34 Cerita Rakyat Pendek Indonesia
34 Cerita Rakyat Pendek Indonesia
0 komentar
BAGIKAN
Cancel
Yang sedang ramai dicari
#1 persib vs persija
#2 indosiar
#3 iran
#4 pandji
#5 liga 4
Promoted
Terakhir yang dicari
Loading...
Daftar MPC Masuk
Home
Berita
Sepakbola
Budaya
Plesir
Kuliner
Bisnis
Jogja Kerta
Kota Pelajar
Foto
Video
Indeks
Terpopuler
Koleksi Pilihan
Info Sekitarmu
detikJogja
Budaya
34 Cerita Rakyat Pendek Lengkap dari Seluruh Daerah Indonesia
Ulvia Nur Azizah - detikJogja
Kamis, 06 Mar 2025 15:17 WIB
Daftar Isi
Jogja - Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita rakyat yang berkembang sejak zaman dahulu dan
dituturkan secara turun temurun. Setiap cerita rakyat pendek lengkap dari seluruh daerah Indonesia
ini memiliki amanat atau nilai yang berharga bagi kehidupan.
Dikutip dari buku Bahasa Indonesia 1 yang ditulis Sri Sutami dan Sukardi, cerita rakyat adalah kisah
turun-temurun yang berkembang dalam masyarakat lama yang masih menganut animisme dan
dinamisme. Ciri khasnya adalah bersifat lisan, anonim, komunal, statis, tidak berangka tahun, dan
sering berpusat pada kehidupan istana. Kisah-kisah ini biasanya menjelaskan kejadian alam dengan
unsur gaib dan banyak berkembang di lingkungan kerajaan karena tukang cerita sering berasal dari
istana dan ingin mengambil hati raja.
Jika ingin tahu cerita rakyat pendek lengkap dari seluruh Indonesia, sebaiknya jangan lewatkan
penjelasan berikut ini. detikJogja akan membagikan sejumlah cerita rakyat yang dihimpun dari buku
Kumpulan Legenda Nusantara karya Astri Damayanti serta 100 Cerita Rakyat Nusantara karya Dian K.
Baca juga:
16 Dongeng Sebelum Tidur Panjang dan Pendek, Penuh Pesan Moral untuk Anak
Cerita Rakyat Pendek Lengkap dari Seluruh Indonesia
Berikut ini adalah kisah rakyat pendek lengkap dari wilayah Aceh hingga Papua. Mari kita simak!
ADVERTISEMENT
Namun, masalah besar terjadi. Putri Pukes ingin menikahi seorang pangeran dari kerajaan musuhnya.
Tentu saja keinginan itu ditentang oleh orangtua Putri Pukes. Putri Pukes tidak menuruti
orangtuanya. Dia tetap menikah dengan seorang pangeran dari kerajaan musuh.
Maka, ketika Putri Pukes berpamitan untuk tinggal di kerajaan suaminya, orangtuanya sangat kecewa.
Dengan sangat sedih, ibunda Putri Pukes berkata, "Jika kamu benar-benar ingin meninggalkan
kerajaan ini, teruslah berjalan. Jangan pernah melihat ke belakang!"
Putri Pukes pun meninggalkan Kerajaan Takengon. Namun, Putri Pukes masih memiliki perasaan
tidak rela meninggalkan rumah dan orangtuanya. Hingga tanpa sadar, dia menoleh ke belakang.
Tiba-tiba petir menggelegar. Langit menjadi hitam. Hujan turun sangat deras. Putri Pukes dan
suaminya berteduh di dalam gua. Hujan turun selama berhari-hari. Genangan air di luar gua berubah
menjadi danau besar. Putri Pukes tidak pernah keluar dari gua. Dia berubah menjadi batu. Di sisi lain,
suaminya menghilang entah ke mana. Danau besar itu kini bernama Danau Laut Tawar.
Suatu hari, Sangmaima meminjam tombak pusaka untuk berburu babi hutan. Tombak itu memang
berhasil mengenai seekor babi, tapi hewan itu lari ke dalam hutan.
Sangmaima mengejar babi hutan itu, tapi dia hanya berhasil mendapatkan batang tombaknya saja.
Ujung tombaknya masih berada di dalam perut babi hutan.
Mendengar ini, kakaknya sangat marah. Dia meminta Sangmaima untuk menemukan ujung tombak
tersebut.
Setelah beberapa hari mencari, Sangmaima menemukan sebuah gua. Samar-samar, dia mendengar
erangan dari dalam gua. Ternyata ada seorang wanita cantik yang perutnya sedang terluka.
Sangmaima mendekatinya.
