COMPOUNDING
“Optimasi Konsentrasi Pulvis Gummi Arabicum (Pga) Sebagai
Emulgator Formulasi Emulsi Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma
Longa)”
Dosen Pengampu : Novarianti Marbun, [Link]., [Link]
DISUSUN OLEH :
1. Marselia 2318092
2. Naila Safia Butar Butar 2318111
3. Nurul Maqfirah 2318131
4. sandrina pratiwi 2318154
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA DELI TUA
TAHUN 2025/2026
1.1 Latar Belakang
Penyakit maag (gastritis) adalah peradangan pada mukosa lambung yang
dipicu oleh pola makan tidak teratur, stres, dan gaya hidup tidak sehat. Salah satu
pengobatan tradisional yang digunakan masyarakat adalah kunyit (Curcuma
longa), yang mengandung kurkumin sebagai senyawa aktif dengan efek anti-
inflamasi dan pelindung lambung.
Namun, kurkumin sulit larut dalam air, sehingga penyerapannya rendah.
Untuk mengatasinya, dibuat sediaan emulsi yang dapat meningkatkan kelarutan
zat aktif. Penelitian ini menggunakan Pulvis Gummi Arabicum (PGA) sebagai
emulgator alami dengan konsentrasi 20%, 25%, dan 30% untuk menentukan
formula paling stabil dari emulsi ekstrak etanol rimpang kunyit sebagai alternatif
obat tradisional gastritis.
1.2 Tujuan Compounding
Mengetahui pengaruh variasi konsentrasi Pulvis Gummi Arabicum (PGA)
sebagai emulgator terhadap stabilitas fisik emulsi ekstrak etanol rimpang kunyit
(Curcuma longa), serta menentukan konsentrasi PGA yang paling optimal dalam
menghasilkan emulsi yang stabil, homogen, memiliki viskositas baik, dan pH
yang sesuai, sehingga dapat digunakan sebagai sediaan obat herbal untuk
mengatasi gastritis (maag).
1.3 Formulasi Gel Compounding
Bahan F1 (20%) F2 (25%) F3 (30%)
Ekstrak etanol rimpang kunyit 20% 20% 20%
Olive oil 20% 20% 20%
Pulvis Gummi Arabicum (PGA) 20% 25% 30%
Sorbitol 15% 15% 15%
Asam sitrat 0,25% 0,25% 0,25%
Natrium sitrat 0,25% 0,25% 0,25%
Natrium benzoat 0,1% 0,1% 0,1%
Bahan F1 (20%) F2 (25%) F3 (30%)
Essence mint q.s. q.s. q.s.
Air suling hingga 100% 100% 100%
1.4 Metode Penelitian
Jenis penelitian : Eksperimen murni (true experimental research).
Bahan:
Ekstrak etanol rimpang kunyit, olive oil, Pulvis Gummi Arabicum (PGA),
sorbitol, asam sitrat, natrium sitrat, natrium benzoat, essence mint, dan air suling.
Alat:
Timbangan analitik, blender, mortir dan stamper, oven, pH-meter digital,
viskometer Brookfield, gelas ukur, dan alat gelas laboratorium lainnya.
Desain penelitian:
Formulasi sediaan emulsi ekstrak etanol rimpang kunyit dengan variasi
konsentrasi PGA:
o F1 (20%), F2 (25%), dan F3 (30%).
Metode pembuatan menggunakan metode gom basah (4 bagian minyak : 2
bagian gom : 1 bagian air).
Setiap formula disimpan dan dievaluasi selama 7 hari pada suhu ruang.
Uji yang dilakukan:
Uji organoleptik (warna, bau, tekstur)
Uji viskositas
Uji redispersi
Uji tipe emulsi
Uji PH
1.5 Hasil Penelitian
Hasil Ekstraksi :
Ekstrak etanol rimpang kunyit yang diperoleh berwarna kuning kecokelatan,
bertekstur kental, berbau khas kunyit, dengan rendemen sebesar 24,385%.
