Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus
Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus
DIABETES MELITUS
MATA KULIAH : KEPERAWATAN DEWASA SISTEM
MUSKULOSKELETAL, INTEGUMEN, PERSEPSI SENSORI, DAN
PERSARAFAN
Oleh Kelompok 3 :
Kelompok 3
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah
kesehatan di dunia. WHO memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus di
indonesia akan meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat pada tahun 2030 dari
8,4 juta mencapai 21,3 juta orang. Organisasi International Diabetes Federation
(IDF) memperkirakan bahwa ada kelompok usia 20-79 tahun, terdapat 463 juta
orang di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 atau sama dengan 9,3% dari
jumlah total penduduk pada usia tersebut. Di Asia Tenggara, dimana Indonesia
salah satu negara di dalamnya, menempati peringkat ke-3 dengan jumlah penderita
diabetes melitus sebesar 11,3%. Indonesia meraih peringkat 7 dari 10 jumlah
penderita terbanyak dengan jumlah 10,7 juta orang. Prevalensi diabetes melitus
meningkat dari 6,9% menjadi 10,9% pada penduduk usia ≥15 tahun (Widiasari et
al., 2021).
Menurut laporan tematik Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023,
prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter mengalami peningkatan
jika dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2018, 2,0% di tahun 2018 dan 2,2% di
tahun 2023 pada kelompok usia ≥15 tahun. Berdasarkan pemeriksaan kadar gula
darah, prevalensi diabetes pada kelompok usia ≥15 tahun pada tahun 2023 adalah
11,7% dimana hasil ini lebih tinggi dari prevalensi tahun 2018, yakni 10,9%. Hal
ini menunjukan bahwa baru sekitar 18% penderita diabetes yang mengetahui bahwa
dirinya terkena diabetes (Nabila Miranda & Isti Angraini, 2025).
Diabetes melitus menggambarkan sekelompok penyakit metabolik, yang
temuan umumnya adalah kadar glukosa darah yang meningkat, yang dikenal
sebagai hiperglikemia. Hiperglikemia berat dapat menimbulkan gejala seperti
poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan,
kelelahan dan penurunan kinerja, gangguan penglihatan dan rentan terhadap infeksi
ketoasidosis atau non-ketoasidosis (Widiasari et al., 2021).
Berdasarkan uraian tersebut, laporan ini disusun dengan tujuan mengetahui
serta mendeskripsikan gambaran kasus diabetes melitus yang telah diberikan.
Selain itu, memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai
1
penyusunan asuhan keperawatan yang dapat dijadikan pembelajaran dalam
penerapan kepada klien dengan penyakit serupa.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan definisi dari diabetes melitus!
2. Jelaskan klasifikasi diabetes melitus!
3. Jelaskan faktor risiko diabetes melitus!
4. Jelaskan etiologi diabetes melitus!
5. Jelaskan manifestasi klinis diabetes melitus!
6. Jelaskan patofisiologi diabetes melitus!
7. Jelaskan penatalaksanaan diabetes melitus!
8. Jelaskan pemeriksaan penunjang diabetes melitus!
9. Buatlah asuhan keperawatan pada diabetes melitus!
1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan definisi dari diabetes melitus
2. Untuk menjelaskan klasifikasi diabetes melitus
3. Untuk menjelaskan faktor risiko diabetes melitus
4. Untuk menjelaskan etiologi diabetes melitus
5. Untuk menjelaskan manifestasi klinis diabetes melitus
6. Untuk menjelaskan patofisiologi diabetes melitus
7. Untuk menjelaskan penatalaksanaan diabetes melitus
8. Untuk menjelaskan pemeriksaan penunjang diabetes melitus
9. Untuk menjabarkan asuhan keperawatan pada diabetes melitus
2
BAB II
KONSEP DASAR PENYAKIT
2.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) akibat produksi insulin yang tidak
mencukupi, resistensi terhadap kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Insulin
berperan penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga
gangguannya menimbulkan keluhan seperti sering buang air kecil, rasa haus
berlebihan, penurunan berat badan, gangguan penglihatan, hingga komplikasi berat
seperti ketoasidosis atau sindrom hiperosmolar bila tidak ditangani.
