0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Hukum Islam dan Positif tentang Cryptocurrency

Penelitian ini menganalisis pandangan hukum Islam dan hukum positif di Indonesia mengenai investasi cryptocurrency, menunjukkan bahwa mayoritas ulama melarangnya, sementara beberapa tokoh memperbolehkannya. Hukum positif Indonesia mengakui cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan, dengan perlindungan hukum yang diatur oleh undang-undang dan regulasi terkait. Namun, terdapat tantangan dalam memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi investor, terutama terkait risiko penipuan.

Diunggah oleh

alphamk1000
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Hukum Islam dan Positif tentang Cryptocurrency

Penelitian ini menganalisis pandangan hukum Islam dan hukum positif di Indonesia mengenai investasi cryptocurrency, menunjukkan bahwa mayoritas ulama melarangnya, sementara beberapa tokoh memperbolehkannya. Hukum positif Indonesia mengakui cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan, dengan perlindungan hukum yang diatur oleh undang-undang dan regulasi terkait. Namun, terdapat tantangan dalam memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi investor, terutama terkait risiko penipuan.

Diunggah oleh

alphamk1000
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance,

Vol.1 No.1, 2025, pp. 4254; e-ISSN: on Progress


Doi: [Link]

Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia


Terhadap Investasi Cryptocurrency

Misbahul Huda1, Poernomo A Soelistyo2


1,2) Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Kota Depok, Indonesia

Abstract
This research aims to explore the views of Islamic law and positive law in Indonesia regarding
cryptocurrency investment, as well as legal protection for investors. The research uses normative legal
methods with a statutory approach and a conceptual approach. The results of this research indicate that
in Islamic law, there are two differing opinions. The majority of scholars and experts, including the
ijtima results from Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and the Indonesian Ulema Council (MUI),
prohibit cryptocurrency as an investment tool. However, Mufti Muhammad Abu Bakar, Dr. Monzer
Kahf, and Mohammad Daud Bakar permit cryptocurrency as a valid form of investment. Indonesian
Positive Law recognizes cryptocurrency as a commodity that can be traded and invested in the futures
market. Legal protection for cryptocurrency investments, preventively, includes Law No. 8 of 1999,
Bappebti Regulation No. 9 of 2019. Meanwhile, repressive legal protection includes both litigation and
non-litigation mechanisms.
Keywords: cryptocurrency; investment; Islamic Law; Positive Law

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan hukum Islam dan hukum positif di
Indonesia terkait dengan investasi cryptocurrency serta perlindungan hukum bagi investor.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode hukum normatif dengan
pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dalam hukum Islam terdapat dua pandangan yang berbeda. Sebagian
besar ulama dan pakar, termasuk hasil ijtima ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah,
dan Majelis Ulama Indonesia, mengharamkan cryptocurrency sebagai alat investasi. Namun,
ada juga beberapa tokoh seperti Mufti Muhammad Abu Bakar, Dr. Monzer Kahf, dan
Mohammad Daud Bakar yang menghalalkan cryptocurrency sebagai bentuk investasi.
Sementara itu, dalam hukum positif Indonesia mengakui cryptocurrency sebagai komoditas
yang dapat diperdagangkan dan diinvestasikan di bursa berjangka. Perlindungan hukum
terhadap investasi cryptocurrency secara preventif diatur dalam Undang-undang Nomor 8
Tahun 1999 dan Peraturan Bappebti Nomor 9 Tahun 2019. Sementara itu, perlindungan
hukum secara represif meliputi mekanisme litigasi dan non-litigasi.

Kata Kunci: mata uang kripto; investasi; Hukum Islam; Hukum Positif

Article History:
History: Received: 06/12/2024; Revised: 06/12/2024; Accepted: 14/04l/2025
Corresponding Author: misbahulhuda850@[Link]
All current issues and full text available at: [Link]
This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons attribution license
([Link] whichpermits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the
original work is properly cited
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |43

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat telah mempermudah akses di
berbagai sektor, termasuk sektor investasi. Kemudahan akses ini berkontribusi pada
percepatan penyebaran pengetahuan tentang investasi dan peningkatan signifikan dalam
jumlah investasi. Salah satu bentuk investasi yang kini tengah populer adalah cryptocurrency.
Cryptocurrency, atau mata uang kripto, adalah sistem mata uang digital yang memungkinkan
penggunanya melakukan transaksi secara digital, menjadikannya alat pembayaran standar
dalam berbagai aktivitas bisnis (Pratama, 2023).
Menurut artikel terbaru dari [Link], pasar mata uang kripto di Indonesia telah
mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan pendapatan
mencapai US$577,6 juta pada tahun 2024. Pertumbuhan ini terlihat dari peningkatan jumlah
investor dan transaksi kripto di Indonesia. Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-7 di
dunia dalam hal kepemilikan aset kripto terbesar (Aprilia 2024).
Sejak tahun 2019, cryptocurrency telah mendapatkan status legal sebagai komoditas di
Indonesia setelah dinyatakan sah oleh Dewan Pengawas Bursa Berjangka, dan Kementerian
Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) secara resmi memperbolehkan perdagangan
mata uang digital, yang umumnya dikenal sebagai cryptocurrency di bursa berjangka. Dengan
diterbitkannya peraturan ini oleh Bappebti, diharapkan bahwa perdagangan fisik aset kripto
di Indonesia dapat memberikan kepastian hukum serta perlindungan bagi masyarakat yang
melakukan transaksi fisik aset kripto Indonesia. Aturan tersebut dianggap sebagai angin segar
bagi pasar keuangan digital Indonesia, memberikan peluang serta langkah awal bagi
perkembangan ekosistem keuangan digital di negara ini. Pemerintah Indonesia, melalui
BAPPEBTI dan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (PERMENDAG), secara resmi
mengatur bahwa aset kripto dapat dijadikan subjek kontrak berjangka, kontrak derivatif yang
diperdagangkan di bursa berjangka komoditi. Dengan demikian, langkah-langkah regulasi ini
bertujuan untuk memberikan kerangka kerja yang jelas dan terstruktur bagi pasar keuangan
digital di Indonesia, memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan inovasi di sektor tersebut
(Harahap et al, 2022).
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) melaporkan adanya
peningkatan signifikan dalam jumlah investor kripto di Indonesia pada awal tahun 2024. Pada
Januari, jumlah investor kripto domestik tercatat mencapai 18,83 juta. Angka ini terus
bertumbuh, dan pada Februari 2024, jumlah investor kripto meningkat menjadi 19 juta.
Peningkatan ini mencerminkan semakin tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap
investasi kripto, seiring dengan perkembangan pasar aset digital yang semakin pesat di tanah
air. Hal ini juga menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang
semakin besar, dengan kripto menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik perhatian
banyak kalangan (Kementrian Perdagangan RI 2024).
Namun pada kenyataannya, pemerintah masih belum mampu memberikan
perlindungan hukum yang memadai bagi pengguna kripto, terbukti dengan fakta bahwa sejak
awal tahun 2021, sekitar 46.000 orang kehilangan lebih dari Rp. 14,43 triliun dalam bentuk
kripto akibat penipuan. Kerugian tahun lalu hampir 60 kali lipat dari tahun 2018, dengan
kerugian rata rata per individu sebesar USD 2.600. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membantu
melindungi investor kripto di Indonesia dari berbagai jenis penipuan (Syafdinan et al., 2023).
Perdagangan aset kripto diperbolehkan dalam konteks perdagangan aset digital di
bursa berjangka komoditi, dengan tujuan utama bukan sebagai transaksi jual beli langsung,
melainkan lebih bersifat investasi karena aset kripto dianggap sebagai komoditas yang dapat
diperdagangkan. Penting untuk dicatat bahwa cryptocurrency tidak dapat dijadikan sebagai
44| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency

alat pembayaran dalam transaksi jual beli, karena cryptocurrency tidak diakui sebagai mata
uang yang sah sesuai dengan hukum di Indonesia (Apriliani et al, 2023).
Sebagai instrumen investasi, mata uang kripto memiliki sejumlah kekurangan ketika
dianalisis dari perspektif syariat Islam. Salah satu kritik utama adalah sifat spekulatif yang
menonjol dalam penggunaannya. Misalnya, nilai bitcoin sebagai salah satu jenis
cryptocurrency sangat fluktuatif, dengan pergerakan harga yang sering kali tidak stabil. Hal
ini menimbulkan ketidakpastian dan ketidakjelasan yang tinggi, yang dalam istilah Islam
dikenal sebagai gharar. Bitcoin, sebagai mata uang digital, tidak memiliki aset dasar yang
mendukungnya, seperti emas atau barang berharga lainnya, yang bisa menambah stabilitas
nilainya. Selain itu, sifat spekulatif dan adanya unsur gharar dalam transaksi cryptocurrency
dianggap bertentangan dengan prinsip prinsip syariah. Allah SWT melarang praktik seperti
ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Syariat
Islam juga melarang adanya maysir atau perjudian, yang dapat terjadi ketika seseorang
berspekulasi tanpa dasar yang jelas, dengan harapan mendapat keuntungan yang besar (Ilham
& Pamungkas, 2024). Dengan demikian, dari sudut pandang syariah, investasi dalam mata
uang kripto seperti bitcoin menghadapi masalah serius karena adanya ketidakpastian dan
spekulasi yang tidak sesuai dengan etika bisnis Islam.
Ketidakpastian dalam cryptocurrency menjadi perhatian utama bagi lembaga-lembaga
syariah yang mempertimbangkan keabsahan transaksi yang dilakukan oleh perusahaan
kripto sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Bagi kaum muslimin, melibatkan diri dalam
aktivitas ekonomi yang sesuai dengan ajaran Islam dianggap sebagai suatu kewajiban yang
harus dipatuhi. Oleh karena itu, Para ulama dan ahli hukum islam, juga termasuk Majelis
Ulama Indonesia menekankan pentingnya mempertimbangkan perkembangan
cryptocurrency dari sudut pandang hukum ekonomi Islam (Maleha et al, 2022).

KAJIAN LITERATUR
1. Investasi
Kata "investasi" berasal dari bahasa Inggris "investment," yang berakar dari kata "invest"
yang berarti menanam. Dalam bahasa Arab, istilah untuk investasi adalah istitsmar, yang
secara harfiah berarti "menjadikan sesuatu berbuah, berkembang, dan bertambah jumlahnya."
Dalam Webster's New Collegiate Dictionary, kata "invest" dijelaskan sebagai memanfaatkan
sesuatu untuk manfaat atau keuntungan di masa depan, atau menanamkan uang untuk
mendapatkan pengembalian finansial. Sementara itu, kata "investment" didefinisikan sebagai
pengeluaran uang untuk mendapatkan pendapatan atau keuntungan.
Dalam konteks pasar modal dan keuangan, investasi didefinisikan sebagai proses
penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek dengan tujuan untuk
memperoleh keuntungan. Meskipun demikian, investasi juga memiliki elemen
ketidakpastian, karena tidak selalu memberikan hasil yang menguntungkan; ada
kemungkinan kerugian atau untung. Ini berarti bahwa investasi merupakan aktivitas yang
melibatkan risiko, di mana hasilnya bisa tidak menentu dan bergantung pada berbagai faktor,
seperti kondisi pasar, keputusan manajemen, dan perubahan ekonomi. Oleh karena itu, para
investor harus berhati-hati dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menanamkan
modal mereka untuk memaksimalkan potensi keuntungan dan meminimalkan risiko
kerugian (Sakinah, 2014).
Investasi dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yaitu (Hayati 2016) :
1) Investasi langsung: ini adalah jenis investasi yang dilakukan secara langsung oleh investor
tanpa melalui perantara. Dalam investasi langsung, investor membeli portofolio investasi
secara langsung. Contoh dari investasi langsung termasuk pembelian saham, obligasi,
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |45

