Pemahaman Rheumatoid Arthritis dan Penanganannya
Pemahaman Rheumatoid Arthritis dan Penanganannya
TINJAUAN PUSTAKA
5
6
yang disebabkan oleh rasa nyeri yang dirasakan, serta akan megganggu
dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar (Jerita, 2021).
2. Etiologi
Penyebab rheumatoid arthritis belum diketahui secara pasti walaupun
banyak hal mengenai patogenesisnya telah terungkap. Faktor genetik dan
beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya
penyakit ini. Kecenderungan wanita untuk menderita rheumatoid arthritis
dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil
menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai
salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyakit ini. Walaupun
demikian karena pembenaran hormon esterogen eksternal tidak pernah
menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini
belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan
penyebab penyakit ini (Aspiani, 2021).
Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab RA antara lain : (1)
Faktor genetik; (2) Reaksi inflamasi pada sendi dan selubung tendon; (3)
Faktor rheumatoid; (4) Sinovitis kronik dan destruksi sendi; (5) Gender; (6)
Infeksi (Fauzi, 2019).
3. Patofisiologi
Pada awalnya, proses inflamasi akan membuat sendi synovial menjadi
edema, kongesti vascular dengan pembentukan pembuluh darah baru,
eksudat fibrin, dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan akan
membuat synovial menjadi tebal, terutama pada kartilago. Persendian yang
meradang akan membentuk jaringan granulasi yang disebut dengan pannus.
Pannus akan meluas sehingga masuk ke tulang subkondrial. Jaringan
granulasi akan menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi
kartilago. Ini membuat kartilago menjadi nekrosis. (Asikin, dkk. 2014)
7
Gambar 2.1
Pathway Rheumatoid Arthritis
4. Manifestasi Klinis
RA pada umumnya sering di tangan, sendi siku, kaki, pergelangan kaki
dan lutut. Nyeri dan bengkak pada sendi dapat berlangsung dalam waktu
terus-menerus dan semakin lama gejala keluhannya akan semakin berat.
Keadaan tertentu, gejala hanya berlangsung selama beberapa hari dan
kemudian sembuh dengan melakukan pengobatan.
Rasa nyeri pada persendian berupa pembengkakan, panas, eritema dan
gangguan fungsi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk rheumatoid
arthritis. Persendian dapat teraba hangat, bengkak, kaku pada pagi hari
berlangsung selama lebih dari 30 menit. Pola karakteristik dari persendian
yang terkena adalah : mulai pada persendian kecil di tangan, pergelangan,
dan kaki. Secara progresif mengenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku,
pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular
(Pharmascience et al., 2016).
Adapun tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius
terjadi yaitu: sendi terasa kaku pada pagi hari dan kekakuan pada daerah
lutut, bahu, siku, pergelangan tangan dan kaki, juga pada jari-jari, mulai
terlihat bengkak setelah mengurangi nyeri sendi dan bengkak, serta
meringankan kekakuan dan mencegah kerusakan sendi sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup pasien meringankan gejala tetapi juga
memperlambat kemajuan penyakit (Pharmascience et al., 2016).
5. Pemeriksaan Penunjang
Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang Rheumatoid Arthritis
diantaranya :
a. Pemeriksaan antibody citrulline. Pada umumnya tes darah dijalankan
untuk membantu membuat diagnosis Rheumatoid Arthritis. Tes ini
adalah memeriksa antibody tertentu termasuk anticyclic antibody
citrullinated peptide (ACPA), dan antibody antinuclear (ANA), yang
hadir dalam sebagian besar pasien RA. Faktor Rheumatoid Arthritis
(RA) muncul sekitar 75-80 persen dari pasien RA, namun kejadian
mereka dapat menunjukkan kepada dokter bahwa gangguan autoimun
dapat ada.
