e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN BENCANA DENGAN
KESIAPAN MANAJEMEN BENCANA PADA
PERAWAT PSC 119 GIANYAR
I Made Dwie Pradnya Susila
Dosen STIKes Bina Usada Bali
Korespodensi penulis:dwiepradnya@[Link]
Abstrak
Latar belakang dan tujuan: Perawat yang bekerja di Public Safety Center (PSC) 119 perlu
memiliki pengetahuan dan kesiapan manajemen bencana. Pengetahuan adalah faktor utama dan
merupakan kunci kesiapsiagaan. Kesiapan adalah salah satu bagian dari proses manajemen bencana
dan dalam konsep bencana yang berkembang sekarang, pentingnya kesiapsiagaan adalah salah satu
elemen penting dari kegiatan pencegahan yang proaktif dalam pengurangan risiko bencana,
sebelum terjadinya bencana. . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
tingkat pengetahuan bencana dan perawat kesiapan penanggulangan bencana di Gianyar PSC 119.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional, dengan jumlah sampel 39
orang. Teknik pengambilan sampel dengan non probability sampling, yaitu total sampling.
Instrumen untuk mengumpulkan data menggunakan kuesioner pengetahuan tentang bencana dan
kesiapan manajemen bencana. Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rho.
Hasil: Tingkat pengetahuan tentang bencana pada perawat sebagian besar dikategorikan cukup,
yaitu sebanyak 20 responden (51,3%). Kesiapan penanggulangan bencana pada perawat sebagian
besar dikategorikan sedang, yaitu sebanyak 20 responden (51,3%). Hasil uji Spearman Rho
diperoleh nilai p = 0,001 dan nilai r = 0,528
Simpulan: ada hubungan antara tingkat pengetahuan bencana dan kesiapan manajemen
penanggulangan bencana di Gianyar PSC 119, dengan kekuatan korelasi sedang.
Dianjurkan untuk perawat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan manajemen bencana.
Kata kunci: Bencana, Kesiapan, Pengetahuan
1. Pendahuluan Korban bencana di daerah pengungsian
Indonesia merupakan salah satu negara akan menuntut peran serta perawat dalam
dengan potensi bencana yang besar. Indonesia manajemen penanggulangan bencana. Peran
menduduki peringkat 5 besar di Asia untuk perawat pada penanggulangan bencana bisa
kejadian bencana. Kejadian yang tidak dapat dikatakan multiple, perawat sebagai bagian
dihindari di berbagai wilayah di Indonesia dari penyusun, pendidik, pemberi asuhan
seperti kejadian banjir, tanah longsor dan keperawatan, dan bagian dari tim pengkajian
gunung meletus. Kondisi Gunung Agung juga kejadian bencana (Chan, 2010). Perawat harus
menjadi salah satu potret potensi letusan memiliki kompetensi-kompetensi tertentu
gunung berapi di Indonesia (Thoyyibah, dalam menghadapi bencana gempa bumi dan
2018). Jumlah korban akibat kondisi Gunung tsunami seperti yang telah ditetapkan oleh
Agung yang terus meningkat dan bertambah World Health Organization (WHO) dan
diakibatkan dengan status Gunung Agung saat International Council of Nurses (ICN).
ini, dimana status Gunung Agung di Kompetensi ini mencerminkan peran khusus
Karangasem Bali yang meningkat dari Siaga dan kegiatan perawat dalam menghadapi
menjadi Awas membuat warga di radius 10 bencana meliputi tahap pra bencana, saat
km harus mengungsi (Erdianto, 2017). terjadi bencana dan pasca bencana (WHO,
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 40
e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
2009). Perawat yang bekerja di Public Safety itu masih kurangnya pelatihan dari pihak dinas
Center (PSC) 119 perlu memilki pengetahuan kesehatan.
dan kesiapan manajemen bencana. PSC 119 2. Metode Penelitian
merupakan layanan cepat tanggap darurat Rancangan yang digunakan pada
kesehatan (Kemenkes RI., 2016). penelitian ini adalah penelitian korelasi.
