PBL Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa SD
PBL Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa SD
7070
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7071
PENDAHULUAN
Menurut UNESCO dalam bidang pendidikan ada empat pilaar utama yang dilakukan
dalam proses Pendidikan, belajar mengetahui (learning to know), ibelajar melakukan (learning
to do), ibelajar menjadi diri sendirii (learn to be), ibelajar hidup bersamai (learning to live
together). Jika seseorang mendapatkan edukasi, keterampilannya makin kuat, akan lebih baik
dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 81A Tahun 2013 mengenai implementasi Kurikulum, dijelaskan bahwa siswa di masa
depan harus memiliki kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, dan berpikir kreatif sesuai
dengan nilai dan moral Pancasila. Hal ini bertujuan supaya mereka menjadi warga negara yang
demokratis, bertanggung jawab, toleran, bisa bersosialisasi dengan masyarakat, serta peduli.
Beyer (1995) mengemukakan bahwa berpikir kritis berarti membuat penilaian-penilaian
yang masuk akal. Beyer menganggap bernalar kritis sama dengan memakai syarat-syarat
tertentu guna menilai mutu/kualitas sesuatu, dimulai dengan melakukan aktivitas sangat simpel
semacam aktivitas harian, hingga menarik kesimpulan suatu masalah buat menilai validitasnya.
Sebaliknya, berpikir yang bertujuan untuk membuktikan, menjelaskan, dan menjabarkan
maksud suatu pernyataan atau informasi dan menyelesaikan suatu masalah tertentu (Facione,
2018). Selain itu, Felder (2016) menyataka bahwa kemampuan berpikir kritis memungkinkan
seseorang untuk membuat penilaian dan keputusan yang didasarkan pada bukti yang valid dan
masuk akal (logic). karenanya, jika seseorang memiliki kemampuan bernalar kritis bisa
menyaring informasi yang mereka peroleh guna menguji kebenarannya hingga mereka tidak
gampang tertipu.
Apabila tahapan pembelajaran dapat ditempuh dengan baik, maka hal yang diperoleh
kemungkinan besar akan baik. Pembelajaran secara signifikan mempengaruhi kemampuan
bernalar kritis siswa. Karenanya guru diharapakan bisa mendorong siswa untuk meningkatkan
keterampilan bernalar kritis tingkat tinggi atau berpikir kritis. Keterampilan bernalar kritis
sangat penting bagi siswa baik di sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Dengan demikian,
interaksi siswa yang aktif dalam tahapan pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan
berpikir kritis siswa. Keterampilan berpikir siswa bukan hanya terlihat saat mengerjakan tugas,
namun dapat terlihat dari saat memahami suatu pelajaran dan masalah, juga bisa menjelaskan
masalah tersebut dalam kehidupan.
Menurut Hariyanto & (2020), pembelajaran IPA memiliki peranan sangat penting pada
pendidikan abad 21 dalam membentuk peserta didik menjadi komunikatif, kreatif, kolaboratif,
dan berpikir kritis. Mata pelajaran IPA dapat berupa kumpulan pengetahuan yang memiliki
karakteristik khusus, terutama dalam mengkaji fenomena alam yang nyata serta hubungannya
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7072
dengan sebab dan akibat dalam proses pembelajarannya (Magdalena et al., 2020). Dengan
demikian, dapat disimpulkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar,
sebaiknya mengacu pada penyampaian nilai-nilai melalui pengembangan konsep-konsep yang
saling terkait.
