Penyebab dan Klasifikasi Diare pada Anak
Penyebab dan Klasifikasi Diare pada Anak
MATERI:
1. DEFINISI
Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang abnormal cair atau tidak berbentuk dengan
frekuensi meningkat.
Untuk dewasa dengan diet Barat, berat tinja >200 g/hari umumnya dapat dianggap sebagai diare.
Klasifikasi durasi:
o Akut: <2 minggu
o Persisten: 2–4 minggu
o Kronis: >4 minggu
Dua kondisi yang harus dibedakan dari diare sejati adalah:
Pseudodiarrhea: Pengeluaran tinja frekuensi tinggi volume kecil, sering disertai urgensi,
tenesmus, atau rasa tidak tuntas. Menyertai IBS atau proktitis.
Inkontinensia Alvi: Pengeluaran isi rektum involunter, sering disebabkan oleh gangguan
neuromuskular atau masalah anorektal struktural.
Kemenkes RI (2017): Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, frekuensi ≥3
kali dalam 24 jam, dapat disertai darah/lendir.
WHO: Diare adalah keluarnya tinja cair atau lembek ≥3 kali dalam 24 jam, atau lebih sering dari
biasanya pada individu
2. EPIDEMIOLOGI
Diare Akut: Lebih dari 90% kasus disebabkan oleh agen infeksius.
Kelompok Berisiko Tinggi (terutama untuk diare infeksius):
1. Pelancong: Hingga 40% pelancong AS ke daerah endemis.
2. Konsumen Makanan Tertentu: Terkait wabah bawaan makanan.
3. Orang dengan Imunodefisiensi (primer atau sekunder seperti AIDS).
4. Anak Daycare dan Anggota Keluarganya.
5. Penghuni Panti (Institutionalized Persons): Infeksi nosokomial, paling umum C.
difficile.
Global (WHO):
o Diare merupakan penyebab kematian kedua pada anak di dunia.
o Menyumbang sekitar 1,6 juta kematian/tahun pada semua kelompok usia.
Indonesia (Kemenkes):
o Diare masih menjadi penyakit endemis dengan kejadian luar biasa (KLB) yang sering
muncul.
o Menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas balita.
3. ETIOLOGI
A. Diare Akut
Infeksi (>90% kasus): Bakteri, virus, parasit.
Non-Infeksi (~10% kasus):
o Obat-obatan (efek samping yang paling umum).
o Racun/toksin (insektisida, jamur, logam berat, toksin seafood).
o Iskemia kolon.
o Indiskresi makanan.
o Reaksi alergi makanan.
B. Diare Kronis
Sebagian besar penyebabnya non-infeksius. Diklasifikasikan berdasarkan mekanisme patofisiologis
utama (lihat Tabel 49-3).
4. KLASIFIKASI dan MANIFESTASI KLINIS
Klasifikasi utama diare kronis berdasarkan mekanisme patofisiologi beserta manifestasi klinisnya adalah
sebagai berikut:
A. DIARE SEKRETORIK
Definisi: Gangguan transportasi cairan dan elektrolit di mukosa usus.
Manifestasi Klinis:
o Tinja berair, volume besar.
o Biasanya tidak nyeri.
o Persisten saat puasa.
o Tidak ada fecal osmotic gap.
Penyebab:
o Eksogen: Laksatif stimulan, etanol kronis, obat-obatan, toksin.
o Endogen: Asam empedu dihidroksi (misal pasca reseksi ileum, bile acid diarrhea).
o Infeksi Bakteri Tertentu.
o Hormon: Tumor penghasil hormon (karsinoid, VIPoma, gastrinoma, dll).
o Kongenital: Cacat pada penyerapan ion (misal congenital chloridorrhea).
o Penyakit Sistemik: Insufisiensi adrenal (Addison's disease).
B. DIARE OSMOTIK
Definisi: Terjadi ketika solute yang tidak diserap dan osmotik aktif menarik air ke dalam lumen
usus.
Manifestasi Klinis:
o Berhenti dengan puasa atau penghentian agen penyebab.
o Dapat disertai fecal osmotic gap yang tinggi (>50 mosmol/L).
o pH tinja rendah jika akibat malabsorpsi karbohidrat.
