0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan55 halaman

Program Kesehatan Ibu dan Anak KIA

Makalah ini membahas program kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di Indonesia, dengan fokus pada pemeliharaan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan upaya pencegahan kematian ibu dan anak. Penulis menyampaikan pentingnya pendidikan kesehatan dan keterlibatan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan reproduksi dan keluarga. Data menunjukkan bahwa angka kematian ibu dan anak masih tinggi, sehingga perlu adanya upaya lebih lanjut untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Diunggah oleh

fitriaramadanihalim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan55 halaman

Program Kesehatan Ibu dan Anak KIA

Makalah ini membahas program kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di Indonesia, dengan fokus pada pemeliharaan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan upaya pencegahan kematian ibu dan anak. Penulis menyampaikan pentingnya pendidikan kesehatan dan keterlibatan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan reproduksi dan keluarga. Data menunjukkan bahwa angka kematian ibu dan anak masih tinggi, sehingga perlu adanya upaya lebih lanjut untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Diunggah oleh

fitriaramadanihalim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KELOMPOK MAKALAH

“PROGRAM KESEHATAN YANG TERKAIT DALAM

MENINGKATKAN STATUS PELAYANAN KIA”

KELOMPOK VI

NAMA:

AFEBRONIA SOLARBESAIN / NH0420003

ANUGERAH APRILIA / NH0420004

FATMAWATI / NH0420010

MEILANI MELANTON BARA / NH0420016

NUR AFIAT HASAL / NH0420017

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA KEBIDANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

NANI HASANUDDIN MAKASSAR

2022
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum [Link]. Puji syukur atas rahmat Allah SWT, berkat
rahmat serta karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Program Kesehatan
Yang Terkait Dalam Meningkatkan Status Pelayanan KIA” dapat selesai.

Makalah ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah


“Kebidanan Komunitas” dari Ibu Uliarta Marbun [Link].,[Link]. Selain itu,
penyusunan makalah ini bertujuan menambah wawasan kepada pembaca tentang
“Program Kesehatan Yang Terkait Dalam Meningkatkan Status Pelayanan
KIA”

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Uliarta Marbun


[Link].,[Link] selaku guru mata kuliah “Kebidanan Komunitas”. Berkat tugas
yang diberikan ini, dapat menambah wawasan penyusunan berkaitan dengan topik
yang diberikan. Penyusun juga mengucapkan terima kasih yang sebesarnya
kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan masih


melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu Penyusun memohon maaf atas
kesalahan dan ketaksempurnaan yang pembaca temukan dalam makalah ini.
Penulis juga mengharap adanya kritik serta saran dari pembaca apabila
menemukan kesalahan dalam makalah ini.

Makassar, 12 Maret 2022

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii
BAB I.................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG............................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan....................................................................................................2
BAB II...............................................................................................................................3
PEMBAHASAN................................................................................................................3
A. Pemeliharaan Kesehatan Pada Ibu..........................................................................3
B. Pelayanan Kesehatan Pada Anak..........................................................................13
C. Pelayanan Kesehatan Pada Balita.........................................................................16
D. WUS.....................................................................................................................26
E. PUS......................................................................................................................35
F. Klimakterium Dan Menopause.............................................................................41
BAB III............................................................................................................................51
PENUTUP.......................................................................................................................51
A. Kesimpulan..........................................................................................................51
B. Saran....................................................................................................................51
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................52

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya di bidang kesehatan
yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Pemberdayaan
masyarakat bidang Kia masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat
darurat dari aspek non klinik terkait kehamilan dan persalinan. Sistem
kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang dibentuk dari, oleh
dan untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi atau
komunikasi (telepon genggam, telepon rumah), pendanaan, pendonor
darah pencatatan Pemantauan dan informasi KB. Dalam pengertian ini
tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat, pemuka
masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta
pembinaan kesehatan taman kanak-kanak.
Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya
kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang
optimal bagi ibu dan keluarganya untuk menuju norma keluarga kecil
bahagia sejahtera (NKKBS) serta meningkatnya derajat kesehatan anak
untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan
landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.
Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah
menurunkan angka kematian ibu menjadi 125 per 100000 kelahiran hidup,
dan angka kematian neonatal 16 per 1000 kelahiran hidup. Namun sampai
saat ini sasaran tersebut belum tercapai. Menurut data survei demografi
dan kesehatan Indonesia tahun 2007:
1. Angka kematian neonatal di Indonesia sebesar 19 kematian per 1.000
kelahiran hidup.

1
2. Angka kematian bayi 26,9 kematian per 1.000 kematian hidup.
3. Angka kematian balita sebesar 44 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
4. Angka kematian ibu hamil dan saat melahirkan masih mencapai 228
per 100.000 kelahiran hidup.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pemeliharaan kesehatan pada ibu?
2. Apa yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan pada anak?
3. Apa yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan pada balita?
4. Apa yang dimaksud dengan WUS?
5. Apa yang dimaksud dengan PUS?
6. Apa yang dimaksud dengan klimakterium dan menopause?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pemeliharaan kesehatan
pada ibu.
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan
pada anak.
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan
pada balita.
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan WUS.
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PUS.
6. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan klimakterium dan
menopause.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pemeliharaan Kesehatan Pada Ibu


1. Pemeliharaan kesehatan Pada Remaja Calon Ibu
Kesehatan merupakan kebutuhan dengan hak setiap insan agar
dapat kemampuan yang melekat dalam diri setiap insan. Hal ini hanya
dapat dicapai bila masyarakat, baik secara individu maupun kelompok,
berperan serta untuk meningkatkan kemampuan hidup sehatnya.
Kemandirian masyarakat diperlukan untuk mengatasi masalah
kesehatannya dan menjalankan upaya peecahannya sendiri adalah
kelangsungan pembangunan. GBHN mengamanatkan agar dapat
dikembangkan suatu sistem kesehatan nasional yang semakin
mendorong peningkatan peran serta masyarakat. Kemampuan
masyarakat perlu ditingkatkan terus menerus untuk menolong dirinya
sendiri dalam mengatasi masalah kesehatan. Kegiatan pembinaan yang
di lakukan oleh bidan sendiri antara lain mempromosikan kesehatan
dalam pelayanan agar peran serta ibu, remaja, wanita, keluarga dan
kelompok masyarakat di dalam upaya kesehatan ibu, anak dan
keluarga berencana meningkat.
Pelayanan kebidanan diawali dengan pemeliharaan kesehatan para
calon ibu. Calon ibu harus mempersiapkan diri seoptimal mungkin
sejak sebelum kehamilan terjadi. Konsultasikan ke dokter kandungan
guna dilakukan berbagai pemeriksaan , agar dokter dapat mendeteksi
hal-hal yang kurang menguntungkan bagi kehamilan seperti infeksi
toksoplasma dan kekurangan gizi. Selain itu kesiapan psikis calon ibu
dan ayah pun harus diperhatikan. Calon ibu adalah semua wanita
dalam masa reproduktif yang akan mengalami kehamilan, remaja putri,
wanita dewasa yang belum menikah,wanita yang sudah menikah dan
sedang mempersiapkan kehamilan. Remaja wanita yang akan

3
memasuki jenjang perkawinan perlu dijaga kondisi kesehatannya.
Kepada para remaja di beri pengertian tentang hubungan seksual yang
sehat, kesiapan mental dalam menghadapi kehamilan dan pengetahuan
tentang proses kehamilan dan persalinan, pemeliharaan kesehatan
dalam masa pra dan pasca kehamilan.
a. Upaya memelihara kesehatan calon ibu
Banyak wanita hamil lebih memperhatikan asupan makanan ketika
hamil. Namun studi terbaru menunjukkan bahwa diet sehat yang
dilakukan jauh sebelum kehamilan lebih dapat mengurangi risiko
bayi lahir cacat. Diet sehat sebaiknya tidak hanya dilakukan pada
saat masa kehamilan saja, namun sejak sebelum kehamilan.
Persiapan kehamilan sangat diperlukan bagi seorang perempuan
yang akan merencanakan kehamilan. Persiapan kehamilan ini
diperlukan guna mendukung terciptanya kehamilan yang sehat dan
menghasilkan keturunan yang berkualitas yang didambakan oleh
keluarga. Upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan taraf
kesehatan ibu dan anak adalah salah satunya dengan memelihara
kesehatan para calon ibu, berikut upaya untuk memelihara
kesehatan para calon ibu:
1) Pembinaan remaja
Upaya pemeliharaan kesehatan bagi para calon ibu ini dapat
dilakukan melalui kelompok atau kumpulan para remaja seperti
karang taruna, pramuka, organisaai wanita remaja dan
sebagainya. Para remaja yang terhimpun di dalam organisasi
masyarakat perlu diorganisasikan agar pelayanan kesehatan dan
kesiapan dalam menghadapi untuk menjadi istri dapat di
lakukan dengan baik. Pembinaan kesehatan remaja terutama
wanitanya, tidak hanya ditujukan semata kepada masalah
gangguan kesehatan (penyakit sistem reproduksi). Fakta
perkembangan psikologis dan sosial perlu diperhatikan dalam
membina kesehatan remaja. Remaja yang tumbuh kembang

4
secara biologis diikuti oleh perkembangan psikologis dan
sosialnya. Alam dan pikiran remaja perlu diketahui. Remaja
yang berjiwa muda memiliki sifat menantang, sesuatu yang
dianggap kaku dan kolot serta ingin akan kebebasan dapat
menimbulkan konflik di dalam diri mereka. Pendekatan
keremajaan di dalam membina kesehatan diperlukan.
Penyampaian pesan kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja
2) Promosi kesehatan pranikah
Promosi kesehatan pranikah merupakan suatu proses untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatannya yang ditujukan pada masyarakat
reproduktip pranikah. Pelayanan kebidanan diawali dengan
pemeliharaan kesehatan para calon ibu. Remaja wanita yang
akan memasuki jenjang perkawinan perlu dijaga kondisi
kesehatannya. Kepada para remaja di beri pengertian tentang
hubungan seksual yang sehat, kesiapan mental dalam
menghadapi kehamilan dan pengetahuan tentang proses
kehamilan dan persalinan, pemeliharaan kesehatan dalam masa
pra dan pasca kehamilan.
Promosi kesehatan pada masa pra kehamilan disampaikan
kepada kelompok remaja wanita atau pada wanita yang akan
menikah. Penyampaian nasehat tentang kesehatan pada masa
pranikah ini disesuaikan dengan tingkat intelektual para calon
ibu. Nasehat yang di berikan menggunakan bahasa yang mudah
di mengerti karena informasi yang di berikan bersifat pribadi
dan sensitif.
Remaja calon ibu yang mengalami masalah kesehatan akibat
gangguan sistem reproduksinya segera di tangani. Gangguan
sistem reproduksi tidak berdiri sendiri. Gangguan tersebut
dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologi dan lingkungan
sosial remaja itu sendiri. Bila masalah kesehatan remaja

5
tersebut sangat komplek, perlu dikonsultasikan keahli yang
relevan atau dirujuk ke unit pelayanan kesehatan yang pasilitas
pelayanannya lebih lengkap. Faktor keluarga juga turut
mempengaruhi kondisi kesehatah para remaja yang akan
memasuki pintu gerbang pernikahan. Bidan dapat
menggunakan pengaruh keluarga untuk memperkuat mental
remaja dalam memasuki masa perkawianan dan kehamilan.
2. perkawinan yang Sehat
Menurut UU Perkawinan no 1 tahun 1974, perkawinan adalah
ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuaan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Usia terbaik untuk
melangsungkan perkawinan untuk pria adalah 25 tahun atau lebih,
sedangkan untuk wanita adalah 20 tahun atau lebih. Pada usia tersebut
pria dan wanita dianggap sudah dewasa sehat jasmani, serta matang
secara rohani maupun social. tujuan dari batas dan umur ini adalah
memberikan pengertian dan kesadaran kepada generasi muda untuk
mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga berencana,
kesiapan fisik, mental, social, serta ekonomi sebagai langkah
meningkatkan kesejahteraan atau kesehatan ibu dan anak. Perkawinan
usia muda mengandung resiko terjadinya penyulit kehamilan dan
persalinan yang dapat meneyababkan kematian ibu dan anak.
Perkawinan yang sehat adalah perkawinan yang didasari ikatan
lahir dan batin yang diikat dalam perkawinan yang sah antara pria dan
wanita dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga yang
bahagia berdasar ketuhanan Yang Maha Esa).
Usia terbaik untuk melangsungkan perkawinan untuk pria adalah
25 tahun atau lebih, sedangkan untuk wanita adalah 20 tahun atau
lebih, pria dan wanita tersebut dianggap sudah dewasa, sehat jasmani,
matang rohani dan sosial.