Pengetahuan tentang bencana yang harus Pendekatan yang digunakan adalah dengan
dimiliki oleh seorang perawat meliputi: tahap pendekatan cross [Link] pada
pra bencana, tahap saat terjadi bencana, dan penelitian ini adalah perawat yang bertugas di
tahap pasca bencana. Hasil penelitian yang PSC 119 Kabupaten Gianyar. Teknik sampling
dilakukan oleh Saltira (2017), mengungkapkan yang digunakan pada penelitian ini dilakukan
bahwa pengetahuan perawat Puskesmas dengan cara non probability sampling yaitu
tentang tahap saat terjadinya bencana total sampling, yaitu sebanyak 39 orang.
didapatkan sebanyak 24 orang (30%) yang
dikategorikan baik, sebanyak 47 orang 3. Hasil dan Pembahasan
(58,8%) yang dikategorikan cukup dan Berdasarkan tabel 1 menunjukkan
sebanyak 9 orang (11,3%) yang dikategorikan karakteristik responden berdasarkan umur,
kurang. Pengetahuan yang dimiliki oleh rata-rata berusia 34 tahun. Berdasarkan tabel 2
perawat akan mempengaruhi kesiapan menunjukkan karakteristik responden
manajemen perawat dalam penanggulangan berdasarkan jenis kelamin, responden paling
bencana. banyak perempuan yaitu berjumlah 22
Manajemen bencana merupakan seluruh responden (56,4%). Berdasarkan tabel 3
kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan menunjukkan karakteristik responden
penanggulangan bencana, pada sebelum, saat, berdasarkan tingkat pendidikan, responden
dan sesudah terjadi bencana yang dikenal yang paling banyak yaitu DIII Keperawatan
sebagai siklus manajemen bencana. berjumlah 27 orang (69,2%). Berdasarkan
Penanganan bencana pada dasarnya ditujukan tabel 4 menunjukkan karakteristik responden
sebagai upaya untuk meredam dampaknya dan berdasarkan lama kerja, rata-rata dengan lama
memperkecil korban jiwa, kerusakan dan 7 tahun. Berdasarkan tabel 5 menunjukkan
kerugian yang diakibatkan oleh bencana karakteristik responden berdasarkan pelatihan
(Sudrajat, 2016). Hasil penelitian yang kebencanaan yang diikuti, yaitu sebanyak 31
dilakukan oleh Azizah (2014), orang (79,5%) yang tidak pernah ikut
mengungkapkan bahwa perawat kurang pelatihan. Berdasarkan tabel 6 menunjukkan
optimal dalam proses penilaian cepat karakteristik responden berdasarkan seminar
kesehatan dalam bencana baik dilihat dari segi kebencanaan yang diikutan, yaitu sebanyak 26
persiapan perawat, kerjasama tim maupun orang (66,7%) yang pernah mengikuti
pada saat pengumpulan data serta kurangnya seminar. Berdasarkan tabel 7 menunjukkan
koordinasi baik lintas program, sektor maupun karakteristik responden berdasarkan
wilayah. pengalaman menghadapi kebencanaan, yaitu
Berdasarkan studi pendahuluan yang sebanyak 30 orang (76,9%).
peneliti lakukan pada tanggal 20 Mei 2018, Berdasarkan tabel 8 menunjukkan tingkat
dimana peneliti mewawancarai 10 orang pengetahuan tentang bencana pada perawat
perawat yang bekerja di PSC 119 Gianyar, PSC 119 Gianyar yang paling banyak yaitu
dari hasil wawancara tersebut peneliti cukup berjumlah 20 orang (51,3%).
mendapatkan data sebanyak 8 orang dari 10 Berdasarkan tabel 9 menunjukkan bahwa
orang yang diwawancarai tingkat pengetahuan kesiapan manajemen bencana pada perawat
bencana masih kurang, serta dari 8 orang PSC 119 Gianyar yang paling banyak yaitu
tersebut, terdapat 5 orang diantaranya belum sedang berjumlah 20 orang (51,3%).
