Kepemimpinan Gender dan Budaya Sekolah
Kepemimpinan Gender dan Budaya Sekolah
ABSTRACT
This study aims to uncover how gender-based leadership influences organizational culture
and teacher performance through the implementation of instructional distribution
leadership in elementary schools. This study used a qualitative approach with a multi-site
design involving two public elementary schools: SDN 1 Embat-Embat Nganjuk and SDN 2
Pace Wetan. Data were collected through in-depth interviews, observations, and
documentation studies, then analyzed using cross-site thematic analysis techniques. The
results showed significant differences in the mechanisms of instructional distribution.
Female principals tended to implement instructional distribution through empowerment,
collaboration, reflective dialogue, and interpersonal mentoring, so that teachers were
actively involved in learning decision-making. These mechanisms fostered a supportive,
participatory, and collaborative school culture. In contrast, male principals implemented
instructional distribution in a formal, structural, and performance-target-based manner,
through clear assignments, close supervision, and measurable achievement indicators. This
pattern resulted in a disciplined, systematic, and results-oriented organizational culture.
Although the mechanisms used differed, both patterns of instructional distribution were
proven to improve teacher performance through different channels. This study also found
that young principals faced legitimacy challenges from senior teachers, but their coping
strategies were influenced by gender. These findings reinforce the importance of gender in
shaping the effectiveness of distributed instructional leadership and the organizational
culture of elementary schools. This study contributes to the literature on educational
leadership in Indonesia and has practical implications for developing principal
competencies. The findings confirm that gender plays a significant role in shaping the
distribution of instructional leadership in schools, influencing the dynamics of
organizational culture and improving teacher performance. This study provides a
conceptual contribution to the development of a gender-based distributed instructional
leadership model in the context of elementary education in Indonesia.
Article Info
Received date: ???? Revised date: ???? Accepted date: ????
1
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?
bahwasanya gender berperan dalam pola relasi yang memengaruhi proses distribusi peran,
kepemimpinan dan dinamika budaya relasi kekuasaan, dan iklim kerja sekolah
organisasi sekolah. (Gümüş et al., 2016; Harris, 2022; Spillane,
Dari banyaknya penelitian yang 2021). Kondisi ini menyebabkan masih
membahas tentang kajian kepemimpinan terbatasnya pemahaman empiris tentang
berbasis gender masih sedikit penelitian yang bagaimana gender berinteraksi dengan
menghubungkan dengan model kepemimpinan kepemimpinan distribusi instruksional dalam
berbasis gender yang mempengaruhi budaya membentuk budaya organisasi sekolah yang
organisasi dan kinerja melalui gaya kolaboratif dan berkelanjutan.
kepemimpinan distribusi instruksional dalam Di sisi lain, penelitian tentang
Pendidikan di Indonesia. Padahal, kepemimpinan distribusi instruksional lebih
kepemimpinan distribusi instruksional ini banyak menitikberatkan pada aspek
diterapkan dapat memberikan kekuatan dalam kolaborasi, pembagian peran, dan peningkatan
kebijakan pengembangan kompetensi kepala mutu pembelajaran, tanpa memasukkan
sekolah dan dapat membuat strategi variabel gender sebagai lensa analisis utama
peningkatan kinerja dalam Pendidikan. (Harris, 2019; Spillane, 2015). Bahkan,
Meski penelitian tentang Hallinger dan Heck (2018) menegaskan bahwa
kepemimpinan berbasis gender telah banyak studi-studi kepemimpinan instruksional masih
dilakukan, Sebagian besar penelitian masih cenderung “gender-neutral”, sehingga belum
berfokus hanya tentang perbedaan gaya memberikan penjelasan yang komprehensif
kepemimpinan laki-laki dan Perempuan secara mengenai bagaimana identitas gender
umum, seperti perbedaan kepemimpinan pemimpin memengaruhi proses distribusi
transformasional, transaksional, dan relasional tugas, relasi kerja, serta dinamika kinerja guru
tanpa mengkaitkannya dengan praktik di sekolah. Padahal, temuan mutakhir dari
kepemimpinn distribusi instruksional di Massouti dalam Shaya, dan Qareiny (2024)
sekolah (Eagly & Carli, 2018; Northouse, menunjukkan bahwa pemimpin perempuan
2022; Yukl, 2020). Penelitian tentang gender menerapkan distribusi kepemimpinan
dan efektivitas kepemimpinan juga masih instruksional secara lebih adaptif dan
bersifat deskriptif-komparatif, sehingga belum relasional dibandingkan pemimpin laki-laki,
menggambarkan secara mendalam bagaimana yang mengindikasikan bahwa gender
praktik distribusi tugas, pengambilan berpotensi menjadi faktor penting dalam
keputusan instrusional, serta pemberdayaan efektivitas distribusi kepemimpinan.
