LAPORAN MINI RISET PSIKOLOGI SOSIAL
Pengaruh Media Exposure dan Engagement Konten romantis di TikTok
terhadap Ekspektasi Perilaku Baik Pasangan pada Kencan Pertama pada
Mahasiswi Psikologi UGM
Dosen Pengampu:
Haidar Buldan Thontowi, [Link]., M.A., Ph.D.
Anggota:
Athifa Fawnia Maulidya 25/559800/PS/24009
Ayasha Syahdan Maulida 25/555262/PS/23916
Biyan Al Farisy 25/555450/PS/23923
Claritta Angela Widyasri P. 25/559473/PS/24001
Fransiskus Juan Pablo M. G. 25/564371/PS/24082
Hedya Chayra Ziva S. 25/564468/PS/24088
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2025
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era teknologi menjadikan media sosial sebagai komponen esensial
yang mendukung keberlangsungan aktivitas masyarakat modern.
Kepentingan yang sebelumnya terhambat oleh jarak dan waktu kini dapat
terfasilitasi melalui perangkat digital dan media sosial yang
memungkinkan penyebaran informasi secara luas serta akses komunikasi
yang lebih mudah (Andrea dan Sari, 2025; Hakim dkk, 2025). Bahkan,
berdasarkan data World Population Review (2025), Indonesia menempati
posisi kelima sebagai negara dengan jumlah pengguna media sosial
terbanyak.
Perkembangan platform dalam perangkat digital membuat tatanan
baru dan kerap kali menciptakan suatu tren. TikTok merupakan salah satu
platform yang memunculkan tren baru pada tahun 2017 secara global,
hadir dengan logo musiknya, berwarna putih, biru, merah dan hitam yang
identik, serta bergabung bersama aplikasi [Link] yang saat itu sedang
naik daun (Russell, J. 2018). Model konten TikTok yang menampilkan
video pendek berlatarkan musik dengan gaya santai dan menarik, serta
didukung berbagai fitur kreatif yang mendukung kebebasan berekspresi
pengguna, membuat platform ini cepat menarik perhatian masyarakat
(Hakim dkk, 2025; Suryani et al., 2021).
Pada tahun 2024, Statista mencatat bahwa Indonesia memiliki
hampir 157,6 juta pengguna TikTok (Marchelin, 2025). Data tersebut
menunjukkan kedekatan aplikasi ini dengan keseharian masyarakat.
TikTok tidak hanya menyediakan beragam konten, tetapi juga menciptakan
sensasi kedekatan personal melalui algoritma yang menyesuaikan
preferensi pengguna, sehingga konten yang muncul selaras dengan apa
yang ingin mereka lihat (Tambunan, 2025). Algoritma yang menampilkan
konten serupa secara berulang membuat TikTok berpengaruh pada
berbagai aspek kehidupan individu, mulai dari citra diri, penyesuaian
terhadap ekspektasi sosial, hingga pola interaksi antarindividu (Ghifary
dkk, 2025; Cahya dan Wulandari, 2025). Perubahan persepsi ini selaras
dengan Cultivation Theory, yang menjelaskan bahwa paparan media yang
berulang dan berjangka panjang dapat menumbuhkan persepsi baru
(Engstrom dkk, 2015).
Dalam penelitian ini, kami membedah bagaimana konten terutama
konten romantis pada aplikasi TikTok mampu membuka ekspektasi pada
kencan pertama mereka. Tidak jarang bahwa “standar TikTok” dapat
memberikan pengaruh kepada pengguna. Dengan adanya kepedulian
peneliti terhadap masalah ini, penelitian ini mulai dirancang dan
ditargetkan dengan batasan yang ada, yaitu dengan target mahasiswi
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada angkatan 2023 sampai
dengan 2025.
Pada penelitian ini, kami mencoba untuk memahami dan menarik
kesimpulan antara hubungan media exposure audiens dan engagement
pada konten romantis di TikTok dengan memperhatikan perilaku yang
sesuai dengan normative dating scripts atau perilaku baik pada kencan
pertama yang mendorong laki-laki sebagai inisiator. Sehingga dengan
adanya fenomena ini kami mencoba mengkaji dengan batasan dan
pengetahuan kami, juga untuk menuntaskan penugasan mata kuliah
Psikologi Sosial
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditentukan bahwa
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana pengaruh media exposure dan engagement konten romantis
pada platform TikTok terhadap ekspektasi kencan pertama mahasiswi
UGM ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh media exposure dan engagement
konten romantis pada platform TikTok terhadap ekspektasi kencan
pertama mahasiswi UGM.
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dalam
bidang psikologi sosial, khususnya mengenai exposure konten media sosial
serta engagement ekspektasi wanita/perempuan pada kencan pertama.
Selain itu, temuan penelitian juga dapat mendukung pengembangan teori
mengenai cara media sosial membentuk sikap interpersonal.
Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini dapat mendukung individu, terutama
mahasiswi, agar lebih memahami dampak konten media sosial terhadap
respon intrapersonal terkait perilaku kencan pertama. Diharapkan juga
mahasiswi bersikap lebih kritis dan realistis terhadap informasi yang ada.
Temuan penelitian juga dapat menjadi acuan bagi pendidik atau praktisi
psikologi dalam memberikan pendidikan mengenai literasi media serta
pengembangan sikap interpersonal yang positif.
