0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan54 halaman

Desain Struktur Tahan Gempa dan Daktilitas

Dokumen ini membahas prinsip dasar perencanaan bangunan tahan gempa, termasuk pentingnya sendi plastis dan daktilitas struktur untuk mengatasi beban gempa. Selain itu, dijelaskan berbagai jenis beban yang bekerja pada struktur, seperti beban mati, hidup, dan gempa, serta metode perhitungan dan kombinasi pembebanan sesuai dengan SNI 1726. Penekanan juga diberikan pada pengaruh beban gempa horizontal dan vertikal dalam perencanaan struktur yang aman.

Diunggah oleh

oposeh753
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan54 halaman

Desain Struktur Tahan Gempa dan Daktilitas

Dokumen ini membahas prinsip dasar perencanaan bangunan tahan gempa, termasuk pentingnya sendi plastis dan daktilitas struktur untuk mengatasi beban gempa. Selain itu, dijelaskan berbagai jenis beban yang bekerja pada struktur, seperti beban mati, hidup, dan gempa, serta metode perhitungan dan kombinasi pembebanan sesuai dengan SNI 1726. Penekanan juga diberikan pada pengaruh beban gempa horizontal dan vertikal dalam perencanaan struktur yang aman.

Diunggah oleh

oposeh753
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Dasar


Dalam perencanaan bangunan tahan gempa, terbentuknya sendi-sendi plastis
yang mampu memencarkan energi gempa dan membatasi besarnya beban gempa
yang masuk ke dalam struktur harus dikendalikan sedemikian rupa agar struktur
berperilaku memuaskan dan tidak sampai runtuh saat terjadi gempa kuat. Pada
prinsipnya dengan konsep desain kapasitas elemen-elemen utama penahan beban
gempa kuat dapat dipilih, direncanakan dan didetail sedemikian rupa, sehingga
mampu memancarkan energi gempa dengan deformasi inelastik yang cukup besar
tanpa runtuh, sedangkan elemen-elemen lainnya diberi kekuatan yang cukup, maka
mekanisme yang telah dipilih dapat dipertahankan pada saat terjadi gempa kuat
(Gideon Kusuma dan Takim Andriono, Desain Struktur Rangka Beton Bertulang
di Daerah Rawan Gempa Seri III, 1993).

Pada prinsipnya gaya gempa dapat dirumuskan seperti hukum Newton, yang
mana massa bangunan berbanding lurus dengan gaya gempa yang bekerja pada
bangunan tersebut. Semakin besar massa bangunan, maka semakin besar pula gaya
gempa yang bekerja pada bangunan tersebut.

Menurut Hukum Newton :

F=mxa

Keterangan:

F = Gaya gempa yang bekerja

M = Massa bangunan

a = Percepatan yang dihasilkan.

5
2.1.1 Daktilitas Struktur
Daktilitas merupakan kemampuan struktur gedung untuk mengalami
simpangan pasca-elastik yang besar secara berulang kali dan bolak balik akibat
beban gempa yang menyebabkan pelelehan pertama, sambil mempertahankan
kekuatan dan kekakuan yang cukup, sehingga struktur gedung tersebut tetap berdiri,
walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan (SNI 1726 2002 pasal
[Link] hal. 4).

2.1.2 Tingkat Daktilitas

Pada SNI 1726 2002 (pasal [Link] dan [Link] halaman 5) memberikan
penjelasan terkait tingkat daktilitas struktur :

1. Daktail penuh : struktur mampu mengalami simpangan pasca-elastik pada


saat mencapai kondisi di ambang keruntuhan yang paling besar, yaitu
dengan mencapai nilai faktor daktilitas sebesar 5.3
2. Daktail parsial : struktur gedung dengan nilai faktor daktilitas antara 1
(elastik penuh) dan 5,3 (daktail penuh)

2.1.3 Faktor Daktilitas

Faktor daktilitas adalah rasio antara simpangan maksimum struktur gedung


pada saat mencapai kondisi diambang keruntuhan dan simpangan struktur gedung
pada saat terjadinya pelelehan pertama di dalam struktur gedung ( SNI 1726 2002
pasal [Link] halaman 4).

2.2 Pembebanan Pada Struktur


Beban beban yang bekerja pada suatu struktur tidak selalu bisa diramalkan
dengan tepat sebelumnya, bahkan apabila beban – beban tersebut telah diketahui
dengan baik pada salah satu lokasi sebuah struktur tertentu biasanya masih
membutuhkan asumsi dan pendekatan. Adapun beberapa jenis beban yang bekerja
pada suatu struktur antara lain :

6
2.2.1 Beban Mati (Dead Load)

Menurut PPURG 1987 halaman 1 beban mati adalah berat dari semua bagian
dari suatu gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan,
penyelsaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari bangunan itu.

2.2.2 Beban Hidup (Live Load)

Menurut PPURG 1987 halaman 2 beban hidup adalah semua beban yang tejadi
akibat penghunian atau penggunaan gedung, termasuk beban-beban yang dapat
berpindah.

2.2.3 Beban Gempa (Eartquake Load)

Dalam skripsi ini menggunakan tata cara perencanaan ketahanan gempa sesuai
dengan SNI 1726 2012 yang menyatakan bahwa gempa ditetapkan sebagai gempa
dengan kemungkinan terlewati besarnya selama umur struktur bangunan 50 tahun
adalah sebesar 2%. Untuk peta gmpa pada skripsi ini menggunakan peta sumber
dan bahaya gempa Indonesia yang terbaru yaitu tahun 2017 yang disusun oleh Tim
Pusat Gempa Nasional (PUSGEN).

7
Gambar 2.1 Peta Percepatan Spectrum Respon 1 Detik (SS) Dengan Nisbah Redaman 5% di Batuan Dasar SB Untuk Probabilitas
Terlampaui 2% Dalam 50 Tahun Berdasarkan Peta Gempa 2017

8
Gambar 2.2 Peta Percepatan Spectrum Respon 1 Detik (S1) Dengan Nisbah Redaman 5% di Batuan Dasar SB Untuk Probabilitas
Terlampaui 2% Dalam 50 Tahun Berdasarkan Peta Gempa 2017

9
[Link] Parameter Perhitungan Beban Gempa

Berikut adalah tata cara perencanaan atau perhitungan beban gempa :

1. Menentukan kategori resiko bangunan (Tabel 1 SNI 1726:2012 Halaman


14-15).

Tabel 2.1 Kategori Resiko Bangunan

Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 14-15

10
2. Menentukan faktor keutamaan gempa (Ie) (Tabel 2 SNI 1726-2012
Halaman 15).

Tabel 2.2 Faktor Keutamaan Gempa

Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 15

3. Klasifikasi situs tanah, Percepatan gempa MCEr terpetakan untuk periode


pendek (Ss), Percepatan gempa MCEr terpetakan untuk periode 1 detik
(S1) (Bersumber dari aplikasi spektra Indonesia).
Tabel 2.3 Koefisien Situs (Fa)

Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 22

4. Menentukan nilai faktor amplifikasi periode pendek (Fa) (Tabel 4 SNI


1726-2012 Halaman 22).
5. Menentukan nilai faktor amplifikasi periode 1 detik (Fv) (Tabel 5 SNI
1726-2012 Halaman 22).

