Perjanjian Lausanne 1923 dan Kedaulatan Turki
Perjanjian Lausanne 1923 dan Kedaulatan Turki
id
SKRIPSI
Oleh:
WAHYU NIRWANTO
NIM: K 4405039
Oleh :
WAHYU NIRWANTO
NIM: K4405039
Skripsi
HALAMAN PERSETUJUAN
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
HALAMAN PENGESAHAN
Pada Hari :
Tanggal :
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Dekan,
ABSTRAK
ABSTRACT
This research use history methods. The research data sources is books
that relevant with this reasearch. The data gathering in this research use library
learning. The technique of data analysis used in this research is historical analysis,
it is give a priority to sharp the process of history data. The procedures of this
reasearch was done with four steps, that is heuristic, criticism, interpretation, dan
historiography.
Based on this research, it concluded that: (1) Event that become the
background of Treaty of Lausanne 1923 beginned by World War I. The last of
World War I finished by Treaty of Sevres 1920. Turkish nationalist group are not
agree the result of this Treaty. Entente reaction towards that rejection caused the
Turkish Independent War 1921 until 1922. To finished that problem, Entente and
Turkish arrange meeting to confrence at Lausanne city that next produced Treaty
of Lausanne 1923. (2) Treaty of Lausanne already realized Turkish National Pact
direction. Turkey already to get back much area that they want. After Treaty of
Lausanne legalized, Turkey national country get international acknowledgement.
(3) Treaty of Lausanne have big effect for Turkey nation. Treaty of Lausanne
already made Turkey Republic become independent. After taht Treaty, Turkey
Republic proclamated they independent with Mustafa Kemal as a president. At
Kemal government period, reformation executed at Turkey. Reformation that
executed Kemal government that sekularism, etatism economic system, and
Ottoman Empire wipe off.
[Link] [Link]
MOTTO
Semua perubahan besar sepanjang sejarah tidak terjadi karena bangsa, senjata,
pemerintah, dan bukan pula oleh keputusan komite. Perubahan besar terjadi oleh
keberanian dan komitmen seseorang.
(Michael Angier)
[Link] [Link]
PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan, untuk
memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar sarjana pendidikan
Hambatan dan rintangan yang penulis hadapi dalam penyelesaian
penulisan skripsi ini telah hilang berkat dorongan dan bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas
Maret Surakarta (UNS) yang telah memberikan ijin untuk menyusun skripsi.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP UNS yang telah
menyetujui atas permohonan skripsi ini.
3. Ketua Program Pendidikan Sejarah FKIP UNS yang telah memberikan
pengarahan dan ijin atas penyusunan skripsi ini.
4. Drs. Hermanu Joebagio, M. Pd selaku dosen pembimbing I yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Drs. Herimanto, M. Pd, [Link] selaku dosen Pembimbing II yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas amal baik kepada semua pihak yang telah
membantu pembuatan skripsi. Penulis memohon pula maaf apablila terdapat
tindakan dan perkataan penulis yang kurang berkenaan.
Penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan
skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada khususnya dan
perkembangan Ilmu Pengetahuan pada umumnya.
Penulis
[Link] [Link]
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii
HALAMAN ABSTRAK .......................................................................... iv
HALAMAN MOTTO ................................................................................ vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................ viii
DAFTAR ISI ........................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Perumusan Masalah ........................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan ............................................................................... 4
D. Manfaat Penelitiaan ........................................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 6
A. Tinjauan Pustaka ............................................................................... 6
1. Imperialisme .................................................................................. 6
2. Nasionalisme ................................................................................ 10
3. Kedaulatan Negara ....................................................................... 14
B. Kerangka Berpikir .............................................................................. 17
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................. 19
A. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 19
B. Metode Penelitian .............................................................................. 19
C. Sumber Data ...................................................................................... 21
D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 22
E. Teknik Analisis Data ......................................................................... 24
F. Prosedur Penelitian ............................................................................ 25
BAB IV HASIL PENELITIAN ................................................................ 28
[Link] [Link]
BAB I
PENDAHULUAN
kehilangan banyak wilayah di Eropa pada saat Perang Balkan (Siti Maryam, 2002:
153).
Perang Dunia Pertama meletus pada tanggal 2 Agustus 1914 di Eropa.
Turki terlibat dalam perang tersebut dengan tujuan untuk bebas dari Penjajahan
Barat, menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang melepaskan diri seperti Mesir
dan Siprus, memerdekakan wilayah Kaukakus dan Turkestan dari Rusia dan
menggabungkannya ke dalam Kerajaan dalam bentuk federasi, serta menegakkan
kembali wewenang Khalifah di seluruh dunia Islam (Siti Maryam, 2002: 154).
Dalam Perang Dunia I, penyerangan yang di lakukan Entente membuat
Turki menjadi semakin terdesak. Perlawanan Turki yang berarti terjadi di Aleppo.
Angkatan Darat Turki pimpinan Mustafa Kemal Pasha menghadang gerak maju
tentara Inggris. Namun, perlawanan yang gigih ini tidak mampu mengubah
keadaan. Setelah menyadari bahwa tidak ada pilihan lain selain gencatan senjata,
akhirnya Turki menyerukan gencatan senjata yang ditandatangani di Mudros pada
tanggal 30 Oktober 1918 (Siti Maryam, 2002: 154-155; 143-151).
Ada keinginan dari Sekutu untuk melakukan penyelesaian baru
mengenai masalah Turki. Namun, perundingan yang dilakukan belum melibatkan
Turki. Sepanjang tahun 1919 hingga 1920, terjadi perundingan di Paris dan San
Remo yang dilakukan oleh Sekutu tanpa keterlibatan Turki. Keputusan dalam
perundingan tersebut menghasilkan Perjanjian Sevres antara Sekutu dan
Pemerintah Utsmaniah (George Lenczowski, 1993: 66-67). Sementara di Turki
muncul perkembangan yang akan dapat membangkitkan nasionalisme Turki.
Sebuah kongres delegasi propinsi-propinsi timur diselenggarakan di Erzerum dari
tanggal 23 Juli sampai 19 Agustus 1919 yang menjadi titik tolak perlawanan
bangsa Turki menghadapi Sekutu untuk memperoleh kemerdekaan dan juga akan
menolak Perjanjian Sevres. Kongres ini menghasilkan resolusi yang antara lain
menyatakan tuntutan atas kemerdekaan dan terciptanya persatuan bagi rakyat
Turki yang bersatu dalam agama, ras, dan tujuan. Resolusi tersebut dikukuhkan
oleh kongres di Sivas pada tanggal 4 September 1919 yang dihadiri oleh delegasi-
delegasi dari seluruh kerajaan 1918. Resolusi yang sudah diformulasikan dalam
bentuk program enam pasal yang dinamakan Pakta Nasional diajukan ke
[Link] [Link]
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
Nilai suatu penelitian dilihat dari besarnya manfaat yang bisa diperoleh
dari penelitian tersebut. Berdasarkan hal itu, penelitian diharapkan dapat
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan sumbangan pengetahuan ilmiah yang berguna dalam rangka
pengembangan ilmu sejarah.
2. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi para
pembaca tentang Perjanjian Lausanne tahun 1923.
3. Dapat memberikan acuan bagi penelitian selanjutnya yang sejenis.
[Link] [Link]
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Imperialisme
Imperialisme berasal dari kata imperium (latin) yang berarti memerintah
(Leo Agung S., 2002: 21). Kemudian arti itu berubah menjadi hak memerintah.
