Desain Struktur Tahan Gempa dan Daktilitas
Desain Struktur Tahan Gempa dan Daktilitas
TINJAUAN PUSTAKA
Pada prinsipnya gaya gempa dapat dirumuskan seperti hukum Newton, yang
mana massa bangunan berbanding lurus dengan gaya gempa yang bekerja pada
bangunan tersebut. Semakin besar massa bangunan, maka semakin besar pula gaya
gempa yang bekerja pada bangunan tersebut.
F=mxa
Keterangan:
M = Massa bangunan
5
2.1.1 Daktilitas Struktur
Daktilitas merupakan kemampuan struktur gedung untuk mengalami
simpangan pasca-elastik yang besar secara berulang kali dan bolak balik akibat
beban gempa yang menyebabkan pelelehan pertama, sambil mempertahankan
kekuatan dan kekakuan yang cukup, sehingga struktur gedung tersebut tetap berdiri,
walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan (SNI 1726 2002 pasal
[Link] hal. 4).
Pada SNI 1726 2002 (pasal [Link] dan [Link] halaman 5) memberikan
penjelasan terkait tingkat daktilitas struktur :
6
2.2.1 Beban Mati (Dead Load)
Menurut PPURG 1987 halaman 1 beban mati adalah berat dari semua bagian
dari suatu gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan,
penyelsaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari bangunan itu.
Menurut PPURG 1987 halaman 2 beban hidup adalah semua beban yang tejadi
akibat penghunian atau penggunaan gedung, termasuk beban-beban yang dapat
berpindah.
Dalam skripsi ini menggunakan tata cara perencanaan ketahanan gempa sesuai
dengan SNI 1726 2012 yang menyatakan bahwa gempa ditetapkan sebagai gempa
dengan kemungkinan terlewati besarnya selama umur struktur bangunan 50 tahun
adalah sebesar 2%. Untuk peta gmpa pada skripsi ini menggunakan peta sumber
dan bahaya gempa Indonesia yang terbaru yaitu tahun 2017 yang disusun oleh Tim
Pusat Gempa Nasional (PUSGEN).
7
Gambar 2.1 Peta Percepatan Spectrum Respon 1 Detik (SS) Dengan Nisbah Redaman 5% di Batuan Dasar SB Untuk Probabilitas
Terlampaui 2% Dalam 50 Tahun Berdasarkan Peta Gempa 2017
8
Gambar 2.2 Peta Percepatan Spectrum Respon 1 Detik (S1) Dengan Nisbah Redaman 5% di Batuan Dasar SB Untuk Probabilitas
Terlampaui 2% Dalam 50 Tahun Berdasarkan Peta Gempa 2017
9
[Link] Parameter Perhitungan Beban Gempa
10
2. Menentukan faktor keutamaan gempa (Ie) (Tabel 2 SNI 1726-2012
Halaman 15).
11
Tabel 2.4 Koefisien Situs (Fv)
SMS = Fa x Ss .................................................................................(2-1)
Keterangan:
SM1 = Fv x S1 ................................................................................(2-2)
Keterangan:
12
8. Menghitung nilai percepatan desain pada periode pendek (SDS) dengan
rumus sebagai berikut, sesuai dengan SNI 1726-2012 pasal 6.3 halaman
22:
SDS = SMS ....................................................................................(2-3)
Keterangan:
Keterangan:
1. 1,4D
2. 1,2D + 1,6L + 0,5 ( Lr atau S atau R )
3. 1,2D + 1,6 ( Lr atau S atau R ) + ( L atau 0,5W )
4. 1,2D + 1,0W + L + 0,5 ( Lr atau S atau R )
5. 1,2D + 1,0E + L + 0,2S
6. 0,9D + 1,0W
13
7. 0,9D + 1,0E
Pengecualian :
= + .................................................................................(2-5)
= − ..................................................................................(2-6)
Keterangan :
14
[Link].1 Pengaruh Beban Gempa Horizontal
Menurut SNI 1726 2012 pasal [Link] pengaruh beban gempa horizontal, Eh
harus ditentukan sesuai dengan persamaan berikut :
ℎ= .........................................................................................(2-7)
Keterangan :
Keterangan :
15
= + ............................................................................(2-9)
= − ..........................................................................(2-10)
Keterangan :
= Ω ...........................................................................................(2-11)
Keterangan :
= faktor kuat-lebih
16
3. (1,2 + 0,2 SDS )D + Ω + +L
7. (0,9 - 0,2 SDS )D + Ω + + 1,6H
CATATAN :
1. Faktor beban pada L dalam kombinasi 5 diijinkan sama dengan 0,5 untuk
semua hunian dimana besarnya beban hidup merata kurang dari atau sama
dengan 5 kN/m², dengan pengecualian garasi atau ruang pertemuan
2. Faktor beban pada H harus ditetapkan sama dengan nol dalam kombinasi
7 jika aksi struktur akibat H melawan yang diakibatkan E. Jika tekanan
tanah lateral menyediakan tahanan terhadap aksi struktur dari gaya
lainnya, faktor beban tidak boleh dimasukan dalam H tetapi harus
dimasukan dalam tahanan desain.