11
Tabel 2.4 Koefisien Situs (Fv)

Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 22

6. Menghitung nilai percepatan pada periode pendek (SMS) dengan rumus


sebagai, berikut sesuai dengan SNI 1726-2012 pasal 6.2 halaman 21:

SMS = Fa x Ss .................................................................................(2-1)

Keterangan:

SMS = Percepatan pada periode pendek

Fa = Faktor amplifikasi periode pendek

Ss = Percepatan gempa MCEr terpetakan untuk periode pendek

7. Menghitung nilai percepatan pada periode 1 detik (SM1) dengan rumus


sebagai berikut, sesuai dengan SNI 1726-2012 pasal 6.2 halaman 21:

SM1 = Fv x S1 ................................................................................(2-2)

Keterangan:

SM1 = Percepatan pada periode 1 detik

Fv = Faktor amplifikasi periode 1 detik

S1 = Percepatan gempa MCEr terpetakan untuk periode 1 detik

12
8. Menghitung nilai percepatan desain pada periode pendek (SDS) dengan
rumus sebagai berikut, sesuai dengan SNI 1726-2012 pasal 6.3 halaman
22:
SDS = SMS ....................................................................................(2-3)

Keterangan:

SDS = Percepatan spektral desain untuk periode pendek

SMS = Percepatan pada periode pendek

9. Menghitung nilai percepatan desain pada periode 1 detik (SD1), sesuai


dengan SNI 1726-2012 pasal 6.3 halaman 22:

SD1 = SM1 ....................................................................................(2-4)

Keterangan:

SD1 = Percepatan spektral desain untuk periode 1 detik

SM1 = Percepatan pada periode 1 detik

2.2.4 Kombinasi Pembebanan


Kombinasi pembebanan untuk metode ultimit, mengaharuskan struktur,
komponen-komponen struktur dan fondasi dirancang sedemikian rupa hingga kuat
rencananya sama atau melebihi pengaruh dari beban terfaktor. Berdasarkan SNI
1727-2013 pasal 2.3.2 halaman 11 kombinasi-kombinasi pembebanan yang
digunakan yaitu sebagai berikut:

1. 1,4D
2. 1,2D + 1,6L + 0,5 ( Lr atau S atau R )
3. 1,2D + 1,6 ( Lr atau S atau R ) + ( L atau 0,5W )
4. 1,2D + 1,0W + L + 0,5 ( Lr atau S atau R )
5. 1,2D + 1,0E + L + 0,2S
6. 0,9D + 1,0W

13
7. 0,9D + 1,0E

Pengecualian :

1. Faktor beban pada L dalam kombinasi 3, 4, dan 5 diizinkan sebesar 0,5


untuk semua tingkat hunian bila Lo pada tabel 4.1 kurang dari atau sama
dengan 100 psf (4,79 kN/m²), dengan pengecualian daerah garasi atau
ruang pertemuan umum.

[Link] Pengaruh Beban Gempa


Berdasarkan SNI 1726 2012 pasal 7.4.2 pengaruh beban gempa, E harus sesuai
dengan rumusan berikut :
1. Untuk penggunaan dalam kombinasi beban 5 dalam 4.2.2 atau kombinasi
beban 5 dan 6 dalam 4.2.3, E harus ditentukan sesuai dengan persamaan
berikut :

= + .................................................................................(2-5)

2. Untuk penggunaan dalam kombinasi beban 7 dalam 4.2.2 atau kombinasi


beban 8 dalam 4.2.3, E harus ditentukan sesuai dengan persamaan berikut:

= − ..................................................................................(2-6)

Keterangan :

E = Pengaruh beban gempa

Eh = Pengaruh beban gempa horizontal seperti didefiniskan dalam


[Link];

Ev = Pengaruh beban gempa vertikal seperti didefinisikan dalam [Link]

14
[Link].1 Pengaruh Beban Gempa Horizontal

Menurut SNI 1726 2012 pasal [Link] pengaruh beban gempa horizontal, Eh
harus ditentukan sesuai dengan persamaan berikut :

ℎ= .........................................................................................(2-7)

Keterangan :

= adalah pengaruh gaya gempa horizontal dari V atau FP. Jika


diisyaratkan dalam 7.5.3 dan 7.5.4, pengaruh tersebut harus dihasilkan dari
penerapan gaya horizontal secara serentak dalamm dua arah tegak lurus satu
sama lain

= adalah faktor redundansi, seperti didefinisikan dalam 7.3.4

[Link].2 Pengaruh Beban Gempa Vertikal


Menurut SNI 1726 2012 pasal [Link], pengaruh beban gempa vertikal Ev harus
ditentukan sesuai dengan persamaan berikut :

= 0,2 ................................................................................... (2-8)

Keterangan :

= Parameter percepatan spektrum respon desain pada perioda pendek


yang diperoleh dari 6.10.4

D = Pengaruh beban mati

[Link] Pengaruh Beban Gempa Termasuk Faktor Kuat-Lebih


Menurut SNI 1726 2012 pasal 7.4.3, kondisi yang mensyaratkan penerapan
faktor kuat lebih harus ditentukan sesuai dengan rumusan berikut :

1. Untuk penggunaan dalam kombinasi beban 5 dalam 4.2.2 atau kombinasi


beban 5 dan 6 dalam 4.2.3, E harus diambil sama dengan Em seperti
ditentukan sesuai dengan persamaan 18 berikut :

15
= + ............................................................................(2-9)

2. Untuk penggunaan dalam kombinasi beban 7 dalam 4.2.2 atau kombinasi


beban 8 dalam 4.2.3, E harus diambil sama dengan Em seperti ditentukan
sesuai dengan persamaan 19 berikut :

= − ..........................................................................(2-10)

Keterangan :

= pengaruh beban gempa termasuk faktor kuat lebih

= pengaruh beban gempa horizontal termasuk kuat lebih struktur seperti


didefiniskan dalam [Link]

= pengaruh beban gempa vertikal seperti didefiniskan dalam [Link]

[Link] Pengaruh Beban Gempa Horizontal dengan Faktor Kuat-Lebih


Menurut SNI 1726 2012 pasal [Link], pengaruh beban gempa horizontal harus
ditentukan sesuai dengan persamaan 20 berikut :

= Ω ...........................................................................................(2-11)

Keterangan :

= pengaruh beban horizontal

= faktor kuat-lebih

[Link] Kombinasi Beban dengan Faktor Kuat-Lebih


Pada SNI 1726 2012 pasal [Link], menjelaskan bahwa pengaruh beban gempa
dengan faktor kuat lebih, Em yang didefinisikan dalam 7.4.3 dikombinasikan
dengan penggaruh beban lainnya seperti ditetapkan dalam 4.2, kombinasi beban
gempa berikut untuk struktur yang tidak dikenai beban banjir harus digunakan
sebagai pengganti dari kombinasi beban gempa dalam 4.2.2 atau 4.2.3.

Kombinasi dasar untuk desain kekuatan dengan faktor kuat lebih.

16
3. (1,2 + 0,2 SDS )D + Ω + +L
7. (0,9 - 0,2 SDS )D + Ω + + 1,6H

CATATAN :

1. Faktor beban pada L dalam kombinasi 5 diijinkan sama dengan 0,5 untuk
semua hunian dimana besarnya beban hidup merata kurang dari atau sama
dengan 5 kN/m², dengan pengecualian garasi atau ruang pertemuan
2. Faktor beban pada H harus ditetapkan sama dengan nol dalam kombinasi
7 jika aksi struktur akibat H melawan yang diakibatkan E. Jika tekanan
tanah lateral menyediakan tahanan terhadap aksi struktur dari gaya
lainnya, faktor beban tidak boleh dimasukan dalam H tetapi harus
dimasukan dalam tahanan desain.

