Pengantar Analisis Real
2021
BAB II
BILANGAN REAL
2.1 Sifat-sifat Aljabar dan Urutan dalam ℝ
Pada bab ini akan dibahas tentang sifat-sifat penting di dalam sistem
bilangan real (ℝ), diantaranya sifat aljabar, ketaksamaan serta urutan.
Berdasarkan sifat-sifat ini, akan ditelusuri sifat fundamental terkait dengan
bilangan tersebut dan menunjukkan bagaimana sifat-sifat fundamental itu akan
menghasilkan sifat baru yang diturunkan dari sifat awal tadi. Kegiatan ini tentu
saja akan membantu dalam mempelajari alat-alat analisis sehingga bisa
mengerjakan logika yang sulit dalam mengkonstruksi model ℝ.
Bahasan awal bagian ini adalah tentang aljabar di dalam sistem bilangan
real. Akan diberikan sifat-sifat dasar tentang penjumlahan dan perkalian yang
berlaku di dalamnya, Sehingga menghasilkan beberapa teorema. Di dalam
terminology alj ℝ abar abstrak, sistem bilangan real merupakan suatu system yang
dilengkapi dengan operasi penjumlahan dan perkalian yang memenuhi sifat pada
definisi di bawah ini.
Definisi 2.1.1 Diberikan himpunan bilangan real ℝ dengan operasi biner
penjumlahan (+) dan perkalian (.). Operasi tersebut memenuhi sifat sebagai
berikut:
A. Terhadap operasi penjumlahan (+)
1. Untuk setiap 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ berlaku 𝑥 + 𝑦 ∈ ℝ (tertutup terhadap operasi
penjumlahan)
2. Untuk setiap 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ berlaku (𝑥 + 𝑦) + 𝑧 = 𝑥 + (𝑦 + 𝑧) (assosiatif)
3. Terdapat 0 ∈ ℝ sehingga untuk setiap 𝑥 ∈ ℝ berlaku 𝑥 + 0 = 0 + 𝑥 = 𝑥
(eksistensi elemen identitas 0)
4. Untuk setiap 𝑥 ∈ ℝ terdapat −𝑥 ∈ ℝ sehingga 𝑥 + (−𝑥) = (−𝑥) + 𝑥 =
0 (eksistensi elemen invers, yaitu negatif)
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 8
Pengantar Analisis Real
2021
5. Untuk setiap 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ berlaku 𝑥 + 𝑦 = 𝑦 + 𝑥 (komutatif terhadap operasi
penjumlahan)
B. Terhadap operasi perkalian (.)
1. Untuk setiap 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ berlaku 𝑥. 𝑦 ∈ ℝ (tertutup terhadap operasi
perkalian)
2. Untuk setiap 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ berlaku (𝑥. 𝑦). 𝑧 = 𝑥. (𝑦. 𝑧) (assosiatif)
3. Terdapat 1 ∈ ℝ sehingga untuk setiap 𝑥 ∈ ℝ berlaku 𝑥. 1 = 1. 𝑥 = 𝑥
(eksistensi elemen identitas 1)
1 1 1
4. Untuk setiap 𝑥 ≠ 0 ∈ ℝ terdapat ∈ ℝ sehingga 𝑥. (𝑥) = (𝑥) . 𝑥 = 1
𝑥
1
(eksistensi elemen invers 𝑥 ).
5. Untuk setiap 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ berlaku 𝑥. 𝑦 = 𝑦. 𝑥 (komutatif terhadap perkalian)
C. Sifat distributif
Untuk setiap 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ berlaku bahwa 𝑥. (𝑦 + 𝑧) = 𝑥. 𝑦 + 𝑥. 𝑧 dan (𝑦 +
𝑧). 𝑥 = 𝑦. 𝑥 + 𝑧. 𝑥
Ketiga sifat di atas sudah umum diketahui, dan di dalam struktur aljabar,
suatu sistem yang memenuhi semua sifat A, B dan C disebut dengan field atau
lapangan. Bilangan real sendiri merupakan field terurut.
Berikut ini teorema yang terkait dengan eksistensi elemen identitas dan
invers.
Teorema 2.1.2 Diberikan 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ
a. Jika 𝑥, 𝑧 ∈ ℝ dengan 𝑥 + 𝑧 = 𝑥 maka 𝑧 = 0
b. Jika 𝑥 dan 𝑦 ≠ 0 elemen ℝ dengan 𝑥. 𝑦 = 𝑦 maka 𝑥 = 1
c. Jika 𝑥 ∈ ℝ , maka 𝑥. 0 = 0
Bukti:
a. Oleh karena 𝑥 ∈ ℝ, berarti terdapat −𝑥 ∈ ℝ. Dan karena 𝑧 ∈ ℝ maka berlaku
𝑧=𝑧+0
= 𝑧 + (𝑥 + (−𝑥))
= (𝑧 + 𝑥) + (−𝑥) , karena 𝑥 + 𝑧 = 𝑥 maka
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 9
Pengantar Analisis Real
2021
= 𝑥 + (−𝑥)
=0
1
b. Karena 𝑦 ≠ 0 ∈ ℝ , berarti terdapat 𝑦 ∈ ℝ sehingga
𝑥 = 𝑥. 1
1
= 𝑥. (𝑦. ( ))
𝑦
1
= (𝑥. 𝑦). 𝑦 dan karena 𝑥. 𝑦 = 𝑦 maka
1
= 𝑦. 𝑦 = 1
c. Karena 𝑥 ∈ ℝ maka 𝑥 + 0 = 0 + 𝑥. Berlaku pula 1 + 0 = 0 +1 dan 1 = 1 + 0
sehingga 1. 𝑥 = (1 + 0). 𝑥
𝑥 = 1. 𝑥 + 0. 𝑥
𝑥 + (−𝑥) = 1. 𝑥 + 0. 𝑥 + (−𝑥)
0 = 𝑥 + (−𝑥) + 0. 𝑥
0 = 0 + 0. 𝑥 dengan kata lain, diperoleh
0 = 𝑥. 0 ∎
Selanjutnya, akan diberikan teorema penting tentang perkalian dalam
bilangan real, yaitu ketunggalan elemen invers dan pernyataan bahwa perkalian
dua bilangan yang menghasilkan nol hanya terjadi jika salah satu faktornya adalah
nol.
Teorema 2.1.3 Diberikan 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ, maka berlaku sifat berikut:
a. Jika 𝑥 + 𝑦 = 0 maka 𝑦 = −𝑥
1
b. Jika 𝑥 ≠ 0 dan 𝑦 ∈ ℝ sehingga 𝑥. 𝑦 = 1 maka 𝑦 = 𝑥
c. Jika 𝑥. 𝑦 = 0 maka 𝑥 = 0 atau 𝑦 = 0
Bukti:
a. Karena 𝑥 + 𝑦 = 0 dan 𝑥 ∈ ℝ maka (−𝑥) + (𝑥 + 𝑦) = (−𝑥) + 0. Diperoleh
((−𝑥) + 𝑥) + 𝑦 = −𝑥
0 + 𝑦 = −𝑥
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 10
Pengantar Analisis Real
2021
𝑦 = −𝑥
b. Oleh karena 𝑥. 𝑦 = 1 maka
1 1
𝑥. 𝑦 = 1 ⟺ 𝑥 (𝑥. 𝑦) = 𝑥 . 1
1 1
⟺ (𝑥 . 𝑥) 𝑦 = 𝑥
1
⟺ 1. 𝑦 =
𝑥
1
⟺𝑦=𝑥
c. Diketahui bahwa 𝑥. 𝑦 = 0 maka
1 1
𝑥. 𝑦 = 0 ⟺ (𝑥) . (𝑥. 𝑦) = (𝑥) . 0
1
⟺ (𝑥 . 𝑥) (𝑦) = 0
⟺ 1. 𝑦 = 0
⟺𝑦=0
1
Dengan cara yang sama, ruas kanan dikalikan dengan , maka akan
𝑦
diperolah x = 0 . ∎
Teorema di atas merupakan contoh dasar sifat bilangan real. Akibat yang
terjadi karena pendefinisian teorema tersebut akan diberikan sebagai bahan
latihan.
Operasi pengurangan (subtraction) yang didefinisikan dengan x – y = x + (-
y) untuk 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ. Hal sama berlaku pula pada operasi pembagian (division), yaitu
𝑥 1
untuk 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ dengan 𝑦 ≠ 0 didefinisikan 𝑦 = 𝑥. (𝑦).