DM terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu: tipe 1, yang disebabkan oleh
autoimun atau kerusakan cepat sel β pankreas sehingga insulin tidak diproduksi;
tipe 2, bentuk paling umum, ditandai resistensi insulin dengan faktor risiko utama
obesitas, gaya hidup sedentari, dan genetik; serta diabetes gestasional, yaitu
hiperglikemia yang muncul pertama kali saat kehamilan dengan risiko komplikasi
pada ibu dan bayi.
Selain itu, terdapat bentuk hibrida seperti LADA (laten autoimun pada dewasa)
dan LADY (laten autoimun pada remaja), serta tipe khusus lain, misalnya akibat
kelainan genetik (MODY), mutasi reseptor insulin, penyakit pankreas,
endokrinopati, obat-obatan, infeksi virus, maupun sindrom genetik tertentu seperti
Wolfram, Klinefelter, Turner, dan Down yang semuanya meningkatkan risiko
terjadinya diabetes (Antar et al., 2023).
2.2 Klasifikasi Diabetes Melitus
Menurut (ElSayed et al., 2023) diabetes dapat diklasifikasikan ke dalam
kategori umum berikut:
1. Diabetes tipe 1 (disebabkan oleh kerusakan sel-b autoimun, yang biasanya
menyebabkan defisiensi insulin absolut, termasuk diabetes autoimun laten
pada masa dewasa)
2. Diiabetes tipe 2 (disebabkan oleh hilangnya progresif non-autoimun dari
suplai darah yang memandai) sekresi insulin sel b sering terjadi pada latar
belakang resistensi insulin dan sindrom metabolik)
3
3. Jenis diabetes spesifik yang disebabkan oleh penyebab lain, misalnya
sindrom diabetes monogenik (seperti diabetes neonatal dan diabetes yang
timbul pada usia muda),penyakit pankreas eksokrin (seperti fibrosis kistik
dan pankreatitis),dan diabetes yang disebabkan oleh obat atau bahan kimia
(seperti penggunaan glukokortikoid,dalam pengobatan HIV/AIDS,atau
setelah transplantasi Organ)
4. Diabetes melitus gestasional (diabetes yang didiagnosis pada trimester
kedua atau ketiga kehamilan yang sebelumnya tidak menunjukkan gejala
diabetes secara jelas
2.3 Faktor Risiko Diabetes Melitus
Terdapat dua pembagian faktor risiko yang dapat memicu kejadian diabetes
melitus, antara lain faktor risiko yang dapat dimodifikasi (di ubah) dan tidak dapat
di modifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain obesitas atau berat
badan lebih dengan IMT≥23 kg/m2, hipertensi dengan tekanan darah>140/90
mmHg, aktivitas fisik kurang,dislipidemia dengan kadar HDL<35 mg/dL dan/atau
trigliserida>250 mg/dL, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, mengandung
tinggi glukosa dan rendah serat dapat memberikan peluang tinggi untuk menderita
intoleransi glukosa atau prediabetes dan DM tipe 2. Sedangkan beberapa faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi, seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga
menderita diabetes melitus, ras dan etnis, pernah melahirkan bayi dengan berat
badan lahirbayi lebih dari 4 kg atau memiliki riwayat menderita diabetes melitus
gestasional, riwayat lahir dengan berat badan rendah kurang dari 2500 gram.
Berbagai macam faktor gaya hidup juga sangat penting untuk perkembangan
DM tipe 2, seperti kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan sering
mengonsumsi alkohol. Seiring meningkatnya usia, maka risiko untuk menderita
intoleransi glukosa juga meningkat. Pada jenis kelamin, wanita lebih berisiko
karena dilihat secara fisik wanita memiliki peluang yang lebih tinggi dalam
peningkatan IMT (Indeks Massa Tubuh). Selain itu, sindrom sebelum menstruasi
dan setelah menopause dapat mengakibatkan distribusi lemak tubuh terganggu
sehingga mudah terakumulasi dan dapat meningkatkan risiko wanita menderita DM
tipe 2. Memiliki keluarga seperti ibu, ayah, dan saudara kandung yang menderita
DM dapat meningkatkan risiko menderita DM (Widiasari et al., 2021).
