LAPORAN PENDAHULUAN: DIABETES MELLITUS (DM)
1. Konsep Dasar Penyakit
1.1 Definisi
Diabetes Mellitus adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan
hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin, atau kedua-duanya. Secara kronis, kondisi ini berhubungan dengan
kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan berbagai organ, terutama mata,
ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah.
1.2 Klasifikasi (ADA, 2024)
Tipe 1: Destruksi sel beta pankreas, biasanya menyebabkan defisiensi insulin absolut
(Autoimun atau Idiopatik).
Tipe 2: Penurunan sekresi insulin progresif yang berlatar belakang resistensi insulin.
DM Gestasional: Diabetes yang didiagnosis pada trimester kedua atau ketiga
kehamilan. Tipe Spesifik Lain: Akibat sindrom diabetes monogenik (MODY),
penyakit eksokrin pankreas (fibrosis kistik), atau akibat obat/zat kimia.
1.3 Etiologi
DM Tipe 1: Faktor genetik, faktor imunologi (respon autoimun), dan faktor
lingkungan (virus atau toksin tertentu).
DM Tipe 2: Obesitas, gaya hidup sedenter (kurang gerak), pola makan buruk, usia,
dan faktor herediter (keturunan).
2. Patofisiologi dan Pathway
Patofisiologi
Pada DM Tipe 1, sistem imun menyerang sel beta pankreas sehingga produksi insulin
berhenti.
Pada DM Tipe 2, sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif (resistensi
insulin), memaksa pankreas memproduksi lebih banyak insulin hingga akhirnya
kelelahan dan gagal. Tanpa insulin, glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan
menumpuk di pembuluh darah. Hal ini menyebabkan sel "kelaparan", yang memicu
pemecahan lemak dan protein (menyebabkan penurunan berat badan) dan
peningkatan produksi glukosa oleh hati.
2.2 Pathway (Penyimpangan KDH)
Kurangnya Insulin \rightarrow Glukosa tidak masuk sel \rightarrow Hiperglikemia \
rightarrow Diuresis Osmotik \rightarrow Poliuria (Sering kencing). Poliuria \
rightarrow Dehidrasi sel \rightarrow Merangsang pusat haus \rightarrow Polidipsia
(Sering haus). Defisit Glukosa Intrasel \rightarrow Pemecahan protein/lemak \
rightarrow Merangsang lapar \rightarrow Polifagia (Sering lapar).
3. Manifestasi Klinis
Gejala khas yang sering disebut Trias DM: Poliuria: Peningkatan frekuensi buang air
kecil. Polidipsia: Peningkatan rasa haus yang ekstrem. Polifagia: Peningkatan nafsu
makan namun berat badan menurun. Gejala tambahan: Pandangan kabur. Luka yang
sulit sembuh. Kesemutan (neuropati). Lemas dan cepat lelah. Gatal-gatal (pruritus).
4. Pemeriksaan Penunjang
5. Penatalaksanaan Medis (5 Pilar DM)
Edukasi: Pemahaman pasien tentang penyakit.
Terapi Nutrisi Medis (Diet): Pengaturan kalori (J1: Jadwal, J2: Jumlah, J3: Jenis).
Jasmani (Olahraga): Jalan kaki atau senam 3-5 kali seminggu selama 30 menit.
Farmakologi: Obat Anti Hiperglikemik Oral (OHO) atau Insulin.
Monitoring Gula Darah Mandiri (MGDM).
6. Komplikasi
Akut: Hipoglikemia, Ketoasidosis Diabetik (KAD), Hyperosmolar Hyperglycemic
State (HHS).
Kronis (Mikrovaskular): Retinopati (mata), Nefropati (ginjal), Neuropati (saraf).
Kronis (Makrovaskular): Penyakit Jantung Koroner, Stroke, Penyakit Arteri Perifer
(Ulkus Diabetikum).
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Riwayat Kesehatan: Keluhan utama, riwayat keluarga, pola makan.
Pemeriksaan Fisik: Tekanan darah, berat badan, kondisi kulit (integritas),
pemeriksaan kaki (pedis).
Psikososial: Kecemasan terhadap penyakit kronis.
2. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah b.d disfungsi pankreas / resistensi insulin.
Defisit Nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien.