Penyebab:
o Laksatif Osmotik: Suplemen atau antasida mengandung magnesium.
o Malabsorpsi Karbohidrat: Defisiensi laktase, fruktosa, sorbitol, laktulosa.
o Intoleransi FODMAP dan Gandum Non-Celiac.
D. DIARE INFLAMMATORI
Definisi: Diare akibat proses inflamasi pada mukosa usus.
Manifestasi Klinis:
o Nyeri, demam, perdarahan rektal, atau manifestasi inflamasi lainnya.
o Tinja dapat mengandung leukosit atau darah.
o Pada inflamasi berat, dapat terjadi kehilangan protein (anasarca).
Penyebab:
o Penyakit Radang Usus Idiopatik: Crohn's disease, Kolitis Ulseratif Kronis.
o Kolitis Mikroskopik (Limfositik dan Kolagenosa).
o Penyakit Mukosa Terkait Imun: Imunodefisiensi, alergi makanan, gastroenteritis
eosinofilik.
o Infeksi (bakteri invasif, virus, parasit).
o Lainnya: Cedera radiasi, GVHD, sindrom Behçet, malignansi GI.
E. DIARE DISMOTILITAS
Definisi: Diare akibat transit usus yang dipercepat.
Manifestasi Klinis:
o Fitur tinja sering menyerupai diare sekretorik.
o Dapat disertai steatorhea ringan (<14g/hari).
Penyebab:
o IBS (Irritable Bowel Syndrome): Diare biasanya berhubungan dengan nyeri yang
membaik dengan BAB, tidak terjadi di malam hari, dan bergantian dengan konstipasi.
o Hipertiroidisme.
o Sindrom Karsinoid.
o Obat-obatan (prostaglandin, prokinetik).
o Neuro/miopati Viseral.
o Diare Diabetik.
G. DIARE IATROGENIK
Definisi: Diare sebagai akibat tindakan medis.
Penyebab: Pasca-kolesistektomi, reseksi ileum, operasi bariatrik, vagotomi.
PATGEN PATFIS
1. DIARE SEKRETORIK
Patofisiologi Utama: Gangguan pada transportasi normal ion dan air di mukosa enterokolon, yang
mengakibatkan sekresi cairan dan elektrolit yang berlebihan ke dalam lumen usus, atau penyerapan
yang berkurang.
Mekanisme Spesifik:
Stimulasi Sekresi Aktif:
o Toksin Bakteri: Seperti toksin kolera (Vibrio cholerae) atau toksin ETEC, yang
mengaktifasi enzim adenilat siklase dalam enterosit → meningkatkan cAMP intraseluler
→ menghambat penyerapan Na+ dan merangsang sekresi Cl- dan HCO3- ke dalam
lumen.
o Asam Empedu (BAD): Asam empedu dihidroksi yang tidak diserap di ileum (karena
reseksi, penyakit, atau disfungsi) masuk ke kolon → merangsang sekresi air dan elektrolit
(terutama dengan menginduksi sekresi Cl- via cAMP).
o Hormon dan Mediator: Tumor seperti VIPoma (melepaskan VIP) → merangsang
sekresi usus secara masif. Serotonin dari karsinoid, prostaglandin, dan histamin juga
bertindak sebagai sekretagog usus yang kuat.
Penurunan Absorpsi:
o Berkurangnya Area Permukaan Absorptif: Akibat reseksi usus, penyakit mukosa
(misalnya Crohn's), atau fistula enterokolik.
o Kerusakan Enterosit Langsung: Misalnya, akibat konsumsi alkohol kronis.
Ciri Khas: Diare bervolume besar, berair, dan persistens saat puasa karena mekanismenya tidak
bergantung pada adanya substrat/nutrien di lumen.
2. DIARE OSMOTIK
Patofisiologi Utama: Adanya solute yang tidak dapat diserap dan bersifat osmotik aktif dalam lumen
usus, yang menarik air dari plasma ke dalam lumen untuk mempertahankan tekanan osmotik.
Mekanisme Spesifik:
Peningkatan Tekanan Osmotik Intraluminal: Molekul yang tidak diserap ini menciptakan
gradien osmotik yang "menjebak" air di dalam lumen.
o Contoh Solute:
Ion Magnesium (dari antasida atau laktulatif).
