i
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS
HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT GRAHA
HUSADA BANDAR LAMPUNG
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH
YOGI BARUNA PUTRA
NPM : 240101204P
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025
i
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS
HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT GRAHA
HUSADA BANDAR LAMPUNG
PROPOSAL PENELITIAN
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan
OLEH
YOGI BARUNA PUTRA
NPM : 240101204P
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Judul Proposal:
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP
PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS
DI RS GRAHA HUSADA BANDAR LAMPUNG
Nama : Yogi Baruna Putra
NPM : 240101204P
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing untuk seminar proposal.
Pringsewu, … Agustus 2025
Pembimbing
(Dr. Hardono, S. Kep., Ners., M. Kep)
NIDN : 0231037803
Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Keperawatan
(Rizky Yeni Wulandari, [Link]., Ners., [Link]
NIDN : 0210018601
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun proposal skripsi ini dengan judul
“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal
Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di RS Graha Husada Lampung”
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi di Fakultas
Keperawatan. Proposal ini tentunya tidak dapat tersusun tanpa bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Sukarni, [Link].T., M. Kes Selaku Ketua yayasan aisyah lampung.
2. Dr. Sutrisno, [Link]., Ners., MAN Selaku Rektor universitas aisyah pringsewu
lampung.
3. Rini Palupi, [Link]., Ners., [Link] Selaku Dekan fakultas keperawatan
universitas aisyah pringsewu lampung.
4. Rizki Yeni Wulandari, [Link]., Ners., [Link] Selaku Kepala program studi s1
keperawatan.
5. Dr. Hardono, [Link]., Ners., [Link] Selaku Pembimbing utama dan
pendamping yang telah banyak membantu penyelesaian penulisan proposan
penelitian ini.
6. Meliana , [Link]., Ners Selaku Kepala ruangan hemodialisa rs graha husada
lampung.
7. Keluarga dan Teman yang sudah membantu jalannya penelitian.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di
masa mendatang. Akhir kata, semoga proposal ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak, khususnya dalam pengembangan ilmu keperawatan.
Bandar Lampung, Agustus 2025
Penulis
Yogi Baruna Putra
iv
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL LUAR ....................................................................... i
HALAMAN JUDUL DALAM .................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
DAFTAR ISI .............................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................ vii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 8
C. Tujuan Masalah ................................................................................. 8
1. Tujuan Umum ........................................................................ 8
2. Tujuan Khusus ....................................................................... 8
D. Manfaat Penelitian............................................................................. 9
E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................. 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 11
A. Tinjauan Teoritis................................................................................ 11
B. Penelitian Terkait ............................................................................... 34
C. Kerangka Teori .................................................................................. 36
D. Kerangka Konsep .............................................................................. 37
E. Hipotesis ........................................................................................... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN................................................... 39
A. Jenis Penelitian .................................................................................. 39
B. Waktu Dan Tempat ............................................................................ 39
C. Rancangan Penelitian ........................................................................ 40
D. Subyek Penelitian .............................................................................. 41
E. Variabel Penelitian............................................................................. 43
F. Definisi Operasional Variabel ............................................................ 43
G. Alat Ukur .......................................................................................... 44
H. Pengumpulan Data ............................................................................ 47
I. Pengolahan Data................................................................................ 48
J. Etika Penelitian ................................................................................. 51
K. Jalannya Proses Penelitian ................................................................. 52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
v
DAFTAR GAMBAR
Judul Gambar Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Teori .......................................................................... 37
Gambar 2.2 Kerangka Konsep ...................................................................... 38
vi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Stage PGK Menurut KDIGO ................................................................... 14
2.2 Indikastor Alat Ukur Kualitas Hidup ....................................................... 27
2.3 Indikator Alat Ukur Dukungan Keluarga ................................................. 34
3.1 Defenisi Operasional Variabel ................................................................. 44
vii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) atau Chronic Kidney Desease (CKD)
didefinisikan sebagai kelainan struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung
selama lebih dari 3 bulan, dengan implikasi terhadap kesehatan, tanpa
memperhatikan penyebabnya. Hal ini harus memenuhi salah satu dari kriteria
eGFR <60ml/min/1,73m² atau tanda kerusakkan ginjal seperti albuminuria,
kelainan sedimen urine, atau temuan histologi/ radiologi (Kidney Disease:
Improving Global Outcomes (KDIGO), 2024) dalam KDIGO 2024 Clinical
Pratice Guideline for Evaluation Management of Chronic Kidney Desease.
Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan gangguan fungsi atau struktur
ginjal yang berlangsung ≥3 bulan, dengan atau tanpa penurunan eGFR <60
mL/menit/1,73m². Diagnosis ditegakkan melalui kelainan patologis,
perubahan darah atau urin, serta hasil lab yang menunjukkan kerusakan
ginjal. Penanganan CKD meliputi terapi konservatif, terapi simptomatik, dan
terapi pengganti ginjal. Salah satu terapi pengganti ginjal adalah hemodialisa
dengan cara kerjanya memproses pengeluaran cairan dan produk limbah dari
dalam tubuh (Kemenkes, 2023).
Penyakit gagal ginjal merupakan salah satu masalah kesehatan global
yang mendapat perhatian serius dari Badan Kesehatan Dunia. Pada tahun
2025, WHO menempatkan penyakit ini sebagai penyebab kematian ke-9 dari
10 penyakit yang paling mematikan di dunia. Hal ini sejalan dengan temuan
1
2
Global Burden of Disease (GDB), yang melaporkan bahwa pada tahun 2021
terdapat sekitar 674 juta kasus Penyakit Gagal Ginjal (PGK) pada seluruh
tahap di dunia, dengan prevalensi sebesar 8,5% dari total populasi dunia.
Sejak tahun 1990, prevalensi PGK meningkat sebesar 0,92% per tahun di
seluruh kelompok usia, dan pada tahun yang sama, PGK menyebabkan 1,53
juta kematian di seluruh dunia, menunjukkan peningkatan angka kematian
sebesar 2,66% per tahun dibandingkan tahun 1990 (Global Burden of
Disease,. 2021).
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023
menunjukkan bahwa 0,18% dari 638.178 penduduk berusia ≥ 15 tahun yang
disurvey menderita PGK. Provinsi Lampung memiliki prevalensi yang lebih
tinggi, yaitu 0,30% dari total 21.021 penduduk yang disurvei, menjadikannya
salah satu provinsi dengan beban PGK tertinggi, pada tahun 2022 tercatat
untuk daerah bandar lampung sebagai kabupaten/ kota dengan jumlah kasus
tertinggi sebanyak 533 kasus PGK, sedangkan pada tahun 2023 tercatat untuk
daerah kota metro dengan jumlah kasus 575 kasus PGK, sedangkan pada
tahun 2022 tercatat untuk daerah waykanan dengan jumlah kasus 280 kasus
PGK berdasarkan data dari Dinkes Lampung. Dari 1.259 penderita PGK
yang teridentifikasi melalui survey tersebut, sebanyak 21,1% menjalani
hemodialisis (Lampung, 2023).
Selain itu, data Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2023
mencatat bahwa jumlah pasien yang menjalani terapi dialysis mencapai
60.526 orang, dengan total populasi pasien PGK sebanyak 127.900 orang.
3
Temuan ini semakin menegaskan bahwa PGK merupakan penyakit dengan
tren peningkatan yang signifikan dan membutuhkan perhatian serius dalam
upaya pencegahan serta penatalaksanaannya (Pernefri, 2022).
Sedangkan prevalensi Jumlah pasien PGK di RS Graha Husada yang
menjalani terapi hemodialisis meningkat dari 48 pasien pada tahun 2023
menjadi 58 pasien pada tahun 2024. Angka kematian relatif stabil, dengan dua
belas kasus pada tahun 2024 dan sebelas kasus pada tahun 2023,
menunjukkan peningkatan pasien sebesar 20,83% selama dua tahun, dan pada
tahun 2025 prevalensi jumlah pasien PGK yang menjalani hemodialisis
meningkat 25% dalam 4 bulan terakhir sebesar 60 pasien (Rekam Medik.
2024).
Peningkatan jumlah penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK)
menunjukkan bahwa penyakit ini telah menjadi permasalahan serius dalam
dunia kesehatan. Seiring dengan hal tersebut, jumlah pasien yang menjalani
terapi hemodialisis juga terus meningkat. Hemodialisis merupakan terapi
pengganti ginjal yang paling umum dilakukan, yakni dengan menggunakan
mesin dialyzer untuk membuang zat sisa metabolisme, serta menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh melalui proses filtrasi darah dengan
membran semipermeable (Siregar et al., 2022).
Meskipun terapi hemodialisis membantu memperpanjang harapan hidup
pasien PGK, proses ini seringkali menimbulkan tantangan jangka panjang.
Pasien menghadapi berbagai kendala seperti beban finansial, keterbatasan
bekerja, penurunan gairah seksual, kecemasan, depresi, dan rasa takut
4
menghadapi kematian. Perubahan gaya hidup yang drastis akibat penyakit
dan terapi yang dijalani turut memengaruhi semangat dan kualitas hidup
pasien (Inayati et al., 2020). Hemodialisis tidak hanya berdampak secara
fisik, tetapi juga secara psikologis, sosial, spiritual, ekonomi, serta pada
dinamika keluarga (Arisandy & Carolina, 2023).
Kualitas hidup merupakan hasil persepsi individu tentang kemampuan,
keterbatasan, gejala dan sifat psikososial hidup individu, dalam konteks
lingkungan, budaya dan nilai dalam menjalankan peran dan fungsinya
sebagaimana mestinya (Primasari & Dara, 2022), sehingga setiap individu
mempunyai persepsi yang tidak sama.
Kualitas hidup pasien CKD yang menjalani hemodialisa cukup menarik
perhatian bagi professional kesehatan, karena masalah kualitas hidup menjadi
sangat penting dalam pemberian layanan keperawatan yang menyeluruh bagi
pasien, dengan harapan pasien dapat menjalani hemodialisa dan mampu
bertahan hidup walau dengan bantuan mesin dialisa (Muhammad
Idzharrusman & Johan Budhiana, 2022). Takesi Arisandy (2023)
mengemukakan bahwa setelah menjalani hemodialisa ada perubahan pada
dimensi psikis,dimensi sosial dan dimensi lingkungan seseorang yaitu
mempunyai perasaan positif, mampu berfikir, mengingat dan konsentrasi
serta merasa lebih nyaman dengan berinteraksi (Arisandy & Carolina, 2023).