atau instrumen keuangan lainnya yang dapat diperdagangkan di pasar uang, pasar modal,
atau pasar derivatif. Jenis investasi ini memungkinkan investor untuk memiliki kontrol
langsung atas aset yang diinvestasikan dan memberikan fleksibilitas dalam transaksi,
termasuk kemungkinan menjual kembali aset di pasar yang relevan.
2) Investasi tidak langsung : jenis investasi ini melibatkan penggunaan pihak ketiga sebagai
perantara. Investor tidak langsung membeli aset secara langsung, melainkan melalui
perusahaan investasi atau manajer investasi. Contohnya termasuk investasi dalam reksa
dana, di mana investor membeli unit penyertaan reksa dana melalui perusahaan sekuritas
yang bertindak sebagai manajer investasi. Dalam hal ini, perusahaan investasi atau
manajer investasi mengelola portofolio aset atas nama investor, mengurus pembelian,
penjualan, dan manajemen investasi, sehingga investor tidak perlu terlibat langsung
dalam pengambilan keputusan investasi sehari-hari.
2. Cryptocurrency
Cryptocurrency secara bahasa merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cryptography
yang bermakna kode rahasia, dan currency yang bermakna mata uang. Secara istilah,
cryptocurrency adalah bentuk mata uang digital yang didesain dengan penggunaan kode
keamanan berbasis kriptografi untuk mencegah pemalsuan dan duplikasi oleh pihak yang
tidak berwenang. Kemudian defenisi menurut Badan Pengatur Perdagangan Berjangka
Komoditi (BAPPEBTI), yang menjelaskan bahwa cryptocurrency merupakan sebuah
komoditas dalam bentuk digital yang menggunakan teknologi kriptografi, jaringan peer-to-
peer, dan buku besar terdistribusi untuk mengontrol pembuatan unit baru, memverifikasi
transaksi, serta menjaga keamanan transaksi tanpa bergantung pada pihak eksternal atau
memiliki sifat desentralisasi. Dengan kata lain, cryptocurrency merupakan bentuk mata uang
digital yang menggunakan teknologi kriptografi dan jaringan terdistribusi untuk
mengamankan transaksi dan mengontrol pembuatan unit baru tanpa keterlibatan pihak
otoritas pusat (Hidayatullah et al. 2023).
Berikut adalah pengertian cryptocurrency menurut beberapa ahli (Habibi 2023) :
1) Menurut Rosic, “cryptocurrency adalah media pertukaran berbasis internet yang
menggunakan kemampuan kriptografi untuk transaksi keuangan”. Cryptocurrency ini
beroperasi melalui teknologi blockchain yang memungkinkan desentralisasi, transparansi,
dan kekekalan. Salah satu aspek kunci dari cryptocurrency adalah ketiadaan kontrol dari
otoritas pusat manapun, berkat sifat terdesentralisasi dari blockchain, yang secara teori
membuatnya bebas dari campur tangan pemerintah.
1) Menurut Hashemi Joo, “cryptocurrency adalah sistem pembayaran digital global yang
menjalankan fungsinya secara online”. Berbeda dengan sistem tradisional seperti Society
for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) atau Single Euro
Payments Area (SEPA) yang sering memakan waktu berhari-hari untuk pemrosesan
transaksi. Meskipun SWIFT dan SEPA menawarkan keamanan dan keakuratan,
kelemahan utamanya adalah lamanya waktu transaksi, sementara cryptocurrency
memungkinkan transaksi yang cepat dan aman, bahkan dalam hitungan detik, untuk
tujuan komersial, pengiriman uang, dan pembayaran mikro. Sistem penggunaan
cryptocurrency ini adalah sebuah sistem mata uang digital yang melibatkan teknologi
blockchain dan membutuhkan mediator pihak ketiga (Dharma et al, 2023).
Cryptocurrency memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah kemampuan
untuk digunakan secara global tanpa batasan geografis atau regulasi pemerintah, transaksi
yang transparan yang tercatat dalam blockchain, pengguna memiliki kendali penuh atas aset
mereka tanpa intervensi dari pihak lain, dan proses transaksi yang cepat dan akurat karena
tidak melalui perantara seperti bank. Namun, kelemahan cryptocurrency meliputi potensi
celah keamanan, masalah dengan sistem password, dan risiko kesalahan transaksi (Jalil &
46| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency

Abdillah, 2023). Namun, kelemahan cryptocurrency meliputi potensi celah keamanan,


masalah dengan sistem password, dan risiko kesalahan transaksi (Maleha et al, 2022).
3. Sejarah dan Perkembangan Cryptocurrency
Berawal pada tahun 1983, seorang ilmuwan komputer yang berasal dari Amerika
bernama David Chaum menemukan sebuah algoritma khusus yang menjadi landasan untuk
mengenkripsi website modern dan melakukan transfer mata uang elektronik. Dengan
temuannya ini, Chaum membuat sebuah aplikasi uang elektronik yang dikenal sebagai e-cash,
dengan tujuan utama untuk memberikan perlindungan terhadap transaksi pribadi serta
menghapus jejak keuangan dari pemerintah dan bank penerbit. Namun, meskipun memiliki
potensi besar, pengembangan e-cash mengalami berbagai kendala teknis. Hingga pada tahun
1995, David Chaum terus mengembangkan temuannya dan memperkenalkan mata uang
digital yang dikenal sebagai digicash. Namun, meskipun konsepnya menjanjikan,
pengembangan digicash juga menghadapi tantangan yang serupa dengan e-cash. Sehingga
mata uang digital ini mulai menghilang dari peredaran (Firmansyah, 2023).
Kemudian pada tahun 1998, seorang insinyur perangkat lunak bernama Wei Dai
memperkenalkan b-money melalui sebuah white paper. B-money adalah jenis mata uang
virtual yang mengandung elemen dasar cryptocurrency, tetapi uang virtual tersebut tidak
pernah diluncurkan secara resmi. Kemudian, Nick Szabo menciptakan bit gold,
cryptocurrency lain yang menggunakan sistem blockchain, tetapi tidak mendapat popularitas
dan menghilang begitu saja. E-gold kemudian muncul sebagai mata uang berbasis emas,
tetapi keamanannya rendah dan sering menjadi target hacker dan scammer, dan akhirnya
ditutup karena masalah hukum. Dan akhirnya pada tahun 2008, Satoshi Nakamoto, seorang
programmer anonim, mengembangkan bitcoin, yang kemudian menjadi cryptocurrency yang
sangat populer.
Pada tahun tersebut, Satoshi Nakamoto menerbitkan sebuah buku berjudul "Bitcoin: A
Peer-to-Peer Electronic Cash System." Dalam buku ini, Satoshi memposting di milis yang
membahas kriptografi. Kemudian pada tahun 2010, cryptocurrency lain mulai muncul, dan
pertukaran bitcoin pertama juga terjadi pada tahun yang sama. Sejak saat itu, harga
cryptocurrency meningkat secara signifikan. Hal ini membuat banyak orang menambang
cryptocurrency yang beredar dalam jumlah yang sangat besar. Namun, harga telah menurun
dalam beberapa tahun terakhir akibat regulasi pemerintah dan perlindungan hukum. Di
Indonesia sendiri, uang kripto masih dianggap bukan sebagai alat pembayaran atau transaksi
yang sah (Wandri & Imran, 2023).

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (normative legal research).
Menurut Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, penelitian hukum normatif adalah jenis
penelitian hukum yang dilakukan dengan menelaah bahan kepustakaan atau data sekunder
(Muhaimin, 2020). Pendekatan penelitian yang diterapkan meliputi pendekatan perundang
undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach).
Teknik pengumpulan data atau bahan hukum dalam penelitian hukum normatif
dilakukan melalui studi pustaka yang mencakup bahan hukum primer, sekunder, dan tersier,
serta bahan non-hukum. Penelusuran bahan hukum ini dapat dilakukan dengan membaca,
melihat, atau melalui media internet dan situs web (Muhaimin, 2020). Oleh karena itu,
informasi yang relevan dengan masalah penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber seperti
buku, literatur, jurnal, hasil penelitian hukum, serta dokumen resmi seperti peraturan
perundang-undangan. Semua literatur yang terkait dengan penelitian ini akan disusun dan
digunakan untuk mendukung analisis yang dilakukan.
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |47

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif. Analisis
kualitatif adalah metode analisis data yang tidak melibatkan angka, tetapi memberikan
gambaran atau deskripsi temuan-temuan dengan kata-kata. Oleh karena itu, analisis ini lebih
menekankan pada mutu atau kualitas data daripada kuantitasnya (Muhaimin, 2020).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


1. Pandangan Hukum Islam Terhadap Investasi Cryptocurrency
Secara umum, ulama dan ahli syariah memiliki dua pandangan yang berbeda mengenai
cryptocurrency. Pertama, ada ulama yang berpendapat bahwa cryptocurrency adalah haram,
yaitu dilarang menurut syariah. Kelompok ini melihat bahwa cryptocurrency mungkin
mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan prinsip syariah. Di sisi lain, ada
kelompok ulama yang berpendapat bahwa cryptocurrency pada prinsipnya adalah halal,
yaitu diperbolehkan dalam hukum Islam, asalkan tidak melanggar aturan syariah (Kusuma,
2020).
Pada tahun 2018, Mufti Besar Mesir, Syekh Shawki Allam, menyatakan bahwa
cryptocurrency adalah haram baik digunakan sebagai alat tukar maupun alat investasi. Dalam
pernyataannya, Syekh Allam mengemukakan beberapa alasan utama, yaitu bahwa
cryptocurrency dapat digunakan dengan mudah untuk kegiatan ilegal. Selain itu, ia juga
menyoroti bahwa cryptocurrency tidak memiliki bentuk fisik dan memfasilitasi praktik
pencucian uang serta penipuan.
Otoritas keagamaan pemerintah Turki juga mengeluarkan pernyataan bahwa
cryptocurrency dilarang sebagai alat pembayaran dan instrument investasi karena dianggap
membuka peluang untuk spekulasi berlebihan, termasuk unsur gharar (ketidakpastian) dan
maysir (perjudian). Pusat Fatwa Palestina (Fatwa Center of Palestine) juga menerbitkan fatwa
yang menyatakan bahwa cryptocurrency adalah haram, dengan alasan bahwa penerbit
cryptocurrency tidak dikenal dan praktiknya dianggap sebagai bentuk perjudian. Selain itu,
cendekiawan Muslim yang berbasis di Inggris, Syekh Haitam, menulis sebuah makalah dalam
bahasa Arab yang menyatakan bahwa bitcoin dan cryptocurrency lainnya tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah dan oleh karena itu dilarang.
Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab Al’Aqil, seorang dosen Fakultas Syari’ah
di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, mengeluarkan pernyataan yang menolak
cryptocurrency karena dianggap mengandung unsur riba yang cukup besar. Ulama Saudi
Arabia, Syekh Assim al-Hakeem, juga memberikan fatwa bahwa penggunaan cryptocurrency
sebagai alat tukar dan alat investasi dilarang dalam hukum Islam. Syekh Assim al Hakeem
menyatakan bahwa cryptocurrency membuka peluang untuk pencucian uang, perdagangan
obat-obatan terlarang, dan penyelundupan. Kemudian Dewan Hukum Personal Muslim India
(AIMPLB) juga menyebut cryptocurrency sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip
Islam dan meminta masyarakat untuk menjauhi penggunaan mata uang kripto tersebut
(Kusuma, 2020).
Lain halnya dengan Mufti Muhammad Abu-Bakar yang berpendapat bahwa secara
syariah bitcoin dan cryptocurrency lainnya adalah halal, karena dianggap sama dengan mata
uang lainnya dan dikategorikan sebagai komoditas sehingga dapat diinvestasikan. Dia juga
menegaskan bahwa cryptocurrency tidak dapat dianggap melanggar hukum hanya karena
ada banyak spekulasi dan penggunaan ilegal seperti pencucian uang, penipuan, dan
perdagangan ilegal, karena hal serupa juga terjadi dalam perdagangan emas, perak, dolar AS,
dan euro. Mufti Muhammad Abu Bakar menekankan bahwa status halal atau haram
cryptocurrency harus ditentukan berdasarkan persyaratan klasifikasi di suatu negara dan
harus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh otoritas lokal (Arzam et al. 2023).
48| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency

Mufti Muhammad Abu Bakar berpendapat bahwa meskipun cryptocurrency memiliki


unsur spekulatif, hal ini tidak secara otomatis membuatnya haram. Ia menyatakan bahwa
semua mata uang, baik fiat maupun lainnya, memiliki tingkat spekulasi karena sifat
penawaran dan permintaan. Oleh karena itu, jika mata uang fiat, emas, dan instrumen
keuangan lainnya diperbolehkan dalam Syariah, cryptocurrency seperti bitcoin juga
seharusnya diperbolehkan. Terkait dengan argumen bahwa bitcoin kadang digunakan untuk
aktivitas ilegal, Mufti Abu Bakar berpendapat bahwa hal ini tidak membuat bitcoin haram
secara keseluruhan. Ia mengutip pandangan empat mazhab Sunni terkait perdagangan
anggur yang diperdagangkan untuk bahan wine yang hukumnya haram, di mana penjualan
barang yang halal untuk tujuan haram tidak menjadikan barang tersebut haram. Dalam hal
ini, penjualan cryptocurrency untuk investasi atau penggunaan yang sah tetap diperbolehkan,
meskipun ada kemungkinan penggunaannya untuk aktivitas yang terlarang (Sulaksono,
2023).
Dr. Monzer Kahf, seorang ahli keuangan syariah, menyatakan bahwa cryptocurrency
dapat digunakan sebagai alat investasi, namun penting untuk memastikan bahwa setiap
transaksi yang melibatkan kripto mematuhi prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan sesuai
dengan hukum Islam (Bayu, 2024). Monzer Kahf menyatakan bahwa dari perspektif syariah,
cryptocurrency seperti bitcoin diperbolehkan dan setara dengan mata uang lainnya. Apabila
cryptocurrency dijadikan sebagai komoditas berjangka, maka harus memenuhi syarat-syarat
tertentu, seperti memiliki pengiriman yang baik dan tidak ada spekulasi di dalamnya.
Pemikirannya juga berfokus pada pentingnya menjaga kemaslahatan umum dan tidak
merugikan masyarakat dalam penggunaan cryptocurrency sebagai alat transaksi atau
investasi. Oleh karena itu, penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang atau komoditas
berjangka harus diatur dengan baik dan memperhatikan aspek-aspek kemaslahatan dalam
hifz al-Mal.
Mohd Daud Bakar juga berpendapat bahwa cryptocurrency seperti bitcoin harus patuh
terhadap syariah, dia berpendapat bahwa baik uang fiat maupun cryptocurrency bergantung
pada kepercayaan sebagai dasar nilai mereka. Beliau menolak argumen yang menyatakan
keharaman cryptocurrency karena nilainya yang berfluktuasi. Menurutnya, baik uang fiat
maupun cryptocurrency didasarkan pada kepercayaan. Fluktuasi nilai uang kertas di pasar
internasional juga terjadi, namun tidak dianggap haram meski memiliki risiko. Beliau juga
menegaskan bahwa karena cryptocurrency memiliki nilai pasar berdasarkan permintaan dan
penawaran, maka cryptocurrency secara tidak langsung dapat digunakan sebagai aset,
komoditas, atau barang dan jasa lainnya yang dapat diperdagangkan dan diinvestasikan
(Arzam et al. 2023).
Oleh karena itu beberapa organisasi Islam di Indonesia mengeluarkan fatwa mengenai
cryptocurrency:
1) Muhammadiyah
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menilai mata uang kripto dari dua
perspektif: sebagai instrumen investasi dan sebagai alat tukar. Dalam konteks Etika Bisnis,
yang diputuskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dalam Musyawarah Nasional XXVII di
Padang tahun 2003, norma norma ini didasarkan pada akidah, syariat, dan akhlak yang
bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang diterima (Al Maqbulah). Norma-norma ini
digunakan sebagai tolok ukur dalam kegiatan bisnis dan aspek-aspek yang terkait dengannya.
Pertama, dalam peranannya sebagai instrumen investasi, mata uang kripto memiliki
banyak kekurangan menurut pandangan syariat Islam. Salah satu kekurangannya adalah
adanya sifat spekulatif yang sangat menonjol. Nilai bitcoin, misalnya, sangat fluktuatif dengan
perubahan harga yang bisa naik atau turun secara drastis. Selain itu, bitcoin juga mengandung
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |49

unsur gharar (ketidakjelasan), karena hanya berupa angka-angka tanpa adanya underlying
asset (aset yang mendasari atau menjamin nilainya, seperti emas atau barang berharga
lainnya). Sifat spekulatif dan gharar ini dilarang oleh syariat, sesuai dengan firman Allah dan
hadis Nabi Muhammad Saw. Selain itu, karakteristik ini juga tidak memenuhi nilai dan tolok
ukur etika bisnis menurut Muhammadiyah. Secara khusus, etika bisnis ini menegaskan bahwa
tidak boleh ada unsur gharar (HR. Muslim) dan tidak boleh ada unsur maisir (QS. Al Maidah:
90).
Kedua, sebagai alat tukar, hukum asal penggunaan mata uang kripto sebenarnya
diperbolehkan sesuai dengan kaidah fikih dalam bermuamalah. Penggunaan mata uang
kripto mirip dengan skema barter, di mana selama kedua belah pihak saling rida, tidak ada
yang dirugikan, dan tidak melanggar aturan yang berlaku, maka transaksinya sah. Namun,
jika dilihat dari sudut pandang dalil sadd adz dzariah (mencegah keburukan), penggunaan
mata uang kripto bisa menjadi bermasalah. Menurut Majelis Tarjih, mata uang yang
digunakan sebagai alat tukar harus memenuhi dua syarat: diterima oleh masyarakat dan
disahkan oleh negara, yang dalam hal ini diwakili oleh otoritas resmi seperti bank sentral.
Penggunaan bitcoin sebagai alat tukar tidak hanya belum disahkan oleh negara kita, tetapi
juga tidak memiliki otoritas resmi yang bertanggung jawab atasnya. Selain itu, ada masalah
terkait perlindungan konsumen pengguna bitcoin yang belum diatur dengan jelas.
Berdasarkan poin-poin yang telah disampaikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa mata
uang kripto memiliki sejumlah potensi kemudaratan. Oleh karena itu, Fatwa Tarjih yang
dimuat dalam Majalah Suara Muhammadiyah edisi 01 tahun 2022 menetapkan bahwa mata
uang kripto haram, baik sebagai instrumen investasi maupun sebagai alat tukar (Ilham, 2022).
2) Nahdhatul Ulama
Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) Jawa Timur, KH Muhammad Anas,
mengungkapkan bahwa hasil sidang bahtsul masail PWNU Jawa Timur pada tahun 2021
memutuskan bahwa cryptocurrency adalah haram. Dalam sidang tersebut, cryptocurrency
dikaji dari sudut pandang sil’ah atau mabi’ dalam hukum Islam atau fikih. Secara bahasa,
sil’ah dan mabi’ berarti barang atau komoditas yang dapat dijadikan objek dalam akad jual
beli (Ilham & Pamungkas, 2024). Terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi agar suatu barang
atau komoditas dapat diperjualbelikan, yaitu: 1) barang tersebut harus suci, 2) barang tersebut
dapat dimanfaatkan oleh pembeli secara syara’ dengan pemanfaatan yang sesuai dengan
status hartanya secara adat, 3) barang tersebut dapat diserahterimakan secara hissy (fisik) dan
syar’i (syar’i), 4) pihak yang berakad memiliki kemampuan untuk melaksanakan akad, 5) ada
pengetahuan tentang fisik barang tersebut melalui penglihatan atau melalui karakteristik
yang diketahui, 6) bebas dari akad riba, dan 7) barang tersebut harus aman dari kerusakan
hingga sampai ke tangan pembeli. Artinya, sil’ah harus berupa barang yang terjamin
penyerahannya, namun cryptocurrency tidak memenuhi syarat ini.
3) Majelis Ulama Indonesia
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah lebih dulu mengeluarkan rekomendasi dari hasil
ijma bahwa cryptocurrency adalah haram. Dilansir dari situs resmi MUI, pada Ijtima Ulama
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang diselenggarakan pada bulan November di
Jakarta, disepakati 17 poin pembahasan, salah satunya adalah hukum cryptocurrency. Berikut
adalah keterangan lengkap hasil pembahasan tentang hukum cryptocurrency tersebut (Akbar
& Huda, 2022) :
a) Penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang dihukumi haram karena mengandung
unsur gharar (ketidakjelasan), dharar (bahaya), dan bertentangan dengan Undang-
undang Nomor 7 Tahun 2011 serta Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 2015.
b) Cryptocurrency sebagai komoditi/aset digital tidak sah untuk diperjualbelikan karena
mengandung unsur gharar, dharar, qimar (perjudian), dan tidak memenuhi syarat sil’ah
50| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency

secara syar’i, yaitu: harus memiliki wujud fisik, memiliki nilai, diketahui jumlahnya secara
pasti, hak milik, dan dapat diserahkan kepada pembeli.
c) Cryptocurrency sebagai komoditi/aset yang memenuhi syarat sebagai sil’ah, memiliki
underlying (jaminan), dan manfaat yang jelas, diperbolehkan untuk diperjualbelikan.
2. Pandangan Hukum Positif Terhadap Investasi Cryptocurrency
Dari perspektif yuridis normatif, cryptocurrency menjadi fokus perhatian Kementerian
Perdagangan. dalam upaya melindungi masyarakat dan memberikan kepastian hukum
terkait uang kripto, kementerian ini menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 99
Tahun 2018 tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto.
Dalam regulasi ini, terjadi perubahan penting dalam ketetapan atau definisi; uang kripto tidak
lagi disebut sebagai "uang digital," melainkan diakui sebagai "komoditas." Dalam pasal 1
disebutkan bahwa “asset kripto (crypto asset) ditetapkan sebagai komoditi yang dapat
dijadikan subjek kontrak berjangka yang diperdagangkan di Bursa berjangka” (Indonesia,
2018). Regulasi ini kemudian diperkuat dengan peraturan teknis yang dikeluarkan oleh Badan
Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Dalam peraturan Bappebti Nomor 3 Tahun 2019 tentang komoditi yang dapat dijadikan
subjek kontrak berjangka, kontrak derivatif syariah, dan/atau kontrak derivatif lainnya yang
diperdagangkan di Bursa Berjangka. Pasal 1 huruf f menegaskan bahwa cryptocurrency,
sebagai salah satu bentuk aset digital, termasuk dalam kategori komoditas yang dapat
diperdagangkan (Indonesia, 2018). Hal ini menunjukkan pengakuan resmi terhadap
cryptocurrency dalam konteks perdagangan berjangka di Indonesia, memungkinkan individu
dan institusi untuk melakukan investasi dan transaksi dalam bentuk digital yang
memanfaatkan teknologi blockchain. Dengan demikian, regulasi ini memberikan kerangka
hukum yang jelas dan meningkatkan kepastian bagi para pelaku pasar yang berpartisipasi
dalam perdagangan cryptocurrency, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor fintech di
tanah air.
Peraturan Bappebti nomor 5 Tahun 2019 tentang ketentuan teknis penyelenggaraan
pasar fisik asset kriptodi bursa berjangka menyebutkan bahwa cryptocurrency diakui sebagai
komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka. Ini berarti bahwa cryptocurrency
dapat diperdagangkan seperti komoditas [Link] emas atau minyak. Peraturan ini
mencakup berbagai aspek teknis seperti persyaratan bagi penyelenggara bursa untuk
memastikan bahwa mereka memiliki infrastruktur yang memadai dan aman untuk
perdagangan aset kripto Ini juga mencakup aturan bagi pedagang aset kripto, termasuk
kewajiban untuk mematuhi Standar keamanan dan transparansi tertentu. Peraturan ini juga
dirancang untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang andal dan aman,yang dapat
mencegah praktik-praktik perdagangan yang tidak adil danmelindungi kepentingan semua
pihak yang terlibat dalam pasar (Komoditi, 2019).
Regulasi yang ada menunjukkan bahwa Indonesia mengakui potensi ekonomi dari
cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan, namun tetap berhati-hati
dalam menghadapinya. Perlindungan konsumen menjadi prioritas utama dalam regulasi ini,
mengingat risiko tinggi yang terkait dengan volatilitas harga dan potensi penipuan dalam
investasi cryptocurrency. Pemerintah Indonesia berupaya untuk menciptakan lingkungan
investasi yang aman dan teratur melalui pengawasan yang ketat. Namun, tantangan tetap ada
dalam implementasi regulasi ini. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman
dan literasi keuangan di kalangan masyarakat. Edukasi yang memadai diperlukan untuk
memastikan bahwa investor memahami risiko dan keuntungan yang terkait dengan investasi
cryptocurrency. Selain itu, pemerintah dan regulator harus terus memperbarui dan
menyesuaikan regulasi sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika pasar
cryptocurrency.
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |51

3. Perlindungan Hukum Dalam Investasi Cryptocurrency


Perlindungan hukum merupakan bentuk perlindungan yang diberikan kepada subyek
hukum dalam bentuk tindakan preventif dan represif, baik secara lisan maupun tertulis.
Didalamnya mencakup konsep keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan, dan kedamaian
yang diberikan oleh hukum. Oleh karena itu, sarana perlindungan hukum terbagi menjadi
dua jenis, yaitu preventif dan represif (Tampubolon, 2016).
Perlindungan hukum preventif diatur melalui Badan Pengawas Perdagangan
Berjangka Komoditi (Bappebti) mengeluarkan peraturan nomor 5 tahun 2019 tentang
ketentuan teknis penyelenggaraan pasar fisik aset kripto (Crypto Asset). Berdasarkan
peraturan ini, untuk memastikan kepastian dan perlindungan hukum bagi investor
cryptocurrency, semua platform cryptocurrency harus memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan oleh Bappebti. Mereka diwajibkan mengumpulkan semua dokumen yang diminta
dan menerapkan prinsip pengelolaan usaha yang transparan, termasuk memberikan
informasi yang jelas kepada anggota bursa berjangka dan melindungi konsumen. Selain itu,
peraturan ini bertujuan untuk mencegah praktik pencucian uang, pendanaan terorisme, dan
proliferasi senjata pemusnah massal (Azis et al., 2019).
Selanjutnya terjadi perubahan pertama peraturan Bappebti Nomor 9 Tahun 2019 yang
meliputi :
a) Pasal 1 Ayat (1) tentang perubahan Pasal 5, dimana ketentuan tersebut mengatur setiap
pedagang fisik Aset Kripto harus memiliki pelaporan untuk menampung transaksi
perdagangan, yang dilakukan oleh suatu lembaga independen dengan sumber daya
manusia yang memiliki Certified Information Sistem Auditor (CISA) yang telah memiliki
persetujuan oleh Bappebti.
b) Pasal 1 Ayat (2) tentang perubahan pada Pasal 6, ketentuan tersebut mengatur bahwa
pedagang Aset Kripto harus memiliki sistem elektronik penjamin dan penyelesaian yang
terpercaya, serta terkoneksi dengan bursa berjangka, pedagang Aset Kripto dan tempat
pengelolaan penyimpanan Aset Kripto.
c) Pasal 1 Ayat (3) tentang perubahan Pasal 8 yang mengatur bahwa pedagang Aset Kripto
harus memiliki calon anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang saham,
pengendali (benefit ownery). Dalam ketentuan ini, diatur bahwa pedagang Aset Kripto
wajib uji kepatuhan dan kelayakan (fit and proper test) Bappebti. Dalam Pasal 8 Huruf (a)
diatur bahwa pedagang fisik Aset Kripto wajib wajib memenuhi ketentuan keuangan
dengan mempertahankan rasio total hutang atau total ekuitas (debt to equity ratio) dengan
perbandingan 2:1 (dua banding satu). Dalam perubahan pasal 8 diatur bahwa pedagang
fisik aset kripto harus memiliki standar operasional prosedur (SOP) menimal mengatur
tentang pemasaran dan menerimaan pelanggan aset kripto, pelaksanaan transaksi,
penegndalian dan pengawasan internal, penyelesaian perselisihan pelanggan aset kripto
dan penerapan program anti pencucian uang serta pendanan terorisme serta proliferasi
senjata pemusnah massal (Komoditi, 2019).
Selain peraturan Bappebti, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan
konsumen memberikan perlindungan hukum secara preventif yakni:
a. Pasal 9 Ayat (1), pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan
suatu barang atau jasa secara tidak benar dan seolah oleh menggunakan kata-kata yang
berlebihan seperti aman, tidak berbahaya, tidak mengandung resiko dan efek sampingan
tanpa keterangan yang lengkap serta menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang
belum pasti.
b. Pasal 10, pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa yang ditunjukan untuk
diperdagangkan dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan, dan emmbuat
52| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency

pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan mengenai kondisi, tanggungan, jaminan,
hak atau ganti rugi atas suatu barang dan jasa.
c. Pasal 16, pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa melaui pesanan dilarang
untuk tidak menepati pesanan dan/atau kesepakatan waktu penyelesaian susuatu dengan
yang dijanjikan, tidak menepati janji atas suatu pelayanan dan/atau prestasi. d. Pasal 19
Ayat (1), Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat barang atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
Adapun perlindungan hukum secara represif yaitu melalui litigasi dan non-litigasi.
Litigasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui jalur hukum dengan bantuan pengadilan
ketika terjadi perselisihan terkait investasi cryptocurrency. Penyelesaian sengketa ini dapat
dilakukan melalui jalur pidana. Penyelesaian sengketa secara non-litigasi diatur dalam pasal
22 peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 tahun 2019 tentang
ketentuan teknis penyelenggaraan pasar fisik aset kripto (Crypto Aset) di bursa berjangka.
Berdasarkan peraturan ini, sengketa dalam transaksi aset kripto harus diselesaikan terlebih
dahulu melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Jika musyawarah tidak membuahkan
hasil, sengketa dapat diteruskan ke Badan Arbitrase Perdagangan Berjangka Komoditi
(BAKTI). BAKTI merupakan lembaga yang menyelesaikan sengketa di luar pengadilan
melalui mekanisme arbitrase, khususnya untuk sengketa perdata yang terkait dengan
perdagangan berjangka komoditi, sistem resi gudang, dan transaksi yang diatur oleh Badan
Pengawas Berjangka Komoditi (Bappebti). Proses arbitrase ini dirancang untuk memberikan
penyelesaian yang lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan proses litigasi di pengadilan
(BAKTI n.d.).
KESIMPULAN
Dalam perspektif hukum Islam, cryptocurrency dianggap bermasalah karena
mengandung unsur gharar (ketidakpastian) dan spekulasi. Mayoritas ulama, termasuk
Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdhatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah, menyatakan
bahwa penggunaan cryptocurrency sebagai alat investasi adalah haram. Alasannya adalah
volatilitas tinggi, ketidakjelasan nilai, serta risiko terkait aktivitas ilegal. Namun, beberapa
ulama seperti Mufti Muhammad Abu Bakar, Monzer Kahf dan Mohd Daud Bakar
membolehkan (mubah) cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat diinvestasikan dengan
mekanisme yang transparan dan sesuai prinsip syariah.
Hukum positif di Indonesia mengakui cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat
diperdagangkan dalam perdagangan berjangka, namun tidak sebagai alat pembayaran sah.
Hal ini diatur dalam Permendag Nomor 99 Tahun 2018 dan didukung oleh serangkaian
peraturan Bappebti, seperti Peraturan Nomor 3, 5, 9 Tahun 2019. Peraturan ini mengatur
perdagangan aset kripto hanya di bursa yang diawasi Bappebti, dengan persyaratan ketat
terkait keamanan, manajemen risiko, dan perlindungan data. Selain itu, Bappebti menetapkan
kriteria bagi aset kripto yang layak diperdagangkan, guna melindungi investor dan menjaga
stabilitas pasar.
Perlindungan hukum dalam investasi cryptocurrency di Indonesia terbagi menjadi
preventif dan represif. Perlindungan preventif diatur oleh Undang undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang perlindungan konsumen. Kemudian diatur melalui peraturan Bappebti Nomor
19 Tahun 2019, yang menetapkan pedagang aset kripto harus terdaftar, menjaga dana nasabah
di rekening terpisah, dan memenuhi standar keamanan. Adapun Perlindungan represif
mencakup penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi di pengadilan atau non-litigasi, seperti
mediasi dan arbitrase melalui BAKTI, untuk memberikan perlindungan hukum yang lebih
cepat dan efisien.
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |53

REFERENSI
Akbar, Taufik & Nurul Huda. 2022. “Haramnya Penggunaan Cryptocurrency ( Bitcoin )
Sebagai Mata Uang Atau Alat Tukar Di Indonesia Berdasarkan Fatwa MUI.” jurnal Ilmiah
Manajemen Dan Bisnis 5(2): 750.
Aprilia, Zefanya. 2024. “Investor Kripto RI Tembus 20,16 Juta, Terbesar Ke 7 Di Dunia.” CNBC
Indonesia. [Link]
545322/investor-kripto-ri-tembus-2016-juta-terbesar-ke-7-di-dunia (July 25, 2024).
Apriliani, et all. 2023. “Legalitas Transaksi Aset Kripto Menurut Perspektif Hukum Islam.”
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbankan Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah 3(1):
115.
Arzam, et all, 2023. “Legalitas Cryptocurrency : Tinjauan Terhadap Fatwa-Fatwa Institusi Dan
Personal.” Jurnal Ekonomi Syariah 05(02): 139–40.
Azis, et all, 2019. “Perlindungan Hukum Investasi Mata Uang Digital (Cryptocurrency).”
Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan pengajarannya 16(2).
Komoditi, 2019. Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019
Tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto Di Bursa Berjangka. Jakarta.
BAKTI. “Proses Penyelesaian Sengketa Reguler.” [Link]
Bayu. 2024. “Pandangan Islam Tentang Kripto: Perspektif Ulama Dan Analisis Keuangan
Syariah.” suarhijrah. [Link]
islam-tentang-kripto-perspektif-ulama-dan-analisis-keuangan-syariah?page=2
(September 11, 2024).
Dharma et all, 2023. “Analisis Pemanfaatan Cryptocurrency Bitcoin Sebagai Alat Alternatif
Investasi.” Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis 2(1): 178.
Firmansyah. 2023. “Pengaturan Hukum Transaksi Mata Uang Kripto Di Indonesia (Studi
Komparasi Hukum Positif Dan Keputusan Fatwa MUI).” Skripsi tidak
Diterbitkan,Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta.
Harahap, et all, 2022. “Cryptocurrency Dalam Perspektif Syariah : Sebagai Mata Uang Atau
Aset Komoditas.” NIAGAWAN 11(1): 44.
Hayati, Mardhiyah. 2016. “Investasi Menurut Perspektif Ekonomi Islam.” Jurnal Ekonomi dan
Bisnis Islam 1(April): 66–78.
Hidayatullah, et all, 2023. “Peluang Ijtihad Hukum Penggunaan Uang Digital Sebagai Aset
Dan Alat Transaksi Di Indonesia.” Hukum Ekonomi Syariah 4(2): 194.
Ilham. 2022. “Pandangan Majelis Tarjih Terkait Mata Uang Kripto.” Muhammadiyah.
[Link]
kripto/.
Ilham, Muhammad & Erna Dwi Pamungkas. 2024. “Transaksi Cryptocurrency Dalam
Perspektif Hukum Islam.” Journal of Islamic Law 1(02): 75–89.
Jalil, Abdul, & Hilmi Abdillah. 2023. “Hukum Cryptocurrency Sebagai Mata Uang Dan
Sebagai Komoditas ( Analisis Fatwa MUI Tentang Hukum Cryptocurrency ).” jurnal
Ilmiah Ekonomi Islam 9(03): 4245–46.
Kementrian Perdagangan RI. 2024. “Ada 19 Juta Investor, Antusiasme Kripto Di Prediksi
Meningkat.” Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.
[Link]
54| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency

kripto-diprediksi-meningkat (July 30, 2024).


Kusuma, Teddy. 2020. “Dalam Perdagangan Berjangka Komoditi Di Indonesia Perspektif
Hukum Islam.” Jurnal Peradaban Islam 16(1): 109–26.
Maleha, et all, 2022. “Dinamika Transaksi Cryptocurrency Antara Haram Dan Halal.” Jurnal
Ilmiah hukum Islam 8(03): 3117.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia. 2018. “Peraturan Menteri Perdagangan Republik
Indonesia Nomor 99 Tahun 2018 Tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan
Perdagangan Berjangka Aset Kripto.”
Muhaimin. 2020. Metode Penelitian Hukum.
Pratama, Yovianda Arief. 2023. “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Cryptocurrency
Di Indonesia.” Jurnal Sosial dan Sains 3(12): 7–18.
Sakinah. 2014. “Investasi Dalam Islam.” Jurnal Iqtishadia 1(2): 250.
Sulaksono, Hengky. 2023. “Ragam Pandangan Ulama Dan Sarjana Islam Tentang Halal Haram
Cryptocurrency.” Portalkripto. [Link]
ulama-dan-sarjana-islam-tentang-halal-haram-cryptocurrency/ (September 11, 2024).
Syafdinan, Dhidan Akbar, Nana Suryana, and Laksmie Wulan. 2023. “Perlindungan Hukum
Terhadap Korban Crypto Dihubungkan Dengan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen.” Jurnal Panorama Hukum 8(2): 140–51.
Tampubolon, Wahyu Simon. 2016. “Upaya Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Tinjau
Dari Undang Undang Perlindungan Konsumen.” Jurnal Ilmiah Advokasi 04(01): 53–54.
Wandri, Amra & Maizul Imran. 2023. “CRYPTOCURRENCY AS A MEANS OF INVESTMENT
AND.” Al Hurriyah : Jurnal Hukum Islam 2(2): 33.

Anda mungkin juga menyukai