Arti inipun mengalami perubahan lagi menjadi daerah kekuasaan memerintah itu
dilakukan. Oleh karena itu, imperium selalu dihubungkan dengan kekuasaan
dunia. Menurut Arkanda (“Sejarah Penjajahan di Indonesia”,
Http://[Link], 1 Juli 2009), imperialisme adalah usaha
memperluas wilayah kekuasaan atau jajahan untuk mendirikan imperium atau
kekaisaran.
Berdasarkan sejarah, imperialisme digolongkan menjadi dua, hal itu
berpijak pada usaha penaklukan yang dilakukan oleh bangsa barat (Leo Agung S.,
2002: 22), yaitu:
a. Imperialisme Kuno.
Ciri imperialisme kuno adalah 3 G, yakni Gospel (penyebaran agama),
Gold (mencari kekayaan), dan Glory (mencari kejayaan). Contoh negara-
negara yang melakukan imperialisme kuno adalah bangsa Portugis dan
Spanyol.
b. Imperialisme Modern.
Ciri imperialisme modern adalah adanya industri. Imperialisme modern ini
muncul setelah Revolusi Industri. Demi kelangsungan industrialisasi, perlu
daerah pasaran, bahan mentah, dan penanaman modal yang surplus. Itulah
sebabnya negara-negara imperialis berlomba-lomba untuk mendapatkan
tanah jajahan yang akan dijadikan sumber bahan mentah, pasaran hasil
industri, penanaman modal, dan mendapatkan tenaga buruh yang murah.
Contoh negara-negara yang melakukan imperialisme modern adalah
Inggris dan Perancis.
[Link] [Link]
suatu keharusan yang ditentukan oleh tinggi rendahnya ekonomi pergaulan hidup.
Imperialisme modern bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri atau
bangsa lain, tetapi imperialisme dapat juga hanya nafsu atau sistem yang
memengaruhi ekonomi negara dan bangsa lain. Baik J.A. Hobson maupun Ir.
Soekarno sama-sama menyoroti imperialisme modern dari segi ekonomi. Sistem
ekonomi yang menyebabkan munculnya imperialisme modern adalah sistem
ekonomi kapitalis.
Dahlan Nasution (1984: 39-41) mengemukakan bahwa ada tiga tujuan
imperialisme modern, yaitu: (a) Kekuasaan atas dunia (World Empire), yang
disebut imperialisme tidak terbatas. (b) Kekuasaan atas benua (Continental
Empire), tujuan ini diartikan dengan pembatasan kekuasaan dalam satu benua. (c)
Keunggulan lokal (Local Propenderence) atau imperialisme lokal.
Ada empat bentuk dalam menjalankan imperialisme (Leo Agung S.,
2002: 23), yaitu:
a. Imperialisme Politik.
Bentuk imperialisme ini bertujuan untuk memperoleh pengawasan politik
terhadap bangsa atau negara dengan cara pembentukan pemerintahan
kolonial. Motif utamanya adalah untuk memperoleh prestise dengan cara
pembentukan imperialisme atau menutup ketidakpuasan dalam negeri
dengan cara melakukan politik di luar negeri.
b. Imperialisme Militer.
Bertujuan untuk memperoleh daerah strategis. Daerah–daerah koloni dapat
menghasilkan tenaga manusia dan dapat juga memegang peranan penting
dalam menjamin kepentingan negara yang berkuasa.
c. Imperialisme Kebudayaan.
Imperialisme kebudayaan berusaha untuk mengadakan penguasaan atau
kontrol atas ide atau pemikiran bangsa lain. Biasanya jenis ini menyertai
imperialisme politik, ekonomi, dan militer.
d. Imperialisme ekonomi.
[Link] [Link]
2. Nasionalisme
a. Pengertian Nasionalisme
Hans Kohn (1984: 11-12) mengatakan bahwa yang dimaksud nasionalisme
adalah faham yang berpendapat bahwa kesetian tertinggi individu harus
diserahkan kepada negara kebangsaan. Negara kebangsaan adalah cita dan satu-
satunya bentuk sah dari organisasi politik dan merupakan sumber dari semua
tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan ekonomi.
Miriam Budiardjo (2004: 44) menyatakan nasionalisme merupakan
perasaaan subyektif pada sekelompok manusia bahwa mereka merupakan satu
bangsa. Cita-cita serta aspirasi mereka bersama hanya dapat tercapai jika mereka
tergabung dalam satu negara atau nation. Sedangkan menurut L. Stoddard (1966:
137) bahwa nasionalisme adalah kepercayaan, yang dianut oleh sejumlah besar
manusia perorangan sehingga mereka membentuk ”kebangsaan”. Pada tingkat
terakhir, nasionalisme adalah se di atas segalanya yang menjelmakan dirinya
dalam sintese yang baru dan lebih tinggi.
Isjwara (1982: 126-127) mendefinisikan bahwa nasionalisme adalah rasa
kesadaran yang kuat yang berlandaskan atas kesabaran akan pengorbanan yang
pernah diderita bersama dalam sejarah. Sedangkan menurut Anthony D. Smith
(2003: 11), nasionalisme sebagai gerakan ideologis untuk mencapai dan
mempertahankan otonomi, kesatuan dan identitas bagi populasi, yang sejumlah
anggotanya bertekad untuk membentuk bangsa yang aktual atau negara yang
potensial.
Menurut Boyd C. Shafer yang dikutip oleh Sutarjo Adisusilo (2006: 41)
nasionalisme adalah: (1) rasa cinta pada tanah air, ras, bahasa atau sejarah budaya
bersama; (2) keinginan akan kemerdekaan politik, keselamatan dan prestise
bangsa; (3) dogma yang mengajarkan bahwa individu hanya hidup untuk bangsa
dan bangsa demi bangsa itu sendiri; (4) doktrin yang menyatakan bahwa bangsa
sendirilah yang harus dominan di antara bangsa-bangsa lain.
b. Faktor Penyebab Munculnya Nasionalisme
[Link] [Link]
Menurut Boyd C. Shafer yang dikutip oleh Sutarjo Adisusilo (2006: 41),
nasionalisme mangandung aspek subyektif dan aspek obyektif. Nasionalisme
dapat muncul dari rasa cinta tanah air dan keinginan untuk merdeka serta dogma
dan doktrin yang diajarkan oleh seseorang atau lembaga tertentu. Nasionalisme
juga mengandung aspek obyektif, yaitu aspek obyektif yang ikut berperan dalam
menimbulkan nasionalisme, yang dirasakan sama oleh seluruh bangsa seperti
kondisi politik (penjajahan), kondisi kultural (bahasa dan sejarah budaya), serta
kondisi fisik (tanah air dan ras). Baik unsur subyektif maupun obyektif tersebut
akan memberi warna khusus terhadap nasionalisme bangsa.
Berdasarkan kondisi politik, Nasionalisme bangsa Turki muncul karena
penjajahan bangsa Eropa. Sekalipun mempunyai kesultanan sebagai pemimpin
atau Khalifah, tetapi mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi
bangsa penjajah dan justru bekerjasama. Wilayah-wilayah Turki sering terampas
sehingga wilayah Turki menjadi menyempit. Padahal berdasarkan kondisi
kultural, wilayah-wilayah yang terampas terutama di bagian Eropa masih
merupakan bagian dari Turki. Berdasarkan ras dan tempat kelahiran penduduk
pun masih mempunyai integritas dengan Turki. Oleh karena itu muncul
nasionalisme Turki yang dipimpin oleh Musthafa Kemal Pasha yang
menginginkan kemerdekaan dan kedaulatan Turki.
