0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan35 halaman

Syarat Umum Kontrak Jasa Konsultansi

Dokumen ini menjelaskan Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) untuk jasa konsultansi, termasuk definisi istilah penting, ketentuan pelaksanaan, dan larangan korupsi, kolusi, dan nepotisme. SSUK diterapkan dalam pengadaan barang/jasa dan mencakup ketentuan mengenai pengalihan kontrak, subkontrak, dan tanggung jawab penyedia. Selain itu, dokumen ini menetapkan bahwa semua komunikasi harus dilakukan dalam Bahasa Indonesia dan sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Diunggah oleh

aspargalib034
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan35 halaman

Syarat Umum Kontrak Jasa Konsultansi

Dokumen ini menjelaskan Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) untuk jasa konsultansi, termasuk definisi istilah penting, ketentuan pelaksanaan, dan larangan korupsi, kolusi, dan nepotisme. SSUK diterapkan dalam pengadaan barang/jasa dan mencakup ketentuan mengenai pengalihan kontrak, subkontrak, dan tanggung jawab penyedia. Selain itu, dokumen ini menetapkan bahwa semua komunikasi harus dilakukan dalam Bahasa Indonesia dan sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Diunggah oleh

aspargalib034
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

SYARAT-SYARAT UMUM KONTRAK (SSUK)

a) KETENTUAN UMUM

1. Definisi Istilah-istilah yang digunakan dalam Syarat-Syarat


Umum Kontrak ini harus mempunyai arti atau
tafsiran seperti yang dimaksudkan sebagai berikut :

1.1 Jasa Konsultansi adalah jasa layanan profesional


yang membutuhkan keahlian tertentu
diberbagai bidang keilmuan yang
mengutamakan adanya olah pikir (brainware).

1.2 Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut


PA adalah Pejabat pemegang kewenangan
penggunaan anggaran
Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat
Daerah atau Pejabat yang disamakan pada
Institusi lain Pengguna APBN/APBD.

1.3 Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya


disebut KPA adalah pejabat yang ditetapkan oleh
PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan
oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.

1.4 Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya


disebut KPA Selaku PPK adalah pejabat yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa.

1.5 Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah


panitia/pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA
yang bertugas memeriksa dan menerima hasil
pekerjaan.

1.6 Aparat Pengawas Intern Pemerintah atau


pengawas intern pada institusi lain yang
selanjutnya disebut APIP adalah aparat yang
melakukan pengawasan melalui audit,
reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan
pengawasan lain terhadap penyelenggaraan
tugas dan fungsi organisasi.

1.7 Penyedia adalah adalah badan usaha yang


menyediakan Jasa Konsultansi dan telah
ditetapkan sebagai pemenang oleh Pokja ULP.

1.8 Sub penyedia adalah badan usaha yang


mengadakan perjanjian kerja sama dengan
2

penyedia, untuk melaksanakan sebagian


pekerjaan (subkontrak).

1.9 Kemitraan/Kerja Sama Operasi (KSO) adalah


kerjasama usaha antar penyedia nasional
maupun dengan penyedia asing yang masing-
masing pihak mempunyai hak, kewajiban dan
tanggung jawab yang jelas berdasarkan
kesepakatan bersama yang dituangkan dalam
perjanjian tertulis. Kerjasama usaha tersebut
dapat dinamakan konsorsium atau joint venture
atau sebutan lainnya sepanjang tidak
dimaksudkan untuk membentuk suatu badan
hukum baru dan mengalihkan tanggung jawab
masing-masing anggota kerjasama usaha
kepada badan hukum tersebut.

1.10 Surat Jaminan yang selanjutnya disebut


Jaminan, adalah jaminan tertulis yang bersifat
mudah dicairkan dan tidak bersyarat
(unconditional), yang dikeluarkan oleh Bank
Umum/Perusahaan Penjaminan/Perusahaan
Asuransi yang diserahkan oleh penyedia kepada
KPA selaku PPK untuk menjamin terpenuhinya
kewajiban penyedia.

1.11 Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang


selanjutnya disebut Kontrak adalah perjanjian
tertulis antara KPA Selaku PPK dengan penyedia
yang mencakup Syarat-Syarat Umum Kontrak
(SSUK) ini dan Syarat-Syarat Khusus Kontrak
(SSKK) serta dokumen lain yang merupakan
bagian dari kontrak.

1.12 Nilai Kontrak adalah total harga yang tercantum


dalam Kontrak.

1.13 Hari adalah hari kalender.

1.14 Pekerjaan utama adalah jenis pekerjaan yang


secara langsung menunjang terwujudnya dan
berfungsinya hasil pekerjaan sesuai
peruntukannya yang ditetapkan dalam
Dokumen Pemilihan;

1.15 Rincian Biaya Langsung Personiladalah


remunerasi atau upah yang diterima oleh
personil inti, yang telah memperhitungkan
biaya umum (overhead), biaya sosial (social
charge), keuntungan (profit), tunjangan
3

penugasan, asuransi dan biaya–biaya


kompensasi lainnya, dihitung menurut jumlah
satuan waktu tertentu (bulan, minggu, hari,
atau jam).

1.16 Rincian Biaya Langsung Non Personil adalah


biaya yang sebenarnya dikeluarkan penyedia
untuk pengeluaran-pengeluaran yang
sesungguhnya (at cost), yang meliputi antara
lain biaya untuk pembelian ATK, sewa
peralatan, biaya perjalanan, biaya pengiriman
dokumen, biaya pengurusan surat ijin, biaya
komunikasi, biaya pencetakan laporan, biaya
penyelenggaraan seminar/
workshop/lokakarya, dan lain-lain.

1.17 Jadwal Waktu Pelaksanaan adalah jadwal yang


menunjukkan kebutuhan waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan,
terdiri atas tahap pelaksanaan yang disusun
secara logis, realistik dan dapat dilaksanakan.

1.18 Personel Inti adalah orangyang akan


ditempatkan secara penuh sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan dalam Dokumen
Pemilihan serta posisinya dalam manajemen
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan organisasi
pelaksanaan yang diajukan untuk
melaksanakan pekerjaan.

1.19 Bagian Pekerjaan yang disubkontrakkan adalah


bagian pekerjaan bukan pekerjaan utama yang
ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan, yang
pelaksanaannya diserahkan kepada penyedia
lain dan disetujui terlebih dahulu oleh KPA
SELAKU PPK.

1.20 Masa Kontrak adalah jangka waktu berlakunya


kontrak ini terhitung sejak tanggal
penandatangankontrak sampai dengan tanggal
penyelesaian pekerjaan.

1.21 Tanggal Mulai Kerja adalah tanggal mulai kerja


penyedia yang dinyatakan pada Surat Perintah
Mulai Kerja (SPMK), yang diterbitkan oleh
Pejabat Pembuat Komitmen.

1.22 Tanggal Penyelesaian Pekerjaan adalah tanggal


penyelesaian pekerjaan Jasa Konsultansi ini oleh
penyedia yang tercantum dalam Berita Acara
4

Serah Terima Pekerjaan yang diterbitkan oleh


KPA Selaku PPK.

1.23 KAK adalah Kerangka Acuan Kerja yang disusun


oleh KPA Selaku PPK untuk menjelaskan tujuan,
lingkup jasa konsultansi serta keahlian yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan
berdasarkan Kontrak ini.

1.24 Penawaran Biaya adalah rincian yang memuat


setiap komponen pekerjaan Jasa Konsultansi
yang harus dilaksanakan oleh penyedia dan
merupakan bagian dari Dokumen Penawaran
penyedia.

1.25 Penawaran Teknis adalah data teknis yang


memuat pendekatan teknis, metodologi, dan
program kerja penyedia dalam pelaksanaan Jasa
Konsultansi ini. Penawaran Teknis merupakan
bagian dari penawaran penyedia.

1.26 SSKK adalah Syarat-Syarat Khusus Kontrak,


berisikan ketentuan-ketentuan tambahan yang
dapat mengubah atau menambah SSUK.

1.27 SSUK adalah Syarat-Syarat Umum Kontrak ini.

1.28 SPP adalah Surat Perintah Pembayaran yang


diterbitkan oleh KPA Selaku PPK dan merupakan
salah satu tahapan dalam mekanisme
pelaksanaan pembayaran atas beban Anggaran
Pendapatan Belanja Negara/Daerah.

1.29 Tenaga Ahli adalah bagian dari Personil dengan


keahlian, kualifikasi, dan pengalaman di bidang
tertentu.

2. Penerapan Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) diterapkan


secara luas dalam pelaksanaan pekerjaan Jasa
Konsultansi ini tetapi tidak dapat bertentangan
dengan ketentuan-ketentuan dalam Dokumen
Kontrak lain yang lebih tinggi berdasarkan urutan
hierarki dalam Surat Perjanjian.

