0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan11 halaman

Kepemimpinan Gender dan Budaya Sekolah

Penelitian ini mengkaji pengaruh kepemimpinan berbasis gender terhadap budaya organisasi dan kinerja guru di sekolah dasar melalui distribusi kepemimpinan instruksional. Temuan menunjukkan bahwa kepala sekolah perempuan cenderung menerapkan pendekatan kolaboratif dan partisipatif, sementara kepala sekolah laki-laki lebih fokus pada struktur dan hasil. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya gender dalam mempengaruhi dinamika kepemimpinan dan budaya sekolah, serta memberikan kontribusi pada pengembangan model kepemimpinan yang adaptif di pendidikan dasar di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan11 halaman

Kepemimpinan Gender dan Budaya Sekolah

Penelitian ini mengkaji pengaruh kepemimpinan berbasis gender terhadap budaya organisasi dan kinerja guru di sekolah dasar melalui distribusi kepemimpinan instruksional. Temuan menunjukkan bahwa kepala sekolah perempuan cenderung menerapkan pendekatan kolaboratif dan partisipatif, sementara kepala sekolah laki-laki lebih fokus pada struktur dan hasil. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya gender dalam mempengaruhi dinamika kepemimpinan dan budaya sekolah, serta memberikan kontribusi pada pengembangan model kepemimpinan yang adaptif di pendidikan dasar di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kelola

Jurnal Manajemen Pendidikan


Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0

KEPEMIMPINAN BERBASIS GENDER DAN BUDAYA ORGANISASI : STUDI


DISTRIBUSI INSTRUKSIONAL DI SEKOLAH DASAR

Elya Indah Rahmawati1


Universitas Negeri Malang
[Link].2501329@[Link]
Achmad Supriyanto2
Universitas Negeri Malang
[Link]@[Link]
Aan Fardani Ubaidillah3
Universitas Negeri Malang
[Link]@[Link]

ABSTRACT
This study aims to uncover how gender-based leadership influences organizational culture
and teacher performance through the implementation of instructional distribution
leadership in elementary schools. This study used a qualitative approach with a multi-site
design involving two public elementary schools: SDN 1 Embat-Embat Nganjuk and SDN 2
Pace Wetan. Data were collected through in-depth interviews, observations, and
documentation studies, then analyzed using cross-site thematic analysis techniques. The
results showed significant differences in the mechanisms of instructional distribution.
Female principals tended to implement instructional distribution through empowerment,
collaboration, reflective dialogue, and interpersonal mentoring, so that teachers were
actively involved in learning decision-making. These mechanisms fostered a supportive,
participatory, and collaborative school culture. In contrast, male principals implemented
instructional distribution in a formal, structural, and performance-target-based manner,
through clear assignments, close supervision, and measurable achievement indicators. This
pattern resulted in a disciplined, systematic, and results-oriented organizational culture.
Although the mechanisms used differed, both patterns of instructional distribution were
proven to improve teacher performance through different channels. This study also found
that young principals faced legitimacy challenges from senior teachers, but their coping
strategies were influenced by gender. These findings reinforce the importance of gender in
shaping the effectiveness of distributed instructional leadership and the organizational
culture of elementary schools. This study contributes to the literature on educational
leadership in Indonesia and has practical implications for developing principal
competencies. The findings confirm that gender plays a significant role in shaping the
distribution of instructional leadership in schools, influencing the dynamics of
organizational culture and improving teacher performance. This study provides a
conceptual contribution to the development of a gender-based distributed instructional
leadership model in the context of elementary education in Indonesia.

Keywords: gender-based leadership, instructional distribution leadership, organizational


culture, teacher performance, elementary schools.

Article Info
Received date: ???? Revised date: ???? Accepted date: ????
1
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?