Hipovolemia b.d diuresis osmotik.
Gangguan Integritas Kulit b.d perubahan sirkulasi dan neuropati.
3. Intervensi (SIKI)
Manajemen Hiperglikemia: Monitor kadar gula darah, monitor tanda gejala poliuria,
berikan asupan cairan, kolaborasi pemberian insulin.
Edukasi Diet: Jelaskan tujuan diet, ajarkan cara menghitung kalori.
Perawatan Kaki: Ajarkan pasien untuk tidak bertelanjang kaki dan memeriksa luka
setiap hari.
Pencegahan Diabetes Mellitus (DM) dibagi menjadi tiga tingkatan utama: Primer
(mencegah munculnya penyakit), Sekunder (deteksi dini dan mencegah komplikasi),
dan Tersier (rehabilitasi dan mencegah kecacatan).
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai langkah-langkah pencegahan tersebut
yang dapat Anda masukkan ke dalam laporan:
1. Pencegahan Primer (Target: Orang Sehat & Kelompok Risiko)
Pencegahan ini bertujuan agar masyarakat yang sehat atau memiliki faktor risiko
(seperti obesitas atau riwayat keluarga) tidak jatuh ke kondisi DM.
A. Pola Makan Sehat (Diet Seimbang)
Mengurangi Karbohidrat Sederhana: Membatasi konsumsi gula pasir, sirup, dan
tepung-tepungan yang cepat menaikkan gula darah.
Meningkatkan Konsumsi Serat: Memperbanyak sayuran dan buah-buahan. Serat
membantu memperlambat penyerapan gula dalam darah.
Pengaturan Porsi: Menggunakan metode "Piring T": Setengah piring sayuran,
seperempat protein, dan seperempat karbohidrat kompleks (nasi merah atau gandum).
B. Aktivitas Fisik
Rutin Olahraga membantu sel-sel tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin
(mengurangi resistensi insulin).
Rekomendasi: Minimal 150 menit per minggu (misalnya jalan cepat 30 menit sehari
selama 5 hari).
C. Menjaga Berat Badan Ideal Obesitas adalah faktor risiko utama DM Tipe 2 karena
lemak perut (viseral) menghasilkan zat kimia yang menghambat kerja insulin. Target:
Menjaga Indeks Massa Tubuh (IMT) di rentang normal (18,5 - 22,9 kg/m^2 untuk
standar Asia).
2. Pencegahan Sekunder (Target: Pasien yang Baru Terdiagnosa)
Pencegahan ini berfokus pada deteksi dini dan pengobatan segera agar penyakit tidak
semakin parah dan tidak menimbulkan komplikasi awal.
Skrining Rutin: Melakukan cek gula darah minimal 6 bulan sekali bagi orang berusia
di atas 40 tahun atau mereka yang memiliki faktor risiko (obesitas, hipertensi).
Kepatuhan Konsumsi Obat: Bagi yang sudah terdiagnosa Pre-Diabetes atau DM tahp
awal, mengonsumsi obat seperti Metformin (jika diresepkan) sangat penting untuk
menjaga stabilitas glukosa.
Edukasi Pengelolaan Mandiri: Pasien diajarkan cara memantau gula darah sendiri di
rumah menggunakan glukometer.
3. Pencegahan Tersier (Target: Pasien dengan Komplikasi)
Tujuannya adalah mencegah kecacatan lebih lanjut, kegagalan organ, atau kematian
dini.
Perawatan Kaki Diabetik: Mencegah luka kecil menjadi gangren (pembusukan) yang
berakhir pada amputasi. Edukasi: Selalu gunakan alas kaki, jangan memotong kuku
terlalu dalam, dan periksa sela-sela jari setiap hari. Pemeriksaan Mata Berkala:
Melakukan skrining funduskopi setahun sekali untuk mencegah kebutaan akibat
Retinopati Diabetik. Kontrol Tekanan Darah dan Kolesterol: Pasien DM sering
meninggal karena serangan jantung atau stroke, sehingga mengontrol tensi (\leq
130/80 mmHg) sangat krusial. Rehabilitasi Medis: Latihan jasmani khusus bagi
pasien yang sudah memiliki keterbatasan fisik akibat komplikasi.