siap dalam menghadapi bencana, disamping
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 41
e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur di PSC 119 Gianyar
Minimum Rata-rata (mean) Maximum
25,00 34,41 44,00
Sumber data primer (2018)
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin di PSC 119 Gianyar
Persentase
Jenis Kelamin Frekuensi
(%)
Laki-laki 17 43,6
Perempuan 22 56,4
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di PSC 119 Gianyar
Persentase
Pendidikan Frekuensi
(%)
SPK 2 5,1
DIII Kep. 27 69,2
S1 Kep. + Ners 10 25,6
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Lama Kerja di PSC 119 Gianyar
Minimum Rata-rata (mean) Maximum
1,00 7,48 14,00
Sumber data primer (2018)
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pelatihan Kebencanaan di PSC 119 Gianyar
Pelatihan Frekuensi Persentase (%)
Tidak pernah 31 79,5
Pernah 8 20,5
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Seminar Kebencanaan di PSC 119 Gianyar
Seminar Kebencanaan Frekuensi Persentase (%)
Tidak pernah 13 33,3
Pernah 26 66,7
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pengalaman Menghadapi Kebencanaan di PSC 119
Gianyar
Pengalaman Menghadapi
Frekuensi Persentase (%)
Kebencanaan
Tidak pernah 9 23,1
Pernah 30 76,9
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 42
e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
Tabel 8. Tingkat Pengetahuan tentang Bencana pada Perawat PSC 119 Gianyar
Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
Kurang 11 28,2
Cukup 20 51,3
Baik 8 20,5
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Tabel 9. Kesiapan Manajemen Bencana pada Perawat PSC 119 Gianyar
No Kesiapan Bencana Frekuensi Persentase (%)
1. Rendah 10 25,6
2. Sedang 20 51,3
3. Tinggi 9 23,1
Total 39 100,0
Sumber data primer (2018)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sebanyak 19 responden ikut 2 kali dan
39 responden, karakteristik responden sebanyak 9 responden ikut 3 kali.
berdasarkan umur dengan umur terendah 25 Perawat puskesmas harus memiliki
tahun, tertua dengan umur 44 tahun dan rata- kompetensi-kompetensi tertentu dalam
rata berumur 34 tahun. Berdasarkan jenis menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami
kelamin, responden laki-laki sebanyak 17 seperti yang telah ditetapkan oleh World
responden (43,6%) dan perempuan sebanyak Health Organization (WHO) dan International
22 responden (56,4%). Berdasarkan tingkat Council of Nurses (ICN). Kompetensi ini
pendidikan, pendidikan SPK sebanyak 2 mencerminkan peran khusus dan kegiatan
responden (5,1%), DIII Keperawatan sebanyak perawat dalam menghadapi bencana meliputi
27 responden (69,2%) dan S1 Keperawatan tahap pra bencana, saat terjadi bencana dan
sebanyak 10 responden (25,6%). Berdasarkan pasca bencana (WHO dan ICN, 2009).
lama kerja didapatkan waktu paling sedikit Hasil penelitian yang didapatkan sejalan
(minimum) adalah 1 tahun, rata-rata dengan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
lama 7 tahun dan paling lama (maximum) Saltira (2017) mengungkapkan bahwa dari 80
adalah 14 tahun. Berdasarkan pelatihan responden responden perawat, paling banyak
kebencanaan didapatkan sebanyak 31 berusia 36-45 tahun (dewasa akhir), yaitu
responden (79,5%) yang tidak pernah sebanyak 42 responden (52,5%), jenis kelamin
mengikuti pelatihan dan sebanyak 8 responden yang paling banyak adalah perempuan dengan
(20,5%) yang pernah mengikuti pelatihan, jumlah 66 responden (82,5%), tingkat
yaitu SGPDT. Berdasarkan seminar pendidikan yang paling banyak adalah DIII
kebencanaan yang pernah diikuti, didapatkan Keperawatan dengan jumlah 46 responden
sebanyak 13 responden (33,3%) yang tidak (57,5%), pelatihan terkait penanggulangan
pernah ikut seminar dan sebanyak 26 bencana paling banyak adalah tidak pernah
