Volume: XX No.X. MM, YY; pp.
xx-xx
P-ISSN: 1411-4585 E-ISSN: 2549-6743
DOI: xxxx
Submitted: YY-MM-DD; Rivised: YY-MM-DD; Accepted: YY-MM-DD
[Link]
STUDI LITERATUR REVIEW: GENDER DAN GAYA
KEPEMIMPINAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SERTA
MENCIPTAKAN BUDAYA ORGANISASI PADA LEMBAGA
PENDIDIKAN DASAR
Elya Indah Rahmawati 1, Achmad Supriyanto2, Aan Fardani Ubaidillah3
1
Universitas Negeri Malang, 2Universitas Negeri Malang, 3Universitas Negeri Malang
* e-mail: [Link].2501329@[Link]
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gender dalam gaya kepemimpinan, pengambilan
keputusan, dan penciptaan budaya organisasi pada lembaga pendidikan dasar. Kajian ini
menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) berbasis pedoman PRISMA, dengan
sumber utama artikel terindeks Scopus periode 2015–2025. Dari hasil seleksi bertahap melalui
proses identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan inklusi, diperoleh 432 artikel yang dianalisis
secara tematik. Hasil studi menunjukkan bahwa gender berpengaruh signifikan terhadap gaya
kepemimpinan dan pembentukan budaya organisasi. Pemimpin perempuan cenderung menerapkan
gaya kepemimpinan yang demokratis, kolaboratif, dan empatik, yang berkontribusi terhadap iklim
kerja partisipatif serta peningkatan hasil belajar. Sementara itu, pemimpin laki-laki menunjukkan
kekuatan dalam aspek strategis dan rasionalitas pengambilan keputusan. Meskipun demikian,
hambatan berupa stereotip gender dan keterbatasan akses terhadap pelatihan kepemimpinan masih
menjadi tantangan utama. Penelitian ini menegaskan pentingnya kesetaraan gender dalam
pengembangan kepemimpinan pendidikan, melalui kebijakan pelatihan, mentoring lintas gender,
dan sistem rekrutmen yang adil.
Keywords: Gender, gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, budaya
organisasi, lembaga pendidikan dasar.
How to cite : Elya Indah Rahmawati1,Achmad Supriyanto 2, Aan Fardani Ubaidillah3.
2025. Title [Link]: Jurnal Ilmu
Pendidikan, VV(N): pp. XX-XX,DOI:10.24036/XXXXXXXXXX-X-XX
Licensees may copy, distribute, display and perform the work an make derivative and remixes based on it only if they
give the author or licensor the credits (attributtion) in the manner specified by these. Licensees may copy, distribute,
display, and perform the work and make derivative works and remixes based on it only for non-commercial purposes
INTRODUCTION
INTRODUCTION
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan bangsa. Keberhasilan
suatu lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kurikulum dan sarana prasarana,
tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya, terutama tenaga pendidik
dan kependidikan. Dalam konteks ini, kepemimpinan menjadi faktor penting yang memengaruhi
pengambilan keputusan, suasana kerja, serta pencapaian kinerja di lembaga pendidikan. Pemimpin
yang efektif mampu menggerakkan dan memberdayakan tenaga pendidik serta kependidikan
untuk mencapai tujuan bersama secara optimal.
1
Elya Indah Rahmawati, Achmad Supriyanto , Aan Fardani Ubaidillah 2
Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan dasar memegang peranan sentral dalam
menentukan arah kebijakan sekolah, efektivitas pengambilan keputusan, serta kualitas budaya
organisasi. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa gender dapat menjadi faktor pembeda
dalam gaya kepemimpinan. Haerana, Madjid, dan Munandar (2023) menunjukkan bahwa
kepemimpinan perempuan mampu mendorong pengembangan sekolah dasar secara signifikan,
meskipun fokus penelitian tersebut belum secara mendalam membahas aspek budaya organisasi.
Di sisi lain, Mulawarman, Komariyah, dan Suryaningsi (2021) menemukan bahwa gaya
kepemimpinan perempuan dalam manajemen sekolah lebih demokratis, terbuka, dan kolaboratif,
sehingga mendukung terciptanya iklim organisasi yang partisipatif.
