0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan32 halaman

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Dokumen ini membahas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penyelesaian masalah nyata. PBL melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar, mendorong kolaborasi dan penggunaan sumber informasi yang relevan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan kelebihan dan kekurangan PBL serta relevansinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Diunggah oleh

Winda P Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan32 halaman

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Dokumen ini membahas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penyelesaian masalah nyata. PBL melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar, mendorong kolaborasi dan penggunaan sumber informasi yang relevan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan kelebihan dan kekurangan PBL serta relevansinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Diunggah oleh

Winda P Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)


1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Agar lebih mudah dalam menyampaikan materi pelajaran,
diperlukan adanya model pembelajaran. Guru harus memilih model
pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan
berpikir ktitis siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat
diterapkan adalah model pembelajaran berbasis masalah atau problem
based learning (PBL). Model pembelajaran ini merupakan inovasi dalam
bidang pendidikan karena kemampuan siswa dioptimalkan melalui proses
belajar mengajar berupa kerja kelompok.
Sehingga siswa dapat berlatih untuk memberdayakan, mengasah,
menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam
memecahkan suatu permasalahan. Model pembelajaran ini merupakan
pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan
secara simultan strategi pemecahan masalah dasar-dasar pengetahuan dan
keterampilan dengan menempatkan para siswa dalam peran aktif sebagai
pemecah masalah sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik (
Shoimin, 2014: 130).
Model pembelajaran problem based learning (PBL) atau
pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang
didesain untuk menyelesaikan masalah yang disajikan. Problem based
learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menyuguhkan
berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa,
yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan
penyelidikan.
Pembelajaran dengan model ini akan membantu siswa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi
permasalahan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dengan
8

penyelesaian yang tidak sederhana, sehingga peran guru sangat penting


dalam hal ini. Guru berperan memberikan berbagai permasalahan autentik
serta memfasilitasi siswa untuk mengidentifikasinya, memfasilitasi
penyelidikan, dan mendukung pembelajaran yang dilakukan oleh siswa.
Menurut Sadia, melalui penerapan model pembelajaran problem
based learning (PBL) siswa akan belajar mengidentifikasi,
mengumpulkan informasi, mengidentifikasi, serta bekerjasama untuk
mengevaluasi suatu hipotesis berdasarkan data yang telah dikumpulkan
(Sadia, 2014: 68).
Berikut ini merupakan pendapat para ahli tentang teori belajar yang
berkaitan dengan model pembelajaran PBL:
a. John Dewey dengan kelas berorientasi masalah
Sekolah harus mencerminkan masyrakat yang lebih besar dan
kelas merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah yang ada di
dalam kehidupan nyata. Siswa akan belajaar dengan baik jika apa
yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan
kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.
b. Jean Piaget dan Lev Vygotsky dengan kontruktifisme
Jean Piaget lebih menekankan proses pembelajaran pada aspek
tahapan perkembangan intelektual sementara Lev Vygotsky lebih
menekankan pada aspek sosial pembelajaran. Kaitannya dengan
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu dalam hal
mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam berinteraksi sosial
dengan teman lain (Rusman, 2015: 244).
c. Burner dengan pembelajaran penemuan
Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya
pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan kegiatan
penemuan oleh siswa. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian
pengetahuan secara aktif oleh siswa, dengan sendirinya akan
memberikan hasil yang lebih baik, berusaha sendiri mencari
9

pemecahan masalah serta didukung oleh pengetahuan yang


menyertainya, maka akan menghasilkan pengetahuan yang bermakna.
2. Prinsip Problem Based Learning (PBL)
Menurut Sofyan (2017: 56) mengatakan, “Prinsip utama Problem
Based Learning (PBL) adalah penggunaan masalah nyata sebagai sarana
bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan sekaligus
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan
masalah”. Masalah nyata adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan
sehari-hari dan bermanfaat langsung apabila diselesaikan. Pemilihan atau
penentuan masalah nyata dapat dilakukan oleh guru maupun peserta didik
yang disesuaikan kompetensi dasar tertentu.
Masalah itu bersifat terbuka (open-ended problem), yaitu masalah
yang memiliki banyak jawaban atau strategi penyelesaian yang
mendorong keingintahuan peserta didik untuk mengidentifikasi strategi-
strategi dan solusi-solusi tersebut. Masalah itu juga bersifat tidak
terstruktur dengan baik (ill-structured) yang tidak dapat diselesaikan
secara langsung dengan cara menerapkan formula atau strategi tertentu,
melainkan perlu informasi lebih lanjut untuk memahami serta perlu
mengkombinasikan beberapa strategi atau bahkan mengkreasi strategi
sendiri untuk menyelesaikannya. Pada akhirnya adalah melihat
kesimpulan hasil pembelajaran yang dilaksanakan sehingga siswa dan
guru mengetahui pencapaiannya
Menurut Sofyan dkk (2017: 57) prinsip dasar impelementasi
problem based learning (PBL) adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran bersifat student-centered yang aktif.
b. Pembelajaran dilaksanakan melalui diskusi kelompok kecil dan semua
anggota kelompok memberikan kontribusinya secara aktif.
c. Diskusi dipicu oleh masalah yang bersifat integrasi interdisiplin yang
didasarkan pada pengalaman/kehidupan nyata.
d. Diskusi secara aktif merangsang mahasiswa untuk menggunakan
prior knowledge.
10

e. Siswa terlatih untuk belajar mandiri dan diharapkan dapat menjadi


dasar bagi pembelajaran seumur hidup.
f. Pembelajaran berjalan secara efisien, karena informasi yang
dikumpulkan melalui belajar mandiri sesuai dengan apa yang
dibutuhkannya (need to know basis).
g. Feedback dapat diberikan sewaktu tutorial, sehingga dapat memacu
mahasiswa untuk meningkatkan usaha pembelajarannya.
h. Latihan keterampilan diberikan secara paralel.
3. Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Menurut Syamsidah (2017: 16-17), karakteristik model
pembelajaran problem based learning (PBL) yaitu:
a. pertama, proses pembelajaran dalam Problem Based Learning (PBL)
lebih berorientasi pada siswa sebagai orang belajar. Oleh karena itu,
Problem Based Learning didukung juga oleh teori konstruktivisme
dimana siswa didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya
sendiri.
b. Kedua, masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang
otentik sehingga siswa mampu dengan mudah memahami masalah
tersebut serta dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya
nanti. Otentik memang penting, karena ini adalah prasyarat bagi
kerangka konsep ilmu pengetahuan, bahwa ilmu itu sesuatu yang
objektif, bukan sesuatu yang fiktif, itu sebabnya ilmu pengetahuan
harus melalui proses yang disebut “logico, hipotético, dan ferifikasi”,
bahwa ilmu pengetahuan itu tidak hanya logis artinya masuk dalam
kerangka akal dan pikiran manusia, akan tetapi di dalam selalu terselip
dugaan antara salah dan benar oleh sebab itu perlu dilakukan
penelitian.
c. Ketiga, adalah new information is acquired through selfdirected
learning. Bahwa dalam proses pemecahan masalah seringkali siswa
belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan prasyaratnya,
sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri melalui sumbernya,
11

