
apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang
hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel bebas x, variabel terikat y :

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel, yaitu:

1. Variabel bebas (independen): Variabel bebas adalah variabel yang memengaruhi


atau menjadi sebab perubahan terhadap variabel lain. Dalam penelitian ini, variabel bebas
adalah: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW (X)
2. Variabel terikat (dependen) : Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat dari adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel terikat
adalah: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa (Y ).

Hubungan antara kedua variabel tersebut dianalisis untuk mengetahui pengaruh


penerapan model pembelajaranThink Talk Write terhadap kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa metode
untuk memperoleh data yang relevan dan mendukung tujuan penelitian. Teknik-teknik
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tes
Tes adalah suatu cara mengumpulkan data dengan memberikan tes
kepada objek yang diteliti untuk mengukur kemampuan seseorang. Tes
digunakan untuk memperoleh data mengenai kemampuan pemahaman
konsep matematis siswa. Peneliti memberikan seperangkat soal
berbentuk uraian yang disusun berdasarkan indikator kemampuan
pemahaman konsep matematis. Soal-soal tersebut bertujuan untuk
mengukur kemampuan siswa dalam menyatakan ulang konsep,
mengklasifikasikan objek sesuai sifatnya, memberikan contoh dan
bukan contoh, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis, serta menerapkan konsep dalam penyelesaian masalah.
2. Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk melengkapi dan mendukung data
penelitian. Dokumentasi yang dikumpulkan meliputi daftar nama siswa, data
nilai awal siswa, foto kegiatan pembelajaran, serta dokumen lain yang
berkaitan dengan pelaksanaan penelitian. Teknik ini bertujuan untuk
memperkuat keabsahan data serta memberikan gambaran nyata mengenai
proses pembelajaran yang berlangsung.
3. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran di kelas
selama penerapan model pembelajaran TTW. Observasi ini
menggunakan lembar observasi terstruktur yang disusun berdasarkan
indikator perilaku yang relevan. Teknik ini penting untuk memperoleh
data non-tes yang dapat memperkaya interpretasi terhadap hasil tes.
3.6 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen dalam pengumpulan ini adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh
peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah “Lembar Tes”.

3.6.1 Lembar Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa post-test dengan bentuk soal uraian
yang terdiri dari 3. Soal-soal ini disusun berdasarkan indikator kemampuan pemecahan
masalah, yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana siswa mampu menyelesaikan
permasalahan matematika. Indikator-indikator yang menjadi acuan dalam penyusunan soal
uraian ini dijabarkan sebagai berikut.

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

N INDIKATOR NO SOAL
O
1 Mengidentifikasi apa yang diketahui dan ditanyakan 1,2,3,4
2 Menentukan strategi berdasarkan konsep yang sesuai 1,2,3,4
3 Menerapkan strategi secara sistematis 1,2,3,4
4 Memeriksa kembali jawaban dan menafsirkan hasil. 1,2,3,4

Peneliti memberikan 3 butir soal untuk mengukur Kemampuan Pemecahan masalah


Matematis siswa. Berikut adalah soal yang diberikan oleh peneliti sesuai dengan kisi kisi
yang ada:

1. Sebuah kota memiliki taman yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari 18 m, Dan
suatu hari seluruh permukaan taman itu akan di tanami rumput jepang, maka
tentukanlah luas permukaan taman yang akan di tanami rumput jepang tersebut.
2. Sebuah kolam pancing ikan yang berbentuk lingkaran memiliki diameter 60 m,
dan bagian dasar kolam tersebut akan di lapisi dengan [Link] lah luas
dasar kolam yang akan di pasangkan granik tersebut.
3. Pada kegiatan gotong royong di lingkungan sekolah pihak sekolah berencana
memasang papan iklan yang berbentuk lingkaran yang memiliki keliling 88 cm
dan
seluruh permukaan papan iklan tersebut akan di cat .hitunglah berapa luas
permukaan papan iklan yang akan di cat itu.