Secara umum, kepemimpinan memiliki peran strategis dalam mengambil keputusan yang
tepat dan membangun budaya organisasi yang sehat. Keputusan-keputusan yang diambil seorang
pemimpin akan menentukan strategi, pola kerja, serta hubungan antaranggota organisasi.
Sementara itu, budaya organisasi yang terbentuk akan memengaruhi motivasi, komitmen, dan
produktivitas kerja tenaga pendidik dan kependidikan. Dengan demikian, keterpaduan antara
pengambilan keputusan dan budaya organisasi yang dibangun melalui gaya kepemimpinan akan
sangat menentukan kinerja lembaga pendidikan.
Hambatan struktural dan stereotip gender masih menjadi kendala yang memengaruhi
efektivitas kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan. Lebih jauh, sejumlah studi
terbaru menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam kepemimpinan pendidikan membawa
implikasi positif terhadap budaya organisasi. Laki dan Badon (2024) melalui kajian sistematik
menyimpulkan bahwa keberadaan pemimpin perempuan berkontribusi pada terciptanya organisasi
sekolah yang lebih inovatif dan inklusif. Perspektif neuro-sosial yang diungkap oleh Lazaridou
(2024) juga memperkuat pemahaman bahwa perbedaan nilai yang dibawa oleh pemimpin laki-laki
dan perempuan berpengaruh pada orientasi kepemimpinan dan penciptaan nilai budaya di sekolah.
Temuan-temuan ini menunjukkan adanya gap penelitian, khususnya di Indonesia, yang
mengaitkan gender dengan gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan budaya organisasi di
lembaga pendidikan dasar.
Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan. Pertama,
sebagian besar studi lebih banyak dilakukan pada konteks bisnis, politik, atau pendidikan
menengah dan tinggi, sementara lembaga pendidikan dasar relatif kurang diperhatikan. Kedua,
penelitian sebelumnya cenderung membahas pengambilan keputusan dan budaya organisasi secara
parsial, belum menghubungkan kedua aspek tersebut secara simultan dengan faktor gender.
Padahal, budaya organisasi di sekolah dasar memiliki karakteristik unik yang erat dengan nilai-
nilai pedagogis, etika, dan keteladanan. Sejumlah studi terbaru bahkan menegaskan bahwa
kesetaraan gender dalam kepemimpinan pendidikan mampu memperkaya proses pengambilan
keputusan dan menciptakan organisasi yang lebih inklusif (Laki & Badon, 2024), sementara
Lazaridou (2024) menambahkan bahwa perbedaan nilai antara pemimpin laki-laki dan perempuan
dapat dijelaskan melalui perspektif neuro-sosial yang turut membentuk budaya organisasi.
Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) untuk
menjawab celah penelitian yang telah diidentifikasi. Melalui SLR, peneliti dapat menghimpun,
menganalisis, dan mensintesis berbagai hasil riset sebelumnya terkait kepemimpinan berbasis
gender, pengambilan keputusan, dan budaya organisasi di lembaga pendidikan dasar. Pendekatan
ini memungkinkan peneliti menemukan pola umum maupun perbedaan signifikan antara
kepemimpinan laki-laki dan perempuan, sekaligus mengungkap keterbatasan penelitian terdahulu
yang masih terfokus pada konteks organisasi bisnis atau pendidikan tinggi. Dengan demikian,
SLR berfungsi tidak hanya sebagai metode untuk merangkum pengetahuan yang ada, tetapi juga
sebagai sarana mengisi gap penelitian dengan menawarkan perspektif baru yang komprehensif
mengenai pengaruh gender terhadap gaya kepemimpinan dalam pengambilan keputusan dan
penciptaan budaya organisasi pada sekolah dasar, khususnya di Indonesia.
Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan
Open Access Journal; [Link]
Vol xx No x (Tahun) 3
DISCUSSIONS
Artikel ini menggunakan Teknik Systematic Literature Review (SLR), Teknik ini
merupakan Teknik sistematis untuk mengumpulkan, menguji secara kristis, menguji secara kritis,
mengintegrasikan dan mengumpulkan hasil bermacam kajian terhadap temuan penelitian tentang
Gender dan Gaya Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan dan Menciptakan Budaya
Organisasi Pada Lembaga Pendidikan Dasar. Proses SLR disusun berdasarkan artikel-artikel dan
Meta-Analisis PRISMA, yang meliputi tahapan identifikasi, penyaringan, kelayakan dan inklusi.
