0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

Cerita Hutan Terbakar dan Dilema Nara

Dokumen ini berisi beberapa contoh cerpen, termasuk 'Hutan Merah' yang menggambarkan perjuangan Bora, anak gajah, untuk menyelamatkan ibunya dari kebakaran hutan. Cerita lainnya, 'Dilema Nara', menggambarkan konflik emosional Nara yang berjuang dengan identitas dan stigma keluarganya. Selain itu, terdapat cerpen 'Badai yang Reda' yang menggambarkan hubungan penulis dengan laut dan ketakutannya kehilangan orang yang dicintai.

Diunggah oleh

awalinaawalina77
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

Cerita Hutan Terbakar dan Dilema Nara

Dokumen ini berisi beberapa contoh cerpen, termasuk 'Hutan Merah' yang menggambarkan perjuangan Bora, anak gajah, untuk menyelamatkan ibunya dari kebakaran hutan. Cerita lainnya, 'Dilema Nara', menggambarkan konflik emosional Nara yang berjuang dengan identitas dan stigma keluarganya. Selain itu, terdapat cerpen 'Badai yang Reda' yang menggambarkan hubungan penulis dengan laut dan ketakutannya kehilangan orang yang dicintai.

Diunggah oleh

awalinaawalina77
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

5.

Contoh Cerpen berjudul Gosip di Ruang Ganti

8. Contoh Cerpen berjudul Hutan Merah karya Fauzia. A

Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya


pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung
berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih
sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa
penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah
Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di
sebuah sungai.

Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—


dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan
mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu
bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal.

“Hei, lihat itu!”

Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke


langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari
sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena
aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka
tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.

Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil
memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”

Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka


terbakar!

“Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil
menarik belalai Bora dengan belalainya..

Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka


bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan
ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya


bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.

“Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.


“I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak
tahu di mana ibu Bora berada.

“Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai


Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.

Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik


kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah
dewasa lainnya.”

Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya


dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.

“Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.

Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia


langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang
bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di
dekat sarangnya itu.

“Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.

“Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil
menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.

“Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih
bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?

“Cepat pergi, Bora!”

“Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan


langsung menarik belalai Bora.

“Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan
menyelamatkanmu!”

“Jangan, Bora!” bentak Pipin

Kraaak! Braaak!

“IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang


sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.

“Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.
Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari
sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di
sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan
merah yang sangat panas.

Baca juga: Contoh Teks Editorial Singkat Beserta Strukturnya

9. Contoh Cerpen berjudul Dilema Nara karya Alya Khalisah

Nara terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang


entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar.
Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam.

Kemudian, Nara bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu
memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar
dari luar.

Nara menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun.


Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam
kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup
dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang
menggiringnya menuju kegilaan.

Nara berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil


menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet
hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nara berhenti
melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya.

Nara mendongak. Wajahnya terasa familiar.

“Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam.
“KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak.

Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!”

Nara tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya


yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar
penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nara terisak diiringi suara
teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut
wajahnya.
Nara adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh
dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira
hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan.
Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia
menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya.

Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita


yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat
dengan keluarga Nara. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah
kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh.

Istri pertama ayah Nara adalah sahabat dekat ibu Nara. Sahabat dekat yang
saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk
tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang
telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya.
Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama.

Nina, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat
ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai
berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela
di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya.

“Na?” Lamunan Nara terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong.

“Nara? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nara
beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi
ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu.

“Nara, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,”

Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang


cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup.
Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan
teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi
berkepanjangan yang diderita Nara selama ini. Ia tetap tidak akan hidup
dalam damai seperti sebelumnya.

Nara bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nina. Gadis itu
ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nara musnah. Nara tahu apa artinya itu.

Nara memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan


yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian
yang terasa begitu cepat.
Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting
hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis
hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang
mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan
menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya
putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan
fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nara tahu, kematiannya
akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang
diinginkan semua orang.

Nara tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya


merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang,
ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-
orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang
dirindukan.

Nara menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai


yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali
datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi
lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian.

Baca juga: Contoh Teks Laporan Hasil Observasi, Pengertian &


Struktur

10. Contoh Cerpen Panjang berjudul Badai yang Reda karya


Fauzia. A

Puluhan layang-layang yang berada di atas kepalaku terlihat seperti


rangkaian burung yang sedang bermigrasi. Angin pantai yang berhembus
kencang membuat mereka terbang lebih jauh dan tinggi, tapi tetap di bawah
kendali kekangan tali kenur. Aku ingin seperti layang-layang. Walau
beberapa orang yang kukenal mengatakan, hidup seperti layang-layang
tidak sepenuhnya bebas. Sekilas terlihat bebas, tapi sebuah tali tipis namun
kuat mengaturnya.

