Peningkatan Hafalan Al-Qur'an Metode Talaqqi
Peningkatan Hafalan Al-Qur'an Metode Talaqqi
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi metode talaqqi dalam
pembelajaran tahfidzul Qur'an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek
penelitian ini adalah SDIT Al Muhsin Kota Metro. Observasi, wawancara, dan dokumentasi merupakan
alat pengumpulan data. Sedangkan teknik analisis data menggunakan penyuntingan data, penyajian
data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan hafalan Al-Qur'an
melalui metode Talaqqi berjalan dengan baik melalui proses perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Dengan metode Talaqqi, terdapat banyak siswa yang kualitas hafalannya meningkat hingga 80%, sesuai
target yang ditetapkan oleh yayasan dan Ustadz/Ustadzah. Peningkatan target hafalan tersebut
disebabkan didukung oleh faktor pendukung kegiatan hafalan siswa, yaitu belajar Tahsin, yang
bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan membaca Al-Qur'an dan kemudian dukungan dari
orang tua, serta tempat yang indah dan nyaman untuk menghafal Al-Qur'an. Selain itu, terdapat faktor
penghambat, yaitu kurangnya tutor untuk mata pelajaran Tahfidz. Terdapat pula rasa malas pada siswa
dan kurangnya manajemen waktu.
PENDAHULUAN
Al-Qur’an ialah kalam Allah yang bernilai mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, dengan perantara malaikat jibril, diriwayatkan secara mutawattir,
membacanya di nilai sebagai ibadah. Kebenaran Al-Qur’an dan keterpeliharaannya sampai
saat ini semakin terbukti. Al-Qur’an telah memberikan penegasan terhadap kebenaran dan
keterpeliharaannya, sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya
kami benar-benar memeliharannya. (Q.S Al-Hijr: 9) 1 Menghafal Al-Qur’an merupakan
aktivitas yang kaitannya sangat erat dengan kerja memori dalam otak, sehingga sebagai
seorang Muslim wajib membaca, menghafal dan memahami dan mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari hari.2 Pentingnya Menghafal Al-Qur’an adalah Al-Qur’an merupakan suatu
kebutuhan bagi setiap Muslim dalam melafalkan surat-surat ketika sholat. Dan harus menjadi
kebiasaan umat Muslim guna meningkatkan kemampuan dan ketaqwaan untuk memperoleh
ketentraman jiwa, sehingga akan menjadi obat dalam keadaan keluh kesah. 3 Al-Qur’an
merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman dan petunjuk dalam kehidupan baik
dunia maupun akhirat.4 Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, dipelajari, dipahami, diyakini
dan diamalkan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun akhirat. 5
1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Karya Toha Putra, 2019)
2
Bahrul Amalia, Agar Orang Sibuk Menghafal Al-Qur’an, (Yyogyakarta: Pro U Media, 2013), Hlm.15
3
Yusron Masduki, Implikasi Psikologis Bagi Penghafal Al-Qur’an, Jurnal Studi Islam, Vol.14, No.1,
(2018), Pp 18-35, DOI: [Link]
4
Muhammad Hamdani, Penerapan Metode membaca Al-Qur’an pada TPA di Kecamatan Amuntai
Utara, Jurnal Ilmiah Al-Qolam, Vol.1, No.24, (2017), Pp. 90-97. DOI: [Link]
5
Saied Al-Makhtum, Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan, (Ponorogo: CV Alam Pena. 2016), Hlm. 25
Di Indonesia saat ini ada beberapa lembaga pendidikan yang terdapat program Hafidzh
Qur’an, yang bertujuan untuk menyeimbangkan antara pendidikan umum dan pendidikan
keagamaan, sehingga tidak ada kesenjangan diantarannya terutama program menghafal Al-
Qur’an.6 Dalam UUD RI Nomer 20 Tahun 2003 pada Bab II Pasal 3 menyebutkan bahwa
pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif,
mandiri dan bertanggung jawab.7 Guru merupakan suatu profesi yang berarti suatu jabatan
yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang
orang diluar bidang pendidikan. Di samping dengan keahliannya, sosok guru ditunjukkan
melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya, profesional
hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta
didik, orang tua, masyarakat, bangsa Negara dan agamanya. Guru professional mempunyai
tanggung jawab social, intelektual, moral dan spiritual. 8
Pada hakikatnya menghafal Al-Qur’an itu tidak semudah menghafalkan lagu atau syair.