Kemudian pertama adalah indentifikasi, yang melibatkan pencarian artikel melalu data
Scopus sebagai sumber utama. Keywords yang digunakan meliputi, Gender, Gaya
Kepemimpinan, Budaya Organisasi. Pencarian artikel dibatasi pada periode 2015-2025 untuk
memastikan keterbaruan penelitian.
Kedua adalah penyaringan, dengan kriteria inklusi, artikel yang membahas Gender dan
Gaya Kepemimpinan, menggunakan data empiris atau tinjauan teoritis yang relevan, open access
jornal, dan terpublikasi terindeks Scopus. Artikel yang tidak diikutsertakan yakni artikel yang
berupa opini, argument, tajuk rencana atau tidak relevan dengan Gender dan Gaya
Kepemimpinan. Ketiga, merupakan tahap kelayakan, dimana abstrak, metode dan hasil artikel
dikaji untuk memastikan relevansi topik dan kualitas artikel.
Terakhir adalah inklusi, dimana menghasilkan artikel yang sudah tersaring dan memenuhi
penelitian sebanyak 432 artikel yang siap untuk dianalisis menggunakan pendekataan analisis
tematik. Dengan mengelompokkan temuan penelitian kedalam tema utama yakni tentang Gender
dan Gaya Kepemimpinan.
Proses pencarian dan pemilihan artikel diilustrasikan dalam Diagram Alir PRISMA, mulai
dari jumlah artikel yang diidentifikasi, disaring, dievaluasi kelayakannya, hingga memperoleh
artikel yang dianalisis dalam SLR ini.
Diagram 1. Diagram PRISMA
Berikut merupakan hasil dari beberapa artikel yang telah ditetapkan. maka adapun
keterangan hasil penelitiannya sebagai berikut pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil penelitian SLR Gender Dan Gaya Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan
Dan Menciptakan Budaya Organisasi Pada Lembaga Pendidikan Dasar
No Peneliti dan Tahun Jurnal Hasil Penelitian
1 Ayman Massouti, International Journal Hasil penelitian menunjukkan bahwa para
Nessrin Shaya, of Educational pemimpin sekolah perempuan Emirat
Shaimaa Mohamed Research Open telah secara efektif merangkul dan
Abdulla Qareiny menerapkan gaya kepemimpinan
Judul…)
Elya Indah Rahmawati, Achmad Supriyanto , Aan Fardani Ubaidillah 4
(2024) instruksional terdistribusi, sehingga
mengubah iklim sekolah mereka menjadi
organisasi pembelajaran. Pendekatan ini
menumbuhkan lingkungan yang berfokus
pada pembelajaran, yang pada akhirnya
berkontribusi pada hasil belajar siswa
yang positif.
2 Alem Amsalu, Social Sciences & Studi ini menemukan bahwa perempuan
Sintayehu Belay Humanities Open dipersepsikan secara positif sebagai
(2024) pemimpin sekolah yang efektif di seluruh
dimensi utama standar profesional
nasional Etiopia
Temuan ini menunjukkan pentingnya
mendorong lebih banyak perempuan
untuk mengejar peran kepemimpinan di
sekolah dengan mendorong pemimpin
perempuan yang sukses dan
memberikan pelatihan yang terarah
3 Kamila Ludwikowska, Asian Education and Kinerja kerja karyawan tidak hanya
K.A. Zakkariya and Development Studies dipengaruhi langsung oleh kepemimpinan
Nimitha Aboobaker akademik, tetapi terutama lewat perilaku
(2025) ekstra (OCB). Efek ini semakin kuat jika
ada kepemimpinan informal di institusi.
Namun, pengaruh positif kepemimpinan
informal ini tidak terus bertambah tanpa
batas; pada titik tertentu, justru
pengaruhnya mulai menurun.