D. Landasan Teori
1. Cultivation Theory
Cultivation theory, dikembangkan oleh George Gerbner
pada 1960-an melalui Cultural Indicators Project, menyatakan
bahwa paparan jangka panjang terhadap televisi membentuk
persepsi pemirsa tentang realitas sosial agar sesuai dengan
gambaran dominan di media tersebut, di mana penonton berat lebih
cenderung mengadopsi pandangan dunia yang mencerminkan
pesan TV secara kumulatif. Dalam konteks penelitian ini,
pemahaman tersebut membantu menjelaskan bagaimana paparan
berulang terhadap konten TikTok bertema romantis dapat
.
memberikan gambaran tertentu tentang bagaimana kencan pertama
biasanya terlihat, sehingga gambaran media itu ikut membentuk
bayangan atau standar yang dimiliki mahasiswi mengenai
perlakuan pasangan.
2. Social Perception Theory
Social perception theory menggambarkan proses persepsi
sosial sebagai fenomena split-second yang dinamis, di mana
kategori sosial terbentuk melalui integrasi bottom-up dari fitur
wajah dengan top-down dari stereotip, konteks, dan tujuan. Dalam
penelitian ini, teori dari Freeman dan Johnson (2016) membantu
memahami bahwa gambaran atau harapan yang sudah tertanam
dari konten TikTok dapat menjadi bagian dari proses top-down,
sehingga turut memengaruhi bagaimana mahasiswi memahami dan
menafsirkan perilaku pasangan ketika berada dalam situasi kencan
pertama.
Tabel 1. Matriks Tinjauan Pustaka
Nama Peneliti Tahun Judul Hasil Penelitian
Dika Andrea dan 2025 Studi Remaja yang sering
Wulan Purnama Sari Persepsi terpapar konten Tiktok
Terhadap yang menggambarkan
Tren hubungan romantis yang
Standarisasi ideal cenderung
Berpacaran mengalami perubahan
di TikTok persepsi pada standarisasi
berpacaran. Pembentukan
persepsi tersebut
mendorong mereka untuk
memperlakukan pasangan
dengan lebih baik dan
menyesuaikan standar
hubungan mereka dengan
standar hubungan yang
baru. Meskipun begitu,
mayoritas remaja yang
diteliti tetap berpikir kritis
sebelum membuat
keputusan dan masih bisa
membedakan kenyataan
dengan gambaran di media
sosial.
Eppagelia Mesyakh 2025 Perspektif Paparan konten di Tiktok
Sipahutar, Desy Safitri, Gen-Z yang melibatkan pasangan
dan Sujarwo. terhadap ideal seringkali hanya
Standar menampilkan sisi
Pasangan sempurna dari suatu
Ideal di hubungan. “Pasangan
Tiktok sempurna” di Tiktok
digambarkan dengan
gestur romantis yang
berlebihan seperti
memberi hadiah mewah
kepada pasangan, kencan
di tempat yang terkenal,
saling mengunggah
pasangan di akun sosial
media masing-masing, dan
menyembunyikan konflik
hubungan untuk
menyoroti momen-momen
bahagia yang ada. Konten
seperti itu dapat membuat
penonton tertekan karena
adanya kesenjangan antara
situasi nyata dengan
situasi yang ditunjukkan
video dan menimbulkan
ketidakpuasan dalam
kehidupan nyata.
Annisa Xania Balqis 2025 Peran Paparan konten romantis
Relationship di tiktok sering membuat
Social individu lebih sering
Comparison menetapkan upward
Terhadap comparison dimana
Relationship membandingkan
Satisfaction hubungan mereka dengan
pada gambaran hubungan ideal
Perempuan di platform Tiktok
Pengguna sehingga muncul
Tiktok yang peningkatan ekspektasi
Berpacaran yang tidak realistis yang
menimbulkan rasa kecewa
dan insecure karena
pasangannya kurang
memenuhi standar ideal di
Tiktok. Akibatnya, hal ini
menyebabkan penurunan
relationship satisfaction.
E. Variabel
1. Media Exposure
Media Exposure merujuk pada terpaan media (Iksan, 2016).
Menurut Kasten dalam Iksan (2016), media exposure adalah
aktivitas menonton, mendengar, dan membaca informasi dari
media atau pengalaman serta fokus terhadap informasi yang
diberikan yang mungkin dialami oleh masyarakat baik individu
maupun kelompok. Media exposure berkaitan dengan kedekatan
dan keterbukaan masyarakat terhadap media serta informasi yang
disampaikan melalui media tersebut.
2. Engagement
Pengertian engagement merujuk pada media engagement
yang merupakan tingkat partisipasi aktif individu secara kognitif,
emosional, dan perilaku dalam mencerna serta menanggapi konten.
Hal ini terlihat dari perhatian, keterlibatan emosional, dan perilaku
seperti menonton secara keseluruhan, memberikan like,
mengomentari, berbagi, atau mengikuti (Fredricks et al., 2004;
Brodie et al., 2011; O’Brien & Toms, 2008).
3. Ekspektasi Perlakuan Baik pada Kencan Pertama
Ekspektasi perlakuan baik pada kencan pertama atau first
date script merupakan anggapan sosial mengenai cara interaksi
yang seharusnya terjadi pada pertemuan awal tersebut. Surra,
Batchelder, dan Hughes (1995) mengungkapkan bahwa meskipun
perubahan sosial sejak tahun 1960 an dan beragamnya nasihat
relasional di media membuat skrip hubungan tampak kurang jelas,
terdapat penelitian yang justru menunjukkan adanya skrip kencan
pertama yang konsisten. Temuan ini didukung oleh studi Laner dan
Ventrone (1998, 2000), Pryor dan Merluzzi (1985), Rose dan
Frieze (1989, 1993), serta Sherwin dan Corbett (1985) yang
menunjukkan bahwa baik laki laki maupun perempuan menyadari
keberadaan skrip tersebut sebagai pola perilaku yang umum terjadi
ketika berkencan. Dalam skrip ini, sebagaimana dijelaskan Rose
dan Frieze (1993), laki laki digambarkan mengambil peran aktif
dengan mengundang untuk berkencan, merancang aktivitas,
mengemudikan kendaraan, membayar, dan memulai kedekatan
fisik. Sebaliknya, perempuan digambarkan sebagai pihak yang
menunggu inisiatif dan menentukan apakah akan menerima atau
menolak langkah yang dilakukan (Rose dan Frieze, 1993, p. 504).
Pola ini sesuai dengan skrip peran gender tradisional yang
menempatkan laki-laki sebagai inisiator dan perempuan sebagai
pengatur batas hubungan (LaPlante, McCormick, & Brannigan,
1980; Metts & Cupach, 1989; Metts & Spitzberg, 1996; O’Sullivan
& Byers, 1992).
3.1 Dimensi dan Indikator Perlakuan Baik
Perlakuan baik pada kencan pertama merujuk pada
serangkaian perilaku yang sesuai dengan normative dating scripts,
yaitu ekspektasi sosial tentang bagaimana individu seharusnya
bersikap dalam interaksi romantis awal (Rose dan Frieze, 1989).
Ekspektasi ini biasanya meliputi sikap sopan, perhatian, inisiatif,
dan gesture romantis yang dipandang pantas dalam konteks kencan
pertama (Mongeau et al., 2007).
3.1.1 Sikap dan Kesopanan
Dimensi ini merupakan perilaku yang menunjukkan sikap
menghargai, menghormati, dan bertata krama yang sesuai selama
kencan. Penelitian mengenai first date scripts mengindikasikan
bahwa kesopanan merupakan bagian utama dari ekspektasi kencan
yang dianggap baik atau ideal (Rose dan Frieze, 1989). Dimensi ini
tercermin melalui indikator perilaku seperti harapan pasangan
bersikap sopan dan menghormati serta berbicara dengan tutur kata
yang baik.
3.1.2 Perhatian dan Kepedulian
Dimensi ini didasarkan pada perilaku yang menunjukkan
empati, responsivitas, dan kepedulian terhadap kenyamanan atau
kebutuhan pasangan kencan. Studi mengenai interaksi kencan
mengungkapkan bahwa perhatian terhadap kenyamanan pasangan
merupakan salah satu bagian penting dalam positive dating
behaviors (Laner & Ventrone, 2000). Dimensi ini meliputi harapan
pasangan memperhatikan kenyamanan dan menunjukkan perhatian
kecil.
3.1.3 Inisiatif dan Tanggung Jawab
Dimensi ini mencakup perilaku aktif dalam meregulasi
bagaimana kencan berjalan serta tanggung jawab sosial untuk
memastikan interaksi berlangsung aman dan nyaman. Studi Young
singles’ contemporary dating scripts mengindikasikan bahwa
inisiatif dalam merancang, mengatur, dan memastikan alur kencan
menjadi hal yang dinilai positif (Rose dan Frieze, 1993). Hal
tersebut tercermin dari indikator harapan pasangan mengambil
peran aktif dan membiayai kencan.
3.1.4 Romantisme dan Gesture
Secara sosial, dimensi ini merujuk pada perilaku yang
diasosiasikan dengan romantisme ringan yang cocok pada konteks
kencan pertama. Literatur courtship and dating rituals
mengindikasikan bahwa gesture romantis yang wajar menjadi
bagian dari ekspektasi normatif dalam kencan pertama, seperti
perhatian kecil atau pujian sopan (Mongeau et al., 2007). Perilaku
tersebut tercermin dari indikator berupa harapan pasangan
menunjukkan gesture romantis seperti memberi bunga, pujian, dan
perhatian manis serta menciptakan suasana kencan yang istimewa.
F. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan, hipotesis dari
penelitian ini yaitu; media exposure dan engagement konten romantis di
TikTok membentuk ekspektasi mahasiswi Psikologi UGM terhadap
perlakuan baik pasangan pada kencan pertama.
METODE PENELITIAN
A. Partisipan Penelitian
Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa
psikologi Universitas Gadjah Mada dengan kriteria subjek penelitian
sebagai berikut : 1) Mahasiswa aktif Program Studi Psikologi Universitas
Gadjah Mada angkatan 2023-2025 2) Berjenis kelamin wanita 3) Aktif
menggunakan Tiktok 4) Pernah atau sedang menjalin hubungan romantis.
B. Prosedur Penelitian
Bagan 1. Alur Penelitian
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data
adalah melalui survei daring (Google Form) dan wawancara luring dengan
rincian sebagai berikut:
a. Survei daring terdiri dari dua skala utama, yaitu:
i. Skala Tingkat Paparan Konten TikTok
ii. Skala Harapan Tindakan Pasangan pada Pertemuan
Pertama.
Kedua skala dirancang menggunakan skala Likert dengan 5 opsi
jawaban (1 = Sangat Tidak Setuju hingga 5 = Sangat Setuju).
Jumlah butir disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Semakin
besar skor yang diraih, semakin tinggi pula tingkat intensitas
paparan atau harapan yang dimiliki oleh responden.
b. Wawancara luring terdiri dari empat pertanyaan, antara lain :
Tabel 2. Butir Pertanyaan Wawancara
1. Menurut kamu, apakah konten romantis yang kamu lihat di TikTok
pernah memengaruhi bayangan kamu tentang kencan ideal?