Dalam proses menghafal Al-Qur’an suatu metode sangatlah penting, agar tujuan yang
diharapkan dapat tercapai. Metode menghafal Al-Qur’an adalah cara atau jalan yang harus
ditempuh dalam proses menghafal Al-Qur’an agar dapat menghafal dengan baik dan benar. 9
Dalam menghafal Al-Qur’an terdapat ragam metode. Ada 5 Metode untuk menghafal Al-
Qur’an, diantaranya: Takrir, Wahdah, Talaqqi, Kitabah dan Tasmi’:10
1. Metode Takrir yaitu metode dengan mengulang atau mensima’kan hafalan yang pernah
dihafal tetap terjaga dengan baik. Metode takrir adalah metode yang efektif diguakan
dalam menghafal Al-Qur’an karena selain menambahkan hafalan para penghafal juga
harus mengulangnya setiap saat. Metode takrir ini sangat penting sekali diterapkan,
karena menghafalkan serat menjaga hafalan merupakan suatu kegiatan yang sulit dan
kadangkala terjadi kebosanan. Takrir sebagian dari proses menghafalkan Al-Qur’an yang
juga sebagai kunci keberhasilan dari semua yang diusahakan dalam menghafalkan dan
menjaga hafalan pada diri seseorang.11
2. Metode Wahdah adalah metode menghafalkan Al-Qur’an dengan menghafal satu per satu
ayat-ayat yang hendak di hafalkan. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat dapat
6
Yaya Suryana, Manajemen Program Tahfidzul Al-Qur’an Berbasis Metode Yaddain, Jurnal Islamic
Education Manajemen, Vol.3, No.20, (2018), Pp 15-35, DOI: 1015575/isema.v3i2.5014
7
Fatin Nadia Siregar, Manajemen Program Pendidikan Hafidzh Qur’an dalam Peningkatan Hafalan Al-
Qur’an di SMP Al-Hikmah Medan Marelan, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran, Vol.1, No. 2, (2022), Pp
86-103, DOI: [Link]
8
Abdul Hamid, Guru Profesional, Al Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan, Vol. XVII
No. 32, (2017), Pp. 278-285, DOI: [Link]
9
Akmal Mundiri & Irma Zahra, Implementasi Metode Stifin Dalam Meningkatkan Kemampuan
Menghafal Al-Qur’an Dirumah Stifin di Paiton Probolinggo, Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of
Islamic Education Studies), Vol.5, No. 2, (2017), Pp 202-223, DOI:[Link]
223
10
Raisya Maula Ibnu Rusyd, Panduan Tahsin, Tajwid, Dan Tahfidz Untuk Pemula, (Yogyakarta: Saufa,
2015), Hlm 173.
11
Mughni Najib, Implementasi Metode Takrir Dalam Menghafalkan Al-Qur’an Bagi Santri Pondok
Pesantren Punggul Nganjuk, Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman, Vol.8, No. 3, (2018), Pp. 333-342,
DOI: [Link]
dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu
membentuk pola bayangannya. Setelah bener-bener hafal baru dilanjutkan pada ayat-ayat
berikutnya.12 Adapun metode wahdah yang perlu dilakukan, menurut Ahsin W. Al
Hafidz, metode wahdah adalah menghafal satu persatu ayat-ayat yang hendak dihafalkan.
Sehingga secara sederhana metode wahdah adalah metode untuk menghafalkan Al-
Qur’an dengan satu persatu secara berulang-ulang hingga benar-benar hafal, kemudian
lanjut ke ayat-ayat berikutnya dengan cara yang sama. Ada beberapa faktor pendukung
dalam penerapan metode wahdah: usia yang ideal, manajemen waktu, tempat yang ideal,
tahapan kerja dalam memori, dan kaidah-kaidah dalam menghafal Al-Qur’an. 13
3. Metode Talaqqi adalah merupakan salah satu metode yang pertama dalam pembelajaran
Al-Qur’an, sebagaimana dalam sejarah Islam, metode talaqqi ini sudah dipakai pada
zaman Rasulullah dan para sahabat. Metode talaqqi pengajaran hafalan dimana guru dan
murid berhadapan secara langsung pada pembelajaran Al-Qur’an dengan cara guru
membaca terlebih dahulu kemudian siswa mendengarkan dan menirukan yang telah
dibacakan.14
4. Metode Kitabah adalah metode dengan cara menulis Arab. Pembelajaran menulis dalam
bahasa arab tidak dapat dilepaskan dari pembelajaran membaca. Pembelajaran menulis
merupakan pembelajaran ketrampilan pengunaan bahasa arab dalam bentuk tertulis.
Ketrampilan menulis adalah hasil dari ketrampilan mendengar, berbicara dan membaca.
Pembelajaran menulis berlangsung secara berjenjang bermula dari menyalin sampai
dengan menulis ilmiah.15
5. Metode Tasmi’ (muroja’ah) adalah metode yang paling efektif untuk menghafal dan
menjaga kualitas hafalan Al-Qur’an. Tetapi, dalam muroja’ah hafalan setiap orang
berbeda-beda ada yang proses hafalannya cepat, sebaliknya ada juga yang lambat.