4 Arry Bainus, Dina World Development Studi ini menyimpulkan
Yulianti, Deasy Silvya Sustainability bahwa koperasi berbasis komunitas yang
Sari, Virtuous Setyaka, dipimpin perempuan dapat menawarkan
Wa Ode Kodrat model tata kelola lingkungan perkotaan
Rahmatika (2025) yang inklusif dan peka konteks.
Pemberdayaan pemimpin perempuan
akar rumput sangat penting untuk
memajukan keberlanjutan dan ketahanan
pangan
di tingkat rumah tangga di negara-negara
berkembang
5 Brian J. Collins, Carla The Leadership Hubungan baik antara atasan dan
J. Burrus, Rustin D. Quarterly bawahan tidak berdampak sama untuk
Meyer (2014) semua orang. Perempuan lebih terikat
ketika hubungan itu mengandung dimensi
emosional (afeksi & loyalitas), sedangkan
laki-laki lebih merespons dimensi
profesional (rasa hormat & kontribusi).
Hal ini membuat gender menjadi faktor
penting dalam memahami bagaimana
kualitas hubungan kerja memengaruhi
kepuasan dan keterikatan karyawan
Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan
Open Access Journal; [Link]
Vol xx No x (Tahun) 5
Kajian literatur menunjukkan bahwa peran gender dalam kepemimpinan pendidikan dasar
semakin mendapat perhatian dalam berbagai penelitian internasional dan nasional. Ayman
Massouti dkk. (2024) menegaskan bahwa kepala sekolah perempuan di Uni Emirat Arab berhasil
menerapkan gaya kepemimpinan instruksional terdistribusi yang berdampak pada terciptanya
organisasi pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini memperlihatkan bahwa
kepemimpinan perempuan tidak hanya efektif dalam aspek administratif, tetapi juga mampu
menginspirasi transformasi budaya belajar di sekolah. Dari hasil tersebut memunculkan
keterbaruan yakni menjadikan kepemimpinan perempuan sebagai katalis utama distributed
instructional leadership yang berorientasi perubahan iklim belajar
Senada dengan itu, Alem Amsalu dan Sintayehu Belay (2024) menemukan bahwa
pemimpin sekolah perempuan di Etiopia dipersepsikan secara positif dalam semua dimensi
profesional kepemimpinan, yang menegaskan pentingnya dukungan terhadap keterwakilan
perempuan dalam posisi strategis pendidikan dasar. Namun, tantangan tetap ada, sebagaimana
dijelaskan oleh Adefitri Amalia dkk. (2025), bahwa stereotip gender, budaya patriarki, serta
keterbatasan akses pelatihan kepemimpinan masih menjadi penghambat partisipasi perempuan
dalam pengambilan keputusan di tingkat pendidikan lokal.
Dalam konteks pengambilan keputusan, penelitian menunjukkan bahwa gaya
kepemimpinan memiliki korelasi kuat dengan efektivitas organisasi. Tantri Widyastuti dkk.
(2012) menegaskan bahwa gender, gaya kepemimpinan, dan budaya organisasi berpengaruh
signifikan terhadap produktivitas sekolah dasar di Kabupaten Sidoarjo. Tidak ditemukan
perbedaan berarti antara kepala sekolah laki-laki dan perempuan, yang berarti efektivitas lebih
ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang digunakan, bukan oleh jenis kelamin.
Lebih lanjut, Ryani Dhyan Parashakti (2015) menjelaskan bahwa perbedaan perilaku
antara laki-laki dan perempuan dalam kepemimpinan sering dipengaruhi oleh sex-role stereotype.
Laki-laki cenderung lebih direktif dan dominan, sementara perempuan lebih akomodatif dan
intuitif. Namun, pendekatan kepemimpinan yang kolaboratif, empatik, dan komunikatif yang
sering diasosiasikan dengan perempuan justru semakin relevan dengan paradigma kepemimpinan
pendidikan modern yang menekankan partisipasi dan humanisme.
Kepemimpinan berperan penting dalam membentuk budaya organisasi di sekolah dasar.
Kamila Ludwikowska dkk. (2025) menunjukkan bahwa perilaku ekstra peran (OCB) karyawan
sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan akademik dan informal. Hal ini menegaskan bahwa
kepala sekolah yang mampu menginspirasi, memberi teladan, dan mendorong kerja sama akan
memperkuat budaya organisasi yang positif.
