Lippo Thamrin Lt.
7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
PRICE PATTERN
Pattern artinya pola. Dengan demikian, price pattern artinya lebih kurang adalah pola yang
muncul dari pergerakan harga. Inilah implementasi dari salah satu prinsip dasar analisis
teknikal yang berbunyi history repeats itself (sejarah selalu berulang). Ternyata, dari masa ke
masa para trader menyadari bahwa pergerakan harga membentuk pola-pola tertentu yang
cenderung berulang. Berdasarkan “pengalaman sejarah” itulah maka para trader di kemudian
bisa memperkirakan pergerakan harga selanjutnya ketika sebuah pola muncul.
Pada dasarnya ada dua jenis pattern, yaitu reversal pattern dan continuation pattern.
Reversal pattern adalah suatu pola yang mengisyaratkan akan adalanya “pembalikan” arah
tren. Jika pada saat uptrend atau downtrend kemudian pola ini muncul, maka diperkirakan
harga akan bergerak berlawanan dengan arah tren sebelumnya.
Continuation pattern merupakan pola yang memberikan indikasi bahwa harga akan cenderung
meneruskan pergerakan sesuai dengan tren sebelumnya. Misalnya, kalau pola ini muncul pada
saat uptrend maka setelah pola ini “terkonfirmasi” maka harga cenderung akan bergerak naik
meneruskan uptrend tersebut. Demikian pula jika pola ini muncul pada saat downtrend, maka
harga pun akan cenderung akan turun meneruskan downtrend tadi.
Kita akan memulai pembahasan kita dari reversal pattern terlebih dahulu.
Reversal Pattern
a. Double Top & Double Bottom
Anda akan memahami kata “top” sebagai “puncak” dan “bottom” sebagai “lembah”. Dengan
demikian, “double top” artinya adalah “dua puncak” sedangkan “Double bottom” artinya
adalah “dua lembah”.
Pola double top dan Double bottom memang terlihat seperti dua puncak dan dua lembah yang
berdampingan. Kedua pola ini cukup mudah dikenali dan juga memiliki akurasi yang cukup
tinggi.
1
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
Gambar di atas adalah ilustrasi dari pola double top. Pola ini biasanya muncul di ujung uptrend
dan memiliki indikasi bearish. Perhatikan bahwa ada enam titik yang ditandai pada gambar
tersebut. Anda bisa mengatakan bahwa ada potensi akan terbentuk pola double top jika harga
telah bergerak turun dari titik (3). Ingat, baru potensi. Ketika titik (4) tembus, barulah Anda
bisa mengatakan bahwa pola double top sudah terbentuk, dengan kata lain: “terkonfirmasi”.
Perhatikan pula bahwa konfirmasi double top ini sebenarnya adalah tembusnya garis ”base”.
Jika pola tersebut sudah ter-“konfirmasi”, maka pergerakan harga selanjutnya adalah potensial
bearish. Gambar panah menunjukkan potensi jauhnya potensi bearish yang mungkin terjadi.
Jarak yang mungkin akan ditempuh pergerakan harga adalah sejauh level puncak ke base. Jadi
jika misalnya jarak antara level puncak ke base adalah 100 pips, maka harga akan berpotensi
turun 100 pips juga setelah base ditembus.
Namun ada kalanya pullback akan terjadi kembali ke area base sebelum target pergerakan
bearish tecapai. Biasanya, pullback berpotensi akan terjadi ketika harga sudah “setengah jalan”
menuju target. Jika seandainya target pergerakan adalah 100 pips, maka biasanya pullback
akan berpotensi terjadi ketika harga sudah turun sekitar 50 – 60 pips setelah base tembus.
Namun jika pullback yang terjadi “kebablasan” hingga tembus lagi ke atas base, maka pola ini
dikatakan sudah tidak valid lagi atau fail (gagal).
Double bottom secara sederhana adalah kebalikan dari double top. Pola ini biasa muncul di
ujung downtrend dan memiliki indikasi bullish. Ketika base tembus dan pola ini terkonfirmasi,
maka harga berpotensi bullish, cara memperkirakan target peregerakan bullish-nya sama persis
dengan double top, hanya saja arahnya ke atas. Double bottom dikatakan fail jika pullback yang
terjadi berlanjut hingga tembus kembali ke bawah base.
b. Triple Top & Triple Bottom
Kedua pola ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan double top dan Double bottom. Hanya
saja, triple top memiliki tiga puncak dan triple bottom memiliki tiga lembah. Cara mengenali
konfirmasinya pun sama, yaitu tembusnya garis base. Demikian juga dengan cara
memperkirakan target pergerakan setelah pola tersebut terkonfirmasi.
2
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
Di bawah ini adalah ilustrasi dari triple top dan triple bottom.