Lebih lanjut, untuk memudahkan, perkalian x.y cukup ditulis dengan xy,
dan eksponen 𝑥 2 adalah untuk xx, 𝑥 3 untuk (𝑥 2 )𝑥, begitu selanjutnya. Sehingga
secara umum dapat didefinisikan 𝑥 𝑛+1 = (𝑥 𝑛 )𝑥 untuk 𝑛 ∈ ℕ. Selanjutnya, 𝑥1 =
1
𝑥, dan jika 𝑥 ≠ 0 dapat ditulis 𝑥 0 = 1, sedangkan 𝑥 −1 untuk , dan jika 𝑛 ∈ ℕ,
𝑥
1 𝑛
akan ditulis 𝑥 −𝑛 untuk (𝑥) .
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 11
Pengantar Analisis Real
2021
2.2 Bilangan Rasional dan Irrasional
Di saat mempelajari kalkulus, kita telah mengetahui bahwa himpunan
bilangan asli ℕ serta bilangan bulat ℤ merupakan subset dari dari ℝ. Sementara
𝑛
itu, diketahui pula bahwa bilangan real ℝ yang dapat ditulis dalam bentuk 𝑚
dengan 𝑚, 𝑛 ∈ ℕ dan 𝑚 ≠ 0 disebut dengan bilangan rasional. Himpunan semua
bilangan rasional di dalam ℝ disimbolkan dengan ℚ. Berkaitan dengan sifat
tertutup pada operasi penjumlahan dan perkalian dalam bilangan real, dapat pula
ditunjukkan bahwa penjumlahan dan perkalian dua bilangan rasional juga
merupakan bilangan rasional. Oleh sebab itu, sifat-sifat lapangan juga berlaku
pada ℚ.
Tetapi, ada elemen ℝ yang bukan elemen ℚ. Pada abad keenam sebelum
masehi, masyarakat yunani Phitagoreans menemukan bahwa diagonal kuadrat
dengan sisi 1 tidak dapat dinyatakan dengan perbandingan bilangan bulat.
Mengingat teorema Phitagoras tentang segitiga siku-siku, hal ini mengakibatkan
tidak ada kuadrat bilangan rasional yang sama dengan 2. Hal ini tentu saja
memberikan dampak pada perkembangan matematika di Yunani.
Salah satu akibat dari adanya elemen ℝ yang bukan elemen ℚ dikenal
dengan munculnya istilah bilangan irrasional, yang berarti bahwa irrasional
bukanlah rasio atau perbandingan bilangan bulat.
Akan diberikan teorema yang dapat menunjukkan bahwa tidak terdapat
bilangan rasional yang kuadratnya sama dengan 2. Untuk membuktikan hal itu,
akan digunakan istilah bilangan ganjil dan genap, yaitu suatu bilangan asli disebut
genap jika berbentuk 2𝑛 untuk suatu 𝑛 ∈ ℕ, dan disebut ganjil jika berbentuk
2𝑛 − 1 untuk suatu 𝑛 ∈ ℕ.
Teorema 2.2.1 Tidak ada bilangan rasional 𝑟 ∈ ℚ dengan sifat 𝑟 2 = 2
Bukti:
Andaikan ada bilangan rasional 𝑟 ∈ ℚ dengan sifat 𝑟 2 = 2. Oleh karena 𝑟 ∈ ℚ
𝑚
maka 𝑟 = dengan 𝑚, 𝑛 ∈ ℤ dan 𝑛 ≠ 0. Asumsikan 𝑚, 𝑛 positif dan tidak
𝑛
𝑚2
punya faktor berserikat selain 1. Sehingga diperoleh = 2 atau 𝑚2 = 2𝑛2 .
𝑛2
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 12
Pengantar Analisis Real
2021
Karena 2𝑛2 maka 𝑚2 juga genap, akibatnya 𝑚 genap. (Sebab, jika 𝑚 ganjil maka
𝑚 = 2𝑡 + 1 untuk suatu 𝑡 ∈ ℕ, atau 𝑚2 = (2𝑡 + 1) 2 = 4𝑡 2 + 4𝑡 + 1 =
2(2𝑡 2 + 2𝑡) + 1 yang berarti 𝑚2 ganjil). Jadi, 𝑚 haruslah genap. Agar 𝑚, 𝑛
mempunyai faktor berserikat selain 1, maka harus ditemukan 𝑛 ganjil…(∗)
Oleh karena 𝑚 genap maka 𝑚 = 2𝑘 untuk suatu 𝑘 ∈ ℕ, sehingga 𝑚2 =
(2𝑘)2 = 4𝑘 2 . Di sisi lain diketahui bahwa 𝑚2 = 2𝑛2 sehingga 4𝑘 2 = 2𝑛2 ⟺
2𝑘 2 = 𝑛2 dengan 𝑛2 genap, akibatnya 𝑛 genap. Hal ini kontradiksi dengan (∗),
jadi pengandaian salah dan yang benar tidak ada bilangan rasional 𝑟 ∈ ℚ dengan
sifat 𝑟 2 = 2. ∎
2.3 Sifat Terurut Bilangan Real
Sifat urutan dalam bilangan real ℝ mengacu pada gagasan kepositifan dan
ketaksamaan di antara bilangan-bilangan real. Sebagaimana dalam struktur aljabar
di bilangan real, kita lanjutkan dengan membagi semua sifat terurut bilangan real
menjadi tiga sifat dasar dan perhitungan dengan ketaksamaan sehingga dapat
disimpulkan. Cara termudah untuk melakukan hal tersebut adalah dengan
mengambil subset khusus bilangan real ℝ dengan menggunakan notasi
kepositifan.
Definisi 2.3.1 (Sifat urutan ℝ) Diberikan himpunan tak kosong ℙ ⊂ ℝ, yang
disebut himpunan bilangan real positif, yang memenuhi sifat-sifat berikut:
i. Jika 𝑥, 𝑦 ∈ ℙ maka 𝑥 + 𝑦 ∈ ℙ
ii. Jika 𝑥, 𝑦 ∈ ℙ maka 𝑥𝑦 ∈ ℙ
iii. Jika 𝑥 ∈ ℝ, maka salah satu kondisi berikut dipenuhi: 𝑥 ∈ ℙ, 𝑥 = 0 , −𝑥 ∈ ℙ.
Sifat pertama dan kedua dalam definisi di atas menjelaskan kesesuaian
urutan dengan operasi penjumlahan dan perkalian . Sedangkan sifat ketiga biasa
disebut dengan Sifat Trikotomi, karena dapat membagi ℝ menjadi tiga jenis
elemen yang berbeda. Hal ini menjelaskan bahwa himpunan {– 𝑥: 𝑥 ∈ ℙ}dari
bilangan real negatif tidak mempunyai yang sama dengan bilangan real positif ℙ.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 13
Pengantar Analisis Real
2021
Lebih lanjut, himpunan ℝ merupakan gabungan tiga himpunan yang saling asing,
yaitu ℝ = ℙ ∪ {– 𝑥: 𝑥 ∈ ℙ} ∪ {0}. Untuk lebih jelasnya, lihat definisi berikut.
Definisi 2.3.2
i. Jika 𝑥 ∈ ℙ, ditulis 𝑥 > 0, maka 𝑥 disebut bilangan real positif
ii. Jika 𝑥 ∈ ℙ ∪ {0}, ditulis 𝑥 ≥ 0, maka 𝑥 disebut bilangan real nonnegatif
iii. Jika −𝑥 ∈ ℙ, ditulis 𝑥 < 0, maka 𝑥 disebut bilangan real negatif
iv. Jika −𝑥 ∈ ℙ ∪ {0}, ditulis 𝑥 ≤ 0, maka 𝑥 disebut bilangan real nonpositif
Gagasan ketaksamaan antara dua bilangan real akan didefinisikan dalam
bentuk himpunan elemen positif ℙ.
Definisi 2.3.3 Diberikan 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ.
a. Jika 𝑥 − 𝑦 ∈ ℙ maka ditulis 𝑥 > 𝑦 atau 𝑦 < 𝑥.
b. Jika 𝑥 − 𝑦 ∈ ℙ ∪ {0}, maka ditulis 𝑥 ≥ 𝑦 atau 𝑦 ≤ 𝑥.
Berdasarkan sifat urutan di atas dan sifat trikotomi pada definisi 2.3.1,
mengakibatkan bahwa jika 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ maka salah satu sifat berikut dipenuhi:
𝑥 > 𝑦, 𝑥 = 𝑦, 𝑥 < 𝑦.