6
Ada 9 hukum atau cara menciptakan perkawinan yang sehat, yaitu
sebagai berikut :
a. Tegur pasangan dengan penuh kasih
b. Sering member pujian kepada pasangan
c. Bersedia mengakui kesalahan
d. Boleh lupa yang lain, akan tetapi jangan lupa dengan pasangan kita
e. Lupakan kesalahan masa lalu
f. Jangan marah diwaktu yang sama
g. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam
h. Ketika betengkar coba mengalah untuk menang
i. Jangan berteriak diwaktu yang sama

3. Keluarga Sehat
Kepada remaja disampaikan tentang keluarga sehat dan cara
mewujudkan serta membinanya. Keluaga yang diidamkan adalah
kelurga yang memiliki norma keluaga kecil, bahagia dan sejahtera.
Jumlah keluaga yang ideal adalah suami, istri dan 2 anak. Keluarga
bahagia adalah keluarga yang aman, tentram disertai rasa ketakwaan
kepada Tuhan YME. Keluarga sejahtera adalah keluarga yang sosial
ekonominya mendukung kehidupan anggota [Link] mampu
menabung untuk persiapan masa depan. Selain itu keluarga sejahtera
juga dapat membantu dan mendorong peningkatan taraf hidup keluarga
lain.
Keluarga yang sehat tentunya harus dibentuk oleh individu–
individu yang sehat dalam keluarga tersebut. Dilihat dari aspek
kesehatan reproduksi, ada beberapa fase dalam keluarga yang dapat
dilihat dari skema pola perencanaan keluarga berikut :
Keluarga yang sehat tentunya harus dibentuk oleh individu–individu
yang sehat dalam keluarga tersebut. Dilihat dari aspek kesehatan
reproduksi, ada beberapa fase dalam keluarga yang dapat dilihat dari
skema pola perencanaan keluarga berikut :

7
a. Fase menunda atau mencegah kehamilan
Bagi pasangan suami istri dengan usia kurang dari 20 tahun
dianjurkan untuk menunda kehamilannya. Karena pada usia kurang
dari 20 tahun organ reproduksi belum matang sehingga beresiko
tinggi untuk kehamilan, persalinan, dan nifas, serta terjadi
komplikasi.
b. Fase menjarangkan kehamilan
Pada periode usia istri antara 20–30/35 tahun, merupakan periode
usia paling baik untuk hamil, melahirkan, dengan jarak antara
kehamilan anak 2–4 tahun.
c. Fase menghentikan dan mengakhiri kehamilan atu kesuburan
Periode saat usia istri di atas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri
kesuburan setelah mempunyai anak dengan jumlah cukup
(disarankan 2 orang) karena jika terjadi kehamilan dan kelahiran
pada usia ini, ibu mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya
komplikasi obtetrik.
Misalnya perdarahan, pre-eklamsi, eklamsi, persalinan lama, atonia
uteri, dan lain–lain. Pada usia lebih tua juga mempunyai resiko
untuk terjadi penyakit jantung, tekanan darah tinggi, keganasan,
dan kelainan metabolik.

4. Sistem Reproduksi dan masalahnya


Tidak semua orang memahami sistem reproduksi manusia.
Membicarakan sistem reproduksi dianggap tabu dibeberapa kalangan
remaja. Perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi pada masa
kehamilan, persalinan, pasca persalinan [Link] juga
diberikan mengenai perawatan bayi. Gangguan sistem reproduksi yang
dijelaskan seperti gangguan menstruasi, kelainan sistem reproduksi
dan penyakit. Penyakit sistem reproduksi yang dimaksud seperti
penyakit-penyakiit hubungan seksual, HIV /AIDS dan tumor.

8
Kesehatan reproduksi adalah kemampuan seorang wanita untuk
memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas),
dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta
mendapatkan bayi tanpa risiko apapun atau well health mother dan
well born baby dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas
normal.
Dalam survei yang dilakukan oleh WHO, menetapkan 5 jenis
ketentuan sebagai kriteria klasifikasi wanita yaitu Kesehatan,
Perkawinan, Pendidikan, Pekerjaan Persamaan.
Di samping itu dalam pelayanan dan pertolongan persalinan telah
diupayakan dengan memakai sistem partograf WHO, sehingga ibu
hamil dan bersalin dikirimkan pada tingkat garis “waspada.”
Keberhasilan dalam pelaksanaan gagasan ini bergantung pada
kemampuan dalam memberi pengawasan selama hamil (antenatal)
serta konsultasi gizi. Keluarga berencana juga memegang peranan
penting untuk dapat mengatur jarak kehamilan, mengatur jumlah
kehamilan (sehingga komplikasi dapat ditekan), dan meningkatkan
usia kawin dan hamil sampai mencapai masa reproduksi sehat.
Dengan demikian kesehatan reproduksi merupakan masalah vital
dalam pembangunan kesehatan. Kesehatan reproduksi tidak dapat
diselesaikan dengan jalan melakukan tindakan kuratif (pengobatan),
tetapi merupakan masalah masyarakat yang masih dapat diperbaiki.
Indonesia dianggap telah berhasil untuk mengatur kesehatan
reproduksi melalui gerakan keluarga berencana. Melalui penurunan
tingkat kelahiran, ditambah makin meningkatnya kesehatan, AKI dapat
menurun secara berarti, sedangkan AKA dapat diturunkan menjadi
56/1.000 persalinan.
Agar tercapai kesehatan alat reproduksi sehingga dapat
menghasilkan generasi sehat rohani dan jasmani, perlu dilakukan
berbagai upaya pencegahan dan diagnosis dini, melalui pengobatan
yang tepat dan berhasil guna. Dapat dikatakan alat reproduksi adalah

9
alat untuk prokreasi dan kreasi yang diupayakan semaksimal mungkin
sehingga tercapai well health mother for well born baby.
Dengan tercapainya kesejahteraan masyarakat diharapkan juga
tercapai kesehatan reproduksi yang prima, dan dapat menghasilkan
status politik, sosial-ekonomi, budaya, ketahanan dan keamanan
keluarga (poleksosbudhankam) tinggi, yang sangat berpengaruh
terhadap kualitas individu (manusia) dan akhirnya secara berantai
dapat meningkatkan kualitas masyarakat dan pelayanan kesehatan
masyarakat.
5. Penyakit yang berpengaruh pada kehamilan dan persalinan
Remaja yang siap sebagai ibu harus dapat mengetahui penyakit-
penyakit yang memberatkan kehamilan atau persalinan atau juga
penyakit yang akan membahayakan dalam masa kehamilan atau
persalianan. Penyakit-penyakit tersebut perlu dijelaskan. Penyakit yang
perlu dan penting dijelaskan sewaktu mengadakan bimbingan antara
lain penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi, DM, anemia, tumor.
(Nabila Alfina.2017)
6. Asuhan masa nifas dan pasca persalinan
Masa nifas merupakan periode yang akan dilalui oleh ibu setelah
masa persalanian, yang dimulai dari setelah kelahiran bayi dan
plasenta, yakni setelah berakhirnya kala IV dalam persalinan dan
berakhir sampai dengan 6 minggu (42 hari) yang ditandai dengan
berhentinya perdarahan.
a. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Berdasarkan standart pelayanan kebidanan untuk ibu nifas meliputi
perawatan bayi baru lahir ( standard 13), penangnan 2 jam pertama
setelah persalinan (standard 14), serta pelayanan bagi ibu dan bayi
pada masa nifas (standard 15). Apabila merujuk pada kompetensi 5
(standar kompetensi bidan), maka prinsip asuhan kebidanan bagi
ibu pada masa nifas dan menyusui harus yang bermutu tinggi serta
tanggap terhadap budaya setempat. Jika dijabarkan lebih luas

10
sasaran asuhan kebidanan masa nifas meliputi hal-hal sebagai
berikut:
b. Tahapan Masa Nifas Beberapa tahapan masa nifas adalah sebagai
berikut:
1) Puerperium dini Puerperium dini merupakan kepulihan, dimana
ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan
aktivitas layaknya wanita normal lainnya.
2) Puerperium intermediate Puerperium intermediet merupakan
masa kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya
sekitar 6-8 minggu.
3) Puerperium remote
Remote puerperium yakni masa yang diperlukan untuk pulih
dan sehat sempurna terutama apabila selama hamil atau
persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat
sempurna dapat berlangsung berminggu-minggu, bulanan,
bahkan tahunan. (Nurul Azizah.2019)

7. Rujukan
Rujukan merupakan suatu tanggung jawab yang tinggi dan
mendahulukan kepentingan masyarakat. Pengambilan keputusan untuk
merujuk bukanlah suatu hal yang mudah karena di pengaruhi berbagai
faktor. Pola pengambilan keputusan keluarga dan penolong persalinan
dalam merujuk ibu bersalin adalah gambaran proses pengambilan
keputusan yang kompleks dan melalui tahapan di ketahuinya ada
permasalahan oleh penolong persalinan, deteksi dini komplikasi
persalinan, pencarian alternatif pemecahan masalah dengan melakukan
tindakan segera baik secara mandiri maupun kolaborasi dengan bidan
senior atau konsultasi dengan donter obstetric dengan ginekologi
advokasi keluarga dengan informed choice dan informed consent
mengevaluasi tindakan yang telah di lakukan apakah tindakan tersebut
berhasil atau tidak. Jika tindakan yang di lakukan tidak berhasil dan

