Hukum Islam dan Positif tentang Cryptocurrency
Hukum Islam dan Positif tentang Cryptocurrency
Abstract
This research aims to explore the views of Islamic law and positive law in Indonesia regarding
cryptocurrency investment, as well as legal protection for investors. The research uses normative legal
methods with a statutory approach and a conceptual approach. The results of this research indicate that
in Islamic law, there are two differing opinions. The majority of scholars and experts, including the
ijtima results from Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and the Indonesian Ulema Council (MUI),
prohibit cryptocurrency as an investment tool. However, Mufti Muhammad Abu Bakar, Dr. Monzer
Kahf, and Mohammad Daud Bakar permit cryptocurrency as a valid form of investment. Indonesian
Positive Law recognizes cryptocurrency as a commodity that can be traded and invested in the futures
market. Legal protection for cryptocurrency investments, preventively, includes Law No. 8 of 1999,
Bappebti Regulation No. 9 of 2019. Meanwhile, repressive legal protection includes both litigation and
non-litigation mechanisms.
Keywords: cryptocurrency; investment; Islamic Law; Positive Law
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan hukum Islam dan hukum positif di
Indonesia terkait dengan investasi cryptocurrency serta perlindungan hukum bagi investor.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode hukum normatif dengan
pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dalam hukum Islam terdapat dua pandangan yang berbeda. Sebagian
besar ulama dan pakar, termasuk hasil ijtima ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah,
dan Majelis Ulama Indonesia, mengharamkan cryptocurrency sebagai alat investasi. Namun,
ada juga beberapa tokoh seperti Mufti Muhammad Abu Bakar, Dr. Monzer Kahf, dan
Mohammad Daud Bakar yang menghalalkan cryptocurrency sebagai bentuk investasi.
Sementara itu, dalam hukum positif Indonesia mengakui cryptocurrency sebagai komoditas
yang dapat diperdagangkan dan diinvestasikan di bursa berjangka. Perlindungan hukum
terhadap investasi cryptocurrency secara preventif diatur dalam Undang-undang Nomor 8
Tahun 1999 dan Peraturan Bappebti Nomor 9 Tahun 2019. Sementara itu, perlindungan
hukum secara represif meliputi mekanisme litigasi dan non-litigasi.
Kata Kunci: mata uang kripto; investasi; Hukum Islam; Hukum Positif
Article History:
History: Received: 06/12/2024; Revised: 06/12/2024; Accepted: 14/04l/2025
Corresponding Author: misbahulhuda850@[Link]
All current issues and full text available at: [Link]
This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons attribution license
([Link] whichpermits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the
original work is properly cited
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |43
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat telah mempermudah akses di
berbagai sektor, termasuk sektor investasi. Kemudahan akses ini berkontribusi pada
percepatan penyebaran pengetahuan tentang investasi dan peningkatan signifikan dalam
jumlah investasi. Salah satu bentuk investasi yang kini tengah populer adalah cryptocurrency.
Cryptocurrency, atau mata uang kripto, adalah sistem mata uang digital yang memungkinkan
penggunanya melakukan transaksi secara digital, menjadikannya alat pembayaran standar
dalam berbagai aktivitas bisnis (Pratama, 2023).
Menurut artikel terbaru dari [Link], pasar mata uang kripto di Indonesia telah
mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan pendapatan
mencapai US$577,6 juta pada tahun 2024. Pertumbuhan ini terlihat dari peningkatan jumlah
investor dan transaksi kripto di Indonesia. Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-7 di
dunia dalam hal kepemilikan aset kripto terbesar (Aprilia 2024).