Dengan demikian jika 𝑥 ≤ 𝑦 dan 𝑦 ≤ 𝑥, maka 𝑥 = 𝑦.
Selanjutnya, untuk kenyamanan notasi, jika 𝑥 < 𝑦 < 𝑧 berarti bahwa 𝑥 < 𝑦
dan 𝑦 < 𝑧. Untuk menggambarkan bagaimana sifat dasar urutan digunakan untuk
mendapatkan aturan-aturan ketaksamaan, kita akan memperoleh beberapa hasil
yang telah dipelajari sebelumnya.
Teorema 2.3.4 Diberikan sebarang 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ.
a. Jika 𝑥 > 𝑦 dan 𝑦 > 𝑧, maka 𝑥 > 𝑧
b. Jika 𝑥 > 𝑦 maka 𝑥 + 𝑧 > 𝑦 + 𝑧
c. Jika 𝑥 > 𝑦 dan 𝑧 > 0 maka 𝑧𝑥 > 𝑧𝑦 sebaliknya jika 𝑧 < 0 maka 𝑧𝑥 < 𝑧𝑦
1 1
d. Jika 𝑥 > 0, maka 𝑥 > 0 sebaliknya jika 𝑥 < 0 maka 𝑥 < 0
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 14
Pengantar Analisis Real
2021
Bukti:
a. Diketahui 𝑥 > 𝑦 dan 𝑦 > 𝑧 dengan 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ. Akan ditunjukkan 𝑥 > 𝑧 .
Karena 𝑥 > 𝑦 dan 𝑦 > 𝑧 maka 𝑥 − 𝑦 ∈ ℙ dan 𝑦 − 𝑧 ∈ ℙ. Berdasarkan sifat
urutan maka (𝑥 − 𝑦) + (𝑦 − 𝑧) ∈ ℙ, sehingga diperoleh 𝑥 − 𝑧 ∈ ℙ yang
berakibat 𝑥 > 𝑧.
b. Diketahui 𝑥 > 𝑦, akan ditunjukkan 𝑥 + 𝑧 > 𝑦 + 𝑧 dengan 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ. Karena
𝑥 > 𝑦 maka 𝑥 − 𝑦 ∈ ℙ, akibatnya (𝑥 + 𝑧) − (𝑦 + 𝑧 ) = 𝑥 − 𝑦 ∈ ℙ. Oleh
sebab itu diperoleh 𝑥 + 𝑧 > 𝑦 + 𝑧.
c. Kerjakan sebagai latihan
d. Kerjakan sebagai latihan ∎
Teorema berikut ini terkait dengan bilangan asli yang merupakan bilangan
real positif. Sifat ini diperoleh dari sifat dasar urutan. Kunci teorema terletak pada
kuadrat setiap bilangan real tak nol merupakan bilangan positif. Lebih jelas,
perhatikan teoremanya.
Teorema 2.3.5
a. Jika 𝑥 ∈ ℝ dan 𝑥 ≠ 0 maka 𝑥 2 > 0.
b. 1 > 0.
c. Jika 𝑛 ∈ ℕ, maka 𝑛 > 0.
Bukti:
a. Berdasarkan sifat trikotomi, jika 𝑥 ≠ 0, maka yang mungkin terjadi adalah
𝑥 ∈ ℙ atau −𝑥 ∈ ℙ. Jika 𝑥 ∈ ℙ, maka berdasarkan sifat urutan ℝ yang
kedua, berlaku 𝑥 2 = 𝑥. 𝑥 ∈ ℙ. Hal yang sama berlaku pula jika −𝑥 ∈ ℙ maka
𝑥 2 = (−𝑥). (−𝑥) ∈ ℙ. Oleh sebab itu diperoleh jika 𝑥 ≠ 0 maka 𝑥 2 > 0.
b. Oleh karena 1 = 12 , maka berdasarkan (a) diperoleh 1 > 0.
c. Gunakan induksi matematika untuk bagian ini. Kerjakan sebagai latihan. ∎
Patut dicatat bahwa tidak ada bilangan real terkecil, hal ini dapat
1
ditunjukkan dengan mengamati bahwa jika 𝑥 > 0, dan karena > 0 maka
2
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 15
Pengantar Analisis Real
2021
1
diperoleh 0 < 2 𝑥 < 𝑥. Dengan demikian jika kita mengklaim bahwa 𝑥 adalah
bilangan real positif terkecil, maka dapat ditunjukkan terdapat bilangan real yang
1
lebih kecil, yakni 𝑥.
2
Catatan di atas merupakan petunjuk untuk hasil berikutnya, yang akan
sering digunakan sebagai metode dalam pembuktian. Sebagai contoh, untuk
membuktikan bahwa suatu bilangan 𝑥 ≥ 0 atau sama dengan nol, cukup dengan
menunjukkan bahwa 𝑥 merupakan bilangan terkecil dibandingkan dengan
sebarang bilangan positif.
Teorema 2.3.6 Jika 𝑥 ∈ ℝ sehingga 0 ≤ 𝑥 < 𝜀 untuk setiap 𝜀 > 0, maka 𝑥 = 0.
Bukti: Andaikan tidak berlaku bahwa 𝑥 = 0 , berarti 𝑥 > 0, maka jika diambil
1
𝜀0 = 2 𝑥 diperoleh 0 < 𝜀0 < 𝑥. Hal ini kontradiksi dengan pernyataan bahwa 𝑥 <
𝜀 untuk setiap 𝜀 > 0. Jadi benar bahwa 𝑥 = 0. ∎
Selanjutnya, perkalian dua bilangan positif adalah bilangan positif. Namun,
kepositifan perkalian dua bilangan tidak langsung mengakibatkan setiap faktornya
positif. Kesimpulan yang benar tentang hal ini akan diberikan pada teorema
berikut. Hal terpenting adalah kita bekerja dengan menggunakan ketaksamaan.
Teorema 2.3.7 Jika 𝑥𝑦 > 0 maka 𝑥 > 0 dan 𝑦 > 0 atau 𝑥 < 0 dan 𝑦 < 0.
Bukti: Diketahui 𝑥𝑦 > 0, berarti 𝑥 ≠ 0 dan 𝑦 ≠ 0. Berdasarkan sifat trikotomi,
1 1
diperoleh 𝑥 > 0 atau 𝑥 < 0. Jika 𝑥 > 0 maka > 0 sehingga 𝑦 = (𝑥) (𝑥𝑦) > 0.
𝑥
1 1
Dengan cara yang sama, jika 𝑥 < 0 maka 𝑥 < 0 sehingga 𝑦 = (𝑥) (𝑥𝑦) < 0. ∎
Akibat 2.3.8 Jika 𝑥𝑦 < 0 maka 𝑥 < 0 dan 𝑦 > 0, atau 𝑥 > 0 dan 𝑦 < 0.
Bukti: Kerjakan sebagai latihan. ∎
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 16
Pengantar Analisis Real
2021
2.4 Ketaksamaan
Pada bagian ini, akan diperlihatkan bagaimana sifat urutan dapat digunakan
untuk menyelesaikan suatu persoalan ketaksamaan.
Contoh 2.4.1
1. Tentukan himpunan 𝐴 dari bilangan real 𝑥 sehingga berlaku 4𝑥 + 1 ≥ 6.
5
Penyelesaian: Diketahui 𝑥 ∈ 𝐴 ⟺ 4𝑥 + 1 ≥ 6 ⟺ 4𝑥 ≥ 5 ⟺ 𝑥 ≥ 4. Oleh
5
sebab itu diperoleh 𝐴 = {𝑥 ∈ ℝ: 𝑥 ≥ }.
4
2. Carilah himpunan 𝐵 = {𝑥 ∈ ℝ: 𝑥 2 + 𝑥 < 6}.
Penyelesaian: Diketahui 𝑥 ∈ 𝐵 ⟺ 𝑥 2 + 𝑥 < 6 ⟺ 𝑥 2 + 𝑥 − 6 < 0 sehingga
diperoleh (𝑥 + 3)(𝑥 − 2) < 0 dan hal ini akan dipenuhi jika untuk nilai
−3 < 𝑥 < 2. Jadi himpunan 𝐵 = {𝑥 ∈ ℝ: − 3 < 𝑥 < 2}.