4
2.4 Etiologi Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang muncul
akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Riwayat keluarga penderita DM
menjadi salah satu faktor utama, sebab lebih dari separuh kasus DM dewasa
ditemukan pada individu dengan latar belakang keluarga yang sama, sehingga dapat
dikatakan bahwa penyakit ini cenderung diturunkan. Namun, faktor keturunan
bukan satu-satunya penyebab, karena gaya hidup juga memiliki peranan besar. Pola
makan berlebihan yang berujung pada obesitas meningkatkan risiko resistensi
insulin, di mana tubuh tidak mampu memanfaatkan insulin secara optimal.
Kondisi ini diperparah oleh stres yang berkepanjangan, karena
ketidakseimbangan hormonal akibat stres dapat mengganggu fungsi metabolisme
glukosa. Selain itu, kebiasaan merokok juga memberikan dampak negatif dengan
menurunkan sensitivitas insulin serta menimbulkan kerusakan metabolisme.
Dengan demikian, etiologi Diabetes Melitus dapat dipahami sebagai hasil interaksi
antara faktor keturunan, pola nutrisi berlebihan, kondisi psikologis, dan kebiasaan
buruk seperti merokok, yang secara bersama-sama berkontribusi terhadap
terjadinya hiperglikemia sebagai ciri khas utama penyakit ini (Simatupang et al.,
2023).
2.5 Manifestasi Klinis Diabetes Melitus
Manifestasi klinis pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 sangat bervariasi,
mulai dari tidak bergejala hingga muncul tanda-tanda khas. Gejala klasik yang
sering ditemukan dikenal dengan istilah 4P, yaitu poliuria atau sering buang air
kecil, polidipsia atau rasa haus yang berlebihan, polifagia atau peningkatan nafsu
makan, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Gejala-gejala ini
biasanya menjadi alasan utama pasien datang berobat.
Selain gejala klasik, terdapat pula keluhan umum lain yang sering menyertai
penderita, seperti rasa lelah yang berkepanjangan, kegelisahan, dan nyeri pada
tubuh. Beberapa pasien juga mengalami kesemutan atau rasa baal pada tangan dan
kaki akibat neuropati diabetik, serta gangguan penglihatan berupa penglihatan
kabur. Pada kulit, dapat muncul keluhan gatal, dan pada pria dapat terjadi disfungsi
ereksi, sedangkan pada wanita sering ditemukan pruritus vulva (Widiasari et al.,
2021).
5
2.6 Patofisiologi Diabetes Melitus
Patofisiologi Diabetes Melitus berawal dari gangguan sekresi maupun kerja
insulin. Pada DM tipe 2, obesitas dan kelebihan kalori memicu resistensi insulin,
yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh tidak mampu merespons insulin secara optimal.
Pada awalnya pankreas meningkatkan produksi insulin untuk mengimbangi, namun
lama-kelamaan sel β pankreas mengalami kelelahan sehingga produksi menurun.
Akibatnya, glukosa tidak dapat masuk ke sel, menumpuk dalam darah, dan
menimbulkan hiperglikemia kronis.
Hiperglikemia yang berkepanjangan memicu stres oksidatif, peradangan, dan
disfungsi endotel. Kondisi ini menurunkan ketersediaan oksida nitrat yang penting
untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga pembuluh menjadi kaku dan tekanan
darah meningkat. Selain itu, aktivitas sistem saraf simpatis yang berlebihan
meningkatkan denyut jantung, kontraktilitas ventrikel, resistensi perifer, serta
retensi cairan, sedangkan aktivitas parasimpatis yang menurun memperparah
keadaan. Penuaan dini pembuluh darah dan remodeling arteri akibat hiperglikemia
juga mempercepat terjadinya hipertensi dan kerusakan vaskular.
Perubahan lain melibatkan retensi natrium yang meningkatkan volume
intravaskular, disfungsi ginjal yang memperburuk hipertensi, serta aktivasi sistem
renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) yang memicu vasokonstriksi dan reabsorpsi
natrium. Hiperglikemia kronis juga menghasilkan advanced glycation end-products
(AGEs) yang menumpuk pada dinding pembuluh darah, menyebabkan pengerasan,
aterosklerosis, dan kerusakan vaskular progresif. Semua mekanisme ini
menjelaskan bagaimana DM tidak hanya menimbulkan hiperglikemia, tetapi juga
berkontribusi pada komplikasi berat seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung
koroner, dan gagal ginjal (Widyadhari Damayanti et al., 2023).
