Konsep dan Anatomi Stroke Otak
Konsep dan Anatomi Stroke Otak
TINJAUAN TEORITIS
Saraf somatik
Saraf somatik terdiri atas neuron motorik eferen yang keluar dari otak dan medulla spinalis
dan bersiap secara langsung pada sel otot rangka. Neuron motorik merupakan saraf besar
bermialin yang melepas asetil kolin di taut neuromeskuler.
Sistem saraf otonom
Sistem saraf simpatis
Fungsi dari sistem ini adalah siap siaga untuk membantu proses kedaruratan, keadaan stres
baik yang disebabkan oleh fisik maupun emosional yang dapat menyebabkan peningkatan
yang cepat pada implus simpatis, sebagai akibatnya yaitu: Bronkiolus berdilatasi untuk
pertukaran gas, kontraksi jantung yang kuat dan cepat, dilatasi arteri menuju jantung dan
otot volunter yang membawah lebih banyak darah. Kontraksi pembuluh darah perifer yang
membuat kulit pada kaki dingin, dilatasi pada pupil, hati mengeluarkan glukosa untuk energi
cepat, peristaltik makin lambat, rambut berdiri dan peningkatan keringat.
Sistem saraf parasimpatis
Berfungsi sebagai pengontrol dominan untuk kebanyakan efektor visceral dalam waktu
lama. Selama keadaan diam, kondisi tanpa stress, implus dan serabut-serabut parasimpatik
(kolenergik)yang menonjol.
Arteri vertebralis
Arteri vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteri subklavia sisi yang sama. Kedua arteri ini
bersatu membentuk arteri basilaris yang terus berjalan setinggi otak tengah, dan disini
bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri [Link]- cabang dari
sistem vetebrobasilaris memperdarahi medula oblongata, pons serebelum, otak tengah dan
sebagian diensefalon.
Klasifikasi
Menurut Heny Siswanti (2021) klaifikasi stroke terbagi menjadi 2 yaitu:
Stroke skemik atau penyumbatan
Stroke iskemik disebabkan karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju
ke otak. Sumbatan ini dapat disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah karena adanya
penebalan pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis), dan pembekuan darah bercampur
lemak yang menempel pada dinding pembuluh darah yang dikenal dengan thrombus yang
kedua adalah akibat tersumbatnya pembuluh darah otak oleh emboli, yaitu bekuan darah
yang berasal dari thrombus di jantung.
Stroke hemoragik atau pendarahan
Stroke hemoragik merupakan pendarahan serebri. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadian saat melakukan aktivitasatau saat
aktif , namun bisa juga terjadi saat istirahat.
Etiologi
Menurut Laulo et al. (2016) penyebab stroke hemoragik yaitu:
Predisposisi
Usia
Pada orang-orang lanjut usia, pembuluh darah lebih kaku karena banyak penimbunan
plak. Penimbunan plak yang berlebih akan mengakibatkan berkurangnya aliran darah ke
tubuh, termasuk otak.
Jenis kelamin
Dibanding dengan perempuan, laki-laki cenderung beresiko lebih besar mengalami stroke.
Ini terkait bahwa laki-laki cenderung merokok, bahaya merokok dapat menimbulkan plak
pada pembuluh darah.
Presipitasi
Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke. Hipertensi dapat disebabkan arteroklerosis
pembuluh darah serebral, sehingga pembuluh dara tersebut mengalami penebalan dan
degenerasi yang kemudian pecah / menimbulkan pendarahan. Penderita hipertensi memiliki
faktor risiko stroke empat hingga enam kali lipat dibandingkan orang yang tanpa hipertensi
dan sekitar 40- 90% stroke ternyata menderita hipertensi sebelum terkena stroke.
Merokok
Pada merokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga
memungkinkan penumpukan arterosklerosis dan kemudian berakibat pada stroke.
Alkohol
Pada alkohol dapat menyebabkan hipertensi, penurunan aliran darah ke otak dan kardiak
aritmia serta kelainan mortalitas pembuluh darah sehingga terjadi emboli serebral.
Peningkatan kolestrol
Peningkatan kolestrol tubuh dapat menyebabkan arterosklerosis dan terbentuknya emboli
lemak sehingga aliran darah lambat masuk ke otak, maka perfusi otak menurun.
Obesitas
Pada obesitas kadar kolestrol tinggi. Selain itu dapat mengalami hipertensi karena terjadi
gangguan pada pembuluh darah. Keadaan ini berkontribusi pada stroke.