Hasil evaluasi sediaan:
Uji organoleptik
Semua formula (F1, F2, F3) memiliki warna coklat, aroma mint, dan
tekstur cairan kental yang stabil selama 7 hari penyimpanan.
Uji viskositas
Viskositas meningkat seiring bertambahnya konsentrasi PGA. Nilai
viskositas hari ke-1 berturut-turut:
o F1: 870,67 ± 2,08 cPs
o F2: 906,33 ± 0,58 cPs
o F3: 1013,33 ± 2,08 cPs
Pada hari ke-7, viskositas semua formula meningkat sedikit dan
tetap stabil.
Uji redispersi
Formula dengan PGA lebih tinggi membutuhkan pengocokan lebih sedikit
untuk kembali homogen.
o F1: 6,67 ± 0,58 kali
o F2: 4,33 ± 1,15 kali
o F3: 2,67 ± 1,15 kali
Uji tipe emulsi
Semua formula termasuk tipe minyak dalam air (M/A) dan tetap stabil
selama penyimpanan.
Uji pH
pH hari pertama berada pada kisaran 4,68–4,79, dan mengalami sedikit
penurunan hingga hari ke-7 namun tetap dalam batas stabilitas yang aman.
Hasil hampir setara dengan kontrol positif Bioplacenton®, yang
mengandung placenta extract dan neomycin sulfate.
Formula dengan kadar bromelin 0,1% dan 0,5% menunjukkan pemulihan
lebih lambat.
Tidak ditemukan iritasi pada semua kelompok.
1.6 Mekanisme Kerja Kunyit
Kunyit bekerja dengan:
Kurkumin berperan sebagai antiinflamasi dengan menghambat enzim
siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase (LOX) yang memicu
peradangan pada lambung.
Menurunkan produksi asam lambung dan meningkatkan sekresi mukus
pelindung pada dinding lambung.
Menetralisir radikal bebas melalui aktivitas antioksidan, sehingga
melindungi mukosa lambung dari kerusakan oksidatif.
Mempercepat regenerasi jaringan epitel lambung yang rusak akibat iritasi
atau luka.
Memiliki efek antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan
Helicobacter pylori, penyebab utama gastritis.
1.7 Sediaan Pembanding
Nama produk: Scott’s Emulsion Original
Produsen: GlaxoSmithKline (GSK)
Bentuk: Sirup emulsi minyak dalam air (oil-in-water)
Komposisi utama: Minyak hati ikan kod (cod liver oil) Vitamin A dan D
Emulgator: xanthan gum, propilena glikol alginat (E405)
Pengawet: kalium sorbat,Sukrosa, sorbitol, air, flavor
Khasiat:
Sebagai suplemen nutrisi untuk membantu pertumbuhan, menjaga daya tahan
tubuh, dan memenuhi kebutuhan vitamin A dan D.
Produk ini termasuk emulsi oral tipe M/A, di mana minyak ikan terdispersi dalam
fase air menggunakan emulgator agar stabil dan homogen.
Kandungan Fungsi
Minyak hati ikan kod Sumber omega-3 untuk otak & mata
Vitamin A & D Menjaga daya tahan & tulang
Kalsium Menguatkan tulang dan gigi
Perasa jeruk & pemanis Memberi rasa enak
Kandungan Fungsi
Emulgator & pengawet Menjaga kestabilan produk
Perbandingan Sediaan Emulsi Kunyit Dan Scott’s Emulsion
Aspek Emulsi Kunyit (Penelitian) Scott’s Emulsion (Pasaran)
Zat aktif Ekstrak rimpang kunyit Minyak hati ikan kod,
utama (kurkumin) vitamin A & D
Jenis emulsi Minyak dalam air (M/A) Minyak dalam air (M/A)
Emulgator Xanthan gum, propilena
Pulvis Gummi Arabicum (PGA)
utama glikol alginat
Fase minyak Olive oil Minyak ikan (cod liver oil)
pH 4,6 – 4,8 Netral – sedikit asam
Tujuan Suplemen nutrisi, daya
Gastroprotektor, antiinflamasi
terapi tahan tubuh
Pengawet Natrium benzoat Kalium sorbat
Menggunakan bahan alami, cocok Stabilitas tinggi, rasa lebih
Kelebihan
untuk penelitian farmasi enak dan diterima luas
Rasa pahit, stabilitas jangka Tidak digunakan untuk
Kekurangan
panjang belum diuji terapi lambung
1. Jelaskan pemahamanmu seberapa penting compounding dalam
memberikan efek
terapi obat.