3.4 Rubrik Penilaian Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika


Siswa

NO Indikator Kriteria jawaban soal Skor


1 Mengidentifikasi apa yang Tidak menuliskan diketahui dan ditanya 0
diketahui dan ditanyakan.
Menuliskan diketahui benar, ditanya salah atau 2
sebaliknya.
Menuliskan diketahui dan ditanya benar. 3
2 Menentukan strategi Tidak ada jawaban 0
berdasarkan konsep yang
sesuai.
Menuliskan strategi penyelesaian tetapi tidak 1
tepat.
Menuliskan strategi penyelesaian Sebagian 2
benar.
Menuliskan strategi penyelesaian secara 3
lengkap dan benar.
3 Menerapkan strategi secara Tidak ada jawaban 0
sistematis
Menerapkan penyelesaian strategi tetapi 1
hasilnya salah.
Menerapkan penyelesaian strategi sebagian 2
benar.
Menerapkan penyelesaian strategi 3
penyelesaian dengan benar dan runtut.
4 Memeriksa kembali Tidak ada jawaban 0
jawaban dan menafsirkan
hasil
Memeriksa hasil akhir dan menyimpulkan, 1
tetapi salah.
emeriksa dan menyimpulkan hasil akhir 2
dengan benar dan tepat.

Perhitungan nilai akhir

nilai yang diperoleh


Nilai Akhir ¿ skor maksimal
x 100

3.6.2 Angket Persepsi Siswa Terhadap Model Kooperatif Tipe TTW


Untuk mengetahui tanggapan dan persepsi siswa terhadap penerapan model
pembelajaran Kooperatif Tipe TTW, peneliti menggunakan instrumen berupa angket
tertutup dengan skala Likert. Angket ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai
bagaimana siswa merespons pembelajaran dengan model TTW, baik dari segi keterlibatan,
kenyamanan, efektivitas langkah pembelajaran, maupun pemahaman materi yang
diperoleh. Angket ini disusun berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran
Kooperatif Tipe TTW yang meliputi tiga tahap utama, yaitu Think (berpikir), Talk
(berbicara atau berdiskusi), dan Write (menulis). Selain itu, peneliti menambahkan dua
indikator lain yang mendukung, yaitu keterlibatan aktif siswa dan persepsi umum terhadap
kenyamanan serta efektivitas pembelajaran. Hal ini dilakukan agar instrumen angket dapat
mengukur persepsi siswa secara lebih menyeluruh.
Kisi-Kisi Angket Presepsi Siswa Tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
TTW
no Langkah - Langkah Model No pernyataan Jumlah
pembelajaran Kooperatif tipe TTW pernyataan
positif negatif
1 Think(berpikir) 1,2,3,4 5,6,7 7
2 Talk(berbicara) 8,9,10,11 12,13,14 7
3 Write (menulis) 15,16,17 18,19,20 6
Total 11 9 20
Berdasarkan tabel kisi-kisi angket persepsi siswa mengenai Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe TTW maka Pedoman pensekoran yang digunakan dalam pemberian angket persepsi
siswa adalah sebagai berikut :
Tabel 3.4 Pemberian Skor Tiap Item Pernyataan
Jenis Sangat Kurang Tidak
Setuju
Pernyataan Setuju Setuju Setuju
Positif 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4

3.6 Uji Coba Instrumen Penelitian


Sebelum instumen digunakan untuk penelitian, instrumen tersebut dilakukan uji coba
terlebih dahulu. Uji coba tersebut dimaksud untuk melihat Validitas, reliabilits, daya
pembeda serta tingkat kesukaran dari instrumen. Adapun rincian uji coba yang akan
digunakan pada instrumen dijelaskan sebagai berikut:
3.6.1 Uji Validitas Tes
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen valid apabila mempunyai validitas yang tinggi.
Pengukuran validitas instrumen dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
N . XY −( X ) .(Y )
r xy= (sugiyono , 2022)
√ N . X 2−¿¿ ¿

Keterangan:
r xy = Koefisien Korelasi antara variabel x dan variabel y
N = Jumlah Sampel
X = Sekor tes matematika yang dicari validasinya
Y = Sekor total
x = Jumlah Sekor variabel X
Y = Jumlah Sekor variabel Y
Suatu butir soal ke-k disebut valid jika r hitung  r tabel ,
dimana :
a. r tabel dilihat dari tabel r untuk banyak sampel n dan taraf signifikan 
diketahui.
b. r hitung adalah hasil nilai kolerasi product moment antara data butir ke-k sebagai
X dengan data jumlah sebagai Y.
Untuk mengadakan interpretasi mengenai besarnya korelasi dengan kriteria :
Dibawah 0.0 = tidak valid
0,01-0,20 = validitas sangat rendah
0,21-0,40 = validitas rendah
0,40-0,60 = validitas cukup
0,61-0,80 = validitas tinggi
0,81-1,00 = validitas sangat tinggi
Untuk mempermudah perhitungan uji validasi ini, peneliti juga menggunakan program
statictical package fro the social science (SPSS) Versi 22.0.