Mekanisme Anatomis
Otak diperdarahi melalui 2 arteri karotis dan 2 arteri vertebralis. Arteri karotis terbagi
menjadi karotis interna dan karotis eksterna. Karotis interna memperdarahi langsung ke
dalam otak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum menjadi arteri serebri anterior
dan media. Karotis eksterna memperdarahi wajah, lidah dan faring, meningens. Arteri
vertebralis berasal dari arteri subclavia. Arteri vertebralis mencapai dasar tengkorak melalui
jalan tembus dari tulang yang dibentuk oleh prosesus tranverse dari vertebra servikal mulai
dari c6 sampai dengan c1. Masuk ke ruang cranial melalui foramen magnum, dimana arteri-
arteri vertebra bergabung menjadi arteri basilar. Arteri basilar bercabang menjadi 2 arteri
serebral posterior yang memenuhi kebutuhan permukaan media dan inferior arteri baik
bagian lateral lobus temporal dan occipital. Meskipun arteri karotis interna dan
vertebrabasilaris merupakan 2 sistem arteri yang terpisah yang mengaliran darah ke otak,
tapi ke duanya disatukan oleh pembuluh dan anastomosis yang membentuk sirkulasi wilisi.
Arteri serebri posterior dihubungkan dengan arteri serebri media dan arteri serebri anterior
dihubungkan oleh arteri komunikan anterior sehingga terbentuk lingkaran yang lengkap.
Normalnya aliran darah dalam arteri komunikans hanyalah sedikit. Arteri ini merupakan
penyelamat bilamana terjadi perubahan tekanan darah arteri yang dramatis.
Mekanisme Autoregulasi
Oksigen dan glukosa adalah dua elemen yang penting untuk metabolisme serebral yang
dipenuhi oleh aliran darah secara terus - menerus. Aliran darah serebral dipertahankan
dengan kecepatan konstan 750ml / menit. Kecepatan serebral konstan ini dipertahankan oleh
suatu mekanisme homeostasis sistemik dan local dalam rangka mempertahankan
kebutuhan nutrisi dan darah secara adekuat. Terjadinya stroke sangat erat hubungannya
dengan perubahan aliran darah otak, baik karena sumbatan/oklusi pembuluh darah otak
maupun perdarahan pada otak menimbulkan tidak adekuatnya suplai oksigen dan glukosa.
Berkurangnya oksigen atau meningkatnya karbondioksida merangsang pembuluh darah
untuk berdilatasi sebagai kompensasi tubuh untuk meningkatkan aliran darah lebih banyak.
Sebalikya keadaan vasodilatasi memberi efek pada tekanan intracranial. Kekurangan
oksigen dalam otak (hipoksia) akan menimbulkan iskemia. Keadaan iskemia yang relative
pendek / cepat dan dapat pulih kembali disebut Transient Ischemic Attacks (TIAs). Selama
periode anoxia (tidak ada oksigen) metabolisme otak cepat terganggu. Sel otak akan mati
dan terjadi perubahan permanen antara 3-10 menit anoksia.
Manifestasi Klinis
Menurut Ummaroh (2019) tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung dengan daerah
otak yang terkena yaitu:
Lobus parietal, fungsinya yaitu untuk sensasi somatik, kesadaran menempatkan posisi.
Lobus temporal, fungsinya yaitu untuk mempengaruhi indra dan memori
Lobus oksipital, fungsinya yaitu untuk penglihatan.
Lobus frontal, fungsinya untuk mempengaruhi mental, emosi, fungsi fisik, intelektual.
Stroke dapat mempengaruhi fungsi tubuh. Adapun beberapa gangguan yang dialami pasien
yaitu:
Pengaruh terhadap status mental: tidak sadar, confuse
Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan sensasi, gangguan penglihatan,
hemiplegi (lumpuh tubuh sebelah).
Pengaruh terhadap komunikasi: afasia (kehilangan bahasa), disartria (bicara tidak jelas).
Pasien stroke hemoragik dapat mengalami trias TIK yang mengindikasikan adanya
peningkatan volume di dalam [Link] TIK yaitu muntah proyektil, pusing dan pupil
udem.
Pemeriksaan Penunjang
Menurut Hartati (2020) pemeriksaan diagnostik yang diperlukan dalam membantu
menegakkan diagnosa klien stroke meliputi:
Angiografi serebri
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik untuk menunjukan adanya
perdarahan arteriovena atau ruptur dan untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma.
Lumbal fungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya
hemoragik pada subarachnoid atau perdarahan intrakranial.
CT Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang
menunjukan infark atau iskemia, serta posisinya secara pasti.
Magnetik Imaging Resonance (MRI)
Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menunjukan posisi serta besar atau luas
terjadinya perdarahan otak. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan area yang mengalami
lesi dan infark akibat dari hemoragik.
