0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan34 halaman

Peninggalan Tradisional di Museum Lampung

Dokumen ini adalah laporan penelitian tentang koleksi peninggalan tradisional di Museum Lampung, yang mencakup analisis bentuk dan makna dari berbagai artefak budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mengevaluasi nilai penting koleksi tersebut dalam konteks pelestarian warisan budaya. Museum Lampung berfungsi sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya, serta destinasi wisata yang kaya akan sejarah dan tradisi masyarakat Lampung.

Diunggah oleh

agus setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan34 halaman

Peninggalan Tradisional di Museum Lampung

Dokumen ini adalah laporan penelitian tentang koleksi peninggalan tradisional di Museum Lampung, yang mencakup analisis bentuk dan makna dari berbagai artefak budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mengevaluasi nilai penting koleksi tersebut dalam konteks pelestarian warisan budaya. Museum Lampung berfungsi sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya, serta destinasi wisata yang kaya akan sejarah dan tradisi masyarakat Lampung.

Diunggah oleh

agus setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KOLEKSI PENINGGALAN TRADISIONAL DI MUSEUM

LAMPUNG: KAJIAN BENTUK DAN MAKNA

Oleh:

FAHRI AJIE WIJAYA

SMP NEGERI 1 GEDUNG AJI BARU

TAHUN PELAJARAN 2025/2026


LEMBAR PENGESAHAN

Laporan hasil study tour yang berjudul “KOLEKSI PENINGGALAN


TRADISIONAL DI MUSEUM LAMPUNG: KAJIAN BENTUK DAN
MAKNA” ini telah dibaca dan disahkan. Pada tanggal

Kesiswaan. Guru Mata Pelajaran Bahasa


Indonesia.

ABDUR ROHMAN, [Link]. SITI MARYAMAH, [Link].


NIP. 199107162022211006 NIP. 196801232007012007

Mengetahui:

Kepala SMP NEGERI 1 GEDUNG AJI BARU

RUSTOYO, [Link].
NIP. 196805271992031003

ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

A. Identitas Pribadi
Nama Lengkap : FAHRI AJIE WIJAYA
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir : Sukabhakti/19 Desember 2010
Agama : Islam
Alamat : Sukabhakti, Kec. Gedung Aji Baru, Kab.
Tulang Bawang.

B. Pendidikan
SD : Tahun 2018−2023 SD NEGERI 1 SUKA
BHAKTI
SMP : Tahun 2023−sekarang SMP NEGERI 1
GEDUNG AJI BARU

Gedung Aji Baru,

Fahri Ajie Wijaya

iii
MOTTO

“Be authentic, not just aesthetic”

“Keberhasilan bukanlah milik orang pintar, keberhasilan adalah milik mereka


yang senantiasa berusaha”

(B. J. HABIBIE)

“Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi dan tidak ada mimpi yang patut diremehkan.
Lambungkan setinggi yang engkau inginkan dan gapailah dengan selayaknya
yang engkau harapkan”

(MAUDY AYUNDA)
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat,


Hidayah dan Karunia-Nya, sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang
berjudul “KOLEKSI TRADISIONAL DI MUSEUM LAMPUNG:
KAJIAN BENTUK DAN MAKNA”, dapat saya selesaikan.

Karya Tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, saya mengucapkan terimaksih kepada Ibu Siti Maryamah, [Link].
Selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah memberikan
arahan dan bimbingan.

Saya menyadari bahwa di dalam Karya Tullis Ilmiah ini masih


terdapat kelemahan. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik dan saran
guna perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, saya berharap semoga Karya Tuls Ilmiah ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca.

