0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan11 halaman

Problem Solving dalam Manajemen Dakwah

Penelitian ini mengeksplorasi persepsi siswa MTsN 2 Madina mengenai kemampuan problem solving sebagai strategi manajemen dakwah dalam mengatasi konflik sosial di sekolah. Hasil menunjukkan bahwa siswa menggunakan berbagai strategi seperti komunikasi langsung dan mediasi, serta menyadari pentingnya pengendalian emosi dan dampak tindakan mereka. Temuan ini memberikan wawasan bagi guru dalam merancang program pembelajaran yang mengintegrasikan strategi manajemen dakwah untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Diunggah oleh

Rosdiana Safitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan11 halaman

Problem Solving dalam Manajemen Dakwah

Penelitian ini mengeksplorasi persepsi siswa MTsN 2 Madina mengenai kemampuan problem solving sebagai strategi manajemen dakwah dalam mengatasi konflik sosial di sekolah. Hasil menunjukkan bahwa siswa menggunakan berbagai strategi seperti komunikasi langsung dan mediasi, serta menyadari pentingnya pengendalian emosi dan dampak tindakan mereka. Temuan ini memberikan wawasan bagi guru dalam merancang program pembelajaran yang mengintegrasikan strategi manajemen dakwah untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Diunggah oleh

Rosdiana Safitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL Volume 2, Nomor 1

Al-Manaj Desember 2025


P-ISSN: 27752062
E-ISSN: 27758729

PROBLEM SOLVING SEBAGAI STRATEGI MANAJEMEN DAKWAH


DALAM MENGELOLA KONFLIK SOSIAL DI LINGKUNGAN MTsN 2
MANDAILING NATAL

Rizky Nur Fadhilah

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal


Email: rizkyfadhilah502@[Link]

Kata kunci Abstrak


Problem solving, Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi siswa MTsN 2 Madina
Strategi manajemen mengenai kemampuan problem solving sebagai strategi manajemen
dakwah, konflik dakwah dalam menghadapi konflik sosial di lingkungan sekolah. Konflik
sosial, siswa MTs, sosial di kalangan siswa merupakan hal yang wajar, namun membutuhkan
keterampilan khusus agar dapat diselesaikan secara efektif tanpa merusak
keterampilan sosial.
hubungan interpersonal. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan metode studi fenomenologi untuk memahami
pengalaman, strategi, dan pandangan siswa terkait penyelesaian konflik.
Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan sepuluh siswa,
observasi partisipatif, serta dokumentasi kegiatan dan catatan sekolah,
kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan pola dan tema
utama dalam persepsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa
menggunakan berbagai strategi, seperti komunikasi langsung, mediasi
dengan teman sebaya, dan mencari bantuan guru, serta menyadari
pentingnya pengendalian emosi, berpikir sebelum bertindak, dan
mempertimbangkan dampak tindakan terhadap hubungan sosial. Temuan
ini memberikan wawasan bagi guru dan pihak sekolah dalam merancang
program pembelajaran atau bimbingan yang dapat mengintegrasikan
Strategi manajemen dakwah untuk mengembangkan kemampuan problem
solving serta keterampilan sosial siswa.
Keywords Abstract
Problem solving, This study aims to explore the perceptions of students at MTsN 2 Madina
dakwah management regarding problem solving abilities as a strategy of dakwah management
strategy, social in handling social conflicts within the school environment. Social conflicts
conflict, MTSN among students are a common phenomenon, but they require specific
skills to be resolved effectively without damaging interpersonal
students, social skills
relationships. This research employs a qualitative approach with a
phenomenological study method to understand students’ experiences,
strategies, and perspectives in conflict resolution. Data were collected
through in-depth interviews with ten students, participant observation,
and documentation of school activities and records, then analyzed
thematically to identify patterns and main themes in students’ perceptions.
The findings indicate that students apply various problem-solving
strategies, such as direct communication, peer mediation, and seeking
assistance from teachers, while recognizing the importance of emotional
regulation, thinking before acting, and considering the impact of their
actions on social relationships. These findings provide insights for
teachers and school authorities in designing learning and guidance
programs that integrate dakwah management strategies to enhance

1
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

students’ problem-solving skills and social competencies.