Sejak tahun 2019, cryptocurrency telah mendapatkan status legal sebagai komoditas di
Indonesia setelah dinyatakan sah oleh Dewan Pengawas Bursa Berjangka, dan Kementerian
Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) secara resmi memperbolehkan perdagangan
mata uang digital, yang umumnya dikenal sebagai cryptocurrency di bursa berjangka. Dengan
diterbitkannya peraturan ini oleh Bappebti, diharapkan bahwa perdagangan fisik aset kripto
di Indonesia dapat memberikan kepastian hukum serta perlindungan bagi masyarakat yang
melakukan transaksi fisik aset kripto Indonesia. Aturan tersebut dianggap sebagai angin segar
bagi pasar keuangan digital Indonesia, memberikan peluang serta langkah awal bagi
perkembangan ekosistem keuangan digital di negara ini. Pemerintah Indonesia, melalui
BAPPEBTI dan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (PERMENDAG), secara resmi
mengatur bahwa aset kripto dapat dijadikan subjek kontrak berjangka, kontrak derivatif yang
diperdagangkan di bursa berjangka komoditi. Dengan demikian, langkah-langkah regulasi ini
bertujuan untuk memberikan kerangka kerja yang jelas dan terstruktur bagi pasar keuangan
digital di Indonesia, memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan inovasi di sektor tersebut
(Harahap et al, 2022).
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) melaporkan adanya
peningkatan signifikan dalam jumlah investor kripto di Indonesia pada awal tahun 2024. Pada
Januari, jumlah investor kripto domestik tercatat mencapai 18,83 juta. Angka ini terus
bertumbuh, dan pada Februari 2024, jumlah investor kripto meningkat menjadi 19 juta.
Peningkatan ini mencerminkan semakin tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap
investasi kripto, seiring dengan perkembangan pasar aset digital yang semakin pesat di tanah
air. Hal ini juga menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang
semakin besar, dengan kripto menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik perhatian
banyak kalangan (Kementrian Perdagangan RI 2024).
Namun pada kenyataannya, pemerintah masih belum mampu memberikan
perlindungan hukum yang memadai bagi pengguna kripto, terbukti dengan fakta bahwa sejak
awal tahun 2021, sekitar 46.000 orang kehilangan lebih dari Rp. 14,43 triliun dalam bentuk
kripto akibat penipuan. Kerugian tahun lalu hampir 60 kali lipat dari tahun 2018, dengan
kerugian rata rata per individu sebesar USD 2.600. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membantu
melindungi investor kripto di Indonesia dari berbagai jenis penipuan (Syafdinan et al., 2023).
Perdagangan aset kripto diperbolehkan dalam konteks perdagangan aset digital di
bursa berjangka komoditi, dengan tujuan utama bukan sebagai transaksi jual beli langsung,
melainkan lebih bersifat investasi karena aset kripto dianggap sebagai komoditas yang dapat
diperdagangkan. Penting untuk dicatat bahwa cryptocurrency tidak dapat dijadikan sebagai
44| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency
alat pembayaran dalam transaksi jual beli, karena cryptocurrency tidak diakui sebagai mata
uang yang sah sesuai dengan hukum di Indonesia (Apriliani et al, 2023).
Sebagai instrumen investasi, mata uang kripto memiliki sejumlah kekurangan ketika
dianalisis dari perspektif syariat Islam. Salah satu kritik utama adalah sifat spekulatif yang
menonjol dalam penggunaannya. Misalnya, nilai bitcoin sebagai salah satu jenis
cryptocurrency sangat fluktuatif, dengan pergerakan harga yang sering kali tidak stabil. Hal
ini menimbulkan ketidakpastian dan ketidakjelasan yang tinggi, yang dalam istilah Islam
dikenal sebagai gharar. Bitcoin, sebagai mata uang digital, tidak memiliki aset dasar yang
mendukungnya, seperti emas atau barang berharga lainnya, yang bisa menambah stabilitas
nilainya. Selain itu, sifat spekulatif dan adanya unsur gharar dalam transaksi cryptocurrency
dianggap bertentangan dengan prinsip prinsip syariah. Allah SWT melarang praktik seperti
ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Syariat
Islam juga melarang adanya maysir atau perjudian, yang dapat terjadi ketika seseorang
berspekulasi tanpa dasar yang jelas, dengan harapan mendapat keuntungan yang besar (Ilham
& Pamungkas, 2024). Dengan demikian, dari sudut pandang syariah, investasi dalam mata
uang kripto seperti bitcoin menghadapi masalah serius karena adanya ketidakpastian dan
spekulasi yang tidak sesuai dengan etika bisnis Islam.