3. Bahasa dan 3.1 Bahasa kontrak menggunakan Bahasa


Hukum Indonesia Hukum yang digunakan adalah
hukum yang berlaku di Indonesia
4. Larangan 4.1 Berdasarkan etika pengadaan barang/jasa
Korupsi, Kolusi pemerintah, para pihak dilarang untuk:
dan Nepotisme a. menawarkan, menerima atau menjanjikan
5

(KKN) serta untuk memberi atau menerima hadiah atau


Penipuan imbalan berupa apa saja atau melakukan
tindakan lainnya untuk mempengaruhi
siapapun yang diketahui atau patut dapat
diduga berkaitan dengan pengadaan ini;
b. membuat dan/atau menyampaikan secara
tidak benar dokumen dan/atau keterangan
lain yang disyaratkan untuk penyusunan
dan pelaksanaan Kontrak ini.

4.2 Penyedia yang menurut penilaian KPA Selaku


PPK terbukti melakukan larangn-larangan di
atas dapat dikenakan sanksi-sanksi
administratif oleh KPA Selaku PPK sebagai
berikut:
a. pemutusan Kontrak;
b. sisa uang muka harus dilunasi oleh
Penyedia; dan
c. dimasukan dalam daftar hitam.

4.3 Pengenaan sanksi administratif di atas


dilaporkan oleh KPA Selaku PPK kepada
Menteri/ Kepala Lembaga/ Kepala Daerah/
Pimpinan Institusi.

4.4 KPA Selaku PPK yang terlibat dalam KKN dan


penipuan dikenakan sanksi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

5. Keutuhan Kontrak ini memuat semua ketentuan dan


Kontrak persyaratan yang telah disetujui oleh Para Pihak. Para
Pihak tidak diperbolehkan untuk mengikatkan diri
atau bertanggung jawab atas pernyataan, janji, atau
persetujuan yang tidak tercantum dalam Kontrak ini.

6. Pemisahan Jika salah satu atau beberapa ketentuan dalam


Kontrak ini berdasarkan Hukum yang Berlaku
menjadi tidak sah, tidak berlaku, atau tidak dapat
dilaksanakan maka ketentuan-ketentuan lain tetap
berlaku secara penuh.

7. Perpajakan Ketentuan mengenai perpajakan adalah seluruh


ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia.

8. Korespondensi Semua pemberitahuan, permohonan, atau


persetujuan berdasarkan Kontrak ini harus dibuat
secara tertulis dalam Bahasa Indonesia, dan dianggap
telah diberitahukan jika telah disampaikan secara
langsung kepada wakil sah Para Pihak, atau jika
6

disampaikan melalui surat tercatat, e-mail, dan/atau


faksimiliyang ditujukan ke alamat yang tercantum
dalam SSKK.

9. Asal Jasa 9.1 Pekerjaan Jasa Konsultansi ini dikerjakan


Konsultansi terutama oleh tenaga Indonesia pada lokasi-
lokasi yang tercantum dalam KAK. Jika lokasi
untuk bagian pekerjaan tertentu tidak
tercantum maka lokasi akan ditentukan oleh
KPA Selaku PPK.

9.2 Jika dalam proses pekerjaan Jasa Konsultansi


digunakankomponen berupa barang, jasa, atau
gabungan keduanya yang tidak berasal dari
dalam negeri (impor) maka penggunaan
komponen impor harus sesuai dengan yang
dicantumkan dalam Dokumen Penawaran.

9.3 Tindakan pencantuman komponen impor yang


tidak dapat dipertanggungjawabkan dapat
dipersamakan dengan tindakan penipuan dan
dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

10. Pengalihan 10.1 Pengalihanseluruh Kontrak hanya


dan/atau diperbolehkan dalam hal pergantian nama
Subkontrak Penyedia, baiksebagai akibat peleburan
(merger), konsolidasi, pemisahan maupun
akibatlainnya.

10.2 Penyedia dapat bekerja sama dengan penyedia


lain dengan mensubkontrakkan sebagian
pekerjaan.

10.3 Penyedia hanya boleh mensubkontrakkan


sebagian pekerjaan dan dilarang
mensubkontrakkan seluruh pekerjaan di dalam
Kontrak.

10.4 Penyediahanya boleh mensubkontrakkan


pekerjaan apabila pekerjaan tersebut sejak awal
didalam Dokumen Pengadaan dan dalam
Kontrak diijinkan untuk disubkontrakkan.

10.5 Subkontraksebagian pekerjaan utama hanya


diperbolehkan kepada penyedia spesialis.

10.6 Penyedia hanya boleh mensubkontrakkan


pekerjaan setelah mendapat persetujuan
tertulis dari KPA Selaku PPK. Penyedia tetap
7

bertanggung jawab atas bagian pekerjaan yang


disubkontrakkan.

10.7 Jika ketentuandi atas dilanggar maka Kontrak


diputuskan dan Penyedia dikenakan sanksi
yangdiatur dalam SSKK.

11. Pengabaian Jika terjadi pengabaian oleh satu Pihak terhadap


pelanggaran ketentuan tertentuKontrak oleh Pihak
yang lain maka pengabaian tersebut tidak menjadi
pengabaian yang terus-menerus selama Masa
Kontrak atau seketika menjadi pengabaian terhadap
pelanggaran ketentuan yang lain. Pengabaian hanya
dapat mengikat jika dapat dibuktikan secara tertulis
dan ditandatangani oleh Wakil Sah Pihak yang
melakukan pengabaian.

12. PenyediaMandi Penyedia berdasarkan Kontrak ini bertanggung jawab


ri penuh terhadap personil dan subpenyedianya (jika
ada) serta pekerjaan yang dilakukan oleh mereka.

b) PELAKSANAAN, PENYELESAIAN, PERUBAHAN, DAN PEMUTUSAN


KONTRAK

13. Jadwal 13.1 Kontrak ini berlaku efektif pada tanggal


Pelaksanaan penandatanganan Surat Perjanjian oleh Para
Pekerjaan Pihak atau pada tanggal yang ditetapkan dalam
SSKK.

13.2 Waktu pelaksanaan kontrak adalah jangka


waktu yang ditentukan dalam syarat-syarat
khusus kontrak dihitung sejak tanggal mulai
kerja yang tercantum dalam SPMK.

13.3 Penyedia harus menyelesaikan pekerjaan sesuai


jadwal yang ditentukan dalam SSKK.

13.4 Apabila penyedia berpendapat tidak dapat


menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal karena
keadaan diluar pengendaliannya dan penyedia
telah melaporkan kejadian tersebut kepada KPA
SELAKU PPK, maka KPA SELAKU PPKdapat
melakukan penjadwalan kembali pelaksanaan
tugas penyedia dengan adendum kontrak.

B.1 Pelaksanaan Pekerjaan

14. Surat Perintah 14.1 KPA SELAKU PPK menerbitkan SPMK selambat-
Mulai Kerja lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal
(SPMK) penanda-tanganan kontrak.
8

14.2 Dalam SPMK dicantumkan saat paling lambat


dimulainya pelaksanaan kontrak oleh penyedia.

15. Rapat Persiapan 15.1 KPA Selaku PPK bersama penyedia dapat
Pelaksanaan menyelenggarakan rapat persiapan
Kontrak pelaksanaan kontrak.

15.2 Dalam rapat persiapan, KPA Selaku PPK dapat


mengikutsertakan Tim Teknis dan/atau Tim
Pendukung.

15.3 Beberapa hal yang dibahas dan disepakati


dalam rapat persiapan pelaksanaan kontrak
adalah:
a. program mutu;
1) Program mutu disusun oleh Penyedia,
yang paling sedikit berisi:
a. informasi mengenai pekerjaan
yang akan dilaksanakan;
b. organisasi kerja Penyedia;
c. jadwal pelaksanaan pekerjaan;
d. jadwal penugasan tenaga ahli dan
tenaga pendukung;
e. prosedur pelaksanaan pekerjaan;
f. prosedur instruksi kerja; dan
g. pelaksana kerja.
2) Program mutu dapat direvisi sesuai
kondisi lokasi pekerjaan.
b. organisasi kerja;
c. tata cara pengaturan pelaksanaan
pekerjaan;
d. jadwal pengadaan bahan/material,
mobilisasi peralatan dan personil (apabila
diperlukan); dan
e. rencana pelaksanaan pemeriksaan
lapangan bersama.

15.4 Hasil rapat persiapan pelaksanaan kontrak


dituangkan dalam Berita Acara Rapat Persiapan
Pelaksanaan Kontrak yang ditandatangani oleh
seluruh peserta rapat.

16. Mobilisasi 16.1 Penyedia melakukan mobilisasi setelah tanggal


dimulainya pelaksanaan pekerjaan.

