Problem Solving dalam Manajemen Dakwah
Problem Solving dalam Manajemen Dakwah
1
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
Pendahuluan
Sekolah, khususnya MTsN 2 Madina, merupakan lingkungan sosial utama bagi peserta
didik untuk belajar berinteraksi, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial dengan
individu lain yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda. Dalam konteks pendidikan
Islam, sekolah juga berfungsi sebagai tempat pembinaan akhlak dan implementasi dakwah
bil-hal, sehingga pengelolaan interaksi sosial menjadi bagian penting dari manajemen dakwah
di sekolah (Santrock, 2019).
Dalam proses interaksi sehari-hari, konflik sosial menjadi fenomena yang tidak
terhindarkan, terutama pada siswa tingkat SMP atau MTsN yang berada pada fase
perkembangan remaja awal. Pada tahap ini, siswa mengalami peningkatan sensitivitas emosi
dan kebutuhan untuk diakui, sehingga potensi terjadinya konflik antarindividu semakin tinggi.
Penanganan konflik yang efektif membutuhkan strategi tertentu agar tetap selaras dengan
tujuan pembinaan sosial dan dakwah (Desmita, 2019)
Konflik sosial di sekolah dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti perbedaan
pendapat, kesalahpahaman komunikasi, persaingan akademik, atau konflik emosional antar
teman sebaya. Jika tidak dikelola secara tepat, konflik ini berpotensi menimbulkan dampak
negatif, termasuk menurunnya kenyamanan belajar, terganggunya hubungan sosial, dan
perilaku agresif. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi problem solving sebagai bagian dari
manajemen dakwah untuk mengelola konflik secara konstruktif (Slameto, 2020).
Kemampuan problem solving merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki
siswa dalam menghadapi konflik sosial. Problem solving dipahami sebagai proses berpikir
sistematis untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab, serta menentukan solusi
yang tepat, adil, dan bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan Islam, kemampuan ini
juga berkaitan dengan pengembangan akhlak, kesadaran sosial, dan pengambilan keputusan
yang sesuai dengan nilai dakwah (Goleman, 2017).
Pada jenjang MTsN, kemampuan problem solving sosial sangat relevan karena siswa
berada dalam fase pencarian jati diri dan intensitas interaksi sosial yang tinggi. Siswa belum
sepenuhnya mampu mengelola emosi atau mengambil keputusan sosial secara matang. Oleh
karena itu, pengembangan strategi problem solving sebagai bagian dari manajemen dakwah di
sekolah sangat penting untuk membantu siswa menyelesaikan konflik sosial tanpa
menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun lingkungan (Hurlock, 2016).
Persepsi siswa terhadap problem solving memengaruhi cara mereka menyikapi konflik.
Persepsi yang positif akan mendorong siswa untuk mencari solusi aktif, sedangkan persepsi
negatif dapat menyebabkan penghindaran konflik atau penyelesaian yang kurang tepat.
Persepsi ini terbentuk melalui pengalaman, interaksi sosial, serta bimbingan guru dan orang
tua, sehingga menjadi bagian dari strategi manajemen dakwah dalam pembinaan sosial siswa
(Santrock, 2019).
Persepsi siswa tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran
formal, pengalaman sosial, dan pengaruh lingkungan sekolah. Interaksi dengan teman sebaya,
guru, dan aturan sekolah membentuk cara pandang siswa dalam menyelesaikan konflik. Siswa
yang memiliki pengalaman positif dalam menyelesaikan konflik cenderung lebih percaya diri
dan efektif dalam menggunakan strategi problem solving sosial (Mulyasa, 2020).
Strategi problem solving yang diterapkan siswa beragam, mulai dari komunikasi
langsung, musyawarah, kompromi, hingga meminta bantuan pihak lain seperti guru.
Perbedaan strategi ini dipengaruhi oleh karakter individu, pengalaman sosial, dan lingkungan
2
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif
kualitatif, karena tujuan penelitian difokuskan pada upaya memahami secara mendalam
persepsi dan pengalaman subjek penelitian terkait problem solving dalam menghadapi konflik
sosial di lingkungan sekolah. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti
menggali makna, sudut pandang, serta interpretasi subjek secara alami tanpa melakukan
manipulasi variabel. Penelitian kualitatif menempatkan peneliti sebagai instrumen utama yang
berinteraksi langsung dengan konteks sosial yang diteliti (Sugiyono, 2023).