3.6.2 Uji Reliabilitas Tes


Uji reliabilitas tes adalah untuk melihat seberapa jauh alat pengukur tersebut
reliabel dan dapat dipercaya, sehingga instrument tersebut dapat dipertanggung jawabkan
dapat mengungkapkan data penelitian. Adapun rumus yang digunakan adalah rumus alpha
yaitu :

( )( )
2
k ❑b
r 11= 1− 2 ( Sugiyono, 2022)
k −1 ❑t

Keterangan:
r 11 = Realibitas instrumen
K = Banyaknya butir Pertanyaan atau banyaknya soal
2
❑b = Jumlah varians skor tiap-tiap item
2
❑t = Varians total

Dan rumus varians yang digunakan ,yaitu:


2 2
❑ =x −¿ ¿ ¿
Keterangan:
❑2 = varians total

Untuk menafsirkan harga reliabilitas dari soal maka harga tersebut


dikonsultasikan ke tabel harga kritis r tabel Product Moment, dengan  = 5 %.
Tabel 3.5 Klasifikasi Reliabilitas Soal
Indeks Realibitas Klasifikasi
0,00≤r xy0,20 Sangat Rendah
0,20≤r xy0,40 Rendah
0,40≤r xy0,60 Sedang
0,60≤r xy0,80 Tinggi
0,80≤r xy1,00 Sangat Tinggi
(Sugiyono, 2022)

3.6.3 Daya Pembeda


Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk
dapat membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang
berkemampuan rendah. Daya pembeda (DP) Dari sebuah butir soal menyatakan seberapa
jauh kemampuan butir soal tersebut mmpu membedakan antara siswa yang mengetahui
jawabannya dengan siswa yang tidak bisa menjawab soal tersebut. Rumus yang digunakan
untuk pengujian daya pembeda adalah rumus yang digunakan untuk pengujian daya pembeda
adalah :
BA BB
D= − =P A −PB (Sugiyono , 2022)
JA JB
Keterangan:
D = daya pembeda
BA = banyaknya peserta kelas atas yang menjawab soal itu benar
BB = banyaknya peserta kelas bawah yang menjawab soal itu benar
JA = banyaknya peserta kelas atas
JB = banyaknya peserta kelas bawah

Setelah indeks daya pembeda diketahui, maka nilai tersebut dapat diiterpretasikan pada
kriteria daya pembeda seperti pada tabel 3.6
Tabel 3.6 Kriteria Daya Pembeda
Indeks Daya Pembeda Kriteria Daya Pembeda
Negative Sangat Jelek
0,00-0,20 Jelek
0,20-0,40 Cukup
0,40-0,70 Baik
0,71-1,00 Baik Sekali
3.6.4 Tingkat Kesukaran Tes
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar . Untuk
menetukan tingkat kesukaran soal digunakan rumus yang dikemukakan :
KA+ KB
T K= ( Sugiyono ,2022)
NiS
Keterangan :
TK = indeks kesukaran
KA = jumlah skor kelompok atas ( tertinggi)
KB = jumlah skor kelompok bawah (terendah)
¿ = 7% jumlah siswa
S = skor maksimum per butir soal
Indeks yang digunakan pada tingkat kesukaran dapt dilihat pada tabel 3.7 dibawah
ini :
Tabel 3.7 Klasifikasi Tingkat Kesukaran
Interval Kriteria
0≤ TK ≤ 30% Sukar
31≤TK ≤ 70% Sedang
71≤TK ≤ 100% Mudah
(Sugiyono, 2022)

3.7 Uji Persyaratan Analisis Data


Menurut ( Sugiyono, 2022), analisis data adalah proses mempelajari dan
mensintesis data yang diperoleh dari wawancara, cacatan lapangan, dan dukumen,
mengorganisasikan data kedalam kategori, dan memecah data menjadi unit, mensintesisnya,
menyusunnya ke dalam pola, memilih yang penting dan apa yang perlu dipelajari, serta
menarik kesimpulan dengan cara yang dapat mengerti oleh diri sendiri dan orang lain. Teknik
analisis data bertujuan menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah
dibentuk dalam proposal (Sugiyono, 2022).