Metode pembelajaran hingga sekarang tetap berfokus ke guru. Ditambah lagi, proses
pembelajaran gagal menumbuhkan daya tarik siswa terhadap materi pelajaran dan
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Akibatnya, hasil belajar dan keahlian
bernalar kritis mereka belum optimal. Untuk itu, dalam menangani masalah tersebut, guru
harus bijak. Untuk membangkitkan kemampuan bernalar kritis dan pemecahan masalah mereka
terhadap materi pelajaran, sebuah model pembelajaran dapat digunakan. Model ipembelajaran
iProblem based learning dilakukan dengan cara persoalan disajikan, pertanyaan diajukan,
melakukan investigasi, dan diskusi, dikenal sebagai pembelajaran berdasarkan masalah
(Yampap & Hasyda, 2023)
Gulo (2022) menyimpulkan masalah dibuat sehingga siswa dapat menemukan
pengetahuan yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah. Proses pembelajaran
problem based learning memerlukan pemahaman yang baik. Tujuannya adalah agar model
pembelajaran problem based learning digunakan dengan cara yang terarah dan dapat mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan. Siswa belajar melalui masalah nyata. Dengan kata lain,
siswa belajar melalui masalah nyata. Model pembelajaran berbasis masalah (PBL) digunakan
oleh Sekolah Dasar Talenta Al-Fatih. Hasil yang diamati ketika guru IPA menggunakan model
Pembelajaran Berbasis Masalah menunjukkan bahwa siswa aktif, kreatif, dan kritis selama
pembelajaran IPA. Mereka juga semangat dan senang menjawab pertanyaan dari guru. Maksud
dari penelitian ini yaitu mendeteksi model penerapan problem based learning dalam
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Juga untuk
mengidentifikasi model kemampuan berpikir kritis yang dibangun oleh siswa di mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Secara otomatis, penelitian ini juga
akan membahas penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam mengembangkan
keterampilan berpikir kritis siswa di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Selain itu,
penelitian ini juga mencoba mengidentifikasi faktor-faktor pendorong dan penghambat yang
berperan pada kenaikan keterampilan bernalar kritis siswa di pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7073
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang menghasilkan data
deskriptif dan mengamati perilaku individu dalam bentuk bahasa tulis atau lisan (Moleong,
2014). Penelitian kualitatif deskriptif adalah jenis penelitian paling dasar yang bertujuan
menggambarkan fenomena alamiah atau rekayasa manusia (Magdalena et al., 2020). Penelitian
kualitatif memiliki dua sifat: deskriptif dan induktif. Akibatnya, penelitian kualitatif sangat
bermanfaat untuk memahami dan mendalami proses pendidikan yang sangat kompleks.
Responden penelitian ini berjumlah 6 orang yaitu kepala sekolah, dua guru IPA, tiga siswa.
Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tiga siswa, kepala
sekolah, dua guru IPA, di wawancarai memakai petunjuk wawancara yang sudah disiapkan.
Triangulasi adalah teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Maksudnya dokumen
saat ini, seperti buku catatan perkembangan siswa dan proses pembelajaran, dievaluasi lalu
dibandingkan dengan temuan ketika observasi maupun wawancara. Guna menentukan
efektivitas pembelajaran berbasis masalah diterapkan dalam pembelajaran IPA di SD Talenta
Al-Fatih Sidoarjo serta mengetahui aspek pendukung dan penghalangnya. Teknik analisis data
yang digunakan adalah analisis data kualitatif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan.
Hal serupa juga diungkapkan oleh IM, guru IPA SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo:
Ketrampilan berpikir kritis siswa dalam memunculkan pokok-pokok permasalahan
dalam pembelajaran IPA dapat diwujudkan karena adanya pemberian masalah yang
relevan dengan kehidupan nyata. Diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalah
tersebut dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis yang mereka miliki dalam
menyelesaikan masalah, sehinggga para siswa antusias untuk mengetahui apa pokok
permasalahan yang diberikan oleh guru. Gambaran antusias siswa dalam
pemembelajaran IPA untuk merumuskan pokok-pokok permasalahan bisa dilihat
ketika siswa sibuk berpikir dan bertanya untuk mencari referensi mengenai masalah
yang diberikan oleh guru.(7 November 2024)
Kami sangat senang jika waktunya pelajaran IPA dimulai karena bu guru memberikan
materi yang berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari kami, sehingga
membuat kami bertanya-tanya dan sangat penasaran ingin mencari jawabannya (Hasil
wawancara dengan subjek DA November 2024)
Kami suka sekali jika waktunya pelajaran IPA dimulai, karena bu guru memberikan
kesempatan bertanya, diskusi, dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru
yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kami, sehingga membuat pelajaran
jadi seru dan menyenangkan (Hasil wawancara dengan siswa HM 2024)
Ketika penulis melakukan observasi tentang pembelajaran IPA dikelas, terlihat bahwa
mereka bisa merumuskan pokok-pokok persoalan. Siswa terlihat sangat tertarik untuk mencari
inti dari persoalan dengan mengajukan pertanyaan selama kegiatan pembelajaran berlangsung
(hasil observasi di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo). Gambar menunjukkan bahwa mereka sedang
berbicara dengan teman kelompoknya tentang hal-hal apa saja yang harus mereka ketahui
dengan bertanya jawab pada diskusi. Ini menunjukkan kepiawaian mereka saat menyusun
pertanyaan-pertanyaan dan menciptakan pokok masalah.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7075
Saat diberikan pertanyaan, Siswa sangat antusias untuk menjawabnya. Mereka juga
dapat menjelaskan dan menunjukkan materi pembelajaran IPA pesawat sederhana, hal
ini terjadi karena siswa menjadi ingin tahu saat mereka mendapatkan suatu masalah dari
guru yang sudah pernah mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di zaman
sekarang yang teknologi semakin canggih, dimana siswa dapat mengakses ilmu
pengetahuan yang ingin mereka ketahui melalui dunia maya. (Hasil wawancara dengan
subjek MA, 2024).
Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan tentang pokok - pokok materi diukur dari
antusiasmenya dalam mencari dan mendiskusikan jawaban. Ketika mereka menyampaikan
pendapat selama proses diskusi kelompok, siswa membuat argumen yang masuk akal, relevan,
dan akurat. Mereka bisa menjawab pertanyaan dari guru dan siswa lain dengan benar selama
demonstrasi di kelas. Prilaku bernalar kritis ini berkembang ketika menggunakan pola
pembelajaran yang mendorong tumbuhnya prilaku itu, melalui tanya jawab, diskusi,
demonstrasi, dan pemecahan masalah. Semua itu tergambar dari model pembelajaran problem
based learning.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7076
Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada materi pembelajaran IPA tercermin
dari kemampuan mereka mendeteksi jalan keluar permasalahan yang disampaikan guru IPA.
Berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka. Misalnya pada pembelajaran IPA kelas 4 SD
tentang pesawat sederhana yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan ajar
sperti gunting, cutter, stapler, elevator tiang bendera, dan roda sepeda. Siswa dapat mencari
solusi dengan mendemonstrasikan di depan kelas permasalahan yang diajarkan guru.
Berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari. semua itu dapat terjadi jika model
pembelajarannya menggunakan Problem based learning seperti yang disampaikan guru IPA.
Kemampuan Menarik Kesimpulan
Menurut Anggraeni (2016) kemampuan kognitif adalah kemampuan seseorang untuk
memperoleh pengetahuan melalui tingkah laku, pengamatan, dan berpikir logis. Kemampuan
kognitif berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. Yuni & Fisa (2020) menyimpulkan:Dalam
bahasa inggris, generalisasi istilah yang digunakan untuk mengambarkan kesimpulan. Tahap
generalisasi sangat penting karena peserta didik dapat mengambil dasar dari proses
pembelajaran yang telah mereka lakukan sebelumnya. Kemampuan siswa menarik kesimpulan
adalah faktor penting yang mempengaruhi kemampuan siswa selama proses pembelajaran IPA.
Karena siswa dapat menentukan dan menemukan inti dari permasalahan. Menurut kepala
sekolah dan guru IPA:
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7077
Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam memahami pembelajaran yang diajarkan
guru adalah kemampuan siswa dalam keterampilan menyimpulkan, yang menuntut
siswa untuk memahami inti dari pertanyaan yang diberikan guru dalam proses
pembelajaran IPA dalam suasana kelas yang aktif, kondusif, dan bermakna. Kami
sebagai guru IPA menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam
pembelajaran IPA pada materi pesawat sederhana, yang dapat membuat siswa aktif,
berpikir kritis, dan mampu menemukan inti dari materi, sehingga mereka mudah
menarik kesimpulan dari masalah dalam materi pesawat sederhana (Hasil wawancara
dengan subjek MA 2024).
Model pembelajaran berbasis masalah juga memungkinkan siswa dengan mudah belajar
sendiri atau berkelompok dengan menggunakan persoalan yang dikasihkan guru, bisa
membantu mereka mengerti keterampilan menyimpulkan lebih bagus. Model pembelajaran
berbasis masalah cocok digunakan oleh siswa sekolah dasar, terutama untuk pembelajaran
mendemonstrasikan pesawat sederhana diakhiri dengan menarik kesimpulan. Hal ini menjadi
jelas ketika siswa mampu dengan sukses dan akurat merangkum apa yang telah mereka pelajari.
Siswa dapat menunjukkan dengan baik dan benar bahwa pesawat sedeerhana adalah alat yang
berfungsi meringankan pekerrjaan manusiia. Misalnya mengibarkan bendera merah putih.