responden (66,7%) yang pernah ikut seminar dengan jumlah 56 responden (70%). Hasil
dan dari 26 responden tersebut sebanyak 2 penelitian didukung oleh penelitian Novitari
responden ikut 1 kali, sebanyak 18 responden (2017) mengungkapkan bahwa karakteristik
ikut 2 kali dan sebanyak 6 responden ikut 3 responden yang bekerja di PSC Kota
kali. Berdasarkan pengalaman menghadapi Semarang, bahwa dari 50 responden banyak
bencana didapatkan sebanyak 9 responden berusia 36-45 tahun yaitu sebanyak 29
(23,1%) yang tidak pernah dan sebanyak 30 responden (58%), jenis kelamin paling banyak
responden (76,9%) yang pernah menghadapi perempuan yaitu sebanyak 27 responden
kebencanaan, dan dari 30 responden tersebut (54%), lama bekerja paling banyak 5-7 tahun
sebanyak 2 responden sebanyak 1 kali, yaitu sebanyak 30 responden (60%) dan
responden yang pernah mengikuti seminar
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 43
e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
kegawatdaruratan sebanyak 32 responden responden yang berbeda dan didukung juga
(64%). Hal ini sejalan juga dengan penelitian oleh data dimana responden sebesar 79,5%
yang dilakukan Hasanuddin (2015) yang tidak pernah mendapatkan pelatihan
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kebencanaan dan sekitar 66,7% yang pernah
bermakna (ρ < 0,05) antara faktor resiko mengikuti seminar kebencanaan.
(pelatihan terkait penanggulangan bencana)
dengan tingkat pengetahuan perawat Kesiapan manajemen bencana pada
puskesmas tentang kegawatdaruratan perawat
menghadapi bencana gempa bumi dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tsunami. kesiapan bencana pada perawat dari 39
responden, sebanyak 10 responden (25,6%)
Tingkat pengetahuan tentang bencana pada dengan kesiapan manajemen bencana rendah,
perawat sebanyak 20 responden (51,3%) dengan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan manajemen bencana sedang dan
tingkat pengetahuan tentang bencana pada sebanyak 9 responden (23,1%) dengan
perawat dari 39 responden, sebanyak 11 kesiapan manajmen tinggi. Hal ini
responden (28,2%) dengan tingkat menunjukkan bahwa sebagian besar kesiapan
pengetahuan kurang, sebanyak 20 responden manajemen bencana pada perawat
(51,3%) dengan tingkat pengetahuan cukup dikategorikan sedang.
dan sebanyak 8 responden (20,5%) dengan Kesiapan bencana pada individu dapat
tingkat pengetahuan baik. diukur dari tiga parameter, yaitu pengetahuan,
Pengetahuan lebih banyak untuk perencanaan emergensi individu, dan kapasitas
mengukur pengetahuan dasar mengenai akan sumber mobilisasi. Pengetahuan terkait
bencana alam seperti ciri-ciri, gejala, dan definisi, teknik penyelamatan diri, sarana
penyebabnya. Perencanaan kedaruratan lebih penyelematan jiwa, dan sumber informasi
ingin mengetahui mengenai tindakan apa yang terkait risiko bencana adalah kunci penting
telah dipersiapkan menghadapi bencana alam. yang membentuk kesiapan bencana.
Sistem peringatan adalah usaha apa yang Perencanaan emergensi individu meliputi:
terdapat di pemerintahan atau masyarakat persiapan keadaan emergensi, menerapkan
dalam mencegah terjadinya korban akibat tindakan untuk menyelamatkan diri sendiri
bencana dengan cara tanda-tanda peringatan dan orang lain saat bencana, menyiapkan
yang ada. Sedangkan mobilisasi sumber daya peralatan darurat, dan memiliki keterampilan
lebih kepada potensi dan peningkatan sumber keamanan. Persiapan akan sumber mobilisasi
daya di pemerintahan atau masyarakat seperti meliputi persiapan diri terhadap periode
keterampilan-keterampilan yang diikuti, dana rehabilitasi dan persiapan untuk mencari
dan lainnya. bantuan dari orang lain selama bencana
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (Pangesti, 2012).