Kualitas hidup dalam pemberian terapi hemodialisis sangatlah penting
karena HD adalah terapi jangka panjang yang dilakukan sesuai dosisnya,
rutinitas ini membatasi pasien dalam banyak hal termasuk kebebasan
5
bergerak, social, dan pekerjaan. Efek samping dari beban fisik seperti
kelelahan, hipotensi, kram, dan gatal dapat menyebabkan kualitas hidup
rendah, pasien bisa merasa terpenjara oleh pengobatan. Oleh karena itu,
kualitas hidup bukan hanya sekedar soal kenyaman, tetapi komponen penting
dalam keberhasilan jangka panjang terapi hemodialysis. Meningkatnya
kualitas hidup berarti memanusiakan pengobatan, bukan hanya
memperpanjang umur tetapi juga membuat hidup lebih berwarna. (Arisandy
& Carolina, 2023) mengatakan dalam penelitiannya bahwa kualitas hidup
yang baik bagi pasien HD biasanya ditandai dengan kepatuhan lebih tinggi
terhadap terapi hemodialisis, imunitas lebih baik, angka rawat inap dan
komplikasi yang rendah, serta harapan hidup yang lebih tinggi (Arisandy &
Carolina, 2023).
Kualitas hidup berkaitan erat dengan adanya dukungan keluarga, karena
dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaaan keluarga terhadap
penderita yang sakit, dimana keluarga menjalankan fungsinya sebagi sistem
yang bersifat mendukung, selalu siap memberi pertolongan jika diperlukan
(Manalu, 2020).
Dukungan keluarga merupakan dukungan verbal dan non verbal, bisa
berupa saran, bantuan langsung atau sikap yang diberikan oleh orang-orang
yang mempunyai kedekatan dengan subjek didalam lingkungan sosialnya.
Dukungan ini bisa juga berupa kehadiran yang memberi respon emosional
dan mempengaruhi tingkah laku penerima dukungan tersebut (Arisandy &
Carolina, 2023). Ada 5 (lima) dimensi dukungan keluarga yang diberikan
6
oleh anggota keluarga (House dan Smet, 2015) yaitu dukungan emosional,
dukungan penghargaan, dukungan informasi, dukungan instrumental, dan
dukungan jaringan sosial yang kesemuanya menjadi satu bentuk dukungan
keluarga.
Dukungan keluarga adalah faktor penting bagi individu ketika
menghadapi masalah (kesehatan), dimana keluarga berperan dalam fungsi
keperawatan kesehatan anggota keluarganya untuk mencapai kesehatan yang
optimum (Inayati et al., 2020). Pasien memerlukan hubungan yang erat
dengan seseorang yang bisa dijadikan tempat untuk menumpahkan
perasaannya pada saat-saat stress dan kehilangan semangat selama menjalani
terapi hemodialisa yang cukup lama yang dapat diperoleh dari anggota
keluarga, disamping itu dapat membuat anggota keluarga menjadi lebih dekat
satu sama lain (Arisandy & Carolina, 2023).
Dengan adanya dukungan keluarga, dari hasil penelitian Ibrahim (2009)
dalam Takesi dan Putria (2023) didapatkan 57,1% pasien yang menjalani
hemodialysis mempersepsikan kualitas hidupnya pada tingkat rendah dan
42,9% yang mempersepsikan kualitas hidupnya pada tingkat tinggi. Dan
dalam penelitiannya juga didapatkan bahwa dalam aspek kualitas hidup
tertinggi dari pasien CKD yang menjalani hemodialisa ada pada kepuasan
individu atas dukungan yang bersumber dari keluarga, teman serta kerabat
(Arisandy & Carolina, 2023).
Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan di Unit Hemodialisa RS
Graha Husada Bandar Lampung terhadap 15 (lima belas) orang pasien terlihat
7
bahwa pasien menunjukkan berbagai respon fisik dan psikologis yang
menandakan adanya penurunan kualitas hidup.
Secara fisik, sebagian besar pasien mengeluhkan rasa kelemahan yang
berlebihan, sebanyak 5 pasien (33%) menyatakan bahwa tubuh mereka terasa
cepat lelah meskipun hanya melakukan aktivitas ringan tidak seperti sebelum
sakit. Keluhan sesak napas juga muncul pada 3 pasien (20%), pasien
mengatakan terutama pada menjelang atau setelah tindakan hemodialysis
sehingga mereka membatasi aktivitas harian mereka, sebanyak 6 pasien
(40%) mengatakan kulit terasa kering dan gatal yang sering kali
menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu tidur, selain itu, 9 pasien
(60%) tampak pucat, yang menunjukkan kemungkinan anemia sebagai salah
satu komplikasi umum pada gagl ginjal kronik diperkuat dengan pernyataan
dari pasien bahwa mereka belakangan ini kurang nafsu makan yang juga akan
menyebabkan anemia. Beberapa pasien, yaitu 4 pasien (27%), juga
mengatakan peningkatan berat badan berlebih selama menjalani terapi
hemodialisis yang dapat dikaitkan dengan penumpukkan cairan dan
ketidakpatuhan terhadap pembatatasan diet cairan.
Dari sisi psikologis, sebanyak 5 pasien (33%) menunjukkan tanda-tanda
depresi, kecemasan, atau tekanan emosional. Mereka mengatakan muncul
perasan putus asa, kekhawatiran terhadap kondisi penyakit, maupun
ketidakmampuan beradaptasi dengan rutinitas hemodialysis. Respon
emosional ini menunjukkan bahwa hemodialysis memberikan beban yang
berat dan multidimensi. Keluhan fisik yang berulang, keterbatasan aktivitas,
8
serta tekanan psikologis yang menyertai tindakan dialysis turut berkontribusi
pada penurunan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Dari kelima belas pasien CKD tersebut, 7 (tujuh) diantaranya datang
sendiri dengan alasan adanya kesibukan anggota keluarga dan mengatakan
kurang mendapat dukungan dari keluarga, sehingga saat jadwal hemodialisis
yang harus dilakukan mereka datang sendirian. Sementara yang lainnya
senantiasa mendapatkan pendampingan dari anggota keluarga selama
menjalani hemodialisa. Hemodialisa yang harus dijalani selama 4 – 5 jam
selalu dipantau untuk mengantisipasi munculnya komplikasi pada pasien
selama dan sesudahnya. Dengan demikian, pendampingan oleh anggota
keluarga saat hemodialisa sangatlah penting bagi pasien dan juga merupakan
salah satu bentuk nyata dari dukungan keluarga. Sementara ketersediaan
dukungan keluarga belum banyak yang diketahui oleh keluarga juga pasien
untuk mengupayakannya, sehingga masih ditemui pasien merasakan sedih,
minder dan cemas selama terapi meskipun keluarga ada saat terapi dijalani.
Berdasarkan fenomena diatas, membuat peneliti tertarik melakukan
penelitian berjudul: "Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas
Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS
Graha Husada Bandar Lampung."
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian yang
diajukan adalah “Apakah ada hubungan antara dukungan keluarga dengan
9
kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di
RS Graha Husada Bandar Lampung”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan
kualitas hidup pada pasien PGK yang menjalani terapi hemodialisis di
RS Graha Husada Bandar Lampung.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dari kualitas hidup pasien
gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis di RS Graha
Husada Bandar Lampung.
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga pada
pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis di RS
Graha Husada Bandar Lampung.
c. Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kualitas
hidup pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis
di RS Graha Husada Bandar Lampung.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Menambah referensi ilmiah terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang ilmu keperawatan khususnya mengenai kualitas
hidup pasien yang menajalani terapi hemodialisis dan sebagai dasar bagi
penelitian sejenis di masa depan khusunya di provinsi bandar lampung.
10
2. Manfaat Praktis
a. Untuk Pasien: Memberikan informasi mengenai adanya dukungan
keluarga yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien selama
menjalani terapi hemodialisis.
b. Untuk Tenaga Kesehatan: Menjadi acuan dalam memberikan asuhan
keperawatan yang lebih komprehensif dan tepat sasaran.
c. Untuk Rumah Sakit: Sebagai dasar untuk menyusun strategi
pelayanan yang lebih efektif guna meningkatkan kenyamanan dan
kualitas hidup pasien.
3. Bagi Institusi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai sumber kepustakaan
di Universitas Aisyah Pringsewu Lampung sebagai wacana kepustakaan
baru mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RS Graha
Husada Bandar Lampung.
E. Ruang Lingkup
Jenis Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menggunakan
desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Tujuan Penelitian ini
untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian
dilaksanakan di Unit Hemodialisis RS Graha Husada Bandar Lampung pada
september-oktober 2025. Populasi berjumlah 55 pasien gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisis di RS Graha Husada Bandar Lampung. Sampel
11
diambil menggunakan teknik Total sampling dengan 55 pasien yang
menjalani hemodialisis dengan memenuhi kriteria. Data diperoleh dari rekam
medis serta dari kuesioner untuk dukungan keluarga. Pengukuran dilakukan
melalui dokumentasi medis dan wawancara langsung menggunakan
instrumen terstandar. Analisis data dilakukan secara univariat serta bivariat
menggunakan uji Chi-Square dengan kriteria Inklusi sebagai berikut :
a) Pasien HD berumur > 18 tahun
b) Telah menjalani HD > 3 bulan
c) Pasien tetap atau rutin HD 2x seminggu di RS Graha
Husada Bandar Lampung
d) Pasien yang tidak tinggal sendiri atau jauh dari keluarga
e) Pasien yang bersedia menjadi responden dengan
menandantangani surat persetujuan (informed consent).
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Penyakit Ginjal Kronis
a. Definisi
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan kondisi yang ditandai
oleh penurunan fungsi ginjal atau laju filtrasi glomerulus (eGFR) di
bawah 60 mL/menit/1,73 m² yang berlangsung selama minimal 3
bulan, tanpa memandang penyebab utamanya. PGK mencerminkan
proses kehilangan fungsi ginjal secara bertahap yang dapat
berkembang menjadi kebutuhan terapi pengganti ginjal, seperti
dialisis atau transplantasi. Kerusakan ginjal dapat diidentifikasi
melalui kelainan patologis berdasarkan pemeriksaan pencitraan atau
biopsi ginjal, perubahan pada sedimen urin, maupun peningkatan
ekskresi albumin dalam urin ([Link] & Aeddula, 2024).
