0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan15 halaman

PBL Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa SD

Penelitian ini menganalisis penerapan model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hasil menunjukkan bahwa siswa mampu merumuskan masalah, menjawab pertanyaan, dan membuat kesimpulan, meskipun terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Diunggah oleh

Warda khoerunisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan15 halaman

PBL Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa SD

Penelitian ini menganalisis penerapan model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hasil menunjukkan bahwa siswa mampu merumuskan masalah, menjawab pertanyaan, dan membuat kesimpulan, meskipun terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Diunggah oleh

Warda khoerunisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

p-ISSN: 2808 – 5604

e-ISSN: 2808 – 5078


Volume. 5, No. 6, 2024
Indo-MathEdu Intellectuals Journal

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)


DALAM MEMBENTUK KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
SD TALENTA AL-FATIH SAIMBANG SIDOARJO
Risa Umala1, Muhammad Yusron Maulana El-Yunusi2
1
Universitas Terbuka Surabaya, Jl. Mulyorejo, Mulyorejo, Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
2
Pendidikan Agama Islam, Universitas Sunan Giri, Jl. Brigjen Katamso II Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Email: risaumala534@[Link]
Article History Abstract. The purpose of this study is to identify and analyze students' critical
reasoning skills in the Natural Sciences lesson of Talenta Al-Fatih Sidoarjo
Received: 16-11-2024 elementary school. This research focuses on the use of problem-based learning
models to improve students' critical thinking skills in the study of Natural
Revision: 21-11-2024 Sciences. This study uses a qualitative method through a naturalistic approach.
Data collection uses observation, interviews, and documentation. Data analysis
Accepted: 23-11-2024 techniques use reduction, presentation, and conclusion drawing techniques. The
results of the analysis found that the critical reasoning skills of SD Talenta Al-
Published: 25-11-2024
Fatih Sidoarjo students in science lessons can be known from the indicators of
being able to formulate the main problem in a material, being able to answer
questions in the main problem, being able to solve problems, and being able to
make conclusions. The Problem-Based Learning Model (PBL) to improve
students' critical reasoning skills at SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo in Natural
Sciences lessons is carried out with its activity program Supporting factors and
hindering the application of the problem-based learning model to improve
students' critical reasoning skills in learning Natural knowledge is a supporting
factor including students, principals, and teachers and an ineffective learning
process and limited time is an obstacle

Keywords: Problem Based Learning, Critical Thinking, Elementary School


Students

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisa keahlian


bernalar kritis siswa di pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sekolah dasar Talenta
Al-Fatih Sidoarjo. Penelitian ini berfokus pada penggunaan model pembelajaran
problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di
pembelajran Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif melalui pendekatan naturalistik. Pengumpulan data menggunakan
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan
teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menemukan
bahwa keahlian bernalar kritis siswa SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo dalam
pelajaran IPA bisa diketahui dari indikator mampu merumuskan pokok masalah
dalam sebuah materi, dapat menjawab pertanyaan di dalam pokok permasalahan,
Mampu memecahkan masalah, dan dapat membuat kesimpulan. Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) untuk meningkatkan keahlian bernalar
kritis siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo pada pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam dijalankan dengan program kegiatannya Faktor pendukung dan
menghambat penerapan model pembelajaran problem based learning untuk
meningkatkan keahlian bernalar kritis siswa dalam pembelajaran lmu
pengetahuan Alam adalah faktor pendukung termasuk siswa, kepala sekolah, dan
guru dan proses pembelajaran yang tidak efektif dan waktu terbatass merupakan
hambatan.

Kata Kunci: Problem Based Learning, Berpikir Kritis, Siswa SD


How to Cite: Umala, R & El-Yunusi, M. Y. M. (2024). Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam
Membentuk Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD Talenta Al-Fatih Saimbang Sidoarjo. Indo-MathEdu
Intellectuals Journal, 5 (6), 7070-7084. [Link]