16.2 Mobilisasi dilakukan sesuai dengan lingkup


pekerjaan, yaitu:
a. mendatangkan tenaga ahli;
b. mendatangkan tenaga pendukung;
9

dan/atau
c. menyiapkan peralatan pendukung;

16.3 Mobilisasi peralatan dan personil dapat


dilakukan secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan.

17. Pemeriksaan 17.1 PemeriksaanBersama


a. Pada tahap awal pelaksanaan kontrak dan
pelaksanaan pekerjaan, KPA Selaku PPK
bersama-sama dengan penyedia
melakukan pemeriksaan bersama yang
mencakup antara lain pemeriksaan
kesesuaian personil dan/atau peralatan
dengan persyaratan kontrak. Hasil
pemeriksaan akan dituangkan dalam berita
acara pemeriksaan.
b. Jika dalam pemeriksaan bersama
ditemukan hal-hal yang dapat
mengakibatkan perubahan isi kontrak
maka perubahan tersebut akan dituangkan
dalam amandemen kontrak.
c. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa personil dan/atau peralatan
ternyata belum memenuhi persyaratan
kontrak maka penyedia tetap dapat
melanjutkan pekerjaan dengan syarat
personil dan/atau peralatan yang belum
memenuhi syarat harus segera diganti
dalam jangka waktu yang disepakati
bersama dengan memperhatikan Pasal
tentang Personil Konsultan dan
Subkonsultan.

17.2 PemeriksaanPersonil dan Peralatan


a. Pemeriksaan (inspeksi) personil dan
peralatan harus dilaksanakan setelah
personil dan peralatan tiba di lokasi
pekerjaan serta dibuatkan Berita Acara
Hasil Inspeksi/Pemeriksaan yang
ditandatangani oleh KPA Selaku PPK dan
penyedia.
b. Dalam pemeriksaan personil dan
peralatan, KPA Selaku PPK dapat dibantu
Tim Teknis dan/atau Tim Pendukung.
c. Bila hasil inspeksi/pemeriksaan personil
dan peralatan ternyata belum memenuhi
persyaratan, maka penyedia dapat
melaksanakan pekerjaan dengan syarat
personil dan peralatan yang belum
10

memenuhi syarat harus diganti sesuai


dengan ketentuan dalam Kontrak.
d. Apabila dalam pemeriksaan personil dan
peralatan mengakibatkan perubahan isi
Kontrak maka harus dituangkan dalam
bentuk adendum Kontrak.

17.3 PemeriksaanLapangan
a. Apabila diperlukan, KPA Selaku PPK
bersama-sama dengan penyedia
melakukan pemeriksaan lapangan untuk
melakukan pengukuran dan pemeriksaan
detail kondisi lapangan.
b. Untuk pemeriksaan lapangan, KPA Selaku
PPK dapat dibantu Tim Teknis dan/atau
Tim Pendukung.
c. Hasil pemeriksaan lapangan dituangkan
dalam Berita Acara Pemeriksaan Lapangan
yang ditandatangani oleh KPA Selaku PPK
dan penyedia.
d. Apabila dalam pemeriksaan lapangan
mengakibatkan perubahan isi Kontrak
maka harus dituangkan dalam adendum
Kontrak.

18. Waktu 18.1 Kecuali Kontrak diputuskan lebih awal,


Penyelesaian penyedia berkewajiban untuk memulai
Pekerjaan pelaksanaan pekerjaan pada Tanggal Mulai
Kerja, dan melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan program mutu, serta menyelesaikan
pekerjaan selambat-lambatnya pada Tanggal
Penyelesaian yang ditetapkan dalam SPMK.

18.2 Jika pekerjaan tidak selesai pada Tanggal


Penyelesaian bukan akibat Keadaan Kahar atau
Peristiwa Kompensasi atau karena kesalahan
atau kelalaian penyedia maka penyedia
dikenakan denda.

18.3 Jika keterlambatan tersebut semata-mata


disebabkan oleh Peristiwa Kompensasi maka
KPA Selaku PPK dikenakan kewajiban
pembayaran ganti rugi. Denda atau ganti rugi
tidak dikenakan jika Tanggal Penyelesaian
disepakati oleh Para Pihak untuk diperpanjang.
11

18.4 Tanggal Penyelesaian yang dimaksud dalam


angka 22 ini adalah tanggal penyelesaian
semua pekerjaan.

19. Perpanjangan 19.1 Jika terjadi Peristiwa Kompensasi sehingga


Waktu penyelesaian pekerjaan akan melampaui
Tanggal Penyelesaian maka penyedia berhak
untuk meminta perpanjangan Tanggal
Penyelesaian berdasarkan data penunjang. KPA
Selaku PPK berdasarkan pertimbangan
Pengawas Pekerjaan memperpanjang Tanggal
Penyelesaian Pekerjaan secara tertulis.
Perpanjangan Tanggal Penyelesaian harus
dilakukan melalui adendum Kontrak jika
perpanjangan tersebut mengubah Masa
Kontrak.

19.2 KPA Selaku PPK berdasarkan pertimbangan


Pengawas Pekerjaan harus telah menetapkan
ada tidaknya perpanjangan dan untuk berapa
lama, dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu)
hari setelah penyedia meminta perpanjangan.
Jika penyedia lalai untuk memberikan
peringatan dini atas keterlambatan atau tidak
dapat bekerja sama untuk mencegah
keterlambatan maka keterlambatan seperti ini
tidak dapat dijadikan alasan untuk
memperpanjang Tanggal Penyelesaian.

B.2 Penyelesaian Kontrak

20. Serah Terima 20.1 Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus


Pekerjaan perseratus), penyedia mengajukan permintaan
secara tertulis kepada KPA Selaku PPK untuk
penyerahan pekerjaan.

20.2 Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan, KPA


Selaku PPK menugaskan Panitia/Pejabat
Penerima Hasil Pekerjaan.

20.3 Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan


melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan
yang telah diselesaikan oleh penyedia. Apabila
terdapat kekurangan-kekurangan dan/atau
cacat hasil pekerjaan, penyedia wajib
memperbaiki/menyelesaikannya, atas perintah
KPA Selaku PPK.
12

20.4 Penilaian hasil pekerjaan sebagaimana


dimaksud pada poin 24.3 dilakukan setelah
berkoordinasi dengan Pengguna Jasa
Konsultansi yang bersangkutan.

20.5 KPA Selaku PPK menerima pekerjaan setelah


seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan Kontrak dan diterima oleh
Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.

B.3 Adendum

21. Perubahan 21.1 Perubahan harga dan lingkup pekerjaan hanya


Kontrak berlaku untuk Kontrak Harga Satuan atau
bagian pekerjaan yang menggunakan Kontrak
Harga Satuan dari Kontrak Gabungan Lump
Sum dan Harga Satuan.

21.2 Kontrak hanya dapat diubah melalui adendum


kontrak.

21.3 Perubahan kontrak dapat dilaksanakan apabila


disetujui oleh para pihak, yangmeliputi:
a. perubahan pekerjaan disebabkan oleh
sesuatu hal yang dilakukan oleh para pihak
dalam kontrak sehingga mengubah
lingkup pekerjaan dalam kontrak;
b. perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan
akibat adanya perubahan lingkup
pekerjaan; dan/atau
c. perubahan nilai kontrak akibat adanya
perubahan pekerjaan perubahan jadwal
pelaksanaan pekerjaan dan/atau
penyesuaian harga.

21.4 Untuk kepentingan perubahan kontrak,


PA/KPA dapat membentuk Panitia/Pejabat
Peneliti Pelaksanaan Kontrak atas usul KPA
Selaku PPK.

22. Perubahan a. KPA SELAKU PPK bersama penyedia dapat


Pekerjaan melakukan perubahan Kontrak yang
meliputi antara lain:
1) menambah atau mengurangi volume
pekerjaan yang tercantum dalam
Kontrak;
2) mengurangi atau menambah jenis
pekerjaan;
13

3) mengubah spesifikasi pekerjaan sesuai


dengan kebutuhan lapangan;
4) melaksanakan pekerjaan
tambah/kurang yang belum tercantum
dalam Kontrak yang diperlukan untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaan.
b. Pekerjaan tambah harus
mempertimbangkan tersedianya anggaran
dan tidak boleh melebihi 10% (sepuluh
perseratus) dari biaya yang tercantum dari
nilai Kontrak awal.
c. Perintah perubahan pekerjaan dibuat oleh
KPA Selaku PPK secara tertulis kepada
penyedia, ditindaklanjuti dengan negosiasi
teknis dan biaya dengan tetap mengacu pada
ketentuan yang tercantum dalam Kontrak
awal.
d. Hasil negosiasi tersebut dituangkan dalam
Berita Acara sebagai dasar penyusunan
adendum Kontrak.
e. Dalam hal penilaian perubahan lingkup
pekerjaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a sampai dengan d, KPA Selaku PPK
dapat dibantu oleh Tim Pendukung yaitu
Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan
Kontrak.]
23. Perubahan
Jadwal 23.1 Waktu penyelesaian pekerjaan dapat
Pelaksanaan diperpanjang sekurang-kurangnya sama
Pekerjaan dengan waktu terhentinya kontrak akibat
keadaan kahar.