Kombinasi beban dengan faktor kuat lebih :

1. 1,4
2. 1,4 + 1,6
3. 1,2 + + +
4. 0,9 + + +

Kombinasi beban gempa akibat pengaruh beban gempa horizontal dan vertikal
dengan faktor kuat lebih menjadi seperti berikut :

1. 1,4
2. 1,4 + 1,6
3. 1,2 + + Ω + 0,2
4. 0,9 + + Ω − 0,2

Sehingga kombinasi yang akan digunakan pada penyusunan tugas akhir ini adalah
sebagai berikut :

1. 1,4
2. 1,4 + 1,6
3. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )

17
4. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
5. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
6. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
7. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
8. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
9. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
10. 1,2 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
11. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
12. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
13. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
14. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
15. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
16. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
17. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )
18. 0,9 + + (Ω + 0,2 )+ (Ω + 0,2 )

2.3 Metode Analisis Beban Gempa

Analisis beban gempa dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu sebagai
berikut :

1. Metode analisa beban statis (static equivalent analysis)


2. Metode analisa dinamis (dynamic analysis)
a. Analisis ragam spektrum (respon spectrum analysis)
b. Analisis respon riwayat waktu (time history analysis)

Dalam suatu perencanaan beban gempa, metode yang sederhana dan sering
digunakan adalah metode analisis statik ekivalen, sehingga dalam perencanaan
beban gempa pada Gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan perlu dilakukan
pengontrolan apakah cukup menggunakan analisis gempa dengan statik ekivalen
atau menggunakan analisis gempa dinamik. Berikut langkah-langkah pengontrolan

18
batasan penggunaan prosedur analisis gempa statik ekivalen menurut SNI
1726:2012 pasal 7.8:

2.3.1 Metode Analisis Statik Ekuivalen (Static Equivalent Analysis)


Berikut adalah parameter-parameter yang dibutuhkan dalam metode analysis
statik ekuivalen, yaitu :

[Link] Periode Fundamental Struktur (T)


[Link].1 Periode Fundamental Pendekatan (Ta)
1. Untuk struktur dengan ketinggian < 12 tingkat dimana sistem penahan
gaya gempa terdiri dari rangka penahan momen beton atau baja secara
keseluruhan dan tinggi tingkat paling sdkit 3 m (SNI 1726 2012 pasal
[Link] halaman 56) :

= 0,1 ...................................................................................(2-12)

Keterangan :

Ta = Perioda fundamental pendekatan

N = Jumlah tingkat

2. Untuk struktur dengan ketinggian < 12 tingkat (SNI 1726 2012 pasal
[Link] halaman 56)

= .ℎ .................................................................................(2-13)

Keterangan :

Ct dan x = Koefisien periode pendekatan (lihat tabel)

hn = Ketinggian struktur

19
Tabel 2.5 Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct dan x

Sumber : SI 1726 – 2012 Halaman 42

[Link].2 Batas Perioda Maksimum (Tmax) :

Tmax = Cu. Ta.........................................................................................(2-14)

Keterangan :

Tmax = perioda maksimum

Cu = Koefisien batas atas pada periode yang dihitung

Ta = perioda fundamental pendekatan

Tabel 2.6 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung

[Link].3 Perioda Yang Digunakan (T) :

Adapun perioda yang digunakan menurut SNI 1726 2012 pasal 7.8.2 halaman
55 :

1. Jika Tc > Cu. Ta, maka T = Cu. Ta


2. Jika Ta < Tc < [Link], maka T = Tc

20
3. Jika Tc < Ta, maka T = Ta

[Link].4 Batasan Penggunaan Prosedur Analisis Gaya Lateral Ekivalen


(ELF)

Syarat penggunaan prosedur analisis gempa statik ekivalen:

Tc < 3,5 Ts .......................................................................................... (2-15)

Keterangan:

Tc = Perioda fundamental bangunan

Ts = SD1/SDS

Catatan: Jika memenuhi syarat di atas, maka analisa gempa diperbolehkan


menggunakan analisis static ekivalen.

[Link] Geser Dasar Seismic (V)


Nilai V dapat dihitung menggunakan rumus di bawah ini sesusai dengan SNI
1726 2012 pasal 7.8.1 halaman 54 :

V = Cs x W ..............................................................................................(2-16)

Keterangan :

Cs = Koefisien respons seismik (sesuai SNI 1726 2012 pasal [Link])

W = Berat seismik efektif struktur (sesuai SNI 1726 2012 pasal 7.7.2)

[Link].1 Koefisien Respons Seismik (Cs)


a. = ..........................................................................................(2-17)

Keterangan :

SDS = Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek

R = Faktor modifikasi respons

21
Ie = Faktor keutamaan gempa

T = Periode fundamental struktur

b. = ×(
.................................................................................. (2-18)
)

Keterangan :

SD1 = Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek

R = Faktor modifikasi respons

Ie = Faktor keutamaan gempa

T = Periode fundamental struktur

[Link] Distribusi Vertikal Gaya Gempa


Gaya gempa lateral (Fx) yang timbul disemua tingkat harus ditentukan dari
persamaan berikut (SNI 1726 2012 pasal 7.8.3 halaman 57) :

= × ..................................................................................(2-19)

= ∑
.....................................................................................(2-20)

Keterangan :

Cvx = Faktor distribusi vertikal

V = Gaya lateral desain total atau geser dasar struktur

wi, wx = bagian berat seismik efektif total struktur (W) yang ditempatkan

atau dikenakan pada tingkat i atau x

hi, hx = tinggi dari dasar sampai tingkat i atau x

k = Eksponen yang terkait dengan periode struktur sebagai berikut :

22
 Untuk struktur dengan periode sebesar 0,5 detik atau kurang
(k=1)
 Untuk struktur dengan periode sebesar 2,5 detik atau lebih
(k=2)
 Untuk struktur dengan periode antara 0,5-2,5 detik, k harus
sebesar 2 atau dilakukan interpolasi liniear antara 1 dan 2.

2.3.2 Desain Respon Spektrum


1. Menghitung nilai periode T0 dengan rumus sebagai berikut, sesuai dengan
SNI 1726-2012 pasal 6.4 halaman 23:

T0 = 0,2 ..............................................................................(2-21)

Keterangan:

T0 = Periode

SD1 = Percepatan spektral desain untuk periode 1 detik

SDS = Percepatan spektral desain untuk periode pendek

2. Menghitung nilai periode TS dengan rumus sebagai berikut, sesuai dengan


SNI 1726-2012 pasal 6.4 halaman 23:

TS = .................................................................................(2-22)

Keterangan:

Ts = Periode

SD1 = Percepatan spektral desain untuk periode 1 detik

SDS = Percepatan spektral desain untuk periode pendek

3. Menghitung nilai Sa dengan rumus sebagai berikut, sesuai dengan SNI


1726-2012 pasal 6.4 halaman 23:

23
a. Untuk T < T0

Sa = SDS (0,4+0,6 ) .......................................................(2-23)

Keterangan:

Sa = Spektrum respon percepatan desain

SDS = Percepatan spektral desain untuk periode pendek

b. Untuk T ≥ T0

Sa = SDS ......................................................................................(2-24)

Keterangan:

Sa = Spektrum respon percepatan desain

SDS = Percepatan spektral desain untuk periode pendek

c. Untuk T ≥ Ts

Sa = ...................................................................................(2-25)

Keterangan:

Sa = Spektrum respon percepatan desain

SD1 = Percepatan spektral desain untuk periode 1 detik

T = Periode

4. Plotkan hasil perhitungan spektrum respon percepatan desain pada grafik


spektrum respon percepatan desain.

24
Gambar 2.3 Spektrum Respons Desain
(Sumber: SNI 1726-2012 Halaman 23)

2.4 Eksentrisitas (e)


Menurut SNI 1726 2002 halaman 6, e adalah eksentrisitas teoritis antara pusat
massa dan pusat rotasi lantai tingkat struktur gedung, dalam subskrip menunjukkan
kondisi elastik penuh.

2.4.1 Eksentrisitas Pusat Massa Terhadap Pusat Rotasi Lantai Tinggal


[Link] Pusat Massa Lantai
Pusat massa lantai tingkat struktur gedung adalah titik tangkap resultan beban
mati, beban hidup yang sesuai, yang bekerja pada lantai tingkat itu. Pada
perencanaan struktur gedung, pusat massa adalah titik tangkap beban gempa statik
ekuivalen atau gempa dinamik. (SNI 1726 2002 pasal 5.4.1 halaman 28).

[Link] Pusat Rotasi Lantai Tingkat


Pusat rotasi lantai tingkat suatu struktur gedung adalah suatu titik pada lantai
tingkat itu yang bila suatu beban horizontal bekerja padanya, lantai tingkat tersebut
tidak berotasi, tetapi hanya bertranslasi, sedangkan lantai-lantai tingkat lainnya
yang tidak mengalami beban horizontal semuanya berotasi dan bertranslasi. (SNI
1726 2002 pasal 5.4.2 halaman 28).