Tapi aku tetap ingin menjadi layang-layang yang terbang tinggi di langit
Pangandaran yang cerah ini.

Aku melihat sekeliling, pertengahan bulan Juli memang puncak liburan di


mana-mana. Banyak wisatawan asing yang sedang bermain di Pantai
Selatan ini. Entah itu bermain layang-layang atau hanya sekadar duduk-
duduk menikmati pemandangan Pantai Pangandaran yang cerah ini. Aku
sendiri sedang duduk di depan kios Uwak Imas yang berjualan pakaian.
Bau amis khas laut (dan juga karena pabrik ikan asin yang tidak jauh dari
tempatku sekarang) sudah menjadi udara sehari-hari yang kuhirup. Sinar
matahari yang terik menyentuh kulitku dengan ganas, tapi aku tetap
bertahan duduk di luar kios. Pasalnya, Uwak Imas tengah sibuk melayani
turis asing yang ingin membeli dagangannya. Aku tidak mau masuk, karena
pasti Uwak Imas akan menyuruhku untuk melayani turis-turis itu, walaupun
dia tahu kalau aku hanya bisa “yes” dan “no”.

Ketika aku mengalihkan pandangan dari layang-layang, aku melihat Bapak


dan tiga orang lainnya berada di bibir pantai, bersiap untuk berlayar.
Seingatku, Bapak sudah berlayar tadi malam, dan baru kembali tadi subuh.
Kenapa sekarang mereka siap-siap ingin berlayar lagi? Apa tiba-tiba radar di
kapal milik Haji Miun menangkap segerombolan ikan tuna di tengah laut
sana? Eiy … itu pemikiran bodoh! Satu-satunya alat canggih yang mereka
gunakan adalah naluri nelayan mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun
lamanya.

Kakiku bergerak ke arah mereka. Angin berhembus sangat keras di


telingaku. Dibesarkan di pesisir pantai membuat aku memiliki ketakutan
yang berbeda dari orang lain. Di saat orang lain ketakutan melihat
keluarganya terombang-ambing ombak, aku merasakan hal yang jauh
daripada itu. Aku takut membenci laut. Aku takut jika laut yang selama ini
kuanggap teman, berbalik menjadi musuhku dan melenyapkan segala yang
kucintai.

Bagiku laut adalah rumah, dan rumahku adalah laut.

Saat aku sudah berada dekat dengan bibir pantai, Bapak melambai padaku
sambil tersenyum. Kulitnya hitam karena terbakar matahari, rambutnya
sudah memudar—bukan karena uban tapi karena sering terkena air laut.
Bapakku masih terlihat segar, meski wajahnya sudah dipenuhi keriput.

Mata Bapak yang berwarna hitam pekat tampak bercahaya saat melihatku,
seperti air laut yang memantulkan sinar matahari. Aku selalu suka Bapak
yang tersenyum seperti itu, tapi entah kenapa kakiku bergetar melihat
Beliau sekarang.

“Bapak bade ka laut deui (Bapak mau ngelaut lagi)?”

Bapak meletakkan jaring yang baru selesai ia rapikan ke dalam perahu.


“Sanes, Jang. Iyeu Pak Sudir ngajak museup, mempeung
cuacana sae (enggak, Jang. Ini Pak Sudir ngajak mancing, mumpung cerah
katanya).”

“Ujang bade ngiring moal (Ujang mau ikut juga)?”


Sejenak aku ragu dengan ajakan Pak Sudir itu. Tidak, bukannya aku takut
laut, hanya saja… seperti ada yang mengganjal di hatiku. Jujur saja,
perasaan seperti ini sudah sangat sering kurasakan—terutama saat melihat
Bapak pergi berlayar tengah malam. Tapi tetap saja aku merasa asing
dengan rasa takut ini. Seperti perahu di tengah badai, di tengah laut.

“Ah… atos wae, atuh maneh jaga kios Uwak bae lah (udah, kamu jagain kios
Uwak-mu sana).”

Aku tidak bisa menjawab kata-kata terakhir Bapak sebelum Beliau naik ke
atas perahu dan berlayar bersama tiga orang pria lainnya. Rasanya… sama
seperti melihat Ibu meninggalkan rumah di hari itu. Umurku saat itu sudah
menginjak dua belas tahun, cukup mengerti tentang situasi macam itu. Dan
sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagi untuk Ibu, karena air mata ini
tidak cukup untuk membawanya kembali.

Tapi, apakah aku harus menangis hari ini? Untuk membuat perahu yang
ditumpangi Bapak berbalik lagi?

Konyol! Harusnya aku ingat, umurku sudah menginjak tujuh belas tahun.