23.2 KPA Selaku PPK dapat menyetujui


perpanjangan waktu pelaksanaan atas kontrak
setelah melakukan penelitian terhadap usulan
tertulis yang diajukan oleh penyedia.

23.3 KPA Selaku PPK dapat menugaskan


Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak
untuk meneliti kelayakan usulan perpanjangan
waktu pelaksanaan.

23.4 Persetujuan perpanjangan waktu pelaksanaan


dituangkan dalam adendum Kontrak.

B.4 Keadaan Kahar

24. Keadaan Kahar 27.1 Yang dimaksud Keadaan Kahar adalah suatu
keadaan yang terjadi diluar kehendak para
14

pihak dan tidak dapat diperkirakan


sebelumnya, sehingga kewajiban yang
ditentukan dalam Kontrak menjadi tidak dapat
dipenuhi.

27.2 Yang digolongkan Keadaan Kahar meliputi:


a. bencana alam;
b. bencana non alam;
c. bencana sosial;
d. pemogokan;
e. kebakaran; dan/atau
f. gangguan industri lainnya sebagaimana
dinyatakan melalui keputusan bersama
Menteri Keuangan dan Menteri teknis
terkait.

27.3 Apabila terjadi Keadaan Kahar, maka Penyedia


memberitahukan kepada KPA Selaku PPK
paling lambat 14 (empat belas) hari sejak
terjadinya Keadaan Kahar, dengan
menyertakan pernyataan Keadaan Kahar dari
pejabat yang berwenang.

27.4 Jangka waktu yang ditetapkan dalam Kontrak


untuk pemenuhan kewajiban Pihak yang
tertimpa Keadaan Kahar harus diperpanjang
sekurang-kurangnya sama dengan jangka
waktu terhentinya Kontrak akibat Keadaan
Kahar.

27.5 Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akibat


Keadaan Kahar yang dilaporkan paling lambat
14 (empat belas) hari sejak terjadinya Keadaan
Kahar, tidak dikenakan sanksi.

27.6 Pada saat terjadinya Keadaan Kahar, Kontrak


ini akan dihentikan sementara hingga Keadaan
Kahar berakhir dengan ketentuan, Penyedia
berhak untuk menerima pembayaran sesuai
dengan prestasi atau kemajuan pelaksanaan
pekerjaan yang telah dicapai. Jika selama masa
Keadaan Kahar KPA Selaku PPK
memerintahkan secara tertulis kepada Penyedia
untuk meneruskan pekerjaan sedapat mungkin
maka Penyedia berhak untuk menerima
pembayaran sebagaimana ditentukan dalam
Kontrak dan mendapat penggantian biaya yang
wajar sesuai dengan yang telah dikeluarkan
untuk bekerja dalam situasi demikian.
Penggantian biaya ini harus diatur dalam suatu
15

adendum Kontrak.

c) PEMBAYARAN KEPADA PENYEDIA

25. Jaminan Jaminan Uang Muka :


25.1 Jaminan Uang Muka diberikan kepada KPA
Selaku PPK dalam rangka pengambilan uang
muka dengan nilai 100% (seratus persen) dari
besarnya uang muka.

25.2 Nilai jaminan Uang Muka dapat dikurangi


secara proporsional sesuai dengan
pengembalian uang muka.

25.3 Masa berlakunya jaminan uang muka


sekurang-kurangnya sejak tanggal persetujuan
pemberian uang muka sampai dengan tanggal
penyerahan pertama pekerjaan.

25.4 Jaminan Uang Muka diterbitkan oleh Bank


Umum, perusahaan penjaminan atau
perusahaan asuransi.

25.5 Bentuk surat jaminan Uang Muka: memuat


nama dan alamat KPA Selaku PPK, penyedia
yang ditunjuk, dan hak penjamin, nama paket
kontrak, nilai jaminan uang muka dalam angka
dan huruf, kewajiban pihak-pihak penjamin
untuk mencairkan Surat Jaminan Uang Muka
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat kepada KPA Selaku PPK,
masa berlaku jaminan uang muka dan tanda
tangan penjamin.

26. Pembayaran 26.1 Uang Muka :


a. Uang Muka dapat diberikan kepada
penyedia untuk:
1) mobilisasi alat dan tenaga kerja;
2) pembayaran uang tanda jadi kepada
pemasok barang/material; dan/atau
3) persiapan teknis lain yang diperlukan
bagi pelaksanaan pengadaan.
b. Uang Muka dapat diberikan kepada
penyedia dengan ketentuan paling tinggi
20% (dua puluh perseratus) dari nilai
Kontrak;
c. Besarnya Uang Muka untuk Kontrak Tahun
Jamak dapat diberikan diantara 2 (dua)
pilihan, yaitu:
1) 20% (dua puluh perseratus) dari
16

Kontrak tahun pertama; atau


2) 15% (lima belas perseratus) dari total
nilai Kontrak.
d. Ketentuan mengenai pemberian uang muka
beserta besarannya ditetapkan dalam SSKK.
e. Penyedia dapat mengajukan permintaan
pembayaran uang muka secara tertulis
kepada KPA Selaku PPK disertai dengan
rencana penggunaan uang muka untuk
melaksanakan pekerjaan sesuai Kontrak.
f. KPA Selaku PPK mengajukan surat
permintaan pembayaran untuk permohonan
tersebut setelah Jaminan Uang Muka
diterima dari penyedia.
g. Jaminan Uang Muka diterbitkan oleh bank
umum, perusahaan penjaminan, atau
Perusahaan Asuransi Umum yang memiliki
izin untuk menjual produk
jaminan(suretyship) yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan;
h. Pengembalian uang muka diperhitungkan
berangsur-angsur secara proporsional pada
setiap pembayaran prestasi pekerjaan dan
paling lambat harus lunas pada saat
pekerjaan mencapai prestasi 100 % (seratus
perseratus).
i. Untuk kontrak tahun jamak, nilai Jaminan
Uang Muka secara bertahap dapat dikurangi
sesuai dengan pencapaian prestasi
pekerjaan.

26.2 Prestasi pekerjaan


a. Pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang
disepakati dilakukan oleh KPA Selaku PPK,
dengan ketentuan :
1) Penyedia telah mengajukan tagihan
disertai laporan kemajuan hasil
pekerjaan;
2) pembayaran dilakukan dengan system
bulanan, sistem termin atau
pembayaran secara sekaligus, sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan
dalam SSKK.
3) Pembayaran prestasi kerja diberikan
kepada penyedia setelah dikurangi
angsuran pengembalian UangMuka
dan denda apabila ada, serta pajak.
4) Permintaan pembayaran kepada KPA
Selaku PPK untuk Kontrak
yangmenggunakan subkontrak, harus
17

dilengkapi bukti pembayaran kepada


seluruh subkontraktor sesuai dengan
perkembangan (progress)
pekerjaannya.
5) Pembayaran bulanan/termin,dilakukan
senilai pekerjaan yang telah
diselesaikan.
b. Pembayaran tekahir hanya dilakukan setelah
pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus)
dan Berita Acara penyerahan pertama
pekerjaan diterbitkan.
26.3 Cara-cara dan tahapan pembayaran serta mata
uang yang digunakan harus disesuaikan
dengan ketentuan dalam SSKK.

26.4 Penangguhan Pembayaran


a. KPA Selaku PPK dapat menangguhkan
pembayaran setiap angsuran prestasi
pekerjaan penyedia jika penyedia gagal atau
lalai memenuhi kewajiban kontraktualnya.
b. Pembayaran yang ditangguhkan harus
disesuaikan dengan proporsi kegagalan atau
kelalaian penyedia.
c. Penangguhan dilakukan dengan terlebih
dahulu menyampaikan pemberitahuan
tertulis kepada penyedia yang memuat:
1) alasan penangguhan pembayaran; dan
2) persyaratan kepada penyedia untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya
dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
kerja setelah pemberitahuan diterima.
d. Jika dipandang perlu oleh KPA Selaku PPK,
penangguhan pembayaran dapat dilakukan
bersamaan dengan pengenaan denda kepada
penyedia.