1. 1,4
2. 1,4 + 1,6
3. 1,2 + + +
4. 0,9 + + +
Kombinasi beban gempa akibat pengaruh beban gempa horizontal dan vertikal
dengan faktor kuat lebih menjadi seperti berikut :
1. 1,4
2. 1,4 + 1,6
3. 1,2 + + Ω + 0,2
4. 0,9 + + Ω − 0,2
Sehingga kombinasi yang akan digunakan pada penyusunan tugas akhir ini adalah
sebagai berikut :
1. 1,4
2. 1,4 + 1,6
3. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
17
4. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
5. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
6. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
7. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
8. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
9. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
10. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
11. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
12. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
13. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
14. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
15. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
16. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
17. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
18. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
Analisis beban gempa dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu sebagai
berikut :
Dalam suatu perencanaan beban gempa, metode yang sederhana dan sering
digunakan adalah metode analisis statik ekivalen, sehingga dalam perencanaan
beban gempa pada Gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan perlu dilakukan
pengontrolan apakah cukup menggunakan analisis gempa dengan statik ekivalen
atau menggunakan analisis gempa dinamik. Berikut langkah-langkah pengontrolan
18
batasan penggunaan prosedur analisis gempa statik ekivalen menurut SNI
1726:2012 pasal 7.8:
= 0,1 ...................................................................................(2-12)
Keterangan :
N = Jumlah tingkat
2. Untuk struktur dengan ketinggian < 12 tingkat (SNI 1726 2012 pasal
[Link] halaman 56)
= .ℎ .................................................................................(2-13)
Keterangan :
hn = Ketinggian struktur
19
Tabel 2.5 Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct dan x
Keterangan :
Tabel 2.6 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung
Adapun perioda yang digunakan menurut SNI 1726 2012 pasal 7.8.2 halaman
55 :
20
3. Jika Tc < Ta, maka T = Ta
Keterangan:
Ts = SD1/SDS
V = Cs x W ..............................................................................................(2-16)
Keterangan :
W = Berat seismik efektif struktur (sesuai SNI 1726 2012 pasal 7.7.2)
Keterangan :
21
Ie = Faktor keutamaan gempa
b. = ×(
.................................................................................. (2-18)
)
Keterangan :
= × ..................................................................................(2-19)
= ∑
.....................................................................................(2-20)
Keterangan :
wi, wx = bagian berat seismik efektif total struktur (W) yang ditempatkan
22
Untuk struktur dengan periode sebesar 0,5 detik atau kurang
(k=1)
Untuk struktur dengan periode sebesar 2,5 detik atau lebih
(k=2)
Untuk struktur dengan periode antara 0,5-2,5 detik, k harus
sebesar 2 atau dilakukan interpolasi liniear antara 1 dan 2.
T0 = 0,2 ..............................................................................(2-21)
Keterangan:
T0 = Periode
TS = .................................................................................(2-22)
Keterangan:
Ts = Periode
23
a. Untuk T < T0
Keterangan:
b. Untuk T ≥ T0
Sa = SDS ......................................................................................(2-24)
Keterangan:
c. Untuk T ≥ Ts
Sa = ...................................................................................(2-25)
Keterangan:
T = Periode
24
Gambar 2.3 Spektrum Respons Desain
(Sumber: SNI 1726-2012 Halaman 23)
25
2.4.2 Eksentrisitas Rencana
Antara pusat massa dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu
eksentrisitas rencana (ed). Apabila ukuran horizontal terbesar denah struktur
gedung pada lantai tingkat itu, diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa,
dinyatakan dengan b, maka eksentrisitas rencana ed harus ditentukan seperti
persamaan berikut :
1. Untuk 0 < e < 0,3b :
atau,
ed = e – 0,05b ...............................................................................(2-27)
atau,
26
2.5 Kinerja Struktur Gedung
2.5.1 Kinerja Batas Layan
Kinerja batas layan struktur gedung ditetukan oleh simpangan antar-tingkat
akibat pengaruh beban gempa rencana, yaitu untuk membatasi terjadinya pelelehan
baja dan peretakan beton yang berlebihan, disamping itu juga untuk mencegah
kerusakan pada komponen non struktur dan ketidaknyamanan penghuni gedung.