25
2.4.2 Eksentrisitas Rencana
Antara pusat massa dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu
eksentrisitas rencana (ed). Apabila ukuran horizontal terbesar denah struktur
gedung pada lantai tingkat itu, diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa,
dinyatakan dengan b, maka eksentrisitas rencana ed harus ditentukan seperti
persamaan berikut :
1. Untuk 0 < e < 0,3b :

ed = 1,5e + 0,05b .........................................................................(2-26)

atau,

ed = e – 0,05b ...............................................................................(2-27)

dan dipilih antara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk


unsur atau subsistem struktur gedung yang ditinjau.

2. Untuk e > 0,03b :

ed = 1,33 e + 0,1b ................................................................... (2-28)

atau,

ed = 1,17e – 0,1b .................................................................... (2-29)

dan dipilih antara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk


unsur atau subsistem struktur gedung yang ditinjau.

2.4.3 Eksentrisitas Tambahan


Setelah mendapatkan nilai eksentrisitas rencana (ed), maka perlu ditambah
eksentrisitas tak terduga dalam mm diambil 5% dari ukuran maksimum bangunan
tegak lurus dengan arah gaya yang ditinjau.

26
2.5 Kinerja Struktur Gedung
2.5.1 Kinerja Batas Layan
Kinerja batas layan struktur gedung ditetukan oleh simpangan antar-tingkat
akibat pengaruh beban gempa rencana, yaitu untuk membatasi terjadinya pelelehan
baja dan peretakan beton yang berlebihan, disamping itu juga untuk mencegah
kerusakan pada komponen non struktur dan ketidaknyamanan penghuni gedung.
(SNI 1726 2002 pasal 8.1.1 halaman 35).
Menurut SNI 1726 2002 bahwa syarat simpangan struktur gedung tidak boleh
melebihi yang terkecil dari :
a. 0,03/R x tinggi tingkat yang bersangkutan
b. 30 mm

2.5.2 Kinerja Batas Ultimit


Menurut SNI 1726 2002 pasal 8.2.1 halaman 35, kinerja batas layan ultimit
struktur gedung ditentukan oleh simpangan antar tingkat maksimum struktur akibat
pengaruh beban gempa rencana dalam kondisi struktur gedung diambang
keruntuhan, yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur
gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah
benturan berbahaya antar-gedung yang dipisah dengan sela pemisah/sela delatasi.
Simpangan antar tingkat ini harus dihitung dari simpangan struktur gedung
akibat pembebanan gempa nominal, dikalikan dengan suatu faktor pengali ζ = 0,7
x R (untuk gedung beraturan). Dalam pasal 8.2.2 halaman 36, disebutkan bahwa
untuk memenuhi persyaratan kinerja batas layan ultimit struktur gedung dalam
segala hal simpangan antar tingkat yang tidak boleh melampaui 0,02 kali tinggi
tingkat yang bersagkutan.

2.6 Konstuksi Balok T dengan Tulangan Rangkap (Tekan dan Tarik)


Pada konstruksi balok T, sayap dan badan balok harus dibangun menyatu atau
jika tidak, harus diletakan bersama secara efektif (SNI 2847 2013) pasal 8.12.1
halaman 63). Berikut syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam konstruksi balok
T yaitu :

27
2.6.1 Tulangan Maksimum
Ada persyaratan bahwa untuk balok atau komponen struktur lainnya yang
menerima beban lentur murni harus bertulang lemah (terkendali tarik/under
reinforced) sehingga tulangan akan rusak terlebih dahulu. SNI 2847 2013 pasal
10.3.3 halaman 221 memberikan batasan bahwa ρ (rasio tulangan terhadap bd) tidak
boleh melebihi 0,75 ρb, yang akan menghasilkan kondisi regangan seimbang.
, . .
As maks = 0,75. ( × ) ....................................................... (2-30)

2.6.2 Tulangan Minimum


Untuk menghindari terjadinya kegagalan getas pada balok, SNI 2847 2013
pasal 10.5.1 halamana 76 mengatur jumlah tulangan minimum yang perlu dipasang
pada komponen struktur lentur, yaitu :

, √
As min = , . ....................................................................................(2-31)

Dan tidak lebih kecil dari,

, √
As min = , . ....................................................................................(2-32)

2.6.3 Lebar Sayap Efektif


Batasan-batasan dalam menentukan lebar sayap efektif (Beff) balok T dapat
dilihat pada SNI 2847 2013 pada sub bab 8.12.2 dan 8.12.3 halaman 63. Adapun
batasan-batasannya :

1. Jika mempunyai pelat dua sisi, maka lebar efektif sayap diambil nilai
terkecil dari :
a. Beff < ¼ panjang bentang balok yang ditinjau
b. Beff < bw + 8 tebal pelat sisi kiri + 8 tebal pelat sisi kanan
c. Beff < bw ½ x jarak bersih ke badan disebelahnya
2. Jika mempunyai pelat satu sisi, maka lebar sayap efektif diambil dari nilai
terkecil dari:
a. Beff < 1/12 panjang bentang balok yang ditinjau
b. Beff < bw + 6 tebal pelat

28
c. Beff < bw + ½ jarak bersih ke badan disebelahnya.

2.6.4 Langkah-Langkah Perencanaan Balok T Tulangan Rangkap

Berikut adalah langkah-langkah dalam perencanaan balok T dengan tulangan


rangkap :

1. Tentukan jumlah tulangan tarik dan tekan yang digunakan


2. Hitung milai tinggi efektif (d’) dengan rumus :

d’ = tebal selimut beton + diameter sengkang + ½ diameter tulangan


tarik ..............................................................................................(2-33)

3. Hitung nilai d dengan rumus :

d = tinggi balok (h) – tinggi efektif (d’) ...................................... (2-34)

4. Menentukan lebar sayap efektif balok T


5. Menentukan letak garis netral

Analisa balok tulangan rangkap dimana dimisalkan tulangan tekan belum leleh
dan tulangan tarik telah leleh.

= 0,85. . .

= . ′

= .

Ʃ =0

+ =

0,85 . . . + . = .

= ,

= .

29
= .( )

= . .( )

= . 0,003 (200000)


= . (600)

Maka,

+ =

(0,[Link]’.a.b) + As’. fs’ = As. fy ulir


( )
Substitusi nilai fs’ = Es

εc = 0,003
( )
fs’ =
( )
fs’ = 0,003 200000
( )
fs’ = 600
( ;)
(0,[Link]’.a.b) + As’. = As. fy ulir

(0,[Link]’.a.b).c + [Link]’.c – 600As’.d’ = As. fy ulir.c


Substitusi nilai a = β1.c
(0,[Link]’.β1.c.b).c + [Link]’.c – 600As’.d’ = As. fy ulir.c
(0,[Link]’.β1.b).c2 + [Link]’.c – 600As’.d’ = As. fy ulir.c
Dengan rumus ABC, nilai c dapat dihitung:

±√
c1,2 =

Dilanjutkan dengan menghitung Z dan nilai momen (Mn).

2.6.5 Perencanaan Balok Terhadap Geser


Komponen struktur yang menerima beban lentur murni juga dapat mengalami
kehancuran geser, sehingga dalam perencanaan komponen struktur tidak hanya

30
direncanakan tulangan lentur saja, tetapi juga harus direncanakan tulangan
gesernya.

Menurut SNI 2847 2013 pasal 11.1.1 halaman 87, menyatakan bahwa desain
penampang yang terkena gaya geser adalah seperti berikut :

∅ ≥ ................................................................................................(2-35)

= + ............................................................................................(2-36)

Dimana:

Vn = kuat geser nominal penampang yang ditinjau

Vu = gaya geser terfaktor penampang yang ditinjau

Vc = kuat geser nominal beton penampang yangh ditinjau

Vs = kuat geser nominal tulangan geser pada penampang yang ditinjau

Kuat geser nominal beton (Vc) untuk komponen struktur yang dikenai geser
dan lentur saja dapat dihitung dengan rumus di bawah ini dengan SNI 2847 2013
pada sub bab [Link]. halaman 89:
Vc = 0,17 . . .