Sementara itu, Brian J. Collins dkk. (2014) menyoroti bahwa hubungan pemimpin-
bawahan berbeda secara gender: perempuan lebih responsif terhadap hubungan yang emosional
dan berbasis afeksi, sedangkan laki-laki lebih menekankan aspek profesional dan kontribusi.
Dalam konteks sekolah dasar, hal ini penting karena kepemimpinan yang berorientasi pada
hubungan interpersonal (relationship-oriented leadership) dapat memperkuat rasa memiliki,
solidaritas, dan budaya kerja kolaboratif di lingkungan sekolah.
Berdasarkan hasil-hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa efektivitas kepemimpinan
dalam lembaga pendidikan dasar tidak hanya dipengaruhi oleh gender, tetapi oleh kemampuan
pemimpin untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan konteks dan budaya
organisasi sekolah. Kepemimpinan perempuan menunjukkan keunggulan dalam menciptakan
iklim kerja inklusif dan partisipatif, sedangkan kepemimpinan laki-laki menunjukkan keunggulan
dalam aspek strategis dan pengambilan keputusan rasional. Sinergi kedua pendekatan tersebut
diperlukan untuk menciptakan budaya organisasi yang sehat, adaptif, dan berorientasi pada
pembelajaran.
Lebih jauh, pendidikan dasar sebagai fondasi pembentukan karakter memerlukan model
kepemimpinan yang sensitif terhadap perbedaan gender dan mendorong partisipasi setara. Dengan
demikian, kebijakan pengembangan kepemimpinan di sekolah perlu berfokus pada pelatihan
berbasis kesetaraan gender, mentoring lintas gender, dan penanaman nilai-nilai kolaboratif dalam
pengambilan keputusan.
Judul…)
Elya Indah Rahmawati, Achmad Supriyanto , Aan Fardani Ubaidillah 6
CONCLUSION
Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa gender memiliki peran signifikan dalam
membentuk gaya kepemimpinan, pola pengambilan keputusan, dan budaya organisasi di lembaga
pendidikan dasar. Kepemimpinan perempuan terbukti efektif dalam membangun iklim sekolah
yang kolaboratif, partisipatif, dan berorientasi pada pembelajaran, sedangkan kepemimpinan laki-
laki menunjukkan kekuatan pada aspek strategis dan pengambilan keputusan yang rasional.
Perbedaan ini bukanlah bentuk dikotomi, melainkan potensi sinergis yang jika dikelola dengan
baik dapat menciptakan budaya organisasi yang sehat, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan.
Tantangan utama masih terletak pada bias gender, stereotip sosial, serta keterbatasan akses
pelatihan kepemimpinan bagi perempuan. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan perlu
menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan
sekolah melalui program pelatihan, mentoring lintas gender, dan sistem rekrutmen yang adil.
Dengan pendekatan ini, lembaga pendidikan dasar dapat melahirkan pemimpin yang tidak hanya
kompeten secara profesional, tetapi juga berkeadilan gender dan berorientasi pada penguatan
budaya organisasi yang mendukung mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Berdasarkan sintesis lima temuan penelitian, Model yang dikembangkan menunjukkan
bahwa kepemimpinan perempuan memiliki pola pengaruh yang khas dan konsisten pada berbagai
konteks organisasi. Temuan Massouti et al. (2024) memperlihatkan bahwa pemimpin perempuan
cenderung mengadopsi gaya kepemimpinan instruksional terdistribusi yang mendorong budaya
kolaborasi dan pembelajaran. Di sisi lain, hasil penelitian Amsalu dan Belay (2024) menegaskan
bahwa perempuan dipersepsikan lebih efektif dalam memenuhi standar kompetensi profesional,
sehingga persepsi positif ini menjadi modal legitimasi kepemimpinan. Penelitian Ludwikowska et
al. (2025) juga menunjukkan bahwa efek kepemimpinan perempuan tidak terjadi secara langsung,
namun dimediasi oleh perilaku ekstra-role (OCB) yang memperkuat kinerja organisasi. Selain itu,
penelitian Bainus et al. (2025) menambahkan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki dimensi
sensitivitas kontekstual yang kuat, terutama dalam tata kelola inklusif dan keberlanjutan sosial.