sebagian besar tingkat pengetahuan perawat Hasil penelitian yang menunjukkan
tentang bencana dikategorikan cukup, berbeda bahwa sebagian besar kesiapan manajemen
dengan hasil penelitian dilakukan oleh Radhi bencana pada perawat dikategorikan sedang,
(2015) tentang pengetahuan perawat tentang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
bencana, dimana dari 249 responden, Erlia (2017) tentang kesiapan masyarakat dan
sebanyak 101 responden (40,6%) dengan pemerintah menghadapi bencana, dimana dari
tingkat pengetahuan baik, dan juga oleh 317 responden, sebanyak 8 responden dengan
penelitian Saltira (2017) tentang pengetahuan tingkat kesiapan tinggi, sebanyak 291
perawat puskesmas tentang penanggulangan responden dengan tingkat kesiapan sedang dan
bencana, dimana dari 80 responden, sebanyak sebanyak 18 responden dengan tingkat
52 responden (65%) dengan tingkat kesiapan rendah. Berbeda dengan penelitian
pengetahuan baik. Berbeda hasil penelitian yang dilakukan oleh penelitian Randhi (2015)
didapatkan oleh peneliti karena karakteristik tentang kesiapan perawat tentang bencana,
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 44
e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
dimana dari 249 responden, sebanyak 135 bencana dengan kesiapan manajemen bencana
responden (54,2%) dengan tingkat kesiapan pada perawat, sesuai dengan penelitian yang
tinggi dan sebanyak 114 responden (45,8%) dilakukan oleh Sepriani (2017)
dengan tingkat kesiapan sedang dan penelitian mengungkapkan bahwa ada hubungan antara
oleh Syafrizal (2010) tentang tingkat kesiapan pengetahuan perawat dengan keinginan
masyarakat terhadap bencana, didapatkan bekerja dalam situasi bencana (p=0,001),
bahwa tingkat kesiapan dengan kategori tinggi
sebanyak 72% dan tingkat kesiapan rendah 4. Simpulan
sebanyak 8%. Tingkat pegetahuan tentang bencana pada
perawat sebagian besar dikategorikan cukup,
Hubungan tingkat pengetahuan bencana yaitu sebanyak 20 responden (51,3%).
dengan kesiapan manajemen bencana Kesiapan manajemen bencana pada perawat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dikategorikan sedang yaitu
hubungan tingkat pengetahuan bencana sebanyak 20 responden (51,3%). Hasil analisis
dengan kesiapan manajemen bencana pada hubungan tingkat pengetahuan bencana
perawat PSC 119 Gianyar melalui uji dengan kesiapan manajemen bencana dengan
Spearman Rho, didapatkan p=0,001 (p value < menggunakan uji Spearman Rho, didapatkan
0,05) dengan kekuatan korelasi (nilai p=0,001 (p value < 0,05) dengan kekuatan
r)=0,528, yang berarti Ho ditolak dan Ha korelasi (nilai r)=0,528, yang berarti Ho
diterima dan disimpulkan bahwa ada ditolak dan Ha diterima dan disimpulkan
hubungan tingkat pengetahuan bencana bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan
dengan kesiapan manajemen bencana pada bencana dengan kesiapan manajemen bencana
perawat PSC 119 Gianyar, dengan kekuatan pada perawat PSC 119 Gianyar, dengan
korelasi sedang. kekuatan korelasi sedang.
Pengetahuan merupakan faktor utama dan
menjadi kunci untuk kesiapsiagaan. 5. Referensi
Pengetahuan yang dimiliki biasanya dapat Azizah, Y.N. (2014). Pengalaman Perawat
mempengaruhi sikap dan kepedulian untuk dalam Melakukan Penilaian Cepat
siap siaga dalam mengantisipasi bencana. Kesehatan Kejadian Bencana pada
Kesiapsiagaan merupakan salah satu bagian Tanggap Darurat Bencana Erupsi.
dari proses manajemen bencana dan didalam Jurnla Ilmu Keperawatan. Vol: 3, No.
konsep bencana yang berkembang saat ini, 2, Novermber 2015.