Aku tidak meninggalkan bibir pantai dan terus menatap perahu Bapak yang
sudah tidak terlihat mata. Sesekali ombak menerpa kakiku. Tidak peduli
dengan sinar menyengat matahari Pantai Selatan dan turis-turis yang masih
memadati sisi pantai sebelah sana, aku tetap duduk di atas bebatuan.
Sesekali mataku menangkap keluarga yang asik bermain air atau hanya
duduk-duduk di atas pasir.

Aku mungkin sama seperti mereka jika tidak dibesarkan di laut—


menganggap laut sebagai tempat menyenangkan. Tapi aku tidak bisa
tertawa seperti itu, sekalipun aku menganggap laut adalah rumah dan
temanku. Laut menyimpan banyak ketakutan dan kekhawatiran.

Aku menutup mata, berdoa sambil merasakan angin menerpa tubuhku dan
ombak yang terus membasahi kakiku. Kumohon… kali ini pun, jaga Bapak.

Hari semakin sore, matahari pun sudah tidak seterik sebelumnya. Meski
kekhawatiran itu masih ada, aku beranjak dari bebatuan dan kembali ke kios
Uwak Imas. Begitu aku sampai di sana, Uwak Imas langsung menyambutku
dengan semprotan mulut bawelnya. Aku hanya nyengir, tidak mau melawan
sekaligus menutupi kekhawatiranku. Aku baru akan merasa lega kalau sudah
melihat Bapak kembali.

Karena sudah tidak ada lagi orang bule yang mendatangi kios Uwak, hanya
turis domestik, aku pun mulai membantunya di kios. Aku hampir melempar
uang koin lima ratusan ke wajah pembeli yang baru selesai membayar ini
saat suara Uwak Imas tiba-tiba memekik keras di depan kios. Aku dan
pembeli itu pun melihat ke arah luar, dan kemudian menghampiri Uwak
Imas. Ternyata Uwak Imas tidak sendiri, ada Bi Iyah dan Mang Satya—
penjual pakaian lainnya sekaligus tetanggaku—juga.

“Suara naon eta? Saumur hirup nembe ngadangu sora ombak sepertos
kitu (suara apa itu? seumur hidup baru dengar suara ombak seperti itu).”

Ucapan Uwak Imas ditanggapi dua orang lainnya dengan heboh. Aku
mengabaikan mereka dan memilih memandangi pantai dari tempatku. Tadi
di kios Uwak suara radio dipasang keras-keras, jadi aku tidak bisa
mendengar jelas suara yang Uwak bilang. Benarkah suara ombak sekeras
itu?

Mataku memicing. Kios ini tidak jauh dari titik keramaian pantai, oleh sebab
itu Uwak tidak pernah sepi pembeli. Keramaian di sana tidak jauh berbeda
dari beberapa saat lalu, saat aku duduk di atas bebatuan. Suara teriakan
bahagia terdengar sampai sini. Namun beberapa detik kemudian, teriakan
bahagia itu menjadi pekikkan ketakutan.

“Allahu Akbar! Ombak! Ombak!”

Teriakan itu bersahut-sahutan. Gemuruh yang—mungkin—hanya didengar


Uwak Imas, kini aku bisa mendengarnya juga. Orang-orang berlari ke arah
kami. Tidak, lebih tepatnya menjauh dari bibir pantai ke tempat sejauh
mungkin. Tapi aku tidak bisa bergerak meski keadaan sangat kacau di
sekitarku. Suaraku hanya tertahan sampai tenggorokan, dan mataku hanya
bergerak ke atas, mengikuti gerakkan ombak di atas kepalaku. Telingaku
teredam. Seluruh tubuhku bergerak mengikuti alur, terhempas. Nafasku
terasa begitu perih, dan itu menjulur ke semua bagian tubuhku.

“Bapak…”

Dengan sisa kekuatanku, aku berucap pada diri sendiri.

Di dalam kegelapan pandanganku.

***

Suara pedih mengelilingiku. Bagai asap pekat yang menyesakkan


dada, tidak mudah hilang meski aku meniupnya terus menerus, tetap
menyerang paru-paru, serapat apapun aku menutup hidung. Suara orang-
orang bersahutan, saling berteriak. Seolah waktu terus mengejar mereka
tanpa lelah, mereka pun tidak berhenti bergerak.
Dalam kericuhan itu, kulihat sosok ringkih yang kusayangi berdiri dengan
mata memerah di ujung sana. Aku tahu Beliau menangis, tapi aku tidak bisa
mendengar suaranya. Kaos belel yang ia dapat dari kampanye partai politik
beberapa tahun yang lalu tampak basah kuyup, begitu juga dengan celana
kain hitamnya. Ia meremas topi yang tadi siang ia kenakan.

Langit malam di belakangnya, seperti latar belakang yang menggambarkan


kehampaannya. Dan aku hanya bisa berdiri di sini, tanpa bisa mengucapkan
kata atau bahkan menggerakan kaki untuk mendekatinya. Kakinya yang
gemetar, perlahan menekuk, berjongkok di depan sosok kurus yang terbujur
kaku. Lalu, seluruh tubuhnya bergetar, tanpa terkecuali.