Pendahuluan
Sekolah, khususnya MTsN 2 Madina, merupakan lingkungan sosial utama bagi peserta
didik untuk belajar berinteraksi, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial dengan
individu lain yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda. Dalam konteks pendidikan
Islam, sekolah juga berfungsi sebagai tempat pembinaan akhlak dan implementasi dakwah
bil-hal, sehingga pengelolaan interaksi sosial menjadi bagian penting dari manajemen dakwah
di sekolah (Santrock, 2019).
Dalam proses interaksi sehari-hari, konflik sosial menjadi fenomena yang tidak
terhindarkan, terutama pada siswa tingkat SMP atau MTsN yang berada pada fase
perkembangan remaja awal. Pada tahap ini, siswa mengalami peningkatan sensitivitas emosi
dan kebutuhan untuk diakui, sehingga potensi terjadinya konflik antarindividu semakin tinggi.
Penanganan konflik yang efektif membutuhkan strategi tertentu agar tetap selaras dengan
tujuan pembinaan sosial dan dakwah (Desmita, 2019)
Konflik sosial di sekolah dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti perbedaan
pendapat, kesalahpahaman komunikasi, persaingan akademik, atau konflik emosional antar
teman sebaya. Jika tidak dikelola secara tepat, konflik ini berpotensi menimbulkan dampak
negatif, termasuk menurunnya kenyamanan belajar, terganggunya hubungan sosial, dan
perilaku agresif. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi problem solving sebagai bagian dari
manajemen dakwah untuk mengelola konflik secara konstruktif (Slameto, 2020).
Kemampuan problem solving merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki
siswa dalam menghadapi konflik sosial. Problem solving dipahami sebagai proses berpikir
sistematis untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab, serta menentukan solusi
yang tepat, adil, dan bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan Islam, kemampuan ini
juga berkaitan dengan pengembangan akhlak, kesadaran sosial, dan pengambilan keputusan
yang sesuai dengan nilai dakwah (Goleman, 2017).
Pada jenjang MTsN, kemampuan problem solving sosial sangat relevan karena siswa
berada dalam fase pencarian jati diri dan intensitas interaksi sosial yang tinggi. Siswa belum
sepenuhnya mampu mengelola emosi atau mengambil keputusan sosial secara matang. Oleh
karena itu, pengembangan strategi problem solving sebagai bagian dari manajemen dakwah di
sekolah sangat penting untuk membantu siswa menyelesaikan konflik sosial tanpa
menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun lingkungan (Hurlock, 2016).
Persepsi siswa terhadap problem solving memengaruhi cara mereka menyikapi konflik.
Persepsi yang positif akan mendorong siswa untuk mencari solusi aktif, sedangkan persepsi
negatif dapat menyebabkan penghindaran konflik atau penyelesaian yang kurang tepat.
Persepsi ini terbentuk melalui pengalaman, interaksi sosial, serta bimbingan guru dan orang
tua, sehingga menjadi bagian dari strategi manajemen dakwah dalam pembinaan sosial siswa
(Santrock, 2019).
Persepsi siswa tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran
formal, pengalaman sosial, dan pengaruh lingkungan sekolah. Interaksi dengan teman sebaya,
guru, dan aturan sekolah membentuk cara pandang siswa dalam menyelesaikan konflik. Siswa
yang memiliki pengalaman positif dalam menyelesaikan konflik cenderung lebih percaya diri
dan efektif dalam menggunakan strategi problem solving sosial (Mulyasa, 2020).
Strategi problem solving yang diterapkan siswa beragam, mulai dari komunikasi
langsung, musyawarah, kompromi, hingga meminta bantuan pihak lain seperti guru.
Perbedaan strategi ini dipengaruhi oleh karakter individu, pengalaman sosial, dan lingkungan
2
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

sekolah. Pendekatan ini mencerminkan praktik manajemen dakwah yang menekankan


pengelolaan konflik secara bijaksana, bertanggung jawab, dan selaras dengan nilai sosial
keagamaan (Johnson & Johnson, 2014). Kemampuan problem solving dipengaruhi faktor
internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kematangan emosi, pengendalian diri,
kepercayaan diri, dan kemampuan berpikir kritis. Faktor eksternal mencakup dukungan
keluarga, iklim sekolah, serta peran guru, terutama guru bimbingan dan konseling, dalam
membimbing siswa menghadapi konflik. Lingkungan yang kondusif menjadi kunci dalam
membentuk keterampilan sosial yang efektif sebagai bagian dari manajemen dakwah di
sekolah (Sukmadinata, 2019).
Guru bimbingan dan konseling memiliki peran strategis dalam mendampingi siswa
mengembangkan kemampuan problem solving sosial. Melalui program bimbingan, siswa
dapat dilatih mengenali masalah, mengelola emosi, serta menentukan solusi yang bertanggung
jawab. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dakwah bil-hal, di mana pembinaan sosial
dilakukan melalui tindakan nyata yang membimbing siswa menjadi individu yang mampu
menyelesaikan konflik secara konstruktif (Corey, 2017).
Meskipun kemampuan problem solving sosial penting, masih ditemukan siswa yang
kesulitan menyelesaikan konflik secara mandiri. Sebagian siswa cenderung menghindar atau
memilih cara yang tidak tepat, sehingga penelitian ini menjadi penting untuk mengeksplorasi
persepsi siswa terhadap problem solving sebagai strategi manajemen dakwah di MTsN 2
Mandailing Natal. Temuan diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik
pembinaan sosial, layanan bimbingan konseling, dan program manajemen konflik berbasis
dakwah di sekolah.

Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif
kualitatif, karena tujuan penelitian difokuskan pada upaya memahami secara mendalam
persepsi dan pengalaman subjek penelitian terkait problem solving dalam menghadapi konflik
sosial di lingkungan sekolah. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti
menggali makna, sudut pandang, serta interpretasi subjek secara alami tanpa melakukan
manipulasi variabel. Penelitian kualitatif menempatkan peneliti sebagai instrumen utama yang
berinteraksi langsung dengan konteks sosial yang diteliti (Sugiyono, 2023).
Desain deskriptif kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran menyeluruh
mengenai fenomena problem solving sosial sebagaimana dialami dan dipersepsikan oleh
subjek penelitian. Desain ini tidak bertujuan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk
memaparkan realitas sosial secara mendalam dan kontekstual. Melalui pendekatan ini, data
yang diperoleh diharapkan mampu menggambarkan pola perilaku, cara berpikir, serta strategi
penyelesaian konflik yang digunakan oleh subjek penelitian dalam situasi nyata (Moleong,
2021).
Subjek penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek
secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini
dipandang tepat dalam penelitian kualitatif karena tidak menekankan jumlah sampel,
melainkan kedalaman informasi yang diperoleh. Subjek dipilih karena dianggap mampu
memberikan informasi yang kaya dan sesuai dengan fokus kajian mengenai problem solving
dalam konflik sosial di lingkungan sekolah (Creswell & Poth, 2018).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menggali persepsi, pengalaman,
dan pandangan subjek terkait cara mereka memahami serta menyelesaikan konflik sosial.
Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung perilaku sosial subjek dalam konteks
3
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

alami, sedangkan dokumentasi berfungsi sebagai data pendukung yang memperkuat hasil
wawancara dan observasi (Herdiansyah, 2020).
Instrumen penelitian dalam pendekatan kualitatif adalah peneliti itu sendiri, yang
dibantu dengan pedoman wawancara dan lembar observasi. Pedoman tersebut disusun secara
fleksibel agar peneliti dapat menyesuaikan pertanyaan dengan situasi di lapangan.
Fleksibilitas instrumen ini memungkinkan peneliti menangkap data yang lebih mendalam dan
bermakna sesuai dengan dinamika sosial yang terjadi selama proses penelitian berlangsung
(Salim & Syahrum, 2020).
Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan. Reduksi data bertujuan menyederhanakan dan memfokuskan data
mentah yang diperoleh dari lapangan. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi
deskriptif agar mudah dipahami. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan
secara terus-menerus selama proses penelitian dengan memperhatikan keterkaitan antar data
(Miles, Huberman, & Saldana, 2020).
Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi, baik triangulasi
sumber maupun triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan
data dari berbagai informan, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan
hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penerapan triangulasi bertujuan untuk
meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap temuan penelitian, sehingga hasil yang
diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi lapangan secara objektif (Sugiyono, 2023).

Hasil dan Pembahasan


Persepsi Siswa tentang Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah dalam
Mengelola Konflik Sosial di MTsN 2 Madina
Siswa memandang problem solving sebagai kemampuan penting dalam menghadapi
konflik sosial yang muncul di lingkungan sekolah. Persepsi ini terbentuk dari pengalaman
siswa dalam berinteraksi dengan teman sebaya, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat,
kesalahpahaman, atau konflik emosional. Siswa menilai bahwa kemampuan menyelesaikan
masalah tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan berpikir, tetapi juga keterampilan bersikap
bijak dan menahan emosi agar konflik tidak semakin membesar. Temuan ini sejalan dengan
penelitian Rahmawati dan Hidayat (2021) yang menyatakan bahwa persepsi positif terhadap
problem solving dapat membantu siswa membangun relasi sosial yang lebih sehat di sekolah.
Sebagian besar siswa menganggap bahwa problem solving merupakan proses berpikir
yang dimulai dari mengenali masalah, memahami penyebab konflik, hingga menentukan
solusi yang dapat diterima oleh semua pihak. Persepsi ini menunjukkan bahwa siswa telah
memiliki pemahaman dasar mengenai tahapan pemecahan masalah sosial. Menurut penelitian
Sari dan Prasetyo (2020), pemahaman siswa terhadap tahapan problem solving sosial
berperan penting dalam mencegah konflik berkembang menjadi perilaku agresif atau
kekerasan di sekolah.
Siswa juga memaknai problem solving sebagai cara untuk menjaga hubungan
pertemanan tetap harmonis meskipun konflik tidak dapat dihindari. Mereka menyadari bahwa
konflik adalah bagian dari kehidupan sosial, namun dapat dikelola secara positif apabila
disikapi dengan pendekatan yang tepat. Persepsi ini sejalan dengan pandangan Nuraini (2019)
yang menyatakan bahwa konflik sosial pada siswa SMP dapat menjadi sarana pembelajaran
sosial apabila disertai dengan keterampilan problem solving yang memadai.
Dalam konteks emosional, siswa memandang problem solving sebagai upaya
mengendalikan emosi saat konflik terjadi. Mereka menilai bahwa kemampuan berpikir
sebelum bertindak membantu menghindari penyesalan akibat keputusan yang terburu-buru.
4
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