Penulis

Fahri Ajie Wijaya

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS.............................................................iii
MOTTO.................................................................................................................iv
KATA PENGANTAR.............................................................................................v
DAFTAR ISI..........................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG..............................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH.........................................................................4
1.3 TUJUAN PENELITIAN..........................................................................4
1.4 MANFAAT PENELITIAN......................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI................................................................................7
2.1 PENINGGALAN TRADISIONAL.........................................................7
2.2 MUSEUM DAN PERANNYA..............................................................12
2.3 TEORI KAJIAN BENTUK...................................................................12
2.4 TEORI MAKNA....................................................................................14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................17
3.1 JENIS PENELITIAN.............................................................................17
3.2 LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN...............................................17
3.3 TEKNIK PENGUMPULAN DATA......................................................18
3.4 DOKUMENTASI...................................................................................19
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................21
4.1 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH PERTAMA............................21
4.2 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH KEDUA.................................21
4.3 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH KETIGA................................22
4.4 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH KEEMPAT.............................22
BAB V PENUTUP................................................................................................23
5.1 KESIMPULAN............................................................................................23
5.2 SARAN........................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................24

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Museum Lampung, yang juga dikenal dengan nama Museum Negeri


Lampung “Ruwa Jurai”, merupakan institusi penting yang menyimpan dan
melestarikan kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat
Lampung. Terletak di Kota Bandar Lampung, museum ini menjadi saksi bisu
perjalanan panjang provinsi ini, dari zaman prasejarah hingga era
modern. Dengan koleksi yang beragam dan fungsi yang multifaset, Museum
Lampung menawarkan pengalaman edukatif yang mendalam bagi setiap
pengunjung.

Museum Lampung dirintis pada tahun 1975 oleh Kepala Kantor


Pembinaan Permuseuman Perwakilan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Lampung di Tanjung Karang. Pembangunan gedung
pameran dan kantor baru dimulai pada tahun 1978/1979, berdasarkan
keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Nomor: 064/1978
pada tanggal 30 Maret 1978. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Drs.
Supangat, Kepala Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil
Depdikbud Provinsi Lampung, pada tanggal 13 Juni 1978 di Jalan Teuku
Umar No. 64, Gendongmeneng. Museum ini diresmikan pada tanggal 24
September 1988 oleh Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan pada masa itu.

Nama “Ruwa Jurai” diambil dari filosofi masyarakat Lampung yang


berarti “dua cabang keluarga”, menggambarkan dua golongan masyarakat adat
Lampung, yaitu Sai Batin dan Pepadun. Arsitektur museum ini mengadopsi
konsep rumah adat Lampung, dengan struktur bangunan yang menyerupai
rumah panggung tradisional. Bangunan ini terdiri dari dua lantai yang masing-
masing memiliki fungsi dan koleksi yang berbeda.

1
Koleksi Utama Museum Lampung:

1. Zaman Prasejarah

Di lantai bawah museum, pengunjung dapat menemukan koleksi dari zaman


prasejarah, seperti alat-alat batu, fosil, dan artefak lainnya yang
menggambarkan kehidupan manusia purba di Lampung.

2. Zaman Hindu-Buddha

Koleksi dari periode ini mencakup arca-arca, prasasti, dan peralatan ritual
yang menunjukkan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Lampung. Salah
satu koleksi penting adalah Prasasti Dadak, yang ditemukan di Dusun Dadak,
Desa Tebing pada tahun 1994. Prasasti ini ditulis dengan huruf Jawa Kuno dan
berbahasa Melayu Madya, serta memuat informasi tentang peminjaman tanah
untuk pendirian bangunan suci pada abad ke-14 atau 15 Masehi.

3. Zaman Islam

Koleksi dari periode Islam meliputi Al-Qur’an tulisan tangan di atas kertas
deluang, keramik bertuliskan huruf Arab, dan naskah-naskah yang ditulis di
atas kulit kayu. Salah satu naskah penting adalah naskah yang ditulis dalam
bahasa Lampung, Banten, dan Arab, yang mencerminkan interaksi budaya dan
agama di Lampung.

4. Zaman Kolonial

Museum ini juga menyimpan koleksi dari masa penjajahan, seperti senjata
tradisional Lampung, termasuk Payan Kejang (tombak panjang), Taming
(tameng), Pundhuk (keris), dan Panderang (pedang). Senjata-senjata ini
digunakan oleh masyarakat Lampung dalam perjuangan melawan penjajahan.