9
b. Terapi farmakologi
1) Obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS)
2) Disease-modifying antireumatic drug (DMARD)
3) Kartikosteroid
4) Terapi Biologi
7. Komplikasi
a. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses
granulasi dibawah kulit yang disebut subkutan nodule.
b. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot.
c. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli. Tromboemboli adalah
adanya sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya
darah yang membeku.
d. Terjadi splenomegali
Splenomegali merupakan pembesaran limfa, jika limfa membesar
kemampuan untuk menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih
dan trombosit dalam sirkulasi menangkap dan menyimpan sel-sel darah
akan meningkat (Syaʼdiyah,2018).
b. Kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi tidak akan terpenuhi dengan
baik sampai kebutuhan dibawahnya terpenuhi
c. Jika kebutuhan dasar pada tiap tingkatan tidak terpenuhi, pada akhirnya
akan muncul suatu kondisi patologis
d. Setiap orang mempunyai kebutuhan dasar yang sama, dan disetiap
kebutuhan tersebut termodifikasi sesuai dengan budaya masing-masing
e. Setiap orang memenuhi kebutuhan dasarnya menurut prioritas
Tabel 2.1
Kebutuhan Dasar Manusia
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dan mendasar dalam memberikan asuhan
keperawatan yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang berkaitan
dengan kondisi kesehatan.
Menurut (Sya’diyah, 2018) dan (Lukman & Ningsih, 2013) pengkajian
terdiri atas:
a. Biodata
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, status, agama, pekerjaan, alamat,
penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, kaki atau pada tungkai.
Perasaan tidak nyaman dalam beberapa saat sebelum pasien mengetahui
dan merasakan adanya perubahan pada sendi.
c. Pemeriksaaan fisik
1) Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),
amati warna kulit, ukuran, lembut atau tidaknya kulit, dan ada atau
tidaknya pembengkakan.
2) Lakukan pengukuran passive range off motion pada sendi-sendi
synovial.
a) Catat bila ada atrofi, tonus yang berkurang
15
k. Nyeri/Kenyamanan
Fase akut dari nyeri disertai pembengkakan ataupun tidak pada jaringan
lunak pada sendi. Rasa nyeri kronis dan kekakuan terutama dipagi hari.
l. Keamanan
Lesi kulit, ulkus kaki, kesulitan dalam menangani aktivitas. Demam
ringan menetap, dan kekeringan pada mata dan membrane mukosa.
m. Interaksi sosial
Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga atau orang lain, perubahan
peran dan isolasi.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah proses menganalisa data subjektif dan
objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakkan
diagnosa keperawatan (Rusdianti, 2019)
Diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada pasien rheumatoid
arthritis adalah:
a. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi cairan, destruksi sendi.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri atau rasa tidak
nyaman deformitas skeletal, penurunan kekuatan otot.
c. Resiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot.
3. Rencana keperawatan
Rencana keperawatan adalah gambaran spesifik dari intervensi yang
disusun untuk membantu dalam mencapai kriteria hasil (Rusdianti, 2019).
Rencana keperawatan pada kasus Rheumatoid Arthritis menurut Standar
Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI) terdapat pada tabel dibawah ini :
17
Tabel 1.2
Rencana Keperawatan
Terapeutik:
1. Berikan teknik
non farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
([Link], acupressure,
terapi music, terapi pijat,
kompres hangat/dingin)
2. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
([Link] ruangan,
pencahayaan, kebisingan)
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan starategi
meredakan nyeri
18
1 2 3 4
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab,
periode dan pemicu nyeri
2. Jelaskan startegi meredakan
nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
5. Ajarkan teknik
nonfarmakologi
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
analgetik , bila perlu
Terapeutik:
1. Fasilitasi aktivitas
mobilisasi dengan alat bantu
(mis. Pagar tempat tidur)
2. Fasilitasi melakukan
pergerakan, jika perlu
3. Libatkan keluarga untuk
membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakan
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan prosedur
mobilisasi
2. Anjurkan untuk melakukan
mobilisasi dini
3. Ajarkan mobilisasi sederhana
19
1 2 3 4
yang harus dilakukan (mis.