Perkembangan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) hingga mencapai
tahap akhir masih menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap
penurunan kualitas hidup serta meningkatnya angka kematian dini.
PGK merupakan kondisi yang bersifat melemahkan, sehingga
penanganan medis standar mencakup pemantauan ketat terhadap
progresivitas penyakit serta rujukan dini ke dokter spesialis untuk
mempertimbangkan terapi dialisis atau transplantasi ginjal (Kazi &
Hashmi, 2023).
11
12
b. Etiologi
Penyebab Penyakit Ginjal Kronik (PGK) bervariasi di seluruh
dunia. Beberapa penyakit utama yang paling sering menjadi
penyebab PGK dan pada akhirnya berkembang menjadi penyakit
ginjal tahap akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD) meliputi
([Link] & Aeddula, 2024) :
1) diabetes melitus tipe 2 (30%–50%)
2) diabetes tipe 1 (3,9%)
3) hipertensi (27,2%)
4) glomerulonefritis primer (8,2%)
5) nefritis tubulointerstisial kronis (3,6%)
6) penyakit ginjal herediter atau kistik (3,1%)
7) glomerulonefritis sekunder atau vaskulitis (2,1%)
8) serta kelainan sel plasma atau neoplasma (2,1%)
9) Sementara itu, nefropati sel sabit dilaporkan sebagai penyebab
kurang dari 1% kasus ESRD di Amerika Serikat.
PGK dapat dipicu oleh berbagai mekanisme patofisiologis yang
dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu: prerenal
(penurunan perfusi ginjal), intrinsik (kerusakan langsung pada
struktur ginjal seperti pembuluh darah, glomerulus, atau
tubulointerstitium), serta postrenal (akibat obstruksi aliran urin).
Angka kematian pada pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir
(ESRD) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan individu tanpa
13
kondisi tersebut. Meskipun telah dilakukan terapi dialisis secara
tepat waktu, tingkat mortalitas tetap tinggi, yaitu berkisar antara
20% hingga 50% dalam kurun waktu dua tahun (Kazi & Hashmi,
2023).
c. Stadium Penyakit Ginjal Kronik
Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik (PGK) terdiri dari lima
tahap, yang ditentukan berdasarkan kombinasi antara fungsi ginjal
(melalui estimasi laju filtrasi glomerulus/GFR) dan penanda adanya
kerusakan ginjal. Tahapan 3 hingga 5 diklasifikasikan ketika nilai
GFR berada di bawah 60 mL/menit/1,73 m², baik disertai maupun
tanpa adanya penanda kerusakan ginjal, yang dikonfirmasi pada dua
pemeriksaan terpisah dengan interval minimal 90 hari. Sementara
itu, tahap 1 dan 2 ditetapkan apabila terdapat penanda kerusakan
ginjal seperti albuminuria, kelainan sedimen urin, gangguan
elektrolit akibat disfungsi tubular, kelainan histologis, kelainan
struktural yang terlihat melalui pencitraan, atau adanya riwayat
transplantasi ginjal (Nice, 2021).
Tingkat keparahan Penyakit Ginjal Kronik (PGK)
diklasifikasikan berdasarkan nilai laju filtrasi glomerulus (GFR),
yang mencerminkan kemampuan ginjal dalam menyaring limbah
metabolik.
14
Tabel 2.1
Stage PGK menurut KDIGO
Stage Deskripsi GFR
G1 Penurunan ringan 60–89
G2 Penurunan ringan hingga 45–59
G3 Penurunan sedang hingga berat 30–44
G4 Penurunan berat 15–29
G5 Gagal Ginjal <15
Sumber: Hashmi, F, (2023)
d. Patofisiologi Klinis
Setiap nefron dalam ginjal normal memberikan kontribusi
terhadap total laju filtrasi glomerulus (GFR). Penurunan fungsi
ginjal biasanya terjadi secara bertahap dan pada tahap awal sering
kali tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Perjalanan alamiah
gagal ginjal bergantung pada penyebab dasarnya, namun umumnya
melibatkan mekanisme kompensasi awal berupa hiperfiltrasi pada
nefron yang masih berfungsi. Ginjal dapat mempertahankan nilai
GFR meskipun terjadi kerusakan progresif pada sebagian besar
nefron, karena nefron yang tersisa mengalami hiperfiltrasi dan
hipertrofi kompensasi.
Sebagai akibat dari mekanisme ini, pasien dengan gangguan
ginjal ringan sering kali tetap menunjukkan kadar kreatinin yang
normal, sehingga kondisi tersebut dapat tidak terdeteksi selama
periode waktu tertentu. Adaptasi nefron yang tersisa ini
memungkinkan ginjal untuk tetap menyaring zat-zat terlarut dalam
15
plasma secara efisien. Namun, kompensasi ini dalam jangka panjang
dapat menyebabkan kerusakan pada glomerulus dari nefron yang
tersisa. Pada tahap ini, penggunaan obat antihipertensi seperti ACE
inhibitor atau ARB dapat berperan dalam memperlambat
progresivitas penyakit dan mempertahankan fungsi ginjal.
Peningkatan kadar urea dan kreatinin dalam plasma baru akan
tampak secara signifikan setelah GFR menurun sekitar 50%. Sebagai
contoh, peningkatan kadar kreatinin plasma dari 0,6 mg/dL menjadi
1,2 mg/dL, meskipun masih berada dalam batas normal, sebenarnya
mencerminkan kehilangan sekitar 50% dari massa nefron yang
masih berfungsi.
Walaupun hiperfiltrasi dan hipertrofi nefron sisa berfungsi
sebagai respons adaptif untuk mempertahankan GFR, kondisi ini
justru menjadi penyebab utama dari progresivitas kerusakan ginjal.
Tekanan kapiler glomerulus yang meningkat dapat menyebabkan
kerusakan struktural, yang kemudian berkembang menjadi
glomerulosklerosis fokal segmental (FSGS) dan akhirnya
glomerulosklerosis global (Muhammad Idzharrusman & Johan
Budhiana, 2022).
Beberapa faktor yang dapat memperburuk cedera ginjal meliputi:
1) Paparan nefrotoksin (misalnya obat antiinflamasi
2) nonsteroid/NSAID)
3) Hipertensi sistemik
16
4) Proteinuria
5) Dehidrasi
6) Kebiasaan merokok
7) Hiperlipidemia
8) Diabetes melitus yang tidak terkontrol
9) Hiperfosfatemia
e. Penatalaksanaan
Penanganan penyakit ginjal kronik menurut National Kidney
Foundation (National Kidney Of Foundation Indonesia, 2023)
meliputi :
1. Mengendalikan penyakit dasar atau kondisi yang menjadi
penyebab utama PGK seperti diabetes melitus, hipertensi, atau
nefropati IgA
2. Memperlambat progresivitas kerusakan ginjal
3. Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular seperti infark
miokard atau stroke
4. Mengatasi komplikasi yang muncul akibat gangguan fungsi
ginjal.
Strategi pengobatan secara spesifik akan disesuaikan dengan
stadium PGK dan kondisi klinis individu, termasuk adanya
komplikasi. Oleh karena itu, pendekatan terapi harus dikonsultasikan
dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan rekomendasi yang
sesuai.
17
1. Terapi Farmakologis
Tenaga medis dapat meresepkan satu atau beberapa jenis obat
untuk menghambat progresivitas PGK. Obat-obatan tersebut
dapat meliputi penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE
inhibitor), antagonis reseptor angiotensin II (ARB), inhibitor
SGLT2, serta mineralocorticoid receptor antagonist nonsteroid
(nsMRA).
2. Terapi Gizi
Intervensi diet sangat penting, khususnya dalam mengatur
asupan natrium yang dianjurkan tidak melebihi 2300 mg per hari
(setara ±1 sendok teh garam total dari semua makanan dan
minuman). Pembatasan natrium menjadi lebih krusial pada
pasien dengan hipertensi. Selain itu, berdasarkan hasil
laboratorium, pengaturan asupan kalium, fosfor, dan kalsium
juga dapat diperlukan. Konsultasi dengan ahli gizi sangat
dianjurkan, terutama bila pasien memiliki komorbiditas seperti
hipertensi, diabetes, atau gagal jantung. Ahli gizi dapat
membantu menyusun pola makan yang tepat dan berkelanjutan
sesuai dengan kebutuhan pasien.
3. Modifikasi Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup menjadi bagian integral dari manajemen
PGK. Rekomendasi mencakup :
18
a. Berhenti merokok karena merokok mempercepat kerusakan
ginjal dan meningkatkan risiko kardiovaskular.
b. Berolahraga secara rutin, dimulai dengan aktivitas ringan
seperti berjalan kaki.
c. Menerapkan pola tidur yang cukup dan berkualitas.
d. Menurunkan berat badan bagi pasien dengan kelebihan
berat badan melalui diet sehat dan aktivitas fisik.
e. Mengelola stres dengan cara-cara yang sehat dan efektif.
Pengendalian penyakit penyerta seperti hipertensi,
hiperkolesterolemia, dan diabetes tetap menjadi prioritas utama
dalam pencegahan kerusakan ginjal lebih lanjut. Penggunaan obat
antiinflamasi nonsteroid (NSAID) perlu dihindari karena dapat
memperburuk fungsi ginjal, terutama pada dosis tinggi atau
penggunaan jangka panjang. Contoh NSAID yang harus diwaspadai
meliputi ibuprofen, indometasin, naproksen, diklofenak, celekoksib,
meloksikam, dan aspirin dosis tinggi (>325 mg/hari).
Setelah pasien mencapai tahap Penyakit Ginjal Kronik (PGK)
stadium 4, mereka perlu diberikan edukasi dan pilihan mengenai
terapi pengganti ginjal (TPG). Beberapa opsi utama yang dapat
ditawarkan meliputi ([Link] & Aeddula, 2024) :
a. Hemodialisis, yang dapat dilakukan di rumah atau di fasilitas
pelayanan kesehatan.