guru dijalankan oleh kepala sekolah Temuan lain menurut Liu et al. (2021)
Perempuan maupun laki-laki dalam menjelaskan bahwa kepemimpinan kepala
membentuk budaya organisasi yang sekolah memiliki pengaruh terhadap
kolaboratif (Bush, 2020; Hallinger, 2021). Di pembelajaran professional melalui peran
sisi lain, kajian tentang kepemimpinan mediasi kepemimpinan terdistribusi. Guru
distribusional dan instruksional lebih yang terlibat dalam struktur kepemimpinan
menekankan pada dampaknya terhadap kinerja instruksional menunjukkan efikasi diri yang
guru dan mutu pembelajaran, namun relatif lebih tinggi, keterbukaan terhadap inovasi,
mengabaikan dimensi gender sebagai faktor serta komitmen yang lebih kuat terhadap
pengembangan pembelajaran. Hal ini
3
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?
diperkuat oleh temuan Supovitz et al. (2010) membawa gaya kepemimpinan yang berbeda
dan Wahlstrom dan Louis (2008) yang dari generasi sebelumnya. Pemilihan Kepala
menegaskan bahwa pengaruh kepala sekolah Sekolah tersebut diambil dari guru yang telah
terhadap pembelajaran siswa dan kinerja guru lulus dari program guru penggerak sehingga
sebagian besar dibangun melalui penguatan posisi tersebut menghasilkan kepala sekolah
komunitas profesional, kepercayaan, dan yang dirasa sangat muda dan beberapa kondisi
tanggung jawab bersama yang tumbuh dalam di lapangan ditemukan banyak yang baru
kepemimpinan yang terdistribusi. diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil belum
Dengan demikian, masih terdapat genap 10-15 tahun sudah menjabat sebagai
kesenjangan penelitian (research gap) yang kepala sekolah. Kondisi ini menjadi semakin
nyata antara kajian kepemimpinan berbasis menarik ketika dikaitkan dengan aspek gender,
gender dan kepemimpinan distribusi karena menurut penelitian-penelitian terbaru
instruksional, khususnya dalam konteks menunjukkan bahwa pemimpin laki-laki dan
praktik kepala sekolah dalam membentuk Perempuan memiliki perbedaan dalam
budaya organisasi yang kolaboratif serta perilaku, profesionalisme kerja serta pola
meningkatkan kinerja guru. Keterpisahan relasi yang berbeda dalam lingkungan kerja
kedua kajian tersebut menyebabkan (Collins et al., 2014; Amsalu & Belay, 2024).
pemahaman mengenai peran gender dalam Perbedaan karakteristik inilah yang
mekanisme distribusi instruksional di sekolah diperkirakan turut mempengaruhi cara mereka
masih belum utuh, terutama dalam konteks membangun budaya organisasi dan
pendidikan dasar di Indonesia. meningkatkan kinerja sekolah.
Konteks Pendidikan di Indonesia Kabupaten Nganjuk sebagai salah satu
penelitian mengenai kepemimpinan kota Pendidikan memiliki dinamika organisasi
Perempuan lebih banyak menyoroti isu beban sekolah yang heterogen, dengan variasi gaya
ganda dan hambatan structural, sementara kepemimpinan, latar belakang pengalaman dan
kontribusi kepemimpinan berbasis gender konteks sosial budaya yang beragam.
dalam meningkatkan budaya organisasi dan Kemunculan kepala sekolah muda ini, baik
kinerja guru di sekolah relatif masih jarang laki-laki maupun Perempuan memberikan
diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini konteks empirik yang kaya untuk mengkaji
kemudian hadir untuk menjembatani bagaimana fakor gender dapat mempengaruhi
kesenjangan dengan menggali secara budaya organisasi dan kinerja pada instansi
mendalam model kepemimpinan berbasis sekolah dasar. Selain itu, perubahan-perubahan
gender yang mempengaruhi budaya organisasi kebijakan Pendidikan dan tuntutan kinerja
dan kinerja melalui praktik distribusi sekolah yang semakin memerlukan model
instruksional dengan menggunakan metode kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif serta
kualitatif. mampu mendorong inovasi pembelajaran.