11
keputusan merujuk ibu. Keputusan itu harus di ambil cepat dan tepat
untuk mencegah kematian ibu.
a. Tujuan sistem rujukan
Terdapat 2 jenis istilah rujukan
1) Rujukan medis adalah pelimpahan tanggubg jawab secara
timbal balik secara vertikal maupun horizontal kepada yang
lebig berwenang dan mampu menanganinya secara rasional
2) Rujukan kesehatan adalah rujukan hubungan pengiriman,
pemeriksaan bahan atau spesimen ke fasilitas yang lebih
lengkap dan mampu
b. Persiapan Rujukan
Pemerintah melalui mentri kesehatan telah menetapkan standar
pelaksanann rujukan pasien khususnya rujukan maternal yang di
lakukan oleh bidan yang di singkat dengan BAKSOKU yaitu.
1) Bidan harus mendampingi ibu dan atau bayi baru lahir pada
saat melakukan rujukan
2) Alat yang di perlukan pasien. Perlengkapan bahan-bahan untuk
asuhan persalinan, dan bayi baru lahir (tabung, suntik, selang
IV, alat resusitasi dan lain-lain). Bersama ibu ke tempat
rujukan.
3) Kendaraan yang layak yang selalu tersedia saat akan merujuk
pasien.
4) Surat rujukan dan dokumen rekam medis pasien (partograf)
5) Obat yang harus di berikan kepada pasien seperti, infuse,
uteritonika.
6) Keluarga mendampingi ibu atau bayi hingga sampai di tempat
rujukan.
7) Uang yang harus di bawa keluarga pasien. (Nur Fadjir
Nilakesuma.2020)

12
B. Pelayanan Kesehatan Pada Anak
1. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Baru Lahir
a. Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Langkah awal untuk menyukseskan pemberian ASI
eksklusif yaitu dengan pelaksanaan IMD. IMD pada 1 jam pertama
dapat meningkatkan potensi menyusui secara eksklusif selama 6
bulan. Inisiasi Menyusu Dini (IMD). tidak hanya menyukseskan
ASI eksklusif, tetapi juga akan menyelamatkan nyawa ibu karena
IMD dapat mengurangi terjadinya perdarahan postpartum (Roesli,
2012). Hal ini sesuai dengan yang disebut oleh Saxton, dkk (2014)
bahwa kontak kulit ke kulit dan menyusui setelah lahir mengurangi
risiko terjadinya perdarahan postpartum. (Susilawati, Dewi.2020)
Langkah IMD pada persalinan normal (partus spontan):
1) Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar
bersalin.
2) Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa
menghilangkan vernix, kemudian tali pusat diikat.
3) Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di
dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu dan mata
bayi setinggi puting susu ibu. Keduanya diselimuti dan bayi
diberi topi.
4) Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan
bayi sendiri mencari puting susu ibu.
5) Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku
bayi sebelum menyusu.
6) Biarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu minimal
selama satu jam; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam,
biarkan bayi tetap di dada ibu sampai 1 jam.
7) Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam
posisikan bayi lebih dekat dengan puting susu ibu, dan biarkan

13
kontak kulit bayi dengan kulit ibu selama 30 menit atau 1 jam
berikutnya.

b. Pelaksanaan Penimbangan, Penyuntikan Vitamin K1, Salep Mata


Dan Imunisasi Hepatitis B (HB0)
Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode
setelah IMD sampai 2-3 jam setelah lahir, dan dilaksanakan di
kamar bersalin oleh dokter, bidan atau perawat.
1) Semua BBL harus diberi penyuntikan vitamin K1
(Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di paha kiri, untuk
mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang
dapat dialami oleh sebagian BBL.
2) Salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi mata
(Oxytetrasiklin 1%).
3) Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah
penyuntikan Vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah
penularan Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat
menimbulkan kerusakan hati.

c. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir


Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
kelainan pada bayi. Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24
jam pertama kehidupan, sehingga jika bayi lahir di fasilitas
kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas
kesehatan selama 24 jam pertama. Pemeriksaan bayi baru lahir
dilaksanakan di ruangan yang sama dengan ibunya, oleh dokter/
bidan/ perawat. Jika pemeriksaan dilakukan di rumah, ibu atau
keluarga dapat mendampingi tenaga kesehatan yang memeriksa.
Langkah langkah pemeriksaan:

14
1) Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak
menangis).
2) Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai
pernapasan dan tarikan dinding dada bawah, denyut jantung
serta perut.
3) Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir
sebelum dan sesudah memegang bayi.

d. Rawat Gabung Bayi


Ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, berada dalam
jangkauan ibu selama 24 jam. Berikan hanya ASI saja tanpa
minuman atau makanan lain kecuali atas indikasi medis. Tidak
diberi dot atau kempeng.

e. Kunjungan Neonatal
Adalah pelayanan kesehatan kepada neonatus sedikitnya 3 kali
yaitu:
1) Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam sampai dengan 48 jam
setelah lahir.
2) Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke 3 s/d 7 hari.
3) Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 – 28 hari.

Pelayanan kesehatan diberikan oleh dokter/bidan/perawat, dapat


dilaksanakan di puskesmas atau melalui kunjungan rumah.
Pelayanan yang diberikan mengacu pada pedoman Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada algoritma bayi muda
(Manajemen Terpadu Bayi Muda/MTBM) termasuk ASI ekslusif,
pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali pusat,
penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi HB-0 diberikan pada saat
kunjungan rumah sampai bayi berumur 7 hari (bila tidak diberikan
pada saat lahir).

15
f. Pencatatan dan Pelaporan
Hasil pemeriksaan dan tindakan tenaga kesehatan harus dicatat
pada:
1) Buku KIA (buku kesehatan ibu dan anak)
a) Pencatatan pada ibu meliputi keadaan saat hamil, bersalin
dan nifas.
b) Pencatatan pada bayi meliputi identitas bayi, keterangan
lahir, imunisasi, pemeriksaan neonatus, catatan penyakit,
dan masalah perkembangan serta KMS.
2) Formulir Bayi Baru Lahir
a) Pencatatan per individu bayi baru lahir, selain partograph.
b) Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan.
3) Formulir pencatatan bayi muda (MTBM)
a) Pencatatan per individu bayi.
b) Dipergunakan untuk mencatat hasil kunjungan neonatal
yang merupakan dokumen tenaga kesehatan puskesmas.
4) Register kohort bayi
a) Pencatatan sekelompok bayi di suatu wilayah kerja
puskesmas.
b) Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan
puskesmas. (direktorat kesehatan anak khusus.2010)

C. Pelayanan Kesehatan Pada Balita


Anak balita (bawah lima tahun) usia 1-5 tahun, merupakan kelompok
tersendiri yang dalam perkembangan dan pertumbuhannya memerlukan
perhatian yang lebih khusus. Bila perkembangan dan pertumbuhan pada
masa BALITA ini mengalami gangguan, hal ini akan berakibat
terganggunya persiapan terhadap pembentukan anak yang berkualitas.
Untuk mencapai hal diatas, maka tujuan pembinaan kesejahteraan anak
adalah dengan menjamin kebutuhan dasar anak secara wajar, yang

16
mencakup segi segi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan
dan perlindungan terhadap hak anak yang menjadi haknya.
1. Pemantauan Pertumbuhan Balita dengan KMS Minimal 8 kali
a) Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang
tercatat dalam Buku KIA/KMS. Pemantauan pertumbuhan adalah
pengukuran berat badan anak balita setiap bulan yang tercatat pada
Buku KIA/KMS. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan
berturut-turut atau berat badan anak balita di bawah garis merah
harus dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan.
b) Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang
(SDIDTK) minimal 2 kali dalam setahun. Pelayanan SDIDTK
meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik halus,
bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali pertahun (setiap
6 bulan). Pelayanan SDIDTK diberikan di dalam gedung (sarana
pelayanan kesehatan) maupun di luar gedung.
c) Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam
setahun.
d) Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita.
e) Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan
pendekatan MTBS.

2. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)


Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated
Management of Childhood Illness (IMCI) merupakan suatu
pendekatan yang terintegrasi dan terpadu dalam tata laksana balita
sakit sesuai standar di fasilitas pelayanan kesehatan primer dengan
fokus pada penyebab utama kematian.
Langkah-langkah pada bagan penilaian dan klasifikasi
menggambarkan apa yang harus dilakukan apabila seorang anak
dibawa ke klinik dan bagan ini tidak digunakan bagi anak sehat yang
akan imunisasi atau pada kasus emergensi seperti keracunan,

17
kecelakaan atau luka bakar. Klasifikasi bukan merupakan diagnosis
tapi merupakan indikator yang menuju ke arah diagnostik klinik.
Terdapat tiga macam warna dalam lajur klasifikasi, yaitu:
a) Lajur Merah: kondisi yang harus segera dirujuk;
b) Lajur Kuning: kondisi yang memerlukan tindakan khusus;
c) Lajur Hijau: kondisi yang tidak memerlukan tindakan khusus tetapi
KIE.

pada ibu Dalam penilaian keadaan anak menggunakan keterampilan


TANYA, LIHAT, DENGAR, dan RABA.

a) Menanyakan masalah anaknya


Tanyakan umur anak untuk menentukan bagan penilaian dan
klasifikasi sesuai dengan kelompok umur, lakukan pemeriksaan
BB, PB/TB, dan suhu Catat apa yang dikatakan ibu mengenai
masalah anaknya dan tentukan ini kunjungan pertama atau ulang.
b) Memeriksa tanda bahaya umum
Tanda bahaya umum sebagai berikut.
1) Apakah anak tidak bisa minum atau menyusu?
2) Apakah anak selalu memuntahkan semua sama sekali tidak
dapat menelan apapun?
3) Apakah anak kejang, pada saat kejang lengan dan kaki anak
menjadi kaku karena otot-ototnya berkontraksi?
4) Apakah ada stridor?
5) Apakah anak biru, ujung tangan, kaki pucat dan dingin?
6) Apakah anak letargis atau tidak sadar, tidak bereaksi ketika
disentuh, digoyangkan atau bertepuk tangan?
c) Menanyakan keluhan utama
Apakah anak menderita batuk atau sukar bernapas Anak dengan
batuk atau sukar bernapas mungkin menderita pneumonia atau
infeksi saluran pernapasan berat lainnya.
1) Menilai batuk atau sukar bernapas.

18
2) Menilai diare.
3) Menilai demam.
4) Menilai masalah telinga.
5) Memeriksa status gizi.
6) Memeriksa anemia.
7) Memeriksa status imunisasi.
8) Memeriksa pemberian vitamin A.
9) Menilai pemberian makan.
Tindakan dan Pengobatan
a) Menentukan perlunya dilakukan rujukan segera.
Rujukan untuk klasifikasi berat dengan lajur berwarna merah
muda: pneumonia berat/penyakit berat, diare dehidrasi berat, diare
persisten berat, penyakit berat dengan demam, campak dengan
komplikasi berat, DBD, mastoiditis, sangat kurus dan atau edema,
dan anemia berat.
b) Menentukan tindakan/pengobatan pra rujukan.
Apabila anak memerlukan rujukan segera harus cepat ditentukan
tindakan yang paling dibutuhkan dan segera diberikan:
1) Beri dosis pertama antibiotik Ampisilin + Gentamisin secara
intramuskular ( Dosis Ampisilin: 50 mg/kg BB dan dosis
Gentamisin7,5 mg/kg BB).
2) Beri dosis suntikan Artemeter untuk malaria berat (Dosis
Artemeter 3,2 mg/kg BB).
3) Beri cairan intravena/infuse Ringer Laktat/Ringer Asetat 20
ml/kg BB/30 menit dan oksigen 2–4 liter/menit pada anak
DBD dengan syok.

