0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan27 halaman

Konsep dan Anatomi Stroke Otak

Stroke, atau Cerebro Vascular Accident (CVA), adalah gangguan mendadak pada sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan kematian sel otak akibat kurangnya pasokan darah, dengan dua jenis utama yaitu iskemik dan hemoragik. Penyebab utama stroke termasuk hipertensi, merokok, alkohol, peningkatan kolesterol, dan obesitas, yang dapat mengakibatkan sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Sistem peredaran darah otak sangat penting untuk memastikan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup, dan gangguan aliran darah dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak.

Diunggah oleh

rsimasyithoh492
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan27 halaman

Konsep dan Anatomi Stroke Otak

Stroke, atau Cerebro Vascular Accident (CVA), adalah gangguan mendadak pada sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan kematian sel otak akibat kurangnya pasokan darah, dengan dua jenis utama yaitu iskemik dan hemoragik. Penyebab utama stroke termasuk hipertensi, merokok, alkohol, peningkatan kolesterol, dan obesitas, yang dapat mengakibatkan sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Sistem peredaran darah otak sangat penting untuk memastikan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup, dan gangguan aliran darah dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak.

Diunggah oleh

rsimasyithoh492
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
Stroke atau Cerebro Vascular Accident (CVA) adalah gangguan sistem saraf pusat
yang paling sering ditemukan dan merupakan penyebab utama gangguan aktivitas fugsional
pada orang dewasa. Gangguan fungsional otak biasanya terjadi secara mendadak dengan
tanda dan gejala klinik baik fokal maupun global yang berlangsung 24 jam atau lebih
(Permatasari, 2020) . Ada dua jenis stroke yaitu iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik
disebabkan oleh adanya penyumbatan akibat gumpalan aliran darah baik itu sumbatan akibat
trombosit atau embolik sedangkan stroke hemoragik disebabkan oleh pendarahan ke dalam
jaringan otak atau ruang subarachnoid (Joyce M Black, 2014). Stroke hemoragik adalah
kondisi dimana otak mengalami kebocoran atau pecahnya pembuluh darah yang ada di
dalam otak, sehingga darah menggenangi atau menutupi ruang-ruang jaringan sel di dalam
otak (Putri Ayundari S, 2021).
Menurut Manefo et al. (2021) stroke diakibatkan karena pembuluh darah otak
mengalami penyumbatan yang menyebabkan otak tidak mendapatkan pasokan darah yang
membawa oksigen yang diperlukan sehingga mengalami kematian sel/jaringan. Kondisi ini
yang menyebabkan jaringan otak yang tertekan aliran darah kekurangan oksigen dan nutrisi
sehingga otak menjadi rusak. Stroke merupakan kematian beberapa sel otak secara
mendadak disebabkan karena kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak hilang karena
adanya penyumbatan atau pecahnya arteri di otak (Salma, 2021).
Berdasarkan tinjauan teori di atas penulis dapat menyimpulkan stroke adalah gangguan
sirkulasi atau peredaran darah ke otak yang terjadi secara mendadak yang disertai dengan
perdarahan ataupun tidak. Stroke dapat menyebabkan terjadinya iskemik yang dapat
menimbulkan tanda dan gejala sesuai dengan daerah yang terganggu. Pendarahan atau
pecahnya pembuluh darah yang terjadi di otak dapat menimbulkan kecacatan atau kematian
pada pasien stroke.

Anatomi dan Fisiologi


Anatomi
Gambar 2.1 Anatomi Dan Peredaran Darah Otak (Adhi, 2020)
Fisiologi
Sistem saraf pusat
Otak adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350 cc dan terdiri
dari seratus juta sel saraf dan neuron. Menurut Heny Siswanti (2021) secara garis besar otak
terdiri atas 3 bagian utama yaitu:
Otak besar (cerebrum)
Serebrum merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur mengisi
penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Masing-masing disebut fosa kranialis anterior
atas dan fosa kranialis media. Otak mempunyai dua permukaan atas dan bawah. Kedua
permukaan ini dilapisi oleh lapisan kelabu yaitu pada bagian korteks serebral dan zat
putih terdapat pada bagian dalam yang mengandung serabut saraf. Pada otak besar
terdapat beberapalobus yaitu:
Lobus frontal, adalah bagian dari serebrum yang terletak di depan sulkus sentralis.
Berfungsi dalam konsentrasi, pikiran abstrak, memori, fungsi motorik terdapat di area
brocca untuk kontrol motorik bicara.
Lobus temporalis, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan lobus
oksipitalis. Berfungsi dalam integrasi somatisasi, pendengaran dan penglihatan.
Lobus parietalis, adalah daerah korteks yang terletak di belakang sulkus sentralis, di atas
fisura lateralis dan meluas ke belakang fisura parietooksipitalis. Lobus ini merupakan
daerah sensorik primer otak untuk rasa raba dan pendengaran.
Lobus oksipitalis, adalah lobus posterior korteks serebrum. Lobus ini terletak di sebelah
posterior dari lobus parietalis dan di atas fisura-fisura parietoksipitalis. Lobus ini
menerima informasi yang berasal dari retina mata.
Batang Otak
Terletak pada fosa anterior, bagian-bagian batang otak terdiri dari:
Diensefalon, bagian otak paling atas terdapat di antara cerebellum dan mesenfalon.
Kumpulan dari sel saraf yang terdapat di depan lobus temporalis terdapat kapsula interna
dengan sudutmenghadap ke samping. Fungsi dari diensefalon yaitu vasoktriktor,
respiratori, mengontrol kegiatanreflex, dan membantu kerja [Link], atap dari
mesenfalon terdiri dari empat bagian yang menonjol ke atas. Dua di sebelah atas disebut
korpus kuadrigeminus superior dan dua sebelah bawah disebut korpus kuadrigeminus
inferior. Fungsinya yaitu membantu pergerakan mata, mengangkat kelopak mata,
memutar mata dan pusat pergerakan mata.
Pons Varoli, brakium pontis yang menghubungkan mesenfalon dan pons varoli dengan
serebellum, terletak di depan serebellum di antara otak tengah dan medulla oblongata.
Fungsinya yaitu: penghubung antara kedua bagian serebellum dan pusat saraf nervus
trigeminus.
Medulla Oblongata, merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang
menghubungkan pons varoli dengan medulla spinalis. Fungsinya yaitu: mengontrol kerja
jantung, mengecilkan pembuluh darah, pusat pernapasan, dan mengontrol kegiatan reflex.
Otak Kecil
Cerebellum atau otak kecil terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan
dengan serebrum oleh fisura transversalis dibelakangi oleh pons varoli dan di atas medulla
oblongata. Organ ini banyak menerima serabut aferen sensorik, merupakanpusat koordinasi
dan integrasi.
Sistem limbik
Sistem limbik terletak di bagian otak tengah, membungkus batang otak ibarat kerah baju.
Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amiglada, hippocampus dan korteks
limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon,
memelihara homeostatis,rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang,
metabolisme dan juga memori jangka panjang
Sistem saraf tepi/ perifer