Penelitian Wulandari dan Lestari (2022) menunjukkan bahwa siswa yang memiliki persepsi
positif terhadap problem solving cenderung mampu mengelola emosi dengan lebih baik
dalam situasi konflik interpersonal.
Persepsi siswa terhadap problem solving juga dipengaruhi oleh lingkungan sekolah
yang mendukung penyelesaian konflik secara dialogis. Siswa yang terbiasa diajak berdiskusi
dan diberi kesempatan menyampaikan pendapat merasa lebih percaya diri dalam
menyelesaikan konflik. Hal ini sejalan dengan temuan Yuliani (2021) yang menyatakan
bahwa budaya sekolah yang demokratis berkontribusi terhadap terbentuknya persepsi positif
siswa terhadap kemampuan problem solving sosial.
Beberapa siswa memandang problem solving sebagai keterampilan sosial yang harus
dipelajari melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori di kelas. Mereka mengaku lebih
memahami cara menyelesaikan konflik setelah mengalami sendiri berbagai situasi sosial di
sekolah. Penelitian oleh Putra dan Mahmudah (2020) mendukung temuan ini dengan
menyatakan bahwa pengalaman sosial berperan penting dalam membentuk persepsi siswa
terhadap efektivitas problem solving dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa menilai
bahwa problem solving membantu mereka memahami sudut pandang orang lain. Persepsi ini
menunjukkan adanya kesadaran empatik yang berkembang dalam diri siswa ketika
menghadapi konflik. Menurut penelitian Lestari (2019), kemampuan empati merupakan
komponen penting dalam problem solving sosial karena membantu individu menemukan
solusi yang adil dan tidak merugikan pihak lain.
Namun demikian, tidak semua siswa memiliki persepsi yang sama kuat terhadap
kemampuan problem solving. Sebagian siswa masih merasa ragu dan kurang percaya diri
ketika harus menyelesaikan konflik secara mandiri. Kondisi ini sejalan dengan temuan
Hapsari dan Utomo (2022) yang menyatakan bahwa perbedaan tingkat kepercayaan diri
memengaruhi cara siswa memandang dan menerapkan problem solving dalam konflik sosial.
Siswa juga memandang bahwa keterampilan problem solving akan lebih mudah diterapkan
apabila mendapat dukungan dari guru atau teman sebaya. Persepsi ini menunjukkan bahwa
problem solving tidak dipandang sebagai kemampuan individual semata, tetapi juga sebagai
proses sosial. Penelitian oleh Arifin (2021) menunjukkan bahwa dukungan sosial di sekolah
berpengaruh signifikan terhadap persepsi dan keberanian siswa dalam menyelesaikan konflik.
Lebih lanjut, siswa menilai bahwa problem solving membantu mereka belajar
bertanggung jawab atas keputusan yang diambil saat konflik terjadi. Persepsi ini
menunjukkan adanya kesadaran moral dalam proses penyelesaian masalah sosial. Menurut
penelitian Handayani (2020), problem solving sosial dapat menjadi sarana pembentukan
karakter tanggung jawab dan kedewasaan sosial pada siswa SMP.
Secara keseluruhan, persepsi siswa terhadap problem solving dalam menghadapi
konflik sosial menunjukkan kecenderungan positif, meskipun masih terdapat perbedaan
kemampuan antarindividu. Persepsi ini berkembang melalui pengalaman sosial, dukungan
lingkungan sekolah, serta pembelajaran nilai-nilai sosial. Temuan ini sejalan dengan kajian
Rachman dan Fitriani (2022) yang menyimpulkan bahwa penguatan problem solving sosial di
sekolah sangat penting untuk menciptakan iklim pendidikan yang aman dan harmonis

Strategi Problem Solving yang Digunakan Siswa sebagai Implementasi Manajemen


Dakwah dalam Penyelesaian Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2 Madina
Dalam konteks MTsN 2 Madina, siswa menerapkan berbagai strategi problem solving
dalam menyelesaikan konflik sosial sebagai bagian dari praktik manajemen dakwah sekolah
yang berorientasi pada pembinaan akhlak dan keharmonisan sosial. Salah satu strategi yang
dominan adalah komunikasi terbuka dengan pihak lain ketika konflik muncul; siswa mencoba
5
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

