0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan23 halaman

Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan

Dokumen ini membahas cara manusia memperoleh pengetahuan, yang dibagi menjadi cara non-ilmiah dan ilmiah, serta perbedaan antara pengetahuan, ilmu (sains), dan filsafat. Pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai metode, termasuk pengalaman pribadi, otoritas, dan penalaran, sedangkan ilmu berfokus pada kebenaran ilmiah dengan pendekatan sistematis. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pengertian dan ruang lingkup studi Islam, termasuk kajian terhadap ajaran dan praktik Islam dalam konteks masyarakat.

Diunggah oleh

Tsabitah Huwaida
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan23 halaman

Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan

Dokumen ini membahas cara manusia memperoleh pengetahuan, yang dibagi menjadi cara non-ilmiah dan ilmiah, serta perbedaan antara pengetahuan, ilmu (sains), dan filsafat. Pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai metode, termasuk pengalaman pribadi, otoritas, dan penalaran, sedangkan ilmu berfokus pada kebenaran ilmiah dengan pendekatan sistematis. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pengertian dan ruang lingkup studi Islam, termasuk kajian terhadap ajaran dan praktik Islam dalam konteks masyarakat.

Diunggah oleh

Tsabitah Huwaida
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Cara manusia memperoleh pengetahuan

Cara memperoleh pengetahuan menurut Notoatmodjo (2012) adalah sebahai berikut1:


a. Cara non ilmiah
1) Cara coba salah (Trial and Error)

Cara coba–coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam


memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan trsebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan
yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba kemungkinan ketiga, dan
apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai
masalah tersebut dapat di pecahkan.
2) Cara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang
bersangkutan.
3) Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin – pemimpin masyarakat bak formol
mauoun informal, para pemuka agama, pemegang pemerintah dan sebagiannya .dengan kata
lain, pengetahuan ini diperoleh berdasarkan padaa pemegang otoritas, yakni orang yang
mempunyai wibawa atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin
agama, maupun ahli ilmu pengetahuan atau ilmuan. Prinsip inilah, orang lain menerima
pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa terlebih dahulu
menguji atau membuktikan kebenaranya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan
pandapat sendiri
4) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini
dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan
permasalahn yang dihadapi pada masa lalu.
5) Cara akal sehat (Common sense)

1
Akal sehat kadang–kadang dapat menemukan teori kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan
berkembang, para orang tua zaman dahulu agar anaknya mau menuruti nasehat orang tuanya,
atau agar anak disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya tersebut salah.
Ternyata cara menghukum anak ini sampai sekarang berkembang menjadi teori atau
kebenaran, bahwa hukuman merupakan metode ( meskipun bukan yang paling baik ) bagi
pendidikan anak–anak
6) Kebenaran melalui wahyu

Ajaran agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para nabi.
Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut agama yang bersangkutan,
terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak .sebab kebenaran ini diterima oleh
para Nabi adalahsebagai wahyu dan bukan karena hasil usaha penalaran atau penyelidikan
manusia.
7) Secara intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat melalui di luar kesadaran dan tanpa
melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intutif sukar
dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang rasional dan yang
[Link] ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi atau suara hati.
8) Melalui jalan pikiran

Manusis telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya.


Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan
dalam pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi
9) Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus
ke pernyataan yang bersifat umum. Hal ini berati dalam berfikir induksi pembuatan
kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris yang ditangkap oleh indra.
Kemudian disimpulkan dalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami
suatu gejala. Karena proses berfikir induksi itu beranjak dari hasil pengamatan indra atau hal-
hal yang nyata, maka dapat dikatakan bahwa induksi beranjak dari hal-hal yang konkret
kepada hal-hal yang abstrak.
10) Deduksi
Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyatan-pernyataan umum ke khusus. Dalam
berfikir deduksi berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum , berlaku juga
kebenarannya pada sutu peristiwa yang terjadi.
b. Cara Ilmiah

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasaini lebih sistematis,
logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau lebih popular disebut
metode penelitian ( rescarch methodology ). 2

B. Pengetahuan, Ilmu (Sains), dan Filsafat


Istilah pengetahuan, ilmu (sains), dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak
disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. Namun demikian,
meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-
perbedaan mendasar, baik dari segi pengertian, fungsi maupun cara-cara untuk
memperolehnya. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh, sangat penting
terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. Dalam Encyclopedia of Philosophy –
sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. DEA, pengetahuan didefenisikan sebagai
kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Berdasarkan pengertian ini ia
menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar, sebab jika tidak
benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau
kontradiksi.3
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki
kesimpulan yang benar?.
Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia, baik
pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan
kesimpulan yang salah (keliru). Pada bagian terdahulu misalnya, telah dipaparkan
perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam
pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat
mendukung kelangsungan hidup umat manusia. Oleh

3
Selamat Ibrahim S. DEA, Opcit. Lihat juga: Soetriono dan SRDm Hanafie. 2007.
karenanya pengetahuan bisa saja salah, akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya
merupakan pengetahuan yang benar.
Dalam kajian filsafat, umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan,
yaitu: pertama, manusia tahu bahwa ia tahu; kedua, manusia tahu
bahwa ia tidak tahu; ketiga, manusia tidak tahu bahwa ia tahu; dan keempat, manusia
tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh
manusia benar-benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui.
Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini, apakah manusia tahu
bahwa ia tahu, atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu.
Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah
pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan
untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui
pendekatan, metode dan sistem tertentu. Jika proses cerapan rasa tahu manusia
merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk
pengetahuan tersebut, ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini
mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan
mendalam. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu
sendiri, melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis)
pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar
memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. Oleh karenanya,
perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana
Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian
pengetahuan, ilmu (sains), dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia.
Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara
ketiganya (pengetahuan, sains, dan filsafat). Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih
mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh
pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan, sains, dan
filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut :
Jenis Pengetahuan Fungsi Cara Memperolehnya
Pengetahuan Biasa Untuk memenuhi kebutuhan Melalui pencernaan indra dan
hidup sehari-hari tanpa pengalaman secara umum
mempersoalkan seluk beluk
pengetahuan secara
mendalam
Ilmu (Sains) Untuk menguji kebenaran Melalui penalaran dengan
dari pengetahuan manusia metode dan cara-cara tertentu
secara umum yang berkisar secara objektif dan sistematis
pada pengalaman sehari-hari
guna memenuhi kebutuhan
hidup manusia
Filsafat Untuk mencari jawaban dari Melalui penalaran yang luas
pertanyaan-pertanyaan akhir dan mendasar dengan pola
guna menemukan kebenaran berpikir sistematis
yang hakiki

Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara


memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas.
Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai
pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup, fungsi
spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan
disamping perbedaan cara memperolehnya. Perbedaan yang lain, khususnya yang
dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat, adalah bahwa filsafat berupaya mencari
hakikat dari segala sesuatu, bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan
deskriptif saja, sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang
menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya.4

C. Pengertian Studi Islam


Studi Islam secara etimologis merupakan terjemahan dari Bahasa Arab: Dirasah
Islamiyah. Sedangkan studi Islam di Barat dikenal dengan istilah Islamic Studies. Maka studi
Islam secara harfiah adalah kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Makna ini
sangat umum sehingga perlu ada spesifikasi pengertian terminologis tentang studi Islam
dalam kajian yang sistematis dan terpadu. Dengan perkataan lain, studi Islam adalah usaha
sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam
tentang hal-hal yang berhubungan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah
4
Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Andi, hlm:7-8
maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sepanjang
sejarahnya.5
Ditinjau dari sisi pengertian, studi Islam secara sederhana dimaknai sebagai “Kajian
Islam”. Pengertian studi Islam sebagai kajian Islam sesungguhnya memiliki cakupan makna
dan pengertian yang luas. Hal ini wajar adanya sebab sebuah istilah akan memiliki makna
tergantung kepada mereka yang menafsirkannya. Karena penafsir memiliki latar belakang
yang berbeda satu sama lainnya, baik latar belakang studi, bidang keilmuan, pengalaman,
maupun berbagai perbedaan lainnya, maka rumusan dan pemaknaan yang dihasilkannya pun
juga akan berbeda.
Penggunaan istilah studi Islam bertujuan untuk mengung-kapkan beberapa maksud.
Pertama, studi Islam yang dikonotasikan dengan aktivitas-aktivitas dan program-program
pengkajian dan penelitian terhadap agama sebagai objeknya, seperti pengkajian tentang
konsep zakat profesi. Kedua, studi Islam yang dikonotasikan dengan materi, subjek, bidang,
dan kurikulum suatu kajian atas Islam, seperti ilmu-ilmu agama Islam (fikih atau kalam).
Ketiga, studi Islam yang dikonotasikan dengan institusi-institusi pengkajian Islam, baik
dilakukan secara formal di perguruan tinggi, maupun yang dilakukan secara non formal,
seperti pada forum-forum kajian dan halaqah-halaqah. Dengan demikian, istilah studi Islam
bisa dipergunakan di kalangan akademis secara bebas.
Studi Islam meliputi kajian agama Islam dan tentang aspek-aspek keislaman masyarakat
dan budaya Muslim. Atas dasar pembedaan ini, diidentifikasi tiga pola kerja berbeda yang
masuk dalam ruang studi Islam. Pertama, pada umumnya kajian normarif agama Islam
dikembangkan oleh sarjana Muslim untuk memperoleh ilmu pengetahuan atas kebenaran
keagamaan Islam. kajian ini banyak berkembang di masjid, madrasah, dan berbagai lembaga
pendidikan lainnya. Kedua, kajian non-normatif agama Islam, biasanya kajian dalam jenis ini
dilakukan berbagai universitas dalam bentuk penggalian secara lebih mendalam dari suatu
ajaran Islam. Ketiga, kajian non-normatif atas berbagai aspek keislaman yang berkaitan
dengan kultur dan masyarakat Muslim. Dalam lingkup yang lebih luas, kajian ini tidak secara
langsung terkait dengan Islam sebagai sebuah norma. 6
Dapat dipahami bahwa studi Islam memiliki cakupan makna, pembagian, dan juga bidang
garap yang berbeda. Namun demikian, titik tekan utamanya terletak pada ajaran Islam yang

5
Rosihon Anwar, [Link]., Pengantar Studi Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 25.
6
Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, (Jakarta: Teras, 2009), h. 1-5.
sepenuhnya diambil dari Al-Qur’an dan Hadis secara murni tanpa dipengaruhi sejarah, seperti
ajaran tentang akidah, ibadah, dan akhlak. 7

B. Ruang Lingkup Studi Islam


Agama sebagai sasaran kajian dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu agama sebagai
doktrin, dinamika dan struktur masyarakat yang dibentuk oleh agama, dan sikap masyarakat
pemeluk terhadap doktrin. Mempersoalkan substansi ajaran, dengan segala refleksi pemikiran
terhadap ajaran agama. Namun, yang menjadi sasaran penelitian agama sebagai doktrin
adalah pemahaman manusia terhadap doktrin-doktrin tersebut. Meninjau agama dalam
kehidupan sosial dan dinamika sejarah. Usaha untuk mengetahui corak penghadapan
masyarakat terhadap simbol dan ajaran agama.
Tidak semua aspek agama khususnya Islam dapat menjadi obyek studi. Dalam konteks
Studi Islam, ada beberapa aspek tertentu dari Islam yang dapat menjadi obyek studi, yaitu:
Islam sebagai doktrin dari tuhan yang kebenarannnya bagi pemeluknya sudah final, dalam
arti absolut, dan diterima secara apa adanya. Sebagai gejala budaya yang berarti seluruh apa
yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang
terhadap doktrin agamanya. Sebagai interaksi sosial yaitu realitas umat Islam.
Terdapat tiga wilayah keilmuan agama Islam yang dapat menjadi obyek studi Islam,
yaitu: Wilayah praktek keyakinan dan pemahaman terhadap wahyu yang telah
diinterpretasikan sedemikian rupa oleh para ulama, tokoh panutan masyarakat pada
umumnya. Wilayah praktek ini umumnya tanpa melalui klarifikasi dan penjernihan teoritik
keilmuan yang penting di sini adalah pengalaman. Wilayah tori-teori keilmuan yang
dirancang dan disusun sistematika dan metodologinya oleh para ilmuan, para ahli, dan para
ulama sesuai bidang kajiannya masing-masing. Apa yang ada pada wilayah ini sebenarnya
tidak lain dan tidak bukan adalah “teori-teori” keilmuan agama Islam, baik secara deduktif
dari nash-nash atau teks-teks wahyu, maupun secara induktif dari praktek-praktek keagamaan
yang hidup dalam masyarakat era keNabian, sahabat, tabi’in maupun sepanjang sejarah
perkembangan masyarakat Muslim di manapun mereka berada. Telaah teoritis yang lebih
popular disebut metadiscourse, terhadap sejarah perkembangan jatuh bangunnya teori-teori
yang disusun oleh kalangan ilmuan dan ulama pada lapis kedua. Wilayah pada lapis ketiga
yang kompleks dan sophisticated ini lah yang sesungguhnya dibidangi oleh filsafat ilmu-ilmu
keislaman.
7
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), h. 104.
Obyek kajian Islam adalah substansi ajaran-ajaran Islam, seperti kalam, fikih dan
taSawuf. Dalam aspek ini agama lebih bersifat penelitian budaya hal ini mengingat bahwa
ilmu-ilmu keislaman semacam ini merupakan salah satu bentuk doktrin yang dirumuskan
oleh penganutnya yang bersumber dari wahyu Allah melalui proses penawaran dan
perenungan. 8