baik dari buku atau informasi lainnya. Hal ini tentu menjadi
pembelajaran lagi, karena bagaimanapun juga siswa dituntut untuk
memecahkan masalah, dan harus berusaha mencari referensi yang
relevan tentu dalam kerangka ilmiah dengan tahapan-tahapan tertentu.
d. Keempat, Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam
usaha membangun pengetahuan secara kolaboratif, maka PBM
dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut
pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan yang jelas.
e. Kelima, pada pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai
fasilitator. Namun, walaupun begitu guru harus selalu memantau
perkembangan aktivitas siswa dan mendorong siswa agar mencapai
target yang hendak dicapai.
Sintaks model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1
Sintaks Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
No. Fase Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
1 Memberikan Membahas tujuan Kelompok mengamati
orientasi pelajaran, dan memahami
permasalahan memaparkan masalah yang
kepada peserta kebutuhan longistik disampaikan guru atau
didik untuk pembelajaran, yang diperoleh dari
da memotivasi siswa
bahan bacaan yang
untuk terlibat aktif
disarankan.
dalam kegiatan
mengatasi masalah.
2 Mengorganisasikan Membantu siswa Siswa berdiskusi dan
siswa untuk dalam mendefinisikan membagi tugas untuk
penyelidikan dan mencari data/ bahan/
mengorganisasikan alat yang diperlukan
tugas-tugas untuk memecahkan
belajar/penyelidikan masalah.
untuk menyelesaikan
permasalahan.
12

3 Membimbing Mendorong siswa Siswa melakukan


penyelidikan untuk memperoleh penyelidikan (mencari
individu dan informasi yang tepat, data/ referensi/ sumber)
kelompok melaksanakan untuk bahan diskusi
penyelidikan, dan kelompok.
mencari penjelasan
solusi.
4 Mengembangkan Membantu siswa Kelompok melakukan
dan merencanakan produk diskusi untuk
mempresentasikan yang tepat dan menghasilkan solusi
hasil nyaman, seperti pemecahan masalah
laporan, rekaman dan hasilnya
video, dan sebagainya dipresentasikan/
untuk keperluan disajikan dalam bentuk
penyampaian hasil. karya.
5 Menganalisis dan Membantu siswa Setiap kelompok
mengevaluasi untuk melakukan melakukan presentasi,
proses refleksi terhadap kelompok yang lain
penyelidikan penyelidikannya dan memberikan apresiasi.
proses yang mereka Kegiatan dilanjutkan
lakukan. dengan merangkum/
membuat kesimpulan
sesuai dengan masukan
yang diperoleh dari
kelompok lain.

Problem based learning (PBL) merupakan model pembelajaran


yang penyampaiannya dilakukan dengan cara menyajikan suatu
permasalahan kontekstual, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan, memfasilitasi penyelidikan, dan membuka dialog (Sani, 2014:
139). Model pembelajaran ini sangat dianjurkan untuk mengembangkan
keaktifan dan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pemecahan
masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
4. Langkah-langkah Problem Based Learning (PBL)
Memahami proses PBL merupakan hal utama, tetapi selain itu guru
juga harus siap dengan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam
pembelajaran. Setiap kelompok dalam menjalankan proses PBL harus
13

menggunakan konsep. Mengikuti penjelasan Amir (2009: 24 – 25),


dikenal dengan tujuh (7) proses langkah untuk menjalankan PBL, yaitu:
a. Mengklarifikasi istilah-istilah dan konsep yang belum jelas;.
b. Terlebih dahulu merumuskan sebuah masalah;
c. Menganalisis masalah;
d. Menata gagasan-gagasan secara sistematis kemudian menganalisisnya
;
e. Merancang tujuan pembelajaran;
f. Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain (diluar diskusi
kelompok);
g. Menggabungkan dan menguji informasi baru, dan membuat laporan
untuk kelas
5. Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL)
Model pembelajaran Problem Based Learning memiliki beberapa
kelebihannya, yaitu:
a. Pembelajaran berpusat pada siswa
b. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah
dalam situasi nyata.
c. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri
melalui aktivitas belajar.
d. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada
hubungannya tidak perlu dipelajari oleh siswa. Hal ini mengurangi
beban siswa dengan menghafal atau menyimpan informasi.
e. Terjadi aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok.
f. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari
perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi.
g. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri.
h. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah
dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka.
14

i. Kesulitan belajar siswa secara individu dapat diatasi melalui kerja


kelompok dalam bentuk peer teaching.
j. Mengembangkan kemampuan sosial dan keterampilan
berkomunikasi yang memungkinkan mereka belajar dan bekerja
dalam tim.
k. Mengembangkan keterampilan berpikir ilmiah tingkat tinggi/ kritis.

Kekurangannya, yaitu:
a. Model pembelajaran PBL tidak dapat diterapkan untuk setiap materi
pelajaran, karena PBL cocok untuk pembelajaran yang menuntut
kemampuan berpikir kritis yang berkaitan dengan pemecahan
masalah.
b. Tingkat keaktifan dalam merespon dan kemampuan berpikir kritis
siswa yang berbeda-beda di dalam satu kelas terkadang menjadi
penghambat dalam pembagian tugas (Sani, 2014: 141).
6. Relevansi problem based learning (PBL) dengan Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam
Guru PAI dalam mengembangkan metode pembelajaran PAI
dituntut maksimal dan harus mengetahui perannya dalam metode
pembelajaran itu sendiri. Peran guru PAI dalam mengembangkan metode
pembelajaran PAI tersebut tentu secara kontiniu diikuti dengan
pengembangan diri melalui penguasaan berbagai keterampilan dalam
proses pembelajaran agar metode pembelajaran yang digunakan dapat
berkembang dan berjalan dengan maksimal.
Dalam mengembangkan hal ini diperlukan peranan dari seorang
guru PAI untuk menggunakan metode yang dapat mendorong penggunaan
akal pikiran peserta didik, Dengan penggunaan suatu metode tertentu,
seorang guru PAI harus dapat merangsang kemampuan berpikir peserta
didik dengan baik. Pemikiran mereka berkembang dengan pengarahan
dan penggunaan metode yang dipakai oleh guru. Akal pikiran yang
diciptakan Allah SWT dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk
15

menganalisis semua ciptaan-Nya di muka bumi sebagai sarana


meningkatkan keimanan kepada-Nya. Di sini guru PAI dituntut dalam
penggunaan metode pembelajarannya dapat merangsang kemampuan
berpikir peserta didik secara maksimal. Salah satunya dengan
menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL).
Pembelajaran dengan model ini akan membantu siswa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi
permasalahan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dengan
penyelesaian yang tidak sederhana (Tambak, 2014:143)