Jika Vu > ØVc, maka perhitungan Vs menurut SNI 2847 2013 pada sub bab
[Link] halaman 93 dapat menggunakan rumus :
. .
Vs =

Keterangan :
Av = Luas tulangan geser yang berada dalam daerah sejarak s
s = spasi tulangan geser dalam arah paralel terhadap tulangan longitudinal
d = jarak dari serat terluar ke titik berat tulangan tarik longitudinal
bw = lebar badan (web) balok

31
2.6.6 Perencanaan Balok Terhadap Torsi
1. Dikontrol apakah butuh tulangan torsi
Pada SNI 2847 2013 pasal 11.5.1 halaman 94 menyatakan bahwa
pengaruh torsi untuk komponen struktur non prategang boleh diabaikan bila
momen torsi terfaktor, Tu kurang dari :

ØTn = Ø x 0,083 x λ x √fc’ x

Keterangan :
Acp = luas penampang beton
Pcp = keliling penamapang beton
fc’ = mutu beton
λ = 1 (beton normal)
Ø = 0,75 (faktor reduksi untuk torsi)
2. Periksa kecukupan penampang
Memeriksa kecukupan penampang untuk penampang solid dapat dilihat
pada SNI 2847 2013 pasal [Link] halaman 96 :

( ) + ,
< + 0,66 √ ′

Keterangan:
Ph = keliling pusat tulangan torsi transversal tertutup luar (mm)
Aoh = luas bersih (terarsir) yang dibatasi oleh garis berat sengkang
tertutup (mm2)
Ao = luas bruto yang dilingkupi oleh jalur alir geser (mm2)
bw = lebar badan balok (bw)
Vu = Gaya geser terfaktor pada penamapang (N)
d = jarak serat tekan terjauh ke pusat tulangan tarik longitudinal (mm)
Tu = momen torsi terfaktor pada penampang (Nmm)
fc’ = kuat tekan beton (Mpa)
Vc = kuat geser nominal yang disediakan oleh beton (N)
3. Kebutuhan tulangan longitudinal torsi :
=

Keterangan:

32
Tn = kekuatan momen torsi nominal (Nmm)
fyt = kuat leleh tulangan torsi (Mpa)
Ao = luas bruto yang dilingkupi oleh jalur alir geser (mm2)
4. Menghitung luas total minimum tulangan torsi longitudinal menurut SNI
2847 2013 pasal [Link] halaman 99:
,
Almin = − ℎ

5. Menghitung kebutuhan tulangan torsi di setiap sisi badan balok.


2.7 Diagram Interaksi Kolom
Beban yang bekerja pada kolom biasanya beban aksial dan momen lentur.
Hubungan antara beban aksial dan momen lentur pada kolom digambarkan pada
suatu diagram yang disebut diagram interaksi kolom yang fungsinya dapat
memberikan gambaran mengenai kekuatan kolom yang ditinjau.
Diagram interaksi kolom terdiri dari dua buah sumbu yang saling berpotongan,
yaitu sumbu x (horizontal) dan sumbu y (vertikal). Sumbu y (vertikal)
menggambarkan besaran P atau beban aksialnya, sedangkan sumbu x (horizontal)
menggambarkan besaran momen lenturnya.
Diagram ini juga menghasilkan beban aksial nominal (Pn) dan beban momen
nominal (Mn) yang mampu ditahan oleh kolom.

2.8 Perencanaan Struktur Bangunan Dengan Desain Sistem Rangka Pemikul


Momen Khusus
2.8.1 Komponen Struktur Lentur Rangka Momen Khusus (Balok)
Komponen struktur rangka untuk yang menahan lentur harus memenuhi syarat-
syarat pada SNI 2847-2013 pasal [Link] sampai [Link] halaman 186, yaitu
sebagai berikut:

[Link] Pu ≤ Ag.f’c/10

[Link] ln ≥ 4d

[Link] bw ≥ 0,3h dan 250 mm

33
[Link] bw ≤ lebar c2 ditambah suatu jarak pada masing-masing sisi komponen
struktur penumpu yang sama dengan dan yang lebih kecil dari:

a. Lebar komponen struktur penumpu c2


b. 0,75 kali dimensi keseluruhan komponen struktur penumpu, c1.

Keterangan:

Ag = Luas bruto penampang

Pu = Gaya aksial tekan terfaktor

ln = Bentang bersih komponen struktur

d = Tinggi efektif penampang

c2 = Komponen struktur penumpu.

Syarat-syarat untuk penulangan longitudinal diatur dalam SNI 2847 2013 pasal
21.5.2 halaman 186, yaitu sebagai berikut:

[Link] Jumlah untuk tulangan atas maupun bawah tidak boleh kurang dari kedua
persamaan ini:

, √
bw.d .......................................................................................(2-37)

, . .
................................................................................................(2-38)

Keterangan:

f’c = Kuat tekan beton

bw = Lebar badan (web)

d = Tinggi efektif penampang

fy = Kuat leleh tulangan

34
Rasio tulangan (ρ) ≤ 0,025. Paling sedikit dua bentang tulangan harus disediakan
menerus pada kedua sisi atas dan bawah

[Link] Kekuatan momen (+) pada muka joint ≥ 0,5 kekuatan momen (-) yang
disediakan pada muka joint tersebut Kekuatan momen (-) atau momen (+)
pada sebarang penampang sepanjang panjang komponen struktur ≥ ¼
kekuatan momen maks yang disediakan pada muka salah satu joint
tersebut.

[Link] Sambungan lewatan (SL) diizinkan jika tulangan sengkang atau spiral
disediakan sepanjang panjang [Link] tulangan transversal yang
melingkupi batang tulangan yang disambung lewatkan ≤ d/4 dan 100 mm.
Sambungan lewatan tidak boleh digunakan pada:

a. Dalam joint.
b. Dalam jarak 2 kali komponen struktur dari muka joint.
c. Bila analisis menunjukan pelelehan lentur yang diakibatkan oleh
perpindahan lateral inelastis rangka.

Syarat-syarat untuk penulangan transversal diatur dalam SNI 2847-2013 pasal


21.5.3 halaman 187-189, yaitu sebagai berikut:

[Link] Sengkang harus dipasang didaerah komponen struktur rangka berikut:

35
Gambar 2.4 Contoh-Contoh Sengkang Tertutup Saling Tumpuk

(Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 188)

a. Sepanjang 2 kali tinggi komponen struktur kolom ke kedua ujung


komponen lentur
b. Sepanjang panjang 2 kali tinggi komponen struktur pada dua sisi
penampang yang pelelehan lentur terjadi dalam hubungan dengan
perpindahan lateral inelastis rangka

[Link] Sengkang tertutup pertama harus ditempatkan tidak lebih dari 50 mm dari
kolom. Spasi (s) sengkang tertutup tidak boleh melebihi yang terkecil
dari:

a. d/4
b. 6 kali diameter terkecil tulangan lentur utama dan tidak termasuk
tulangan kulit longitudinal yang disyaratkan 10.6.7
c. 150 mm.

36
[Link] Jika sengkang tertutup diperlukan, tulangan lentur utama yang terdekat
dengan muka tarik dan tekan harus memunyai tumpuan lateral yang
memenuhi [Link] atau [Link]. Spasi (s) batang tulangan lentur yang
tertumpu secara transversal ≤ 300 mm. Tulangan kulit yang disyaratkan
oleh 10.6.7 tidak perlu tertumpu secara lateral

[Link] Jika sengkang tertutup tidak diperlukan,sengkang dengan kait gempa pada
kedua ujung spasinya ≤ d/2 sepanjang komponen struktur

[Link] Sengkang yang diperlukan untuk menahan gaya geser harus memenuhi
syarat poin 1 ([Link])

[Link] Sengkang pada komponen lentur boleh terbentuk dari dua potong
tulangan.

Persyaratan mengenai kekuatan geser komponen struktur lentur diatur dalam


SNI 2847-2013 pasal 21.5.4 halaman 189, yaitu sebagai berikut:

[Link] Gaya geser desain (Ve) ditentukan dari gaya statis pada komponen struktur
antar muka-muka joint. Harus diasumsikan bahwa momen-momen dengan
tanda yang berlawanan ada hubungannya dengan kekuatan momen lentur
yang mungkin (Mpr) yang bekerja pada muka-muka joint. Struktur
dibebani oleh beban gravitasi terfaktor disepanjang bentangnya.