C. Tujuan Studi Islam


Studi Islam memiliki tujuan untuk menunjukkan relasi Islam dengan berbagai aspek
kehidupan manusia, menjelaskan spirit (jiwa) berupa pesan moral dan value yang terkandung
di dalam berbagai cabang studi Islam, respon Islam terhadap berbagai paradigma baru dalam
kehidupan sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta munculnya
filsafat dan ideologi baru serta hubungan Islam dengan visi, misi dan tujuan ajaran islam. 9
Studi Islam merupakan sebuah usaha untuk mempelajari Islam secara mendalam dan
segala bentuk seluk-beluk yang berhubungan dengan agama Islam. Studi Islam ini
mempunyai tujuan yang jelas, yang sekaligus menunjukkan arah studi Islam tersebut. Dengan
arah dan tujuan yang jelas, dengan sendirinya, studi Islam merupakan usaha sadar dan
tersusun secara sistematis.
Arah dan tujuan studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: Pertama, untuk
mempelajari secara mendalam apa sebenarnya (hakikat) agama Islam itu, dan bagaimana
posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
Sehubungan dengan hal ini, studi Islam dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa sebenarnya
agama diturunkan Allah Swt, adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta
menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat manusia
di muka bumi. Agama-agama yang pada mulanya tumbuh dan berkembang berdasarkan
pengalaman dan penggunaan akal serta budi daya manusia, diarahkan oleh Islam menjadi
agama monoteisme yang benar. Sementara itu, Allah telah menurunkan ajaran Islam sejak
fase awal dari pertumbuhan dan perkembangan akal dan budi daya manusia tersebut.
Kemudian silih berganti Rasul-Rasul telah diutus Allah, untuk menyampaikan ajaran agama
Islam, guna meluruskan dan menyempurnakan perkembangan akal dan budi daya manusia
serta agama mereka menjadi agama tauhid. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ajaran
agama Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan akal dan pikiran
dan budi daya manusia serta agama mereka menjadi agama tauhid. Dengan demikian, dapat

8
Naim, Pengantar Studi, h. 6-9
9
Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 9
dikatakan bahwa ajaran agama Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan
perkembangan akal pikiran dan budi daya manusia tersebut untuk mewujudkan suatu
kehidupan budaya dan peradaban yang Islami. Sepanjang sejarah perkembangannya, tidak
ada pertentangan antara alam pikiran dan budi daya manusia dengan agama Islam. Kalau
pada suatu masa tampak adanya pertentangan antara ajaran Islam dengan alam pikiran dan
budi daya manusia, dapat diduga bahwa telah terjadi kemacetan atau penyimpangan dalam
perkembangannya. Dengan menggali kembali hakikat agama Islam, akan dapat digunakan
sebagai alat analisis terhadap kemacetan atau penyimpangan akal pikiran dan budaya
manusiawi serta ajaran agama Islam sekaligus.
Kedua, untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama Islam yang
asli, dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan
perkembangan budaya dan paradaban Islam sepanjang sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa
agama Islam adalah agama fitrah sehingga pokok-pokok isi ajaran Islam tentunya sesuai
dengan fitrah manusia. Fitrah adalah potensi dasar, pembawaan yang ada dan tercipta dalam
proses penciptaan manusia. Potensi fitrah inilah yang menyebabkan manusia hidup, tumbuh,
dan berkembang, mempunyai kemampuan untuk mengatur perikehidupannya, berbudaya, dan
membudidayakan lingkungan hidupnya. Dari potensi fitrah ini lah, manusia mampu mengatur
dan menyusun suatu sistem kehidupan dan lingkungan budaya yang mewadahi kehidupan
dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup bersama masyarakatnya. Sebagai agama
fitrah, pokok-pokok isi ajaran agama Islam tersebut akan tumbuh dan berkembang secara
operasional dan serasi bersama dengan pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia
tersebut. Dengan demikian, pokok-pokok isi ajaran agama Islam yang telah berkembang
tersebut akan beradaptasi dan berinteraksi dengan setiap sistem hidup dan lingkungan budaya
yang dijumpainya, dan akan berkembang bersamanya. Dengan kata lain, pokok-pokok isi
ajaran agama Islam tersebut mempunyai daya adaptasi dan integrasi yang kuat terhadap
sistem hidup dan lingkungan budaya yang dimasuki dan dijumpainya. Ketiga, untuk
mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi dan
dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarah. Studi ini berdasarkan asumsi
bahwa agama Islam sebagai agama samawi terakhir membawa ajaran-ajaran yang bersifat
final dan mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan manusia, menjawab tantangan
dan tuntutannya sepanjang zaman. Sumber dasar ajaran agama Islam akan tetap aktual dan
fungsional terhadap permasalahan hidup dan tantangan serta tuntutan perkembangan zaman
tersebut. Sementara itu, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman yang
berlangsung terus-menerus dan berkelanjutan, permasalahan dan tantangan serta tuntutan
hidup manusia pun bertumbuh-kembang menjadi semakin kompleks dan menimbulkan
pertumbuhan dan perkembangan sistem kehidupan budaya dan peradaban manusia yang
semakin maju dan modern.
Keempat, untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran
agama Islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta
mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini. Asumsi
dari studi Islam adalah bahwa agama Islam yang diyakini mempunyai misi sebagai Rahmatan
lil alamin tentunya mempunyai nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar yang bersifat universal,
yang mempunyai daya dan kemampuan untuk membimbing, mengarahkan, mengontrol dan
mengendalikan faktor-faktor potensial dari pertumbuhan dan perkembangan sistem budaya
dan peradaban modern. Di dalam era globlal, umat manusia semakin membutuhkan nilai-nilai
dan norma-norma yang bersifat universal, yang diterima oleh seluruh umat manusia untuk
mengontrol, dan mengendalikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semakin canggih. Karena itu nilai dan prinsip dasar ajaran agama Islam tersebut diharapkan
menjadi alternatif yang mampu mengarahkan, mengontrol, dan mengendalikan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta fakor dinamika lainnya dari
sistem budaya dan peradaban manusia modern, menuju terwujudnya kondisi kehidupan yang
adil makmur, aman, dan sejahtera di antara bangsa-bangsa dan umat manusia. 10
Dengan mengemukakan tujuan-tujuan tersebut, tampaklah karakteristik dari studi Islam
yang selama ini dikembangkan di perguruan tinggi tidak bersifat konvensional, tetapi lebih
bersifat memadukan antara studi Islam di kalangan umat Islam sendiri (yang bersifat subjektif
doktriner) dan kalangan luar Islam yang bersifat ilmiah. Oleh karena itu, tampilannya lebih
banyak diwarnai oleh analisis kritis terhadap hasil-hasil studi dari kedua usaha studi Islam
tersebut.
Selanjutnya, dengan tujuan-tujuan tersebut, studi Islam diharapkan akan bermanfaat bagi
peningkatan usaha pembaharuan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam pada
umumnya, dalam usaha transformasi kehidupan sosial budaya serta agama umat Islam
sekarang ini, menuju kehidupan sosial budaya modern pada generasi mendatang, sehingga
misi Islam sebagai Rahmatan lil alamin dapat terwujud dalam kehidupan nyata di dunia
global.