Desain deskriptif kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran menyeluruh
mengenai fenomena problem solving sosial sebagaimana dialami dan dipersepsikan oleh
subjek penelitian. Desain ini tidak bertujuan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk
memaparkan realitas sosial secara mendalam dan kontekstual. Melalui pendekatan ini, data
yang diperoleh diharapkan mampu menggambarkan pola perilaku, cara berpikir, serta strategi
penyelesaian konflik yang digunakan oleh subjek penelitian dalam situasi nyata (Moleong,
2021).
Subjek penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek
secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini
dipandang tepat dalam penelitian kualitatif karena tidak menekankan jumlah sampel,
melainkan kedalaman informasi yang diperoleh. Subjek dipilih karena dianggap mampu
memberikan informasi yang kaya dan sesuai dengan fokus kajian mengenai problem solving
dalam konflik sosial di lingkungan sekolah (Creswell & Poth, 2018).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menggali persepsi, pengalaman,
dan pandangan subjek terkait cara mereka memahami serta menyelesaikan konflik sosial.
Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung perilaku sosial subjek dalam konteks
3
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
alami, sedangkan dokumentasi berfungsi sebagai data pendukung yang memperkuat hasil
wawancara dan observasi (Herdiansyah, 2020).
Instrumen penelitian dalam pendekatan kualitatif adalah peneliti itu sendiri, yang
dibantu dengan pedoman wawancara dan lembar observasi. Pedoman tersebut disusun secara
fleksibel agar peneliti dapat menyesuaikan pertanyaan dengan situasi di lapangan.
Fleksibilitas instrumen ini memungkinkan peneliti menangkap data yang lebih mendalam dan
bermakna sesuai dengan dinamika sosial yang terjadi selama proses penelitian berlangsung
(Salim & Syahrum, 2020).
Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan. Reduksi data bertujuan menyederhanakan dan memfokuskan data
mentah yang diperoleh dari lapangan. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi
deskriptif agar mudah dipahami. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan
secara terus-menerus selama proses penelitian dengan memperhatikan keterkaitan antar data
(Miles, Huberman, & Saldana, 2020).
Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi, baik triangulasi
sumber maupun triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan
data dari berbagai informan, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan
hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penerapan triangulasi bertujuan untuk
meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap temuan penelitian, sehingga hasil yang
diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi lapangan secara objektif (Sugiyono, 2023).
Penelitian Wulandari dan Lestari (2022) menunjukkan bahwa siswa yang memiliki persepsi
positif terhadap problem solving cenderung mampu mengelola emosi dengan lebih baik
dalam situasi konflik interpersonal.
Persepsi siswa terhadap problem solving juga dipengaruhi oleh lingkungan sekolah
yang mendukung penyelesaian konflik secara dialogis. Siswa yang terbiasa diajak berdiskusi
dan diberi kesempatan menyampaikan pendapat merasa lebih percaya diri dalam
menyelesaikan konflik. Hal ini sejalan dengan temuan Yuliani (2021) yang menyatakan
bahwa budaya sekolah yang demokratis berkontribusi terhadap terbentuknya persepsi positif
siswa terhadap kemampuan problem solving sosial.
Beberapa siswa memandang problem solving sebagai keterampilan sosial yang harus
dipelajari melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori di kelas. Mereka mengaku lebih
memahami cara menyelesaikan konflik setelah mengalami sendiri berbagai situasi sosial di
sekolah. Penelitian oleh Putra dan Mahmudah (2020) mendukung temuan ini dengan
menyatakan bahwa pengalaman sosial berperan penting dalam membentuk persepsi siswa
terhadap efektivitas problem solving dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa menilai
bahwa problem solving membantu mereka memahami sudut pandang orang lain. Persepsi ini
menunjukkan adanya kesadaran empatik yang berkembang dalam diri siswa ketika
menghadapi konflik. Menurut penelitian Lestari (2019), kemampuan empati merupakan
komponen penting dalam problem solving sosial karena membantu individu menemukan
solusi yang adil dan tidak merugikan pihak lain.