PENDAHULUAN penelitian ini memberikan implikasi yang


Kepemimpinan dalam Pendidikan signifikan terhadap pola pengambilan
merupakan salah satu faktor strategis dalam keputusan dan pembentukan budaya
menentukan arah keberhasilan dan organisasi, namun harus dipahami sebagai
keberlanjutan organisasi sekolah. Menurut produk interaksi antara gender, konteks
(Bush, 2018; Hallinger, 2020) kualitas kepemimpinan, dan sistem organisasi sekolah,
kepemimpinan seseorang memiliki dampak bukan sebagai bentuk stereotipe gender.
terhadap budaya organisasi, iklim kerja dan Akhir-akhir ini tipe dan gaya kepemimpinan
kinerja pendidik dan tenaga kependidikan. distribusi instruksional (instructional
Dalam Pendidikan modern, budaya organisasi distributed leadership) menjadi gaya
yang positif menjadi faktor penting selain kepemimpinan yang dirasa efektif dalam
kepemimpinan untuk memastikan terciptanya meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.
lingkungan kerja yang produktif, kolaboratif Kepemimpinan ini menekankan pada
dan adaptif terhadap perubahan. kolaborasi, partisipasi dan pembagian
Seiring berjalannya waktu, kajian tanggung jawab dalam proses pengelolaan
gender di dalam kepemimpinan Pendidikan, pembelajaran pembelajaran (Harris, 2019).
akhirnya memunculkan pemahaman perbedaan Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
karakteristik antara laki-laki dan Perempuan pemimpin Perempuan yang secara konsisten
dalam pengelolaan organisasi. Menurut (Eagly menggunakan gaya kepemimpinan distribusi
& Carli, 2018; Northouse, 2021), secara lebih efektif dibandingkan
kepemimpinan Perempuan menunjukan lebih kepemimpinan laki-laki, sehingga
inklusif, kolaboratif dan empatik. Sedangkan kepemimpinan Perempuan dapat
kepemimpinan laki-laki cenderung gaya menghasilkan budaya sekolah yang lebih
kepemimpinan yang berorientasi pada hasil inovatif (Massouti, Shaya, & Qareiny, 2024).
dan struktural. Perbedaan gaya kepemimpinan Penelitian tentang kepemimpinan
tersebut tidak dipahami sebagai perbedaan berbasis gender menunjukkan bahwa gaya
yang bersifat kodrati atau stereotipikal antara kepemimpinan Perempuan yang menekankan
laki-laki dan perempuan, melainkan sebagai empati, komunikasi terbuka, dan kolaborasi
hasil dari konstruksi sosial, tuntutan peran terbukti berkontribusi positif terhadap
(role expectations), serta konteks organisasi pembentukan budaya organisasi yang suportif,
tempat kepemimpinan dijalankan. Dalam kondusif, dan partisipatif di sekolah dasar
(Shaked, 2020; Northouse, 2022). Sejumlah
perspektif teori gender modern, Eagly dan
penelitian juga mengemukakan bahwa
Carli (2018) menegaskan bahwa variasi gaya
kepemimpinan kepala sekolah Perempuan
kepemimpinan lebih dipengaruhi oleh
berdampak signifikan terhadap penguatan
kesesuaian peran sosial dengan tuntutan budaya kerja yang kolaboratif, peningkatan
jabatan (role congruity) dan dinamika kepercayaan antar guru, dan keterlibatan guru
struktural organisasi, bukan oleh jenis kelamin dalam pengambilan keputusan sekolah
biologis semata. Oleh karena itu, perbedaan (Massouti et al., 2024; Komariah & Triatna,
gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam 2020). Temuan tersebut menunjukkan
2
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0