5. Zaman Pasca Kemerdekaan

Koleksi dari periode ini mencakup peralatan rumah tangga, tembikar, dan
keramik dari berbagai negara, seperti Cina, Vietnam, Thailand, Persia, dan

2
Eropa. Koleksi ini menunjukkan adanya perdagangan dan pertukaran budaya
antara Lampung dan negara-negara lain.

Museum Lampung memiliki berbagai fungsi dan peran penting, antara lain:

 Pusat Edukasi dan Penelitian: Menjadi tempat bagi pelajar, mahasiswa,


dan peneliti untuk mempelajari sejarah dan budaya Lampung.

 Pelestarian Budaya: Melestarikan dan melindungi benda cagar budaya


untuk generasi mendatang.

 Destinasi Wisata Sejarah: Menjadi tujuan wisata edukatif bagi


masyarakat dan wisatawan.

 Pusat Pembinaan dan Pengembangan


Kebudayaan: Menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan, seperti
pameran, seminar, dan workshop.

Museum Lampung terletak di Jalan H. Zainal Abidin Pagar Alam No.


64, Kelurahan Gendongmeneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung,
Provinsi Lampung. Museum ini dapat dijangkau dengan berbagai moda
transportasi, baik menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun
taksi.

Museum Lampung merupakan institusi yang sangat penting dalam


pelestarian dan pengembangan sejarah serta budaya Provinsi Lampung.
Dengan koleksi yang kaya dan beragam, museum ini tidak hanya menjadi
tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi pusat
edukasi dan destinasi wisata yang menarik.

3
1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana klasifikasi (jenis, bahan, dan fungsi) koleksi peninggalan


tradisional yang tersimpan di Museum Lampung?
2. Bagaimana aspek visual atau bentuk fisik (ornamen, motif, dan struktur)
dari koleksi peninggalan tradisional tersebut merepresentasikan budaya
lokal Lampung?
3. Apa makna simbolis, filosofis, atau fungsi sosial yang terkandung di balik
bentuk dan ornamen koleksi peninggalan tradisional di Museum
Lampung?
4. Bagaimana nilai penting dari koleksi peninggalan tradisional di Museum
Lampung dalam konteks pelestarian warisan budaya daerah saat ini?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam


terhadap koleksi peninggalan tradisional yang ada di Museum Lampung,
dengan fokus pada aspek visual (bentuk) dan konteks budayanya (makna).
Adapun tujuan spesifik dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan secara rinci berbagai jenis
koleksi peninggalan tradisional berdasarkan bahan, fungsi, dan konteks
sejarahnya di Museum Lampung.
2. Menganalisis dan mendeskripsikan bentuk fisik, ornamen, dan motif yang
terdapat pada koleksi peninggalan tradisional tersebut sebagai representasi
visual budaya lokal Lampung.
3. Menginterpretasikan dan mengungkap makna simbolis, filosofis, serta
fungsi sosial yang terkandung di balik bentuk dan ornamen koleksi yang
ditemukan.

4
4. Mengevaluasi peran dan nilai penting koleksi peninggalan tradisional di
museum dalam upaya pelestarian warisan budaya Lampung di era
kontemporer.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis


dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun secara praktis bagi berbagai
pihak yang berkepentingan.
1. Manfaat Teoretis (Akademis)
 Pengembangan Ilmu Arkeologi/Antropologi: Penelitian ini diharapkan
dapat memperkaya khazanah keilmuan, khususnya dalam bidang
arkeologi, antropologi budaya, dan sejarah seni rupa, terkait objek material
budaya Lampung yang jarang diteliti secara mendalam.
 Studi Simbolisme Budaya: Hasil kajian makna simbolis dapat menjadi
referensi ilmiah mengenai sistem kepercayaan, pandangan hidup, dan
nilai-nilai filosofis masyarakat Lampung di masa lampau.
2. Manfaat Praktis (Aplikasi Langsung)
 Bagi Pihak Museum Lampung:
o Memberikan data dan analisis objektif yang dapat digunakan sebagai
masukan dalam perbaikan manajemen koleksi, penataan ruang pamer,
dan pengembangan narasi pameran yang lebih informatif.
o Membantu staf museum dalam menyusun program edukasi dan
interpretasi yang lebih menarik bagi pengunjung.
 Bagi Pemerintah Daerah dan Dinas Pariwisata:
o Menyediakan data pendukung untuk perumusan kebijakan pelestarian
warisan budaya daerah.
o Menjadi bahan promosi pariwisata budaya yang menonjolkan
keunikan dan kekayaan koleksi Museum Lampung.
 Bagi Masyarakat Umum dan Generasi Muda:

5
o Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap
pentingnya warisan budaya lokal Lampung.
o Menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku ekonomi kreatif, seperti
desainer fesyen, kriya, dan seniman lokal untuk mengembangkan
produk-produk baru berbasis motif tradisional.