Karbohidrat yang Tidak Diserap (misalnya, laktosa pada defisiensi laktase,
fruktosa, sorbitol). Karbohidrat ini kemudian difermentasi oleh bakteri kolon
menjadi asam lemak rantai pendek dan gas, yang selanjutnya dapat berkontribusi
pada diare dan menurunkan pH tinja.
Ciri Khas: Diare berhenti dengan puasa karena sumber solute osmotik dihentikan. Dapat dihitung fecal
osmotic gap yang tinggi (>50 mOsm/L).
4. DIARE INFLAMMATORI
Patofisiologi Utama: Kerusakan integritas mukosa usus akibat proses inflamasi, yang
menyebabkan eksudasi (kebocoran) cairan, protein, darah, dan mucus ke dalam lumen.
Mekanisme Spesifik:
Eksudasi Langsung: Mukosa yang meradang dan ulserasi menjadi "bocor", sehingga plasma, sel
darah putih, dan protein keluar ke dalam lumen.
Penurunan Fungsi Absorpsi: Peradangan merusak enterosit yang bertanggung jawab untuk
menyerap air dan elektrolit.
Sekresi yang Diinduksi Mediator Inflamasi: Sitokin (seperti TNF-α, IL) dan mediator
inflamasi (prostaglandin, leukotrien) yang dilepaskan selama proses inflamasi dapat merangsang
sekresi ion klorida dan meningkatkan motilitas usus.
Malabsorpsi Sekunder: Peradangan yang luas (terutama di usus halus) dapat mengganggu
penyerapan nutrisi, termasuk lemak, sehingga dapat ada komponen steatore.
Ciri Khas: Adanya darah (hematochezia), lendir, leukosit tinja/fecal calprotectin yang
meningkat, nyeri, dan demam.
5. DIARE DISMOTILITAS
Patofisiologi Utama: Waktu transit intestinal yang dipercepat, sehingga mengurangi waktu kontak
antara kimus (makanan yang dicerna) dengan permukaan absorptif usus.
Mekanisme Spesifik:
Peningkatan Motilitas/Peristaltik: Kontraksi usus yang terlalu kuat dan sering mendorong isi
lumen terlalu cepat.
o Contoh: Hipertiroidisme (peningkatan metabolisme umum), sindrom karsinoid (efek
serotonin), IBS (hipersensitivitas dan disregulasi motorik).
Penurunan Waktu Kontak: Karena transit cepat, air dan elektrolit tidak sempat diserap secara
adekuat, dan nutrisi (terutama lemak) tidak sempat dicerna dan diserap sepenuhnya,
menyebabkan diare osmotik atau steatore ringan (<14 g/hari).
Ciri Khas pada IBS-D: Diare sering terkait dengan stres atau makanan, membaik setelah BAB, dan
biasanya tidak membangunkan tidur di malam hari.
Sekretorik Sekresi aktif ion (Cl⁻, HCO₃⁻) ke lumen > Penyerapan ion (Na⁺) dari lumen.
Klasifikasi Mekanisme Patofisiologi Utama
Osmotik Solute yang tidak diserap menarik air secara osmotik ke dalam lumen.
Dismotilitas Waktu transit usus berkurang → penyerapan air & nutrisi tidak optimal.
A. DIARE AKUT
1. Algoritma Diagnosis & Pendekatan Pasien (Berdasarkan Gambar 49-3)
Langkah 1: Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Tentukan kemungkinan penyebab (infeksi vs non-infeksi).
Penyebab Non-Infeksi: Biasanya terkait obat, toksin, iskemia, dll.
Langkah 2: Klasifikasi Keparahan
Ringan: Aktivitas tidak terbatas.
Sedang: Aktivitas terganggu.
Berat: Pasien tidak mampu beraktivitas (incapacitated).
Langkah 3: Terapi Awal untuk Semua Kategori
Rehidrasi dengan penggantian cairan dan elektrolit (oral/IV).
Langkah 4: Indikasi untuk Evaluasi/Pemeriksaan Lanjut
Evaluasi lebih lanjut (misal, pemeriksaan mikrobiologis tinja) diperlukan jika terdapat:
Diare sangat banyak dengan dehidrasi.
Tinja berdarah nyata.
Demam ≥38.5°C (≥101°F).
Durasi >48 jam tanpa perbaikan.
Penggunaan antibiotik baru-baru ini.
Wabah komunitas baru.
Nyeri perut berat pada usia >50 tahun.
Pasien lanjut usia (≥70 tahun) atau immunocompromised.
Langkah 5: Keputusan Terapi
Jika ada indikasi di atas → lakukan pemeriksaan mikrobiologi tinja.
Jika tidak ada indikasi → observasi, bisa diberikan agen antidiare.
Pada kasus diare febri berdarah dengan leukosit tinja yang berat, pertimbangkan terapi
antibiotik empiris (misal, kuinolon atau metronidazole) sebelum hasil evaluasi.
2. Diagnosis Banding (Differential Diagnosis) Diare Akut
Infeksius (>90%):
o Bakteri: Salmonella, Campylobacter, Shigella, E. coli (ETEC, EHEC), C. difficile,
Vibrio.
o Virus: Norovirus, Rotavirus, SARS-CoV-2.
o Parasit: Giardia, Cryptosporidium, E. histolytica.
Non-Infeksius (~10%):
o Obat-obatan (efek samping).
o Toksin: Insektisida, jamur, logam berat, toksin seafood (ciguatera, scombroid).
o Iskemik Kolitis.
o Penyakit Bawah Sadar Kronis yang muncul akut (misal, IBD, penyakit celiac).
o Reaksi Alergi Makanan (misal, alpha-gal).
3. Manajemen Diare Akut
Rehidrasi: Cornerstone terapi. Gunakan cairan oral (cairan olahraga iso-osmolar atau formula
ORS) atau IV untuk dehidrasi berat.
Terapi Simtomatik:
o Loperamide (antimotilitas): Untuk diare non-febris dan non-berdarah. Hindari pada
disentri febris karena dapat memanjangkan penyakit.
o Bismuth Subsalicylate: Dapat mengurangi muntah dan diare. Hindari pada pasien
immunocompromised atau gangguan ginjal.
Terapi Antibiotik:
o Selektif dan Bijaksana. Sesuai indikasi, terutama pada:
Diare traveler.
Pasien sakit sedang-berat dengan diare febris (empiris
dengan azithromycin atau ciprofloxacin).
Kecurigaan giardiasis (empiris dengan metronidazole).
Pasien immunocompromised, memiliki katup jantung mekanik, atau lanjut usia.
Kewaspadaan Kesehatan Masyarakat: Waspada dan laporkan wabah ke otoritas kesehatan.
B. DIARE KRONIS
1. Algoritma Diagnosis & Pendekatan Pasien (Berdasarkan Gambar 49-4)
Langkah 1: Evaluasi Awal
Anamnesis Mendalam & Pemeriksaan Fisik (Tabel 49-4):
o Karakteristik diare (onset, durasi, pola, pemicu, konsistensi Bristol).
o Ada/tidaknya darah pada tinja (hematochezia), diare lemak (steatore), nyeri,
penurunan berat badan, gejala sistemik.
o Riwayat obat, diet, perjalanan, keluarga.
o Pemeriksaan fisik: tanda malabsorpsi/inflamasi, massa abdomen, fungsi sfingter ani,
manifestasi mukokutan.
Pemeriksaan Darah Rutin:
o Hb, Albumin, CRP/ESR, elektrolit, kadar Fe, folat, B12, IgA tTG (untuk skrining celiac).
Langkah 2: Klasifikasi Awal Berdasarkan Gejala & Temuan Awal
Jika ada DARAH pada Tinja (p.r.) → Arahkan ke kolonoskopi + biopsi (kecurigaan IBD,
kolitis, kanker).
Jika ada DIARE LEMAK (Steatore) → Arahkan ke evaluasi usus halus dan
pankreas (pencitraan, biopsi, aspirat, tes fungsi pankreas).
Jika TIDAK ada darah & TIDAK ada fitur malabsorpsi jelas:
o Dengan nyeri perut yang membaik setelah BAB, rasa tidak tuntas →
Kecurigaan IBS.
o Tanpa nyeri yang menonjol → Kecurigaan diare fungsional atau penyebab lain.
o Lakukan Skrining Terbatas untuk Penyakit Organik:
Pemeriksaan darah (seperti di atas).
Fecal calprotectin (penanda inflamasi).
C4 serum (7αC4) atau tes lain untuk Bile Acid Diarrhea (BAD).
Analisis tinja untuk lemak berlebih.
Langkah 3: Evaluasi Berdasarkan Mekanisme (jika penyebab belum jelas)
Diare Sekretorik (Osmotic gap normal):
o Pertimbangkan ulang obat dan laksatif terselubung.
o Pemeriksaan mikrobiologi tinja lanjutan (kultur, parasit, antigen Giardia).
o Tes small bowel bacterial overgrowth (tes napas hidrogen/metan).
o Endoskopi atas/bawah dengan biopsi.
o Pencitraan usus halus (CT/MR enterography).
o Skrining hormon (gastrin, VIP, kalsitonin, dll.).
Diare Osmotik (Osmotic gap tinggi):
o Tes intoleransi laktosa/fruktosa (tes napas hydrogen).
o Pemeriksaan kadar magnesium atau laksatif dalam tinja.
o Trial diet eliminasi (contoh: bebas laktosa).
Diare Steatore (Lemak tinja meningkat):
o Endoskopi dengan biopsi usus halus (untuk menilai mukosa).
o Jika biopsi normal, lakukan pencitraan usus halus.
o Jika masih negatif atau curiga penyakit pankreas, lakukan tes fungsi pankreas
eksokrin (langsung seperti tes sekretin, atau tidak langsung seperti fecal elastase).
Diare Inflamatori (Darah/leukosit tinja, calprotectin tinggi):
o Kolonoskoli + biopsi.
o Pemeriksaan patogen tinja.
o Pencitraan usus halus.
2. Diagnosis Banding (Differential Diagnosis) Diare Kronis
Didasarkan pada mekanisme patofisiologi utama (Tabel 49-3):
Sekretorik: Laksatif, BAD, obat, hormon (tumor karsinoid, VIPoma), infeksi bakteri tertentu.
Osmotik: Laksatif Mg2+, malabsorpsi karbohidrat (laktosa, fruktosa), FODMAPs.
Steatore:
o Maldigesti Intraluminal: Insufisiensi pankreas, SIBO.
o Malabsorpsi Mukosal: Penyakit Celiac, Whipple's disease.
o Obstruksi Limfatik: Limfangiectasia.
Inflammatorik: IBD, kolitis mikroskopik, infeksi, radiasi.
Dismotilitas: IBS, hipertiroidisme, obat prokinetik.
Faktisia: Penyalahgunaan laksatif.
3. Manajemen Diare Kronis
Prinsip: Terapi tergantung penyebab spesifik: kuratif, supresif, atau empiris.
Terapi Kausatif/Kuratif:
o Menghentikan obat penyebab.
o Antibiotik untuk infeksi spesifik (misal, Whipple's disease, tropikal sprue).
o Reseksi tumor (misal, kanker kolorektal).
Terapi Supresif (Menekan Mekanisme):
o Diet: Bebas laktosa (untuk defisiensi laktase), bebas gluten (untuk celiac).
o Anti-inflamasi: Untuk IBD.
o Penjerap Asam Empedu (cholestyramine, colesevelam): Untuk Bile Acid Diarrhea
(BAD).
o Analog Somatostatin (octreotide): Untuk sindrom karsinoid ganas.
o Pengganti Enzim Pankreas: Untuk insufisiensi pankreas.
o PPI: Untuk hipersekresi asam pada gastrinoma.
Terapi Simtomatik/Empiris:
o Antimotilitas:
Ringan-sedang: Loperamide, diphenoxylate.
Berat: Codeine, tincture of opium. (Hindari pada IBD berat risiko
megakolon toksik).
o Obat Lain:
Klonidin (α2-agonist): Untuk diare diabetik, tapi hati-hati hipotensi.
Antagonis Reseptor 5-HT3 (contoh: ondansetron, alosetron untuk IBS-D).
Rifaximin (antibiotik non-absorbsi) untuk IBS-D.
Eluxadoline (agonis opioid) untuk IBS-D (hati-hati risiko pankreatitis, terutama
pasca-kolesistektomi).
Crofelemer (antisekretori) untuk diare terkait AIDS.
Suportif:
o Rehidrasi dan koreksi elektrolit.
o Suplementasi vitamin lemak (A, D, E, K) pada steatore kronis.
PREVENSI (Pencegahan)
Pencegahan terutama difokuskan pada diare akut infeksius, yang merupakan penyebab utama morbiditas
dan mortalitas secara global.
1. Pencegahan Umum dan Kebersihan (Sanitasi)
Mencuci Tangan: Secara teratur dengan sabun dan air, terutama sebelum makan, sebelum
menyiapkan makanan, dan setelah menggunakan toilet.
Keamanan Air dan Makanan:
o Konsumsi air yang bersih dan aman (dimasak atau disaring).
o Hindari es batu yang sumber airnya tidak diketahui kebersihannya.
o Masak makanan hingga matang, terutama daging, unggas, telur, dan seafood.
o Cuci buah dan sayuran dengan air bersih sebelum dikonsumsi.
o Pisahkan makanan mentah dan matang.
o Simpan makanan pada suhu yang aman.
2. Pencegahan untuk Kelompok Berisiko Tinggi
Pelancong (Traveler's Diarrhea):
o Hindari makanan dan minuman berisiko: air keran, es batu, makanan mentah/setengah
matang, makanan dari pedagang kaki lima, susu dan produk susu yang tidak
dipasteurisasi.
o Kemoprofilaksis: Dapat dipertimbangkan untuk pelancong berisiko sangat tinggi
(misalnya, immunocompromised, IBD, hemokromatosis, aklorhidria lambung)
dengan rifaximin, siprofloksasin, atau azitromisin. Namun, penggunaan umum tidak
dianjurkan karena kekhawatiran resistensi antibiotik.
o Bismuth subsalisilat dapat mengurangi frekuensi diare traveler.
Pengaturan dalam Fasilitas Kesehatan (Nosocomial Diarrhea):
o Kewaspadaan Isolasi untuk pasien dengan diare menular (terutama C. difficile).
o Kebersihan Tangan yang ketat dengan sabun dan air (karena pembersih tangan berbasis
alkohol kurang efektif melawan spora C. difficile).
o Pembersihan dan Disinfeksi lingkungan yang ketat.
Anak di Daycare:
o Kebijakan kebersihan dan penanganan popok yang ketat.
o Isolasi anak yang sakit.
3. Vaksinasi
Vaksin untuk patogen tertentu tersedia, seperti:
o Rotavirus (untuk bayi, sangat efektif mencegah diare parah pada anak).
o Vibrio cholerae (untuk pelancong ke daerah endemis).
o Salmonella Typhi (demam tifoid).
o Virus Hepatitis A.
4. Penggunaan Antibiotik yang Bijaksana
Hindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu untuk mengurangi risiko diare terkait
antibiotik dan infeksi Clostridioides difficile.
PROGNOSIS
Prognosis diare sangat bervariasi, tergantung pada penyebab, usia, dan status imunologi pasien.
1. Diare Akut
Secara Keseluruhan: Sangat baik (Excellent). Sebagian besar kasus bersifat self-
limiting (sembuh sendiri) dalam 3-7 hari dengan terapi suportif yang adekuat (rehidrasi).
Faktor yang Memperburuk Prognosis:
o Usia Ekstrem: Bayi, anak kecil, dan lansia memiliki prognosis yang lebih buruk karena
risiko dehidrasi berat yang lebih tinggi.
o Immunocompromised: Diare bisa lebih parah, persisten, dan berisiko komplikasi infeksi
oportunistik.
o Patogen Invasif: Infeksi seperti Shigella atau EHEC (E. coli O157:H7) memiliki risiko
komplikasi sistemik yang lebih tinggi (mis., sindrom hemolitik-uremik/HUS).
2. Diare Kronis
Prognosis sangat bergantung pada diagnosis dan respons terhadap terapi.
Kondisi yang Dapat Disembuhkan (Curative) memiliki prognosis sangat baik, misalnya:
o Penghentian obat penyebab.
o Diet bebas gluten pada penyakit celiac.
o Terapi antibiotik untuk Whipple's disease atau tropikal sprue.
Kondisi yang Dapat Dikontrol (Suppressive) memiliki prognosis baik dengan manajemen
jangka panjang, misalnya:
o IBD dengan terapi imunosupresif.
o Bile Acid Diarrhea dengan penjerap asam empedu.
o IBS dengan modifikasi gaya hidup dan obat simtomatik.
Kondisi Ganas (mis., kanker pankreas, tumor karsinoid metastatik) yang bermanifestasi sebagai
diare kronis memiliki prognosis yang lebih buruk, yang terkait dengan stadium penyakit.
KOMPLIKASI
Komplikasi diare dapat bersifat langsung/lokal dan sistemik.
1. Komplikasi Langsung dan Metabolik
Dehidrasi: Komplikasi paling umum dan paling berbahaya, merupakan penyebab kematian
utama pada diare akut, terutama pada anak dan lansia.
o Dapat menyebabkan syok hipovolemik, gagal ginjal akut, dan kematian.
Gangguan Elektrolit:
o Hipokalemia (kadar kalium rendah): Dapat menyebabkan kelemahan otot, ileus paralitik,
dan aritmia jantung.
o Asidosis Metabolik: Karena kehilangan bikarbonat dalam tinja.
o Hiponatremia (kadar natrium rendah).
Malnutrisi dan Defisiensi Mikronutrien: Terutama pada diare kronis dan steatore.
o Penurunan berat badan.
o Defisiensi vitamin larut lemak (A, D, E, K) → rabun senja, osteomalacia, gangguan
koagulasi.
o Defisiensi vitamin B12 dan zat besi → anemia.
o Anasarca (edema umum) akibat kehilangan protein enteropat pada penyakit
inflamasi/usus bocor.
2. Komplikasi Sistemik dan Sekunder
Sindrom Hemolitik-Uremik (HUS):
o Komplikasi yang mengancam nyawa yang terkait dengan infeksi EHEC (E. coli
O157:H7) dan Shigella dysenteriae.
o Ditandai dengan anemia hemolitik, trombositopenia, dan gagal ginjal akut.
Artritis Reaktif dan Sindrom Reiter:
o Dapat menyertai atau mengikuti infeksi oleh Salmonella, Campylobacter,
Shigella, dan Yersinia.
o Ditandai dengan triad artritis, uretritis, dan konjungtivitis.
Komplikasi Pasca-Infeksi:
o Irritable Bowel Syndrome Pasca-Infeksi (Post-infectious IBS): Terutama setelah
infeksi Campylobacter jejuni.
o Yersiniosis dapat menyebabkan tiroiditis autoimun, perikarditis, dan glomerulonefritis.
Komplikasi Inflamasi Lokal:
o Megakolon Toksik: Komplikasi berbahaya pada IBD (terutama kolitis ulserativa) atau
infeksi C. difficile yang parah. Penggunaan agen antimotilitas pada kondisi ini dapat
memicunya.
o Fistula dan Fisura Ani: Terutama pada penyakit Crohn.
3. Komplikasi Sosial dan Kualitas Hidup
Gangguan Kualitas Hidup:
o Pada diare kronis seperti Bile Acid Diarrhea, kualitas hidup sangat terganggu
karena urgensi dan kebutuhan untuk selalu dekat dengan toilet.
o Kecemasan sosial, isolasi, dan dampak pada pekerjaan.
Inkontinensia Alvi: Diare dan urgensi yang parah dapat memperberat atau menyebabkan
inkontinensia.
Ringkasan
Akut: Umumnya sangat baik. Kronis: Bergantung penyebab; bisa sangat baik (dapat
Prognosis
disembuhkan/dikontrol) hingga buruk (penyakit ganas).
Komplikas Dehidrasi (utama), gangguan elektrolit, malnutrisi, HUS, artritis reaktif, IBS pasca-
i infeksi, megakolon toksik, penurunan kualitas hidup.
MANAJEMEN DARI KEMENKES (MBTS)
JAWAB WDK
9. Definisi diare?
Definisi: Passage of abnormally liquid or unformed stools at an increased frequency. Untuk dewasa, berat
tinja >200 g/hari.
19. Apakah virus nya saja atau ada karena lactose intolerance?
Kedua-duanya terjadi secara berurutan.
1. Fase Awal: Infeksi virus (misal Rotavirus) merusak mukosa usus.
2. Fase Sekunder: Kerusakan mukusa menyebabkan defisiensi enzim laktase sementara
(secondary lactose intolerance).
3. Akibat: Laktosa yang tidak tercerna menyebabkan diare osmotik yang memanjang, bahkan
setelah infeksi virusnya sudah mereda. Ini menjelaskan mengapa diare bisa bertahan lebih lama.