Namun demikian, tidak semua siswa memiliki persepsi yang sama kuat terhadap
kemampuan problem solving. Sebagian siswa masih merasa ragu dan kurang percaya diri
ketika harus menyelesaikan konflik secara mandiri. Kondisi ini sejalan dengan temuan
Hapsari dan Utomo (2022) yang menyatakan bahwa perbedaan tingkat kepercayaan diri
memengaruhi cara siswa memandang dan menerapkan problem solving dalam konflik sosial.
Siswa juga memandang bahwa keterampilan problem solving akan lebih mudah diterapkan
apabila mendapat dukungan dari guru atau teman sebaya. Persepsi ini menunjukkan bahwa
problem solving tidak dipandang sebagai kemampuan individual semata, tetapi juga sebagai
proses sosial. Penelitian oleh Arifin (2021) menunjukkan bahwa dukungan sosial di sekolah
berpengaruh signifikan terhadap persepsi dan keberanian siswa dalam menyelesaikan konflik.
Lebih lanjut, siswa menilai bahwa problem solving membantu mereka belajar
bertanggung jawab atas keputusan yang diambil saat konflik terjadi. Persepsi ini
menunjukkan adanya kesadaran moral dalam proses penyelesaian masalah sosial. Menurut
penelitian Handayani (2020), problem solving sosial dapat menjadi sarana pembentukan
karakter tanggung jawab dan kedewasaan sosial pada siswa SMP.
Secara keseluruhan, persepsi siswa terhadap problem solving dalam menghadapi
konflik sosial menunjukkan kecenderungan positif, meskipun masih terdapat perbedaan
kemampuan antarindividu. Persepsi ini berkembang melalui pengalaman sosial, dukungan
lingkungan sekolah, serta pembelajaran nilai-nilai sosial. Temuan ini sejalan dengan kajian
Rachman dan Fitriani (2022) yang menyimpulkan bahwa penguatan problem solving sosial di
sekolah sangat penting untuk menciptakan iklim pendidikan yang aman dan harmonis
menjelaskan perasaan dan pendapat secara jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman yang
memperburuk konflik. Strategi komunikasi aktif ini sesuai dengan temuan strategis dalam
pendidikan Islam yang menekankan pentingnya komunikasi efektif dalam pengelolaan
konflik di lingkungan pendidikan (Luqman, Rodliyah, & Fatmawati, 2024).
Selain komunikasi, siswa juga menerapkan musyawarah dan diskusi bersama untuk
mencapai penyelesaian yang saling menguntungkan. Dalam tradisi Pendidikan Islam,
musyawarah merupakan strategi penting dalam penyelesaian konflik karena mencerminkan
nilai kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
yang menunjukkan bahwa pendekatan deliberatif dalam manajemen konflik di lembaga
pendidikan Islam mampu menciptakan solusi yang lebih adil dan diterima oleh semua pihak
yang terlibat.
Strategi lain yang digunakan siswa adalah melibatkan pihak ketiga seperti guru atau
mediator sekolah ketika konflik sulit diselesaikan secara mandiri. Peran mediator ini penting
dalam membantu kedua pihak memahami akar masalah secara objektif dan merumuskan
penyelesaian yang sesuai dengan nilai pendidikan Islam (Indana dkk., 2023).Temuan serupa
dilaporkan dalam studi tentang manajemen konflik di lembaga pendidikan Islam, di mana
mediasi menjadi langkah penting dalam menyelesaikan konflik interpersonal dan organisasi
secara damai.
Sebagian siswa juga memilih untuk menunda respons mereka terhadap konflik ketika
emosi sedang tinggi, dengan tujuan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mencari solusi.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip Pendidikan Islam yang menghargai pengendalian diri
(self-control) dan berpikir matang sebelum bertindak. Pendekatan ini sesuai dengan model
manajemen konflik yang mengutamakan langkah reflektif sebelum menuju tahap
penyelesaian, yang ditemukan dalam kajian pendidikan Islam di mana penundaan respons
emosional menjadi bagian dari strategi harmonisasi sosial (Rida dkk., 2025).