Kegiatan tasmi’ dilakukan pada setiap hari pagi sebelum pembelajaran dimulai. 16
Dalam hal ini metode yang di pakai adalah Metode Talaqqi. Karena metode ini cocok
bagi anak-anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai lafadz dan
makhrojnya.17 Mengingat bahwa pentingnya metode dalam proses menghafal Al-Qur’an,
maka diperlukan metode yang tepat agar dapat mencapai tujuan yang di harapkan. Lalu,
Apakah Metode Talaqqi dapat meningkatkan Hafalan Al-Qur’an siswa di MI Al-Islam
Grobagan?
12
Ahsin.W, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994) Hlm. 107
13
Arga Wulang Loh Sandi, Penerapan Metode Wahdah Sebagai Upaya Meningkatkan Tahfidzul Qur’an
Siswa, Jurnal Pendidikan Agama Islam (Ta’dibuna), Vol.3, No. 2,(2020), Pp.37-42, DOI: [Link]
10.30659/jpai.3.2.37-42
14
Azis Rizalludin, Implementasi Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an,
Khazanah Pendidikan Islam, Vol.1, No.1, (2019), Pp. 23-37, DOI: [Link]
15
Syamsi Setiadi, Peningkatan Ketrampilan Kitabah Arabiyah Mahasiswa Melalui Metode Tutor Sebaya,
Jurnal Al Bayan, Vol.9, No.1, (2017), Pp 32-39, DOI: [Link]
16
Rifatul Ifadah, Penerapan Metode Tasmi’ dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Al-Qur’an Siswa MI,
Jurnal Pendidikan Islam, Vol.4, No.1, (2021), Pp.101-120, DOI: [Link]
17
Leni Dwi Haryani & Muhtar Arifin Sholeh, Efektivitas Metode Talaqqi dalam Meningkatkan Hafalan
Al-Qur’an Peserta Didik Di SDIT Ulul Albab Weleri, Jurnal Pendidikan Agama Islam (Ta’dibuna), Vol. 2, No.
2, (2019), Pp 47-52, DOI [Link]
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif adalah
mengungkapkan fakta yang ada kemudian dijelaskan secara deskriptif dengan kata-kata dan
uraian. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang menghasilkan data tertulis
atau lisan dan perilaku orang yang diamati. 18 Penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dipahami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan
bahasa, pada suatu konteks khusus yangalamiah dan dengan memamfaatkan berbagai metode
ilmiah. Menurut Kirl dan Miller, penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia, baik
dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. 19 Tujuan penelitian kualitatif pada
umumnya mencakup informasi tentang fenomena utama yang diexplorasi dalam penelitian,
partisipan penelitian, dan lokasi penelitian. 20 Penelitian ini menggambarkan secara objektif
dan apa adanya mengenai manajemen pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an dengan
menggunakan Metode Talaqqi di MI Al-Islam Grobagan.
Subyek penelitian ini adalah MI Al-Islam Grobagan Surakarta. Tekhnik pengumpulan
data yang digunakan adalah Wawancara, Observasi dan Dokumentasi. Observasi merupakan
teknik pengumpulan data dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis,
objektif rasional mengenai sebuah fenomena-fenomena. 21 Kemudian wawancara merupakan
metode untuk mengumpulkan data dengan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara
sistematis dan berlandaskan pada penyelidikan, pada umumnya dua orang atau lebih hadir
secara fisik dalam proses Tanya jawab. 22 Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai
hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar, majalah, prasasti,
metode cepat, legenda dan lain sebagainya. 23 Sedangkan tekhnik analisis data yang
digunakan untuk menggambarkan hasil penelitian secara terstruktur yaitu pengumpulan data,
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.24
PEMBAHASAN
Peningkatan Hafalan Al-Qur’an dengan Metode Talaqqi
Al-Qur’an secara Bahasa diambil dari kata وقرانا- قراة- يقرا- قر اyang berarti sesuatu
yang dibaca. Arti ini mempunyai makna anjuran kepada umat Islam untuk membaca Al-
Qur’an. Al-Qur’an juga bentuk mashdar dari القراةyang berarti menghimpun dan
mengumpulkan. Dikatakan demikian sebab seolah-olah Al-Qur’an menghimpun beberapa
18
Lexy, J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), Hlm.167.
19
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2010), Hlm.6
20
Creswell. J, Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif, kuantitaif dan campuran), (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2017)
21
Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru, (Bandung, PT Remaja
Rosdakarya, 2012), hal. 229.