(SNI 1726 2002 pasal 8.1.1 halaman 35).
Menurut SNI 1726 2002 bahwa syarat simpangan struktur gedung tidak boleh
melebihi yang terkecil dari :
a. 0,03/R x tinggi tingkat yang bersangkutan
b. 30 mm
27
2.6.1 Tulangan Maksimum
Ada persyaratan bahwa untuk balok atau komponen struktur lainnya yang
menerima beban lentur murni harus bertulang lemah (terkendali tarik/under
reinforced) sehingga tulangan akan rusak terlebih dahulu. SNI 2847 2013 pasal
10.3.3 halaman 221 memberikan batasan bahwa ρ (rasio tulangan terhadap bd) tidak
boleh melebihi 0,75 ρb, yang akan menghasilkan kondisi regangan seimbang.
, . .
As maks = 0,75. ( × ) ....................................................... (2-30)
, √
As min = , . ....................................................................................(2-31)
, √
As min = , . ....................................................................................(2-32)
1. Jika mempunyai pelat dua sisi, maka lebar efektif sayap diambil nilai
terkecil dari :
a. Beff < ¼ panjang bentang balok yang ditinjau
b. Beff < bw + 8 tebal pelat sisi kiri + 8 tebal pelat sisi kanan
c. Beff < bw ½ x jarak bersih ke badan disebelahnya
2. Jika mempunyai pelat satu sisi, maka lebar sayap efektif diambil dari nilai
terkecil dari:
a. Beff < 1/12 panjang bentang balok yang ditinjau
b. Beff < bw + 6 tebal pelat
28
c. Beff < bw + ½ jarak bersih ke badan disebelahnya.
Analisa balok tulangan rangkap dimana dimisalkan tulangan tekan belum leleh
dan tulangan tarik telah leleh.
= 0,85. . .
= . ′
= .
Ʃ =0
+ =
0,85 . . . + . = .
= ,
= .
29
= .( )
= . .( )
= . 0,003 (200000)
−
= . (600)
Maka,
+ =
εc = 0,003
( )
fs’ =
( )
fs’ = 0,003 200000
( )
fs’ = 600
( ;)
(0,[Link]’.a.b) + As’. = As. fy ulir
±√
c1,2 =
30
direncanakan tulangan lentur saja, tetapi juga harus direncanakan tulangan
gesernya.
Menurut SNI 2847 2013 pasal 11.1.1 halaman 87, menyatakan bahwa desain
penampang yang terkena gaya geser adalah seperti berikut :
∅ ≥ ................................................................................................(2-35)
= + ............................................................................................(2-36)
Dimana:
Kuat geser nominal beton (Vc) untuk komponen struktur yang dikenai geser
dan lentur saja dapat dihitung dengan rumus di bawah ini dengan SNI 2847 2013
pada sub bab [Link]. halaman 89:
Vc = 0,17 . . .
Jika Vu > ØVc, maka perhitungan Vs menurut SNI 2847 2013 pada sub bab
[Link] halaman 93 dapat menggunakan rumus :
. .