menjelaskan perasaan dan pendapat secara jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman yang
memperburuk konflik. Strategi komunikasi aktif ini sesuai dengan temuan strategis dalam
pendidikan Islam yang menekankan pentingnya komunikasi efektif dalam pengelolaan
konflik di lingkungan pendidikan (Luqman, Rodliyah, & Fatmawati, 2024).
Selain komunikasi, siswa juga menerapkan musyawarah dan diskusi bersama untuk
mencapai penyelesaian yang saling menguntungkan. Dalam tradisi Pendidikan Islam,
musyawarah merupakan strategi penting dalam penyelesaian konflik karena mencerminkan
nilai kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
yang menunjukkan bahwa pendekatan deliberatif dalam manajemen konflik di lembaga
pendidikan Islam mampu menciptakan solusi yang lebih adil dan diterima oleh semua pihak
yang terlibat.
Strategi lain yang digunakan siswa adalah melibatkan pihak ketiga seperti guru atau
mediator sekolah ketika konflik sulit diselesaikan secara mandiri. Peran mediator ini penting
dalam membantu kedua pihak memahami akar masalah secara objektif dan merumuskan
penyelesaian yang sesuai dengan nilai pendidikan Islam (Indana dkk., 2023).Temuan serupa
dilaporkan dalam studi tentang manajemen konflik di lembaga pendidikan Islam, di mana
mediasi menjadi langkah penting dalam menyelesaikan konflik interpersonal dan organisasi
secara damai.
Sebagian siswa juga memilih untuk menunda respons mereka terhadap konflik ketika
emosi sedang tinggi, dengan tujuan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mencari solusi.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip Pendidikan Islam yang menghargai pengendalian diri
(self-control) dan berpikir matang sebelum bertindak. Pendekatan ini sesuai dengan model
manajemen konflik yang mengutamakan langkah reflektif sebelum menuju tahap
penyelesaian, yang ditemukan dalam kajian pendidikan Islam di mana penundaan respons
emosional menjadi bagian dari strategi harmonisasi sosial (Rida dkk., 2025).
Siswa juga menunjukkan praktik refleksi diri sebagai bagian dari strategi problem
solving, yakni dengan mengevaluasi kesalahan yang mungkin telah mereka lakukan dalam
konflik. Strategi reflektif ini sesuai dengan nilai taqwa dan introspeksi dalam Islam, yang
mendorong individu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan melakukan perbaikan
diri. Sebuah kajian pendidikan Islam yang menganalisis metode penyelesaian konflik
menekankan pentingnya refleksi diri sebagai fondasi resolusi konflik yang berkelanjutan
dalam lembaga pendidikan Islam (Amelia. R., 2019).
Selanjutnya, beberapa siswa memilih strategi kompromi demi menjaga hubungan sosial
tetap baik, yang dalam konteks madrasah juga mencerminkan nilai ukhuwah dan
pengutamaan kebersamaan atas ego pribadi. Dalam lingkungan Pendidikan Islam, kompromi
dilihat sebagai praktik Islami yang menciptakan stabilitas dan keharmonisan antarindividu,
sehingga konflik tidak mengganggu proses pembinaan nilai di sekolah. Berbagai studi konflik
dalam lembaga pendidikan Islam menunjukkan bahwa pendekatan seperti kompromi dan
penyelesaian damai efektif dalam mempertahankan iklim pembelajaran yang harmonis.
Faktor lingkungan sekolah juga mempengaruhi strategi problem solving yang dipilih
siswa. Sekolah yang menerapkan budaya partisipatif dengan prinsip dialog dan musyawarah
memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk belajar menyelesaikan konflik secara damai.
Pendekatan ini sesuai dengan artikel yang membahas strategi penyelesaian konflik di sekolah
melalui pembelajaran kolaboratif dan dialog, yang menunjukkan bahwa konflik siswa dapat
diatasi melalui keterlibatan bersama antara siswa dan guru (Nur Azizatur Rohmah, 2023).
Pengalaman pribadi siswa turut memengaruhi strategi problem solving yang digunakan.
Siswa yang pernah mengalami konflik sebelumnya cenderung lebih mampu memilih strategi
yang tepat karena telah memiliki pemahaman tentang konsekuensi sosial dan emosional dari
6
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

konflik tersebut. Penelitian tentang strategi problem solving dalam pendidikan Islam
menyatakan bahwa pengalaman konflik berperan dalam membentuk keterampilan sosial siswa
untuk menangani konflik di masa depan (Anwar dkk., 2024).
Meskipun berbagai strategi telah digunakan, belum semua siswa mampu
menerapkannya secara konsisten. Sebagian siswa masih pasif atau mengandalkan orang lain
untuk menyelesaikan konflik, yang menunjukkan bahwa pembinaan melalui manajemen
dakwah di sekolah perlu diperkuat, khususnya dalam pengembangan kemampuan problem
solving sosial. Studi tentang manajemen konflik di lembaga pendidikan Islam menegaskan
bahwa keterampilan resolusi konflik perlu dibina secara sistematis agar menjadi bagian dari
karakter siswa (Indah Inayatur Rohmah, 2024).
Secara keseluruhan, strategi problem solving yang digunakan siswa dalam
menyelesaikan konflik sosial mencerminkan praktik manajemen dakwah yang bersifat
kontekstual dan edukatif. Pendekatan dialogis, mediasi, refleksi diri, dan kompromi
menunjukkan bahwa resolusi konflik tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sarat dengan
nilai-nilai Islam seperti ukhuwah, toleransi, dan kesabaran. Oleh sebab itu, penguatan problem
solving sebagai strategi manajemen dakwah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui
pembiasaan nilai, pembinaan karakter, dan keteladanan dalam kehidupan sekolah. Hal ini
sejalan dengan kajian solusi holistik dalam manajemen konflik pendidikan Islam yang
menekankan integrasi nilai Islam dalam setiap langkah penyelesaian konflik (Agripina, 2024).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Problem Solving Siswa dalam