10
Anwar, [Link]., Pengantar Studi, h. 34-37.
D. PERKEMBANGAN STUDI ISLAM
Perkembangan studi Islam terkait erat dengan perkembangan pendidikan Islam yang
membahas kurikulum dan kelembagaannya baik di dunia Islam, dunia Barat maupun di
Indonesia sendiri. Bahan bagian ini diadaptasi dari Pengantar Studi Islam Hadidjah dan
M. Karman al-Kuninganiy (2008:11-21).
1. Studi Islam di Dunia Islam
Dalam tradisi pendidikan Islam, institusi pendidikan tinggi lebih dikenal dengan
nama al-jami’ah, yang secara historis dan kelembagaan berkaitan dengan masjid jami’
(tempat berkumpul jama’ah untuk menunaikan salat Jum’at) (Munir ud-Din Ahmed, 2002:8).
Al-Jami’ah yang paling awal dengan pretensi sebagai lembaga pendidikan tinggi, tercatat Al-
Azhar di Kairo, Zaituna di Tunis, dan Qarawiyyin di Fez. Tetapi, aljami’ah al-jami’ah ini
yang diakui sebagai universitas tertua di muka bumi, hingga dilakukannya pembaharuan
dalam beberapa dasawarsa silam, lebih tepat disebut “madrasah tinggi” dari pada
“universitas”.
Azyumardi Azra juga mencatat bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik madrasah
(sekalipun menyelenggarakan pendidikan tingkat tinggi, advanced education), maupun al-
jami’ah, yang memang dimaksudkan sebagai pendidikan tinggi, tidak pernah menjadi
universitas yang difungsikan semata-mata untuk mengembangkan tradisi penelitian bebas
berdasarkan nalar, sebagaimana terdapat di Eropa pada masa modern. Bahkan, universitas di
Eropa yang akar-akarnya dapat dilacak dari al-jami’ah, seperti ditegaskan Stanton
berdasarkan penelitian al-Makdisi (1981 dan 1990) hingga abad ke-18, juga tidak bebas
sepenuhnya. Universitas abad pertengahan, bahkan pada umumnya berafiliasi dan terkait
kepada gereja.
Sepanjang sejarah Islam, baik madrasah maupun al-jami’ah diabdikan, terutama untuk ilmu-
ilmu agama dengan penekanan pada bidang fikih, tafsir dan hadis. Ijtihad, walaupun
diberikan ruang gerak, tetapi tidak dimaksudkan berpikir sebebas-bebasnya, kecuali sekedar
memberikan penafsiran “baru” atau pemikiran “independen” yang tetap berada dalam
kerangka doktrin yang mapan dan disepakati. Dengan demikian, ilmu-ilmu non agama,
terutama yang eksakta yang merupakan akar pengembangan sains dan teknologi sejak awal
telah termarjinalkan (Khozin, 2001:56).
Kondisi seperti ini berbeda dengan dasar Islam yang tidak mendikotomikan antara ilmu
agama dan non agama. Al-Ghazali (1085-1111M) disebut-sebut sebagai “yang
bertanggungjawab” memisahkan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu non agama. Menuntut
ilmu agama wajib bagi setiap Muslim, sedangkan wajib kifayah untuk menuntut ilmu-ilmu
umum. Sebenarnya, sebelum kehancuran Mu’tazilah pada masa Makmun (198-218/813-
833), ilmu umum yang berlandaskan kajian-kajian empiris telah dipelajari di madrasah.
Dengan kesan mencurigai ilmu-ilmu umum yang berbasiskan nalar itulah maka ilmuilmu
tersebut dihapuskan dari madrasah. Para peminat kepada ilmu-ilmu umum tersebut akhirnya
belajar sendiri-sendiri, karena ilmu-ilmu agama dipandang sebagai yang dapat menggugat
kemapanan doktrin sunni, terutama dalam bidang kalam dan fikih. Jadi, pada masa sebelum
khalifah al-Makmun, sains mencapai puncaknya, hampir dipastikan bukan mucul dari
madrasah, tetapi hasil kegiatan ilmiah individuindividu ilmuwan Muslim yang disemangati
oleh scientific inquiry (penyelidikan ilmiah) untuk membuktikan kebenaran-kebenaran
Alquran, terutama yang bersifat kauniyah (kealaman). Menurut catatan sejarah, ada empat
perguruan tinggi yang disebut-sebut sebagai kiblat bagi pengembangan studi Islam di dunia
Muslim, yang selanjutnya diikuti oleh para orientalis dalam studi Islam di kalangan sarjana
Barat.
Pertama, Madrasah Nizhamiyah di Nisyafur. Madrasah ini, menurut Ibnu Khalikan (w. 681-
1282) dibangun oleh Nizham al-Mulk untuk al-Juwaini, tokoh Asy’ariah, dan sekaligus guru
besar di madrasah ini selama tiga dekade hingga wafatnya pada 478/1085 (Hasan Asari,
1994:57). Madrasah ini terdiri dari tiga bagian inti, gedung madrasah, masjid dan
perpustakaan (bayt al-maktab). Madrasah ini memiliki beberapa staff, yaitu seorang guru
besar (mudarris) yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pengajaran, seorang ahli Alquran
(muqri’), ahli hadis (muhaddits), dan pengurus perpustakaan, yang bertanggungjawab
terhadap tugasnya masing-masing. Tercatat nama-nama seperti al-Juwaini, Abu al-Qasim, al-
Kiya al-Harrasi, al-Ghazali dan Abu Sa’id sebagai mudarris, Abu al-Qasim, al-Hudzali dan
Abu Nasyar al-Ramsyi sebagai muqri’, Abu Muhammad al-Samarqandi sebagai muhaddits,
dan Abu Amir al-Jurjani sebagai pustakawan. Al- Ghazali pernah tercatat sebagai asisten al-
Juwaini.
Kedua, madrasah di Baghdad berdiri tahun 455/1063 yang dibangun oleh khalifah al-
Makmun (813-833 M), yang dilengkapi dengan perpustakaan termasyur, Bayt al- Hikmah.
Berbeda dengan madrasah Nizhamiyyah di Nisyafur, di Baghdad tidak memiliki masjid.
Sebagai madrasah terbesar di zamannya, madrasah ini diajar oleh para guru besar yang
memiliki reputasi tinggi, seperti Abu Ishaq al-Syirazi (w. 476/1083), al-Kiya al-Harasi, dan
al-Ghazali (1058-1111 M) yang tercatat sebagai pemikir terbesar dengan sebutan Imam al-
Ghazali dan pengaruhnya cukup kuat di Timur. Madrasah yang beridiri hampir dua abad ini
akhirnya hancur, sekaligus melambangkan kehancuran Islam pada masa pemerintahan
Abbasiah, setelah Hulagu Khan (1256-1349 M) melakukan penyerbuan besar-besaran ke
Baghdad.
Ketiga, Universitas Al-Azhar di Kairo. Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir ini tidak
terlepas dari eksistensi Abbasiah-Syiah yang pengaruh kekuatan politiknya mulai melemah.
Di sinilah wilayah-wilayah kekuasaan Daulat Ababsiah seperti Thahiriyah, Safawiyah,
Samawiyah, Thuluniyah, Fathimiyah, Ghaznawiah, dan lain-lain menuntut otonomisasi.
Daulah Fathimiyah (909-1171 M) misalnya, segera bangkit di Tunis. Ubaidillah al-Mahdi
diangkat sebagai khalifah pertama Fathimiyah yang beraliran
Syiah. Pada masa pemerintahan Muiz li Dinillah (952-975 M), khalifah IV dari
Fathimiyah, Lybia dan Mesir berhasil ditaklukkan di bawah panglima besarnya, Jauhar
al-Siqili (362 H/972 M) dari Daulah Abbasiah, yang dikenal sebagai pendiri ibukota
baru Mesir, Kairo (dulu Fustat). Kemudian ibu kota Syria dipindahkan dari Tunis ke