Vs =
Keterangan :
Av = Luas tulangan geser yang berada dalam daerah sejarak s
s = spasi tulangan geser dalam arah paralel terhadap tulangan longitudinal
d = jarak dari serat terluar ke titik berat tulangan tarik longitudinal
bw = lebar badan (web) balok
31
2.6.6 Perencanaan Balok Terhadap Torsi
1. Dikontrol apakah butuh tulangan torsi
Pada SNI 2847 2013 pasal 11.5.1 halaman 94 menyatakan bahwa
pengaruh torsi untuk komponen struktur non prategang boleh diabaikan bila
momen torsi terfaktor, Tu kurang dari :
Keterangan :
Acp = luas penampang beton
Pcp = keliling penamapang beton
fc’ = mutu beton
λ = 1 (beton normal)
Ø = 0,75 (faktor reduksi untuk torsi)
2. Periksa kecukupan penampang
Memeriksa kecukupan penampang untuk penampang solid dapat dilihat
pada SNI 2847 2013 pasal [Link] halaman 96 :
( ) + ,
< + 0,66 √ ′
Keterangan:
Ph = keliling pusat tulangan torsi transversal tertutup luar (mm)
Aoh = luas bersih (terarsir) yang dibatasi oleh garis berat sengkang
tertutup (mm2)
Ao = luas bruto yang dilingkupi oleh jalur alir geser (mm2)
bw = lebar badan balok (bw)
Vu = Gaya geser terfaktor pada penamapang (N)
d = jarak serat tekan terjauh ke pusat tulangan tarik longitudinal (mm)
Tu = momen torsi terfaktor pada penampang (Nmm)
fc’ = kuat tekan beton (Mpa)
Vc = kuat geser nominal yang disediakan oleh beton (N)
3. Kebutuhan tulangan longitudinal torsi :
=
Keterangan:
32
Tn = kekuatan momen torsi nominal (Nmm)
fyt = kuat leleh tulangan torsi (Mpa)
Ao = luas bruto yang dilingkupi oleh jalur alir geser (mm2)
4. Menghitung luas total minimum tulangan torsi longitudinal menurut SNI
2847 2013 pasal [Link] halaman 99:
,
Almin = − ℎ
[Link] Pu ≤ Ag.f’c/10
[Link] ln ≥ 4d
33
[Link] bw ≤ lebar c2 ditambah suatu jarak pada masing-masing sisi komponen
struktur penumpu yang sama dengan dan yang lebih kecil dari:
Keterangan:
Syarat-syarat untuk penulangan longitudinal diatur dalam SNI 2847 2013 pasal
21.5.2 halaman 186, yaitu sebagai berikut:
[Link] Jumlah untuk tulangan atas maupun bawah tidak boleh kurang dari kedua
persamaan ini:
, √
bw.d .......................................................................................(2-37)
, . .
................................................................................................(2-38)
Keterangan:
34
Rasio tulangan (ρ) ≤ 0,025. Paling sedikit dua bentang tulangan harus disediakan
menerus pada kedua sisi atas dan bawah
[Link] Kekuatan momen (+) pada muka joint ≥ 0,5 kekuatan momen (-) yang
disediakan pada muka joint tersebut Kekuatan momen (-) atau momen (+)
pada sebarang penampang sepanjang panjang komponen struktur ≥ ¼
kekuatan momen maks yang disediakan pada muka salah satu joint
tersebut.
[Link] Sambungan lewatan (SL) diizinkan jika tulangan sengkang atau spiral
disediakan sepanjang panjang [Link] tulangan transversal yang
melingkupi batang tulangan yang disambung lewatkan ≤ d/4 dan 100 mm.
Sambungan lewatan tidak boleh digunakan pada:
a. Dalam joint.
b. Dalam jarak 2 kali komponen struktur dari muka joint.
c. Bila analisis menunjukan pelelehan lentur yang diakibatkan oleh
perpindahan lateral inelastis rangka.
35
Gambar 2.4 Contoh-Contoh Sengkang Tertutup Saling Tumpuk
[Link] Sengkang tertutup pertama harus ditempatkan tidak lebih dari 50 mm dari
kolom. Spasi (s) sengkang tertutup tidak boleh melebihi yang terkecil
dari:
a. d/4
b. 6 kali diameter terkecil tulangan lentur utama dan tidak termasuk
tulangan kulit longitudinal yang disyaratkan 10.6.7
c. 150 mm.
36
[Link] Jika sengkang tertutup diperlukan, tulangan lentur utama yang terdekat
dengan muka tarik dan tekan harus memunyai tumpuan lateral yang
memenuhi [Link] atau [Link]. Spasi (s) batang tulangan lentur yang
tertumpu secara transversal ≤ 300 mm. Tulangan kulit yang disyaratkan
oleh 10.6.7 tidak perlu tertumpu secara lateral
[Link] Jika sengkang tertutup tidak diperlukan,sengkang dengan kait gempa pada
kedua ujung spasinya ≤ d/2 sepanjang komponen struktur
[Link] Sengkang yang diperlukan untuk menahan gaya geser harus memenuhi
syarat poin 1 ([Link])
[Link] Sengkang pada komponen lentur boleh terbentuk dari dua potong
tulangan.