Saraf somatik
Saraf somatik terdiri atas neuron motorik eferen yang keluar dari otak dan medulla spinalis
dan bersiap secara langsung pada sel otot rangka. Neuron motorik merupakan saraf besar
bermialin yang melepas asetil kolin di taut neuromeskuler.
Sistem saraf otonom
Sistem saraf simpatis
Fungsi dari sistem ini adalah siap siaga untuk membantu proses kedaruratan, keadaan stres
baik yang disebabkan oleh fisik maupun emosional yang dapat menyebabkan peningkatan
yang cepat pada implus simpatis, sebagai akibatnya yaitu: Bronkiolus berdilatasi untuk
pertukaran gas, kontraksi jantung yang kuat dan cepat, dilatasi arteri menuju jantung dan
otot volunter yang membawah lebih banyak darah. Kontraksi pembuluh darah perifer yang
membuat kulit pada kaki dingin, dilatasi pada pupil, hati mengeluarkan glukosa untuk energi
cepat, peristaltik makin lambat, rambut berdiri dan peningkatan keringat.
Sistem saraf parasimpatis
Berfungsi sebagai pengontrol dominan untuk kebanyakan efektor visceral dalam waktu
lama. Selama keadaan diam, kondisi tanpa stress, implus dan serabut-serabut parasimpatik
(kolenergik)yang menonjol.

Sistem peredaran darah otak


Sistem saraf pusat sangat bergantung pada aliran darah yang memadai untuk nutrisi dan
pembuangan sisa- sisa makanan serta metabolisme. Suplai darah arteri ke otak merupakan
suatu jalinan pembuluh-pembuluh darah yang bercabang-cabang dan berhubungan erat satu
dengan yang lain sehingga dapat menjalin suplai darah yang kuat untuk sel.
Suplai darah ini dijamin oleh dua pasang arteri, yaitu arteri vetebralis dan arteri karotis.
Kedua arteri ini merupakan sistem arteri terpisah yang mengalirkan darah ke otak, tetapi
keduanya disatukan oleh pembuluh anastomosis yang membentuk sirkulasi arterious wilisi
(Setiadi, 2016).
Arteri karotis interna
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteri karotis komunis kira-kira setinggi
tulang rawan tiroid. Arteri karotis komunis kiri bercabang dan aorta, tetapi arteri karotis
komunis kanan berasal dari arteri brakiosefalika. Arteri karotis eksterna memperdarahi
wajah, tiroid, lidah dan faring. Arteri karotis interna sedikit berdilatas tepat setelah
percabangannya yang dinamakan sinus karotikus, dimana terdapat ujung- ujung saraf khusus
yang berespons terhadap perubahan tekanan darah arteri, yang secara refleks
mempertahankan suplai darah ke otak. Arteri karotis interna terbagi menjadi dua yaitu arteri
serebri anterior dan media, arteri karotis interna mempercabangkan arteri oftalmika yang
masuk ke dalam orbita dan memperdarahi mata dan isi orbita lainnya, bagian- bagian hidung
dan sinus- sinus udara. Bila arteri ini tersumbat maka dapat mengakibatkan kebutaan
monokular.
Arteri serebri media menyuplai darah untuk bagian lobus temporalis, parietalis dan frontalis
korteks serebri dan membentuk penyebaran bercabang-cabang dan berhubungan erat satu
dengan yang lain sehingga dapat menjalin suplai darah yang kuat untuk sel. Suplai darah ini
dijamin oleh dua pasang arteri,
yaitu arteri vetebralis dan arteri karotis. Kedua arteri ini merupakan sistem arteri terpisah
yang mengalirkan darah ke otak, tetapi keduanya disatukan oleh pembuluh anastomosis
yang membentuk sirkulasi arterious wilisi.
Arteri karotis interna
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteri karotis komunis kira-kira setinggi
tulang rawan tiroid. Arteri karotis komunis kiri bercabang dan aorta, tetapi arteri karotis
komunis kanan berasal dari arteri brakiosefalika. Arteri karotis eksterna memperdarahi
wajah, tiroid, lidah dan faring. Arteri karotis interna sedikit berdilatasi tepat setelah
percabangannya yang dinamakan sinus karotikus, dimana terdapat ujung- ujung saraf khusus
yang berespons terhadap perubahan tekanan darah arteri, yang secara refleks
mempertahankan suplai darah ke otak. Arteri karotis interna terbagi menjadi dua yaitu arteri
serebri anterior dan media, arteri karotis interna mempercabangkan arteri oftalmika yang
masuk ke dalam orbita dan memperdarahi mata dan isi orbita lainnya, bagian- bagian hidung
dan sinus-sinus udara. Bila arteri ini tersumbat maka dapat mengakibatkan kebutaan
monokular.
Arteri serebri media menyuplai darah untuk bagian lobus temporalis, parietalis dan frontalis
korteks serebri dan membentuk penyebaran pada penyebaran pada permukaan lateral seperti
kipas. Jika arteri ini tersumbat dapat menimbulkan afasia berat bila yang terkena
hemisferium serebri dominan bahasa.