2𝑥+1
3. Tentukan himpunan 𝐶 = {𝑥 ∈ ℝ: < 1}.
𝑥+2
Penyelesaian: Oleh karena 𝑥 ∈ 𝐶 maka berdasarkan yang diketahui
2𝑥+1 𝑥−1
diperoleh −1<0 ⟺ < 0. Ketaksamaan ini akan dipenuhi jika
𝑥+2 𝑥+2
(𝑥 − 1) < 0 dan (𝑥 + 2) > 0 atau (𝑥 − 1) > 0 dan (𝑥 + 2) < 0. Sehingga
diperoleh −2 < 𝑥 < 1. Jadi himpunan 𝐵 = {𝑥 ∈ ℝ: − 2 < 𝑥 < 1}.
Contoh berikut ini mengilustrasikan penggunaan sifat urutan pada ℝ dalam
menentukan ketaksamaan tertentu. Tentu saja pembaca harus memperhatikan
langkah demi langkah untuk mengetahui sifat apa yang digunakan.
Perlu diperhatikan bahwa eksistensi akar kuadrat bilangan positif belum
ditentukan, hanya saja untuk kepentingan contoh berikut, diasumsikan eksistensi
akar kuadrat bilangan positif berlaku.
Contoh 2.4.2 Jika 𝑥 ≥ 0 dan 𝑦 ≥ 0, maka berlaku bahwa:
1. 𝑥 < 𝑦 ⟺ 𝑥 2 < 𝑦 2 ⟺ √𝑥 < √𝑦
2. 𝑥 ≤ 𝑦 ⟺ 𝑥 2 ≤ 𝑦 2 ⟺ √𝑥 ≤ √𝑦
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 17
Pengantar Analisis Real
2021
Latihan Subbab 2.4
1. Diberikan 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ , buktikan bahwa
a. Jika 𝑥 + 𝑦 = 0 maka 𝑦 = −𝑥
b. – (−𝑥) = 𝑥
c. (−1)𝑥 = −𝑥
d. (−1)(−1) = 1
2. Jika 𝑥 < 𝑦 dan 𝑤 < 𝑡, buktikan bahwa 𝑥 + 𝑤 < 𝑦 + 𝑡
3. Jika 0 ≤ 𝑥 < 𝑦, tunjukkan bahwa 𝑥 2 ≤ 𝑥𝑦 < 𝑦 2 . Selanjutnya, tunjukkan
dengan contoh bahwa hal tersebut tidak selalu berlaku jika 𝑥 2 < 𝑥𝑦 < 𝑦 2 .
4. Tentukan semua bilangan real 𝑥 sehingga memenuhi ketaksamaan berikut:
a. 𝑥 2 > 3𝑥 + 4
b. 1 < 𝑥 2 < 4
1
c. <𝑥
𝑥
1
d. < 𝑥2
𝑥
5. Gunakan induksi matematika untuk menunjukkan bahwa jika 𝑥 ∈ ℝ dan
𝑚, 𝑛 ∈ ℕ, maka 𝑥 𝑚+𝑛 = 𝑥 𝑚 𝑥 𝑛 dan (𝑥 𝑚 )𝑛 = 𝑥 𝑚𝑛 .
2.5 Nilai Mutlak
Berdasarkan sifat trikotomi pada sesi sebelumnya, diyakini bahwa jika 𝑥 ∈
ℝ dan 𝑥 ≠ 0 maka tepat satu dari bilangan 𝑥 dan – 𝑥 positif. Nilai mutlak dari 𝑥 ≠
0 didefinisikan menjadi bilangan positif. Dan nilai mutlak 0 didefinisikan menjadi
0. Lebih lanjut dapat dilihat dalam definisi berikut.
Definisi 2.5.1 Diberikan 𝑥 ∈ ℝ, maka nilai mutlak 𝑥 dinotasikan dengan |𝑥| dan
didefinisikan dengan
𝑥 jika 𝑥 > 0
|𝑥| = { 0 jika 𝑥 = 0
−𝑥 jika 𝑥 < 0
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 18
Pengantar Analisis Real
2021
Sebagai contoh, |2| = 2 dan |−5| = 5. Dapat dilihat dari definisi bahwa
|𝑥| ≥ 0 untuk setiap 𝑥 ∈ ℝ dan |𝑥| = 0 jika dan hanya jika 𝑥 = 0. Hal yang sama
juga berlaku untuk |−𝑥| = |𝑥| untuk setiap 𝑥 ∈ ℝ. Beberapa sifat tambahan dari
nilai mutlak, dapat dilihat dari teorema di bawah ini.
Teorema 2.5.2 Diberikan 𝑥, 𝑦, 𝑧 ∈ ℝ, maka sifat berikut berlaku
a. |𝑥𝑦| = |𝑥||𝑦|
b. |𝑥|2 = 𝑥 2
c. Jika 𝑧 ≥ 0 maka |𝑥| ≤ 𝑧 jika dan hanya jika −𝑧 ≤ 𝑥 ≤ 𝑧
d. −|𝑥| ≤ 𝑥 ≤ |𝑥| untuk semua 𝑥 ∈ ℝ
Bukti:
a. Jika 𝑥 dan 𝑦 sama dengan 0, maka persamaan terpenuhi. Ada empat kasus
lain yang harus diperhatikan. Jika 𝑥 > 0, 𝑦 > 0 maka 𝑥𝑦 > 0, sehingga
|𝑥𝑦| = 𝑥𝑦 = |𝑥||𝑦|. Selanjutnya jika 𝑥 > 0, 𝑦 < 0 maka 𝑥𝑦 < 0, sehingga
|𝑥𝑦| = −𝑥𝑦 = 𝑥(−𝑦) = |𝑥||𝑦|. Untuk dua kasus lain, lakukan dengan cara
yang sama.
b. Oleh karena 𝑥 2 ≥ 0 maka 𝑥 2 = |𝑥 2 | = |𝑥. 𝑥| = |𝑥||𝑥| = |𝑥|2
c. Jika |𝑥| ≤ 𝑧, maka 𝑥 ≤ 𝑧 dan −𝑥 ≤ 𝑧 yang ekivalen dengan −𝑧 ≤ 𝑥 ≤ 𝑧.
Sebaliknya jika −𝑧 ≤ 𝑥 ≤ 𝑧, maka 𝑥 ≤ 𝑧 dan −𝑥 ≤ 𝑧. Jadi dapat
disumpulkan bahwa |𝑥| ≤ 𝑧.
d. Cara yang sama dengan [c] dapat digunakan dengan mengambil 𝑧 = |𝑥|. ∎
Berikut ini merupakan ketaksamaan yang sangat penting karena akan sering
digunakan, yang biasa disebut dengan ketaksamaan segitiga (triangle inequality).
Teorema 2.5.3 Jika 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ maka |𝑥 + 𝑦| ≤ |𝑥| + |𝑦|.
Bukti: Berdasarkan teorema 2.5.2 bagian (d), diperoleh −|𝑥| ≤ 𝑥 ≤ |𝑥| dan
−|𝑦| ≤ 𝑦 ≤ |𝑦|. Dengan menjumlahkan kedua ketaksamaan, maka diperoleh
−(|𝑥| + |𝑦|) ≤ 𝑥 + 𝑦 ≤ |𝑥| + |𝑦|, oleh sebab itu, berdasarkan teorema 2.5.2 (c)
disimpulkan |𝑥 + 𝑦| ≤ |𝑥| + |𝑦|. ∎
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 19
Pengantar Analisis Real
2021
Dalam hal ini, kesamaan dapat terjadi pada ketaksamaan segitiga jika dan
hanya jika 𝑥𝑦 > 0, yang ekivalen dengan pernyataan bahwa 𝑥 dan 𝑦 memiliki
tanda sama.
Banyak sekali kegunaan ketaksamaan segitiga, dua diantaranya ditampilkan
dalam akibat berikut.
Akibat 2.5.4 Jika 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ, maka
a. ||𝑥| − |𝑦|| ≤ |𝑥 − 𝑦|
b. |𝑥 − 𝑦| ≤ |𝑥| + |𝑦|
Bukti:
a. Tulis 𝑥 = 𝑥 − 𝑦 + 𝑦, lalu gunakan ketaksamaan segitiga sehingga diperoleh
|𝑥| = |(𝑥 − 𝑦) + 𝑦| ≤ |𝑥 − 𝑦| + |𝑦|, kemudian kurangi kedua ruas dengan |𝑦|,
diperoleh |𝑥| − |𝑦| ≤ |𝑥 − 𝑦|. Dengan cara yang sama dengan 𝑦 = 𝑦 − 𝑥 + 𝑥,
diperoleh |𝑦| = |(𝑦 − 𝑥) + 𝑥| ≤ |𝑦 − 𝑥| + |𝑥| sehingga didapat – |𝑥 − 𝑦| =
−|𝑦 − 𝑥| ≤ |𝑥| − |𝑦|. Kombinasikan kedua ketaksamaan maka diperoleh
– |𝑥 − 𝑦| ≤ |𝑥| − |𝑦| ≤ |𝑥 − 𝑦|. Menggunakan teorema 2.5.2 (c) diperoleh
||𝑥| − |𝑦|| ≤ |𝑥 − 𝑦|.
b. Tukar 𝑦 dalam ketaksamaan segitiga dengan – 𝑦 untuk mendapatkan |𝑥 −
𝑦| ≤ |𝑥| + |−𝑦| dan karena |−𝑦| = |𝑦| maka diperoleh |𝑥 − 𝑦| ≤ |𝑥| + |𝑦|.