22
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), Jilid II, Hal. 193
23
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi VI,
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hal. 231
24
Matthew B Milles & A Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta, UI-Press,1992), 16-19
huruf, kata, dan kalimat secara tertib sehingga tersusun rapi dan benar. 25 Al-Qur’an secara
istilah adalah firman Allah SWT yang disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan redaksi
langsung dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW, dan diterima oleh umat Islam
dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan.26
Menghafal Al-Qur’an merupakan proses dan usaha menghafal dalam rangka untuk
memelihara, menjaga dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan kepada
Rasulullah SAW, serta sungguh-sungguh dalam menghafal. Al-Qurthubi menyatakan apabila
seseorang mempelajari dan mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, maka Allah
akan memahamkannya serta akan menjadikannya cahaya di dalam hatinya. 27 Menghafal Al-
Qur’an dengan penghayatan dalam hati, membaca teks Al-Qur'an dengan mempraktikkan dan
melafalkannya berulang-ulang. Menghafal Al-Qur’an adalah suatu kebutuhan umat Islam
sepanjang zaman.28
Ada beberapa keutamaan dalam membaca Al-Qur’an:
1. Membaca Al-Qur’an adalah perniagaan yang menguntungkan
2. Ketenangan, Rahmat dan Malaikat akan turun karena bacaan Al-Qur’an
Kemudian dalam membaca Al-Qur’an terdapat Adab-Adabnya:
1) Berniat membaca Al-Qur’an untuk mendapat Ridho Allah Ta’ala
2) Membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid yang benar
3) Tidak mengeraskan suara ketika disampingnya ada orang yang sedang melaksanakan
sholat
4) Memulai bacaan dengan membaca Ta’awudz29
5) Baca dengan irama yang bagus
6) Bacalah dengan tenang atau tidak terburu-buru.30
Meningkatkan hafalan Al-Qur’an ialah suatu kegiatan yang terjadi peningkatan disetiap
harinya maupun disetiap tingkat kemampuan yang dimilikinya. Jadi yang dimaksud
peningkatan hafalan Al-Qur’an ialah suatu penerapan Tahfidzul Qur’an yang telah
dilaksanakan oleh lembaga dengan memilih metode talaqqi sebagai cara dalam pembelajaran
tahfidz, tidak lain agar dapat mempermudah peserta didik yang akan menghafalkan Al-
Qur’an dengan membaca berkali-kali sampai hafal dengan sendirinya. Menghafal Al-Qur’an
adalah salah satu cara yang dapat meningkatkan kecerdasan. Semakin banyak menghafal,
maka otak akan lebih cepat menyerap dan menyimpannya juga akan lebih lama. Jika
seseorang sering membaca berulang-ulang Al-Qur’an maka akan meningkatkan otak dalam
mencerna informasi. Salah satu ciri orang yang cerdas adalah memiliki daya ingatan yang
kuat, menurut LouisThurstone.31
25
Anshori, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali Press,2013), Hlm. 18
26
Anshori, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali Prees,2013), Hlm. 17
27
Meti Fatimah, Metode Tahfidz Al-Qur’an Di Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School
Klaten, Vol.16, No.2, (2020), Pp 112-127, DOI: [Link]
28
Abdul Aziz Abdul Rauf, Kiat Sukses Menjadi Hafizh, (Bandung: Syamil, 2004), Hlm.1
29
Rustasir, Panduan Hafalan Al-Qur’an Juz 29, (Surakarta; Sahabat Al-Qur’an,2021), Hlm.7
30
Imam An Nawawi, At Tibyan Adab Membaca dan Menghafal Al-Qur’an, (Solo; PQS,2018), Hlm.10
31
Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: BumiAksara, 2008), Hlm,15
Metode berasal dari kata bahasa yunani yaitu “meta” dan “hodos”. Meta yang diartikan
melalui, sedangkan hodos artinya jalan. Jadi metode meruapakan cara melalui sesuatu yang
menuntut upaya-upaya, kemampuan untuk mencapai tujuan. 32 Metode merupakan cara yang
digunakan untuk mengaplikasikan rencana yang telah disusun dalam suatu kegiatan nyata
agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. 33 Metode adalah cara yang paling
tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu. Kata tepat dan cepat inilah yang sering
diungkapkan dengan efektif dan efisien. Pengajaran yang efektif artinya pengajaran yang
dapat dipahami peserta didik secara sempurna. 34 Dengan adanya metode dapat membantu
seseorang dalam menentukan keberhasilan menghafal Al-Qur’an dan meningkatkan
hafalannya secara terprogram. Disamping itu juga diharapkan dapat membantu hafalan
menjadi efektif.35
Salah satu metode hafalan yang mudah dan efektif untuk menghafal anak-anak adalah
Metode Talaqqi. Metode talaqqi adalah pengajaran hafalan dimana guru dan murid
berhadapan secara langsung pada pembelajaran Al-Qur’an dengan cara guru membaca
terlebih dahulu kemudian siswa mendengarkan dan menirukan yang telah dibacakan. 36
Metode Talaqqi diterapkan langsung secara face to face, dengan cara peserta didik
berhadapan langsung dengan guru atau penyimaknya. 37 Metode talaqqi sering pula disebut
musyafahah, yang bermakna dari mulut ke mulut yakni seorang pelajar belajar Al-Qur’an
dengan memperhatikan gerak bibir guru untuk mendapatkan pengucapan makhorijul huruf
dengan benar.38 Metode Talaqqi merupakan metode yang diajarkan malaikta jibril kepada
Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan Al-Qur’an, ketika wahyu pertama kali
diturunkan yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5, diturunkan di Gua Hiro. Bahkan dalam beberapa
riwayat diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menTalaqqikan bacaan Al-Qur’an kepada
malaikat jibril pada setiap bulan Ramadhan. Metode Talaqqi juga diterapkan oleh Rasulullah
kepada para sahabatnya. Pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Talaqqi yaitu
belajar Al-Qur’an dengan dicontohkan seorang guru, peserta didik menyimak dan
mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru kemudian mengikuti bacaannya dan
dikoreksi oleh guru terkait dengan kesalahan-kesalahan yang ada ketika membaca Al-Qur’an.