37
Gambar 2.5 Geser Desain Untuk Balok

(Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 190)

[Link] Tulangan transversal dalam [Link] harus mampu menahan gaya geser
dengan mengasumsikan Vc = 0, jika:

a. Gaya geser akibat gempa dihitung sesuai dengan point 1 ([Link])


mewakili 0,5 atau lebih dari kuat geser perlu maksimum.
b. Pu akibat gempa < Ag.f’c/20.

2.8.2 Komponen Struktur Rangka Momen Khusus Yang Dikenai Beban


Lentur dan Aksial

Komponen struktur rangka untuk yang menahan gaya gempa dan gaya aksial
terfaktor (Pu) harus memenuhi syarat-syarat pada SNI 2847-2013 pasal [Link]
sampai [Link] halaman 186, yaitu sebagai berikut:

[Link] Dimensi penampang terpendek ≥ 300 mm

[Link] Rasio dimensi terpendek dengan dimensi tegak lurus ≥ 0,4.

38
[Link] Kekuatan lentur minimum kolom harus memenuhi syarat pada SNI
2847:2013 pasal 21.6.2, per (21-1) halaman 191, yaitu:

ΣMnc ≥ 1,2 ΣMnb ...................................................................... (2-39)

Keterangan:

Mnc = Momen nominal kolom.

Mnb = Momen nominal balok.

Jika kekuatan lentur minimum kolom tidak terpenuhi, maka kekuatan lateral
dan kekakuan kolom harus diabaikan dan kolom-kolom tersebut tidak ditetapkan
sebagai komponen penahan gaya gempa. Untuk penulangan memanjang harus
memenuhi syarat-syarat pada SNI 2847:2013 pasal [Link] sampai dengan [Link]
halaman 191, yaitu:

[Link] Luas tulangan memanjang (Ast) tidak boleh kurang dari 0,01Ag dan tidak
boleh lebih dari 0,06Ag

[Link] Kolom dengan sengkang tertutup bulat, jumlah tulangan minimum 6

[Link] Sambungan lewatan (SL) diizinkan ditengah panjang komponen dan di


desain sebagai sambungan lewatan (SL) tarik yang harus dikenai
tulangan transversal sepanjang penyalurannya.

Untuk penulangan transversal harus memenuhi syarat-syarat pada SNI 2847-


2013 pasal [Link] sampai dengan [Link] halaman 191-193, yaitu sebagai
berikut:

[Link] Tulangan transversal dipasang sepanjang panjang (lo). Pajang (lo) tidak
boleh kurang dari yang nilainya terbesar antara:

a. Tinggi komponen struktur pada muka joint atau pada penampang


dimana pelelehan lentur terjadi
b. 1/6 bentang bersih komponen struktur (ln)
c. 450 mm.

39
[Link] Tulangan transversal harus disediakan dari spiral tunggal atau saling
tumpuk, sengkang bulat, sengkang persegi dengan atau tanpa pengikat
silang. Ukuran tulangan pengikat silang diperbolehkan sama atau lebih
kecil dari ukuran begelnya. Setiap ujung pengikat silang harus
memegang tulangan longitudinal terluar. Spasi (so) pengikat silang atau
kaki sengkang persegi (hx) tidak boleh melebihi 350 mm pusat ke pusat.

Gambar 2.6 Contoh Tulangan Transversal Pada Kolom

(Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 192)

[Link] Spasi tulangan transversal sepanjang lo tidak boleh melebihi yang terkecil
dari:

a. ¼ dimensi komponen struktur minimum

b. 6 kali diameter batang tulangan longitudinal terkecil

c. So seperti rumusan dibawah ini:

So = 100 + ( ) ..............................................................(2-40)

40
[Link] Rasio volume tulangan spiral (ρs) tidak boleh kurang dari kedua persamaan
ini:

a. ρs = 0,12 ( ) ................................................................................ (2-41)

ρs = 0,45 x ( − 1) x ............................................................. (2-42)

Keterangan:

ρs = Rasio tulangan spiral

f’c = Kuat tekan beton

fyt = Kuat leleh tulangan transversal

Ag= Luas bruto penampang

Ac = Luas penampang beton yang menahan transfer geser

b. Luas penampang total tulangan sengkang persegi (Ash) tidak boleh


kurang dari kedua persamaan ini:
.
Ash = 0,3 {( )-1} ......................................................... (2-43)

.
Ash= 0,09 ......................................................................... (2-44)

[Link] Diluar panjang lo, kolom harus mengandung tulangan spiral atau sengkang
dengan spasi (s) pusat ke pusat tidak melebihi 6 kali diameter tulangan
kolom longitudinal terkecil dan 150 mm, kecuali bila tulangan transversal
lebih besar.

Persyaratan mengenai kekuatan geser kolom dalam SNI 2847-2013 pasal


21.6.5 halaman 193, yaitu sebagai berikut:

[Link] Gaya geser desain (Ve) ditentukan dari kekuatan momen maksimum yang
mungkin (Mpr) yang ada kaitannya dengan beban aksial terfaktor (Pu)
yang bekerja pada komponen struktur. Dalam semua kasus, Ve tidak
boleh kurang dari geser terfaktor yang ditentukan oleh analisis struktur.

41
Gambar 2.7 Geser Desain Untuk Kolom

(Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 190)

[Link] Tulangan transversal (lo) harus mampu menahan gaya geser dengan
mengasumsikan Vc = 0, jika:

a. Gaya geser akibat gempa dihitung sesuai dengan point 1 ([Link])


mewakili 0,5 atau lebih dari kuat geser perlu maksimum.
b. Pu akibat gempa < Ag.f’c/20.

2.8.3 Hubungan Balok Kolom (HBK)


Persyaratan mengenai Hubungan Balok Kolom (HBK) dalam SNI 2847-2013
pasal 21.7 halaman 194, yaitu sebagai berikut:
[Link] Gaya-gaya pada tulangan balok longitudinal di muka HBK harus
mengasumsikan tegangan tulangan tarik lenturnya adalah 1,25fy.
[Link] Bila tulangan longitudinal menerus melalui HBK, dimensi kolom yang
sejajar terhadap tulangan balok tidak boleh kurang dari 20 kali diameter
tulangan balok longitudinal terbesar untuk beton normal. Untuk beton
ringan, dimensinya tidak boleh kurang dari 26 kali diameter tulangan.
Persyaratan mengenai penulangan transversal pada Hubungan Balok Kolom
(HBK) dalam SNI 2847-2013 pasal 21.7.4 halaman 194, yaitu sebagai berikut:

[Link] Untuk beton normal, kekuatan geser nominal (Vn) pada HBK tidak boleh
diambil yang lebih besar dari nilai-nilai yang ditetapkan di bawah ini:

42
Gambar 2.8 Luas Hubungan Balok Kolom (Joint) Efektif

(Sumber: SNI 2847-2013 Halaman 195)

a. Untuk HBK yang terkekang oleh balok-balok pada empat muka:

1,7√f’cAj ............................................................................ (2-45)

b. Untuk HBK yang terkekang oleh balok-balok pada tiga muka atau
dua muka yang berlawanan:

1,2√f’cAj ............................................................................ (2-46)

c. Untuk kasus-kasus lainnya:

1,0√f’cAj ............................................................................ (2-47)

43
Suatu balok dianggap memberikan pengekangan pada HBK jika balok
tersebut menutupi paling sedikit ¾ muka HBK. Luas penampang efektif
(Aj) HBK dihitung dari tinggi HBK dikali dengan lebar efektif HBK.

2.9 Perhitungan Data SPT ( Standard Penetration Test )


2.10.2 Penyelidikan Tanah di Lapangan
Pengujian dilapangan dilakukan untuk mengetahui karakteristik tanah dalam
mendukung beban pondasi. Pengujian yang dilakukan oleh proyek Gedung
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang yaitu test SPT.

2.10.3 Persyaratan Pondasi Tiang Bor Terhadap SPT


Berikut adalah tabel korelasi empiris yang sering digunakan untuk interpretasi
hasil uji SPT.