 Bagi Peneliti Lain/Mahasiswa:


o Dapat digunakan sebagai referensi awal atau studi pendahuluan bagi
penelitian selanjutnya yang ingin mendalami aspek budaya Lampung
atau manajemen museum.

6
7
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 PENINGGALAN TRADISIONAL

1. KAIN TAPIS

Kain Tapis adalah tenunan yang berbentuk kain sarung, dipakai


oleh wanita suku Lampung pada saat upacara adat, terbuat dari benang
kapas, bermotif dasar horizontal, pada bidang tertentu diberi hiasaan
sulaman benang emas, benang perak, atau sutera, benang sugi dengan
menggunakan sistem sulam (Lampung: Cucuk/Nyucuk).

Desain motif kain tapis adalah geometris, flora, fauna, manusia,


dan lain-lain. Terkadang Kain Tapis diberi hiasan aplikasi dengan bahan
lain semacam kaca, moci (payet), uang logam dan sebagainya.

 Tapis Dewasano/Jung Sarat.


 Tapis Bintang Perak.
 Tapis Raja Medal.

Gambar 2.1 Kain Tapis Lampung


Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025

8
2. SELENDANG

Selendang dalam konteks kebudayaan Lampung ada bermacam-macam


sesuai dengan jenis kegunaan, tempat asal, teknik pembuatan, dan ragam
hiasnya. Kain tenun yang termasuk dalam jenis selendang yakni: Kain
Sebagi, Kekat Akin, Maduaro, Selendang Limar, Selendang Pelangi.
Selendang adalah perleng kapan pakaian wanita dan pria yang dikenakan
di pundak, di kepala, atau diselempangkan di dada, sebagai ikat kepala,
ikat pinggang dan ikat pinggul.

 Kain Sebagi
 Kekat Akin
 Maduaro
 Selendang Limar
 Selendang Pelangi

Gambar 2.2 Selendang Lampung


Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025

3. KENDI/KIBUK

9
Kendi atau kibuk melambangkan/simbol kendi laki-laki dan perempuan.
Fungsi kendi sebagai tempat air suci yang disiramkan pada kedua ujung
ibu jari kaki kedua mempelai yang disatukan (bertemu) dalam waktu yang
bersamaan. Hal ini menandakan kedua mempelai resmi menjadi suami
istri secara adat. Makna dari air kibuk tersebut dapat mendamaikan,
menyejukkan kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan berumah
tangga dan mendapatkan keturunan laki-laki dan perempuan.

Gambar 2.3 Kendi/Kiduk


Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025

4. PERAHU
 Perahu Lesung

Perahu berukuran panjang 7,66 m ditemukan di Desa Terbanggi


Besar, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Perahu sudah
berusia 120 tahun, digunakan perairan sungai, rawa, dan teluk yang
tenang dan dipindahkan ke Museum Lampung tahun 2000. Tipe
Perahu Lesung sama dengan Perahu Kajang. Fungsinya sebagai alat
trasnportasi air zaman dahulu, atau untuk mengangkut barang-barang
dan sebagai alat untuk mencari keperluan hidup sehari-hari.

 Miniatur Perahu Kajang

10
Perahu Kajang umumnya berukuran panjang 3-4 m dibuat dari kayu
Rengas, beralaskan bilah bambu, beratap daun kelapa/aren/ nipah
yang ditopang pasak kayu/ bambu. Perlengkapan rumah tangga
dimuat di dalam perahu untuk memenuhi kebutuhan hidup selama
berlangsungnya penangkapan ikan.