Dengan ilmu pengobatan yang dimilikinya, Sangmaima akhirnya bisa mengobati sang putri. Namun,
dia terkejut karena wanita tersebut mengaku sebagai jelmaan babi yang dia buru di hutan. Benar
saja, ujung tombak yang dicarinya ada di perut wanita itu. Sangmaima pun berhasil mengambil
kembali ujung tombak tersebut, lalu mengembalikannya kepada kakaknya.
Tidak lama kemudian, kakaknya mengadakan pesta pernikahan. Namun, Sangmaima tidak diundang.
Datu Dalu masih marah pada adiknya.
Sangmaima yang merasa kecewa dan marah bertengkar hebat dengan kakaknya. Mereka
menggunakan seluruh kesaktian yang diajarkan oleh orang-tua mereka. Datu Dalu melemparkan
sebuah lesung ke arah adiknya. Namun, Sangmaima berhasil mengelak. Tanah tempat jatuhnya
Lesung itu kemudian menjadi Danau Si Losung.
Sangmaima membalas lemparan kakaknya dengan sebuah pinggan (piring). Datu Dalu juga bisa
menghindari serangan adiknya. Tempat jatuhnya pinggan itu kemudian menjadi Danau Si Pinggan.
Suatu hari, Puti Juilan bermimpi menikah dengan seorang pemuda bernama Sutan Rumandang.
Tuanku Raja Kecik segera mengerahkan pengawalnya untuk mencari pemuda tersebut, namun
hasilnya nihil. Tak lama kemudian, seorang pemuda dari negeri seberang bernama Sutan Rumandang
datang ke Pantai Tiku untuk beristirahat. Puti Juilan mengenali wajahnya dari mimpi, dan mereka pun
saling jatuh cinta. Raja Kecik akhirnya menikahkan mereka.
Namun, setelah menikah, Sutan Rumandang pergi dan tak pernah kembali. Puti Juilan mulai putus
asa, hingga akhirnya menerima lamaran seorang pemuda bangsawan lain. Pada hari pernikahannya,
tiba-tiba tubuh Puti Juilan berubah menjadi siamang putih. Ia melompat ke langit-langit istana,
sementara para tamu terkejut. Tuanku Raja Kecik menyadari bahwa ini akibat janjinya pada Sutan
Rumandang yang telah dilanggar.
Sejak saat itu, Puti Juilan yang telah menjadi siamang putih selalu menunggu di tepi Pantai Tiku,
berharap Sutan Rumandang kembali. Namun, hingga akhir hayatnya, Sutan Rumandang tak pernah
kembali.
Ketika para bidadari hendak kembali ke kayangan, bidadari berselendang jingga tidak bisa terbang
karena selendangnya tersangkut di pintu rumah Bujang Enok. Dia menangis ketakutan karena
tertinggal. Bujang Enok mengembalikan selendangnya dan melamarnya. Putri Mambang Linau,
demikian namanya, menerima lamaran itu dengan satu syarat: Bujang Enok tidak boleh memintanya
menari, karena jika ia menari, ia akan kembali ke kayangan.
Mereka hidup bahagia dan menjadi pasangan yang dermawan. Suatu hari, Raja mengangkat Bujang
Enok sebagai kepala kampung. Ketika diadakan pesta kerajaan, semua istri kepala kampung diminta
untuk menari. Bujang Enok yang tak ingin membangkang Raja memohon istrinya untuk menari sekali
saja. Dengan berat hati, Putri Mambang Linau memenuhi permintaan itu.
Namun, saat menari, tubuhnya perlahan melayang ke langit. Bujang Enok hanya bisa melihat istrinya
pergi, menyesali keputusannya. Sebagai penghormatan atas kesetiaannya, Raja mengangkat Bujang
Enok menjadi penghulu istana. Hingga akhir hayatnya, ia mengabdikan diri kepada Raja dan
rakyatnya.
Dalam perjalanan, mereka meminta Matahari menjadi ibu mereka, tetapi Matahari menyarankan
Awan. Awan pun menolak dan menyarankan Gunung, yang kemudian menyarankan Tikus. Namun,
Tikus justru mengatakan bahwa yang paling hebat adalah Kucing, karena ia sendiri takut terhadap
kucing.
Mimi dan Mini akhirnya menyadari bahwa ibu mereka yang sebenarnya adalah yang terbaik. Mereka
segera pulang dan meminta maaf. Sang ibu menyambut mereka dengan bahagia, dan sejak saat itu,
Mimi dan Mini tak lagi ingin mencari ibu baru.
Di gunung itu, Serunting bertapa selama dua tahun hingga tubuhnya tertutup daun bambu. Ia
memperoleh kesaktian untuk mengutuk apa pun yang ditemuinya, sehingga orang-orang
menjulukinya "Si Pahit Lidah." Namun, kesaktiannya membuatnya menjadi sombong dan semena-
mena.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang ke desanya, Serunting tanpa sadar mengucapkan keinginan agar
tempat tandus yang ia lewati menjadi rindang. Seketika pepohonan tumbuh dan memberikan
keteduhan. Ia pun bertemu dengan pasangan kakek-nenek miskin yang tidak memiliki anak. Merasa
iba, ia mengucapkan keinginan agar mereka memiliki anak, dan seketika itu juga dua anak muncul di
rumah mereka.