3.7.1 Uji Normalitas Tes


Uji normalitas merupakan uji yang dilakukan sebagai persyarat untuk
melakukan analisis data. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang
berasal dari kelas eksprimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji
normalitas data menggunakan rumus chi-kuadrat ( x 2) :
2
x h=¿ ¿ (Sugiyono , 2022)
Keterangan:
2
x = Kuadrat Chi yang dicari
fo = Frekuensi yang tampak sebagai hasil pengamatan
fh = Frekuensi yang diharapkan

Kriteria pengujian adalah:


Data dikatakan normal, apabila nilai signifikan lebih besar 0,05 pada ( P 0 , 05 ) .
Sebaliknya, apabila nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (P 0 , 05) maka data dikatakan tidak
normal.

3.7.2 Uji Linearitas


Uji linearitas adalah salah satu uji prasyarat untuk analisi regresi linear sedehana dan
bertujuan untuk melihat apakah variabel bebas dan variabel erikat memiliki hubungan secara
linear atau tidak. Uji linearitas Y ( posttest siswa) atas X (hasil pengisian angket) dapat
dilakukan dengan ( Hajaroh & Raehanah, 2021):
1. Menghitung Jumlah Kuadrat (JK) Beberapa sumber Varians
- Jumlah kuadrat total (JK(T) : JK(T) = Y 2
- Jumlah kuadrat regresi (a) : JK(a) = ¿ ¿
- Jumlah kuadrat regresi (b/a) : JK(b/a) = b xy
- Jumlah kuadrat residu (sisa) : JK(S)=JK(T)-JK(a)-JK(b/a)
- Jumlah kuadrat galat : JK(G)= ¿
- Jumlah kuadrat galat : db(G) = n – k
- Jumlah kuadrat tuna cocok : JK(TC)=JK(S)-JK(G
2. Menentukan Derajat Bebas (db) Beberapa Sumber Varians
- Jumlah kuadrat total : db(T) = n
- Jumlah kuadrat regresi(a) : db(a) = n-1
- Jumlah kuadrat regresi(b/a) : db(b/a)=1
- Jumlah kuadrat residu(sisa) : db(S) = n-2
- Jumlah kuadrat galat :db(G)= n -2
- Jumlah kuadrat tuna cocok : db(TC)= k-2
1. Menghitung rata-rata Jumlah Kuadrat (RJK) Beberapa Sumber Varians,
JK
dengan rumus : RJK =
db
2. Menentukan nilai F hitung dengan rumus :
RJK (TC)
¿ F hit ( TC )=
RJK (G)
Kriteria pengujian:
 Jika F hit(TC) F O ,0 , 05; db (TC ); db(G)¿ , ¿ maka Y atas X tidak linear
 Jika F hit < F O .0 ,5 ;db (TC ) ;db (G ) ¿ , ¿ maka Y atas X linear
Untuk mempermudah perhitungan uji linearitas, peneliti menggunkan program
Statistical Package For The Social Science (SPSS) versi 22.0

3.8 Uji Hipotesis Statistik


Sejalan dengan mslah penelitian yang akan dipecahkan, maka hipotesis statistic
dirumuskan sebagai berikut :
H 0 :❑1 ≤ ❑2 Tidak adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara model
pembelajaran Contextual Reflective Learning dengan bantuan aplikasi Microsoft Math
Solver terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep matematika siswa kelas VIII SMP
Negeri 8 Pematangsiantar.
H a :❑1 >❑2 Adanya pengaruh yang posistif dan signifikan antara model
pembelajaran Contextual Reflective Learning dengan bantuan aplikasi Microsft Math
Solver terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep matematika siswa kelas VIII SMP
Negeri 8 Pematangsiantar.