4. Pencegahan Berdasarkan Gaya Hidup (CERDIK)
Di Indonesia, Kemenkes mengampanyekan perilaku CERDIK untuk mencegah
penyakit tidak menular termasuk DM:
Cek kesehatan secara rutin. Enyahkan asap rokok.
Rajin aktivitas fisik. Diet seimbang. Istirahat cukup. Kelola stres.
Pola hidup sehat bagi penyandang Diabetes Mellitus (DM) sering disebut dengan
istilah "Self-Management".
Tujuannya bukan hanya untuk menurunkan gula darah, tetapi menjaga agar kadar
gula tetap stabil (mencegah lonjakan dan anjloknya gula secara drastis) guna
menghindari komplikasi.
Berikut adalah panduan cara hidup sehat yang mendalam untuk dimasukkan ke dalam
laporan Anda:
1. Manajemen Nutrisi (Pola Makan J1, J2, J3)
Prinsip utama diet DM di Indonesia menggunakan rumus 3J yang sangat disiplin: J1
(Jadwal): Makan harus dilakukan tepat waktu untuk menyesuaikan dengan ritme
sekresi insulin atau kerja obat. Biasanya terdiri dari 3 makan besar dan 2-3 selingan
(snack) kecil.
J2 (Jumlah): Kalori disesuaikan dengan berat badan, usia, dan aktivitas fisik. Hindari
makan berlebihan meski itu makanan sehat.
J3 (Jenis): Fokus pada makanan dengan Indeks Glikemik (IG) Rendah. Pilih:
Karbohidrat kompleks (nasi merah, gandum, ubi), protein tanpa lemak (ikan, tempe,
tahu), dan sayuran hijau tinggi serat. Hindari: Gula pasir, madu, susu kental manis,
buah kaleng, dan gorengan.
2. Aktivitas Fisik Terukur
Olahraga bagi pasien DM bukan sekadar membakar kalori, tapi meningkatkan
sensitivitas reseptor insulin.
Jenis: Olahraga aerobik seperti jalan cepat, bersepeda statis, berenang, atau senam
kaki diabetes.
Durasi: 30–45 menit per sesi, minimal 3–5 kali seminggu.
Penting: Selalu cek gula darah sebelum olahraga. Jika gula darah < 100 mg/dL,
konsumsi camilan kecil dulu untuk mencegah hipoglikemia (gula darah drop) saat
beraktivitas.
3. Perawatan Kaki (Foot Care) mandiri Ini adalah bagian krusial karena luka kecil
pada orang DM bisa berujung amputasi (Ulkus Diabetikum).
Periksa Setiap Hari: Gunakan cermin untuk melihat telapak kaki, pastikan tidak ada
lecet, kemerahan, atau pecah-pecah.
Kebersihan: Cuci kaki dengan air hangat (cek suhu air dengan sikut, jangan kaki
langsung) dan sabun lembut. Keringkan hingga ke sela-sela jari.
Proteksi: Jangan pernah bertelanjang kaki, bahkan di dalam rumah. Gunakan kaus
kaki yang tidak terlalu ketat dan sepatu yang ukurannya pas.
4. Monitoring Gula Darah Mandiri (MGDM)
Pasien harus memiliki alat glukometer di rumah untuk memantau fluktuasi gula darah
secara harian. Catat hasil pemeriksaan dalam buku harian (Logbook). Lakukan
pemeriksaan terutama saat merasa lemas, pusing, atau setelah mencoba jenis makanan
baru.
5. Manajemen Stres dan Istirahat Saat stres, tubuh melepaskan hormon Kortisol dan
Adrenalin. Hormon-hormon ini bekerja berlawanan dengan insulin dan menyebabkan
gula darah melonjak (hiperglikemia). Pastikan tidur 7–8 jam sehari. Kurang tidur
dapat mengganggu metabolisme glukosa. Lakukan teknik relaksasi seperti napas
dalam atau meditasi.
6. Kepatuhan Terapi Farmakologi Minum obat atau suntik insulin sesuai dosis dan
waktu yang ditentukan dokter. Jangan pernah menghentikan obat hanya karena
merasa badan sudah enak, karena DM adalah penyakit kronis yang memerlukan
kontrol jangka panjang. Contoh Tabel Rencana Aktivitas Harian Orang DM: