BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manajemen Logistik
2.1.1 Definisi Manajemen Logistik
Secara umum, pengertian manajemen logistik adalah suatu penerapan
prinsip-prinsip manajemen dalam kegiatan logistik dengan tujuan agar pergerakan
personal dan barang dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Manajemen
logistik juga dapat diartikan sebagai bagian dari proses supply chain management
yang memiliki fungsi penting dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian
efektivitas dan efisiensi penyimpanan dan aliran barang, pelayanan dan informasi,
hingga ketitik konsumsi untuk memenuhi keperluan konsumen. Menurut Garcia,
Hernandez, & Hernandez (2013) manajemen Logistik adalah bagian dari
manajemen rantai pasokan yang merencanakan, mengimplementasikan dan
mengendalikan aliran dan penyimpanan yang efisien dan efektif dari aliran dan
penyimpanan barang, jasa, dan informasi terkait antara titik asal dan titik
konsumsi untuk memenuhi persyaratan pelanggan.
Siahaya (2012) mendefinisikan bahwa manajemen logistik adalah bagian
dari Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasok). Yang merencanakan,
melaksanakan, dan mengendalikan aliran barang secara efektif dan
efisien,meliputi transportasi, penyimpanan, distribusi, dan jasa layanan serta
informasi terkait mulai dari tempat asal ketempat konsumsi untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan. Ricky Martono (2015: 2) mengemukakan manajemen
logistik adalah sistem terintegrasi yang mengkoordinasikan keseluruhan proses di
organisasi / perusahaan dalam mempersiapkan dan menyampaikan produk / jasa
kepada konsumen. The Council of Logistic Management (CLM), organisasi
pelopor logistik di Amerika Serikat yang memiliki anggota sekitar 15.000 orang,
mendefinisikan Manajemen Logistik sebagai berikut “Manajemen logistik
merupakan bagian dari proses Supply Chain yang berfungsi untuk merencanakan,
melaksanakan dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan aliran dan
penyimpanan barang, pelayanan dan informasi terkait dari titik permulaan (point
7
8
of origin) hingga titik konsumsi (point of consumption) dalam tujuannya untuk
memenuhi kebutuhan para pelanggan.”
Dari definisi manajemen yang telah dikemukakan oleh beberapa pakar
diatas, maka dapat dibuat sintesis mengenai manajemen logistik adalah kegiatan
aliran barang yang dibagi menjadi dua yaitu kegiatan secara manajerial dan
kegiatan secara operasional. Kegiatan manajerial dari logistic meliputi
perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan, Sedangkan kegiatan operasional
logistic meliputi pengadaan, pencatatan, penyimpanan, pendistribusian,
pemeliharaan dan penghapusan barang-barang, baik barang-barang yang akan
dijual kepada konsumen dengan tujuan memenuhi kebutuhan pelanggan maupun
peralatan yang merupakan inventaris bagi perusahaan. Di dalam kegiatan logistik
pun terdapat informasi mengenai logistik perusahaan yang dapat memudahkan
perusahaan dalam kegiatannya dan juga meliputi pelayanan kepada konsumen
secara langsung dalam penjualan barang kepada konsumen.
Tujuan logistik adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam-macam
material dalam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang
dapat dipakai, ke lokasi di mana ia dibutuhkan, dan dengan total biaya yang
terendah. Melalui proses logistiklah material mengalir ke kompleks manufacturing
yang sangat luas dari Negara industry dan produk-produk didistribusikan melalui
saluransaluran distribusi untuk konsumsi. Penyelenggaraan logistik memberikan
kegunaan (utility) waktu dan tempat. Kegunaan tersebut merupakan aspek penting
dari operasi perusahaan juga pemerintah. Semua bentuk perilaku yang teroganisir
membutuhkan sokongan logistik. Nilai dalam bentuk tersedianya barang pada
waktunya yang ditambahkan kepada material atau prestasinya.
2.1.2 Fungsi Manajemen Logistik
Dalam pelaksanaanya, logistik management memiliki beberapa fungsi
penting yang saling terkait satu dengan lainnya. Menurut Prihantono R (2012),
manajemen logistik adalah suatu proses kegiatan fungsional untuk mengelola
material, yang meliputi kegiatan perencanaan dan penentuan kebutuhan,
penganggaran pengadaan, penyimpanan dan penyaluran, pemeliharaan,
9
penghapusan dan pengendaliannya. Adapun fungsi manajemen logistik menurut
berbagai ahli, adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Perencanaan
Perencanaan merupakan salah satu fungsi dari manajemen, seperti
halnya dalam manajemen logistik yang memiliki kegiatan manajemen
diantaranya adalah perencanaan. Kaitannya dalam logistik, perencanaan
dalam manajemen logistik merupakan pemikiran akan perumusan tindakan-
tidakan yang berkaitan dengan kegiatan operasional logistik. Logistik
merupakan kegiatan arus barang, dalam konteks ini berarti kegiatan
perencanaan merupakan perumusan terhadap produk yang dijual kepada
konsumen yang merupakan kebutuhan konsumen dan merupakan
keuntungan bagi perusahaan.
2. Fungsi Penganggaran dan Pengadaan
Fungsi ini bertujuan untuk memastikan bahwa keperluan pengadaan
barang sesuai dengan budget yang dimiliki. Jika biaya penganggaran
logistik ternyata tidak sesuai dengan budget, maka diperlukan perubahan
pada perencanaan. Pada dasarnya manajemen logistik lebih fokus pada
pengadaan barang dan merupakan hal yang wajib. Ketika terjadi
ketidakcocokan anggaran dan sulit mengubah perencanaan maka personil
logistik harus melakukan improvisasi untuk mengelola kegiatan logistik
dengan anggaran terbatas. Pengadaan logistik merupakan serangkaian
kegiatan untuk menyediakan logistik sesuai dengan kebutuhan, baik
berkaitan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu maupun tempat
dengan harga dan sumber yang dapat dipertangggung jawabkan.
3. Fungsi Penyimpanan (Pergudangan) dan Penyaluran
Fungsi Ini merupakan proses dimana barang yang didapatkan
disimpan di tempat yang seharusnya. Selanjutnya, barang tersebut kemudian
disalurkan kepada pihak lain yang kepentingan sesuai dengan standar
oprasional prosedur. Secara lebih operasional, penggudangan merupakan
serangkaian kegiatan pengurusan dalam penyimpanan logistik mulai dari
kegiatan penerimaan, pencatatan, pemasukan, penyimpanan, pengaturan,
10
pembukuan, pemeliharaan, pengeluaran dan pendistribusian sampai dengan
kegiatan pertanggungjawaban pengelolaan gudang (pembuatan laporan-
laporan) dengan tujuan mendukungan kontinuitas kerja unit kerja, sekaligus
mendukung efektivitas dan efisiensi organisasi secara keseluruhan. Menurut
Blanchard (2010) terdapat delapan fungsi utama pergudangan yaitu:
Receiving (penerimaan), Prepackaging (sebelum pengepakan barang), put
away (menyimpan), Storage (penyimpanan), order (pesanan), packaging
(pengemasan), sortation (penyortiran) and unitizing and shipping
(penggabungan dan pengiriman).
4. Fungsi Pemeliharaan
Logistik merupakan kegiatan pengelolaan logistik berkaitan dengan
upaya mempertahankan kondisi teknis, daya guna, dan daya hasil logistik
baik usaha yang bersifat preventif maupun represif sehingga setiap logistik
yang ada senantiasa merupakan logistik yang siap pakai (ready for use) serta
menjamin jangka waktu pemakaian barang mencapai batas waktu yang
optimal. Barang-barang yang terdapat di gudang perusahaan atau barang-
barang yang merupakan asset perusahaan harus dipelihara dengan sebaik
mungkin agar produk tersebut dapat bertahan dengan baik sampai batas
waktu habis pakai produk tersebut.
Kegiatan pemeliharaan ini lebih sulit dilakukan dibandingkan
dengan pengadaan logistk, karena mudah saja kita dapati di beberapa
perusahaan terdapat barang-barang logsitk yang tidak terawat, kotor, asal
dalam penempatannya, tidak teratur dan terkadang penampilan tidak sesuai
dengan umur barang. Gejala-gejala seperti ini perlu dikurangi karena akan
merugikan organisasi tersebut. Pentingnya ditekankan pula bahwa kegiatan
pemeliharaan logistik merupakan kewajiban bagi setiap personel dalam
setiap orgaisasi. Dengan demikian, kegiatan pemeliharaan logistik tidak
mungkin diserahkan semuanya pada unit kerja tertentu ataupun pihak
eksternal, kecuali memang pemeliharaan logistik tersebut pada tahap
tertentu harus ditangani oleh unit kerja tertentu yang secara teknis memang
lebih menguasai.
11
5. Fungsi Penghapusan
Di dalam kegiatan logistics management juga terdapat kegiatan
penghapusan. Dal hal ini fungsi penghapusan adalah untuk memisahkan
barang yang rusak, memerbaiki barang yang rusak, dan mengganti barang
yang rusak dengan yang sesuai. Jika barang-barang atau produk yang ada di
perusahaan sudah memasuki jangka waktu habis pakai (expired) maka
barang-barang tersebut harus dihapuskan dari daftar barang karena barang
tersebut sudah tidak berdaya guna maupun bernilai guna.
Menurut Tunggal (2009) dalam proses kegiatan manajemen logistik
terdapat input dan output. Input proses manajemen logistik meliputi sumber
daya alam, manusia, finansial dan sumber informasi. Perencanaan logistik
merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan input ini dalam berbagai
bentuk, meliputi bahan mendat (seperti subassemblies, lokasi, pengepakan
bahan, komoditi dasar), barang setengah jadi serta barang siap pakai (seperti
produk lengkap siap dijual pada pelanggan tingkat menengah ataupun
pelanggan akhir).
6. Fungsi Pengendalian
Fungsi pengendalian dilakukan oleh seorang manajer logistik dengan
tahapan sesuai dengan fungsi yang disebutkan diatas. Tujuan pengendaliaan
ini adalah untuk memastikan setiap fungsi manajemen logistik dapat
berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Subagya (1994),
manajemen logistik adalah kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk
mencapai daya guna efisiensi yang optimal di dalam memanfaatkan barang
dan jasa.
7. Pencatatan
Kegiatan untuk penyediaan data atas semua logistik yang
dimiliki/dikuasai/diurus organisasi, baik sebagai hasil usaha pembuatan
sendiri, pembelian, hadiah, maupun hibah, baik berkaitan dengan jenis dan
spesifikasinya, jumlah, sumber, waktu pengadaan, harga, tempat, dan
kondisi serta perubahan-perubahan yang terjadi guna mendukung proses
pengendalian dan pengawasan logistik, serta mendukung efektivitas dan
12
efisiensi dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Di dalam perusahaan
kegiatan logistik salah satunya adalah mancatat perlengkapan atau peralatan
(asset) apa saja yang dimiliki oleh perusahaan, dan mencatat produk apa saja
yang di miliki oleh perusahaan yang akan dijual kepada konsumen.
Didalam pencatatan ini semua produk harus terdata tidak boleh ada
yang ketinggalan, mulai dari jumlah produk, batas waktu kegunaan serta
segala informasi yang berkaitan dengan produk tersebut. Dapat ditegaskan
bahwa inventarisasi logistik akan menyediakan berbagai informasi berkaitan
dengan keberadaan logistik. Informasi tersebut selain dapat digunakan
sebagai sarana untuk melakukan pengawasan dan pengendalian logistik,
juga dapat digunakan sebagai instrumen pengambilan keputusan berkaitan
dengan tindakan-tindakan manajemen logistik.
2.1.3 Tanggung Jawab Kegiatan dan Strategis Logistik
Tanggung Jawab Kegiatan Logistik menurut Rizal (2006) dibagi menjadi
empat (4) diantaranya yaitu menjaga keseimbangan biaya dan resiko, tanggung
jawab harian, tahapan logistik, dan fungsi koordinasi.
1) Menjaga keseimbangan biaya dan resiko antara besarnya inventori dengan
besarnya biaya transportasi dan biaya pengadaan. Tanggung jawab ini
dilakukan secara bersama-sama dengan bagian lain yang berhubungan
dengan perpindahan dan pengelolaan barang perusahaan baik nasional
maupun internasional.
2) Tanggung jawab harian. ruang lingkup pekerjaan harian manager logistik
sebuah perusahaan diantaranya:
a) Mengatur hubungan semua pihak yang terkait dalam pengelolaan
barang mulai dari supplier, operator transportasi, pengguna atau
konsumen;
b) Pada suatu kegiatan manufaktur, mengatur kontinuitas pasokan bahan
baku dan menentukan jumlah pasokan serta inventory yang paling
ekonomis;
13
c) Mengatur pengambilan dan pengepakan sesuai dengan jadwal
permintaan;
d) Menjamin kegiatan pemberian label, pembersihan, pengurutan, serta
pengiriman barang sesuai dengan spesifikasi pembelian;
e) Mengatur transportasi yang sesuai dengan kebutuhan;
f) Memantau pergerakan pengiriman barang serta melakukan analisa dan
kinerja operator pengiriman barang;
g) Mengawasi kegiatan bongkar muat dan pembongkaran kemasan
(unpacking);
h) Memastikan dokumen pengiriman agar memenuhi persyaratan kredit
dan kontrak;
i) Berhubungan dengan agen kapal, petugas pelabuhan, petugas bea
cukai dan petugas lain yang terkait dalam menjamin kelengkapan
dokumen sesuai persetujuan di dalam kontrak.
j) Menjamin kelancaran penanganan barang sesuai dengan logistik dan
standar keamanan yang diperlukan;
k) Mengatur back-load(menghindarkan penggunaan kendaraan kembali
dalam keadan kosong) untuk memaksimalkan efisiensi transportasi;
l) Melakukan pengepakan, pengiriman dan pengaturan barang-barang
yang harus dikembalikan kepada rekanan (reverse logistic) atau
dikirim untuk didaur ulang.
3) Tahapan logistik. Tahap pertama : inbound logistic adalah tahapan
transportasi barang dari lokasi supplier ke gudang pembelian atau
konsumen. Tahap kedua: internal distribution Tahap kedua dari proses
operasional logistik adalah proses pembongkaran dari kemasan besar
menjadi kemasan kecil untuk disampaikan kepada agen, bagian produksi
atau penjual eceran didalam jaringan distribusi perusahaan.
4) Fungsi koordinasi. Dalam kegiatan sehari-hari pihak yang bertanggung
jawab di bagian logistik suatu perusahaan harus melakukan koordinasi
dengan bagian pembelian, gudang, produksi dan [Link]
transportasi harus melakukan koordinasi dengan beberapa institusi diluar
14
perusahaan seperti rekanan, agen angkatan laut, udara atau darat, perusahaan
yang spesialisasinya mengelola pergudangan, operator pusat crossdocking
(cross docking centre operation), bea cukai, instansi yang mempengaruhi
peraturan transportasi dan pengguna akhir atau pelanggan.
2.2 Supply Chain Management
2.2.1 Definisi Supply Chain Management
Supply chain management (manajemen rantai pasokan) adalah integrasi
aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah
jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan (Heizer dan Render,2008).
Simichi-Levietal dalam Irmawati (2007) menyatakan manajemen rantai pasokan
sebagai sebuah pendekatan yang diterapkan untuk menyatukan pemasok,
pengusaha, gudang, dan tempat penyimpanan lainnya (distributor, retailer, dan
pengecer) secara efisien, sehingga produk dapat dihasilkan dan distribusikan
dengan jumlah yang tepat, lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat untuk
menurunkan biaya dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Jebarus (2001)
mendefinisikan supply chain management adalah pengembangan lebih lanjut dari
manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Menurut
Levi, et al (2000), supply chain management adalah sebagai suatu pendekatan
yang digunakan untuk mencapai pengintegrasian yang efisien dari supplier,
manufaktur, distributor, retailer, dan customer. Sedangkan menurut J. A. O’Brien
(2006) tidak jauh berbeda pandangan, supply chain management adalah sistem
antar perusahaan lintas fungsi, yang menggunakan teknologi informasi untuk
membantu mendukung serta mengelola berbagai hubungan antar beberapa proses
bisnis utama perusahaan dengan pemasok, pelanggan, dan mitra bisnis.
Pengertian-pengertian tersebut menyatakan secara umum bahwa pemahaman
supply chain management (manajemen rantai pasokan) akan mengandung makna
terjadinya aliran material dari awal sampai ke konsumen dengan memperhatikan
faktor ketepatan waktu, biaya, dan jumlah produknya.
Terdapat tiga aspek dari supply chain management yang perlu diperhatikan
antara lain :
15
1. Supply chain management adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk
mencapai pengintegrasian yang efisien dari supplier, manufaktur,
distributor, retailer, dan customer. Artinya barang diproduksi dalam jumlah
yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tempat dengan tujuan
mencapai biaya sistem yang minimum dan mencapai tingkat pelayanan yang
diinginkan
2. Supply chain manajemen memiliki dampak dalam pengendalian biaya
3. Supply chain management mempunyai peran penting dalam meningkatkan
kualitas pelayanan perusahaan ke konsumen. Supply chain management
melibatkan berbagai pihak di dalamnya baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam usaha untuk memenuhi permintaan konsumen.
2.2.2 Komponen Dasar Supply Chain Management
Menurut Worthen dan Wailgum (2008), Supply Chain Management
(SCM) memiliki beberapa komponen dasar di antaranya:
1. Plan
Kesuksesan supply chain management terletak pada proses
penentuan strategi Supply Chain Management (SCM). Tujuan dari proses
perumusan strategi ialah agar tercapai efisiensi dan efektivitas biaya serta
terjaminnya kualitas produk yang dihasilkan hingga sampai ke konsumen.
2. Source
Perusahaan harus mampu memilih supplier bahan baku yang
kredibel dan sanggup untuk mendukung proses produksi yang akan
dilakukan. Oleh sebab itu, manajer supply chain management harus dapat
menetapkan harga, mengelola pengiriman, pembayaran bahan baku, dan
menjaga serta meningkatkan hubungan bisnis terhadap supplier.
3. Make
Komponen ini adalah tahap manufacturing. Manajer Supply Chain
Management (SCM) melakukan penyusunan jadwal aktivitas yang
dibutuhkan dalam proses produksi, uji coba produk, pengemasan, dan
persiapan pengiriman produk berupa barang atau jasa. Perusahaan juga
16
harus mampu melakukan pengukuran kualitas, output produksi, serta
produktivitas pekerja.
4. Deliver
Perusahaan memenuhi pesanan dari permintaan konsumen,
mengelola jaringan gudang penyimpanan, memilih distributor untuk
menyerahkan produk ke konsumen, serta mengatur sistem pembayaran.
5. Return
Perencana supply chain management harus mampu membuat
jaringan yang fleksibel serta responsif untuk produk (barang atau jasa) cacat
dari konsumen dan membentuk layanan aduan konsumen ataupun fasilitas
pengembalian yang memiliki masalah dengan produk yang dikirimkan.
Perusahaan perlu membuat laporan performansi bisnis secara rutin sehingga
pimpinan perusahaan dapat mengetahui perubahan performa bisnis yang
telah dilakukan sesuai dengan tujuan awal dari Supply Chain Management
(SCM) yang telah ditetapkan.
2.2.3 Tujan Supply Chain Management
1. Mencapai biaya yang minimum dan tingkat pelayanan yang maksimum.
Manajemen rantai pasokan (supply chain management) mempertimbangkan
segala fasilitas yang berpengaruh terhadap barang atau jasa yang dihasilkan
dan biaya yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan konsumen.
2. Bisa memenangkan persaingan pasar. Untuk bisa memenangkan persaingan
pasar maka rantai pasokan harus mampu menyediakan barang atau jasa yang
murah, berkualitas, tepat waktu, dan variatif.
3. Merencanakan dan mengkoordinasikan semua kegiatan yang terdapat dalam
supply chain sehingga akan tercapai pelayanan kepada customer yang
maksimal dengan biaya yang relatif rendah.
4. Memaksimalkan nilai keseluruhan yang dihasilkan untuk memenuhi
kebutuhan dan permintaan customer serta meminimumkan biaya secara
keseluruhan seperti biaya pemesanan, penyimpanan, dan transportasi.
17
2.3 Cost Control
Bambang Hartadi (1993) Dalam buku Sistem Pengendalian Intern dalam
Hubungannya dengan Management dan Audit. Cost control adalah sebuah upaya
pengendalian struktur organisasi, cara, dan ketentuan yang saling terkoneksi pada
suatu perusahaan. Cost control menurutnya dilakukan agar dapat melindungi aset
perusahaan. Khususnya dilakukan dengan cara memeriksa secara teliti,
mengevaluasi kinerja akuntansi, dan meningkatkan efisiensi. Serta memastikan
kebijakan perusahaan yang berlaku agar dilaksanakan dengan baik.
Sondang(1999) mengatakan bahwa cost control adalah suatu upaya yang
dilakukan secara sistematis untuk membuat suatu penetapan standar pelaksanaan
dalam menyusun suatu rencana, penyediaan sistem informasi yang berisi suatu
feedback, mengevaluasi pelaksanaan dan perencanaan, dan juga memeriksanya
jika dibutuhkan adanya evaluasi sesuai dengan rencana yang sebelumnya sudah
ditetapkan demi mencapai tujuan perusahaan.
Terdapat beberapa tugas utama dari seorang cost control yang ada di Hotel
Grand Mercure Malang Mirama berdasarkan HOTEL ACCOUNTING &
OPERATION MANUAL POLICIES & PROCEDURES(2010) standar
operasional perusahaan accor yang diterapkan di seluruh hotel yang tergabung
dalam accor grup yaitu :
1. Fungsi Pengendalian Biaya Makanan & Minuman
2. Kontrol pengiriman
3. Persiapan dan pemeliharaan resep
4. Potensi biaya makanan dan analisis penjualan menu
5. Kontrol nilai penjualan minuman potensial
6. Manajemen stok par
7. Pemindahan persediaan
8. Laporan Biaya Makanan Harian
9. Pelaporan kontrol biaya Makanan & Minuman bulanan
10. Laporan stok mati dan barang yang bergerak lambat
18
2.4 Storekeeper
Dalam menjaga kontinuitas operasional di sebuah hotel, dibutuhkan
sarana, prasarana dan fasilitas yang memadai. Salah satu bagian fasilitas yang
penting untuk disediakan oleh pihak hotel yaitu sebuah gudang (general store).
(satu kalimat) Logistik adalah seni dan ilmu yang mengatur dan mengontrol arus
barang, energi, informasi dan sumber daya lainnya, seperti produk, jasa dan
manusia, dari sumber produksi ke pasar dengan tujuan mengoptimalkan
penggunaan modal (Gunawan, 2014). Storekeeper merupakan bagian yang
bertugas dan memiliki tanggung jawab atas penyimpanan, pemeliharaan, dan
pendistribusian barang-barang atau bahan kepada bagian yang memerlukan, yang
pengajuannya melalui store requisition.
2.5 Purchasing
Purchasing sendiri merupakan bahasa inggris yang berarti pembelian.
Secara umum dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk
membeli atau menyewa barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan operasional
perusahaan. Dilansir dari inc, setiap perusahaan rata-rata menghabiskan 50 hingga
70 persen dari pendapatannya untuk melakukan pembelian. Memang sekilas
terlihat mudah, namun dari persentase tersebut dapat terlihat bahwa tugas
purchasing tidak semudah istilahnya. Seorang buyer harus memahami apa yang
dibutuhkan perusahaan berdasarkan anggaran dan perencanaan yang dimiliki oleh
perusahaan. Dilansir dari buku SOP yang ada di Hotel Grand Mercure Malang
Mirama terdapat beberapa tugas utama dari seorang purchasing sebagai berikut :
1. Memilih supplier minimal mengajukan tiga supplier dengan jenis barnag
yang sama
2. Melakukan bidding
3. Negosiasi kepada supplier
4. Membuat PO(Purchase Order dan Market List)
5. Fungsi pengadaan barang
19
2.6 Kerangka Berfikir
Logistik Hotel Grand Mercure Malang Mirama
Tim Logistik Hotel Grand Mercure Malang Mirama
Purchasing,Storekeeper,Cost Controll
Fungsi Manajemen Logistik
- Perencanaan
- Penganggaran dan
Pengadaan
- Penyimpanan
- Pemeliharaan
- Penghapusan
- Pengendalian
- Pencatatan
(Prihantoro, 2012)
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir