2 Metode Pembelajaran Kooperatif...........
(Inneke Kusuma Dewi)
METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
PADA PEMBELAJARAN ILMU GIZI KELAS X SMK MA’ARIF BOROBUDUR
Oleh : Inneke Kusuma Dewi
Pendidikan Teknik Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta
Inneke.Kusuma29@[Link]
Andian Ari Anggraeni, [Link].
Pendidikan Teknik Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Menerapkan model pembelajaran Jigsaw pada pembelajaran Ilmu
Gizi di SMK Ma’arif Borobudur, 2) Mengetahui hasil belajar mata pelajaran Ilmu Gizi kelas X Tata Boga 1
dengan metode pembelajaran Jigsaw di SMK Ma’arif Borobudur, 3) Mengetahui keaktifan belajar mata
pelajaran Ilmu Gizi kelas X Tata Boga dengan metode pembelajaran Jigsaw di SMK Ma’arif Borobudur.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-November 2016 di SMK Ma’arif Borobudur dan Universitas
Negeri Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kemmis dan Taggart.
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Tata Boga 1 di SMK Ma’arif Borobudur yang berjumlah
19 siswa pada tahun ajaran 2016/2017. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif
kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Metode pembelajaran Jigsaw pada mata pelajaran Ilmu Gizi di
SMK Ma’arif Borobudur dilaksanakan dalam 2 siklus dalam mata pelajaran ilmu gizi, yaitu siklus I pada
materi menu seimbang dan Siklus II dengan materi siklus menu pada kelas X Tata Boga 1, 2) Hasil belajar
dalam mata pelajaran Ilmu Gizi melalui metode pembelajaran Jigsaw di SMK Ma’arif Borobudur pada
posttest pra siklus, siklus I dan siklus II memiliki rerata 69,5, 73,8, dan 79,7 dengan ketuntasan nilai KKM
dari 19 siswa adalah pra siklus 8 siswa (40%), siklus I terdapat 13 siswa (65%), dan siklus II terdapat 19
siswa 100%, 3) Keaktifan siswa dalam mata pelajaran Ilmu Gizi melalui model pembelajaran Jigsaw di
SMK Ma’arif Borobudur pada pra siklus terdapat 2 siswa dalam kategori tinggi, siklus I terdapat 14 siswa
kategori tinggi, dan pada siklus II 19 siswa dalam kategori tinggi.
Kata Kunci : hasil belajar, pembelajaran Jigsaw , Ilmu Gizi.
ABSTRACT
COOPERATIVE LEARNING with JIGSAW METHOD on NUTRITION SCIENCE at CLASS X of
SMK MA’ARIF BOROBUDUR
This study aimed to : 1) Apply the jigsaw learning model in Nutrition Science learning at SMK
Ma’arif Borobudur, 2) Find out the learning achievement of the Nutrition Science subject in grade X of
Culinary I by using the jigsaw learning method at SMK Ma’arif Borobudur, AND 3) Find out the learning
activeness in the Nutrition Science subject in grade X of Culinary I by using the jigsaw learning method at
SMK Ma’arif Borobudur. It was conducted in Januari-November 2016 at SMK Ma’arif Borobudur and
Yogyakarta State University. The research subjects were the students of grade X of Culinary I at SMK
Ma’arif Borobudur in 2016/2017 academic year with a total of 19 studens. The data analysis was
determinated by the quantitative descriptive technique. The results of the study were as follows : 1) The
jigsaw learning method in the Nutrition Science at grade X of Culinary 1 SMK Ma’arif Borobudur was
applied in 2 cycles ; the material in cycle I was balanced menu and the material in cycle II was amenu cycle.
2) The learning achievement of the Nutrition Science subject trought the jigsaw learning method at SMK
Ma’arif Borobudur in the posttest of the pre-cycle, cycle I, and cycle II was indicated by mean scores of
69.5, 73.8, and 79.7. Regarding the attainment of the Minimum Mastery Criterion (MMC) score, of 19
students, in the pre-cycle, 8 students (40%)attained in, in cycle I 13 students (65%) attained it, and in cycle
II 19 students (100%) attained it. 3) Regarding the students activeness in the Nutrition Science subject
trought the jigsaw learning model at SMK Ma’arif Borobudur, in the pre-cycle 2 students were in the high
category, in cycle I 14 students were in high category, and in cycle II 19 student were in the high category
Keywords: learning achievement, jigsaw learning, Nutrition Science
Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi) 3
PENDAHULUAN (2012:80-95), ada beberapa model
pembelajaran pendukung pengembangan
Dunia pendidikan saat ini semakin
pembelajaran kooperatif salah satunya yaitu
berkembang, berbagai macam pembaharuan
metode Jigsaw.
dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas
Model pembelajaran kooperatif
dan kuantitas pendidikan. Untuk
dikembangkan untuk mencapai hasil belajar
meningkatkan kualitas pendidikan
berupa prestasi akademik, toleransi,
diperlukan berbagai terobosan baik dalam
menerima keragaman, dan pengembangan
pengembangan kurikulum, inovasi
keterampilan sosial. Unsur kelima
pembelajaran, dan pemenuhan sarana serta
pembelajaran kooperatif adalah pemrosesan
prasarana pendidikan. Untuk meningkatkan
kelompok. Tujuan pemrosesan kelompok
proses pembelajaran, maka guru dituntut
adalah meningkatan keefektifan tiap anggota
untuk membuat pembelajaran menjadi lebih
kelompok terhadap kegiatan kolaboratif
inovatif yang mendorong siswa dapat belajar
untuk mencapai tujuan kelompok. Model
secara optimal baik di dalam belajar mandiri
pembelajaran kooperatif diantaranya Student
maupun didalam pelajaran di kelas.
Team Achievement Divisions (STAD), Team
Pendidikan memiliki peranan penting guna
Game Tournament (TGT), Jigsaw,
meningkatkan kualitas sumber daya
Kelompok Investigasi (KI), dan Snowbal
manusia. Pendidikan memegang peranan
Throwing (ST).
penting dalam mencerdaskan kehidupan
Menurut Agus Suprijono (2009:89)
bangsa, oleh karena itu setiap individu yang
pembelajaran Jigsaw merupakan
terlibat dalam pendidikan dituntut berperan
pembelajaran kooperatif dimana guru
serta secara maksimal guna meningkatkan
membagi kelas menjadi kelompok-
mutu pendidikan tersebut. Dalam dunia
kelompok lebih kecil. Jumlah kelompok
pendidikan dibutuhkan sebuah tempat atau
bergantung pada konsep yang terdapat pada
wadah untuk menampung orang yang
topik yang dipelajari. Jika satu kelas ada 40
berpendidikan. Sekolah dianggap sebagai
siswa, maka setiap kelompok beranggotakan
tempat yang sangat cocok untuk
10 orang. Keempat kelompok itu disebut
menampung hal tersebut.
kelompok asal, setelah kelompok asal
Menurut Agus Suprijono (2012;54) terbentuk, guru membagikan materi tekstual
“Pembelajaran kooperatif adalah konsep kepada tiap-tiap kelompok. Berikutnya
yang lebih luas meliputi semua jenis kerja membentuk kelompok ahli, berikan
kelompok termasuk bentuk-bentuk yang kesempatan untuk berdiskusi. Setelah itu
lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh kembali pada kelompok asal dan
guru”. Istilah kooperatif dalam hal ini menjelaskan hasil diskusi kepada kelompok
bermakna lebih luas, yaitu menggambarkan masing-masing.
keseluruhan proses sosial dalam belajar dan Metode pembelajaran Jigsaw ini
mencakup pula pengertian kolaboratif. sendiri terbagi menjadi dua tipe yaitu Jigsaw
Menurut Shaw dalam Agus Suprijono tipe I atau sering disebut Jigsaw dan Jigsaw
(2012:57) dalam pembelajaran kooperatif, tipe II. Menurut Trianto (2010:75) model
kelompok bukanlah semata-mata Jigsaw tipe II sudah dikembangkan oleh
sekumpulan orang. Kumpulan disebut Slavin. Ada perbedaan yang mendasar
kelompok apabila ada interaksi, mempunyai antara pembelajaran Jigsaw I dan Jigsaw II,
tujuan, berstruktur, groupness. Pembelajaran kalau tipe I awalnya siswa hanya belajar
kooperatif tidak sama dengan sekedar konsep tertentu yang menjadi
belajar dalam kelompok. Pelaksanaan spesialisasinya sementara konsep-konsep
prosedur model pembelajaran kooperatif yang lain ia dapatkan melalui diskusi
yang benar akan memungkinkan guru dengan teman segrupnya. Pada tipe II ini
mengelola kelas lebih efektif. Banyak setiap siswa memperoleh kesempatan
dijumpai di kelas pembelajaran kooperatif belajar secara keseluruhan konsep (scan
tidak berjalan efektif, meskipun guru telah read) sebelum ia belajar spesialisasinya
menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran untuk menjadi expert. Pada penelitian
kooperatif. Menurut Hamzah B. Uno
4 Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi)
tindakan kelas yang akan dilakukan peneliti keaktifan akan berpengaruh besar pada
menggunakan model Jigsaw tipe I. keberhasilan proses pembelajaran dan hasil
Jigsaw memiliki beberapa belajar. Semakin tinggi keaktifan siswa,
kelebihan: 1) kebanyakan guru menilai maka keberhasilan proses belajar dan hasil
metode kooperatif tipe Jigsaw mudah belajar juga akan semakin tinggi.