pentingnya kesiapsiagaan merupakan salah Chan, W. (2010). Development and
satu elemen penting dari kegiatan pencegahan Evaluation of an Undergraduate
pengurangan risiko bencana yang bersifat pro- Training Course for Developing
aktif, sebelum terjadinya suatu bencana International Council of Nurses
(Firmansyah, 2014). Pengetahuan tentang Disaster Nursing Competencies.
bencana yang harus dimiliki oleh seorang Journal of Nursing Scholarship. Vol.
perawat meliputi: tahap pra bencana, tahap 42, hal. 405-413.
saat terjadi bencana, dan tahap pasca bencana. Depkes, RI., (2010). Pedoman
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Azizah Penyelenggaraan Upaya Keperawatan
(2014) mengungkapkan bahwa perawat kurang Kesehatan Masyarakat di Puskesmas.
optimal dalam proses penilaian cepat [Link]
kesehatan dalam bencana baik dilihat dari segi Erdianto, K. (2017). Gunung Agung Meletus
persiapan perawat, kerjasama tim maupun Pengungsi Mencapai 43358 Jiwa.
pada saat pengumpulan data serta kurangnya [Link]
koordinasi baik lintas program, sektor maupun Erlia, D. (2017). Analisis Kesiapsiagaan
wilayah. Masyarakat dan Pemerintah
Hasil penelitian yang menunjukkan Menghadapi Bencana Banjir di
bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan Kecamatan Martapura Barat
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 45
e-ISSN : 2614-5685
p-ISSN : 2614-5421
Kabupaten Banjar. Jurnal Pendidikan dalam Situasi Bencana di IGD RSUP
Geografi. Volume 4. No. 3 Mei 2017. DR. [Link] Padang. Fakultas
Farhi, Z. (2012). Tingkat Kerentanan dan Keperawatan: Universitas Andalas.
Indeks Kesiapsiagaan Masyarakat Syafrizal. (2010). Tingkat Pengetahuan,
Terhadap Bencana Tanah Longsor di Kesiapan dan Partisipasi Masyarakat
Kecamatan Bantakawung Kabupaten dalam Pembangunan Jalur Evakuasi
Brebes. Majalah Geografi Indonesia. Tsunami.
Firmansyah, I. (2014). Hubungan Thoyyibah, D. (2018). Kaleidoskop Kejadian
Pengetahuan dengan Perilaku Bencana di Indonesia Tahun 2017.
Kesiapsiagaan dalam Menghadapi [Link]
Bencana Banjir dan Longsor pada World Health Organization. (2009). ICN
Remaja Usia 15-18 tahun di SMA Al- Framework of Disaster Nursing
Hasan Kemiri Kecamatan Panti Competencies.
Kabupaten Jember. Artikel Ilmiah [Link]
Hasil Penelitian Mahasiswa. Jember:
Universitas Jember.
Kemenkes, RI., (2016). Keperawatan
Kegawatdaruratan & Manajemen
Bencana. Jakarta: Pusat Pendidikan
Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Noviatria, W. (2017). Analisis Kesiapan
Pelaksanaan Program Ambulance
dalam rangka Dukungan terhadap
Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu di Kota Semarang.
Jurnal Kesehatan Masyarakat. Volume
5, Nomor 4, Oktober 2017.
Pangesti, A.D.H. (2012). Gambaran Tingkat
Pengetahuan dan Aplikasi Kesiapan
Bencana Pada Mahasiswa Fakultas
Ilmu Keperawatan, Universitas
Indonesia. Depok. UI.
Radhi, S. F. (2015). Hubungan Tingkat
Pengetahuan dan Sikap Perawat
Dengan Kesiapsiagaan Menghadapi
Bencana Wabah Penyakit Malaria di
Kabupaten Aceh Besar. Jurnal
Kedokteran Syiah Kuala. Volume 15
Nomor 3 Desember 2015.
Saltira, W. (2017). Pengetahuan Perawat
Puskesmas Tentang Penanggulangan
Bencana Gempa Bumi dan Tsunami.
Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.
Sepriani, M. (2017). Hubungan Pengetahuan,
Keterampilan dan Kesiapan Perawaty
dengan Keinginan Untuk Bekerja
Jurnal Medika Usada | Volume 2 | Nomor 2 | Agustus 2019 46