Kairo, Mesir. Al-Siqili pula yang membangun perguruan tinggi Al-Azhar berdasarkan
ajaran sekte Syiah. Selanjutnya, pada masa khalifah al-Hakim bin Amrillah (996-1020
M), dibangun perpusatakaan terbesar di Kairo, Bait al-Hikmah, yang disebut-sebut
sebagai corong propaganda kesyiahan. Konon, al-Hakim mengeluarkan dana 275
dinar untuk menggandakan manuskrip dan perbaikan buku-buku. Kurikulum yang
dikembangkan lebih banyak ber-orientasi pada masalah-masalah keislaman, astronomi
dan kedokteran. Ali Ibn Yunus, Ali al-Hasan, dan Ibnu al-Haitam, tercatat sebagai tokoh
yang mengembangkan ilmu astronomi. Dalam masa ini kurang lebih seratus karya
tentang matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran telah dihasilkan. Bahkan, pada
masa al-Muntasir, terdapat perpustakaan yang di dalamnya berisi 200.000 buku. Pada
tahun 567 H/1171 M, Shalahuddin al-Ayyubi (1171-1193 M) berhasil merebut Daulah
Fathimiyah dan mendirikan Daulat Ayubiyyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk
kembali kepada Abbasiah. Al-Azhar saat itu beralih kurikulum dan orientasi Syi’ah ke
Sunni, tetapi Al-Azhar tetap berdiri tegak hingga abad ke-21 ini.
Di Universitas Al-Azhar ini, rektor (syekh Al-Azhar), selain merupakan jabatan
akademis, juga merupakan kedudukan politis yang berwibawa vis avis kekuasaan politik.
Tetapi, sejak Dinasti Usmaniah (1517-1798) pamor Al-Azhar mulai menurun, sehingga
Muhammad Ali mengintervensi Al-Azhar dalam membenahi Al-Azhar sejak paroh abad
ke-19. Kenyataan ini pula yang membawa preseden lenyapnya “independensi” Al-Azhar
sebagai lembaga akademis, yang pada gilirannya mempengaruhi otoritas dan pamornya,
terutama dalam hubungannya dengan kekuasaan politik hingga kini.
Keempat, Universitas Cordova, Pemerintahan Abdurrahman I dipandang sebagai
tonggak kemajuan ilmu dan kebudayaan di Cordova. Sejarah mencatat bahwa Aelhoud
dari Bath (Inggris) belajar di Cordova pada tahun 1120 M yang mendalami geometri,
aljabar dan matematika.
2. Studi Islam di Dunia Barat
Kejayaan Islam dalam konteks ilmu pengetahuan telah menjadikan perguruan
tinggi Islam “dibanjiri” para mahasiswa dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang
kemudian menjadi tokoh-tokoh atau pemikir Barat. Inilah kontrak pertama dunia Barat
dengan dunia Islam (Muslim). Perguruan tinggi terkenal dalam masa kejayaan antara
lain perguruan tinggi yang berpusat di Irak (dunia Muslim belahan Timur) dan Mesir
serta Cordova (di dunia Muslim belahan Barat). Inilah awal kebangkitan (renaisance)
Barat yang secara perlahan mencapai kemajuan yang gemilang.
Kemajuan Barat juga tidak terlepas dari kegiatan penerjemahan manuskripmanuskrip
berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin sejak abad ke-13 M hingga masa
ranaisance di Eropa abad ke-14 oleh para ilmuan Barat, termasuk tentunya orientalis.
Kegiatan penerjemahan tersebut mendapat dukungan Kaisar Dinasti Romawi (1198-
1212), Raja Frederick dari Sicilia. Kegigihan sang raja akhirnya membuahkan hasil
dengan terbangunnya beberapa perguruan tinggi di Italia, seperti Padua, Florence,
Milano, Venezia, disusul oleh Oxford dan Cambride di Inggris, Sorbone di Perancis,
dan Tubingen di Jerman. Bidang filsafat merupakan yang paling menonjol dari
kegiatan penerjemahan manuskrip tersebut, sehingga lahirlah aliran Skolastik, aliran
Rasionalisme, aliran Emphirisme, dan lain-lain. Kegiatan penerjemahan ini telah
membuka Barat mengembangkan penelitian mereka dalam bidang ilmu pengetahuan di
Barat. Francirs Bacon (1561-1626) telah megilhami para sarjana Barat dalam kegiatan
observasi dan eksperimen, terutama karyanya Novu Organon.
Tercatat tokoh yang mengembangkan ilmu pengetahuan dari penerjemahan
manuskrip Arab tersebut Gerbert d’Auvergne (999-1003 M) dalam bidang kedokteran
dan matematika di abad ke-11 M. Pada pertengahan abad ke-12 M dibentuk semacam
kelompok penerjemah yang diketuai oleh Archdeacon Dominicues Gundasalvi. Kelompok
ini untuk pertama kalinya menerjemahkan humpunan komentas Ibnu Sina dan al-
Ghazali dalam bahasa Latin. Karya Ibnu Sina untuk pertama kalinya diterjemahkan
dalam bidang kedokteran berjudul Canon of Medicine oleh Cromena (w. 1187 M). Tetapi
usaha penerjemahan baru berlangsung secara intensif pada masa Raja Frederik II
(1212-1250 M)m yang menetap di Palermo, ibukota Sicilia. Di Palermo, Raja Frederik II
mengumpulkan para sarjana Yahudi untuk pentingan penerjemahan, kemudia sarjana
Kristen yang mendalami bahasa Arab. Bahkan, Frederik II ini memberikan fasilitas
khusus kepada Michael Scot (1175-1234 M) yang menerjemahkan buku karya Averrous
(Ibnu Rusyd) dan Hermanus Allemanus yang menerjemahkan karya-karya al-Farabes
(al-Farabi). Hermanus Allemanus ini juga menerjemahkan Retorica, terjemahan karya
Aristo (384-322 M) di dalam bahasa Arab serta menerjemahkan Poetic dan Ethica karya
Avverous yang merupakan terjemahan karya Aristo.
Setelah ilmu pengetahuan Islam (Muslim) ‘migran’ ke Barat dan dikembangkan
oleh para sarjana mereka, ternyata banyak ajaran Islam yang menyimpang dari ajaran
sebenarnya, karena telah dirasuki oleh paham sekuler. Inilah yang menyebabkan para
sarjana Muslim melakukan upaya pemurnian ajaran. Ismail Raji al-Faruqi, Naquib al-
Attas, Ali Ashraf, Ziauddin Sardar dan lain-lain, terpanggil untuk upaya ini. Tokoh-tokoh
ini menawarkan gagasan Islamisasi pengetahuan, yakni melakukan penulisan ulang
terhadap ilmu-ilmu modern (produk Barat) dan menanggalkan ciri-ciri sekularismenya.
Upaya lainnya mendirikan universitas-universitas Islam seperti yang terjadi di Pakistan,
International Islamic University, di Washington DC, Islamic of Advanced Studies, atau
The International Institut of Islamic Thought and Civilization (biasa disebut ISTAC) yang
dipelopori oleh Naquib al-Attas.
Dalam perkembangan selanjutnya, studi Islam di Barat sedikit bervariasi. Di Chicago
University, studi Islam menekankan pada bidang pemikiran Islam, bahasa Arab, naskah
klasik dan bahasa-bahasa Islam non Arab. Studi Islam tersebut berada di bawah Pusat
Studi Timur Tengah dan Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Timur Dekat, di Amerika,
studi Islam pada umumnya menekankan pada studi sejarah Islam, bahasa-bahasa
Islam selain bahasa Arab, sastra dan ilmu-ilmu sosial, yang berada di bawah Pusat