Bapak terus menunduk, tidak mengucapkan apapun, dan lama kelamaan


aku bisa merasakan hujan membasahi tubuhku sangat deras, seperti air
mata Bapak yang tidak bisa berhenti. Tangannya menggapai-gapai sesuatu
dengan isak tangis pilunya memenuhi paru-paru.

Seseorang datang setelahnya, berusaha menghentikan Bapak yang seperti


rela berbaring di sana untuk menemani sosok itu. Sekuat apapun Bapak
berteriak, semua tidak akan kembali. Dan bodohnya, aku hanya bisa berdiri
di sini.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Hanya membiarkan mereka menutup kantong kuning yang membungkus


tubuhku, menyisakan tangis pedih Bapak di antara huru-hara yang terjadi di
sana. Kegelapan itu pun berubah menjadi cahaya terang.

Berjalan menuju cahaya menyilaukan itu, sekali lagi aku berharap. Laut,
kumohon kali ini—tidak, maksudku selamanya—jaga Bapak.

11. Contoh Cerpen berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A.


Navis

Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak temannya


di dunia terpanggang panas, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti
lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka
tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan, ada salah seorang yang telah
sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar Syeh pula. Lalu Haji Saleh
mendekati mereka, lalu bertanya kenapa mereka di neraka semuanya.
Tetapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun tak mengerti juga.
“Bagaimana Tuhan kita ini?” kata Haji Saleh kemudian. “Bukankah kita
disuruh-Nya taat beribadah, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita
kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan ke neraka.”

“Ya. Kami juga berpendapat demikian. Tengoklah itu, orang-orang senegeri


kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.”

“Ini sungguh tidak adil.”

“Memang tidak adil,” kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

“Kalau begitu, kita harus minta kesaksian kesalahan kita. Kita harus

mengingatkan Tuhan, kalau-kalau ia silap memasukkan kita ke neraka ini.”

“Benar. Benar. Benar,” sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

“Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?” suatu suara


melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

“Kita protes. Kita resolusikan,” kata Haji Saleh.

“Apa kita revolusikan juga?” tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia
menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

“Itu tergantung pada keadaan,” kata Haji Saleh. “Yang penting sekarang,
mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.”

“Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita
peroleh,” sebuah suara menyela.

“Setuju! Setuju! Setuju!” mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu, mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan


bertanya, “ Kalian mau apa?”

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan
dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya.

“O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah
umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu.
Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji
kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. KitabMu
kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun membacanya.
Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa, setelah kami Engkau panggil kemari,
Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi halhal yang tidak
diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami
menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali
dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam
kitab-Mu.”

“Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan.

“Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.”

“O, di negeri yang tanahnya subur itu?”

“Ya. Benarlah itu, Tuhanku.”

“Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai
bahan tambang lainnya, bukan?”

“Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami,” mereka mulai
menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di
wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap
menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

“Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa
ditanam?”

“Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.”

“Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat itu?”

“Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.”

“Negeri yang lama diperbudak orang lain itu?” “Ya, Tuhanku. Sungguh laknat
penjajah penjajah itu, Tuhanku.”

“Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya dan diangkutnya ke


negerinya, bukan?”

“Benar Tuhanku, hingga kami tidak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat
mereka itu.”

“Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi,
sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?”

“Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu, kami tak mau tahu.
Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.”
“Engkau rela tetap melarat, bukan?”

“Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.”

“Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?”

“Sungguhpun anak cucu kami melarat, tapi mereka semua pintar mengaji.
Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala belaka.”

“Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya,
bukan?”

“Ada, Tuhanku.”

“Kalau ada, mengapa biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya
semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk
anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri,
saling menipu, saling memeras. Aku beri engkau negeri yang kaya raya, tapi
kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak
mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.

Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat.


Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin? Engkau kira aku ini
suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji
dan menyembah-Ku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka! Hai
malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.”

Semuanya jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka
sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia.

Tetapi Haji Saleh ingin juga kepastian, apakah yang dikerjakannya di dunia
ini salah atau benar. Tetapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan, ia bertanya
saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?”


tanya Haji Saleh.

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu


sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi
engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak
istrimu sendiri, hingga mereka itu kucar-kacir selamanya.. Itulah
kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia
berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka
sedikit pun.”
Demikian cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang
memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa
aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget.

“Kakek.”

“Kakek?”

“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang
ngeri sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.”

“Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya melangkah secepatnya


meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku mencari Ajo Sidi ke rumahnya. Tetapi aku berjumpa sama istrinya saja.
Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi. “Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kafan buat Kakek tujuh
lapis.” “Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala
peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,”
dan sekarang ke mana dia?”

“Kerja.”

“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya. Dia pergi kerja.”***

12. Cerpen berjudul Pejuang karya Maria Maghdalena


Bhoernomo

Lelaki tua itu selalu suka mengenakan lencana merah putih yang disematkan
di bajunya. Di mana saja berada, lencana merah putih selalu menghiasi
penampilannya.

Ia memang seorang pejuang yang pernah berperang bersama para


pahlawan di masa penjajahan sebelum bangsa dan negara ini
merdeka. Kini semua teman seperjuangannya telah tiada. Sering ia
bersyukur karena mendapat karunia umur panjang. Ia bisa

menyaksikan rakyat hidup dalam kedamaian.

Tak lagi dijajah oleh bangsa lain. Tidak lagi berperang gerilya keluar masuk
hutan. Tapi ia juga sering meratap-ratap setiap kali membaca koran yang
memberitakan keadaan negara ini semakin miskin akibat korupsi yang telah
dianggap wajar bagi semua pengelola negara.

Banyak kekayaan negara juga dikuras habis-habisan oleh perusahaan-


perusahaan asing yang berkolaborasi dengan elite

politik. Kini, semua elite politik hidup dalam kemewahan, persis seperti para
pengkhianat bangsa sebelum negara ini merdeka. Dulu, pada masa
penjajahan, para pengkhianat bangsa menjadi mata-mata Kompeni.

Mereka tega mengorbankan anak bangsa sendiri demi keuntungan pribadi.


Mereka mendapat berbagai fasilitas mewah. Seperti rumah, mobil dan juga
perempuan-perempuan cantik. Ia tiba-tiba teringat pengalamannya
membantai sejumlah pengkhianat bangsa di masa penjajahan.

Saat itu ia ditugaskan oleh Jenderal Sudirman untuk membersihkan negara


ini dari pengkhianat bangsa yang telah tega mengorbankan siapa saja demi
keuntungan pribadi. ”Para pengkhianat bangsa adalah musuh yang lebih
berbahaya dibanding Kompeni. Mereka tak pantas hidup di negara sendiri.
Kita harus menumpasnya sampai habis. Mereka tak mungkin bisa diajak
berjuang karena sudah nyatanyata berkhianat,” Jenderal Sudirman berbisik
di telinganya ketika ia ikut bergerilya di tengah hutan.

Ia kemudian bergerilya ke kota-kota menumpas kaum pengkhianat bangsa.


Ia berjuang sendirian menumpas kaum pengkhianat bangsa. Dengan
menyamar sebagai penjual tape singkong dan air perasan tape singkong
yang bisa diminum sebagai pengganti arak atau tuak,ia mendatangi rumah-
rumah kaum pengkhianat bangsa. Banyak pengkhianat bangsa yang gemar
membeli air perasan tape singkong.

Dasar kaum pengkhianat, senangnya hanya mengumbar nafsu saja. Ia


begitu dendam kepada kaum pengkhianat bangsa. Mereka harus ditumpas
habis dengan cara apa saja. Dan ia memilih cara paling mudah tapi sangat
ampuh untuk menumpas kaum pengkhianat bangsa. Air perasan tape
singkong sengaja dibubuhi racun yang diperoleh dari seorang sahabatnya
berkebangsaan Tionghoa yang sangat mendukung perjuangan kemerdekaan
Indonesia.
Entah terbuat dari bahan apa, racun itu sangat berbahaya. Jika dicampur
dengan air perasan tape singkong, lalu diminum, maka dalam waktu dua jam
setelah meminumnya, maka si peminum akan tertidur untuk selamanya. Tak
ada yang tahu, betapa kaum pengkhianat bangsa tewas satu persatu setelah
menenggak air perasan tape singkong yang telah dicampur dengan racun.

Dokter-dokter yang menolong mereka menduga mereka mati akibat


serangan jantung. Dukun-dukun yang mencoba menolong mereka menduga
mereka mati akibat terkena santet. Pemukapemuka agama yang mencoba
menolong mereka menduga mereka mati akibat kutukan Tuhan karena
mereka telah banyak berbuat dosa.

13. Contoh Cerita Pendek berjudul Persahabatan Sejati

Saat ini aku berada di kelas 3 SMP, setiap hari kujalani bersama dengan
ketiga sahabatku yaitu Aris, Andri, dan Ana. Kita berempat sudah bersahabat
sejak kecil.

Suatu saat kami menulis surat perjanjian persahabatan di sobekan kertas


yang dimasukkan ke dalam sebuah botol, kemudian botol tersebut dikubur di
bawah pohon yang nantinya surat tersebut akan kami buka saat kami
menerima hasil ujian kelulusan.

Hari yang kami berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil
ujian dan hasilnya kita berempat lulus semua.

Kami serentak langsung pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami
datangi dan menggali tepat di mana botol yang dahulu dikubur berada.

