0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan37 halaman

Gaya Hidup dan Hipertensi Lansia di Bajo

Dokumen ini membahas hubungan antara gaya hidup dan kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Bajoe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hipertensi dan gaya hidup lansia serta dampaknya terhadap kesehatan. Gaya hidup yang tidak sehat, termasuk pola makan dan kurangnya aktivitas fisik, diidentifikasi sebagai faktor risiko utama hipertensi di kalangan lansia.

Diunggah oleh

zahwaaw07
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan37 halaman

Gaya Hidup dan Hipertensi Lansia di Bajo

Dokumen ini membahas hubungan antara gaya hidup dan kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Bajoe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hipertensi dan gaya hidup lansia serta dampaknya terhadap kesehatan. Gaya hidup yang tidak sehat, termasuk pola makan dan kurangnya aktivitas fisik, diidentifikasi sebagai faktor risiko utama hipertensi di kalangan lansia.

Diunggah oleh

zahwaaw07
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN

HIPERTENSI
PADA LANSIA DI PUSKESMAS BAJOE

Disusun Oleh:
Kelompok 2
1. Adelia Saputri(020224002)
2. Gelsri Aprilian(020224011)
3. Mellani Putry(020224019)
4. Nur Tasya Fausya(020224029)
5. Saritania(020224037)
6. Zahwa Awalia(020224047)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS SAINS DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS ANDI SUDIRMAN
2025
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................ ii

DAFTAR ISI ....................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ............................................................................... iv

DAFTAR SKEMA .............................................................................. v

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................... vi

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 5

1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................ 5

1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Hipertensi .......................................................................... 7

2.2 Konsep Lansia ................................................................................ 15

2.3 Konsep Gaya Hidup ....................................................................... 18

2.4 Aktivitas Fisik ................................................................................ 18

2.5 Pola Makan ..................................................................................... 20

2.6 Kebiasaan Istirahat ......................................................................... 22

i
2.7 Riwayat Merokok ........................................................................... 23

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian ............................................................ 27

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................ 27

3.3 Populasi dan Sampel....................................................................... 28

3.4 Alat Pengumpul Data ..................................................................... 30

3.5 Prosedur Pengumpulan Data .......................................................... 32

3.6 Definisi Operasional ....................................................................... 33

3.7 Analisa Data ................................................................................... 35

3.8 Etika Penelitian ............................................................................... 36

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit tidak menular merupakan penyebab utama kematian secara


global dan menjadi salah satu tantangan kesehatan utama abad ke-21. Penyakit
tidak menular termasuk masalah kesehatan dengan angka kejadian morbiditas
dan mortalitas yang semakin meningkat. Kematian akibat penyakit tidak menular
diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia dan menjadi etiologi
kematian paling umum pada tahun 2030. Status global Noncommunicable
Diseases (NCD) melaporkan bahwa pada tahun 2016 sebesar 71% dari 57 juta
kematian di dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular. World Health
Organization (WHO) menyatakan empat penyakit utama yang bertanggung
jawab atas kematian penyakit tidak menular yaitu penyakit kardiovaskular,
kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes. Faktor risiko utama penyakit
kardiovaskular adalah peningkatan tekanan darah tinggi atau hipertensi (WHO,
2018).
Peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol dan berlangsung dalam
jangka waktu lama dapat menyebabkan komplikasi berupa kerusakan pada ginjal
(gagal ginjal), jantung (jantung koroner), dan otak (stroke) apabila tidak
dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai (Kemenkes RI,
2018). Komplikasi hipertensi telah menyumbangkan 9,4 jutakematian di seluruh
dunia setiap tahun.

1
4

Penyakit ini menjadi salah satu masalah utama dalam kesehatan


masyarakat di Indonesia maupun dunia. Diperkirakan sekitar 80% kenaikkan
kasus hipertensi terutama terjadi di Negara berkembang pada tahun 2025 dari
jumlah total 639 juta kasus di tahun 2000. Jumlah ini diperkirakan meningkat
menjadi 1.15 miliar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka
penderita hipertensi dan pertambahan penduduk saat ini (Ardiansyah, 2012).
Penderita hipertensi diperkirakan mencapai 1 milyar di dunia, dan dua pertiga
diantaranya berada di negara berkembang. Angka tersebut kian hari kian
menghawatirkan yaitu sebanyak 972 juta (26%) orang dewasa di dunia
menderita hipertensi. Angka ini terus meningkat tajam, dan diprediksi pada
tahun 2025 sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi
(WHO, 2019).
Prevalensi penderita hipertensi di Provinsi Sumatera Utara sebesar
26,5%, proporsi tertinggi berada pada Kabupaten Nias Barat (80,17%) dan
terendah di
Kota Tanjung Balai (0,78%) (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2019).
Kondisi yang sama terjadi di Kota Padangsidimpuan bahwa jumlah penderita
hipertensi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari data
Dinas Kesehatan tentang jumlah kunjung penderita sepuluh penyakit utama di
Padangsidimpuan. Penderita hipertensi pada tahun 2018 sebanyak 5.948 orang
(Dinas Kesehatan Padangsidimpuan, 2018).
Dikatakan prehipertensi adalah yang memiliki tekanan darah sistolik
120139 mmHG dan diastolik 80-90 mmHg. Sedangkan orang yang mengalami
hipertensi juga dapat dibedakan berdasarkan derajat ketinggiannya. Hipertensi
derajat 1 adalah mereka yang memiliki tekanan darah sistolik 140-159mmHg
dan tekanan darah diastolik 90-99 mmHg, Hipertensi derajat 2 adalah orang-
orang yang memiliki tekanan darah lebih dari 160/90 mmHg. Hipertensi dikenal
secara luas sebagai penyakit kardiovaskuler. Hipertensi dapat menyerang hampir
semua golongan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah mereka yang menderita
hipertensi terus bertambah dari tahun ke tahun dan telah menyebabkan beban
5

penyakit secara global, dan prevalensinya hampir sama besar di negara


berkembang maupun di negara maju (Susilo, 2011).
Indonesia adalah termasuk Negara yang memasuki era penduduk
berstruktur lanjut usia atau Aging Struktured Population karena jumlah
penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Jumlah penduduk lansia
di Indonesia pada tahun 2006 sebesar ± 19 juta. Pada tahun 2011 jumlah lansia
sebesar 20 juta jiwa (9,51%) dengan usia lansia harapan hidup 67,4 tahun dan
pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan
hidup 71 tahun (Depkes, 2012).
Peningkatan jumlah populasi lansia akan berdampak terhadap berbagai
masalah kesehatan, dimana akan terjadi kemunduran sel-sel karena proses
penuaan yang dapat berakibat pada penurunan fungsi dan kelemahan organ,
kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit
degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, fisik dan psikologis
lansia (Depkes, 2012). Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada
usia lanjut adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Bahkan pada tahun 2013
Hipertensi merupakan penyakit utama dari 10 penyakit terbanyak pada lansia
(Kemenkes, 2013).
Menurut Ningsih (2008 dalam Jufri, dkk., 2012) salah satu penyebab kejadian
hipertensi adalah gaya hidup yang kurang sehat. Gaya hidup dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa komponen yang berkaitan dengan kejadian
hipertensi yaitu terdiri dari aktifitas fisik, pola makan, kebiasaan istirahat, dan
riwayat merokok (Muhammadun, 2010). Gaya hidup merupakan faktor penting
yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Gaya hidup yang tidak sehat dapat
menjadi penyebab terjadinya hipertensi misalnya aktivitas fisik dan stres
(Puspitorini dalam Sount dkk. 2014).
Gaya hidup merupakan yang sangat mempengaruhi kehidupan lansia.
Gaya hidup yang tidak sehat, dapat menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi,
misalnya; makanan, aktifitas fisik, stress, dan merokok (Puspitorini, 2009). Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Poniyah Simanullang (2018) di peroleh bahwa
gaya hidup lansia berdasarkan aktifitas fisik mayoritas tidak baik (49%) . Hal ini
6

sejalan dengan hasil penelitian Rachmawati (2013), tentang "Hubungan Antara


Gaya Hidup Dengan Kejadian Hipertensi Pada lansia Di Desa Pondok
Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo", aktifitas fisik mayoritas tidak baik
(63,6%).
Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti bahwa
gaya hidup lansia di wilayah kerja puskesmas Padangmatinggi juga memiliki
pola gaya hidup yang kurang sehat, mulai dari pola makan yang suka konsumsi
santan dan garam dapur berlebih, lansia di daerah kerja puskesmas
padangmatinggi juga ada yang merokok dan konsumsi kopi setiap hari, aktivitas
olahraga yang jarang dilakukan oleh para lansia, beberapa lansia mengatakan
kalau malam sering kesulitan tidur atau terbangun tengah malam dan kesulitan
untuk tidur kembali sehingga kualitas tidur pada lansia juga kurang .
Berdasarkan uraian latar belakang diatas peneliti tertarik melakukan
penelitian tentang “Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Hipertensi Pada
Lansia di Puskesmas Padangmatinggi”.
1.2 Perumusan Masalah

Apakah ada hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi pada lansia
di Puskesmas Bajoe ?
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi pada lansia


di Puskesmas Bajoe
1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui karakteristik gambaran hipertensi pada lansia di

Puskesmas Bajoe

b. Untuk mengetahui gambaran gaya hidup (aktifitas fisik, pola makan,


istirahat dan riwayat merokok) pada lansia di Puskesmas Bajoe
7

c. Untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi


pada lansia di Puskesmas Bajoe
1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Lansia

Dapat menambah wawasan tentang hubungan gaya hidup dan


diharapkan mampu menerapkan hidup sehat agar dapat mengurangi
kejadian hipertensi.
b. Bagi Puskesmas Bajoe

Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi tentang gaya hidup terhadap


kejadian hipertensi di Puskesmas Bajoe.
c. Bagi peneliti

Untuk menambah pengetahuan bagi peneliti dalam mengembangkan


kemampuan dan melakukan penelitian terhadap lansia khususnya
hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi.
d. Bagi Institusi Pendidikan

BAB 2
8

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Hipertensi

2.1.1 Pengertian

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan keadaan perubahan


dimana tekanan darah menigkat secara tidak wajar dan terus menerus karena
kerusakan salah satau atau beberapa faktor yang berperan mempertahankan
tekanan darah tinggi atau hipertensi apabila tekanan darahnya atau lebih tinggi
dari 140/90 mmHg, bahkan saat beristirahat (Jain, 2011).
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah peningkatan tekanan
diastolik yang bernilai lebih dari 90 mmHg dan sistolik di atas 140 mmHg.
Penyakit ini biasanya tidak disertai gejala (asimptomatik) ( Potter & Perry,
2010). Menurut JNC hipertensi terjadi apabila tekanan darah lebih dari 140/90
mmHg.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali pemeriksaan tekanan
darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor risiko yang tidak berjalan
sebagaimana mestinya mempertahankan tekanan darah secara normal (Wijaya,
2013).
2.1.2 Klasifikasi Hipertensi

Menurut Wijaya (2013), klasifikasi berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi


dua golongan, yaitu hipertensi primer dan sekunder.
Hipertensi Esensial (Primer) merupakan 90% dari kasus penderita hipertensi.
Dimana sampai saat ini belum diketahui penyebabnya secar pasti. Beberapa
factor yang berpengaruh dalam terjadinya hipertensi esensial, seperti: faktor
genetik, stress dan psikologis, serta faktor lingkungan dan diet (peningkatan
penggunaan garam dan berkurangnya asupan kalium atau kalsium).
Pada hipertensi sekunder, penyebab dan patofisiologi dapat diketahui
dengan jelas sehigga lebih mudah untuk dikendalikan dengan obat-obatan.
9

Penyebab hipertensi sekunder diantaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor,


diabetes, kelainan adrenal, kelainan aorta, kelainanendokrin lainnya seperti
resistensi insulin, hipertiroidisme, dan pemakaian obat-obatan seperti kontrasepsi
oral dan kortikosteroid. Klasifikasi berdasarkan derajat hipertensi:
Kategori Tekanan Sistol Tekanan Diastol
(mmHg) (mmHg)
Normal 120-129 80-24
Normal Tinggi 130-139 85-89
Hipertensi derajat I 140-159 90-99
Hipertensi derajat II 160-179 100-109
Hipertensi derajat III >80 > 110
Hipertensi Sistolik >190 < 90
Tabel 1. Klasifikasi Menurut European Society of Cardiology, 2007

2.1.3 Etiologi

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2


golongan besar yaitu : ( Lany dalam Padila, 2013)
1. Hipertensi essensial (hipertensi primer)

Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak


diketahui penyebabnya. Hal ini berarti bahwa kondisi hipertensi tidak
mempunyai sumber yang teridentifikasi. Meskipun hipertensi primer belum
diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan
beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Fakor tersebut
adalah factor keturunan, ciri perseorangan, dan kebiasaan hidup (Padila, 2013).
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungknan
lebih besar untuk mendapatkan akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi (Padila,
2013).
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur
(jika umur bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi
10

drai perempuan) dan ras. Ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih (Padila,
2013).
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah
konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr), kegemukan atau makan
berlebihan, stres dan pengaruh lain misalnya merokok, minm alkohol
(Padila,2013).
2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain,


seperti penyakit ginjal dan gangguan adrenal. Hanya 5-10 % dari seluruh
hipertensi disebabkan oleh penyebab lain (Padila, 2013). Faktor pencetus
munculnya hipertensi sekuder antara lain: penggunaan kontrasepsi oral,
coarctation aorta, neurogenik seperti tumor otak, gangguan psikiatris,
kehamilan, peningkatan volume intravaskuler, dan luka bakar (Udjianti, 2011).
2.1.4 Patofisiologi

Hipertensi adalah proses degenerative system sirkulasi yang dimulai dengan


atherosclerosis, yakni gangguan struktur anatomi pembuluh darah perifer yang
berlanjut dengan kekakuan pembuluh darah/arteri. Kekakuan pembuluh darah
disertai dengan penyempitan dan kemungkinan pembesaran plaque yang
menghambat gangguan peredaran darah perifer. Kekakuan dan kelambanan
aliran darah yang menyebabkan badab jantung bertambah bera yang akhirnya
dikompensasi dengan peningkatan upaya pemompaan jantung yang berdampak
pada peningkatan tekanan darah dalam system sirkulasi. Dengan demikian,
proses patologis hipertensi ditandai dengan peningkatan tahanan perifer yang
berkelanjutan sehingga secara kronik dikompensasi oleh jantung dalam bentuk
hipertensi (Bustan, 2015).
2.1.5 Komplikasi

Semakin lama menderita hipertensi, semakin besar peluang kerusakan


organ. Akibatnya, kondisi yang serius seperti penyakit jantung, stroke, penyakit
ginjal, dan kerusakan mata pun terjadi (Murwani, 2009).
11

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan


penyakit jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan
meningkat, dan jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya.
Akibatnya, jantung tidak mampu lagi memompa sehingga banyak cairan diparu
maupun jaringan tybuh lain yang dapat menyebabkan sesak napas. Komplikasi
pada otak, menimbukan risiko stroke, apabila tidak di obati risiko terkena strok 7
kali lebih besar. Tekanan darah tinggi juga menyebabkan kerusakan ginjal,
tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan system penyaringan di
dalam ginjal, akibatnya semakin lama ginjal tidak mampu membuang zat-zat
yang tidak dibutuhkan oleh tubuh yang masuk mealalui aliran darah dan terjadin
penumpukan di dalam tubuh. Pada mata hipertensi dapat mengakibatkan
terjadinya retinopati hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan (Wijaya
&Putri,2013).

2.1.6 Manifestasi Klinis

Gejala hipertensi sangat bervariasi, pada sebagian penderita hipertensi


tidak menimbulkan gejala (tanpa gejala) yang spesifik yang dapat dihubungkan
dengan peningkatan tekanan darah. Crowin (2000 dalam wijaya & putri, 2013)
menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul, seperti : nyeri kepala
saat terjaga, kadang-kadang disertai mual muntah akibat peningkatan tekanan
darah intrakranial, penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi,
ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat,
nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal, pembengkakan akibat
peningkatan kapiler.
2.1.7 Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan bagi klien hipertensi adalah mencegah terjadinya


morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Efektifitas setiap program ditentukan
oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan dan kualitas hidup sehubung
dengan terapi.
12

1. Non Farmakologis

Beberapa penelitian menunjukan bahwa pendekatan nonfarmakologi


dengan modifikasi gaya hidup seperti; teknik-tekni mengurangi stress,
penurunan berat badan, pembatasan halkohol, olahraga/latihan, relaksasi
merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pda setiap terapi
antihipertensi. Modifikasi gaya hidup merupakn hal yang sulit bagi individu
karena mera sering harus mengubah kebiasaan yang menyenangkan, seperti
merokok atau makan-makan tertentu. Modifikasi gaya hidup untuk faktor risiko
penting termasuk berhenti merokok, menurunkan berat badan, diet rendah
kolesterol dan rendah garam, serta olahraga (Potter & Perry, 2010).
Apabila penderita hipertensi ringan berada dalam risiko tinggi (pria
perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap di atas 85 atau 95 mmHg
serta sistoliknya di atas 130 sampai 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi
obatobatan ( Muttaqin, 2009).
2. Farmakologis

Muttaqin (2009) menyebutkan dalam bukunya bahwa obat-


obat antihipertensi dapat digunakan sebagai obat tunggal atau dicampur dengan
obat lain. Klasifikasi obat antihipertensi dibagi menjadi lima kategori , yaitu:
diuretik, penghambat simpatetik, vasodilator arteriol langsung, antagonis
angiotensin, penghambat saluran kalsium.
Diuretik berfungsi untuk mengeluarkan cairan tubuh sehingga volume
cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi
lebih ringan. Penghambat simpatetik (metildopa, klonidin, dan reserpine) untuk
mengahambat aktivitas saraf simpatis, golongan obat ini memiliki efek minimal
terhadap curah jantung dan aliran darah ke ginjal (Wijaya & Putri, 2013).
Vasodilator yang bekerja langsung adalah obat tahap III yang dapat
menurunkan tekanan darah dan natrium sertai air tertahan sehingga terjadi edema
perifer. Diuretic dapat diberikan bersamaan dengan vasodilator untuk
mengurangi edema. Obat dalam golongan angiotensin menghambat enzim
13

pengubah angiotensin (ACE) yang antinya akan menghambabt pembentukan


angiotensin II
(vasokonstrikor) dan menghambat menghambat pelepasan aldosterone. Efek
samping dari obat ini adalah mual, muntah, diare, sakit kepala, pusing ltih dan
insomnia (Muttaqin, 2009).
2.1.8 Faktor yang menyebabkan Hipertensi

Menurut aggie Casey dan Herbert Benson (2009) faktor risiko dapat dibagi
menjadi dua kategori utama, yaitu tidak dapat di ubah dan dapat diubah.
1. Faktor risiko yang tidak dapat diubah

Sekalipun tidak dapat mengendalikan faktor risiko tertentu, bukan berarti


dapat melupakannya. Faktor risiko yang tidak dapat diubah seperti: faktor
genetik, umur, jenis kelamin, dan ras.
a. Faktor genetik

Jika satu atau dua orang dari orang tua atau saudara kandung yang
menderita hipertensi, maka peluang untuk menderita hipertensi semakin besar.
Penelitian menunjukkan bahwa 25% dari kasus Hipertensi Esensial dalam
keluarga mempunyai dasar genetik. Faktor ini tidak bisa dikendalikan, jika
seseorang memiliki orangtua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi,
maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar
identik daripada yang kembar tidak identik.
b. Umur

Walaupun penuaan tidak selau memicu hipertensi, tekanan darah tinggi


terjadi pada usia lebih tua. Pada usia antara 30 dan 65 tahun, tekanan sistolik
meningkat rata-rata sebanyak 20 mmHg dan terus meningkat setelah 70 tahun.
Faktor ini tidak bisa dikendalikan, penelitian menunjukkan bahwa semakin usia
seseorang bertambah, tekanan darahpun akan meningkat.
14

c. Jenis kelamin

Pria sering mengalami tanda-tanda hipertensi pada usia akhir tiga bulan,
sedangkan wanita sering mengalami hipertensi setelah menopause.
d. Ras

Orang Afrika-Amerika menunjukkan tingkat hipertensi lebih tinggi


disbanding populasi lain dan cenderun berkembang lebih awal dan agresif.
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang Afrika-
Amerika.
2.1.9 Faktor resiko yang dapat diubah

Faktor risiko ini merupakam dasar dari program modifikasi gaya hidup.

a. Merokok

Ketika peneliti menguji tekanan darah perokok, mereka menemukan


bahwa waktu lima menit pengisapan, tekanan sistolik subjek meningkat secara
dramatis, ratarata lebih dari 20 mm/Hg, sebelum secara bertahap menurun ke
tingkat asli tekanan darah mereka setelah 30 menit.
b. Obesitas

Kelebihan berat badan dan hipertensi sering berjalan beriringan, karena


tambahan beberapa kilogram membuat jantung bekerja lebih keras.
c. Kurang olahraga

Dibandingkan dengan orang yang aktif secara fisik, orang yang sering
duduk secara signifikan lebih mungkin mengalami hipertensi dan serangan
jantung. Seperti otot lain, jantung semakin kuat dengan olahraga, jantung yang
kuat akan memompa darah lebih efesien.
d. Kelebihan garam

Terlalu banyak mengonsumsi garam langsung menaikkan tekanan darah.


15

e. Penggunaan alkohol.

Minum alkohol secara berlebihan, yaitu tiga kali atau lebih dakam sehari
merupakan faktor penyebab 7% kasus hipertensi.
f. Stress.

Stress akan meningkatkan pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga
akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Jika stress menurun maka tekanan
darah juga menurun. Beberapa studi menyatakan bahwa stress turut serta
memengaruhi kejadian hipertensi.
2.2 Konsep Lansia

2.2.1 Pengertian

Manusia usia lanjut usia, biasa disingkat MANULA, atau disebut saja
kelompok lanjut usia (LANSIA) (ageing/elderly) adalah kelompok penduduk
berumur tua. Golongan penduduk yang mendapat perhatian atau pengelompokan
tersendiri ini adalah populasi berumur 60 tahun atau lebih (Bustan, 2015). Semua
orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa masa tua merupakan masa
hidup manusia yang terakhir, yang pada masa ini seseorang mengalami
kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit sampai tidak melakukan tugasnya
sehari-hari lagi hingga bagi kebanyakan orang masa tua itu merupakan masa
yang kurang menyenangkan ([Link], et al., 2014).
2.2.2 Batasan Lansia

Menurut Aspiani (2014), sampai saat ini belum ada kesepakatan batas
umur lanjut usia secara pasti, karena seseorang tokoh psikologis membantah
bahwa usia dapat secara tepat menunjukkan seseorang individu tersebut lanjut
usia atau belum maka merujuk dari bebragai pendapat di bawah ini. Menurut
WHO dalam bukunya Aspiani (2014) mengelompokkan usia lanjut atas tiga
kelompok yaitu: Usia lanjut yang berumur 60-74 tahun, usia tua yang berumur
7589 tahun, dan usia sangat tua yang berumur > 90 tahun. Menurut UU No. 13
tahun
16

1998, batasan orang dikatan lansia berumur 60 tahun. Depkes dikutip dari Azis
(1994) lebih lanjut membuat penggolongan lansia menjadi 3 (tiga) kelompok
yaitu: (1). Kelompok lansia dini (55-64 tahun), yakni kelompok yang baru
memasuk lansia (2). Kelompok lansia (65 tahun keatas). (3). Kelompok lansia
resiko tinggi, yakni lansia yang berusia lebih 70 tahun (Aspiani, 2014).
Selain itu klasifikasi lansia juga diuraikan oleh Maryam (2008), yaitu
pralansia, lansia, lansia resiko tinggi, lansia potensial, dan lansia tidak potensial.
Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun. Lansia
yaitu seorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Lansia resiko tinggi yaitu
seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih. Lansia potensial yaitu lansia yang
masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan
barang/jasa. Lansia tidak potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari
nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain/keluarga.
2.2.3 Proses Menua

Menua buakanlah suatu penyakit tetapi merupkan daya tahan tubuh


dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh walaupun
demikian harus diakui bahwa dihadapi berbagai penyakit yang sering
menghinggapi berbagiai penyakit. Proses menua sudah mulai berlangsung
seseorang mencapai usia dewasa
(Aspiani, 2014). Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang
terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ
tersebut.
Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mrngganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi serta memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994).
Seiring dengan proses menua tersebut, tubuh akan mengalami bebrbagai masalah
kesehatan atau yang biasa disebut sebagai penyakit degeratif (Maryam, 2008).
17

2.2.4 Perubahan Yang Terjadi pada Lansia

Maryam (2008) dalam bukunya mengatakan, bahwa perubuhan yang


terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial, dan psikologis. Perubahan
kondisi fisik pada lansia meliputi: perubahan dari tingkat sel sampai ke semua
system organ tubuh, di antaranya system pernapasan, pendengaran, penglihatan,
kardiovaskuler, muskuloskeletal, system reproduksi, gastrointestinal, persarafan,
endokrin, dan kulit (Maryam, 2008). Masalah perubahan sosial serta reaksi
individu terhadap perubahan sangat beragam, bergantung pada kepribadian
individu bersangkutan. Perubahan yang menjadikan dalam kehidupan akan
membuat yang mereka alami di antaranya , yaitu: peran, keluarga, teman,
kekerasan, masalah hukum, ekonomi, rekreasi, keamanan, transportasi, politik,
pendidikn, agama, dan panti jompo (Maryam, 2008).
Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi,
kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan
keinginan, depresi, dan kecemasan (Maryam et. Al, 2008).

2.2.5 Penyakit Yang sering dijumpai Lansia

Aspiani (2014), menyatakan dalam bukunya mengenai kondisi kesehatan


lanjut usia yang mempunyai kemiripin dari seluruh bangsa, dimana penyakit
yang sering menyertai adalah tidak muncul gejala, melainkan multiple symptom,
tetapi penyakit yang dapat teridentifikasi seperti: Gangguan sirkulasi darah
(hipertensi dan kelainan pembuluh darah), penyakit gigi dan mulut, tuberkulosa,
diare, ginjal dan saluran kemih, penyakit infeksi, dll.
3.1 Konsep Gaya Hidup

3.3.1 Pengertian gaya hidup

Menurut Purwoastuti (2015), Gaya hidup adalah aktivitas dari manusia


itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan,
berbicara, bekerja dan sebagainya. Menurut Minor dan Mowen gaya hidup
18

adalah menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana orang membelanjakan


uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu (Tamber, 2009).
3.3.2 Macam-macam gaya hidup

Menurut Belloc dan Breslow (1972), yang termasuk gaya hidup adalah:
Pola makanan yang baik, aktifitas fisik, olahraga, istirahat/tidur 7-8 jam perhari,
tidak merokok, tidak minum-minuman keras, tidak mengonsumsi obat-obatan
(Watson, 2003). Gaya hidup yang dapat memicu terjadinya hipertensi antara lain
(muhammadun, 2010): aktivitas fisik, pola makan, kebiasaan istirahat, dan
riwayat merokok.
1. Aktivitas Fisik

Melakukan aktifitas fisik yang cukup merupakan salah satu dari sekian
banyak hal yang dikategorikan ke dalam pengobatan non farmakologis.
Aktivftas fisik yang cukup dan teratur terbukti dapat membantu menurunkan
tekanan darah. Pada zaman sekarang, dengan berbagai kemudahan membuat
orang enggan melakukan kegiatan fisik dalam kegiatan sehari-hari mereka.
Inilah penyebab mengapa hipertensi lebih banyak ditemukan pada masyarakat
perkotaan daripada masyarakat di lingkungan pedesaan. Banyaknya sarana
transportasi dan berbagai fasilitas lain bagi masyarakat perkotaan menyebabkan
penurunan aktifitas fisik mereka. Pdahal, aktifitas fisik sangat penting untuk
mengendalikan tekanan darah. Aktifitas yang cukup dapat membantu
menguatkan jantung. Jantung yang lebih kuat tentu dapat memompa lebih
banyak darah dengan hanya sedikit usaha. Semakin ringan kerja jantung, smakin
sedikit tekanan pada pembuluh darah arteri sehingga tekanan darah akan
menurun (Merliani, 2009).
Aktifitas fisik yang dianjurkan bagi penderita hipertensi adalah aktifitas
sedang selama 30-60 menit setiap hari. Kalori yang terbakar sedikitnya 150
kalori perhari. Salah satu yang biasa dilakukan adalah aerobik. Suatu aktifitas,
baik itu kegiatan sehari-hari ataupun olahraga, dikatakan aerobik jika dapat
meningkatkan kemampuan kerja jantung, paru-paru, dan otot-otot (Marliani,
2009). Olahraga sebaiknya dilakukan teratur dan bersifat aerobik, karena kedua
19

sifat inilah yang dapat menurunkan tekanan darah (Palmer, A. & Bryan, W,
2009). Olahraga aerobik maksudnya olahraga yang dilakukan secara terus-
menerus dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh, misalnya
jogging, senam, renang, dan bersepeda. Aktivitas fisik adalah setiap gerakan
tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi (pembakaran kalori).
Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sekurang-kurangnya 30 menit perhari
dengan baik dan benar. Salah satu manfaat dari aktivitas fisik yaitu menjaga
tekanan darah tetap stabil dalam batas normal. Contoh dari aktivitas fisik yang
dapat menjaga kestabilan tekanan darah 20 menit berjalan atau membersihkan
rumah selama 10 menit, dua kali dalam sehari ditambah 10 menit bersepeda, dan
lain-lain (Karim, F., 2008). Melakukan olahraga secara teratur dapat menurunkan
tekanan darah sistolik 4-8 mmHg. Di usia tua, fungsi jantung dan pembuluh
darah akan menurun, demikian juga elastisitas dan kekuatannya. Tetapi jika
berolahraga secara teratur, maka sistem kardiovaskular akan berfungsi maksimal
dan tetap terpelihara (Karyawan, A. 2009).
Gaya hidup juga bisa memengaruhi kerentanagn fisik terutama karena
aktifitas fisik akibatnya timbul penyekit yang sering diderita antara lain diabetes
mellitus atau kencing manis, penyakit jantung, hipertensi, kanker atau keganasan
dan lain-lain. Gaya hidup pada jaman modern ini telah mendorong orang
mengubah gaya hidupnya seperti jarang bergerak karena segala sesuatu atau
pekerjaan dapat lebih mudah dikerjakan dengan adanya teknologi yang modern
seperti mencuci dengan mesin cuci, menyapu lantai dengan mesin penyedot
debu, bepergian dengan kendaraan walaupun jaraknya dekat dan bias dilakukan
dengan jalan kaki. Gaya hidup seperti itu tidak baik untuk kesehatan karena
tubuh kita menjadi manja, karena kurang bergerak, sehingga tubuh menjadi
lembek dan rentan penyakit (Marliani, 2009).
2. Pola Makan

Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran


macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan
merupakan ciri khas untuk satu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan yang
20

tidak seimbang akan menyebabkan ketidakseimbangan zat gizi yang masuk ke


dalam tubuh dan menyebabkan terjadinya gizi lebih. (Meryana dan Bambang,
2012)
Makan dengan menu tidak seimbang (appropriate diet), mencakup pola
makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi kebutuhan
tubuh baik menurut jumlahnya (kuantitas) maupun jenisnya (kualitas) kebiasaan
mengkonsumsi garam dan berlemak dapat meningkatkan risiko terjadinya
hipertensi (Muhammadun, 2010). Pola makan individu meliputi bahan makanan
pokok (sumber karbohidrat), lauk pauk (sumber protein hewani dan nabati),
sayur dan buah. Pola makanan yang tidak baik akan menimbulkan beberapa
gangguan seperti kolesterol tinggi, tekanan darah meningkat dan kadar gula yang
meningkat (Sediaoetama, 2009). Diet kaya buah-buahan, sayuran, mengurangi
asupan natrium, rendah lemak dan kolesterol dapat menurunkan tekanan darah
(Lawrence, 2008).
Kejadian penyakit infeksi dan kekurangan gizi dapat diturunkan jika pola
makan seimbang, sebaliknya penyakit degenerative dan penyakit kanker
meningkat jika pola makanan tidak seimbang, peningkatan tersebut diikuti oleh
perubahan gaya hidup karena pola makan, di kota-kota besar berubah dari pola
makan tradisional yang barat yang komposisinya terlalu banyak mengandung
protein, lemak, gula, dan garam tetapi rendah serat (Depkes RI, 2008).
Gaya hidup pada zaman modern ini telah mendorong orang mengubah
gaya hidup seperti makan makanan siap saji, makan kalengan, sambal botolan,
minuman kaleng, buah dan sayur yang memakai bahan pengawet, makanan kaya
lemak, makanan kaya kolesterol. Gaya hidup seperti ini tidak baik untuk tubuh
dan kesehatan karena tubuh kita menjadi rusak karena makanan yang tidak sehat,
sehingga tubuh menjadi lembek dan rentang penyakit (Depkes RI, 2008).
Garam dapat memperburuk hipertensi pada orang secara genetik sensitif
terhadap natrium. Berdasarkan panduan umum Gizi Seimbang 2003 konsumsi
garam tidak boleh lebih dari 6 gram (1 sendok teh) dalam satu hari atau sama
dengan 2300 mg natrium. Menurut INTERSALT peningkatan asupan natrium
sebanyak 50mmol per hari dapat meningkatkan tekanan darah rata-rata sistolik 5
21

mmHg dan diastoliknya 3 mmHg. Dalam penelitian Denton menunjukkan bahwa


asupan garam sampai 15 gram per hari dapat meningkatkan tekanan darah
sistolik sebesar 33 mmHg dan diastolic sebesar 10 mmHg (Adrogue, Madias,
2007). Natrium memiliki sifat menarik cairan sehingga mengkonsumsi garam
berlebih atau makan-makanan yang diasinkan dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah. Orang-orang peka natrium akan lebih mudah mengikat natrium
sehingga menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan darah. Karena
sifatnya yang meretensi air sehingga volume darah menjadi naik dan hal tersebut
secara otomatis menaikkan tekanan darah.
3. Kebiasaan Istirahat

Istirahat yang tidak cukup akan mengakibatkan gangguan fisik dan


mental. Istirahat yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk
mempertahankan ksehatannya. Istirahat dan tidur berguna untuk melemaskan
otot-otot setelah beraktifitas dan juga untuk menenangkan pikiran. Tidur yang
cukup di malam hari 6-8 jam akan memulihkan kelelahan sepanjang hari dan
siap untuk bekerja esok hari (Muhammadun, 2010).
Sepertiga dari waktu dalam kehidupan manusia adalah untuk tidur.
Diyakini bahwa tidur sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan dan proses
penyembuhan penyakit, karena tidur bermanfaat untuk menyimpan energi,
meningkatkan imunitas tubuh dan mempercepat proses penyembuahan penyakit
juga pada saat tidur tubuh mereparasi bagian-bagian tubuh yang sudah aus.
Umumnya orang akan merasa segar dan sehat sesudah istirahat. Jadi istirahat dan
tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan (Depkes RI, 2008).
Perubahan pola tidur dapat berupa tidak bisa tidur sepanjang malam dan
sering terbangun pada malam hari. Umumnya manusia bias tidur dalam 6-8 jam
sehari. Tetapi ada orang yang bias tidur dibawah 6 jam sehari, tetapi ada orang
yang bias tidur dibawah 6 jam dan kurang tidur berdampak negatif terhadap
tubuh kita seperti kurang konsentrasi, cepat marah, lesu, lelah (Maryam,2008).
Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan badan kita. Kurang tidur dapat
menyebabkan badan lemas, tidak ada semangat, lekas marah dan stres (Santoso,
22

2009). Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan


darah yang menetap. Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara
waktu dan bila stress sudah hilang tekanan darah bias normal kembali.
4. Riwayat Merokok

Merokok menyebabkan vasokontriksi, saat merokok tekanan darah akan naik


dan akan kembali kenilai dasar dalam 15 menit setelah berhenti merokok (Potter
& Perry, 2010).
Merokok bukanlah gaya hidup yang sehat. Merokok dapat mengganggu
kerja paru-paru yang normal, karena Hemoglobil lebih mudah membawa
Karbondioksida daripada membawa Oksigen. Jika terdapat karbondioksida
dalam paru-paru, maka akan dibawa oleh Hemoglobin sehingga tubuh
memperoleh Oksigen yang kurang dari biasanya. Kandungan Nikotin dalam
rokok yang terbawa dalam aliran darah dapat mempengaruhi berbagai bagian
tubuh yaitu mempercepat denyut jantung sampai 20 kali lebih cepat dalam satu
menit daripada dalam keadaan normal (Bustan, 2015).
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok
dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain dari
lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang dihisap
perhari. Seseorang lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan
hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok (Price, 2016).
Rokok sangat berisiko karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah. Dua batang rokok terbukti dapat meningkatkan tekanan darah sebesar 10
mmHg. Berbagai penelitian membuktikan, sesudah merokok selama kurang
lebih 30 menit, tekanan darah akan meningkat secara signifikan. Rokok
meningkatakan tekanan darah lewat zat nikotin yang terdapat dalam tembakau.
Zat nikotin yang terisap beredar dalam pembuluh darah sampai ke otak. Otak
kemudian bereaksi dengan memberikan sinyal pada kelenjar adrenalin untuk
melepaskan hormone epinefrin/ adrenalin. Hormon adrenalin ini akan membuat
pembuluh darah menyempit dan memaksa jantung untuk bekerja lebih kuat
untuk memompa darah. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan tekanan
23

darah. Untuk itulah berhenti merokok sangat penting untk menurunkan dan
mngendalikan tekanan darah. Menghindari rokok dapat menjauhkan dari risiko
penyakit jantung dan pembuluh darah lain (Marliani, 2009).
Perokok dapat dibedakan menjadi perokok pasif dan aktif. Perokok pasif
adalah asapa rokok yang dihirup oleh seseorang yang tidak merokok (Pasive
Smoker). Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan lingkunagn
sekitarnya. Asap rokok lebih berbahaya terhadap perokok pasif daripada perokok
sktif. Asap rokok yang dihembuskan oleh perokok aktif dan terhirup oleh
perokok pasif, lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat
kali banyak
mengandung nikotin (Marliani, 2009).

Perokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari isapan perokok atau
asap utama pada rokok yang dihisap (mainstream). Dari pendapat diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa perokokaktif adalah orang merokok dan langsung
menghisap rokok serta bias mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri
maupun lingkungan sekitar (Marliani, 2009).
Jumlah rokok yang dihisap dapat dalam satuan batang, bungkus, pak per
hari. Jenis rokok dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu: perokok ringan apabila
merokok < 10 batang/hari, perokok sedang jika menghisap 10-20 batang/hari,
dan perokok berat jika menghisap > 20 batang/hari (Bustan, 2015).
Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali hisapan asap rokok
maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (satu bungkus) per
hari akan mengalami 70.000 hisapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam
rokok yang berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif (ditimbun). Suatu saat
dosis racunnya akan mencapai titik toksis sehingga akan mulai kelihatan gejala
yang ditimbulkan (Muttaqin, 2009).
2.4 Kerangka Konsep

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup (aktifitas fisik,
pola makan, kebiasaan istirahat, riwayat merokok) dengan kejadian hipertensi
24

pada lansia di Pelayanan Puskesmas Padangmatinggi. Maka dapat digambarkan


kerangka konsep penelitian sebagai berikut:
2.5 Hipotesis

Ha : Jika nilai signifikan (p) < 0,05 maka ada hubungan gaya hidup
dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Padangmatinggi
Ho : Jika nilai signifikan (p) > 0,05 maka tidak ada hubungan pola makan
dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Padangmatinggi

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis


penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian
yang berlandaskan pada filsafat positifisme, digunakan untuk meneliti pada
populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya
dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah di tetapkan (Sugiono, 2012). Desain penelitian adalah
25

keseluruhan rencana untuk membuat pertanyaan penelitian, termasuk spesifikasi


dalam menambah integritas penelitian (Polit & Beck, 2012). Desain penelitian
ini adalah deskriptif kolerasi dengan pendekatan Cross Sectional yaitu jenis
penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran atau observasi dalam satu
kali pada satu waktu yang dilakukan pada variabel terikat dan variabel bebas.
Pendekatan ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel satu dengan
variabel lainnya.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Bajoe yang memiliki jumlah


kunjungan lansia yang memenuhi untuk menjadi responden dalam penelitian ini
dan peningktan hipertensi terus meningkat

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu Penelitiannya dimulai dari persiapan sampai seminar hasil skripsi


yaitu dari bulan Maret 2021 sampai dengan September 2021. Berikut tabel
mengenai jadwal penelitian.
Tabel 2 Kegiatan dan Waktu Penelitian

Waktu Pelaksanaan
Kegiatan
Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep
Penyusunan Proposal
Seminar Proposal
26

Pelaksanaan Penelitian

Pengolahan Data

Seminar Hasil

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sujarweni, 2014).
Populasi dalam penelitian ini adalah sejumlah lansia yang datang
berkunjung ke Puskesmas Padangmatinggi dengan data pada bulan Januari-
Desember 2020 sebanyak 125 orang.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh


proposal yang digunakan untuk penelitian. Bila populasi besar, peneliti tidak
mungkin mengambil semua untuk penelitian misal karena terbatasnya dana,
tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari
populasi itu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah accidental sampling yaitu dilakukan dengan mendatangi responden yang
datang ke Puskesmas sesuai dengan konteks penelitian. Sampel yang di ambil
adalah yang memenuhi kriteria yaitu:
1. Lansia yang datang berobat di puskesmas

2. Berumur 55-70 tahun

3. Dapat mengerti bahasa Indonesia dan mampu membaca dan menulis

4. Bersedia menjadi responden.


27

Perhitungan besar sampel ditetapkan dengan menggunakan rumus Slovin

(Notoadmojo, 2005) yaitu:

n= N

1 + N (d)2

n= 125

1 + 125 (0,1)2

n= 125

2,25

n= 55,5

Keterangan : n : besar sampel N : besar populasi d2 :


tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0,1)
Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 55 responden.

3.4 Alat Pengumpul Data

3.4.1 Instrumen Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dan variabel yang akan diungkap dalam


penelitian ini, maka instrument yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri
dari 3 bagian, yaitu: pertama kuesioner data demografi (KDD) responden yang
meliputi nomor responden, umur, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, dan
pekerjaan, kedua kuesioner tentang gaya hidup (KGH), ketiga adalah kuesioner
kejadian hipertensi (KKH) yang didapat dari rekam medik pasien dengan
kategori penderita hipertensi dan tidak menderita hipertensi.
28

Kuesioner gaya hidup menggunakan kuesioner yang diadobsi dari


penelitian Romauli tahun 2014 dengan judul Pengaruh Gaya Hidup Terhadap
Kejadian Hipertensi Di RSUD Dr.H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi. Kuesioner
Gaya Hidup terdiri dari 4 aspek yaitu kuesioner aktifitas fisik yang memiliki
jumlah pertanyaan sebanyak 3 dan total skor sebesar 6 dengan kategori penilaian
Tidak cukup yaitu ≤ 3 dan Cukup yaitu > 3, kuesioner pola makan memiliki
jumlah pertanyan sebanyak 8 dan total skor 16 dengan kategori penilaian Tidak
baik yaitu ≤ 8 dan Baik yaitu > 8, kuesioner istirahat memiliki jumlah pertanyan
sebanyak 4 dan totak skor 8 dengan kategori penilaian Tidak cukup ≤ 4 dan
Cukup > 4, dan kuesioner riwayat merokok disusun dengan 1 pertanyaan yang
diajukan dengan jawaban “ya” dan “tidak”. Keempat aspek ini menggunakan
skala Guttman dimana setiap pertanyaan dijawab “Ya” diberi skore 2 dan
“Tidak”
diberi skore 0.
3.4.2 Validitas dan Realibilitas Instrumen Penelitian

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan


atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih
mempunyai validitas tinggi, dan juga sebaliknya (Arikunto, 2011). Instrumen
dikatakan valid jika instrument itu mampu mengukur yang seharusnya diukur
menurut situasi dan kondisi tertentu. Untuk menilai apakah kuesioner tersebut
dapat mengukur yang hendak diukur, maka dapat diuji dengan dua cara yaitu
dengan melakukan uji instrument atau dengan memvalidasi kuesioner kepada
seorang ahli di bidangnya. Uji validitas bertujuan mengetahui sejauh mana suatu
ukuran atau nilai yang menunjukan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat
ukur dengan cara mengukur korelasi antara variabel pada analisis reliabilitas
dengan melihat nilai correlation corrected item, dengan ketentuan jika nilai r
hitung > r table, maka dinyatakan valid dan sebaliknya (Hidayat, 2010).
Pada penelitian ini, peneliti tidak melakukan uji valid lagi karena
kuesioner yang digunakan adalah kuesioner yang di adobsi dan telah di uji valid
dengan nilai korelasi > 0,361 yaitu dengan rata-rata 0,636, maka dapat dikatakan
29

bahwa item alat ukur tersebut valid dan dapat digunakan dalam pengumpulan
data penelitian.
Menurut Arikunto (2011), reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa
suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat
pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik. Untuk mengetahui
apakah nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan itu significant, maka perlu mengukur
reliabilitas data, apakah alat ukur dapat dipergunakan atau tidak. Dalam
mengukur reliabilitas ini menggunakan rumus Cronbach’s Alpha. Pertanyaan
dikatakan reliabel, jika jawaban responden terhadap pertanyaan (kuesioner)
adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Reliabilitas menunjukkan pada
suatu pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya, untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik.
Instrument yang sudah dapat dipercaya atau reliabel akan menghasilkan data
yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar dan sesuai dengan
kenyataan, maka berapa kali diambil tetap sama (Riwidikdo, 2009).
Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu
alat pengukur dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercayai dengan
menggunakan metode Cronbach’s Alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur
dari satu kali pengukuran, dengan ketentun jika nilai r Alpha > r table, maka
dinyatakan reliable (Riyanto, 2009). Dalam penelitian ini, peneliti tidak
melakukan uji reliabel karena kuesioner yang digunakan diadobsi dan
didapatkan nilai 0,826. Dari hasil analisis model Cronbach’s Alpha tersebut
dinyatakan bahwa kuesioner penelitian ini telah memenuhi nilai reliabel karena
berdasarkan tabel taraf significant yang reliabel diperlukan nilai 0,6.
3.5 Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur awal peneliti adalah dengan mengajukan permohonan izin pelaksanaan


penelitian ke Komisi Etik Kesehatan kemudian pada Fakultas Keperawatan
Universitas Aufa Royhan di Kota Padangsidimpuan kemudian izin yang
diperoleh dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan, setelah
mendapat izin selanjutnya menyerahkan surat penelitian kepada Puskesmas
30

Padangmatinggi dan langsung melakukan survey awal untuk mengambil


populasi dan menentukan sampel. Kemudian melakukan penelitian dengan
menjelaskan maksud dan tujuan penelitian serta memberikan surat persetujuan
(informed consent) kepada responden, setelah mendapat persetujuan peneliti
langsung membagikan kuesioner untuk diisi. Setelah pertemuan tersebut peneliti
menunggu hasil pengisian kuesioner sambil menjelasakan hal-hal mana yang
belum bisa dimengerti. Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan proses
analisa data dengan menggunakan program komputerisasi.
3.6 Analisa Data

Data yang diperoleh dari hasil pengisian kuesioner diolah dengan


menggunakan komputer dengan langkah-langkah editing atau memeriksa
kelengkapan data termasuk isi instrument yaitu mengecek kelengkapan identitas
dan data responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi.
Kemudian memberi coding atau memberi tanda yaitu dengan mengklasifikasi
jawaban jawaban dari para responden kedalam kategori-kategori dan
diklasifikasikan dengan cara memberi tanda atau kode untuk mempermudah
melakukan tabulasi dan analisa data. Selanjutnya data diklarifikasi dengan
mentabulasi data yang telah dikumpulkan, jawaban yang telah diberi kode
kategori jawaban kemudian dimasukkan kedalam tabel. Setelah data diolah
menjadi suatu data yang diharapkan (tepat dan konsisten) selanjutnya dilakukan
analisa untuk menjawab pertanyaan penelitian.
3.7.1 Analisa Univariat

Analisa data secara univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran


distribusi frekuensi responden. Analisa ini digunakan untuk memperoleh
gambaran pada masing-masing variabel independen yang meliputi gaya hidup
(aktifitas fisik, pola makan, istirahat dan riwayat merokok) dan variabel
denpenden yaitu kejadian hipertensi.
31

3.7.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan dengan uji spearman rho yang digunakan


untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup (aktifitas fisik, pola makan,
kebiasaan istirahat, dan riwayat merokok) terhadap kejadian hipertensi pada
lansia di
Pelayanan Kesehatan Puskesmas Padangmatinggi dengan tingkat kemaknaan
(α): 0,05, jika nilai signifikan (p) lebih kecil dari α maka dikatakan hasil
penelitian diterima, dan jika nilai signifikan (p) lebih besar dari α maka
dikatakan hasil penelitian ditolak. Penilaian angka korelasi menentukan kuat dan
lemahnya hubungan variabel yaitu: (Sarwono J., 2016).
Korelasi sangat lemah : 0 – 0,25

Korelasi cukup : 0,25 – 0,5

Korelasi kuat : 0,5 – 0,75

Korelasi sangat kuat : 0,75 – 1

3.8 Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, etika merupakan salah satu hal yang sangat
penting untuk di perhatikan. Hal ini di sebabkan karena penelitian keperawatan
berhubungan langsung dengan manusia. Dalam melakukan penelitian, peneliti
mengajukan permohonan izin kepada Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Aufa Royhan. Setelah surat izin diperoleh peneliti melakukan
observasi kepada responden dengan memperhatikan etika sebagai berikut :
3.8.1 Informed Consent

Informed consen merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan


responden penelitian melalui lembar persetujuan. Sebelum memberikan lembar
persetujuan, peneliti menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan peneliti
serta dampaknya bagi responden. Bagi responden yang bersedia di minta untuk
menandatangani lembar persetujuan. Bagi responden yang tidak bersedia,
32

peneliti tidak memaksa dan harus menghormati hak-hak responden. Sedangkan


pada pengambilan data rekam medis dibutuhkan persetujuan dari pihak rumah
sakit yang terkait.
3.8.2 Anonimity (Tanpa Nama)

Peneliti memberikan jaminan terhadap identitas atau nama responden


dengan tidak mencatumkan nama responden pada. lembar penggumpulan data.
Akan tetapi peneliti hanya menuliskan kode atau inisial pada lembar
pengumpulan data atau hasil penelitian.
3.8.3 Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang telah di peroleh dijamin kerahasiaannya oleh


peneliti, dimana hanya kelompok data tertentu saja yang di laporkan pada hasil
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Anna, Palmer dkk. 2011. Tekanan Darah Tinggi. Jakarta : Erlangga.

Adriani, Merryana, dkk. 2012. Peranan Gizi Dalam Siklus Kehidupan. Jakarta :
Kencana Prenada Media Group.
Arikunto, S. (2011). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT

Rineka Cipta.

Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta: TIM.

American Heart Association. (2018). Prevalence of Normotension,

Prehypertension, and Hypertension in US Adults : Individual NHANES


Cycles (1999-2016). United States of Amerika : Anonim. Diakses dari
[Link]
prehypertensionhypertension-demographic-characteristics-individual-nhanes-
cycles-1999-
2016/

BPS. 2007. Sumatera Utara dalam Angka. Medan: Badan Pusat Statistik.

Bustan, M. N. (2015). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka

Cipta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Profil Kesehatan Republik

Indonesia.

Dahlan, M. S. (2004). Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:


Arkans.(2012). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes
34

[Link]://[Link]/resources/download/pusdatin/profilkesehatanind
onesia/ profil -[Link]. Diakses tanggal 25 September
2015.

Anda mungkin juga menyukai