7070
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7071

PENDAHULUAN
Menurut UNESCO dalam bidang pendidikan ada empat pilaar utama yang dilakukan
dalam proses Pendidikan, belajar mengetahui (learning to know), ibelajar melakukan (learning
to do), ibelajar menjadi diri sendirii (learn to be), ibelajar hidup bersamai (learning to live
together). Jika seseorang mendapatkan edukasi, keterampilannya makin kuat, akan lebih baik
dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 81A Tahun 2013 mengenai implementasi Kurikulum, dijelaskan bahwa siswa di masa
depan harus memiliki kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, dan berpikir kreatif sesuai
dengan nilai dan moral Pancasila. Hal ini bertujuan supaya mereka menjadi warga negara yang
demokratis, bertanggung jawab, toleran, bisa bersosialisasi dengan masyarakat, serta peduli.
Beyer (1995) mengemukakan bahwa berpikir kritis berarti membuat penilaian-penilaian
yang masuk akal. Beyer menganggap bernalar kritis sama dengan memakai syarat-syarat
tertentu guna menilai mutu/kualitas sesuatu, dimulai dengan melakukan aktivitas sangat simpel
semacam aktivitas harian, hingga menarik kesimpulan suatu masalah buat menilai validitasnya.
Sebaliknya, berpikir yang bertujuan untuk membuktikan, menjelaskan, dan menjabarkan
maksud suatu pernyataan atau informasi dan menyelesaikan suatu masalah tertentu (Facione,
2018). Selain itu, Felder (2016) menyataka bahwa kemampuan berpikir kritis memungkinkan
seseorang untuk membuat penilaian dan keputusan yang didasarkan pada bukti yang valid dan
masuk akal (logic). karenanya, jika seseorang memiliki kemampuan bernalar kritis bisa
menyaring informasi yang mereka peroleh guna menguji kebenarannya hingga mereka tidak
gampang tertipu.
Apabila tahapan pembelajaran dapat ditempuh dengan baik, maka hal yang diperoleh
kemungkinan besar akan baik. Pembelajaran secara signifikan mempengaruhi kemampuan
bernalar kritis siswa. Karenanya guru diharapakan bisa mendorong siswa untuk meningkatkan
keterampilan bernalar kritis tingkat tinggi atau berpikir kritis. Keterampilan bernalar kritis
sangat penting bagi siswa baik di sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Dengan demikian,
interaksi siswa yang aktif dalam tahapan pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan
berpikir kritis siswa. Keterampilan berpikir siswa bukan hanya terlihat saat mengerjakan tugas,
namun dapat terlihat dari saat memahami suatu pelajaran dan masalah, juga bisa menjelaskan
masalah tersebut dalam kehidupan.
Menurut Hariyanto & (2020), pembelajaran IPA memiliki peranan sangat penting pada
pendidikan abad 21 dalam membentuk peserta didik menjadi komunikatif, kreatif, kolaboratif,
dan berpikir kritis. Mata pelajaran IPA dapat berupa kumpulan pengetahuan yang memiliki
karakteristik khusus, terutama dalam mengkaji fenomena alam yang nyata serta hubungannya
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7072

dengan sebab dan akibat dalam proses pembelajarannya (Magdalena et al., 2020). Dengan
demikian, dapat disimpulkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar,
sebaiknya mengacu pada penyampaian nilai-nilai melalui pengembangan konsep-konsep yang
saling terkait.
Metode pembelajaran hingga sekarang tetap berfokus ke guru. Ditambah lagi, proses
pembelajaran gagal menumbuhkan daya tarik siswa terhadap materi pelajaran dan
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Akibatnya, hasil belajar dan keahlian
bernalar kritis mereka belum optimal. Untuk itu, dalam menangani masalah tersebut, guru
harus bijak. Untuk membangkitkan kemampuan bernalar kritis dan pemecahan masalah mereka
terhadap materi pelajaran, sebuah model pembelajaran dapat digunakan. Model ipembelajaran
iProblem based learning dilakukan dengan cara persoalan disajikan, pertanyaan diajukan,
melakukan investigasi, dan diskusi, dikenal sebagai pembelajaran berdasarkan masalah
(Yampap & Hasyda, 2023)
Gulo (2022) menyimpulkan masalah dibuat sehingga siswa dapat menemukan
pengetahuan yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah. Proses pembelajaran
problem based learning memerlukan pemahaman yang baik. Tujuannya adalah agar model
pembelajaran problem based learning digunakan dengan cara yang terarah dan dapat mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan. Siswa belajar melalui masalah nyata. Dengan kata lain,
siswa belajar melalui masalah nyata. Model pembelajaran berbasis masalah (PBL) digunakan
oleh Sekolah Dasar Talenta Al-Fatih. Hasil yang diamati ketika guru IPA menggunakan model
Pembelajaran Berbasis Masalah menunjukkan bahwa siswa aktif, kreatif, dan kritis selama
pembelajaran IPA. Mereka juga semangat dan senang menjawab pertanyaan dari guru. Maksud
dari penelitian ini yaitu mendeteksi model penerapan problem based learning dalam
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Juga untuk
mengidentifikasi model kemampuan berpikir kritis yang dibangun oleh siswa di mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Secara otomatis, penelitian ini juga
akan membahas penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam mengembangkan
keterampilan berpikir kritis siswa di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Selain itu,
penelitian ini juga mencoba mengidentifikasi faktor-faktor pendorong dan penghambat yang
berperan pada kenaikan keterampilan bernalar kritis siswa di pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7073

METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang menghasilkan data
deskriptif dan mengamati perilaku individu dalam bentuk bahasa tulis atau lisan (Moleong,
2014). Penelitian kualitatif deskriptif adalah jenis penelitian paling dasar yang bertujuan
menggambarkan fenomena alamiah atau rekayasa manusia (Magdalena et al., 2020). Penelitian
kualitatif memiliki dua sifat: deskriptif dan induktif. Akibatnya, penelitian kualitatif sangat
bermanfaat untuk memahami dan mendalami proses pendidikan yang sangat kompleks.
Responden penelitian ini berjumlah 6 orang yaitu kepala sekolah, dua guru IPA, tiga siswa.
Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tiga siswa, kepala
sekolah, dua guru IPA, di wawancarai memakai petunjuk wawancara yang sudah disiapkan.
Triangulasi adalah teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Maksudnya dokumen
saat ini, seperti buku catatan perkembangan siswa dan proses pembelajaran, dievaluasi lalu
dibandingkan dengan temuan ketika observasi maupun wawancara. Guna menentukan
efektivitas pembelajaran berbasis masalah diterapkan dalam pembelajaran IPA di SD Talenta
Al-Fatih Sidoarjo serta mengetahui aspek pendukung dan penghalangnya. Teknik analisis data
yang digunakan adalah analisis data kualitatif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN DISKUSI