Metode Talaqqi bisa dilakukan secara private (dua orang), dan juga bisa digunakan secara
jama’I (bersama). Namun untuk mencapai hasil yang maksimal jumlah peserta didik untuk
Metode Talaqqi adalah 3 sampai 10 orang.39 Penggunaan metode talaqqi untuk mempelajari
32
Arifin. Muhammad, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi AksarA,1996), Hlm.12
33
A. Majid, Strategi Pembelajaran, Cet.Ke3, (Bandung:PT RemajaRosdakarya,2014), Hlm.193.
34
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung; Remaja Rosdakarya,2007), Hlm.23
35
Asyafah Abas, Metode Tadabbur Qur’an menurut pandangan siswa, Jurnal Pendidikan, Vol.7, No.6,
(2014), Pp 98-105, DOI: [Link]
36
Mashud, Imam, Meningkatkan Kemampuan dalam Setoran Hafalan Al-Qur’an Melalui Metode Talaqqi
Pada Siswa Kelas VIB Sekolah Dasar Islam Yakmi Tahun 2018, Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan Dan
Pembelajaran, (2019), Pp 347-358, DOI: [Link]
37
Sa’dulloh, 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’a, (Jakarta: Gema insani, 2008), Hlm. 25
38
Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Menghafal Al-Qur’an Itu Mudah, (Jakarta: Pustaka At-Tazkia,
2008), Hlm. 21
39
Azis Rizalludin, Implementasi Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an,
Jurnal Khazanah Pendidikan, Vol.1, No.1, (2019), Pp 22-37, DOI: 10.15575/kp.v1i1. 7138
Al-Qur’an dianjurkan, karena seseorang belajar membaca Al-Qur’an harus di dampingi oleh
guru atau pembimbing, dan tidak dianjurkan untuk menghafal sendiri. 40
Belajar menghafal Al-Qur’an tidak lepas dari ilmu tajwid, membaca Al-Qur’an harus
mengeluarkan huruf-huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimiliki huruf
tersebut. Selain itu, begitu pentingnya mempelajari ilmu tajwid karena dengan mengenal dan
memahaminya, bacaan Al-Qur’an akan menjadi benar dan baik yang sesuai dengan
tajwidnya.41 Mengamalkan Al-Qur’an atau mengajar Hafalan Al-Qur’an dapat melalui
pengucapan yang benar, penggunaan mushaf tertentu, mengatur tingkat menghafal, dan
dengan adab-adab yang telah Nabi ajarkan, Peneliti mengklaim bahwa menghafal Qur’an
telah memberi dampak yang baik dan memeliki catatan akademik yang luar biasa kepada
para penghafal Qur’an.42
Keberhasilan dalam proses menerapkan metode talaqqi sangat ditentukan oleh:
1. Kualitas bacaan guru pembimbing.
2. Penguasaan guru terhadap metode pengajaran.
3. Ketekunan peserta didik dalam memahami dan latihan praktek yang dilakukan secara
tertib dan berkesinambungan.43
Adapun Unsur-Unsur Metode Talaqqi sebagai berikut:
1) Metode talaqqi harus terdiri dari atas guru yang Hafidz Qur’an,
2) Terdapat murid yang sungguh-sungguh berniat menghafal Al-Qur’an.
3) Antara guru dan murid harus terlibat aktif dalam dalam menghafal Al-Qur’an.
4) Guru akan membaca atau menghafal di depan muridnya dalam rangka memberikan
hafalan baru dan memperbaiki kekeliruan ayat-ayat yang dihafal oleh siswa,
membenarkan makhorijul huruf.44
Dalam setiap metode pasti akan ada Kelebihan dan Kekurangan.
Kelebihan Metode Talaqqi ditinjau dari definisi di atas serta berdasarkan hasil beberapa
penelitian:
1. Menumbuhkan kelekatan antara pendidik dengan anak, sehingga secara emosional
akan menciptakan hubungan yang harmonis.
2. Pendidik dapat langsung membimbing/mengoreksi bacaan anak agar tidak
keliru dalam membunyikan huruf.