bahwasanya gender berperan dalam pola relasi yang memengaruhi proses distribusi peran,
kepemimpinan dan dinamika budaya relasi kekuasaan, dan iklim kerja sekolah
organisasi sekolah. (Gümüş et al., 2016; Harris, 2022; Spillane,
Dari banyaknya penelitian yang 2021). Kondisi ini menyebabkan masih
membahas tentang kajian kepemimpinan terbatasnya pemahaman empiris tentang
berbasis gender masih sedikit penelitian yang bagaimana gender berinteraksi dengan
menghubungkan dengan model kepemimpinan kepemimpinan distribusi instruksional dalam
berbasis gender yang mempengaruhi budaya membentuk budaya organisasi sekolah yang
organisasi dan kinerja melalui gaya kolaboratif dan berkelanjutan.
kepemimpinan distribusi instruksional dalam Di sisi lain, penelitian tentang
Pendidikan di Indonesia. Padahal, kepemimpinan distribusi instruksional lebih
kepemimpinan distribusi instruksional ini banyak menitikberatkan pada aspek
diterapkan dapat memberikan kekuatan dalam kolaborasi, pembagian peran, dan peningkatan
kebijakan pengembangan kompetensi kepala mutu pembelajaran, tanpa memasukkan
sekolah dan dapat membuat strategi variabel gender sebagai lensa analisis utama
peningkatan kinerja dalam Pendidikan. (Harris, 2019; Spillane, 2015). Bahkan,
Meski penelitian tentang Hallinger dan Heck (2018) menegaskan bahwa
kepemimpinan berbasis gender telah banyak studi-studi kepemimpinan instruksional masih
dilakukan, Sebagian besar penelitian masih cenderung “gender-neutral”, sehingga belum
berfokus hanya tentang perbedaan gaya memberikan penjelasan yang komprehensif
kepemimpinan laki-laki dan Perempuan secara mengenai bagaimana identitas gender
umum, seperti perbedaan kepemimpinan pemimpin memengaruhi proses distribusi
transformasional, transaksional, dan relasional tugas, relasi kerja, serta dinamika kinerja guru
tanpa mengkaitkannya dengan praktik di sekolah. Padahal, temuan mutakhir dari
kepemimpinn distribusi instruksional di Massouti dalam Shaya, dan Qareiny (2024)
sekolah (Eagly & Carli, 2018; Northouse, menunjukkan bahwa pemimpin perempuan
2022; Yukl, 2020). Penelitian tentang gender menerapkan distribusi kepemimpinan
dan efektivitas kepemimpinan juga masih instruksional secara lebih adaptif dan
bersifat deskriptif-komparatif, sehingga belum relasional dibandingkan pemimpin laki-laki,
menggambarkan secara mendalam bagaimana yang mengindikasikan bahwa gender
praktik distribusi tugas, pengambilan berpotensi menjadi faktor penting dalam
keputusan instrusional, serta pemberdayaan efektivitas distribusi kepemimpinan.
guru dijalankan oleh kepala sekolah Temuan lain menurut Liu et al. (2021)
Perempuan maupun laki-laki dalam menjelaskan bahwa kepemimpinan kepala
membentuk budaya organisasi yang sekolah memiliki pengaruh terhadap
kolaboratif (Bush, 2020; Hallinger, 2021). Di pembelajaran professional melalui peran
sisi lain, kajian tentang kepemimpinan mediasi kepemimpinan terdistribusi. Guru
distribusional dan instruksional lebih yang terlibat dalam struktur kepemimpinan
menekankan pada dampaknya terhadap kinerja instruksional menunjukkan efikasi diri yang
guru dan mutu pembelajaran, namun relatif lebih tinggi, keterbukaan terhadap inovasi,
mengabaikan dimensi gender sebagai faktor serta komitmen yang lebih kuat terhadap
pengembangan pembelajaran. Hal ini
3
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?

diperkuat oleh temuan Supovitz et al. (2010) membawa gaya kepemimpinan yang berbeda
dan Wahlstrom dan Louis (2008) yang dari generasi sebelumnya. Pemilihan Kepala
menegaskan bahwa pengaruh kepala sekolah Sekolah tersebut diambil dari guru yang telah
terhadap pembelajaran siswa dan kinerja guru lulus dari program guru penggerak sehingga
sebagian besar dibangun melalui penguatan posisi tersebut menghasilkan kepala sekolah
komunitas profesional, kepercayaan, dan yang dirasa sangat muda dan beberapa kondisi
tanggung jawab bersama yang tumbuh dalam di lapangan ditemukan banyak yang baru
kepemimpinan yang terdistribusi. diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil belum
Dengan demikian, masih terdapat genap 10-15 tahun sudah menjabat sebagai
kesenjangan penelitian (research gap) yang kepala sekolah. Kondisi ini menjadi semakin
nyata antara kajian kepemimpinan berbasis menarik ketika dikaitkan dengan aspek gender,
gender dan kepemimpinan distribusi karena menurut penelitian-penelitian terbaru
instruksional, khususnya dalam konteks menunjukkan bahwa pemimpin laki-laki dan
praktik kepala sekolah dalam membentuk Perempuan memiliki perbedaan dalam
budaya organisasi yang kolaboratif serta perilaku, profesionalisme kerja serta pola
meningkatkan kinerja guru. Keterpisahan relasi yang berbeda dalam lingkungan kerja
kedua kajian tersebut menyebabkan (Collins et al., 2014; Amsalu & Belay, 2024).
pemahaman mengenai peran gender dalam Perbedaan karakteristik inilah yang
mekanisme distribusi instruksional di sekolah diperkirakan turut mempengaruhi cara mereka
masih belum utuh, terutama dalam konteks membangun budaya organisasi dan
pendidikan dasar di Indonesia. meningkatkan kinerja sekolah.
Konteks Pendidikan di Indonesia Kabupaten Nganjuk sebagai salah satu
penelitian mengenai kepemimpinan kota Pendidikan memiliki dinamika organisasi
Perempuan lebih banyak menyoroti isu beban sekolah yang heterogen, dengan variasi gaya
ganda dan hambatan structural, sementara kepemimpinan, latar belakang pengalaman dan
kontribusi kepemimpinan berbasis gender konteks sosial budaya yang beragam.
dalam meningkatkan budaya organisasi dan Kemunculan kepala sekolah muda ini, baik
kinerja guru di sekolah relatif masih jarang laki-laki maupun Perempuan memberikan
diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini konteks empirik yang kaya untuk mengkaji
kemudian hadir untuk menjembatani bagaimana fakor gender dapat mempengaruhi
kesenjangan dengan menggali secara budaya organisasi dan kinerja pada instansi
mendalam model kepemimpinan berbasis sekolah dasar. Selain itu, perubahan-perubahan
gender yang mempengaruhi budaya organisasi kebijakan Pendidikan dan tuntutan kinerja
dan kinerja melalui praktik distribusi sekolah yang semakin memerlukan model
instruksional dengan menggunakan metode kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif serta
kualitatif. mampu mendorong inovasi pembelajaran.
Dari fenomena lapangan tentang Penelitian ini berawal dari kebutuhan
kepemimpinan Pendidikan saat ini banyak untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
mengalami dinamika yang semakin kompleks mendalam mengenai bagaimana kepala
khususnya pada tingkat sekolah dasar. Di sekolah muda di sekolah dasar di Kabupaten
Kabupaten Nganjuk sendiri saat ini muncul Nganjuk membangun pola kepemimpinan
generasi baru yakni kepala sekolah muda yang yang peka gender. Dengan latar belakang
4
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0