3.8.1 Persamaan Regresi Linear Sederhana


Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran Contextual Reflective Learning dengan bantuan aplikasi Microsoft Math Solver
terhadap kemampuan Pemahaman kosep matematis siswa. Menurut Sugiyono (2021) bahwa
analisis regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel
independen dengan satu variabel dependen menggunakan rumus :
Y =a+bX ( Sugiyono , 2021)
Dimana :
n XY −(X )(Y )
b= (Sugiyono, 2022)
n x 2−¿ ¿

Nilai a merupakan estimasi konstribusi yang diberikan oleh faktor diluar X terhadap
Y. Nilai b dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
a. Apabila b0, maka terdapat pengaruh positif variabel (X) terhadap variabel (Y)
b. Apabila b=0 maka tidak terdapat pengaruh variabel (X) terhadap variabel (Y)
c. Apabila b0 maka terdapat pengaruh negatif variabel (X) terhadap variabel (Y)

3.8.2 Uji t
Dilakukan untuk menghitung dua rerata. Setelah melakukan uji homogenitas,
langkah selanjutnya adalah menguji rerata dua sampek dengan menggunkan uji-t. Uji t ini
dapat digunakan apabila kedua data yang dibandingkan rata-ratanya berdistribusi normal.
Selainnya datanya harus berdistribusi normal kedua data tersebut harus homogenetis. Adapun
rumus yang digunakan ialah:
r √ n−2
t= (Sugiyono , 2022)
√ 1−r 2

Keterangan :
t = nilai uji t
n = jumlah sampel
r = koefisien korelasi r hitung
2
r = koefisien determinasi
Hasil perhitungan uji t (t-test) ini dibandingkan dengan tabel-t dengan menggunakan
tingkat kesalahan 0,05. Kriteria yang digunakan sebagai berikut :
a. Jika thitung ≥ttabel atau nilai sig. < ∝ , maka Ho ditolak dan H1 diterima
b. Jika thitung ≤ttabel atau nilai sig. > ∝ , maka Ho diterima dan H1 ditolak.

3.8.3 Menentukan Koefisien Determinasi


Koefisien determinasi adalah sebuah koefisien yang memperlihatkan besarnya
variasi yang ditimbulkan oleh vareligioubas. Karena hasil pengujian koefisien korelasi
menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan, maka mengetahui besarnya pengaruh
vareligioubas terhadap variabel terikat dapat ditentukan dengan koefisien detrminasi yaitu:
2
KP=r X 100 % ( Sugiyono ,2022 )
Keterangan :
KP = Besarnya koefisien
r = Koefisien korelasi
DAFTAR PUSTAKA

Siagian, Muhammad Daut, ‘PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PERSFEKTIF


KONSTRUKTIVISME’, VII.2 (2017), pp. 61–73

Yuwanto, Listyo, ‘Pengantar Metode Penelitian Eksperimen’

Siagian, Muhammad Daut, ‘PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PERSFEKTIF


KONSTRUKTIVISME’, VII.2 (2017), pp. 61–73

Anshori, & Subanji. (2022). Think Talk Write sebagai model pembelajaran matematika untuk
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Malang: Universitas Negeri Malang
Press. Jurnal Pendidikan Matematika,

Daryanto, & Karim, S. (2017). Model pembelajaran inovatif. Gava Media. 3(3). Farizi, M.
A., & Oemar, M. (2021). Metodologi penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta. Fazwa,
A., Ibrahim, L., & Salasiyah, C. I. (2024). Kemampuan pemecahan masalah matematis
melalui model pembelajaran Think Talk Write di SMPN 1 Darussalam. PERISAI: Jurnal
Pendidikan dan Riset Ilmu Sains,

Farianti, R., Suryani, N., & Fitria, H. (2024). Penerapan model pembelajaran Think Talk
Write untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP.
Jurnal Pendidikan Matematika,

Khairan, Z. (2018). Pengaruh model pembelajaran Think Talk Write terhadap kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa. Jurnal Pendidikan Matematika,

Landysa, E., Wijaya, R. B., & Nuraini, D. (2021). Implementasi model TTW dalam
pembelajaran matematika di era digital. Jurnal Pendidikan dan Teknologi

Mudayanah. (2020). Analisis faktor penyebab rendahnya kemampuan pemecahan masalah


matematika siswa. Jurnal Pendidikan Matematika

Mardiyana, & Yulianti, D. (2021). Analisis kelebihan dan kekurangan model pembelajaran
Think Talk Write pada pembelajaran matematika. Jurnal Pendidikan,

Anda mungkin juga menyukai