3. Anak dapat melihat langsung gerakan bibir pendidik dalam mengucapkan
makhorijul huruf karena berhadapan secara langsung.
40
Haq, A. M. I., Peer Mentoring Membaca Al-Qur’an Intensif Melalui Metode Talaqqi, Jurnal
Kependidikan, Vol. 2, No. 2, (2016), Pp 150–155, DOI: org/[Link]
41
Khotimah, S.H, Pengaruh Kemampuan Menghafal Al-Qur’an dan Sikap Siswa Terhadap Hasil Belajar
Matematika, Hikmah: Journal of Islamic Studies, Vol.15, No.2, (2015), Pp 283-295,
DOI:[Link]
42
Muhaidi Mustaffa & Muhammad Fathi Yusof, Deskriptif Kualitatif Metode Pengajaran Hafalan Al-
Qur’an Wal Qiro’at dan Tingkat Keunggulan Akademik Siswa, Jurnal Ilmu Sosial, Vol.7, No.1 (2016), Pp 34-
45 DOI:10.5901/mjss.2016.v7n1s1p79.
43
Desi Susanti, Penerapan Metode Talaqqi dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran
Bahasa Arab Kelas VIII A Di MTS Babussalam Simandolak Kecamatan Benai, Jurnal Mahasiswa Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan, Vol.3, No.1, (2020), Pp 44-51, DOI: [Link]
article/view/2008
44
Ahsin W. Al-hafizh, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 64.
4. Keberadaan Talaqqi merupakan bagian penting dalam penyebaran Islam, karena ada
bagian yang tidak bisa dimiliki oleh metode-metode pengajaran lainnya seperti saling
mengerti antara guru dan peserta didik, dan lain lain.
5. Untuk memotivasi dan membiasakan siswa untuk menghafal, karena motivasi anak
dalam menghafal masih kurang.
6. Anak menjadi lebih siap untuk menghafal secara mandiri, ketidaksiapan ini karena
anak dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an belum sesuai makhrajnya serta
tajwid yang belum benar.45
Adapun Kekurangan dalam metode talaqqi:
1) Metode talaqqi tidak dapat digunakan secara klasikal pada kelas yang peserta
didiknya berjumlah banyak karena dirasa kurang efektif.
2) Tidak efisien, karena membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan hafalan
Al-Qur’an.
3) Murid yang IQ nya rendah sangat lama untuk menyelesaikan hafalan.
4) Sebagian anak mudah bosan ketika diajarkan tahfidz, apalagi jika ada anak yang
sudah hafal secara mandiri sehingga akan cepat bosan kalau melihat teman lainnya
yang belum hafal.
5) Kurang disiplinnya siswa dalam melakukan setoran hafalan kepada gurunya.46
Ciri-ciri Pembelajaran Metode Talaqqi:
1) Metode Talaqqi adalah salah satu metode mengajar menghafal Al-Qur’an
peninggalan Rasulullah Muhammad SAW yang terus menerus dilakukan oleh orang-
orang setelah Beliau, para sahabat, tabi’in, hingga para ulama pada zaman
sekarang. Itulah yang kemudian menjadi cetak biru (blue print) sistem pengajaran Al-
Qur’an di dunia Islam hingga saat ini.
2) Metode talaqqi diterapkan oleh seorang guru yang hafizh Al-Qur’an, telah
mantap agama dan ma’rifat yang telah dikenal mampu menjaga dirinya.
3) Metode talaqqi diterapkan secara langsung face to face oleh seorang guru
kepada muridnya dalam sebuah kelas atau ruang belajar.
4) Metode talaqqi terbukti paling lengkap dalam mengajarkan menghafal dan
membaca Al-Qur'an yang benar, dan paling mudah diterima oleh semua
kalangan.
5) Metode talaqqi sering pula disebut musyafahah, yang bermakna dari mulut ke
mulut yakni seorang pelajar belajar Al-Qur'an dengan memperhatikan gerak
bibir guru untuk mendapatkan pengucapan makhraj yang benar.
6) Dalam belajar menghafal Al-Qur’an, metode talaqqi sangat berguna dalam
pengajaran ayat-ayat yang belum dihafal dan pengulangan hafalan untuk
menguatkan dan melancarkan hafalan.
