0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Budaya Lombok Timur sebagai Sumber Kimia

Penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis budaya di Lombok Timur sebagai sumber belajar kimia, dengan fokus pada kebiasaan masyarakat dan adat istiadat yang masih relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa aspek budaya dapat diintegrasikan dengan konten kimia, dan rekomendasi diberikan untuk mengembangkan sumber belajar yang sesuai dengan prinsip pendidikan abad 21. Penilaian oleh ahli menunjukkan bahwa aspek visualisasi dan kejelasan integrasi budaya dengan konten kimia perlu ditingkatkan.

Diunggah oleh

wdayntileny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Budaya Lombok Timur sebagai Sumber Kimia

Penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis budaya di Lombok Timur sebagai sumber belajar kimia, dengan fokus pada kebiasaan masyarakat dan adat istiadat yang masih relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa aspek budaya dapat diintegrasikan dengan konten kimia, dan rekomendasi diberikan untuk mengembangkan sumber belajar yang sesuai dengan prinsip pendidikan abad 21. Penilaian oleh ahli menunjukkan bahwa aspek visualisasi dan kejelasan integrasi budaya dengan konten kimia perlu ditingkatkan.

Diunggah oleh

wdayntileny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Available online at: [Link].

id

EKSPLORASI BUDAYA DI LOMBOK TIMUR SEBAGAI SUMBER


BELAJAR KIMIA

Yunita Arian Sani Anwar1*, I Nyoman Loka2, Eka Junaidi3, Syarifa Wahidah Al Idrus4,
Jeckson Siahaan5
12345
Program Studi Pendidikan Kimia, Universitas Mataram. Jalan Majapahit No. 62
Mataram, NTB 83112, Indonesia.
* Coressponding Author. E-mail: yunita@[Link]

Received: 17 September 2023 Accepted: 30 November 2023 Published: 30 November 2023


doi: 10.29303/cep.v6i2.5675

Abstrak
Integrasi budaya dalam pembelajaran kimia saat ini masih terbatas pada visualisasi atau sebagai
bagian dari kegiatan apersepsi pada skenario pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena belum adanya
identifikasi dan analisis secara mendalam terkait dengan konten budaya dan integrasinya dengan konten
kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis budaya di Lombok Timur
sebagai sumber belajar kimia. Pengumpulan data dilakukan dengan penelusuran informasi terkait
budaya yang ada di Lombok Timur yang hingga saat ini masih digunakan oleh masyarakat. Budaya yang
dikaji dibatasi pada kebiasaan masyarakat dan adat istiadat. Data yang diperoleh dideskripsikan,
dianalisis, dan dikelompokkan ke dalam sumber belajar kimia. Hasil pengelompokan dinilai oleh lima
ahli bidang pendidikan kimia menggunakan Teknik Delphi melalui penilaian dan saran yang diberikan
oleh ahli. Draf yang telah dinilai ahli selanjutnya dinilai oleh praktisi terkait tanggapan dan peluang
penggunaan budaya sebagai sumber belajar kimia. Hasil penelitian menunjukkan kategori beberapa
aspek memiliki kategori cukup, baik dan sangat baik. Aspek yang banyak mendapatkan saran adalah
aspek 2 dan 3 yaitu visualisasi konten kimia dengan budaya dan kejelasan aspek budaya yang
terintegrasi dengan konten kimia. Rekomendasi dari penelitian ini perlu ada pengembangan sumber
belajar yang sesuai dengan prinsip pendidikan abad 21 yang mengintegrasikan hasil identifikasi.
Kata Kunci: eksplorasi budaya, pembelajaran kimia, Pendidikan abad 21

The Exploration of Culture in East Lombok as a Resource of Learning Chemistry

Abstract
Cultural integration in chemistry learning is still limited to visualization or as part of
apperception activities in learning scenarios. This integration is possible because there has been no in-
depth identification and analysis regarding cultural content and its integration with chemical content.
This research aims to identify and analyze culture in East Lombok as a source of chemistry learning.
Data collection was carried out by searching for information related to the culture in East Lombok,
which is still used by the community today. The culture studied is limited to community habits and
customs. The data obtained is described, analyzed, and grouped into chemistry learning resources. The
grouping results were assessed by five experts in the field of chemistry education using the Delphi
Technique through assessments and suggestions provided by the experts. Practitioners then consider
responders set by experts regarding responses and opportunities for using culture as a chemistry
learning resource. The research results show that several aspects are considered fair, reasonable, and
very good. The aspects that received many suggestions were aspects 2 and 3: visualization of chemistry
content with culture and clarity of cultural aspects integrated with chemistry content. The
recommendation from this research is that there is a need to develop learning resources that are by the
principles of 21st-century education that integrate identification results.
Keywords: culture exploration, chemistry learning, 21st-century education.