Arteri vertebralis
Arteri vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteri subklavia sisi yang sama. Kedua arteri ini
bersatu membentuk arteri basilaris yang terus berjalan setinggi otak tengah, dan disini
bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri [Link]- cabang dari
sistem vetebrobasilaris memperdarahi medula oblongata, pons serebelum, otak tengah dan
sebagian diensefalon.

Klasifikasi
Menurut Heny Siswanti (2021) klaifikasi stroke terbagi menjadi 2 yaitu:
Stroke skemik atau penyumbatan
Stroke iskemik disebabkan karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju
ke otak. Sumbatan ini dapat disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah karena adanya
penebalan pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis), dan pembekuan darah bercampur
lemak yang menempel pada dinding pembuluh darah yang dikenal dengan thrombus yang
kedua adalah akibat tersumbatnya pembuluh darah otak oleh emboli, yaitu bekuan darah
yang berasal dari thrombus di jantung.
Stroke hemoragik atau pendarahan
Stroke hemoragik merupakan pendarahan serebri. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadian saat melakukan aktivitasatau saat
aktif , namun bisa juga terjadi saat istirahat.

Etiologi
Menurut Laulo et al. (2016) penyebab stroke hemoragik yaitu:
Predisposisi
Usia
Pada orang-orang lanjut usia, pembuluh darah lebih kaku karena banyak penimbunan
plak. Penimbunan plak yang berlebih akan mengakibatkan berkurangnya aliran darah ke
tubuh, termasuk otak.
Jenis kelamin
Dibanding dengan perempuan, laki-laki cenderung beresiko lebih besar mengalami stroke.
Ini terkait bahwa laki-laki cenderung merokok, bahaya merokok dapat menimbulkan plak
pada pembuluh darah.
Presipitasi
Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke. Hipertensi dapat disebabkan arteroklerosis
pembuluh darah serebral, sehingga pembuluh dara tersebut mengalami penebalan dan
degenerasi yang kemudian pecah / menimbulkan pendarahan. Penderita hipertensi memiliki
faktor risiko stroke empat hingga enam kali lipat dibandingkan orang yang tanpa hipertensi
dan sekitar 40- 90% stroke ternyata menderita hipertensi sebelum terkena stroke.

Merokok
Pada merokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga
memungkinkan penumpukan arterosklerosis dan kemudian berakibat pada stroke.

Alkohol
Pada alkohol dapat menyebabkan hipertensi, penurunan aliran darah ke otak dan kardiak
aritmia serta kelainan mortalitas pembuluh darah sehingga terjadi emboli serebral.

Peningkatan kolestrol
Peningkatan kolestrol tubuh dapat menyebabkan arterosklerosis dan terbentuknya emboli
lemak sehingga aliran darah lambat masuk ke otak, maka perfusi otak menurun.

Obesitas
Pada obesitas kadar kolestrol tinggi. Selain itu dapat mengalami hipertensi karena terjadi
gangguan pada pembuluh darah. Keadaan ini berkontribusi pada stroke.

Patofisologi Hemoragik Stroke


Menurut Adhi (2020) otak merupakan bagian tubuh yang sangat sensisitif pada oksigen dan
glukosa karena jaringan otak tidak dapat menyimpan kelebihan oksigen dan glukosa seperti
halnya pada otot. Meskipun berat otak sekitar 2% dari seluruh badan, namun menggunakan
sekitar 25% suplai oksigen dan 70% glukosa. Jika aliran darah ke otak terhambat maka akan
terjadi iskemia dan terjadi gangguan metabolisme otak yang kemudian terjadi gangguan
pada perfusi serebral. Area otak disekitar yang mengalami hipoperfusi disebut penumbra.
Jika aliran darah ke otak terganggu lebih dari 30 detik, pasien dapat mengalami tidak sadar
dan dapat terjadi kerusakan jaringan otak yang permanen jika aliran darah ke otak terganggu
lebih dari 4 menit Untuk mempertahankan aliran darah ke otak maka tubuh akan melakukan
dua mekanisme tubuh yaitu mekanisme anatomis dan mekanisme autoregulasi. Mekanisme
anastomis berhubungan dengan suplai darah ke otak untuk pemenuhan kebutuhan oksigen
dan glukosa. Sedangkan mekanisme autoregulasi adalah bagaimana otak melakukan
mekanisme / usaha sendiri dalam menjaga keseimbangan. Misalnya jika terjadi hipoksemia
otak maka pembuluh darah otak akan mengalami vasodilatasi.