dipelajari, 2) kebanyakan guru menikmati Nana sudjana (2011,34)
mengajar dengan metode kooperatif tipe mendefinisikan hasil belajar sebagai
Jigsaw , 3) dapat digabungkan dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki
strategi metode mengajar lainnya, 4) dapat siswa setelah ia menerima pengalaman
berhasil meskipun alokasi waktunya hanya
belajarnya. Selain itu hasil belajar
satu jam per hari, 5) bebas dalam
adalah perubahan tingkah laku yang
[Link] pembelajaran
terjadi setelah mengikuti proses belajar
Jigsaw adalah metode pembelajaran
mengajar yang sesuai dengan tujuan
yang memberikan kesempatan kepada
pendidikan. Menurut pendapat Nana
peserta didik untuk bekerja sama dalam
Sudjana (2011: 22) jenis-jenis hasil
mempelajari materi pembelajaran
belajar terdiri dari 3 ranah yaitu: (1)
dengan siswa lain, dengan demikian
Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil
siswa akan lebih aktif dalam kegiatan
belajar intelektual yang terdiri dari enam
pembelajaran.
Menurut Sardiman (2011: 100) aspek yakni pengetahuan atau ingatan,
keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir dan evaluasi. (2) Ranah afektif,
sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat berkenaan dengan sikap nilai yang
dipisahkan. Jenis-jenis aktivitas belajar terdiri dari lima aspek, yaitu penerimaan,
adalah visual activities, oral activities, jawaban dan reaksi, penilaian,
listening activities, writing activities, organisasi, internalisasi. Pengukuran
drawing activities, motor activities, mental ranah afektif tidak dapat dilakukan
activities, dan emotional activities. Lembar sekali waktu karena perubahan tingkah
observasi keaktifan siswa yang digunakan laku siswa dapat berubah sewaktu-
untuk mengetahui seberapa besar keaktifan
waktu. (3) Ranah psikomotorik,
siswa selama pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran talking berkenaan dengan hasil belajar
stick. Terdapat 10 indikator penilaian yaitu: keterampilan dan kemampuan bertindak.
1) Memperhatikan guru saat menyampaikan Pengukuran ranah psikomotorik
materi pembelajaran, dilakukan terhadap hasil-hasil belajar
2) Mendengarkan penjelasan guru, yang berupa penampilan.
3) Mendengarkan pendapat teman, Menurut Nana Sudjana (2011:7)
4) Menjawab pertanyaan guru, acuan penilaian yang digunakan dalam
5) Mengembangkan ide/gagasan dalam pengukuran hasil belajar yaitu penilaian
kelompok acauan patokan (PAP). Penilaian acuan
6) Berdiskusi dengan kelompok patokan (PAP) adalah penilaian
7) Mengemukakan pendapat kepada teman
penilaian yang diacukan kepada tujuan
atau guru
8) Kemampuan mengingat materi yang instruksional yang harus dikuasai siswa.
disampaikan oleh guru Dengan demikian, derajat keberhasilan
9) Berani bertanya siswa dibandingkan dengan tujuan yang
10) Menyampaikan poin – poin penting seharusnya dicapai, bukan dibandingkan
yang disampaikan oleh guru. dengan rata-rata kelompoknya.
Keberhasilan siswa ditentukan kriteria,
(Sardiman, 2011:100) biasanya berkisar antara 75-80 persen.
Keaktifan siswa sebagai unsur Tes sebagai alat penilaian adalah
terpenting dalam pembelajaran, karena
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi) 5
kepada siswa untuk mendapat jawaban pendidikan tertentu. Bidang keahlian Tata
dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), Boga adalah salah satu program keahlian
dalam bentuk tulisan (tes tertulis), atau yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan
dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). kelompok Pariwisata yang membekali
Jenis tes tertulis dapat dibagi menjadi peserta didik dengan ketrampilan,
pengetahuan, dan sikap agar kompeten
dua yaitu tes esaii dan tes objektif. Tes sesuai bidang keahlian masing-masing.
esai atau tes uraian terdiri dari tes uraian Kompetensi dalam konteks pengembangan
bebas, uraian terbatas, dan uraian kurikulum adalah perpaduan dari
terstruktur. Sedangkan tes objektif terdiri pengetahuan, ketrampilan, nilai, dan sikap
dar beberapa bentuk yaitu pilihan benar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir
salah, pilihan berganda dengan berbagai dan bertindak.