Menghadapi Konflik Sosial dari Perspektif Manajemen Dakwah di Lingkungan MTsN 2
Madina
Kemampuan problem solving siswa dalam menghadapi konflik sosial di lingkungan
MTsN dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik internal maupun
eksternal, yang dalam konteks ini dipahami sebagai bagian dari strategi manajemen dakwah
sekolah. Faktor-faktor tersebut tidak hanya menentukan cara siswa menyikapi konflik, tetapi
juga mencerminkan keberhasilan sekolah dalam menanamkan nilai-nilai Islam melalui proses
pembinaan sosial. Penelitian dalam pendidikan Islam menegaskan bahwa problem solving
sosial merupakan hasil integrasi antara aspek kepribadian siswa dan sistem pembinaan yang
diterapkan oleh lembaga pendidikan Islam (Anwar & Salim, 2023).
Salah satu faktor internal yang berpengaruh kuat adalah pengendalian emosi, yang
dalam perspektif pendidikan Islam berkaitan dengan kemampuan menahan diri (mujahadatun
nafs). Siswa yang mampu mengelola emosi dengan baik cenderung lebih tenang dan
bijaksana dalam menyelesaikan konflik sosial. Penelitian di madrasah menunjukkan bahwa
pembinaan akhlak dan penguatan nilai kesabaran berkontribusi terhadap kemampuan siswa
dalam menyelesaikan konflik secara damai (Rohmah & Fauzi, 2022).
Selain emosi, kematangan cara berpikir siswa juga memengaruhi efektivitas problem
solving sosial. Dalam konteks madrasah, kematangan berpikir tidak hanya dipahami secara
kognitif, tetapi juga sebagai kemampuan mempertimbangkan nilai moral dan dampak sosial
dari suatu tindakan. Penelitian oleh Hakim (2021) dalam jurnal pendidikan Islam
menunjukkan bahwa siswa yang mendapatkan pembinaan nilai melalui pendekatan dakwah
edukatif lebih mampu mengambil keputusan sosial yang bertanggung jawab.
Pengalaman sosial siswa dalam menghadapi konflik sebelumnya turut membentuk
kemampuan problem solving mereka. Siswa yang pernah melalui proses penyelesaian konflik
secara konstruktif cenderung memiliki kepercayaan diri dan kesiapan yang lebih baik dalam
menghadapi konflik serupa. Dalam kajian pendidikan Islam, pengalaman konflik dipandang