Ketidakpastian dalam cryptocurrency menjadi perhatian utama bagi lembaga-lembaga
syariah yang mempertimbangkan keabsahan transaksi yang dilakukan oleh perusahaan
kripto sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Bagi kaum muslimin, melibatkan diri dalam
aktivitas ekonomi yang sesuai dengan ajaran Islam dianggap sebagai suatu kewajiban yang
harus dipatuhi. Oleh karena itu, Para ulama dan ahli hukum islam, juga termasuk Majelis
Ulama Indonesia menekankan pentingnya mempertimbangkan perkembangan
cryptocurrency dari sudut pandang hukum ekonomi Islam (Maleha et al, 2022).
KAJIAN LITERATUR
1. Investasi
Kata "investasi" berasal dari bahasa Inggris "investment," yang berakar dari kata "invest"
yang berarti menanam. Dalam bahasa Arab, istilah untuk investasi adalah istitsmar, yang
secara harfiah berarti "menjadikan sesuatu berbuah, berkembang, dan bertambah jumlahnya."
Dalam Webster's New Collegiate Dictionary, kata "invest" dijelaskan sebagai memanfaatkan
sesuatu untuk manfaat atau keuntungan di masa depan, atau menanamkan uang untuk
mendapatkan pengembalian finansial. Sementara itu, kata "investment" didefinisikan sebagai
pengeluaran uang untuk mendapatkan pendapatan atau keuntungan.
Dalam konteks pasar modal dan keuangan, investasi didefinisikan sebagai proses
penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek dengan tujuan untuk
memperoleh keuntungan. Meskipun demikian, investasi juga memiliki elemen
ketidakpastian, karena tidak selalu memberikan hasil yang menguntungkan; ada
kemungkinan kerugian atau untung. Ini berarti bahwa investasi merupakan aktivitas yang
melibatkan risiko, di mana hasilnya bisa tidak menentu dan bergantung pada berbagai faktor,
seperti kondisi pasar, keputusan manajemen, dan perubahan ekonomi. Oleh karena itu, para
investor harus berhati-hati dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menanamkan
modal mereka untuk memaksimalkan potensi keuntungan dan meminimalkan risiko
kerugian (Sakinah, 2014).
Investasi dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yaitu (Hayati 2016) :
1) Investasi langsung: ini adalah jenis investasi yang dilakukan secara langsung oleh investor
tanpa melalui perantara. Dalam investasi langsung, investor membeli portofolio investasi
secara langsung. Contoh dari investasi langsung termasuk pembelian saham, obligasi,
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |45
atau instrumen keuangan lainnya yang dapat diperdagangkan di pasar uang, pasar modal,
atau pasar derivatif. Jenis investasi ini memungkinkan investor untuk memiliki kontrol
langsung atas aset yang diinvestasikan dan memberikan fleksibilitas dalam transaksi,
termasuk kemungkinan menjual kembali aset di pasar yang relevan.
2) Investasi tidak langsung : jenis investasi ini melibatkan penggunaan pihak ketiga sebagai
perantara. Investor tidak langsung membeli aset secara langsung, melainkan melalui
perusahaan investasi atau manajer investasi. Contohnya termasuk investasi dalam reksa
dana, di mana investor membeli unit penyertaan reksa dana melalui perusahaan sekuritas
yang bertindak sebagai manajer investasi. Dalam hal ini, perusahaan investasi atau
manajer investasi mengelola portofolio aset atas nama investor, mengurus pembelian,
penjualan, dan manajemen investasi, sehingga investor tidak perlu terlibat langsung
dalam pengambilan keputusan investasi sehari-hari.