Siswa juga menunjukkan praktik refleksi diri sebagai bagian dari strategi problem
solving, yakni dengan mengevaluasi kesalahan yang mungkin telah mereka lakukan dalam
konflik. Strategi reflektif ini sesuai dengan nilai taqwa dan introspeksi dalam Islam, yang
mendorong individu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan melakukan perbaikan
diri. Sebuah kajian pendidikan Islam yang menganalisis metode penyelesaian konflik
menekankan pentingnya refleksi diri sebagai fondasi resolusi konflik yang berkelanjutan
dalam lembaga pendidikan Islam (Amelia. R., 2019).
Selanjutnya, beberapa siswa memilih strategi kompromi demi menjaga hubungan sosial
tetap baik, yang dalam konteks madrasah juga mencerminkan nilai ukhuwah dan
pengutamaan kebersamaan atas ego pribadi. Dalam lingkungan Pendidikan Islam, kompromi
dilihat sebagai praktik Islami yang menciptakan stabilitas dan keharmonisan antarindividu,
sehingga konflik tidak mengganggu proses pembinaan nilai di sekolah. Berbagai studi konflik
dalam lembaga pendidikan Islam menunjukkan bahwa pendekatan seperti kompromi dan
penyelesaian damai efektif dalam mempertahankan iklim pembelajaran yang harmonis.
Faktor lingkungan sekolah juga mempengaruhi strategi problem solving yang dipilih
siswa. Sekolah yang menerapkan budaya partisipatif dengan prinsip dialog dan musyawarah
memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk belajar menyelesaikan konflik secara damai.
Pendekatan ini sesuai dengan artikel yang membahas strategi penyelesaian konflik di sekolah
melalui pembelajaran kolaboratif dan dialog, yang menunjukkan bahwa konflik siswa dapat
diatasi melalui keterlibatan bersama antara siswa dan guru (Nur Azizatur Rohmah, 2023).
Pengalaman pribadi siswa turut memengaruhi strategi problem solving yang digunakan.
Siswa yang pernah mengalami konflik sebelumnya cenderung lebih mampu memilih strategi
yang tepat karena telah memiliki pemahaman tentang konsekuensi sosial dan emosional dari
6
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
konflik tersebut. Penelitian tentang strategi problem solving dalam pendidikan Islam
menyatakan bahwa pengalaman konflik berperan dalam membentuk keterampilan sosial siswa
untuk menangani konflik di masa depan (Anwar dkk., 2024).
Meskipun berbagai strategi telah digunakan, belum semua siswa mampu
menerapkannya secara konsisten. Sebagian siswa masih pasif atau mengandalkan orang lain
untuk menyelesaikan konflik, yang menunjukkan bahwa pembinaan melalui manajemen
dakwah di sekolah perlu diperkuat, khususnya dalam pengembangan kemampuan problem
solving sosial. Studi tentang manajemen konflik di lembaga pendidikan Islam menegaskan
bahwa keterampilan resolusi konflik perlu dibina secara sistematis agar menjadi bagian dari
karakter siswa (Indah Inayatur Rohmah, 2024).
Secara keseluruhan, strategi problem solving yang digunakan siswa dalam
menyelesaikan konflik sosial mencerminkan praktik manajemen dakwah yang bersifat
kontekstual dan edukatif. Pendekatan dialogis, mediasi, refleksi diri, dan kompromi
menunjukkan bahwa resolusi konflik tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sarat dengan
nilai-nilai Islam seperti ukhuwah, toleransi, dan kesabaran. Oleh sebab itu, penguatan problem
solving sebagai strategi manajemen dakwah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui
pembiasaan nilai, pembinaan karakter, dan keteladanan dalam kehidupan sekolah. Hal ini
sejalan dengan kajian solusi holistik dalam manajemen konflik pendidikan Islam yang
menekankan integrasi nilai Islam dalam setiap langkah penyelesaian konflik (Agripina, 2024).
7
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
sebagai sarana pembelajaran akhlak apabila diarahkan melalui bimbingan yang tepat (Latifah,
2020).
Faktor eksternal yang sangat berpengaruh adalah lingkungan keluarga, khususnya pola
komunikasi dan penanaman nilai Islam di rumah. Keluarga yang membiasakan musyawarah
dan penyelesaian masalah secara dialogis memberikan fondasi awal bagi anak dalam
mengembangkan problem solving sosial. Penelitian di jurnal pendidikan Islam menyatakan
bahwa kesinambungan nilai antara keluarga dan sekolah memperkuat efektivitas pembinaan
sosial siswa di madrasah (Munir & Aziz, 2021).
Lingkungan sekolah sebagai institusi dakwah formal memiliki peran strategis dalam
membentuk kemampuan problem solving siswa. Sekolah yang menciptakan iklim religius,
aman, dan dialogis mendorong siswa untuk menyelesaikan konflik melalui pendekatan damai
dan bermartabat. Penelitian tentang manajemen konflik di madrasah menunjukkan bahwa
budaya sekolah berbasis nilai Islam berpengaruh signifikan terhadap pola penyelesaian
konflik siswa (Syahputra, 2022).
Peran guru, khususnya guru bimbingan konseling dan guru pendidikan agama Islam,
menjadi faktor penting dalam praktik manajemen dakwah sekolah. Guru tidak hanya
berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai murabbi yang membimbing siswa memahami
konflik sebagai bagian dari proses pendewasaan. Studi dalam jurnal manajemen pendidikan
Islam menegaskan bahwa pendampingan guru yang berbasis nilai dakwah mampu
meningkatkan keterampilan problem solving sosial siswa (Kamaluddin & Nurhayati, 2023).
Interaksi dengan teman sebaya juga memengaruhi kemampuan problem solving siswa.
Dalam lingkungan madrasah, kelompok sebaya menjadi media internalisasi nilai sosial dan
keagamaan. Siswa yang berada dalam lingkungan pertemanan yang positif cenderung
menyelesaikan konflik secara kooperatif dan menghindari kekerasan. Penelitian pendidikan
Islam menunjukkan bahwa kelompok sebaya yang sehat berperan sebagai penguat nilai
dakwah dalam kehidupan sosial siswa (Aisyah, 2021).
Nilai-nilai Islam yang ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari, seperti kejujuran,
tanggung jawab, dan empati, turut memengaruhi kualitas problem solving sosial siswa. Nilai-
nilai tersebut menjadi landasan moral dalam menentukan solusi konflik yang adil dan tidak
merugikan pihak lain. Penelitian oleh Fadillah (2022) menegaskan bahwa pendidikan karakter
Islami berkontribusi langsung terhadap cara siswa menyelesaikan konflik sosial di madrasah.
Faktor kepercayaan diri siswa juga berkaitan erat dengan keberhasilan problem
solving. Dalam perspektif dakwah pendidikan, kepercayaan diri tumbuh melalui penghargaan,
keteladanan, dan pembinaan yang berkesinambungan. Siswa yang merasa dihargai dan
dibimbing cenderung lebih berani menyampaikan pendapat serta mencari solusi konflik
secara mandiri. Temuan ini didukung oleh penelitian dalam jurnal pendidikan Islam yang
mengaitkan kepercayaan diri dengan efektivitas resolusi konflik siswa (Zainuddin, 2020).
Kemampuan komunikasi interpersonal siswa juga menjadi faktor pendukung penting
dalam problem solving sosial. Komunikasi yang santun, jujur, dan menghargai lawan bicara
mencerminkan keberhasilan internalisasi nilai dakwah dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian tentang komunikasi Islami di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa
keterampilan komunikasi yang baik membantu siswa membangun kesepahaman dan
menghindari eskalasi konflik (Rahim & Abdullah, 2023).