7
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

sebagai sarana pembelajaran akhlak apabila diarahkan melalui bimbingan yang tepat (Latifah,
2020).
Faktor eksternal yang sangat berpengaruh adalah lingkungan keluarga, khususnya pola
komunikasi dan penanaman nilai Islam di rumah. Keluarga yang membiasakan musyawarah
dan penyelesaian masalah secara dialogis memberikan fondasi awal bagi anak dalam
mengembangkan problem solving sosial. Penelitian di jurnal pendidikan Islam menyatakan
bahwa kesinambungan nilai antara keluarga dan sekolah memperkuat efektivitas pembinaan
sosial siswa di madrasah (Munir & Aziz, 2021).
Lingkungan sekolah sebagai institusi dakwah formal memiliki peran strategis dalam
membentuk kemampuan problem solving siswa. Sekolah yang menciptakan iklim religius,
aman, dan dialogis mendorong siswa untuk menyelesaikan konflik melalui pendekatan damai
dan bermartabat. Penelitian tentang manajemen konflik di madrasah menunjukkan bahwa
budaya sekolah berbasis nilai Islam berpengaruh signifikan terhadap pola penyelesaian
konflik siswa (Syahputra, 2022).
Peran guru, khususnya guru bimbingan konseling dan guru pendidikan agama Islam,
menjadi faktor penting dalam praktik manajemen dakwah sekolah. Guru tidak hanya
berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai murabbi yang membimbing siswa memahami
konflik sebagai bagian dari proses pendewasaan. Studi dalam jurnal manajemen pendidikan
Islam menegaskan bahwa pendampingan guru yang berbasis nilai dakwah mampu
meningkatkan keterampilan problem solving sosial siswa (Kamaluddin & Nurhayati, 2023).
Interaksi dengan teman sebaya juga memengaruhi kemampuan problem solving siswa.
Dalam lingkungan madrasah, kelompok sebaya menjadi media internalisasi nilai sosial dan
keagamaan. Siswa yang berada dalam lingkungan pertemanan yang positif cenderung
menyelesaikan konflik secara kooperatif dan menghindari kekerasan. Penelitian pendidikan
Islam menunjukkan bahwa kelompok sebaya yang sehat berperan sebagai penguat nilai
dakwah dalam kehidupan sosial siswa (Aisyah, 2021).
Nilai-nilai Islam yang ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari, seperti kejujuran,
tanggung jawab, dan empati, turut memengaruhi kualitas problem solving sosial siswa. Nilai-
nilai tersebut menjadi landasan moral dalam menentukan solusi konflik yang adil dan tidak
merugikan pihak lain. Penelitian oleh Fadillah (2022) menegaskan bahwa pendidikan karakter
Islami berkontribusi langsung terhadap cara siswa menyelesaikan konflik sosial di madrasah.
Faktor kepercayaan diri siswa juga berkaitan erat dengan keberhasilan problem
solving. Dalam perspektif dakwah pendidikan, kepercayaan diri tumbuh melalui penghargaan,
keteladanan, dan pembinaan yang berkesinambungan. Siswa yang merasa dihargai dan
dibimbing cenderung lebih berani menyampaikan pendapat serta mencari solusi konflik
secara mandiri. Temuan ini didukung oleh penelitian dalam jurnal pendidikan Islam yang
mengaitkan kepercayaan diri dengan efektivitas resolusi konflik siswa (Zainuddin, 2020).
Kemampuan komunikasi interpersonal siswa juga menjadi faktor pendukung penting
dalam problem solving sosial. Komunikasi yang santun, jujur, dan menghargai lawan bicara
mencerminkan keberhasilan internalisasi nilai dakwah dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian tentang komunikasi Islami di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa
keterampilan komunikasi yang baik membantu siswa membangun kesepahaman dan
menghindari eskalasi konflik (Rahim & Abdullah, 2023).
Secara keseluruhan, kemampuan problem solving siswa dalam menghadapi konflik
sosial merupakan hasil sinergi antara faktor internal dan eksternal yang dikelola melalui
manajemen dakwah sekolah. Pembinaan emosi, nilai Islam, pengalaman sosial, dukungan
keluarga, peran guru, teman sebaya, serta budaya sekolah yang religius saling melengkapi
dalam membentuk keterampilan ini. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan problem
8
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

solving sosial di madrasah perlu dilakukan secara holistik dan berkelanjutan sebagai bagian
dari strategi dakwah pendidikan Islam.

Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa problem solving dipersepsikan oleh siswa sebagai
keterampilan sosial yang sangat penting dalam menghadapi konflik sosial di lingkungan
sekolah. Dalam perspektif manajemen dakwah, kesadaran siswa terhadap pentingnya problem
solving mencerminkan keberhasilan internalisasi nilai-nilai dakwah yang menekankan
komunikasi yang santun, pengendalian emosi, dan penyelesaian masalah secara damai. Siswa
memahami bahwa konflik merupakan bagian dari dinamika sosial yang tidak dapat dihindari,
namun dapat dikelola secara konstruktif apabila disikapi dengan pendekatan yang bijak dan
berlandaskan nilai-nilai kebersamaan serta tanggung jawab sosial.
Hasil penelitian juga mengungkap bahwa siswa menerapkan berbagai strategi problem
solving dalam mengelola konflik sosial, seperti komunikasi langsung, musyawarah, refleksi
diri, kompromi, serta melibatkan pihak ketiga seperti teman sebaya atau guru. Keberagaman
strategi ini menunjukkan bahwa problem solving berfungsi sebagai strategi manajemen
dakwah yang adaptif dan kontekstual, di mana siswa mampu menyesuaikan cara penyelesaian
konflik dengan situasi yang dihadapi. Strategi-strategi tersebut sejalan dengan prinsip dakwah
bil hikmah, yaitu menyelesaikan persoalan sosial melalui pendekatan persuasif, dialogis, dan
menghindari kekerasan.
Kemampuan problem solving siswa dalam mengelola konflik sosial dipengaruhi oleh
berbagai faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Faktor internal meliputi
pengendalian emosi, kematangan kognitif, kepercayaan diri, dan pengalaman sosial siswa,
sedangkan faktor eksternal mencakup dukungan keluarga, peran guru sebagai pendidik dan
da’i di lingkungan sekolah, pengaruh teman sebaya, serta budaya sekolah yang religius dan
kondusif. Dalam konteks manajemen dakwah, faktor-faktor tersebut menjadi unsur
pendukung yang menentukan efektivitas penyampaian nilai-nilai dakwah dalam membentuk
perilaku sosial siswa.
Berdasarkan keseluruhan temuan, dapat disimpulkan bahwa penguatan problem solving
sebagai strategi manajemen dakwah perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan
melalui sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial. Sekolah memiliki peran
strategis dalam menciptakan iklim yang mendukung dialog, musyawarah, dan penyelesaian
konflik secara damai sebagai bagian dari praktik dakwah pendidikan. Dengan demikian,
penerapan problem solving tidak hanya berkontribusi pada pengelolaan konflik sosial siswa,
tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter Islami, kedewasaan sosial, serta terciptanya
lingkungan pendidikan yang aman, harmonis, dan bernilai dakwah.