Mekanisme Anatomis
Otak diperdarahi melalui 2 arteri karotis dan 2 arteri vertebralis. Arteri karotis terbagi
menjadi karotis interna dan karotis eksterna. Karotis interna memperdarahi langsung ke
dalam otak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum menjadi arteri serebri anterior
dan media. Karotis eksterna memperdarahi wajah, lidah dan faring, meningens. Arteri
vertebralis berasal dari arteri subclavia. Arteri vertebralis mencapai dasar tengkorak melalui
jalan tembus dari tulang yang dibentuk oleh prosesus tranverse dari vertebra servikal mulai
dari c6 sampai dengan c1. Masuk ke ruang cranial melalui foramen magnum, dimana arteri-
arteri vertebra bergabung menjadi arteri basilar. Arteri basilar bercabang menjadi 2 arteri
serebral posterior yang memenuhi kebutuhan permukaan media dan inferior arteri baik
bagian lateral lobus temporal dan occipital. Meskipun arteri karotis interna dan
vertebrabasilaris merupakan 2 sistem arteri yang terpisah yang mengaliran darah ke otak,
tapi ke duanya disatukan oleh pembuluh dan anastomosis yang membentuk sirkulasi wilisi.
Arteri serebri posterior dihubungkan dengan arteri serebri media dan arteri serebri anterior
dihubungkan oleh arteri komunikan anterior sehingga terbentuk lingkaran yang lengkap.
Normalnya aliran darah dalam arteri komunikans hanyalah sedikit. Arteri ini merupakan
penyelamat bilamana terjadi perubahan tekanan darah arteri yang dramatis.

Mekanisme Autoregulasi
Oksigen dan glukosa adalah dua elemen yang penting untuk metabolisme serebral yang
dipenuhi oleh aliran darah secara terus - menerus. Aliran darah serebral dipertahankan
dengan kecepatan konstan 750ml / menit. Kecepatan serebral konstan ini dipertahankan oleh
suatu mekanisme homeostasis sistemik dan local dalam rangka mempertahankan
kebutuhan nutrisi dan darah secara adekuat. Terjadinya stroke sangat erat hubungannya
dengan perubahan aliran darah otak, baik karena sumbatan/oklusi pembuluh darah otak
maupun perdarahan pada otak menimbulkan tidak adekuatnya suplai oksigen dan glukosa.
Berkurangnya oksigen atau meningkatnya karbondioksida merangsang pembuluh darah
untuk berdilatasi sebagai kompensasi tubuh untuk meningkatkan aliran darah lebih banyak.
Sebalikya keadaan vasodilatasi memberi efek pada tekanan intracranial. Kekurangan
oksigen dalam otak (hipoksia) akan menimbulkan iskemia. Keadaan iskemia yang relative
pendek / cepat dan dapat pulih kembali disebut Transient Ischemic Attacks (TIAs). Selama
periode anoxia (tidak ada oksigen) metabolisme otak cepat terganggu. Sel otak akan mati
dan terjadi perubahan permanen antara 3-10 menit anoksia.

Manifestasi Klinis
Menurut Ummaroh (2019) tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung dengan daerah
otak yang terkena yaitu:
Lobus parietal, fungsinya yaitu untuk sensasi somatik, kesadaran menempatkan posisi.
Lobus temporal, fungsinya yaitu untuk mempengaruhi indra dan memori
Lobus oksipital, fungsinya yaitu untuk penglihatan.
Lobus frontal, fungsinya untuk mempengaruhi mental, emosi, fungsi fisik, intelektual.
Stroke dapat mempengaruhi fungsi tubuh. Adapun beberapa gangguan yang dialami pasien
yaitu:
Pengaruh terhadap status mental: tidak sadar, confuse
Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan sensasi, gangguan penglihatan,
hemiplegi (lumpuh tubuh sebelah).
Pengaruh terhadap komunikasi: afasia (kehilangan bahasa), disartria (bicara tidak jelas).
Pasien stroke hemoragik dapat mengalami trias TIK yang mengindikasikan adanya
peningkatan volume di dalam [Link] TIK yaitu muntah proyektil, pusing dan pupil
udem.

