1.
Tools / Instrumen
Kuesioner: digunakan untuk mengukur persepsi konsumen terhadap tingkat kepentingan
(importance) dan kinerja (performance) dari masing-masing atribut bauran pemasaran
(7P) yang terkait dengan elemen BMC sisi konsumen (customer segments, value
propositions, customer relationships, channels).
Skala Likert: untuk menilai skor kepentingan dan kinerja.
Diagram Kartesius IPA: memetakan atribut ke dalam 4 kuadran:
Concentrate Here → atribut penting tapi kinerjanya rendah.
Keep Up The Good Work → atribut penting dan kinerjanya baik.
Low Priority → atribut kurang penting dan kinerjanya rendah.
Possible Overkill → atribut kurang penting tapi kinerjanya tinggi.
Rumus Perhitungan Rata-rata:
∑X ∑Y
X́ = , Ý =
n n
untuk menghitung titik perpotongan sumbu kinerja (X) dan kepentingan (Y).
2. VARIABEL
variabel dalam analisis Importance Performance Analysis (IPA) disusun berdasarkan
dimensi bauran pemasaran (7P). Dimensi produk mencakup variasi menu, cita rasa
makanan dan minuman, kesesuaian menu dengan pesanan, serta inovasi menu. Dimensi
harga meliputi harga produk, paket hemat, dan potongan harga atau promo. Sedangkan
dimensi tempat/lokasi terdiri dari kenyamanan tempat, sarana parkir, dan kemudahan
akses lokasi. Dimensi promosi mencakup pencantuman nama atau logo restoran dan
pemilihan media iklan yang digunakan. Dimensi orang/people meliputi keramahan,
kesopanan, perhatian pramusaji, penanganan keluhan, kemampuan komunikasi,
kesigapan, dan penampilan pramusaji. Dimensi proses terdiri dari kemudahan
pembayaran dan kecepatan penyajian. Terakhir, dimensi bukti fisik/physical evidence
mencakup fasilitas restoran, kenyamanan, keamanan, penerangan, serta kebersihan dan
kerapihan restoran. Semua variabel ini diukur melalui kuesioner IPA untuk menilai
tingkat kepentingan dan kinerja dari perspektif konsumen, sehingga dapat
mengidentifikasi atribut yang perlu diperbaiki dan diprioritaskan dalam strategi
peningkatan kinerja restoran.
3. Variabel Output / Dependen
Kinerja Bisnis: diukur dari persepsi konsumen terhadap bagaimana restoran memenuhi
harapan pelanggan pada masing-masing atribut
4. Penjabaran IPA
IPA menghubungkan variabel kepentingan dan kinerja untuk memetakan
atribut prioritas perbaikan.
Atribut dengan kepentingan tinggi tetapi kinerja rendah (kuadran 1) menjadi fokus
strategi peningkatan.
Hasil IPA digunakan sebagai input analisis IFE untuk mengidentifikasi kelemahan
internal restoran dari perspektif konsumen.
5. TOOLS BMC
Alat yang digunakan adalah Business Model Canvas (BMC) yang dikembangkan oleh
Osterwalder dan Pigneur (2012). Dalam penelitian ini, BMC digunakan untuk
memetakan model bisnis restoran Pakis Hill Puncak dari sisi konsumen (right-hand side)
secara sistematis, sehingga dapat mengidentifikasi bagaimana restoran menciptakan,
menyampaikan, dan menangkap nilai dari perspektif pelanggan. Data dikumpulkan
melalui wawancara dengan pihak internal restoran dan respon konsumen, kemudian
dianalisis secara deskriptif.
6. Variabel / Elemen yang dianalisis
Fokus penelitian pada empat elemen BMC sisi pelanggan, yaitu:
Customer Segments – Segmen pelanggan yang menjadi target restoran, termasuk
karakteristik demografis, psikografis, dan preferensi konsumen.
Value Propositions – Nilai atau manfaat yang ditawarkan restoran kepada
pelanggan, misalnya kualitas menu, pengalaman bersantap, dan keunikan restoran.
Channels – Saluran distribusi dan komunikasi yang digunakan restoran untuk
menjangkau pelanggan, baik secara fisik maupun digital.
Customer Relationships – Bentuk interaksi dan hubungan antara restoran dengan
pelanggan, termasuk layanan pelanggan, komunikasi, dan upaya mempertahankan
loyalitas konsumen.
Setiap elemen dianalisis untuk menilai kesesuaian antara nilai yang ditawarkan
restoran dengan kebutuhan dan harapan konsumen, efektivitas saluran yang
digunakan, serta kualitas hubungan dengan pelanggan. Hasil analisis ini kemudian
digunakan sebagai dasar dalam menyusun strategi pengembangan bisnis dan peningkatan
kinerja restoran.
7. MATRIKS
Internal Factor Evaluation (IFE) – digunakan untuk menganalisis kekuatan dan
kelemahan internal perusahaan.
External Factor Evaluation (EFE) – digunakan untuk menganalisis peluang dan
ancaman dari lingkungan eksternal.
Matriks IE (Internal–External) – digunakan untuk memetakan posisi strategis
perusahaan berdasarkan skor total IFE dan EFE, yang selanjutnya menentukan strategi
yang sesuai.
8. VARIABEL
Variabel / Faktor yang dianalisis:
1. IFE – Faktor Internal (Kekuatan dan Kelemahan)
o Produk: Diferensiasi menu dibanding pesaing.
o Harga: Harga kompetitif dibanding restoran lain.
o Promosi: Keunggulan promosi dan branding.
o Lokasi: Strategis dibanding pesaing.
o Pelayanan: Kecepatan dan keramahan layanan dibanding pesaing.
o Inovasi: Kemampuan mengikuti tren dan inovasi kuliner.
Penilaian: Setiap faktor diberi bobot (0–1) sesuai kepentingannya dan rating (1–4) untuk
menentukan skor tertimbang. Skor total IFE menunjukkan kekuatan atau kelemahan
internal perusahaan.
2. EFE – Faktor Eksternal (Peluang dan Ancaman)
o Tren Kunci: Regulasi, teknologi, sosio-ekonomi, masyarakat, dan budaya.
o Kekuatan Pasar: Segmen pasar, kebutuhan dan permintaan, biaya berpindah,
daya tarik pendapatan.
o Kekuatan Industri: Pesaing, pemasok, pemangku kepentingan, pendatang
baru, produk pengganti.
o Kekuatan Ekonomi Makro: Kondisi pasar global, pasar modal, komoditas,
infrastruktur ekonomi.
Penilaian: Setiap faktor diberi bobot (0–1) dan rating (1–4). Peluang idealnya memiliki
rating tinggi (3–4), ancaman diberi rating rendah (1–2). Skor total EFE menunjukkan
seberapa baik perusahaan merespons lingkungan eksternal.
3. Matriks IE (Internal–External)
o Mengombinasikan skor total IFE dan EFE untuk memetakan posisi strategis
ke dalam sembilan sel strategi.
o Klasifikasi strategi:
Tumbuh dan membangun (Growth Strategy)
Menjaga dan mempertahankan (Hold Strategy)
Panen atau divestasi (Harvest/Divest Strategy)