Dalam kenyataannya setiap bangsa yang mempunyai rasa kebangsaan
akan memelihara nilai-nilai kepribadiannya, nilai-nilai sejarahnya, agamanya,
ideologinya dan berjuang memperbaiki nasib. Dengan demikian setiap bangsa
mempunyai kepentingan yang berlainan. Hal ini dapat dilihat dari pendapat Hertz
yang dikutip oleh Djokosutono (1958: 9) bahwa ada empat unsur nasionalisme
yaitu (1) hasrat untuk mencapai kesatuan; (2) hasrat untuk mencapai
kemerdekaan; (3) hasrat untuk mencapai keaslian; (4) hasrat untuk mencapai
kehormatan bangsa. Menurut Sutarjo Adisusilo (2006: 1) unsur yang sama dalam
nasionalisme dari dulu sampai sekarang adalah memelihara, melestarikan dan
memajukan identitas, integritas serta ketangguhan bangsa tersebut.
Perasaan sangat mendalam akan ikatan yang erat dengan tanah tumpah
darahnya, dengan tradisi-tradisi setempat dan penguasa-penguasa resmi di
[Link] [Link]
daerahnya selalu ada di sepanjang sejarah dengan kekuatan yang berbeda. Tetapi
baru pada akhir abad ke-18 Masehi nasionalisme dalam arti kata modern menjadi
perasaan yang diakui secara umum (Hans Kohn, 1984: 1). Lahirnya paham
nasionalisme ini diikuti dengan terbentuknya negara-negara kebangsaan. Pada
mulanya terbentuknya negara kebangsaan dilatarbelakangi oleh faktor-faktor
obyektif seperti persamaan keturunan, persamaan bahasa, kesatuan politik,dan
tradisi atau juga karena persamaan agama. Kebangsaan yang dibentuk atas dasar
paham nasionalisme lebih menekankan kemauan untuk hidup bersama dalam
negara kebangsaan (Leo Agung S., 2002: 32).
Nasionalisme muncul di berbagai belahan dunia. Namun, faktor penyebab
timbulnya nasionalisme di setiap benua berbeda. Kemunculan nasionalisme Eropa
disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) Munculnya nasionalisme Eropa
didahului dengan lahirnya liberalisme dan kapitalisme. Lahirnya liberalisme dan
kapitalisme karena pengaruh Revolusi Industri dan Revolusi Perancis. Dengan
demikian timbulnya nasionalisme di Eropa karena pengaruh Revolusi Industri
dan Revolusi Perancis (Leo Agung S., 2002: 32). (2) Nasionalisme juga
disebabkan gerakan politik untuk membatasi kekuasaan pemerintah dan
menjamin hak-hak warga negara. Gerakan politik ini juga dimaksudkan untuk
membina masyarakat sipil yang liberal dan rasional (Cahyo Budi Utomo, 1995:
18).
Munculnya nasionalisme Asia Afrika disebabkan oleh beberapa faktor
(Leo Agung S., 2002: 32-33), antara lain:
1) Kenangan kejayaan masa lampau
Sebelum kedatangan imperialisme barat, pada umumnya bangsa-
bangsa Asia memiliki negara kebangsaan yang berdaulat. Misalnya Indonesia,
masa Sriwijaya dan Majapahit, India masa Ashoka dan sebagainya. Kejayaan
itu menimbulkan kenangan akan masa lampau, sehingga mereka selalu
mengadakan perlawanan terhadap penjajahan.
2) Adanya penderitaan akibat imperialisme dan kolonialisme
Adanya imperialisme mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan
bangsa-bangsa terjajah. Hal inilah yang menimbulkan perlawanan nasional.
[Link] [Link]
Republik Turki yang merdeka dan berdaulat penuh. Atas upaya dari kelompok
nasionalis, nasionalisme tumbuh dan berkembang di seluruh Turki.
3. Kedaulatan Negara
a. Pengertian kedaulatan
Kedaulatan negara adalah kekuasaan tertinggi di dalam wilayah tertentu,
berarti bahwa bangsa itu merdeka dan tidak ada kekuasaan lain yang berada di
atasnya (Dahlan Nasution, 1984: 155; Hans J. Morgenthau, 1991: 205). Hal ini
berarti setiap bangsa mempunyai kemerdekaan untuk mengatur masalah intern
maupun ekstern sesuai dengan kebijakannya sendiri tanpa adanya intervensi dari
bangsa lain.
Menurut Frans E. Likadja dan Daniel Frans Bessie (1988: 28) kedaulatan
negara bararti kekuasaan yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan lainnya. Jadi,
apabila negara dikatakan berdaulat, dengan sendirinya negara itu mempunyai
kekuasaan tertinggi. Negara dikatakan berdaulat karena kedaulatan merupakan
sifat atau ciri utama dari negara.
Kedaulatan merupakan kekuasaan tertinggi dari negara. Namun,
kekuasaan ini mempunyai batasan. Ada dua pembatas penting dalam hal tersebut,
yaitu: (1) Kekuasaan itu terbatas pada batas-batas wilayah negara; (2) Kekuasaan
itu berakhir apabila kekuasaan negara lain dimulai (Frans E. Likadja dan Daniel
Frans Bessie, 1988).
Dalam paham kedaulatan negara, negara adalah sumber dalam negara.
Negara (dalam arti government atau pemerintah) dianggap mempunyai hak yang
tidak terbatas terhadap life, liberty dan property dari warganya. Warga negara
bersama-sama hak miliknya tersebut, dapat dikerahkan untuk kepentingan
kebesaran negara (Kelik Pramudya, “Teori Kedaulatan”, Http://click-
[Link], 1 Juli 2009).
Menurut Huala Adolf (1991: 99) kedaulatan mempunyai dua ciri. Dua
ciri yang sangat penting dimiliki oleh negara yaitu, pertama, bahwa kedaulatan
merupakan prasyarat hukum untuk adanya negara. Ciri kedua, kedaulatan
[Link] [Link]
kekebalan diplomatik di negara yang mengakui; (3) Negara yang diakui dapat
menuntut di wilayah negara yang mengakui; (4) Negara yang diakui dapat
mendapatkan harta benda yang berasal dari penguasa terdahulu yang berada di
wilayah negara yang mengakui; (5) Tindakan-tindakan negara yang diakui
diberlakukan sah dan keabsahannya itu tidak dapat diuji; (6) Perjanjian-perjanjian
yang telah diadakan oleh pemerintah terdahulu dapat berlaku kembali.
Kemerdekaan negara Turki pada tanggal 20 Januari 1921 masih
menimbulkan masalah dalam hal pengakuan internasional. Kemerdekaan Turki
menimbulkan reaksi dari negara-negara yang mempunyai kepentingan di wilayah-
wilayah Turki seperti Inggris. Sehingga, setelah perang kemerdekaan Turki
berakhir dengan kemenangan Turki, Inggris dan sekutu-sekutunya mengusulkan
perundingan terhadap Turki. Perundingan dimulai pada Nopember 1922 di
Lausanne, Swis. Dalam perundingan itu dibahas mengenai wilayah-wilayah
maupun ketentuan-ketentuan lainnya yang menjadi kesepakatan kedua belah
pihak. Perjanjian Laussanne akhirnya disahkan pada tanggal 24 Juli 1923. Salah
satu isi dari perjanjian tersebut adalah Turki memperoleh kembali wilayah-
wilayahnya, seperti Thrace Timur. Perjanjian tersebut merupakan pengakuan dari
dunia internasional terhadap kedaulatan Republik Turki.
