0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan76 halaman

Perjanjian Lausanne 1923 dan Kedaulatan Turki

Skripsi ini membahas Perjanjian Lausanne 1923 yang mengakui kedaulatan Republik Turki setelah Perang Kemerdekaan. Penelitian ini menjelaskan latar belakang, proses pelaksanaan, dan dampak dari perjanjian tersebut, serta bagaimana perjanjian ini membawa perubahan signifikan bagi Turki, termasuk proklamasi kemerdekaan dan reformasi di bawah Mustafa Kemal. Metode yang digunakan adalah metode historis dengan analisis data yang mendalam.

Diunggah oleh

uwakspss
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan76 halaman

Perjanjian Lausanne 1923 dan Kedaulatan Turki

Skripsi ini membahas Perjanjian Lausanne 1923 yang mengakui kedaulatan Republik Turki setelah Perang Kemerdekaan. Penelitian ini menjelaskan latar belakang, proses pelaksanaan, dan dampak dari perjanjian tersebut, serta bagaimana perjanjian ini membawa perubahan signifikan bagi Turki, termasuk proklamasi kemerdekaan dan reformasi di bawah Mustafa Kemal. Metode yang digunakan adalah metode historis dengan analisis data yang mendalam.

Diunggah oleh

uwakspss
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

PERJANJIAN LAUSANNE 1923


(Pengakuan Kedaulatan Republik Turki Pasca Perang Kemerdekaan)

SKRIPSI

Oleh:
WAHYU NIRWANTO
NIM: K 4405039

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
[Link] [Link]

PERJANJIAN LAUSANNE 1923


(Pengakuan Kedaulatan Republik Turki Pasca Perang Kemerdekaan)

Oleh :
WAHYU NIRWANTO
NIM: K4405039

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan


mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Sejarah
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
[Link] [Link]

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji


Skripsi Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan P. IPS Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Hermanu Joebagio, M. Pd Drs. Herimanto, [Link], [Link]


NIP. 19560303 198603 1 001 NIP. 19661029 199112 1 001
[Link] [Link]

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program


Studi Pendidikan Sejarah Jurusan P. IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan
dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada Hari :
Tanggal :

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Dra. Sri Wahyuni, [Link] ……………


Sekretaris : Dra. Sariyatun, [Link], [Link] ………………
Anggota I : Drs. Hermanu Joebagio, M. Pd ........................
Anggota II : Drs. Herimanto, [Link], [Link] ........................

Disahkan oleh
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Dekan,

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd


NIP. 19600727 198702 1 001
[Link] [Link]

ABSTRAK

Wahyu Nirwanto. K4405039. PERJANJIAN LAUSANNE 1923 (PENGAKUAN


KEDAULATAN REPUBLIK TURKI PASCA PERANG KEMERDEKAAN).
Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas
Maret, April 2010.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) Latar belakang


Perjanjian Lausanne tahun 1923. (2) Proses pelaksanaan Perjanjian Lausanne
tahun 1923, (3) Dampak yang ditimbulkan dari Perjanjian Lausanne tahun 1923
bagi Turki.

Penelitian ini menggunakan metode historis. Sumber data yang


digunakan yaitu buku-buku literatur yang relevan dengan penelitian. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka.
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis historis, yaitu analisis
yang mengutamakan ketajaman dalam mengolah suatu data sejarah. Prosedur
penelitian dilakukan dengan empat tahap yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan
historiografi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Peristiwa yang


melatarbelakangi Perjanjian Lausanne 1923 diawali dengan Perang Dunia I. Akhir
Perang Dunia I diselesaikan dengan Perjanjian Sevres 1920 golongan nasionalis
Turki tidak menyetujui hasil dari Perjanjian Sevres karena merugikan Turki.
Reaksi Sekutu terhadap penolakan itu menyebabkan Perang kemerdekaan Turki
tahun 1921 hingga tahun 1922. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Sekutu
dan Turki melakukan perundingan di kota Lausanne. Perundingan itu
menghasilkan Perjanjian Lausanne tahun 1923. (2) Perjanjian Lausanne telah
mewujudkan tujuan dari Pakta Nasional. Turki telah memperoleh kembali
wilayah-wilayah yang diinginkannya. Dengan ditandatanganinya Perjanjian
Lausanne, negara nasional Turki mendapat pengakuan internasional. (3)
Perjanjian Lausanne berdampak luas bagi bangsa Turki. Perjanjian Lausanne telah
membuat Republik Turki berdaulat. Setelah perjanjian itu, Republik Turki
memproklamasikan kemerdekaannya dengan Mustafa Kemal sebagai presidennya.
Di bawah pemerintahan Kemal, dilakukan pembaruan-pembaruan di Turki.
Pembaruan-pembaruan yang dilakukan oleh pemerintahan Kemal antara lain
sekularisme, sistem ekonomi etatisme, dan penghapusan Kekhalifahan Turki
Utsmani.
[Link] [Link]

ABSTRACT

Wahyu Nirwanto. K4405039. TREATY OF LAUSANNE 1923 (INDEPENDENT


ACKNOWLEDGEMENT OF TURKEY REPUBLIC AFTER INDEPENDENT
WAR). Paper, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret
University, April 2010.

The aim of this research is to describe: (1) The background of Treaty of


Lausanne 1923. (2) The process of Treaty of Lausanne 1923. (3) The effect of
Treaty of Lausanne 1923 effect for Turkey.

This research use history methods. The research data sources is books
that relevant with this reasearch. The data gathering in this research use library
learning. The technique of data analysis used in this research is historical analysis,
it is give a priority to sharp the process of history data. The procedures of this
reasearch was done with four steps, that is heuristic, criticism, interpretation, dan
historiography.

Based on this research, it concluded that: (1) Event that become the
background of Treaty of Lausanne 1923 beginned by World War I. The last of
World War I finished by Treaty of Sevres 1920. Turkish nationalist group are not
agree the result of this Treaty. Entente reaction towards that rejection caused the
Turkish Independent War 1921 until 1922. To finished that problem, Entente and
Turkish arrange meeting to confrence at Lausanne city that next produced Treaty
of Lausanne 1923. (2) Treaty of Lausanne already realized Turkish National Pact
direction. Turkey already to get back much area that they want. After Treaty of
Lausanne legalized, Turkey national country get international acknowledgement.
(3) Treaty of Lausanne have big effect for Turkey nation. Treaty of Lausanne
already made Turkey Republic become independent. After taht Treaty, Turkey
Republic proclamated they independent with Mustafa Kemal as a president. At
Kemal government period, reformation executed at Turkey. Reformation that
executed Kemal government that sekularism, etatism economic system, and
Ottoman Empire wipe off.
[Link] [Link]

MOTTO

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa...


(Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945)

Semua perubahan besar sepanjang sejarah tidak terjadi karena bangsa, senjata,
pemerintah, dan bukan pula oleh keputusan komite. Perubahan besar terjadi oleh
keberanian dan komitmen seseorang.
(Michael Angier)
[Link] [Link]

PERSEMBAHAN

Karya ini dipersembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu


2. Adik-adikku
3. Kawan-kawan P. Sejarah UNS 2005
4. Mereka yang telah membantuku
5. Almamater
6. Semua orang yang mengenalku
[Link] [Link]

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan, untuk
memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar sarjana pendidikan
Hambatan dan rintangan yang penulis hadapi dalam penyelesaian
penulisan skripsi ini telah hilang berkat dorongan dan bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas
Maret Surakarta (UNS) yang telah memberikan ijin untuk menyusun skripsi.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP UNS yang telah
menyetujui atas permohonan skripsi ini.
3. Ketua Program Pendidikan Sejarah FKIP UNS yang telah memberikan
pengarahan dan ijin atas penyusunan skripsi ini.
4. Drs. Hermanu Joebagio, M. Pd selaku dosen pembimbing I yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Drs. Herimanto, M. Pd, [Link] selaku dosen Pembimbing II yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas amal baik kepada semua pihak yang telah
membantu pembuatan skripsi. Penulis memohon pula maaf apablila terdapat
tindakan dan perkataan penulis yang kurang berkenaan.
Penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan
skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada khususnya dan
perkembangan Ilmu Pengetahuan pada umumnya.

Surakarta, Juni 2010

Penulis
[Link] [Link]

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii
HALAMAN ABSTRAK .......................................................................... iv
HALAMAN MOTTO ................................................................................ vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................ viii
DAFTAR ISI ........................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Perumusan Masalah ........................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan ............................................................................... 4
D. Manfaat Penelitiaan ........................................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 6
A. Tinjauan Pustaka ............................................................................... 6
1. Imperialisme .................................................................................. 6
2. Nasionalisme ................................................................................ 10
3. Kedaulatan Negara ....................................................................... 14
B. Kerangka Berpikir .............................................................................. 17
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................. 19
A. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 19
B. Metode Penelitian .............................................................................. 19
C. Sumber Data ...................................................................................... 21
D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 22
E. Teknik Analisis Data ......................................................................... 24
F. Prosedur Penelitian ............................................................................ 25
BAB IV HASIL PENELITIAN ................................................................ 28
[Link] [Link]

A. Latar Belakang Perjanjian Lausanne 1923 ............................................ 28


1. Perang Dunia I ............................................................................... 28
2. Perjanjian Sevres 1920 ..................................................................... 33
[Link] Nasionalis Turki ................................................................. 37
4. Perang Kemerdekaan Turki 1921-1922 ............................................. 40
B. Proses Pelaksanaan Perjanjian Lausanne 1923 ..................................... 43
1. Tahap Perundingan .......................................................................... 43
2. Hasil Perundingan ............................................................................ 45
C. Dampak Perjanjian Lausanne 1923 ...................................................... 47
1. Dampak Politik ................................................................................ 47
2. Dampak Sosial Budaya .................................................................... 52
3 Dampak Ekonomi ............................................................................ 54
BAB V PENUTUP ..................................................................................... 56
A. Kesimpulan ....................................................................................... 56
B. Implikasi ........................................................................................... 58
C. Saran ................................................................................................. 60
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 61
LAMPIRAN ................................................................................................ 64
[Link] [Link]

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Imperialisme adalah setiap usaha atau tindakan yang dilakukan untuk


menguasai daerah atau bangsa lain. Imperialisme berawal dari bangsa Mesir,
Babylonia, dan Asyiria yang merupakan hasil penaklukan bangsa-bangsa
sekitarnya. Kemudian lahir Imperium Romawi yang pada masa puncaknya, daerah
kekuasaannya meliputi seluruh Eropa Barat, Asia Barat, Mesir, dan seluruh Afrika
Utara. Pada Abad ke-8 dan ke-9 bangsa-bangsa Arab menaklukkan Afrika Utara,
Spanyol, Eropa Selatan, Eropa Timur, dan Asia Barat. Kemudian bangsa Mongol
menguasai dunia pada abad ke-13 dan ke-14. Adanya penemuan alat navigasi,
kapal layar yang kuat, serta kemajuan pada bidang ilmu bumi pada pertengahan
abad ke-15 memungkinkan diadakannya pelayaran jarak jauh. Pada masa itu
ditemukan benua Amerika dan diketahuinya jalan laut menuju Afrika dan Asia.
Portugal dan Spanyol yang memelopori pembentukan koloni-koloni jajahan di
seberang lautan. Kemudian disusul oleh bangsa-bangsa barat yang lain, seperti
Belanda, Inggris, dan Prancis yang menjadi pelopor imperialisme modern.
Imperialisme modern muncul pada abad ke 19 akibat dari revolusi industri.
Selama periode tersebut, imperium yang sangat luas terbentuk dan banyak bangsa
kulit berwarna kehilangan kemerdekaannya. Inggris dan Perancis merupakan
kekuatan imperialis aktif. Selain itu ada Italia dan Jerman yang juga memperoleh
daerah jajahan (Leo Agung S., 2002: 18). Perebutan-perebutan wilayah antara
negara-negara imperialis tersebut mencapai puncaknya pada Perang Dunia I.
Salah satu wilayah yang diperebutkan oleh negara-negara imperialis
adalah wilayah Turki. Turki yang pada waktu itu di bawah kekuasaan Dinasti
Utsmani bersekutu dengan Jerman pada Perang Dunia I. Lawan mereka adalah
Inggris, Perancis, dan Rusia yang tergabung dalam Triple Entente. Perlawanan
Turki terhadap Entente disebabkan karena konflik pada saat perang Balkan. Turki
[Link] [Link]

kehilangan banyak wilayah di Eropa pada saat Perang Balkan (Siti Maryam, 2002:
153).
Perang Dunia Pertama meletus pada tanggal 2 Agustus 1914 di Eropa.
Turki terlibat dalam perang tersebut dengan tujuan untuk bebas dari Penjajahan
Barat, menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang melepaskan diri seperti Mesir
dan Siprus, memerdekakan wilayah Kaukakus dan Turkestan dari Rusia dan
menggabungkannya ke dalam Kerajaan dalam bentuk federasi, serta menegakkan
kembali wewenang Khalifah di seluruh dunia Islam (Siti Maryam, 2002: 154).
Dalam Perang Dunia I, penyerangan yang di lakukan Entente membuat
Turki menjadi semakin terdesak. Perlawanan Turki yang berarti terjadi di Aleppo.
Angkatan Darat Turki pimpinan Mustafa Kemal Pasha menghadang gerak maju
tentara Inggris. Namun, perlawanan yang gigih ini tidak mampu mengubah
keadaan. Setelah menyadari bahwa tidak ada pilihan lain selain gencatan senjata,
akhirnya Turki menyerukan gencatan senjata yang ditandatangani di Mudros pada
tanggal 30 Oktober 1918 (Siti Maryam, 2002: 154-155; 143-151).
Ada keinginan dari Sekutu untuk melakukan penyelesaian baru
mengenai masalah Turki. Namun, perundingan yang dilakukan belum melibatkan
Turki. Sepanjang tahun 1919 hingga 1920, terjadi perundingan di Paris dan San
Remo yang dilakukan oleh Sekutu tanpa keterlibatan Turki. Keputusan dalam
perundingan tersebut menghasilkan Perjanjian Sevres antara Sekutu dan
Pemerintah Utsmaniah (George Lenczowski, 1993: 66-67). Sementara di Turki
muncul perkembangan yang akan dapat membangkitkan nasionalisme Turki.
Sebuah kongres delegasi propinsi-propinsi timur diselenggarakan di Erzerum dari
tanggal 23 Juli sampai 19 Agustus 1919 yang menjadi titik tolak perlawanan
bangsa Turki menghadapi Sekutu untuk memperoleh kemerdekaan dan juga akan
menolak Perjanjian Sevres. Kongres ini menghasilkan resolusi yang antara lain
menyatakan tuntutan atas kemerdekaan dan terciptanya persatuan bagi rakyat
Turki yang bersatu dalam agama, ras, dan tujuan. Resolusi tersebut dikukuhkan
oleh kongres di Sivas pada tanggal 4 September 1919 yang dihadiri oleh delegasi-
delegasi dari seluruh kerajaan 1918. Resolusi yang sudah diformulasikan dalam
bentuk program enam pasal yang dinamakan Pakta Nasional diajukan ke
[Link] [Link]

Parlemen di Istambul tanggal 28 Januari 1920, kemudian disahkan oleh Parlemen


pada bulan Februari 1920. (Siti Maryam, 2002: 156).
Perjanjian Sevres ditandatangani pada tanggal 10 Agustus 1920.
Perjanjian ini mengesahkan Kerajaan Utsmani hanya sebagai sebuah negara kecil
di Asia Kecil utara dengan Istambul sebagai ibukotanya. Thrace Timur dan daerah
sekitar Izmir diberikan kepada Yunani, sedangkan selat Bosphorus dan Dardanela
diinternasionalisasikan. Republik Armenia merdeka didirikan di Anatolia Timur.
Prancis mendirikan mandat di Syria dan Libanon dan memiliki pengaruh di
Anatolia Timur. Inggris mendirikan mandat di Palestina, Syria selatan
(Transjordan), dan Mesopotamia (Irak), termasuk propinsi Mosul. Italia
memperoleh bagian Barat daya Asia Kecil sebagai ruang pengaruhnya. Kurdistan
sebelah utara propinsi Mosul diserahkan kepada kerajaan Utsmani, tetapi
memperoleh otonomi dan hak untuk memohon kemerdekaan kepada Liga Bangsa-
bangsa dalam setahun (Erik J. Zurcher, 2003: 187). Di samping itu, kedaulatan
Turki juga dibatasi. Angkatan Perang Turki dibatasi sampai 50.000. Dilakukan
pula pembatasan terhadap persenjataan. Turki setuju untuk menerima pengawasan
ketat komisi keuangan yang mewakili inggris, Prancis, dan Italia. Komisi ini
menjalankan kekuasaan eksekutif diantaranya dengan wewenang luas memeriksa
utang negara, anggaran negara, maupun peredaran uang (George Lenczowski,
1993: 68-69). Perjanjian Sevres menimbulkan kemarahan rakyat di seluruh Turki.
Perjanjian ini sangat menghina bangsa Turki dan menurunkan statusnya menjadi
negara kecil yang wilayah dan kedaulatannya dibatasi (George Lenczowski, 1993:
68-69).
Mustafa Kemal menyatakan bahwa perjanjian Sevres bukanlah sebuah
perjanjian perdamaian, tetapi merupakan sesuatu yang justru akan melanjutkan
perang. Inggris dan Prancis tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menghancurkan
kekuatan tentara Mustafa Kemal di Anatolia. Inggris dan Prancis menyatakan
tidak mudah dan tidak kuat dalam menghadapi Mustafa Kemal. Justru Yunani
yang menyatakan kesediaannya untuk menghancurkan Turki. Atas dukungan
Inggris dan Prancis, 100.000 tentara Yunani mendarat di pantai Azmir
[Link] [Link]

menghadapkan serangan ke wilayah Turki (Hamka, 1975: 328). Peristiwa tersebut


mengawali terjadinya Perang Kemerdekaan Turki pada tahun 1921 hingga 1922.
Mustafa Kemal berhasil menahan serangan Yunani dan berhasil
memaksa Eropa menyerahkan kekuasaan atas wilayah Azmir dan Anatolia.
Yunani kembali menyerang Utsmani pada Agustus hingga pertengahan September
1921. Mustafa Kemal berhasil mematahkan serangan ini (Ali K., 2003: 563).
Kemudian dilaksanakan perundingan-perundingan antara Turki dan Entente.
Setelah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, akhirnya terwujud
Perjanjian Lausanne yang ditandatangani pada tanggal 24 Juli 1923.
Dengan ditandatanganinya Perjanjian Lausanne, negara nasional Turki
mendapat pengakuan internasional. Perjanjian Lausanne menimbulkan dampak
terhadap perkembangan negara Turki selanjutnya.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk meneliti
masalah tersebut dalam skripsi berjudul “PERJANJIAN LAUSANNE 1923
(Pengakuan Kedaulatan Republik Turki Pasca Perang Kemerdekaan)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang diatas maka penulis merumuskan


permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang dilaksanakannya Perjanjian Lausanne tahun
1923?
2. Bagaimana proses pelaksanaan Perjanjian Lausanne tahun 1923?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari Perjanjian Lausanne 1923 bagi
Turki?

C. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang


ingin dicapai dalam penelitan ini yaitu:
1. Untuk memahami latar belakang Perjanjian Lausanne tahun 1923.
[Link] [Link]

2. Untuk mengetahui proses pelaksanaan Perjanjian Lausanne tahun 1923.


3. Untuk memahami dampak yang ditimbulkan dari Perjanjian Lausanne
tahun 1923 bagi Turki.

D. Manfaat Penelitian

Nilai suatu penelitian dilihat dari besarnya manfaat yang bisa diperoleh
dari penelitian tersebut. Berdasarkan hal itu, penelitian diharapkan dapat
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan sumbangan pengetahuan ilmiah yang berguna dalam rangka
pengembangan ilmu sejarah.
2. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi para
pembaca tentang Perjanjian Lausanne tahun 1923.
3. Dapat memberikan acuan bagi penelitian selanjutnya yang sejenis.
[Link] [Link]

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Imperialisme
Imperialisme berasal dari kata imperium (latin) yang berarti memerintah
(Leo Agung S., 2002: 21). Kemudian arti itu berubah menjadi hak memerintah.
Arti inipun mengalami perubahan lagi menjadi daerah kekuasaan memerintah itu
dilakukan. Oleh karena itu, imperium selalu dihubungkan dengan kekuasaan
dunia. Menurut Arkanda (“Sejarah Penjajahan di Indonesia”,
Http://[Link], 1 Juli 2009), imperialisme adalah usaha
memperluas wilayah kekuasaan atau jajahan untuk mendirikan imperium atau
kekaisaran.
Berdasarkan sejarah, imperialisme digolongkan menjadi dua, hal itu
berpijak pada usaha penaklukan yang dilakukan oleh bangsa barat (Leo Agung S.,
2002: 22), yaitu:
a. Imperialisme Kuno.
Ciri imperialisme kuno adalah 3 G, yakni Gospel (penyebaran agama),
Gold (mencari kekayaan), dan Glory (mencari kejayaan). Contoh negara-
negara yang melakukan imperialisme kuno adalah bangsa Portugis dan
Spanyol.
b. Imperialisme Modern.
Ciri imperialisme modern adalah adanya industri. Imperialisme modern ini
muncul setelah Revolusi Industri. Demi kelangsungan industrialisasi, perlu
daerah pasaran, bahan mentah, dan penanaman modal yang surplus. Itulah
sebabnya negara-negara imperialis berlomba-lomba untuk mendapatkan
tanah jajahan yang akan dijadikan sumber bahan mentah, pasaran hasil
industri, penanaman modal, dan mendapatkan tenaga buruh yang murah.
Contoh negara-negara yang melakukan imperialisme modern adalah
Inggris dan Perancis.
[Link] [Link]

Imperialisme Kuno berawal dari bangsa Mesir, Babylonia, dan Asyiria


yang merupakan hasil penaklukan bangsa-bangsa sekitarnya. Kemudian lahir
Imperium Romawi dan bangsa Mongol. Adanya penemuan alat navigasi, kapal
layar yang kuat, serta kemajuan pada bidang ilmu bumi pada pertengahan abad
ke-15 memungkinkan diadakannya pelayaran jarak jauh. Pada masa itu ditemukan
benua Amerika dan diketahuinya jalan laut menuju Afrika dan Asia. Portugal dan
Spanyol yang memelopori pembentukan koloni-koloni jajahan di seberang lautan.
Imperialisme Portugal dan Spanyol merupakan imperialisme kuno. Kemudian
disusul oleh bangsa-bangsa barat yang lain, seperti Belanda, Inggris, dan Prancis
yang menjadi pelopor imperialisme modern. Imperialisme modern muncul pada
abad ke 19 akibat dari revolusi industri. Selama periode tersebut, imperium yang
sangat luas terbentuk dan banyak bangsa kulit berwarna kehilangan
kemerdekaannya. Inggris dan Perancis merupakan kekuatan imperialis yang aktif.
Selain itu ada Italia dan Jerman yang juga memperoleh daerah jajahan (Leo
Agung S., 2002: 19).
Menurut T. Parker Moon yang dikutip oleh Leo Agung S. (2002: 21),
imperialisme adalah nafsu bangsa untuk mendapatkan koloni-koloni karena
dorongan idealisme dan avonturisme. Sedangkan J. Schumpeter (Leo Agung S.,
2002: 21) mengemukakan bahwa imperialisme adalah kecenderungan dari
negara untuk melakukan ekspansi yang tidak terbatas dengan menggunakan
kekerasan.
Menurut Suhartaya Harjasatoto (1985: 11) imperialisme adalah nafsu
untuk menguasai sistem penguasaan wilayah bangsa lain. Sedangkan menurut
C.S.T. Kansil dan Julianto (1986: 8) imperialisme adalah nafsu bangsa untuk
menaklukan bangsa lain dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya dengan jalan
diplomasi politik, eksploitasi ekonomi, dan penetrasi kebudayaan.
Menurut J.A. Hobson dalam Leo Agung S., (2002: 22) menyatakan
bahwa imperialisme modern adalah akibat dari sistem perekonomian yang buruk.
Barang yang melimpah di dalam negeri mendorong para produsen untuk mencari
daerah pasaran dan menimbulkan imperialisme. Sedangkan menurut Ir. Soekarno
dalam Leo Agung S., (2002: 22) menyatakan bahwa imperialisme modern adalah
[Link] [Link]

suatu keharusan yang ditentukan oleh tinggi rendahnya ekonomi pergaulan hidup.
Imperialisme modern bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri atau
bangsa lain, tetapi imperialisme dapat juga hanya nafsu atau sistem yang
memengaruhi ekonomi negara dan bangsa lain. Baik J.A. Hobson maupun Ir.
Soekarno sama-sama menyoroti imperialisme modern dari segi ekonomi. Sistem
ekonomi yang menyebabkan munculnya imperialisme modern adalah sistem
ekonomi kapitalis.
Dahlan Nasution (1984: 39-41) mengemukakan bahwa ada tiga tujuan
imperialisme modern, yaitu: (a) Kekuasaan atas dunia (World Empire), yang
disebut imperialisme tidak terbatas. (b) Kekuasaan atas benua (Continental
Empire), tujuan ini diartikan dengan pembatasan kekuasaan dalam satu benua. (c)
Keunggulan lokal (Local Propenderence) atau imperialisme lokal.
Ada empat bentuk dalam menjalankan imperialisme (Leo Agung S.,
2002: 23), yaitu:
a. Imperialisme Politik.
Bentuk imperialisme ini bertujuan untuk memperoleh pengawasan politik
terhadap bangsa atau negara dengan cara pembentukan pemerintahan
kolonial. Motif utamanya adalah untuk memperoleh prestise dengan cara
pembentukan imperialisme atau menutup ketidakpuasan dalam negeri
dengan cara melakukan politik di luar negeri.
b. Imperialisme Militer.
Bertujuan untuk memperoleh daerah strategis. Daerah–daerah koloni dapat
menghasilkan tenaga manusia dan dapat juga memegang peranan penting
dalam menjamin kepentingan negara yang berkuasa.
c. Imperialisme Kebudayaan.
Imperialisme kebudayaan berusaha untuk mengadakan penguasaan atau
kontrol atas ide atau pemikiran bangsa lain. Biasanya jenis ini menyertai
imperialisme politik, ekonomi, dan militer.
d. Imperialisme ekonomi.
[Link] [Link]

Tujuannya adalah penguasaan daerah yang terbelakang untuk penanaman


modal yanbg berlebihan, pengambilan bahan mentah, dan pasaran hasil
industri.
Sebab-sebab Imperialisme antara lain (Soebantardjo, “Sari Sejarah jilid
I: Asia-Afrika”, Http://[Link]/wiki/imperialisme, 1 Juli 2009) :
a. Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi bangsa yang terbesar di seluruh
dunia (ambition, eerzucht).
Tiap bangsa ingin menjadi jaya. Jika bangsa tidak dapat mengendalikan
keinginan ini, mudah bangsa itu menjadi bangsa imperialis. Karena itu
dapat dikatakan, bahwa tiap bangsa itu mengandung benih imperialisme.
b. Perasaan se bangsa, bahwa bangsa itu adalah bangsa istimewa di dunia ini
(racial superiority).
Tiap bangsa mempunyai harga diri. Jika harga diri ini menebal, mudah
menjadi kecongkakan untuk kemudian menimbulakan anggapan, bahwa
merekalah bangsa teristimewa di dunia ini, dan berhak menguasai, atau
mengatur atau memimpin bangsa-bangsa lainnya.
c. Hasrat untuk menyebarkan agama atau ideologi dapat menimbulkan
imperialisme.
Tujuannya bukan imperialisme, tetapi agama atau ideologi. Jika
penyebaran agama itu didukung oleh pemerintah negara, maka sering
tujuan pertama terdesak dan merosot menjadi alasan untuk membenarkan
tindakan imperialisme.
d. Letak negara yang dianggap geografis tidak menguntungkan.
Perbatasan negara mempunyai arti yang sangat penting bagi politik
negara.
e. Sebab-sebab ekonomi.
Sebab-sebab ekonomi inilah yang merupakan sebab yang terpenting dari
timbulnya imperialisme, terutama imperialisme modern. Sebab-sebab ini
antara lain karena keinginan untuk mendapatkan kekayaan dari negara,
keinginan untuk ikut dalam perdagangan dunia, ingin menguasai
perdagangan, dan keinginan untuk menjamin suburnya industri.
[Link] [Link]

2. Nasionalisme
a. Pengertian Nasionalisme
Hans Kohn (1984: 11-12) mengatakan bahwa yang dimaksud nasionalisme
adalah faham yang berpendapat bahwa kesetian tertinggi individu harus
diserahkan kepada negara kebangsaan. Negara kebangsaan adalah cita dan satu-
satunya bentuk sah dari organisasi politik dan merupakan sumber dari semua
tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan ekonomi.
Miriam Budiardjo (2004: 44) menyatakan nasionalisme merupakan
perasaaan subyektif pada sekelompok manusia bahwa mereka merupakan satu
bangsa. Cita-cita serta aspirasi mereka bersama hanya dapat tercapai jika mereka
tergabung dalam satu negara atau nation. Sedangkan menurut L. Stoddard (1966:
137) bahwa nasionalisme adalah kepercayaan, yang dianut oleh sejumlah besar
manusia perorangan sehingga mereka membentuk ”kebangsaan”. Pada tingkat
terakhir, nasionalisme adalah se di atas segalanya yang menjelmakan dirinya
dalam sintese yang baru dan lebih tinggi.
Isjwara (1982: 126-127) mendefinisikan bahwa nasionalisme adalah rasa
kesadaran yang kuat yang berlandaskan atas kesabaran akan pengorbanan yang
pernah diderita bersama dalam sejarah. Sedangkan menurut Anthony D. Smith
(2003: 11), nasionalisme sebagai gerakan ideologis untuk mencapai dan
mempertahankan otonomi, kesatuan dan identitas bagi populasi, yang sejumlah
anggotanya bertekad untuk membentuk bangsa yang aktual atau negara yang
potensial.
Menurut Boyd C. Shafer yang dikutip oleh Sutarjo Adisusilo (2006: 41)
nasionalisme adalah: (1) rasa cinta pada tanah air, ras, bahasa atau sejarah budaya
bersama; (2) keinginan akan kemerdekaan politik, keselamatan dan prestise
bangsa; (3) dogma yang mengajarkan bahwa individu hanya hidup untuk bangsa
dan bangsa demi bangsa itu sendiri; (4) doktrin yang menyatakan bahwa bangsa
sendirilah yang harus dominan di antara bangsa-bangsa lain.
b. Faktor Penyebab Munculnya Nasionalisme
[Link] [Link]

Menurut Boyd C. Shafer yang dikutip oleh Sutarjo Adisusilo (2006: 41),
nasionalisme mangandung aspek subyektif dan aspek obyektif. Nasionalisme
dapat muncul dari rasa cinta tanah air dan keinginan untuk merdeka serta dogma
dan doktrin yang diajarkan oleh seseorang atau lembaga tertentu. Nasionalisme
juga mengandung aspek obyektif, yaitu aspek obyektif yang ikut berperan dalam
menimbulkan nasionalisme, yang dirasakan sama oleh seluruh bangsa seperti
kondisi politik (penjajahan), kondisi kultural (bahasa dan sejarah budaya), serta
kondisi fisik (tanah air dan ras). Baik unsur subyektif maupun obyektif tersebut
akan memberi warna khusus terhadap nasionalisme bangsa.
Berdasarkan kondisi politik, Nasionalisme bangsa Turki muncul karena
penjajahan bangsa Eropa. Sekalipun mempunyai kesultanan sebagai pemimpin
atau Khalifah, tetapi mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi
bangsa penjajah dan justru bekerjasama. Wilayah-wilayah Turki sering terampas
sehingga wilayah Turki menjadi menyempit. Padahal berdasarkan kondisi
kultural, wilayah-wilayah yang terampas terutama di bagian Eropa masih
merupakan bagian dari Turki. Berdasarkan ras dan tempat kelahiran penduduk
pun masih mempunyai integritas dengan Turki. Oleh karena itu muncul
nasionalisme Turki yang dipimpin oleh Musthafa Kemal Pasha yang
menginginkan kemerdekaan dan kedaulatan Turki.
Dalam kenyataannya setiap bangsa yang mempunyai rasa kebangsaan
akan memelihara nilai-nilai kepribadiannya, nilai-nilai sejarahnya, agamanya,
ideologinya dan berjuang memperbaiki nasib. Dengan demikian setiap bangsa
mempunyai kepentingan yang berlainan. Hal ini dapat dilihat dari pendapat Hertz
yang dikutip oleh Djokosutono (1958: 9) bahwa ada empat unsur nasionalisme
yaitu (1) hasrat untuk mencapai kesatuan; (2) hasrat untuk mencapai
kemerdekaan; (3) hasrat untuk mencapai keaslian; (4) hasrat untuk mencapai
kehormatan bangsa. Menurut Sutarjo Adisusilo (2006: 1) unsur yang sama dalam
nasionalisme dari dulu sampai sekarang adalah memelihara, melestarikan dan
memajukan identitas, integritas serta ketangguhan bangsa tersebut.
Perasaan sangat mendalam akan ikatan yang erat dengan tanah tumpah
darahnya, dengan tradisi-tradisi setempat dan penguasa-penguasa resmi di
[Link] [Link]

daerahnya selalu ada di sepanjang sejarah dengan kekuatan yang berbeda. Tetapi
baru pada akhir abad ke-18 Masehi nasionalisme dalam arti kata modern menjadi
perasaan yang diakui secara umum (Hans Kohn, 1984: 1). Lahirnya paham
nasionalisme ini diikuti dengan terbentuknya negara-negara kebangsaan. Pada
mulanya terbentuknya negara kebangsaan dilatarbelakangi oleh faktor-faktor
obyektif seperti persamaan keturunan, persamaan bahasa, kesatuan politik,dan
tradisi atau juga karena persamaan agama. Kebangsaan yang dibentuk atas dasar
paham nasionalisme lebih menekankan kemauan untuk hidup bersama dalam
negara kebangsaan (Leo Agung S., 2002: 32).
Nasionalisme muncul di berbagai belahan dunia. Namun, faktor penyebab
timbulnya nasionalisme di setiap benua berbeda. Kemunculan nasionalisme Eropa
disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) Munculnya nasionalisme Eropa
didahului dengan lahirnya liberalisme dan kapitalisme. Lahirnya liberalisme dan
kapitalisme karena pengaruh Revolusi Industri dan Revolusi Perancis. Dengan
demikian timbulnya nasionalisme di Eropa karena pengaruh Revolusi Industri
dan Revolusi Perancis (Leo Agung S., 2002: 32). (2) Nasionalisme juga
disebabkan gerakan politik untuk membatasi kekuasaan pemerintah dan
menjamin hak-hak warga negara. Gerakan politik ini juga dimaksudkan untuk
membina masyarakat sipil yang liberal dan rasional (Cahyo Budi Utomo, 1995:
18).
Munculnya nasionalisme Asia Afrika disebabkan oleh beberapa faktor
(Leo Agung S., 2002: 32-33), antara lain:
1) Kenangan kejayaan masa lampau
Sebelum kedatangan imperialisme barat, pada umumnya bangsa-
bangsa Asia memiliki negara kebangsaan yang berdaulat. Misalnya Indonesia,
masa Sriwijaya dan Majapahit, India masa Ashoka dan sebagainya. Kejayaan
itu menimbulkan kenangan akan masa lampau, sehingga mereka selalu
mengadakan perlawanan terhadap penjajahan.
2) Adanya penderitaan akibat imperialisme dan kolonialisme
Adanya imperialisme mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan
bangsa-bangsa terjajah. Hal inilah yang menimbulkan perlawanan nasional.
[Link] [Link]

3) Kemajuan di bidang politik,ekonomi dan budaya


Nasionalisme bangsa dapat juga muncul karena perkembangan
beberapa aspek kehidupan, seperti:
(a) Aspek politik.
Nasionalisme bersifat menumbangkan dominasi politik
imperialisme dan bertujuan menghapus pemerintah kolonial.
(b) Aspek Sosial Ekonomi.
Nasionalisme bersifat menghilangkan kesenjangan sosial yang
diciptakan oleh pemerintah kolonial dan bertujuan menghentikan
eksploitasi ekonomi.
(c) Aspek Budaya.
Nasionalisme bersifat menghilangkan pengaruh kebudayaan asing
yang buruk dan bertujuan menghidupkan kebudayaan yang mencerminkan
harga diri bangsa setara dengan bangsa lain.
4) Timbulnya golongan terpelajar
Golongan cendekiawan muncul di mana-mana akibat perkembangan
dan peningkatan pendidikan. Nasionalisme muncul dari para cendekiawan
yang telah memperoleh pendidikan tinggi. Biasanya pemimpin pergerakan
nasional di negara-negara Asia dan Afrika berasal dari golongan ini.
5) Kemenangan Jepang atas Rusia
Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, mendorong semangat bangsa Asia
untuk bangkit menentang imperialisme barat.
Turki adalah negara yang besar dengan wilayah yang sangat luas
sebelum munculnya imperialisme barat. Setelah tumbuhnya imperialisme di
negara-negara barat seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan lain-lain membuat
wilayah Turki sering lepas dan jatuh ke tangan imperialis barat tersebut.
Keterlibatan Turki dalam konflik antar negara imperialis tersebut yang membuat
Turki sering kehilangan wilayahnya. Turki kehilangan banyak wilayah karena
sikap Kesultanan Turki yang lunak terhadap negara-negara imperialis tersebut.
Sikap lunak itu mendorong kalangan nasionalis Turki untuk tidak mau tunduk
kepada negara-negara imperialis tersebut dan mengupayakan terbentuknya
[Link] [Link]

Republik Turki yang merdeka dan berdaulat penuh. Atas upaya dari kelompok
nasionalis, nasionalisme tumbuh dan berkembang di seluruh Turki.