26.5 Denda dan Ganti Rugi


a. denda merupakan sanksi finansial yang
dikenakan kepada penyedia, sedangkan
ganti rugi merupakan sanksi finansial yang
dikenakan kepada KPA Selaku PPK, karena
terjadinya cidera janji/wanprestasi yang
tercantum dalam Kontrak.
b. besarnyadenda kepada penyedia atas
keterlambatan penyelesaian pekerjaan
adalah:
1/1000 (satu perseribu) dari biaya
kontrak, apabila bagian pekerjaan belum
diterima oleh KPA Selaku PPK.
18

c. besarnya ganti rugi yang dibayar oleh KPA


Selaku PPK atas keterlambatan pembayaran
adalah sebesar bunga dari nilai tagihan
yang terlambat dibayar, berdasarkan tingkat
suku bunga yang berlaku pada saat itu
menurut ketetapan Bank Indonesia, atau
dapat diberikan kompensasi sesuai
ketentuan dalam Dokumen Kontrak;

26.6 Tata cara pembayaran denda dan/atau ganti


rugi diatur dalam Dokumen Kontrak.

27. Harga 27.1 KPA Selaku PPK membayar kepada peserta atas
pelaksanaan pekerjaan.

27.2 Harga kontrak telah memperhitungkan :biaya


umum (overhead), biaya sosial (social charge),
keuntungan (profit) maksimal 10 %, tunjangan
penugasan, asuransi dan biaya–biaya
kompensasi lainnya, yang dihitung menurut
jumlah satuan waktu tertentu.

27.3 Rincian harga kontrak sesuai dengan rincian


yang tercantum dalam Rincian Biaya Personil
dan Rincian Biaya Non Personil sesuai dengan
Berita Acara Hasil Klarifikasi dan Negosiasi
Teknis dan Biaya.

27.4 Kontrak Pengadaan Jasa Konsultansi ini


dibiayai dari sumber pendanaan yang disebut
dalam SSKK.

28. Perhitungan 28.1 Pembayaran angsuran prestasi pekerjaan


Akhir terakhir dilakukan setelah pekerjaan selesai
100% (seratus perseratus) dan berita acara
penyerahan awal telah ditandatangani oleh
kedua belah pihak.

29. Penangguhan 29.1 KPA Selaku PPK dapat menagguhkan


pembayaran setiap angsuran prestasi pekerjaan
penyedia jika penyedia gagal atau lalai
memenuhi kewajiban kontraktualnya,
termasuk penyerahan setiap HAsil Pekerjaan
sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan;

29.2 KPA Selaku PPK secara tertulis memberitahukan


kepada penyedia tentang penagguhan hak
pembayaran, disertai alasan-alasan yang jelas
mengenai penangguhan tersebut. Penyedia
19

diberi kesempatan untuk memperbaiki dalam


jangka waktu tertentu;

29.3 Pembayaran yang ditangguhkan harus


disesuaikan dengan proporsi kegagalan atau
kelalaian penyedia;

29.4 Jika dipandang perlu oleh KPA Selaku PPK,


penagguhan pembayaran akibat keterlambatan
penyerahan pekerjaan dapat dilakukan
bersamaan dengan pengenaan denda kepada
penyedia.

30. Kerjasamaantar 30.1 Bagian pekerjaan yang dikerjakan oleh sub


a penyedia penyedia harus diatur dalam kontrak dan
dengan sub disetujui terlebih dahulu oleh KPA Selaku PPK.
penyedia
30.2 Penyedia tetap bertanggungjawab atas bagian
pekerjaan yang dikerjakan oleh sub penyedia.

30.3 Ketentuan-ketentuan dalam kerjasama dengan


sub penyedia harus mengacu kepada harga
yang tercantum dalam Kontrak serta menganut
prinsip kesetaraan.
31. Personil 31.1 Umum
Konsultan dan a. Personil inti yang dipekerjakan harus sesuai
Subkonsultan dengan kualifikasi dan pengalaman yang
ditawarkan dalam Dokumen Penawaran.
b. Penggantianpersonil inti dan/atau peralatan
(apabila ada) tidak boleh dilakukan kecuali
atas persetujuan tertulis KPA Selaku PPK.
c. Penggantianpersonil inti dan/atau peralatan
dilakukan oleh penyedia dengan
mengajukan permohonan terlebih dahulu
kepada KPA Selaku PPK dengan
melampirkan riwayat hidup/pengalaman
kerja Personil Inti dan/atau spesifikasi
Peralatan yang diusulkan beserta alasan
perubahan.
d. KPA Selaku PPK dapat menilai dan
menyetujui penempatan/penggantian
personil inti menurut kualifikasi yang
dibutuhkan.
e. Jika KPA Selaku PPK menilai bahwa Personil
Inti:
1) tidak mampu atau tidak dapat
melakukan pekerjaan dengan baik
2) berkelakuan tidak baik; atau
3) mengabaikan pekerjaan yang menjadi
tugasnya
20

maka penyedia berkewajiban untuk


menyediakan pengganti dan menjamin
personil inti tersebut meninggalkan lokasi
kerja dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender
sejak diminta oleh KPA Selaku PPK.
f. Jika penggantian personil inti dan/atau
peralatan perlu dilakukan, maka penyedia
berkewajiban untuk menyediakan pengganti
dengan kualifikasi yang setara atau lebih
baik dari personil inti dan/atau peralatan
yang digantikan, tanpa biaya tambahan
apapun.

31.2 Personil Inti


a. nama personil dan uraian pekerjaan,
kualifikasi minimum, perkiraan waktu
pelaksanaan dilampirkan dalam Lampiran
SSKK;
b. penyesuaian terhadap perkiraan waktu
pekerjaan personil akan dibuat oleh
penyedia melalui pemberitahuan secara
tertulis kepada KPA Selaku PPK;
c. jika terdapat pekerjaan tambah, maka
perkiraan waktu pelaksanaan harus
ditentukan secara tertulis oleh para pihak.

31.3 Persetujuan Personil


Personil inti dan subkonsultan yang telah
disetujui oleh KPA Selaku PPK harus
memberikan data dirinya dan surat keterangan
tidak mengidap penyakit berbahaya/menular
(medical certificate) serta terdaftar atau tertera
dalam daftar personalia penyedia.

31.4 Waktu kerja dan lembur


a. jam kerja dan waktu cuti untuk personil inti
ditentukan dalam Lampiran SSKK;
b. waktu kerja tenaga kerja asing yang
dimobilisasi ke Indonesia dihitung sejak
kedatangannya di Indonesia sesuai dengan
surat perintah mobilisasi;
c. tenaga kerja tidak berhak untuk dibayar atas
pekerjaan lembur atau sakit atau liburan,
karena perhitungan upah sudah mencakup
hal tersebut.

32. Perubahan 32.1 Perubahan personil dan peralatan yang


Personil diajukan oleh penyedia
a. Penyedia dapat mengajukan penggantian
personil dan/atau peralatan kepada KPA
21

Selaku PPK.
b. Penyedia tidak dibenarkan melakukan
penggantian personil dan/atau peralatan
tanpa persetujuan KPA Selaku PPK.
c. KPA Selaku PPK meneliti permohonan
perubahan personil dan/atau peralatan,
dengan ketentuan:
1) menyetujui permohonan perubahan
personil dan/atau peralatan bila alasan
yang diajukan dianggap sesuai;
2) tidak mengurangi kualifikasi tenaga ahli
yang ditawarkan, dan tidak menambah
nilai kontrak. Untuk kontrak biaya
satuan (time based), biaya langsung
personil harus disesuaikan dengan gaji
dasar tenaga ahli yang menggantikan.
3) menolak permohonan perubahan
personil dan/atau peralatan bila alasan
yang diajukan dianggap tidak sesuai.
d. untuk mengajukan permohonan
penggantian personil, penyedia diwajibkan
melampirkan riwayat hidup/pengalaman
kerja personil yang diusulkan dan disertai
alasan penggantian personil yang
bersangkutan.
e. Dalam rangka penilaian usulan penggantian
personil dan/atau peralatan, KPA SELAKU
PPK dapat dibantu Panitia/Pejabat Peneliti
Pelaksanaan Kontrak.

32.2 Penggantian personil penyedia atas perintah


KPA Selaku PPK
a. Personil dari penyedia yang dianggap tidak
mampu atau tidak dapat melakukan
pekerjaan dengan baik atau berkelakuan
tidak baik, harus segera dilakukan perintah
penggantian personil kepada penyedia
dengan kualifikasi keahlian personil yang
sama atau lebih tinggi.
b. Dalam waktu maksimal 15 (lima belas) hari
sejak perintah penggantian personil, harus
sudah menerima personil pengganti dari
penyedia.

33. Keterlambatan 33.1 Jika pekerjaan tidak selesai pada Tanggal


Pelaksanaan Penyelesaianbukan akibat Keadaan Kahar atau
Pekerjaan karena kesalahan atau kelalaian penyedia maka
KPA Selaku PPK dapat menghentikan Kontrak
dan menangguhkan pemenuhan hak-hak
penyedia atau menangguhkan pembayaran.
22

33.2 Jika keterlambatan tersebut semata-mata


disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian KPA
Selaku PPK maka KPA Selaku PPK dikenakan
Ganti Rugi atau memberikan Kompensasi.