B. Minat Belajar
1. Pengertian Minat Belajar
Secara bahasa, minat berarti perasaan yang menyatakan bahwa satu
aktivitas, pelajaran atau objek itu berharga atau berarti bagi individu
(Chaplin, 2004: 255). Sedangkan menurut istilah, dibawah ini peneliti
mengemukakan beberapa pendapat ahli psikologi mengenai pengertian
minat di atas.
Menurut slameto (2010: 57), minat adalah kecenderungan yang
tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan
yang diminati seseorang., diperhatikan terus menerus yang disetai dengan
rasa senang. Artinya, tekad seseorang untuk mencapai sesuatu yang
diinginkan atas dasar rasa senang dan ketertarikan terhadap sesuatu.
Djaali mengutip pendapat Slameto mengartikan bahwa “minat
adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh”. Minat muncul atas dasar keinginan individu
itu sendiri. ketertarikan tersebut dapat berupa terhadap orang, benda,
kegiatan, maupun karier (Djaali. 2008: 121).
Belajar secara etimologis, belajar memiliki arti “berusaha
memperoleh kepandaian atau ilmu”. Usaha untuk mencapai kepandaian
dan ilmu tersebut merupakan usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai
16

sebelumnya. Sehingga, dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami,


mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu (Baharudin
& Wahyuni, 2007: 13).
Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan belum
mampu menjadi sudah mampu, terjadi dalam jangka waktu tertentu.
Perubahan yang terjadi itu harus secara relative bersifat mentap
(permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak
(immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di
masa mendatang (pitensia behavior). Hal ini yang perlu diperhatikan
ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman
(Irwanto, 2002: 105)
Belajar (learning) sering kali juga didefinisikan sebagai “perubahan
yang secara relatif berlangsung lama pada masa berikutnya yang
diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman”(Suralaga, 2005: 60).
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 11)
Menjabarkan bahwa:
“Belajar sebagai proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan
latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik
yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan
meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar
mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah
kegiatan belajar mengajar, menilai proses dan hasil belajar,
kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi,
hakikat belajar adalah perubahan”

Menurut Hilgrad dan Bower Belajar adalah:


Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang
terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang
berulang-ulang dalam situasi tertentu itu, dimana perubahan tingkah
laku itu idak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon
pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang
(misalnya, kelelahan, pengaruh obat, dan sebagianya)(Purwanto,
2003: 84).
Dalam belajar yang terpenting adalah proses bukan hasil yang
diperolehnya. Artinya, belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri
17

adapun dengan orang lain itu hanya sebagai perantara atau penunjang
dalam kegiatan belajar agar belajar itu dapat berhasil dengan baik.
Dari paparan diatas bisa disimpulkan minat belajar merupakan
sebagai kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan besar
terhadap sesuatu hal. Minat belajar siswa merupakan aspek kepribadian,
yang menggambarkan adanya kemauan, dorongan yang timbul dari dalam
diri individu untuk memilih objek yang sejenis.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar


Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar pada hakikatnya terdiri
dari dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Adapun
penjelasannya mengenai faktor-faktor tersebut antara lain :
a. Faktor internal
1) Faktor jasmani
a) Kesehatan
Sehat berarti kondisi tubuh dalam keadaan baik bebas dari
penyakit. Kesehatan seseorang sangat berpengaruh terhadap
belajarnya karena proses belajar seseorang akan terganggu
apabila kesehatannya (panca indra) terganggu pula. Agar
seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan
kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara istirahat, tidur,
makan, olahraga secara teratur.
b) Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang
baik atau kurang sempurnanya keadaan tubuh/badan, seperti
buta, tuli, patah tangan/kaki, lumpuh dan lain-lain. Keadaan
cacat tubuh ini jelas akan mempengaruhi belajar seseorang,
maka orang yang mengalami cacat tubuh hendaknya belajar di
lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar
dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.
2) Faktor psikologis
18

a) Kecerdasan
Menurut Jean Piaget yang dikutip dalam Asrori
mendefinisikan “intelligence” atau intelegensi merupakan
“kecerdasan” yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak
secara adaktif termasuk kemampuan-kemampuan mental
kompleks seperti berpikir, mempertimbangkan, menganalisis,
mensitensi, mengevaluasi dan menyelesaikan persoalan –
persoalan (Asrori, 2007: 43). Purwanto mengutip W. Strein
mendefinisikan, “kecerdasan adalah kesanggupan untuk
menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan
menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan
tujuannya”(Purwanto, 2010: 52).
Berdasarkan konsep di atas, dapat disimpulkan
kecerdasan ialah kesanggupan untuk belajar. berpikir cepat,
membuat keputusan baik, menangkap dan memproses kesan
bisa meningkatkan pengambilan keputusan di masa depan,
sehingga masuk akal untuk memainkan peran penting dalam
desain kurikulum.
b) Bakat
Setiap individu memiliki bakat yang berbeda-beda. Tidak
semua anak memiliki bakat di segala bidang. Anak yang
berbakat di bidang musik, bisa jadi ia lemah di bidang olah raga
atau sebaliknya. Menurut Ahmadi dan Supriyono, “Bakat
adalah potensi/kecakapan dasar yang dimiliki sejak lahir
(Ahmadi & Supriyono, 2013). Biasanya bakat sangat
bergantung pada pembawaan orang tua. Orang tua yang
berkecimpung di bidang kesenian, anaknya akan mudah
mempelajari seni suara, tari, dan lain lain yang berhubungan
dengan seni.
Bakat sangat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi
belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karenanya adalah hal
19