∎
Aplikasi induksi matematika secara langsung dapat memperluas
ketaksamaan segitiga untuk sebarang bilangan real yang banyaknya berhingga.
Perluasan ketaksamaan segitiga ini diberikan dalam akibat di bawah ini.
Akibat 2.5.5 Jika 𝑥1 , 𝑥2 , 𝑥3 , ⋯ , 𝑥𝑛 sebarang bilangan real, maka
|𝑥1 + 𝑥2 + 𝑥3 + ⋯ + 𝑥𝑛 | ≤ |𝑥1 | + |𝑥2 | + |𝑥3 | + ⋯ + |𝑥𝑛 |
Contoh berikut dapat menggambarkan bagaimana sifat-sifat nilai mutlak
digunakan.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 20
Pengantar Analisis Real
2021
Contoh 2.5.6
1. Tentukan himpunan 𝐴 dari 𝑥 ∈ ℝ sehingga |4𝑥 + 1| < 5!
Penyelesaian: Menggunakan teorema 2.5.2 (c) diperoleh bahwa 𝑥 ∈ ℝ jika
dan hanya jika −5 < 4𝑥 + 1 < 5 yang akan dipenuhi jika −6 < 4𝑥 < 4
3 3
sehingga − 2 < 𝑥 < 1. Jadi diperoleh 𝐴 = {𝑥 ∈ ℝ: − 2 < 𝑥 < 1}.
2𝑥 2 +3𝑥+1
2. Diberikan fungsi 𝑓 dengan definisi 𝑓(𝑥) = untuk 2 ≤ 𝑥 ≤ 3.
2𝑥−1
Carilah konstanta 𝑀 sehingga |𝑓(𝑥)| ≤ 𝑀 untuk setiap 𝑥 yang memenuhi
2 ≤ 𝑥 ≤ 3.
Penyelesaian: Akan dikerjakan secara terpisah antara pembilang dan
|2𝑥 2 +3𝑥+1|
penyebut dari |𝑓(𝑥)| = |2𝑥−1|
. Berdasarkan ketaksamaan segitiga,
diperoleh |2𝑥 2 + 3𝑥 + 1| ≤ 2|𝑥 2 | + 3|𝑥| + 1 ≤ 2. 32 + 3.3 + 1 = 28. Oleh
karena |𝑥| ≤ 3 untuk 𝑥 dalam pembahasan. Di samping itu |2𝑥 − 1| ≥
2|𝑥| − 1 ≥ 2.2 − 1 = 3. Karena |𝑥| ≥ 2 untuk 𝑥 dalam pembahasan. Oleh
1 1
sebab itu |2𝑥−1|
≤ 3 untuk 𝑥 ≥ 2. Jadi untuk 2 ≤ 𝑥 ≤ 3 diperoleh |𝑓(𝑥)| ≤
28 28
. Oleh karena itu, terdapat 𝑀 = . Perlu dicatat bahwa jika ditemukan
3 3
28
salah satu konstanta 𝑀, maka setiap bilangan 𝐻 > juga akan memenuhi
3
28
|𝑓(𝑥)| ≤ 𝐻. Hal ini juga mungkin bahwa bukan pilihan terkecil untuk 𝑀.
3
2.6 Garis Bilangan Real
Interpretasi geometri yang umum dikenal dalam sistem bilangan real adalah
garis bilangan. Di dalam interpretasi ini nilai mutlak |𝑥| dari elemen 𝑥 ∈ ℝ
dikenal sebagai jarak antara 𝑥 ke titik asal 0. Lebih umum, jarak antara dua
elemen 𝑥 dan 𝑦 di dalam ℝ adalah |𝑥 − 𝑦|.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 21
Pengantar Analisis Real
2021
-3 -2 -1 0 1 2 3
(-2) – (3) = 5
Gambar 2.6.1 Jarak antara x=-2 dan y=1
Berikutnya akan diperlukan bahasa yang tepat untuk mendiskusikan satu
bilangan real menjadi “dekat” satu sama lain. Jika diberikan bilangan real 𝑎, maka
bilangan real 𝑥 dekat ke 𝑎 akan berarti bahwa jarak |𝑥 − 𝑎| antara dua bilangan
itu “kecil”. Konteks dimana gagasan ini akan didiskusikan disajikan dengan
istilah persekitaran (neighborhoods), yang akan didefinisikan di bawah ini.
Definisi 2.6.2 Diberikan 𝑎 ∈ ℝ dan 𝜀 > 0. Maka persekitaran-ε (ε-
neighborhood) 𝑎 adalah himpunan 𝑉𝜀 (𝑎) = {𝑥 ∈ ℝ: |𝑥 − 𝑎| < 𝜀 }.
Untuk 𝑎 ∈ ℝ, pernyataan bahwa 𝑥 ∈ 𝑉𝜀 (𝑎) ekivalen dengan menyatakan
−𝜀 < 𝑥 − 𝑎 < 𝜀 ⟺ 𝑎 − 𝜀 < 𝑥 < 𝑎 + 𝜀. Lebih jelasnya, perhatikan gambar
berikut.
a-e a a+e
Gambar 2.6.3 Persekitaran-e dari
a
Teorema 2.6.4 Diberikan 𝑎 ∈ ℝ. Jika 𝑥 ∈ 𝑉𝜀 (𝑎) untuk setiap 𝜀 > 0 maka 𝑥 = 𝑎.
Bukti: Diketahui 𝑎 ∈ ℝ dan 𝑥 ∈ 𝑉𝜀 (𝑎). Akan ditunjukkan maka 𝑥 = 𝑎. Karena
𝑥 ∈ 𝑉𝜀 (𝑎) berarti |𝑥 − 𝑎| < 𝜀 untuk setiap 𝜀 > 0. Untuk menunjukkan 𝑥 = 𝑎
harus ditunjukkan bahwa |𝑥 − 𝑎| = 0. Andaikan |𝑥 − 𝑎| ≠ 0, maka |𝑥 − 𝑎| > 0
δ δ
namakan |𝑥 − 𝑎| = 𝛿 > 0. Pilih ε = 2 > 0 maka |𝑥 − 𝑎| = 𝛿 > 2 = ε atau
δ
|𝑥 − 𝑎| > 𝜀 untuk suatu ε = > 0. Hal ini kontradiksi dengan |𝑥 − 𝑎| < 𝜀 untuk
2
setiap 𝜀 > 0. Jadi, pengandaian salah, yang benar |𝑥 − 𝑎| = 0 ⟺ 𝑥 = 𝑎. ∎
Contoh 2.6.5
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 22
Pengantar Analisis Real
2021
1. Diberikan himpunan 𝑈 = {𝑥: 0 < 𝑥 < 1}. Jika 𝑎 ∈ 𝑈, dan diberikan bilangan
ε yang lebih kecil dari dua bilangan 𝑎 dan 1 − 𝑎, maka 𝑉𝜀 (𝑎) ⊆ 𝑈. Jadi setiap
elemen 𝑈 mempunyai persekitaran- ε yang termuat dalam 𝑈.
2. Jika diberikan |𝑥 − 𝑎| < 𝜀 dan |𝑦 − 𝑏| < 𝜀 maka, berdasarkan ketaksamaan
segitiga diperoleh
|(𝑥 + 𝑦) − (𝑎 + 𝑏)| = |(𝑥 − 𝑎) + (𝑦 − 𝑏)|
≤ |𝑥 − 𝑎| + |𝑦 − 𝑏|
< 2𝜀
Dengan demikian, jika 𝑥 ∈ 𝑉𝜀 (𝑎) dan 𝑦 ∈ 𝑉𝜀 (𝑏) maka 𝑥 + 𝑦 ∈ 𝑉𝜀 (𝑎 + 𝑏).