Compounding berperan penting dalam mengoptimalkan efek terapi zat aktif
agar stabil, mudah digunakan, dan efektif diserap tubuh.
Dalam jurnal “Formulasi Emulsi Ekstrak Rimpang Kunyit” (Subagia dkk.,
2019), kegiatan compounding dilakukan untuk:
o Mengubah ekstrak kunyit yang sukar larut air menjadi sediaan
emulsi minyak dalam air (M/A) agar kurkumin dapat terlarut dan
mudah diserap.
o Melalui proses formulasi yang mencakup penentuan konsentrasi
emulgator (PGA), pH, viskositas, dan homogenitas, farmasis
memastikan stabilitas fisik dan kimia sediaan tetap terjaga.
o Tanpa proses compounding yang tepat, zat aktif kurkumin akan
sulit larut, tidak stabil, dan efek terapinya terhadap gastritis tidak
optimal
2. Apabila kamu harus menjelaskan sediaan semi solid, suspensi, dan
emulsi, jelaskan konsep persamaan dan perbedaannya.
Aspek Semi Solid (Gel) Suspensi Emulsi
Campuran dua
Zat padat tidak
Padat terdispersi dalam cairan yang tidak
Fase larut terdispersi
cairan (bentuk gel) saling larut
dalam cairan
(minyak-air)
Untuk obat tak Untuk sediaan
Untuk pemakaian luar
Kegunaan larut air topikal, kosmetik,
(topikal), misal luka bakar
(oral/topikal) dan parenteral
Ketiganya merupakan
sistem dispersi,
Persamaan memerlukan stabilisator
agar tidak terjadi pemisahan
fase
Suspensi: Emulsi: campuran
Perbedaan Gel: kental & bening (semi
mengandung dua cairan (misal
utama solid)
partikel padat minyak & air)
2. Hal apa yang menjadi alasan berhasilnya kamu melakukan seni
compounding.
Aspek Penilaian Indikator Keberhasilan
Emulsi terbentuk merata; fase minyak dan air stabil tanpa
Homogenitas
pemisahan.
Stabilitas Warna, bau, dan tekstur tetap selama 7 hari; viskositas
fisik meningkat stabil; tipe emulsi tetap minyak dalam air (M/A).
Stabilitas kimia pH stabil pada kisaran 4,6–4,8 selama penyimpanan.
Efektivitas Konsentrasi PGA 30% menghasilkan emulsi paling baik
formulasi (redispersi cepat dan viskositas optimal).
Semakin tinggi konsentrasi PGA → semakin stabil dan
Kesimpulan
homogen sediaan emulsi.
3. Apa hubungan farmasi dan bahan tambahan (ekspisien) dengan zat
aktifnya dalam ilmu compounding dan sediaan semi solid.
Dalam ilmu farmasi fisik, interaksi antara zat aktif dan bahan tambahan
(ekspisien) sangat berpengaruh terhadap sifat fisik, kestabilan, dan efektivitas
sediaan. Prinsip farmasi fisik digunakan untuk memastikan bahwa setiap
komponen dalam formula saling mendukung dan tidak saling mengganggu.
Dalam jurnal Formulasi Emulsi Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit:
PGA (Pulvis Gummi Arabicum) meningkatkan viskositas dan stabilitas
termodinamika, sehingga fase minyak (olive oil) dan air tidak mudah
terpisah.