19
b. Dialisis peritoneal, baik dalam bentuk kontinu maupun
intermiten.
c. Transplantasi ginjal, baik dari donor hidup maupun donor yang
telah meninggal.
Bagi pasien yang memilih untuk tidak menjalani terapi
pengganti ginjal, maka pendekatan konservatif dan paliatif perlu
dijelaskan secara menyeluruh sebagai alternatif penatalaksanaan
yang berfokus pada kenyamanan dan kualitas hidup.
2. Hemodialisis
a. Definisi Hemodialisis
Dialisis merupakan salah satu bentuk terapi pengganti ginjal, di
mana fungsi penyaringan darah yang seharusnya dilakukan oleh
ginjal digantikan oleh alat medis khusus. Prosedur ini bertujuan
untuk mengeluarkan kelebihan cairan, zat terlarut, dan racun dari
tubuh. Dialisis berperan penting dalam mempertahankan
homeostasis atau kestabilan lingkungan internal tubuh, terutama
pada individu yang mengalami penurunan fungsi ginjal secara
mendadak (cedera ginjal akut/AKI) maupun penurunan bertahap dan
menetap seperti pada penyakit ginjal kronik (PGK). Terapi ini dapat
digunakan sebagai tindakan sementara dalam menangani gangguan
ginjal akut, sebagai jembatan menuju transplantasi ginjal, atau
sebagai pengobatan utama bagi pasien yang tidak memungkinkan
menjalani transplantasi (Murdeshwar & Anjum, 2023).
20
Pada prosedur hemodialisis, darah pasien dialirkan melalui
selang fleksibel menuju mesin dialisis. Di dalam mesin tersebut
terdapat sebuah filter khusus yang dikenal sebagai dialyzer atau
sering disebut juga "ginjal buatan". Dialyzer ini berfungsi untuk
menyaring darah dengan cara membuang zat sisa metabolisme dan
kelebihan cairan, sambil tetap mempertahankan komponen penting
seperti sel darah dan nutrien yang dibutuhkan tubuh. Zat limbah dan
cairan berlebih akan dialirkan ke dalam cairan khusus bernama
dialisat, yang terdapat di dalam mesin dialisis. Setelah proses
penyaringan selesai, darah yang telah bersih dikembalikan ke tubuh
pasien. Pada satu waktu, hanya sebagian kecil darah yang berada di
luar tubuh. Umumnya, satu sesi hemodialisis berlangsung selama
kurang lebih empat jam, dan dijalani tiga hingga empat kali dalam
seminggu. Selama prosedur berlangsung, pasien masih dapat
melakukan aktivitas ringan seperti membaca, tidur, atau menonton
televisi (National Kidney Of Foundation Indonesia, 2023b).
b. Tujuan Hemodialisis
Hemodialisis berfungsi menggantikan peran ginjal dengan cara
(National Kidney Of Foundation Indonesia, 2023b) :
1) Mengeluarkan limbah metabolik dan kelebihan cairan dari
tubuh, sehingga mencegah penumpukannya di dalam sistem
tubuh.
21
2) Menjaga keseimbangan kadar mineral penting dalam darah
seperti kalium, natrium, kalsium, dan bikarbonat.
3) Membantu dalam mengatur dan menjaga tekanan darah tetap
stabil.
c. Indikasi Hemodialisis
Menurut PAPDI (PAPDI, 2024) panduan indikasi dilakukannya
hemodialisis jika terjadi beberapa kondisi seperti :
1) Akut : kelebihan cairan yang refrakter, hiperkalemia (kalium
plasma >6,5 mEq/L) atau peningkatan kadar kalium secara cepat
asidosis metabolic (Ph<7,1), asidosis refrakter, tanda-tanda
uremia (ureum darah >200mg dengan gejal perikarditis,
neuropati, atau perubahan status mental), intosikasi alcohol atau
obat.
2) Kegagalan terapi untuk mengontrol kelebihan cairan
3) Laju filtrasi glomerolus (LFG)<10ml/menit dengan gejala
uremia atau malnutrisi
4) LFG<7ml/menit walaupun tanpa gejala
5) Indikasi khusus : adanya komplikasi akut (edema paru,
hiperkalemia, asidosis metabolik berulang ), pada paien diabetik
nefropati dapat dimulai lebih awal (LFG<15ml/menit)
c. Kontraindikasi Hemodialisis
Menurut (PAPDI, 2024) kontraindikasi hemodialisis :
22
1) Sulit didapatkan akses vaskular, pasien membutuhkan baik sites
akses vaskular internal maupun eksternal yang paten
2) Hemodinamik tidak stabil, pasien dengan status hemodinamik
yang tidak stabil tidak akan mampu menoleransi pengeluaran
cairan dari tubuhnya. Penurunan tekanan darah ketika darah
berada dalam sirkuit ekstrakorporeal bisa menyebabkan syok
kardiogenik.
3) Koagulopati, pasien dengan koagulopati dapat mengalami
perdarahan ketika diberikan heparin ke dalam darah yang berada
di siruit ekstrakorporeal ketika proses filtrasi hemodialisis
sedang berlangsung.
4) Alzheimer
5) Sindrom hepatorenal
6) Sirosis hepatis dengan enselopati
7) Keganasan lanjut
d. Komplikasi Hemodialisis
Hemodialisis dapat menimbulkan berbagai komplikasi, baik
akut maupun kronis, yang memengaruhi kualitas hidup dan
keselamatan pasien. Beberapa komplikasi umum antara lain
(Murdeshwar & Anjum, 2023) :
1) Hipotensi Intra-dialitik
Merupakan komplikasi tersering, terjadi akibat penurunan
tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg. Dapat menyebabkan
23
pusing, mual, atau lemas, dan berhubungan dengan peningkatan
angka kematian serta kerusakan miokardial. Penanganannya
meliputi posisi Trendelenburg, pemberian bolus NaCl 0,9%, dan
penurunan laju ultrafiltrasi.
2) Kram Otot
Penyebab belum pasti, namun sering dikaitkan dengan hipotensi,
ultrafiltrasi tinggi, atau larutan dialisis rendah natrium. Kram
dapat diatasi dengan peregangan otot dan pemberian garam
fisiologis
3) Sindrom Ketidakseimbangan Dialisis (DDS)
Terjadi akibat penurunan urea plasma yang terlalu cepat,
menimbulkan edema serebral, kejang, sakit kepala, dan
penurunan kesadaran. Pencegahannya adalah dengan
memperlambat dialisis awal dan menggunakan dialisat
hipertonik atau manitol.
4) Reaksi Terhadap Dialyzer
Reaksi tipe A (anafilaksis) terjadi akibat hipersensitivitas
terhadap etilen oksida, ditandai dengan gatal, sesak napas, dan
urtikaria. Reaksi tipe B berupa nyeri dada atau punggung akibat
aktivasi komplemen. Penanganan meliputi antihistamin, steroid,
dan epinefrin.
24
5) Hemolisis
Merupakan keadaan darurat yang ditandai dengan perubahan
warna darah, penurunan hematokrit, dan anemia akut. Dapat
disebabkan oleh kontaminan dalam dialisat atau kerusakan
mekanik. Penatalaksanaan mencakup penghentian dialisis dan
evaluasi lebih lanjut.
6) Emboli Udara
Komplikasi fatal akibat masuknya udara ke sirkulasi darah.
Ditandai dengan gejala sesak mendadak dan suara khas di dada.
Penanganannya berupa pemberian oksigen 100%, posisi lateral
kiri, dan intervensi medis segera
7) Risiko Kardiovaskular
Pasien hemodialisis memiliki risiko tinggi terhadap serangan
jantung, terutama dalam dua bulan pertama terapi. Aritmia
seperti fibrilasi ventrikel dan asistole menjadi penyebab utama
kematian mendadak.
3. Kualitas Hidup
a. Pengertian Kualitas Hidup
Kualitas hidup (Quality of Life/QoL) adalah konsep subjektif
yang mencerminkan penilaian individu terhadap kesejahteraan
hidupnya secara keseluruhan dalam kaitannya dengan kondisi fisik,
psikologis, sosial, dan lingkungan. WHO (1995) dalam (Fadhilah,
2023) mendefinisikan kualitas hidup sebagai :
25
Persepsi individu tentang posisi mereka dalam kehidupan dalam
konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup dan dalam
kaitannya dengan tujuan, harapan, standar, dan kekhawatiran
mereka.
Sementara menurut Ferrans dan Powers (1992) dalam (Fadhilah,
2023), kualitas hidup adalah evaluasi subjektif terhadap kepuasan
individu dalam berbagai aspek kehidupan yang penting bagi dirinya,
yang dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan maupun lingkungan
sosial.
Pada pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal, kualitas
hidup menjadi salah satu indikator penting keberhasilan terapi, tidak
hanya dari aspek medis, tetapi juga dari segi kesejahteraan holistik
pasien.
b. Dimensi Kualitas Hidup menurut WHOQOL-BREF
Instrumen WHOQOL-BREF adalah alat ukur kualitas hidup
yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO), yang
telah banyak digunakan dalam penelitian kesehatan, termasuk pada
pasien penyakit kronis. Instrumen ini mengukur empat domain
utama :
1) Kesehatan Fisik
Energi dan kelelahan, nyeri dan ketidaknyamanan, tidur dan
istirahat, kapasitas kerja
2) Kesehatan Psikologis
26
Perasaan positif, harga diri, berpikir, belajar, konsentrasi, citra
diri, suasana hati
3) Hubungan Sosial
Hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual
4) Lingkungan
Keuangan, keamanan fisik, akses terhadap layanan kesehatan,
informasi, kesempatan rekreasi, lingkungan rumah
c. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Banyak faktor yang memengaruhi kualitas hidup, terutama pada
individu dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal. Beberapa faktor
tersebut antara lain:
1. Faktor Fisik : Kelelahan kronis, nyeri, keterbatasan aktivitas,
dan efek samping dari pengobatan seperti hemodialisis.
2. Faktor Psikologis : Tingkat stres, kecemasan, depresi, serta
motivasi untuk sembuh.
3. Faktor Sosial : Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas
memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup.
4. Faktor Ekonomi dan Lingkungan : Kemampuan ekonomi,
kondisi tempat tinggal, akses terhadap fasilitas kesehatan, serta
stabilitas pekerjaan.
Menurut penelitian oleh Almutary et al. (2013), pasien gagal
ginjal yang menjalani hemodialisis cenderung mengalami kualitas
27
hidup yang rendah akibat kelelahan, keterbatasan sosial, dan tekanan
emosional.
Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Pasi (GGK), terutama
yang menjalani terapi hemodialisis, umumnya mengalami penurunan
kualitas hidup. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut :
1. Prosedur hemodialisis yang harus dilakukan rutin 2–3 kali
seminggu.
2. Pembatasan diet dan cairan yang ketat.
3. Efek samping seperti hipotensi, kram otot, kelelahan, serta
ketidaknyamanan psikologis.
4. Beban ekonomi yang tinggi akibat biaya pengobatan jangka
panjang.
(Mandala, 2020), mengatakan bahwa kualitas hidup pasien GGK
dipengaruhi oleh tingkat dukungan sosial, kepatuhan terhadap diet
dan pengobatan, serta kondisi emosional pasien. Dukungan dari
keluarga menjadi salah satu faktor protektif yang signifikan dalam
mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penelitian lain oleh Rohmah dan Widyatama (2021) juga
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat dukungan keluarga,
maka semakin tinggi skor kualitas hidup pasien hemodialisis,
terutama dalam domain psikologis dan sosial.
28
d. Instrumen Pengukuran Kualitas Hidup
Beberapa instrumen yang umum digunakan untuk menilai
kualitas hidup pasien penyakit kronis adalah : WHOQOL-BREF (26
item). Di Indonesia, instrumen WHOQOL-BREF sudah banyak
diterjemahkan dan divalidasi untuk digunakan dalam konteks lokal
dan berbagai jenis penyakit kronik. Dalam buku pegangan pengguna
WHOQOL-BREF terdiri dari empat domain yaitu interaksi fisik,
psikologis, social, dan lingkungan, serta dua pertanyaan tambahan di
awal mengenai sentiment tentang kualitas hidup dan perasaan
tentang kesehatan. Kuisoner tersebut memiliki total 26 pertanyaan
yang masing-masing 5 pilihan jawaban dan skor 1 sampai 5
Tabel 2.2
Indikastor Alat Ukur Kualitas Hidup
No. Indikator Item Favourable Item Jumlah
Unfavourable
1 Fisik 10,15,16,17,18 3,4 7
2 Psikologis 5,6,7,11,19 26 6
3 Sosial 20,21,22 - 3
4 Lingkungan 8,9,10,12,13,14,23,24,25 - 8
Skor dimensi dihitung dengan menggunakan skor rata-rata pada
setiap dimensi. Skor dimensi dikalikan empat dan diterjemahkan ke
dalam skala 0-100 (arah positif) (World Health Organization,1988) :
Transformed Score = (SCORE-4) x 100/16.
29
e. Kesimpulan Tinjauan Kualitas Hidup
Kualitas hidup merupakan aspek penting dalam manajemen
pasien gagal ginjal. Perubahan fisik akibat penyakit, ditambah
tekanan emosional dan sosial, dapat menurunkan persepsi pasien
terhadap kehidupannya. Oleh karena itu, penanganan GGK perlu
mencakup pendekatan multidimensi, termasuk dukungan keluarga,
pelayanan psikososial, dan peningkatan akses terhadap layanan
kesehatan.
4. Dukungan Keluarga
a. Pengertian Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga. dapat didefinisikan sebagai perilaku positif
terhadap anggota keluarga yang sakit, ini mengacu pada bantuan
anggota keluarga lain dalam memberikan kenyamanan fisik dan
psikologis kepada pasien, seperti perhatian, rasa terima kasih, atau
bantuan dalam menerima keadaannya (Unga et al., 2019 ; Nugraha,
Rahmah, & Budhiaji 2020).
Dukungan keluarga merupakan aspek penting bagi orang yang
menderita gangguan kesehatan, dimana keluarga berpartisipasi
dalam fungsi keperawatan kesehatan anggotanya untuk mencapai
kesehatan yang optimal (Novitasari, 2018). Yuliana (2019),
menyatakan bahwa dukungan keluarga berimplikasi pada kesehatan
dan kesejahteraan yang berjalan beriringan.
30
Dukungan yang kuat terkait dengan kematian yang lebih rendah,
pemulihan penyakit yang lebih mudah, kinerja kognitif,
kesejahteraan fisik dan emosional. Dukungan keluarga. yaitu proses
berkesinambungan yang terjadi sepanjang hidup seseorang, selama
fase kehidupan yang berbeda, sifat dan jenis dukungan sosial
keluarga pun berbeda.
b. Jenis Dukungan Keluarga
Jenis dukungan menurut friedman, 2016 dalam (Ngantung,
2020) memiliki berbagai bentuk bantuan, antara lain:
1) Dukungan informasional
Dukungan informasional yaitu pendampingan informasi,
artinya kedudukan keluarga sebagai pemberi informasi, dimana
keluarga menjelaskan tentang penyampaian rekomendasi, saran,
informasi yang dapat digunakan untuk mengungkap suatu
masalah. Bantuan ini meliputi bimbingan, gagasan, saran,
arahan, dan pemberian informasi.
2) Dukungan penilaian atau penghargaan
Dukungan penilaian yaitu sebuah ukungan asesmen dimana
keluarga berfungsi sebagai sumber dan validator identitas
anggota keluarga, termasuk menawarkan dukungan, pujian, dan
perhatian.
31
3) Dukungan instrumental
Dukungan instrumental yaitu keluarga merupakan sumber
pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya dalam hal
kebutuhan keuangan, makan, minum, dan istirahat.
4) Dukungan emosional
Dukungan emosional yaitu khususnya keluarga sebagai
lingkungan yang aman dan tenang untuk rileks dan
menyembuhkan, serta membantu mengelola emosi. Dukungan
yang ditunjukkan dalam bentuk kasih sayang, kepercayaan,
perhatian, mendengarkan, dan didengarkan merupakan contoh
dukungan emosional.
c. Manfaat Dukungan Keluarga
Sepanjang siklus hidup, anggota keluarga memberikan bantuan
terus menerus kepada anggota keluarga lainnya. Individu yang
memiliki dukungan keluarga yang kuat akan merasa dicintai,
diperhatikan, dan sebagai motivator, terutama bagi seseorang yang
memiliki penyakit kronis, karena dapat bermanfaat bagi kesehatan
dan terapi yang akan diterima individu tersebut (Friedman, 2016)
dalam (Fadhilah, 2023).
Dalam psikologi, dukungan keluarga mengacu pada dukungan
informal dan bantuan dari anggota keluarga. Namun, dukungan
social keluarga memungkinkan keluarga berfungsi dengan
keragaman kecerdasan dan kognisi di semua fase siklus kehidupan.
32
Hasilnya,kesehatan dan adaptasi keluarga meningkat. Karena tingkat
bantuan biasanya berkurang selama pengasuhan, dukungan keluarga
mampu mempertahankan posisi keluarga sebagai pengasuh kerabat
yang sakit atau menerima pengobatan. Akibatnya, keluarga dapat
membantu meringankan penderitaan dan meningkatkan kesehatan
dan kesejahteraan semua anggota keluarga (Panjaitan & Perangin-
angin, 2020).
d. Manfaat Dukungan Keluarga Bagi Pasien Cuci Darah
1. Meningkatkan kepatuhan terhadap regimen (diet, pembatasan
cairan, obat, dan jadwal HD). Banyak studi menunjukkan
dukungan atau perceived social support berkorelasi positif
dengan kepatuhan.
2. Meningkatkan Kualitas Hidup (HRQoL) lebih baik, baik
komponen fisik maupun mental.
3. Menurunkan gejala psikologis lebih ringan seperti depresi,
kecemasan, kelelahan serta tidur lebih baik. Dukungan sosial
yang lebih tinggi terkait skor gejala yang lebih rendah.
4. Meningkatkan ketahanan psikologis (reliensi) menjadikan arah
hubungan cenderung dari dukungan sosial/ ketahanan keluarga.
5. Meningkatkan self-care dan self-efficacy sehingga pasien lebih
percaya diri merawat diri dan mengikuti anjuran klinis.
6. Membantu pengendalian asupan cairan dan diet, (melalui
pengawasan dan dukungan sehari-hari), yang berkaitan dengan
33
IDWG lebih terkendali. Inferensi berbasis : dukungan keluarga
meningkatkan kepatuhan diet/ cairan sehingga membantu
penekanan IDWG yang berlebih.
7. Intervensi berpusat pada keluarga (edukas atau pendampingan)
terbukti memperbaiki kesehatan mentalpasien dan caregiver.
8. Di Indonesia, beberapa penelitian lokal juga menemukan
hubungan positif antara dukungan keluarga dengan kepatuhan
dan kualitas hidup pasien HD (Farid & Mulyaningsih, 2023).
e. Faktor yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Menurut (Purnawan dalam Suparyanto, 2012 , Setiadi, 2008)
dalam (Permana & Suzan, 2023) faktor-faktor yang mempengaruhi
dukungan keluarga adalah :
1) Faktor Internal
a) Tahap perkembangan
Komponen usia, dalam contoh ini pertumbuhan dan
perkembangan, dapat mempengaruhi dukungan, sehingga
setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan
respon yang bervariasi terhadap perubahan kesehatan.
b) Pendidikan atau tingkat pengetahuan
Pengetahuan, latar belakang pendidikan, dan
pengalaman sebelumnya memengaruhi keyakinan seseorang
akan dukungan. Bakat kognitif memengaruhi gaya berpikir
seseorang, termasuk kapasitas untuk memahami aspek
34
terkait penyakit dan menerapkan informasi kesehatan untuk
mengelola kesehatan seseorang.
c) Faktor emosi
Faktor emosional memengaruhi persepsi tentang
bantuan dan cara menerapkannya. Individu yang memiliki
reaksi stress terhadap setiap perubahan dalam hidupnya
lebih cenderung bereaksi terhadap indikator penyakit yang
berbeda, mungkin dengan berpikir bahwa kondisi tersebut
akan membahayakan hidupnya.
d) Spiritual
Kualitas hidup spiritual seseorang dapat diamati dari
bagaimana dia menjalani kehidupannya, termasuk nilai dan
keyakinan yang diterapkan, hubungan dengan keluarga atau
teman, dan kapasitas untuk menemukan harapan dan tujuan
hidup.
2) Faktor eksternal
a) Praktik keluarga
Cara keluarga memberikan bantuan akan berdampak
pada bagaimana penderita mengelola kesehatannya.
Misalnya, jika seorang anak selalu dilatih oleh orang tuanya
untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, dia
akan melakukan hal yang sama ketika memiliki anak.
35
b) Faktor Sosio Ekonomi
Risiko penyakit dapat ditingkatkan oleh sosial dan
psikologis dan memengaruhi cara seseorang
mengidentifikasi dan merespons kondisinya. Stabilitas
pernikahan, gaya hidup, dan lingkungan kerja adalah contoh
dari faktor psikososial. Seseorang biasanya akan mencari
penerimaan dan dukungan dari kelompok sosial mereka,
yang akan mempengaruhi pandangan kesehatan mereka dan
bagaimana mereka melaksanaannya. Semakin besar status
ekonomi seseorang, semakin mudah dia menerima gejala
penyakit yang dialaminya, dan dia akan mencari perawatan
ketika dia mencurigai ada masalah dengan kesehatannya.
c) Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya memengaruhi pandangan, nilai,
dan perilaku individu, serta cara menerapkan kesehatan
pribadi.
f. Cara Mengukur Dukungan Keluarga
Untuk mengungkap variabel dukungan keluarga, dapat
menggunakan skala dukungan keluarga yang diadaptasi dan
dikembangkan dari teori Friedman yang telah dimodifikasi oleh
Hezlin Ivana Marbun (2017) yang digunakan dalam penelitiannya
untuk mengetahui dukungan keluarga pada pasien hemodialisis.
Aspek-aspek yang digunakan untuk mengukur dukungan keluarga
36
adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan
penilaian/penghargaan, dan dukungan informasional. Hezlin Ivana
Marbun (2017) menggunakan kuisoner yang berjumlah 20
pertanyaan yang memenuhi aspek-aspek tersebut dan menggunakan
skala likert.
Tabel 2.3
Indikator Alat Ukur Dukungan Keluarga
No. Indikator No Pertanyaan Jumlah
1 Dukungan Instrumental 1,2,3,4,5 5
2 Dukungan Informasional 6,7,8,9,10 5
3 Dukungan Emosional 11,12,13,14,15 5
4 Dukungan Penilaian 16,17,18,19,20 5
Pada pengisian skala ini, sampel diminta untuk menjawab
pertanyaan yang ada dengan memilih salah satu jawaban dari
beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Skala ini menggunakan
skala model likert yang terdiri dari pernyataan dari empat alternatif
jawaban yaitu 1= tidak pernah, 2= kadang-kadang, 3= sering ,
4=selalu.
B. Penelitian Terkait
Penelitian ini mengangkat tema tentang hubungan dukungan keluarga
dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal (PGK) yang menjalani terapi
hemodialisis. Maka dari itu, penting untuk meninjau hasil-hasil penelitian
terdahulu yang berkaitan dengan variabel-variabel dalam studi ini, seperti
dukungan keluarga, kualitas hidup. Berikut adalah 3 penelitian yang relevan
dan berasal dari 5 tahun terakhir :
37
1. Ayu Inayatul Fadhilah. (2023)
Penelitian yang dia angkat berjudul, hubungan dukungan keluarga
dan tingkat pendapatan dengan kualitas hidup pasien yang menjalani
hemodialisis di RSI Sultan Agung Semarang. Dengan hasil penelitian
bahwa terdapat Nilai korelasi sebesar 0,537 dengan p value = 0.001
(p<0.05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga
dengan kualitas hidup. Pada tingkat pendapatan dengan kualitas hidup
nilai korelasi 0,431 dengan p value = 0,000 yang menunjukkan bahwa
ada hubungan antara dua variabel tersebut. Pada pasien hemodialisis,
dukungan keluarga dan tingkat pendapatan berhubungan dengan kualitas
hidup. Perawat memainkan peran penting dalam memberikan support
kepada pasien dan keluarga mereka.
2. Nessy Anggun P dan Safitri Dara (2022)
Penelitian ini berjudul Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas
hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa : literature
review.
Dengan hasil penelitian bahwa hubungan dukungan keluarga dengan
kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di
pengaruhi oleh empat komponen yaitu: dukungan informational yang di
berikan oleh keluarga dapat mempengaruhi kulitas hidup pada pasien
gagal ginjal kronik, dukungan penilaian atau penghargaan yang
didapatkan oleh pasien dari keluarga menunjukan suatu peningkatan
38
kualitas hidup dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan
dukungan,dukungan instrumental dapat kategori baik untuk kualitas
hidup pasien gagal ginjal kronik dimana pasien di dukung biaya
pengobatan dan lainya,dukungan emosional yang diberikan keluarga
berupa semangat,kehangatan dan bantuan emosional dapat meningkatkan
kulaitas hidup. Semakin tinggi dukungan keluarga maka akan semakin
meningkat kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang di pengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain: faktor usia,faktor jenis kelamin, faktor
pendidikan, faktor perkawinan, faktor emosional, faktor spiritual, faktor
sosial ekonomi atau pengahasilan, faktor praktik keluarga dan faktor latar
belakang budaya dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodalisa.
3. Muhammad, I. dan Johan, B. (2022)
Penelitian ini berjudul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Kualitas Hidup Pasien Gagal ginjal Kronik Di RSUD Sekarwangi.
Dengan hasil penelitian bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal kronik
di Ruang Hemodialisa RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi tidak
mendapatkan dukungan dari keluarga dan memiliki kualitas hidup yang
baik. Dukungan keluarga mempunyai hubungan yang signifika dengan
kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik di Ruang Hemodialisa RSUD
Sekarwangi Kabupaten Sukabumi.
39
C. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan visualisasi hubungan antara berbagai variabel
untuk menjelasakan suatu fenomena, digambarkan dengan lengkap dan
menyuluruh dengan alur dan skema yang menjelaskan sebab akibat suatu
fenomena. Sumber kerangka teori adalah dari paparan 1 atau lebih teori yang
terdapat pada tinjauan pustka. Pemilihan teori dapat menggunakan salah satu
teori atau memodifikasi dari berbagai teori, selama teori yang dipilih relevan
dengan keseluruhan substansi penelitian yang akan dilakukan (Masturoh,
2018).
Chronic Kidney Dipengaruhi oleh : Bentuk Dukungan
Desease Keluarga :
Dukungan Keluarga
1. Dukungan Instrumental
2. Dukungan Informasional
3. Dukungan Emosional
Hemodaisis 4. Dukungan Penilaian
Kualitas Hidup
1. Fisik
2. Psikologis
3. Sosial
4. Lingkungan. Faktor yang mempengaruhi
dukungan keluarga :
Efek samping dan
komplikasi HD :
1. Faktor Internal : tahap
perkembangan
1. Hipertensi
pendidikan/ tingkat
2. Anemia
pengetahuan, faktor
3. Endocarditis
emosi, spiritual.
4. Kram
2. Faktor Eksternal :
5. Mual dan
praktik keluarga, faktor
Muntah
sosio, ekonomi, latar
6. Sakit Kepala
belakang budaya.
Sumber:Takesi, A (2023) ; Nessy, A (2022) ; Muhammad(2022).
40
Gambar 2.1
Kerangka Teori
Keterangan : : yang diteliti
: yang tidak ditelit
D. Kerangka Konsep
Kerangka hubungan antara konsep-konsep yang akan di ukur atau
diamati melalui penelitian yang akan dilaakukan. Diagram dalam kerangka
konsep harus menunjukan hubungan antara variabel-variabel yang akan
diteliti. Kerangka yang baik dapat memberikan informasi yang jelas kepada
peneliti dalam memilih desain penelitian (Masturoh, 2018). Kerangka konsep
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Dukungan Keluarga Kualitas Hidup
Gambar 2.2
Kerangka Konsep
E. Hipotesis
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara berdasarkan pada teori yang
belum dibuktikan dengan data atau fakta. Pembuktian dilakukan dengan
pengujian hipotesis melalui uji statistik. Dalam hal ini hipotesis menjadi
panduan dalam menganalisis hsil penelitian. Hasil pengujian yang diperoleh
dapat disimpulkan benar atau salah, berhubungan atau tidak, diterima atau
ditolak.
41
Ha :
Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat
kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di
RS Graha Husada Lampung.
Ho :
Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara dukungan
keluarga dengan tingkat kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani terapi hemodialisis di RS Graha Husada Lampung.
42
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah metode yang digunakan peneliti untuk melakukan
suatu penelitian yang memberikan arah terhadap jalannya penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, Penelitian kuantitatif adalah
jenis penelitian yang menggunakan pendekatan sistematis untuk
mengumpulkan dan menganalisis data dalam bentuk angka atau statistik.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis, menemukan
hubungan antar variabel, serta membuat generalisasi berdasarkan data yang
diperoleh dari sampel yang representatif terhadap populasi.
Menurut Sugiyono (2021), penelitian kuantitatif didefinisikan sebagai
metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau
statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu penelitian
Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November hingga
Desember 2025.
43
2. Tempat
Tempat penelitian ini akan dilaksanakan di Unit Hemodialisis RS Graha
Husada Bandar Lampung.
C. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain Analitik dengan menggunakan
pendekatan Cross-Sectional.
Pendekatan cross-sectional adalah salah satu jenis pendekatan penelitian
kuantitatif non-eksperimental yang digunakan untuk mengetahui hubungan
atau pengaruh antar variabel dengan cara melakukan pengukuran hanya satu
kali pada satu waktu tertentu. Dalam pendekatan ini, peneliti tidak
memberikan perlakuan (intervensi), tetapi hanya melakukan observasi dan
pengukuran terhadap variabel-variabel yang diteliti secara bersamaan
(Sugiyono, 2021).
D. Subyek Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penellitian ini adalah semua pasien penyakit ginjal
kronik yang menjalani terapi hemodialisis secara rutin 2 (dua) kali
seminggu di Rumah Sakit Graha Husada sejumlah 55 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti, (Arikunto,
2019).
44
a. Besar Sampel
Besar sampel adalah jumlah subjek (responden) yang
diikutsertakan dalam suatu penelitian sebagai representasi dari
populasi (Sugiyono, 2021).
Dalam penelitian ini jumlah populasi adalah 55 orang,
sehingga sesuai dengan teori bahwa bila popualasi kurang dari 100
maka sebaiknya mengambil keseluruhan/ total populasi (Sugiyono,
2021), oleh karena itu besar sampel dalam penelitian ini adalah
seluruh pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RS Graha
Husada Bandar Lampung dan memenuhi kriteria inklusi dan
ekslusi yang dapat dijadikan subjek penelitian.
b. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk
menetukan sampel dalam penelitian, teknik pengambilan sampel
dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling, yaitu suatu
teknik pengambilan sampel sama dengan populasi karena jumlah
populasi yang kurang dari 100, seuluruh populasi dijadikan
responden (Sugiyono, 2021). Jadi sampel penelitian ini adalah
seluruh pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis
rutin di Rumah Sakit Graha Bandar Lampung.
c. Kriteria sampel
Kriteria sampel adalah syarat-syarat atau karakteristik tertentu
yang digunakan untuk menentukan siapa saja yang boleh (inklusi)
45
dan siapa saja yang tidak boleh (eksklusi) diikutsertakan dalam
penelitian (Sugiyono, 2021). Penetapan kriteria ini bertujuan untuk
memastikan bahwa sampel yang digunakan benar-benar
representatif terhadap populasi target, serta untuk mengurangi
variabel perancu yang dapat memengaruhi validitas hasil
penelitian.
Kriteria penelitian yang dipakai sebagai berikut :
1) Kriteria Inklusi :
f) Pasien HD berumur > 18 tahun
g) Telah menjalani HD > 3 bulan
h) Pasien tetap atau rutin HD 2x seminggu di RS Graha
Husada Bandar Lampung
i) Pasien yang tidak tinggal sendiri atau jauh dari keluarga
j) Pasien yang bersedia menjadi responden dengan
menandantangani surat persetujuan (informed consent).
2) Kriteria Eksklusi :
a) Pasien HD yang mengalami komplikasi intra dialisis
seperti kram dan hipertensi
b) Pasien yang mengalami penurunan kesadaran
c) Pasien yang tidak kooperatif dan tidak komunikatif
d) Pasien yang di rawat inap di RS Graha Husada Bandar
Lampung.
46
E. Variabel Penelitian
Variabel adalah suatu atau bagian dari individu yang dapat diukur (swarjan,
2015). Dalam penelitian ini memiliki 2 (dua) variabel, yaitu :
1. Variabel Independen (bebas)
Adalah variabel yang menyebabkan adanya suatu perubahan terhadap
variabel yang lain, variabel independen dalam penelitian ini adalah
dukungan keluarga.
2. Variabel Dependen
Merupakan variabel yang mengalami perubahan sebagai akibat dari
perubahan variabel independen, variabel dependen dalam penelitian ini
adalah kualitas hidup.
F. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional merupakan uraian detail mengenai variabel yang
diteliti, mencakup cara pengukuran, instrumen yang digunakan, serta
indikator yang menjadi acuan. Definisi ini memberikan gambaran jelas
mengenai langkah-langkah teknis dalam mengukur variabel agar penelitian
dapat dilakukan secara sistematis dan konsisten (Masturoh, 2018).
47
Tabel 3.1
Defenisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
Dependent Persepsi pasien Kuesioner Mengisi kuisoner 1. Kurang : Ordinal
Dukungan terhadap dukungan dengan 20 20-40
Keluarga perhatian, keluarga Hezlin pertanyaan
bantuan, dan Ivana Marbun, 2. Cukup :
keterlibatan 2017 (modifikasi 41-60
keluarga dalam dari teori
mendukung Fredman, 1998) 3. Baik : 61-
proses 80
pengobatan
penyakit gagal
ginjal kronik.
Independent Persepsi pasien Kuisoner Mengisi kuisoner 1. Buruk : 0- Ordinal
Kualitas mengenai WHOQOL- dengan 26 25
Hidup kondisi fisik, BREFF pertanyaan 2. Cukup :
psikologis, 26-50
sosial, dan 3. Baik : 51-
lingkungan 75
selama menjalani 4. Sangat
terapi gagal baik : 76-
ginjal kronik. 100
G. Instrumen Penelitian
1. Instrumen
Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data. Alat instrumen yang akan dihgunakan dalam
penelitian ini adalah kuisoner yang berisi sejumlah pertanyaan terkait
dengan variabel yang akan diteliti :
a. Variabel kualitas hidup peneliti mengadopsi kuisoner WHOQOL-
BREFF (Meiliana, 2020) yang terdiri dari empat domain : interaksi
fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dan total 26 pertanyaan
kuisoner. Masing-masing memiliki pilihan jawaban dan skor dari 1
samapi 5. Skor dimensi dihitung dengan Skor dimensi dihitung
48
dengan menggunakan skor rata-rata pada setiap dimensi. Dengan
menggunakan prosedur dalam buku pegangan pengguna WHOQOL
skor dimensi dikalikan empat dan diterjemahkan ke dalam skala 0-
100 (arah positif) (World Health Organization, 1998) : Transformed
score = (SCORE − 4) × 100 / 16
b. Variabel dukungan keluarga, diperoleh dari penelitian sebelumnya
oleh (Hezlin Ivana Marbun, 2017) yang digunakan dalam
penelitiannya untuk mengetahui dukungan keluarga pada pasien
hemodialisis. Kuisoner ini menggunakan skala Likert terdiri dari 20
pertanyaan.
2. Uji Validitas
Prinsip validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti
keterandalan instrumen dalam mengumpulkan data (Nursalam, 2015). Uji
validitas digunakan untuk mengukur instrumen yang akan digunakan
dalam pengumpulan data. Pernyataan dinyatakan valid karena diperoleh r
hitung > r tabel (Masturoh, 2018).
a. Dukungan Keluarga
Berdasarkan hasil uji validitas dalam penelitian yang dilakukan
(Hezlin Ivana Marbun, 2017) didapatkan nilai r = 0,97 sehingga alat
ukur ini dinyatakan valid.
b. Kualitas Hidup
Berdasarkan hasil uji validitas yang dilakukan oleh Nurcayati (2011)
dalam versi Bahasa Indonesia WHOQOL-BREF yang dibuat oleh
49
tim dari World Health Organization didapatkan nilai r = 0,390-0,798,
sehingga alat ukur ini dinyatakan valid.
3. Uji Reliabilitas
Reliabilitas yaitu kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan jika
kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang
berbeda (Nursalam, 2015). Uji reliabilitas instrumen penelitian
merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui dapat atau tidaknya
suatu kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian.
Analisis Alpha Cronbach digunakan dalam uji reliabilitas penelitian ini.
Jika suatu variabel memiliki nilai Alpha Cronbach >0,60 maka dapat
disimpulkan bahwa variabel tersebut dapat dikatakan reliabel atau
konsisten dalam mengukur (Putri, 2015).
a. Uji reliabilitas instrument penelitian dukungan keluarga yang
dilakukan oleh Hezlin Ivana Marbun (2017) didapatkan nilai
cronbach’s alpha = 0,85.
b. Uji reliabilitas instrument penelitian kualitas hidup pada
kuesioner WHOQoL-BREF versi Indonesia oleh Nurcayati
(2011) nilai cronbach’s alpha sebesar α= 0, 941 sehingga
pertanyaan dikatakan reliabel.
H. Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yaitu teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data, metode menunjukkan suatu cara sehingga dapat
diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, observasi, tes,
50
dokumentasi dan sebagainya. Pendekatan pengumpulan data penelitian ini
yaitu kuesioner dengan metode skala untuk menilai variabel yang akan
diteliti. Dalam penelitian ini digunakan kuesioner dengan skala model Likert.
Responden diminta untuk mengungkapkan pemikirannya terhadap pertanyaan
atau pernyataan dengan menyetujui atau tidak setuju dengan tingkat
persetujuan (1 - 5) terhadap pernyataan yang telah disiapkan peneliti
(Nursalam, 2020).
1. Sumber data
a. Data primer
Peneliti mendapatkan atau mengumpulkan data secara langsung dari
sumber data. Data primer disebut juga dengan data asli dan terkini.
(Masturoh & Anggita, 2018). Pada penelitian ini data primer
diperoleh dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada pasien
yang menjalani hemodialisis di RS Graha Husada Bandar Lampung.
b. Data sekunder
Data yang peneliti peroleh dari berbagai sumber. Data sekunder
dapat diperoleh dari surat kabar, perusahaan, laporan dan lain-lain
(Masturoh & Anggita, 2018). Pada penelitian ini tidak menggunakan
data sekunder.
2. Proses Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di ruang hemodialisa RS Graha Husada
Bandar Lampung dengan proses sebagai berikut:
51
a. Memproses surat lamaran yang ditujukan kepada Direktur Utama RS
Graha Husada Bandar Lampung dari Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Aisyah Pringsewu.
b. Setelah mendapat surat izin penelitian, peneliti bekerja sama dengan
perawat instalasi hemodialisis untuk mengidentifikasi calon
responden. Peneliti menyapa calon responden berdasarkan kriteria
dan menjelaskan tujuan, manfaat, dan proses penelitian.
c. Responden diberikan informed consent untuk ditandatangani oleh
peneliti.
d. Peneliti memberikan penjelasan mengenai cara pengisian kuesioner.
e. Pengisian kuesioner didampingi oleh peneliti dan diberikan waktu
masing-masing 15-20 menit.
f. Setelah menjawab semua pertanyaan kuesioner, peneliti
mengumpulkan dan memeriksa kembali keakuratan data.
g. Data dikumpulkan, diolah, dan dianalisis oleh peniliti.
I. Pengolahan Data
Analisis data yaitu tahapan dalam penelitian kuantitatif yang terjadi setelah
semua data terkumpul dari seluruh responden. Analisis data digunakan untuk
mengorganisir data berdasarkan variabel dan kategori responden, tabulasi
data dari seluruh responden berdasarkan variabel, menampilkan data tiap
variabel, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan
mengevaluasi hipotesis yang diberikan (Sugiyono, 2021).