__________________________________________________________________________________
Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 184
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

budaya dan keanekaragaman sosial sebagai


PENDAHULUAN
bagian dari proses pembelajaran di sekolah
Pendidikan di masa kini dan masa depan (OECD, 2019).
bertujuan untuk mengintegrasikan antara konten Kurikulum Kimia saat ini perlu
dengan masalah global yang saat ini melanda mengintegrasikan sumber belajar dengan luaran
dunia. Masalah penting yang saat ini menjadi yang diharapkan dari aktivitas pembelajaran
perhatian dunia adalah masalah lingkungan, (Jackson & Hurst, 2021; Monat, 2020).
ekonomi, dan sosial. Ketiga masalah ini Penggunaan lingkungan sekitar dapat menjadi
membutuhkan Pendidikan dalam sumber belajar yang dapat membuat siswa
penyelesaiannya dan menjadi fokus pembelajaran mengenal masalah yang ada di kehidupan sehari-
hingga tahun 2030 (OECD, 2019). hari. Memanfaatkan isu yang berkembang
Di Indonesia, pendidikan saat ini mulai dengan konteks Kimia, dapat memicu diskusi
menerapkan kurikulum merdeka di semua serta memberikan kesempatan siswa
jenjang secara bertahap. Perbedaan yang terdapat menghubungkan konsep dengan kualitas hidup
dalam penerapan kurikulum ini dibandingkan (Hoper et al., 2020). Integrasi lingkungan dengan
dengan kurikulum 2013 adalah penggunaan pembelajaran dapat mematahkan paradigma
model pembelajaran inovatif dan profil pelajar terkait belajar Kimia yang tidak relevan dengan
Pancasila yang terintegrasi dalam pembelajaran. lingkungan sekitar (Remmen et al., 2020).
Profil ini terdiri atas enam ciri yaitu (1) beriman, Integrasi lingkungan dengan pembelajaran
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Kimia dapat menggunakan budaya masyarakat
berakhlak mulia, (2) berkebhinekaan global, (3) sekitar sebagai sumber belajar. Penggunaan
bergotong-royong, (4) mandiri, (5) bernalar budaya dapat memberikan pengaruh yang besar
kritis, dan (6) mandiri. Keenam ciri tersebut dalam bidang pendidikan. Pendekatan budaya
sangat kental dengan nilai-nilai budaya selain mendekatkan siswa dengan kehidupan
masyarakat sekitar sehingga perlu dibiasakan nyata, dapat mengenalkan dan mengajarkan nilai-
dalam proses pembelajaran (Kementerian nilai budaya dan perannya dalam pendidikan.
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nilai budaya mampu menciptakan dan
2020). mengkondisikan suasana belajar dan mengajar
Permasalahan dalam pembelajaran kimia yang bermakna (Parsons & Carlone, 2013). Di
berdasarkan hasil penelitian sebelumnya adalah Lombok, budaya dan kebiasaan turun temurun
kurangnya keterhubungan antara konsep dan banyak yang dapat digunakan sebagai bahan
lingkungan di sekitar siswa (Hoper & Koller, pembelajaran terutama penggunaan teknologi
2018). Hal ini berdampak pada persepsi negatif sederhana. Namun, hingga kini model
siswa terhadap manfaat kimia dalam kehidupan pembelajaran yang dikembangkan dengan
mereka dan motivasi belajar kimia yang rendah menggali budaya lombok belum banyak
(Broman et al., 2011). Selain itu, tanggapan dilakukan terutama untuk pembelajaran kimia.
publik terhadap kimia juga menjadikan perhatian Pembelajaran dengan pendekatan budaya
penting saat ini. Salah satu artikel memiliki banyak manfaat bagi siswa. Rist &
menggambarkan tanggapan dan persepsi negatif Dahdouh-Guebas (2006) menguraikan manfaat
tentang kimia terutama di bidang lingkungan dan etnosains menjadi 3 manfaat utama yaitu
aktivitas manusia yang terhubung dengan menciptakan kesadaran untuk menggali budaya
lingkungan (Guerris et al., 2020). melalui pemangku kepentingan dan komunitas
Keterlibatan lingkungan sebagai sumber sosial lainnya; berkontribusi dalam menyiapkan
belajar telah dideskripsikan melalui social wadah untuk membantu penyelesaian masalah
learning theory (SLT) oleh Albert Bandura. sosial; dan berperan aktif dalam proses sosial
Terdapat dua tipe teori SLT yaitu reinforcement sehingga membantu pemangku kepentingan
learning dan vicarious learning. Pada dalam merumuskan kebijakan dan
reinforcement learning, seseorang belajar dari implementasinya.
konsekuensi perilaku mereka. Umpan balik Kurangnya pendekatan budaya
positif dan negatif dari lingkungan seseorang menyebabkan siswa saat ini tidak mengenal
dapat membentuk perilaku mereka. Vicarious budaya yang ada di lingkungan sekitar. Padahal
learning adalah teori dimana seseorang belajar praktik dan persepsi lokal dapat membangun
dari mengamati orang-orang di sekitarnya sikap dan keterampilan siswa karena
(Bandura, 1986). Teori ini sejalan dengan fokus pembelajaran menghubungkan dengan
pendidikan saat ini untuk menghubungkan kehidupan sekitar mereka (Anwar et al., 2018).