2. Cryptocurrency
Cryptocurrency secara bahasa merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cryptography
yang bermakna kode rahasia, dan currency yang bermakna mata uang. Secara istilah,
cryptocurrency adalah bentuk mata uang digital yang didesain dengan penggunaan kode
keamanan berbasis kriptografi untuk mencegah pemalsuan dan duplikasi oleh pihak yang
tidak berwenang. Kemudian defenisi menurut Badan Pengatur Perdagangan Berjangka
Komoditi (BAPPEBTI), yang menjelaskan bahwa cryptocurrency merupakan sebuah
komoditas dalam bentuk digital yang menggunakan teknologi kriptografi, jaringan peer-to-
peer, dan buku besar terdistribusi untuk mengontrol pembuatan unit baru, memverifikasi
transaksi, serta menjaga keamanan transaksi tanpa bergantung pada pihak eksternal atau
memiliki sifat desentralisasi. Dengan kata lain, cryptocurrency merupakan bentuk mata uang
digital yang menggunakan teknologi kriptografi dan jaringan terdistribusi untuk
mengamankan transaksi dan mengontrol pembuatan unit baru tanpa keterlibatan pihak
otoritas pusat (Hidayatullah et al. 2023).
Berikut adalah pengertian cryptocurrency menurut beberapa ahli (Habibi 2023) :
1) Menurut Rosic, “cryptocurrency adalah media pertukaran berbasis internet yang
menggunakan kemampuan kriptografi untuk transaksi keuangan”. Cryptocurrency ini
beroperasi melalui teknologi blockchain yang memungkinkan desentralisasi, transparansi,
dan kekekalan. Salah satu aspek kunci dari cryptocurrency adalah ketiadaan kontrol dari
otoritas pusat manapun, berkat sifat terdesentralisasi dari blockchain, yang secara teori
membuatnya bebas dari campur tangan pemerintah.
1) Menurut Hashemi Joo, “cryptocurrency adalah sistem pembayaran digital global yang
menjalankan fungsinya secara online”. Berbeda dengan sistem tradisional seperti Society
for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) atau Single Euro
Payments Area (SEPA) yang sering memakan waktu berhari-hari untuk pemrosesan
transaksi. Meskipun SWIFT dan SEPA menawarkan keamanan dan keakuratan,
kelemahan utamanya adalah lamanya waktu transaksi, sementara cryptocurrency
memungkinkan transaksi yang cepat dan aman, bahkan dalam hitungan detik, untuk
tujuan komersial, pengiriman uang, dan pembayaran mikro. Sistem penggunaan
cryptocurrency ini adalah sebuah sistem mata uang digital yang melibatkan teknologi
blockchain dan membutuhkan mediator pihak ketiga (Dharma et al, 2023).
Cryptocurrency memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah kemampuan
untuk digunakan secara global tanpa batasan geografis atau regulasi pemerintah, transaksi
yang transparan yang tercatat dalam blockchain, pengguna memiliki kendali penuh atas aset
mereka tanpa intervensi dari pihak lain, dan proses transaksi yang cepat dan akurat karena
tidak melalui perantara seperti bank. Namun, kelemahan cryptocurrency meliputi potensi
celah keamanan, masalah dengan sistem password, dan risiko kesalahan transaksi (Jalil &
46| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (normative legal research).
Menurut Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, penelitian hukum normatif adalah jenis
penelitian hukum yang dilakukan dengan menelaah bahan kepustakaan atau data sekunder
(Muhaimin, 2020). Pendekatan penelitian yang diterapkan meliputi pendekatan perundang
undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach).
Teknik pengumpulan data atau bahan hukum dalam penelitian hukum normatif
dilakukan melalui studi pustaka yang mencakup bahan hukum primer, sekunder, dan tersier,
serta bahan non-hukum. Penelusuran bahan hukum ini dapat dilakukan dengan membaca,
melihat, atau melalui media internet dan situs web (Muhaimin, 2020). Oleh karena itu,
informasi yang relevan dengan masalah penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber seperti
buku, literatur, jurnal, hasil penelitian hukum, serta dokumen resmi seperti peraturan
perundang-undangan. Semua literatur yang terkait dengan penelitian ini akan disusun dan
digunakan untuk mendukung analisis yang dilakukan.