duduk ditempat tidur, duduk
disisi tempat tidur, pindah
dari tempat tidur kekursi)
Terapeutik:
1) Orientasikan ruangan pada
pasien dan keluarga
2) Pasang handrail tempat tidur
3) Atur tempat tidur mekanis
pada posisi terendah
4) Tempatkan pasien beresiko
tinggi jatuh dekat dengan
pantauan perawat
5) Gunakan alat bantu berjalan
Edukasi:
1) Anjurkan menggunakan alas
kaki yang tidak licin
2) Anjurkan berkonsentrasi
untuk menjaga keseimbangan
tubuh
3) Anjurkan melebarkan jarak
kedua kaki untuk
meningkatkan keseimbangan
4) Ajarkan cara menggunakan
bel pemanggil untuk
memanggil perawat
4. Implementasi
Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien berpindah dari situasi kesehatan yang mereka
20
1. Pengkajian
a. Data umum
1) Identitas pasien
Berisi tentang identitas pasien yang meliputi: nama, umur, unsur,
perkerjaan, suku, agama, dan alamat (KK).
2) Data kesehatan keluarga
Pada pengkajian ini focus utama yaitu pada yang sakit yang
mencakup diagnosa penyakit, riwayat pengobatan, riwayat
perawatan, gangguan kesehatan serta apa saja kebutuhan dasar
manusia yang terganggu. Kemudian pemeriksaan seluruh anggota
keluarga yang mencakup pemeriksaan head to toe.
3) Data kesehatan keluarga
Berupa uraian kondisi rumah yang meliputi tipe rumah, ventilasi,
bagaimana pencahayaan, kelembaban lingkungan rumah,
kebersihan rumah, kebersihan lingkungan rumah serta bagaimana
serana MCK yang ada dilingkungan rumah.
4) Struktur keluarga
Pada bagian ini menjelaskan tipe keluarga, peran anggota keluarga,
bagaimana komunikasi didalam keluarga, sumber-sumber
kehidupan keluarga, serta sumber penunjang kesehatan keluarga.
5) Fungsi keluarga
Fungsi keluarga mengkaji fungsi pemeliharaan kesehatan keluarga
berdasarkan kemampuan keluarga, yaitu:
a) KMK mengenal masalah
Meliputi persepsi terhadap keparahan penyakit, pengertian
hingga tanda dan gejala, faktor penyebab, persepsi keluarga
terhadap masalah.
b) KMK mengambil keputusan
Meliputi sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat asli dari
luasnya masalah dirasakan keluarga. Keluarga menyerah
terhadap masalah yang dialami, sikap negatif terhadap masalah
23
Tabel 2.3
Prioritas Masalah
Keterangan skoring:
Setelah merumuskan skala prioritas sesuai tabel di atas, langkah selanjutnya yaitu
membuat skoring. Bailon dan Maglaya membuat rumus:
Gambar 2.4
Skoring skala prioritas
Skoring
X bobot
Angka tertinggi
Dengan adanya skala proiritas, maka kita akan mengetahui tingkat kedaruratan
pasien yang memutuhkan penanganan cepet atau lambat. Masing-masing kriteria
memberikan sumbangan masukan atas penanganan.
1) Kriteria sifat masalah
Menentukan sifat masalah ini berangkat dari tiga poin pokok yaitu tidak,
kurang sehat, ancaman kesehatan, dan keadaan sejahtera tidak atau kurang
sehat merupakan kondisi di mana anggota keluarga terserang suatu penyakit.
Hal ini mengacu pada kondisi sebelum terkena penyakit dan perkembangan
atau pertumbuhan yang tidak sesuai dengan kondisi yang memungkinkan
anggota keluarga terserang penyakit atau mencapai kondisi penyakit yang
ideal tentang kesehatan. Ancaman ini biasa berlaku dari penyakit yang ringan
hingga penyakit yang paling berat. Sumber dari penyakit ini biasanya dari
konsumsi, pola hidup dan gaya hidup sehari-hari.
2) Kriteria kemungkinan masalah dapat diubah.
Kriteria ini mengacu pada tingkat penanganan kasus pada pasien. Tingkat
penanganan terdiri dari tiga bagian, yaitu mudah, sebagian, dan tidak ada
kemungkinan untuk diubah.
3) Kriteria potensi pencegahan masalah
Kriteria ini mengacu pada tingkat, yaitu tinggi, cukup, dan rendah, berbedanya
tingkat ditentukan oleh berbagai faktor. Kemungkinan yang paling berat
25