3. Konseling bagi keluarga Balita


Konseling Sangat penting menyediakan waktu untuk menasehati
ibu dengan cermat dan menyeluruh. Konseling memerlukan
keterampilan komunikasi, menggunakan bahasa yang mudah

19
dimengerti dan mengecek pemahaman ibu. Konseling yang dapat
diberikan:
a. Mengajari ibu cara pemberian obat di rumah .
b. Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah.
c. Mengajari ibu cara mencampur dan memberi oralit.
d. Anjuran makan untuk anak sehat maupun sakit.
e. Menilai cara pemberian makan anak.
f. Menentukan masalah pemberian makan anak.
g. Menasehati ibu tentang masalah pemberian makan anak.
h. Menasehati ibu tentang pemberian cairan selama anak sakit.
i. Menasehati ibu kapan harus kembali ke peturas kesehatan.

4. Vaksinasi atau Imunisasi


Vaksinasi atau imunisasi merupakan teknologi yang sangat
berhasil di dunia kedokteran yang oleh Katz (1999) dikatakan sebagai
”sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan
para ilmuwan di dunia ini”,satu upaya kesehatan yang paling efektif
dan efisien dibandingkan dengan upaya kesehatan lainnya. Kekebalan
atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit adalah tujuan dari
vaksinasi. Imunisasi adalah suatu upaya untuk
menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap
suatu penyakit,sehingga bilasuatu saat terpajan dengan penyakit
tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Vaksin
adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup
tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa
toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein
rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan
kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu.
Pada hakikatnya kekebalan tubuh dapat dimiliki secara pasif
maupun aktif. Keduanya dapat diperoleh secara alami maupun buatan.
Kekebalan pasif yang didapatkan secara alami adalah kekebalan yang

20
didapatkan transplasental, yaitu antibodi diberikan ibu kandungnya
secara pasif melalui plasenta kepada janin yang dikandungnya.
Semua bayi yang dilahirkan telah memiliki sedikit atau banyak
antibodi dari ibu kandungnya. Kekebalan pasif buatan adalah
pemberian antibodi yang sudah disiapkan dan dimasukkan ke dalam
tubuh anak. Kekebalan aktif dapat diperoleh secara alami maupun
[Link] alami kekebalan aktif didapatkan apabila anak terjangkit
suatu penyakit, yang berarti masuknya antigen yang akan merangsang
tubuh anak.
a. Macam — Macam Imunisasi
1) Imunisasi Aktif Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang
karena tubuh yang secara aktif membentuk zat antibodi,
contohnya: imunisasi polio atau campak Imunisasi aktif juga
dapat di bagi 2 macam:
a) Imunisasi aktif alamiah Adalah kekebalan tubuh yang
secara ototmatis di peroleh sembuhdari suatu penyakit.
b) Imunisasi aktif buatan Adalah kekebalan tubuh yang di
dapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan
perlindungan dari suatu penyakit.
2) Imunisasi Pasif Adalah kekebalan tubuh yang di dapat
seseorang yang zat kekebalan tubuhnya di dapat dari luar.
Contohnya Penyuntikan ATC (Anti tetanus Serum). Pada orang
yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain adalah:Terdapat
pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima
berbagi jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta
selama masa kandungan. misalnya antibodi terhadap campak.
Imunisasi pasif ini dibagi yaitu:
a) Imunisai pasif alamiah adalah antibodi yang di dapat
seorang karena di turunkan oleh ibu yang merupakan orang
tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.

21
b) Imunisasi pasif buatan Adalah kekebalan tubuh yang di
peroleh karena suntikan serum untuk mencegah penyakit
tertentu
b. Jenis — Jenis Imunisasi
1) BCG (Bacillus Calmatte Guerin) Dosis pemberian 1 kali pada
usia 0-2 bulan pada bahu kanan. Setelah penyuntikan imunisasi
ini, akan timbul benjolan putih: Lengan bekas suntikan yang
akan membentuk luka serta reaksi panas. Jangan dipecahkan.
2) DPT Dosis pemberian 3 kali pada usia 2-11 bulan pada paha.
Anak akan mengalami panas dan nyeri pada tempat yang
diimunisasi. Beri obat penurun panas "4 tablet dan jangan
membungkus bayi dengan selimut tebal.
3) Polio Dosis pemberian 4 kali melalui tetes mulut (2 tetes) pada
usia 4-6 bulan Setelah imunisasi, tidak ada efek samping. Jika
anak menderita kelumpuhan setelah imunisasi polio,
kemungkinan sebelum di vaksin sudah terkena virus polio.
4) Campak Dosis pemberian 1 kali usia 9 bulan pada bahu kiri.
Setelah 1 minggu imunisasi, terkadang bayi akan panas dan
muncul kemerahan. Cukup beri "4 tablet penurun panas.
Program imunisasi dilaksanakn untuk menurunkan angka
kesakitan.
5) Imunisasi DPT/HB Combo dosis 0,5 cc disuntikan pada paha
kanan/kiri melalui intramuskular dengan interval 4 minggu dan
diberikan 3 kali mulai usia 2-11 bulan.
6) Imunisasi polio dengan dosis 2 tetes diberikan per oral dengan
interval 4 minggu dan diberikan 4 kali mulai usia 0-11 bulan.
7) Imunisasi campak dosis 0,5 cc disuntikan melalui intrakutan
pada lengan kiri atas dan diberika cukup sekali pada usia 9
bulan

22
c. Imunisasi pada anak sekolah dasa (SD)
1) Imunisasi DT ( difteri tetanus ) dosis 0,5 cc disuntikan melalui
intramuskular atau ubkutan pada lengan kiri dan diberikan 1
kali pada anak SD kelas 1.
2) Imunisasi TT 9 Toksoid Tetanus) dosis 0,5 cc disuntikan
melalui intramuskular atau subkutan pada lengan kiri dan
diberikan 1 kali pada anak SD kelas VI.

5. Pelayanan Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan
angka kematian ibu dan bayi. Adapun jenis pelayanan yang
diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup :
a. Penimbangan berat badan
b. Penentuan status pertumbuhan
c. Penyuluhan
d. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan
kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang, apabila
ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke Puskesmas.

6. Pemberian Kebutuhan Nutrisi Yang Baik Bagi Anak


Pemberian makanan harus disesuaikan dengan umur anak,
contohnya pada anak usia & bulan mulailah pemberian makanan
seperti nasi tim, sari buah, dll. Pengenalan makanan seperti itu
mempermudah pemberian makanan pada usia selanjutnya, sehingga
anak tidak menolak bila diberikan makanan yang beraneka ragam.

23
a. Pada anak usia 1 tahun keatas hendaknya diberikan makanan yang
sama dengan makanan yang dimakan orang dewasa ( eluarga)
dengan menggunakan bahan makanan yang beragam. Makanan
yang diberikan sebaiknya harus mengandung unsur-unsur dibawah
ini :
1) Makanan sumber tenaga yang diperoleh dari bahan makanan
sumber karbohidrat. Makanan ini diperlukan untuk aktivitas
anak seperti bermain, berlari dan lain-lain.
2) Makanan sumber zat pembangun yang dapat diperoleh dari
bahan makanan sumber protein hewani dan protein nabati.
Makanan ini diperlukan untuk pembentukan berbagai jaringan
tubuh baru , seperti pertumbuhan gigi, tulang dan bagian tubuh
lainya.
3) Makanan sumber Vitamin dan Mineral terutama vitamin A, D,
E, K, B Kompleks dan C. Makanan ini diperlukan untuk
mengatur proses metabolisme dan pertumbuhan tubuh. Bahan
makanan sumber vitamin dan mineral dapat diperoleh dari
sayuran dan buah-buahan.
b. Memasuki usia 2 tahun anak mulai menunjukan rasa suka pada
makanan yang diberikan ibunya. Jika hal ini terjadi jangan coba
memaksa anak untuk makan sesuatu yang tidak disukainya, berilah
makanan alternatif lain. Jika anak menolak untuk makan sayuran,
cobalah mengolah sayuran dengan variasi lain. Kalau anak tetap
menolak, gantilah dengan memberi buah-buahan namun jangan
berhenti mencoba, upayakan terus agar anak mau makan/suka
dengan sayuran. Hal penting yang perlu diperbatikar adalah
pemberian makan pada anak pada saat anak apar. Suasana makan
yang menyenangkan sangat membantu untuk membangkitkan
selera makan anak. Hal lain yang tidak kalah penting adalah
penampilan makanan yang semenarik mungkin.

24
Pola makan untuk anak balita berbeda dengan anak usia sekolah,
remaja dan orang dewasa, terutama pada jumlah porsi dan frekuensi
pemberian makan. Pemberian makan pada anak balita dengan porsi
kecil tapi sering tetap memegang peran. Adapun pembagian waktu
makan adalah sebagai berikut :
a. Bangun Tidur.
b. Makan Pagi.
c. Selingan Pagi.
d. Makan Siang.
e. Selingan Sore.
f. Makan Malam.
g. Sebelum Tidur

Pembagian makan di atas dapat berupa :

a. Sumber Zat Tenaga : 3 -4 Piring (1 gelas nasi / penggantinya


seperti : mie, bihun, dll).
b. Sumber Zat Pembangun : 4 -5 Porsi lauk @ 50gr , seperti : telur,
daging, ikan, tahu, tempe.
c. Sumber Zat Pengatur 2 - 3 Porsi sayuran dan buah-buahan yang
berwarna . 1 Porsi sayuran - 1 mangkuk sayuran, terdiri dari
berbagai sayuran berwarna : 1 porsi buah t 100gr.

Makanan selingan mempunyai peranan penting, terutama bila anak


tidak cukup mengkonsumsi seluruh porsi dari makanan utamanya,
seperti makan pagi,siang dan malam. Tapi terkadang ibu-ibu
cenderung memberikan makanan selingan berlebih pada anaknya
sehingga nafsu makan pada saat makan (makanan utama) menurun.
Pilihlah makanan selingan yang bergizi, seperti kue-kue, buah-buahan
yang sudah diolah ataupun makanan jadi dari bahan-bahan yang
bergizi (contoh: kolak pisang, bubur kacang hijau dll). (Wahyuni, Elly
D .2018)

25
D. WUS
1. Siklus haid
Jarak atau interval dari hari pertama menstruasi sampai dengan hari
pertama menstruasi berikutnya disebut Siklus menstruasi, normalnya
adalah 21-35 hari, menurut ACOG (The American College of
Obstetricians and Gynecologist)adalah 2145 hari, namun pada keadaan
umum siklus menstruasi yang sering dialami adalah 28 hari. Apabila
jumlah hari antar hari pertama menstruasi pertama dalam tiga bulan
berturut-turut sama maka dapat dikatakan bahwa siklus menstruasi
yang dialami teratur.