2. Apakah ada perilaku pasangan di konten TikTok yang kamu rasa
seharusnya juga dilakukan saat kencan pertama?
3. Pernahkah kamu merasakan perubahan ekspektasi setelah sering
melihat konten-konten romantis itu?
4. Apakah kamu pernah membandingkan pengalaman kencan dengan
apa yang kamu lihat di TikTok?
D. Analisis
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode
campuran yakni; kualitatif deskriptif melalui wawancara dan kuantitatif
inferensial dengan menggunakan uji korelasi yang didasarkan pada uji
korelasi ‘Spearman’ melalui perangkat lunak jamovi. Uji ini diterapkan
karena nilai pada setiap variabel dihitung dalam bentuk mean komposit
yang kemudian dilakukan uji normalitas, sehingga dapat dianggap sebagai
data interval dan memenuhi asumsi dasar untuk menguji hubungan linear.
Pemanfaatan uji korelasi memungkinkan peneliti untuk melihat arah dan
kekuatan hubungan antara media exposure, engagement konten romantis
dan ekspektasi perlakuan baik pada kencan pertama secara bersamaan.
Metode ini menyajikan dasar empiris yang kuat untuk menarik kesimpulan
mengenai adanya atau tidaknya pengaruh media exposure dan engagement
konten romantis di TikTok terhadap ekspektasi kencan pertama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Gambar 1. Diagram Pie Chart Variabel Media Exposure
Gambar 2. Diagram Pie Chart Variabel Media Exposure
Gambar 3. Diagram Pie Chart Variabel Media Exposure
Gambar 4. Diagram Pie Chart Variabel Media Exposure
Tabel 3. Uji Normalitas
Descriptives
X_MEAN Y_MEAN
N 52 52
Missing 103 103
Shapiro-Wilk W 0.960 0.938
Shapiro-Wilk p 0.075 0.010
X_MEAN: Rerata skala likert variabel Media Exposure dan Engagement
Y_MEAN: Rerata skala likert variabel Ekspektasi Perlakuan Baik pada Kencan
Pertama
Tabel 4. Uji Korelasi
Uji Korelasi
X_MEAN Y_MEAN
X_MEAN Spearman's rho —
df —
p-value —
N —
Y_MEAN Spearman's rho 0.480** —
*
df 50 —
p-value <.001 —
N 52 —
Note. * p < .05, ** p < .01, *** p < .001
X_MEAN: Rerata skala likert variabel Media Exposure dan Engagement
Tabel 5. Hasil Penelitian
Hasil Wawancara
Pertanyaan 1
Partisipan 1 (P1): Konten romantis yang dilihat pada
platform TikTok tidak secara spesifik mempengaruhi
pandangannya. P1 cenderung lebih memperhatikan
mayoritas pandangan orang-orang terhadap konten
tersebut melalui kolom komentar.
Partisipan 2 (P2): Konten romantis di platform TikTok
dapat menjadi trigger P2 terhadap pengalaman
Hasil Wawancara
Apakah konten romantis yang menyakitkan. Saat melihat konten tersebut, P2
kamu lihat di TikTok pernah membandingkan pengalaman negatifnya di masa lalu
memengaruhi bayangan kamu dengan perlakuan pria di video yang ditonton.
tentang kencan ideal?
Partisipan 3 (P3): Konten romantis TikTok tidak
berpengaruh terhadap perilaku. Hanya sebatas pada
rekomendasi tempat yang cocok untuk kencan.
Pertanyaan 2
Partisipan 1 (P1): Salah satu hal yang ia rasa penting
setelah melihat konten TikTok adalah bagaimana pria
sebaiknya menyimpan gadgetnya dan lebih fokus
menghabiskan waktu bersama pasangannya.
Apakah ada perilaku pasangan di
Partisipan 2 (P2): Partisipan merasa bahwa bentuk
konten TikTok yang kamu rasa
perhatian berupa act of service idealnya dilakukan oleh
seharusnya juga dilakukan saat
pasangan. Namun, apabila harapan tersebut tidak
kencan pertama?
terpenuhi, itu tidak menjadi masalah baginya.
Partisipan 3 (P3): Kencan menurut P3 tidak terpaku
pada sebuah standar tetapi berdasarkan preferensi
masing-masing dari setiap individu.
Pertanyaan 3
Partisipan 1 (P1): Perubahan ekspektasi dialami oleh
P1 yang memiliki pandangan bahwa menghabiskan
waktu bersama pasangan hingga malam atau dini hari
Hasil Wawancara
merupakan suatu hal yang tidak wajar. Namun, setelah
mendapatkan konten TikTok yang memaparkan bahwa
hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar dan
lumrah, pandangan dari P1 berubah.
Pernahkah kamu merasakan
Partisipan 2 (P2): Pernah mengalami perubahan
perubahan ekspektasi setelah
persepsi setelah menonton video TikTok. Ini dapat
sering melihat konten-konten
menunjukkan bahwa ada pengaruh konten romantis
romantis itu?
terhadap pandangannya.
Partisipan 3 (P3): Lebih fleksibel dan menyesuaikan
dengan partner dalam artian tidak harus sesuai dengan
konten romantis yang dia lihat di TikTok.
Pertanyaan 4
Partisipan 1 (P1): Pernah melakukan perbandingan
antara pengalaman kencan dengan apa yang dilihat
pada platform TikTok mengenai pembagian biaya
kencan. P1 memilih tidak mempermasalahkan secara
lanjut karena hal tersebut tergantung pada situasi yang
Apakah kamu pernah dialaminya dengan partnernya.
membandingkan pengalaman
Partisipan 2 (P2): P2 mengalami perubahan pandangan
kencan dengan apa yang kamu
setelah membandingkan pengalaman kencan
lihat di TikTok?
pertamanya dengan konten pada platform TikTok. P2
menyadari bahwa pada hubungan sebelumnya, apa
yang dilakukan pasangannya belum cukup romantis
apabila dibandingkan pada konten TikTok.
Hasil Wawancara
Partisipan 3 (P3): Tidak membandingkan pengalaman
kencan dengan konten TikTok. P3 memposisikan
konten romantis sebagai pemicu nostalgia.
B. Pembahasan
1. Hasil Uji Normalitas
Normalitas diuji menggunakan Shapiro-Wilk (tabel 3). Pada
variabel X yaitu Media Exposure dan Engagement menunjukkan p
value = 0.075. Angka tersebut menunjukkan bahwa data
terdistribusi normal (p > 0.05). Di sisi lain, variabel Y
menunjukkan p value = 0.010 yang mengindikasikan bahwa data
tidak terdistribusi normal (p < 0.05). Dengan data yang diperoleh,
dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas tidak terpenuhi
sehingga uji korelasi dilakukan menggunakan metode non
parametrik, yaitu Spearman’s rho.
2. Hasil Uji Korelasi
Hasil uji korelasi (tabel 4) menunjukkan adanya hubungan
positif yang signifikan (p < 0.05) antara variabel X dengan variabel
Y dengan nilai rho = 0.480 dan p value <0.001. Nilai korelasi
tersebut berada dalam kategori hubungan moderat (rho =
0.41-0.60), yang berarti hubungan antara kedua variabel
menunjukkan adanya keterkaitan moderat positif yang signifikan
secara statistik. Hubungan ini mengindikasikan bahwa semakin
tinggi media exposure dan engagement mahasiswi dengan konten
romantis di TikTok, semakin tinggi pula harapan mereka terhadap
perlakuan yang baik dari pasangan, khususnya pada kencan
pertama.
3. Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara pertanyaan (tabel 2,
pertanyaan 1), jawaban dari ketiga partisipan menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh konten TikTok terhadap bayangan partisipan
mengenai kencan ideal, meskipun bentuk pengaruhnya
berbeda-beda. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap individu
menangkap dimensi konten yang berbeda dari media sesuai dengan
perhatian dan pengalaman mereka.
Fenomena yang terjadi pada P2 memperlihatkan bagaimana
P2 membentuk bayangan kencan pertama dengan menjadikan
unggahan TikTok yang sering dilihatnya sebagai acuan (lampiran
2). Pola tersebut selaras dengan Cultivation Theory dari George
Gerbner (1969) karena gambaran kencan yang berulang di media
menjadi rujukan yang ia pakai saat membayangkan situasi serupa.
Berbeda dengan pengalaman yang dialami P1, gambaran tersebut
justru muncul dengan membaca komentar pengguna lain. Cara P1
membuat kesimpulan tentang peran pasangan mencerminkan
proses persepsi sosial sebagaimana dijelaskan dalam Social
Perception Theory dari Freeman dan Johnson (2016), di mana P1
mengandalkan petunjuk sosial yang menonjol, dalam hal ini
komentar lebih berpengaruh baginya (lampiran 1).
Sementara itu, P3 hanya fokus kepada mutu konten yang
memiliki saran aktivitas atau tempat kencan yang sedang viral,
bukan konten yang menonjolkan tentang perilaku pasangan ideal.
Fenomena ini mengingatkan pada temuan Sipahutar dkk. (2025)
yang menunjukkan bahwa TikTok sering menonjolkan visual
aktivitas, bentuk kencan dan perilaku antarpasangan di hubungan
yang tampak ideal sehingga memunculkan dorongan pada
pengguna untuk mengikuti tren lokasi kencan (lampiran 3).
Pada pertanyaan kedua (tabel 2, pertanyaan 2), partisipan
menunjukkan sejauh mana mereka menjadikan perilaku di konten
TikTok sebagai referensi pada kencan pertamanya. Terdapat
perbedaan hasil antarpartisipan, P2 paling terpengaruh dan
memiliki harapan besar akan gestur romantis seperti membukakan
pintu, membawakan tas, bersikap peka, dan lainnya (lampiran 2).
Sedangkan P1 hanya mengharapkan perilaku sederhana seperti
tidak banyak bermain handphone saat kencan dan P3 tidak
terpengaruh karena ia menilai kencan adalah soal preferensi
masing-masing (lampiran 1).
Jika dibandingkan satu sama lain, P2 terlihat paling banyak
menjadikan gestur romantis di TikTok sebagai acuan perilaku
pasangan. Respon ini menggambarkan bagaimana gambaran yang
ia serap sebelumnya bekerja dalam proses penilaiannya,
sebagaimana dijelaskan dalam Social Perception Theory.
Sementara P1 hanya mengambil hal yang menurutnya relevan,
yakni penggunaan ponsel saat kencan. Hal ini menunjukkan bahwa
ia hanya menyimpan bagian yang menurutnya penting. P3 tidak
menjadikan TikTok sebagai dasar penilaian karena ia memandang
kencan sebagai sesuatu yang personal (lampiran 3). Pola ini serupa
dengan temuan Sipahutar dkk. (2025) tentang bagaimana tayangan
pasangan ideal di TikTok tidak selalu diikuti pengguna, sebab
sebagian penonton hanya melihatnya sebagai hiburan dan tidak
menempatkannya sebagai standar hubungan dan masih berpikir
kritis.
Pada pertanyaan ketiga (tabel 2, pertanyaan 3), didapati
adanya perbedaan perspektif antarpartisipan. P1 dan P2 mengaku
mengalami perubahan perspektif mengenai kencan pertama dalam
hubungannya setelah melihat berbagai konten pada platform
TikTok (lampiran 1 dan 2). Hal ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan Dika Andrea dkk. (2025) yang menyatakan bahwa
remaja yang sering terpapar konten hubungan romantis dan ideal
pada platform TikTok cenderung mengalami perubahan persepsi
dan standarisasi berpacaran.
Berbeda dengan P1 dan P2, P3 tidak mengalami perubahan
pandangan yang signifikan. P3 menunjukkan sikap yang lebih
fleksibel terhadap perilaku pasangannya dan tidak merasa perlu
menyesuaikan dengan apa yang ditampilkan dalam konten
romantis TikTok (lampiran 3).
Pada pertanyaan terakhir (tabel 2, pertanyaan 4), ditemukan
bahwa P2 melakukan perbandingan antara pengalaman kencan
pertamanya dan standar kencan yang ditampilkan dalam konten
TikTok (lampiran 2). P2 mengungkapkan bahwa dirinya
mengalami perubahan pandangan serta merasa kecewa terhadap
pengalaman kencan pertamanya di masa lalu. Temuan ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan Annisa Xania Balqis (2025),
yang menyatakan bahwa paparan konten romantis TikTok dapat
mendorong individu melakukan upward comparison, sehingga
memunculkan ekspektasi yang lebih tinggi terhadap perlakuan
pasangan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekecewaan
apabila realitas tidak sesuai dengan standar yang terbentuk melalui
konten TikTok.
Namun demikian, pernyataan P1 dan P3 menunjukkan
bahwa konten romantis pada platform TikTok tidak selalu
dijadikan sebagai standar atau pembanding terhadap pengalaman
kencan pertama yang dimiliki (lampiran 1 dan 3). Hal ini
menunjukkan bahwa setiap individu dapat memaknainya secara
berbeda sesuai dengan kebutuhan emosional masing-masing.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kami media exposure dan engagement
melalui konten romantis di TikTok memiliki hubungan yang signifikan
dengan harapan mahasiswi mengenai perlakuan baik pada kencan pertama.
Penemuan ini membuktikan hipotesis penelitian bahwa media sosial berperan
dalam memengaruhi pembentukan pemahaman, norma, dan ekspektasi
interaksi romantis. Namun, hasil wawancara mengungkap bahwa pengaruh
tersebut tidak bersifat langsung dan dapat digeneralisasikan karena proses
persepsi sosial berbeda-beda dinamikanya sesuai dengan kebutuhan
emosional, pengalaman, dan skema berpikir pada masing-masing individu.
Dengan demikian, TikTok berperan sebagai salah satu sumber
referensi sosial yang mampu memengaruhi kerangka berpikir tentang kencan
pertama, tetapi dampaknya tidak bersifat universal dan tergantung pada cara
setiap individu memaknai serta menyeleksi konten yang dikonsumsi. Hal ini
juga menjadi kelemahan penelitian kami karena sampel penelitian cukup
terbatas untuk dapat menarik kesimpulan alasan dan faktor tetap.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian, peneliti memberikan
beberapa saran sebagai berikut:
1. Peneliti
Peneliti disarankan agar memperbaiki keterbatasan yang ada dalam
penelitian ini. Adapun kekurangan dari penelitian ini :
a. Ruang lingkup yang masih terbatas sehingga hasil penelitian belum
dapat digeneralisasikan secara luas.
b. Selain itu, instrumen penelitian yang digunakan juga belum
dikembangkan dengan sempurna. Oleh karena itu, penelitian
berikutnya peneliti dapat memperluas jumlah dan variasi responden
serta menggunakan instrumen lain yang lebih akurat.
c. Kedepannya, dalam instrumen penelitian dengan metode kuesioner
skala likert untuk pemilihan pertanyaan akan lebih mewakilkan
secara jelas dan mendalam ekspektasi kencan pertama seperti apa
yang kami maksudkan dalam penelitian ini.
d. Pertanyaan wawancara seharusnya bisa lebih memantik uraian
detail respon dari partisipan.
2. Pembaca
a. Pembaca dapat menjadikan hasil penelitian sebagai bahan refleksi
dalam memahami bagaimana sosial media khususnya TikTok dapat
mempengaruhi ekspektasi seseorang.
b. Pembaca diharapkan mampu bersikap kritis dan bijak ketika
melihat konten dan tidak langsung menjadikannya ukuran nilai diri.
Sikap kritis diperlukan agar pembaca tidak mudah terpengaruh oleh
gambaran yang hanya bersifat sepintas.
c. Pembaca disarankan untuk memperhatikan dampak emosional dari
penggunaan media sosial. Kesadaran terhadap reaksi tersebut
dapat membantu pembaca mengendalikan pola konsumsi konten
agar tetap sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Brodie, R. J., Hollebeek, L. D., Juric, B., & Ilić, A. (2011). Customer engagement:
Conceptual domain, fundamental propositions, and implications for
research. Journal of Service Research, 14(3), 252–271.
Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement:
Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational
Research, 74(1), 59–109.
Freeman, J. B., & Johnson, K. L. (2016). More than meets the eye: Split-second
social perception. Trends in Cognitive Sciences, 20(5), 362–374.
[Link]
Gerbner, G., & Gross, L. (1976). Living with television: The violence profile.
Journal of Communication, 26(2), 172–199.
[Link]
Iksan, M. (2016). Pengaruh terpaan media internet dan pola pergaulan terhadap
karakter peserta didik. Tsamrah Al-Fikri, 10, 103–120.
Laner, M. R., & Ventrone, N. A. (2000). Dating scripts revisited. Journal of
Family Issues, 21(4), 488–500.
[Link]
LaPlante, M. N., McCormick, N., & Brannigan, G. G. (1980). Living the sexual
script: College students’ views of influence in sexual encounters. The
Journal of Sex Research, 16, 338–355.
Metts, S., & Cupach, W. R. (1989). The role of communication in human
sexuality. In K. McKinney & S. Sprecher (Eds.), Human sexuality: The
societal and interpersonal context (pp. 139–161). Ablex.
Metts, S., & Spitzberg, B. H. (1996). Sexual communication in interpersonal
contexts: A script-based approach. In B. R. Burleson (Ed.),
Communication yearbook 19 (pp. 49–92). Sage.
Mongeau, P. A., Jacobsen, J., & Donnerstein, C. (2007). Defining dates and first
date goals: Generalizing from undergraduates to single adults.
Communication Research, 34(5), 526–547.
[Link]
Morr, M. C., & Mongeau, P. A. (2004). First-date expectations: The impact of sex
of initiator, alcohol consumption, and relationship type. Communication
Research, 31(1), 3–35. [Link]
O’Brien, H. L., & Toms, E. G. (2008). What is user engagement? A conceptual
framework for defining user engagement with technology. Journal of the
American Society for Information Science and Technology, 59(6),
938–955.
O’Sullivan, L. F., & Byers, E. S. (1992). College students’ incorporation of
initiator and restrictor roles in sexual dating interactions. The Journal of
Sex Research, 29, 435–446.
Pryor, J. B., & Merluzzi, T. V. (1985). The role of expertise in processing social
interaction scripts. Journal of Experimental Social Psychology, 21(5),
362–379.
Rose, S., & Frieze, I. H. (1989). Young singles’ scripts for a first date. Gender &
Society, 3, 258–268.
Rose, S., & Frieze, I. H. (1993). Young singles’ contemporary dating scripts. Sex
Roles, 28, 499–509.
Sherwin, R., & Corbett, S. (1985). Campus sexual norms and dating relationships:
A trend analysis. The Journal of Sex Research, 21, 258–274.
Surra, C. A., Batchelder, M. L., & Hughes, D. K. (1995). Accounts and the
demystification of courtship. In M. A. Fitzpatrick & A. L. Vangelisti
(Eds.), Explaining family interactions (pp. 112–141). Sage.
Social Media Users by Country 2025. (2025-12-14). World Population Review.
[Link]
y-country#sources
Putri, A. S., & Nurhayati, S. (2024). Pengaruh algoritma TikTok dan konten
kreatif pada TikTok Shop terhadap keputusan pembelian. Jurnal Bisnis,
Manajemen, Dan Akuntansi, 11(1), 10-15.
Hakim, A. A., Widiyanto, H. ., & Abqori, N. (2025). Fenomena Tiktok dalam
mempengaruhi ekspektasi pernikahan. J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah,
4(2), 3101–3107. [Link]
Andrea, D., & Sari, W. P. (2025). Studi persepsi terhadap tren standarisasi
berpacaran di TikTok. Kiwari, 4(2), 320-327.
Marchelin, T. (2025). Di balik paradoks TikTok Indonesia: Jumlah pengguna
terbesar, penetrasi global terbatas. Campaign Indonesia.
[Link]
ia-jumlah-pengguna-terbesar-penetrasi-global-terbatas/1903192
Suryani, I., Zulfikri, A., & Muhariani, W. (2021). Aplikasi TikTok sebagai media
kampanye untuk pencegahan penyebaran Covid-19. Jurnal Khatulistiwa
Informatika, 8(1), 93-101.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Wawancara Partisipan 1 (J)
Pertanyaan Wawancara Jawaban Wawancara
1. Menurut kamu, apakah konten romantis “Sebenernya gak ke kontennya sih, tapi kayak lebih
yang kamu lihat di TikTok pernah ke komen-komennya. Misalkan kalau first date,
memengaruhi bayangan kamu tentang cowok ga boleh gini-gini, nanti ceweknya gini-gini.
kencan ideal? Misalkan kayak, jadi pokoknya gitu-gitu sih. Lebih
ke kayak do’s and don'ts nya sih.”
2. Apakah ada perilaku pasangan di “Kayaknya konteks deh, gak semuanya. Aku perlu
konten TikTok yang kamu rasa nyebutin gak konteksnya atau apa aja yang harus
seharusnya juga dilakukan saat kencan dilakukan?” (pewawancara mengijinkan partisipan
pertama? untuk menyebutkan konteks lebih lanjut)
“Menurutku, dia harus.. Gak boleh main HP sih
menurutku. Itu yang harus.” (“Itu kamu lihat juga di
konten TikTok atau gimana? Atau emang kamu
punya prinsip sendiri dari awal ‘Pokoknya kalau pas
first date cowokku gak boleh main HP.’”)
“Dua-duanya sih.”
3. Pernahkah kamu merasakan perubahan “Kalau dulu itu, ini terlepas dari first date juga sih,
ekspektasi setelah sering melihat aku mikir kayak kalau main, kalau keluar tuh gak
konten-konten romantis itu? boleh malem-malem gitu. Entah first date atau main
sama temen gitu. Tapi waktu itu kebetulan first
date-ku sampai pagi. Jadi aku mikir kayak, ‘Oh,
ternyata gak apa-apa gitu; gak selamanya bahaya gitu
loh kalau main sampe pagi,’ gitu.”