2.7 Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Penatalaksanaan Diabetes Melitus tipe 2 bertujuan mengendalikan kadar gula
darah, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Tatalaksana
dilakukan secara komprehensif melalui kombinasi terapi farmakologis dan non-
farmakologis.
Secara farmakologis, obat lini pertama yang diberikan adalah Metformin
karena efektivitasnya baik dan risiko hipoglikemia rendah. Bila monoterapi gagal,
6
dapat ditambahkan obat kombinasi seperti Metformin dan Glibenklamid yang
bekerja sinergis dalam meningkatkan sensitivitas insulin sekaligus merangsang
sekresi insulin. Prinsip penggunaan obat dimulai dari dosis rendah dan ditingkatkan
sesuai respons kadar glukosa darah.
Tatalaksana non-farmakologis meliputi edukasi, pengaturan pola makan, dan
aktivitas fisik. Pasien disarankan menjalani diet seimbang sesuai kebutuhan energi,
membatasi gula dan garam, serta memperbanyak serat. Aktivitas fisik dianjurkan
3–5 kali per minggu selama 30–45 menit berupa olahraga aerobik intensitas sedang
seperti jalan cepat atau bersepeda. Edukasi juga diberikan kepada keluarga untuk
mendukung kepatuhan pasien dalam kontrol, minum obat, serta perubahan gaya
hidup sehat, dan pasien diarahkan mengikuti program pengelolaan penyakit kronis
(Prolanis) di komunitas (Nabila Miranda & Isti Angraini, 2025).
2.8 Pemeriksaan Penunjang Diabetes Melitus
Pemeriksaan Penunjang pada pasien diabetes melitus menurut (Nabila Miranda
& Isti Angraini, 2025):
1. Laboratorium Dasar
- Gula Darah Sewaktu (GDS): 529 mg/dL (↑, menunjukkan
hiperglikemia berat).
- Hb 12,5 g/dL (normal).
- Eritrosit 3,79 juta/µL (sedikit ↓, mendekati anemia ringan).
- Leukosit 14.600/µL (↑, kemungkinan infeksi/dehidrasi).
2. Pemeriksaan Tambahan yang Perlu Dilakukan:
- GDP (Gula Darah Puasa) & 2 Jam PP → menilai status DM lebih
lengkap.
- HbA1c → memantau kontrol glukosa jangka panjang (≥ 6,5% = DM)
- 1610-Case Report-9426-1-10-2025…
- Elektrolit serum (Na, K, Cl, HCO3) → karena pasien diare dan berisiko
dehidrasi/ketidakseimbangan elektrolit.
- Ureum & Kreatinin → menilai fungsi ginjal (komplikasi
DM/dehidrasi).
- Urinalisis → memeriksa glukosuria, ketonuria, proteinuria.
7
- Pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT) bila perlu, karena pasien
menggunakan obat antidiabetes oral.
3. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (sesuai indikasi):
- EKG → skrining komplikasi kardiovaskular DM.
- Foto thorax bila ada tanda infeksi paru.
- Pemeriksaan mikroalbuminuria untuk deteksi dini nefropati diabetik.
- Kultur feses bila diare menetap, untuk mencari penyebab infeksi.
2.9 Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus
1. Contoh Kasus
Ny N usia 58 tahun, mengatakan badan lemas, pusing, dan BAB cair 5 kali.
Pasien memiliki riwayat DM sejak 3 tahun yang lalu, badan lemas sejak 3 hari
yang lalu. Pasien dibawa ke Rumah Sakit karena sempat tidak sadarkan diri
dan pingsan di kamar mandi selama 30 menit lalu sadar normal kembali.
Aktivitas sebelum kejadian klien pagi masih ke sawah. Pasien rutin berobat ke
puskesmas dan mendapat terapi metformin dan glimipirid, namun terkadang
lupa meminumnya. Aktivitas klien terbatas karena tubuh yang lemas. TB 155
cm, BB 60 kg, TTV: TD 155/80 mmHg, Suhu 36,2, Nadi 88x/menit, RR
22x/menit, kekuatan otot 5, Lab: Hb 12,5 mg/dl, Eritrosit 3,79 muL, GDS 529
mg/dl, Leukosit 14,600 k/uL, Terapi: Nacl 0,9% 20 tpm, lovorapid 16 iu,
ceftriaxone 2x1, amlodipine 1x5mg.