Melalui kalender menstruasi pada gambar dapat disimpulkan:


1. Pada bulan pertama siklus menstruasi dihitung mulai tanggal 1
September 2020 sampai dengan tanggal 29 September 2020, siklus
menstruasi yang dialami adalah 28 hari.
2. Siklus menstruasi berikutnya adalah tanggal 29 September 2020
sampai dengan tanggal 27 Oktober 2020, 28 hari .
3. Pada bulan ketiga hari pertama menstruasi adalah 27 Oktober 2020
sampai tanggal 24 November 2020, 28 hari.
4. Jika selama tiga bulan berturut-turut jumlah hari dalam siklus
menstruasi yang dialami sama atau berbeda # 2 hari (Haroun, 2016)
maka dapat disimpulkan bahwa yang bersangkutan memiliki siklus
menstruasi yang teratur.

26
a. Siklus Reproduksi Wanita
Selama siklus menstruasi, terjadi perubahan pada organ reproduksi
wanita yaitu pada ovarium (siklus ovarium) dan endometrium
(siklus uterus). Perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Siklus Ovarium
a) Fase Folikuler
Pada fase ini terjadi proses pematangan pematangan ovum
dalam folikel de graaf dengan bantuan hormon FSH.
Folikel de graaf akan mengeluarkan hormon estrogen yang
akan merangsang terjadinya proliferasi (pertumbuhan)
dinding endometrium. Fase folikuler terjadi pada hari
pertama menstruasi (Patricio & Sergio, 2018).
b) Fase Ovulasi
Keluarnya ovum dari folikel de graaf yang dipengaruhi oleh
hormon LH, terjadi pada hari ke 14 (t 1 hari) Galam siklus
28 hari. Lama hidup ovum adalah 12-24 jam.
c) Fase Luteal
Folikel de graaf yang pecah disebut corona radiate dalam 3
hari berubah menjadi korpus luteum yang bertugas
memproduksi hormon pogesteron proses inilah yang
disebut fase luteal. Progesterone yang dihasilkan oleh
korpus luteum berfungsi merangsang pertumbuhan
pembuluh darah pada dinding endometrium secara
maksimal agar siap untuk tempat tinggal janin. Korpus
luteum dapat menjadi korpus luteum menstruasi dan korpus
luteum gravidarum (kehamilan).
Setelah 9-14 hari, apabila sel telur tidak bertemu sperma (tidak
terjadi fertilisasi) Korpus luteum akan berubah menjadi korpus
albikan sehingga hormon progesterone menjadi rendah dan
dinding endometrium menjadi luruh, sehingga terjadilah
menstruasi (korpus luteum menstruasi). Apabila terjadi

27
pembuahan sel telur oleh sperma (fertilisasi) maka korpus
luteum akan bertahan selama kurang lebih 4 bulan (korpus
luteum gravidarum).
2) Siklus Uterus
a) Fase Menstruasi Akibat penurunan hormon estrogen dan
progesterone maka dinding endometrium meluruh sehingga
terjadilah perdarahan (menstruasi) disertai dengan lendir
dari mukosa dan potongan-potongan kecil dinding
endometrium (sel epitel). Pada akhir fase ini tebal dinding
endometrium kurang lebih 0.5 mm.
b) Fase Regenerasi
Fase ini dimulai dari hari ke 4-6 dari siklus, dinding
endometrium yang mulanya tipis karena luruh, mulai
kembali beregenerasi (kembali menebal), ketebalan
endometrium pada fase ini kurang lebih 2 mm.
c) Fase Proliferasi
Fase ini terjadi pada hari ke-7 sampai dengan hari ke-15
dari siklus bersamaan dengan fase folikuler pada ovarium.
Pada fase ini sel di endometrium berproliferasi sehingga
dinding uterus semakin tebal (kurang lebih 4 mm), peran
hormon estrogen sangat besar pada fase ini.
d) Fase Sekresi/premenstruasi
Fase ini terjadi pada hari ke-16 sampai dengan hari ke-28
dalam siklus, dinding endometrium mencapai ketebalan
maksimal (kurang lebih10 mm) namun lebih lembut, dan
mengeluarkan banyak “getah”, sehingga produksi “lendir”
pada masa ini biasanya meningkat.

28
2. Pembekalan pengetahuan untuk menjaga kesehatan reproduksi dan
upaya penanganan wanita
Menjaga kesehatan reproduksi adalah hal yang sangat penting,
terutama pada remaja. Sebab, masa remaja adalah waktu terbaik untuk
membangun kebiasaan baik menjaga kebersihan, yang bisa menjadi
aset dalam jangka panjang.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja adalah orang
yang berusia 12 hingga 24 tahun. Masa remaja merupakan peralihan
dari kanak-kanak menjadi dewasa. Artinya, proses pengenalan dan
pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai pada
masa ini. Secara sederhana, reproduksi berasal dari kata “re” yang
berarti kembali dan “produksi” yang artinya membuat atau
menghasilkan.
Reproduksi bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam
menghasilkan kembali keturunan. Karena definisi yang terlalu umum
tersebut, seringnya reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual
atau hubungan intim. Alhasih, banyak orang tua yang merasa tidak
nyaman untuk membicarakan masalah tersebut pada remaja. Padahal,
kesehatan reproduksi, terutama pada remaja merupakan kondisi sehat
yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.
Kurangnya edukasi terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi
nyatanya bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Salah
satu hal yang sering terjadi karena kurangnya sosialiasi dan edukasi
adalah penyakit seksual menular, kehamilan di usia muda, hingga
aborsi yang berakibat pada hilangnya nyawa remaja.
Nyatanya peran orangtua merupakan satu hal yang penting dalam
edukasi seksual pada remaja. Apalagi saat ini masih belum banyak
orang yang peduli terhadap risiko-risiko yang bisa menyerang remaja
“salah pergaulan” tersebut. Mulai dari ancaman HIV/AIDS, angka
kematian ibu yang meningkat karena melahirkan di usia muda, hingga
kematian remaja perempuan karena nekat mengambil tindakan aborsi.

29
Pada dasarnya, remaja perlu memiliki pengetahuan seputar
kesehatan reproduksi. Tak hanya untuk menjaga kesehatan dan fungsi
organ tersebut, informasi yang benar terhadap pembahasan ini juga
bisa menghindari remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Memiliki pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi, serta
cara menjaga kesehatannya, diharapkan mampu membuat remaja lebih
bertanggung jawab. Terutama mengenai proses reproduksi, dan dapat
berpikir ulang sebelum melakukan hal yang dapat merugikan.
Pengetahuan dasar yang perlu diketahui remaja:
a. Pengenalan terhadap sistem, proses, serta fungsi alat reproduksi.
Usahakanlah untuk menyampaikan informasi sesuai dengan usia
dan kesiapan anak. Tapi sebaiknya hindari penggunaan istilah-
istilah tertentu yang malah bisa mengaburkan makna dan membuat
anak tidak mengenal dengan pasti masalah reproduksi.
b. Risiko penyakit. Aspek ini juga sebaiknya sudah mulai dikenalkan
dan disampaikan pada remaja yang sudah beranjak dewasa.
Dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, remaja tentu akan
lebih berhati-hati dan lebih menjaga kesehatan reproduksi.
c. Kekerasan seksual dan cara menghindarinya. Remaja perlu
dikenalkan dengan hak-hak reproduksi yang ia miliki. Selain itu,
diperlukan juga pengetahuan tentang kekerasana seksual yang
mungkin terjadi, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara
mencegahnya terjadi.
Menjaga kesehatan reproduksi tentu lebih mudah jika
kesehatan tubuh terjaga seluruhnya. Agar lebih sehat, pastikan
untuk menerapkan pola makan sehat, olahraga, serta konsumsi
vitamin tambahan.

30
3. Personal hygiene
Cara menjaga personal hygiene organ reproduksi remaja saat
menstruasi adalah sebagai berikut :
a. Biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah
menyentuh vaginadan mengganti pembalut
b. Membasuh vagina dengan air bersih mengalir dari arah depan
(vagina) ke belakang (anus), bukan sebaliknya. Karena jika terbalik
arah, kuman dari daerah anus akan terbawa ke depan dan dapat
masuk ke dalam vagina.
c. Saat membersihkan daerah kemaluan tidak perlu menggunakan
cairan pembersih karena cairan tersebut akan merangsang bakteri
yang menyebabkan infeksi. Apabila menggunakan sabun,
sebaiknya gunakan sabun lunak (dengan pH 3,5) misalnya sabun
bayi yang biasanya ber pH netral.
d. Keringkan daerah kemaluan dengan tissu toilet atau handuk agar
tidak lembab
e. Gunakan pembalut yang bersih dan berbahan yang lembut,
menyerap darah dengan baik serta tidak membuat alergi.
f. Mengganti pembalut sesering mungkin sekitar 4-5 kali dalam
sehari atau setiap 4 jam sekali dalam sehari untuk menghindari
pertumbuhan bakteri yang berkembang biak pada pembalut,
menghindari bakteri masuk ke vagina dan timbulnya aroma tidak
sedap.
g. Bersihkan pembalut yang sudah dipakai dengan air sampai tidak
ada darah yang tersisa lagi. Bungkus pembalut yang sudah dipakai
dan dibersihkan, kemudian buang ke tempat sampah.
h. Gunakan celana dalam dari bahan alami (katun)dan tidak ketat,
serta dapat mengcover daerah pinggul agar dapat menopang
pembalut dengan kuat. Celana dalam yang ketat dan tidak
menyerap keringat membuat sirkulasi udara tidak lancar, membuat

31
kulit iritasi dan berisiko mengundang kuman jahat untuk bersarang
di daerah kemaluan.
i. Mengganti celana dalam 2 kali atau lebih dalam sehari untuk
menjaga kelembaban yang berlebihan dan celana dalam yang
sudah terkena noda darah harus segera diganti..
j. Bila ada kelainan misalnya terlalu banyak darah keluar dan tidak
teratur periksalah ke dokter.

4. Gizi
Asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) serta status
gizi (IMT) mempengaruhi siklus menstruasi. Kurangnya asupan
karbohidrat menyebabkan glukosa dalam darah menjadi rendah dan
mengakibatkan tubuh memproduksi hormon adrenalin yang
menghentikan efektivitas kerja progesterone. Protein dibutuhkan
dalam regenerasi sel, namun asupan protein hewani yang berlebih
mempengaruhi panjangnya fase folikuler dengan peningkatan FSH dan
penurunan estradiol. Asupan lemak tak jenuh yang berlebihan
menyebabkan tingginya produksi hormon estrogen yang
mempengaruhi hipotalamus meningkatkan produksi LH yang dapat
mempengaruhi rendahnya produksi hiperandrogenisme kadar
testosterone sehingga ovulasi tidak terjadi.
Wanita dengan gizi kurang (IMT < 17) menurunkan produksi
estrogen dan pemendekan fase luteal. Kebiasaan mengonsumsi junk
food yang kaya akan lemak namun rendah akan mikronutrien (B6,
kalsium, magnesium da potassium) juga mempengaruhi metabolisme
progesterone dalam fase luteal sehingga mengganggu siklus
menstruasi. Wanita dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 27
memiliki risiko lebih tinggi mengalami menstruasi yang tidak teratur
menuliskan bahwa obesitas menyebabkan rendahnya level Sex
Hormon Binding Globulin (SHGB) yang mengikat hormon estradiol
(estrogen), testosterone dan dehiddrotestosteron serta tingginya

32
hormon testosterone, Free Androgen Index (FAI) dan insulin
menyebabkan gangguan menstruasi. Akhila, Shaik & Kumar (2020)
menyatakan bahwa melewatkan sarapan dapat menyebabkan kenaikan
berat badan dan obesitas serta kadar gula dalam darah.