Dari kedua gambar di atas terlihat bahwa ada kemungkinan pullback akan terjadi ke base dari
titik (7), namun perlu diingat bahwa pullback semacam ini (meskipun cukup sering) tidak
selalu terjadi. Selalu, jika base tembus lagi pada saat pullback.
Catatan: ketiga titik lembah atau puncak tidak harus berada pada level yang sama persis,
namun perbedaannya juga tidak boleh terlalu signifikan. Dengan kata lain, jika dilihat sekilas,
ketiga titik lembah tersebut terlihat selevel. Demikian juga pada pola double top dan Double
bottom, level puncak dan lembahnya tidak harus sama persis.
c. Head and Shoulders & Inverse Head and Shoulders
Pola ini juga merupakan pola reversal yang cukup populer karena akurasinya yang cukup
tinggi. Dinamakan head and shoulders karena memang bentuk polanya seolah-olah
membentuk kepala dan bahu. Terkadang pola ini sering di-“salah persepsikan” sebagai triple
top atau triple bottom, namun ada faktor kunci yang membedakan pola ini dengan triple top
atau triple bottom.
Mari kita perhatikan pola dasar head and shoulders di bawah ini:
3
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
Kalau Anda perhatikan dengan seksama, terlihat bahwa titik (3) pola ini lebih tinggi daripada
titik (1) dan (5). Pada pola triple top, ketiga titik ini cenderung selevel. Titik puncak yang lebih
tinggi itulah yang menjadi head-nya, sementara titik (1) dan (5) adalah titik shoulders-nya.
Pola head and shoulders ini menjadi pola reversal bearish jika muncul di ujung sebuah
uptrend. Konfirmasinya adalah ketika garis neckline sudah tembus (titik ke-6). Jika pola ini
sudah terkonfirmasi, maka harga cenderung akan bergerak turun sejauh jarak dari puncak head
ke neckline. Pada gambar di atas, direpresentasikan dengan panah merah.
Pullback juga sering (ingat: tidak selalu) terjadi kembali ke area neckline sebelum harga
kembali bergerak turun untuk mencapai target pergerakan harga. Pola ini dikatakan fail jika
pullback terjadi hingga tembus ke atas neckline.
Kebalikan dari pola head and shoulders adalah pola inverse head and shoulders. Pola ini
merupakan pola reversal bullish yang biasanya muncul di ujung sebuah downtrend.
Konfirmasinya sama persis dengan head and shoulders. Jika pola ini sudah terkonfirmasi,
maka harga cenderung akan bergerak naik sejauh jarak dari puncak head ke neckline.
Gambar di bawah ini akan membantu untuk menjelaskan pola inverse head and shoulders:
Continuation Pattern
a. Triangles
Dari namanya, Anda mungkin sudah bisa mengira-ngira bentuk pola ini. Ya, pola ini memang
memiliki bentuk yang mirip dengan segitiga. Pola ini terjadi karena pasar bergerak sideways
4
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
dan pertarungan antara bull dan bear seimbang, sehingga akhirnya grafik pergerakan harga
mengerucut dan membentuk mirip segitiga.
Ada tiga jenis triangle:
• Symmetrical triangle
• Ascending triangle
• Descending triangle
Kita akan bahas satu per satu mulai dari symmetrical triangle.
Symmetrical triangle
Meskipun artinya adalah segitiga simetris, namun pada kenyataannya bentuknya tidaklah
selalu simetris. Symmetrical triangle adalah pola triangle yang memiliki garis support (lower
line) dan resistance (upper line) yang konvergen (kemiringannya berlawanan menuju satu
titik). Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat gambar di bawah ini:
Dari gambar di atas Anda bisa melihat bahwa pola ini terbentuk ketika pasar sedang bergerak
sideways setelah mengalami “rally” bullish. Istilahnya adalah “berkonsolidasi”. Contoh di
atas memperlihatkan sebuah symmetrical triangle yang terbentuk pada saat uptrend.
Sebuah symmetrical triangle paling tidak harus memiliki empat reversal point (titik
pembalikan) yang terdiri dari dua titik puncak dan dua titik lembah. Gambar di atas
memperlihatkan sebuah symmetrical triangle yang memiliki enam reversal point, yaitu titik 1,
2, 3, 4, 5 dan 6. Konfirmasi dari pola ini adalah tembusnya upper line (garis bagian atas). Ketika
pola ini sudah terkonfirmasi maka pergerakan selanjutnya adalah naik. Cara memperkirakan
targetnya adalah dengan berpatokan pada baseline dari symmetrical triangle tersebut, yaitu
jarak dari A ke titik 1. Jadi, kalau misalnya baseline-nya sepanjang 100 pips, maka pergerakan
selanjutnya pun diperkirakan akan sejauh 100 pips.
Cara lain yang bisa dipergunakan untuk memperkirakan target pergerakan adalah dengan
menarik garis yang sejajar dengan lower line, di mana garis tersebut dimulai dari titik 1.
Sebagaimana pola yang lain, pullback kemungkinan bisa saja akan terjadi. Pada gambar di atas
terlihat pullback terjadi dari titik 7 kembali ke titik 8 yang berada di area upper line.
5
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
Jika Anda perhatikan lagi, garis upper line dan lower line bertemu di satu titik. Titik tersebut
kita sebut sebagai apex. Anda perlu memperhatikan apex tersebut karena tembusnya upper line
yang merupakan konfirmasi dari pola symmetrical triangle tidak boleh terlalu dekat dengan
apex.
Sebagai aturan umum, harga harus sudah menembus upper line pada jarak kira-kira 2/3 (dua-
per-tiga) hingga ¾ (tiga-per-empat) dari panjang polanya. “Panjang pola” yang dimaksud
adalah jarak dari baseline ke apex. Jadi, kalau penembusan terjadi kurang dari 2/3 atau lebih
dari ¾ panjang pola, kemungkinan besar tidak valid.
Selain terjadi pada saat uptrend, symmetrical triangle juga bisa terjadi pada saat downtrend.
Sebenarnya sama saja, hanya saja posisinya berada di bawah. Kalau pada contoh di atas Anda
menantikan tembusnya upper line sebagai konfirmasi dan harga cenderung akan bergerak naik,
maka jika polanya terjadi pada saat downtrend Anda akan menantikan tembusnya lower line
dan harga cenderung akan bergerak turun. Hanya itu perbedaannya.
Ascending triangle
Pada dasarnya, Ascending triangle tidak jauh berbeda dengan symmetrical triangle dari sisi
menganalisanya. Perbedaan kedua pola tersebut hanya pada bentuknya.
Ascending triangle merupakan continuation pattern yang biasanya muncul pada saat uptrend.
Kemunculan pola ini merupakan pertanda bahwa tekanan bullish semakin melebihi tekanan
bearish secara bertahap.
Seperti halnya symmetrical triangle, pola Ascending triangle juga minimal harus memiliki
empat reversal point. Gambar di atas menunjukkan Ascending triangle yang memiliki enam
reversal point. Konfirmasi dari pola tersebut adalah tembusnya upper line yang kemudian
6
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
berpotensi untuk diikuti oleh pergerakan bullish. Cara memperkirakan target pergerakan harga
juga mirip dengan symmetrical triangle, hanya saja baseline-nya bukan berpatokan pada titik
1, melainkan berpatokan pada titik 2.
Meskipun pada dasarnya Ascending triangle adalah continuation pattern, namun ia juga bisa
menjadi reversal pattern jika terjadi pada saat downtrend. Pada keadaan seperti itu, tembusnya
upper line merupakan konfirmasi bahwa Ascending triangle merupakan pola reversal.
Perhatikan gambar berikut untuk mempermudah pemahaman Anda:
Pola seperti ini populer dengan nama Ascending triangle bottom.
Descending triangle
Kita sudah membicarakan symmetrical triangle dan Ascending triangle. Sepertinya Anda
sudah tidak akan kesulitan lagi untuk memahami jenis triangle yang ke-3, yaitu descending
triangle.
Sederhana saja, descending triangle adalah kebalikan dari Ascending triangle. Sederhana kan?
Dengan demikian, kalau Ascending triangle adalah pola bullish, maka descending triangle
adalah pola bearish. Descending triangle merupakan continuation pattern yang muncul pada
saat downtrend.
Bagaimana, sederhana kan?
Descending triangle juga bisa berubah menjadi pola reversal jika muncul pada saat uptrend.
Namanya mengalami modifikasi menjadi descending triangle top. Jadi ceritanya akan seperti
pada gambar di bawah ini:
7
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
b. Flag & Pennant
Kita akan membicarakan flag terlebih dahulu. Flag sebenarnya adalah channel kecil yang
muncul setelah rally. Arah channel-nya berlawanan dengan arah rally-nya. Jadi, jika ada down
channel kecil yang muncul setelah rally bullish, itu disebut sebagai bullish flag. Sebaliknya,
up channel kecil yang muncul setelah rally bearish disebut dengan bearish flag.
Mari kita perhatikan gambar berikut:
Ya, begitulah bentuk dasar flag. Sekarang Anda sudah tahu mengapa pola ini disebut sebagai
flag: karena bentuknya mirip dengan bendera (flag) dan tiangnya (flagpole). Flag
direpresentasikan oleh channel kecil sedangkan flagpole-nya adalah titik a ke b yang terlihat
pada gambar di atas.