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |47
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif. Analisis
kualitatif adalah metode analisis data yang tidak melibatkan angka, tetapi memberikan
gambaran atau deskripsi temuan-temuan dengan kata-kata. Oleh karena itu, analisis ini lebih
menekankan pada mutu atau kualitas data daripada kuantitasnya (Muhaimin, 2020).
unsur gharar (ketidakjelasan), karena hanya berupa angka-angka tanpa adanya underlying
asset (aset yang mendasari atau menjamin nilainya, seperti emas atau barang berharga
lainnya). Sifat spekulatif dan gharar ini dilarang oleh syariat, sesuai dengan firman Allah dan
hadis Nabi Muhammad Saw. Selain itu, karakteristik ini juga tidak memenuhi nilai dan tolok
ukur etika bisnis menurut Muhammadiyah. Secara khusus, etika bisnis ini menegaskan bahwa
tidak boleh ada unsur gharar (HR. Muslim) dan tidak boleh ada unsur maisir (QS. Al Maidah:
90).
Kedua, sebagai alat tukar, hukum asal penggunaan mata uang kripto sebenarnya
diperbolehkan sesuai dengan kaidah fikih dalam bermuamalah. Penggunaan mata uang
kripto mirip dengan skema barter, di mana selama kedua belah pihak saling rida, tidak ada
yang dirugikan, dan tidak melanggar aturan yang berlaku, maka transaksinya sah. Namun,
jika dilihat dari sudut pandang dalil sadd adz dzariah (mencegah keburukan), penggunaan
mata uang kripto bisa menjadi bermasalah. Menurut Majelis Tarjih, mata uang yang
digunakan sebagai alat tukar harus memenuhi dua syarat: diterima oleh masyarakat dan
disahkan oleh negara, yang dalam hal ini diwakili oleh otoritas resmi seperti bank sentral.
Penggunaan bitcoin sebagai alat tukar tidak hanya belum disahkan oleh negara kita, tetapi
juga tidak memiliki otoritas resmi yang bertanggung jawab atasnya. Selain itu, ada masalah
terkait perlindungan konsumen pengguna bitcoin yang belum diatur dengan jelas.
Berdasarkan poin-poin yang telah disampaikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa mata
uang kripto memiliki sejumlah potensi kemudaratan. Oleh karena itu, Fatwa Tarjih yang
dimuat dalam Majalah Suara Muhammadiyah edisi 01 tahun 2022 menetapkan bahwa mata
uang kripto haram, baik sebagai instrumen investasi maupun sebagai alat tukar (Ilham, 2022).
2) Nahdhatul Ulama
Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) Jawa Timur, KH Muhammad Anas,
mengungkapkan bahwa hasil sidang bahtsul masail PWNU Jawa Timur pada tahun 2021
memutuskan bahwa cryptocurrency adalah haram. Dalam sidang tersebut, cryptocurrency
dikaji dari sudut pandang sil’ah atau mabi’ dalam hukum Islam atau fikih. Secara bahasa,
sil’ah dan mabi’ berarti barang atau komoditas yang dapat dijadikan objek dalam akad jual
beli (Ilham & Pamungkas, 2024). Terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi agar suatu barang
atau komoditas dapat diperjualbelikan, yaitu: 1) barang tersebut harus suci, 2) barang tersebut
dapat dimanfaatkan oleh pembeli secara syara’ dengan pemanfaatan yang sesuai dengan
status hartanya secara adat, 3) barang tersebut dapat diserahterimakan secara hissy (fisik) dan
syar’i (syar’i), 4) pihak yang berakad memiliki kemampuan untuk melaksanakan akad, 5) ada
pengetahuan tentang fisik barang tersebut melalui penglihatan atau melalui karakteristik
yang diketahui, 6) bebas dari akad riba, dan 7) barang tersebut harus aman dari kerusakan
hingga sampai ke tangan pembeli. Artinya, sil’ah harus berupa barang yang terjamin
penyerahannya, namun cryptocurrency tidak memenuhi syarat ini.
3) Majelis Ulama Indonesia
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah lebih dulu mengeluarkan rekomendasi dari hasil
ijma bahwa cryptocurrency adalah haram. Dilansir dari situs resmi MUI, pada Ijtima Ulama
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang diselenggarakan pada bulan November di
Jakarta, disepakati 17 poin pembahasan, salah satunya adalah hukum cryptocurrency. Berikut
adalah keterangan lengkap hasil pembahasan tentang hukum cryptocurrency tersebut (Akbar
& Huda, 2022) :
a) Penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang dihukumi haram karena mengandung
unsur gharar (ketidakjelasan), dharar (bahaya), dan bertentangan dengan Undang-
undang Nomor 7 Tahun 2011 serta Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 2015.
b) Cryptocurrency sebagai komoditi/aset digital tidak sah untuk diperjualbelikan karena
mengandung unsur gharar, dharar, qimar (perjudian), dan tidak memenuhi syarat sil’ah
50| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency
secara syar’i, yaitu: harus memiliki wujud fisik, memiliki nilai, diketahui jumlahnya secara
pasti, hak milik, dan dapat diserahkan kepada pembeli.
c) Cryptocurrency sebagai komoditi/aset yang memenuhi syarat sebagai sil’ah, memiliki
underlying (jaminan), dan manfaat yang jelas, diperbolehkan untuk diperjualbelikan.
2. Pandangan Hukum Positif Terhadap Investasi Cryptocurrency
Dari perspektif yuridis normatif, cryptocurrency menjadi fokus perhatian Kementerian
Perdagangan. dalam upaya melindungi masyarakat dan memberikan kepastian hukum
terkait uang kripto, kementerian ini menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 99
Tahun 2018 tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto.
Dalam regulasi ini, terjadi perubahan penting dalam ketetapan atau definisi; uang kripto tidak
lagi disebut sebagai "uang digital," melainkan diakui sebagai "komoditas." Dalam pasal 1
disebutkan bahwa “asset kripto (crypto asset) ditetapkan sebagai komoditi yang dapat
dijadikan subjek kontrak berjangka yang diperdagangkan di Bursa berjangka” (Indonesia,
2018). Regulasi ini kemudian diperkuat dengan peraturan teknis yang dikeluarkan oleh Badan
Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Dalam peraturan Bappebti Nomor 3 Tahun 2019 tentang komoditi yang dapat dijadikan
subjek kontrak berjangka, kontrak derivatif syariah, dan/atau kontrak derivatif lainnya yang
diperdagangkan di Bursa Berjangka. Pasal 1 huruf f menegaskan bahwa cryptocurrency,
sebagai salah satu bentuk aset digital, termasuk dalam kategori komoditas yang dapat
diperdagangkan (Indonesia, 2018). Hal ini menunjukkan pengakuan resmi terhadap
cryptocurrency dalam konteks perdagangan berjangka di Indonesia, memungkinkan individu
dan institusi untuk melakukan investasi dan transaksi dalam bentuk digital yang
memanfaatkan teknologi blockchain. Dengan demikian, regulasi ini memberikan kerangka
hukum yang jelas dan meningkatkan kepastian bagi para pelaku pasar yang berpartisipasi
dalam perdagangan cryptocurrency, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor fintech di
tanah air.
Peraturan Bappebti nomor 5 Tahun 2019 tentang ketentuan teknis penyelenggaraan
pasar fisik asset kriptodi bursa berjangka menyebutkan bahwa cryptocurrency diakui sebagai
komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka. Ini berarti bahwa cryptocurrency
dapat diperdagangkan seperti komoditas [Link] emas atau minyak. Peraturan ini
mencakup berbagai aspek teknis seperti persyaratan bagi penyelenggara bursa untuk
memastikan bahwa mereka memiliki infrastruktur yang memadai dan aman untuk
perdagangan aset kripto Ini juga mencakup aturan bagi pedagang aset kripto, termasuk
kewajiban untuk mematuhi Standar keamanan dan transparansi tertentu. Peraturan ini juga
dirancang untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang andal dan aman,yang dapat
mencegah praktik-praktik perdagangan yang tidak adil danmelindungi kepentingan semua
pihak yang terlibat dalam pasar (Komoditi, 2019).