5. Perilaku Seks
a. Fantasi seksual meningkat
Selama tiga hari di sekitar masa subur, perempuan
umumnya mengalami peningkatan dalam fantasi seksnya,
demikian menurut studi dari University of Lethbridge, Canada.
Selain jadi mudah horny, di masa subur ini fantasi mereka juga
menjadi lebih menggairahkan dan lebih banyak menampilkan
tokoh-tokoh pria yang kuat. Namun, dalam fantasi tersebut
perempuan tetaplah mengutamakan emosi dan perasaan, dan
bukannya tindakan seksual yang sebenarnya.
b. Cenderung memilih pria yang maskulin
Studi yang diterbitkan di jurnal Hormones and Behavior
menyebutkan, saat subur perempuan mendapat dorongan dari
testosteron. Akibatnya, kita jadi cenderung ingin flirting dengan
pria yang maskulin, dan bukan tipe "nice guy" yang layak
dijadikan pendamping masa depan. Perut yang kotak-kotak atau
lengan yang dihiasi tonjolan otot di sana-sini tampak jauh lebih
menggoda, ketimbang bayangan akan menjalani kehidupan yang
tenang dengan seseorang yang selalu ada di samping kita.
c. Cenderung ingin selingkuh
Masih dalam kaitannya dengan ketertarikan terhadap pria-
pria maskulin dengan rahang kokoh dan perut kotak-kotak, peneliti
dari University of California, Los Angeles, juga mengatakan
bahwa hal itu mendorong kita untuk berselingkuh dari pasangan
tetap kita. Seringkali gambaran tentang pria-pria seksi ini muncul
dalam mimpi, dan membuat kita jadi mendambakan kehadiran

33
mereka di dunia nyata. Untunglah, keinginan ini akan meredup dan
menghilang setelah masa subur berlalu.
d. Mengagumi gambar-gambar yang erotis
Efek samping masa subur yang tak kalah aneh, kita jadi
lebih mampu menghargai karya seni, khususnya yang bernuansa
erotis. Psikolog bidang evolusioner dari Mulhlenberg College
mendapati bahwa kaum perempuan menganggap lukisan bunga
Georgia O'Keefe lebih seksi ketika mereka sedang berada di masa
yang paling subur dari siklus mereka. Dalam pandangan mereka,
lukisan bunga tersebut bisa tampak seperti bagian tubuh wanita
yang sangat intim.
e. Mampu mengenali pria gay
Gaydar, alias intuisi kita untuk menilai orientasi seksual
seseorang juga meningkat! Bahkan, menurut penelitian dari Tufts
University, saat kita subur gaydar ini berfungsi secara maksimal.
"Semakin Anda mendekati puncak masa subur, keakuratan (intuisi
kita) juga terus meningkat, berpuncak pada saat ovulasi, lalu mulai
menurun lagi," ujar salah seorang peneliti.
f. Ingin memakai busana yang seksi
Studi dari University of Minnesota Carlson School of
Management menemukan bahwa perempuan cenderung dandan
habis-habisan dan membeli pakaian yang lebih seksi saat sedang
subur. Pada saat subur, alam bawah sadar mendorong kita untuk
terlihat lebih seksi daripada perempuan lain, karena dengan
demikian pria akan memperhatikan kita. Menurut Dr Kristina
Durante dari University of Minnesota, "Dalam rangka menarik
perhatian lawan jenis yang dimaksud, seorang perempuan perlu
menilai daya tarik perempuan lain di lingkungan sekitarnya untuk
membuat dirinya tampak 'eye-catching' di mata pria tersebut."
(Maria Floriana Ping, dkk.2020)

34
E. PUS
1. Masalah Gangguan Kesehatan Reproduksi dan Upaya
Penanggulangannya
a. Fertilitas
1) Fertilitas adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil
dan melahirkan bayi hidup dari suami yang mampu
menghamilinya.
2) Pasangan Infertil adalah suatu kesatuan hasil interaksi biologis
yang tidak mampu menghasilkan kehamilan dan kelahiran bayi,
hidup.
3) Infertilitas Primer adalah jika istri belum berhasil hamil
walaupun bersenggama teratur dan dihadapkan pada
kemuungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut.
4) Infertilitas Sekunder adalah jika istri pernah hamil akan tetapi
tidak berhasil hamil lagi walaupun bersenggama teratur dan
dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan
berturut-turut.
Penekanan penatalaksanaan pasangan infertile:
1) Pasangan suami istri harus di pandang sebagai satu kesatuan
biologis
2) Kekurangan salah satu dari mereka akan di atasi oleh yang
lainnya sehingga kehamilan dapat berlangsung.
3) Pemeriksaan terhadap penyebabnya harus diketahui, di
selesaikan selama tiga siklus (tiga bulan).
4) Pasangan infertile sebaiknya dapat mengikuti pemeriksaan
yang telah dijadwalkan.
5) Pemeriksaan terhadap suami meliputi pemeriksaan fisik umum,
fisik khusus, dan pemeriksaan analisis sperma.

35
Pemeriksaan pasangan infertile

1) Anamnesis
2) Pemeriksaan fisik
3) Pemeriksaan laboratorium (darah, urine lengkap, fungsi hepar
dan ginjal, analisis sperma)
4) Pemeriksaan dalam (pemeriksaan terhadap ovulasi,
pemeriksaan terhadap saluran Gangguan ovulasi. (Nelwan, Jeni
Ester.2019)
2. Gangguan Ovulasi
Konsepsi tidak mungkin terjadi jika istri gagal menghasilkan ova
yang mampu untuk dibuahi. Jika siklus haidnya berjalan normal dan
teratur, jarang dijumpai gangguan produksi ova. Kegagalan ovulasi
seringkali dikaitkan dengan amenorhea atau oligomenorhea. Seperti
diketahui ovarium memiliki dua peran utama yaitu sebagai penghasil
gamet (ova) dan sebagai organ endokrin karena menghasilkan hormon
sex (estrogen,progesterone,dan androgen). Sekitar 10-15 % wanita
infertil gagal untuk berovulasi atau setelah ovulasi, menghasilkan
korpus luteum yang tak mampu memelihara ovum yang telah dibuahi.
Keadaan yang terakhir ini dikenal sebagai fase luteal yang inadekuat.
Kegagalan ovulasi dapat berasal primer dari ovarium, misalnya
penyakit ovarium polikistik, atau kegagalan yang bersifat sekunder
akibat kelainan pada poros hipotalamus-hipofise dan kelainan pada
pusat opioid dan reseptor steroid di hipotalamus, ataupun tumor
hipofisis serta hipofungsi hipofisis. Gangguan pada metabolisme
opioid yang antara lain menyebabkan tingginya kadar endorpin –beta
akan dapat berakibat pada tingginya kadar prolaktin (PRL) atau
hiperprolaktinemia. Kadar PRL yang tinggi dapat juga disebabkan oleh
pemakainan obat-obat yang merangsang kadar PRL khususnya
hipnotika dan sedativa. Kadar PRL yang berlebihan akan menghambat
kerja FSH dan LH terhadap ovarium dan dengan demikian

36
menghambat produksi hormon ovarium yang akan menampilkan
anovulasi. Pemantauan ovulasi:
a. Riwayat haid
Riwayat haid dapat memberikan pegangan terhadap hal ini.
Ovulasi lebih mungkin terjadi jika siklus haid berlangsung teratur
dan dengan jumlah darah haid yang sedang untuk jangkan waktu 3
– 5 hari. Haid yang tak teratur dan sedikit, menjadi petanda siklus
anovulatorik. Pada sebagian wanita merasakan nyeri pada satu sisi
di fossa iliaka untuk 12 – 24 jam pada saat ovulasi, dan hal ini
mungkin bersamaan atau tanpa disertai perdarahan ringan
(Mittelscherz) atau dengan suatu peningkatan limbah vagina
(vaginal discharge). Mastalgia prahaid menandakan adanya suatu
korpus luteum yang aktif, artinya ovulasi sebelumnya telah terjadi
dalam siklus itu.
b. Uji pakis
Di bawah pengaruh estrogen, getah servik yang dikeringkan
pada gelas obyek akan mengalami kristalisasi dan menghasilkan
suatu pola daun pakis yang cukup khas. Ini terjadi antara hari ke 6
sampai ke 22 dari siklus haid, dan kemudian akan dihambat oleh
progesterone. Hambatan ini biasanya mulai tampak dari hari ke 23
hingga haid berikutnya. Menetapnya pola pakis setelah hari ke 23
ini menunjukkan bahwa ovulasi tidak terjadi. Darah dan semen
dapat juga menghambat pembentukan gambaran pakis sehingga
hasil yang salah sering dijumpai pada uji ini.
c. Suhu basal badan
Pada beberapa wanita SBB meningkat selama fase
progesterone dari siklus haid. Cara ini juga dapat dipakai untuk
menentukan apakah telah terjadi [Link] diambil tiap hari
pada saat terjaga pagi hari, sebelum bangkit dari tempat tidur atau
makan minum. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika wanita itu
berovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik yang khas.