USG Doppler
Untuk mengidentifikasi dan menunjukan adanya penyakit arteriovena (masalah sistem
karotis).
EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menunjukan masalah yang timbul dan dampak dari
jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.
Pemeriksaan darah
Pemeriksaann laboratorium biasanya menunjukan Trombosit 4.00-5.50 10^3/uL. Jika
jumlah trombosit terlalu tinggi (Trombositosis) dapat menyebabkan pembekuan atau
penggumpalan darah secara berlebihan. Gumpalan darah tersebut dapat menyumbat
pembuluh darah dan menghambat aliran darah pada organ - organ penting, seperti otak,
jantung, dan paru-paru. Kondisi ini bisa memicu terjadinya penyakit yang berbahaya seperti
stroke.
Penatalaksanaan Medis
Menurut Arum (2015) kematian dan deteriosasi neurologis minggu pertama stroke iskemia
terjadi karena adanya edema otak. Edema otak timbul dalam beberapa jam setelah stroke
iskemik dan mencapai puncaknya 24 - 96 jam. Edema otak mula – mula cytofosic karena
terjadi gangguan pada metabolisme seluler kemudian terdapat edema vasogenik karena
rusaknya sawar darah otak setempat. Untukmenurunkan edema otak, dilakukan hal - hal
sebagai berikit:
Naikkan posisi kepala dan badan bagian atas setinggi 20
-30o
Hindarkan pemberian cairan intravena yang berisi glukosa atau cairan hipotonik.
Pengobatan konservatif:
Terapi Trombolitik
Cara kerja: mengencerkan bekuan darah yang menghambat aliran darah.
Antikoagulan: Heparin
Untuk mencegah terjadinya bekuan darah embolisasi thrombus.
Antihipertensi: Catropil, antagonis kalsium.
Komplikasi
Menurut Adhi (2020) komplikasi yang terjadi pada pasien stroke terbagi atas beberapa yaitu:
Bekuan darah (Trombosis)
Mudah terbentuk pada kaki yang lumpuh menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan
(edema) selain itu juga dapat menyebabkan embolisme paru yaitu sebuah bekuan yang
terbentuk dalam satu arteri yang mengalirkan darah ke paru.
Dekubitus
Bagian tubuh yang sering mengalami memar adalah pinggul, pantat, sendi kaki dan tumit.
Bila memar ini tidak dirawat dengan baik maka akan terjadi ulkus dekubitus dan infeksi.
Pneumonia
Pasien stroke tidak bisa batuk dan menelan dengan sempurna, hal ini menyebabkan cairan
terkumpul di paru-paru dan selanjutnya menimbulkan pneumonia.
Atrofi dan kekakuan sendi (Kontraktur)
Hal ini disebabkan karena kurang gerak dan immobilisasi.
Depresi dan kecemasan
Gangguan perasaan sering terjadi pada stroke dan menyebabkan reaksi emosional dan fisik
yang tidak diinginkan karena terjadi perubahan dan kehilangan fungsi tubuh.
Peningkatan TIK
Infark cerebri luas atau perdarahan akan terjadi edema cerebri yang menyebabkan herniasi
otak sehingga terjadi peningkatan tekanan intrakranial.
Airway
Pengkajian pada jalan nafas ini bertujuan untuk menilai jalan napas pasien jika pasien dapat
berbicara dengan koheren, pasien responsif, dan jalan napas terbuka. Apabila pasien mampu
merespon dengan suara normal maka jalan napas itu normal (paten). Tanda-tanda adanya
obstruksi jalan napas atau jalan napas yang terganggu adalah sebagai berikut: adanya suara
stridor, sesak napas (Kesulitan bernapas), snoring, gurgling, penurunan tingkat kesadaran.
Penanganan untuk masalah Airway adalah : Head tilt and chin lift, jaw thrust, pemberian
oksigen, dan suction. Untuk membuka jalan napas dilakukan dengan cara head tilt chin lift
atau jaw thrust jika dicurigai adanya cedera cervical. Bila terdapat benda asing, sekret harus
dikeluarkan. Jika ada penyebab lain yang menyebabkan obstruksi maka jalan napas definitif
harus ditetapkan apakah melalui intubasi atau pembuatan jalan napas bedah seperti
krikotiroidotomi. Pengkajian Airway (Kepatenan jalan napas) pasien dan tanda-tanda
terjadinya obstruksi jalan napas pada pasien Hemoragik Stroke antara lain: Adanya benda
asing, sputum, snoring atau gurgling dan penurunan kesadaran.