Regulasi yang ada menunjukkan bahwa Indonesia mengakui potensi ekonomi dari
cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan, namun tetap berhati-hati
dalam menghadapinya. Perlindungan konsumen menjadi prioritas utama dalam regulasi ini,
mengingat risiko tinggi yang terkait dengan volatilitas harga dan potensi penipuan dalam
investasi cryptocurrency. Pemerintah Indonesia berupaya untuk menciptakan lingkungan
investasi yang aman dan teratur melalui pengawasan yang ketat. Namun, tantangan tetap ada
dalam implementasi regulasi ini. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman
dan literasi keuangan di kalangan masyarakat. Edukasi yang memadai diperlukan untuk
memastikan bahwa investor memahami risiko dan keuntungan yang terkait dengan investasi
cryptocurrency. Selain itu, pemerintah dan regulator harus terus memperbarui dan
menyesuaikan regulasi sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika pasar
cryptocurrency.
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |51
pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan mengenai kondisi, tanggungan, jaminan,
hak atau ganti rugi atas suatu barang dan jasa.
c. Pasal 16, pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa melaui pesanan dilarang
untuk tidak menepati pesanan dan/atau kesepakatan waktu penyelesaian susuatu dengan
yang dijanjikan, tidak menepati janji atas suatu pelayanan dan/atau prestasi. d. Pasal 19
Ayat (1), Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat barang atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
Adapun perlindungan hukum secara represif yaitu melalui litigasi dan non-litigasi.
Litigasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui jalur hukum dengan bantuan pengadilan
ketika terjadi perselisihan terkait investasi cryptocurrency. Penyelesaian sengketa ini dapat
dilakukan melalui jalur pidana. Penyelesaian sengketa secara non-litigasi diatur dalam pasal
22 peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 tahun 2019 tentang
ketentuan teknis penyelenggaraan pasar fisik aset kripto (Crypto Aset) di bursa berjangka.
Berdasarkan peraturan ini, sengketa dalam transaksi aset kripto harus diselesaikan terlebih
dahulu melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Jika musyawarah tidak membuahkan
hasil, sengketa dapat diteruskan ke Badan Arbitrase Perdagangan Berjangka Komoditi
(BAKTI). BAKTI merupakan lembaga yang menyelesaikan sengketa di luar pengadilan
melalui mekanisme arbitrase, khususnya untuk sengketa perdata yang terkait dengan
perdagangan berjangka komoditi, sistem resi gudang, dan transaksi yang diatur oleh Badan
Pengawas Berjangka Komoditi (Bappebti). Proses arbitrase ini dirancang untuk memberikan
penyelesaian yang lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan proses litigasi di pengadilan
(BAKTI n.d.).
KESIMPULAN
Dalam perspektif hukum Islam, cryptocurrency dianggap bermasalah karena
mengandung unsur gharar (ketidakpastian) dan spekulasi. Mayoritas ulama, termasuk
Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdhatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah, menyatakan
bahwa penggunaan cryptocurrency sebagai alat investasi adalah haram. Alasannya adalah
volatilitas tinggi, ketidakjelasan nilai, serta risiko terkait aktivitas ilegal. Namun, beberapa
ulama seperti Mufti Muhammad Abu Bakar, Monzer Kahf dan Mohd Daud Bakar
membolehkan (mubah) cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat diinvestasikan dengan
mekanisme yang transparan dan sesuai prinsip syariah.
Hukum positif di Indonesia mengakui cryptocurrency sebagai komoditas yang dapat
diperdagangkan dalam perdagangan berjangka, namun tidak sebagai alat pembayaran sah.
Hal ini diatur dalam Permendag Nomor 99 Tahun 2018 dan didukung oleh serangkaian
peraturan Bappebti, seperti Peraturan Nomor 3, 5, 9 Tahun 2019. Peraturan ini mengatur
perdagangan aset kripto hanya di bursa yang diawasi Bappebti, dengan persyaratan ketat
terkait keamanan, manajemen risiko, dan perlindungan data. Selain itu, Bappebti menetapkan
kriteria bagi aset kripto yang layak diperdagangkan, guna melindungi investor dan menjaga
stabilitas pasar.