Sorbitol menjaga kelembaban (humektan) dan membantu penyebaran zat
aktif secara merata.
Sistem buffer (asam sitrat & natrium sitrat) mempertahankan pH stabil,
mencegah degradasi kurkumin.
Natrium benzoat menambah stabilitas mikrobiologis, mencegah
pertumbuhan bakteri atau jamur.
Farmasi fisik juga berperan pada keseimbangan viskositas dan tegangan
antar muka, yang menentukan tekstur, homogenitas, dan kenyamanan
sediaan saat digunakan.
Dengan demikian, kompatibilitas bahan tambahan dengan zat aktif kurkumin
menjadi kunci agar sediaan stabil, homogen, tidak terpisah, dan tetap efektif
sebagai antiinflamasi.
Jika hubungan ini tidak seimbang, maka emulsi bisa mengalami pemisahan fase,
perubahan pH, penurunan viskositas, atau hilangnya aktivitas obat.
Kesimpulan
Penelitian “Formulasi Emulsi Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma longa)”
menunjukkan bahwa Pulvis Gummi Arabicum (PGA) berperan penting sebagai
emulgator alami yang dapat meningkatkan stabilitas, viskositas, dan homogenitas
sediaan emulsi. Dari tiga formula yang diuji, peningkatan konsentrasi PGA
terbukti meningkatkan kestabilan fisik sediaan, dengan hasil terbaik pada formula
F3 (PGA 30%), yang memiliki viskositas tertinggi, pH stabil, dan waktu redispersi
paling cepat. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi konsentrasi PGA,
semakin baik kemampuan emulgator dalam menjaga kestabilan emulsi dan
efektivitas zat aktif kurkumin sebagai antiinflamasi dan pelindung mukosa
lambung.
Jika dibandingkan dengan Scoots Emulsion, keduanya sama-sama merupakan
emulsi tipe minyak dalam air (M/A), tetapi menggunakan jenis emulgator yang
berbeda. Scoots Emulsion memakai emulgator sintetis seperti cetyl alcohol atau
stearic acid yang memberikan kestabilan jangka panjang, sedangkan emulsi
ekstrak kunyit menggunakan emulgator alami (PGA) yang lebih aman dan
biokompatibel, namun memiliki stabilitas fisik yang relatif lebih rendah.
Secara keseluruhan, formulasi emulsi ekstrak kunyit dengan PGA dinilai potensial
sebagai sediaan herbal alami dengan prinsip farmasi fisik yang baik, meskipun
perlu penelitian lanjutan untuk meningkatkan stabilitas jangka panjang dan
efektivitas klinisnya agar sebanding dengan sediaan emulsi sintetis seperti Scoots
Emulsion.
DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H. C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi 4. Jakarta:
UI Press.
Arisanti, C. I. S., Subagia, I. K., & Samirana, P. O. (2021). Formulasi
Sediaan Salep Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.)
dengan Basis Carbopol 940. Jurnal Farmasi Udayana, 10(2), 65–71.
Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Hartati, S. Y. (2013). Khasiat Kunyit sebagai Obat Tradisional dan
Manfaat Lainnya. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri,
19(2), 5–9.
Rahman, M., & Jamshaid, M. (2016). Formulation and Evaluation of
Scoots Emulsion as a Topical Pharmaceutical Preparation. International
Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 37(2), 45–50.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., & Quinn, M. E. (2009). Handbook of
Pharmaceutical Excipients. 6th Edition. London: Pharmaceutical Press.
Yadav, R. P., & Tarun, G. (2017). Versatility of Turmeric: The Golden
Spice of Life. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 6(1), 41–46.