Kemudian, kami berempat membuka botol tersebut dan membaca tulisan


yang dulu pernah kami tulis. Kertas tersebut bertuliskan “Kami berjanji akan
selalu bersama untuk selamanya.”

Keesokan hari, Aris berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat.

Malamnya kami berempat pergi bersama ke suatu tempat dan disitulah saat-
saat yang tidak bisa aku lupakan karena aris berencana untuk menyatakan
perasaannya kepadaku. Akhirnya aku dan Anis berpacaran.

Begitu juga dengan Andri, dia pun berpacaran dengan Ana. Malam itu
sungguh malam yang istimewa untuk kami berempat. Kami pun bergegas
untuk pulang.

Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak.


“Perasaanku nggak enak banget ya?” Ucapku penuh cemas.

“Udahlah Ndi, santai aja, kita nggak bakalan kenapa-kenapa” jawab Andri
dengan santai.

Tidak lama setelah itu, hal yang dikhawatirkan Nindi terjadi.

“Arissss awasss! di depan ada juang!” Teriak Nindi.

“Aaaaaaaaaa!!!”

Bruuukkk. Mobil yang kami kendarai masuk ke dalam jurang. Aku tak kuasa
menahan air mata yang terus mengalir sampai aku tidak sadarkan diri.

Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di
sampingku.

“Nindi.. kamu sudah sadar, Nak?” Tanya ibuku.

“Ibu.. aku di mana? Di mana Ana, Andri, dan Aris?” tanyaku.

“Kamu di rumah sakit Nak, kamu yang sabar ya, Andri dan aris tidak
tertolong di lokasi kecelakaan” Jawab ibu sambil menitikkan air mata.

Aku terdiam mendengar ucapan ibu dan air mataku menetes, tangisku tiada
henti mendengar pernyataan ibu.

“Aris, mengapa kamu tinggalkan aku, padahal aku sayang banget ke kamu,
aku cinta kamu, tapi kamu ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin
aku.” batinku berkata.

Lantas, 2 hari berlalu dan aku berkunjung ke makam mereka, aku berharap
kami bisa menghabiskan waktu bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua
itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu mengenang kalian.

14. Contoh Cerpen berjudul Ketika Laut Marah karya Widya


Suwarna

Sudah empat hari nelayan-nelayan tak bisa turun ke laut. Pada malam hari,
hujan lebat turun. Gemuruh gelombang, tiupan angin kencang di kegelapan
malam seolah-olah memberi tanda bahwa alam sedang murka, laut sedang
marah. Bahkan, bintang-bintang pun seolah tak berani menampakkan diri.
Nelayan-nelayan miskin yang menggantungkan rezekinya pada laut setiap
hari bersusah hati. Ibu-ibu nelayan terpaksa merelakan menjual emas
simpanannya yang hanya satu dua gram untuk membeli kebutuhan sehari-
hari. Mereka yang tak punya benda berharga terpaksa meminjam pada
lintah darat.

Namun, selama hari-hari sulit itu, ada pesta di rumah Pak Yus. Tak ada yang
menikah, tak ada yang ulang tahun, dan Pak Yus juga bukan orang kaya. Pak
Yus hanyalah nelayan biasa, seperti para tetangganya.

Pada hari-hari sulit itu, Pak Yus menyuruh istrinya memasak nasi dan
beberapa macam lauk-pauk banyak-banyak. Lalu, ia mengundang anak-anak
tetangga yang berkekurangan untuk makan di rumahnya. Dengan demikian
rengek tangis anak yang lapar tak terdengar lagi, diganti dengan perut
kenyang dan wajah berseri-seri.

Kini tibalah hari kelima. Pagi-pagi Ibu Yus memberi laporan, “Pak, uang kita
tinggal 20.000. Kalau hari ini kita menyediakan makanan lagi untuk anak-
anak tetangga, besok kita sudah tak punya uang. Belum tentu nanti sore
Bapak bisa melaut!”

Pak Yus terdiam sejenak. Sosok tubuhnya yang hitam kukuh melangkah ke
luar rumah, memandang ke arah pantai dan memandang ke langit. Nun jauh
di sana segumpal awan hitam menjanjikan cuaca buruk nanti petang.

Kemudian, ia masuk ke rumah dan berkata mantap, “Ibu pergi saja ke pasar
dan berbelanja. Seperti kemarin, ajak anak-anak tetangga makan. Urusan
besok jangan dirisaukan.”

Ibu Yus pergi ke dapur dan mengambil keranjang pasar. Seperti biasa, ia
patuh pada perintah suaminya. Selama ini Pak Yus sanggup mengatasi
kesulitan apa pun. Sementara itu Pak Yus masuk ke kamar dan berdoa. la
mohon agar Tuhan memberikan cuaca yang baik nanti petang dan malam.
Dengan demikian para nelayan bisa pergi ke laut menangkap ikan dan besok
ada cukup makanan untuk seisi desa.