Tabel 2.7 Korelasi Kepadatan Relatif (Dr) Tanah Pasir dengan NSPT

Kondisi Kerapatan Nilai


Ø
Tanah Pasir Relatif ( Dr ) SPT

Sangat tidak padat < 0,2 <4 < 30˚

Tidak padat 0,2 - 0,4 4 -10 30 - 45

Agak padat 0,4 - 0,6 10 -30 35 - 40

Padat 0,6 - 0,8 30 -50 40 - 45

Sangat padat > 0,8 > 50 > 45˚

(Sumber : Mekanika Tanah II, 2011 : 30)

[Link] Pondasi Tiang Bor


Pondasi tiang bor adalah pondasi tiang yang pemasangannya dilakukan dengan
mengebor tanah pada awal pengerjaannya kemudian diisi tulangan dan dicor beton.
Pondasi ini digunakan pada tanah yang stabil dan kaku sehingga memungkinkan
untuk membuat lubang yang stabil dengan alat bor. Jika tanah mengandung air atau
lembek, maka dibutuhkan pipa atau casing untuk dinding lubang dan akan ditarik

44
keluar pada waktu pengecoran beton. Pada tanah yang keras atau batuan lunak,
dasar tiang dapat dibesarkan untuk memenuhi tahanan dukung ujung tiang.

[Link] Kapasitas Daya Dukung Pondasi Tiang Bor


Kapasitas Daya dukung merupakan kemampuan tanah dalam mendukung
beban pondasi struktur yang terletak diatasnya. Daya dukung menyatakan tahanan
geser tahan untuk melawan penurunan akibat pembebanan.(Sumber: Hardiyatmo,
Teknik Fondasi 1,1996 : halaman 66).

2.10.4 Daya Dukung Aksial Tunggal


Daya dukung pondasi tiang bor mengikuti rumus umum yang diperoleh dari
penjumlahan tahanan ujung dan tahanan selimut tiang, yang dapat dinyatakan
dalam bentuk:
= + − ................................................................................ (2-48)

Keterangan :

= daya dukung ultimit pondasi tiang bor (ton)

= daya dukung ultimit ujung tiang (ton)

= daya dukung ultimit selimut tiang (ton)

= berat pondasi tiang (ton)

a. Daya dukung ultimit pada ujung tiang bor dinyatakan sebagai berikut :

= . ................................................................................ (2-49)

Keterangan :

Qp = daya dukung ujung tiang (ton)

qp = tahanan ujung per satuan luas (ton/m2)

A = luas penampang tiang bor (m2)

45
b. Daya dukung selimut tiang dinyatakan sebagai berikut :

= . ................................................................................... (2-50)

Keterangan :

Qs = daya dukung selimut tiang (ton)

fs = gesekan selimut tiang (ton/m2)

A = luas penampang tiang bor (m2)

(Sumber : Geotecnical Engineering Center, Manual Pondasi Tiang, 2005


: 53)

c. Sementara itu, penentuan daya dukung pondasi tiang dengan


menggunakan data SPT antara lain diberikan oleh Meyerhof (1956)
dengan ketentuan sebagai berikut:

= 40. . + (0,2. . ) ............................................. (2-51)

Keterangan :

= Daya dukung ultimit pondasi tiang (ton)

= Nilai NSPT pada tanah sekitar dasar tiang

= Luas penampang dasar tiang (m2)

= Luas selimut tiang (m2)

= Nilai rata-rata uji SPT di sepanjang tiang

40 = Karakteristik Tanah Pasir

d. Untuk tiang dengan desakan tanah yang kecil seperti tiang bor dan tiang
baja H, maka daya dukung selimut hanya diambil separuh formula diatas,
sehingga:

46
= 40. . + (0,1. . ) ............................................ (2-52)

Nilai Nb disarankan untuk dibatasi sebesar 40 sedangkan Fs (yaitu 0,2 N)


disarankan untuk tidak melebihi 10 ton/m2. (Sumber : Geotecnical
Engineering Center, Manual Pondasi Tiang, 2005 : 43 )

2.10.5 Daya Dukung Ijin Tiang


Penentuan daya dukung ijin (Qa atau Qall) dilakukan dengan membagi daya
dukung ultimit dengan faktor keamanan dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
= .................................................................................................. (2-53)

Keterangan :

= Daya dukung ijin tiang

= Daya dukung ultimit tiang

= Faktor keamanan

(Sumber : Manual Pondasi Tiang, 2005 : 42)

Menurut Reese & O’ Neil, 1989 menentukan faktor keamanan dapat dilihat
dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.8 Faktor Keamanan untuk Pondasi Dalam

Faktor Aman
Klasifikasi
Kontrol Kontrol Sangat
Struktur Kontrol Baik Kontrol Jelek
Normal Jelek
Monumental 2,3 3 3,5 4
Permanen 2 2,5 2,8 3,4
Sementara 1,4 2 2,3 2,8

47
Keterangan :

 Bangunan monumental, umumnya memiliki umur rencana melebihi 100 tahun,


seperti tugu monas, monumen garuda wisnu kencana, jembatan-jembatan
besar, dan lain-lain.
 Bangunan permanen, umumnya adalah bangunan gedung, jembatan, jalan raya,
dan kereta api, dan memiliki umur rencana 50 tahun.
 Bangunan sementara, umur rencana kurang dari 25 tahun, bahkan mungkin
hanya beberapa saat saja selama masa konstruksi
 Kontrol baik, kondisi tanah cukup homogen dan konstruksi didasarkan pada
program penyelidikan geoteknik yang tepat dan profesional terdapat informasi
uji pembebanan di atau dekat proyek dan pengawasan konstruksi di laksanakan
secara ketat
 Kontrol normal, situasi yang paling umum, hampir serupa dengan kondisi baik,
tetapi kondisi tanah bervariasi dan tidak tersedia data pengujian tiang
 Kontrol kurang, tidak ada uji pembebanan, kondisi tanah sulit dan bervariasi,
pengawasan pekerjaan kurang, tetapi pengujian geoteknik dilakukan dengan
baik

2.10.6 Kapasitas Dukung Kelompok Tiang

Penurunan kelompok tiang lebih besar dari penurunan tiang tunggalnya, pada
beban struktur yang sama. Hal ini karena pada tiang tunggal luas zona tertekan pada
bagian bawah tiang sangat lebih kecil daripada luas zona tertekan untuk kelompok
tiang, sehingga penurunan kelompok tiang menjadi lebih besar daripada penurunan
tiang tunggal.

Dalam sistem kelompok tiang, baik pada ujung maupun pada keliling tiang
akan terjadi overlapping (tumpang tindih) pada daerah yang mengalami tegangan
akibat beban kerja struktur sehingga menimbulkan daerah pengaruh tegangan pada
kelompok tiang. Daerah pengaruh tegangan pada kelompok tiang atau yang
kemudian disebut overlapping zona tegangan di sekitar tiang ini bergantung pada

48
jarak antar tiang dimana jarak antar tiang yang memadai diantara tiang akan
mereduksi tumpang tinding dari banyaknya tiang yang memberi kontribusi kepada
tiap daerah.