Dari fenomena lapangan tentang Penelitian ini berawal dari kebutuhan
kepemimpinan Pendidikan saat ini banyak untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
mengalami dinamika yang semakin kompleks mendalam mengenai bagaimana kepala
khususnya pada tingkat sekolah dasar. Di sekolah muda di sekolah dasar di Kabupaten
Kabupaten Nganjuk sendiri saat ini muncul Nganjuk membangun pola kepemimpinan
generasi baru yakni kepala sekolah muda yang yang peka gender. Dengan latar belakang
4
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0
untuk mengeksplorasi pengalaman dan makna budaya dan kinerja sekolah melalui
kepemimpinan dari perspektif berbagai pelaku mekanisme kepemimpinan instruksional
sekolah. Observasi digunakan untuk terdistribusi dalam berbagai konteks sekolah
mengamati praktik kepemimpinan sehari-hari, dasar.
interaksi para pengambil keputusan, dan
mekanisme distribusi instruksional dalam HASIL PENELITIAN DAN
kegiatan rapat guru, supervisi, dan pembinaan. PEMBAHASAN
Studi dokumenter meliputi dokumen Hasil Penelitian
perencanaan sekolah, laporan supervisi, Hasil analisis lintas situs menunjukkan
struktur organisasi, dan catatan kinerja guru. adanya perbedaan pola kepemimpinan berbasis
Data dianalisis dengan analisis lintas gender dan mekanisme distribusi instruksional
lokasi. Pada tahap pertama, data dianalisis pada kedua lokasi penelitian. Pada Situs 1
melalui analisis intra-lokasi dengan (kepala sekolah perempuan), kepemimpinan
mengorganisasikan, mengodekan, dan dijalankan melalui pendekatan relasional dan
mengambil tema dari setiap lokasi secara kolaboratif dengan melibatkan guru dalam
terpisah. Tahap kedua adalah analisis lintas pengambilan keputusan pembelajaran, refleksi
lokasi dengan membandingkan pola yang bersama, serta pemberdayaan berbasis potensi.
muncul di setiap lokasi dan mengidentifikasi Distribusi kepemimpinan instruksional
persamaan, perbedaan, dan hubungan antar berlangsung secara partisipatif melalui
tema untuk mengembangkan model pendampingan dan pembagian peran yang
kepemimpinan berbasis gender yang konsisten fleksibel, sehingga membentuk budaya
atau kontekstual (Miles, Huberman, & organisasi yang suportif, terbuka, dan
Saldaña, 2018). Analisis ini membantu kolaboratif.
mengembangkan teori yang lebih kuat dalam Sebaliknya, pada Situs 2 (kepala
pengujian di berbagai konteks. sekolah laki-laki), kepemimpinan dijalankan
Validitas data dipastikan melalui secara struktural, direktif, dan berorientasi
triangulasi metode, triangulasi sumber, jejak pada target kinerja. Distribusi instruksional
audit, dan pengecekan anggota. Dalam dilakukan melalui penugasan formal, supervisi
triangulasi sumber, data dari kepala sekolah, terjadwal, serta pengawasan berbasis indikator
guru senior, dan guru muda dibandingkan. capaian, yang membentuk budaya organisasi
Dalam triangulasi metode, data dari yang disiplin, sistematis, dan berorientasi
wawancara, observasi, dan analisis dokumen hasil. Perbedaan lintas situs ini menegaskan
diintegrasikan. Jejak audit diterapkan dengan bahwa desain multi-situs memiliki makna
mencatat secara sistematis semua proses empiris, karena menunjukkan variasi nyata
analisis agar dapat ditinjau kembali. dalam praktik kepemimpinan dan
Pemeriksaan anggota digunakan agar informan pembentukan budaya sekolah meskipun berada
mengonfirmasi interpretasi peneliti untuk dalam konteks wilayah yang relatif serupa.