perubahan budaya organisasi sekolah dan distribusional instruksional. Mengingat


tuntutan untuk meningkatkan kinerja, penelitian ini mengkaji beberapa sekolah
kepemimpinan berbasis gender merupakan dengan karakteristik yang beragam, metode
pendekatan yang tepat untuk diteliti. Selain multi-situs digunakan agar peneliti dapat
karakterisasi seorang pemimpin, perlu menangkap persamaan dan perbedaan pola
dipahami bagaimana pemimpin tersebut kepemimpinan yang terdapat dalam konteks
mendistribusikan tanggung jawab pengajaran sekolah yang berbeda (Bogdan & Biklen,
kepada guru dan staf. Dengan demikian, 2016). Dengan demikian, penelitian ini dapat
penelitian ini berfokus pada beberapa menghasilkan pemahaman yang menyeluruh
pertanyaan: 1) bagaimana kepemimpinan dan meningkatkan generalisasi teoretis.
berbasis gender dicirikan oleh kepala sekolah Penelitian ini dilakukan di dua Sekolah
muda, 2) bagaimana pola distribusi Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten
kepemimpinan pengajaran dipraktikkan oleh Nganjuk,yakni SDN 1 EmbatEmbat dan SDN
mereka, dan 3) Bagaimana peran distribusi 2 Pace Wetan yang dipilih secara purposif
kepemimpinan instruksional dalam dengan kriteria sebagai berikut: (1) dipimpin
menguatkan kinerja guru dan kinerja sekolah. oleh seorang kepala sekolah muda dengan
Pada akhirnya, penelitian ini berupaya pengalaman kepemimpinan kurang dari lima
membangun model kepemimpinan berbasis tahun, (2) memiliki struktur organisasi dengan
gender yang menjelaskan hubungan antara komposisi guru laki-laki dan perempuan yang
distribusi kepemimpinan pengajaran, budaya beragam, dan (3) menerapkan program
organisasi sekolah, dan kinerja sekolah dasar pengembangan budaya sekolah dan
dalam tatanan kepemimpinan kepala sekolah peningkatan kinerja berdasarkan supervisi
muda di Kabupaten Nganjuk. instruksional. Responden dalam penelitian ini
Oleh karena itu, penelitian ini dapat yakni Ibu Diyah Ayu, S,[Link] selaku kepala
dilakukan untuk mengisi kekosongan kajian sekolah di SDN 1 EmbatEmbat, guru
mengenai hubungan antara kepemimpinan Perempuan dan laki-laki di sekolah tersebut.
berbasis gender, budaya organisasi, kinerja Kemudian di SDN 2 Pace Wetan yaitu Bapak
sekolah dan distribusi instruksional. Penelitian Surawan, S,Pd selaku kepala sekolah, serta 2
ini tidak hanya berkontribusi pada literatur guru di sekolah tersebut.
kepemimpinan Pendidikan, tetapi juga Desain multi-situs memberikan
memberikan implikasi praktis bagi pembinaan kesempatan bagi peneliti untuk
kepala sekolah, pengembangan budaya membandingkan persamaan dan perbedaan
sekolah serta strategi peningkatan kinerja kepemimpinan berbasis gender yang terjadi di
melalui pendekatan kepemiminan yang lebih berbagai sekolah yang diamati sebagai pola
inklusif dan terdistribusi. dominan dan variasi unik di setiap lokasi.
Responden penelitian meliputi kepala
METODE PENELITIAN sekolah, guru senior, guru muda, dan staf
Penelitian ini menggunakan pendukung pendidikan yang berpartisipasi
pendekatan kualitatif dengan desain multi-situs dalam pengambilan keputusan instruksional.
untuk menyelidiki model kepemimpinan Data dikumpulkan melalui wawancara
berbasis gender yang membentuk budaya dan mendalam, observasi terfokus, dan studi
kinerja sekolah melalui kepemimpinan dokumenter. Wawancara mendalam digunakan
5
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?