Secara keseluruhan, kemampuan problem solving siswa dalam menghadapi konflik
sosial merupakan hasil sinergi antara faktor internal dan eksternal yang dikelola melalui
manajemen dakwah sekolah. Pembinaan emosi, nilai Islam, pengalaman sosial, dukungan
keluarga, peran guru, teman sebaya, serta budaya sekolah yang religius saling melengkapi
dalam membentuk keterampilan ini. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan problem
8
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
solving sosial di madrasah perlu dilakukan secara holistik dan berkelanjutan sebagai bagian
dari strategi dakwah pendidikan Islam.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa problem solving dipersepsikan oleh siswa sebagai
keterampilan sosial yang sangat penting dalam menghadapi konflik sosial di lingkungan
sekolah. Dalam perspektif manajemen dakwah, kesadaran siswa terhadap pentingnya problem
solving mencerminkan keberhasilan internalisasi nilai-nilai dakwah yang menekankan
komunikasi yang santun, pengendalian emosi, dan penyelesaian masalah secara damai. Siswa
memahami bahwa konflik merupakan bagian dari dinamika sosial yang tidak dapat dihindari,
namun dapat dikelola secara konstruktif apabila disikapi dengan pendekatan yang bijak dan
berlandaskan nilai-nilai kebersamaan serta tanggung jawab sosial.
Hasil penelitian juga mengungkap bahwa siswa menerapkan berbagai strategi problem
solving dalam mengelola konflik sosial, seperti komunikasi langsung, musyawarah, refleksi
diri, kompromi, serta melibatkan pihak ketiga seperti teman sebaya atau guru. Keberagaman
strategi ini menunjukkan bahwa problem solving berfungsi sebagai strategi manajemen
dakwah yang adaptif dan kontekstual, di mana siswa mampu menyesuaikan cara penyelesaian
konflik dengan situasi yang dihadapi. Strategi-strategi tersebut sejalan dengan prinsip dakwah
bil hikmah, yaitu menyelesaikan persoalan sosial melalui pendekatan persuasif, dialogis, dan
menghindari kekerasan.
Kemampuan problem solving siswa dalam mengelola konflik sosial dipengaruhi oleh
berbagai faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Faktor internal meliputi
pengendalian emosi, kematangan kognitif, kepercayaan diri, dan pengalaman sosial siswa,
sedangkan faktor eksternal mencakup dukungan keluarga, peran guru sebagai pendidik dan
da’i di lingkungan sekolah, pengaruh teman sebaya, serta budaya sekolah yang religius dan
kondusif. Dalam konteks manajemen dakwah, faktor-faktor tersebut menjadi unsur
pendukung yang menentukan efektivitas penyampaian nilai-nilai dakwah dalam membentuk
perilaku sosial siswa.
Berdasarkan keseluruhan temuan, dapat disimpulkan bahwa penguatan problem solving
sebagai strategi manajemen dakwah perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan
melalui sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial. Sekolah memiliki peran
strategis dalam menciptakan iklim yang mendukung dialog, musyawarah, dan penyelesaian
konflik secara damai sebagai bagian dari praktik dakwah pendidikan. Dengan demikian,
penerapan problem solving tidak hanya berkontribusi pada pengelolaan konflik sosial siswa,
tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter Islami, kedewasaan sosial, serta terciptanya
lingkungan pendidikan yang aman, harmonis, dan bernilai dakwah.
Referensi
Agripina Candraningtyas et al. (2024). Sumber dan Penyelesaian Konflik dalam Penanganan
Kebijakan Konflik di Sekolah. Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam, 3(1),
Amelia, R. (2019). Peran bimbingan dan konseling Islam dalam membantu penyelesaian
konflik sosial siswa MTs (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Anwar, M., & Salim, A. (2024). Conflict Management and Organizational Behavior:
Principal Strategies. Journal of Islamic Education, 9(2).
Corey, G. (2017). Theory and practice of counseling and psychotherapy (10th ed.). Boston,
MA: Cengage Learning.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing
among five approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
9
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
10
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal
Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta.
Sugiyono. (2023). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2019). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Syahputra, D. (2022). Budaya sekolah religius dan pengaruhnya terhadap resolusi konflik
sosial siswa. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(1), 61–75.
Yusuf, M., & Amalia, R. (2021). Hubungan problem solving dengan regulasi emosi siswa
SMP. Jurnal Psikologi Perkembangan, 6(2), 120–131.
11