33.3 Penghentian Kontrak atau Ganti Rugi atau


Kompensasi tidak dilakukan jika Tanggal
Penyelesaian disepakati oleh Para Pihak untuk
diperpanjang.

33.4 Tanggal Penyelesaian yang dimaksud dalam


Pasal ini adalah tanggal penyerahan setiap hasil
kerja dan tanggal penyelesaian semua
pekerjaan dengan penyerahan laporan akhir
sebagaimana ditetapkan dalam SPMK.

34. Denda dan 34.1 Denda merupakan sanksi finansial yang


Ganti Rugi dikenakan kepada penyedia, sedangkan ganti
rugi merupakan sanksi finansial yang
dikenakan kepada KPA Selaku PPK, karena
terjadinya cidera janji/wanprestasi yang
tercantum dalam Kontrak.

34.2 Besarnyadenda kepada penyedia atas


keterlambatan penyelesaian pekerjaan adalah:
1/1000 (satu perseribu) dari biaya kontrak,
apabila bagian pekerjaan belum diterima
oleh KPA Selaku PPK.

34.3 Besarnya ganti rugi yang dibayar oleh KPA


Selaku PPK atas keterlambatan pembayaran
adalah sebesar bunga dari nilai tagihan yang
terlambat dibayar, berdasarkan tingkat suku
bunga yang berlaku pada saat itu menurut
ketetapan Bank Indonesia, atau dapat diberikan
kompensasi sesuai ketentuan dalam SSKK.

34.4 Kompensasi dapat diberikan kepada penyedia


dalam hal sebagai berikut :
a. KPA Selaku PPK memodifikasi atau
mengubah jadwal yang dapat
mempengaruhi pekerjaan penyedia;
b. keterlambatan penerbitan SPP;
c. KPA Selaku PPK tidak memberikan gambar-
gambar, spesifikasi dan/atau instruksi sesuai
jadwal yang dibutuhkan;
d. penyedia belum bisa masuk ke lokasi
sebagaimana yang diperjanjikan dalam
kontrak;
23

e. KPA Selaku PPK menginstruksikan kepada


pihak penyedia untuk melakukan pengujian
tambahan yang setelah dilaksanakan
pengujian ternyata tidak diketemukan
kerusakan/ kegagalan/penyimpangan;
f. kompensasi lain yang dirinci dalam syarat
khusus kontrak.
g. jika kompensasi mengakibatkan
pengeluaran tambahan atau keterlambatan
penyelesaian pekerjaan maka KPA Selaku
PPK berkewajiban untuk membayar ganti
rugi dan/atau memberikan perpanjangan
waktu penyelesaian pekerjaan;
h. ganti rugi hanya dapat dibayarkan jika
berdasarkan data penunjang dan
perhitungan kompensasi yang diajukan oleh
penyedia kepada KPA Selaku PPK, dapat
dibuktikan kerugian nyata akibat peristiwa
kompensasi;
i. perpanjangan waktu penyelesaian
pekerjaan hanya dapat diberikan jika
berdasarkan data penunjang dan
perhitungan kompensasi yang diajukan oleh
penyedia kepada KPA Selaku PPK, dapat
dibuktikan kerugian nyata akibat peristiwa
kompensasi.

34.5 Tata cara pembayaran denda dan/atau ganti


rugi diatur dalam SSKK.

35. Laporan Hasil 35.1 Penyedia wajib menyerahkan laporan dan


Pekerjaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang telah
diatur dalam SSKK. Atas penerimaan laporan
dan dokumen tersebut dibuatkan tanda terima.

35.2 KPA Selaku PPKbersama penyedia melakukan


pembahasan dan penilaian terhadap laporan
dan dokumen yang diserahkan oleh penyedia.

35.3 KPA Selaku PPK dan penyedia membuat berita


acara hasil pembahasan dan penilaian laporan.

35.4 Jika terdapat kekurangan-kekurangan maka


penyedia harus memperbaiki dan
menyelesaikan kekurangan-kekurangan sesuai
yang diinstruksikan oleh KPA Selaku PPK dan
menyerahkan laporan hasil perbaikan kepada
KPA SELAKU PPK.

35.5 KPA Selaku PPK menerima kembali penyerahan


24

laporan yang telah diperbaiki oleh penyedia


(bila ada), dan membuat berita acara serah
terima laporan hasil perbaikan.

35.6 Laporan Akhir dibuat dalam bentuk cetakan


(hardcopy) dan/atau file (softcopy).

35.7 Menyerahkan semua rancangan, gambar,


spesifikasi, desain, laporan, dan dokumen-
dokumen lain serta piranti lunak yang
dipersiapkan oleh penyedia berdasarkan
kontrak ini dan menjadi hak milik KPA Selaku
PPK.

35.8 Penyedia paling lambat pada waktu pemutusan


atau akhir masa kontrak berkewajiban untuk
menyerahkan semua dokumen tersebut beserta
daftar rinciannya kepada KPA Selaku PPK.

35.9 Penyedia dapat menyimpan 1 (satu) buah


salinan tiap dokumen dan piranti lunak
tersebut setelah mendapatkan persetujuan KPA
Selaku PPK.

35.10 Jika dikemudian hari penyedia dan pihak


ketiga akan melakukan pengembangan
terhadap piranti lunak tersebut dan untuk itu
diperlukan lisensi maka penyedia harus
mendapatkan persetujuan lebih dahulu dari PA.
Untuk tujuan ini PA berhak untuk
mendapatkan penggantian biaya atas
pengembangan piranti lunak tersebut.

35.11 Pembatasan (jika ada) mengenai penggunaan


dokumen dan piranti lunak tersebut di atas di
kemudian hari diatur dalam SSKK.

B.5 Penghentian dan Pemutusan Kontrak

36. Penghentian 36.1 Penghentian Kontrak dapat dilakukan karena


Kontrak pekerjaan sudah selesai atau terjadi Keadaan
Kahar.

36.2 Dalam hal Kontrak dihentikan, maka KPA


Selaku PPK wajib membayar kepada penyedia
sesuai dengan prestasi pekerjaan yang telah
dicapai sampai dengan tanggal berlakunya
penghentian kontrak.

36.3 KPA Selaku PPK dengan pemberitahuan tertulis


25

kepada penyedia dapat memerintahkan


penghentian Kontrak jika penyedia gagal untuk
melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam
Kontrak [Link] tertulis tersebut
harus memuat:
1) alasan penghentian Kontrak; dan
2) persyaratan kepada penyedia untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam
jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja
setelah pemberitahuan diterima.

37. Pemutusan Pemutusan Kontrak dpat dilakukan oleh pihak KPA


Kontrak Selaku PPK atau pihak Penyedia.

38. Pemutusan 38.1 Menyimpang dari Pasal 1266 dan 1267 Kitab
Kontrak oleh Undang-Undang Hukum Perdata, KPA Selaku
KPA SELAKU PPK dapat memutuskan Kontrak ini melalui
PPK pemberitahuan tertulis kepada penyedia setelah
terjadinya hal-hal sebagai berikut:
a. kebutuhan jasa tidak dapat ditunda
melebihi batas berakhirnya kontrak;
b. berdasarkan penelitian KPA Selaku PPK,
Penyedia tidak akan mampu menyelesaikan
keseluruhan pekerjaan diberikan
kesempatan sampai dengan 50 (lima
puluh) hari kalender sejak masa
berakhirnya pelaksanaan pekerjaan,
Penyedia Barang/Jasa tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan;
c. setelah diberikan kesempatan
menyelesaikan pekerjaan sampai dengan
50 (lima puluh) hari kalender sejak masa
berakhirnya pelaksanaan pekerjaan,
Penyedia Barang/Jasa tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan;
d. Penyedia lalai/cidera janji dalam
melaksanakan kewajibannya dan tidak
memperbaiki kelalaiannya dalam jangka
waktu yang telah ditetapkan;
e. Penyedia tidak memperbaiki kelalaiannya
dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
kerja setelah diberi tahu atau dalam jangka
waktu lain yang disetujui secara tertulis
oleh KPA Selaku PPK;
f. Penyedia berada dalam keadaan pailit;
g. karena Keadaan Kahar, penyedia tidak
dapat melaksanakan bagian pokok
pekerjaan Jasa Konsultansi ini selama
sekurang-kurangnya 60 (enam puluh) hari
kalender;
26

h. penyedia terbukti melakukan KKN,


kecurangan dan/atau pemalsuan dalam
proses Pengadaan yang diputuskan oleh
instansi yang berwenang; dan/atau
i. pengaduan tentang penyimpangan
prosedur, dugaan KKN dan/atau
pelanggararan persaingan usaha yang
sehat dalam pelaksanaan pengadaan
dinyatakan benar oleh instansi yang
berwenang.