Gamba
r 2.4 Miniatur Perahu Lesung dan Kajang
Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025

5. KAIN INUH

Kain tapis yang terdapat pada masyarakat Pesisir atau Saibatin disebut
dengan kain Inuh. Inuh pada umumnya dibuat dengan sistim tenun ikat
dan pada bidang horizontal tertentu disulam dengan benang sutera alam,
serat daun nenas. Tenun ikat pada kain bermotif pohon hayat dan lajur-
lajur, dan pada bidang yang lebar bermotif riak-riak gelombang, binatang
laut, tunas-tunas dan sulur daun. Motif ini melambangkan kesuburan dan
penyebaran benih baru dalam kehidupan. Motif tersebut juga terdapat
pada Prasasti Dadak yang berasal dari abad 14-15 M. Kain inuh
dikenakan oleh istri Penyimbang pada saat meng hadiri upacara adat
Lampung Saibatin.

11
 Kain Inuh

Asal Kenali, Lampung Barat.

 Kain Inuh

Asal Kota Agung, Kab. Tanggamus.

 Kain Inuh

Asal Krui, Lampung Barat.

 Kain Inuh

Asal Bengkunat, Lampung Barat.

Gambar 2.5 Kain Inuh


Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025

12
2.2 MUSEUM DAN PERANNYA

Museum Lampung, yang juga dikenal dengan nama Museum Negeri


Lampung “Ruwa Jurai”, merupakan institusi penting yang menyimpan dan
melestarikan kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat Lampung.

Museum Lampung berperan penting sebagai pusat pelestarian,


pendidikan, dan pengembangan kebudayaan Lampung, menjadi sarana untuk
menyimpan warisan sejarah dari prasejarah hingga modern, media
pembelajaran sejarah bagi siswa, serta tempat edukasi dan rekreasi yang
memperkuat identitas masyarakat “Sai Bumi Ruwa Jurai.”

2.3 TEORI KAJIAN BENTUK

1. KAIN TAPIS LAMPUNG

Bentuk fisik Kain Tapis Lampung didominasi oleh warna dasar gelap,
seperti hitam atau coklat tua, dan memiliki tekstur yang kasar dan kuat.
Analisis morfologi menunjukkan penggunaan bahan benang kapas, sutera,
benang emas, dan benang perak dengan teknik nyucuk (sulam).
Penggunaan elemen garis membentuk motif kapal yang secara visual
menampilkan ciri khas tapis Lampung yang ditenun dengan benang kapas
dan dihiasi sulaman benang emas.

2. SELENDANG

Bentuk fisik Selendang Lampung didominasi oleh warna dasar gelap,


seperti hitam, coklat tua, merah tua, dan memiliki tekstur yang kasar dan
kuat. Analisis morfologi menunjukkan penggunaan bahan benang kapas,
sutera, benang emas, dan benang perak dengan teknik tenun. Penggunaan
elemen garis membentuk motif kapal yang secara visual menampilkan
Selendang Lampung tradisional yang khas, dengan ciri visual utama
berupa sulaman benang emas di atas kain dasar tenun berwarna gelap.

13
3. KENDI/KIBUK

Bentuk fisik kendi Lampung didominasi oleh warna dasar gelap, seperti
hitam atau abu-abu gelap, dan memiliki tekstur yang padat dan halus khas
tanah liat. Analisis morfologi menunjukkan penggunaan bahan dasar
tanah liat atau lempung dengan teknik pembentukan gerabah
tradisional (kemungkinan dengan tangan atau meja putar sederhana) dan
proses pembakaran untuk mengeraskan tanah liat tersebut. Figur di
atasnya dibuat dengan teknik memahat atau menempel (aplikasi). Kendi
ini memiliki motif figuratif yang secara visual kendi kuno yang terbuat
dari gerabah atau tanah liat, khas dari budaya Lampung, yang dikenal
dengan nama lokal Kibuk.

4. PERAHU

Bentuk fisik Perahu Lampung didominasi oleh warna dasar gelap, seperti
coklat tua hingga hitam alami, dan memiliki tekstur kayu yang kasar.
Analisis morfologi menunjukkan penggunaan bahan utama kayu solid
dengan teknik memahat atau mengeruk batang kayu utuh (dugout canoe
atau perahu lesung). Perahu ini tampaknya minim motif hiasan pahatan
langsung pada badannya, fokus pada fungsi dan bentuk aslinya yang
secara visual merupakan perahu tradisional jenis perahu lesung atau
dikenal juga dengan sebutan lokal perahu ketinting.