Referensi
Agripina Candraningtyas et al. (2024). Sumber dan Penyelesaian Konflik dalam Penanganan
Kebijakan Konflik di Sekolah. Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam, 3(1),
Amelia, R. (2019). Peran bimbingan dan konseling Islam dalam membantu penyelesaian
konflik sosial siswa MTs (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Anwar, M., & Salim, A. (2024). Conflict Management and Organizational Behavior:
Principal Strategies. Journal of Islamic Education, 9(2).
Corey, G. (2017). Theory and practice of counseling and psychotherapy (10th ed.). Boston,
MA: Cengage Learning.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing
among five approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
9
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

Desmita. (2019). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Goleman, D. (2017). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Hakim, L. (2021). Pengembangan kemampuan problem solving sosial siswa melalui
pendidikan dakwah di madrasah. Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, 6(2), 89–104.
Hakim, L., & Kurniawan, D. (2022). Budaya sekolah dan pengaruhnya terhadap kemampuan
problem solving sosial siswa. Jurnal Pendidikan Sosial, 9(1), 33–45.
Herdiansyah, H. (2020). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta:
Salemba Humanika.
Hurlock, E. B. (2016). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Indah Inayatur Rohmah (2024). Holistic Solutions for Conflict Management in Islamic
Education: Building Sustainable Diversity. Proceedings of International Conference on
Educational Management.
Indana, N., Sulistyorini, S., & An Nahdliyah, K. (2023). Conflict Management in Islamic
Education Institutions (Case Study at Madrasah Ibtidaiyah in Jombang). Al-Fahim:
Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 5(2), 35–49.
Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2014). Joining together: Group theory and group skills
(11th ed.). Boston, MA: Pearson.
Kamaluddin, M., & Nurhayati, S. (2023). Peran guru sebagai murabbi dalam manajemen
konflik siswa madrasah. Jurnal Manajemen Dakwah, 8(1), 117–131.
Lestari, R., & Fadhilah, N. (2022). Problem solving sosial sebagai upaya pencegahan konflik
siswa sekolah menengah. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 7(2), 101–112.
Linda Dewi, S. N., S. Dewi Wulandari, & R. Azkiyah (2024). Metode Penyelesaian Konflik
di Lembaga Pendidikan Islam. CERDAS: Jurnal Pendidikan, 3(2).
Maulana, A., & Rohman, F. (2023). Strategi manajemen dakwah dalam pembinaan perilaku
sosial siswa madrasah. Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, 8(1), 55–68.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2020). Qualitative data analysis: A methods
sourcebook (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2020). Manajemen pendidikan karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
Nur Azizatur Rohmah et al. (2023). Strategi Penyelesaian Konflik Antar Siswa: Pembelajaran
Kolaboratif Dalam Pendidikan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI).
Putri, D. A., & Widodo, S. (2020). Konflik sosial remaja dan implikasinya terhadap hubungan
interpersonal di sekolah. Jurnal Psikologi Pendidikan, 5(2), 87–98.
Rahman, A., Sulaiman, I., & Hidayah, N. (2020). Pendekatan dialogis dalam penyelesaian
konflik siswa di sekolah berbasis nilai agama. Jurnal Pendidikan Islam, 11(1), 23–35.
Rida Wardatul Saura, A. Z., D. Isti’anah, & A. Kurniawan (2025). Pendekatan Pedagogis
Problem-Solving dalam Pendidikan Islam untuk Mengatasi Degradasi Akhlak Remaja.
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, 4(2), 163–177.
Rohmah, U., & Fauzi, M. (2022). Pengendalian emosi siswa melalui pendidikan akhlak
Islami. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 6(2), 173–187.
Salim, & Syahrum. (2020). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Citapustaka Media.
Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Siregar, M., & Nasution, H. (2021). Dukungan sosial dan kepercayaan diri siswa dalam
penyelesaian konflik sekolah. Jurnal Psikologi Sosial, 4(1), 41–52.

10
Rizky Nur Fadhilah Jurnal Al-Manaj
Problem Solving sebagai Strategi Manajemen Dakwah Vol. 02 No. 01 Desember 2025 : Hal 01-12
dalam Mengelola Konflik Sosial di Lingkungan MTsN 2
Mandailing Natal

Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta.
Sugiyono. (2023). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2019). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Syahputra, D. (2022). Budaya sekolah religius dan pengaruhnya terhadap resolusi konflik
sosial siswa. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(1), 61–75.
Yusuf, M., & Amalia, R. (2021). Hubungan problem solving dengan regulasi emosi siswa
SMP. Jurnal Psikologi Perkembangan, 6(2), 120–131.

11

Anda mungkin juga menyukai