38.2 Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan


karena kesalahan Penyedia:
a. Sisa Uang Muka harus dilunasi oleh
Penyedia atau Jaminan Uang Muka
dicairkan (apabila ada);
b. Penyedia membayar denda keterlambatan
sebagaimana tercantum dalam SSKK
(apabila ada);
c. Penyedia dimasukkan dalam Daftar Hitam;
dan
d. KPA Selaku PPK membayar kepada
Penyedia sesuai dengan pencapaian
prestasi pekerjaan yang telah diterima oleh
KPA Selaku PPK sampai dengan tanggal
berlakunya pemutusan Kontrak dikurangi
dengan denda keterlambatan yang harus
dibayar Penyedia (apabila ada), serta
Penyedia menyerahkan semua hasil
pelaksanaan pekerjaan kepada KPA Selaku
PPK dan selanjutnya menjadi hak milik KPA
Selaku PPK.

39. Pemutusan 39.1 Menyimpang dari Pasal 1266 dan 1267 Kitab
Kontrak oleh Undang-Undang Hukum Perdata, Penyedia
Penyedia dapat memutuskan Kontrak ini melalui
pemberitahuan tertulis kepada KPA Selaku PPK
apabila KPA Selaku PPK tidak menerbitkan SPP
untuk pembayaran tagihan angsuran sesuai
dengan yang disepakati sebagaimana
tercantum dalam SSKK;

39.2 Penyedia dapat memutuskan Kontrak apabila


KPA Selaku PPK gagal mematuhi keputusan
akhir penyelesaian perselisihan. Dalam hal ini
pemutusan Kontrak dilakukan sekurang-
kurangnya 30 (tiga puluh) hari setelah
Penyedia menyampaikan pemberitahuan
rencana pemutusan Kontrak secara tertulis
kepada KPA Selaku PPK;
27

39.3 Kejadian sebagaimana dimaksud pada angka


45.2 adalah :
a. Akibat keadaan kahar, sehingga penyedia
tidak dapat melaksanakan pekerjaan sesuai
ketentuan dokumen kontrak;
b. KPA Selaku PPK gagal mematuhi keputusan
akhir penyelesaian perselisihan.

39.4 Dalam hal terjadi pemutusan Kontrak, KPA


Selaku PPK membayar kepada penyedia sesuai
dengan pencapaian prestasi pekerjaan yang
telah diterima oleh KPA Selaku PPK sampai
dengan tanggal berlakunya pemutusan Kontrak
dikurangi dengan denda keterlambatan yang
harus dibayar Penyedia (apabila ada), serta
Penyedia menyerahkan semua hasil
pelaksanaan kepada KPA Selaku PPK dan
selanjutnya menjadi hak milik KPA Selaku PPK.

40. Pemutusan Dalam hal pemutusan kontrak dilakukan karena KPA


Kontrak akibat Selaku PPK terlibat penyimpangan prosedur,
lainnya melakukan KKN dan/atau pelanggararan persaingan
usaha yang sehat dalam pelaksanaan pengadaan,
maka KPA Selaku PPK dikenakan sanksi berdasarkan
peraturan perundang-undangan.

d) HAK DAN KEWAJIBAN PENYEDIA

41. Hak dan 41.1 menerima pembayaran untuk pelaksanaan


Kewajiban pekerjaan sesuai dengan harga yang telah
Penyedia ditentukan dalam kontrak;

41.2 berhak meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk


sarana dan prasarana dari pihak KPA Selaku
PPK untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan
sesuai ketentuan kontrak;

41.3 melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara


periodik kepada pihak KPA Selaku PPK;

41.4 melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan


sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan
yang telah ditetapkan dalam kontrak;

41.5 memberikan keterangan-keterangan yang


diperlukan untuk pemeriksaan pelaksanaan
yang dilakukan pihak KPA Selaku PPK;
28

41.6 menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan


jadwal penyerahan pekerjaan yang telah
ditetapkan dalam kontrak;

41.7 mengambil langkah-langkah yang memadai


untuk melindungi lingkungan tempat kerja dan
membatasi perusakan dan gangguan kepada
masyarakat maupun miliknya, akibat kegiatan
penyedia;

41.8 melaksanakan perjanjian dan kewajiban-


kewajiban yang dibebankan kepadanya dengan
penuh tanggung-jawab, ketekunan, efisien dan
ekonomis serta memenuhi kriteria teknik
profesional dan melindungi secara efektif
peralatan-peralatan, mesin, material yang
berkaitan dengan pekerjaan dalam kontrak;

41.9 melaksanakan jasa konsultansi sesuai dengan


hukum yang berlaku di Indonesia. KPA Selaku
PPK secara tertulis akan memberitahukan
kepada penyedia mengenai kebiasaan-
kebiasaan setempat;

41.10 penyedia tidak akan menerima keuntungan


untuk mereka sendiri dari komisi usaha (trade
commision), rabat (discount) atau
pembayaran-pembayaran lain yang
berhubungan dengan kegiatan pelaksanaan
jasa konsultansi;

41.11 penyedia setuju bahwa selama pelaksanaan


kontrak, penyedia dinyatakan tidak
berwenang untuk melaksanakan jasa
konsultansi maupun mengadakan barang
yang tidak sesuai dengan kontrak;

41.12 penyedia dilarang baik secara langsung atau


tidak langsung melakukan kegiatan yang
akan menimbulkan pertentangan kepentingan
(conflict of interest) dengan kegiatan yang
merupakan tugas penyedia;

41.13 tanggungjawab penyedia adalah ketentuan


mengenai hal-hal pertanggung-jawaban
penyedia sesuai dengan hukum yang berlaku
di Indonesia;

41.14 pemeriksaan keuangan adalah ketentuan


mengenai kewajiban penyedia untuk merinci
29

setiap biaya-biaya yang berhubungan dengan


pelaksanaan perjanjian, sehingga dapat
dilakukan pemeriksaan keuangan. Selain itu,
dengan sepengetahuanpenyedia atau
kuasanya, KPA Selaku PPK dapat memeriksa
dan menggandakan dokumen pengeluaran
yang telah diaudit sampai 1 (satu) tahun
setelah berakhirnya kontrak;

41.15 ketentuan mengenai tindakan yang perlu


mendapat persetujuan KPA Selaku PPK
meliputi:
a. memobilisasi personil yang terdapat dalam
daftar;
b. membuat subkontrak dengan pengaturan:
(i) cara seleksi, waktu, dan kualifikasi dari
subkonsultan harus mendapat persetujuan
tertulis sebelum pelaksanaan, (ii) Penyedia
bertanggung-jawab penuh terhadap
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan
oleh subkonsultan dan personilnya.

41.16 ketentuan mengenai dokumen-dokumen yang


disiapkan olehpenyedia dan menjadi hak
milik KPA Selaku PPK: mengatur bahwa
semua rancangan, gambar-gambar,
spesifikasi, disain, laporan dan dokumen-
dokumen lain serta software yang disiapkan
oleh penyedia jasa menjadi hak milik KPA
Selaku PPK. Penyedia, segera setelah
pekerjaan selesai atau berakhirnya kontrak
harus menyerahkan seluruh dokumen dan
data pendukung lainnya kepada KPA Selaku
PPK. Penyedia dapat menyimpan salinan dari
dokumen-dokumen tersebut.
41.17 Kewenangan anggota penyedia adalah
ketentuan yang mengatur mengenai apabila
penyedia adalah sebuah joint venture yang
beranggotakan lebih dari satupenyedia,
anggota joint venture tersebut memberi kuasa
kepada salah satu anggota joint venture untuk
bertindak dan mewakili hak-hak dan
kewajiban anggota penyedia lainnya terhadap
KPA Selaku PPK.
41.18 ketentuan peralatan dan bahan yang
disediakan oleh KPA Selaku PPK untuk
kebutuhan pelaksanaan pekerjaan oleh
penyedia. Pada saat berakhirnya kontrak,
Penyedia harus menyerahkan peralatan dan
30

bahan sisa sesuai dengan instruksi KPA Selaku


PPK

42. Penggunaan Penyedia tidak diperkenankan menggunakan dan


Dokumen menginformasikan dokumen kontrak ataudokumen
Kontrak dan lainnya yang berhubungan dengan kontrak oleh
Informasi pihak lain,misalnya Kerangka Acuan Kerja, gambar-
gambar, pola, serta informasilain yang berkaitan
dengan kontrak tanpa ijin tertulis dari KPA Selaku
PPK.