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)


Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 185
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

Penelitian Ibe & Nwosu (2017) menggunakan dengan pengetahuan kimia, (5) aspek budaya
pendekatan etnosains sehingga mampu yang diuraikan terhubung dengan keterampilan
meningkatkan keterampilan proses siswa. Hingga kimia, (6) aspek budaya yang diuraikan
kini, guru belum mampu mengidentifikasi dan terhubung dengan sikap ilmiah, (7) aspek budaya
menghubungkan budaya dalam proses menarik untuk pembelajaran kimia, (8) kelogisan
pembelajaran sehingga siswa kehilangan uraian budaya dengan konten kimia, (9) nilai-
kesempatan mempertahankan budaya mereka nilai yang diuraikan sesuai dengan nilai karakter
(Parmin, 2017). yang perlu ditanamkan ke siswa, dan (10)
Laporan terkait dengan hubungan budaya integrasi budaya dan konten kimia tidak
khususnya di Lombok Timur dengan melanggar norma masyarakat. Aspek yang
pembelajaran Kimia masih sangat minim. Selama digunakan dikembangkan berdasarkan prinsip
ini penggunaan budaya pada pembelajaran Kimia pengembangan sumber belajar (An, 2021). Skala
masih terbatas pada pengenalan kebiasaan penilaian menggunakan 10 skala Likert.
tradisional untuk menghantarkan siswa belajar, Kuesioner juga dilengkapi dengan saran terkait
namun belum mengintegrasikan proses Kimia aspek yang dinilai.
yang terkandung dalam budaya tersebut. Teknik Analisis Data
Meskipun tidak semua budaya dapat dikaitkan
Hasil wawancara dideskripsikan dan
dengan pembelajaran Kimia, namun beberapa
dirangkum dalam bentuk uraian terkait budaya
kebiasaan masyarakat dan sains sederhana dapat
dan integrasinya dengan konten kimia. Hasil
digunakan sebagai sumber belajar untuk
penilaian ahli dianalisis dengan mencari
membiasakan karakter baik pada diri siswa.
persentasi skor 8-10, interquartile dan median.
METODE Hasil penilaian menggunakan kategori seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 1 (Giannarou &
Teknik Pengumpulan Data
Zervas, 2014).
Tahap ini dilakukan melalui penelusuran
informasi terkait budaya yang ada di Lombok Tabel 1. Kategori Penilaian Ahli dan Praktisi
Timur yang hingga saat ini masih digunakan oleh Indikator Kategori
masyarakat. Budaya yang dikaji dibatasi pada ≥ 80% skor 8-10 Sangat baik
kebiasaan masyarakat dan adat istiadat. Data Interquartile ≤ 2
yang diperoleh dideskripsikan, dianalisis, dan Median 8-10
dikelompokkan ke dalam sumber belajar kimia. 65%-79% skor 8-10 Baik
Hasil pengelompokan dinilai oleh lima ahli Interquartile ≤ 2
bidang pendidikan kimia menggunakan Teknik Median 8-10
50%-64% skor 8-10 Cukup
Delphi melalui penilaian dan saran yang
Interquartile > 3
diberikan oleh ahli. Draf yang telah dinilai ahli Median < 8
selanjutnya dinilai oleh praktisi terkait tanggapan < 50% skor 8-10 Kurang
dan peluang penggunaan budaya sebagai sumber Interquartile > 3
belajar kimia (Giannarou & Zervas, 2014). Median < 8
Instrumen Pengumpul Data HASIL DAN PEMBAHASAN
Instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data berupa daftar pertanyaan Hasil observasi terhadap budaya di
wawancara dan instrument penilaian oleh ahli Lombok Timur menunjukkan sedikitnya lima
dan praktisi. Pertanyaan wawancara difokuskan kebiasaan masyarakat dan adat istiadat yang
pada material, proses, dan nilai filosofis. masih dilestarikan hingga saat ini yaitu njeleng,
Pertanyaan dapat berkembang sesuai dengan poteng, pawai obor, begawe, dan mamak.
proses wawancara yang dilakukan secara face to Njeleng adalah tradisi membuat minyak kelapa
face terhadap narasumber. secara tradisional saat panen kelapa. Poteng
Instrumen penilaian oleh ahli berupa adalah makanan tradisional dari beras ketan yang
lembar kesepakatan yang menilai beberapa dibuat saat hari besar seperti idul fitri. Pawai obor
aspek. Aspek tersebut di antaranya (1) relevansi adalah kegiatan keliling kampung sambal
budaya dengan konten kimia, (2) visualisasi membawa obor saat malam takbiran. Begawe
konten kimia melalui budaya, (3) kejelasan aspek adalah tradisi masyarakat sebagai bentuk rasa
budaya yang terintegrasi dengan konten kimia, syukur dalam merayakan pernikahan, khitanan,
(4) aspek budaya yang diuraikan terhubung dan sebagainya. Mamak adalah kegiatan