2. Pengkajian
NO DATA PENUNJANG ETIOLOGI MASALAH
(DS , DO) KEPERAWATAN
DAN KODE
1 DS : Faktor umur >40 tahun Ketidakstabilan
- Pasien mengeluh dan genetik Kadar Glukosa
pusing dan merasa ⬇ Darah (D.0027)
lemas sejak 3 hari Penurunan fungsi sel β
yang lalu pankreas
- Pasien mengatakan ⬇
memiliki riwayat DM Penurunan fungsi
insulin
8
DO: ⬇
- Pasien mendapatkan Glukosa tidak dapat
terapi obat metformin masuk ke sel
dan dlimipirid ⬇
- Kadar glukosa dalam Peningkatan kadar gula
tinggi darah
- TB 155 cm ⬇
- BB 60 kg Hiperglikemia
- TD 155/80 mmHg
- Suhu 36,2 C ⬇
- Nadi 88x/menit Ketidakstabilan Kadar
- RR 22x/menit Glukosa Darah
- GDS 529 mg/dl
- Leukosit 14.600 k/uL
- Terapi : NaCl 0,9% 20
tpm, novorapid 16 iu,
ceftriaxone 2x1,
amlodipine 1x5mg
2 DS : Faktor umur >40 tahun Diare (D.0020)
- Pasien mengeluh dan genetik
pusing dan merasa ⬇
lemas sejak 3 hari Penurunan fungsi sel β
yang lalu pankreas
- Pasien mengatakan ⬇
BAB cair 5x/hari Produksi insulin
DO: menurun
- Defekasi lebih dari ⬇
tiga kali dalam 24 jam Peningkatan kadar gula
- Feses cair darah
- TD 155/80 mmHg ⬇
- Suhu 36,2 C Hiperglikemia
- Nadi 88x/menit
9
- RR 22x/menit ⬇
- Eritrosit 3,79 muL Kerusakan saraf otonom
- Leukosit 14,600 l/uL ⬇
Gangguan motilitas usus
⬇
Malabsorpsi dan
perubahan flora usus
(Pertumbuhan berlebih
bakteri usus)
⬇
Penyerapan cairan dan
elektrolit terganggu
⬇
Diare
3 DS : Faktor umur Intoleransi Aktivitas
- Pasien mengeluh ⬇ (D.0056)
pusing dan merasa Penurunan fungsi sel β
lemas sejak 3 hari pankreas
yang lalu ⬇
DO: Produksi insulin
- Aktivitas klien menurun
terbatas karena tubuh ⬇
yang lemas Kadar gula darah
- TD 155/80 mmHg meningkat
- Suhu 36,2 C ⬇
- Nadi 88x/menit Diabetes Melitus tipe II
- RR 22x/menit ⬇
- Kekuatan otot 5 Sel tubuh kekurangan
- Hb 12,5 mg/dl glukosa
- Eritrosit 3,79 muL ⬇
- GDS 529 mg/dl Tubuh produksi sortisol
- Leukosit 14,600 l/uL
10
⬇
Sortisol tidak diserap
tubuh
⬇
Mudah lelah dan letih
⬇
Intoleransi Aktivitas
11
⬇
Kerusakan pada
antibodi
⬇
Kekebalan tubuh
menurun
⬇
Risiko Infeksi
3. Diagnosa (SDKI)
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN KODE DIAGNOSA
1 Ketidakstabilan kadar glukosa darah (D.0027) b.d resistensi insulin d.d
pusing, lemas, memiliki riwayat DM, kadar glukosa dalam darah tinggi
GDS 529 mg/dl, TB 155 cm, BB 60 kg.
2 Diare (D.0020) b.d proses infeksi d.d defekasi lebih dari tiga kali dalam 24
jam yaitu BAB 5x/hri, feses lembek atau cair, eritrosit 3,79 muL, leukosit
14,600 l/uL.
3 Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d kelemahan d.d pusing, lemas, aktivitas
terbatas, eritrosit 3,79 muL.
4 Resiko infeksi (D.0142) d.d penyakit kronik (Diabetes Mellitus), eritrosit
3,79 muL, leukosit 14,600 l/uL.