45
Abdul Qawi, Peningkatan Prestasi Belajar Hafalan Al-Qur’an Melalui Metode Talaqqi di Mtsn
Gampong Teoungoh Aceh Utara, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol.16, No.2, (2017), Pp 265-283,
DOI: [Link]
46
Ratnasari Diah Utami & Yosina Maharani, Kelebihan dan Kelemahan Metode Talaqqi dalam Program
Tahfidz Al-Qur’an Juz 29 dan 30 pada Siswa Kelas Atas Madrasah Ibtidaiyyah Muhammadiyah, Jurnal UMS,
Vol 5, No 2, (2018), Pp. 185-192, DOI: [Link]
Dari setiap ciri-ciri tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa ciri dari metode
talaqqi ini yakni metode yang diterapkan secara langsung face to face oleh seorangguru
kepada muridnya dalam sebuah kelas atau ruang belajar, dimana seorang murid duduk di
hadapan gurunya untuk memperdengarkan bacaan Al- Qur’an dengan syarat secara bertatap
muka tanpa perantara apapun.47
Melalui metode talaqqi inilah nantinya menghafal Al-Qur’an bisa berjalan secara
efektif, sehingga terwujud lah hasil yang diinginkan yaitu dapat mencapai target yang telah
ditentukan oleh ustadz ustadzah, dan menjadi insan Qur’ani yang dapat menghafal dengan
baik, benar dan sekaligus mengamalkan ajaran Al-Qur’an dengan baik dalam kehidupannya.
Hasil peningkatan hafalan Al-Quran dengan Metode Talaqqi adalah anak anak dapat
mencapai taerget hafalan yang sudah ditentukan oleh ustadz ustadzah, mempunyai
kelancaran hafalan dengan baik dan dengan makhorijul huruf yang benar.
47
Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Menghafal Al-Qur’an Itu Mudah (Jakarta: PustakaAt-
Tazkia, 2008), Hlm.21
48
Eko Aristanto, Syarif Hidayatullah & Ike Kusdiyah Rachmawati, Taud Tabungan Akhirat (Perspektif,
Kuttab Rumah Qur’am, (Jawa Timur: Uwais Inspirasi Indonesia, 2019), Hlm. 21
49
Ni’matussholihah, Penerapan Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di SMP Darul
Ihsan Muhammadiyah Sragen Tahun Pelajaran 2018/2019, UMS Library, Vol.9, No.2, (2019), Pp. 56-63, DOI
[Link]
50
KurniatI, E, Oxygen to Live, (Yogyakarta: Deepublish, 2019), Hlm.15
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Peningkatan hafalan Al-Qur’an
melalui proses perencanaan, pelaksanaan dengan menggunakan metode talaqqi hasilnya
banyak siswa hafalannya meningkat dan sesuai dengan target yang telah ditentukan oleh
ustadz ustadzah. Indikasinya adalah rata-rata mencapai target 80% dari 23 jumlah peserta
didik. Ada faktor pendukung dalam meningkatkan hafalan menggunkan metode tersebut
yaitu pembelajaran Tahsin selalu berjalan setiap hari, dukungan dari orang tua, tempat
hafalan yang indah dan nyaman untuk menghafalkan Al-Qur’an. Kemudian adapun faktor
penghambat dari kegiatan tersebut kurangnya pengampu mata pelajaran Tahfidz, ada rasa
rasa malas pada diri siswa serta kurangnya memanajemen waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Abas Asyafah, (2014), Metode Tadabbur Qur’an Menurut Pandangan Siswa, Jurnal
Pendidikan, Vol.7, No.6, Pp 98-105, DOI: [Link]
Abdul Rauf, Abdul Aziz. (2004). Kiat Sukses Menjadi Hafizh, Bandung: Syamil.
Abdul, Hamid. (2017). Guru Profesional, Al Falah: Jurnal Ilmiah KeIslaman dan
Kemasyarakatan, Vol. XVII, No.32, Pp. 278-285. DOI: [Link]
alfalahjikk.v17i2.26
Ahsin.W. (1994). Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, Jakarta: Bumi Aksara
Akmal, Mundiri & Zahra Irma. (2017). Implementasi Metode Stifin Dalam Meningkatkan
Kemampuan Menghafal Al-Qur’an di Rumah Stifin di Paiton Probolinggo, Jurnal
Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies), Vol. 5, No. 2, Pp
202-223, DOI:[Link]
Al-Makhtum Saied. (2016). Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan, Ponorogo: CV Alam
Pena. Amalia Bahrul. (2013). Agar Orang Sibuk Menghafal Al-Qur’an. Yogyakarta: Pro U
Media. Anshori. (2013). Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Press.
Arifin. Muhammad. (1996). Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Creswell. J. (2017). Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif, kuantitaif dan
Campuran). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang: Karya Toha
Putra.
Djaali. (2008). Psikologi Pendidikan, Jakarta:
BumiAksara. DOI: [Link]
Dwi, Haryani Leni & Sholeh Muhtar Arifin. (2019). Efektivitas Metode Talaqqi dalam
Meningkatkan Hafalan Al-Qur’an Peserta Didik Di SDIT Ulul Albab Weleri, Jurnal
Pendidikan Agama Islam (Ta’dibuna), Vol.2, No.2, Pp 47-52, DOI: [Link]
10.30659/jpai.2.2.47-52
Fatimah Meti. (2020). Metode Tahfidz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Muhammadiyah
Boarding School Klaten, Mamba’ul Ulum, Vol. 16, No. 2, Pp 112-127, DOI:
[Link]
Haq, A. M. I. (2016). Peer Mentoring Membaca Al-Qur’an Intensif Melalui Metode Talaqqi,
Jurnal Kependidikan, Vol. 2, No. 2, Pp 150–155, DOI:
org/[Link]
Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam. (2008). Menghafal Al-Qur’an Itu Mudah, Jakarta:
Pustaka At-Tazkia.