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)


Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 186
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

mengunyah sirih saat berkumpul dengan besar di atas


keluarga. jangkeh
Kelima kebiasaan adat istiadat yang dengan
terpilih dianalisis berdasarkan aspek material, menggunakan
proses, dan nilai filosofis. Sebagai contoh tradisi kayu bakar.
Pemanasan
nyeleng dianalisis seperti yang ditunjukkan pada dilakukan
Tabel 2. dengan api
Tabel 2. Tradisi Njeleng besar. Untuk
memperbesar
Material Proses Nilai filosofis nyala api, api
Buah 1. Buah kelapa 1. Nilai kecil ditiup
kelapa segar diambil gotong dengan
segar daging royong semprong.
Air buahnya. 2. Saling Proses ini
Pepaya Proses ini menghargai sambal
muda dilakukan 3. Memulai diaduk-aduk
Kayu bakar oleh pemuda sesuatu dari arah
Jangkeh desa secara dari arah kanan ke kiri
Wajan bersama- kanan dan
Parutan sama. sebagai dilakukan
kelapa 2. Daging buah bagian dari oleh laki-laki
Semprong kelapa memulai sampai
diparut hal yang terbentuk
menggunakan baik minyak.
alat parut 6. Minyak yang
tradisional. telah
Aktivitas ini terbentuk
juga dipisahkan
dilakukan dari kerak
oleh pemuda yang disebut
desa. tailale.
3. Daging Minyak yang
kelapa yang dihasilkan
telah diparut dapat
diambil digunakan
santannya. untuk
Air yang memasak
digunakan atau obat
adalah air tradisional.
mengalir. Tailale dapat
Aktivitas ini juga
dilakukan digunakan
oleh Wanita. sebagai
4. Santan kelapa bahan
yang telah tambahan
dihasilkan memasak
ditambahkan
beberapa Analisis terkait keterhubungan dengan
potong konten kimia dapat dilihat dari ketiga aspek yaitu
papaya muda material, proses dan nilai filosofis. Sebagai
dan
didiamkan
contoh material dari tradisi njeleng merupakan
selama contoh dari materi yang tersusun dari partikel
beberapa jam. atom, molekul, dan ion. Pada proses dapat
5. Setelah itu dijelaskan mulai dari perubahan fisika, perubahan
santan bagian kimia, cara memisahkan campuran hingga
atas konsep katalisis. Sebagai contoh pada proses
dipanaskan ketiga saat daging buah kelapa diambil
dalam wajan santannya. Proses ini dapat menjadi sumber