4. Rencana Tindakan
No Dx Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan
( SLKI ) ( SIKI : OTEK)
D.0027 Kestabilan Kadar Glukosa Manajemen Hiperglikemia
Darah (L.03022) (I.03115)
Setelah dilakukan intervensi Observasi :
keperawatan selama 3 x 24 jam, • Monitor kadar glukosa darah
diharapkan kestabilan kadar • Monitor tanda dan gejala
glukosa darah meningkat. hiperglikemia (mis.
Dengan kriteria hasil : kelemahan)
12
Kriteria Hasil Skor Skor Terapeutik :
awal akhir • Berikan asupan cairan oral
Kadar 1 4 Edukasi :
glukosa • Ajarkan indikasi dan
dalam darah pentingnya pengujian keton
(Cukup urine
Membaik) • Ajarkan pengelolaan
(GDS <200 diabetes (mis. penggunaan
mg/dl) insulin, obat oral, monitor
Pusing 3 5 asupan cairan)
(Menurun) Kolaborasi :
Lelah (Cukup 2 4 • Kolaborasi pemberian
Menurun) cairan IV
Tingkat 3 5
kesadaran
(Meningkat)
D.0020 Eliminasi Fekal (L.04033) Manajemen Cairan ( I.03101)
Setelah dilakukan intervensi Observasi :
selama 3 x 24 jam eliminasi • Identifikasi penyebab diare
fekal membaik. (mis. proses infeksi)
Dengan kriteria hasil : • Identifikasi riwayat
Kriteria Skor Skor pemberian makanan
Hasil awal akhir • Monitor warna, volume,
Kontrol 2 5 frekuensi, dan konsistensi
pengeluaran tinja
feses • Monitor jumlah pengeluaran
(Meningkat) diare
Frekuensi 2 5 • Monitor keamanan
BAB penyiapan makanan
(Membaik) Terapeutik :
• Pasang jalur intravena
13
Konsistensi 2 5 • Berikan cairan intravena
feses Edukasi :
(Membaik) • Anjurkan makanan porsi
kecil dan sering secara
bertahap
• Anjurkan menghindari
makanan pembentuk gas,
pedas dan mengandung
laktosa
Kolaborasi :
• Kolaborasi pemberian obat
antimotilitas
• Kolaborasi pemberian obat
pengeras feses
D.0056 Toleransi aktifitas (L.04033) Manajemen Energi (I.05178)
Setelah dilakukan intervensi Observasi
selama 3 x 24 jam toleransi • Identifikasi gangguan fungsi
aktifitas meningkat. tubuh yang mengakibatkan
Dengan kriteria hasil : kelelahan
Kriteria Hasil Skor Skor • Monitor lokasi dan
awal akhir ketidaknyamanan selama
Keluhan lelah 2 5 melakukan aktivitas
(Menurun) Terapeutik
Perasaan 2 5 • Fasilitasi duduk di sisi
lelah tempat tidur, jika tidak dapat
(Menurun) berpindah atau berjalan
Tekanan 2 5 Edukasi
darah • Anjurkan melakukan
(Membaik) aktivitas secara bertahap
Kemudahan 3 5 • Anjurkan menghubungi
melakukan perawat jika tanda dan
aktifitas
14
sehari hari gejala kelelahan tidak
(Meningkat) berkurang
• Ajarkan strategi koping
untuk mengurangi kelelahan
Kolaborasi
• Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
asupan makanan
D.0142 Tingkat infeksi (L.14137) Pencegahan Infeksi (I.14539)
Setelah dilakukan intervensi Observasi
selama 3 x 24 jam tingkat • Monitor tanda dan gejala
infeksi menurun. infeksi lokal dan sistemik
Dengan kriteria hasil : Edukasi
Kriteria Hasil Skor Skor • Jelaskan tanda dan gejala
awal akhir infeksi
Kadar sel 2 5 • Anjurkan meningkatkan
darah putih asupan nutrisi
(Membaik) • Anjurkan meningkatkan
Letargi 2 5 asupan cairan
(Menurun)
Gangguan 3 5
kognitif
(Menurun)
5. Evaluasi
No Diagnosa EVALUASI SUMATIF
( SOAP)
1 Ketidakstabilan S: Pasien mengatakan sudah tidak merasakan
Kadar Glukosa pusing dan lemas
Darah (D.0027) O: • Kadar glukosa dalam darah cukup
membaik (GDS <200 mg/dl)
15
• Pusing menurun
• Lelah cukup menurun
• Tingkat kesadaran meningkat
P: Intervensi dilanjutkan
- Monitor kadar glukosa darah
- Mengajarkan pengelolaan diabetes
(mis. penggunaan insulin, obat oral,
monitor asupan cairan)
- Kolaborasi pemberian cairan IV
P: • Intervensi dihentikan
• Pertahankan kondisi pasien
16
A: Masalah keperawatan intoleransi aktivitas
telah teratasi
P: • Intervensi dihentikan
• Pertahankan kondisi pasien
P: • Intervensi dihentikan
• Pertahankan kondisi pasien
17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai
dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, atau
kombinasi keduanya. Prevalensi DM terus meningkat di dunia, termasuk di
Indonesia, dengan dampak signifikan terhadap kesehatan individu maupun sistem
kesehatan masyarakat.