8
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
Pada bearish flag, tembusnya lower line dari up channel adalah konfirmasinya. Harga
cenderung akan bergerak turun jika bearish flag sudah terkonfirmasi.
Sebaliknya, pada bullish flag, konfirmasinya adalah tembusnya upper line dari down channel.
Proyeksi pergerakan harga selanjutnya adalah bullish jika bullish flag telah terkonfirmasi.
Cara menentukan target pergerakan harga juga sederhana. Anda cukup mengukur panjang
flagpole-nya saja. Sepanjang flagpole itulah jarak yang termungkinkan untuk ditempuh oleh
pergerakan harga. Misalnya, jika panjang flagpole-nya adalah 100 pips, maka harga cenderung
akan bergerak sejauh 100 pips setelah pola flag-nya terkonfirmasi.
Tetapi pada prakteknya, kebanyakan trader berhenti (menutup posisinya) setelah harga
bergerak “setengah jalan” sebelum mencapai target. Misalnya jika target adalah sejauh 100
pips, maka mereka cenderung untuk berhenti di 50 – 60 pips.
Syarat umum dari flag adalah sebagai berikut:
1. Terjadi rally sebelum channel kecil terbentuk.
2. Channel yang terjadi arahnya harus berlawanan dengan arah rally sebelumnya.
3. Panjang channel (flag) paling tidak sepertiga panjang flagpole.
OK, kita akan membahas pennant sekarang. Pennant pada dasarnya adalah pengembangan dari
pola symmetrical triangle. Hanya saja, pennant didahului oleh rally yang panjang dan cukup
curam. Bisa dikatakan bahwa pennant merupakan hasil kawin silang antara symmetrical
triangle dengan flag.
Oleh karena pennant mirip dengan symmetrical triangle dan flag, maka dengan sendirinya
aturan-aturan yang berlaku pada symmetrical triangle dan flag juga berlaku pada pennant.
Di bawah ini adalah ilustrasi yang menggambarkan bentuk pennant.
9
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
c. Wedge formation
Wedge hampir mirip dengan pennant. Hanya saja, kemiringan kedua garis segitiga-nya searah,
dalam arti keduanya mengarah ke atas atau ke bawah. Derajat kemiringannya memang berbeda,
namun searah. Gambar di bawah ini akan memperjelas definisi wedge.
Kita bisa mengenali wedge dengan memeprhatikan kemiringannya yang mengarah ke atas atau
ke bawah. Sebagai aturan umum; hampir mirip dengan flag; kemiringan wedge sebagai
continuation pattern arahnya berlawanan dengan tren yang sedang berlangsung. Dengan
demikian, falling wedge adalah pola bullish sedangkan rising wedge adalah pola bearish.
Catatan:
Meskipun pada dasarnya wedge adalah pola continuation, namun wedge bisa juga berfungsi
sebagai pola reversal, akan tetapi kejadian ini jarang terjadi. Falling wedge bisa menjadi pola
reversal bullish jika terjadi di ujung sebuah downtrend. Sebaliknya, jika rising wedge muncul
pada saat uptrend, maka ia bisa jadi akan menjadi pola reversal bearish.
d. Rectangle formation
Rectangle formation memiliki banyak nama, namun pola ini sangat mudah dikenali. Pola ini
merepresentasikan jeda yang terjadi di mana harga bergerak sideways di antara dua garis
horizontal yang sejajar.
10
Lippo Thamrin Lt.7, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat
Rectangle terkadang disebut sebagai trading range atau area kongesti. Apa pun namanya, pola
ini merepresentasikan periode konsolidasi pada sebuah tren, dan biasanya dilanjutkan dengan
pergerakan yang searah dengan tren sebelumnya.
Sebuah rectangle minimal harus memiliki empat reversal point. Pada contoh gambar di atas,
Anda bisa melihat contoh rectangle yang memiliki enam reversal point. Konfirmasi bullish
rectangle adalah pecahnya garis resistance atau upper line, sedangkah konfirmasi bearish
rectangle adalah tembusnya garis support atau lower line.
d. Continuation Head and Shoulders Pattern
Sebelumnya, kita telah membahas mengenai pola head and shoulders sebagai pola reversal.
Pada pola continuation head and shoulders, pola yang terbentuk benar-benar sama persis
dengan pola head and shoulders. Yang membedakan adalah poin-poin berikut ini:
1. Pola head and shoulders muncul pada saat downtrend. Tembusnya neckline merupakan
konfirmasi pola continuation head and shoulders.
2. Pola inverse head and shoulders muncul pada saat uptrend. Tembusnya neckline merupakan
konfirmasi pola continuation inverse head and shoulders.
* Didapat dari berbagai sumber
11