COMPOUNDING
“UJI PENYEMBUHAN LUKA BAKAR GEL ENZIM
BROMELIN MENGGUNAKAN CARBOPOL 940 SECARA IN
VIVO’’
Dosen Pengampu : Novarianti Marbun, [Link]., [Link]
DISUSUN OLEH :
5. Marselia 2318092
6. Naila Safia Butar Butar 2318111
7. Nurul Maqfirah 2318131
8. Sandrina Pratiwi 2318154
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA DELI TUA
TAHUN 2025/2026
1.1 Latar Belakang
Luka bakar merupakan kerusakan jaringan yang terjadi akibat kontak
dengan sumber panas, bahan kimia, listrik, atau radiasi. Kondisi ini memicu
pembentukan radikal bebas dan proses inflamasi yang dapat memperlambat
penyembuhan serta meninggalkan bekas luka yang mengganggu fungsi dan
estetika kulit.
Salah satu cara penanganan luka bakar adalah dengan penggunaan sediaan topikal
berbentuk gel, karena mudah diaplikasikan, memberikan efek dingin, dan
meningkatkan kenyamanan pasien. Carbopol 940 sering digunakan sebagai basis
gel hidrofilik karena memiliki daya sebar yang baik, mudah dicuci dengan air,
tidak menyumbat pori-pori, serta aman dan tidak menimbulkan iritasi.
Sementara itu, bromelain, enzim proteolitik alami dari tanaman nanas
(Ananas comosus), dikenal memiliki aktivitas anti-inflamasi, fibrinolitik, dan
debriding yang membantu proses pembersihan jaringan mati serta mempercepat
regenerasi jaringan baru. Kombinasi antara bromelain dan basis Carbopol 940
diharapkan dapat menghasilkan gel topikal yang efektif dan aman untuk
mempercepat penyembuhan luka bakar.
1.2 Tujuan Compounding
Mengetahui efektivitas gel bromelin dengan basis Carbopol 940 terhadap
penyembuhan luka bakar serta menentukan formula optimal dari segi konsentrasi
bahan aktif dan karakter fisik sediaan.
1.3 Formulasi Gel Compounding
Bahan Konsentrasi Fungsi
Carbopol 940 0,5% Basis gel
Triethanolamine (TEA) secukupnya Penetral pH & pembentuk gel
Propilen glikol 10% Humektan
Gliserin 5% Pelembab
DMDM Hydantoin 0,5% Pengawet
Bromelin 0,1%, 0,5%, 1% Zat aktif
Aquadest ad 100% Pelarut
Bahan Konsentrasi Fungsi
1.4 Metode Penelitian
Jenis penelitian: Eksperimen murni (in vivo)
Subjek: 5 ekor kelinci jantan (1,5–2,5 kg)
Desain:
Optimasi basis gel Carbopol 940 dengan tiga konsentrasi:
F1 (0,5%), F2 (1%), F3 (1,5%)
Formula terbaik (F1) kemudian dikombinasikan dengan 3 variasi kadar
bromelin:
F1A (0,1%), F1B (0,5%), F1C (1%)
Uji yang dilakukan:
Uji organoleptik (warna, bau, tekstur)
Uji pH
Uji viskositas
Uji daya lekat & daya sebar
Uji homogenitas
Uji iritasi kulit
Uji efektivitas penyembuhan luka secara in vivo
Analisis data menggunakan One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95%.
1.5 Hasil Penelitian
1. Hasil Penelitian Evaluasi Fisik Gel
Semua formula memiliki warna keruh, bau khas, dan homogen.
Nilai pH: 6,0–6,5 (sesuai pH kulit manusia 4,5–6,5).
Daya sebar: 5–7 cm (memenuhi standar SNI).
Daya lekat: >60 detik (memenuhi syarat).
Tidak ada tanda iritasi (eritema/edema) pada kulit kelinci.
2. Hasil Uji In Vivo (Penyembuhan Luka Bakar)
Pengamatan dilakukan selama 15 hari.
Formula dengan bromelin 1% (F1C) menunjukkan penyembuhan tercepat:
o Luka mulai menutup pada hari ke-9.
o Luka tertutup sempurna pada hari ke-15.
Hasil hampir setara dengan kontrol positif Bioplacenton®, yang
mengandung placenta extract dan neomycin sulfate.