Latihan Subbab 2.6
1. Jika 𝑥, 𝑦 ∈ ℝ dan 𝑦 ≠ 0, tunjukkan bahwa
a. |𝑥| = √𝑥 2
𝑥 |𝑥|
b. |𝑦| = |𝑦|
2. Carilah semua 𝑥 ∈ ℝ yang memenuhi persamaan |𝑥 + 1| + |𝑥 − 2| = 7
3. Buatlah grafik persamaan 𝑦 = |𝑥| − |𝑥 − 1|
4. Carilah semua 𝑥 ∈ ℝ yang memenuhi ketaksamaan 4 < |𝑥 + 2| + |𝑥 − 1| < 5
5. Jika 𝑎 < 𝑥 < 𝑏 dan 𝑎 < 𝑦 < 𝑏, tunjukkan bahwa |𝑥 − 𝑦| < 𝑏 − 𝑎.
Interpretasikan secara geometri.
2.7 Sifat Lengkap ℝ (Supremun dan Infimum)
Sejauh ini, telah dibahas tentang sifat aljabar dan sifat terurut dalam sistem
bilangan real. Pada bagian ini akan dipaparkan lebih jauh tentang sifat-sifat ℝ
yang sering disebut “sifat lengkap”. Di dalam sistem bilangan rasional (ℚ) juga
memiliki aljabar dan sifat terurut yang telah disampaikan pada bagian awal. Tapi,
telah dilihat bahwa √2 tidak dapat dinyatakan sebagai bilangan rasional; sehingga
√2 ∉ ℚ. Pernyataan ini menunjukkan bahwa diperlukan tambahan sifat untuk
mengkategorikan sistem bilangan real.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 23
Pengantar Analisis Real
2021
Sifat tambahan ini, sifat lengkap (atau supremum) atau completeness
property , merupakan sifat yang paling esensi dalam ℝ, dan disebut complete
ordered field.
Pada bagian ini, akan diperkenalkan tentang konsep batas atas dan batas
bawah dari suatu himpunan bilangan real. Konsep ini sangat penting untuk masuk
ke sesi berikutnya.
Definisi 2.7.1 Diberikan himpunan tak kosong 𝑆, dan 𝑆 ⊆ ℝ.
a. Himpunan 𝑆 dikatakan terbatas ke atas jika terdapat bilangan 𝑢 ∈ ℝ
sehingga 𝑠 ≤ 𝑢 untuk setiap 𝑠 ∈ 𝑆. Bilangan 𝑢 yang memenuhi ketentuan ini
disebut dengan batas atas 𝑆.
b. Himpunan 𝑆 dikatakan terbatas ke bawah jika terdapat bilangan 𝑡 ∈ ℝ
sehingga 𝑡 ≤ 𝑠 untuk setiap 𝑠 ∈ 𝑆. Bilangan 𝑡 yang memenuhi ketentuan ini
disebut dengan batas bawah 𝑆.
c. Suatu himpunan dikatakan terbatas (bounded) jika himpunan tersebut
terbatas ke atas dan terbatas ke bawah. Sebaliknya, jika tidak, maka dikatakan
tidak terbatas (unbounded).
Sebagai contoh, himpunan 𝑆 = {𝑥 ∈ ℝ: 𝑥 < 1} merupakan himpunan yang
tidak terbatas. Hal ini dikarenakan 𝑆 terbatas ke atas, yaitu bilangan 1 dan
sebarang bilangan yang lebih dari 1 merupakan batas atas dari 𝑆. Namun,
himpunan 𝑆 tidak terbatas ke bawah, karena tidak dapat ditemukan 𝑡 ∈ ℝ
sehingga 𝑡 ≤ 𝑠 untuk setiap 𝑠 ∈ 𝑆.
Definisi 2.7.2 Diberikan himpunan tak kosong 𝑆, dan 𝑆 ⊆ ℝ.
a. Jika himpunan 𝑆 terbatas ke atas, maka bilangan 𝑢 disebut supremum (batas
atas terkecil) 𝑆 dan ditulis 𝑢 = sup 𝑆, jika memenuhi kondisi berikut:
1. 𝑢 merupakan batas atas 𝑆, dan
2. Jika 𝑣 sebarang batas atas 𝑆, maka 𝑢 ≤ 𝑣.
b. Jika himpuna 𝑆 terbatas ke bawah, maka bilangan 𝑡 disebut infimum (batas
bawah terbesar) 𝑆 dan ditulis 𝑡 = inf 𝑆, jika memenuhi kondisi berikut:
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 24
Pengantar Analisis Real
2021
1. 𝑡 merupakan batas bawah 𝑆, dan
2. Jika 𝑟 sebarang batas bawah 𝑆, maka 𝑟 ≤ 𝑡.
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa jika
diberikan sebarang himpunan tak kosong 𝑆, dan 𝑆 ⊆ ℝ, maka hanya terdapat satu
nilai supremum atau supremumnya tunggal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan
mudah. Misalkan 𝑢1 dan 𝑢2 keduanya merupakan supremum himpunan 𝑆. Jika
𝑢1 < 𝑢2 , maka berdasarkan hipotesis diketahui bahwa 𝑢2 merupakan supremum,
yang menyebabkan 𝑢1 bukan batas atas 𝑆. Dengan cara yang sama, juga berlaku
jika 𝑢2 < 𝑢1 . Jadi, diperoleh bahwa 𝑢1 = 𝑢2 . Alasan yang sama juga dapat
menunjukkan bahwa nilai infimum juga tunggal.
Lema 2.7.3 Suatu bilangan 𝑢 dikatakan supremum dari himpunan tak kosong 𝑆 ⊆
ℝ jika dan hanya jika 𝑢 memenuhi kondisi berikut;
1. 𝑠 ≤ 𝑢 untuk setiap 𝑠 ∈ 𝑆,
2. Jika 𝑣 < 𝑢 , maka terdapat 𝑠 ′ ∈ 𝑆 sehingga 𝑣 < 𝑠 ′ .
Pembuktikan lema sengaja ditinggalkan sebagai latihan bagi pembaca.
Lema 2.7.4 Suatu batas atas 𝑢 dari himpunan tak kosong 𝑆 ⊆ ℝ dikatakan
supremum 𝑆 jika dan hanya jika untuk setiap 𝜀 > 0 terdapat 𝑠𝜀 ∈ 𝑆 sehingga
berlaku 𝑢 − 𝜀 < 𝑠𝜀 .
Bukti:
(⟹) Diketahui 𝑢 = sup 𝑆, akan ditunjukkan terdapat 𝑠𝜀 ∈ 𝑆 sehingga berlaku 𝑢 −
𝜀 < 𝑠𝜀 . Diambil sebarang 𝜀 > 0, maka 𝑢 − 𝜀 < 𝑢 sehingga 𝑢 − 𝜀 bukan batas
atas 𝑆. Oleh karena itu terdapat 𝑠𝜀 ∈ 𝑆 yang lebih besar dari 𝑢 − 𝜀; yaitu 𝑢 − 𝜀 <
𝑠𝜀 .
u-e Se u
Gambar 2.7.5 𝑢 = sup 𝑆
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 25
Pengantar Analisis Real
2021
(⟸) Diketahui untuk setiap 𝜀 > 0 terdapat 𝑠𝜀 ∈ 𝑆 sehingga berlaku 𝑢 − 𝜀 < 𝑠𝜀 .
Akan ditunjukkan 𝑢 = sup 𝑆. Jika 𝑢 merupakan batas atas 𝑆 dan jika 𝑣 < 𝑢, maka
dapat diambil 𝜀 = 𝑢 − 𝑣 > 0. Karena terdapat 𝑠𝜀 ∈ 𝑆 maka 𝑣 = 𝑢 − 𝜀 < 𝑠𝜀 . Oleh
karena itu 𝑣 bukan batas atas 𝑆, jadi dapat disimpulkan bahwa 𝑢 = sup 𝑆. ∎
Definisi (Sifat Lengkap ℝ) 2.7.6 Setiap himpunan tak kosong bilangan real
mempunyai batas atas dan suprimum di ℝ.
Sifat ini juga dikenal dengan sifat suprimum ℝ. Analogi untuk sifat
infimum dapat diperoleh dari sifat lengkap sebagai berikut. Misalkan diberikan
sebarang himpunan tak kosong 𝑆 ⊆ ℝ yang terbatas ke bawah. Maka himpunan
tak kosong 𝑆̅ = {−𝑠: 𝑠 ∈ 𝑆} terbatas ke atas, dan berdasarkan sifat suprimum
diperoleh bahwa 𝑢 = sup 𝑆̅ ∈ ℝ. Pembaca seharusnya memeriksa secara seksama
bahwa – 𝑢 merupakan infimum 𝑆.