Studi Timur Tengah atau Timur Dekat. Di UCLA, studi Islam dibagi empat komponen.
Pertama, mengenai doktrin dan sejarah Islam, termasuk pemikiran Islam. Kedua, bahasa
Arab dan teks-teks klasik mengenai sejarah, hukum dan lain-lain. Ketiga, bahasa-bahasa
non Arab yang muslim, seperti Urdu, Persia, Turki, bahasa yng telah menghantarkan
kebudayaan. Keempat, ilmu-ilmu sosial, sejarah bahasa Arab, bahasa-bahasa Islam,
sosiologi dan lain-lain.
Di London, studi Islam digabungkan dalam School of Oriental and African Studies,
fakultas mengenai studi Ketimuran dan Afrika, yang memiliki berbagai jurusan Bahasa
dan Kebudayaan Asia dan Afrika. Salah satu program studi di dalamnya program MA
tentang masyarakat dan budaya Islam yang dapat dilanjutkan ke jenjang doktor. Di
Kanada studi Islam menekuni kajian budaya dan peradaban Islam di zaman Nabi
Muhammad hingga masa kontemporer, memahami ajaran Islam dan masyarakat Muslim
di seluruh dunia, dan mempelajari bebagai bahasa Muslim, seperti bahasa Persia, Urdu,
dan Turki. Sedangkan di Belanda, yang dulunya menganggap tabu mempelajari Islam,
ternyata masih menyisakan kajian Islam di Indonesia, walaupun tidak menekankan
pada aspek sejarah Islam itu sendiri.
3. Studi Islam di Indonesia
Perkembangan studi Islam di Indonesia dapat dilihat dari perkembangan lembaga
pendidikan, mulai dari sistem pendidikan langgar, sistem pesantren, sistem pendidikan
di kerajaan-kerajaan Islam, hingga munculnya sistem kelas. Pendidikan pesantren dan
madrasah sangat menonjol dalam studi Islam di Indonesia.
Di samping pesantren, perguruan tinggi Islam tentu menjadi sebuah lembaga paling
diminati untuk studi Islam secara komprehensif. Perguruan Tinggi Islam di Indonesia,
seperti STAIN, IAIN,dan UIN, dapat dijadikan rujukan bagi pengembangan studi Islam.
Munculnya gagasan pendirian perguruan tinggi Islam seperti IAIN/STAIN tidak terlepas
dari kesadaran kaum Muslim yang dilatarbelakangi berbagai faktor. Pertama, untuk
mengakomodasi kalangan yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan ke Timur
Tengah. Kedua, keingingan untuk mewujudkan lembaga pendidikan Islam sebagai
kelanjutan pesantren dan madrasah. Keingingan untuk menyeimbangkan jumlah kaum
terpelajar tamatan sekolah “sekuler” dengan tamatan sekolah agama. Gagasan ini
datang dari kalangan agamawan, juga muncul dari kalangan terpelajar Muslim tamatan
sekolah “sekuler” (Husni Rahim, 2001:178). Dr. Satiman termasuk yang mengusulkan
gagasan perguruan tinggi Islam ini. Ia sempat mendirikan Yayasan Pesantren Luhur
tahun 1938, yang kandas karena ada intervensi pihak penjajah. Di Sumatera Barat, pada
tahun 1940, sejumlah guru Muslim mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) walaupun
hanya bertahan dua tahun karena pendudukan Jepang. Upaya yang sama dilakukan
oleh tokoh-tokoh nasional seperti Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, KH. Wahid
Hasyim, dan KH. Mas Mansyur. Pada 8 Juli 1945 tokoh-tokoh tersebut mendirikan
Sekolah Tinggi Islam (STI) di Yogyakarta di bawah pimpinan Kahar Mudzakir. Ketika
revolusi kemerdekaan, STI berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII)
dengan mengembangkan empat fakultas, yaitu Fakultas Agama, Fakultas Hukum,
Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Pendidikan.
Lembaga pendidikan tinggi Islam tersebut, secara formal, baru direalisasikan
oleh pemerintah pada tahun 1950 di Yogyakarta. Bersamaan dengan itu, pemerintah
mengubah status Universitas Gadjah Mada menjadi universitas negeri sesuai dengan
PP No. 37/1950 yang dibentuk bagi golongan nasionalis. Pada saat yang sama, kepada
kelompok Islam diberikan perguruan tinggi agama Islam (PTAIN) dengan mengubah
status Fakultas Agama UII. Tidak berselang lama Departemen Agama mendirikan
Akademi Dinas Ilmu Agama (AIDA) di Jakarta pada 1 Juli 1957, sebagai lembaga yang
dipersiapkan untuk mendidik pegawai negeri dengan kemampuan akademik dan semi
akademik tingkat diploma sebagai guru agama di SLTP (Husni Rahim, 2001:178).
Jumlah mahasiswa PTAIN dalam satu dekade semakin banyak, termasuk yang datang
dari negeri tetangga, Malaysia. Berdasarkan perkembangan-perkembangan itulah
dan pertimbangan-pertimbangan lain yang bersifat akademis, pada 24 Agustus 1960, presiden
mengeluarkan PP No. 11 yang menggabungkan PTAIN dan AIDA menjadi Institut Agama
Islam Negeri (IAIN). Sejak itulah secara berturut-turut di beberapa wilayah propinsi
Indonesia berdiri IAIN sebagai sarana bagi masyarakat Muslim untuk mendapatkan
pendidikan tinggi.
Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, orientasi kelembagaan dan
kurikulum perguruan tinggi Islam tersebut mengalami berbagai inovasi. Tetapi, inovasi
tersebut belum diimbangi oleh ketersediaan dosen ahli (expert) dalam bidang ilmunya.
Sebagaimana dikatakan Atho Mudzhar, bahwa dalam upaya mengembangkan perguruan
tinggi untuk masa depan, hal yang perlu dibenahi antara lain, memposisikan disiplin
ilmu mana yang termasuk ilmu inti dan mana yang termasuk ilmu bantu. Sejauh ini,
beberapa IAIN/STAIN belum mampu memetakan berbagai ilmu ke dalam dua kategori
tersebut. Di sini diperlukan dosen yang ahli (expert) dalam bedah ilmu Bantu, seperti
Sosiologi Agama, Filosofi Agama, Psikologi Agama, dan sebagainya. Beberapa IAIN/
STAIN telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu
(interdisipliner), tidak hanya ilmu-ilmu keagamaan, tetapi mencakup ilmu-ilmu eksakta,
sosial, humaniora, dan lain-lain. Di samping itu, beberapa IAIN/STAIN telah membuka
program studi umum, dan bahkan fakultas umum.
Tampaknya IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta,
IAIN Sunan Gunung Djati di Bandung, IAIN Alauddin di Makassar, dan STAIN Malang,
di Jawa Timur, telah lebih maju mengembangkan berbagai disiplin ilmu daripada IAIN/
STAIN lainnya di Indonesia. Studi Islam intersipliner di beberapa IAIN/STAIN tersebut
mendorong lembaga-lembaga tersebut menjadi universitas, yang mempelajari bukan
hanya ilmu agama, sebagaimana yang dikesani orang selama ini, tetapi juga ilmuilmu
umum (profan). Dengan demikian, sehingga tahun 2009,9 telah tercatat enam
Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia, yaitu Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang, dan Universitas Negeri Alauddin Makassar. 11