3. Kedaulatan Negara
a. Pengertian kedaulatan
Kedaulatan negara adalah kekuasaan tertinggi di dalam wilayah tertentu,
berarti bahwa bangsa itu merdeka dan tidak ada kekuasaan lain yang berada di
atasnya (Dahlan Nasution, 1984: 155; Hans J. Morgenthau, 1991: 205). Hal ini
berarti setiap bangsa mempunyai kemerdekaan untuk mengatur masalah intern
maupun ekstern sesuai dengan kebijakannya sendiri tanpa adanya intervensi dari
bangsa lain.
Menurut Frans E. Likadja dan Daniel Frans Bessie (1988: 28) kedaulatan
negara bararti kekuasaan yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan lainnya. Jadi,
apabila negara dikatakan berdaulat, dengan sendirinya negara itu mempunyai
kekuasaan tertinggi. Negara dikatakan berdaulat karena kedaulatan merupakan
sifat atau ciri utama dari negara.
Kedaulatan merupakan kekuasaan tertinggi dari negara. Namun,
kekuasaan ini mempunyai batasan. Ada dua pembatas penting dalam hal tersebut,
yaitu: (1) Kekuasaan itu terbatas pada batas-batas wilayah negara; (2) Kekuasaan
itu berakhir apabila kekuasaan negara lain dimulai (Frans E. Likadja dan Daniel
Frans Bessie, 1988).
Dalam paham kedaulatan negara, negara adalah sumber dalam negara.
Negara (dalam arti government atau pemerintah) dianggap mempunyai hak yang
tidak terbatas terhadap life, liberty dan property dari warganya. Warga negara
bersama-sama hak miliknya tersebut, dapat dikerahkan untuk kepentingan
kebesaran negara (Kelik Pramudya, “Teori Kedaulatan”, Http://click-
[Link], 1 Juli 2009).
Menurut Huala Adolf (1991: 99) kedaulatan mempunyai dua ciri. Dua
ciri yang sangat penting dimiliki oleh negara yaitu, pertama, bahwa kedaulatan
merupakan prasyarat hukum untuk adanya negara. Ciri kedua, kedaulatan
[Link] [Link]

menunjukkan negara tersebut merdeka yang sekaligus merupakan fungsi dari


negara.
b. Pengakuan Kedaulatan
Menurut Institut Hukum Internasional (The Institute of Internasional
Law) (Huala Adolf, 1991), pengakuan negara baru sebagai tindakan satu atau
lebih negara untuk mengakui kesatuan masyarakat yang terorganisasi, mendiami
wilayah tertentu, bebas dari negara lain, mampu menaati kewajiban-kewajiban
hukum internasional, dan dianggap sebagai anggota masyarakat internasional.
Menurut Rebecca M. Wallace (1993: 81) pengakuan negara adalah
pengakuan formal oleh negara lain di mana negara yang diakui mempunyai atribut
kenegaraan dan menunjukkan kemauan memperlakukan wilayah tersebut sebagai
negara. Pengakuan biasanya tidak akan dicabut kembali apabila syarat-syarat
status sebagai negara terus dipenuhi. Apabila syarat-syarat ini tidak dipenuhi lagi,
wilayah itu akan berhenti sebagai negara, tetapi tidak diperlukan penarikan
kembali dari pengakuan yang telah diberikan oleh negara yang memberikan
pengakuan.
Pengakuan terhadap negara baru yang telah memiliki empat unsur
negara (wilayah, pemerintah, penduduk, serta kedaulatan) dan memperoleh
kemerdekaan secara damai tidak akan menimbulkan masalah. pengakuan negara
baru akan menimbulkan masalah dan bahkan pengakuan berperan sangat penting
apabila lahirnya negara tersebut bukan melalui cara damai. Masalah pengakuan
negara baru timbul apabila lahirnya negara ini terjadi dalam dua situasi , yaitu:
(1) Pernyataan sepihak (propinsi, negara bagian) yang berada dalam negara yang
berdaulat, memisahkan diri dari negaranya dan memproklamasikan negara sebagai
negara baru, berdaulat, dan merdeka; (2) Pernyataan sepihak melalui cara-cara
kekerasan (revolusi) oleh negara baru tersebut terhadap negara yang
mendudukinya (Huala Adolf, 1991: 65).
Huala Adolf (1991: 96-97) mengemukakan bahwa pengakuan terhadap
negara dapat mengakibatkan pemberian hak-hak tertentu dari negara yang diakui.
Hak-hak tersebut yaitu: (1) Negara yang diakui dapat mengadakan hubungan-
hubungan diplomatik dengan negara yang diakui; (2) Negara tersebut memiliki
[Link] [Link]

kekebalan diplomatik di negara yang mengakui; (3) Negara yang diakui dapat
menuntut di wilayah negara yang mengakui; (4) Negara yang diakui dapat
mendapatkan harta benda yang berasal dari penguasa terdahulu yang berada di
wilayah negara yang mengakui; (5) Tindakan-tindakan negara yang diakui
diberlakukan sah dan keabsahannya itu tidak dapat diuji; (6) Perjanjian-perjanjian
yang telah diadakan oleh pemerintah terdahulu dapat berlaku kembali.
Kemerdekaan negara Turki pada tanggal 20 Januari 1921 masih
menimbulkan masalah dalam hal pengakuan internasional. Kemerdekaan Turki
menimbulkan reaksi dari negara-negara yang mempunyai kepentingan di wilayah-
wilayah Turki seperti Inggris. Sehingga, setelah perang kemerdekaan Turki
berakhir dengan kemenangan Turki, Inggris dan sekutu-sekutunya mengusulkan
perundingan terhadap Turki. Perundingan dimulai pada Nopember 1922 di
Lausanne, Swis. Dalam perundingan itu dibahas mengenai wilayah-wilayah
maupun ketentuan-ketentuan lainnya yang menjadi kesepakatan kedua belah
pihak. Perjanjian Laussanne akhirnya disahkan pada tanggal 24 Juli 1923. Salah
satu isi dari perjanjian tersebut adalah Turki memperoleh kembali wilayah-
wilayahnya, seperti Thrace Timur. Perjanjian tersebut merupakan pengakuan dari
dunia internasional terhadap kedaulatan Republik Turki.
[Link] [Link]

B. Kerangka Berpikir

Imperialisme Barat Kesultanan Turki

Perang Dunia I

Perjanjian Sevres

Pembagian wilayah
Turki oleh Sekutu

Penolakan dan
tumbuhnya
Nasionalisme Turki

Perang kemerdekaan
Turki 1921-1922

Perjanjian Lausanne
1923

Keterangan:
Imperialisme yang berasal dari negara-negara barat telah membuat
negara-negara tersebut memperluas wilayah imperiumnya, termasuk wilayah-
wilayah yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Kesultananan Turki. Perebutan
wilayah yang terjadi mencapai puncaknya pada saat Perang Dunia I. Turki terlibat
dalam perang tersebut dan menjadi sekutu Jerman, tergabung dalam Triple
Alliance yang berperang melawan Inggris, Perancis, dan Rusia yang disebut
Triple Entente.
Perang Dunia I berakhir dengan kemenangan pihak Triple Entente.
Perjanjian-perjanjian dilakukan antara Triple Entente dengan Triple Alliance
[Link] [Link]

setelah perang. Perjanjian-perjanjian yang dilakukan diantaranya Perjanjian


Versailles, Saint Germain, Neuilly, dan Sevres.
Perjanjian yang mempunyai pengaruh terhadap Turki adalah Perjanjian
Sevres. Salah satu isi dari perjanjian tersebut menyatakan bahwa daerah Turki di
Eropa diambil oleh Yunani. Hal ini menyebabkan wilayah Turki tinggal Asia
kecil dan Konstantinopel. Sultan Turki menerima keputusan tersebut, tetapi
golongan nasionalis yang revolusioner menolak.
Golongan nasionalis yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha
menganggap Perjanjian Sevres sangat menghina bangsa Turki. Mustafa Kemal
Pasha menganggap Perjanjian Sevres bukan perjanjian perdamaian. Namun,
dengan adanya Perjanjian Sevres tersebut justru akan melanjutkan perlawanan
golongan nasionalis terhadap Sekutu.
Sebagai reaksi atas penolakan golongan nasionalis Turki, Sekutu
merencanakan untuk melakukan serangan ke wilayah Turki. Penyerangan itu akan
dilakukan oleh Yunani. Dengan bantuan Inggris dan Perancis, Yunani kemudian
menyerang Turki. PasukanYunani datang melalui Pantai Azmir dan dihadapi oleh
pasukan yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha, kemudian terjadi perang yang
disebut dengan Perang Kemerdekaan Turki.
Dalam Perang Kemerdekaan Turki, pasukan Turki berhasil menduduki
kembali wilayah yang diambil oleh Yunani. Inggris dan sekutu-sekutunya
melunak dan kemudian mengadakan perundingan dengan Turki di Lausanne,
Swis. Dengan adanya Perjanjian Lausanne, negara nasional Turki mendapat
pengakuan internasional. Perjanjian Lausanne juga dapat menyebabkan dampak
yang besar terhadap perkembangan negara Turki selanjutnya.
[Link] [Link]

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian
Dalam penelitian yang berjudul Perjanjian Lausanne 1923 (Pengakuan
Kedaulatan Republik Turki Pasca Perang Kemerdekaan), penulis melakukan
teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Adapun perpustakaan yang
digunakan sebagai berikut:
a. Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
c. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
d. Perpustakaan Monumen Pers Surakarta.
e. Perpustakaan Ignatius Colose Yogyakarta.

2. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini direncanakan mulai dari
disetujuinya judul skripsi yaitu pada bulan Mei 2009, sampai dengan selesainya
penulisan skripsi ini yaitu pada bulan Juni 2010.

B. Metode penelitian

Dalam setiap penelitian ilmiah selalu diperlukan suatu metode tertentu


yang berkaitan dengan obyek atau pemasalahan yang akan diteliti. Menurut
Koentjaraningrat (1986 : 7) kata metode berasal dari bahasa Yunani, methodos
yang berarti cara atau jalan. Sehubungan dengan karya ilmiah, maka metode
menyangkut masalah cara kerja, yaitu cara kerja untuk memahami obyek yang
menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
[Link] [Link]

Menurut Dudung Abdurahman (1999: 43) metode adalah suatu cara,


jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Sedangkan menurut Helius
Sjamsuddin (2007 : 13) metode ada hubungannya dengan prosedur, proses, atau
teknik yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk
mendapatkan obyek yang diteliti.
Penelitian ini merupakan penelitian yang berusaha merekonstruksikan,
mendiskripsikan dan memaparkan terjadinya Perjanjian Lausanne 1923. Peristiwa
yang menjadi pokok penelitian tersebut adalah peristiwa masa lampau, sehingga
metode yang digunakan adalah metode historis atau sejarah. Dengan metode
sejarah penulis mencoba merekonstruksi kembali suatu peristiwa di masa lampau
sehingga dapat menghasilkan historiografi sejarah yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.
Louis Gottschalk (1975 : 32) mengemukakan bahwa metode sejarah
adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan
masa lampau. Sedangkan Nugroho Notosusanto (1971 : 17) menyatakan bahwa
metode penelitian sejarah merupakan proses pengumpulan, menguji, menganalisis
secara kritis rekaman-rekaman dan peninggalan-peninggalan masa lampau
menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya, metode ini merupakan proses
merekonstruksi peristiwa-peristiwa masa lampau, sehingga menjadi kisah yang
nyata.
Gilbert J. Garraghan yang dikutip Dudung Abdurrahman (1999: 43),
mengemukakan bahwa metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan
prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif,
menilai secara kritis, dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam
bentuk tertulis.
Menurut Lucey yang dikutip Helius Sjamsudin dan Ismaun (1996: 16),
metode sejarah adalah seperangkat sistem yang berisi asas-asas atau norma-
norma, aturan-aturan dan prosedur, metode, dan teknik yang harus diikuti untuk
mengumpulkan segala kemungkinan saksi mata (witness) tentang suatu masa atau
peristiwa, mengevaluasi kesaksian (testimony) dari saksi-saksi tersebut, menyusun
[Link] [Link]

fakta-fakta yang telah diuji dalam hubungan-hubungan kausalnya, dan akhirnya


menyajikan pengetahuan yang tersusun mengenai peristiwa-peristiwa tersebut.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode
penelitian sejarah adalah kegiatan mengumpulkan, menguji dan menganalisis
secara kritis data peninggalan masa lampau dan menyajikannya sebagai hasil
karya melalui historiografi. Oleh karena metode penelitian yang digunakan adalah
metode historis, maka dilakukan langkah-langkah metode historis yang meliputi
pengumpulan sumber-sumber sejarah, menguji validitas dan reliabilitas data
sejarah tersebut kemudian menganalisis secara kritis untuk menghasilkan tulisan
atau cerita sejarah yang obyektif, menarik dan dapat dipercaya.

C. Sumber Sejarah

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data
sejarah. Sumber data sejarah sering disebut juga data sejarah. Menurut
Kuntowijoyo kata “data” merupakan bentuk jamak dari kata tunggal datum
(bahasa Latin) yang berarti pemberitaan (Dudung Abdurahman, 1999: 30).
Menurut Nugroho Notosusanto (1971: 19) sumber sejarah terdiri atas
sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang
keterangannnya diperoleh secara langsung dari seseorang yang menyaksikan suatu
peristiwa dengan mata kepala sendiri, sedangkan sumber sekunder adalah sumber
yang keterangannya diperoleh oleh pengarangnya dari orang lain atau sumber lain.
Helius Sjamsuddin (2007: 95) mengemukakan bahwa sumber sejarah
yaitu segala sesuatu yang langsung atau tidak langsung menceritakan kepada kita
tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan manusia pada masa lalu (past actuality).
Sumber sejarah merupakan bahan-bahan mentah (raw materials) sejarah yang
mencakup segala macam evidensi (bukti) yang telah ditinggalkan oleh manusia
yang menunjukkan segala aktivitas mereka di masa lalu yang berupa kata-kata
yang tertulis atau kata-kata yang diucapkan (lisan).
Klasifikasi sumber sejarah dapat dibedakan menurut bahannya, asal-
usulnya atau urutan penyampaiannya dan tujuan sumber itu dibuat. Sumber
[Link] [Link]

menurut bahannya dapat dibagi menjadi dua, yaitu sumber tertulis dan sumber
tidak tertulis. Menurut urutan penyampaiannya sumber-sumber dapat dibedakan
menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Sedangkan menurut tujuannya
sumber-sumber dapat dibagi atas sumber formal dan informal (Dudung
Abdurahman, 1999 : 31).
Dalam usaha untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan sumber
tertulis. Sumber tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu sumber tertulis primer dan
sumber tertulis sekunder. Louis Gottshalck (1986 : 35) mengemukakan bahwa
sumber tertulis primer adalah kesaksian dari seorang saksi dengan mata kepala
sendiri. Sumber tertulis primer juga dapat diartikan sebagai data yang didapatkan
dari masa yang sejaman dan berasal dari orang yang sejaman. Sedangkan sumber
tertulis sekunder merupakan kesaksian dari pada siapapun yang bukan merupakan
saksi mata, yakni dari seseorang yang tidak hadir dari peristiwa yang
dikisahkannya. Sumber tertulis sekunder juga dapat diartikan sebagai data yang
ditulis oleh orang yang tidak sejaman dengan peristiwa yang dikisahkannya.
Sumber sejarah yang dipakai dalam penelitian ini adalah sumber tertulis.
Dalam penelitian ini, sumber primer tidak ditemukan karena sumber-sumber
tersebut berada di negara lain, sehingga tidak mampu dijangkau. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini digunakan sumber tertulis sekunder yang berupa buku-buku
yang ditemukan di dalam perpustakaan-perpustakaan tempat penelitian dilakukan.
Disamping itu, banyaknya sumber primer yang berada di negara lain, sehingga
tidak mampu dijangkau. Sumber-sumber sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini, antara lain: “Sejarah Modern Turki” , karangan Erik J. Zurcher;
“Sejarah Peradaban Islam: Dari masa Klasik hingga Modern”, karangan Siti
Maryam dkk; ”Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia”, karangan George
Lenczowski; “Sejarah Umat Islam: Jilid 3”, karangan Hamka.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan hal penting dalam penelitian. Dalam


penelitian ini data dikumpulkan dengan cara teknik studi pustaka. Teknik studi
[Link] [Link]

pustaka adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis terutama


berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau
hukum-hukum dan yang berhubungan dengan masalah penelitan. Dalam
melakukan studi pustaka diperlukan pengetahuan tentang perpustakaan sebagai
sumber literatur yang diperlukan dalam mencari materi yang berhubungan dengan
masalah yang diteliti dari literatur yang tersedia (Hadari Nawawi, 1993 : 133).
Penelitian perpustakaan bertujuan untuk mengumpulkan data dan
informasi dengan bantuan macam-macam material yang terdapat di ruang
perpustakan, misalnya berupa buku-buku, majalah, naskah-naskah, catatan, kisah
sejarah, dokumen-dokuman dan lain-lain (Kartini Kartono, 1990: 33). Data
tersebut berfungsi sebagai wahana informasi terhadap materi yang akan dibahas
dalam penelitian. Dengan adanya kemajuan teknologi maka peneliti juga bisa
memanfaatkan internet dalam rangka studi pustaka untuk mengumpulkan data-
data yang berkaitan dengan tema penelitian.
Studi pustaka ini diperlukan peneliti untuk menggali teori-teori yang
telah ada, agar memperoleh orientasi yang luas dalam permasalahan yang dipilih.
Menurut Koenjaraningrat (1986: 19), keuntungan dari studi pustaka adalah: 1)
memperdalam pengetahuan tentang masalah yang dipilih, 2) menegaskan landasan
teori yang digunakan sebagai landasan pemikiran, 3) mempertajam konsep yang
digunakan sehingga mempermudah dalam perumusan, 4) menghindari terjadinya
pengulangan dari suatu penelitian.
Studi pustaka ini dilakukan sistem kartu/katalog atau menggunakan
komputer dengan cara mencatat beberapa sumber tertentu yang berkaitan dengan
penelitian dengan mencantumkan keterangan mengenai nama pengarang, judul
buku maupun subyek yang dicari. Oleh karena itu perlu mengingat kata kunci
yang terdapat dalam subyek yang dibahasnya, sehingga menemukan buku dan
artikel yang dimaksudkan dalam katalog atau komputer. Buku-buku dan artikel
yang telah ditemukan di perpustakaan dibaca dan dipahami, kemudian mencatat
hal-hal yang dianggap penting dan relevan dengan permasalahan yang akan
diteliti. Dengan demikian diperoleh data yang akan digunakan dalam penulisan
skipsi ini.
[Link] [Link]

E. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang dipergunakan adalah


teknik analisis data historis. Menurut Kuntowijoyo yang dikutip oleh Dudung
Abdurrachman (1999 : 64), interpretasi atau penafsiran sejarah seringkali disebut
dengan analisis sejarah. Analisis sendiri berarti menguraikan, dan secara
terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Analisis dan
sintesis, dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi. Menurut
Helius Syamsuddin (1996 : 89) teknik analisis data historis adalah analisis data
sejarah yang menggunakan kritik sumber sebagai metode untuk menilai sumber-
sumber yang digunakan dalam penulisan sejarah. Menurut Nugroho Notosusanto
(1978: 38) teknik analisis data historis adalah analisis data sejarah yang
menggunakan kritik sumber sebagai metode untuk menilai sumber-sumber yang
dibutuhkan guna mengadakan penulisan sejarah.
Menurut Berkhofer yang dikutip oleh Dudung Abdurrachman (1999 :
64), analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang
diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori
disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi menyeluruh. Menurut Sartono
Kartodirdjo (1992 : 2), analisis sejarah ialah menyediakan suatu kerangka
pemikiran atau kerangka referensi yang mencakup berbagai konsep dan teori yang
akan dipakai dalam membuat analisis itu. Data yang telah diperoleh
diinterpretasikan, dianalisis isinya dan analisis data harus berpijak pada kerangka
teori yang dipakai sehingga menghasilkan fakta-fakta yang relevan dengan
penelitian.
Menurut Backer fakta-fakta sejarah dapat dibedakan menjadi; (a) fakta-
fakta keras (hard facts), yaitu fakta-fakta yang telah teruji kebenarannya; dan (b)
fakta-fakta lunak (cold facts), fakta-fakta yang belum dikenal dan masih perlu
diselidiki kebenarannya (Dudung Abdurahman, 1999: 39).
[Link] [Link]

Di dalam penelitian ini setelah dilakukan pengumpulan data, peneliti


melakukan analisis data dan membandingkan data satu dengan yang lain sesuai
data yang diinginkan sehingga didapatkan fakta-fakta sejarah yang benar-benar
relevan. Fakta-fakta itu kemudian di seleksi, diklarifikasi, dan ditafsirkan. Fakta-
fakta tersebut selanjutnya dirangkai untuk dijadikan bahan penulisan penelitian
yang utuh dalam sebuah karya ilmiah.

F. Prosedur Penelitian

Untuk mempermudah penelitian dan langkah yang dijalankan guna


memdapatkan hasil yang optimal diperlukan adanya prosedur yang biasa
digambarkan dalam pembagian (skema) berisi langkah sistematis yang
menggambarkan kegiatan ini dari awal (persiapan) sampai dengan pembuatan
laporan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian historis, maka skema
dalam metode historis digambarkan sebagai berikut:

Heuristik Kritik Interpretasi Historiografi

1. Heuristik
Heuristik berasal dari kata Yunani yang artinya memperoleh. Dalam
pengertiannya yang lain adalah suatu teknik yang membantu kita untuk mencari
jejak-jejak sejarah. Menurut G. J Rener (1997:37), heuristik adalah suatu teknik,
suatu seni dan bukan suatu ilmu. Heuristik tidak mempunyai peraturan-peraturan
umum, dan sedikit mengetahui tentang bagian-bagian yang pendek. Sidi Gazalba
(1981 : 15) mengemukakan bahwa heuristik adalah kegiatan mencari bahan atau
menyelidiki sumber sejarah untuk mendapatkan hasil penelitian. Dengan demikian
heuristik adalah kegiatan pengumpulan jejak-jejak sejarah atau dengan kata lain
kegiatan mencari sumber sejarah.
Pada tahap ini peneliti berusaha mencari dan menemukan sumber-
sumber tertulis berupa buku-buku serta bentuk kepustakaan lain yang relevan
[Link] [Link]

dengan penelitian. Sumber tertulis berupa buku-buku dan literatur yang diperoleh
dari beberapa perpustakaan, dan di antaranya: Perpustakaan Pusat Universitas
Sebelas Maret, Perpustakaan Jurusan FKIP, Perpustakaan Program Studi Sejarah
FKIP UNS, Perpustakaan Monumen Pers Surakarta dan Perpustakaan Ignatius
Colose Yogyakarta.
2. Kritik
Setelah mengumpulkan data atau bahan, tahap berikutnya adalah
langkah verifikasi atau kritik untuk memperoleh keabsahan sumber. Menurut
Helius Sjamsudin (1884 : 103) keabsahan sumber dicari melalui pengujian
mengenai kebenaran atau ketetapan sumber. Kritik terhadap sumber data
dilakukan dengan dua cara yaitu kritik ekstern dan kritik intern.
Kritik ekstern adalah kritik terhadap keaslian sumber, apakah sumber
yang dikehendaki asli atau tidak, utuh atau turunan (salinan). Kritik ekstern
dilakukan terhadap sumber yang diperoleh berdasarkan bentuk fisik atau luarnya
berupa bahan (kertas atau tinta) yang digunakan, jenis tulisan, gaya bahasa,
hurufnya, dan segi penampilan yang lain. Uji keaslian sumber dilakukan dengan
pertanyaan : kapan sumber dibuat?, di mana sumber dibuat?, siapa yang
membuat?, dan dari bahan apa sumber dibuat?. Kritik ekstern dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara melihat kapan sumber itu dibuat, di mana sumber itu
dibuat, siapa pengarangnya dan bagaimana latar belakang pendidikan pengarang.
Kritik intern adalah kritik yang berhubungan dengan kredibilitas dari
sumber sejarah apakah isi, fakta dan ceritanya dapat dipercaya dan dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan. Kritik intern dapat ditempuh dengan cara
membandingkan berbagai isi dan fakta yang terdapat dalam sumber.
3. Interpretasi
Setelah sumber-sumber yang diperoleh dikritik, maka langkah selanjutnya
adalah menghubungkan sumber-sumber tersebut dengan masalah yang sedang
diteliti. Dalam melakukan interpretasi, peneliti harus menghilangkan unsur
subyektif yang disebabkan oleh keanekaragaman data yang diperoleh dari
berbagai buku atau sumber lain melalui analisis terhadap sumber yang satu
dengan sumber yang lain.
[Link] [Link]

Menurut Nugroho Notosusanto (1978 : 40), interpretasi adalah suatu usaha


menafsirkan dan menetapkan makna serta hubungan dari fakta-fakta yang ada,
kemudian dilakukan perbandingan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain,
sehingga terbentuk rangkaian yang selaras dan logis. Sedangkan interpretasi atau
analisis historis menurut Berkhofer yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman
(1999 : 64) bertujuan untuk melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh
dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta
itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh, sehingga dapat dikatakan
sebagai suatu bentuk analisis.
Dalam penelitian ini, interpretasi dilakukan dengan cara menghubungkan
atau mengaitkan sumber sejarah yang satu dengan sumber sejarah lain, sehingga
dapat diketahui hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa masa lampau yang
menjadi obyek penelitian. Kemudian sumber tersebut ditafsirkan, diberi makna
dan ditemukan arti yang sebenarnya sehingga dapat dipahami makna tersebut
sesuai dengan pemikiran yang logis berdasarkan obyek penelitian yang dikaji.
Dengan demikian dari kegiatan kritik sumber dan interpretasi tersebut dihasilkan
fakta sejarah atau sintesis sejarah.
4. Historiografi
Historigrafi merupakan langkah terakhir dalam penulisan sejarah.
Langkah ini merupakan kegiatan menyusun fakta sejarah menjadi suatu kisah
sejarah yang menarik dan dapat dipercaya kebenarannya. Dalam langkah ini
diperlukan imajinasi untuk mengaitkan fakta satu dengan yang lain sehingga
menjadi suatu kisah sejarah yang menarik. Pada tahap ini, menyusun fakta sejarah
dibutuhkan kemampian mengungkapkan bahasa secara baik, kemampuan untuk
menempatkan fakta sejarah sesuai dengan periode sejarah, kemampuan
menjelaskan data yang telah ditemukan dengan menyajikan bukti-bukti dan
mebuat garis umum yang dapat diikuti secara jelas oleh pemikiran pembaca.

BAB IV
[Link] [Link]

HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Perjanjian Lausanne 1923

Perjanjian Lausanne tahun 1923 didahului oleh beberapa peristiwa yang


berurutan. Antara lain Perang Dunia I, Perjanjian Sevres 1920, gerakan nasionalis
Turki, dan Perang kemerdekaan Turki tahun 1921 hingga tahun 1922. Rentetan
peristiwa tersebut melatarbelakangi perundingan antara Sekutu dan Turki di kota
Lausanne yang selanjutnya menghasilkan Perjanjian Lausanne tahun 1923. Perang
Dunia I mengawali latar belakang dari Perjanjian Lausanne karena perang ini
mengakibatkan Perjanjian Sevres. Perjanjian tersebut merugikan Turki. Gerakan
nasionalis Turki menolak perjanjian tersebut. Sebagai reaksi dari penolakan itu,
terjadi Perang Kemerdekaan Turki pada 1921 dan 1922 antara Turki melawan
Sekutu.. Untuk menyelesaikan sengketa setelah perang, Sekutu mengajak
berunding Turki di Lausanne Swiss. Perundingan itu menghasilkan Perjanjian
Lausanne 1923.

1. Perang Dunia I
Perang Dunia I terjadi karena beberapa macam faktor (Robin Prior dan
Trevor Wilson, 2000: 319-320), yaitu:
a. Ekonomi
Jerman dan Inggris merupakan pesaing hebat dalam bidang
pedagangan sesudah tahun 1880-an. Pada waktu itu, Inggris bukan lagi satu-
satunya negara industri di dunia. Sebelumnya, Inggris dapat memasarkan hasil
produksi industrinya ke seluruh dunia tanpa pesaing serius. Namun, setelah
Jerman dapat melakukan revolusi industri, Inggris mulai mendapatkan
pesaing. Jerman mempunyai industri besar, tetapi belum memiliki daerah
pelemparan hasil produksi yang cukup berusaha untuk mendapatkan koloni-
koloni. Akibatnya sering terjadi krisis politik dan militer antara Inggris dan
Jerman, atau antara Perancis dan Jerman di Afrika. Demikian pula terjadi
persaingan ekonomi antara Jerman dengan Rusia. Namun, persaingan terbesar
[Link] [Link]

terjadi antara Inggris dan Jerman. Persaingan–persaingan yang terjadi


menimbulkan konflik mengenai perebutan wilayah kekuasaan di daerah-
daerah koloni. Konflik tersebut mencapai puncaknya pada Perang Dunia I.
b. Politik dan Nasionalisme
Persaingan politik dan cita-cita nasionalisme merupakan dampak dari
nasionalisme modern yang membawa negara-negara seperti Inggris, Perancis,
maupun Jerman mempertentangkan hal-hal mengenai kepentingan-
kepentingan bangsanya di Afrika, Asia, dan Balkan. Kepentingan dari masing-
masing negara tersebut saling bertentangan. Masing-masing negara sangat
gigih membela kepentingannya karena semangat Nasionalisme. Jalan yang
ditempuh untuk membela kepentingan masing-masing negara adalah dengan
berperang, sehingga terjadi Perang Dunia I.
c. Kemiliteran
Sejak timbulnya sentimen-sentimen nasionalistis dan keadaan
hubungan internasional menjadi buruk, masing-masing negara besar di Eropa
melengkapi dirinya dengan angkatan perang yang kuat. Konflik kepentingan
yang semakin memuncak antar negara besar Eropa tersebut membawa situasi
ke arah peperangan dan masing-masing negara telah siap dengan angkatan
perangnya.
d. Sosial
Faktor sosial ikut berbicara dalam menimbulkan Perang Dunia I.
Dimulai dari kepercayaan terhadap Darwinisme sosial, yaitu pendapat bahwa
bangsa yang paling kuat (dalam bidang militer) akan tetap hidup dan tumbuh
hingga kepercayaan tentang superioritas orang Perancis, Jerman, Rusia, atau
beberapa kultur lain berkembang di bangsa-bangsa Eropa pada waktu itu.
Mereka menganggap bahwa bangsa mereka yang terkuat sehingga berhak
untuk berkuasa.
e. Diplomatik
Akhirnya faktor diplomatik memperuncing keadaan. Antara tahun
1891 dan 1914, negara-negara besar di Eropa telah terbagi dalam dua
kelompok. Masing-masing terikat oleh perjanjian-perjanjian rahasia.
[Link] [Link]

Kelompok-kelompok negara-negara Eropa yang terbagi, yaitu: (1) Triple


Entente (Inggris, Perancis, dan Rusia); (2) Triple Alliance (Jerman, Austria-
Hungaria, dan Italia).
Perang Dunia Pertama meletus pada tanggal 2 Agustus 1914 di Eropa.
Turki terlibat dalam perang tersebut dengan tujuan untuk bebas dari Penjajahan
Barat, menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang melepaskan diri seperti Mesir
dan Siprus, memerdekakan wilayah Kaukakus dan Turkestan dari Rusia dan
menggabungkannya ke dalam Kerajaan dalam bentuk federasi, serta menegakkan
kembali wewenang Khalifah di seluruh dunia Islam. Turki dalam perang tersebut
menjadi sekutu Jerman, sehingga Perancis dan Inggris yang tergabung dalam
Entente dan juga Rusia menjadi lawan mereka. Hal ini disebabkan karena
wilayah-wilayah Turki dikuasai Entente setelah perang Balkan. Dalam perang
Balkan, Turki kehilangan banyak wilayahnya (Siti Maryam, 2002: 154).
Pada tanggal 23 Nopember 1914, Sultan Mahmud Resyad dalam
kapasitasnya sebagai Khalifah mengumumkan perang suci atau jihad melawan
Entente. Perang suci ini dideklarasikan setelah bermusyawarah dengan Syekh al-
Islam pada 14 Nopember. Jerman sangat mengharapkan pengaruh dari deklarasi
ini terhadap penduduk-penduduk Muslim di daerah jajahan Entente dan Rusia di
Asia Tengah. Di luar kerajaan, hanya sebagian kecil saja yang memberi sambutan
terhadap seruan tersebut. Di beberapa daerah justru Umat Islam berperang
bersama Rusia maupun Inggris dan Perancis melawan Jerman dan sekutu-
sekutunya (Siti Maryam, 2002: 154-155).
Kerajaan Utsmani tidak berada dalam kondisi siap untuk terjun dalam
perang apapun, baik secara militer, ekonomis, maupun komunikasi internal.
Jerman menyadari hal ini, tetapi bagi mereka daya tarik untuk beraliansi dengan
Utsmani tidak terletak pada kontribusi tentara Utsmani terhadap peperangan itu,
tetapi pada pengaruhnya terhadap umat Muslim di wilayah jajahan Perancis,
Inggris, dan negara-negara Balkan. Selain itu, Utsmani bisa secara efektif
menghadang laju kapal Rusia melalui Selat Bosphorus dan Dardanela. Jerman
tetap memberanikan diri melancarkan strategi ofensif, walaupun meragukan
kekuatan militer Utsmani.
[Link] [Link]

Di front Kaukasia, Rusia terlebih dahulu menyerang pada bulan


Nopember 1914. Namun, tentara Utsmani berhasil menghentikan serangan
mereka. Setelah langkah awal yang cukup sukses, tentara Utsmani digempur di
Sarikami dalam perjalanan menuju Kars, bulan Januari 1915. Pada bulan itu,
terdapat pula upaya pertama untuk menguasai Terusan Suez. Namun, upaya
mereka untuk menguasai terusan itu dapat digagalkan. Tidak ada perlawanan anti-
Inggris di Mesir untuk mendukung upaya Utsmani itu. Upaya kedua untuk
menyerang terusan itu pada tahun 1916. Namun, upaya tersebut juga dapat
digagalkan.
Setelah upaya-upaya Utsmani yang pertama itu, Entente berinisiatif
menyerang. Tindakan penyerangan pertama oleh Inggris adalah pendaratan dua
divisi India di hulu Teluk Parsi untuk melindungi instalasi-instalasi minyak
Inggris di Teluk itu. Namun, serangan utama Entente ditujukan ke Dardanela
dengan anggapan bahwa penyerangan terhadap selat itu dan pendudukan Istambul
akan memutuskan bantuan Jerman untuk kerajaan Utsmani dan akan
memungkinkan Inggris memperkuat front Rusia. Upaya pertama untuk menyerang
Selat Dardanela dan Bosphorus dilancarkan pada bulan Februari dan Maret 1915.
Serangan ini murni operasi laut, di mana kapal-kapal perang Inggris dan Perancis
berupaya untuk menghantam Utsmani kemudian Dardanela. Namun, kekalahan
besar terjadi pada tanggal 18 Maret, operasi serangan ditunda dan diputuskan
untuk mengadakan serbuan amfibi. Pendaratan pertama terjadi tanggal 25 April.
Pasukan Inggris menduduki sejumlah pelabuhan, tetapi serangan mereka
tersendat-sendat. Pendaratan-pendaratan baru pada bulan Agustus juga tidak
membawa hasil. Menjelang Januari 1916, pasukan Entente itu mengevakuasi
posisi-posisi mereka.
Bagi tentara Utsmani, kemenangan atas Inggris merupakan sumber
kebanggaan nasional, walaupun pertempuran-pertempuran di Gallipoli merupakan
perang yang paling mahal bagi mereka. Peperangan ini menelan kornban 300.000
orang. Keberhasilan utama lainnya bagi tentara Utsmani juga diraih tahun 1916.
Pasukan ekspedisi Inggris dari India yang menuju Tigris dikepung dan dipaksa
menyerah di Kut al-Imara pada bulan Juli (Erik J. Zurcher, 2003: 143-148).
[Link] [Link]