variasinya, menjodohkan, dan isian Mata pelajaran Ilmu Gizi adalah
pendek atau melengkapi, Nana Sudjana salah satu materi yang terdapat dalam
(2005: 35). bidang keahlian jasa boga di SMK Ma’arif
Menurut Djemari Mardapi Borobudur. Ilmu gizi merupakan ilmu yang
(2008:72) pedoman utama dalam mempelajari tentang pengetahuan di bidang
ilmu gizi yang meliputi pengertian dan
pembuatan butir soal bentuk pilihan istilah, zat-zat gizi, pencernaan dan
ganda antara lain pokok soal harus jelas, metabolisme, kecukupan dan kebutuhan
pilihan jawaban homogen, panjang gizi, perencanaan konsumsi dan penilaian
kalimat pilihan jawaban relatif sama, status gizi, gizi daur hidup, penyakit gizi
tidak ada petunjuk jawaban benar, salah dan timbulnya masalah gizi, serta gizi
hindari menggunakan pilihan jawaban masyarakat dan sosio budaya gizi.
semua benar atau semua salah, semua SMK Ma’arif Borobudur
pilihan jawaban logis, jangan merupakan suatu lembaga pendidikan
menggunakan negatif ganda, kalimat kejuruan yang ada di Borobudur, Kabupaten
yang digunakan sesuai dengan tingkat Magelang. SMK Ma’arif Borobudur
perkembangan peserta tes, bahasa merupakan suatu sekolah yang berdiri pada
tahun 2012 dan memiliki satu jurusan, yaitu
Indonesian yang digunakan baku, letak
Tata Boga. Pendidikan dan keterampilan di
pilihan jawaban benar ditentukan secara SMK Ma’arif Borobudur merupakan
acak. Dengan tes pilihan ganda ini pendidikan pokok yang harus dipelajari oleh
diharapkan siswa dapat mencapai hasil siswa, karena hal ini sangat menunjang
belajar yang maksimal. Hasil belajar aspek pengetahuan life skill dan kemandirian
boga dasar berpengaruh besar terhadap siswa. Persaingan dan perubahan yang
siswa untuk mempelajari mata pelajaran menantang juga telah memacu dunia
yang lain, terutama mata pelajaran pendidikan untuk bisa beradaptasi dengan
pengolahan masakan Indonesia. mengembangkan program-program yang
Sekolah Menengah Kejuruan adalah dapat meningkatkan kompetensi mereka
salah satu jenis lembaga pendidikan formal sehingga mampu bersaing dengan efektif.
yang menjadi salah satu alternatif sekolah Hasil observasi di SMK Ma’arif
lanjutan selain Sekolah Menengah Atas Borobudur, kegiatan pembelajaran yang
(SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) bagi dilakukan di kelas teori pada mata pelajaran
peserta didik yang ingin mendapat keahlian ilmu gizi menunjukkan bahwa banyak siswa
dalam suatu bidang tertentu. Sekolah kurang memperhatikan materi yang
Menengah Kejuruan dibangun atau didirikan disampaikan oleh guru, siswa cenderung
untuk menciptakan lulusan agar siap kerja kelihatan kurang bersemangat, ada yang
sesuai dengan minat dan bakatnya. mengantuk, dan asyik mengobrol dengan
Berdasarkan pernyataan tersebut maka jelas teman sebangku, sehingga materi pelajaran
bahwa Sekolah Menengah Kejuruan fokus pun tidak dapat diterima secara baik. Hal ini
pada suatu program keahlian atau program terjadi karena guru masih menggunakan
metode pembelajaran ceramah, yaitu
6 Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi)
membacakan atau memberikan materi yang Tahap penelitian dilakukan dengan
disiapkannya, sedangkan siswa observasi di lapangan, mengumpulkan
mendengarkan, mencatat dengan teliti dan materi dan membuat media pembelajaran
mencoba menyelesaikan soal. Hal tersebut yang kemudian di validasi oleh ahli materi.
menjadikan siswa pasif untuk mengikuti Setelah dilakukan validasi, selanjutnya
mata pelajaran Persiapan Pengolahan dan dilakukan penerapan kepada siswa dengan
takut untuk bertanya. Seharusnya siswa menerapkan metode Jigsaw yang kemudian
lebih aktif belajar sehingga mempunyai diketehui hasil pembelajaran tersebut.
kemampuan untuk mengembangkan
kreatifitasnya serta lebih dapat memahami
pelajaran dan terampil dalam menyelesaikan METODE PENELITIAN
soal dengan baik. Selama proses Jenis Penelitian
pembelajaran hampir tidak ada siswa yang Penelitian ini adalah penelitian tindakan
aktif untuk bertanya pada guru, bahkan kelas (classroom action research) dan
ketika diberi pertanyaan oleh guru, siswa termasuk dalam ruang lingkup penelitian
hanya diam saja dan tidak menjawab terapan (applied research) yang
pertanyaan guru. Ketika diberi tugas menggabungkan antara pengetahuan,
kelompokpun masih terdapat beberapa siswa penelitian, dan tindakan.
yang tidak ikut serta dalam diskusi
kelompok. Masalah ini sangat berpengaruh Waktu dan Tempat Penelitian
terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa. Penelitian dilaksanakan pada bulan
Penelitian ini menggunakan metode Januari sampai November 2016, di Jurusan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), atau Pendidikan Teknik Boga dan Busana,
Classroom Action Research. Penelitian Fakultas Teknik, Universitas Negeri
tindakan kelas, yaitu penelitian yang Yogyakarta dan SMK Ma’arif Borobudur,
dilakukan untuk mencari suatu dasar yang beralamatkan di Jl. Syailendra Raya –
pengetahuan prktis dalam rangka Kelon Borobudur, Kabupaten Magelang.
memperbaiki situasi yang dilakukan secara
terbatas di dalam kelas. Tujuan Penelitian Subjek Penelitian
Tindakan Kelas dalam penelitian ini adalah Subyek dalam penelitian ini adalah
untuk memperbaiki praktek pembelajaran siswa kelas X Tata Boga 1 di SMK Ma’arif
dengan sasaran akhir memperbaiki belajar Borobudur yang berjumlah 19 siswa pada
siswa. Dengan PTK kesalahan dalam proses tahun ajaran 2016/2017. Teknik
pembelajaran akan cepat dianalisis dan pengambilan subyek penelitian dilakukan
diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak dengan purposive sampling yaitu teknik
akan berlanjut. Jika kesalahan dapat pengambilan subyek penelitian dengan
diperbaiki, hasil belajar siswa diharapkan pertimbangan tertentu. Penelitian akan
akan meningkat. Sebaiknya jika kesalahan diterapkan pada kelas X Tata Boga 1 di
dalam proses pembelajaran dibiarkan SMK Ma’arif dengan dengan jumlah 19
berlarut-larut, maka guru akan tetap siswa.
mengajar dengan cara yang sama sehingga
hasil belajar pun tetap sama, bahkan Prosedur, Data, Instrumen, dan Teknik
mungkin menurun. Penelitian ini dilakukan Pengumpulan Data
untuk Menerapkan model pembelajaran
Jigsaw pada pembelajaran Ilmu Gizi di Prosedur dan Data
SMK Ma’arif Borobudur, mengetahui hasil Prosedur penelitian tindakan dibagi
belajar mata pelajaran Ilmu Gizi kelas X menjadi 4 tahap kegiatan pada 1 putaran
Jasa Boga dengan metode pembelajaran (siklus) yaitu: perencanaan – tindakan dan
Jigsaw di SMK Ma’arif Borobudur, dan observasi – refleksi. Data yang digunakan
mengetahui keaktifan siswa pada mata adalah data statistik deskriptif.
pelajaran Ilmu Gizi kelas X Jasa Boga
dengan metode pembelajaran Jigsaw di Instrumen Penelitian
SMK Ma’arif Borobudur. Instrumen penelitian yaitu:
Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi) 7
1. Materi pembelajaran yang dilakukan oleh kedua observer,
Instrumen berupa materi menu seimbang pada siklus I masih ada beberapa siswa
dan siklus menu. yang kurang paham dengan model
2. Metode pembelajaran pembelajaran ini, hal ini dikarenakan
Instrumen metode pembelajaran berupa siswa baru pertama kali menerapkan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
model pembelajaran Jigsaw dalam
dan lembar observasi pelaksanaan
pembelajaran berupa angket dengan 22 pembelajaran. Kegiatan belajar siswa
indikator. dalam mengikuti pembelajaran Ilmu Gizi
3. Ahli evaluasi belum maksimal. Meskipun demikian,
Instrumen evaluasi pembelajaran berupa hasil belajar siswa mengalami
lembar observasi keaktifan siswa dengan 12 peningkatan dari pretest ke posttest
indikator penilaian dan soal tes pilihan yang dilakukan. Pada posttestpra siklus
ganda, dengan materi menu seimbang dan yang dilakukan oleh guru mata
siklus menu. pelajaran Ilmu Gizi pada materi zat gizi
yang dilakukan di pertemuan sebelum
Teknik Pengumpulan Data dilakukannya pengambilan dataoleh
Observasi peneliti, hasil belajar siswa yang
Observasi merupakan metode mencapai KKM sebanyak 8 siswa atau
pengumpulan data melalui pengamatan dan 40%, sedangkan pada siklus I hasil
pencatatan perilaku subjek penelitian yang belajar siswa dalam posttest yang
dilakukan secara sistematik (Endang mencapai nilai KKMsebanyak 13 siswa
Mulyatingsih, 2011:26).
atau 65%.
Pada siklus II hasil belajar siswa mencapai
Teknik Analisis Data
100% yakni semua siswa sudah lulus KKM.
Statistik deskriptif Hal ini dikarenakan model pembelajaran
Analisis deskriptif adalah bagian Jigsaw dapat diterapkan dalam pembelajaran
statistik yang mempelajari cara dengan baik. Kegiatan pembelajaran
pengumpulan dan penyajian data sehingga sebelum diberi tindakan (pra siklus) belum
mudah dipahami. Dengan demikian analisis bisa meningkatkan keaktifan dan hasil
data deskriptif ini hanya berhubungan belajar siswa, karena dalam proses
dengan hal yang menguraikan atau pembelajaran guru belum menerapkan
memberikan keterangan-keterangan model pembelajaran yang dapat membuat
mengenai suatu data atau keadaan atau siswa menjadi aktif dan semangat dalam
fenomena. Analisis datanya berupa susunan kegiatan pembelajaran.
angka-angka yang memberikan gambaran
tentang data yang disajikan dalam bentuk 2. Pencapaian dan Peningkatan Hasil
tabel atau diagram. Belajar
Hasil belajar pada posttest pra siklus, siklus
HASIL PENELITIAN DAN I, dan siklus II dapat dilihat pada tabel 1 :
PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
1. Penerapan Model Pembelajaran
Jigsaw Pada Pembelajaran Ilmu Gizi
Kelas X Tata Boga 1 SMK Ma’arif
Borobudur
Pada siklus I tahap tindakan yang
terdiri dari 3 tahapan yaitu kegiatan Tabel 1. Daftar Hasil Belajar Posttest Pra
pendahuluan, pelaksanaan pembelajaran Siklus, Siklus I dan Siklus II
dan penutup. Hasil lembar observasi
8 Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi)
Tabel 3. Distribusi Kategorisasi
Keaktifan Siswa Pra Siklus, Siklus I, dan
Siklus II
Presentase
Pra siklus Siklus I Siklus II Kategori Skor
Keterangan Pra Siklus Siklus
Rerata Skor 69,5 73,8 79,7 siklus I II
Jumlah lulus 8 siswa 13 siswa 19 siswa Tinggi X > 28 10% 70% 100%
KKM
3. P Sedang 20 ≤ X ≤ 28 90% 30% 0%
Frekuensi Lulus 40 % 65 % 100 % Rendah X < 20 0% 0% 0%
eKKM
n
Pembahasan
capaian dan Peningkatan Keaktifan
Data yang disajikan merupakan 1. Penerapan Model Pembelajaran
hasil observasi keaktifan belajar siswa yang Jigsaw Pada Mata Pelajaran Ilmu Gizi
meliputi 12 indikator penilaian dari 4 Kelas X Tata Boga 1 di SMK Ma’arif
domain aktifitas belajar yaitu visual Borobudur
activities, listening activities, oral activities, Penerapan metode pembelajaran Jigsaw
mental activities, dan emotional activities. pada mata pelajaran Ilmu Gizi sebagai
Lembar observasi keaktifan belajar siswa tindakan dalam penelitian ini dilakukan
bertujuan untuk mengetahui keaktifan siswa mulai siklus I sampai siklus II. Adapun
selama proses pembelajaran berlangsung. pelaksanaan metode pembelajaran Jigsaw
Tabel hasil keaktifan siswa pada pra siklus, pada menu seimbang dan siklus menu:
siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel
2. a. Tahap Pendahuluan
Pada siklus I sebagian siswa belum siap
Tabel 2. Hasil Keaktifan Siswa Pada Pra untuk mengikuti pelajaran, siswa ada yang
Siklus, Siklus I Dan Siklus II masih berada di kantin karena baru selesai
Rerata jam istirahat. Sehingga pada siklus II
dilakukan perbaikan pada jam masuk siswa
Indikator
Pra Siklus Siklus untuk mengikuti mata Ilmu Gizi dimana
Siklus I II siswa harus masuk kelas tepat waktu setelah
Memperhatikan guru saat
jam istirahat selesai. Sehingga kegiatan yang
menyampaikan materi 2 2,4 2,9 dilakukan pada tahap pendahuluan pada
pelajaran siklus II terlaksana dengan baik sesuai
Mendengarkan penjelasan
guru
1,9 2,5 3 dengan rencana pembelajaran (RPP) dan
Mendengarkan pendapat siswa terlihat antusias untuk mengawali
1,9 2,1 3
teman pelajaran tanpa gelisah dan mengeluh.
Menjawab pertanyaan guru 2 2,5 2,8
Mengembangkan ide/gagasan
Kegiatan pendahuluan pada siklus I dan
2,1 2,3 2,9 II sudah berjalan dengan lancar setelah
dalam kelompok
Berdiskusi dengan kelompok 1,9 2,5 3 dilakukan perbaikan. Semua siswa dapat
Mengemukakan pendapat
kepada teman atau guru
1,9 2,3 2,8 mengikuti kegiatan pendahuluan
Kemampuan mengingat pembelajaran dengan model pembelajaran
materi yang disampaikan 1,9 2,4 3 Jigsaw dengan baik.
oleh guru
Menanggapi setiap pertanyaan
2,1 2,4 3 b. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran
yang diberikan
Bersemangat 1,8 2,3 3 Pada tahap pelaksanaan pembelajaran
Menaruh minat terhadap
pelajaran
1,8 2,4 2,9 ini mulai diterapkan metode pembelajaran
Rerata 1,9 2,7 2,9 Jigsaw. Pada siklus I masih ada beberapa
siswa yang masih kurang percaya diri dalam
Dari hasil keaktifan siswa yang terdapat mengemukakan pendapat atau bertanya
pada tabel 2 maka selanjutnya dibagi kepada teman atau guru. Selain itu banyak
menjadi tiga kategori keaktifan yang siswa yang malah mengobrol sendiri diluar
terdapat di tabel 3. mata pelajaran yang sedang dipelajari dan
bercanda gurau dengan teman satu
kelompoknya. Selain itu hambatan dalam
Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi) 9
pelajaran tersebut disebabkan karena siswa pembelajaran Jigsaw sudah mencakup
masih malu dan kurang termotivasi untuk semua indikator yang ada.
belajar (siswa belum terbiasa dengan model
pembelajaran yang baru dimana siswa 2. Pencapaian Hasil Belajar dan
dituntut untuk lebih aktif dan lebih dominan Keaktifan Pada Mata Pelajaran Ilmu
di dalam proses pembelajaran). Sehingga Gizi Kelas X Tata Boga 1 di SMK
respon siswa mengenai tindakan yang Ma’arif Borobudur
diberikan masih kurang, hanya beberapa
siswa yang berani bertanya, menjawab a. Pencapaian Hasil Belajar
pertanyaan guru, dan mengemukakan 1) Pencapaian Nilai Posttest
pendapat. Berdasarkan pencapaian nilai posttest
Pada siklus II dilakukan perbaikan yang tercantum pada Tabel 3, maka
dimana siswa harus lebih diperhatikan dan peningkatan hasil belajar siswa pada mata
diberikan motivasi kepada siswa agar pelajaran Ilmu Gizi melalui penerapan
pembelajaran lebih maksimal. Selain itu metode pembelajaran Jigsaw menunjukkan
guru juga mempersiapkan rewardyang akan peningkatan pada setiap siklus yang
diberikan kepada siswa apabila siswa dapat dilakukan.
menjawab pertanyaan dari guru. Dengan Pada pra siklus nilai rerata siswa
demikian siswa akan lebih termotivasi masih dibawah standar nilai KKM sehingga
dalam belajar. dilakukan perbaikan dalam melakukan
Pada siklus II setelah guru lebih metode pembelajaran pada siklus I, setelah
memotivasi dan memantau belajar siswa dilakukan perbaikan pada siklus I dengan
serta memberikan reward, proses belajar melakukan interaksi secara aktif dengan
pun berhasil berjalan dengan lancar. siswa maka hasil belajar siswa pada siklus I
Kegiatan menjadi lebih maksimal, kondisi meningkat seperti yang terdapat pada tabel
kelas pun semakin kondusif. Siswa sudah 4. Dalam tahap siklus II semua siswa telah
tidak malu-malu lagi dalam bertanya, mencapai nilai KKM.
menjawab pertanyaan guru, serta Adanya peningkatan hasil belajar
mengemukakan pendapatnya. Bahkan para siswa disetiap siklus yang dilakukan,
siswa pada berebut ingin bertanya dan merupakan indikasi keberhasilan
menjawab pertanyaan dari guru. Metode tindakan yaitu penerapan metode
pembelajaran Jigsaw menuntut siswa untuk
pembelajaran Jigsaw pada mata
aktif dan dapat berdiskusi serta bekerjasama
di dalam kelompok, serta bertanggung jawab pelajaran Ilmu Gizi sebagai upaya
terhadap pembelajarannya sendiri maupun peningkatan hasil belajar siswa.
pembelajaran orang lain.
2) Pencapaian nilai KKM
c. Tahap Penutup Masih adanya siswa yang belum
Tahap penutup yaitu tahapan menutup tuntas pada siklus I dikarenakan belum
pembelajaran. Pada siklus I dan siklus II terbiasa dengan pembelajaran langsung yang
pada tahap ini sudah berjalan dengan baik diterapkan dan belum terbiasa dengan metode
tanpa ada hambatan. pembelajaran Jigsaw yang menuntut siswa
Berdasarkan data yang diperoleh, untuk lebih aktif. Maka di sini dilakukan
penerapan metode pembelajaran Jigsaw diskusi dengan guru untuk memperbaiki
pada siklus I dan II sudah dilaksanakan kekurangan yang ada agar siswa yang belum
sesuai dengan perencanaan dan tahapannya. tuntas bisa tuntas dengan cara memperbaiki
Pada siklus I keterlaksanaan pembelajaran refleksi siklus I, memperbaiki rencana
Ilmu Gizi dengan metode pembelajaran pembelajaran, memberikan motivasi agar
Jigsaw belum maksimal, masih ada beberapa siswa lebih aktif dan termotivasi dalam
langkah pembelajaran yang belum berjalan kegiatan pembelajaran dan akan diterapkan
dengan baik. Pada siklus II keterlaksanaan pada siklus ke II.
pembelajaran Ilmu Gizi dengan metode
10 Metode Pembelajaran Kooperatif...........(Inneke Kusuma Dewi)
b. Pencapaian Keaktifan siswa adalah pra siklus 8 siswa (40%),
Berdasarkan hasil pengamatan dapat siklus I terdapat 13 siswa (65%), dan
diketahui bahwa permasalahan-permasalahan siklus II terdapat 19 siswa 100%.
dikelas telah mengalami perbaikan. Beberapa 3. Keaktifan siswa dalam mata pelajaran
diantaranya adalah siswa lebih antusias ketika Ilmu Gizi melalui model pembelajaran
guru menjelaskan materi, siswa berani Jigsaw di SMK Ma’arif Borobudur pada
bertanya, menjawab pertanyaan guru, dan pra siklus terdapat 2 siswa dalam
mengemukakan pendapat. Selain itu siswa kategori tinggi, Siklus I terdapat 14 siswa
dapat berdiskusi dan bertukar pendapat dalam kategori tinggi, dan pada siklus II 19
kelompok dengan baik, siswa juga sudah siswa dalam kategori tinggi.
mampu mengingat materi yang diberikan
guru. Saran
Metode pembelajaran Jigsaw mampu Berdasarkan hasil penelitian penerapan
untuk meningkatkan keaktifan dan semangat metode Jigsaw untuk meningkatkan hasil
belajar siswa. Melalui model pembelajaran ini belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Gizi di
siswa diberikan kesempatan maksimal untuk SMK Ma’arif Borobudur, dapat disampaikan
menunjukkan kemampuan terbaiknya yang beberapa saran sebagai berikut:
dimiliki. Adanya kegiatan interaksi antara 1. Pada saat pembelajaran berlangsung, guru
guru dengan siswa dan siswa dengan siswa harus selalu berinteraksi dengan siswa,
cukup berdampak positif pada kegiatan karena dengan komunikasi yang baik dapat
pembelajaran. Perbaikan yang dilakukan mencairkan suasana yang tegang. Siswa
dapat menambah intensitas guru dalam bisa lebih terbuka dengan guru ketika
membangkitkan semangat siswa dan motivasi menghadapi kesulitan dalam proses
siswa untuk lebih giat dalam pembelajaran. pembelajaran, tanpa takut kepada guru
Berdasarkan uraian di atas, maka untuk bertanya. Sehingga siswa menjadi
keaktifan siswa pada mata Ilmu Gizi melalui lebih aktif.
penerapan metode pembelajaran Jigsaw 2. Pada penelitian ini penulis melakukan
menunjukkan peningkatan dari pra siklus, kesalahan prosedur penelitian yaitu belum
siklus I ke siklus II. Adanya peningkatan dilakukannya validitas instrumen
keaktifan siswa pada tiap siklus yang keaktifan siswa.
dilakukan, merupakan indikasi keberhasilan
tindakan yaitu penerapan metode
pembelajaran Jigsaw pada mata pelajaran DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Gizi sebagai upaya untuk meningkatkan Agus Suprijono. (2009). Cooperative
keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Learning. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Djemari Mardapi. (2008). Teknik Penyusunan
Instrumen Tes dan Non Tes. Yogyakarta
SIMPULAN DAN SARAN : Mitra Cendekia.
Simpulan Endang Mulyatiningsih. (2011). Metode
1. Penerapan metode pembelajaran Jigsaw Penelitian Terapan Bidang
pada mata pelajaran Ilmu Gizi di SMK Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Ma’arif Borobudur kelas X Tata Boga 1 Hamzah [Link] & Nurdin Muhamad, (2012).
dilaksanakan dalam 2 siklus, yaitu siklus Belajar dengan Pendekatan Pailkem.
I pada materi menu seimbang dan siklus Jakarta:BumiAksara
II dengan materi siklus menu pada kelas Nana Sudjana. (2000). Dasar-Dasar Proses
X Tata Boga 1. Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru
2. Hasil belajar dalam mata pelajaran Ilmu Algesindo.
Gizi melalui metode pembelajaran Nana Sudjana. (2010). Penilaian Hasil Proses
Jigsaw di SMK Ma’arif Borobudur pada Belajar Mengajar. Bandung : PT.
posttest pra siklus, siklus I dan siklus II Remaja Rosdakarya.
memiliki rerata 69,5, 73,8, dan 79,7 Sardiman. (2011). Interaksi dan Motivasi
dengan ketuntasan nilai KKM dari 19 Belajar. Jakarta : Rajawali Press.