El-Yunusi (2020) menyatakan bahwa kemampuan bernalar kritis adalah cara bernalar yang
logis, masuk akal yang terdiri dari kegiatan aktif mengorganisasiikan , menganalisis, dan
mempertimbangkan berbagai informasi. Pengalasman, pengamatan, akal sehat, atau
komunikasi adalah beberapa cara dimana informasi dapat diperoleh. Menurut Facione (2013):
Kriteria atau standar harus ada untuk berpikir kritis. Untuk mencapainya, perlu menemukan
sesuatu yang dapat dipercaya atau memutuskan. Relevansi, keakuratan, dan kredibilitas fakta
harus menjadi dasar penerapan standarisasi. Ini juga harus didasarkan pada pertimbangan yang
matang, sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, dan bebas dari logika yang keliru dan
konsisten. Dalam hal ini di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo, keahlian bernalar kritis siswa pada
pembelajaran IPA dikembangkan ke dalam Problem Based Learning sebagai berikut:

Mampu Merumuuskan Permasalahan Pada Pokok Materi


Menurut El-yunusi (2020), merumuskan inti pokok perkara yang berkaitan dengan topik
yang diberikan oleh guru. hakikat dari merumuskan inti pokok perkara merupakan menyusun
inti perkara, baik berupa pertanyaan maupun lainnya dari studi kasus yang di sajikan guru. Kala
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7074

guru mengaplikasikan pembeelajaran yang membangkitkan keahlian bernalar kriris siswa,


mereka bisa menampilkan dan melaksanakan. Menurut SU, kepala sekolah di SD Talenta Al-
Fatih Sidoarjo:
Untuk dapat merumuskan pokok permasalahan harus mempunyai sebuah kriteria atau
patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk
diputuskan atau dipercayai. Hal tersebut terjadi pada saat rasa ingin tau siswa terhadap
suatu hal muncul. Meskipun sebuah pokok permasalahan dapat disusun dari beberapa
ide atau pendapat siswa, namun akan mempunyai hasil yang berbeda dalam
kemampuan berpikir kritis siswa jika model pembelajarannya tidak sesuai. Ketika
proses pembelajaran berlangsung guru memberi pertanyaan pemantik dan umpan
balik tentang suatu masalah sehingga timbul ide – ide kritis dari siswa dan pertanyaan-
pertanyaan kembali yang muncul dalam diri siswa, sehingga siswa bisa dengan mudah
merumuskan pokok-pokok permasalahan dalam pembelaran IPA.

Hal serupa juga diungkapkan oleh IM, guru IPA SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo:
Ketrampilan berpikir kritis siswa dalam memunculkan pokok-pokok permasalahan
dalam pembelajaran IPA dapat diwujudkan karena adanya pemberian masalah yang
relevan dengan kehidupan nyata. Diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalah
tersebut dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis yang mereka miliki dalam
menyelesaikan masalah, sehinggga para siswa antusias untuk mengetahui apa pokok
permasalahan yang diberikan oleh guru. Gambaran antusias siswa dalam
pemembelajaran IPA untuk merumuskan pokok-pokok permasalahan bisa dilihat
ketika siswa sibuk berpikir dan bertanya untuk mencari referensi mengenai masalah
yang diberikan oleh guru.(7 November 2024)

Kami sangat senang jika waktunya pelajaran IPA dimulai karena bu guru memberikan
materi yang berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari kami, sehingga
membuat kami bertanya-tanya dan sangat penasaran ingin mencari jawabannya (Hasil
wawancara dengan subjek DA November 2024)

Kami suka sekali jika waktunya pelajaran IPA dimulai, karena bu guru memberikan
kesempatan bertanya, diskusi, dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru
yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kami, sehingga membuat pelajaran
jadi seru dan menyenangkan (Hasil wawancara dengan siswa HM 2024)

Ketika penulis melakukan observasi tentang pembelajaran IPA dikelas, terlihat bahwa
mereka bisa merumuskan pokok-pokok persoalan. Siswa terlihat sangat tertarik untuk mencari
inti dari persoalan dengan mengajukan pertanyaan selama kegiatan pembelajaran berlangsung
(hasil observasi di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo). Gambar menunjukkan bahwa mereka sedang
berbicara dengan teman kelompoknya tentang hal-hal apa saja yang harus mereka ketahui
dengan bertanya jawab pada diskusi. Ini menunjukkan kepiawaian mereka saat menyusun
pertanyaan-pertanyaan dan menciptakan pokok masalah.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7075