5. KAIN INUH

Bentuk fisik Kain Inuh Lampung didominasi oleh warna dasar gelap,
seperti hitam atau coklat tua, dan memiliki tekstur yang kasar dan kuat.
Analisis morfologi menunjukkan penggunaan bahan benang kapas, sutera,
benang emas, dan benang perak dengan teknik nyucuk (sulam).
Penggunaan elemen garis membentuk motif kapal.

14
2.4 TEORI MAKNA

1. KAIN TAPIS LAMPUNG

Bagi masyarakat adat Lampung Kain Tapis dianggap sebagai kain


yang memiliki makna simbolis sangat tinggi salah satunya sebagai
lambang kesucian yang dapat melindungi pemakainya dari segala kotoran
dari luar.

 Makna simbolis Kain Tapis terdapat pada kesatuan utuh bentuk motif
yang diterapkan.
 Warna dasar Kain Tapis juga bisa dipakai sebagai wujud kepercayaan
yang melambangkan kebesaran Pencipta Alam.
 Kain Tapis memiliki fungsi yang sakral dalam berbagai upacara adat
dan keagamaan.
 Kain Tapis merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga.

Susunan masyarakat yang bertingkat-tingkat kemudian juga


melahirkan aturan pemakaian kain tapis sebagai busana adat yang
menyesuaikan status sosialnya dalam masyarakat disertai hukuman atau
sanksi bagi anggota masyarakat yang melanggarnya.

2. SELENDANG

Kain Selendang Lampung merupakan kain tradisional yang sering


digunakan dalam berbagai acara adat dan upacara penting. Selendang ini
tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga memiliki makna
simbolis yang mendalam. Biasanya dikenakan oleh perempuan sebagai
penutup bahu atau kepala, menambah kesan anggun dan berwibawa.
Motifnya sering dihiasi dengan benang emas atau perak, mencerminkan
keindahan budaya Lampung. Selain itu, kain ini juga digunakan sebagai
tanda penghormatan dalam upacara adat dan pernikahan.

15
Keindahan Kain Selendang Lampung menjadikannya bagian tak
terpisahkan dari budaya setempat. Masyarakat Lampung menjaga
kelestariannya dengan terus menggunakannya dalam berbagai kesempatan
resmi. Kini, kain selendang juga mulai dikreasikan dalam berbagai bentuk
busana modern tanpa kehilangan nilai tradisionalnya. Banyak desainer
memadukan kain ini dalam koleksi mereka untuk memperkenalkan
budaya Lampung ke kancah nasional dan internasional. Dengan nilai
estetika dan filosofinya, Kain Selendang Lampung tetap menjadi
kebanggaan daerah.

3. KENDI/KIBUK

Kendi/Kibuk dalam Budaya Lampung memiliki makna penting


sebagai wadah air tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai alat
rumah tangga, tetapi juga sebagai perlengkapan ritual dalam upacara adat.
Istilah “kibuk” sendiri merupakan kosakata dalam bahasa Lampung untuk
menyebut kendi.

Keberadaan kendi sebagai artefak tradisional memiliki makna dan


filosofi yang tidak terpisahkan dari kegiatan kebudayaan. Meskipun
rincian spesifik makna filosofis Kendi/Kibuk dalam konteks adat
Lampung tidak dijelaskan secara eksplisit dalam sumber yang tersedia,
secara umum benda-benda adat melambangkan aspek kehidupan,
kesucian, atau status sosial.

16
4. PERAHU

Makna dari Perahu Lesung sangat mendalam, baik secara harfiah, sebagai
alat transportasi, maupun secara simbolis dalam budaya masyarakat
Lampung.

 Makna Fungsional:

Sebagai alat transportasi utama dan sarana mata pencaharian


(nelayan) bagi masyarakat pesisir Lampung zaman dahulu.