untuk mengeksplorasi pengalaman dan makna budaya dan kinerja sekolah melalui
kepemimpinan dari perspektif berbagai pelaku mekanisme kepemimpinan instruksional
sekolah. Observasi digunakan untuk terdistribusi dalam berbagai konteks sekolah
mengamati praktik kepemimpinan sehari-hari, dasar.
interaksi para pengambil keputusan, dan
mekanisme distribusi instruksional dalam HASIL PENELITIAN DAN
kegiatan rapat guru, supervisi, dan pembinaan. PEMBAHASAN
Studi dokumenter meliputi dokumen Hasil Penelitian
perencanaan sekolah, laporan supervisi, Hasil analisis lintas situs menunjukkan
struktur organisasi, dan catatan kinerja guru. adanya perbedaan pola kepemimpinan berbasis
Data dianalisis dengan analisis lintas gender dan mekanisme distribusi instruksional
lokasi. Pada tahap pertama, data dianalisis pada kedua lokasi penelitian. Pada Situs 1
melalui analisis intra-lokasi dengan (kepala sekolah perempuan), kepemimpinan
mengorganisasikan, mengodekan, dan dijalankan melalui pendekatan relasional dan
mengambil tema dari setiap lokasi secara kolaboratif dengan melibatkan guru dalam
terpisah. Tahap kedua adalah analisis lintas pengambilan keputusan pembelajaran, refleksi
lokasi dengan membandingkan pola yang bersama, serta pemberdayaan berbasis potensi.
muncul di setiap lokasi dan mengidentifikasi Distribusi kepemimpinan instruksional
persamaan, perbedaan, dan hubungan antar berlangsung secara partisipatif melalui
tema untuk mengembangkan model pendampingan dan pembagian peran yang
kepemimpinan berbasis gender yang konsisten fleksibel, sehingga membentuk budaya
atau kontekstual (Miles, Huberman, & organisasi yang suportif, terbuka, dan
Saldaña, 2018). Analisis ini membantu kolaboratif.
mengembangkan teori yang lebih kuat dalam Sebaliknya, pada Situs 2 (kepala
pengujian di berbagai konteks. sekolah laki-laki), kepemimpinan dijalankan
Validitas data dipastikan melalui secara struktural, direktif, dan berorientasi
triangulasi metode, triangulasi sumber, jejak pada target kinerja. Distribusi instruksional
audit, dan pengecekan anggota. Dalam dilakukan melalui penugasan formal, supervisi
triangulasi sumber, data dari kepala sekolah, terjadwal, serta pengawasan berbasis indikator
guru senior, dan guru muda dibandingkan. capaian, yang membentuk budaya organisasi
Dalam triangulasi metode, data dari yang disiplin, sistematis, dan berorientasi
wawancara, observasi, dan analisis dokumen hasil. Perbedaan lintas situs ini menegaskan
diintegrasikan. Jejak audit diterapkan dengan bahwa desain multi-situs memiliki makna
mencatat secara sistematis semua proses empiris, karena menunjukkan variasi nyata
analisis agar dapat ditinjau kembali. dalam praktik kepemimpinan dan
Pemeriksaan anggota digunakan agar informan pembentukan budaya sekolah meskipun berada
mengonfirmasi interpretasi peneliti untuk dalam konteks wilayah yang relatif serupa.
memastikan keakuratan makna penelitian. Hasil temuan di lapangan perbedaan
Pendekatan kualitatif multi-situs ini persepsi antara guru Perempuan dan guru laki-
diharapkan akan memberikan gambaran yang laki dalam memahami gaya kepemimpinan
mendalam dan teruji tentang bagaimana kepala sekolah. Menurut guru Perempuan
kepemimpinan berbasis gender memengaruhi kepala sekolah Perempuan lebih menghargai
6
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0