Hasil kajian pada kasus menunjukkan bahwa pasien dengan DM tipe II
mengalami masalah keperawatan berupa ketidakstabilan kadar glukosa darah,
diare, intoleransi aktivitas, serta risiko infeksi. Melalui penerapan asuhan
keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan
evaluasi, sebagian besar masalah dapat teratasi dengan baik. Pengendalian DM
harus dilakukan secara komprehensif melalui terapi farmakologis, perubahan gaya
hidup sehat, pemantauan rutin, serta dukungan keluarga maupun tenaga kesehatan.
3.2 Saran
Diharapkan pasien dengan Diabetes Melitus dapat lebih meningkatkan
kepatuhan dalam menjalani pola hidup sehat melalui pengaturan pola makan
seimbang, olahraga teratur, serta kepatuhan terhadap terapi obat yang diberikan.
Keluarga juga berperan penting dalam memberikan dukungan baik secara
emosional maupun dalam memantau kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan
gaya hidup sehat. Tenaga kesehatan diharapkan terus memberikan edukasi yang
komprehensif terkait pengelolaan penyakit, pencegahan komplikasi, serta
pentingnya pemeriksaan rutin. Bagi penulis, laporan ini diharapkan dapat menjadi
bahan pembelajaran serta acuan dalam memberikan asuhan keperawatan
komprehensif pada pasien dengan Diabetes Melitus di masa mendatang.
18
DAFTAR PUSTAKA
Antar, S. A., Ashour, N. A., Sharaky, M., Khattab, M., Ashour, N. A., Zaid, R. T.,
Roh, E. J., Elkamhawy, A., & Al-Karmalawy, A. A. (2023). Diabetes mellitus:
Classification, mediators, and complications; A gate to identify potential
targets for the development of new effective treatments. Biomedicine and
Pharmacotherapy, 168. [Link]
ElSayed, N. A., Aleppo, G., Aroda, V. R., Bannuru, R. R., Brown, F. M.,
Bruemmer, D., Collins, B. S., Gaglia, J. L., Hilliard, M. E., Isaacs, D., Johnson,
E. L., Kahan, S., Khunti, K., Leon, J., Lyons, S. K., Perry, M. Lou, Priya, P.,
Pratley, R. E., Seley, J. J., … Gabbay, R. A. (2023). Disclosures: Standards of
Care in Diabetes. Diabetes Care, 46(Supplement_1), 519–540.
[Link]
Nabila Miranda, A., & Isti Angraini, D. (2025). Penatalaksanaan pada Perempuan
usia 48 Tahun dengan Diabetes Melitus Tipe 2 dan Prehipertensi melalui
Pendekatan Kedokteran Keluarga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Sari
Natar. Medula, 15(5), 248–257.
Simatupang, O. R., Kristina, M., Nauli, S., & Sibolga, H. (2023). PENYULUHAN
TENTANG DIABETES MELITUS PADA LANSIA PENDERITA DM. JPM
Jurnal Pengabdian Mandiri, 2(3), 849–858.
[Link]
Widiasari, K. R., Made, I., Wijaya, K., & Suputra, P. A. (2021). DIABETES
MELITUS TIPE 2: FAKTOR RISIKO, DIAGNOSIS, DAN
TATALAKSANA. Ganesha Medicina Journal, 1(2), 114–120.
Widyadhari Damayanti, V., Yonata, A., & Kurniawaty, E. (2023). Hipertensi pada
Diabetes Melitus: Patofisiologi dan Faktor Risiko. Medula, 14(1), 1253–1257.
19