[Link] Gaya geser desain (Ve) ditentukan dari gaya statis pada komponen struktur
antar muka-muka joint. Harus diasumsikan bahwa momen-momen dengan
tanda yang berlawanan ada hubungannya dengan kekuatan momen lentur
yang mungkin (Mpr) yang bekerja pada muka-muka joint. Struktur
dibebani oleh beban gravitasi terfaktor disepanjang bentangnya.
37
Gambar 2.5 Geser Desain Untuk Balok
[Link] Tulangan transversal dalam [Link] harus mampu menahan gaya geser
dengan mengasumsikan Vc = 0, jika:
Komponen struktur rangka untuk yang menahan gaya gempa dan gaya aksial
terfaktor (Pu) harus memenuhi syarat-syarat pada SNI 2847-2013 pasal [Link]
sampai [Link] halaman 186, yaitu sebagai berikut:
38
[Link] Kekuatan lentur minimum kolom harus memenuhi syarat pada SNI
2847:2013 pasal 21.6.2, per (21-1) halaman 191, yaitu:
Keterangan:
Jika kekuatan lentur minimum kolom tidak terpenuhi, maka kekuatan lateral
dan kekakuan kolom harus diabaikan dan kolom-kolom tersebut tidak ditetapkan
sebagai komponen penahan gaya gempa. Untuk penulangan memanjang harus
memenuhi syarat-syarat pada SNI 2847:2013 pasal [Link] sampai dengan [Link]
halaman 191, yaitu:
[Link] Luas tulangan memanjang (Ast) tidak boleh kurang dari 0,01Ag dan tidak
boleh lebih dari 0,06Ag
[Link] Tulangan transversal dipasang sepanjang panjang (lo). Pajang (lo) tidak
boleh kurang dari yang nilainya terbesar antara:
39
[Link] Tulangan transversal harus disediakan dari spiral tunggal atau saling
tumpuk, sengkang bulat, sengkang persegi dengan atau tanpa pengikat
silang. Ukuran tulangan pengikat silang diperbolehkan sama atau lebih
kecil dari ukuran begelnya. Setiap ujung pengikat silang harus
memegang tulangan longitudinal terluar. Spasi (so) pengikat silang atau
kaki sengkang persegi (hx) tidak boleh melebihi 350 mm pusat ke pusat.
[Link] Spasi tulangan transversal sepanjang lo tidak boleh melebihi yang terkecil
dari:
So = 100 + ( ) ..............................................................(2-40)
40
[Link] Rasio volume tulangan spiral (ρs) tidak boleh kurang dari kedua persamaan
ini:
Keterangan:
.
Ash= 0,09 ......................................................................... (2-44)
[Link] Diluar panjang lo, kolom harus mengandung tulangan spiral atau sengkang
dengan spasi (s) pusat ke pusat tidak melebihi 6 kali diameter tulangan
kolom longitudinal terkecil dan 150 mm, kecuali bila tulangan transversal
lebih besar.
[Link] Gaya geser desain (Ve) ditentukan dari kekuatan momen maksimum yang
mungkin (Mpr) yang ada kaitannya dengan beban aksial terfaktor (Pu)
yang bekerja pada komponen struktur. Dalam semua kasus, Ve tidak
boleh kurang dari geser terfaktor yang ditentukan oleh analisis struktur.
41
Gambar 2.7 Geser Desain Untuk Kolom
[Link] Tulangan transversal (lo) harus mampu menahan gaya geser dengan
mengasumsikan Vc = 0, jika:
[Link] Untuk beton normal, kekuatan geser nominal (Vn) pada HBK tidak boleh
diambil yang lebih besar dari nilai-nilai yang ditetapkan di bawah ini:
42
Gambar 2.8 Luas Hubungan Balok Kolom (Joint) Efektif
b. Untuk HBK yang terkekang oleh balok-balok pada tiga muka atau
dua muka yang berlawanan:
43
Suatu balok dianggap memberikan pengekangan pada HBK jika balok
tersebut menutupi paling sedikit ¾ muka HBK. Luas penampang efektif
(Aj) HBK dihitung dari tinggi HBK dikali dengan lebar efektif HBK.
Tabel 2.7 Korelasi Kepadatan Relatif (Dr) Tanah Pasir dengan NSPT
44
keluar pada waktu pengecoran beton. Pada tanah yang keras atau batuan lunak,
dasar tiang dapat dibesarkan untuk memenuhi tahanan dukung ujung tiang.