43. Hak Atas Penyedia wajib membebaskan KPA Selaku PPK dari
Kekayaan segala tuntutan atau klaim dari pihak ketiga yang
Intelektual disebabkan penggunaan Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI) oleh penyedia.

44. Layanan Penyedia wajib menyediakan layanan tambahan


Tambahan lainnya seperti pembuatan maket/model dari hasil
desain sesuai dengan lingkup pekerjaannya.

45. Penangguhan 45.1 Penyedia berkewajiban untuk melindungi,


dan Resiko membebaskan, dan menanggung tanpa batas
KPA Selaku PPK beserta instansinya terhadap
semua bentuk tuntutan, tanggung jawab,
kewajiban, kehilangan, kerugian, denda,
gugatan atau tuntutan hukum, proses
pemeriksaan hukum, dan biaya yang
dikenakan terhadap KPA Selaku PPK beserta
instansinya (kecuali kerugian yang mendasari
tuntutan tersebut disebabkan kesalahan atau
kelalaian berat KPA Selaku PPK) sehubungan
dengan klaim yang timbul dari hal-hal
berikut terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja
sampai dengan tanggal penandatanganan
berita acara penyerahan akhir:
a. kehilangan atau kerusakan peralatan dan
harta benda penyedia, dan Personil;
b. cidera tubuh, sakit atau kematian Personil;
c. kehilangan atau kerusakan harta benda, dan
cidera tubuh, sakit atau kematian pihak
ketiga;

45.2 Terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja sampai


dengan tanggal penandatanganan berita
acara penyerahan awal, semua risiko
kehilangan atau kerusakan Hasil Pekerjaan
ini, Bahan dan Perlengkapan merupakan
risiko penyedia, kecuali kerugian atau
kerusakan tersebut diakibatkan oleh
kesalahan atau kelalaian KPA Selaku PPK.
31

45.3 Pertanggungan asuransi yang dimiliki oleh


penyedia tidak membatasi kewajiban
penanggungan dalam syarat ini.

46. Keselamatan Penyedia bertanggung jawab atas keselamatan semua


pihak di lokasi kerja.

47. Pembayaran Penyedia berkewajiban untuk membayarkan sanksi


Denda financial berupa Denda sebagai akibat wanprestasi
atau cidera janji terhadap kewajiban-kewajiban
penyedia dalam Kontrak ini. KPA Selaku PPK
mengenakan Denda dengan memotong angsuran
pembayaran prestasi pekerjaan penyedia.
Pembayaran Denda tidak mengurangi tanggung
jawab kontraktual penyedia.

e) HAK DAN KEWAJIBAN KPA SELAKU PPK

48. Hak dan KPA SELAKU PPK memiliki hak dan kewajiban :
Kewajiban KPA a. mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang
SELAKU PPK dilaksanakan oleh penyedia;
b. meminta laporan-laporan secara periodik
mengenai pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan
oleh pihak penyedia;
c. membayar pekerjaan sesuai dengan harga yang
tercantum dalam kontrak yang telah ditetapkan
kepada penyedia;
d. mengenakan denda keterlambatan (apabila ada);
e. membayar uang muka (apabila diberikan);
f. memberikan instruksi sesuai jadwal;
g. membayar ganti rugi, melindungi dan membela
Penyedia terhadap tuntutan hukum, tuntutan
lainnya dan tanggungan yang timbul karena
kesalahan, kecerobohan dan pelanggaran kontrak
yang dilakukan KPA Selaku PPK.
h. memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana
yang dibutuhkan oleh pihak penyedia untuk
kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai
ketentuan kontrak;
i. ketentuan peralatan dan bahan yang disediakan
oleh KPA Selaku PPK untuk kebutuhan
pelaksanaan pekerjaan oleh penyedia. Pada saat
berakhirnya kontrak, Penyedia harus
menyerahkan peralatan dan bahan sisa sesuai
dengan instruksi KPA Selaku PPK

49. Fasilitas KPA Selaku PPK dapat memberikan fasilitas berupa


sarana dan prasarana atau kemudahan lainnya (jika
ada) yang tercantum dalam SSKK untuk kelancaran
32

pelaksanaan pekerjaan ini.

50. Peristiwa 50.1 Peristiwa Kompensasi dapat diberikan kepada


Kompensasi penyedia dalam hal sebagai berikut:
1) KPA Selaku PPK mengubah jadwal yang
dapat mempengaruhi pelaksanaan
pekerjaan;
2) keterlambatan pembayaran kepada
penyedia;
3) KPA Selaku PPK tidak memberikan
gambar-gambar, spesifikasi dan/atau
instruksi sesuai jadwal yang dibutuhkan;
4) penyedia belum bisa masuk ke lokasi sesuai
jadwal;
5) KPA Selaku PPK menginstruksikan kepada
pihak penyedia untuk melakukan
pengujian tambahan yang setelah
dilaksanakan pengujian ternyata tidak
ditemukan
kerusakan/kegagalan/penyimpangan;
6) KPA Selaku PPK memerintahkan
penundaan pelaksanaan pekerjaan;
7) KPA SELAKU PPK memerintahkan untuk
mengatasi kondisi tertentu yang tidak
dapat diduga sebelumnya dan disebabkan
oleh KPA Selaku PPK;
8) ketentuan lain dalam SPK.

50.2 Jika Peristiwa Kompensasi mengakibatkan


pengeluaran tambahan dan/atau
keterlambatan penyelesaian pekerjaan maka
KPA Selaku PPK berkewajiban untuk
membayar ganti rugi dan/atau memberikan
perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan.

50.3 Ganti rugi hanya dapat dibayarkan jika


berdasarkan data penunjang dan perhitungan
kompensasi yang diajukan oleh penyedia
kepada KPA Selaku PPK, dapat dibuktikan
kerugian nyata akibat Peristiwa Kompensasi.

50.4 Jika terjadi Peristiwa Kompensasi sehingga


penyelesaian pekerjaan akan melampaui
Tanggal Penyelesaian maka penyedia berhak
untuk meminta perpanjangan Tanggal
Penyelesaian berdasarkan data penunjang dan
perhitungan kompensasi yang diajukan oleh
penyedia kepada KPA Selaku PPK.
Perpanjangan Tanggal Penyelesaian harus
dilakukan melalui adendum Kontrak jika
33

perpanjangan tersebut mengubah Masa


Kontrak.

50.5 Penyedia tidak berhak atas ganti rugi


dan/atau perpanjangan waktu penyelesaian
pekerjaan jika penyedia gagal atau lalai untuk
memberikan peringatan dini dalam
mengantisipasi atau mengatasi dampak
Peristiwa Kompensasi.

f) KEWAJARAN DAN ITIKAD BAIK

51. Itikad Baik 51.1 Para pihak bertindak berdasarkan asas saling
percaya yang disesuaikan dengan hak-hak
yang terdapat dalam kontrak.

51.2 Para pihak setuju untuk melaksanakan


perjanjian dengan jujur tanpa menonjolkan
kepentingan masing-masing pihak. Jika selama
kontrak, salah satu pihak merasa dirugikan,
maka diupayakan tindakan yang terbaik untuk
mengatasi keadaan tersebut.

51.3 Masing-masing Pihak dalam Kontrak


berkewajiban untuk bertindak dengan itikad
baik sehubungan dengan hak-hak Pihak lain,
dan mengambil semua langkah yang
diperlukan untuk memastikan terpenuhinya
tujuan Kontrak ini.

52. Pelaksanaan Jika dalam pelaksanaan Kontrak ditemukan kesulitan


Kontrak yang menghambat pemenuhan tujuan Kontrak maka
masing-masing Pihak berkewajiban untuk tetap
berupaya bertindak wajar di antara mereka tanpa
merugikan kepentingan satu sama lain. Jika Pihak
yang satu menganggap pelaksanaan Kontrak tidak
wajar dan adil maka kedua belah Pihak harus
megupayakan tindakan yang terbaik untuk mengatasi
situasi tersebut.

g) PENYELESAIAN PERSELISIHAN

53. Perdamaian 63.1 Para Pihak berkewajiban untuk berupaya


sungguh-sungguh menyelesaikan secara damai
semua perselisihan yang timbul dari atau
berhubungan dengan Kontrak ini atau
interpretasinya selama atau setelah
pelaksanaan pekerjaan Jasa Konsultansi ini;

63.2 Penyelesaian perselisihan atau sengketa antara


34

para pihak dalam Kontrak dapat dilakukan


melalui musyawarah, arbitrase, mediasi,
konsiliasi, atau pengadilan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

54. Lembaga Dalam hal penyelesaian perselisihan melalui


Pemutus perdamaian tidak tercapai, maka penyelesaian
Sengketa perselisihan tersebut dapat dilakukan melalui:
a. arbitrase,
b. alternatif penyelesaian sengketa, atau
c. pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
35

Anda mungkin juga menyukai