Siang harinya, anak-anak makan di rumah Pak Yus. Mereka bergembira.


Setelah selesai, mereka menyalami Pak dan Bu Yus lalu mengucapkan
terima kasih.

“Pak Yus, apakah besok kami boleh makan di sini lagi?” seorang gadis kecil
yang menggendong adiknya bertanya. Matanya yang besar hitam
memandang penuh harap.

Ibu Yus tersenyum sedih. la tak tahu harus menjawab apa. Tapi dengan
mantap, dengan suaranya yang besar dan berat Pak Yus berkata, “Tidak Titi,
besok kamu makan di rumahmu dan semua anak ini akan makan enak di
rumahnya masing-masing.”

Titi dan adiknya tersenyum. Mereka percaya pada perkataan Pak Yus. Pak
Yus nelayan berpengalaman. Mungkin ia tahu bahwa nanti malam cuaca
akan cerah dan para nelayan akan panen ikan.

Kira-kira jam empat petang Pak Yus ke luar rumah dan memandang ke
pantai. Laut tenang, angin bertiup sepoi-sepoi dan daun pohon kelapa
gemerisik ringan. Segumpal awan hitam yang menjanjikan cuaca buruk sirna
entah ke mana. la pergi tanpa pamit.

Malam itu, Pak Yus dan para tetangganya pergi melaut. Perahu meluncur
tenang. Para nelayan berhasil menangkap banyak ikan. Ketika fajar merekah
perahu-perahu mereka menuju pantai dan disambut oleh para anggota
keluarga dengan gembira.

Pak Yus teringat pada anak-anak tetangga. Tuhan telah menjawab doanya.
Semua nelayan itu mendapat rezeki. Hari itu tak ada pesta di rumah Pak Yus.
Semua anak makan di rumah ibunya masing-masing. Sekali lagi di atas
perahunya, Pak Yus memanjatkan doa syukur.

15. Contoh Cerpen berjudul Koin Hitam karya Agus Noor

Kupandangi koin perak yang telah menghitam itu. Tergeletak di meja. Kau
tahu, sejak dulu aku tak mau keping koin itu. Tapi tiap kali aku datang ke
rumahmu hendak mengembalikannya, yang ada hanya istrimu. Senyumnya
yang manis menyuruhku masuk, matanya yang gelisah melirik ke halaman,
takut ada yang memergoki.

Setelah kau mati, aku pun sudah berusaha membuang jauh-jauh koin itu
berkali-kali. Membuangnya ke selokan. Membuangnya ke tempat sampah.
Bahkan sampai jauh ke luar kota. Tapi koin itu selalu saja kembali. Begitu
saja: tiba-tiba sudah tergeletak di meja.

16. Contoh Cerpen tentang Kucing Lucu bernama Katty

Aku punya kucing yang lucu dan manis. Namanya adalah Katty. Dia
berwarna putih dengan corak abu-abu di tubuhnya. Dia memiliki telinga dan
mata yang bulat. Kucingku juga sangat suka makan dan tidur seharian.
Katty adalah teman baikku. Dia selalu menemaniku untuk bermain di rumah
setelah aku pulang. Dia suka mengendus-endus dan berlari-lari di sekitarku.
Katty juga suka dielus dan dipeluk. Dia sangat jinak dan tidak pernah
menggigit ataupun mencakar.

Aku sangat sayang Katty. Aku selalu merawatnya dengan baik. Aku pun
sering memberi makan dan minum yang cukup. Tidak lupa, aku pun sering
membersihkan kandangnya setiap hari. Dan juga membawanya ke dokter
hewan saat Katty sakit.

Katty adalah kucing yang lucu dan manis. Aku sangat beruntung memiliki dia
sebagai temanku. Aku berharap dia bisa hidup lama dan sehat selalu.

17. Contoh Cerita Pendek tema Pendidikan

Ada seorang anak bernama Gema, dia merupakan murid kelas 6 SD yang
sangat pintar dan baik hati. Di sekolah sangat banyak teman yang
menyukainya karena sikapnya tersebut.

Tidak jarang, semua ingin berteman dengan Gema. Ada lagi anak
perempuan bernama Nurul, ia berbanding terbalik dengan Gema. Ia pintar
namun sangat sombong. Temannya hanya dua yaitu Mawar dan Melati,
gadis kembar di sekolahnya.

Suatu hari, Ibu guru mengumumkan bahwa akan ada perlombaan membaca
pidato dua minggu lagi. Bu Yati selaku wali kelas 6 membuka kesempatan
seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin ikut seleksi.

Gema dan Nurul jelas ikut berpartisipasi. Setiap hari mereka selalu latihan
membaca pidato agar lolos seleksi. Sampai hari penyeleksian tiba, keduanya
memberikan tampilan yang memukau lalu dinyatakan lolos.