kedekatan emosional dan dukungan menentukan pola interaksi dan budaya


interpersonal yang ditunjukkan oleh kepala sekolah, tetapi juga memengaruhi motivasi
sekolah Perempuan. Sedangkan guru laki-laki serta kinerja guru melalui mekanisme yang
merasa lebih cocok dipimpin dengan gaya berbeda. Dengan demikian, gender menjadi
kepemimpinan kepalas sekolah lakilaki yang variabel penting yang membentuk model
jelas dan memberikan instruksi kepada kepemimpinan kepala sekolah, khususnya
bawahannya. Meskipun demikian, kedua dalam konteks kepala sekolah muda pada
kelompok guru sama-sama mengakui bahwa sekolah dasar.
baik kepala sekolah Perempuan maupun
kepala sekolah laki-laki sama-sama memiliki Pembahasan
kontribusi yang baik dalam meningkatkan Hasil dari temuan tersebut
kinerja guru dengan gaya kepemimpinan menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis
masing-masing. gender memberikan pengaruh terhadap pola
Distribusi instruksional menjadi aspek kepemimpinan distribusi instruksional, budaya
penting dalam kedua konteks kepemimpinan organisasi, serta kinerja guru. Temuan tersebut
tersebut. Kepala sekolah Perempuan dikuatkan oleh argument bahwa gender bukan
menjalankan distribusi instruksional melalui hanya jenis kelamin, melainkan memiliki
pemberdayaan, pembimbingan dan kolaborasi peran dalam membentuk gaya kepemimpinan,
antar guru. Sementara itu, kepala sekolah laki- strategi pengambilan keputusan, dan cara
laki menerapkan distribusi instruksional secara mempengaruhi bawahannya. Gaya kepala
lebih fungsional dengan menekankan sekolah Perempuan lebih cenderung
penugasan formal, struktur kerja dan untuk kolaboratif, empatik dan relasional. Hal
memenuhi standar. Penelitian ini juga tersebut sejalan oleh temuan Eagly dan Carli
menemukan bahwa kepala sekolah muda (2018) yang menegaskan bahwa pemimpin
memunculkan dinamika baru, baik kepala perempuan lebih sering menggunakan gaya
sekolah Perempuan maupun laki-laki juga kepemimpinan transformasional dan berbasis
menghadapi tantangan dalam menghadapi hubungan interpersonal. Kepala sekolah
guru senior. Namun, strategi antara kepala Perempuan juga mampu menciptakan
sekolah laki -laki dan Perempuan sangatlah lingkungan kerja yang supportif dan inklusif
berbeda. Kepala sekolah Perempuan lebih sehingga dapat memperkuat kolaborasi guru
menggunakan pendeketan relasi dan kedekatan dan refleksi pembelajaran di sekolah.
insterpersonal, sedangkan kepala sekolah laki- Sebaliknya, kepala sekolah laki-laki
laki lebih menggunakan ketegasan, konsistensi menunjukkan gaya kepemimpinan yang lebih
aturan dan pembuktian kerja supaya diterima tegas, structural dan berorientasi pada hasil.
oleh guru-guru senior. Kedua pendekatan Guru di lapangan menggambarkan
tersebut memberikan hasil yang efektif, kepemimpinan laki-laki cenderung
meskipun membawa implikasi yang berbeda berkomunikasi secara langsung, fokus pada
terhadap budaya organisasi dan praktik aturan dan pencapaian target. Hal ini sesuai
distribusi instruksional. dengan teori kepemimpinan berbasis gender
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini yang dikemukakan oleh Northouse (2021),
menegaskan bahwa kepemimpinan berbasis bahwa laki-laki cenderung menerapkan gaya
gender dan distribusi instruksional tidak hanya kepemimpinan direktif dan task-oriented.
7
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?

Dalam konteks distribusi instruksional, kepala Selain itu, penelitian ini menemukan
sekolah laki-laki mendistribusikan tugas secara dinamika tentang kepala sekolah muda, baik
fungsional dan formal dengan indikator yang kepala sekolah Perempuan dan laki-laki dalam
jelas. Pola ini berimplikasi pada budaya menghadapi tantangan oleh guru senior.
organisasi yang lebih tertib, terstruktur, dan Namun, strategi yang digunakan untuk
stabil. memperoleh penerimaan oleh guru senior
Selanjutnya, model kepemimpinan ini memiliki perbedaan. Kepala sekolah
menunjukkan adanya hubungan erat dengan Perempuan memanfaatkan pendekatan rasional
efektivitas distribusi instruksional. Harris dan interpersonal, sedangkan kepala sekolah
(2019) menjelaskan bahwa distribusi laki-laki mengandalkan ketagasan aturan serta
instruksional yang efektif membutuhkan konsistensi dalam pengambilan keputusan. Hal
kejelasan peran, kolaborasi, dan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan
pemberdayaan. Kepemimpinan kepala sekolah gender turut mempengaruhi strategi adaptasi
Perempuan distribusi instruksionalnya terjadi kepemimpinan mudan dan senioritas,
melalui diskusi, pendekatan interpersonal, dan Temuan penelitian ini memperluas
pemberdayaan guru, hal tersebut untuk literatur kepemimpinan pendidikan di
mengembangkan Pratik pembelajaran. Indonesia yang selama ini lebih banyak
Sebaliknya, kepala sekolah laki-laki lebih menekankan perbedaan gender secara
menekankan aspek penjaminan mutu, disiplin, deskriptif. Penelitian ini memberikan
structural dan pencapaian target. Temuan ini kontribusi teoritik dengan menunjukkan bahwa
sesuai dengan penelitian Massouti, Shaya, dan kepemimpinan berbasis gender memainkan
Qareiny (2024) yang menunjukkan bahwa peran penting dalam memengaruhi
pemimpin perempuan cenderung lebih efektif keberhasilan distribusi instruksional,
dalam distribusi kepemimpinan instruksional pembentukan budaya organisasi, dan
karena lebih adaptif terhadap kebutuhan peningkatan kinerja guru, terutama pada
emosional dan pedagogis guru. konteks kepala sekolah muda di sekolah dasar.
Kepala sekolah Perempuan Dengan demikian, penelitian ini menegaskan
menghasilkan budaya yang suportif, pentingnya memahami gender sebagai variabel
kolaboratif dan hangat. Budaya tersebut interpretatif dalam studi kepemimpinan
menumbuhkan rasa saling percaya dan pendidikan.
memfasilitasi kerja sama antar guru. Temuan
ini mendukung argumen Hallinger (2020) SIMPULAN DAN SARAN
bahwa kualitas hubungan interpersonal Simpulan
menjadi salah satu fondasi terciptanya budaya Hasil dari penelitian ini menunjukkan
sekolah yang sehat. Kepala sekolah laki-laki bahwa kepemimpinan berbasis gender
membangun budaya organisasi yang lebih memiliki peran penting dalam membentuk
disiplin, formal dan terstandar. Budaya ini pola distribusi instruksional, budaya organisasi
memiliki keunggulan masing-masing, dan dan kinerja guru pada sekolah dasar. Seorang
keduanya terbukti dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah Perempuan cenderung
guru sesuai gaya kepemimpinan yang menerapkan gaya kepemimpinan yang
diterapkan, kolaboratif, empatik, dan relasional sehingga
dalat menghasilkan budaya organisasi yang
8
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0

suportif dan mendorong keterlibatan guru mengembangkan gaya kepemimpinan yang


secara lebih partisipatif. Dengan pola sesuai dengan karakteristik dan kekuatan
kepemimpinan seperti ini dapat memperkuat masing-masing. Kepala sekolah Perempuan
motivaso emosional guru dan meningkatkan perlu mempertahankan pendekatan relasional
kreativitas dalam kegiatan pembelajaran. dan empati yang terbukti efektif dalam
Sebaliknya, seorang kepala sekolah membangun kolaborasi dan motivasi guru,
laki-laki menunjukkan gaya kepemimpinan sementara kepala sekolah laki-laki perlu
yang lebih tegas, terstruktur, dan berorientasi menjaga ketegasan dan struktur kerja yang
pada hasil. Distribusi instruksional dilakukan mendukung keteraturan organisasi. Keduanya,
secara lebih formal dan sistematis sehingga diharapkan dapat mengintegrasikaan antara
mendorong kedisiplinan, efektivitas dan unsur kolaboratif dan dialogis agar distribusi
keteraturan kerja. Budaya organisasi yang instruksional beralan lebih seimbang dan
terbentuk menjadi lebih professional, stabil responsive terhadap kebutuhan guru.
dan terstandar. Temuan ini menunjukkan Kedua, guru sebagai pelaksana atau
bahwa dari kedua gaya kepemimpinan tersebut actor utama dalam pembelajaran perlu lebih
memiliki keunggulan masing-masing, dan proaktif dalam mengambil peran pada
kedua gaya kepemimpinan tersebut mampu distribusi instruksiona. Keterlibatan aktif guru
meningkatkan kinerja guru melalui mekanisme dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi
yang berbeda. program pembelajaran akan memperkuat
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa profesionalisme dan meningkatkan konsistensi
kepemimpinan kepala sekolah muda budaya organisasi berbasis kolaborasi. Guru
menghadapi tantangan oleh guru senior. juga diharapkan mampu memanfaatkan gaya
Kepala sekolah Perempuan cenderung kepemimpinan yang berbeda sebagai peluang
menggunakan pendekatan relasional untuk untuk mengembangkan kreatifitas, kompetensi
membangun komunikasi serta dapat diterima pedagogis dan kemampuan bekerja dalam tim.
oleh guru senior. Sedangkan kepala sekolah Ketiga, sebagai Dinas Pendidikan dan
laki-laki lebih mengandalkan konsistensi pihak pengambil keputusan perlu
aturan dan ketegasan. Secara keseluruhan, mempertimbangkan hasil penelitian ini dalam
dalam penelitian ini menegaskan bahwa merancang pembinaan kepala sekolah terhadap
gender menjadi salah satu variable penting isu-isu gender di lapangan. Pelatihan
dalam memahami efektivitas kepemimpinan kepemimpinan perlu memasukkan penguatan
distibusi instruksional dan dinamika kapasitas pada aspek komunikasi
pembentukan budaya organisasi di sekolah interpersonal, pengelolaan hubungan kerja,
dasar. dan strategi distribusi instruksional yang
adaptid terhadap karakteristik pemimpin laki-
Saran laki maupun Perempuan. Dengan adanya
Berdasarkan hasil penelitian tersebut upaya ini diharapkan dapat memperkaya
beberapa saran dapat dikemukakan untuk model kepemimpinan kepala sekolah sehingga
memperkuat praktik kepemimpinan distribusi dapat lebih efektif dalam meningkatkan
instruksional berbasis gender di sekolah dasar. kinerja guru dan mutu sekolah.
Pertama, kepala sekolah baik laki-laki maupun
Perempuan harus terus mampu DAFTAR PUSTAKA
9
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: ?, No. ?, ????
jurnalkelola@[Link] Halaman: ?-?