Pada tanggal 5 Juni 1916, Syarif Husein, gubernur herediter Utsmani di


Mekkah menyatakan perang terhadap Turki. Pernyataan itu memyebabkan
pecahnya revolusi Arab. Pada mulanya, itu hanya sebuah gangguan kecil. Namun,
dengan adanya bantuan perwira Inggris dan peralatan perang dari Inggris, perang
kemerdekaan Arab ini berkembang menjadi ancaman serius. Revolusi itu
menyebabkan tentara Turki terusir dari Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Revolusi
tersebut berpengaruh terhadap wilayah lain. Gerakan tentara Syarif membuat
bangsa Syria dan Transyordania bangkit melawan Turki. Gerakan itu juga
menyebabkan pembelotan tentara Arab di tubuh militer Turki. Strategi Sekutu
adalah berusaha memberi pukulan langsung ke jantung pertahanan Turki.
Meskipun bergerak lambat karena gagal merebut Gallipoli, tentara Sekutu berhasil
membuka jalan menuju Istambul dari Balkan. Kemenangan Inggris di Front
Messopotamia menyebabkan lepasnya Basrah dan baghdad pada bulan Maret
1917, kemudian Mosul (Oktober 1917), Yerussalem (Desember 1917), dan
puncaknya Turki kalah dalam pertempuran di Mejiddo (September 1918). Pada
waktu itu di Front Arabia, tentara Jerman dan Turki keluar dari Palestina dan
Suriah. Gerak maju tentara Inggris untuk memasuki wilayah Turki dihadang oleh
Angkatan Darat ketujuh pimpinan Mustafa kemal di Aleppo. Namun, kota
Damaskus menyerah kepada tentara gabungan Inggris Arab pada tanggal 1
Oktober 1918. Turki akhirnya menawarkan gencatan senjata setelah menyadari
bahwa tidak ada pilihan lain. Perjanjian gencatan senjata ditandatangani di
Mudros, 30 Oktober 1918 ( Siti Maryam, 2002: 154-155).
Kesepakatan dalam gencatan senjata di Mudros berisi dua puluh lima
pasal. Isi dari kesepakatan tersebut antara lain: (a) penguasaan militer atas selat-
selat; (b) kendali Entente atas semua jalur-jalur kereta api dan saluran telegraf; (c)
demobilisasi dan pelucutan senjata pasukan-pasukan Utsmani, kecuali untuk
angkatan kecil yang berfungsi sebagai penjaga hukum dan ketertiban; (d)
menyerahnya semua pasukan Utsmani di propinsi-propinsi Arab; (e) pembebasan
seluruh tawanan Entente yang ada di tangan Utsmani. Semua personel Jerman dan
Austria diharuskan meninggalkan Turki dalam waktu dua bulan. Klausul yang
paling membahayakan dari sudut pandang Utsmani adalah pada pasal tujuh yang
[Link] [Link]

memutuskan Entente berhak menduduki wilayah manapun dalam Kerajaan


Utsmani bila dianggap keamanannya terancam. Pasal 24 memberi Entente hak
untuk mengintervensi secara militer di wilayah Propinsi-propinsi Armenia jika
hukum dan ketertiban tidak dapat ditegakkan di sana. Pasal-pasal ini
memungkinkan Entente untuk menggunakan kekuatan senjata. Namun, syarat ini
tetap diterima oleh Utsmani karena tidak ada pilihan lain bagi mereka. Para
pemimpin gerakan perlawanan tidak begitu saja memrotes persetujuan gencatan
senjata. Namun, mereka menentang cara Entente menyalahgunakan syarat-syarat
perjanjian tersebut (Erik J. Zurcher, 2003: 168).

2. Perjanjian Sevres 1920


Sekutu mempunyai keinginan untuk menyelesaikan masalah Turki setelah
Perang Dunia I. Turki telah kalah dan wilayahnya terpecah akibat perjanjian
pembagian pada masa perang. Dalam butir 12 dari Empat Belas Butir yang
dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat, Wilson dinyatakan bahwa bagian
Turki dari imperium Utsmaniah yang ada sekarang harus dijamin sebagai suatu
kedaulatan yang aman. Dalam pidato PM Lyold George pada tanggal 5 Januari
1918, Inggris tidak bermaksud merampas ibukota Turki atau daerah subur
terkenal, Thrace, yang dikuasai Turki. Kedua pernyataan di atas menunjukkan
kebebasan pelayaran melalui Selat Turki berada di bawah pengawasan
internasional. Namun, pernyataan itu pun dapat dijadikan sebagai jaminan bagi
daerah Anatolia sebagai milik Turki untuk tidak diganggu. Sebelum Konferensi
Perdamaian diadakan, republik baru Armenia, yang ketika itu memihak kepada
sekutu, menuntut bagian timur Anatolia. Untuk meneliti masalah tersebut,
Presiden Wilson membentuk suatu komisi. Komisi ini berangkat ke Asia Kecil.
Komisi menyarankan agar terdapat pemerintahan mandat tunggal bagi Turki dan
Transkaukasia karena alasan ekonomi dan etnis. Sekutu mengusulkan Amerika
Serikat sebagai pemegang mandat. Namun, pelaksanaan mandat tersebut ditolak
karena Presiden Wilson ragu dan Amerika serikat sendiri tidak terlibat perang
(George Lenczowski, 1993: 66-67).
[Link] [Link]

Turki telah kalah dari Inggris, tetapi kekalahan ini tidak membuat Turki
terbelenggu oleh pihak yang menang. Sekutu dapat memaksakan kehendaknya di
Constantinopel, Selat Arabia, dan bagian Imperium di Anatolia Selatan. Namun,
di pedalaman Anatolia dan perbatasan timur lautnya bebas dari tekanan asing.
Dalam keadaan demikian, Barat makin teliti dalam menyusun rencananya untuk
melaksanakan perjanjian pembagian Turki. Keputusan Sekutu tentang Anatolia
dibuat di Paris dan San Remo sepanjang tahun 1919 hingga 1920 (George
Lenczowski, 1993: 67).
Tiga masalah penting berkaitan dengan masalah Anatolia (Erik J. Zurcher,
2003: 185-186) adalah:
a. Masalah Armenia.
Konferensi memutuskan untuk mendirikan sebuah negara Armenia
merdeka di Anatolia timur. Namun, kesepakatan ini mengalami jalan
buntu karena Turki menentangnya. Lokasi geografis daerah itu
mengartikan bahwa pemberlakuan keputusan itu di hadapan oposisi
bersenjata Turki akan mengharuskan adanya invasi militer besar-besaran.
Entente sudah kekurangan bekal dan peralatan untuk invasi tersebut.
b. Klaim Italia dan Yunani atas daerah yang sama di Asia kecil barat daya.
Italia memiliki klaim lebih dulu, tetapi posisinya diperlemah oleh
keinginan terhadap klaim-klaim teritorial. Sementara Yunani memiliki
dukungan yang lebih kuat dari Inggris. Inggris melihat adanya kekuatan
tandingan yang berharga yang dimiliki Yunani untuk menghadapi Perancis
dan Italia di Mediterania timur. Akhirnya, Yunani diberi izin untuk
menduduki Izmir dan sekitarnya pada Mei 1919.
c. Posisi Istambul serta selat-selat.
Nilai politik dan strategis di daerah-daerah ini di mata Inggris
mengartikan bahwa apabila daerah-daerah itu tetap dikuasai Kerajaan
Utsmani, seluruh wilayah kerajaan itu harus berada di bawah pengawasan
pihak asing tertentu. Jika daerah-daerah itu harus berpisah dari kerajaan
Utsmani, kerajaan ini akan menjadi tidak signifikan lagi, sehingga hanya
akan bergantung pada sarana-sarana yang dimilikinya sendiri. Inggris
[Link] [Link]

mengambil posisi yang berhaluan keras, sedangkan Perancis lebih bersikap


damai terhadap warga Turki, dan menginginkan mereka tetap memiliki
Istambul.
Syarat-syarat dalam perundingan tersebut diserahkan kepada delegasi
Utsmani pada tanggal 11 Mei 1920. Istambul tetap di tangan Utsmani, tetapi
syarat-syarat itu terlalu berat sehingga delegasi Utsmani menolak untuk
menerimanya (Erik J. Zurcher, 2003: 187).
Perundingan di Paris dan San Remo ditindaklanjuti pada Perjanjian Sevres
(George Lenczowski, 1993: 68-69) yang berisi:
a. Klausul Teritorial
1) Arabia
Turki dipisahkan dari semua bagian Arabia yang berada di bawah
Imperium Utsmaniah. Kerajaan Hejaz memperoleh pengakuan sebagai
negara merdeka. Turki juga melepaskan kontrol atas Suriah, Palestina, dan
Mesopotamia yang kemudian nasibnya akan ditentukan oleh negara-
negara utama Sekutu.
2) Turki di Eropa
Thrace Timur diserahkan kepada Yunani hingga garis Katalia.
Selanjutnya, Yunani menerima Thrace Barat dari Sekutu yang sebelumnya
diperoleh dari Bulgaria, sehingga Yunani memajukan batasnya sampai dua
puluh mil dari ibukota Turki.
3) Smyrna dak kepulauan di Laut Aegea
Kota dan Distrik Smyrna ditempatkan di bawah pemerintahan
Yunani selama lima tahun. Setelah itu penduduknya diizinkan membentuk
lembaga tetap di bawah Yunani melalui plebisit. Pulau Imbres dan
Tenedos diserahkan kepada Yunani dan kedaulatan Yunani diakui atas
sejumlah pulau lainnya di Laut Aegea, sedangkan Kepulauan Docecanese
dan Rhodes diserahkan kepada Italia.
4) Armenia
[Link] [Link]

Turki mengakui Armenia sebagai negara merdeka dan


mengizinkannya menyetujui arbitrase Wilson yang berkenaan dengan
perbatasan kedua negara.
5) Kurdistan
Turki menyetujui untuk memberi daerah otonomi kepada bangsa
Kurdi di sebelah timur Sungai Efrat dan menyetujui suatu rencana hasil
pertimbangan komisi internasional yang disusun oleh Inggris, Perancis,
dan Italia. Turki juga menyetujui perubahan batas negara dengan Iran dan
daerah Kurdi.
6) Selat-Selat Turki di Konstantinopel
Turki menyetujui pengawasan internasional atas perairan di Selat
dan demiliterisasi zona perbatasan. Constantinopel tetap berada di bawah
kedaulatan Turki.
b. Pembatasan Kedaulatan Turki
1) Pembatasan angkatan perang
Angkatan perang Turki dibatasi sampai 50.000 orang. Dinas wajib
militer dihapuskan dan diadakan pembatasan persenjataan. Angkatan
perang harus berada di bawah penasihat Sekutu atau negara-negara netral.
Komisi pengawasan Sekutu berwenang untuk mengawasi pelaksanaan
klausul ini.
2) Klausul keuangan
Turki setuju untuk menerima pengawasan ketat komisi keuangan
yang mewakili Inggris, Italia, dan Perancis. Komisi ini mempunyai
wewenang yang luas untuk memeriksa utang negara Utsmaniah, anggaran
negara Turki, peredaran mata uang, pinjaman umum dan konsesi, pabean,
serta pajak langsung. Dengan demikian, komisi ini menjalankan kekuasaan
eksekutif.
3) Kapitulasi
Kapitulasi tetap dipertahankan, dan ditambahkan ketentuan baru.
Menurut pandangan Turki, ketentuan ini merendahkan derajat mereka.
4) Golongan minoritas
[Link] [Link]

Turki menerima berbagai klausul yang memaksanya menghormati


hak-hak minoritas agama dan nasional, terutama bangsa Armenia, Yunani,
Asiro-Kaldea, Kurdi, dan umat Kristen pada umumnya.
Perjanjian tersebut disahkan pada tanggal 10 Agustus 1920.
Perjanjian Sevres menimbulkan kemarahan rakyat di seluruh Turki.
Perjanjian ini sangat menghina bangsa Turki dan menurunkan statusnya menjadi
negara kecil yang wilayah dan kedaulatannya dibatasi. Mustafa Kemal
menyatakan bahwa perjanjian Sevres bukanlah sebuah perjanjian perdamaian,
tetapi merupakan sesuatu yang justru akan melanjutkan peperangan (Hamka,
1975: 328) .

3. Gerakan Nasional Turki


Golongan nasionalis Turki semakin menunjukkan perkembangannya
setelah Perang Dunia I. Pergerakan-pergerakan golongan ini semakin gencar
dalam melawan sekutu maupun pihak yang mendukungnya, seperti pihak
Kerajaan. Selain aktivitas-aktivitas bawah tanah mereka, pihak nasionalis
berinisiatif untik memperoleh dukungan publik di masing-masing propinsi.
Perkumpulan-perkumpulan didirikan untuk mempertahankan hak-hak nasional
negara Turki. Pihak Unionis yang berada di balik organisasi biasanya berupaya
merekrut para tokoh terkemuka dan para pemuka agama untuk bertindak sebagai
ketua-ketua perkumpulan untuk menarik dukungan luas. Perkumpulan-
perkumpulan itu di antaranya didirikan antara bulan Desember 1918 dan Oktober
1920. Perkumpulan-perkumpulan itu kemudian akan menyatakan karakter Turki
dan Muslim di satu wilayah dan tekadnya untuk tetap menyatu dengan tanah
airnya (Erik J. Zurcher, 2003: 188-189).
Pergeseran dari nasionalisme multi ras atau bangsa dan agama menjadi
nasionalisme Turki hampir tidak terasa, dan mungkin tidak akan melangkah
terlalu jauh apabila Sultan Mahmud Vehideddin tidak memutuskan untuk
melawan para nasionalis dan bekerja sama dengan Sekutu yang menduduki negeri
itu. Kelompok nasionalis bebas bergerak di pedalaman Anatolia dan daerah
perbatasan di timur laut karena lepas dari kontrol asing. Cita-cita mereka adalah
[Link] [Link]

mempertahankan keutuhan masyarakat Islam di bawah kesultanan dan


kekhalifahan. Turki kecewa dengan instruksi Sultan Mahmud Vehideddin kepada
pasukan Turki di Samyra agar bertahan terhadap invasi Yunani tersebut. Di bawah
pimpinan Jenderal Kazim Karabekir yang menjadi komandan militer di Erzerum,
sebuah gerakan pembebasan nasional lahir di Anatolia
Mustafa kemal, yang ditempatkan di Samsun sebagai Inspektur jenderal
Angkatan Darat kesembilan, muncul dari Anatolia Timur empat hari setelah invasi
Yunani. Ia menolak perintah kembali ke Istambul dan memusatkan perhatiannya
pada finalisasi program perjuangan nasional bersama Kazim Karabekir, Ali Fuad
Pasha, dan Husein Rauf (Siti Maryam, 2002: 156). Ia kemudian megadakan
propaganda yang menghimbau kebanggaan nasional bangsa Turki. Didukung oleh
segala kemampuannya, Kemal berhasil membangun bangsanya (George
Lenczowski, 1993: 70).
Berdasarkan propaganda dari Mustafa Kemal tentang kebanggaan
nasional bangsa Turki, golongan nasionalis menyelenggarakan sebuah kongres
delegasi propinsi-propinsi timur di Erzerum dari tanggal 23 Juli sampai 19
Agustus 1919. Kongres ini menghasilkan resolusi yang antara lain menyatakan
tuntutan atas kemerdekaan dan terciptanya persatuan bagi rakyat Turki yang
bersatu dalam agama, ras, dan tujuan. Resolusi tersebut dikukuhkan oleh kongres
di Sivas pada tanggal 4 September 1919 yang dihadiri oleh delegasi-delegasi dari
seluruh kerajaan. Kelompok-kelompok perjuangan meleburkan diri di bawah Liga
Pertahanan dan Hak-hak di Anatolia dan Rumelia. Resolusi yang sudah
diformulasikan dalam bentuk program enam pasal yang dinamakan Pakta
Nasional. Pakta Nasional itu kemudian diajukan ke Parlemen di Istambul tanggal
28 Januari 1920 (Siti Maryam, 2002: 156). Isi program enam pasal (George
Lenczowski, 1993: 70) tersebut adalah: (1) Pengakuan atas penentuan nasib
sendiri bangsa Arab serta tuntutan atas kemerdekaan dan terciptannya persatuan
bagi seluruh Imperium yang dihuni oleh mayoritas Muslim Utsmaniah, yaitu
mayoritas bangsa Turki dan Kurdi. (2) Penerimaan plebisit bagi Batum, Karz, dan
Ardahan. (3) Penerimaan plebisit bagi Thrace Timur. (4) Permintaan akan
keamanan Constantinopel yang merupakan kedudukan Khalifah dan Sultan. Jika
[Link] [Link]

permintaan ini dipenuhi, ijin pengawasan internasional terhadap selat diberikan.


(5) Perlindungan bagi kaum minoritas dalam arti bahwa perlindungan bagi
minoritas Muslim yang terdapat di negara-negara tetangga. (6) Tuntutan akan
kemerdekaan secara penuh, baik politis maupun ekonomis.
Parlemen mengesahkan Pakta Nasional pada bulan Februari 1920. Hal
itu menyebabkan sekutu meningkatkan pengawasannya terhadap Istambul.
Pasukan Inggris menangkap simpatisan Nasionalis, termasuk beberapa anggota
Parlemen pada 16 Maret 1920. Hal ini dibiarkan oleh Sultan. Dua hari berikutnya,
Parlemen mengadakan sidang untuk menyatakan protes atas penagkapan-
penangkapan terhadap anggota-anggotanya. Pada waktu yang hampir sama,
Mustafa Kemal mengadakan pemungutan suara untuk majelis darurat baru yang
segera bersidang di Ankara, markas tokoh nasionalis. Sedangkan Sultan
membubarkan Parlemen pada tanggal 11 April 1920. Dikeluarkan pula fatwa dari
Syekh al-Islam yang menyatakan bahwa para pemimpin nasionalis adalah
gerombolan pemberontak dan kewajiban muslim untuk membunuhnya atas
perintah Khalifah. Pihak Sultan merekrut suatu Laskar Khalifah untuk melawan
kaum nasionalis. Pihak nasionalis tidak gentar dan terus berusaha untuk
melakukan perlawanan dengan melibatkan anggota parlemen.
Mustafa Kemal mengundang beberapa anggota parlemen ke Ankara
untuk untuk ambil bagian dari majelis nasional. Sembilan puluh dua anggota
parlemen memenuhi undangan tersebut dan bersama 232 wakil yang dipilih oleh
cabang-cabang lokal gerakan perlindungan Hak-hak membentuk Majelis Tinggi
Nasional.
Majelis Tinggi Nasional bersidang di Ankara tanggal 23 April. Sidang
memutuskan Mustafa Kemal menjadi Presiden Majelis Tinggi Nasional yang
mempunyai kekuasaan legislatif dan eksekutif, dan suatu dewan yang terdiri dari
sebelas orang menteri. Meskipun Kemal menyatakan kesetiaannya tetap pada
Khalifah, perlawanan terhadap para nasionalis terus berlanjut (Siti Maryam, 2002:
157 ; Erik J. Zurcher, 2003 : 194). Konfrontasi semakin dekat karena kaum
nasionalis tidak akan pernah menerima syarat-syarat persetujuan yang disetujui
[Link] [Link]

oleh Entente, termasuk Perjanjian Sevres yang dianggap sebagai penghinaan


terhadap bangsa Turki.