Breathing
Pengkajian Breathing (Pernapasan) dilakukan setelah penilaian jalan napas. Pengkajian
pernapasan dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi. Penilaian yang perlu dilakukan
dalam tahap penilaian pernapasan: Frekuensi pernafasan, adanya retraksi dinding dada,
perkusi dada, auskultasi paru serta oksimetri (97%-100%). Penanganan dalam masalah
pernapasan denganmemberikan posisi yang nyaman, menyelamatkan jalan napas, pemberian
bantuan napas dengan oksigen serta ventilasi Bag Valve Mask dan dekompresi dada pada
pneumothorax. Pada pengkajian Breathing pasien stroke mengalami sesak napas, SPO2
menurun, frekuensi napas cepat, pernapasan dangkal, irama napas tidak teratur dan
terdapat suara tambahan yaitu: ronchi, rales, ataupun wheezing.
Circulation
Pengkajian Circulation bertujuan untuk mengetahuidan menilai kemampuan jantung dan
pembuluh darah dalam memompa darah keseluruh tubuh. Pada penilaian sikulasi ini menitik
beratkan pada penilaian tentang sirkulasi darah yang dapat dilihat dengan penilaian sebagai
berikut: tekanan darah, jumlah nadi, warna kulit, capillary refill time. Pada pengkajian
Circulation, pasien dengan stroke dilihat tekanan darah meningkat, naditeraba kuat takikardi
/ bradikardi sianosis perifer akral teraba dingin bibir pelo kekanan / kiri.
Disability
Pada pengkajian Disability kaji status umum dan neurologis pasien dengan menilai tingkat
kesadaran, serta ukuran dan reaksi pupil. Penanganan masalah disability adalah sebagai
berikut: tangani jalan napas, manajemen pernapasan, manajemen sirkulasi, pemulihan
posisi, manajemen glukosa untuk hipoglikemia. Penilaian untuk disability adalah untuk
menilai bagaimana tingkat kesadaran, dapat dengan cepat dinilai menggunakan metode
AVPU: A (Alert) kewaspadaan, V (Voice Responsive) respon suara, P (Pain Responsive)
respon rasa nyeri dan U (Unresponsive) tidak responsif. Pada pengkajian Disability, pasien
dengan stroke didapatkan pasien mengalami penurunan kesadaran.
Exposure
Setelah kita mengkaji secara menyeluruh dan sistematis mulai dari Airway, Breathing,
Circulation, Disability sekarang kita mengkaji secara menyeluruh untuk melihat apakah ada organ
lain yang mengalami gangguan. Pengkajian Exposure pada pasien stroke untuk melihat apakah ada
jejas, luka atau lupa dengan melakukan teknik logroll dan melihat apakah ada kelemahan otot pada
pasien.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan penilain klinis mengenai respon pasien terhadap masalah
kesehatan terutama pada pasien kegawatdaruratan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
Diagnosa berdasarkan SDKI adalah:
Risiko perfusi serebral tidak efektif dibuktikan dengan faktor risiko Hipertensi (D.0017)
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan Hambatan upaya napas (D.0005)
Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan Edema serebral
(D.0066)
Bersihan jalan napas berhubungan dengan Disfungsi neuromuskuler (D.0001)
Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera biologis (D.0077).
Terapeutik:
1) Berikan teknik nonframakologis untuk mengurangi rasa nyeri
(mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi,
teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
R/ Mengalihkan nyeri yang dirasakan
2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
ruangan, pencahayaan, kebiingan)
R/ Menurunkan stimulus nyeri eksternal dan sensani nyeriyang dirasakan
3) Fasilitasi istirahat dan tidur
R/ Agar pasien mampu beritirahat dengan baik Edukasi:
1) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
R/ Mengetahui hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri
2) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat R/ Mengetahui
penggunaan obat secara tepat
3) Ajarkan tehnik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri R/
Mengetahui teknik untuk mengalihkan nyeri secara mandiri
Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu R/ Mengurangi nyeri
yang dirasakan
2. Discharge planning
trombosis
35
36
Aterosklerosis
TG :
Pecah/ruptur pembuluh Sempitnya
Penurunan lumen pada
kesadaran, darah
PD otaK
,peningkatan
TIK
HEMORA
GIK
Kerapuhan
STROKE pada PD
Darah masuk ke
jaringan otak subarachnoid
Perdaraha
n
subarachn
oi d
dan O2 Vasospasme
Iske
mik
jarin
gan
Kadar O2 sere
Aktivitas elektrolit terhenti
bral
Nek
rosis
jarin
gans
Infark serebri
erebr
al
38
Airway
Breathing
Exposure
39
Breathing Disabillity
Keterangan:
: Garis putus – putus merupakan tanda pada kasus pasien
40
Sumber: Adhi, K. (2020); Brunner & Suddarth. (2016); Joyce M. Black & Jane Hokanson Hawks. (2014).
41
.
42