Saat hari perlombaan tiba, Nurul terus saja membanggakan dirinya,


menyatakan bahwa pasti ia akan juara. Sebab sebelumnya dia juga pernah
menjadi juara waktu kelas 5 SD di lomba pidato.

Berbeda dengan Gema, ia tidak henti-hentinya berdoa dan berlatih,


mencoba menghafal kembali teks pidato. Ita pun dipanggil lebih dulu, sang
juara kelas 5 SD kini mendadak lupa teks pidato yang sudah dihafalnya.

Setelah itu, Gema maju dan memberikan penampilan yang sangat bagus.
Semua juri kagum termasuk Bu Yati yang saat itu datang untuk menemani
mereka lomba.
Pengumuman pun tiba, Gema keluar menjadi juara 1 sedangkan Nurul harus
menahan air matanya karena dia tidak menang sama sekali.

18. Contoh Cerpen berjudul Indahnya Berbagi dengan


Sahabat

Pagi itu hujan turun dengan deras. Ani merasa bingung bagaimana untuk
berangkat ke sekolah. Ketika sedang memandang hujan, terdengar suara HP
berdering dari kamar Ani, lantas saja Ani masuk ke kamar dan menjawab
telepon.

Ternyata yang menghubungi Ani adalah Lia sahabatnya. Dalam teleponnya


Lia mengatakan bahwa ia akan menjemput Ani, sebab Lia tahu jika Ani
sedang kebingungan bagaimana untuk pergi ke sekolah.

Tak selang berapa lama, Lia sudah sampai di depan rumah Ani bersama
ayahnya menggunakan mobil. Ani pun bergegas berpamitan pada orang
tuannya dan keluar untuk menemui Lia.

Setelah sampai di sekolah, yang merupakan teman sebangku tersebut pun


masuk menuju kelasnya. Istirahat pun tiba, keduanya pergi ke kantin untuk
menghilangkan rasa lapar. Ketika hendak membayar ternyata Lia lupa
membawa dompet. Sehingga Ani sang sahabat membayarkannya.

19. Contoh Cerpen berjudul Tukang Ramal karya Agus Noor

Kita belum lagi genap tiga belas tahun ketika datang ke pasar malam itu.
Keramaian dan lampu warna-warni seperti mimpi yang ganjil. Aku pingin
gulali, tapi kau mengajakku ke tukang ramal bermata juling. Kau ingin tahu,
bagaimana nanti kita mati.

Tukang ramal itu menyeringai menatap kita. “Kalian memang sahabat yang
luar biasa,” katanya, “karena menyintai perempuan yang sama.” Kita masih
saling bertatapan, ketika tukang ramal itu menarik tanganku. “Dan kau, kau
akan mati karena tabrak lari.”

20. Contoh Cerpen berjudul Kancil dan Buaya karya Syrli


Martin
Alkisah, di sebuah pinggir hutan, terdapat seekor Kancil yang sangat cerdik.
Ia hidup di hutan bersama hewan-hewan lainnya, di antaranya ada kerbau,
gajah, kelinci, dan masih banyak lagi. Si Kancil selalu mencari makan di
pinggiran sungai.

Pada suatu hari, ia merasa sangat lapar. Kemudian, si Kancil bergagas pergi
untuk mencari makan. Setibanya di tepi sungai, ia melihat sebuah pohon
rambutan yang sangat rimbun di seberang sungai. Si Kancil berniat ingin
mengambil buah rambutan tersebut, tetapi di dalam sungai terdapat banyak
buaya yang sedang mengintai Kancil.

Kemudian, para buaya berkata, “Hey, Kancil! Apakah kau sudah bosan
dengan hidupmu, sehingga kau datang kemari?”.

“Eh… tidak. Aku kesini untuk menyampaikan undangan kepada kalian”,


jawab Kancil.

Para buaya pun terkejut mendengar perkataan si Kancil. Buaya bertanya,


“Undangan apa?”.

Lalu, Kancil menjawab pertanyaan para buaya dengan santai. “Minggu


depan raja Sulaiman akan merayakan sebuah pesta dan kalian semua
diundang dalam acara tersersebut”.

“Pesta…?” timpal para buaya dengan mulut menganga.

“Iya, pesta. Di sana terdapat banyak makanan. Ada daging rusa, daging
kerbau, dan daging gajah pun juga ada.”

“Aaaaakh, pasti kau berbohong! Kali ini kau tidak bisa menipu kami lagi!”,
buaya menyahut dengan sedikit marah.

“Eh tidak-tidak, kali ini aku serius”, jawab Kancil untuk meyakinkan para
buaya.

“Apa kau yakin…?”, tanya para buaya dengan perasaan khawatir akan ditipu
Kancil.

“Iya, yakin”, jawab Kancil.

Anda mungkin juga menyukai