Ifadah Rifatul. (2021). Penerapan Metode Tasmi’ dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Al-
Qur’an Siswa MI, Jurnal Pendidikan Islam, Vol.4, No.1, Pp 101-120,
DOI: [Link]
Imam An Nawawi. (2018). At Tibyan Adab Membaca dan Menghafal Al-Qur’an, Solo: PQS.
Khotimah. (2015). Pengaruh Kemampuan Menghafal Al-Qur’an dan Sikap Siswa Terhadap
Hasil Belajar Matematika, Hikmah: Journal of Islamic Studies, Vol.15, No.2, Pp 283-
295, DOI: [Link]
Mashud, Imam. (2019). Meningkatkan Kemampuan dalam Setoran Hafalan Al-Qur’an
Melalui Metode Talaqqi Pada Siswa Kelas VIB Sekolah Dasar Islam Yakmi Tahun
2018, Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan Dan Pembelajaran, Vol.4, No.2, Pp 347-
358. DOI: [Link]
Matthew B Milles & A Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta, UI-
Press
Maula, Ibnu Rusyd Raisya. (2015). Panduan Tahsin, Tajwid, dan Tahfizh untuk Pemula,
Yogyakarta: Saufa.
Moleong, Lexy, J. (2000). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: RemajaRosdakarya
Mustaffa Muhaidi & Yusof Muhammad Fatih. (2016). Deskriptif Kualitatif Metode
Pengajaran Hafalan Al-Qur’an Wal Qiro’at dan Tingkat Keunggulan Akademik
Siswa, Jurnal Ilmu Sosial, Vol.7, No.1, Pp.34-45, DOI:10.5901/
mjss.2016.v7n1s1p79.
Najib Mughni. (2018). Implementasi Metode Takrir Dalam Menghafalkan Al-Qur’an Bagi
Santri Pondok Pesantren Punggul Nganjuk, Jurnal Pendidikan dan Studi KeIslaman,
Vol.8, No.3, Pp 333-342, DOI: [Link]
Ni’matussholihah. (2019). Penerapan Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Tahfidz Al-
Qur’an di SMP Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen Tahun Pelajaran 2018/2019,
UMS Library, Vol.9, No.2, Pp 56-63, DOI: [Link]
Rizalludin Azis. (2019). Implementasi Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Tahsin dan
Tahfidz Al-Qur’an, Khazanah Pendidikan Islam, Vol.1, No.1, DOI: [Link]
10.15575/kp.v1i1.7138
Rustasir. (2021), Panduan Hafalan Al-Qur’an Juz 29, Surakarta: Sahabat Al-
Qur’an Sa’dulloh. (2008). 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an, Jakarta: Gema
Insani.
Setiadi Syamsi, (2017), Peningkatan Ketrampilan Kitabah Arabiyah Mahasiswa Melalui
Metode Tutor Sebaya, Jurnal Al Bayan, Vol 9, No 1, Pp.32-39, DOI: [Link]
10.24042/albayan.v9i1.1094
Siregar Fatin Nadia. (2022). Manajemen Program Pendidikan Hafidzh Qur’an dalam
Peningkatan Hafalan Al-Qur’an di SMP Al-Hikmah Medan Marela, Jurnal Ilmu
Pendidikan dan Pengajaran, Vol.1, No.2, Pp.86-103, DOI: [Link]
ies.v7n6p98
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.
Susanti Desi. (2022). Penerapan Metode Talaqqi dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada
Mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas VIII A Di MTS Babussalam Simandolak
Kecamatan Benai, Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,
Vol.3, No.1, Pp. 44-51, DOI: [Link]
view/2008
Tafsir Ahmad. (2007). Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Utami Ratnasari Diah & Maharani Yosina. (2018). Kelebihan dan Kelemahan Metode
Talaqqi dalam Program Tahfidz Al-Qur’an Juz 29 dan 30 pada Siswa Kelas Atas
Madrasah Ibtidaiyyah Muhammadiyah, Journal UMS, Vol.5, No.2, Pp.185-192,
Wulang, Loh Sandi Arga. (2020). Penerapan Metode Wahdah Sebagai Upaya Meningkatkan
Tahfidzul Qur’an Siswa, Jurnal Pendidikan Agama Islam (Ta’dibuna), Vol.3, No.2,
Pp.37-42, DOI: [Link]
Yusron, Masduki. (2018). Implikasi Psikologis Bagi Penghafal Al-Qur’an, Jurnal Studi
Islam, Vol.14, No.1, Pp 18-35, DOI: [Link]