Gambar 2.9 Perbandingan zona tanah tertekan (Tomlinson, 1977)

(a) Tiang Tunggal (b) Kelompok Tiang

Gambar 2.10 Ilustrasi Overlapping Zona Tegangan disekitar Kelompok Tiang

[Link] Menentukan Jumlah Tiang Yang Diperlukan


Jumlah tiang yang diperlukan dihitung dengan membagi gaya aksial yang
terjadi dengan daya dukung tiang.
= ..................................................................................................... (2-54)

Keterangan :

n = jumlah tiang

P = gaya aksial yang terjadi

Qa= daya dukung ijin tiang

49
[Link] Menentukan Daya Dukung Kelompok Tiang

= x ............................................................................. (2-55)

Dimana :

= Daya dukung kelompok tiang

= Efisiensi kelompok tiang

= jumlah tiang

= Daya dukung ijin tiang

(Sumber : Manual Pondasi Tiang, 2005 : 76)

Jarak tiang Pondasi yang dirumuskan sebagai berikut:

,
= .....................................................................................(2-56)

(Sumber : Bowles, Foundation Analysis and Design. 1982 : 674)

Kebanyakan peraturan bangunan menyatakan jarak antar tiang diambil 2D – 3,5D.

a. Jika S > 3.D, daya dukung kelompok tiang dapat diambil sama besar
dengan jumlah dari seluruh daya dukung tiang ( ≥ 1)
b. Jika 2,5 ≤ S ≤ 3.D, maka gunakan formula efisiensi yang ada. ( < 1)

(Sumber : Manual Pondasi Tiang, 2005 : 77)

Efisiensi kelompok tiang didefinisikan sebagai berikut :

E ×
............................................................(2-57)

50
[Link] Efisiensi Kelompok Tiang
a. Formula Sederhana
Formula ini didasarkan pada jumlah daya dukung gesekan dari kelompok tiang
sebagai satu kesatuan (blok).
( )
= . .
................................................................................... (2-58)

Gambar 2.11 Baris Kelompok Tiang

Keterangan :

= Efisiensi kelompok tiang

= jumlah tiang pada deretan baris

= jumlah tiang pada deretan kolom

= jarak antar tiang

= diameter tiang

= keliling dari penampang tiang

b. Formula Converse – Labarre


( ). ( ).
=1− . .
........................................................................ (2-59)

Dimana : θ = an-1 ( / )...

(Sumber : Geotecnical Engineering Center, Manual Pondasi Tiang, 2005 : 76 )

51
c. Formula Los Angeles

= 1− . . .
. ( − 1) + ( − 1). ( − 1)√2 ......................... (2-60)

Dimana besaran – besaran dalam persamaan diatas sesuai dengan definisi


sebelumnya.

d. Formula seiler – Keeney


. .( ) ,
= 1−( ).( )
+ ...................................................... (2-61)

Dimana s dinyataan dalam meter

(Sumber : GEC UNPAR, Manual Pondasi Tiang, 2005 : 77-78)


e. Formula Feld
Formula Feld dalam metode ini kapasitas pondasi individual tiang berkurang
sebesar 1/16 akibat adanya tiang yang berdampingan baik dalam arah tegak
lurus maupun dalam arah diagonal. Ilustrasi hasil perhitungan formula ini
ditunjukan pada gambar 2.12

52
Gambar 2.12 Efisiensi Kelompok Tiang Formula Feld

2.10.7 Daya Dukung Lateral Pondasi


Beban lateral dan momen dapat bekerja pada pondasi tiang akibat gaya gempa,
gaya angin pada struktur atas, beban statik seperti misalnya tekanan aktif tanah pada
abutment jembatan, atau gaya tumbukan kapal dan lain-lain. Dalam analisis,
kondisi kepala tiang bebas (free head) dan kepala tiang terjepit (fixed head atau
restrained).

Gaya horizontal ultimit dinyatakan oleh Paulos dan Davis (1980) dengan
perancangan pondasi tiang yang tiang yang menahan gaya lateral, harus
memperhatikan 2 kriteria, yaitu :

Faktor aman terhadap keruntuhan ultimit harus memenuhi.

Defleksi yang terjadi akibat beban yang bekerja harus dalam batas-batas
toleransi.

.
= ... (dalam satuan panjang) ......................................................(2-62)

Keterangan :

= modulus elastisitas tiang (ton/m2)

= momen inersia tiang (m4)

= konstanta modulus subgrade tanah

53
= faktor kekakuan

Tabel 2.9 Kriteria Jenis Perilaku Tiang

Jenis Perilaku Tiang Kriteria

Pendek (kaku) L≤2T

Panjang (elastis) L≤4T

2.10 Perencanaan Pile Cap


Jarak tiang mempengaruhi ukuran pile [Link] tiang pada kelompok tiang
diambil 2 D - 3 D, di mana D adalah diameter tiang. Sementara untuk jarak tiang
ke tepi pile cap ditentukan dengan s ≥ 1,25D.
Akibat beban-beban dari atas dan juga dipengaruhi oleh formasi tiang dalam
satu kelompok tiang, tiang-tiang akan mengalami gaya tekan atau Tarik. Oleh
karena itu tiang-tiang harus dikontrol untuk memastikan bahwa masing-masing
tiang masih dapat menahan beban dari struktur atas yang sesuai dengan daya
dukungnya.
Beban aksial dan momen yang bekerja ini akan didistribusikan ke pile cap dan
kelompok tiang berdasarkan rumus elastisitas dengan menganggap bahwa pile cap
kaku sempurna, sehingga pengaruh gaya yang bekerja tidak menyebabkan pile cap
melengkung.

P P
My Mx

Pile Cap

Gambar 2.13 Pilecap Pondasi

. .
max − min = ± ∑
± ∑
........................................................(2-63)

54
Keterangan :

Pmax = beban maksimum yang diterima oleh pondasi

Pu = jumlah total beban normal atau gaya aksial

Mx = momen yang bekerja pada bidang tegak lurus sumbu x

My = momen yang bekerja pada bidang lurus tegak y

= jumlah pondasi

x,y jarak pondasi terhadap titik berat x dan y

Bila P maksimum yang terjafi bernilai positif, maka pile mendapatkan gaya
tekan. Bila P maksimum yang terjadi bernilai negative, maka pile mendapatkan
gaya Tarik. Dari hasil-hasil tersebut dapat dilihat apakah masing-masing tiang
masih memenuhi daya dukung tekan dana tau Tarik bila ada.

(Sumber : Pamungkas dan Harianti, Pondasi Tahan Gempa, 2013 : 57-58)

2.11.2 Kontrol Geser Pons Pile Cap


Menurut SNI 2847:2013, pasal [Link] dinyatakan bahwa kuat geser pondasi
akibat geser dua arah, Vc harus yang terkecil dari :
øVc = 0,17 (1 + ) ′ …………………….……..(2-64)

øVc = 0,083 +2 ′ … …..…...................(2-65)

øVc = 0,33 ′ …………….….……………………...(2-66)

Keterangan :

d = Tinggi efektif

bo = bidang kritis geser pons yaitu 4 (c + d)

c = lebar bidang

55
βc = perbandingan sisi panjang dan pendek kolom

αs = 40 (jika termasuk kolom dalam)

2.11 Penurunan (Settlement)


2.11.1 Penurunan Pondasi Tiang Tunggal
Penurunan dipengaruhi mekanisme pengalihan beban, maka penyelesaian
untuk perhitungan penurunan hanya bersifat pendekatan. Untuk memperkirakan
besarnya penurunan elastis maupun seketika pada pondasi tiang tunggal,
[Link] dua metode, yaitu metode semi empiris dan metode empiris.
a. metode semi-empiris
penurunan elastis pondasi tiang tunggal dapat dihitung sebagai berikut :
1. = + + ................................................................. (2-67)
( )
2. = ........................................................................ (2-68)

Keterangan :

Ss = penurunan akibat deformasi tiang tunggal

Qp = daya dukung ujung tiang

Qs = daya dukung selimut tiang

Ap = luas ujung tiang bawah

L = panjang tiang

Ep = modulus elsatisitas material tiang

Α = 0,5 jika distribusi gesekan berbentuk parabola atau 0,67


jika segitiga

3. = ............................................................................. (2-69)

Keterangan :

56
Sp = penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada
ujung

Tiang

Cp = koefisien empiris

D = diameter tiang

Qp = daya dukung batang ujung tiang

4. = (1 − )

Keterangan :

Sps = penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja


sepanjang kulit/selimut tiang

P = keliling penampang tiang

L = panjang tiang

Es = modulus elastisitas tanah

μs = angka poisson

Iws = faktor pengaruh

Faktor pengaruh menurut Vesic (sholeh, 2008) yaitu :

= 2 + 0,35 ...................................................................(2-70)

57
2.11.2 Penurunan Kelompok Pondasi Tiang

Sg =S

Keterangan :

Sg = Penurunan tiang kelompok (m)

S = Penurunan tiang tunggal (m)

Bg = Lebar kelompok tiang (m)

D = Diameter tiang (m)

58

Anda mungkin juga menyukai