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)


Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 187
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

belajar saat menjelaskan tentang koloid atau 10 Integrasi budaya dan konten Sangat Baik
tentang campuran. Nilai filosofis dapat menjadi kimia tidak melanggar norma
bagian dari mengajarkan sikap kepada siswa. masyarakat
Ketiga aspek dari setiap tradisi dapat memenuhi Tabel 5. Hasil Penilaian Praktisi
ketiga domain belajar yaitu domain kognitif,
psikomotorik, dan sikap. Hasil analisis konten No Aspek Kategori
kimia dari ketiga aspek tradisi ditunjukkan pada 1 Relevansi budaya dengan Baik
konten kimia
Tabel 3.
2 Visualisasi konten kimia Baik
Tabel 3. Analisis Konten Kimia dan Tradisi melalui budaya
Njeleng 3 Kejelasan aspek budaya yang Baik
terintegrasi dengan konten
Aspek Konten Kimia dan Domain Belajar kimia
Material Materi, Biomolekul, Sistem, Koloid 4 Aspek budaya yang diuraikan Sangat
(Domain kognitif dan psikomotorik) terhubung dengan pengetahuan Baik
Proses Perubahan kimia, koloid, kinetika kimia
kimia, katalisis, system dan 5 Aspek budaya yang diuraikan Baik
lingkungan (Domain kognitif dan terhubung dengan keterampilan
psikomotorik) kimia
Nilai Domain sikap 6 Aspek budaya yang diuraikan Baik
filosofis terhubung dengan sikap ilmiah
7 Aspek budaya menarik untuk Sangat
Hasil penilaian oleh expert dan praktisi pembelajaran kimia Baik
terhadap identifikasi ini secara keseluruhan 8 Kelogisan uraian budaya Baik
menunjukkan kategori baik dengan beberapa dengan konten kimia
aspek memiliki kategori cukup, baik dan sangat 9 Nilai-nilai yang diuraikan Sangat
baik. Aspek yang banyak mendapatkan saran sesuai dengan nilai karakter Baik
yang perlu ditanamkan ke siswa
adalah aspek 2 dan 3 yaitu visualisasi konten
10 Integrasi budaya dan konten Sangat
kimia dengan budaya dan kejelasan aspek budaya kimia tidak melanggar norma Baik
yang terintegrasi dengan konten kimia. masyarakat
Rangkuman hasil penilaian oleh expert dan
praktisi ditunjukkan pada Tabel 4 dan 5. Saran dan komentar yang diberikan oleh
Tabel 4. Hasil Penilaian Expert expert terkait identifikasi budaya dan integrasi
dengan konten kimia adalah (1) konten kimia
No Aspek Kategori dapat ditambahkan dengan laju reaksi seperti
1 Relevansi budaya dengan Baik pada proses pemisahan lemak dan air dari santan
konten kimia
2 Visualisasi konten kimia Cukup
dengan papaya muda termasuk pada peran
melalui budaya katalis. Selain itu pada proses mempercepat nyala
3 Kejelasan aspek budaya yang Cukup api dengan ditiup menggunakan semprong dapat
terintegrasi dengan konten dihubungkan dengan konsep laju reaksi melalui
kimia penambahan oksigen; (2) aspek budaya
4 Aspek budaya yang diuraikan Baik terhubung dengan keterampilan kimia dapat
terhubung dengan dirancang berupa eksperimen sederhana atau
pengetahuan kimia demonstrasi sederhana sehingga terhubung
5 Aspek budaya yang diuraikan Baik dengan visualisasi; (3) perlu dilanjutkan dalam
terhubung dengan bentuk pengembangan LKPD yang menarik
keterampilan kimia
6 Aspek budaya yang diuraikan Baik
sebagai bagian dari perangkat pembelajaran
terhubung dengan sikap kimia.
ilmiah Tanggapan dan saran dari praktisi secara
7 Aspek budaya menarik untuk Baik keseluruhan di antaranya (1) perlu ada penjelasan
pembelajaran kimia tambahan keterkaitan budaya dengan konten
8 Kelogisan uraian budaya Baik kimia; (2) perlu ada pengembangan buku guru
dengan konten kimia untuk memudahkan penggunaan budaya sebagai
9 Nilai-nilai yang diuraikan Sangat Baik sumber belajar kimia. Komentar secara
sesuai dengan nilai karakter keseluruhan menunjukkan ketertarikan dengan
yang perlu ditanamkan ke integrasi budaya untuk konten kimia. Alasan
siswa