Formula dengan kadar bromelin 0,1% dan 0,5% menunjukkan pemulihan
lebih lambat.
Tidak ditemukan iritasi pada semua kelompok.
1.6 Mekanisme Kerja Bromelin
Bromelin bekerja dengan:
Menghidrolisis fibrin dan jaringan nekrotik.
Memperbaiki kolagen dan elastin rusak.
Merangsang pelepasan faktor pertumbuhan dan angiogenesis.
Mengaktifkan kemokin dan sitokin yang mempercepat pembentukan
jaringan baru.
Memiliki efek antioksidan, anti-inflamasi, dan antimikroba.
1.7 Sediaan Pembanding Gel Luka Bakar (Bioplacenton)
Nama produk:Bioplacenton
Produsen: Kalbe Farma
Bentuk: Salep gel
Komposisi utama: Ekstrak plasenta, Neomisin sulfat
Basis gel: Carbopol 940
Pengawet: Metil paraben, propil paraben
Zat tambahan: Gliserin, propilen glikol, air murni
Khasiat:
Untuk membantu penyembuhan luka, luka bakar, dan ulkus dengan cara
merangsang regenerasi jaringan serta mencegah infeksi bakteri.
Produk ini termasuk sediaan gel topikal, di mana bahan aktif terdispersi secara
homogen dalam basis gel hidrofilik (karbopol) yang mudah diserap kulit dan
memberikan efek pendinginan pada area luka.
Nama Kandungan
No Fungsi / Kegunaan
Kandungan pergram
Merangsang regenerasi jaringan kulit dan
1 Placenta Extract 10 mg
mempercepat penyembuhan luka.
Neomycin Bertindak sebagai antibiotik untuk mencegah
2 0,5 mg
Sulfate infeksi bakteri pada luka.
Sebagai bahan dasar untuk memudahkan
3 Basis Gel Secukupnya
aplikasi dan menjaga kelembapan kulit.
Perbandingan Sediaan Gel Bromelain Dan Gel Bioplacenton
Gel Bromelin Gel Bioplacenton®
Aspek
(Compounding) (Komersial)
Enzim bromelin Ekstrak plasenta 10%
Bahan aktif
(alami dari nanas) 0,1–1% + Neomycin sulfate 0,5%
Carbopol 940 Jelly base
Basis gel
(hidrofilik, tidak iritatif) (tidak dijelaskan rinci)
Proteolitik,debridement, Antibiotik + stimulan biogenik
Mekanisme kerja
regeneratif, antiinflamasi sel
Luka bakar derajat
Kegunaan utama ringan–sedang, luka non- Luka bakar dan luka terinfeksi
infeksi
Keamanan kulit Tidak menimbulkan iritasi (uji Dapat menyebabkan alergi pada
Gel Bromelin Gel Bioplacenton®
Aspek
(Compounding) (Komersial)
individu sensitif (karena
kelinci)
neomycin)
Efektivitas Luka menutup hari ke-15, Penyembuhan cepat, standar
penyembuhan sebanding Bioplacenton klinis
Kelebihan Dapat disesuaikan dosis, bahan Efektif untuk luka infeksi, mudah
Compounding alami, risiko resistensi rendah diperoleh
Tidak mengandung antibiotik
Potensi reaksi alergi dan
Keterbatasan → kurang optimal bila luka
resistensi bakteri
terinfeksi
[Link] pemahamanmu seberapa penting compounding dalam
memberikan efek
terapi obat.
Compounding sangat penting karena menjadi dasar dalam mengoptimalkan
efek terapi obat sesuai kebutuhan pasien.
Dalam jurnal “Uji Penyembuhan Luka Bakar Gel Enzim Bromelin”, kegiatan
compounding dilakukan untuk:
•Mengubah enzim bromelin (bahan alami dari nanas) menjadi sediaan gel topikal
yang mudah digunakan, aman, dan efektif.