 Makna Budaya:

Merupakan simbol budaya maritim, warisan leluhur, dan representasi


identitas lokal masyarakat Lampung yang akrab dengan laut dan
sungai.

 Makna Simbolis:

Melambangkan ketahanan, adaptasi, dan perjalanan hidup


masyarakat Lampung.

5. KAIN INUH

Makna Kain Inuh Lampung secara ringkas adalah sebagai simbol


kesucian, status sosial tinggi, dan pandangan hidup masyarakat Lampung.

Kain ini merupakan bagian penting dari busana adat Tapis dan
digunakan dalam upacara adat penting seperti perkawinan. Motifnya,
terutama motif kapal, melambangkan perjalanan hidup dan harapan
keselamatan bagi pemakainya.

17
18
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode


penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang digunakan untuk
memahami fenomena sosial dari perspektif partisipan ya. Penelitian ini
menekankan pada makna subjektif, proses sosial, dan realitas yang dibentuk
oleh individu atau kelompok dalam konteks tertentu.

Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah untuk memahami


fenomena sosial dari perspektif partisipan. Peneliti berusaha mendalami
pengalaman dan makna yang dibentuk oleh individu dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Berikut ini tujuan yang lainnya dari penelitian kualitatif.

Ciri-ciri penelitian kualitatif:

1. Peneliti adalah Instrumen.


2. Bersifat Subjektif.
3. Berkembang dan Fokus pada Proses.
4. Hasil Data Deskriptif.

3.2 LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN

1. LOKASI
Penelitian ini dilaksanakan di Museum Lampung, yang terletak di Jalan
ZA. Pagar Alam Nomor 64, Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota
Bandar Lampung, Lampung 35141.

19
2. SUBJEK PENELITIAN
Subjek yang digunakan adalah barang-barang tradisional yang ada di
Museum Lampung, antara lain:
 Kain Tapis
 Kain Inuh
 Kendi/Kibuk
 Perahu
 Selendang
 Koleksi Filologika
 Serah Sepi/Penganggik
 Kain Kapal
 Koleksi Heraldika
 Koleksi Numismatika
 Tempayan
 Serah Sepi Bilah/Busepi

3.3 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi.


Metode observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui
suatu pengamatan yang disertai dengan adanya berbagai pencatatan terhadap
keadaan atau perilaku objek sasaran. Metode observasi juga dapat diartikan
sebagai sebuah aktivitas terhadap suatu proses atau objek yang dimaksud
dengan merasakan dan memahami pengetahuan dari fenomena.

Hal ini dilakukan untuk berdasarkan dengan pengetahuan dan gagasan


yang sudah diketahui, sehingga kemudian didapatkan berbagai informasi
yang dibutuhkan untuk melanjutkan penelitian yang berlangsung.

Kegiatan observasi ini dilakukan untuk memproses adanya objek


dengan maksud merasakan dan memahami pengetahuan dari adanya

20
fenomena berdasarkan pengetahuan dan juga ide yang sudah diketahui
sebelumnya agar bisa mendapatkan informasi yang diperlukan untuk
melanjutkan proses penelitian selanjutnya.

Metode observasi ini dimaksudkan dalam suatu cara pengambilan data


melalui pengamatan langsung terhadap peristiwa atau kejadian yang ada di
lapangan. Cara melakukan metode observasi bisa dilakukan dengan tes,
kuesioner, rekam suara, rekam gambar, dan lain sebagainya.

Akan tetapi biasanya cara yang paling efektif untuk melengkapi data
adalah dengan pedoman pengamatan, misalnya format atau blangko
pengamatan yang disusun dengan berisi berbagai item mengenai kejadian
atau tingkah laku yang digambarkan dan akan terjadi.

3.4 DOKUMENTASI

Gambar Kain Tapis, Kain Kapal, Tempayan, Koleksi Filologika.

Gambar Perahu, Busepi, Kendi, Numismatika.