[Link] [Link]
B. Kerangka Berpikir
Perang Dunia I
Perjanjian Sevres
Pembagian wilayah
Turki oleh Sekutu
Penolakan dan
tumbuhnya
Nasionalisme Turki
Perang kemerdekaan
Turki 1921-1922
Perjanjian Lausanne
1923
Keterangan:
Imperialisme yang berasal dari negara-negara barat telah membuat
negara-negara tersebut memperluas wilayah imperiumnya, termasuk wilayah-
wilayah yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Kesultananan Turki. Perebutan
wilayah yang terjadi mencapai puncaknya pada saat Perang Dunia I. Turki terlibat
dalam perang tersebut dan menjadi sekutu Jerman, tergabung dalam Triple
Alliance yang berperang melawan Inggris, Perancis, dan Rusia yang disebut
Triple Entente.
Perang Dunia I berakhir dengan kemenangan pihak Triple Entente.
Perjanjian-perjanjian dilakukan antara Triple Entente dengan Triple Alliance
[Link] [Link]
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Tempat Penelitian
Dalam penelitian yang berjudul Perjanjian Lausanne 1923 (Pengakuan
Kedaulatan Republik Turki Pasca Perang Kemerdekaan), penulis melakukan
teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Adapun perpustakaan yang
digunakan sebagai berikut:
a. Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
c. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
d. Perpustakaan Monumen Pers Surakarta.
e. Perpustakaan Ignatius Colose Yogyakarta.
2. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini direncanakan mulai dari
disetujuinya judul skripsi yaitu pada bulan Mei 2009, sampai dengan selesainya
penulisan skripsi ini yaitu pada bulan Juni 2010.
B. Metode penelitian
C. Sumber Sejarah
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data
sejarah. Sumber data sejarah sering disebut juga data sejarah. Menurut
Kuntowijoyo kata “data” merupakan bentuk jamak dari kata tunggal datum
(bahasa Latin) yang berarti pemberitaan (Dudung Abdurahman, 1999: 30).
Menurut Nugroho Notosusanto (1971: 19) sumber sejarah terdiri atas
sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang
keterangannnya diperoleh secara langsung dari seseorang yang menyaksikan suatu
peristiwa dengan mata kepala sendiri, sedangkan sumber sekunder adalah sumber
yang keterangannya diperoleh oleh pengarangnya dari orang lain atau sumber lain.
Helius Sjamsuddin (2007: 95) mengemukakan bahwa sumber sejarah
yaitu segala sesuatu yang langsung atau tidak langsung menceritakan kepada kita
tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan manusia pada masa lalu (past actuality).
Sumber sejarah merupakan bahan-bahan mentah (raw materials) sejarah yang
mencakup segala macam evidensi (bukti) yang telah ditinggalkan oleh manusia
yang menunjukkan segala aktivitas mereka di masa lalu yang berupa kata-kata
yang tertulis atau kata-kata yang diucapkan (lisan).
Klasifikasi sumber sejarah dapat dibedakan menurut bahannya, asal-
usulnya atau urutan penyampaiannya dan tujuan sumber itu dibuat. Sumber
[Link] [Link]
menurut bahannya dapat dibagi menjadi dua, yaitu sumber tertulis dan sumber
tidak tertulis. Menurut urutan penyampaiannya sumber-sumber dapat dibedakan
menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Sedangkan menurut tujuannya
sumber-sumber dapat dibagi atas sumber formal dan informal (Dudung
Abdurahman, 1999 : 31).
Dalam usaha untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan sumber
tertulis. Sumber tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu sumber tertulis primer dan
sumber tertulis sekunder. Louis Gottshalck (1986 : 35) mengemukakan bahwa
sumber tertulis primer adalah kesaksian dari seorang saksi dengan mata kepala
sendiri. Sumber tertulis primer juga dapat diartikan sebagai data yang didapatkan
dari masa yang sejaman dan berasal dari orang yang sejaman. Sedangkan sumber
tertulis sekunder merupakan kesaksian dari pada siapapun yang bukan merupakan
saksi mata, yakni dari seseorang yang tidak hadir dari peristiwa yang
dikisahkannya. Sumber tertulis sekunder juga dapat diartikan sebagai data yang
ditulis oleh orang yang tidak sejaman dengan peristiwa yang dikisahkannya.
Sumber sejarah yang dipakai dalam penelitian ini adalah sumber tertulis.
Dalam penelitian ini, sumber primer tidak ditemukan karena sumber-sumber
tersebut berada di negara lain, sehingga tidak mampu dijangkau. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini digunakan sumber tertulis sekunder yang berupa buku-buku
yang ditemukan di dalam perpustakaan-perpustakaan tempat penelitian dilakukan.
Disamping itu, banyaknya sumber primer yang berada di negara lain, sehingga
tidak mampu dijangkau. Sumber-sumber sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini, antara lain: “Sejarah Modern Turki” , karangan Erik J. Zurcher;
“Sejarah Peradaban Islam: Dari masa Klasik hingga Modern”, karangan Siti
Maryam dkk; ”Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia”, karangan George
Lenczowski; “Sejarah Umat Islam: Jilid 3”, karangan Hamka.
F. Prosedur Penelitian
1. Heuristik
Heuristik berasal dari kata Yunani yang artinya memperoleh. Dalam
pengertiannya yang lain adalah suatu teknik yang membantu kita untuk mencari
jejak-jejak sejarah. Menurut G. J Rener (1997:37), heuristik adalah suatu teknik,
suatu seni dan bukan suatu ilmu. Heuristik tidak mempunyai peraturan-peraturan
umum, dan sedikit mengetahui tentang bagian-bagian yang pendek. Sidi Gazalba
(1981 : 15) mengemukakan bahwa heuristik adalah kegiatan mencari bahan atau
menyelidiki sumber sejarah untuk mendapatkan hasil penelitian. Dengan demikian
heuristik adalah kegiatan pengumpulan jejak-jejak sejarah atau dengan kata lain
kegiatan mencari sumber sejarah.
Pada tahap ini peneliti berusaha mencari dan menemukan sumber-
sumber tertulis berupa buku-buku serta bentuk kepustakaan lain yang relevan
[Link] [Link]
dengan penelitian. Sumber tertulis berupa buku-buku dan literatur yang diperoleh
dari beberapa perpustakaan, dan di antaranya: Perpustakaan Pusat Universitas
Sebelas Maret, Perpustakaan Jurusan FKIP, Perpustakaan Program Studi Sejarah
FKIP UNS, Perpustakaan Monumen Pers Surakarta dan Perpustakaan Ignatius
Colose Yogyakarta.
2. Kritik
Setelah mengumpulkan data atau bahan, tahap berikutnya adalah
langkah verifikasi atau kritik untuk memperoleh keabsahan sumber. Menurut
Helius Sjamsudin (1884 : 103) keabsahan sumber dicari melalui pengujian
mengenai kebenaran atau ketetapan sumber. Kritik terhadap sumber data
dilakukan dengan dua cara yaitu kritik ekstern dan kritik intern.
Kritik ekstern adalah kritik terhadap keaslian sumber, apakah sumber
yang dikehendaki asli atau tidak, utuh atau turunan (salinan). Kritik ekstern
dilakukan terhadap sumber yang diperoleh berdasarkan bentuk fisik atau luarnya
berupa bahan (kertas atau tinta) yang digunakan, jenis tulisan, gaya bahasa,
hurufnya, dan segi penampilan yang lain. Uji keaslian sumber dilakukan dengan
pertanyaan : kapan sumber dibuat?, di mana sumber dibuat?, siapa yang
membuat?, dan dari bahan apa sumber dibuat?. Kritik ekstern dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara melihat kapan sumber itu dibuat, di mana sumber itu
dibuat, siapa pengarangnya dan bagaimana latar belakang pendidikan pengarang.
Kritik intern adalah kritik yang berhubungan dengan kredibilitas dari
sumber sejarah apakah isi, fakta dan ceritanya dapat dipercaya dan dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan. Kritik intern dapat ditempuh dengan cara
membandingkan berbagai isi dan fakta yang terdapat dalam sumber.
3. Interpretasi
Setelah sumber-sumber yang diperoleh dikritik, maka langkah selanjutnya
adalah menghubungkan sumber-sumber tersebut dengan masalah yang sedang
diteliti. Dalam melakukan interpretasi, peneliti harus menghilangkan unsur
subyektif yang disebabkan oleh keanekaragaman data yang diperoleh dari
berbagai buku atau sumber lain melalui analisis terhadap sumber yang satu
dengan sumber yang lain.
[Link] [Link]
BAB IV
[Link] [Link]
HASIL PENELITIAN
1. Perang Dunia I
Perang Dunia I terjadi karena beberapa macam faktor (Robin Prior dan
Trevor Wilson, 2000: 319-320), yaitu:
a. Ekonomi
Jerman dan Inggris merupakan pesaing hebat dalam bidang
pedagangan sesudah tahun 1880-an. Pada waktu itu, Inggris bukan lagi satu-
satunya negara industri di dunia. Sebelumnya, Inggris dapat memasarkan hasil
produksi industrinya ke seluruh dunia tanpa pesaing serius. Namun, setelah
Jerman dapat melakukan revolusi industri, Inggris mulai mendapatkan
pesaing. Jerman mempunyai industri besar, tetapi belum memiliki daerah
pelemparan hasil produksi yang cukup berusaha untuk mendapatkan koloni-
koloni. Akibatnya sering terjadi krisis politik dan militer antara Inggris dan
Jerman, atau antara Perancis dan Jerman di Afrika. Demikian pula terjadi
persaingan ekonomi antara Jerman dengan Rusia. Namun, persaingan terbesar
[Link] [Link]
Turki telah kalah dari Inggris, tetapi kekalahan ini tidak membuat Turki
terbelenggu oleh pihak yang menang. Sekutu dapat memaksakan kehendaknya di
Constantinopel, Selat Arabia, dan bagian Imperium di Anatolia Selatan. Namun,
di pedalaman Anatolia dan perbatasan timur lautnya bebas dari tekanan asing.
Dalam keadaan demikian, Barat makin teliti dalam menyusun rencananya untuk
melaksanakan perjanjian pembagian Turki. Keputusan Sekutu tentang Anatolia
dibuat di Paris dan San Remo sepanjang tahun 1919 hingga 1920 (George
Lenczowski, 1993: 67).
Tiga masalah penting berkaitan dengan masalah Anatolia (Erik J. Zurcher,
2003: 185-186) adalah:
a. Masalah Armenia.
Konferensi memutuskan untuk mendirikan sebuah negara Armenia
merdeka di Anatolia timur. Namun, kesepakatan ini mengalami jalan
buntu karena Turki menentangnya. Lokasi geografis daerah itu
mengartikan bahwa pemberlakuan keputusan itu di hadapan oposisi
bersenjata Turki akan mengharuskan adanya invasi militer besar-besaran.
Entente sudah kekurangan bekal dan peralatan untuk invasi tersebut.
b. Klaim Italia dan Yunani atas daerah yang sama di Asia kecil barat daya.
Italia memiliki klaim lebih dulu, tetapi posisinya diperlemah oleh
keinginan terhadap klaim-klaim teritorial. Sementara Yunani memiliki
dukungan yang lebih kuat dari Inggris. Inggris melihat adanya kekuatan
tandingan yang berharga yang dimiliki Yunani untuk menghadapi Perancis
dan Italia di Mediterania timur. Akhirnya, Yunani diberi izin untuk
menduduki Izmir dan sekitarnya pada Mei 1919.
c. Posisi Istambul serta selat-selat.
Nilai politik dan strategis di daerah-daerah ini di mata Inggris
mengartikan bahwa apabila daerah-daerah itu tetap dikuasai Kerajaan
Utsmani, seluruh wilayah kerajaan itu harus berada di bawah pengawasan
pihak asing tertentu. Jika daerah-daerah itu harus berpisah dari kerajaan
Utsmani, kerajaan ini akan menjadi tidak signifikan lagi, sehingga hanya
akan bergantung pada sarana-sarana yang dimilikinya sendiri. Inggris
[Link] [Link]
1. Tahap Perundingan
Entente mengundang Turki untuk memulai perundingan-perundingan
segera setelah meredanya permusuhan. Pihak Turki menginginkan agar negosiasi-
negosiasi itu diadakan di Izmir. Namun, Entente menolak untuk berunding di
tanah Turki. Kota Lausanne di Swis akhirnya dipilih sebagai tempat perundingan.
Perancis, Italia, dan Yunani adalah tuan rumah sedangkan Turki, baik pemerintah
di Ankara maupun di Istambul, diminta untuk mengirimkan delegasi-delegasinya.
Mustafa Kemal mengangkat Ismet Pasha sebagai pemimpin delegasi Turki di
Lausanne. Mustafa Kemal memilihnya karena Ismet adalah pendukungnya yang
paling loyal dan bisa diandalkan, tidak seperti Perdana Menteri Husein Rauf yang
pro-Inggris maupun komisaris urusan luar negeri, Yusuf Kemal yang pro-Soviet.
Keberangkatan Ismet ke Lausanne dibekali instruksi-instruksi tegas untuk tidak
menyimpang dari Pakta Nasional.
Konferensi dibuka pada tanggal 20 Nopember 1922. Negara-negara yang
mengirimkan utusan adalah Inggris Raya, Perancis, Italia, Yunani, dan Turki,
sedangkan Uni Soviet, Ukraina, Georgia, Rumania, serta Bulgaria diundang untuk
menghadiri pertemuan di mana mereka mempunyai kepentingan langsung.
Perundingan-perundingan diperkirakan akan menemui banyak kesulitan sebab
sejak awal terdapat berbagai perspektif yang berlainan di kedua belah pihak.
Entente menganggap diri mereka sebagai pemenang Perang Besar. Dalam
pandangan Entente, konferensi ini dimaksudkan untuk menyesuaikan syarat-
syarat Perjanjian Sevres dengan situasi baru. Sedangkan dalam pandangan pihak
Turki, merekalah yang merupakan pemenang dalam perang kemerdekaan nasional
mereka dan bagi mereka. Pihak Turki juga beranggapan bahwa Perjanjian Sevres
hanyalah sejarah masa lalu. Pada awalnya, delegasi Turki mengalami kesulitan
dalam perundingan di Lausanne tersebut. Mereka tidak dianggap sebagai partner
[Link] [Link]
yang setara. Menteri Luar Negeri Inggris yang merupakan figur dominan dari
pihak Entente, Lord Curzon, bersikap amat arogan dan ingin menang sendiri.
Pihak Turki betul-betul lemah karena kurangnya pengalaman diplomatik (Erik J.
Zurcher, 2003: 206-208).
Masalah-masalah yang dirundingkan dibagi ke dalam tiga pokok
bahasan: masalah teritorial dan militer; perekonomian dan keuangan; dan posisi
orang-orang asing serta kaum minoritas. Pada dua bulan pertama, hanya sedikit
kesepakatan yang dicapai mengenai semua pokok masalah ini. Pada awal
Februari, semua masalah teritorial yang penting seperti Thrace, penguasa-
penguasa selat di masa depan, telah diselesaikan. Namun, kedua belah pihak
sepakat untuk menunda perundingan mengenai masalah Mosul. Ismet tetap
mempertahankan agar Mosul tetap masuk Turki dan menghapus kapitulasi, tetapi
Curzon tidak menyetujui kedua masalah itu. Sedangkan masalah-masalah dalam
bidang lainnya terbukti tidak dapat diatasi. Konferensi berhenti untuk sementara.
Para delegasi pulang ke negeri mereka masing-masing (George Lenczowski,
1993: 73).
Semangat nasionalis yang amat kuat kini menguasai Ankara. Pada awal
Maret 1923, baik Ismet maupun pemerintah mendapat serangan sengit melalui
konsesi yang telah mereka buat. Mustafa Kemal berintervensi secara pribadi agar
majelis mau mendesak pemerintah untuk melanjutkan perundingan-perundingan.
Pihak Turki menyerahkan 100 halaman amandemen sebagai draft perjanjian di
bulan Februari. Setelah amandemen-amandemen dipelajari oleh oleh para ahlinya,
pada akhir Maret Entente mengundang pihak Turki untuk membuka kembali
perundingan-perundingan. Kedua pihak berunding kembali pada tanggal 23 April.
Delegasi Yunani dan Turki segera menyelesaikan masalah-masalah bilateral
mereka. Turki menerima koreksi mengenai tapal batas di Thrace sebagai imbalan
penangguhan klaimnya atas ganti rugi perang. Namun, masalah utama adalah
penegasan negara-negara Entente mengenai konsesi-konsesi ekonomi dan yudisial
sebagai imbalan atas pengakuan penghapusan perjanjian-perjanjian sebelumnya.
Pihak Turki menolak segala sesuatu yang melanggar kedaulatan negara Turki
baru. Posisi Entente memang lemah sebab di negara-negara mereka tidak ada
[Link] [Link]
penduduk yang siap berperang demi masalah-masalah ini. Karena itu, untuk
menghindari terjadinya perang, Entente harus mengusahakan tercapainya
kesepakatan dengan pihak Turki. Setelah diupayakan, akhirnya kesepakatan
dicapai tanggal 17 Juli. Ismet meminta izin pemerintah di Ankara untuk
menandatangani kesepakatan itu. Mustafa Kemal mengabulkan izin tersebut.
Perjanjian itu ditandatangani pada tanggal 24 Juli 1923 (Erik J. Zurcher, 2003:
208-209).
2. Hasil Perundingan
Hasil dari perundingan di Lausanne telah mewujudkan tujuan-tujuan
Pakta Nasional, walaupun tidak secara detail. Dalam batas-batas Pakta Nasional
itu, Turki yang muncul setelah perundingan adalah sebuah negara yang betul-betul
negara yang berdaulat. Isi Perjanjian Lausanne (George Lenczowski, 1993: 73-74)
meliputi:
a. Klausul teritorial.
Dalam klausul teritorial, dihasilkan beberapa kesepakatan, antara lain: (1)
Kesatuan etnis Turki diakui dan pemisahan dari tanah Arabia ditegaskan;
(2) Turki memperoleh kembali Thrace Timur sampai Sungai Maritza dan
kota Karagach di tepi baratnya; (3) Pulau Imbos dan Tenedos diserahkan
kepada Turki, tetapi pulau-pulau lain di Laut Aegea ditetapkan bagi
Yunani; (4) Dodecanese milik Italia sedangkan Siprus milik Inggris
ditegaskan. Armenia tidak disebut-sebut, itu berarti pengakuan implisit
terhadap persetujuan Turki-Soviet yang menyangkut perbatasan
Transkaukasia; (5) Smyrna diserahkan kepada Turki sebagai bagian
integral dari Anatolia; (6) Batas dengan Suriah mengikuti garis yang diatur
dalam persetujuan Franklin-Bouillan, 20 Oktober 1921, yang berarti
kawasan Alexandretta dikeluarkan dari wilayah Turki; (7) Batas dengan
Irak ditunda sampai perjanjian antara Inggris, pemegang mandat, dengan
Turki; (8) Jika persetujuan itu gagal diwujudkan dalam jangka waktu satu
tahun, masing-masing pihak berjanji untuk menerima arbitrase LBB.
[Link] [Link]
1. Dampak Politik
a. Dalam Negeri
Dengan disahkannya Perjanjian Lausanne 1923, pemerintah Kemal
mendapatkan pengakuan internasional. Turki memperoleh kembali
kemerdekaannya dan kesatuan wilayah etnisnya, serta melepaskan belenggu asing
yang mengawasi urusan militer, peradilan, dan ekonomi. Turki bangkit dari
siksaan berat selama ini dengan lahirnya kebanggaan nasional, menikmati
[Link] [Link]
kepemimpinan baru yang progresif, miskin tetapi yakin akan masa mendatang,
dan kebersamaan dalam masyarakatnya (George Lenczowski, 1993: 74).
Perjanjian Lausanne telah mewujudkan kemerdekaan penuh bagi Turki.
Namun, kemerdekaan itu adalah kemenangan bagi Golongan Nasionalis Turki,
bukan kemenangan seluruh Turki. Mustafa Kemal yang selanjutnya diangkat
menjadi Presiden melakukan banyak perubahan. Perubahan yang dilakukan
Kemal membuat eksistensi kekhalifahan terancam.
Segera setelah kemenangan dapat dipastikan, Kemal menyatakan bahwa
ia punya gagasan baru. Kemal ingin menciptakan negara Turki modern dengan
legitimasi otoritas politik atas prinsip populisme. Kedaulatan dan semua kekuatan
administratif harus diberikan kepada rakyat. Dengan demikian, negara modern
harus membebaskan agama dari posisinya sebagai alat politik, sebagaimana biasa
terjadi pada selama berabad-abad. Langkah pertama adalah menghapuskan
kesultanan, sementara kekhalifahan tetap dipertahankan sebagai pemegang
jabatan keagamaan tanpa memiliki kekuasaan politik. Kemal beralasan, ketika
Khalifah Abbasiyah telah kehilangan seluruh kekuasaannya pada masa akhir
pemerintahannya, ia tetap dianggap sebagai lambang persatuan dan simbol Islam.
Lagi pula, dualisme dalam pemerintahan Turki harus segera diakhiri karena
konstitusi tahun 1921 dengan jelas menyebutkan Majelis Agung Nasional adalah
satu-satunya wakil sah rakyat. Gagasan Kemal itu mendapat perlawanan keras
dari anggota komite Syariah, terutama para ulama, walaupun kemudian ia berhasil
mengakhirinya dengan menegaskan bahwa bangsa Turki telah menyatukan
kedaulatan dan kesultanan di tangan mereka sendiri. Kemal berhasil meyakinkan
Majelis Agung Nasional. Kemudian, Majelis Agung Nasional menerima gagasan
tentang penghapusan kesultanan tersebut (Siti Maryam, 2002: 159).
Tanggal 1 Nopember 1922, Majelis Agung Nasional mengeluarkan
resolusi tentang penghapusan kesultanan. Resolusi juga menetapkan bahwa
kekhalifahan, termasuk keluarga Utsmaniah, tergantung kepada negara Turki dan
yang akan dipilih menjadi Khalifah oleh Majelis adalah anggota keluarga
Utsmaniah yang pengetahuan dan kepribadiannya paling patut dan tepat
(Muhammad Khan Nur, 1959).
[Link] [Link]
Hakikat sebenarnya dari negara Turki yang baru muncul masih belum
menentu. Kesultanan Utsmani telah dihapuskan, negara itu diperintah oleh
majelis nasional yang bukan saja memilih presiden, tetapi juga memilih menteri
secara langsung. Hubungan konstitusional antara majelis dan Khalifah tidak jelas.
Khalifah, sebagaimana disusun tahun 1922, secara murni merupakan satu fungsi
keagamaan. Namun, tidak dapat dielakkan lagi bahwa orang banyak harus tetap
memandang Khalifah sebagai kepala negara, walaupun hanya secara emosional.
Lebih dari itu, sebagai Khalifah, yurisdiksinya melebihi batas-batas wilayah Turki
dan meliputi seluruh dunia Islam. Mustafa Kemal mengemukakan bahwa dia
bermaksud mengubah situasi yang membingungkan itu dan memproklamasikan
republik. Mustafa Kemal mengajukan sebuah proposal kepada majelis untuk
memproklamasikan republik, dengan seorang presiden yang sudah dipilh, seorang
perdana menteri yang diangkat oleh presiden, dan sebuah sistem kabinet
konvensional. Mayoritas orang di majelis menerima proposal itu. Tanggal 29
Oktober 1923, Republik Turki diproklamasikan dengan Mustafa Kemal sebagai
presidennya yang pertama serta Ismet Inonu sebagai perdana menterinya yang
pertama (Erik J. Zurcher, 2003: 214-215).
Dengan demikian, kekhalifahan telah dipisahkan dari negara dan
menjadi semacam lembaga internasional yang kebetulan memiliki markas besar di
Turki. Pada dasarnya, Kemal bisa mempertahankan kekhalifahan sebagai alat bagi
pengaruh Turki di antara negara muslim, atau memperkuat mandat yang
diterimanya dengan legitimasi dari khalifah di samping membebaskan Turki dari
implikasi internasional kekhalifahan. Namun, Kemal berpandangan negara
modern hanya dapat diwujudkan dengan pemutusan hubungan secara menyeluruh
dari lembaga politik dan sosial Islam yang lama. Kemal percaya bahwa negara
modern dapat ditopang oleh “agama rakyat”, sehingga yang diperlukan adalah
membentuk lembaga baru yang dapat mendorong pertumbuhan agama rakyat dan
mengembangkan tanggung jawab individual, tempat agama rakyat itu tumbuh
(Siti Maryam, 2002: 160).
Menurut Mustafa Kemal, kemunduran-kemunduran Turki Utsmani
disebabkan karena tidak beresnya sistem kekhalifahan. Oleh karena itu, sistem
[Link] [Link]
tersebut harus dihapuskan kalau Turki ingin maju sebagaimana negara Eropa
lainnya. Karena pertimbangan itu, Mustafa Kemal menghapuskan jabatan
Khalifah. Sejak itu, imperium Turki Utsmani berakhir dan sejarah Turki
memasuki era modern (K. Ali, 2003: 564).
b. Luar Negeri
Politik luar negeri Republik Turki sepanjang periode 1923-1945 bisa
dikatakan hati-hati, realistis, dan pada umumnya bertujuan untuk
mempertahankan kemanangan yang diraih di tahun 1923. Sampai akhir 1920-an,
hubungannya dengan negara-negara demokrasi Eropa Barat terhambat sebagai
akibat dari perjanjian Lausanne, di mana sebagian masalah tidak dapat
diselesaikan. Yang terpenting adalah perselisihan dengan Inggris mengenai
Mosul, sebuah propinsi kaya minyak yang sebagian besar dihuni oleh rakyat
Kurdi. Mosul diduduki tentara Inggris setelah gencatan senjata tahun 1918,
sehingga Turki memasukkannya ke dalam daerah-daerah yang mereka anggap
sebagai wilayahnya dalam Pakta Nasional. Dalam perundingan selama 1923 dan
1924, Inggris menegaskan bahwa Mosul termasuk wilayah Irak, dan menolak
Turki untuk mengadakan plebisit. Ketika kedua belah pihak tidak mencapai
kesepakatan, masalah itu diserahkan kepada Liga Bangsa-bangsa di Jenewa, yang
di masa itu Turki belum menjadi anggotanya. Liga Bangsa-bangsa memulai
pembicaraan tentang perkara ini di bulan September 1924. Setahun kemudian,
September 1925, sebuah komisi Liga Bangsa-bangsa menyelidiki situasi langsung
di tempat itu dan menyatakan bahwa Mosul termasuk wilayah Irak.
Turki menghadapi masalah utama tentang pembayaran utang negara
Turki Utsmani dengan Perancis. Perancis merupakan investor terbesar sebelum
perang. Pada tahun 1928 ditetapkan bahwa Turki menanggung beban pembayaran
itu. Namun, krisis ekonomi dunia mengakibatkan tertundanya pembayaran itu di
tahun 1930. Setelah melakukan negosiasi-negosiasi panjang, pada tahun 1933
utang itu dijadwalkan kembali dengan syarat-syarat pembayaran yang lebih ringan
bagi Turki.
Selain perselisihan-perselisihan diplomatis, pada tahun-tahun pertama
setelah Perjanjian Lausanne terjadi perselisihan berkepanjangan antara Turki
[Link] [Link]
ancaman besar. Sahabat Turki, Uni Soviet, juga mendukung sikap anti-kubu
revisionis dan memfasilitasi pendekatan kembali Turki dengan Barat.
Turki menjadi anggota Liga Bangsa-bangsa pada tahun 1932. Pada bulan
April 1936, Turki mengirimkan sebuah memo kepada para penanda tangan
Perjanjian Lausanne. Turki meminta diadakannya demiliterisasi selat-selat.
Permintaan itu mendapat sambutan baik. Kemudian, diadakan konferensi di
Motreux dan dalam perjanjian yang dihasilkan dinyatakan bahwa Turki
memperoleh kembali kekuasaan penuh atas selat-selat itu dan Komisi Selat
dihapuskan. Semua pihak menerima sejumlah pembatasan bagi pelayaran kapal
perang melalui selat-selat itu, tetapi lalu lintas perdagangan tetap bebas bagi
negara-negara yang tidak berperang dengan Turki (Erik J. Zurcher, 2003: 263-
264).
2. Dampak Sosial-Budaya
Mustafa Kemal diangkat sebagai Presiden Turki yang pertama. Di
Bawah Kemal, banyak perubahan yang dilakukan, termasuk penghapusan jabatan
Kekhalifahan sebagai jabatan politik. Selain itu, terdapat pembaruan-pembaruan
yang selanjutnya berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat Turki.
Pembaruan itu disebut pembaruan Kemalis atau reformasi Kemalis. Pembaruan
Kemalis merupakan penerapan adaptasi dalam bentuk westernisasi sekuler (Mesut
Yegen, 1999:559). Program itu tidak menolak Islam atau menentang agama.
Agama hanya diturunkan peranannya menjadi nilai personal. Pembaruan Kemalis
berusaha untuk menciptakan bentuk Islam individualistik modern. Pembaruan
Kemalis dilaksanakan di atas enam prinsip dasar yang menjadi filsafat politik dan
dasar Republik Turki. Keenam prinsip dasar atau yang sering disebut “Nilai
Kemalis”. Nilai Kemalis itu adalah: (1) Republikanisme, kedaulatan dan otoritas
politik berdasar keinginan penduduk; (2) Nasionalisme, tidak berdasarkan agama
dan ras tetapi berdasarkan kewarganegaraan yang sama dan mengabdi kepada
cita-cita nasional; (3) Populisme, kesamaan dalam hukum, menolak kepentingan
atau persengketaan kelas, dan penyalahgunaan kapitalisme; (4) Etatisme,
menerima campur tangan negara yang bersifat membangun perekonomian rakyat;
[Link] [Link]
3. Dampak Ekonomi
Turki pada tahun 1923, sebagai negara yang baru saja selesai berperang
mengalami masa sulit dalam bidang ekonomi. Kerusakan fisik yang ditimbulkan
akibat perang, di antaranya adalah kerusakan di sejumlah kecil istalasi industrial,
yang kebanyakan ada di wilayah Istambul, jalur kereta api dan jembatan-jembatan
di Anatolia barat, serta perumahan di kota Izmir. Salah satu isi dari perjanjian
Lausanne adalah pertukaran penduduk dari Turki ke Yunani ataupun sebaliknya
telah mengakibatkan adanya gelombang emigrasi. Emigrasi warga Yunani dan
Armenia menyebabkan eksodusnya mayoritas pengusaha dan manajer. Bersama
mereka, lenyap pula stok tenaga terampil di bidang industrial dan komersial.
Perdagangan internasional Turki tahun 1923 adalah sepertiga dari neraca
sepuluh tahun sebelumnya. Sektor pertanian, sebagai sektor perekonomian
terpenting Turki pulih relatif cepat tahun 1923. Namun, pemulihan ekonomi Turki
secara keseluruhan membutuhkan waktu sampai tahun 1930 untuk mencapai level
seperti pada masa pra-perang. Di samping itu, Turki juga mempunyai tanggungan
utang yang berat akibat perang.
Seperti para peserta perang lainnya, pemerintah Utsmani menanggung
beban utang yang sangat berat. Namun, utang Utsmani bukan kepada Amerika
Serikat sebagai pemenang, tetapi kepada Jerman, negara yang kalah. Di Lausanne,
utang ini dibagi-bagikan secara adil kepada negara-negara atau wilayah-wilayah
penerus kerajaan Utsmani dan 65 persen dari utang itu harus ditanggung oleh
Turki dan harus dibayar dalam waktu bertahun-tahun (Erik J. Zurcher, 2003: 212-
213).
Perjanjian Lausanne telah membuat negara Turki berdaulat. Kedaulatan
tersebut termasuk kedaulatan dalam bidang ekonomi. Itu berarti Turki mempunyai
kewenangan penuh untuk mengatur perekonomiannya sendiri. Salah satu prinsip
dasar dari enam prinsip dasar negara Turki atau “Nilai Kemalis” yang
[Link] [Link]
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Implikasi
negara. Dari yang semula negara kerajaan berubah bentuk menjadi negara
republik dengan kepala negaranya adalah presiden. Penghapusan itu juga
mengakibatkan berakhirnya kekhalifahan Islam. Dengan berakhirnya kekhalifahan
Islam di Turki, umat Islam di dunia tidak lagi bersatu dalam suatu wadah
kepemimpinan. Hal itu tentunya tidak hanya berdampak bagi Turki, tetapi juga
bagi dunia, khususnya dunia Islam. Di bidang politik luar negeri, hubungan politik
Turki dengan negara lain yang pernah berlawanan diperbaiki. Turki kemudian
bergabung menjadi anggota Liga Bangsa-bangsa. Hal itu menegaskan bahwa
Turki adalah negara yang merdeka, berdaulat, dan diakui oleh dunia internasional.
Perubahan pada bidang sosial-budaya berkaitan dengan salah satu dari
enam hal yang terdapat dalam “Nilai Kemalis”, yaitu sekularisme. Penerapan
sekularisme ini berarti pemisahan yang jelas antara negara dengan agama. Negara
tidak boleh mencampuri urusan agama, begitu juga sebaliknya. Dalam
melaksanakan sistem sekularisme, Majelis Agung Turki menetapkan Undang-
Undang Sipil. Dalam undang-undang tersebut diatur mengenai kebebasan
perempuan, penaggalan Gregorian, dan pelarangan poligami. Ada pula aturan lain
yang mengatur tentang pelarangan azan dengan bahasa Arab. Aturan-aturan
tersebut kebanyakan tidak sesuai dengan ajaran Islam dan merupakan hal baru
dalam masyarakat. Aturan-aturan tersebut membawa dampak bagi kehidupan
sosial masyarakat Turki. Pelaksanaan aturan-aturan itu telah mengubah gaya
hidup masyarakat Turki. Kehidupan orang-orang Turki menjadi lebih modern dan
mengikuti gaya hidup dan cara pandang Barat. Pandangan ini biasa disebut
dengan Islam liberalis karena dipengaruhi oleh pemikiran liberal. Pandangan
tersebut melahirkan versi modern dari Islam yang didasarkan dari nasionalisme,
filsafat, dan sains. Islam liberal tersebut mempunyai filsafat sendiri yang dinamis
dan tidak menentang sains dan akal. Gaya hidup dan cara pandang tersebut
dianggap oleh Kemal sebagai suatu keharusan yang dapat membawa Turki ke arah
yang lebih baik.
Di bidang ekonomi, Pemerintah Kemal menempuh jalan Etatisme.
Sistem ini dipilih supaya pemerintah dapat secepatnya memulihkan ekonomi
Turki setelah perang. Dengan mengatur kebijakan-kebijakan ekonomi, pemerintah
[Link] [Link]
C. Saran
satunya jalan untuk kemajuan. Pem-Barat-an atau yang biasa disebut dengan
Westernisasi pada masa ini terus berkembang seiring dengan globalisasi. Perlu
diingat bahwa Barat bukan satu-satunya peradapan yang dapat mewujudkan
kemajuan. Selain itu, tidak semua hal-hal yang berbau barat itu positif. Jadi,
westernisasi perlu disaring dengan nilai-nilai luhur jati diri bangsa. Sebagai
bangsa Indonesia, sudah selayaknya kita kembali pada Pancasila sebagai jati
diri bangsa. Selain itu, perlu diingat pula bahwa agama adalah hal yang sangat
penting bagi kehidupan. Agama memberi nilai-nilai yang baik bagi kehidupan
dan dapat pula menjadi filter bagi westernisasi. Untuk itu, ajaran agama perlu
dilaksanakan secara menyeluruh dengan cara yang benar. Agama tidak
menghambat kemajuan, tetapi justru mengarahkan kemajuan itu ke arah yang
benar.
[Link] [Link]
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ali, K. 2003. Sejarah Islam dari Awal hingga Runtuhnya Dinasti Utsmani (Tarikh
pramodern). Terjemahan Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
A. Mukti Ali. 1994. Islam dan Sekularisme di Turki Modern. Jakarta: Djambatan.
Frans E. Likadja dan Daniel Frans Bessie. 1988. Desain Instruksional Dasar
Hukum Internasional. Jakarta: Ghalia Indonesia.
_____ dan Ismaun. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Dirjen Dikti.
Sidi Gazalba. 1981. Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Jakarta: Bhatara Karya
Aksara.
Siti Maryam (Editor). 2002. SejarahPeradaban Islam. Dari Masa Klasik Hingga
Modern. Yogyakarta: LESFI.
Zurcher, Erik J. 2003. Sejarah Modern Turki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sumber Internet
Jurnal
Prior, Robin dan Trevor Wilson. Review Article The First World War dalam
Journal of Contemperary History. 2000. 35 (2).SAGE Publication. 319-328.
Yegen, Mesut. The Kurdish Question in Turkish State Discourse dalam Journal of
Contemporary History. 1999. 34 (4). SAGE Publications. 555-568.
[Link] [Link]