Nilai-Nilai Budaya Tradisi Syawalan di Masyarakat Dusun
Jompong Desa Sumber Kecamatan Kradenan
Paper
Diajukan untuk memenuhi penugasan ujian sekolah
SMA NU 1 Kradenan
Oleh :
Dimas Adi Setyawan
NISN 0064195976
XII C
SMA NU 1 KRADENAN
Jalan Raya Peting – Menden KM 2,6
Desa Sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora ( 58383
) E-mail : smanu1Kradenan@[Link]
Tahun Pelajaran 2024/2025
i
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Kami kepala SMA NU 1 KRADENAN beserta pembimbing dalam penyusunan paper
ini setelah mengadakan perbaikan dan penelitian seperlunya kepada:
Nama : Dimas Adi Setyawan
NISN : 0064195976
Kelas : XII C
Tanggal : 31 Januari 2025
Judul paper : Nilai-Nilai Budaya Tradisi Syawalan di Masyarakat Dusun
Jompong Desa Sumber Kecamatan Kradenan
Kami menerima dan mengesahkan Paper tersebut, untuk memenuhi penugasan ujian
sekolah pada SMA NU 1 Kradenan tahun ajaran 2024/2025
Kradenan, 31 Januari 2025
Mengetahui,
Kepala SMA NU 1 Kradenan Pembimbing Paper
(Sudiro, S. Pd. I) (Dewi Suci Nawangsari, S.S)
1
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kehadirat allah yang maha [Link] rahmatnya saya bisa
menyelesaikan paper yang dengan Judul “Nilai-Nilai Budaya Tradisi Syawalan di
Masyarakat Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan Kradenan” dengan lancar guna
untuk menyelesaikan ujian sekolah. Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih
kepada segenap pihak yang terkait khususnya:
1. Bapak Sudiro, [Link].I. selaku kepala SMANU 1 KRADENAN
2. Bapak Adibusshofa [Link], I selaku wali kelas XII
3. Ibu Dewi Suci Nawangsari, S.S selaku guru pembimbing paper
4. Segenap Bapak/Ibu guru di SMANU 1 KRADENAN, serta
5. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu
Selanjutnya saya memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam paper yang
saya buat. Maka dari itu, kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan guna
tercapai presentasi di masa yang akan datang. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita
semua. Aamiin
Penyusun
: Dimas Adi Setyawan
2
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................................1
KATA PENGANTAR..................................................................................................2
DAFTAR ISI................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................4
A. Latar Belakang Masalah........................................................................................4
B. Rumusan Masalah.................................................................................................6
C. Tujuan Masalah.....................................................................................................6
BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................7
1. Proses Tradisi Syawalan di Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan Kradenan
...................................................................................................................................7
2. Nilai-Nilai Tradisi Syawalan Di Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan
Kradenan....................................................................................................................8
BAB III PENUTUP....................................................................................................11
A. KESIMPULAN...................................................................................................11
B. SARAN...............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................13
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap bangsa di dunia mempunyai kebudayaan yang unik, walaupun bentuk dan pola
kebudayaan tersebut sangat bervariasi antar bangsa. Keberagaman budaya ini
menyoroti kesamaan sifat manusia yang melekat pada berbagai suku, bangsa, dan ras.
Keberagaman dalam budaya daerah sering kali bergantung pada faktor geografis.
Semakin luas wilayah geografisnya, semakin kompleks dan beragam perbedaan
budayanya. Misalnya saja, di Indonesia, negara yang terkenal dengan kepulauannya
yang luas, keanekaragaman budayanya sangat luar biasa. Keunikan tersebut tidak
hanya menjadi sebuah kebanggaan namun juga menjadi aset yang tak ternilai bagi
Indonesia. Melestarikan dan memelihara warisan budaya ini sangatlah penting karena
dapat mempertegas jati diri bangsa dan memupuk persatuan di tengah keberagaman.
Masyarakat menunjukkan beragam manifestasi budaya karena banyak faktor
seperti pengaruh agama, sosial, hukum, dan ekonomi. Faktor-faktor ini membentuk
dan mendorong penerapan praktik budaya. Dari sudut pandang sosiologi dan
antropologi, struktur masyarakat Indonesia merupakan cerminan dari sistem sosial
budaya yang kompleks. Secara horizontal, kompleksitas tersebut terlihat dari adanya
unit etnis yang beragam, yang masing-masing dibedakan berdasarkan keunikan etnis,
adat istiadat, agama, dan ciri khas daerah lainnya. Keberagaman horizontal ini
menciptakan lanskap sosial yang kaya dan beragam. Kelompok etnis di Indonesia
mempertahankan identitas budaya yang berbeda dan hidup berdampingan dalam
kerangka nasional yang lebih luas. Perbedaan ini mencakup berbagai praktik dan
kepercayaan, mulai dari bahasa dan pakaian tradisional hingga ritual keagamaan dan
norma sosial.
Kebudayaan adalah produk kreativitas, emosi, dan kerja manusia, yang
meliputi gagasan dan cara pandang yang berkaitan dengan keyakinan, seni,
pengetahuan, persepsi, adat istiadat, modal, hukum, perilaku, sikap, kebiasaan, dan
keyakinan. Keyakinan ini melampaui agama dan keyakinan kepada Tuhan Yang
Maha
4
Esa, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Lodowik et al., 2022:
2).
Tradisi adalah kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi berbagai
kebutuhan, meliputi sistem kepercayaan, sistem sosial, dan hiburan. Kegiatan-
kegiatan ini menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat, berkembang menjadi praktik
budaya.
Syawalan merupakan tradisi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia,
berakar pada amanat dan praktik keagamaan yang berkembang seiring berjalannya
waktu. Pada mulanya tradisi Syawalan muncul atas prakarsa kalangan ulama (ulama)
sebagai sarana menunaikan kewajiban agama dan membina persahabatan antar umat
beriman (ngatoillah et al., 2023: 175). Amalan Syawalan saat ini berbeda dengan
konteks sejarah pada masa Nabi, yang dilaksanakan dengan puasa enam hari setelah
Ramadhan. Di Indonesia masa kini, khususnya pada masyarakat Jawa dan khususnya
di Desa Pendowo Harjo, Syawalan telah menjelma menjadi sebuah perayaan hari raya
yang meriah.. Syawalan dirayakan dalam berbagai bentuk di berbagai daerah di
Indonesia, yang dikenal dengan istilah berbeda seperti kenduri, ketupat, dan bada
kupat. Bagi masyarakat Jawa, Syawalan menyimpan makna budaya yang mendalam
sebagai simbol kedekatan masyarakat. Tradisi ini sering kali melibatkan jabat tangan
massal, yang mencerminkan keinginan untuk saling memaafkan dan membangun
hubungan yang harmonis di antara anggota masyarakat. Praktek ini tersebar luas di
seluruh Indonesia, di mana tradisi jabat tangan massal pada Syawalan berfungsi
sebagai upaya bersama untuk mencari maaf dan memupuk persatuan. (Azis, 2021: 2).
Tradisi Syawalan di Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan Kradenan
diabadikan melalui serangkaian acara budaya yang mencerminkan kekompakan
masyarakat dan nilai-nilai bersama. Perayaan biasanya dimulai dengan yasinan
kelompok, pembacaan ayat-ayat Alquran, diikuti dengan tausiah, yang melibatkan
ajaran agama dan diskusi. Silaturahmi dilanjutkan dengan makan bersama, dimana
para peserta berkumpul untuk menikmati makanan dalam semangat persatuan. Salah
satu aspek penting dari tradisi Syawalan di desa ini adalah praktik halal bi halal.
Dalam ritual ini, warga masyarakat mengunjungi kerabat, tetangga, dan
kenalannya untuk mempererat ikatan sosial.
5
Tradisi ini melibatkan berjabat tangan dan meminta maaf satu sama lain,
melambangkan rekonsiliasi dan membina keharmonisan dalam masyarakat (Rini,
2023: 13).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses tradisi syawalan di Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan
Kradenan?
2. Bagaimana nilai-nilai tradisi syawalan di Dusun Jompong Desa Sumber
Kecamatan Kradenan?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui bagaimana proses tradisi syawalan di Dusun Jompong Desa
Sumber Kecamatan Kradenan.
2. Untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai tradisi syawalan di Dusun Jompong
Desa Sumber Kecamatan Kradenan.
6
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Proses Tradisi Syawalan di Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan
Kradenan
Adapun proses tradisi syawalan yang dilakukan oleh masyarakat Dusun
Jompong melalui Tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Persiapan
Pada tahap persiapan melakukan musyawarah yang di lakukan oleh
masyarakat, seperti musyawarah setelah sholat jumat, seperti dilakukan musyawarah
setelah sholat jum’at (laki-laki), selanjutnya musyawarah yang dilakukan jama’ah
yasin rutin (perempuan). Musyawarah ini dilakukan guna untuk menentukan atau
membahas kapan waktu yang tepat dilaksanakan nya kgiatan syawalan terssebut,
seperti dilakukan pada malam atau waktu, dan pembagian tim makanan akan
dilaksanakan kegiatan Syawalan tersebut. Dalam proses persiapan ini pembawa acara
atau MC memimpin jalan nya acara tersebut, seperti memeberi tahu siapa saja yang
terlibat di acara Syawalan tersebut, seperti siapa yang akan mengisi acara, siapa yang
akan membaca al-qur’an, siapa yang akan berceramah (tausiyah), siapa yang akan
bersholawat, dan siapa yang akan membaca do’a setelah selesai.
b. Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksaan tradisi Syawalan. Pada pelaksanaan di
mulai biasanya di malam hari setelah sholat isya pada pukul 20:30 sampai dengan
selesai di waktu dan hari yang telah di tentukan pada musyawarah sebelumnya.
Dalam tahap pelaksanaan yaitu di laksanakan nya sholat berjamaah, mengikuti
rangkaian acara seperti pembukaan, sambutan, sholawat nabi, do’a dan di lanjutkan
dengan halal bilhalal dan makan bersama. Biasa nya di lakukan setelah sholat isya
bersama, setelah sholat isya berjama’ah lalu rangkaian acara di laksanakan.
7
c. Perlengkapan
Pada tahap ini yaitu perlengkapan yang harus di bawa ke mushola atau masjid.
Masyarakat Pendowo Harjo umumnya telah mempersiapkan perlengkapan yang akan
di bawah dalam kegiatan Syawalan, mayarakat akan mempersipkan makanan
sebelum berangkat, seperti ketupat beserta lauk pauk nya tersebut. Adapun makanan
nya yaitu ketupat dari daun kelapa ataupun dari daun bambu, lauknya pun bervariasi
biasanya terdapat daging ayam, ikan laut, udang, ikan asin dan rempeyek tergantung
buatan masing-masing perorangan. Di dalam tradisi Syawalan ini masyarakat.
2. Nilai-Nilai Tradisi Syawalan Di Dusun Jompong Desa Sumber Kecamatan
Kradenan
Banyak sekali nilai dakwah yang terdapat di dalam Tradisi Syawalan ini, seperti nilai
aqidah, nilai ibadah, dan nilai akhlak.
a. Nilai Aqidah (Keimanan Islam)
Di dalam nilai aqidah terdapat nilai keimanan, nilai keimanan inilah yang sangat
berpengaruh dengan perilaku umat islam, bagaimana nya perilaku yang sesuai dengan
keimanan islam itu sendiri. Salah satu tetua di Desa tersebut mengatakan bahwa
“Biasane seseorang ki ngamalke kabeh perintah seng terdapat neng al qur’an, ngadohi
kabeh larangane, dan biasane berkata apik, saling ngemuliake dan nolak tindasan-
tindasan atau nolak di jatuhke karo sesama menungso”
b. Nilai ibadah (kehidupan sehari-hari)
Nilai dakwah yang kedua yaitu nilai ibadah, bagaimana seseorang itu supaya bisa
memegang teguh ibadah dalam kehidupan sehari-hari nya. Dalam njalanke ibadah kui
seseorang harus nguatke niat, ningkatke kesadaran, doa ne seng tulus, okehi dzikir,
boco al-qur’an, ngelaksanake ibadah sunnah nek sempet, ngelaksanake sholat limo
wektu, lan nerimo takdire allah SWT”. Terjemahan: Dalam menjalankan ibadah itu,
8
seseorang harus menguatkan niat, meningkatkan kesadaran, berdoa yang tulus,
perbanyak dzikir, membaca al – qur’an, melaksanakan ibadah sunnah jika sempat,
melaksanakan solat lima waktu, dan menerima takdir nya Allah SWT.
c. Nilai akhlak Di dalam perilaku seseorang pasti terdapat akhlak karena ahlak ini
berpengaruh terhadap perilaku seseorang. “Mergo akhlak kui adalah sifat seng
tertanam kuat seko diri menungso seng seko dee lah lahir perbuatan seng penak tanpo
pertimbangan pikiran sek,dadi nek menungso ora ndue akhlak iku sangat pengaruh
neng njero masyarakat tentang enek e sopan lan santun”. Terjemahan: Karena akhlak
adalah sifat yang tertanam kuat dalam diri manusia yang darinya lah terlahir
perbuatan dengan mudah tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu, jadi jika
manusia tidak mempunyi akhlak akan sangat berpengaruh di dalam masyarakat
tentang sopan santun nya.
d. Proses pelaksaaan tradisi Syawalan yaitu persiapan, pelaksaan dan perlengkapan.
Proses yang di lalui sebelum acara Syawalan ini yaitu masyarakat Dusun Jompong
ini sehari sebelumnya mengadakan musyawarah terlebih dahulu, setelah itu terjadinya
kesepakatan bersama. Siapa yang membawa ketupatnya, lauknya atau pun minum
nya, setelah musyawarah sepakat dan selesai masyarakat di Dusun Jompong ini
mempersiapkan ketupat, memasak lauk atau pun mempersiapkan minuman nya.
Setelah itu waktu sudah petang masyarakat Dusun Jompong berangkat ke Masjid.
Setelah itu melaksanakan sholat berjamaah.
Proses persiapan yaitu pembawa acara atau MC memimpin jalan nya acara
tersebut, seperti memberi tahu siapa saja yang terlibat di acara Syawalan tersebut,
seperti siapa yang akan mengisi acara, siapa yang akan membaca al qur’an, siapa
yang bersholawat, siapa yang akan memberikan sambutan, siapa yang akan
berceramah dan siapa yang akan membaca doa setelah selesai. Proses pelaksanaan
yaitu di laksanakan nya kegiatan halal bil halal, makan bersama ini di masjid dan di
laksanakan tujuh hari setelah lebaran iduk fitri. Adapun proses selanjutnya yaitu
Proses perlengkapan yaitu perlengkapan yang disiapkan untuk kegiatan Syawalan di
masjid ini, masyarakat mempersiapkan makanan yang paling utama adalah sebelum
hari di laksanakan masyarakat membuat ketupat, dan memasak lauk pauk nya seperti
daging, ikan, udang
9
ataupun rempeyek nya. Setelah acara semua sudah selesai masyarakat melakukan
halal bilhalal meminta maaf satu sama lain, setelah itu di laksanakan makan bersama,
setelah makan bersama selesai jama’ah (masyarakat) membersihkan tempat, laki-laki
membersihkan di bagian dalam masjid, dan yang perempuan membersihkan bagian
mimbar dan acara Syawalan ini karena acara ini di adakan hanya satu tahu sekali.
e. Nilai dakwah di dalam tradisi Syawalan ini yaitu nilai aqidah, ibadah dan akhlak.
Nilai aqidah (keimanan), yaitu nilai yang menempatkan iman pada posisi yang paling
dasarnilai ibadah yaitu di mana tata peribadahan di kenalkan sejak dini agar tumbuh
menjadi manusia yang taat, dan nilai akhlak yaitu di mana mencakup nilai-nilai
kesopanan dan tata krama seseorang.
10
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Proses pelaksaaan tradisi Syawalan yaitu persiapan, pelaksaan dan
perlengkapan. Proses persiapan yaitu pembawa acara atau MC memimpin
jalan nya acara tersebut, seperti memberi tahu siapa saja yang terlibat di acara
Syawalan tersebut, seperti siapa yang akan mengisi acara, siapa yang akan
membaca al qur’an, siapa yang bersholawat, siapa yang akan memberikan
sambutan, siapa yang akan berceramah dan siapa yang akan membaca doa
setelah selesai. Proses pelaksanaan yaitu di laksanakan nya kegiatan
Syawalan, halal bil halal, makan bersama ini di masjid dan di laksanakan
tujuh hari setelah lebaran iduk fitri. Adapun proses selanjutnya yaitu Proses
perlengkapan yaitu perlengkapan yang disiapkan untuk kegiatan Syawalan di
masjid ini, masyarakat mempersiapkan makanan yang paling utama adalah
sebelum hari di laksanakan masyarakat membuat ketupat, dan memasak lauk
pauk nya seperti daging, ikan, udang ataupun rempeyek nya. Di dalam tradisi
Syawalan masyarakat Dusun Jompong ini mayoritas dari tahun sebelum-
sebelumnya menu untuk kegiatan tradisi Syawalan ini tidak ada yang berubah
mungkin ada sedikit tambahan menu.
Nilai dakwah di dalam tradisi Syawalan ini yaitu nilai aqidah, ibadah
dan akhlak. Nilai aqidah (keimanan), yaitu nilai yang menempatkan iman
pada posisi yang paling dasarnilai ibadah yaitu di mana tata peribadahan di
kenalkan sejak dini agar tumbuh menjadi manusia yang taat, dan nilai akhlak
yaitu di mana mencakup nilainilai kesopanan dan tata krama seseorang.
11
B. SARAN
Untuk masyarakat yang merayakan Syawalan (Halal Bihalal),
disarankan untuk menjaga semangat kebersamaan, saling memaafkan, dan
mempererat silaturahmi. Selain itu, bisa juga mengadakan kegiatan positif
seperti doa bersama, makan bersama, atau hiburan ringan yang menghibur
semua pihak.
12
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Muhammad Rafi., [Link]. 2023. “Nilai Budaya Dalam Tradisi Perkawinan Bahu
Laweyan Di Desa Mindahan Bate Alit Jepara”, Jurnal Penelitian
Pendidikan Bahasa Indonesia, E-Issn: 2777-1318, (Juni 2023)
Apilisa, Hani Ananda., & Bagus Wahyu Setyawan. 2021. “Makna Filosofis Tradisi
Ambengan di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha Bagi Masyarakat
Tulungagung”, Jurnal Studi Keagamaan sosial dan budaya, Vol. 6, No. 2,
(Desember 2021)
Elmiyanti, Suci, [Link]. 2022. “Nilai-Nilai Dakwah Dalam Adat Kanduhai Sko Di Desa
Sungai Deras Kabupaten Kerinci”, Jurnal Riset Publikasi Mahasiswa,
Vol. 2, No. 1, (Juni 2022) Fahrurrozi, Faizah, Kadri. 2019. Ilmu Dakwah.
Jakarta: Prenadamedia Gorup.
Fajrussalam, Hisny., [Link]. 2023. “Konten Dakwah Habib Ja’far Al-Haddar di Media
Sosial Tiktok”, Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 7, No. 1, (2023)
Fatikah, Fadhillah., [Link]. 2023. “Strategi Periklanan Busana Muslim Aflaha Hijab
Expert Syar'i Sebagai Media Komunikasi Dakwah”, Jurnal Program Studi
PGMI Modeling, Vol. 10, No. 1, (Maret 2023)
Ghofir, Jamal., Dan Sefiana, Sinta. 2022. “Nilai Dakwah Tradisi Wiwit Pari Dan
Hubungannya Dengan Dewi Sri Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya
Dalam Perspektif Islam”. ASWALALITA (Journal of Dakwah
Manajemant),
13