21
Gambar Selendang, Penganggik, Lumpang Batu

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH PERTAMA

Rumusan masalah pertama adalah:


Bagaimana klasifikasi (jenis, bahan, dan fungsi) koleksi peninggalan
tradisional yang tersimpan di Museum Lampung?
Dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori utama:
 Tekstil (misalnya, kain Tapis dengan bahan benang katun dan emas,
berfungsi sebagai pakaian adat/upacara).
 Senjata Tradisional (misalnya, Keris, Tumbak, bahan besi/baja,
berfungsi sebagai simbol status/pertahanan).
 Peralatan rumah tangga (misalnya, alat tenun, kerajinan bambu,
berfungsi dalam kehidupan sehari-hari).

4.2 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH KEDUA

Rumusan masalah kedua adalah:


Bagaimana aspek visual atau bentuk fisik (ornamen, motif, dan struktur)
dari koleksi peninggalan tradisional tersebut merepresentasikan budaya
lokal Lampung?

23
4.3 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH KETIGA

Rumusan masalah ketiga adalah:


Apa makna simbolis, filosofis, atau fungsi sosial yang terkandung di balik
bentuk dan ornamen koleksi peninggalan tradisional di Museum
Lampung?
Motif perahu tidak hanya soal transportasi, tetapi simbol transisi
kehidupan (kelahiran, pernikahan, kematian). Warna emas pada Tapis
melambangkan kemewahan, martabat, dan keyakinan spiritual. Objek
tertentu memiliki fungsi sosial sebagai penanda status adat (adok) atau
digunakan dalam ritual adat tertentu yang sakral.

4.4 MENJAWAB RUMUSAN MASALAH KEEMPAT

Rumusab masalah keempat adalah:


Bagaimana nilai penting dari koleksi peninggalan tradisional di Museum
Lampung dalam konteks pelestarian warisan budaya daerah saat ini?
Koleksi ini bernilai penting sebagai sumber primer sejarah dan identitas
budaya Lampung. Museum berfungsi sebagai pusat edukasi untuk
generasi muda agar memahami akar budaya mereka, serta sebagai objek
daya tarik wisata budaya yang mendukung ekonomi lokal dan nasional.

24
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Penelitian ini menyimpulkan bahwa koleksi peninggalan tradisional di


Museum Lampung merupakan aset budaya yang kaya makna.
 Koleksi yang diklasifikasikan berdasarkan jenis (tekstil, alat
upacara) dan bahan (kapas) berfungsi dalam kehidupan adat
masyarakat Lampung.
 Aspek visual seperti ornamen dan motif (perahu) secara efektif
merepresentasikan identitas visual budaya lokal yang khas.
 Bentuk fisik dan hiasan tersebut mengandung makna simbolis
dan filosofis mendalam mengenai pandangan hidup serta
fungsi sosial dalam masyarakat.
 Koleksi ini memiliki nilai penting yang sangat krusial sebagai
sumber pengetahuan, identitas, dan media pelestarian warisan
budaya Lampung bagi generasi masa kini.

5.2 SARAN

 Untuk Museum Lampung


Disarankan agar meningkatkan informasi kontekstual mengenai
makna filosofis koleksi dalam label pameran dan mengintensifkan
program konservasi koleksi.
 Untuk Pemerintah Daerah
Diharapkan mendukung integrasi hasil kajian makna budaya
koleksi museum ke dalam kurikulum pendidikan lokal untuk
menumbuhkan kesadaran warisan budaya.

25
DAFTAR PUSTAKA

Museum Lampung. (2025). Diakses dari [Link]

Fitinline. (2019). Makna Tersembunyi Dari Kain Tapis Lampung Lengkap Dengan
Proses Pembuatan dan Perawatannya. Diakses dari
[Link]
lampung-lengkap-dengan-proses-pembuatan-dan-perawatannya/.

Team, I. T. (2025). Diakses dari


[Link]

Wiguna, R. W., & Team, R. T. (2025). Metode Penelitian Kualitatif: Pengertian,


Ciri & Contohnya. Diakses dari [Link]
penelitian-kualitatif.

Hakim, L. (2024). Metode Observasi: Pengertian, Macam dan Contoh. Diakses


dari [Link]
srsltid=AfmBOoqC9RLDHkSOnY6yPpA0iufwroAarhMiQzXcavUqW29e
p9y6EiyN.

26
27

Anda mungkin juga menyukai