Amsalu, Alem, Belay, Sintayehu. (2024). Leadership-Matters-Perspectives-


Women's effectiveness in school Practicalities/dp/1412981182
leadership: The case of Awi Komariah, A., & Triatna, C. (2020). Visionary
Nationality administrative zone leadership menuju sekolah efektif.
primary schools, Ethiopia. Social Bumi Aksara.
Sciences & Humanities Open. Liu, Y., Bellibaş, M. Ş., & Gümüş, S. (2021).
10(3):101094. DOI: The effect of instructional leadership
10.1016/[Link].2024.101094 and distributed leadership on teacher
Collins, J., Lemieux, C. J., & Rowland, S. self-efficacy and job satisfaction:
(2014). Leadership and gender in Mediating roles of supportive school
educational organizations: Implications culture and teacher collaboration.
for instructional leadership and Educational Management
organizational culture. International Administration & Leadership, 49(3),
Journal of Educational Management, 430–453.
28(6), 686–699. [Link]
[Link] 5704
0028 Massouti, A., Shaya, N., & Qareiny, S. M. A.
Bush, T. (2018). Leadership and management (2024). Female school leaders and
in education. Sage. Distributed instructional leadership in
Eagly, A. H., & Carli, L. L. (2018). Women Emirati schools. International Journal
and the labyrinth of leadership. of Educational Research Open, 7,
Harvard Business Review, 86(9), 62– 100258.
71. DOI:10.1037/e664062007-001 DOI:10.1016/[Link].2024.100372
Gumus, S., Bellibas, M. S., Esen, M., & Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J.
Gumus, E. (2016). A Systematic (2018). Qualitative data analysis: A
Review of Studies on Leadership methods sourcebook (3rd ed.). SAGE
Models in Educational Research from Publications.
1980 to 2014. Educational Northouse, P. G. (2021). Leadership: Theory
Management Administration & and practice (9th ed.). Sage.
Leadership, 46, 25-48. DOI: Shaked, H. (2018). Gender differences in
10.1177/1741143216659296 instructional leadership: how male and
Hallinger, P. (2020). Reviewing reviews of female principals perform their
research in educational leadership: An instructional leadership role. School
empirical assessment. Educational Leadership and Management. 38(2), 1-
Management Administration & 18.
Leadership, 48(1), 6–27. [Link]
DOI:10.1177/0013161X13506594 .1427569
Harris, A. (2013). Distributed Leadership Spillane, J. P. (2021). Distributed leadership
Matters: Perspectives, Practicalities, (2nd ed.). Jossey-Bass.
and Potential. Supovitz, J. A., Sirinides, P., & May, H.
[Link] (2010). How principals and peers

10
Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan
Magister Manajemen Pendidikan e-ISSN 2549-9661
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Volume: 7, No. 2, Juli-Desember 2020
jurnalkelola@[Link] Halaman: 0-0

influence teaching and learning.


Educational Administration Quarterly,
46(1), 31–56.
DOI:10.1177/1094670509353043
Yukl, G. (2020). Leadership in organizations
(9th ed.). Pearson.
Wahlstrom, K. L., & Louis, K. S. (2008). How
teachers experience principal
leadership: The roles of professional
community, trust, efficacy, and shared
responsibility. Educational
Administration Quarterly, 44(4), 458–
495.
[Link]
1502

11

Anda mungkin juga menyukai