Pemeriksaan Penunjang
Menurut Hartati (2020) pemeriksaan diagnostik yang diperlukan dalam membantu
menegakkan diagnosa klien stroke meliputi:
Angiografi serebri
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik untuk menunjukan adanya
perdarahan arteriovena atau ruptur dan untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma.
Lumbal fungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya
hemoragik pada subarachnoid atau perdarahan intrakranial.
CT Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang
menunjukan infark atau iskemia, serta posisinya secara pasti.
Magnetik Imaging Resonance (MRI)
Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menunjukan posisi serta besar atau luas
terjadinya perdarahan otak. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan area yang mengalami
lesi dan infark akibat dari hemoragik.
USG Doppler
Untuk mengidentifikasi dan menunjukan adanya penyakit arteriovena (masalah sistem
karotis).
EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menunjukan masalah yang timbul dan dampak dari
jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.
Pemeriksaan darah
Pemeriksaann laboratorium biasanya menunjukan Trombosit 4.00-5.50 10^3/uL. Jika
jumlah trombosit terlalu tinggi (Trombositosis) dapat menyebabkan pembekuan atau
penggumpalan darah secara berlebihan. Gumpalan darah tersebut dapat menyumbat
pembuluh darah dan menghambat aliran darah pada organ - organ penting, seperti otak,
jantung, dan paru-paru. Kondisi ini bisa memicu terjadinya penyakit yang berbahaya seperti
stroke.

Penatalaksanaan Medis
Menurut Arum (2015) kematian dan deteriosasi neurologis minggu pertama stroke iskemia
terjadi karena adanya edema otak. Edema otak timbul dalam beberapa jam setelah stroke
iskemik dan mencapai puncaknya 24 - 96 jam. Edema otak mula – mula cytofosic karena
terjadi gangguan pada metabolisme seluler kemudian terdapat edema vasogenik karena
rusaknya sawar darah otak setempat. Untukmenurunkan edema otak, dilakukan hal - hal
sebagai berikit:
Naikkan posisi kepala dan badan bagian atas setinggi 20
-30o
Hindarkan pemberian cairan intravena yang berisi glukosa atau cairan hipotonik.
Pengobatan konservatif:

Terapi Trombolitik
Cara kerja: mengencerkan bekuan darah yang menghambat aliran darah.
Antikoagulan: Heparin
Untuk mencegah terjadinya bekuan darah embolisasi thrombus.
Antihipertensi: Catropil, antagonis kalsium.

Komplikasi
Menurut Adhi (2020) komplikasi yang terjadi pada pasien stroke terbagi atas beberapa yaitu:
Bekuan darah (Trombosis)
Mudah terbentuk pada kaki yang lumpuh menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan
(edema) selain itu juga dapat menyebabkan embolisme paru yaitu sebuah bekuan yang
terbentuk dalam satu arteri yang mengalirkan darah ke paru.
Dekubitus
Bagian tubuh yang sering mengalami memar adalah pinggul, pantat, sendi kaki dan tumit.
Bila memar ini tidak dirawat dengan baik maka akan terjadi ulkus dekubitus dan infeksi.
Pneumonia
Pasien stroke tidak bisa batuk dan menelan dengan sempurna, hal ini menyebabkan cairan
terkumpul di paru-paru dan selanjutnya menimbulkan pneumonia.
Atrofi dan kekakuan sendi (Kontraktur)
Hal ini disebabkan karena kurang gerak dan immobilisasi.
Depresi dan kecemasan
Gangguan perasaan sering terjadi pada stroke dan menyebabkan reaksi emosional dan fisik
yang tidak diinginkan karena terjadi perubahan dan kehilangan fungsi tubuh.
Peningkatan TIK
Infark cerebri luas atau perdarahan akan terjadi edema cerebri yang menyebabkan herniasi
otak sehingga terjadi peningkatan tekanan intrakranial.

Konsep Dasar Keperawatan


Pengkajian
Data Umum
Berisi mengenai identitas meliputi nama, nomor RM, umur, jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan tanggal MRS, nomor regristasi, serta
diagnosa medis.
Keadaan Umum
Mengkaji keadaan umum pada pasien dengan masalah pada sistem saraf, berisi tentang
observasi umum mengenai tingkat kesadaran, kekuatan otot, tonus otot, observasi tanda
tanda vital seperti: tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan, dan permeriksaan 12 saraf kranial.
Keluhan utama yang didapatkan biasanya gangguan motorik kelemahan anggota gerak
sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi, nyeri kepala, gangguan sensorik,
dan penurunan kesadaran.
Pengkajian Primer
Menurut Harlon Simbolon (2021) adapun pengkajian Primer pada pasien di instansi gawat
darurat meliputi:

Airway
Pengkajian pada jalan nafas ini bertujuan untuk menilai jalan napas pasien jika pasien dapat
berbicara dengan koheren, pasien responsif, dan jalan napas terbuka. Apabila pasien mampu
merespon dengan suara normal maka jalan napas itu normal (paten). Tanda-tanda adanya
obstruksi jalan napas atau jalan napas yang terganggu adalah sebagai berikut: adanya suara
stridor, sesak napas (Kesulitan bernapas), snoring, gurgling, penurunan tingkat kesadaran.
Penanganan untuk masalah Airway adalah : Head tilt and chin lift, jaw thrust, pemberian
oksigen, dan suction. Untuk membuka jalan napas dilakukan dengan cara head tilt chin lift
atau jaw thrust jika dicurigai adanya cedera cervical. Bila terdapat benda asing, sekret harus
dikeluarkan. Jika ada penyebab lain yang menyebabkan obstruksi maka jalan napas definitif
harus ditetapkan apakah melalui intubasi atau pembuatan jalan napas bedah seperti
krikotiroidotomi. Pengkajian Airway (Kepatenan jalan napas) pasien dan tanda-tanda
terjadinya obstruksi jalan napas pada pasien Hemoragik Stroke antara lain: Adanya benda
asing, sputum, snoring atau gurgling dan penurunan kesadaran.

Breathing
Pengkajian Breathing (Pernapasan) dilakukan setelah penilaian jalan napas. Pengkajian
pernapasan dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi. Penilaian yang perlu dilakukan
dalam tahap penilaian pernapasan: Frekuensi pernafasan, adanya retraksi dinding dada,
perkusi dada, auskultasi paru serta oksimetri (97%-100%). Penanganan dalam masalah
pernapasan denganmemberikan posisi yang nyaman, menyelamatkan jalan napas, pemberian
bantuan napas dengan oksigen serta ventilasi Bag Valve Mask dan dekompresi dada pada
pneumothorax. Pada pengkajian Breathing pasien stroke mengalami sesak napas, SPO2
menurun, frekuensi napas cepat, pernapasan dangkal, irama napas tidak teratur dan
terdapat suara tambahan yaitu: ronchi, rales, ataupun wheezing.
Circulation
Pengkajian Circulation bertujuan untuk mengetahuidan menilai kemampuan jantung dan
pembuluh darah dalam memompa darah keseluruh tubuh. Pada penilaian sikulasi ini menitik
beratkan pada penilaian tentang sirkulasi darah yang dapat dilihat dengan penilaian sebagai
berikut: tekanan darah, jumlah nadi, warna kulit, capillary refill time. Pada pengkajian
Circulation, pasien dengan stroke dilihat tekanan darah meningkat, naditeraba kuat takikardi
/ bradikardi sianosis perifer akral teraba dingin bibir pelo kekanan / kiri.

Disability
Pada pengkajian Disability kaji status umum dan neurologis pasien dengan menilai tingkat
kesadaran, serta ukuran dan reaksi pupil. Penanganan masalah disability adalah sebagai
berikut: tangani jalan napas, manajemen pernapasan, manajemen sirkulasi, pemulihan
posisi, manajemen glukosa untuk hipoglikemia. Penilaian untuk disability adalah untuk
menilai bagaimana tingkat kesadaran, dapat dengan cepat dinilai menggunakan metode
AVPU: A (Alert) kewaspadaan, V (Voice Responsive) respon suara, P (Pain Responsive)
respon rasa nyeri dan U (Unresponsive) tidak responsif. Pada pengkajian Disability, pasien
dengan stroke didapatkan pasien mengalami penurunan kesadaran.
Exposure
Setelah kita mengkaji secara menyeluruh dan sistematis mulai dari Airway, Breathing,
Circulation, Disability sekarang kita mengkaji secara menyeluruh untuk melihat apakah ada organ
lain yang mengalami gangguan. Pengkajian Exposure pada pasien stroke untuk melihat apakah ada
jejas, luka atau lupa dengan melakukan teknik logroll dan melihat apakah ada kelemahan otot pada
pasien.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan penilain klinis mengenai respon pasien terhadap masalah
kesehatan terutama pada pasien kegawatdaruratan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
Diagnosa berdasarkan SDKI adalah:
Risiko perfusi serebral tidak efektif dibuktikan dengan faktor risiko Hipertensi (D.0017)
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan Hambatan upaya napas (D.0005)
Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan Edema serebral
(D.0066)
Bersihan jalan napas berhubungan dengan Disfungsi neuromuskuler (D.0001)
Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera biologis (D.0077).

Intervensi dan Rasional


DP I: Risiko perfusi serebral tidak efektif dibuktikan dengan faktor risiko Hipertensi.
SLKI : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkanperfusi serebral meningkat
dengan kriteria hasil:
Tingkat kesadaran meningkat
Nilai rata-rata tekanan darah membaik
Tekanan intrakranial menurun
Tekanan darah sistolik membaik
Tekanan darah diastolik membaik

SIKI: Manajemen peningkatan tekanan intrakranial Observasi:


Monitor tekanan darah
R/ Keadaan tubuh normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau tekanan darah
dalam batas normal
Monitor peningkatan kesadaran
R/ Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran
Monitor MAP (Mean arterial pressure)
R/ untuk mengetahui normal tidaknya hemeostatis tubuh
Monitor status pernapasan
R/ untuk mengetahui tanda-tanda bahaya seperti sesak nafas
Terapeutik:
Berikan posisi agak ditinggikan (30°)
R/ Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan tekanan drainase dan meningkatkan
sirkulasi/ perfusi serebral.
Pertahankan suhu tubuh normal
R/ Hipertermia mengakibatkan penigkatan pada laju metabolise kebutuhan oksigen dan
glukosa, dan kehilangan cairan yang dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol
jika terlalu tinggi.
Kolaborasi:
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat diuretik (antihipertensi)
R/ Obat antihipertensi dapat digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki aliran
darah serebral dan trombotik dapat menurunkan tekanan intrakranial serta menurunkan
edema otak.
DP II: Pola napas tidak efektif berhubungan dengan Hambatan upaya napas
SLKI: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola napas membaik dengan
kriteria hasil:
Dispnea menurun
Pengunaan otot bantu menurun
Frekuensi napas membaik
Kedalaman napas membaik

SIKI: Manajemen Jalan Napas Observasi:


1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) R/
Mengetahui adanya tidaknya hambatan upaya napas
2) Monitor Bunyi napas tambahan
R/ Untuk mengetahui ada tidaknya suara napas abnormal
3) Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
R/ Untuk mengetahui ada tidaknya sputum dan jumlah sputum
Terapeutik:
1) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head till danchin lift
R/ Membantu mempertahankan kelancaran jalan napas dari sumbatan
2) Posisikan semi fowler atau fowler
R/ Membantu memaksimalkan ekpansi paru dan
menurunkan upaya pernapasan
3) Berikan oksigen, jika perlu
R/ Meningkatkan kebutuhan oksigen dan membantu
menurunkan peningkatan TIK
Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian brokodilator, eskpektum, jika prerlu R/
Pemberian obat dapat meringankan sesak napas

a. DP III: Penurunan kapasitas adaptif intracranial berhubungan dengan


Edema serebral.
SLKI: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kapasitas adaptif intrakranial
meningkat dengan kriteria hasil:
1) Tingkat kesadaran meningkat
2) Sakit kepala menurun
3) Tekanan darah membaik
4) Pola napa membaik
5) Tekanan intracranial membaik

SIKI: Manajemen peningkatan tekanan intrakranial


Observasi:
1) Monitor tekanan darah
R/ Keadaan tubuh normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau tekanan darah
dalam batas normal
2) Monitor peningkatan kesadaran
R/ Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat
kesadaran
3) Monitor MAP (Mean arterial pressure)
R/ untuk mengetahui normal tidaknya hemeostatis tubuh
4) Monitor status pernapasan
R/ untuk mengetahui tanda-tanda bahaya seperti sesak nafas
Terapeutik:
1) Berikan posisi agak ditinggikan (30°)
R/ Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan tekanan
drainase dan meningkatkan sirkulasi/ perfusi
serebral.
2) Pertahankan suhu tubuh normal
R/ Hipertermia mengakibatkan penigkatan pada laju metabolise kebutuhan oksigen dan
glukosa, dan kehilangan cairan yang dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol
jika terlalu tinggi.
Kolaborasi:
1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat diuretik
(antihipertensi)
R/ Obat antihipertensi dapat digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki aliran darah
serebral dan trombotik dapat menurunkan tekanan intracranial serta menurunkan edema
otak.

b. DP IV: Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan


Disfungsi neuromuskuler.
SLKI: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas meningkat
dengan kriteria hasil:
1) Batuk efektif meningkat
2) Produksi sputum menurun
3) Dyspnea menurun
4) Frekuensi napas membaik
5) Pola napas membaik

SIKI: Manajemen jalan napas


1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) R/
Mengetahui adanya tidaknya hambatan upaya napas
2) Monitor Bunyi napas tambahan
R/ Untuk mengetahui ada tidaknya suara napas abnormal
3) Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
R/ Untuk mengetahui ada tidaknya sputum dan jumlah sputum
Terapeutik:
1) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head till danchin lift
R/ Membantu mempertahankan kelancaran jalan napas dari sumbatan
2) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
3) Posisikan semi fowler atau fowler
R/ Membantu memaksimalkan ekpansi paru dan
menurunkan upaya pernapasan
4) Berikan oksigen, jika perlu
R/ Meningkatkan kebutuhan oksigen dan membantu
menurunkan peningkatan TIK
Edukasi:
1) Ajarkan teknik batuk efektif
R/ Membersikan jalan napas dari adanya sekret yang tertahan dan
tidak bisa dikeluarkan
Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian brokodilator, eskpektum, jika prerlu R/
Pemberian obat dapat meringankan sesak napas

c. DP V: Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera biologis


SLKI: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat
nyeri menururn dengan kriteria hasil:
1) Keluhan nyeri menurun
2) Meringis menururn

SIKI : Manajemen Nyeri Observasi:


1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri
R/ Mengetahui seberapa berat nyeri yang dirasakan
2) Identifikasi respons nyeri non verbal
R/ Mengetahui skala nyeri yang dirasakan

Terapeutik:
1) Berikan teknik nonframakologis untuk mengurangi rasa nyeri
(mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi,
teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
R/ Mengalihkan nyeri yang dirasakan
2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
ruangan, pencahayaan, kebiingan)
R/ Menurunkan stimulus nyeri eksternal dan sensani nyeriyang dirasakan
3) Fasilitasi istirahat dan tidur
R/ Agar pasien mampu beritirahat dengan baik Edukasi:
1) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
R/ Mengetahui hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri
2) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat R/ Mengetahui
penggunaan obat secara tepat
3) Ajarkan tehnik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri R/
Mengetahui teknik untuk mengalihkan nyeri secara mandiri
Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu R/ Mengurangi nyeri
yang dirasakan
2. Discharge planning

Adapun perawatan dirumah untuk penderita stroke secara garis


besar adalah sebagai berikut menurut Rosya et al. (2019):
1. Rutin kontrol tekanan darah.

2. Anjurkan untuk mematuhi terapi pengobatan.

3. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol.

4. Ajarkan keluargapasien latihan ROM di rumah,


perawatandiri, dan pencegahan decubitus.
5. Anjurkan bedrest total selama 2-3 minggu.

6. Ajarkan keluarga untuk memantau komplikasi yang harus segera


mencari pertolongan.
Rujukan ke tempat rehabilitasi untuk mendapatkan terapi fisik jika
memungkinkan.
PREDISPOS
IS I ETIOLOGI PRESIPITASI

Usia (>40 Riwayat Jenis hipertensi obesitas Hiperkolesterole


stroke kelam Gaya hidup
in mia
thn) Fungsi Pe
Laki- Pe aliran lema
Perubahan merokok
laki k alkoho Kolesterol
membrane
tubuh sel dalam Perempuan darah l Zat mengikat
tubuh dalam dalam
Pelebaran darah darah
Wanita nikotin
Elastisitas Vasokonstriks monopa Vislos dalam
pembuluh
D PD Sumbata ita rokok
i pembuluh us e Kekuran Kolester
darah darah n aliran sdarah
ga n ol
darah me
hormon berdegener
Terjad
Kerapuhan estrogen i a si
auneris
ma
pembuluh darah Tekanan darah Pembul menebal &
kerusaka n Semptnya Aliran
Kekuran u darah kasar
pada PD lumen pada darah
ga n mengera
Aliran darah Terjadi PD otak melambat
hormone s
melewati rupture
estrogen
pembuluh darah pada
menjadi lebih arteri Kerapuh
Terbentuk Terbentuk
cepat kecil anpada
Elastisit nya plak/trombus
PD
a s auneris pada PD
Tekanan pembul ma
uh
pada pembuluh darah
Daging
darah dalam arteri
Pe denyut jantung & TD LDL Hiperkole Infiltrasi PD menjadi
limfosit
Me dalam sterol (thrombus) kaku
kolesterol darah emia

trombosis
35
36

Aterosklerosis

TG :
Pecah/ruptur pembuluh Sempitnya
Penurunan lumen pada
kesadaran, darah
PD otaK
,peningkatan
TIK

HEMORA
GIK
Kerapuhan
STROKE pada PD

Pemeriksaan Diagnostik: CT-Scan


Kesan: Pendarahan akut thalamus
dexstra disertai pendarahan sub
arachnoid dan pendarahan
intraventrikel Darah masuk ke
ruang

Darah masuk ke
jaringan otak subarachnoid

Perdaraha
n
subarachn
oi d
dan O2 Vasospasme

Peningkatan Defisit Hipoksia jaringan serebral


Edema otak Suplai darah
TIK neurologik
37
Perdarhan
serebri pembuluh
darah

Iske
mik
jarin
gan
Kadar O2 sere
Aktivitas elektrolit terhenti
bral

Nek
rosis
jarin
gans
Infark serebri
erebr
al
38

Brainstem Hemiparese/h Metabolisme Kerusakan otak


Edema
emiplegia anaerob permanen
intrasel
dan
ekstrasel
TG : Tonus Produk
otot si Kematian
menurun / Perfus asa
hemipares i m
e lakta
Nafas
menjadi SDKI : Nyeri Akut
cepat SDKI: Gangguan Penuruna b/d
Mobilitas Fisik b/d n Age
TG : Ada nya sumbatan pada jalan n
Penurunan Penceder
napas Kekuatan Otot a
: Lidah jatuh, Sesak napas, frekuensi Fisiologis
SLKI: Mobilitas Fisik
32x/[Link] pernapasan tidak SLKI: Tingkat
SIKI: SIKI:
teratur dan dangkal, suara napas
Manajemen
snoring, perkusi sonor SPO2 88%, Energi Manajemen Nyeri
tidak ada nyeri Komplikasi :
Dekubitus

SDKI : Pola Napas


Tidak Efektif b/d
Hambatan Upaya Exposure SDKI: Defisit Perawatan Diri b/d
Napas [Link]
SLKI: Pola napas SLKI: Perawatan Diri
SIKI: Menajemen SIKI: Dukungan Perawatan Diri
Makan/minum

Airway
Breathing
Exposure
39

Gangguan Gangguan pada Gangguan pada


fungsi lobus lobus parietalis
serebral temporalis Gangguan
pada lobus
oksipitalis
TG : Nyeri kepala, peningkatan
TG : Kehilangan
TD dan TIK, leher terasa tegang,
sensai,
aktivitas menurun, Pupil isokor, TG : Pandangan
disfagia,mual,
reflex cahaya positif, GCS 8 kabur, pandangan
muntah TG : Afasia, disatria
(Soporo-Comatus) ganda, pupil
,Gangguan bicara
anisokor

SDKI: Gangguan SDKI: Gangguan


SDKI: Gangguan Komunikasi Verbal Persepi Sensori
SDKI: Risiko Perfusi Serebral Tidak Menelan b/d Paralisis b/d Gangguan
SLKI: Status
serebral Neuromuskuler
Efektif Ditandai dengan Faktor Risiko Neurolgis
Hipertensi SLKI: Status Menelan SLKI:
Komunikasi
SIKI: Verbal
SLKI: Perfusi Serebral Dukungan
Perawatan SIKI: Promosi
SIKI: Pemantauan Tekanan intrakranial, Diri: Komunikasi:
dan manajemen peningkatan tekanan Makan/minum Deficit Bicara
intrakranial

Breathing Disabillity

Keterangan:
: Garis putus – putus merupakan tanda pada kasus pasien
40
Sumber: Adhi, K. (2020); Brunner & Suddarth. (2016); Joyce M. Black & Jane Hokanson Hawks. (2014).
41
.
42

Anda mungkin juga menyukai