1. Pengolahan Data
52
a. Editing
Editing yaitu proses memeriksaan data yang dikumpulkan selama
proses penelitian, editing data digunakan untuk mengeliminasi data
yang kurang lengkap (Budiarto, 2012; Notoatmodjo,2012).
b. Coding
Coding yaitu pemberian kode untuk mempermudah dalam tabulasi
data (Swarjana, 2016).
c. Entry Data
Entry data adalah proses yang digunakan untuk pemrosesan analisis
data yang telah diperoleh (Kartika, 2017). Dalam penelitian ini data
diproses menggunakan aplikasi SPSS untuk mendapatkan hasil dari
penelitian ini.
d. Cleaning
Cleaning adalah proses pengecekan kembali data yang sudah di entry
untuk meminimalisir kesalahan (Kartika, 2017).
e. Tabulasi (Tabulating)
Data disusun dari data mentah, kemudian disusun dan ditampilkan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.
2. Analisa Data
Proses menyusun secara cermat data yang diterima dari angket dan
observasi dengan mengkategorikan data ke dalam kategori-kategori, ke
dalam unit-unit dan melakukan sintesa. (Nursalam, 2015).
53
a. Analisa univariat
Analisa univariat yaitu analisis deskriptif dimana temuan pengolahan
data disajikan dalam bentuk penjelasan ilmiah data dalam bentuk
tabel atau grafik (Nursalam, 2015). Analisa Univariat dilakukan
untuk tiap variabel dengan hasil penelitian guna untuk mengetahui
hasil distribusi pada frekuensi dengan cara melihat presentase pada
masing-masing variabel (Arikunto, 2019). Analisa ini digunakan
dalam menjelaskan masing-masing variabel yang akan diteliti
meliputi karakterisktik responden pada pasien yang menjalani HD di
RS Graha Husada Bandar Lampung.
b. Analisa bivariat
Menghubungkan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel
terikat (Arikunto, 2019). Dalam analisa bivariat yang dihubungkan
yaitu dukungan keluarga dengan kualitas hidup. Peneliti akan
menggunakan uji lambda pada variabel dukungan keluarga dengan
kualitas hidup karena berupa data ordinal dengan nominal. Disini
peneliti menggunakan uji Chi-Square guna menilai ada tidaknya
korelasi antar variabel dan dilakukan dengan menggunakan sistem
komputerisasi.
Dengan mengacu pada interval kepercayaan (CI) 95% dan tingkat
signifikansi (α) sebesar 0,05, apabila nilai ρ-value < 0,05, maka
hipotesis nol (Ho) akan di tolak. Ini menunjukan bahwa statistik,
terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Sebaliknya, jika
54
nilai ρ-value > 0,05, maka akan Ho di terima, yang menunjukkan
bahwa secara statistik, tidak ada hubungan yang signifikan antara
kedua variabel tersebut (Norfai, 2021).
J. Etika Penelitian
1. Informed Consent
Sebelum penelitian, maka responden akan diberikan lembar persetujuan.
Jika calon responden menolak maka peneliti harus menghormati hak
pasien. Pada pennjelitian ini terdapat 1 pasien yang menolak menjadi
responden, sehingga peneliti harus menerima keputusan pasien.
2. Anonymity
Penelitian ini tidak mencantumkan identitas responden dan hanya
mencantumkan kode pada lembar pendataan atau hasil penelitian yang
akan ditampilkan.
3. Confidenatiality
Hanya kelompok data terpilih yang akan terungkap dalam hasil
penelitian, karena peneliti menjamin kerahasiaan semua informasi yang
diperoleh.
4. Justify
Peneliti tidak membeda-bedakan responden karena semuanya memiliki
karakteristik yang berbeda. Peneliti memperhatikan responden dengan
sikap adil dalam menentukan reponden sesuai kriteria yang sudah
ditentukan serta penelitian ini memberikan souvenir yang sama kepada
seluruh responden.
55
K. Jalannya Proses Penelitian
Proses penelitian ini merupakan urutan karya atau langkah-langkah yang
dilakukan selama penelitian dari awal hingga berakhir. Jalannya penelitian
yang dilakukan dalam penelitian ini pada dasarnya adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap persiapan yaitu :
a) Pengajuan izin penelitian ke institusi pendidikan dan rumah sakit
tempat penelitian.
b) Melakukan pra survey
c) Pemilihan masalah dan membuat rumusan masalah
d) Penyusunan dan pengumpulan proposal penelitian proses bimbingan
e) Penyusun skala dan instrument penelitian
f) Presentasi proposal penelitian
2. Tahap Pelaksanaan
Proses dimana pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan
langkah-langkah :
a) Meminta surat izin dari institusi
b) Membuat surat persetujuan responden
c) Menyerahkan surat ke tempat penelitian
d) Mengumpulkan data dengan cara :
1) Mengajukan surat permohonan menjadi responden dengan
menjelaskan maksud dan tujuan dilakukan penelitian
56
2) Memberikan surat informed consent kepada respoonden yang
bersedia untuk diisi terlebih dahulu
3) Membacakan isi kuisoner dukungan keluarga dan kualitas hidup
kepada responden.
Karena di ruang HD jadwal pasien sudah rutin 2x seminggu, senin-
kamis, selasa-jumat, rabu-sabtu, 2 shift perharinya sehingga
memudahkan peneliti untuk mengambil data dari rsponden selama 1
minggu. Dengan skema shift pagi 11 pasien, sementara shift siang
6-9 pasien setiap harinya.
e) Pengolahan data melalui :
1) Penyuntingan data (Editing)
2) Memberikan kode (coding)
3) Memasukkan data (entry)
4) Mengecek kembali data (cleaning)
f) Penyusunan hasil penelitian
g) Proses bimbingan
h) Sidang hasi
57
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2019). Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara, x, 259.
Arisandy, T., & Carolina, P. (2023). Hubungan Dukungan Keluarga dengan
Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik ( GGK ) yang Menjalani Terapi
Hemodialisa The Correlation of Family Support with Quality of Life of
Choronic Kidney Failure ( CRF ) Patients on Those Undergoing
Hemodialysis Thera. Jurnal Surya Medika, 9(3), 32–35.
Fadhilah, A. I. (2023). Hubungan dukungan keluarga dan tingkat pendapatan
dengan kualitas hidup pasien hemodialisis di rsi sultan agung semarang.
Farid, H., & Mulyaningsih. (2023). HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA
TERHADAP KEPATUHAN DIET CAIRAN PASIEN DI UNIT
HEMODIALISA. babul ilmi_jurnal ilmiah multi science kesehatan, 15(2),
1–13.
Inayati, A., Hasanah, U., & Maryuni, S. (2020). FAMILY SUPPORT WITH
QUALITY OF LIFE CHRONIC KIDNEY FAILURE PATIENTS
UNDERSTANDING. Wacana Kesehatan, 5(2), 588–595.
Kazi, A. M., & Hashmi, M. F. (2023). Glomerulonephritis. StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan. 2023 Jun 26.
[Link] 32809479 Bookshelf ID: NBK560644
Kemenkes. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana
Penyakit Ginjal Kronik. 1–289.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). (2024). KDIGO 2024
Clinical Pratice Guideline for Evaluation Management of Chronic Kidney
Desease. [Link]
Lampung, dinkes provinsi. (2023). pravalensi penyakit gagal ginjal.
Manalu, N. V. (2020). DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KUALITAS
HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI
TERAPI DI RS ADVENT BANDAR LAMPUNG. Jurnal Health Sains This.
Mandala, M. A. (2020). HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN KUALITAS
HIDUP PASIEN HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT GRAHA HUSADANo
Title.
Masturoh, L. (2018). Metodologi Penelitian: Teori dan Praktik. Yogyakarta:
Deepublish.
Muhammad Idzharrusman, & Johan Budhiana. (2022). HUBUNGAN
DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN
GAGAL GINJAL KRONIK RSUD SEKARWANGI. Jurnal Keperawatan
BSI, 10(1), 61–69.
Murdeshwar, H. N., & Anjum, F. (2023). Hemodialysis. In StatPearls [Internet]
(hal. 1 of 33). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls
Publishing; 2025 Jan. 2023 Apr 27. [Link] 33085443
Bookshelf ID: NBK563296
National Kidney Of Foundation Indonesia. (2023a). Chronic Kidney Disease
(CKD). Chronic Kidney Disease (CKD). [Link]
11
12
topics/chronic-kidney-disease-ckd
National Kidney Of Foundation Indonesia. (2023b). hemodialisis. Perawatan
Penyakit Ginjal Kronik. [Link]
Ngantung, B. S. K. (2020). HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN
KECEMASAN MENGAHADI KEMATIAN PADA LANSIA YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT PERKEBUNAN JEMBER
KLINIK.
Nice, N. I. for H. and C. E. (2021). Nice guideline. November 24, 2021.
[Link]
Panjaitan, B. S., & Perangin-angin, M. A. br. (2020). Hubungan dukungan
keluarga dengan kualitas hidup lansia. Klabat Journal of Nursing, 2(2), 35–
43.
PAPDI. (2024). Konsensus Sindrom Kardivaskular renal metabolik.
[Link] Sindrom Kardiovaskular-Renal-
[Link]
Permana, R. S. M., & Suzan, N. (2023). Peran komunikasi dalam konteks
hubungan keluarga. 5(1), 43–49.
Pernefri. (2022). Indonesian Renal Registry Annual Report 2022.
[Link]
Primasari, N. A., & Dara, S. (2022). PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISA : LITERATURE REVIEW. Prosiding
Seminar Informasi Kesehatan Nasional (SIKesNas).
[Link], S., & Aeddula, N. R. (2024). Chronic Kidney Disease. Chronic Kidney
Disease. In StatPearls. StatPearls Publishing. [Link]
30571025 Bookshelf ID: NBK535404
Siregar, W. M., Tanjung, D., & Elmeida Effendy. (2022). quasy experimental
non-equivalent control group pretest- postest design. 4, 428–438.
[Link]
Sugiyono. (2021). Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D.
Metodologi Penelitian.