37
Suhu pada paro pertama siklus haid adalah lebih rendah, dan suhu
terendah terjadi saat ovulasi, kemudian secara keseluruhan grafik
akan meningkat sepanjang paro kedua siklus haid. Walaupun
grafik bifasik berarti bahwa ovulasi telah terjadi, suatu grafik
monofasik belum membantah bahwa ovulasi tidak terjadi.
Kesalahannya pada penggunaan yang baik berkisar 20 %. SBB
dapat dipakai untuk menentukan kemungkinan hari ovulasi,
sehingga senggama dapat diarahkan sekitar saat itu.
d. Sitologi vagina atau endoserviks
Epitel dari sepertiga lateral atas dinding vagina memberikan
respon yang khas terhadap hormon ovarium. Pemeriksaan ini
dilakukan secara serial. Sekarang telah dikembangkan pemeriksaan
dari endoserviks pada fase pasca ovulasi dengan pengambilan
tunggal (tanpa serial). Perubahan sitologik dengan melihat indeks
kariopiknotik dapat dipakai untuk menentukan ada tidaknya
ovulasi.
e. Peneraan hormon
Cara peneraan yang cukup peka adalah dengan tera
radioimunologik. Cara ini sudah sejak lama dipakai untuk
mengukur kadar hormon dalam darah, urin, maupun saliva guna
menetapkan ovulasi dengan lebih tepat. (Tri Rini Puji Lestari.2020)

3. Pemeriksaan Pasangan Infertil


Sekitar 4 dari 5 pasangan akan hamil dalam satu tahun pernikahan
dengan senggama yang normal dan teratur. Setiap pasangan yang
belum berhasil hamil dalam kurun waktu ini patut diperiksa dengan
[Link] cukup bijaksana untuk memulai pemeriksaan
pendahuluan yang sederhana sebelum masa ini,jika pasangan tersebut
khawatir tidak akan mempunyai keturunan. Hal ini secara psikologik
akan banyak membantu pasangan dalam mengatasi masalahnya.
Kadang-kadang pasien menjadi salah sangka jika mereka disuruh

38
kembali setelah perkawinannya genap satu tahun, ini dapat dianggap
sebagai suatu penolakan.
Anamnesa Riwayat penyakit. Pemeriksaan awal dari pasangan
infertil perlu mencakup riwayat penyakit, riwayat perkawinan
terdahulu dan sekarang dan pemeriksaan terhadap masing-masing
pasangan. Sungguh baik jika pada pertama kali satu pasangan
diperiksa bersama-sama, karena dokter yang menanganinya akan dapat
menilai interaksi mereka. Untuk pemeriksaan berikutnya, lebih baik
mereka dinilai sendiri-sendiri. Rincian pokok dari riwayat penyakit
yang perlu diperoleh dari pasangan infertil adalah sebagai berikut :
a. Untuk keduanya: Umur, riwayat penyakit dahulu (operasi,
tuberculosis, penyakit venerik pasangan terdahulu), fertilitas
terdahulu, ama perkawinan sekarang (cara dan lama
kontrasepsi,pisah untuk jangka waktu lama), riwayat senggama
(frekwensi, saatnya pada siklus haid, dispareunia) dan interaksi
antara pasangan.
b. Suami: Riwayat penyakit terdahulu(parotitis, epididimitis, sifilis,
trama testis).
c. Istri: Kehamilan terdahulu (kehamilan ektopik, keguguran), riwayat
penyakit terdahulu (apendisitis, peritonitis, salpingitis, pembedahan
tuba), riwayat haid (frekuensi dan panjang siklus,dismenorhea).
(Nelwan, Jeni Ester.2019)

4. Pemeriksaan Uterus Dan Tuba Fallopii


Uterus dan tuba fallopii haruslah paten untuk memungkinkan
spermatozoa melintasi vagina ke bagian ampula tuba fallopii, tempat
spermatozoa membuahi [Link] endometrium harus dalam
keadaan yang siap untuk memungkinkan hasil konsepsi tertanam dan
kemudian mengalami tumbuh-kembang. Sekitar 20 % wanita infertil
mengalami kerusakan tuba fallopii. Gangguan pada susunan genetalia

39
wanita yang dapat mencegah fertilisasi dan implantasi adalah sebagai
berikut :
a. Uterusdan Serviks Ketidakramahan serviks (antibody sperma),
kerusakan serviks (amputasi ), erosiserviks dan servisitis,
retroversi serviks. Korpus dan endometrium : Kelainan kongenital,
Endometriosis interna, endometritis, mioma uteri, perlekatan uterus
dan polip.
Tuba Fallopii Hipoplasia congenital, penempelan fimbriae,
obstruksi tuba akibat salpingitis, obstruksi tuba akibat peritonitis
pelvis, sterilisasi tuba. (Tri Rini Puji Lestari.2020)

5. Penyakit Menular Seksual


Yaitu penyakit yang cara penularannya melalui hubungan kelamin
Yang tergolong ke dalam penyakit ini adalah sifilis, GO, herpes
simpleks, HIV/Aids, dsb)
PMS dapat menimbulkan infeksi akut yang menimbulkan
penanganan yang tepat kerena dapat menjalar kealat genetalia baan
dalam (atas) dan menimbulkan penyakit radang panggulang sangat
berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi yang dapat menimbulkan
kurang subur atau mandul.
Dalam hal ini bidan berperan untuk mengenali secara dint PMS
dan dapat menjaring penderita PMS untuk di berikan konseling agar
tidak terjadi penyebaran dan menjadi langkah awa bagi penderita untuk
mendapatkan pengobatan selanjutnya Untuk mencegah terjadinya
penularan PMS, bidan dapat mela penyuluhan yang bertujuan untuk
menjelaskan pada FUS tentang PMS seperti gejala-gejala PMS,
pencegahan PMS, dan anj an untuk ke tenaga kesehatan jika menemui
gejala-gejala yang sudah di jelaskan.

40
F. Klimakterium Dan Menopause
1. Pengertian Klimakterium
Klimakterium merupakan bagian dari masa sebelum terjadinya
menopause, yaitu masa dimana siklus mentruasi mulai berlangsung
tidak teratur dan pada masa tersebut seorang wanita akan mengalami
beberapa gejala klimakterium, salah satunya adalah hot flash yaitu
kemerahan pada kulit kepala, dada, wajah, hingga leher yang terasa
panas. Setelah seorang perempuan melewati masa menopause, maka
perempuan tersebut akan mulai beranjak mendaki anak tangga dalam
artian di sini disebut fase pascamenopause yaitu istilah yang ditetapkan
untuk menyebut adanya gejala atau berhentinya menstruasi.
Klimakterium dimulai pada akhir tahap reproduksi dan berakhir pada
awal senium, masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan
setelah menopause (Hafifah Munawar, 2013).
Ada beberapa pengertian klimakterium dari beberapa ahli yang dapat
kita pelajari lebih dalam. Seperti halnya menurut Kasdu (2002),
klimakterium merupakan masa peralihan yang dilalui oleh seorang
perempuan dari periode reproduksi ke periode nonreproduksi, fase
terakhir dalam kehidupan perempuan atau pasca masa reproduksi
berakhir. Pengertian lain, klimakterium mengacu pada periode
kehidupan seorang perempuan saat ia berpindah dari tahap produktif
ke tahap tidak reproduktif, yang mana hal tersebut disertai dengan
terjadinya regresi fungsi ovarium (Bobak, 2005). Sedangkan menurut
Adji (2007), klimakterium adalah berhentinya menstruasi yang
disebabkan karena berhentinya proses fisiologis pada perempuan,
akibat menurunnya estrogen tanpa obat-obatan dan intervensi.

41
2. Gejala Klimakterium
a. Perdarahan
Perdarahan yang dimaksud pada masa klimakterium adalah
adanya ketidakteraturan perdarahan yang keluar dari vagina.
Ketidakteraturan tersebut lebih sering terjadi pada fase pertama
saat memasuki menopause. Lebih dari 90% perempuan
perimenopause mengalami perubahan siklus haid, dimulai dengan
siklus haid yang terjadi lebih pendek berkisar antar 2-7 hari. Tidak
teraturnya siklus haid terjadi karena tidak ada kelemahan yang
terjadi pada masa luteal atau sesudah lonjakan estradiol yang
diikuti dengan ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Pada masa
klimakterium tidak menutup kemungkinan juga terjadi
pemanjangan siklus haid, sama halnya dengan haid yang tidak
teratur (Shifren, 2007).

b. Vasomotor
Gejala vasomotor sedikit banyak dapat memengaruhi
perempuan pada masa premenopause. 75% wanita di Indonesia,
mengalami gejala vasomotor, dan biasanya terjadi dalam kurun
waktu 1-2 tahun setelah fase menopause. Akan tetapi, pada
sebagian perempuan gejala tersebut dapat berlangsung selama lebih
dari 10 tahun. Hot flashses menjadi salah satu alasan utama bagi

42
perempuan dalam mencari perawatan saat berada dalam fase
menopause, begitupun juga dengan permintaan akan pengobatan
terapi hormonal. Banyak perempuan yang mengeluhkan bahwa
pada masa transisi menopause, perempuan cenderung lebih sulit
berkonsentrasi karena terjadi ketidakstabilan emosional (Shifren,
2007).
c. Gangguan fungsi seksual
Gangguan fungsi seksual atau disfungsi seksual merupakan
gejala yang umum dirasakan oleh perempuan pada fase
menopause, meskipun insidensi danetiologi yang tepat masih
menjadi teka-teki. Disfungsi seksual yang terjadi pada perempuan
menopause meliputi gangguan pada dorongan dan terjadinya
bangkit seksual. Etiologik disfungsi seksual disebabkan oleh
banyak faktor yang mana masalah psikologis juga termasuk di
dalamnya.

d. Gangguan somatic
Beberapa gejala somatik yang dapat menimpa perempuan
selama masa perimenopause adalah sakit kepala, pusing, palpitas,
serta payudara yang membesar dan cenderung terasa nyeri. Gejala-
gejala tersebut bersifat umum dan fisiologis. Pengobatan yang
dilakukan bersamaan dengan edukasi, dan pemberian dukungan
harus dilakukan secara berkesinambungan, terlebih pada awal masa
timbulnya gejala.

e. Osteoporosis
Tulang merupakan penyusun tubuh paling keras yang
berfungsi sebagai kerangka, yang mendukung dan melindungi
jaringan tubuh. Proses pembentukan jaringan tulang baru dan
penghancuran tulang terjadi secara terus menerus—di dalam
tulang. Sampai sekitar usia 35 tahun, pembentukan tulang baru

43
terjadi terus menerus, sehingga jumlah tulang baru yang dibentuk
lebih besar daripada tulang tua yang dihancurkan. Setelah usia 35
tahun, materi tulang yang hilang lebih banyak dibandingkan yang
dibentuk. Proses pembentukan dan penghancuran tulang dilakukan
oleh 2 jenis sel tulang, yaitu sel osteoblast yang membantu
pembentukan jaringan tulang baru dengan menambah kalsium, dan
sel osteoklast yang menghancurkan jaringan tulang serta
melepaskan kalsium ke alam darah. Dalam proses osteoporosis
inilah sel osteoklas bekerja lebih aktif jika dibandingkan dengan
sel osteoblast. Hormon juga memengaruhi proses pembentukan dan
penghancuran tulang (Hembing Wijayakusuma, 2011).