Kemampuan untuk Menjawab Pertanyaan Pertanyaan tentang Materi Pokok


Terlatih menuntaskan persoalan yang muncul dari suatu statment yaitu sanggup
menanggapi serta menciptakan jalan keluar kasus yang dihipotesiskan kala pembeelajaran
berjalan (El-yunusi, 2020). Berlatih menuntaskan permasalahan yang muncul dari sesuatu
statment ialah sanggup menanggapi serta menciptakan Pemecahan dari permasalahan yang
dibahas pada dikala pendidikan berlangsung. Maksudnya adalah siswa harus dapat menjawab
pertanyaan dengan mendapatkan solusi pada pokok – pokok persoalan yang telah di bahas
dengan jawaban yang tepat dan benar untuk materi pelajaran IPA. Kondisi ini ditemukan oleh
penulis saat melihat siswa di kelas empat, pada waktu belajar tentang materi pesawat sederhana
di depan kelas. Dengan memberikan penjelasan dan menunjukkan bagaimana pesawat
sederhana bekerja, mereka dapat menjawab pertanyaan guru maupun temannya.
Berikut pernyataan beberapa informan SU yang mendukung temuan di atas:
Kemampuan siswa untuk menemukan jawaban dengan menjelaskan dan
mendemonstrasikan masalah yang di hadapi di kelas selama proses pembelajaran IPA
merupakan langkah bagus dalam mengasah kemampuan berpikir kritis siswa. Oleh
karena itu, dalam praktik pembelajaran di kelas, guru diharapkan selalu memberikan
pertanyaan dan umpan balik kepada siswa untuk membantu mereka meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, untuk menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi.

Saat diberikan pertanyaan, Siswa sangat antusias untuk menjawabnya. Mereka juga
dapat menjelaskan dan menunjukkan materi pembelajaran IPA pesawat sederhana, hal
ini terjadi karena siswa menjadi ingin tahu saat mereka mendapatkan suatu masalah dari
guru yang sudah pernah mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di zaman
sekarang yang teknologi semakin canggih, dimana siswa dapat mengakses ilmu
pengetahuan yang ingin mereka ketahui melalui dunia maya. (Hasil wawancara dengan
subjek MA, 2024).

Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan tentang pokok - pokok materi diukur dari
antusiasmenya dalam mencari dan mendiskusikan jawaban. Ketika mereka menyampaikan
pendapat selama proses diskusi kelompok, siswa membuat argumen yang masuk akal, relevan,
dan akurat. Mereka bisa menjawab pertanyaan dari guru dan siswa lain dengan benar selama
demonstrasi di kelas. Prilaku bernalar kritis ini berkembang ketika menggunakan pola
pembelajaran yang mendorong tumbuhnya prilaku itu, melalui tanya jawab, diskusi,
demonstrasi, dan pemecahan masalah. Semua itu tergambar dari model pembelajaran problem
based learning.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7076

Kemampuan untuk Memecahkan Masalaah dalam Materi


Klurik & Rudnick (1988) menyimpulkan pemecahan masalah adalah proses dimana
seseorang menerapkan informasi, kemampuan, dan pemahaman yang dipelajari sebelumnya
untuk memenuhi tuntutan keadaan baru. Menurut kepala sekolah serta guru IPA:
Mampu memecahkan masalah dalam sebuah materi dengan menyampaikan fakta-fakta
yang relevan antara kognitif dan kehidupan nyata dalam menyelesaikan masalah
merupakan tindakan yang dilakukan oleh siswa dalam mencari jalan keluar dari sebuah
masalah yang dialaminya untuk memecahkan masalah yang dihadapi baik dalam
pembelajaran maupun diluar pembelajaran.

Siswa mampu memecahkan masalah dalam materi pembelajaran IPA digambarkan


ketika mereka mampu menemukan solusi untuk masalah yang diberikan oleh guru IPA.
Materi pelajaran pesawat sederhana yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
seperti gunting, pemotong kertas, Siswa dapat menyelesaikan masalah dengan
menunjukkan di depan kelas masalah yang diberikan oleh guru sesuai dengan apa yang
mereka alami setiap hari. Menurut guru IPA, semua ini dapat dicapai jika model
pembelajaran seperti Problem Based Learning dapat membantu siswa belajar berpikir
kritis (Hasil wawancara dengan subjek MA, 2024).

Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada materi pembelajaran IPA tercermin
dari kemampuan mereka mendeteksi jalan keluar permasalahan yang disampaikan guru IPA.
Berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka. Misalnya pada pembelajaran IPA kelas 4 SD
tentang pesawat sederhana yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan ajar
sperti gunting, cutter, stapler, elevator tiang bendera, dan roda sepeda. Siswa dapat mencari
solusi dengan mendemonstrasikan di depan kelas permasalahan yang diajarkan guru.
Berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari. semua itu dapat terjadi jika model
pembelajarannya menggunakan Problem based learning seperti yang disampaikan guru IPA.
Kemampuan Menarik Kesimpulan
Menurut Anggraeni (2016) kemampuan kognitif adalah kemampuan seseorang untuk
memperoleh pengetahuan melalui tingkah laku, pengamatan, dan berpikir logis. Kemampuan
kognitif berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. Yuni & Fisa (2020) menyimpulkan:Dalam
bahasa inggris, generalisasi istilah yang digunakan untuk mengambarkan kesimpulan. Tahap
generalisasi sangat penting karena peserta didik dapat mengambil dasar dari proses
pembelajaran yang telah mereka lakukan sebelumnya. Kemampuan siswa menarik kesimpulan
adalah faktor penting yang mempengaruhi kemampuan siswa selama proses pembelajaran IPA.
Karena siswa dapat menentukan dan menemukan inti dari permasalahan. Menurut kepala
sekolah dan guru IPA:
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7077

Model pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran IPA sangatlah


penting bagi siswa dalam pemahaman materi pada pembelajaran IPA. Dengan model
pembelajaran ini, siswa dapat lebih fokus dalam proses pembelajaran karena
melibatkan siswa untuk berbicara satu sama lain, sehingga siswa dapat memahami
materi dengan baik.

Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam memahami pembelajaran yang diajarkan
guru adalah kemampuan siswa dalam keterampilan menyimpulkan, yang menuntut
siswa untuk memahami inti dari pertanyaan yang diberikan guru dalam proses
pembelajaran IPA dalam suasana kelas yang aktif, kondusif, dan bermakna. Kami
sebagai guru IPA menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam
pembelajaran IPA pada materi pesawat sederhana, yang dapat membuat siswa aktif,
berpikir kritis, dan mampu menemukan inti dari materi, sehingga mereka mudah
menarik kesimpulan dari masalah dalam materi pesawat sederhana (Hasil wawancara
dengan subjek MA 2024).

Model pembelajaran berbasis masalah juga memungkinkan siswa dengan mudah belajar
sendiri atau berkelompok dengan menggunakan persoalan yang dikasihkan guru, bisa
membantu mereka mengerti keterampilan menyimpulkan lebih bagus. Model pembelajaran
berbasis masalah cocok digunakan oleh siswa sekolah dasar, terutama untuk pembelajaran
mendemonstrasikan pesawat sederhana diakhiri dengan menarik kesimpulan. Hal ini menjadi
jelas ketika siswa mampu dengan sukses dan akurat merangkum apa yang telah mereka pelajari.
Siswa dapat menunjukkan dengan baik dan benar bahwa pesawat sedeerhana adalah alat yang
berfungsi meringankan pekerrjaan manusiia. Misalnya mengibarkan bendera merah putih.
Menurut Arends (2008), ada lima tahap dalam menerapkan PBL yaitu (1) mengarahkan
siswa terhadap maasalah; (2) mengorganisir siswa untuk penelitian; (3) membantu mereka
melakukan penelitian secara mandiri dan berkelompok; (4) membuat dan menyajikan hasil
penelitian; dan (5) analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Masalah yang digunakan
dalam PBL adalah masalah yang sebenarnya. Terlepas dari kenyataan bahwa kemampuan
individual diperlukan untuk setiap siswa, tetapi dalam proses belajar PBL, siswa belajar dalam
kelompok untuk memecahkan masalah, dan kemudian mereka belajar secara individu untuk
mendapatkan instruksi tambahan tentang pemecahan masalah. Indikator model pembelajaran
problem based learning digunakan di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo guna membangkitkan
keahlian bernalar kritis yaitu:

Mengarahkan Siswa Kepada Masalah


Rusmono (2012) menyatakan guru memberitau siswa tentang tujuan pembelajran dan
kebutuhan logistik penting. Mereka juga mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan
pemecahan masalah. Rusman (2013) menyimpulkan bahwa orientasi siswa pada masalah peran
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7078

guru yaitu menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang diperlukan untuk
memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Dalam hal ini, penulis
melihat aktivitas guru dan siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo yaitu:
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menarasikan beraneka ragam keperluan
logistik penting, dan mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan
menyelesaikan masalah.

Siswa terlihat aktif belajar dalam kelompok yang sudah dibagi oleh guru, mereka
antusias berdiskusi mengenai masalah yang diberikan guru

Berdasarkan pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa diarahan guru pada
masalah atau siswa diorentasikan pada masalah berarti siswa diberikan arahan ke topik yang
akan dipelajari. Dalam hal ini, bahan yang diberikan disiapkan dalam bentuk masalah yang
harus diselesaikan untuk dipelajari kemudian.

Mengorganisir Siswa Untuk Belajar


Rusmono (2012) menyatakan bahwa dalam proses mengorganisasikan belajar siswa, Guru
membantu siswa menentukan dan mengatur tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut. Rusman (2013) kemudian menyatakan:bahwa dalam proses
mengorganisasikan belajar siswa, Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Fakta yang
diamati di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo baik guru maupun siswa adalah:
Guru membantu siswa mengartikan dan mengatur tugas belajar yang terkait dengan
[Link] kesempatan kepada setiap kelompok untuk berbicara
tentang masalah pesawat sederhana. memberi mereka motivasi untuk mencari solusi
pada masalah-masalah yang terkait dengan kehidupan mereka, agar masalah tersebut
relevan dalam kehidupan nyata.

Siswa sangat tertarik untuk bekerjasama dalam kelompok diskusi untuk


mendefinisikan masalah pesawat sederhana (7 November 2024).

Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mendiskusikan, terutama yang


membahas permasalahan terkait pesawat sederhana. Mendorong mereka untuk mencari
permasalahan yang dekat dengan kehidupannya sendiri (tentunya terkait dengan permasalahan
pesawat sederhana) agar permasalahan tersebut relevan secara kontekstual dengan kehidupan
nyata. Permasalahan yang bermakna bagi siswa dalam konteks nyata mempunyai daya luar
biasa, maka dari itu mereka belajar dari kesadaran tidak karena paksaan. Hal ini mempengaruhi
efisiensi proses pembelajaran. Sehingga siswa dengan mudah meyelesaikan tugas yang
diberikan guru.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7079

Memandu Penyelidikan Individu dan Kelompok


Kusnandar (2010) menyimpulkan:Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta
didik melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah,
sedangkan Rusmono (2012) mengatakan:Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi
yang sesuai, melaksanakan eksperimen, mencari penjelasan, dan solusi. Hasil pengamatan di
SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo:
Guru membantu penyelidikan mandiri dan berkelompok. Guru mendorong siswa agar
dapat mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk
mendapatkan kejelasan dalam pemecahan [Link] kesempatan kepada
setiap kelompok untuk melakukan penyelidikan masalah. Mereka dapat melakukan
penelitian terhadap berbagai buku referensi atau melihat bagaimana pesawat
sederhana dapat membantu mereka mempermudah pekerjaan mereka dalam
kehidupan sehari - hari. Guru memberi kesempatan kepada mereka untuk beradu
diskusi tentang bagaimana merencanakan strategi dan kemudian menerapkannya
untuk memecahkan masalah tersebut. (7 November 2024)

Siswa beradu argumentasi dan berpartisipasi dalam eksperimen untuk menyelesaikan


masalah tentang pesawat sederhana dan mengumpulkan data yang tepat(7 November
2024)

Penulis simpulkan bahwa langkah ini membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
siswa, membantu mereka mempersiapkan diri untuk diskusi kelompok, melaksanakan
investigasi yang berhubungan dengan masalah mereka.

Mengembangkan dan Mempresentasikan Hasil Karya dan Pameran


Rusman (2013) menyatakan bahwa membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan hasil karya yang sesuai seperti laporan dalam membantu mereka untuk berbagi
tugas dan temannya’. Rusmono (2012) menyatakan bahwa:’’guru memberi kesempatan kepada
setiap kelompok melalui perwakilannya untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
sementara kelompok lain turut memperhatikan. Sesuai dengan fakta dilapangan adalah:
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan membuat laporan, video, dan model,
serta membantu mereka berbagi proyek bersama. Guru membimbing Setiap kelompok
melakukan tugas investigasi dan menemukan solusi masalah yang tepat, mereka diberi
kesempatan untuk melakukan presentasi hasil. Guru menilai afektif, kognitif, dan
psikomotorik siswa’’

Siswa mencari informasi yang tepat, membuat kesimpulan, membuat laporan dan
presentasi, dan menampilkan hasil eksperimen.(7 November 2024).
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7080

Presentasi hasil karya adalah langkah terakhir untuk meninjau hasil kerja dan hasil survei
dan penyelidikan, serta untuk menyelesaikan masalah apa pun yang muncul di setiap
kelompok. Presentasi akan dilaksanakan di depan, agar kelompok siswa lainnya bisa turut serta
menilai hasil karya temannya. Sebaliknya bagi guru, penyajian ini merupakan sarana evaluasi
kognitif, psikomotorik, dan afektif dengan melihat ketertiban dan kelancaran mereka.

Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah


Kata Rusmono(2012) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru
membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-
proses yang mereka gunakan. Penulis amati di lapangan:
Guru membantu siswa berpikir tentang investigasi mereka (penyelidikan) dan
prosedur yang mereka lakukan. Guru memberi pertanyaan yang mengarah kepada
manfaat belajar pesawat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Guru
menghubungkan dengan ayat – ayat dalam alqur’an agar siswa senantiasa mengingat
kemaha besaran Allah (7 November 2024)

Siswa melakukan refleksi dengan menghubungkan pembelajaran tentang pesawat


sederhana dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan menemukan serta menghungkan
ayat-ayat dalam Al-Qur’an tentang materi tersebut (7 November 2024).

Kegiatan menganalisis dan mengevaluasi dalam pembelajaran deengan model Problem


based learning ini membuat mereka menjadii sangat senang dan tertarik saat melakukan
pembelajaran dari awal sampai akhir. Mereka juga jadi lebih bersyukur dan selalu mengingat
akan kemaha besaran allah. Karena apa yang mereka kerjakan, rasakan, alami sangat relevan
dengan kehidupan sehari-hari. Semua Penjelasan tersebut memaparkan prosess bernalar kritis
menggunakan informasii untuk menggali apa yang dicari. Hal ini terlihat kala mereka bisa
menyusun dengan jelas pokok masalah yang berkaitan dengan materi yang mereka pelajari.
Penjelasan teoritis diatas menunjukkan bahwa berpikir kritis sesuai untuk pengembangan
keterampilan berpikir kritis siswa di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Keterampilan berpikir kritis
ini tidak terlepas dari beberapa alasan yang perlu dipertimbangkan ketika berbicara tentang
meningkatkan kemampuan bernalar kritis. Terkait dengan keterampilan berpikir kritis,
hendaknya guru menerapkan model pembelajaran yang dapat mencakup seluruh unsur yang
mensupport pengembangan keterampilan berpikir kritis. Guru IPA SD Talenta Al-Fatih
Sidoarjo menggunakan model problem based learning untuk membangkitkan keahlian berpikir
kritis siswa.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7081

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah empat keahlian bernalar kritis dikembangkan di
sekolah dasar Talenta Al Fatih yaitu (1) mampu menemukan pokok masalah, (2) mampu
menjawab pertanyaan tentang topik-topik utama, (3) dapat memecahkan masalah, (4) mampu
menarik kesimpulan. Keterampilan berpikir kritis ini dikembangkan guru IPA kala menerapkan
modell pembeelajaran berbasis masalah pada saat melakukan pembelajaran, sehingga
berdampak besar terhadap perkembangan keahlian bernalar kritis siswa di SD Talenta Al Fatih
Sidoarjo. Faktor pendukung adalah semua hal yang menunjang siswa membangkitkan keahlian
bernalar kritis mereka, setelah modell pembeelajaran berbasis masalah diterapkan di SD
Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Dan setelah melakukan observasi, peneliti mendapati bahwa
komponen pendukung terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa.

Aspek Kepemimpinan Sekolah


Pimpinan seekolah adalah seorang pemimpiin yang bertanggung jawab atas manajemen
satuan pendidikan. Setiap program dan kegiatan pembelajaran di sekolah harus diawasi oleh
pimpinan [Link] sekolah juga harus mensupport berbagai modell pembeelajaran yang
membantu siswa belajar berpikir kritis. Salah satu cara pimpinan sekolah mendukung
penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning adalah dengan mendorong guru
untuk menggunakannya dalam pembelajaran. Kepala sekolah di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo,
SU, mengatakan:
Pimpinan di sebuah sekolah harus dapat menjadi teladan bagi yang di pimpinnya.
Seorang kepala sekolah, harus mendukung setiap program kebaikan yang
dilakukan oleh guru-gurunya seperti halnya mendukung dalam proses
perkembangan siswa agar lebih berkembang kemampuan berpikir kritisnya. Untuk
itu kami sangat mendukung penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam
pembelajaran, karena kemampuan berpikir kritis siswa sangat meningkat dan hal
ini dapat dibuktikan selama proses pembelajaran.

Menurut Ibu IA, guru IPA di Talenta Al-Fatih School:


Dukungan dari kepala sekolah sangat berpengaruh dalam Penerapan Problem
Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, yaitu
kepala sekolah selalu memberikan apresiasi dan nasehat agar menerapkan model
pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa,
karena dengan begitu dapat menjadikan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang
lebih baik
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7082

Faktor Guru
Beberapa faktor yang mendukung guru di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo ketika
mengaplikasikan imodel ipembelajaran prroblem based learniing. Dallam rangka
membangkitkan keahlian bernalar kritis yaitu mengajarrkan pengetahuan, menjalankan model
pembelajaran, mengorganisir rute pembelajaran, memberi petunjuk siswa selama pembelajaran
berlangsung. Menurut SU, Kepala SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo,
Kunci keberhasilan dalam pembelajaran terletak pada bagaimana guru dapat
menerapkan metode pembelajaran yang tepat yang mampu menghidupkan suasana
pembelajaran sehingga siswa aktif, kreatif dan mampu menumbuhkan kemampuan
berpikir kritis mereka. Salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran
Problem Based Learning dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Pendapat guru IPA yaitu Ibu MA dan IA:


Guru selain dituntut untuk mampu mengelola jalan pembelajaran di kelas sehingga
mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa, mereka juga dituntut
untuk membuat siswa merasa nyaman dan bahagia saat belajar sehingga mereka
mampu menyerap dan menerima pembelajaran dengan baik.

Faktor Siswa
Aspek pendukung di SD Talenta Al-Fatih adalah Faktor-faktor yang berkontribusi pada
peningkatan keahlian bernalar kritis siswa lewat penerapan model pembelajaran berbasis
masalah. Termasuk semangat siswa untuk belajar, keadaan pribadi mereka yang relatif baik,
cara pikir mereka tentang pembelajaran. Dalam pembicaraan antara penulis dan SU di kantor
SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo, dikatakan bahwa:
Latar belakang Pembelajaran Berbasis Masalah sangat penting untuk diterapkan,
karena siswa sangat butuh model pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa
semangat dan aktif dalam pembelajaran, yang dapat menumbuhkan siswa untuk
bernalar kritis saat menuntaskan masalah, dan peserta didik SD Talenta Al-Fatih
Sidoarjo sangat antusias saat model pembelajaran tersebut di terapkan.

Menurut Ibu MA, seorang guru IPA:


keahlian bernalar kritis terletak padaa siswa itu sendirii. Apabila siswa dalam
kondisi sehat jiwa raga, mendapat kasih sayang dan perhatian penuh dari
keluarganya. Maka mereka mudah mengaplikasikan. Namun jika kondisi mereka
sebaliknya, maka mereka akan kesulitan mengaplikasikan.

Aspek penunjangnya di pengaruhi oleh imodell ipembelajaran iproblem bassed learning


disekolah Talenta Al-Fatih Sidoarjo. Oleh karena itu, jajaran guru dan kepala sekolah akan
terus memperbaharui hal-hal yang masih belum dilakukan dengan baik. Mereka mengadakan
rapat evaluasi sekolah setiap bulan. Setiap hal yang menghambat perkembangan keahlian
bernalar kritis siiswa saat mengaplikasikan modell pembellajaran berbasis masalah pada mata
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7083

pelajaran IPA di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo disebut sebagai faktor penghambat. Penulis
melihat bahwa komponen penghambat yakni (1) situasi pembellajaran tidak kondusif, dan (2)
terbatasnya waktu yang diberikan. Kepala SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo, Ibu SU, menjelaskan
bahwa:
Faktor penghambat terutama berkaitan dengan proses belajar siswa. Terkadang
terjadi kebisingan di ruangan kelas, terutama saat berdiskusi atau menerima materi,
sehingga siswa kehilangan fokus dalam pembelajaran. Dengan demikian,
pembelajaran memang lebih efektif jika tidak ada gangguan.

Ibu MA, menyatakan:


Aspek penghambat yang kerap ditemui pada saat presentasii, ijam pellajaran telah
habis. Keadaan ini memanglah wajib dicermati guru dalam pelaksanaannya. Sebab
model pembelajaran Problem based learning memerlukan iwaktu lumayan lama.
Faktanya iwaktu sedikit, jadi guru wajib memanfaatkan waktu yang diberikan
kepada siswa.

Seperti yang ditunjukkan oleh guru dan kepala sekolah di atas, ditemukan bahwa situasi
belajar tidak menyenangkan dan waktu sedikit adalah penghalang bagi peneerapan model
pembellajaran problem based learning untuk menumbuhkan keahlian benalar kritis siswa

KESIMPULAN
Setelah melakukan pengamatan, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu sesuatu yang
menjadi hasil penemuan. Satu, keahlian bernalar kritis yang iterbentuk daalam pembeelajaran
IPA di SD Talenta Al-Fatih Sidoarjo dapat disimpulkan yaitu (1) mampu merumuskan pokok
permasalahan, (2) dapat menjawab pertanyaan dari pokok-pokok permasalahan, (3) mampu
memecahkan masalah mampu menarik kesimpulan. Untuk tujuan menumbuhkan keahlian
bernalar kritis siswa disekolah Talenta Al-Fatih Sidoarjo, maka model pembelajaran berbasis
masalah digunakan. Hasilnya ditunjukkan dari (1) mengarahkan siswa pada kasus, (2)
mengorganisir siiswa investigasi, (3) memandu investigasi individu dankelompok, (4)
mendemonstrasikan hasiil karya, dan (5) refleksi proses pemecahan masalah. Aspek penunjang
dan penghalang di dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah di SD Talenta Al-
Fatih Sidoarjo untuk meningkatkan keahlian bernalar kritis yaitu kepemimpinan kepala
sekolah, guru, dan siswa merupakan faktor pendukung, sedangkan waktu yang terbatas dan
proses belajar yang tidak efektif merupakan faktor penghambat.
Umala & El-Yunusi, Penerapan Model Problem Based Learning … 7084

REFERENSI
Ardana, I. M., Gunamantha, I. M., Studi, P., Dasar, P., & Ganesha, U. P. (2022).
Pengembangan lkpd berbasis pemecahan masalah dengan pendekatan 4c untuk
meningkatkan kemampuan. 6(1), 24–32.
Ayunda, N., & Alberida, H. (2023). Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning
( PBL ) Berbantuan LKPD terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. 05(02),
5000–5015.
El-yunusi, M. Y. M. (n.d.). Problem Based Learning dalam Mengembangkan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. 4(2), 113–132.
El-yunusi, M. Y. M., Fira, S., Arifin, A., Putri, D., & Sandy, A. (2023). Pendampingan Belajar
Siswa di Rumah Belajar Anak Sholeh melalui Kegiatan Bimbingan Belajar Desa Tebel
Gedangan Sidoarjo. 03(01), 1–11.
Magdalena, I., Auliya, D., Ariani, R., & Tangerang, U. M. (2020). dalam pembelajaran IPA di
sdn cipete 2. 2(April), 153–162.
Nafiah, Y. N., Suyanto, W., & Yogyakarta, U. N. (n.d.). penerapan model problem-based
learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan the application of the
problem-based learning model to improve the students critical thinking. c, 125–143.
Parameswari, P., & Kurniyati, T. (2020). Kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan
masalah matematika. 6(c), 89–97.
Rafiah, S. (2019). Peranan Guru dalam Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based
Learning. 1–3.
Ramdani, A., Jufri, A. W., & Setiadi, D. (2020). Kemampuan Berpikir Kritis dan Penguasaan
Konsep Dasar IPA Peserta Didik. 21.
Ruhyanto, A., Agustin, R., & Yanti, E. (2021). Penerapan Model Pembelajaran Problem
Solving untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pendahuluan), 161–170.
Syafitri, E., Armanto, D., Rahmadani, E., Medan, U. N., Matematika, P., & Asahan, U. (2021).
Aksiologi kemampuan berpikir kritis. 4307(3), 320–325.
Yampap, U., & Hasyda, S. (2023). Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. 4(1).

Anda mungkin juga menyukai