yang tidak bijaksana apabila orangtua memaksakan


kehendaknnya menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian
tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki
oleh anaknya, sebab hal tersebut akan berpengaruh buruk
terhadap prestasi belajarnya.
c) motivasi
Dalam proses belajar, motivasi sangat dibutuhkan, sebab
seseorang yang tidak mempunyai motivasi belajar, tidak akan
mungkin melakukan aktifitas belajar. Motivasi merupakan
faktor pendorong akan adanya minat. Motivasi adalah sesuatu
yang dapat membangkitkan keinginan (impuls) diri sendiri,
yang diwujudkan sebagai perubahan tingkah laku untuk
mencapai suatu tujuan. Dari pengertian para ahli tentang
motivasi yang diungkapkan oleh Dimyati dan Mudjiono (2013:
80-81) bahwa “Motivasi memiliki tiga komponen utama, yaitu
(a) kebutuhan, (b) dorongan, (c) tujuan.” Ketika seorang
individu merasa bahwa apa yang dia miliki berbeda dengan apa
yang dia miliki. Mengharapkan Ketika ada keseimbangan,
permintaan muncul. Misalnya, siswa merasa bahwa hasil
belajarnya rendah, padahal ia memiliki buku pelajaran yang
memadai. Ia merasa memiliki cukup waktu, tapi ia kurang baik
dalam mengatur waktu. Dorongan merupakan kekuatan mental
untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan.
Misalnya, seorang siswa kelas 3 menginginkan untuk masuk ke
fakultas teknik, sedangkan dalam pelajaran matematika, fisika,
kimia, ia mendapatkan nilai yang rendah. Menyadari hal itu,
maka siswa tersebut mengambil kursus pada mata pelajaran
yang nilainya rendah. Tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh
seorang individu.
d) Sikap siswa
20

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif


berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan
cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan
sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa
yang positif terutama kepada guru dan mata pelajaran yang
guru sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses
belajar siswa tersebut. Sebaliknya sikap negatif siswa terhadap
guru dan mata pelajaran, apalagi jika diiringi kebencian kepada
guru dan mata pelajaran dapat menimbulkan kesulitan belajar
siswa tersebut.
Dalam psikologi perkembangan, anak pada usia remaja
mengalami beberapa perkembangan yakni perkembangan fisik,
kognisi dan sosioemosi yang mana dapat dikatakan, masa ini
adalah masa rentan bagi seorang remaja sebab di masa ini
remaja berada pada tahap peralihan dari penggunaan penalaran
konkret ke penerpaan formal. Remaja mulai menyadari
keterbatasan pemikiran mereka remaja cenderung
meningkatkan rasa harga diri dan penolakan dapat
menimbulkan persoalan emosi yang serius (Robert, 2009: 107-
110).
b. Faktor eksernal
Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar
individu itu sendiri. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial.
1) Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan pendidikan informal yang diakui dalam
dunia pendidikan. Keluarga merupakan fondasi awal akan seperti
apa pribadi anak akan terbentuk dan itu juga akan sangat
berpengaruh pada pola pikir serta proses belajar anak.
Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kegiatan belajar
anak. ketegangan keluarga, sifat-sifat orang tua, demografi
21

keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat


memberikan dampak terhadap aktifitas belajar anak (Wahab, 2016:
30).
Ada beberapa faktor dalam keluarga yang mempengaruhi
minat belajar pada anak yaitu :
a) Cara Orang Tua Mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya sangat besar pengaruhnya
terhadap belajar si anak. Hal ini dipertegas lagi oleh
pernyataan Sutjipto Wirowidjojo dalam Slameto (2010: 5),
yang menyatakan bahwa “ Keluarga adalah lembaga
pendidikan pertama dan utama, keluarga yang sehat besar
artinya bagi pendidikan dalam lingkup kecil, tetapi
menentukan untuk pendidikan dalam lingkup besar yaitu
pendidikan bangsa, negara dan dunia.
b) Hubungan antar anggota keluarga
Hubungan antar anggota keluarga yang terpenting adalah
hubungan orang tua dan anaknya, anak dengan saudaranya
atau dengan anggota keluarga lainnya. Wujud hubungan itu
misalnya apakah hubungan itu penuh kasih sayang dan
pengertian atau sebaliknya.
c) Suasana rumah
Maksud suasana rumah di sini sebagai situasi atau
kejadiankejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana
anak berada dan belajar. Suasana rumah yang tegang, sering
terjadi cekcok, semrawut tentunya akan mengganggu belajar
anak, tetapi jika suasana rumah yang tenang dan tenteram
maka anak dapat belajar dengan baik.
d) Ekonomi keluarga
Kondisi ekonomi keluarga erat kaitannya dengan belajar anak.
Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan
pokoknya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, juga
22

membutuhkan fasilitas belajar seperti buku, alat tulis-menulis,


penerangan dan lain-lain. Semua itu hanya dapat terpenuhi jika
keluarga mempunyai cukup uang.
e) Pengertian Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Jangan
mengganggunya dengan pekerjaan rumah jika ia sedang
belajar. Jika anak mengalami kesulitan dalam belajar, sedapat
mungkin membantunya atau bila perlu menghubungi gurunya
untuk mengetahui perkembangan si anak.
Dengan demikian kesimpulannya adalah bahwasanya orang tua
harus sangat berhati-hati dalam mendidik anak, jangan sampai
cara mendidik orang tua membuat anak menjadi kerdil dalam
pengetahuan, keterampilan serta kepribadiannya yang nantinya
juga akan berefek pada hasil belajarnya.
2) Lingkungan sekolah
Sekolah sebagai tempat peserta didik untuk melakukan
aktifitas belajar secara formal, keadaanya berpengaruh pada minat
belajar peserta didik. Sekolah juga tidak kalah pentingnya di dalam
menciptakan kondisi pembelajaran yang baik, meliputi kurikulum,
metode mengajar, guru dan peserta didik, dan Disiplin Sekolah.
a) Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan
kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan
bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan
mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran
mempengaruhi belajar siswa dan kurikulum yang kurang baik
berpengaruh tidak baik pula terhadap belajar.
b) Metode mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus
dilalui di dalam mengajar. Cara mengajar haruslah setepat dan
23

seefektif mungkin agar siswa dengan baik dapat menerima,


menguasai dan mengembangkan pelajaran.
c) Hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dan siswa. Proses
tersebut dipengaruhi oleh hubungan antara guru dan siswa dan
siswa dengan siswa lainnya. Guru yang kurang berinteraksi
dengan siswa secara akrab, menyebabkan KBM kurang lancar,
sehingga siswa merasa jauh dari guru dan segan untuk
berpartisipasi aktif dalam belajar.
3) Lingkungan social
Ruang lingkup lingkungan sosial dalam hal ini adalah
masyarakat, tetangga, teman sepermainan, lembaga sosial dan
keagamaan, sarana-prasarana serta budaya di sekitar perkampungan
siswa tersebut
Lingkungan sosial yang kurang mendukung seperti kondisi
lingkungan yang kumuh, serba kekurangan dan anak-anak
pengganggu akan sangat mempengaruhi aktifitas belajar siswa.
Siswa tersebut akan mengalami kesulitan belajar ketika
membutuhkan teman belajar untuk berdiskusi, meminjam alat-alat
belajar yang belum dimilikinya (Ahmadi & Supriyono, 2013: 138).
3. Indikator Minat Belajar
Indikator minat belajar yaitu rasa suka/senang, pernyataan lebih
menyukai, adanya rasa ketertarikan adanya kesadaran untuk belajar tanpa
di suruh, berpartisipasi dalam aktivitas belajar, memberikan perhatian
(Djamarah, 2022: 132).
Menurut Slameto (2010: 180) beberapa indikator minat belajar
yaitu: perasaan senang, ketertarikan, penerimaan, dan keterlibatan siswa.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan mengenai indikator minat
belajar tersebut diatas, dalam penelitian ini menggunakan indikator minat
yaitu:
a) Perasaan Senang
24

Apabila seorang siswa memiliki perasaan senang terhadap pelajaran


tertentu maka tidak akan ada rasa terpaksa untuk belajar. Contohnya
yaitu senang mengikuti pelajaran, tidak ada perasaan bosan, dan hadir
saat pelajaran.
b) Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan obyek yang mengakibatkan orang
tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan
kegiatan dari obyek tersebut. Contoh: aktif dalam diskusi, aktif
bertanya, dan aktif menjawab pertanyaan dari guru.
c) Ketertarikan
Berhubungan dengan daya dorong siswa terhadap ketertarikan pada
sesuatu benda, orang, kegiatan atau bias berupa pengalaman afektif
yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Contoh: antusias dalam
mengikuti pelajaran, tidak menunda tugas dari guru.
d) Perhatian Siswa
Minat dan perhatian merupakan dua hal yang dianggap sama dalam
penggunaan sehari-hari, perhatian siswa merupakan konsentrasi siswa
terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang
lain. Siswa memiliki minat pada obyek tertentu maka dengan
sendirinya akan memperhatikan obyek tersebut. Contoh:
mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi.
4. Pentingnya Minat Belajar dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Minat belajar adalah salah satu faktor psikologis yang sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Minat ini mencerminkan
ketertarikan dan keinginan siswa untuk memperhatikan serta mempelajari
suatu mata pelajaran atau topik tertentu. Ketika siswa memiliki minat
yang tinggi terhadap suatu pelajaran, mereka cenderung lebih aktif dalam
mengikuti proses pembelajaran, lebih termotivasi untuk memahami
materi, dan lebih bersemangat dalam menyelesaikan tugas. Semua ini
berdampak positif terhadap hasil belajar.
25

a. Pengaruh Minat Terhadap Motivasi: Minat belajar mendorong


motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri siswa
untuk belajar tanpa perlu adanya dorongan eksternal. Menurut
Santrock (2011: 144), siswa dengan minat yang tinggi akan lebih
terdorong untuk belajar dengan tujuan memahami materi, bukan
sekadar untuk mendapatkan nilai baik. Motivasi ini meningkatkan
ketekunan dan daya juang siswa dalam menghadapi tantangan
belajar, yang akhirnya berkontribusi pada hasil belajar yang lebih
baik.
b. Hubungan Minat dengan Konsentrasi dan Fokus: Minat yang tinggi
juga membantu siswa untuk lebih mudah berkonsentrasi. Ketika
siswa tertarik pada materi yang diajarkan, mereka cenderung lebih
fokus dan mampu menyerap informasi dengan lebih baik. Winkel
(2009: 87) mengemukakan bahwa konsentrasi yang baik adalah
salah satu efek positif dari minat belajar yang tinggi, yang sangat
penting untuk pemahaman yang mendalam dan penguasaan materi.
c. Peningkatan Keterampilan Kognitif melalui Minat: Siswa yang
berminat tinggi dalam suatu pelajaran sering kali lebih terlibat dalam
kegiatan berpikir kritis dan analitis. Mereka terdorong untuk
mengeksplorasi lebih jauh dan mencari solusi atas masalah yang
dihadapi dalam pembelajaran. Ini berperan penting dalam
pengembangan keterampilan kognitif yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah-masalah kompleks.
d. Dampak Langsung pada Hasil Belajar: Minat yang tinggi terhadap
suatu pelajaran telah terbukti berkorelasi positif dengan hasil belajar
yang lebih baik. Siswa yang berminat biasanya memiliki nilai ujian
yang lebih tinggi dan prestasi akademis yang lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat.
26

C. Pendidikan Agama Islam


1. Konsep Pembelajaran PAI
a. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam di sekolah dikembangkan dengan
tujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam hal keilmuan
dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan
sehari-hari. Pendidikan atau pembelajaran agama di sekolah pada
umumnya adalah sebagai usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar
memahami, terampil melaksanakan dan mengamalkan agama
melalui kegiatan pendidikan atau penbelajaran. Berdasarkan definisi
pendidikan agama, maka tujuan pendidikan Agama Islam adalah
anak memahami, terampil, melaksanakan ajaran agama dalam
kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia dalam dalam
kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara (Sudrajad, 2008: 130).
Menurut Nizar (2001: 86-88) Al-tarbiyah berarti mengasuh
mendidik dan al-ta’dib lebih condong pada proses mendidik yang
bermuara pada penyempurnaan akhlak/moral siswa. Dari segi
terminologis, Samsul Nizar menyimpulkan dari beberapa pemikiran
ilmuwan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan
secara bertahap dan simultan (proses), terencana yang dilakukan oleh
orang yang memiliki persyaratan tertentu sebagai pendidik.
Selanjutnya kata pendidikan ini dihubungkan dengan Agama Islam,
dan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat diartikan secara terpisah.
Pada hakekatnya pembelajaran terkait dengan bagaimana
membelajarkan peserta didik atau bagaimana membuat peserta didik
dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemampuannya
sendiri untuk mempelajari apa yang teraktualisasikan dalam
kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik (Muhaimin, 2002: 145).
27

Adapun pengertian Pendidikan Agama Islam adalah usaha


sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta
didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah
ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Muhaimin,
2002: 183).
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat diartikan juga
sebagai upaya membuat peserta didik dapat belajar, terdorong
belajar, mau belajar dan tertarik untuk terus menerus mempelajari
Agama Islam secara menyeluruh yang mengakibatkan beberapa
perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku seseorang baik
dalam kognitif, efektif dan psikomotorik (Majid & Andayani, 2005:
132).
Dari pengertian tersebut terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:
1) Pendidikan agama Islam sebagai usaha, yakni suatu kegiatan
bimbingan pengajaran dan latihan yang dilakukan secara
berencana dan sadar untuk mencapai suatu tujuan.
2) Peserta didik dibimbing, diajari dan dilatih dalam meningkatkan
keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman terhadap
ajaran agama Islam (Muhaimin, 2002: 145).
Dengan demikian kata lain bimbingan menjadi muslim yang
tangguh dan mampu merealisasikan ajaran Pendidikan Agama Islam
dalam kehidupan seharihari sehingga menjadi insan kamil. Untuk itu
penanaman Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat penting
dalam membentuk dan mendasari anak sejak dini. Dengan
penanaman Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sejak dini
diharapkan mampu membentuk pribadi yang kokoh, kuat dan
mandiri untuk berpedoman pada Agama Islam.
2. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a. Fungsi pembelajaran Pendidikan Agama Islam
28

Diantara fungsi dilakukannya pembelajaran pendidikan agama


Islam di sekolah atau madrasah khususnya di SMA adalah sebagai
berikut:
1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
peserta didik kepada Allah SWT, yang telah ditanamkan di
lingkungan keluarga.
2) Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari
kebahagian dunia dan akhirat
3) Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan
sosial melalui Pendidikan Agama Islam
4) Perbaikan kesalahan kelemahan peserta didik dalam
kenyakinan pengalaman ajaran Islam
5) Pencegahan peserta didik dari hal negative yang akan
dihadapinya.
6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan secara umum
7) Penyaluran, untuk memahami pendidikan agama kelembaga
yang lebih tinggi (Majid & Andayani, 2005: 134)
b. Tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam di SMA bertujuan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian
dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta
pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,
ketaqwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta
untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
3. Metode Pembelajaran dalam PAI
Metode pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI)
sangat beragam dan dirancang untuk membantu siswa memahami dan
menginternalisasi nilai-nilai Islam, serta mengembangkan
29

keterampilan spiritual dan sosial. Berikut adalah beberapa metode


pembelajaran yang umum digunakan dalam PAI:
1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode di mana guru
menyampaikan materi ajar secara lisan kepada siswa. Metode ini
sering digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, sejarah
Islam, dan nilai-nilai moral berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits.
Kelebihan dari metode ini yaitu Efektif untuk menyampaikan
banyak informasi dalam waktu singkat, terutama untuk topik yang
kompleks atau teoretis, dan kekurangan metode ini cenderung
membuat siswa pasif karena lebih banyak mendengarkan daripada
berinteraksi (Sani, 2015: 45-47).
2. Metode Diskusi
Diskusi dalam PAI melibatkan siswa dalam dialog untuk
mendalami topik tertentu, seperti permasalahan moral atau hukum
Islam. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memandu diskusi
agar tetap fokus pada tujuan pembelajaran. Kelebihannya yaitu
Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mengemukakan
pendapat, serta belajar menghargai pandangan orang lain. Diskusi
bisa menyimpang dari topik jika tidak difasilitasi dengan baik
(Zuhairini, 2006: 50-52).
3. Metode Tanya Jawab
Dalam metode ini, guru mengajukan pertanyaan yang
dirancang untuk memancing keterlibatan siswa dan mengukur
pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Kelebihan dari
metode ini yaitu meningkatkan partisipasi siswa dan membantu
mengklarifikasi pemahaman siswa terhadap materi ajar. Dan
kekurangannya, tidak semua siswa mungkin merasa nyaman untuk
menjawab di depan kelas(Abdullah, 2014:55-57).
4. Metode Demonstrasi
30

Dalam metode ini guru memperagakan suatu aktivitas atau


proses keagamaan seperti cara berwudhu, sholat, atau membaca Al-
Qur'an. Kelebihan dari metode ini yaitu siswa dapat melihat
langsung dan lebih mudah mengikuti praktik keagamaan yang
diajarkan. Metode ini memerlukan persiapan yang baik dan
mungkin memakan waktu lebih lama. (Rahman, 2017:60-62)
5. Metode Hafalan
Metode hafalan digunakan untuk mengajarkan siswa
menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, Hadits, doa-doa, dan teks
keagamaan lainnya. Kelebihannya yaitu membantu siswa
mengingat dan menginternalisasi teks-teks penting dalam Islam.
Kekurangannya yaitu fokus yang berlebihan pada hafalan bisa
mengurangi pemahaman makna dari teks yang dihafal (Maulana,
22013: 67-69).
6. Metode Studi Kasus
Dalam metode ini guru memberikan kasus nyata atau
hipotetis yang berkaitan dengan ajaran Islam untuk dianalisis oleh
siswa, seperti kasus etika bisnis dalam Islam. Metode ini Melatih
siswa menerapkan ajaran Islam dalam situasi kehidupan nyata,
disamping itu metode ini juga memerlukan kemampuan analisis
yang baik dan pemahaman yang mendalam dari siswa (Arifin,
2012: 72-74).
7. Metode Role Playing (Bermain Peran)
Metode ini melibatkan siswa memainkan peran dalam
skenario tertentu yang berkaitan dengan praktik keagamaan, seperti
simulasi khutbah Jumat atau menjadi imam sholat. Metode ini
mengembangkan keterampilan praktis siswa dalam menjalankan
ajaran Islam, tetapi juga memerlukan keberanian dan keterlibatan
aktif dari siswa (Harahap, 201: 80-82).
31

8. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek


Dalam metode ini siswa mengerjakan proyek terkait dengan
tema keislaman, seperti membuat poster edukasi tentang puasa atau
mengorganisir kegiatan sosial berbasis ajaran Islam. Kelebihan
metode ini yaitu meningkatkan keterlibatan dan kreativitas siswa
dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam, tetapi metode ini
memerlukan waktu dan koordinasi yang cukup lama (Yusuf, 2016:
88-89).
4. Kurikulum PAI di SMA
Pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)
memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan
kompetensi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Kurikulum
yang diterapkan di SMA harus mampu menjawab tantangan zaman dan
mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja dengan bekal
pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Oleh karena itu,
pengembangan kurikulum SMA perlu dilakukan secara sistematis dan
berkelanjutan agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kebutuhan masyarakat (Sanjaya, 2019:45).
Kurikulum SMA dirancang tidak hanya untuk mengembangkan
aspek kognitif peserta didik, tetapi juga aspek afektif dan
psikomotorik. Pendekatan pembelajaran yang holistik dan integratif
diperlukan untuk memastikan bahwa peserta didik dapat berkembang
secara optimal dalam berbagai bidang, termasuk kemampuan berpikir
kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif (Hakim, 2020: 67). Selain
itu, kurikulum harus mampu menanamkan nilai-nilai moral dan etika
yang kuat, sehingga peserta didik dapat menjadi individu yang
berintegritas dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat
(Putri & Wijaya, 2021: 89). Dalam konteks ini, Standar Isi menjadi
salah satu komponen utama yang memandu pengembangan kurikulum.
32

Pengembangan Standar Isi mengacu pada standar kompetensi


lulusan pada satuan Jenjang Pendidikan Menengah umum difokuskan
pada:
a. persiapan Peserta Didik menjadi anggota masyarakat yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia;
b. penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila; dan
c. pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi Peserta Didik agar
dapat hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
Standar Isi mencakup ruang lingkup materi Pendidikan
Menengah pada jalur pendidikan formal dan nonformal. Standar Isi
sekolah menengah atas luar biasa/paket C/bentuk lain yang sederajat
sama dengan Standar Isi sekolah menengah atas/madrasah Aliyah
Standar Isi pendidikan kesetaraan mengacu pada muatan wajib
sesuai jenjangnya dengan penekanan pada muatan pemberdayaan dan
keterampilan, memperhatikan konteks dan potensi lingkungan
setempat, dan dapat dilakukan secara terintegrasi melalui projek atau
pendekatan lain yang relevan.
Projek pemberdayaan dapat diarahkan untuk menumbuhkan
kesadaran, harga diri, kepercayaan diri, partisipasi aktif, dan akses
terhadap pengambilan keputusan sehingga Peserta Didik mampu
berkreasi, berkarya, serta mengembangkan kemandirian dalam
kehidupan individu maupun bermasyarakat. Ruang lingkup materi
pada Standar Isi dikemas untuk memperkuat pengembangan diri,
pengembangan kapasitas, dan penguatan sosial ekonomi. Projek
Keterampilan dapat dikembangkan dengan memperhatikan ragam
potensi sumber daya alam dan sosial budaya, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan/atau kesempatan bekerja dan
berusaha.
Standar Isi pada pendidikan khusus, selain berisi muatan wajib
sesuai jenjangnya, juga ditambah dengan ruang lingkup materi
program kebutuhan khusus dan keterampilan. Peserta Didik
33

berkebutuhan khusus dapat mengikuti Standar Isi, dengan


memperhatikan profil Peserta Didik berkebutuhan khusus.
Pengembangan Standar Isi Pendidikan Menengah Kejuruan
mengacu pada standar kompetensi lulusan yang difokuskan pada:
a. persiapan Peserta Didik menjadi anggota masyarakat yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia;
b. penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila; dan
c. keterampilan untuk meningkatkan kompetensi Peserta Didik agar
dapat hidup mandiri, siap masuk ke dunia kerja, dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut yang relevan dengan kejuruannya.
Standar Isi SMK/MAK terdiri atas ruang lingkup materi bagian
umum dan bagian kejuruan. Ruang lingkup bagian umum
dikembangkan setara dengan (SMA/MA). Ruang lingkup bagian
kejuruan diorganisasikan berdasarkan spektrum keahlian dan mengacu
pada standar kompetensi kerja sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI). Adapun yang dimaksud dengan Spektrum Keahlian
adalah rangkaian keahlian berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan
dunia kerja Spektrum Keahlian terdiri atas: Bidang Keahlian, Program
Keahlian, dan Konsentrasi Keahlian.
Bidang Keahlian adalah pengelompokkan program keahlian
berdasarkan kompetensi pada sektor usaha sesuai perkembangan dunia
kerja. Program Keahlian adalah pengelompokkan konsentrasi keahlian
berdasarkan kompetensi profesi sejenis atau sub-sektor usaha. Pada
ruang lingkup materi program keahlian terdapat materi esensial dari
konsentrasi keahlian. Konsentrasi Keahlian adalah kumpulan
kompetensi yang relevan dengan satu atau lebih jabatan atau lingkup
profesi tertentu.
Ruang Lingkup Materi Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa/Paket C/Bentuk Lain yang
Sederajat
a. Pendidikan Agama Islam
34

1) Al-Qur'an dan hadis meliputi ayat dan hadis pilihan tentang


tema tertentu;
2) akidah meliputi beberapa cabang iman dan keterkaitan antara
iman, Islam, dan ihsan;
3) akhlak meliputi penyakit hati, penyakit sosial, adab
bermasyarakat dan etika digital;
4) fikih meliputi sumber hukum Islam, prinsip dasar hukum Islam
(al-kulliyāt al-khamsah), ketentuan ibadah dan muamalah; dan
5) sejarah peradaban Islam meliputi sejarah Islam di Indonesia,
peran organisasi Islam dan peran tokoh ulama dalam
penyebaran Islam (permendikbudristek Nomor 8 Tahun 2024).
5. Problematika dan tantangan dalam Pengajaran PAI di SMA
Pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat Sekolah
Menengah Atas (SMA) tidak terlepas dari berbagai problematika dan
tantangan. Berikut ini adalah beberapa problematika utama serta
tantangan yang dihadapi dalam pengajaran PAI di SMA, yaitu:
a. Beragamnya Latar Belakang Siswa
Siswa di tingkat SMA berasal dari berbagai latar belakang
keluarga dan budaya yang berbeda. Perbedaan ini mempengaruhi
tingkat pemahaman, praktik, dan pengetahuan agama yang
dimiliki oleh setiap siswa. Guru PAI dihadapkan pada tantangan
untuk menyampaikan materi yang relevan dan dapat diterima oleh
semua siswa, tanpa mengabaikan perbedaan tersebut.
b. Kurangnya motivasi belajar siswa
Motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran PAI sering kali lebih
rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang dianggap
lebih penting untuk masa depan karier mereka. Hal ini
menyebabkan siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran,
yang pada akhirnya mempengaruhi hasil belajar mereka.
c. Tantangan Kurikulum
35

Kurikulum PAI di SMA sering kali harus disesuaikan dengan


kebutuhan dan perkembangan zaman, namun perubahan
kurikulum yang sering kali tidak disertai dengan persiapan yang
matang membuat implementasinya menjadi tantangan tersendiri
bagi guru. Guru harus bisa menyesuaikan materi ajar dengan
keterbatasan waktu dan berbagai tuntutan kurikulum yang
dinamis.
d. Keterbatasan Sumber Daya dan Media Pembelajaran
Pengajaran PAI seringkali terbatas pada penggunaan metode
ceramah dan buku teks, sementara sumber daya dan media
pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik masih kurang
tersedia. Hal ini menyulitkan guru dalam menyampaikan materi
secara lebih efektif dan bervariasi.
e. Pengaruh Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial dan pergaulan siswa di luar sekolah sangat
mempengaruhi sikap dan perilaku mereka dalam menerima ajaran
agama. Pengaruh negatif dari media sosial, teman sebaya, dan
budaya pop bisa menjadi tantangan besar dalam pengajaran PAI,
terutama dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang kuat.
f. Keterbatasan Kompetensi Guru
Tidak semua guru PAI memiliki kompetensi pedagogik yang
memadai dalam mengajar di tingkat SMA. Beberapa guru
mungkin memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi kurang
dalam hal metode pengajaran yang efektif dan menarik bagi siswa
remaja (Zuhairini, 2006: 25-62).

D. Tinjauan Penelitian Terdahulu


1. Nova Permata Sari, dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Model
Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Pada Mata
Pelajaran IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 76 Kota Bengkulu”.
Hasil analisis data hasil belajar menggunakan software SPSS 1.6
36

diperoleh data nilai Sig > 0,05 data memiliki varians yang sama, nilai
rhitung sebesar 1. 515 dan nilai signifikansi sebesar 0,023. Karena P
Value (sig) = 0,023 < 0,05), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh Model pembelajaran
PBL terhadap hasil belajar IPA siswa.
Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah
terdapat pada variabel X yaitu pengaruh model pembelajaran problem
based learning (PBL). Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian
ini adalah pada variabel Y, jika penelitian terdahulu tentang hasil belajar
pada mata pelajaran PAI, sedangkan penelitian ini tentang minat belajar
siswa pada mata pelajaran PAI. Selain itu perbedaannya terdapat pada
lokasi penelitiannya, jika penelitian terdahulu di kelas V Sekolah Dasar
Negeri 76 Kota Bengkulu, sedangkan penelitian ini di SMA Primaganda
Jombang.
2. Sastriani dalam tulisannya yang berjudul “Pengaruh Model
Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar IPA
Siswa Kelas V SDN 7 Gugus Wijaya Kusuma Ngaliyan Semarang”. Dari
riset yang telah dijalankan menunjukkan hasil Ho ditolak dan Ha
diterima dengan kata lain model Problem based learning lebih tinggi dari
pada model konvensional terhadap hasil belajar IPA. Hasil itu didukung
dengan peningkatan skor pretest ke posttest melalui uji N-Gain. N-Gain
kelas eksperimen 0,70787 (kategori tinggi) dan kelas kontrol 0,57471
(kategori sedang).
Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah
terdapat pada variabel X yaitu pengaruh model pembelajaran problem
based learning (PBL). Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian
ini adalah pada variabel Y, jika penelitian terdahulu tentang hasil belajar
siswa pada mata pelajaran IPA, sedangkan penelitian ini tentang minat
belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Selain itu, perbedaannya terdapat
pada uji yang dipakai, pada penelitian terdahulu menggunakan uji N-
Gain sedangkan pada penelitian ini menggunakan uji Paired Sample t
37

Test. Perbedaan selanjutnya terdapat pada lokasi penelitian, jika


penelitian terdahulu di kelas V SDN 7 Gugus Wijaya Kusuma Ngaliyan
Semarang, sedangkan penelitian ini di SMA Primaganda Jombang.
3. Diah Ayu Ningsih dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model
Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) terhadap Aktivitas dan
Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Pernapasan Manusia di SMPN
1 Sumbergempol”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh
yang signifikan antara model pembelajaran problem based learning
(PBL) terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan
dengan hasil rata-rata aktivitas belajar kelas eksperimen 72,06 dan rata-
rata kelas kontrol 69,16. Hasil uji statistik diperoleh nilai hitung sebesar
4,146 dengan signifikan 0,000. Sedangkan rata-rata hasil belajar kelas
eksperimen 77,38 dan rata-rata untuk kelas kontrol 69,16.
Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah
terdapat pada variabel X yaitu pengaruh model pembelajaran problem
based learning (PBL). Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian
ini adalah pada variabel Y, jika penelitian terdahulu tentang aktivitas dan
hasil belajar siswa pada materi system pernapasan, sedangkan penelitian
ini tentang minat belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Perbedaan
selanjutnya terdapat pada lokasi penelitian, jika penelitian terdahulu di
SMPN 1 Sumbergempol, sedangkan penelitian ini di SMA Primaganda
Jombang.

E. Kerangka berfikir
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana
teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting. Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara
teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti (Sugiyono, 2017: 60).
Adapun kerangka berfikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
38

Model Pembelajaran PBL Minat Belajar PAI

F. Hipotesis Penelitian
Menurut Sugiyono (2015: 64) Hipotesis adalah jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah peneliti telah
dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.
Hipotesis dapat juga diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat
sementara terdapat permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data
yang terkumpul (Suwandi, 2010: 110). Hipotesis ini dirancang sesuai dengan
harapan peneliti dalam model pembelajaran problem based learning (PBL)
adalah terdapatnya pengaruh model pembelajaran problem based learning
(PBL) terhadap minat belajar siswa. Hipotesis ini kemudian dirinci menjadi
susunkakn sebagai berikut:
1. Hipotesis Kalimat
H0: Tidak ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran problem
based learning (PBL) terhadap minat belajar siswa pada mata
pelajaran PAI.
H1: Ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran problem based
learning (PBL) terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran
PAI.
2. Hipotesis Statistik
H0: Sig > α α = 0,06
H1: Sig < α

Anda mungkin juga menyukai