Menurut Arends (2008), ada lima tahap dalam menerapkan PBL yaitu (1) mengarahkan
siswa terhadap maasalah; (2) mengorganisir siswa untuk penelitian; (3) membantu mereka
melakukan penelitian secara mandiri dan berkelompok; (4) membuat dan menyajikan hasil
penelitian; dan (5) analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Masalah yang digunakan
dalam PBL adalah masalah yang sebenarnya. Terlepas dari kenyataan bahwa kemampuan
individual diperlukan untuk setiap siswa, tetapi dalam proses belajar PBL, siswa belajar dalam
kelompok untuk memecahkan masalah, dan kemudian mereka belajar secara individu untuk
mendapatkan instruksi tambahan tentang pemecahan masalah. Indikator model pembelajaran
problem based learning digunakan di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo guna membangkitkan
keahlian bernalar kritis yaitu:
guru yaitu menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang diperlukan untuk
memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Dalam hal ini, penulis
melihat aktivitas guru dan siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo yaitu:
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menarasikan beraneka ragam keperluan
logistik penting, dan mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan
menyelesaikan masalah.
Siswa terlihat aktif belajar dalam kelompok yang sudah dibagi oleh guru, mereka
antusias berdiskusi mengenai masalah yang diberikan guru
Berdasarkan pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa diarahan guru pada
masalah atau siswa diorentasikan pada masalah berarti siswa diberikan arahan ke topik yang
akan dipelajari. Dalam hal ini, bahan yang diberikan disiapkan dalam bentuk masalah yang
harus diselesaikan untuk dipelajari kemudian.
Penulis simpulkan bahwa langkah ini membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
siswa, membantu mereka mempersiapkan diri untuk diskusi kelompok, melaksanakan
investigasi yang berhubungan dengan masalah mereka.
Siswa mencari informasi yang tepat, membuat kesimpulan, membuat laporan dan
presentasi, dan menampilkan hasil eksperimen.(7 November 2024).
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7080
Presentasi hasil karya adalah langkah terakhir untuk meninjau hasil kerja dan hasil survei
dan penyelidikan, serta untuk menyelesaikan masalah apa pun yang muncul di setiap
kelompok. Presentasi akan dilaksanakan di depan, agar kelompok siswa lainnya bisa turut serta
menilai hasil karya temannya. Sebaliknya bagi guru, penyajian ini merupakan sarana evaluasi
kognitif, psikomotorik, dan afektif dengan melihat ketertiban dan kelancaran mereka.
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah empat keahlian bernalar kritis dikembangkan di
sekolah dasar Talenta Al Fatih yaitu (1) mampu menemukan pokok masalah, (2) mampu
menjawab pertanyaan tentang topik-topik utama, (3) dapat memecahkan masalah, (4) mampu
menarik kesimpulan. Keterampilan berpikir kritis ini dikembangkan guru IPA kala menerapkan
modell pembeelajaran berbasis masalah pada saat melakukan pembelajaran, sehingga
berdampak besar terhadap perkembangan keahlian bernalar kritis siswa di SD Talenta Al Fatih
Sidoarjo. Faktor pendukung adalah semua hal yang menunjang siswa membangkitkan keahlian
bernalar kritis mereka, setelah modell pembeelajaran berbasis masalah diterapkan di SD
Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Dan setelah melakukan observasi, peneliti mendapati bahwa
komponen pendukung terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa.
Faktor Guru
Beberapa faktor yang mendukung guru di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo ketika
mengaplikasikan imodel ipembelajaran prroblem based learniing. Dallam rangka
membangkitkan keahlian bernalar kritis yaitu mengajarrkan pengetahuan, menjalankan model
pembelajaran, mengorganisir rute pembelajaran, memberi petunjuk siswa selama pembelajaran
berlangsung. Menurut SU, Kepala SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo,
Kunci keberhasilan dalam pembelajaran terletak pada bagaimana guru dapat
menerapkan metode pembelajaran yang tepat yang mampu menghidupkan suasana
pembelajaran sehingga siswa aktif, kreatif dan mampu menumbuhkan kemampuan
berpikir kritis mereka. Salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran
Problem Based Learning dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
Faktor Siswa
Aspek pendukung di SD Talenta Al-Fatih adalah Faktor-faktor yang berkontribusi pada
peningkatan keahlian bernalar kritis siswa lewat penerapan model pembelajaran berbasis
masalah. Termasuk semangat siswa untuk belajar, keadaan pribadi mereka yang relatif baik,
cara pikir mereka tentang pembelajaran. Dalam pembicaraan antara penulis dan SU di kantor
SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo, dikatakan bahwa:
Latar belakang Pembelajaran Berbasis Masalah sangat penting untuk diterapkan,
karena siswa sangat butuh model pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa
semangat dan aktif dalam pembelajaran, yang dapat menumbuhkan siswa untuk
bernalar kritis saat menuntaskan masalah, dan peserta didik SD Talenta Al-Fatih
Sidoarjo sangat antusias saat model pembelajaran tersebut di terapkan.
pelajaran IPA di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo disebut sebagai faktor penghambat. Penulis
melihat bahwa komponen penghambat yakni (1) situasi pembellajaran tidak kondusif, dan (2)
terbatasnya waktu yang diberikan. Kepala SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo, Ibu SU, menjelaskan
bahwa:
Faktor penghambat terutama berkaitan dengan proses belajar siswa. Terkadang
terjadi kebisingan di ruangan kelas, terutama saat berdiskusi atau menerima materi,
sehingga siswa kehilangan fokus dalam pembelajaran. Dengan demikian,
pembelajaran memang lebih efektif jika tidak ada gangguan.
Seperti yang ditunjukkan oleh guru dan kepala sekolah di atas, ditemukan bahwa situasi
belajar tidak menyenangkan dan waktu sedikit adalah penghalang bagi peneerapan model
pembellajaran problem based learning untuk menumbuhkan keahlian benalar kritis siswa
KESIMPULAN
Setelah melakukan pengamatan, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu sesuatu yang
menjadi hasil penemuan. Satu, keahlian bernalar kritis yang iterbentuk daalam pembeelajaran
IPA di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo dapat disimpulkan yaitu (1) mampu merumuskan pokok
permasalahan, (2) dapat menjawab pertanyaan dari pokok-pokok permasalahan, (3) mampu
memecahkan masalah mampu menarik kesimpulan. Untuk tujuan menumbuhkan keahlian
bernalar kritis siswa disekolah Talenta Al-Fatih Sidoarjo, maka model pembelajaran berbasis
masalah digunakan. Hasilnya ditunjukkan dari (1) mengarahkan siswa pada kasus, (2)
mengorganisir siiswa investigasi, (3) memandu investigasi individu dankelompok, (4)
mendemonstrasikan hasiil karya, dan (5) refleksi proses pemecahan masalah. Aspek penunjang
dan penghalang di dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah di SD Talenta Al-
Fatih Sidoarjo untuk meningkatkan keahlian bernalar kritis yaitu kepemimpinan kepala
sekolah, guru, dan siswa merupakan faktor pendukung, sedangkan waktu yang terbatas dan
proses belajar yang tidak efektif merupakan faktor penghambat.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7084
REFERENSI
Ardana, I. M., Gunamantha, I. M., Studi, P., Dasar, P., & Ganesha, U. P. (2022).
Pengembangan lkpd berbasis pemecahan masalah dengan pendekatan 4c untuk
meningkatkan kemampuan. 6(1), 24–32.
Ayunda, N., & Alberida, H. (2023). Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning
( PBL ) Berbantuan LKPD terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. 05(02),
5000–5015.
El-yunusi, M. Y. M. (n.d.). Problem Based Learning dalam Mengembangkan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. 4(2), 113–132.
El-yunusi, M. Y. M., Fira, S., Arifin, A., Putri, D., & Sandy, A. (2023). Pendampingan Belajar
Siswa di Rumah Belajar Anak Sholeh melalui Kegiatan Bimbingan Belajar Desa Tebel
Gedangan Sidoarjo. 03(01), 1–11.
Magdalena, I., Auliya, D., Ariani, R., & Tangerang, U. M. (2020). dalam pembelajaran IPA di
sdn cipete 2. 2(April), 153–162.
Nafiah, Y. N., Suyanto, W., & Yogyakarta, U. N. (n.d.). penerapan model problem-based
learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan the application of the
problem-based learning model to improve the students critical thinking. c, 125–143.
Parameswari, P., & Kurniyati, T. (2020). Kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan
masalah matematika. 6(c), 89–97.
Rafiah, S. (2019). Peranan Guru dalam Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based
Learning. 1–3.
Ramdani, A., Jufri, A. W., & Setiadi, D. (2020). Kemampuan Berpikir Kritis dan Penguasaan
Konsep Dasar IPA Peserta Didik. 21.
Ruhyanto, A., Agustin, R., & Yanti, E. (2021). Penerapan Model Pembelajaran Problem
Solving untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pendahuluan), 161–170.
Syafitri, E., Armanto, D., Rahmadani, E., Medan, U. N., Matematika, P., & Asahan, U. (2021).
Aksiologi kemampuan berpikir kritis. 4307(3), 320–325.
Yampap, U., & Hasyda, S. (2023). Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. 4(1).