Latihan Subbab 2.7
1. Diberikan himpunan 𝑆 = {𝑥 ∈ ℝ: 𝑥 ≥ 0}. Tunjukkan dengan lengkap bahwa
himpunan 𝑆 mempunyai batas bawah, tapi tidak batas atas. Tunjukkan bahwa
inf 𝑆 = 0.
(−1)𝑛
2. Diberikan himpunan 𝑇 = {1 − : 𝑛 ∈ ℕ}. Carilah sup 𝑇 dan inf 𝑇.
𝑛
3. Tunjukkan bahwa jika 𝐴 ⊆ ℝ dan 𝐵 ⊆ ℝ himpunan terbatas, maka 𝐴 ∪ 𝐵
merupakan himpunan terbatas. Tunjukkan bahwa sup(𝐴 ∪ 𝐵) =
sup{sup 𝐴, sup 𝐵}.
2.8 Aplikasi Sifat Suprimum
Selanjutnya akan dibicarakan bagaimana bekerja dengan menggunakan
suprimum dan infimum. Akan diberikan pula aplikasi penting dari konsep ini
untuk memperoleh sifat-sifat fundamental ℝ. Kita awali dengan beberapa
teorema bi bawah ini.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 26
Pengantar Analisis Real
2021
Teorema 2.8.1 Jika 𝐴 ⊂ 𝐵 ⊂ ℝ dan 𝐵 terbatas ke atas, maka sup 𝐴 ≤ sup 𝐵.
Bukti: Diketahui 𝐴 ⊂ 𝐵 ⊂ ℝ dan 𝐵 terbatas ke atas, akan ditunjukkan sup 𝐴 ≤
sup 𝐵. Oleh karena 𝐵 terbatas ke atas, maka katakan 𝑡 = sup 𝐵 ⇒ 𝑏 ≤ 𝑡 untuk
setiap 𝑏 ∈ 𝐵. Karena 𝐴 ⊂ 𝐵 maka untuk setiap 𝑎 ∈ 𝐴 berlaku 𝑎 ∈ 𝐵. Jadi 𝑎 ≤ 𝑡
untuk setiap 𝑎 ∈ 𝐴 yang berarti 𝑡 batas atas 𝐴, (𝑡 belum tentu batas atas terkecil
𝐴). Hal ini berakibat sup 𝐴 ≤ 𝑡 ⇒ sup 𝐴 ≤ sup 𝐵. ∎
Teorema 2.8.2 Jika 𝐴 ⊂ 𝐵 ⊂ ℝ dan 𝐵 terbatas ke bawah, maka inf 𝐴 ≥ inf 𝐵.
Bukti: Diketahui 𝐴 ⊂ 𝐵 ⊂ ℝ dan 𝐵 terbatas ke bawah, akan ditunjukkan inf 𝐴 ≥
inf 𝐵. Karena 𝐵 terbatas ke bawah maka misalkan 𝑝 = inf 𝐵 ⇒ 𝑏 ≥ 𝑝 untuk
setiap 𝑏 ∈ 𝐵. Karena 𝐴 ⊂ 𝐵 maka untuk setiap 𝑎 ∈ 𝐴 berlaku 𝑎 ∈ 𝐵. Jadi 𝑎 ≥ 𝑝
untuk setiap 𝑎 ∈ 𝐴, yang berarti 𝑝 batas bawah 𝐴. Ini berakibat inf 𝐴 ≥ 𝑝 ⇒
inf 𝐴 ≥ inf 𝐵. ∎
Teorema 2.8.3 Jika 𝐴, 𝐵 ⊂ ℝ dan masing-masing terbatas serta 𝐴 + 𝐵 =
{𝑎 + 𝑏: 𝑎 ∈ 𝐴 dan 𝑏 ∈ 𝐵 }, maka:
i) sup(𝐴 + 𝐵) ≤ sup 𝐴 + sup 𝐵
ii) inf (𝐴 + 𝐵) ≥ inf 𝐴 + inf 𝐵
Bukti:
i) Diketahui 𝐴, 𝐵 ⊂ ℝ dan masing-masing terbatas dan 𝐴 + 𝐵 = {𝑎 + 𝑏: 𝑎 ∈
𝐴 dan 𝑏 ∈ 𝐵 }. Akan ditunjukkan sup(𝐴 + 𝐵) ≤ sup 𝐴 + sup 𝐵. Oleh karena
𝐴, 𝐵 terbatas berarti 𝐴, 𝐵 mempunyai suprimum dan infimum. Namakan
𝑀1 = sup 𝐴 dan 𝑀2 = sup 𝐵, maka 𝑎 ≤ 𝑀1 untuk setiap 𝑎 ∈ 𝐴 dan 𝑏 ≤ 𝑀2
untuk setiap 𝑏 ∈ 𝐵. Oleh karena itu, untuk setiap 𝑎 + 𝑏 ∈ 𝐴 + 𝐵 berlaku 𝑎 +
𝑏 ≤ 𝑀1 + 𝑀2 yang berarti 𝑀1 + 𝑀2 batas atas dari 𝐴 + 𝐵. Karena sup (𝐴 +
𝐵) batas atas terkecil 𝐴 + 𝐵 maka sup(𝐴 + 𝐵) ≤ 𝑀1 + 𝑀2 = sup 𝐴 + sup 𝐵.
Jadi, sup(𝐴 + 𝐵) ≤ sup 𝐴 + sup 𝐵 . ∎
ii) Kerjakan sebagai latihan.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 27
Pengantar Analisis Real
2021
Oleh karena kita terbiasa menggunakan himpunan bilangan real ℝ dan garis
bilangan real, mungkin terlihat bahwa himpunan bilangan asli ℕ tidak terbatas di
ℝ. Bagaimana kita dapat membuktikan hal ini? Kenyataannya kita tidak dapat
hanya menggunakan aljabar dan sifat terurut yang diberikan pada bagian sebelum
ini. Sesungguhnya, kita harus menggunakan sifat lengkap ℝ seperti sifat induktif
ℕ (yaitu, jika 𝑛 ∈ ℕ, maka 𝑛 + 1 ∈ ℕ).
Keberadaan batas atas untuk ℕ berarti bahwa jika diberikan sebarang
bilangan real 𝑥 terdapat bilangan asli 𝑛 (yang bergantung pada 𝑥) sedemikian
hingga 𝑥 < 𝑛.
Teorema 2.8.4 (Sifat Archimedes) Jika 𝑥 ∈ ℝ, maka terdapat 𝑛𝑥 ∈ ℕ
sedemikian hingga 𝑥 < 𝑛𝑥 .
Bukti: Jika pernyataan di atas salah, maka 𝑛𝑥 < 𝑥 untuk setiap 𝑛𝑥 ∈ ℕ; oleh
sebab itu 𝑥 merupakan batas atas ℕ. Berdasarkan sifat lengkap, himpunan tak
kosong ℕ mempunyai suprimum, katakan 𝑢 ∈ ℝ. Kurangi 𝑢 dengan 1 sehingga
𝑢 − 1 < 𝑢. Dengan demikian 𝑢 − 1 bukan batas atas ℕ, jadi terdapat 𝑚 ∈ ℕ
dengan 𝑢 − 1 < 𝑚 ⟺ 𝑢 < 𝑚 + 1 dan karena 𝑚 + 1 ∈ ℕ , ketaksamaan ini
kontradiksi dengan pernyataan bahwa 𝑢 batas atas ℕ. Jadi yang benar adalah Jika
𝑥 ∈ ℝ, maka terdapat 𝑛𝑥 ∈ ℕ sedemikian hingga 𝑥 < 𝑛𝑥 . ∎
Sifat Archimedes ini memberikan beberapa akibat, yang buktinya
diserahkan kepada pembaca.