memastikan keakuratan makna penelitian. Hasil temuan di lapangan perbedaan
Pendekatan kualitatif multi-situs ini persepsi antara guru Perempuan dan guru laki-
diharapkan akan memberikan gambaran yang laki dalam memahami gaya kepemimpinan
mendalam dan teruji tentang bagaimana kepala sekolah. Menurut guru Perempuan
kepemimpinan berbasis gender memengaruhi kepala sekolah Perempuan lebih menghargai
6
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0
Dalam konteks distribusi instruksional, kepala Selain itu, penelitian ini menemukan
sekolah laki-laki mendistribusikan tugas secara dinamika tentang kepala sekolah muda, baik
fungsional dan formal dengan indikator yang kepala sekolah Perempuan dan laki-laki dalam
jelas. Pola ini berimplikasi pada budaya menghadapi tantangan oleh guru senior.
organisasi yang lebih tertib, terstruktur, dan Namun, strategi yang digunakan untuk
stabil. memperoleh penerimaan oleh guru senior
Selanjutnya, model kepemimpinan ini memiliki perbedaan. Kepala sekolah
menunjukkan adanya hubungan erat dengan Perempuan memanfaatkan pendekatan rasional
efektivitas distribusi instruksional. Harris dan interpersonal, sedangkan kepala sekolah
(2019) menjelaskan bahwa distribusi laki-laki mengandalkan ketagasan aturan serta
instruksional yang efektif membutuhkan konsistensi dalam pengambilan keputusan. Hal
kejelasan peran, kolaborasi, dan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan
pemberdayaan. Kepemimpinan kepala sekolah gender turut mempengaruhi strategi adaptasi
Perempuan distribusi instruksionalnya terjadi kepemimpinan mudan dan senioritas,
melalui diskusi, pendekatan interpersonal, dan Temuan penelitian ini memperluas
pemberdayaan guru, hal tersebut untuk literatur kepemimpinan pendidikan di
mengembangkan Pratik pembelajaran. Indonesia yang selama ini lebih banyak
Sebaliknya, kepala sekolah laki-laki lebih menekankan perbedaan gender secara
menekankan aspek penjaminan mutu, disiplin, deskriptif. Penelitian ini memberikan
structural dan pencapaian target. Temuan ini kontribusi teoritik dengan menunjukkan bahwa
sesuai dengan penelitian Massouti, Shaya, dan kepemimpinan berbasis gender memainkan
Qareiny (2024) yang menunjukkan bahwa peran penting dalam memengaruhi
pemimpin perempuan cenderung lebih efektif keberhasilan distribusi instruksional,
dalam distribusi kepemimpinan instruksional pembentukan budaya organisasi, dan
karena lebih adaptif terhadap kebutuhan peningkatan kinerja guru, terutama pada
emosional dan pedagogis guru. konteks kepala sekolah muda di sekolah dasar.
Kepala sekolah Perempuan Dengan demikian, penelitian ini menegaskan
menghasilkan budaya yang suportif, pentingnya memahami gender sebagai variabel
kolaboratif dan hangat. Budaya tersebut interpretatif dalam studi kepemimpinan
menumbuhkan rasa saling percaya dan pendidikan.
memfasilitasi kerja sama antar guru. Temuan
ini mendukung argumen Hallinger (2020) SIMPULAN DAN SARAN
bahwa kualitas hubungan interpersonal Simpulan
menjadi salah satu fondasi terciptanya budaya Hasil dari penelitian ini menunjukkan
sekolah yang sehat. Kepala sekolah laki-laki bahwa kepemimpinan berbasis gender
membangun budaya organisasi yang lebih memiliki peran penting dalam membentuk
disiplin, formal dan terstandar. Budaya ini pola distribusi instruksional, budaya organisasi
memiliki keunggulan masing-masing, dan dan kinerja guru pada sekolah dasar. Seorang
keduanya terbukti dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah Perempuan cenderung
guru sesuai gaya kepemimpinan yang menerapkan gaya kepemimpinan yang
diterapkan, kolaboratif, empatik, dan relasional sehingga
dalat menghasilkan budaya organisasi yang
8
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0
10
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0
11