RESUME
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PENYAKIT SINUSITIS
Dosen Pengajar:
Ns. Andhita Ratnadhiyani, [Link].,[Link].
Disusun Oleh:
1. Cherryza frizilia heniardi (P01720324060)
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS
TAHUN AJARAN 2025/2026
A. Definisi
Sinusitis (atau rinosinusitis) merupakan kondisi peradangan pada
mukoperiosteum sinus paranasal, yang sering kali berkembang setelah
rhinitis, karena hubungan embriologis antara mukosa hidung dan sinus.
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
B. Jenis
1. dari segi lama terjadinya gejala:
Akut: kurang dari 4 minggu
Subakut: dari 4 minggu hingga 3 bulan
Kronik: lebih dari 3 bulan
2. dari sisi penyebab dan lokasi:
Sinusitis rinogen → karena infeksi atau masalah pada hidung
Sinusitis odontogen → disebabkan oleh infeksi pada gigi rahang atas
Sinusitis berbeda antara anak dan dewasa, sesuai gejala klinis
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
C. Penyebab
Virus: Influenza A, Rhinovirus
Bakteri aerob: Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae,
Staphylococcus aureus
Bakteri anaerob: Bacteroides
Faktor yang mempengaruhi:
a. Obstruksi pada kompleks ostiomeatal (misalnya karena deviasi
septum, konka bulosa, dan lain-lain)
b. Masalah pada pembersihan mukosa (seperti fibrosis kistik, sindrom
Kartagener)
c. Penurunan sistem imun
d. Pembesaran adenoid
e. Infeksi gigi di rahang atas
f. Kebiasaan merokok
D. Proses Penyakit
Infeksi atau obstruksi pada kompleks ostiomeatal dapat
menyebabkan gangguan pengeluaran mukus → penumpukan sekresi →
peningkatan jumlah mikroba → peradangan mukosa sinus → ketebalan
mukosa dan akumulasi sekresi bernanah.
E. Tanda gejala
Hidung terhalang
Rinore purulen (ingus kental berwarna kuning kehijauan)
Nyeri atau tekanan pada wajah
Penurunan atau kehilangan kemampuan mencium bau
Batuk (terutama pada anak)
Demam (pada fase akut)
Napas bau tidak sedap
Sakit kepala sesuai dengan lokasi sinus
Sensasi lendir di tenggorokan (post-nasal drip)
Suara serak
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
F. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi dan palpasi: rasa nyeri saat ditekan di pipi atau dahi sesuai
lokasi sinus.
Rinoskopi anterior: ditemukan mukosa hidung yang bengkak,
berwarna merah, serta sekresi mukopurulen di meatus media.
Orofaring: terlihat sekresi mengalir ke belakang (post-nasal drip).
Transiluminasi (diafanoskopi): sinus yang terinfeksi tampak lebih
gelap.
G. Pemeriksaan Tambahan
Nasoendoskopi: untuk mengevaluasi sekresi purulen, pembengkakan
mukosa, obstruksi, atau pertumbuhan polip.
Foto sinar X (Waters/PA/lateral): menunjukkan adanya perselubungan
atau batas udara-cair.
CT-Scan: menjadi gold standard untuk evaluasi kompleks ostiomeatal
dan komplikasi (tidak direkomendasikan pada tahap akut).
Kultur sekresi sinus: menentukan patogen penyebab dan resistensi
terhadap antibiotik.
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
H. Diagnosis dapat dibuat berdasarkan:
Anamnesis: gejala utama dan tambahan
Pemeriksaan fisik: nyeri tekan pada sinus, adanya sekresi purulen
Pemeriksaan tambahan: endoskopi, radiologi, atau kultur
I. Perawatan
a. Sinusitis Akut
Antibiotik spektrum luas selama 11–21 hari:
Pilihan Pertama: Amoksisilin
Pilihan Kedua: Amoksiklav, Ampisilin-sulbaktam, Cefalosporin
generasi II, atau Makrolida
Dekongestan, baik topikal maupun sistemik
Mukolitik
Antihistamin atau kortikosteroid topikal (jika terpapar alergi)
Simptomatik: antipiretik dan analgetik
b. Sinusitis Kronik
Antibiotik sesuai hasil kultur (10–14 hari)
Dekongestan hidung
Mukolitik
Kortikosteroid sistemik
Jika kondisi tidak membaik → operasi FESS (Functional Endoscopic
Sinus Surgery) atau Prosedur Caldwell-Luc
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
J. Konsultasi & Pendidikan
Pastikan untuk menjaga asupan cairan (6–10 gelas per hari)
Meningkatkan kadar kelembapan di udara (menggunakan vaporizer
atau kompres hangat)
Pastikan untuk beristirahat yang cukup
Hindari asap dari rokok dan kondisi udara yang ekstrem
Gunakan dekongestan topikal tidak lebih dari lima hari
Rujuk ke dokter jika ada komplikasi atau terapi tidak berhasil
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
K. Komplikasi
Oftalmik: selulitis pada orbit, abses subperiosteal atau orbit
Intrakranial: meningitis, abses di otak, trombosis pada sinus
kavernosus
Tulang wajah: osteomielitis
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
L. Prognosis
Ad vitam: ad bonam (baik dan tidak mengancam nyawa)
Ad functionam: ad bonam (fungsi hidung kembali normal)
Ad sanationam: ad bonam (bisa sembuh sepenuhnya jika ditangani
dengan baik)
(Sumber: Buku Ajar THT, 2017)
M. kesimpulan
Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasal yang
disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau faktor anatomi yang menghalangi
drainase. Diagnosis ditentukan berdasarkan gejala utama dan tambahan,
pemeriksaan fisik, serta tes penunjang. Pengobatan mencakup penggunaan
antibiotik, dekongestan, dan operasi jika kondisi sudah kronis atau tidak
merespons. Penting untuk mencegah melalui kontrol alergi, menjaga
kebersihan hidung, serta penanganan awal infeksi saluran pernapasan atas.