4. Apakah kamu pernah membandingkan “Sebenernya pernah, tapi kayak yaudah sih gak aku
pengalaman kencan dengan apa yang permasalahin gitu loh.” (pewawancara meminta
kamu lihat di TikTok? partisipan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai
konteks perbandingan yang dimaksud partisipan) “Ini
aku no offense sama sekali ya. Kalau biasanya first
date itu kan yang biasanya ya, yang bayarkan cowok.
Biasanya ya.”
“Eh biasanya yang bayarin cowok, biasanya. Cuman
karena kemarin konteksnya first date itu aku yang
ngajak, maksudnya bukan first date sih, ini aku yang
ngajak jadi kayak aku yang bayarin. Tapi kayak agak
aku permasalahin juga gitu loh.”
“Iya yaudah gapapa. Kan juga aku yang ngajak toh,
mosok aku yang ngajak dia yang bayarin gitu.”
Lampiran 2. Hasil Wawancara Partisipan 2 (L)
Pertanyaan Wawancara Jawaban Wawancara
1. Menurut kamu, apakah konten romantis “Pernah banget sih, apalagi kalau misal itu emang
yang kamu lihat di TikTok pernah relate ya. Jadi kayak pengalaman-pengalaman dulu
memengaruhi bayangan kamu tentang misalnya itu menyakitkan banget, terus
kencan ideal? konten-kontennya di TikTok itu seromantis itu,
se-cute itu. Jadi kan emang juga memengaruhi kayak
‘oh pengen ini next, pengalaman kayak gini yang
sesuai TikTok,’ gitu sih.”
2. Apakah ada perilaku pasangan di “Sebenarnya kalau harus tuh, gak selalu harus ya.
konten TikTok yang kamu rasa Tapi kayak beberapa ada yang memengaruhi kayak
seharusnya juga dilakukan saat kencan harapan sih lebih ke, ‘pengen deh dia kayak gini.’
pertama? Tapi sebenarnya kalau misalnya dia gak memenuhi
ekspektasi itu, gak apa-apa.” (pewawancara meminta
partisipan untuk menjelaskan lebih lengkap) “Emm..
misal kayak dia harus, bukan harus sih, harapan aku
dia itu kalau misal, misal bukain pintu mobil tiap
nyampe di tempat, terus bawain tas aku, terus kayak
notice misal aku butuh apa terus dia langsung tau
sendiri gitu loh without me asking gitu. Itu sih.
Mungkin berarti kayak lebih ke act of service itu,
yang aku lihat.”
3. Pernahkah kamu merasakan perubahan “Iya pernah.”
ekspektasi setelah sering melihat
konten-konten romantis itu?
4. Apakah kamu pernah membandingkan “Pernah sih berarti, karena yang dulu tuh kurang
pengalaman kencan dengan apa yang oke.” (pewawancara meminta partisipan untuk
kamu lihat di TikTok? menjelaskan lebih lanjut) “Menurut aku kayak, apa
ya kayak, bentar, kurang sweet aja sih. Lebih kayak
itu kayak, pasangan aku tuh first date banget, yang
pertama kali aku first date itu, kayak kurang sweet,
dan karena aku kena exposure dari TikTok,
sebenarnya tuh yang sweet tuh kayak gitu, aku jadi
ngebandingin “oh, berarti dulu tuh emang kurang
sweet,” kayak memvalidasi dulu tuh berarti beneran
kurang gitu.”
Lampiran 3. Hasil Wawancara Partisipan 3 (H)
Pertanyaan Wawancara Jawaban Wawancara
1. Menurut kamu, apakah konten romantis “Mungkin pernah, kontennya tuh lebih ke kayak, tapi
yang kamu lihat di TikTok pernah bukan ke pasangannya sih, tapi mungkin kayak lebih
memengaruhi bayangan kamu tentang ke konten kayak ngedate kemana. Kayak maksudnya,
kencan ideal? jadi inspirasi. Tapi kalo misalnya lebih ke partner
ideal itu ga terlalu sih.”
2. Apakah ada perilaku pasangan di “Sebenernya gak terlalu, kalau menurutku sendiri
konten TikTok yang kamu rasa first date itu tergantung preferensi masing-masing.
seharusnya juga dilakukan saat kencan Jadi balik lagi ke diri sendiri, sebenernya mungkin
pertama? ada hal yang bisa affecting dari nonton itu tapi kayak
gak bikin yang sampe oh harus cari yang kayak gitu.”
3. Pernahkah kamu merasakan perubahan “Sebenernya gak terlalu juga, soalnya kalau ngedate
ekspektasi setelah sering melihat itu juga balik lagi ke preferensi masing-masing,
konten-konten romantis itu? tergantung aku lagi ada uang atau enggak, atau
cowok aku lagi ada uang atau enggak. Jadi kayak
balik lagi ke masing-masing.”
4. Apakah kamu pernah membandingkan “Sebenernya kayak yang kamu mention tadi
pengalaman kencan dengan apa yang (pewawancara menyebutkan contoh perilaku
kamu lihat di TikTok? membandingkan diri dengan konten TikTok),
mungkin kadang kayak kalo habis ngomong kayak
keinget lagi, oh dulu harusnya kayak gini, oh
mungkin bedanya ada dibagian ini, tapi kayak yaudah
buat refleksi aja, tapi bukan wah kayak harusnya
kayak gini.”
Lampiran 3. Informed Consent