D. Pendekatan dan Metodologi studi Islam.

1. Pendekatan Studi Islam


Kehadiran agama merupakan solusi dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi
manusia. Agama tidak hanya sekedar lambang kesalehan atau berhenti sekedar konsepsional
menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah. Tuntutan terhadap
agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak
menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang
menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan
jawaban terhadap masalah yang timbul. Agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai
paradigma.12
Untuk melakukan Studi Islam ada beberapa istilah yang perlu dipahami dengan baik.
Pemahaman terhadap istilah-istilah ini akan memudahkan untuk memasuki bidang studi
Islam. Istilah-istilah tersebut adalah: pendekatan, metode dan metodologi. Pendekatan adalah
cara memperlakuakan sesuatu (a way of dealing with something), Sementara metode
merupakan cara mengerjakan sesuatu (a way of doing something). Secara etimologis kata
metodologi diderivasi dari kata method yang berarti “cara” dan logos yang berarti “teori” atau
“ilmu”. Jadi kata metodologi mempunyai arti suatu ilmu atau teori yang membicarakan
cara.13

Pendekatan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Pendekatan Teologis
Suatu pendekatan yang normatif dan subjektif terhadap agama. Pada umumnya,
pendekatan ini dilakukan dari dan oleh penganut suatu agama dalam usahanya menyelidiki
agama lain. Dengan demikian, pendekatan ini juga disebut pendekatan atau metode tekstual,
atau pendekatan kitabi maka menampakkan sifatnya yang apologis dan dedukatif. Secara
harfiah pendekatan teologis normatif dalam memahami agama dapat diartikan sebagai upaya
memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu

11

12
Nata, Metodologi Studi, h. 28
13
Abdul Rozak, Cara Memahami Islam: Metodologi Studi Islam (Bandung: Gema Media Pustakatama, 2001), h. 27
keyakinan bahwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar
dibandingkan dengan yang lainnya.
Dalam era kontemporer ada empat prototype pemikiran keagamaan Islam yaitu,
pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, nasionalis, dan tradisional. Keempat
prototype pemikiran keagamaan tersebut sudah tentu tidak mudah untuk disatukan begitu
saja. Masing-masing mempunyai “keyakinan” teologis yang sering sulit untuk didamaikan.
Mungkin kurang tepat menggunakan istilah “teologis” disini, tetapi menunjuk pada gagasan
pemikiran keagamaan yang terinsipirasi oleh paham ketuhanan dan pemahaman kitab suci
serta penafsiran ajaran tertentu adalah bentuk dari pemikiran teologi dalam bentuk wajah
baru.14
Salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat kritisnya. Sifat kritis ini ditujukan
pertama-tama pada agamanya sendiri. Telogi sebagai kritik agama berarti antara lain
mengungkapkan berbagai kecenderungan dalam institusi agama yang menghambat
panggilannya, menyelamatkan manusia dan kemanusiaan. Teologi kritis bersifat kritis pula
terhadap lingkungannya. Hal ini hanya dapat terjadi jika agama terbuka terhadap ilmu-ilmu
sosial dan memanfaatkan ilmu tersebut bagi pengembangan teologinya. Dengan demikian
teologi ini bukan hanya berhenti pada pemahaman mengenai ajaran agama, tetapi mendorong
terjadinya transpormasi sosial. Maka beberapa kalangan menyebut teologi kepedulian sosial
itu teologi transformatif.

b. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu
upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat
dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan
jawaban. Dengan kata lain, cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam
melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama lain. Sejalan dengan
pendekatan tersebut, dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya
hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Melalui
pendekatan antropologis, kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja
dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin mengubah

14
Nata, Metodologi Studi, h. 9.
pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka yang perlu diubah adalah pandangan
agamanya.

c. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan
menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba
mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya
perserikatan-perserikatan hidup itu serta kepercayaan, keyakinan yang memberi sifat
tersendiri kepada cara hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia.
Suatu ilmu yang menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan,
serta berbagai gejala sosial yang berkaitan. Dengan ilmu ini suatu fenomena sosial dapat
dianalisis dengan faktor-faktor yang mendorong terjadi hubungan, mobilitas sosial, serta
keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses tersebut.
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami agama dapat dipahami karena
banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama
terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial
sebagai alat untuk memahami agamanya.

d. Pendekatan Filosofis
Pendekatan filosofis adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan
berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan metode
analisis spektulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk memecahkan masalah atau
pertanyaan dan menjawab suatu persoalan, namun demikian tidak semua berpikir untuk
memecahkan dan menjawab suatu permasalahan dapat disebut filsafat. Dimaksud filsafat
disini adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal. Di samping itu, filsafat
mempunyai bidang (objek yang dipikirkan) sendiri, yaitu bidang atau permasalahan yang
bersifat filosofis yakni bidang yang terletak di antara dunia ketuhanan yang ghaib dengan
dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani
kesenjangan antara masalah-masalah yang bersifat keagamaan semata-mata dengan masalah
yang bersifat ilmiah.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran
sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran
agamanya. Namun demikian pendekatan seperti ini masih belum diterima secara merata
terutama oleh kaum tradisionalis formalistis yang cenderung memahami agama terbatas pada
ketepatan melaksanakan aturan-aturan formalistis dari pengalaman agama.15

e. Pendekatan Historis
Historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan
memperhatikan unsur tempat, waktu objek, latar belakang, dan pelaku peristiwa tersebut.
Maksud pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut peninjauan
sejarah, dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode
analisis sejarah. Sejarah atau historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa atau
kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan sebenarnya. Melalui pendekatan
sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan
mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan
antara yang terdapat dalam alam idealis dengan di alam empiris dan historis. 16
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang
sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini maka seseorang tidak akan
memahami agama keluar dari konteks memahaminya, karena pemahaman demikian itu akan
menyesatkan orang yang memahaminya.17

f. Pendekatan Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan
segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan terdapat pengetahuan,
keyakinan, seni, moral, adat istiadat dan sebagainnya. Kesemuannya itu selanjutnya
digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seseorang dalam menjawab berbagai
masalah yang dihadapinya. Dengan demikian kebudayaan tampil sebagai pranata yang secara
terus-menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi
kebudayaan tersebut.
Kebudayaan selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami apa yang terdapat pada
dataran empirisnya atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di
masyarakat. Agama yang tampil dengan bentuk demikian berkaitan dengan kebudayaan yang
berkembang di masyarakat tempat agama itu berkembang. Melalui pemahaman terhadap

15
Ibid., h. 42-46.

16
Anwar, [Link]., Pengantar Studi, h. 90-92
17
Nata, Metodologi Studi, h. 46-48
kebudayaan tersebut, seseorang akan dapat mengamalkan ajaran agama. Sering dijumpai
misalnya kebudayaan bergaul, berpakaian, bermasyarakat, dan lain sebagainya.18
G. Pendekatan Psikologi
Pendekatan psikologi merupakan usaha untuk memperoleh sisi ilmiah dari aspek-aspek
batin pengalaman keagamaan. Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa
seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamati. Dengan ilmu jiwa ini, selain akan
mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami, diamalkan, dan juga dapat
digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama kedalam jiwa seseorang sesuai dengan
tingkatan usiannya. Dengan ilmu ini, agama akan menemukan cara yang tepat untuk
menanamkannya. Misalnya dapat mengetahui pengaruh shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah
lainnya melalui ilmu jiwa. Dengan pengetahuan ini dapat disusun langkah-langkah baru yang
lebih efisien dalam menanamkan ajaran agama. Itulah sebabnya ilmu jiwa ini banyak
digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaan seseorang.
Zakiah Daradjat, menjelaskan bahwa perilaku seseorang yang nampak lahiriyah terjadi
karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Seseorang ketika berjumpa saling
mengucapkan salam, hormat pada kedua orang tua, kepada guru, kepada ulama, menutup
aurat, malu dalam melakukan kesalahan, rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya
adalah merupakan gejala-gejala keagamaan yang dapat dijelaskan melalui ilmu jiwa agama. 19
Ilmu jiwa agama sebagaimana dikemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan mempersoalkan
benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah
bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhya dalam perilaku penganutnya.
Dalam ajaran agama banyak dijumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin
seseorang. Misalnya sikap beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, sebagai orang yang
shaleh, orang yang berbuat baik, orang yang adil (jujur) dan sebagainya. Semua itu adalah
gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama.

H. Pendekatan Doktriner
Pendekatan doktriner atau pendekatan studi Islam secara konvensioanal merupakan
pendekatan studi di kalangan umat Islam yang berlangsung adalah bahwa agama Islam
sebagai objek studi diyakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin-doktrin yang
berasal dari Illahi yang mempunyai nilai (kebenaran) absolut, mutlak dan universal.
Pendekatan doktriner juga berasumsi bahwa ajaran Islam yang sebenarnya adalah ajaran

18
Anwar, [Link]., Pengantar Studi, h. 93
19
Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 76
Islam yang berkembang pada masa salaf yang menimbulkan berbagai mazhab keagamaan,
baik teologis maupun hukum-hukum atau fikih, yang kemudian di anggap sebagai doktrin-
doktrin yang tetap dan baku.20

20
Muhaimin, et. al., Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 12-14

Anda mungkin juga menyukai