4. Perang kemerdekaan Turki 1921-1922


Mustafa Kemal menyatakan bahwa perjanjian Sevres bukanlah sebuah
perjanjian perdamaian, tetapi merupakan sesuatu yang justru akan melanjutkan
perang. Sebagai reaksi atas penolakan golongan nasionalis Turki, Sekutu
merencanakan untuk melakukan serangan ke wilayah Turki. Penyerangan itu akan
dilakukan oleh Yunani. Dengan bantuan Inggris dan Perancis, Yunani kemudian
menyerang Turki. PasukanYunani datang melalui Pantai Azmir dan dihadapi oleh
pasukan yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha, kemudian terjadi perang yang
disebut dengan Perang Kemerdekaan Turki (Hamka, 1975: 328).
Pada musim panas 1920, tentara Yunani memperluas zona
pendudukannya ke seluruh Asia Kecil bagian barat dan barat laut serta ke Thrace,
di mana hanya tekanan Entente yang kuat yang bisa mencegah mereka untuk
mendekati Istambul. Tentara Nasionalis Turki di barat masih sangat lemah dan
harus mengandalkan perang gerilya. Di timur, tentara telah bersiaga untuk
melancarkan serangan demi menguasai kembali Propinsi Kars, Ardahan, dan
Batum. Namun, pasukan Nasionalis itu diperintahkan untuk menunda serangan,
sebab para pemimpin di Ankara berusaha untuk mencapai sebuah kesepakatan
dengan Uni Soviet.
Perundingan antara Turki dan pihak Bolshevik mengenai bantuan
militer, finansial, dan rute langsung antara kedua negara berlangsung sejak Juli
1920. Namun, pihak Bolshevik menunda perundingan itu. Hal ini tidak bisa
diterima oleh pihak Turki. Perundingan terhenti dan tanggal 28 September tentara
Kazim Karabekir bergerak ke Sarikami, wilayah Timur Turki. Dua hari kemudian,
kota itu berhasil dikuasai. Setelah pertempuran dihentikan selama satu bulan,
Pasukan Turki disebar kembali. Pertemputan dimulai lagi tanggal 27 Oktober, dan
menjelang Nopember, Armenia dikalahkan. Perjanjian damai yang diadakan di
Alexandropol, 2 Desember 1920 merupakan perintah Turki. Menjelang awal
tahun 1921, negosiasi antara kaum nasionalis Turki dan pihak Bolshevik dimulai
[Link] [Link]

lagi. Perundingan ini menghasilkan perjanjian persahabatan. Perjanjian damai


dengan Armenia dan perjanjian dengan Rusia memungkinkan pihak nasionalis
mengirimkan pasukan ke barat untuk menghadang tentara Yunani yang mulai
bergerak ke Timur (George Lenczowski, 1993: 71).
Upaya pertama yang dilakukan Yunani untuk bergerak ke timur dari
Bursa ke Eskisehir ketika pasukan Turki di bawah pimpinan Kolonel Ismet
berhasil menghadang dan mengalahkannya di Inonu, 10 Januari 1921. Sebagai
akibat dari kemenangan-kemenangan atas Armenia dan di Inonu, posisi
diplomatik kaum nasionalis menjadi semakin kuat. Perancis dan Inggris mulai
berpendapat bahwa revisi Perjanjian Sevres tidak bisa dielakkan lagi (Erik J.
Zurcher, 2003: 197-198).
Sekutu mengundang pemerintah Utsmani dan Yunani untuk
bermusyawarah di London yang dimulai tanggal 21 Februari untuk membicarakan
kemungkinan merevisi perjanjian itu. Pencapaian kesepakatan dengan kaum
Nasionalis diserahkan kepada pemerintah Utsmani. Hal itu tidak bisa diterima
oleh kaum nasionalis, sebab mereka memandang diri mereka sebagai satu-satunya
wakil yang sah dari “kehendak nasional”. Pada akhirnya, undangan resmi
disampaikan kepada pihak nasionalis melalui pemerintah Italia. Kedua belah
pihak pada mulanya berposisi ekstrem. Pihak Turki terikat oleh Pakta Nasional
mereka dan pihak Yunani menuntut agar syarat-syarat perjanjian damai bahkan
harus diperberat lagi sebagai hukuman atas serangan tentara Turki. Negara-negara
besar berusaha menemukan solusi mengenai daerah-daerah yang diperebutkan,
namun hal ini ditolak oleh pihak Yunani. Proposal-proposal Yunani untuk
berdirinya sebuah propinsi otonom di sekitar Izmir terhenti karena adanya
penolakan dari pihak Turki. Ketika pihak Yunani meminta kepastian bahwa
mereka bebas untuk memulai serangan sekalipun konferensi sedang berlangsung,
Perdana Menteri Inggris, Lloyd George, yang diberitahu bahwa tentara Yunani
siap menyerang, mendesak diberikannya kepastian itu (Erik J. Zurcher, 2003:
198).
Tentara Yunani kemudian memulai serangan kembali. Mereka sekali
lagi dihadang di Inonu pada 7 April 1921. Namun, pada musim panas mereka
[Link] [Link]

mendobrak dan menduduki Afyon–Karahisar, Kutahya, dan jalur kereta api


Eskisehir yang penting. Jatuhnya Eskisehir menimbulkan kepanikan besar di
Ankara. Untuk mengatasi hal itu, Mustafa Kemal memegang komando angkatan
bersenjata atas permintaan majelis. Segala kekuasaan majelis diserahkan
kepadanya selama tiga bulan. Setiap calon tentara dikerahkan untuk membantu
Kemal. Tentara nasionalis mengambil posisi di Sungai Sakarya, sekitar 50 mil
dari barat dan barat daya Ankara. Di padang rumput Anatolia terjadi pertempuran
besar yang sangat menentukan. Pertempuran ini berlangsung selama dua minggu
dengan kemenangan di pihak Turki pada tanggal 13 September, ketika pasukan
Yunani mulai mundur. Keletihan tentara Turki menghalanginya untuk terus
mengejar lawannya. Front itu statis selama hampir setahun, di mana Yunani masih
menguasai Asia Kecil sebelah barat sampai ke tapal batas. Afyon-Karahisar-
Eskisehir (George Lenczowski, 1993: 72).
Pada tanggal 22 Agustus 1922, Mustafa Kemal memerintahkan
tentaranya untuk menyerang tentara Yunani. Bagi tentara Yunani, serangan Kemal
yang dilancarkan ke sebelah selatan Afyon-Karahisar merupakan satu kejutan
besar. Mereka tercerai-berai dan sebagian besar ditangkap di sebelah barat Afyon.
Pada tanggal 30 Agustus, pertempuran dimenangkan oleh Turki. Yunani berhasil
diusir ke laut Mediterania pada tanggal 11 September (Siti Maryam, 2002: 158)
. Melihat keberhasilan kaum nasionalis dan kekalahan Yunani, Lloyd
George mengirimkan permohonan kepada Sekutu agar melindungi mereka di selat
pada tanggal 15 September. Namun, Italia dan Perancis tidak menanggapi
permohonan tersebut. Hari berikutnya, kontingen Inggris di bawah Jenderal
Harington mendarat di bagian Asia Dardanela, yaitu Chanak, sementara Pasukan
Kemal semakin mendesak. Dalam waktu singkat, tampak seolah-olah Turki dan
Inggris akan saling bertempur. Namun, kedua-duanya tetap menahan diri.
Konvensi Mudania pada tanggal 11 Oktober menghindarkan keduanya dari
peperangan. Konvensi ini menyangkut pengembalian Thrace Timur dan
Andrinopel kepada Turki. Selain itu kemal menerima rencana pengawasan
internasional atas Selat Bosphorus. Jalan terbuka bagi penyelesaian perdamaian
secara menyeluruh. Selanjutnya, pada tanggal 20 Nopember 1922, suatu
[Link] [Link]

konferensi perdamaian diselenggarakan di Kota Lausanne antara Turki dan Sekutu


(George Lenczowski, 1993: 72-73).

B. Proses Pelaksanaan Perjanjian Lausanne 1923

1. Tahap Perundingan
Entente mengundang Turki untuk memulai perundingan-perundingan
segera setelah meredanya permusuhan. Pihak Turki menginginkan agar negosiasi-
negosiasi itu diadakan di Izmir. Namun, Entente menolak untuk berunding di
tanah Turki. Kota Lausanne di Swis akhirnya dipilih sebagai tempat perundingan.
Perancis, Italia, dan Yunani adalah tuan rumah sedangkan Turki, baik pemerintah
di Ankara maupun di Istambul, diminta untuk mengirimkan delegasi-delegasinya.
Mustafa Kemal mengangkat Ismet Pasha sebagai pemimpin delegasi Turki di
Lausanne. Mustafa Kemal memilihnya karena Ismet adalah pendukungnya yang
paling loyal dan bisa diandalkan, tidak seperti Perdana Menteri Husein Rauf yang
pro-Inggris maupun komisaris urusan luar negeri, Yusuf Kemal yang pro-Soviet.
Keberangkatan Ismet ke Lausanne dibekali instruksi-instruksi tegas untuk tidak
menyimpang dari Pakta Nasional.
Konferensi dibuka pada tanggal 20 Nopember 1922. Negara-negara yang
mengirimkan utusan adalah Inggris Raya, Perancis, Italia, Yunani, dan Turki,
sedangkan Uni Soviet, Ukraina, Georgia, Rumania, serta Bulgaria diundang untuk
menghadiri pertemuan di mana mereka mempunyai kepentingan langsung.
Perundingan-perundingan diperkirakan akan menemui banyak kesulitan sebab
sejak awal terdapat berbagai perspektif yang berlainan di kedua belah pihak.
Entente menganggap diri mereka sebagai pemenang Perang Besar. Dalam
pandangan Entente, konferensi ini dimaksudkan untuk menyesuaikan syarat-
syarat Perjanjian Sevres dengan situasi baru. Sedangkan dalam pandangan pihak
Turki, merekalah yang merupakan pemenang dalam perang kemerdekaan nasional
mereka dan bagi mereka. Pihak Turki juga beranggapan bahwa Perjanjian Sevres
hanyalah sejarah masa lalu. Pada awalnya, delegasi Turki mengalami kesulitan
dalam perundingan di Lausanne tersebut. Mereka tidak dianggap sebagai partner
[Link] [Link]

yang setara. Menteri Luar Negeri Inggris yang merupakan figur dominan dari
pihak Entente, Lord Curzon, bersikap amat arogan dan ingin menang sendiri.
Pihak Turki betul-betul lemah karena kurangnya pengalaman diplomatik (Erik J.
Zurcher, 2003: 206-208).
Masalah-masalah yang dirundingkan dibagi ke dalam tiga pokok
bahasan: masalah teritorial dan militer; perekonomian dan keuangan; dan posisi
orang-orang asing serta kaum minoritas. Pada dua bulan pertama, hanya sedikit
kesepakatan yang dicapai mengenai semua pokok masalah ini. Pada awal
Februari, semua masalah teritorial yang penting seperti Thrace, penguasa-
penguasa selat di masa depan, telah diselesaikan. Namun, kedua belah pihak
sepakat untuk menunda perundingan mengenai masalah Mosul. Ismet tetap
mempertahankan agar Mosul tetap masuk Turki dan menghapus kapitulasi, tetapi
Curzon tidak menyetujui kedua masalah itu. Sedangkan masalah-masalah dalam
bidang lainnya terbukti tidak dapat diatasi. Konferensi berhenti untuk sementara.
Para delegasi pulang ke negeri mereka masing-masing (George Lenczowski,
1993: 73).
Semangat nasionalis yang amat kuat kini menguasai Ankara. Pada awal
Maret 1923, baik Ismet maupun pemerintah mendapat serangan sengit melalui
konsesi yang telah mereka buat. Mustafa Kemal berintervensi secara pribadi agar
majelis mau mendesak pemerintah untuk melanjutkan perundingan-perundingan.
Pihak Turki menyerahkan 100 halaman amandemen sebagai draft perjanjian di
bulan Februari. Setelah amandemen-amandemen dipelajari oleh oleh para ahlinya,
pada akhir Maret Entente mengundang pihak Turki untuk membuka kembali
perundingan-perundingan. Kedua pihak berunding kembali pada tanggal 23 April.
Delegasi Yunani dan Turki segera menyelesaikan masalah-masalah bilateral
mereka. Turki menerima koreksi mengenai tapal batas di Thrace sebagai imbalan
penangguhan klaimnya atas ganti rugi perang. Namun, masalah utama adalah
penegasan negara-negara Entente mengenai konsesi-konsesi ekonomi dan yudisial
sebagai imbalan atas pengakuan penghapusan perjanjian-perjanjian sebelumnya.
Pihak Turki menolak segala sesuatu yang melanggar kedaulatan negara Turki
baru. Posisi Entente memang lemah sebab di negara-negara mereka tidak ada
[Link] [Link]

penduduk yang siap berperang demi masalah-masalah ini. Karena itu, untuk
menghindari terjadinya perang, Entente harus mengusahakan tercapainya
kesepakatan dengan pihak Turki. Setelah diupayakan, akhirnya kesepakatan
dicapai tanggal 17 Juli. Ismet meminta izin pemerintah di Ankara untuk
menandatangani kesepakatan itu. Mustafa Kemal mengabulkan izin tersebut.
Perjanjian itu ditandatangani pada tanggal 24 Juli 1923 (Erik J. Zurcher, 2003:
208-209).

2. Hasil Perundingan
Hasil dari perundingan di Lausanne telah mewujudkan tujuan-tujuan
Pakta Nasional, walaupun tidak secara detail. Dalam batas-batas Pakta Nasional
itu, Turki yang muncul setelah perundingan adalah sebuah negara yang betul-betul
negara yang berdaulat. Isi Perjanjian Lausanne (George Lenczowski, 1993: 73-74)
meliputi:
a. Klausul teritorial.
Dalam klausul teritorial, dihasilkan beberapa kesepakatan, antara lain: (1)
Kesatuan etnis Turki diakui dan pemisahan dari tanah Arabia ditegaskan;
(2) Turki memperoleh kembali Thrace Timur sampai Sungai Maritza dan
kota Karagach di tepi baratnya; (3) Pulau Imbos dan Tenedos diserahkan
kepada Turki, tetapi pulau-pulau lain di Laut Aegea ditetapkan bagi
Yunani; (4) Dodecanese milik Italia sedangkan Siprus milik Inggris
ditegaskan. Armenia tidak disebut-sebut, itu berarti pengakuan implisit
terhadap persetujuan Turki-Soviet yang menyangkut perbatasan
Transkaukasia; (5) Smyrna diserahkan kepada Turki sebagai bagian
integral dari Anatolia; (6) Batas dengan Suriah mengikuti garis yang diatur
dalam persetujuan Franklin-Bouillan, 20 Oktober 1921, yang berarti
kawasan Alexandretta dikeluarkan dari wilayah Turki; (7) Batas dengan
Irak ditunda sampai perjanjian antara Inggris, pemegang mandat, dengan
Turki; (8) Jika persetujuan itu gagal diwujudkan dalam jangka waktu satu
tahun, masing-masing pihak berjanji untuk menerima arbitrase LBB.
[Link] [Link]

Pada saat itu, wilayah Mosul berada di bawah wewenang Inggris-Irak.


Masalah kemerdekaan atau otonomi bangsa Kurdi tidak disebutkan.
b. Pembatasan kedaulatan.
Perjanjian Lausanne merupakan kemenangan bagi Turki, bila
dibandingkan dengan Perjanjian Sevres. Kapitulasi dihapuskan, dan
sebaliknya Turki berjanji untuk menerima para pengamat netral dalam
sistem peradilannya dengan penguasa-penguasa nominal dan murni. Turki
bebas dari pengawasan asing dalam bidang ekonomi dan keuangan serta
dari tuntutan Sekutu dari ganti rugi. Tidak ada pembatasan bagi jumlah
militer serta angkatan laut. Hanya saja, Turki harus menarik militernya
dari zona 30 kilometer sepanjang batas Thrace. Turki menerima
perjanjian-perjanjian pokok guna melindungi golongan minoritas. Hal itu
sama seperti yang direncanakan oleh beberapa negara Eropa dalam
konferensi Perdamaian Paris. Yunani dan Armenia tidak disinggung secara
khusus.
c. Kawasan Selat.
Pembatasan utama kedaulatan Turki hanya pada kontrol atas Selat yang
diinternasionalisasi. Namun, di sini pun Turki membuktikan posisinya.
Konvensi Selat menetapkan komisi internasional yang dipimpin oleh
warga negara Turki di bawah pengawasan LBB. Kebebasan terbatas bagi
pelayaran melalui Selat dinyatakan, dan ditetapkan pula empat zona bebas
militer di pesisir Eropa dan Asia, di sekitar Bosphorus dan Dardanela.
Pulau-pulau di Laut Marmara juga bebas dari militer. Namun, Turki masih
diperbolehkan menempatkan 12.000 pasukan di Constantinopel dan diberi
kebebasan transit bagi pasukannya untuk menyeberangi zona netral yang
ditentukan.
d. Pertukaran penduduk.
Persetujuan Yunani-Turki yang terpisah tentang pertukaran wajib bagi
golongan minoritas Yunani yang tinggal di Turki dan golongan minoritas
Turki yang tinggal di Yunani. Orang Yunani di Constantinopel dan orang
Turki di Thrace Barat tidak termasuk ke dalam pertukaran ini.
[Link] [Link]

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Lausanne, negara nasional Turki


mendapat pengakuan internasional. Tuntutan kaum nasionalis dan Pakta Nasional
telah tercapai. Turki memperoleh lagi kemerdekaan dan kesatuan wilayah
etnisnya. Turki berhasil melepaskan campur tangan asing yang mengawasi urusan
militer, peradilan, dan ekonomi. Turki telah menjadi negara yang berdaulat penuh
(Siti Maryam, 2002:158).
Kemerdekaan Turki telah diakui dalam Perjanjian itu. Namun, ada
dugaan bahwa kesepakatan ini akibat tekanan diplomatik dari pihak Sekutu
terhadap kemerdekaan dan eksistensi Turki. Mereka menuntut agar Turki menjadi
negara yang mengikuti negara-negara barat secara total. Apabila Turki tidak
melaksanakannya, Negara-negara besar Eropa akan terus-menerus mengancam
kemerdekaan Turki. Hal itu seperti yang dilakukan oleh negara-negara Barat pada
masa sebelumnya dalam menekan secara diplomatik pemerintahan sultan di
Istambul untuk melakukan reformasi. Mustafa Kemal sangat prihatin dengan
ancaman tersebut yang dianggapnya berbahaya. Ia berusaha menekankan dalam
pidato-pidatonya bahwa bangsa Turki ingin menjadi bangsa yang progresif seperti
negara-negara Barat. Jaminan itu ternyata tidak membawa hasil yang positif
Akibatnya, ia mengambil program dari Barat dan menjadikan Turki anggota dari
peradaban Barat. Hal itu berpengaruh terhadap kebijakan pembaharuan Kemal di
Turki setelah merdeka (A. Mukti Ali, 1994: 101-102).

C. Dampak Perjanjian Lausanne 1923

1. Dampak Politik
a. Dalam Negeri
Dengan disahkannya Perjanjian Lausanne 1923, pemerintah Kemal
mendapatkan pengakuan internasional. Turki memperoleh kembali
kemerdekaannya dan kesatuan wilayah etnisnya, serta melepaskan belenggu asing
yang mengawasi urusan militer, peradilan, dan ekonomi. Turki bangkit dari
siksaan berat selama ini dengan lahirnya kebanggaan nasional, menikmati
[Link] [Link]

kepemimpinan baru yang progresif, miskin tetapi yakin akan masa mendatang,
dan kebersamaan dalam masyarakatnya (George Lenczowski, 1993: 74).
Perjanjian Lausanne telah mewujudkan kemerdekaan penuh bagi Turki.
Namun, kemerdekaan itu adalah kemenangan bagi Golongan Nasionalis Turki,
bukan kemenangan seluruh Turki. Mustafa Kemal yang selanjutnya diangkat
menjadi Presiden melakukan banyak perubahan. Perubahan yang dilakukan
Kemal membuat eksistensi kekhalifahan terancam.
Segera setelah kemenangan dapat dipastikan, Kemal menyatakan bahwa
ia punya gagasan baru. Kemal ingin menciptakan negara Turki modern dengan
legitimasi otoritas politik atas prinsip populisme. Kedaulatan dan semua kekuatan
administratif harus diberikan kepada rakyat. Dengan demikian, negara modern
harus membebaskan agama dari posisinya sebagai alat politik, sebagaimana biasa
terjadi pada selama berabad-abad. Langkah pertama adalah menghapuskan
kesultanan, sementara kekhalifahan tetap dipertahankan sebagai pemegang
jabatan keagamaan tanpa memiliki kekuasaan politik. Kemal beralasan, ketika
Khalifah Abbasiyah telah kehilangan seluruh kekuasaannya pada masa akhir
pemerintahannya, ia tetap dianggap sebagai lambang persatuan dan simbol Islam.
Lagi pula, dualisme dalam pemerintahan Turki harus segera diakhiri karena
konstitusi tahun 1921 dengan jelas menyebutkan Majelis Agung Nasional adalah
satu-satunya wakil sah rakyat. Gagasan Kemal itu mendapat perlawanan keras
dari anggota komite Syariah, terutama para ulama, walaupun kemudian ia berhasil
mengakhirinya dengan menegaskan bahwa bangsa Turki telah menyatukan
kedaulatan dan kesultanan di tangan mereka sendiri. Kemal berhasil meyakinkan
Majelis Agung Nasional. Kemudian, Majelis Agung Nasional menerima gagasan
tentang penghapusan kesultanan tersebut (Siti Maryam, 2002: 159).
Tanggal 1 Nopember 1922, Majelis Agung Nasional mengeluarkan
resolusi tentang penghapusan kesultanan. Resolusi juga menetapkan bahwa
kekhalifahan, termasuk keluarga Utsmaniah, tergantung kepada negara Turki dan
yang akan dipilih menjadi Khalifah oleh Majelis adalah anggota keluarga
Utsmaniah yang pengetahuan dan kepribadiannya paling patut dan tepat
(Muhammad Khan Nur, 1959).
[Link] [Link]

Hakikat sebenarnya dari negara Turki yang baru muncul masih belum
menentu. Kesultanan Utsmani telah dihapuskan, negara itu diperintah oleh
majelis nasional yang bukan saja memilih presiden, tetapi juga memilih menteri
secara langsung. Hubungan konstitusional antara majelis dan Khalifah tidak jelas.
Khalifah, sebagaimana disusun tahun 1922, secara murni merupakan satu fungsi
keagamaan. Namun, tidak dapat dielakkan lagi bahwa orang banyak harus tetap
memandang Khalifah sebagai kepala negara, walaupun hanya secara emosional.
Lebih dari itu, sebagai Khalifah, yurisdiksinya melebihi batas-batas wilayah Turki
dan meliputi seluruh dunia Islam. Mustafa Kemal mengemukakan bahwa dia
bermaksud mengubah situasi yang membingungkan itu dan memproklamasikan
republik. Mustafa Kemal mengajukan sebuah proposal kepada majelis untuk
memproklamasikan republik, dengan seorang presiden yang sudah dipilh, seorang
perdana menteri yang diangkat oleh presiden, dan sebuah sistem kabinet
konvensional. Mayoritas orang di majelis menerima proposal itu. Tanggal 29
Oktober 1923, Republik Turki diproklamasikan dengan Mustafa Kemal sebagai
presidennya yang pertama serta Ismet Inonu sebagai perdana menterinya yang
pertama (Erik J. Zurcher, 2003: 214-215).
Dengan demikian, kekhalifahan telah dipisahkan dari negara dan
menjadi semacam lembaga internasional yang kebetulan memiliki markas besar di
Turki. Pada dasarnya, Kemal bisa mempertahankan kekhalifahan sebagai alat bagi
pengaruh Turki di antara negara muslim, atau memperkuat mandat yang
diterimanya dengan legitimasi dari khalifah di samping membebaskan Turki dari
implikasi internasional kekhalifahan. Namun, Kemal berpandangan negara
modern hanya dapat diwujudkan dengan pemutusan hubungan secara menyeluruh
dari lembaga politik dan sosial Islam yang lama. Kemal percaya bahwa negara
modern dapat ditopang oleh “agama rakyat”, sehingga yang diperlukan adalah
membentuk lembaga baru yang dapat mendorong pertumbuhan agama rakyat dan
mengembangkan tanggung jawab individual, tempat agama rakyat itu tumbuh
(Siti Maryam, 2002: 160).
Menurut Mustafa Kemal, kemunduran-kemunduran Turki Utsmani
disebabkan karena tidak beresnya sistem kekhalifahan. Oleh karena itu, sistem
[Link] [Link]

tersebut harus dihapuskan kalau Turki ingin maju sebagaimana negara Eropa
lainnya. Karena pertimbangan itu, Mustafa Kemal menghapuskan jabatan
Khalifah. Sejak itu, imperium Turki Utsmani berakhir dan sejarah Turki
memasuki era modern (K. Ali, 2003: 564).
b. Luar Negeri
Politik luar negeri Republik Turki sepanjang periode 1923-1945 bisa
dikatakan hati-hati, realistis, dan pada umumnya bertujuan untuk
mempertahankan kemanangan yang diraih di tahun 1923. Sampai akhir 1920-an,
hubungannya dengan negara-negara demokrasi Eropa Barat terhambat sebagai
akibat dari perjanjian Lausanne, di mana sebagian masalah tidak dapat
diselesaikan. Yang terpenting adalah perselisihan dengan Inggris mengenai
Mosul, sebuah propinsi kaya minyak yang sebagian besar dihuni oleh rakyat
Kurdi. Mosul diduduki tentara Inggris setelah gencatan senjata tahun 1918,
sehingga Turki memasukkannya ke dalam daerah-daerah yang mereka anggap
sebagai wilayahnya dalam Pakta Nasional. Dalam perundingan selama 1923 dan
1924, Inggris menegaskan bahwa Mosul termasuk wilayah Irak, dan menolak
Turki untuk mengadakan plebisit. Ketika kedua belah pihak tidak mencapai
kesepakatan, masalah itu diserahkan kepada Liga Bangsa-bangsa di Jenewa, yang
di masa itu Turki belum menjadi anggotanya. Liga Bangsa-bangsa memulai
pembicaraan tentang perkara ini di bulan September 1924. Setahun kemudian,
September 1925, sebuah komisi Liga Bangsa-bangsa menyelidiki situasi langsung
di tempat itu dan menyatakan bahwa Mosul termasuk wilayah Irak.
Turki menghadapi masalah utama tentang pembayaran utang negara
Turki Utsmani dengan Perancis. Perancis merupakan investor terbesar sebelum
perang. Pada tahun 1928 ditetapkan bahwa Turki menanggung beban pembayaran
itu. Namun, krisis ekonomi dunia mengakibatkan tertundanya pembayaran itu di
tahun 1930. Setelah melakukan negosiasi-negosiasi panjang, pada tahun 1933
utang itu dijadwalkan kembali dengan syarat-syarat pembayaran yang lebih ringan
bagi Turki.
Selain perselisihan-perselisihan diplomatis, pada tahun-tahun pertama
setelah Perjanjian Lausanne terjadi perselisihan berkepanjangan antara Turki
[Link] [Link]

dengan negara-negara besar lainnya. Turki menegaskan ingin memiliki hak-hak


kedaulatan sepenuhnya. Sementara Perancis dan Inggris tampak mengalami
kesulitan untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang mereka peroleh
selama rezim kapitulasi. Terjadi pula perselisihan mengenai penolakan negara-
negara Eropa untuk memindahkan mereka di Ankara. Terdapat pula perselisihan
mengenai departemen Pendidikan Turki terhadap sekolah-sekolah missi Kristen.
Selain itu, terdapat pula perselisihan mengenai tingkat independensi Komisi Teluk
Internasional yang ditetapkan di Lausanne untuk mengawasi pelayaran melalui
Bosphorus dan Dardanela. Terdapat pula masalah tentang gereja Ortodoks di
Istambul. Semua masalah itu akhirnya dapat diselesaikan dan memuaskan Turki.
Akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an menunjukkan adanya
peningkatan terhadap hubungan Turki dengan tetangga-tetangganya. Perjanjian
untuk tidak saling menyerang ditandatangani dengan Italia tahun 1928. Diadakan
pula rekonsiliasi dengan Yunani pada Oktober 1930. Setelah diadakannya
sejumlah konferensi di Balkan, sebuah Pakta Balkan ditandatangani pada 1934
dengan Yunani, Yugoslavia, Rumania, dan Turki sebagai anggotanya. Pada tahun
1937, penegasan hubungan Turki dengan negara-negara tetangganya di timur,
Irak, Iran, dan Afganistan disepakati dalam Perjanjian Sababad (Erik J. Zurcher,
2003: 261-262).
Sepanjang periode setelah perang kemerdekaan, ketika ketidakpercayaan
terhadap barat masih kuat, pangkal kekuatan politik luar negeri Turki terletak
pada upaya mempertahankan hubungan baik dengan Uni Soviet. Pada tahun 1930-
an hubungan dengan Uni Soviet tetap baik , tetapi di masa itu hubungan dengan
Uni Soviet bukan merupakan satu-satunya pilar politik luar negeri Turki. Selain
pendekatan kembali dengan tetangga-tetangganya, hubungan Turki dengan
negara-negara barat pun membaik lagi. Pangkal terjadinya pemulihan hubungan
baik itu terletak pada fakta bahwa, bersama Perancis dan Inggris, Turki secara
tegas mendukung status quo dan menolak aspirasi-aspirasi negara revisionis
seperti Nazi Jerman dan Fasis Italia, yang berkeinginan untuk menguasai Eropa.
Meskipun demikian, Turki memelihara hubungan baik dengan Jerman. Namun di
Mediterania Timur, Turki memandang ekspansionisme Italia sebagai satu
[Link] [Link]

ancaman besar. Sahabat Turki, Uni Soviet, juga mendukung sikap anti-kubu
revisionis dan memfasilitasi pendekatan kembali Turki dengan Barat.
Turki menjadi anggota Liga Bangsa-bangsa pada tahun 1932. Pada bulan
April 1936, Turki mengirimkan sebuah memo kepada para penanda tangan
Perjanjian Lausanne. Turki meminta diadakannya demiliterisasi selat-selat.
Permintaan itu mendapat sambutan baik. Kemudian, diadakan konferensi di
Motreux dan dalam perjanjian yang dihasilkan dinyatakan bahwa Turki
memperoleh kembali kekuasaan penuh atas selat-selat itu dan Komisi Selat
dihapuskan. Semua pihak menerima sejumlah pembatasan bagi pelayaran kapal
perang melalui selat-selat itu, tetapi lalu lintas perdagangan tetap bebas bagi
negara-negara yang tidak berperang dengan Turki (Erik J. Zurcher, 2003: 263-
264).

2. Dampak Sosial-Budaya
Mustafa Kemal diangkat sebagai Presiden Turki yang pertama. Di
Bawah Kemal, banyak perubahan yang dilakukan, termasuk penghapusan jabatan
Kekhalifahan sebagai jabatan politik. Selain itu, terdapat pembaruan-pembaruan
yang selanjutnya berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat Turki.
Pembaruan itu disebut pembaruan Kemalis atau reformasi Kemalis. Pembaruan
Kemalis merupakan penerapan adaptasi dalam bentuk westernisasi sekuler (Mesut
Yegen, 1999:559). Program itu tidak menolak Islam atau menentang agama.
Agama hanya diturunkan peranannya menjadi nilai personal. Pembaruan Kemalis
berusaha untuk menciptakan bentuk Islam individualistik modern. Pembaruan
Kemalis dilaksanakan di atas enam prinsip dasar yang menjadi filsafat politik dan
dasar Republik Turki. Keenam prinsip dasar atau yang sering disebut “Nilai
Kemalis”. Nilai Kemalis itu adalah: (1) Republikanisme, kedaulatan dan otoritas
politik berdasar keinginan penduduk; (2) Nasionalisme, tidak berdasarkan agama
dan ras tetapi berdasarkan kewarganegaraan yang sama dan mengabdi kepada
cita-cita nasional; (3) Populisme, kesamaan dalam hukum, menolak kepentingan
atau persengketaan kelas, dan penyalahgunaan kapitalisme; (4) Etatisme,
menerima campur tangan negara yang bersifat membangun perekonomian rakyat;
[Link] [Link]

(5) Sekularisme, menetapkan pemisahan agama dan negara; (6) Revolusionisme,


menerima transformasi secara permanen (Siti Maryam, 2002: 160-161).
Pada bulan April 1924, sebulan sesudah dihapuskannya kekhalifahan
Majelis Agung Nasional menghapuskan pengadilan ser’i (syariah) dan
membubarkan Kementerian Urusan Agama dan Kesalehan. Lembaga pendidikan
medrese dibubarkan secara bertahap dengan pemberlakuan Undang-undang
tentang Penyatuan Pendidikan, yang membuat seluruh pendidikan menjadi
sekuler. Namun, pemerintah masih mengawasi sistem sumbangan Islam (evkaf)
dan masjid-masjid karena pemerintah menganggap agama merupakan kekuatan
yang terlalu penting dan berbahaya untuk diserahkan kepada orang-orang yang
“fanatik”.
Pada bulan Desember 1925, giliran tarekat dilarang. Kode hukum sipil
syariah dihapuskan Februari 1926. Puncaknya, amendemen tahun 1928 mencoret
kata “agama negara Turki adalah Islam” dalam konstitusi. Laisisme atau
sekulerisme ditulis dalam konstitusi tahun 1937, sebagai dasar negara yang
fundamental bersama lima nilai lainnya. Bentuk lain dari sekularisasi adalah
“nasionalisme Islam”. Kebijakan itu dimaksudkan untuk menjadikan Islam lebih
men-Turki, sehingga semua orang dapat memahami keyakinannya tanpa harus
bersandar kepada penafsir profesional. Azan dan Khutbah Jumat dalam bahasa
Turki dimulai pemakaiannya tahun 1932. bahkan keputusan pemerintah tahun
1933, menyatakan azan dalam bahasa Arab sebagai suatu pelanggaran. Pembaruan
penting lainnya adalah mengganti tulisan Arab dengan tulisan latin. Pada tanggal
17 Februari 1926, majelis menetapkan Undang-undang Sipil Turki. Isi dari
undang-undang tersebut di antaranya melarang poligami, perceraian sepihak,
kebebasan perempuan bekerja di kantor-kantor, dan kebebasan perempuan
menduduki jabatan di bidang ekonomi dan intelektual. Undang-undang sipil
tersebut mulai efektif berlaku tanggal 4 Oktober 1926 (Siti Maryam, 2002: 161-
163).
Pembaruan lain yang merupakan mata rantai kebijakan sekularisasi ialah
seperangkat aturan publik dan administrasi. Seperangkat aturan itu antara lain
mewajibkan pegawai negeri berpakaian ala Barat dan kopiah, semua laki-laki
[Link] [Link]

harus menggunakan kopiah dan pemakaian sorban merupakan pelanggaran


kriminal, serta penggunaan penanggalan Gregorian secara resmi dan bukan lagi
penanggalan hijriah (A. Mukti Ali, 1994: 86).

3. Dampak Ekonomi
Turki pada tahun 1923, sebagai negara yang baru saja selesai berperang
mengalami masa sulit dalam bidang ekonomi. Kerusakan fisik yang ditimbulkan
akibat perang, di antaranya adalah kerusakan di sejumlah kecil istalasi industrial,
yang kebanyakan ada di wilayah Istambul, jalur kereta api dan jembatan-jembatan
di Anatolia barat, serta perumahan di kota Izmir. Salah satu isi dari perjanjian
Lausanne adalah pertukaran penduduk dari Turki ke Yunani ataupun sebaliknya
telah mengakibatkan adanya gelombang emigrasi. Emigrasi warga Yunani dan
Armenia menyebabkan eksodusnya mayoritas pengusaha dan manajer. Bersama
mereka, lenyap pula stok tenaga terampil di bidang industrial dan komersial.
Perdagangan internasional Turki tahun 1923 adalah sepertiga dari neraca
sepuluh tahun sebelumnya. Sektor pertanian, sebagai sektor perekonomian
terpenting Turki pulih relatif cepat tahun 1923. Namun, pemulihan ekonomi Turki
secara keseluruhan membutuhkan waktu sampai tahun 1930 untuk mencapai level
seperti pada masa pra-perang. Di samping itu, Turki juga mempunyai tanggungan
utang yang berat akibat perang.
Seperti para peserta perang lainnya, pemerintah Utsmani menanggung
beban utang yang sangat berat. Namun, utang Utsmani bukan kepada Amerika
Serikat sebagai pemenang, tetapi kepada Jerman, negara yang kalah. Di Lausanne,
utang ini dibagi-bagikan secara adil kepada negara-negara atau wilayah-wilayah
penerus kerajaan Utsmani dan 65 persen dari utang itu harus ditanggung oleh
Turki dan harus dibayar dalam waktu bertahun-tahun (Erik J. Zurcher, 2003: 212-
213).
Perjanjian Lausanne telah membuat negara Turki berdaulat. Kedaulatan
tersebut termasuk kedaulatan dalam bidang ekonomi. Itu berarti Turki mempunyai
kewenangan penuh untuk mengatur perekonomiannya sendiri. Salah satu prinsip
dasar dari enam prinsip dasar negara Turki atau “Nilai Kemalis” yang
[Link] [Link]

berhubungan dengan bidang perekonomian adalah etatisme. Itu berarti menerima


campur tangan negara dalam membangun perekonomian rakyat. Turki
menggunakan sistem etatisme karena mendapat inspirasi dari ekonomi Rusia.
Pengaruh Rusia di Turki adalah cukup aktif pada tahun-tahun permulaan rezim
Kemalis, karena hubungan yang baik dan persahabatan antara kaum Bolshevik
dan kaum nasionalis Turki pada waktu kedua rezim itu berjuang melawan
impierialisme Barat (A. Mukti Ali, 1994: 88-89)
Pemerintahan Kemal berhasil mengatasi defisit anggaran negara melalui
pembaruan sistem perpajakan dan membuat aturan keuangan publik. Seiring
dengan pembaruan soal keuangan, tahun 1930-an berdasarkan prinsip etatisme
pemerintah melakukan monopoli di sektor industri, mendirikan perusahaan baru,
baik nasional maupun multi-nasional. Meskipun tidak memaksakan nasionalisasi,
pemerintah membeli perusahaan-perusahaan asing, kebanyakan di sektor
transportasi kereta api. Pada sektor ketenagakerjaan, Penghapusan unsur Armenia
dan Yunani memberi peluang bagi munculnya tenaga kerja pribumi yang terampil.
Guna mendorong orang-orang Turki berada di luar negeri agar kembali menetap
di Turki, Majelis mengeluarkan Undang undang Imigrasi tahun 1934 dan Undang-
undang perburuhan disahkan tahun 1936 (Siti Maryam, 2002: 163).
[Link] [Link]

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan yang dapat diambil, yaitu:


1. Perang Dunia I, yang dimulai pada tahun 1914, adalah akibat dari
imperialisme modern, yang menimbulkan persaingan antara negara-negara
industri, seperti Inggris dan Jerman. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya
persaingan tersebut terdiri dari beberapa faktor, yaitu: (a) ekonomi; (b)
politik dan nasionalisme; (c) kemiliteran; (d) sosial; (e) diplomatik. Dalam
persaingan itu, negara-negara industri tersebut mencari kawan dari negara
lain yang dapat diajak bekerjasama dalam hal ekonomi, politik, maupun
militer. Sehingga, muncul kelompok-kelompok dari negara-negara yang
bersekutu tersebut. Kelompok-kelompok negara-negara Eropa yang
terbagi, yaitu: (a) Triple Entente (Inggris, Prancis, dan Rusia); (b) Triple
Alliance (Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia). Posisi Turki barada pada
pihak Jerman. Dalam perang tersebut, Turki mengalami kekalahan.
Wilayah Turki terpecah akibat perjanjian pembagian pada masa perang.
Kemudian, dilaksanakan Perundingan di Paris dan San Remo oleh Sekutu
yang kemudian diputuskan akan melakukan perundingan dengan Turki
yang akan dilaksanakan di Sevres. Perundingan menghasilkan Perjanjian
Sevres yang ditandatangani pada 10 Agustus 1920. Hasil dari perjanjian
itu mengakibatkan berkurangnya kedaulatan Turki. Di sisi lain, kaum
nasionalis Turki berkembang pesat. Gerakan ini melahirkan Pakta
Nasional yang merupakan tuntutan Turki terhadap sekutu atas hak-haknya.
Kaum Nasionalis Turki menolak perjanjian Sevres. Atas penolakan
tersebut, Sekutu kemudian menyerang Turki dan mengakibatkan
terjadinya Perang Kemerdekaan Turki yang terjadi 1921 hingga tahun
1922. Turki memenangkan perang itu. Sekutu kemudian mengajak Turki
[Link] [Link]

untuk berunding. Perundingan dilaksanakan di Lausanne, Swiss.


Perundingan itu melahirkan Perjanjian Lausanne yang ditandatangani pada
tanggal 24 Juli 1923.
2. Perjanjian Lausanne setidaknya telah mewujudkan tujuan dari Pakta
Nasional. Turki telah memperoleh kembali wilayah-wilayah yang
diinginkannya. Perjanjian Lausanne merupakan kemenangan Turki atas
Eropa. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Lausanne, negara nasional
Turki mendapat pengakuan internasional.
3. Perjanjian Lausanne berdampak luas bagi bangsa Turki. Perjanjian
Lausanne telah membuat negara Turki berdaulat. Setelah perjanjian itu,
Republik Turki memproklamasikan kemerdekaannya dengan Mustafa
Kemal sebagai presidennya. Pada tahun 1924, Kekhalifahan dihapuskan.
Hubungan yang baik dengan negara-negara barat maupun negara-negara
tetangga yang merupakan lawan pada masa perang dijalin kembali. Di
bawah pemerintahan Kemal, dilakukan pembaruan-pembaruan di Turki.
Pembaruan itu disebut Reformasi Kemalis. Salah satu dari Reformasi
Kemalis adalah sekularisme, sehingga kehidupan bernegara tidak
dicampur dengan agama. Dalam melaksanakan sistem sekularisme,
Majelis Agung Turki menetapkan Undang-Undang Sipil Turki, Undang-
undang tersebut antara lain berisi tentang kebebasan perempuan,
penggunaan kalender Gregorian yang menggantikan sistem kalender
Hijriah, pelarangan poligami, dan lain sebagainya. Kedaulatan yang
diperoleh Turki juga meliputi bidang ekonomi. Itu berarti Turki
mempunyai kewenangan penuh untuk mengatur perekonomiannya sendiri.
Di bidang ekonomi, Turki menerapkan sistem etatisme. Sistem ini diambil
dari Rusia. Karena menggunakan sistem etatisme, berarti menerima
campur tangan negara atau pemerintah dalam membangun perekonomian
rakyat. Salah satu keberhasilan pemerintahan Kemal dalam bidang
ekonomi adalah berhasil mengatasi defisit anggaran negara melalui
pembaruan sistem perpajakan dan membuat aturan keuangan publik.
Seiring dengan pembaruan soal keuangan, tahun 1930-an berdasarkan
[Link] [Link]

prinsip etatisme pemerintah melakukan monopoli di sektor industri,


mendirikan perusahaan baru, baik nasional maupun multi-nasional.

B. Implikasi

Seiring dengan kemunculan imperialisme, negara-negara Barat seperti


Inggris, Prancis, dan Jerman mempunyai keinginan untuk menguasai daerah lain.
Tujuannya untuk memasarkan hasil industrinya akibat dari revolusi industri. Salah
satu wilayah yang diperebutkan adalah Turki. Negara-negara Imperialis tersebut
bersaing untuk memperluas daerah imperium mereka. Puncak persaingan antara
bangsa-bangsa tersebut menyebabkan Perang Dunia I. Ada keterlibatan Turki
dalam perang tersebut. Setelah Perang Dunia I berakhir, Turki kehilangan banyak
wilayah dan kedaulatannya dibatasi. Hal itu menyebabkan semangat nasionalisme
Turki tumbuh untuk melawan negara-negara imperialis yang merebut wilayah
mereka. Golongan nasionalis terus berkembang menjadi kekuatan besar. Dalam
Perang Kemerdekaan melawan Inggris, Prancis, dan Yunani, Turki berhasil
memenanginya. Kemudian terjadi perundingan antara kedua belah pihak di
Lausanne, Swiss. Hasil perundingan melahirkan sebuah perjanjian yang
mengakibatkan kembalinya kedaulatan Turki.
Perjanjian Lausanne 1923 mengantarkan Turki memperoleh
kedaulatannya. Turki dapat mengatur sendiri urusan dalam negerinya tanpa
campur tangan pihak lain. Kedaulatan Turki ditegakkan melalui Pemerintahan
Mustafa Kemal Pasha. Mustafa Kemal melakukan banyak pembaruan bagi negara
Turki. Perubahan-perubahan mencakup bidang politik, sosial-budaya, maupun
ekonomi. Namun, ada dugaan bahwa kesepakatan Turki dengan Sekutu tercapai
karena Turki menerima tuntutan negara-negara Barat tersebut untuk mengikuti
jalan pemikiran mereka sebagai negara Barat dan meninggalkan pemikiran Islam,
agama yang sebelumya merupakan identitas bagi Turki.
Dalam bidang politik, perubahan yang mendasar yang dilakukan adalah
penghapusan kekhalifahan. Hal itu merupakan kemenangan bangsa-bangsa Barat
terhadap Islam. Penghapusan kekhalifahan itu berdampak pada perubahan bentuk
[Link] [Link]

negara. Dari yang semula negara kerajaan berubah bentuk menjadi negara
republik dengan kepala negaranya adalah presiden. Penghapusan itu juga
mengakibatkan berakhirnya kekhalifahan Islam. Dengan berakhirnya kekhalifahan
Islam di Turki, umat Islam di dunia tidak lagi bersatu dalam suatu wadah
kepemimpinan. Hal itu tentunya tidak hanya berdampak bagi Turki, tetapi juga
bagi dunia, khususnya dunia Islam. Di bidang politik luar negeri, hubungan politik
Turki dengan negara lain yang pernah berlawanan diperbaiki. Turki kemudian
bergabung menjadi anggota Liga Bangsa-bangsa. Hal itu menegaskan bahwa
Turki adalah negara yang merdeka, berdaulat, dan diakui oleh dunia internasional.
Perubahan pada bidang sosial-budaya berkaitan dengan salah satu dari
enam hal yang terdapat dalam “Nilai Kemalis”, yaitu sekularisme. Penerapan
sekularisme ini berarti pemisahan yang jelas antara negara dengan agama. Negara
tidak boleh mencampuri urusan agama, begitu juga sebaliknya. Dalam
melaksanakan sistem sekularisme, Majelis Agung Turki menetapkan Undang-
Undang Sipil. Dalam undang-undang tersebut diatur mengenai kebebasan
perempuan, penaggalan Gregorian, dan pelarangan poligami. Ada pula aturan lain
yang mengatur tentang pelarangan azan dengan bahasa Arab. Aturan-aturan
tersebut kebanyakan tidak sesuai dengan ajaran Islam dan merupakan hal baru
dalam masyarakat. Aturan-aturan tersebut membawa dampak bagi kehidupan
sosial masyarakat Turki. Pelaksanaan aturan-aturan itu telah mengubah gaya
hidup masyarakat Turki. Kehidupan orang-orang Turki menjadi lebih modern dan
mengikuti gaya hidup dan cara pandang Barat. Pandangan ini biasa disebut
dengan Islam liberalis karena dipengaruhi oleh pemikiran liberal. Pandangan
tersebut melahirkan versi modern dari Islam yang didasarkan dari nasionalisme,
filsafat, dan sains. Islam liberal tersebut mempunyai filsafat sendiri yang dinamis
dan tidak menentang sains dan akal. Gaya hidup dan cara pandang tersebut
dianggap oleh Kemal sebagai suatu keharusan yang dapat membawa Turki ke arah
yang lebih baik.
Di bidang ekonomi, Pemerintah Kemal menempuh jalan Etatisme.
Sistem ini dipilih supaya pemerintah dapat secepatnya memulihkan ekonomi
Turki setelah perang. Dengan mengatur kebijakan-kebijakan ekonomi, pemerintah
[Link] [Link]

dapat mendorong supaya perekonomian rakyat dapat terbangun dengan baik.


Dengan keberhasilan membangun ekonomi rakyat, perekonomian Turki dapat
pulih.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disampaikan saran sebagai


berikut:
1. Bagi Peneliti lain
Kepada peneliti lain, khususnya mahasiswa sejarah yang tertarik dalam
menulis tentang sejarah Turki, disarankan untuk dapat melakukan penelitian
lebih lanjut mengenai masalah Turki karena masih banyak tema penelitian
yang belum diteliti berkaitan dengan permasalahan di Turki. Permasalahan-
permasalahan tersebut misalnya: Turki setelah Perang Dunia II, keterlibatan
Turki dalam Perang Balkan, Pembaharuan Kemalis dan dampaknya terhadap
masyarakat Turki, atau perjuangan Suku Kurdi di Turki.
2. Bagi Generasi Muda
Peneliti berharap kepada generasi muda agar dapat mengambil hikmah
dari pengakuan kedaulatan Turki yang diperoleh dari Perjanjian Lausanne
1923. Hikmah yang dapat diambil adalah semangat nasionalisme. Perjuangan
dalam memperoleh kemerdekaan atau kedaulatan didasari dari rasa
nasionalisme yang tinggi. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, bangsa Turki
berjuang dengan gigih dalam melawan imperialisme. Perjuangan tersebut juga
dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia. Oleh karena itu,
sudah selayaknya generasi muda memiliki rasa dan semangat nasionalisme
yang tinggi. Untuk masa sekarang, nasionalisme hendaknya dituangkan dalam
aksi atau tindakan yang positif dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Namun,
perlu disadari bahwa identitas atau jati diri bangsa perlu dipertahankan. Turki
telah berhasil memperoleh kemerdekaan tetapi kemudian meninggalkan
kebudayaan Islam yang telah mengakar kuat di Turki selama berabad-abad.
Terlepas dari adanya dugaan tentang tekanan dari Sekutu, Turki kemudian
menerima pemikiran-pemikiran Barat. Pemikiran Barat dianggap sebagai satu-
[Link] [Link]

satunya jalan untuk kemajuan. Pem-Barat-an atau yang biasa disebut dengan
Westernisasi pada masa ini terus berkembang seiring dengan globalisasi. Perlu
diingat bahwa Barat bukan satu-satunya peradapan yang dapat mewujudkan
kemajuan. Selain itu, tidak semua hal-hal yang berbau barat itu positif. Jadi,
westernisasi perlu disaring dengan nilai-nilai luhur jati diri bangsa. Sebagai
bangsa Indonesia, sudah selayaknya kita kembali pada Pancasila sebagai jati
diri bangsa. Selain itu, perlu diingat pula bahwa agama adalah hal yang sangat
penting bagi kehidupan. Agama memberi nilai-nilai yang baik bagi kehidupan
dan dapat pula menjadi filter bagi westernisasi. Untuk itu, ajaran agama perlu
dilaksanakan secara menyeluruh dengan cara yang benar. Agama tidak
menghambat kemajuan, tetapi justru mengarahkan kemajuan itu ke arah yang
benar.
[Link] [Link]

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Adolf, Huala. 1991. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional. Jakarta:


Rajawali.

Ali, K. 2003. Sejarah Islam dari Awal hingga Runtuhnya Dinasti Utsmani (Tarikh
pramodern). Terjemahan Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

A. Mukti Ali. 1994. Islam dan Sekularisme di Turki Modern. Jakarta: Djambatan.

Cahyo Budi Utomo. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia dari


Kebangkitan hingga Kemerdekaan. Semarang: IKIP Semarang Press.

C.S.T. Kansil dan Julianto. 1986. Sejarah Perjuangan Pergerakan Bangsa.


Jakarta: Erlangga.

Dahlan Nasution. 1984. Perang atau Damai dalam Wawasan Politik


Internasional. Bandung: Remadja Karya.

Djokosutono. 1958. Ilmu Negara. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Dudung Abdurrahman. 1999. Metodologi Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos


Wacana Ilmu.

Frans E. Likadja dan Daniel Frans Bessie. 1988. Desain Instruksional Dasar
Hukum Internasional. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah; Penerjemah Nugroho Notosusanto.


Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Hadari Nawawi. 1993. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: UGM


Press.

Hamka. 1975. Sejarah Umat Islam. Jilid 3. Jakarta: Bulan Bintang.

Helius Sjamsudin. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

_____ dan Ismaun. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Dirjen Dikti.

Isjwara. 1982. Pengantar Ilmu Politik. Bandung : Binacipta.


[Link] [Link]

Kartini Kartono.1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung. Bandar


Maju.

Koentjaraningrat (Editor). 1986. Metode Penelitian-Penelitian Masyarakat.


Jakarta: PT Gramedia.

Kohn, Hans. 1984. Nasionalisme Arti dan Sejarahnya. Jakarta : Airlangga.

Lenczowski, George. 1993. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Terjemahan


Asgar Bixby. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Leo Agung . 2002. Sejarah Intelektual. Salatiga: Widyasari Press.

Miriam Budiardjo. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Morgenthau, Hans J. 1991. Politik Antar Bangsa. Jakarta: Yayasan Obor


Indonesia.

Nugroho Notosusanto. 1971. Norma-Norma Penelitian Dan Penulisan Sejarah.


Jakarta: Pusat Sejarah ABRI-Departemen Pertahanan dan Keamanan.

_____. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontenporer. Jakarta: Yayasan Idayu.

Rener, G. J. 1997. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Sartono Kartodirdjo. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah.


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sidi Gazalba. 1981. Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Jakarta: Bhatara Karya
Aksara.

Siti Maryam (Editor). 2002. SejarahPeradaban Islam. Dari Masa Klasik Hingga
Modern. Yogyakarta: LESFI.

Smith, Anthony D. 2003. Nasionalisme Teori, Ideologi, Sejarah. Jakarta:


Erlangga.

Stoddard, L. 1966. Dunia Baru Islam. Jakarta : Panitia.


[Link] [Link]

Suharyata Hardjasatoto. 1983. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia.


Yogyakarta: Liberty.

Sutarjo Adisusilo. 2006. Nasionalisme di Berbagai Negara. Yogjakarta: Penerbit


Universitas Sanata Dharma.

Wallace, Rebecca M. 1993. Hukum Internasional. Semarang: IKIP Semarang


Press.

Zurcher, Erik J. 2003. Sejarah Modern Turki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Internet

Arkanda. Pengertian Imperialisme.


[Link]
Diakses tanggal 1 Juli 2009.

Kelik Pramudya. Kedaulatan Negara.


[Link] Diakses
tanggal 1 Juli 2009.

Soebantardjo. Sari Sedjarah Jilid I: Asia-Afrika. BOPKRI, Yogyakarta, 1960.


[Link] Diakses tanggal 1 Juli 2009.

Jurnal

Prior, Robin dan Trevor Wilson. Review Article The First World War dalam
Journal of Contemperary History. 2000. 35 (2).SAGE Publication. 319-328.

Yegen, Mesut. The Kurdish Question in Turkish State Discourse dalam Journal of
Contemporary History. 1999. 34 (4). SAGE Publications. 555-568.
[Link] [Link]

Anda mungkin juga menyukai