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)


Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 188
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

beberapa guru karena pembelajaran kimia lebih Beberapa riset internasional telah
sarat dengan konten yang sulit sehingga siswa melaporkan tentang penggunaan budaya dan adat
kurang tertarik untuk mempelajarinya. istiadat sekitar sebagai sumber belajar kimia.
Identifikasi budaya khususnya budaya di Cerita atau kisah yang ada di suatu negara atau
Lombok Timur hingga tulisan ini disusun belum suatu komunitas dapat digunakan sebagai sumber
dilaporkan terutama sebagai sumber belajar belajar kimia yang relevan dan mendekatkan
kimia. Beberapa penelitian telah mulai siswa dengan lingkungannya (Johnson, 2022;
menyentuh budaya dalam visualisasi Winstead et al., 2022). Secara akademik,
pembelajaran kimia meskipun hasil penelitian penggunaan budaya memiliki implikasi dalam
sebelumnya menyatakan penggunaan budaya mencapai tujuan belajar. Penelitian Oladejo et al.
masih sangat minim di kalangan guru kimia (2022) melaporkan bahwa pendekatan budaya
(Handayani et al., 2022). Namun, antusias dalam dapat meningkatkan hasil belajar kimia dan
perbaikan pembelajaran kimia perlu diperkuat disarankan untuk proses pembelajaran masa
sehingga implementasi budaya bisa dilakukan depan. Selain dapat meningkatkan hasil belajar,
dengan lebih mendalam. budaya sekitar juga dapat meningkatkan minat
Studi terkait sumber belajar telah untuk belajar kimia (Younge et al., 2022).
menjelaskan bahwa artefak atau dokumen budaya Pendekatan budaya dapat diintegrasikan dengan
secara umum dapat menjadi sumber belajar yang model pembelajaran inovatif dalam
menarik. Prinsip pemilihan budaya sebagai implementasinya. Penelitian Spencer et al.
sumber belajar di antaranya (1) siswa merupakan (2022). Menggunakan model proyek kimia
individu yang dapat memiliki kebutuhan belajar dengan integrasi sumber daya lokal, budaya dan
yang berbeda; (2) dapat mendukung sains untuk membantu siswa sekolah menengah
pembelajaran offline maupun online; dan (3) dalam membangun konsep kimia dan
dapat menginspirasi atau memotivasi siswa memberikan pengalaman belajar yang lebih baik.
(Gosling, 2009). Identifikasi yang kami lakukan Riset kami akan diarahkan dalam pengembangan
dapat memenuhi ketiga prinsip pengembangan sumber belajar dan implementasinya dalam
sumber belajar yang dimaksud. Sesuai dengan pembelajaran kimia baik pada siswa sekolah
saran expert dan praktisi, ketiga prinsip dapat menengah maupun perguruan tinggi.
dilakukan dengan pengembangan LKPD atau
SIMPULAN
modul ajar baik secara elektronik maupun cetak
yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Sebanyak lima budaya dan adat istiadat di
Penggunaan budaya dapat memberikan proses daerah Lombok Timur telah diidentifikasi
pembelajaran yang berbeda dengan pembelajaran sebagai sumber belajar dalam bentuk material,
sebelumnya. proses, dan nilai-nilai filosofis dengan integrasi
Perkembangan pembelajaran untuk pada konten kimia. Hasil kesepakatan ahli
mewujudkan Pendidikan abad 21 menuntut menunjukkan kategori baik dengan beberapa
pengembangan sumber belajar yang terbuka dan aspek memiliki kategori cukup, baik dan sangat
fleksibel sesuai dengan kebutuhan siswa. baik. Aspek yang banyak mendapatkan saran
Pengembangan sumber belajar yang terbuka adalah aspek 2 dan 3 yaitu visualisasi konten
dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kimia dengan budaya dan kejelasan aspek budaya
memiliki keuntungan di antaranya (1) yang terintegrasi dengan konten kimia.
memberikan pengalaman belajar yang baik bagi REKOMENDASI
siswa; (2) sumber belajar dapat diakses secara
luas; (3) penggunaan sumber daya yang lebih 1. Hasil identifikasi perlu dianalisis lebih lanjut
efisien; dan (4) memberikan pembelajaran sesuai untuk pembelajaran kimia di tingkat sekolah
dengan dengan kebutuhan siswa (Cosan, 2021). menengah dan perguruan tinggi.
Penelitian sebelumnya telah 2. Analisis dapat digunakan sebagai bahan
mengembangkan modul pembelajaran berbasis pengembangan sumber belajar seperti LKPD
etnosains menggunakan budaya di daerah atau RTM mahasiswa.
Lombok Tengah. Namun, modul hanya terbatas 3. Hasil identifikasi dapat digunakan sebagai
pada visualisasi dan sebagai pengantar dalam dasar pengembangan model pembelajaran
menjelaskan konsep asam basa. Integrasi antara dengan pendekatan budaya pada konten
material dan proses dengan konten kimia belum kimia.
dilakukan dengan kuat (Utari et al., 2021).