Perlindungan hukum dalam investasi cryptocurrency di Indonesia terbagi menjadi
preventif dan represif. Perlindungan preventif diatur oleh Undang undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang perlindungan konsumen. Kemudian diatur melalui peraturan Bappebti Nomor
19 Tahun 2019, yang menetapkan pedagang aset kripto harus terdaftar, menjaga dana nasabah
di rekening terpisah, dan memenuhi standar keamanan. Adapun Perlindungan represif
mencakup penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi di pengadilan atau non-litigasi, seperti
mediasi dan arbitrase melalui BAKTI, untuk memberikan perlindungan hukum yang lebih
cepat dan efisien.
Journal of Islamic Economics, Banking, and Social Finance |53
REFERENSI
Akbar, Taufik & Nurul Huda. 2022. “Haramnya Penggunaan Cryptocurrency ( Bitcoin )
Sebagai Mata Uang Atau Alat Tukar Di Indonesia Berdasarkan Fatwa MUI.” jurnal Ilmiah
Manajemen Dan Bisnis 5(2): 750.
Aprilia, Zefanya. 2024. “Investor Kripto RI Tembus 20,16 Juta, Terbesar Ke 7 Di Dunia.” CNBC
Indonesia. [Link]
545322/investor-kripto-ri-tembus-2016-juta-terbesar-ke-7-di-dunia (July 25, 2024).
Apriliani, et all. 2023. “Legalitas Transaksi Aset Kripto Menurut Perspektif Hukum Islam.”
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbankan Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah 3(1):
115.
Arzam, et all, 2023. “Legalitas Cryptocurrency : Tinjauan Terhadap Fatwa-Fatwa Institusi Dan
Personal.” Jurnal Ekonomi Syariah 05(02): 139–40.
Azis, et all, 2019. “Perlindungan Hukum Investasi Mata Uang Digital (Cryptocurrency).”
Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan pengajarannya 16(2).
Komoditi, 2019. Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019
Tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto Di Bursa Berjangka. Jakarta.
BAKTI. “Proses Penyelesaian Sengketa Reguler.” [Link]
Bayu. 2024. “Pandangan Islam Tentang Kripto: Perspektif Ulama Dan Analisis Keuangan
Syariah.” suarhijrah. [Link]
islam-tentang-kripto-perspektif-ulama-dan-analisis-keuangan-syariah?page=2
(September 11, 2024).
Dharma et all, 2023. “Analisis Pemanfaatan Cryptocurrency Bitcoin Sebagai Alat Alternatif
Investasi.” Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis 2(1): 178.
Firmansyah. 2023. “Pengaturan Hukum Transaksi Mata Uang Kripto Di Indonesia (Studi
Komparasi Hukum Positif Dan Keputusan Fatwa MUI).” Skripsi tidak
Diterbitkan,Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta.
Harahap, et all, 2022. “Cryptocurrency Dalam Perspektif Syariah : Sebagai Mata Uang Atau
Aset Komoditas.” NIAGAWAN 11(1): 44.
Hayati, Mardhiyah. 2016. “Investasi Menurut Perspektif Ekonomi Islam.” Jurnal Ekonomi dan
Bisnis Islam 1(April): 66–78.
Hidayatullah, et all, 2023. “Peluang Ijtihad Hukum Penggunaan Uang Digital Sebagai Aset
Dan Alat Transaksi Di Indonesia.” Hukum Ekonomi Syariah 4(2): 194.
Ilham. 2022. “Pandangan Majelis Tarjih Terkait Mata Uang Kripto.” Muhammadiyah.
[Link]
kripto/.
Ilham, Muhammad & Erna Dwi Pamungkas. 2024. “Transaksi Cryptocurrency Dalam
Perspektif Hukum Islam.” Journal of Islamic Law 1(02): 75–89.
Jalil, Abdul, & Hilmi Abdillah. 2023. “Hukum Cryptocurrency Sebagai Mata Uang Dan
Sebagai Komoditas ( Analisis Fatwa MUI Tentang Hukum Cryptocurrency ).” jurnal
Ilmiah Ekonomi Islam 9(03): 4245–46.
Kementrian Perdagangan RI. 2024. “Ada 19 Juta Investor, Antusiasme Kripto Di Prediksi
Meningkat.” Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.
[Link]
54| Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Terhadap Investasi Cryptocurrency