3. Perubahan fisik pada masa klimakterium


a. Perubahan pada organ reproduksi
1) Rahim yang mengalami atropi yakni panjang yang menyusut
dan dindingnya mengalami penipisan, jaringan myometrium
menjadi lebih sedikit, berbeda dengan jaringan fibrotik yang
dijumpai lebih banyak. Leher rahim pada perempuan
klimakterium mengalami penyusutan tidak menonjol ke dalam
vagina, tetapi justru lama kelamaan akan merata dengan
dinding vagina.
2) Saluran Telur yang mana lipatan-lipatannya menjadi lebih
pendek, menipis, dan mengerut. Rambut getar yang ada pada
ujung saluran telur atau fimbria menghilang. Pada saat
perempuan telah melewati akhir usia 30 tahun-an, ia akan
mengalami penurunan indung telur. Dengan demikian,
pelepasan sel telur tidak selalu sesuai dengan pelepasan siklus
haid. Pada saat ini, jarak haid menjadi tidak teratur yakni
terjadi pada selang waktu yang lebih lama dengan pola cairan
haid, yang berubah menjadi semakin sedikit atau semakin

44
banyak. Sampai pada akhirnya, pelepasan sel telur tidak lagi
terjadi dan haid pun benar-benar berhenti.
3) Serviks dan Vagina. Seperti halnya rahim dan indung telur,
serviks juga dapat mengalami pengerutan dan memendek,
sedangkan vagina mengalami kontraktur yaitu akan
melemahkan otot jaringan, panjang, dan lebar vagina juga
cenderung mengalami pengecilan. Forniks menjadi dangkal.
Atropi vagina berangsur-angsur menghilang. Selaput lendir alat
kelamin akan menipis dan tidak lagi mempertahankan
elastisitasnya akibat fibrosis.
4) Vulva. Jaringannya mulai menipis karena ada proses berkurang
dan hilangnya jaringan lemak serta jaringan elastik, kulitnya
menipis dan pembuluh darah berkurang sehingga menyebabkan
terjadinya pengerutan pada lipatan vulva. Menopause juga
mengakibatkan berkurangnya selaput pembuluh darah dan
serabut elastik. Semua keadaan ini sangat berpengaruh pada
saat bersenggama karena akan terasa lebih nyeri (Kasdu, 2002).

b. Perubahan di luar organ reproduksi


1) Adipositas (Penimbunan Lemak)
2) Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
3) Hiperkolesterolemia (Kolesterol Tinggi)
4) Aterosklerosis (Perkapuran Dinding Pembuluh Darah)
5) Virilisasi (Pertumbuhan Rambut-Rambut Halus)
6) Osteoporosis (Keropos Tulang).

c. perubahan psikis pada masa klimakterium


1) Daya Ingat Menurun
2) Mudah Tersinggung
3) Stres

45
4) Depresi. (Sundari, Mulyaningsih dan Dyah Pradnya
Paramita.2020)

4. Pengertian Menopouse
Kata menopause berasal dari Bahasa Yunani, yaitu dari kata "men"
yang berarti bulan, dan kata 'peuseis' yang berarti penghentian
sementara, Secara linguistik kata yang lebih tepat adalah menocease
yang berarti masa berhentinya menstruasi. Pandangan medis,
menopause diartikan sebagai masa penghentian menstruasi untuk
selamanya. Masa menopause ini tidak bisa serta-merta diketahui, tetapi
biasanya akan diketahui setelah setahun berlalu. Menopause
merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju
perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan berkurang nya
hormon estrogen dan progesteron.

5. Fase-fase Menopause
a. Klimaterium (Pramenopause) Periode klimakterium merupakan
masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium. Biasanya
masa ini disebut juga dengan pra menopause, antara usia 40 tahun,
ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan
haid yang memanjang dan relatif banyak (Prawirohardjo, 2006).
b. Menopause Masa menopause yaitu saat haid terakhir atau
berhentinya menstruasi. Menopause mulai pada umur yang berbeda
pada orang-orang yang berbeda. Umur yang umum adalah sekitar
50 tahun, meskipun ada sedikit wanita memulai menopause pada
umur 30 tahun, sementara wanita-wanita lain mulainya menopause
tertunda sampai umur 50 tahun Ini disebabkan tubuh sudah
kehabisan sel telur dan penurunan hormon estrogen. Proses
semakin berkurangnya produksi estrogen berlangsung dalam
jangka waktu yang cukup lama. Tanggal dari haid terakhir disebut
sebagai menopause. Karena haid tidak lagi teratur, maka wanita

46
tersebut baru benar-benar yakin bahwa haidnya berhenti setidak
nya selama satu tahun setelah itu (Nirmala, 2003:12).
c. Senium. Masa senium adalah masa sesudah menopause atau bisa
disebut dengan istilah pasca menopause. Kondisi ini dapat
diidentifikasi bila telah mengalami menopause 12 bulan sampai
menuju ke senium dan umumnya terjadi pada usia 50 tahun. Pada
periode pasca menopause, wanita telah mampu menyesuaikan
dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik
antara usia 65 tahun. Beberapa wanita juga mengalami berbagai
gejala karena perubahan keseimbangan hormon. Bagian-bagian
tubuh dapat mulai menua dengan jelas, tetapi kebanyakan wanita
seharusnya tetap aktif secara fisik, mental, dan seksual sesudah
menopause seperti sebelumnya. (Prawirohardjo, 2003; 3).

6. Tujuan Asuhan Masa Menopause


Asuhan masa menopause perlu dikembangkan pelaksanaannya serta
perlu diterapkan pada setiap wanita menopause. Adapun tujuan
dilakukannya asuhan pada masa menopause adalah: 1
a. Masa menopause merupakan masa yang tidak menyenangkan bagi
sebagian wanita sehingga perlu dilakukan asuhan yang tepat.
b. Dapat dilakukan penanganan secara dini jika terjadi adanya
kelainan ataupun komplikasi pada masa menopause.
c. Terpantaunya status kesehatan masa menopause.
d. Memberikan asuhan berdasarkan masalah yang dialami klien pada
masa menopause.
e. Meningkatkan kualitas hidup pada masa menopause.

47
7. Faktor-faktor Yang Memengaruhi Menopause
a. Usia Saat Haid Pertama Kali (Menarche) Beberapa ahli yang
melakukan penelitian menemukan adanya hubungan antara usia
pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki
menopause. Kesimpulan dari penelitian penelitian ini
mengungkapkan, bahwa semakin muda seorang mengalami haid
pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa
menopause.
b. Jumlah Anak Meskipun belum ditemukan hubungan antara jumlah
anak dan menopause, tetapi beberapa peneliti menemukan bahwa
makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau
lama mereka memasuki masa menopause.
c. Usia Melahirkan Masih berhubungan dengan melahirkan anak,
bahwa semakin tua seseorang melahirkan anak, semakin tua ia
mulai memasuki usia menopause. Penelitian yang dilakukan Beth
Israel Deaconess. Medical Center in Boston mengungkapkan
bahwa wanita yang masih melahirkan di atas usia 40 tahun akan
mengalami usia menopause yang lebih tua. Hal ini terjadi karena
kehamilan dan persalinan akan memperlambat sistem kerja organ
reproduksi. Bahkan akan memperlambat proses penuaan tubuh.
d. Faktor Psikis. Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini
berhubungan dengan kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah
berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan
kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah
tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian,
ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll. Perubahan psikis ini
berbeda-beda tergantung dari kemampuan wanita untuk
menyesuaikan diri.
e. Sosial Ekonomi Keadaan sosial ekonomi memengaruhi faktor fisik,
kesehatan dan pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup

48
baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan
akan faktori klimakterium sebagai faktor fisiologis.
f. Budaya dan Lingkungan Pengaruh budaya dan lingkungan sudah
dibuktikan sangat memengaruhi wanita untuk dapat atau tidak
dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini.
8. Kebutuhan Dasar Menopause
Kebutuhan dasar pada menopause pada dasarnya sama dengan
kebutuhan dasar manusia. Abraham Harold Maslow (1908-1970), ahli
psikologi membagi kebutuhan manusia menjadi 5, yaitu kebutuhan
fisiologis, keamanan, sosial, prestise dan aktualisasi diri.
a. Kebutuhan Dasar Manusia (KDM) menurut Maslow adalah
sebagai berikut. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), yaitu
kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain.
Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), yaitu kebutuhan akan
perlindungan keselamatan terhadap bahaya atau kekerasan.
b. Kebutuhan Sosial (Social Needs) timbul bila kedua kebutuhan.
sebelumnya telah dipenuhi, yaitu kebutuhan akan afiliasi.
persahabatan serta memberi dan menerima kasih sayang/dihargai
dengan/dari/oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat.
c. Kebutuhan Prestise (Ego/Esteem Needs), yaitu kebutuhan akan
penghargaan untuk penghormatan diri, status, perhatian hingga
penerimaan orang lain, yang muncul bila ketiga kebutuhan
sebelumnya telah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan ini jarang
dapat dipuaskan.
d. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs) merupakan
kebutuhan terakhir apabila keempat kebutuhan lainnya di atas.
telah terpenuhi, yang dapat mendorong perilaku seseorang untuk
dapat mempertinggi kemampuan kerja.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar manusia tersebut adalah berjenjang
seperti piramid, yang mempunyai anak-anak tangga kebutuhan.

49
Kebutuhan-kebutuhan harus dipenuhi dari kebutuhan tingkat pertama
dan naik ke tangga-tangga kebutuhan berikutnya, tanpa bisa meloncat
(Syukri, 2006).
9. Peran Bidan dalam Masa Menopause
Bidan sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab untuk
memberikan asuhan pada masa menopause harus dapat melakukan
peran secara maksimal sehingga wanita menopause wanita menopause
dapat melalui masa menopause dengan menyenangkan. Adapun peran
yang dapat dilakukan bidan di antaranya adalah:
a. Memberikan asuhan kebidanan kepada wanita menopause yang
sesuai dengan kebutuhan wanita menopause.
b. Secara berkala memberikan penyuluhan ataupun Komunikasi
Edukasi dan Informasi (KIE) sesuai dengan kebutuhan wanita
menopause.
c. Membentuk forum bagi wanita menopause yang memiliki kegiatan
fisik maupun spiritual. (Suparni, Ita Eko dan Reni Yuli Astutik.
2016)

50
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan adanya program Kia maka akan tercapai kemampuan
hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal, bagi ibu
dan keluarganya untuk menuju norma keluarga kecil bahagia sejahtera
(NKKBS) serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin
proses tumbuh kembang optimal.

B. Saran
Tentunya terhadap penulis sudah menyadari jika dalam
penyusunan makalah di atas masih banyak ada kesalahan serta jauh dari
kata sempurna. Adapun nantinya penulis akan segera melakukan perbaikan
susunan makalah itu dengan menggunakan pedoman dari beberapa sumber
dan kritik yang bisa membangun dari para pembaca.

51
DAFTAR PUSTAKA
Wahyuni, Elly D. 2018. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia
Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Kesehatan.

Tri, Rini puji lestari. 2020. Program Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Jurnal dpr
[Link]

Nelwan. Jeni Ester. 2019. Teori Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: penerbit


deepublish

Suparni, Ita Eko dan Reni Yuli Astutik. 2016. Menopause Masalah dan
Penanganannya. Yogyakarta: Deepublish.

Riyadina, Woro. 2019. Hipertensi Pada Wanita Menopouse. Jakarta: LIPI Press,
anggota Ikapi.

Mulyaningsih, Sundari dan Dyah Pradya Paramita. 2020. Klimakterium Masalah


dan Penanganannya Dalam Perspektif Kebidanan. Jakarta: Deepublish.

Nurul Azizah, Rafhani Rosyidah. 2019. Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan
Kebidanan Nifas dan Menyusui. Sidoarjo:Jawa Timur.

Nur fadjri Nilakesuma. 2020. Buku Ajar Mata Kuliah Pengambilan Keputusan
Terhadap Rujukan Ibu Hamil. Bandung:Jawa Barat.

Nabila Alfina. 2017. Buku Kesehatan Masyarakat Pemeliharaan Kesehatan Pada


Ibu:Jakarta

52

Anda mungkin juga menyukai