Sementara itu, Collins et al. (2014) mengungkapkan bahwa kualitas hubungan afektif antara
pemimpin perempuan dan bawahan dapat meningkatkan loyalitas dan komitmen kerja. Integrasi
dari lima temuan ini kemudian menghasilkan suatu model kepemimpinan berbasis gender yang
menekankan kekuatan relasional, distribusi instruksional, persepsi efektivitas, tata kelola inklusif,
serta penguatan perilaku ekstra sebagai jalur utama terbentuknya budaya organisasi positif dan
meningkatnya kinerja.
REFERENCES
Amsalu, A., & Belay, S. (2024). Women’s effectiveness in school leadership: The case of Awi
Nationality administrative zone primary schools, Ethiopia. Social Sciences & Humanities
Open, 10, 101094. [Link]
Amalia Fitri, A., dkk. (2025). Kepemimpinan gender dalam pengambilan keputusan pemerintahan
di Kota Bau Bau. Jurnal Cendeka Ilmiah, 4(3), 1551–1557.
[Link]
Ayman, M., Nessrin, S., & Shaimaa Mohamed, A. Q. (2024). Exploring the nexus between female
school leaders’ perceptions of distributed instructional leadership, socio-cultural dynamics,
and student achievement in the Arab world. International Journal of Educational
Research Open, 7, 100372. [Link]
Bainus, A., Yulianti, D., Silvya, D. S., & Setyaka, W. O. (2025). Women’s leadership in
cooperative and social movement in the issue of food waste: Evidence from Bandung City.
World Development Sustainability, 6, 100219. [Link]
Collins, B. J., Burrus, C. J., & Meyer, R. D. (2014). Gender differences in the impact of leadership
styles on subordinate embeddedness and job satisfaction. The Leadership Quarterly, 25,
660–671. [Link]
Haddaway, N. R., Page, M. J., Pritchard, C. C., & McGuinness, L. A. (2022). PRISMA2020: An
Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan
Open Access Journal; [Link]
Vol xx No x (Tahun) 7
R package and Shiny app for producing PRISMA 2020-compliant flow diagrams, with
interactivity for optimised digital transparency and open synthesis. Campbell Systematic
Reviews, 18, e1230. [Link]
Haerana, N., Madjid, M. I., & Munanar, I. (2023). Pengaruh kepemimpinan perempuan terhadap
pengembangan sekolah dasar. Jurnal Penelitian dan PKM Bidang Ilmu Pendidikan, 4(3),
151–155. [Link]
Laki, R. C., & Badon, B. O. (2024). A systematic review on the impact of gender equity on
educational leadership. European Journal of Science, Innovation and Technology, 4(3),
58–67.* [Link]
Lazaridou, A. (2024). Gender differences in educational leadership and values: Adding insights
from a neuro-social perspective. European Journal of Education and Pedagogy, 5(5), 54–
61.* [Link]
Ludwikowska, K., Zakkariya, K. A., & Aboobaker, N. (2025). Academic leadership and job
performance: The effects of organizational citizenship behavior and informal institutional
leadership. Asian Education and Development Studies, 14(1), 115–131.*
[Link]
Mulawarman, W. G., Komariyah, L., & Suryaningsi. (2021). Women and leadership style in
school management: Study of gender perspective. Cypriot Journal of Educational
Sciences, 16(2), 594–611.* [Link]
Newstead, T., Eager, B., & Wilson, S. (2023). How AI can perpetuate – or help mitigate – gender
bias in leadership. Organizational Dynamics, 52(4), 100998.*
[Link]
Parashakti, D. R. (2015). Perbedaan gaya kepemimpinan dalam perspektif maskulin dan feminin.
Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis, 1(1), 92–101.
[Link]
Rusman, R., & Indra. (2016). Pengaruh gender dalam memoderasi gaya kepemimpinan terhadap
kinerja. The Asia Pacific Journal of Management Studies, 2(1), 75–96.
([Link]
Judul…)