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)


Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 189
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

UCAPAN TERIMA KASIH Culturally Responsive Transformative


Teaching (CRTT). Journal of Classroom
Penelitian ini dibiayai oleh dana penelitian
Action Research, 4(4).
PNBP tahun anggaran 2023. Penulis
[Link]
mengucapkan terima kasih kepada seluruh expert
Höper, Jan; Køller, Hans-Georg. (2018). Outdoor
dan anggota MGMP guru kimia Lombok Timur.
chemistry in teacher education – a case
DAFTAR PUSTAKA study about finding carbohydrates in
An, Y. (2021). A history of instructional media, nature. LUMAT: Research and Practice in
instructional design, and theories. Math, Science and Technology Education,
6(2), 27-45.
International Journal of Technology in
Education (IJTE), 4(1), 1-21. Doi:10.31129/LUMAT.6.2.314.
[Link] Hoper, J., Jegstad, K.M., & Remmen, K.B.
Anwar, Y.A.S., Senam, S., & Laksono, E.W. (2022). Student teachers’ problem-based
(2018). The use of investigations of chemical phenomena in
orientation/decision/do/discuss/reflect the nearby outdoor environment.
(OD3R) method to increase critical Chemistry Education Research and
thinking skill and practical skill in Practice, 23, 361-372. Doi:
biochemistry learning. Biochemistry and 10.1039/D1RP00127B
Molecular Biology Education, 46(2), 107- Ibe, E., & Nwosu, A.A. Effects of ethnoscience
and traditional laboratory practical on
113. Doi: 10.1002/bmb.21096
Bandura, A., & National Inst of Mental Health. science process skills acquisition of
(1986). Social foundations of thought and secondary school biology students in
action: A social cognitive theory. Prentice- Nigeria. British Journal of
Hall, Inc. Multidisciplinary and Advanced Studies
Broman, K., Ekborg, M., & Johnels, J. (2011). Vol. 1(No.1) (2017) 35-46.
Chemistry in crisis? Perspectives on Jackson, A., & Hurst, G.A. (2021). Faculty
teaching and learning chemistry in perspectives regarding the integration of
Swedish upper secondary schools. systems thinking into chemistry education.
Nordina, 7(1), 43-53. doi: Chemistry Education Research and
[Link] Practice, 22, 855-865. doi:
Cosan, O. (2021). The Importance Of Open 10.1039/D1RP00078K
Educational Resources In The Digital Age. Johnson, S.S. (2022). Embracing Culturally
The Online Journal of New Horizons in Relevant Pedagogy to Engage Students in
Chemistry: Celebrating Black Women in
Education, 11(4), 255-258.
Giannarou, L., & Zervas, E. (2014). Using Delphi the Whiskey and Spirits Industry. Journal
Technique to Build Consensus in Practice. of Chemical Education, 99(1), 428-434.
International Journal of Business Science Doi: 10.1021/[Link].1c00504
and Applied Management, 9(2), 65–82. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Roset dan
Retrieved from [Link]-and- Teknologi (2020). Profil Pelajar Pancasila.
[Link]/library/2014/9_2_65-82- Profil Pelajar Pancasila - Direktorat
Sekolah Dasar ([Link]).
Giannorou,[Link].
Gosling, D. (2009). Supporting Student Learning. Monat, J.P. A Systems Thinking Perspective on
In :A Handbook for Teaching and Abiogenesis, American Journal of Systems
Learning in Higher Education. Science, Vol. 7 No. 1, 2020, pp. 1-16. doi:
Routledge. Halaman 115-116. 10.5923/[Link].20200701.01.
Guerris M., J. Cuadros, L. Gonzales-Sabate & V. OECD (2019), “Directorate for Education and
Serrano. (2020). Describing the public Skills”, in Secretary-General's Report to
perception of chemistry on Twitter. Ministers 2019, OECD Publishing, Paris.
Chemistry Education Research and Doi: [Link]
Practice, 21, 989-999. Doi: Oladejo, A.I., P. A. Okebukola, T. T. Olateju, V.
10.1039/C9RP00282K O. Akinola, A. Ebisin, and T. V. Dansu.
Handayani, A. A. A. T.., Andayani, Y., & Anwar, (2022). In Search of Culturally Responsive
Y. A. S. (2022). Pengembangan LKPD Tools for Meaningful Learning of
Chemistry in Africa: We Stumbled on the
IPA SMP Berbasis Etnosains Terintegrasi
Culturo-Techno-Contextual Approach.

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)


Chemistry Education Practice, 6 (2), 2023 - 190
Anwar, Loka, Junaidi, Idrus, Siahaan

Journal of Chemical
Education, 99 (1), 402-408. Doi:
10.1021/[Link].2c00126
Parmin. Ethosains. Swadaya Manunggal,
Semarang, 2017.
Parsons, E.C., & Carlone, H.B. (2013). Culture
and science education in the 21st century:
Extending and making the cultural box
more inclusive. Journal of Research in
Science Teaching, 50(1), 1-11
Remmen K. B., Jegstad K. M. and Höper J.,
(2020), Preservice teachers’ reflections on
outdoor science activities following an
outdoor chemistry unit, J. Sci. Teacher
Educ., 1–19.
Spencer, J.L., D. N. Maxwell, K. R. S. Erickson,
D. Wall, L. Nicholas-Figueroa, K.
A. Pratt, & G. V. Shultz. (2022). Cultural
Relevance in Chemistry Education: Snow
Chemistry and the Iñupiaq Community.
Journal of Chemical
Education, 99 (1), 363-372. Doi:
10.1021/[Link].1c00480
Utari, R., Andayani Y., Savalas, L.R.T., &
Anwar, Y.A.S. (2021). Validity of
ethnoscience based chemistry learning
media emphasizing character values and
conservation behavior. Jurnal Penelitian
Pendidikan IPA, 7(1), 45-48. Doi:
10.29303/jppipa.v7i1.469
Winstead, A.J., Pumtiwitt C. McCarthy., Daria
S. Rice, & Grace W. Nyambura. (2022).
Linking Chemistry to Community:
Integration of Culturally Responsive
Teaching into General Chemistry I
Laboratory in a Remote Setting. Journal of
Chemical Education, 99 (1), 402-408.
Doi: 10.1021/[Link].1c00494
Younge, S., D. Dickens, L. Winfield, & S. S.
Johnson. (2022). Moving Beyond the
Experiment to See Chemists Like Me:
Cultural Relevance in the Organic
Chemistry Laboratory. Journal of
Chemical Education, 99(1), 383-392. Doi:
10.1021/[Link].1c00488

ISSN 2654-8119 (print), ISSN 2656-3940 (online)

Anda mungkin juga menyukai