Akibat 2.8.5
1
1. Jika 𝑆 = {𝑛 : 𝑛 ∈ ℕ} maka inf 𝑆 = 0.
1
2. Jika 𝑡 > 0, terdapat 𝑛𝑡 ∈ ℕ sedemikian hingga 0 < 𝑛 < 𝑡
𝑡
3. Jika 𝑦 > 0, terdapat 𝑛𝑦 ∈ ℕ sedemikian hingga 𝑛𝑦 − 1 ≤ 𝑦 < 𝑛𝑦 .
2.9 Eksistensi √𝟐 dan Bilangan Rasional di Dalam ℝ
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 28
Pengantar Analisis Real
2021
Pentingnya sifat suprimum terletak pada kenyataan bahwa sifat tersebut
menjamin keberadaan bilangan real atas suatu dugaan. Saat ini kita akan
memberikan ilustrasi penggunaan sifat ini dengan membuktikan keberadaan
bilangan real 𝑥 sedemikian hingga 𝑥 2 = 2. Sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa
𝑥 dengan sifat 𝑥 2 = 2 bukan bilangan rasional; dengan demikian kita akan
mendapatkan keberadaan salah satu bilangan irrasional.
Teorema 2.9.1 Terdapat bilangan real positif 𝑥 dengan sifat 𝑥 2 = 2.
Bukti: Dibentuk himpunan 𝑆 = {𝑠 ∈ ℝ: 0 ≤ 𝑠, 𝑠 2 < 2}, berarti 𝑆 ≠ ∅. Sehingga
0,1 ∈ 𝑆 dan 𝑆 terbatas ke atas, dengan batas atas 2, hal ini dikarenakan jika 𝑡 > 2
maka 𝑡 2 > 2 sehingga 𝑡 ∉ 𝑆. Oleh karena itu, berdasarkan sifat suprimum,
himpunan 𝑆 mempunyai suprimum di ℝ, katakana 𝑥 = sup 𝑆. Patut diingat bahwa
𝑥 > 1.
Akan dibuktikan bahwa 𝑥 2 = 2, ekivalen dengan menunjukkan 𝑥 2 < 2 dan
𝑥 2 > 2. Pertama, akan dibuktikan 𝑥 2 < 2. Karena 𝑥 2 < 2, maka 2 − 𝑥 2 > 0.
1 1
Karena 𝑛2 ≤ 𝑛 , maka
1 2 2 1 1
(𝑥 + 𝑛) = 𝑥 2 + 𝑛 𝑥 + 𝑛2 ≤ 𝑥 2 + 𝑛 (2𝑥 + 1).
2−𝑥 2
Karena 2 − 𝑥 2 > 0 dan 2𝑥 + 1 > 0, maka > 0. Berdasarkan akibat sifat
2𝑥+1
Archimedes, dapat ditemukan 𝑛 ∈ ℕ sehingga
1 2 − 𝑥2
<
𝑛 2𝑥 + 1
Akibatnya
1
(2𝑥 + 1) < 2 − 𝑥 2
𝑛
dan
1 2 1
(𝑥 + ) < 𝑥 2 + (2𝑥 + 1) < 𝑥 2 + 2 − 𝑥 2 = 2
𝑛 𝑛
1 2 1
Diperoleh bahwa (𝑥 + 𝑛) < 2, yang berarti bahwa 𝑥 + 𝑛 ∈ 𝑆. Hal ini kontradiksi
dengan pernyataan 𝑥 = sup 𝑆. Jadi, tidak mungkin 𝑥 2 < 2.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 29
Pengantar Analisis Real
2021
Kedua, andaikan 𝑥 2 > 2. Oleh karena 𝑥 2 > 2, berarti 𝑥 2 − 2 > 0. Patut
dicatat bahwa
1 2 2𝑥 1 2𝑥
(𝑥 − ) = 𝑥 2 − + 2 > 𝑥2 −
𝑚 𝑚 𝑚 𝑚
Oleh karena itu dapat dipilih 𝑚 ∈ ℕ sehingga
2𝑥 2𝑥
𝑚 > 𝑥 2 −2 atau < 𝑥 2 − 2.
𝑚
Oleh sebab itu
1 2 2𝑥
(𝑥 − ) > 𝑥2 − > 𝑥 2 − (𝑥 2 − 2) = 2
𝑚 𝑚
Sehingga diperoleh
1 2
(𝑥 − 𝑚) > 2.
1 1
Berarti 𝑥 − 𝑚 ∉ 𝑆, yaitu 𝑥 − 𝑚 batas atas. Kontradiksi dengan 𝑥 = sup 𝑆. Oleh
karena itu, tidak mungkin 𝑥 2 > 2. Sehingga pengandaian salah, yang benar 𝑥 2 =
2. ∎
Teorema 2.9.2 (Teorema Densitas) Diberikan bilangan real 𝑥 dan 𝑦 dengan 𝑥 <
𝑦, maka terdapat bilangan rasional 𝑟 ∈ ℚ sedemikian hingga 𝑥 < 𝑟 < 𝑦. Dengan
kata lain, di antara dua bilangan real yang berlainan, pasti terdapat bilangan
rasional.
Bukti: Tanpa menghilangkan sifat secara umum, asumsikan bahwa 𝑥 > 0. Oleh
1
karena 𝑥 < 𝑦 maka 𝑦 − 𝑥 > 0, akibatnya > 0, sehingga menurut sifat
𝑦−𝑥
1
Archimedes terdapat 𝑛 ∈ ℕ sedemikian hingga 𝑛 > 𝑦−𝑥. Oleh karena itu 𝑛𝑦 −
𝑛𝑥 > 1 atau 𝑛𝑥 + 1 < 𝑛𝑦. Karena 𝑛𝑥 > 0 maka dapat dipilih 𝑚 ∈ ℕ sehingga
𝑚 − 1 ≤ 𝑛𝑥 < 𝑚. Oleh karena itu, 𝑚 ≤ 𝑛𝑥 + 1 < 𝑛𝑦, dengan 𝑛𝑥 < 𝑚 < 𝑛𝑦.
𝑚
Jadi, terdapat bilangan rasional 𝑟 = ∈ ℚ yang memenuhi 𝑥 < 𝑟 < 𝑦. ∎
𝑛
Untuk menutup perbincangan tentang keterkaitan antara bilangan rasional
dan bilangan irrasional, akan diberikan “sifat keantaraan” (betweenness property)
untuk himpunan bilangan irrasional.
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 30
Pengantar Analisis Real
2021
Akibat 2.9.3 Jika diberikan sebarang bilangan real 𝑥 dan 𝑦 dengan 𝑥 < 𝑦, maka
terdapat bilangan irrasional 𝑡 sedemikian hingga 𝑥 < 𝑡 < 𝑦.
𝑥 𝑦
Bukti: Oleh karena 𝑥, 𝑦, √2 ∈ ℝ dan √2 irrasional maka , ∈ ℝ, hal ini
√2 √2
berdasarkan pada sifat tertutup pada perkalian bilangan real. Menurut teorema
𝑥 𝑦
2.9.2, maka terdapat 𝑟 ∈ ℚ sedemikian hingga <𝑟< , akibatnya 𝑥 <
√2 √2
𝑟√2 < 𝑦 dan karena 𝑟 rasional dan √2 irrasional maka 𝑟√2 irrasioanal.
(tunjukkan, mengapa?). Jadi terdapat 𝑡 = 𝑟√2 irrasioanal sehingga berlaku 𝑥 <
𝑡 < 𝑦. ∎
Latihan Subbab 2.8 dan 2.9
1 1
1. Jika 𝑆 = {𝑛 − 𝑚 : 𝑛, 𝑚 ∈ ℕ}, carilah inf 𝑆 dan sup 𝑆.
2. Diberikan himpunan 𝑆 ⊆ ℝ, dengan 𝑆 himpunan tak kosong dan terbatas
didalam ℝ.
a. Diberikan 𝑎 > 0 dan 𝑎𝑆 = {𝑎𝑠: 𝑠 ∈ 𝑆}. Buktikan bahwa inf(𝑎𝑆) =
𝑎 inf 𝑆 dan sup(𝑎𝑆) = 𝑎 sup 𝑆.
b. Diberikan 𝑏 > 0 dan 𝑏𝑆 = {𝑏𝑠: 𝑠 ∈ 𝑆}. Buktikan bahwa inf(𝑏𝑆) =
𝑏 sup 𝑆 dan sup(𝑏𝑆) = 𝑏 inf 𝑆.
3. Diberikan sebarang bilangan 𝑥 ∈ ℝ, tunjukkan bahwa terdapat dengan
tunggal 𝑛 ∈ ℤ sedemikian hingga 𝑛 − 1 ≤ 𝑥 < 𝑛.
1
4. Jika 𝑦 > 0, tunjukkan bahwa terdapat 𝑛 ∈ ℕ sehingga 2𝑛 < 𝑦 .
Yuslenita Muda dan Corry Corazon Marzuki Page 31