Melihat kebahagiaan orang lain karena perbuatannya, Serunting menyadari bahwa lebih
menyenangkan membantu daripada menakuti. Sejak saat itu, ia menggunakan kesaktiannya untuk
kebaikan.
Suatu malam, Putri Sedoro Putih bermimpi didatangi seorang kakek yang mengatakan bahwa ia
sebenarnya adalah nenek dari saudara-saudaranya dan akan segera meninggal. Dari makamnya, akan
tumbuh pohon yang belum pernah ada sebelumnya dan akan bermanfaat bagi manusia. Ia
menceritakan mimpinya kepada kakak-kakaknya, tetapi mereka menganggapnya hanya bunga tidur.
Setahun kemudian, Putri Sedoro Putih meninggal. Kakak-kakaknya sedih, tetapi mereka tetap tabah
dan memakamkannya dekat rumah. Beberapa bulan setelah pemakamannya, tumbuhlah sebatang
pohon di makamnya, sesuai dengan yang ada dalam mimpinya. Mereka pun merawatnya dengan
baik.
Ketika pohon itu mulai berbuah, salah satu kakaknya melihat seekor tupai menggigit buahnya hingga
mengeluarkan cairan jernih. Penasaran, ia mencicipinya dan mendapati rasanya manis. Bersama
saudara-saudaranya, ia mulai menyadap cairan dari pohon itu dan menyimpannya dalam bambu.
Namun, air tersebut menjadi masam jika disimpan lama.
Mereka lalu mencoba memasaknya hingga mengental dan mendiamkannya sampai mengeras,
berubah menjadi cokelat kekuningan. Dari sinilah asal mula gula aren, yang dikenal hingga kini.
Buaya Perompak tidak ingin memakan Aminah, tetapi hanya ingin teman. Sebagai imbalan, ia
menawarkan emas dan berlian. Aminah berpura-pura menerima, tetapi diam-diam mencari cara
untuk melarikan diri.
Dengan cerdik, Aminah mengorek informasi dari Buaya Perompak dan mengetahui bahwa buaya itu
dulunya manusia yang dikutuk. Setiap bulan purnama, ia kembali menjadi manusia dan keluar dari
gua melalui terowongan yang langsung menuju pasar.
Saat Buaya Perompak tertidur lelap, Aminah segera melarikan diri melalui terowongan tersebut.
Setelah melewati perjalanan panjang, ia akhirnya berhasil keluar dan kembali ke rumah.
Kepulangannya disambut dengan sukacita oleh keluarganya. Sejak itu, kisah Aminah menjadi
peringatan bagi penduduk desa agar selalu berhati-hati saat berada di Sungai Tulang Bawang.
Suatu hari, Bujang Katak ingin melamar salah satu putri raja. Saat ibunya menyampaikan lamaran ke
istana, semua putri menolak kecuali putri bungsu, yang meminta Bujang Katak datang sendiri. Raja
kemudian memberi syarat agar Bujang Katak membangun jembatan emas yang menghubungkan
desa ke istana.
Bujang Katak berdoa dengan sungguh-sungguh, dan keajaiban terjadi. Saat mandi, kulit kataknya
terkelupas, berubah menjadi emas, dan dirinya menjadi pria tampan. Dengan emas itu, ia
membangun jembatan emas seperti yang diminta Raja.
Setelah jembatan selesai, ia kembali ke istana. Raja terkejut melihat perubahan Bujang Katak dan
akhirnya merestui pernikahannya dengan putri bungsu. Mereka pun menikah dan hidup bahagia.
Sementara itu, di Pulau Galang, seorang bangsawan memiliki dua putra, Julela dan Jenang Perkasa.
Setelah diangkat menjadi pemimpin, Julela menjadi sombong dan mengusir adiknya. Jenang Perkasa
pun berlayar hingga tiba di Pulau Bintan, di mana ia hidup dengan sopan dan disukai penduduk,
termasuk Batin Lagoi.
Batin Lagoi lalu mengenalkan Jenang Perkasa kepada Putri Pandan Berduri. Mereka saling jatuh cinta,
menikah, dan memiliki tiga anak: Mantang, Mapoi, dan Kelong. Ketika dewasa, ketiga anak mereka
merantau dan menjadi pemimpin suku masing-masing di Pulau Bintan. Inilah asal mula persukuan di
Pulau Bintan.
Setelah siap, Si Pitung mulai melawan anak buah Babah Liem dan merebut kembali harta rakyat.
Namanya menjadi terkenal sebagai pembela kaum tertindas. Ia bersama teman-temannya terus
melawan para tuan tanah dan pemerintah Belanda, yang akhirnya berusaha menangkapnya.
Karena sulit menangkap Si Pitung, Belanda menggunakan cara licik dengan menawan ayahnya, Pak
Piun, serta gurunya, Haji Naipin. Demi menyelamatkan mereka, Si Pitung menyerahkan diri. Namun,
pemerintah Belanda tetap mengeksekusinya dengan tembakan.
Meskipun tewas, perjuangan dan keberanian Si Pitung tetap dikenang sebagai pahlawan rakyat.
Suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan seorang kakek yang menyarankan agar ia bertapa di atas
batu cekung di kaki Gunung Karang selama 40 hari 40 malam. Setelah pertapaan selesai, air panas
akan memancar dari batu itu, dan jika ia mandi dengan air tersebut, penyakitnya akan sembuh.
Ki Sarmin akhirnya mengikuti petunjuk itu. Setelah selesai bertapa, benar saja, air panas keluar dari
batu tersebut. Ia segera mandi dengan air itu, dan keajaiban pun terjadi, kakinya sembuh total.
Sejak saat itu, batu cekung tempat Ki Sarmin bertapa dikenal sebagai Batu Kuwung, yang dipercaya
memiliki air panas dengan khasiat menyembuhkan penyakit.
Ketika Putri berulang tahun ke-17, Raja dan Permaisuri memberinya hadiah berupa kalung permata
yang sangat indah. Namun, Putri menolak kalung tersebut dan bahkan menjatuhkannya hingga
permatanya tercerai-berai.
Melihat sikap Putri, Permaisuri menangis sedih, diikuti oleh seluruh rakyat yang hadir. Ajaibnya, air
mata mereka berubah menjadi aliran air deras yang menggenangi istana, membentuk sebuah danau
berwarna-warni seperti permata di kalung Putri. Danau itu kemudian dikenal sebagai Telaga Warna.
Dalam perjalanan, puncak gunung jatuh dan menjadi Gunung Semeru, sementara bagian lainnya
yang terjatuh membentuk deretan gunung baru. Ketika tiba di tengah Pulau Jawa, para dewa
menyadari gunung yang tersisa tinggal sedikit, sehingga mereka meletakkannya di sana dan
menamakannya Gunung Tidar. Gunung ini akhirnya membuat Pulau Jawa kembali seimbang.
Saat itu turun hujan, dan air di sungai kecil dekat keraton surut. Ki Kerti Pejok memutuskan
membawa Kyai Dwipangga ke hilir sungai yang memiliki air lebih deras, meskipun Sultan Agung
sebenarnya telah melarangnya.
Tiba-tiba, banjir bandang datang dan menyeret Ki Kerti Pejok serta Kyai Dwipangga hingga ke Laut
Selatan, menyebabkan keduanya meninggal. Untuk mengenang peristiwa ini, Sultan Agung menamai
sungai tersebut Kali Gajah Wong, yang berarti Sungai Gajah dan Orang.
Putri Pusparani tidak ingin menikah dengannya, jadi ia meminta mas kawin berupa sumur di puncak
Gunung Kelud. Lembu Sura menyanggupi dan mulai menggali. Namun, sebelum sumur selesai, Raja
Brawijaya dan prajuritnya menimbunnya dengan batu dan tanah agar air tidak muncul.
Merasa dikhianati, Lembu Sura marah dan mengeluarkan sumpah bahwa setiap dua windu (16
tahun) sekali, ia akan datang dan merusak kehidupan mereka. Masyarakat percaya bahwa letusan
Gunung Kelud adalah bentuk balas dendam Lembu Sura.
Karena kehabisan harta, Manik Angkeran pergi sendiri ke Gunung Agung dan mencoba mencuri harta
dengan memotong ekor Naga Besukih. Namun, ia disambar api dan tubuhnya menjadi abu.
Sidhimantra memohon agar anaknya dihidupkan kembali. Naga Besukih setuju dengan syarat Manik
Angkeran harus tinggal di Bali dan belajar menjadi orang baik.
Untuk mencegah Manik Angkeran kembali ke Jawa, Sidhimantra membuat garis pemisah yang
kemudian berubah menjadi aliran air. Air tersebut akhirnya membentuk Selat Bali yang memisahkan
Pulau Bali dan Pulau Jawa.
18. Batu Golog (NTB)
Di Padamara, Nusa Tenggara Barat, hiduplah pasangan miskin, Amaq Lembain dan Inaq Lembain,
bersama dua anak mereka. Untuk mencukupi kebutuhan, mereka bekerja serabutan. Suatu hari, Inaq
Lembain mendapat pekerjaan menumbuk padi dan mendudukkan anak-anaknya di sebuah batu
ceper bernama Batu Golog.
Saat sibuk bekerja, anak-anaknya berteriak memanggil karena batu yang mereka duduki bergerak
naik. Namun, Inaq Lembain mengabaikan mereka. Lama-kelamaan, batu itu semakin tinggi hingga
anak-anaknya hampir tak terlihat. Saat menyadari hal itu, Inaq Lembain panik dan memohon
pertolongan.
Ia melempar selendangnya ke arah batu, hingga batu itu pecah menjadi tiga bagian. Namun, kedua
anaknya telah berubah menjadi burung. Sulung menjadi burung kekuwo dan bungsu menjadi burung
kelik. Inaq Lembain menyesal, tetapi tetap membawa dan merawat burung-burung itu.
Konon, tiga bagian Batu Golog yang pecah jatuh ke tiga daerah yang kini dikenal sebagai Desa
Gembong, Dasan Batu, dan Montong Teker.
Suatu hari, saat mereka berjalan-jalan di hutan, kakak-kakaknya sengaja meninggalkan Suri Ikun. Saat
tersesat, Suri Ikun dikepung oleh hantu-hantu yang ingin menggemukkannya sebelum dimakan. Ia
dikurung dalam gua tanpa jalan keluar.
Di dalam gua, Suri Ikun merawat dua burung yang sayapnya patah. Setelah sembuh, burung-burung
itu membalas kebaikannya dengan menyerang para hantu bersama teman-temannya. Suri Ikun pun
akhirnya bebas.
Burung-burung itu kemudian membawanya ke sebuah kerajaan, di mana ia menjadi raja yang adil
dan bijaksana hingga akhir hayatnya.
Malamnya, ia bermimpi bahwa patung itu memiliki kekuatan ajaib dan bisa mengabulkan
permintaan. Mereka pun menjadi kaya, tetapi tetap rendah hati dan suka menolong.
Suatu hari, seorang pencuri mencuri patung landak dan meminta air untuk desanya yang kekeringan.
Patung itu mengeluarkan air, tetapi pencuri tidak tahu cara menghentikannya. Akibatnya, air terus
mengalir dan menenggelamkan desanya, membentuk sungai yang kini dikenal sebagai Sungai
Landak.
Suatu hari, saat berburu, Ku Anyi menemukan sebutir telur dan sebatang bambu betung di hutan. Ia
membawa pulang benda-benda itu dan meletakkannya di dapur. Keesokan harinya, mereka terkejut
saat menemukan dua bayi di tempat telur dan bambu itu sebelumnya berada.
Bayi laki-laki mereka beri nama Jau Iru, dan bayi perempuan Lamlai Suri. Setelah Ku Anyi wafat, Jau
Iru menjadi pemimpin suku Dayak dan menjadi cikal bakal Kesultanan Bulungan. Nama Bulungan
berasal dari Bulu Tengon, yang berarti "bambu yang sesungguhnya".
Setelah kepergian Raja, Naga mulai bertindak semena-mena. Ia malas memerintah dan
menghamburkan harta kerajaan. Ia bahkan memeras rakyat dengan pajak yang besar. Buaya
berusaha menasihati kakaknya, tetapi Naga tak mengindahkannya. Akhirnya, Buaya marah dan
melawan Naga. Pertempuran besar pun terjadi di kerajaan.
Saat Raja kembali, ia terkejut melihat kedua putranya bertempur dan rakyatnya menderita. Dengan
penuh amarah, ia mengutuk Buaya menjadi seekor buaya untuk menjaga Pulau Mintin dari serangan
musuh. Naga pun dikutuk menjadi naga yang tinggal di Sungai Kapuas, bertugas menjaga agar sungai
itu tidak ditumbuhi cendawan bantilung.
Sejak saat itu, Pulau Mintin selalu dijaga oleh buaya, dan Sungai Kapuas dipercaya menjadi tempat
tinggal naga. Kutukan sang Raja menjadi legenda yang diceritakan turun-temurun di Kalimantan
Tengah.
Andung berhasil menjadi tabib terkenal dan bahkan menyembuhkan putri Raja Basiang
menggunakan kalung pemberian kakek. Sebagai balasannya, ia menikahi sang putri dan hidup dalam
kemewahan. Suatu hari, istrinya menginginkan buah kasturi dari Loksado, kampung halaman
Andung.
Saat tiba di Loksado, ibunya mengenalinya dan memanggilnya dengan penuh haru. Namun, Andung
merasa malu dan mengabaikan ibunya. Ibu Andung yang sedih berdoa, lalu tiba-tiba langit gelap dan
petir menyambar Andung, mengubahnya menjadi batu. Sejak saat itu, tempat itu dikenal sebagai
Gunung Batu Bangkai di Kalimantan Selatan.
24. Legenda Pesut Mahakam (Kalimantan Timur)
Dua kakak beradik diperintahkan ibu tiri mereka untuk mencari kayu bakar dan dilarang pulang
sebelum mendapatkannya. Setelah bekerja keras, mereka akhirnya mengumpulkan kayu, tetapi saat
pulang, mereka mendapati rumah kosong, ayah dan ibu tiri mereka telah pergi.
Mereka berusaha mencari orangtua mereka dan bertemu seorang kakek yang memberi tahu bahwa
ayah dan ibu tiri mereka menyeberangi sungai. Dengan bantuan kakek, mereka menyeberang dan
menemukan rumah baru orangtua mereka. Karena lapar, mereka memakan bubur yang ada di dapur.
Setelah makan, tubuh mereka terasa panas dan mereka berlari ke sungai untuk mendinginkan diri.
Saat ayah mereka pulang dan menyadari kehadiran anak-anaknya, ia melihat dua ekor ikan
menyemburkan air di sungai. Ibu tiri mereka tiba-tiba lenyap, dan sang ayah sadar bahwa istrinya
bukan manusia biasa. Sejak itu, ikan yang menyemburkan air di Sungai Mahakam disebut Pesut
Mahakam.
Kabar tentang burung Kekekow menyebar, membuat warga desa iri. Kepala desa memerintahkan
warga menangkap burung itu, berharap bisa mendapatkan kekayaan. Namun, burung Kekekow
menolak menuruti permintaan mereka dan akhirnya mati dalam kurungan.
Kakak beradik itu menguburkan Kekekow di halaman rumah mereka. Ajaibnya, dari kuburan itu
tumbuh pohon besar yang berbuah sepanjang tahun dengan berbagai jenis buah. Dari hasil menjual
buah-buahan itu, mereka hidup berkecukupan. Meskipun sudah mati, burung Kekekow tetap
membantu mereka dengan cara yang berbeda.
Keesokan harinya, suami pergi ke hutan tetapi malah bermalas-malasan dan tidur. Hal ini terjadi
berulang kali hingga istrinya curiga dan diam-diam mengikutinya. Ketika melihat suaminya hanya
bermalas-malasan, ia kecewa dan menangis. Saat suami marah dan meninggalkannya, sang istri
berjalan tanpa arah hingga tiba di sebuah telaga.
Karena terpeleset, sang istri jatuh ke telaga dan perlahan berubah menjadi pohon sagu. Saat anaknya
datang bersama sang ayah dan melihat kejadian itu, ia panik dan menceburkan diri ke telaga. Ajaib,
ia pun berubah menjadi pohon aren. Sang ayah hanya bisa menyesal dan menangis atas kelalaiannya.
Saat pulang, La Upe menceritakan kejadian itu kepada I Ruga, tetapi ia malah dimarahi. Dengan
kekuatan barunya, La Upe membuat tubuh I Ruga menempel di pintu. Ketakutan, I Ruga berjanji
untuk berubah, dan La Upe membebaskannya.
Bertahun-tahun kemudian, La Upe jatuh cinta pada putri raja, tetapi lamarannya ditolak karena ia
bukan bangsawan. Ia pun menggunakan kekuatannya untuk melekatkan sang putri ke pintu istana.
Raja mengadakan sayembara untuk menyelamatkan putrinya, dan La Upe berhasil melepaskannya
dengan mantra raja ikan.
Karena keajaiban itu, La Upe diizinkan menikahi sang putri. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi
raja, menggantikan ayah mertuanya.
Suatu hari, La Sirimbone menangkap ikan, tetapi ada jin memakannya. Sebagai ganti, jin itu
memberinya cincin ajaib yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dalam perjalanan pulang, ia
mendapat kalung ajaib dari babi hutan yang memungkinkannya berjalan di atas air, serta keris ajaib
dari seorang nelayan yang bisa menikam sendiri.
Dengan ketiga benda ajaib itu, La Sirimbone membantu banyak orang, termasuk menyembuhkan
yang sakit dan melawan naga jahat. Setelah berpamitan dengan raksasa, ia melanjutkan
perjalanannya untuk menolong lebih banyak orang di berbagai tempat.
Ia membentuk dan melatih Pasukan Berani Mati, yang juga membantu penduduk wilayah barat dan
utara. Karena kebaikannya, rakyat mulai mencintainya.
Saat menghadiri pertemuan pendekar yang dipimpin Hemuto, Limonu menantangnya. Duel pun
terjadi di Benteng Otanaha. Berkat kehebatannya dan usianya yang lebih muda, Limonu
mengalahkan Hemuto, yang akhirnya menyerahkan kembali wilayah barat kepadanya.
Siti Rukiah selama ini dipaksa saudara-saudaranya menutupi kecantikannya dengan bedak arang.
Setelah menikah, saat mencuci wajahnya, arang itu hilang, memperlihatkan kecantikannya yang
sesungguhnya.
Sementara itu, I Tui Tuing yang pergi menangkap ikan kembali dalam wujud seorang pria tampan,
sisiknya lenyap karena ketulusan hati Siti Rukiah. Mereka pun menyadari keajaiban cinta mereka dan
hidup bahagia bersama.
Tak tahan dengan perlakuan Binaut, sang Ratu beserta kedua anaknya meninggalkan istana dan
hidup dalam pengasingan. Sementara itu, rakyat semakin menderita. Seorang pelayan istana
bernama Bijak berencana melawan Binaut, tetapi Ratu dan keluarganya melarangnya mencelakai
Binaut.
Hingga suatu hari, gunung meletus dan lahar panas mengalir ke arah istana. Binaut berusaha
melarikan diri, tetapi lahar terus mengejarnya. Sebelum akhirnya tersapu lahar, ia sempat menyesali
perbuatannya dan meminta maaf. Tubuhnya terdampar di sebuah tanjung, yang kemudian disebut
Tanjung Menangis, karena konon masih terdengar suara tangisannya.
Suatu hari, mereka ingin merebut wilayah indah milik kelomang dan menantang pemimpin kelomang
untuk lomba lari. Meski kecil dan lambat, kelomang memiliki akal cerdik. Diam-diam, ia menyusun
strategi dengan sepuluh temannya, yang bersembunyi di setiap perhentian perlombaan.
Saat lomba dimulai, rusa berlari cepat dan terus mengolok kelomang. Namun, setiap tiba di
perhentian, selalu ada kelomang yang sudah lebih dulu sampai. Rusa terkejut dan terus berlari lebih
cepat, tetapi kelomang selalu unggul. Akhirnya, kelomang memenangkan lomba, dan rusa pun
mengakui kekalahannya.
Karena malu, rusa mengembalikan semua wilayah yang direbutnya. Sejak saat itu, hutan kembali
damai, dan tak ada yang membocorkan rahasia kemenangan kelomang.
Dara Makota mengusulkan lomba terbang untuk mengajarkan Kasuari pelajaran. Jika Kasuari kalah, ia
harus berhenti mencurangi burung lain. Meski diragukan karena tubuhnya kecil, Dara Makota tetap
menantang Kasuari.
Saat lomba dimulai, Kasuari terbang cepat sambil mengejek Dara Makota. Namun, karena terlalu
asyik menoleh ke belakang, ia menabrak pohon hingga sayapnya patah. Kasuari jatuh dan tak bisa
terbang lagi, sementara Dara Makota terus melesat jauh.
Kasuari akhirnya sadar akan kesalahannya dan malu karena telah mencurangi burung lain. Sejak saat
itu, ia berubah menjadi lebih baik, tetapi tak bisa terbang lagi dan hanya mencari makan di tanah.
Suatu hari, ia memergoki makhluk bernama Sampan yang mencuri air niranya. Sebagai balasan
karena telah dibebaskan, Sampan memberi petunjuk agar Mananamakrdi melemparkan biji
bitanggur kepada seorang gadis di pantai. Gadis itu, Insoraki, anak kepala suku, jatuh cinta dan
menikah dengannya.
Namun, penduduk desa tak tahan dengan kudis Mananamakrdi dan pergi meninggalkan kampung.
Sedih, ia hendak membakar diri, tetapi Insoraki mencegahnya. Keajaiban terjadi, kudisnya hilang
karena ketulusan cinta Insoraki.
Mereka pun berlayar hingga tiba di Mandori, dekat Manokwari. Saat fajar menyingsing, putra
mereka, Konori, berteriak, "Irian... irian..." yang berarti panas. Insoraki menjelaskan bahwa panas
matahari pagi menunjukkan tanah yang indah. Sejak itu, wilayah tersebut disebut Irian.
Baca juga:
10 Contoh Cerita Legenda Berbagai Daerah yang Populer dan Pesan Moralnya
Demikianlah cerita rakyat pendek lengkap dari seluruh daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga
Papua. Semoga bermanfaat!
(sto/apu)
jog
cerita rakyat pendek
cerita rakyat yang menarik
cerita rakyat indonesia
contoh cerita rakyat
ringkasan cerita rakyat pendek
Berita Terkait
Jauwiru dan Suri Lemlay, Asal-usul Lahirnya Raja-raja Bulungan
5 Cerita Rakyat Bangka Belitung, dari Kisah Pahlawan-Legenda Pulau
10 Cerita Rakyat Jawa Tengah dan Pesan Moralnya: Legenda Aji Saka-Timun Mas
3 Cerita Rakyat Minangkabau dalam Bahasa Indonesia
10 Pahlawan Nasional dari Zaman Kerajaan Islam-Pendudukan Belanda, Ini Jasa-jasanya
Dongeng Jawa Timur, Pelajaran Hidup dari Cerita Rakyat
5 Dongeng Asal Jawa Barat Paling Populer dan Kisah Legenda di Baliknya
Berita detikcom Lainnya
detikHot
Sikap Manajemen Usai Denada Digugat Rp 7 M soal Dugaan Penelantaran Anak
detikOto
Jangan Sampai Salah! Begini Cara Hitung Pajak Tahunan Mobil dan Motor
Wolipop
Ramalan Zodiak 12 Januari: Libra Lebih Serius, Scorpio Tetap Waspada
detikTravel
Terpopuler: Mengapa Ada Patung Pemakan Manusia di Pintu Utara GBK?
Sepakbola
Usai Persib Sikat Persija, Thom Haye Ungkap Keluarganya Diteror
detikFood
Pose Gemas Echa Aura Saat Jajan Kuaci dan Es Krim yang Tarik Perhatian
detikNews
Sejumlah Titik Tol Mengarah ke Jakarta Macet Parah
Loker Jogja
Trans Hotel Jakarta Buka Lowongan, Walk In Interview 9-10 Januari
Senin, 05 Jan 2026 11:21 WIB
Ada Job Fair Disnakertrans DIY 17-18 September 2025, Ini Tata Cara Daftarnya!
Selasa, 16 Sep 2025 15:15 WIB
Pemkot Jogja Buka Lowongan Web Content Creator, Simak Gaji dan Syaratnya!
Rabu, 13 Agu 2025 17:46 WIB
Lihat Selengkapnya
Komentar Terbanyak
49
Komentar
Tersangka Ijazah Palsu Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis Sowan ke Rumah Jokowi
28
Komentar
Momen Pelukan Erat Jokowi-2 Tersangka Tudingan Ijazah Palsu di Solo
13
Komentar
BNN Bongkar Dapur Happy Water Saset-Vape Etomidate di Ancol
Lapor Dab
Viral Lubang Jalan di Pengasih Kulon Progo Bikin Ban-Pelek Ambyar
Jumat, 02 Jan 2026 10:46 WIB
Warga Girimulyo Patungan Cor Jalan Rusak Menahun Buntut Sering Bikin Gasruk
Kamis, 11 Des 2025 16:43 WIB
Rekayasa di Bangjo Brigjen Katamso Jogja Dikeluhkan Bikin Macet
Kamis, 30 Okt 2025 17:11 WIB
Lihat Selengkapnya
Info JOG
Info Dab! Ini Sederet Acara Perayaan Malam Tahun Baru di Bantul
Selasa, 30 Des 2025 15:41 WIB
Catat Dab! Ini Rekayasa Lalin ke Obelix-Pantai Drini Selama Libur Nataru
Selasa, 16 Des 2025 19:52 WIB
Ini Rekayasa Lalin ke Parangtritis-Mangunan Selama Libur Nataru
Selasa, 16 Des 2025 13:25 WIB
Lihat Selengkapnya
Berita Terpopuler
#1
Ramalan Shio Hari Ini 12 Januari 2026, Cek Siapa yang Hoki dan Rugi
#2
Prediksi Susunan Pemain PSBS Biak Vs Bhayangkara FC Sore Ini
#3
Harga Emas Hari Ini di Jogja 12 Januari 2026: LM Meroket Tajam di Awal Pekan!
#4
Pieter Huistra Jawab Rumor Gustavo Franca Merapat ke PSS Sleman
#5
5 Rekomendasi Roti Sisir di Jogja, Cocok Jadi Oleh-oleh yang Mengenyangkan
Lihat Selengkapnya
part of
Connect With Us
detikEdukasi
detikFinance
detikInet
detikHot
detikSport
Sepakbola
detikOto
detikProperti
detikTravel
detikFood
detikHealth
Wolipop
detikX
20Detik
detikFoto
detikHikmah
detikPop
Layanan
[Link]
Pasang Mata
Adsmart
detikEvent
Signature Awards
Trans Snow World
Trans Studio
[Link]
[Link]
Flying Over Indonesia
For Your Business
rekomendit
Community Connect
Informasi
Redaksi
Pedoman Media Siber
Karir
Kotak Pos
Media Partner
Info Iklan
Privacy Policy
Disclaimer
Jaringan Media
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Haibunda
Insertlive
Beautynesia
Female Daily
CXO Media
Hide Ads
Baca artikel detikjogja, "34 Cerita Rakyat Pendek Lengkap dari Seluruh Daerah Indonesia"
selengkapnya [Link]
dari-seluruh-daerah-indonesia.