Keterangan :
a. Daya dukung ultimit pada ujung tiang bor dinyatakan sebagai berikut :
= . ................................................................................ (2-49)
Keterangan :
45
b. Daya dukung selimut tiang dinyatakan sebagai berikut :
= . ................................................................................... (2-50)
Keterangan :
Keterangan :
d. Untuk tiang dengan desakan tanah yang kecil seperti tiang bor dan tiang
baja H, maka daya dukung selimut hanya diambil separuh formula diatas,
sehingga:
46
= 40. . + (0,1. . ) ............................................ (2-52)
Keterangan :
= Faktor keamanan
Menurut Reese & O’ Neil, 1989 menentukan faktor keamanan dapat dilihat
dalam tabel berikut ini:
Faktor Aman
Klasifikasi
Kontrol Kontrol Sangat
Struktur Kontrol Baik Kontrol Jelek
Normal Jelek
Monumental 2,3 3 3,5 4
Permanen 2 2,5 2,8 3,4
Sementara 1,4 2 2,3 2,8
47
Keterangan :
Penurunan kelompok tiang lebih besar dari penurunan tiang tunggalnya, pada
beban struktur yang sama. Hal ini karena pada tiang tunggal luas zona tertekan pada
bagian bawah tiang sangat lebih kecil daripada luas zona tertekan untuk kelompok
tiang, sehingga penurunan kelompok tiang menjadi lebih besar daripada penurunan
tiang tunggal.
Dalam sistem kelompok tiang, baik pada ujung maupun pada keliling tiang
akan terjadi overlapping (tumpang tindih) pada daerah yang mengalami tegangan
akibat beban kerja struktur sehingga menimbulkan daerah pengaruh tegangan pada
kelompok tiang. Daerah pengaruh tegangan pada kelompok tiang atau yang
kemudian disebut overlapping zona tegangan di sekitar tiang ini bergantung pada
48
jarak antar tiang dimana jarak antar tiang yang memadai diantara tiang akan
mereduksi tumpang tinding dari banyaknya tiang yang memberi kontribusi kepada
tiap daerah.
Keterangan :
n = jumlah tiang
49
[Link] Menentukan Daya Dukung Kelompok Tiang
= x ............................................................................. (2-55)
Dimana :
= jumlah tiang
,
= .....................................................................................(2-56)
a. Jika S > 3.D, daya dukung kelompok tiang dapat diambil sama besar
dengan jumlah dari seluruh daya dukung tiang ( ≥ 1)
b. Jika 2,5 ≤ S ≤ 3.D, maka gunakan formula efisiensi yang ada. ( < 1)
E ×
............................................................(2-57)
50
[Link] Efisiensi Kelompok Tiang
a. Formula Sederhana
Formula ini didasarkan pada jumlah daya dukung gesekan dari kelompok tiang
sebagai satu kesatuan (blok).
( )
= . .
................................................................................... (2-58)
Keterangan :
= diameter tiang
51
c. Formula Los Angeles
= 1− . . .
. ( − 1) + ( − 1). ( − 1)√2 ......................... (2-60)
52
Gambar 2.12 Efisiensi Kelompok Tiang Formula Feld
Gaya horizontal ultimit dinyatakan oleh Paulos dan Davis (1980) dengan
perancangan pondasi tiang yang tiang yang menahan gaya lateral, harus
memperhatikan 2 kriteria, yaitu :
Defleksi yang terjadi akibat beban yang bekerja harus dalam batas-batas
toleransi.
.
= ... (dalam satuan panjang) ......................................................(2-62)
Keterangan :
53
= faktor kekakuan
P P
My Mx
Pile Cap
. .
max − min = ± ∑
± ∑
........................................................(2-63)
54
Keterangan :
= jumlah pondasi
Bila P maksimum yang terjafi bernilai positif, maka pile mendapatkan gaya
tekan. Bila P maksimum yang terjadi bernilai negative, maka pile mendapatkan
gaya Tarik. Dari hasil-hasil tersebut dapat dilihat apakah masing-masing tiang
masih memenuhi daya dukung tekan dana tau Tarik bila ada.
Keterangan :
d = Tinggi efektif
c = lebar bidang
55
βc = perbandingan sisi panjang dan pendek kolom
Keterangan :
L = panjang tiang
3. = ............................................................................. (2-69)
Keterangan :
56
Sp = penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada
ujung
Tiang
Cp = koefisien empiris
D = diameter tiang
4. = (1 − )
Keterangan :
L = panjang tiang
μs = angka poisson
= 2 + 0,35 ...................................................................(2-70)
57
2.11.2 Penurunan Kelompok Pondasi Tiang
Sg =S
Keterangan :
58