•Melalui proses peracikan (penentuan basis, pH, viskositas, homogenitas, dan
konsentrasi zat aktif), farmasis dapat memastikan obat terserap optimal ke kulit
dan memberikan efek terapi maksimal.
•Tanpa proses compounding, zat aktif bromelin tidak akan stabil dan tidak dapat
diaplikasikan secara efektif pada luka bakar.
[Link] kamu harus menjelaskan sediaan semi solid, suspensi, dan emulsi,
jelaskan konsep persamaan dan perbedaannya.
Aspek Semi Solid (Gel) Suspensi Emulsi
Fase Padat terdispersi dalam Zat padat tidak Campuran dua
cairan (bentuk gel) larut terdispersi cairan yang tidak
Aspek Semi Solid (Gel) Suspensi Emulsi
saling larut
dalam cairan
(minyak-air)
Untuk obat tak Untuk sediaan
Untuk pemakaian luar
Kegunaan larut air topikal, kosmetik,
(topikal), misal luka bakar
(oral/topikal) dan parenteral
Ketiganya merupakan
sistem dispersi,
Persamaan memerlukan stabilisator
agar tidak terjadi pemisahan
fase
Gel: kental & bening (semi Suspensi: Emulsi: campuran
Perbedaan
solid) → seperti pada gel mengandung dua cairan (misal
utama
bromelin partikel padat minyak & air)
[Link] apa yang menjadi alasan berhasilnya kamu melakukan seni
compounding.
Keberhasilan dalam seni compounding ditentukan oleh kemampuan farmasis
menguasai teknik formulasi dan karakteristik bahan.
Berdasarkan jurnal bromelin, keberhasilan compounding diukur dari:
Homogenitas → campuran merata, tidak ada partikel kasar.
Stabilitas fisik dan kimia → pH tetap 6–6,5, warna tidak berubah, viskositas
sesuai standar.
Efektivitas biologis → gel bromelin 1% menunjukkan penyembuhan luka
tercepat pada hewan uji.
Keamanan kulit → tidak ada iritasi (uji eritema & edema negatif).
[Link] hubungan farmasi dan bahan tambahan (ekspisien) dengan zat
aktifnya dalam ilmu compounding dan sediaan semi solid.
Hubungan antara farmasi fisik, bahan tambahan, dan zat aktif sangat penting
karena menentukan kestabilan dan efektivitas obat.
Dalam jurnal:
Carbopol 940 → membentuk struktur gel dan menahan air agar sediaan
tetap lembab.
Gliserin & Propilen glikol → berfungsi sebagai humektan yang membantu
penyerapan bromelin ke kulit.
TEA (Triethanolamine) → menetralkan pH agar sesuai dengan pH kulit.
Bromelin (zat aktif) → bekerja mengangkat jaringan nekrotik dan
mempercepat penyembuhan luka.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa kompatibilitas bahan tambahan dengan zat
aktif menentukan keberhasilan formulasi. Jika tidak cocok, gel bisa menjadi tidak
stabil, terpisah, atau kehilangan efektivitasnya.
Kesimpulan
Compounding memungkinkan inovasi sediaan baru berbahan alami,
Keberhasilan formulasi ditentukan oleh keseimbangan bahan aktif dan bahan
tambahan,Farmasis berperan penting memastikan stabilitas, efektivitas, dan
keamanan produk. Hubungan antara bahan tambahan dan zat aktif dalam
compounding harus seimbang agar sediaan semi solid stabil, nyaman, dan efektif
secara terapeutik.
DAFTAR PUSTAKA
Bayat, S. et al. (2019, 2021). Bromelain for Burn Wound Healing in
Animal Models.
Boateng, J.C. et al. (2008). Wound Healing Dressing and Drug
Delivery System.
Hidayanti, U.W. et al. (2015). Optimasi Basis Gel Carbopol 940.
Moenadjat, Y. (2017). Luka Bakar: Pengetahuan untuk Awam. FKUI.
Sehirli, A.O. et al. (2020). Protective Effect of Bromelain on Corrosive
Burn in Rats.