0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan67 halaman

Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal

Proposal penelitian ini berjudul 'Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS Graha Husada Bandar Lampung'. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dukungan keluarga mempengaruhi kualitas hidup pasien yang menjalani terapi hemodialisis, mengingat meningkatnya prevalensi penyakit ginjal kronik di Indonesia. Dukungan keluarga diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap kualitas hidup pasien, yang seringkali terpengaruh oleh berbagai tantangan fisik dan emosional akibat penyakit dan pengobatan.

Diunggah oleh

erwin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan67 halaman

Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal

Proposal penelitian ini berjudul 'Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS Graha Husada Bandar Lampung'. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dukungan keluarga mempengaruhi kualitas hidup pasien yang menjalani terapi hemodialisis, mengingat meningkatnya prevalensi penyakit ginjal kronik di Indonesia. Dukungan keluarga diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap kualitas hidup pasien, yang seringkali terpengaruh oleh berbagai tantangan fisik dan emosional akibat penyakit dan pengobatan.

Diunggah oleh

erwin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

i

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS


HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT GRAHA
HUSADA BANDAR LAMPUNG

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH
YOGI BARUNA PUTRA
NPM : 240101204P

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025

i
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS
HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT GRAHA
HUSADA BANDAR LAMPUNG

PROPOSAL PENELITIAN

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh


Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH
YOGI BARUNA PUTRA
NPM : 240101204P

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Judul Proposal:

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP


PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS
DI RS GRAHA HUSADA BANDAR LAMPUNG

Nama : Yogi Baruna Putra


NPM : 240101204P

Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing untuk seminar proposal.

Pringsewu, … Agustus 2025


Pembimbing

(Dr. Hardono, S. Kep., Ners., M. Kep)


NIDN : 0231037803

Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Keperawatan

(Rizky Yeni Wulandari, [Link]., Ners., [Link]


NIDN : 0210018601

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun proposal skripsi ini dengan judul
“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal
Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di RS Graha Husada Lampung”
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi di Fakultas
Keperawatan. Proposal ini tentunya tidak dapat tersusun tanpa bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Sukarni, [Link].T., M. Kes Selaku Ketua yayasan aisyah lampung.


2. Dr. Sutrisno, [Link]., Ners., MAN Selaku Rektor universitas aisyah pringsewu
lampung.
3. Rini Palupi, [Link]., Ners., [Link] Selaku Dekan fakultas keperawatan
universitas aisyah pringsewu lampung.
4. Rizki Yeni Wulandari, [Link]., Ners., [Link] Selaku Kepala program studi s1
keperawatan.
5. Dr. Hardono, [Link]., Ners., [Link] Selaku Pembimbing utama dan
pendamping yang telah banyak membantu penyelesaian penulisan proposan
penelitian ini.
6. Meliana , [Link]., Ners Selaku Kepala ruangan hemodialisa rs graha husada
lampung.
7. Keluarga dan Teman yang sudah membantu jalannya penelitian.

Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di
masa mendatang. Akhir kata, semoga proposal ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak, khususnya dalam pengembangan ilmu keperawatan.

Bandar Lampung, Agustus 2025


Penulis

Yogi Baruna Putra

iv
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL LUAR ....................................................................... i


HALAMAN JUDUL DALAM .................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
DAFTAR ISI .............................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................ vii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 8
C. Tujuan Masalah ................................................................................. 8
1. Tujuan Umum ........................................................................ 8
2. Tujuan Khusus ....................................................................... 8
D. Manfaat Penelitian............................................................................. 9
E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................. 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 11
A. Tinjauan Teoritis................................................................................ 11
B. Penelitian Terkait ............................................................................... 34
C. Kerangka Teori .................................................................................. 36
D. Kerangka Konsep .............................................................................. 37
E. Hipotesis ........................................................................................... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN................................................... 39
A. Jenis Penelitian .................................................................................. 39
B. Waktu Dan Tempat ............................................................................ 39
C. Rancangan Penelitian ........................................................................ 40
D. Subyek Penelitian .............................................................................. 41
E. Variabel Penelitian............................................................................. 43
F. Definisi Operasional Variabel ............................................................ 43
G. Alat Ukur .......................................................................................... 44
H. Pengumpulan Data ............................................................................ 47
I. Pengolahan Data................................................................................ 48
J. Etika Penelitian ................................................................................. 51
K. Jalannya Proses Penelitian ................................................................. 52

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

v
DAFTAR GAMBAR

Judul Gambar Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Teori .......................................................................... 37


Gambar 2.2 Kerangka Konsep ...................................................................... 38

vi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Stage PGK Menurut KDIGO ................................................................... 14


2.2 Indikastor Alat Ukur Kualitas Hidup ....................................................... 27
2.3 Indikator Alat Ukur Dukungan Keluarga ................................................. 34
3.1 Defenisi Operasional Variabel ................................................................. 44

vii
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) atau Chronic Kidney Desease (CKD)

didefinisikan sebagai kelainan struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung

selama lebih dari 3 bulan, dengan implikasi terhadap kesehatan, tanpa

memperhatikan penyebabnya. Hal ini harus memenuhi salah satu dari kriteria

eGFR <60ml/min/1,73m² atau tanda kerusakkan ginjal seperti albuminuria,

kelainan sedimen urine, atau temuan histologi/ radiologi (Kidney Disease:

Improving Global Outcomes (KDIGO), 2024) dalam KDIGO 2024 Clinical

Pratice Guideline for Evaluation Management of Chronic Kidney Desease.

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan gangguan fungsi atau struktur

ginjal yang berlangsung ≥3 bulan, dengan atau tanpa penurunan eGFR <60

mL/menit/1,73m². Diagnosis ditegakkan melalui kelainan patologis,

perubahan darah atau urin, serta hasil lab yang menunjukkan kerusakan

ginjal. Penanganan CKD meliputi terapi konservatif, terapi simptomatik, dan

terapi pengganti ginjal. Salah satu terapi pengganti ginjal adalah hemodialisa

dengan cara kerjanya memproses pengeluaran cairan dan produk limbah dari

dalam tubuh (Kemenkes, 2023).

Penyakit gagal ginjal merupakan salah satu masalah kesehatan global

yang mendapat perhatian serius dari Badan Kesehatan Dunia. Pada tahun

2025, WHO menempatkan penyakit ini sebagai penyebab kematian ke-9 dari

10 penyakit yang paling mematikan di dunia. Hal ini sejalan dengan temuan

1
2

Global Burden of Disease (GDB), yang melaporkan bahwa pada tahun 2021

terdapat sekitar 674 juta kasus Penyakit Gagal Ginjal (PGK) pada seluruh

tahap di dunia, dengan prevalensi sebesar 8,5% dari total populasi dunia.

Sejak tahun 1990, prevalensi PGK meningkat sebesar 0,92% per tahun di

seluruh kelompok usia, dan pada tahun yang sama, PGK menyebabkan 1,53

juta kematian di seluruh dunia, menunjukkan peningkatan angka kematian

sebesar 2,66% per tahun dibandingkan tahun 1990 (Global Burden of

Disease,. 2021).

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023

menunjukkan bahwa 0,18% dari 638.178 penduduk berusia ≥ 15 tahun yang

disurvey menderita PGK. Provinsi Lampung memiliki prevalensi yang lebih

tinggi, yaitu 0,30% dari total 21.021 penduduk yang disurvei, menjadikannya

salah satu provinsi dengan beban PGK tertinggi, pada tahun 2022 tercatat

untuk daerah bandar lampung sebagai kabupaten/ kota dengan jumlah kasus

tertinggi sebanyak 533 kasus PGK, sedangkan pada tahun 2023 tercatat untuk

daerah kota metro dengan jumlah kasus 575 kasus PGK, sedangkan pada

tahun 2022 tercatat untuk daerah waykanan dengan jumlah kasus 280 kasus

PGK berdasarkan data dari Dinkes Lampung. Dari 1.259 penderita PGK

yang teridentifikasi melalui survey tersebut, sebanyak 21,1% menjalani

hemodialisis (Lampung, 2023).

Selain itu, data Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2023

mencatat bahwa jumlah pasien yang menjalani terapi dialysis mencapai

60.526 orang, dengan total populasi pasien PGK sebanyak 127.900 orang.
3

Temuan ini semakin menegaskan bahwa PGK merupakan penyakit dengan

tren peningkatan yang signifikan dan membutuhkan perhatian serius dalam

upaya pencegahan serta penatalaksanaannya (Pernefri, 2022).

Sedangkan prevalensi Jumlah pasien PGK di RS Graha Husada yang

menjalani terapi hemodialisis meningkat dari 48 pasien pada tahun 2023

menjadi 58 pasien pada tahun 2024. Angka kematian relatif stabil, dengan dua

belas kasus pada tahun 2024 dan sebelas kasus pada tahun 2023,

menunjukkan peningkatan pasien sebesar 20,83% selama dua tahun, dan pada

tahun 2025 prevalensi jumlah pasien PGK yang menjalani hemodialisis

meningkat 25% dalam 4 bulan terakhir sebesar 60 pasien (Rekam Medik.

2024).

Peningkatan jumlah penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK)

menunjukkan bahwa penyakit ini telah menjadi permasalahan serius dalam

dunia kesehatan. Seiring dengan hal tersebut, jumlah pasien yang menjalani

terapi hemodialisis juga terus meningkat. Hemodialisis merupakan terapi

pengganti ginjal yang paling umum dilakukan, yakni dengan menggunakan

mesin dialyzer untuk membuang zat sisa metabolisme, serta menjaga

keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh melalui proses filtrasi darah dengan

membran semipermeable (Siregar et al., 2022).

Meskipun terapi hemodialisis membantu memperpanjang harapan hidup

pasien PGK, proses ini seringkali menimbulkan tantangan jangka panjang.

Pasien menghadapi berbagai kendala seperti beban finansial, keterbatasan

bekerja, penurunan gairah seksual, kecemasan, depresi, dan rasa takut


4

menghadapi kematian. Perubahan gaya hidup yang drastis akibat penyakit

dan terapi yang dijalani turut memengaruhi semangat dan kualitas hidup

pasien (Inayati et al., 2020). Hemodialisis tidak hanya berdampak secara

fisik, tetapi juga secara psikologis, sosial, spiritual, ekonomi, serta pada

dinamika keluarga (Arisandy & Carolina, 2023).

Kualitas hidup merupakan hasil persepsi individu tentang kemampuan,

keterbatasan, gejala dan sifat psikososial hidup individu, dalam konteks

lingkungan, budaya dan nilai dalam menjalankan peran dan fungsinya

sebagaimana mestinya (Primasari & Dara, 2022), sehingga setiap individu

mempunyai persepsi yang tidak sama.

Kualitas hidup pasien CKD yang menjalani hemodialisa cukup menarik

perhatian bagi professional kesehatan, karena masalah kualitas hidup menjadi

sangat penting dalam pemberian layanan keperawatan yang menyeluruh bagi

pasien, dengan harapan pasien dapat menjalani hemodialisa dan mampu

bertahan hidup walau dengan bantuan mesin dialisa (Muhammad

Idzharrusman & Johan Budhiana, 2022). Takesi Arisandy (2023)

mengemukakan bahwa setelah menjalani hemodialisa ada perubahan pada

dimensi psikis,dimensi sosial dan dimensi lingkungan seseorang yaitu

mempunyai perasaan positif, mampu berfikir, mengingat dan konsentrasi

serta merasa lebih nyaman dengan berinteraksi (Arisandy & Carolina, 2023).

Kualitas hidup dalam pemberian terapi hemodialisis sangatlah penting

karena HD adalah terapi jangka panjang yang dilakukan sesuai dosisnya,

rutinitas ini membatasi pasien dalam banyak hal termasuk kebebasan


5

bergerak, social, dan pekerjaan. Efek samping dari beban fisik seperti

kelelahan, hipotensi, kram, dan gatal dapat menyebabkan kualitas hidup

rendah, pasien bisa merasa terpenjara oleh pengobatan. Oleh karena itu,

kualitas hidup bukan hanya sekedar soal kenyaman, tetapi komponen penting

dalam keberhasilan jangka panjang terapi hemodialysis. Meningkatnya

kualitas hidup berarti memanusiakan pengobatan, bukan hanya

memperpanjang umur tetapi juga membuat hidup lebih berwarna. (Arisandy

& Carolina, 2023) mengatakan dalam penelitiannya bahwa kualitas hidup

yang baik bagi pasien HD biasanya ditandai dengan kepatuhan lebih tinggi

terhadap terapi hemodialisis, imunitas lebih baik, angka rawat inap dan

komplikasi yang rendah, serta harapan hidup yang lebih tinggi (Arisandy &

Carolina, 2023).

Kualitas hidup berkaitan erat dengan adanya dukungan keluarga, karena

dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaaan keluarga terhadap

penderita yang sakit, dimana keluarga menjalankan fungsinya sebagi sistem

yang bersifat mendukung, selalu siap memberi pertolongan jika diperlukan

(Manalu, 2020).

Dukungan keluarga merupakan dukungan verbal dan non verbal, bisa

berupa saran, bantuan langsung atau sikap yang diberikan oleh orang-orang

yang mempunyai kedekatan dengan subjek didalam lingkungan sosialnya.

Dukungan ini bisa juga berupa kehadiran yang memberi respon emosional

dan mempengaruhi tingkah laku penerima dukungan tersebut (Arisandy &

Carolina, 2023). Ada 5 (lima) dimensi dukungan keluarga yang diberikan


6

oleh anggota keluarga (House dan Smet, 2015) yaitu dukungan emosional,

dukungan penghargaan, dukungan informasi, dukungan instrumental, dan

dukungan jaringan sosial yang kesemuanya menjadi satu bentuk dukungan

keluarga.

Dukungan keluarga adalah faktor penting bagi individu ketika

menghadapi masalah (kesehatan), dimana keluarga berperan dalam fungsi

keperawatan kesehatan anggota keluarganya untuk mencapai kesehatan yang

optimum (Inayati et al., 2020). Pasien memerlukan hubungan yang erat

dengan seseorang yang bisa dijadikan tempat untuk menumpahkan

perasaannya pada saat-saat stress dan kehilangan semangat selama menjalani

terapi hemodialisa yang cukup lama yang dapat diperoleh dari anggota

keluarga, disamping itu dapat membuat anggota keluarga menjadi lebih dekat

satu sama lain (Arisandy & Carolina, 2023).

Dengan adanya dukungan keluarga, dari hasil penelitian Ibrahim (2009)

dalam Takesi dan Putria (2023) didapatkan 57,1% pasien yang menjalani

hemodialysis mempersepsikan kualitas hidupnya pada tingkat rendah dan

42,9% yang mempersepsikan kualitas hidupnya pada tingkat tinggi. Dan

dalam penelitiannya juga didapatkan bahwa dalam aspek kualitas hidup

tertinggi dari pasien CKD yang menjalani hemodialisa ada pada kepuasan

individu atas dukungan yang bersumber dari keluarga, teman serta kerabat

(Arisandy & Carolina, 2023).

Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan di Unit Hemodialisa RS

Graha Husada Bandar Lampung terhadap 15 (lima belas) orang pasien terlihat
7

bahwa pasien menunjukkan berbagai respon fisik dan psikologis yang

menandakan adanya penurunan kualitas hidup.

Secara fisik, sebagian besar pasien mengeluhkan rasa kelemahan yang

berlebihan, sebanyak 5 pasien (33%) menyatakan bahwa tubuh mereka terasa

cepat lelah meskipun hanya melakukan aktivitas ringan tidak seperti sebelum

sakit. Keluhan sesak napas juga muncul pada 3 pasien (20%), pasien

mengatakan terutama pada menjelang atau setelah tindakan hemodialysis

sehingga mereka membatasi aktivitas harian mereka, sebanyak 6 pasien

(40%) mengatakan kulit terasa kering dan gatal yang sering kali

menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu tidur, selain itu, 9 pasien

(60%) tampak pucat, yang menunjukkan kemungkinan anemia sebagai salah

satu komplikasi umum pada gagl ginjal kronik diperkuat dengan pernyataan

dari pasien bahwa mereka belakangan ini kurang nafsu makan yang juga akan

menyebabkan anemia. Beberapa pasien, yaitu 4 pasien (27%), juga

mengatakan peningkatan berat badan berlebih selama menjalani terapi

hemodialisis yang dapat dikaitkan dengan penumpukkan cairan dan

ketidakpatuhan terhadap pembatatasan diet cairan.

Dari sisi psikologis, sebanyak 5 pasien (33%) menunjukkan tanda-tanda

depresi, kecemasan, atau tekanan emosional. Mereka mengatakan muncul

perasan putus asa, kekhawatiran terhadap kondisi penyakit, maupun

ketidakmampuan beradaptasi dengan rutinitas hemodialysis. Respon

emosional ini menunjukkan bahwa hemodialysis memberikan beban yang

berat dan multidimensi. Keluhan fisik yang berulang, keterbatasan aktivitas,


8

serta tekanan psikologis yang menyertai tindakan dialysis turut berkontribusi

pada penurunan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

Dari kelima belas pasien CKD tersebut, 7 (tujuh) diantaranya datang

sendiri dengan alasan adanya kesibukan anggota keluarga dan mengatakan

kurang mendapat dukungan dari keluarga, sehingga saat jadwal hemodialisis

yang harus dilakukan mereka datang sendirian. Sementara yang lainnya

senantiasa mendapatkan pendampingan dari anggota keluarga selama

menjalani hemodialisa. Hemodialisa yang harus dijalani selama 4 – 5 jam

selalu dipantau untuk mengantisipasi munculnya komplikasi pada pasien

selama dan sesudahnya. Dengan demikian, pendampingan oleh anggota

keluarga saat hemodialisa sangatlah penting bagi pasien dan juga merupakan

salah satu bentuk nyata dari dukungan keluarga. Sementara ketersediaan

dukungan keluarga belum banyak yang diketahui oleh keluarga juga pasien

untuk mengupayakannya, sehingga masih ditemui pasien merasakan sedih,

minder dan cemas selama terapi meskipun keluarga ada saat terapi dijalani.

Berdasarkan fenomena diatas, membuat peneliti tertarik melakukan

penelitian berjudul: "Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas

Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS

Graha Husada Bandar Lampung."

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian yang

diajukan adalah “Apakah ada hubungan antara dukungan keluarga dengan


9

kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di

RS Graha Husada Bandar Lampung”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pada pasien PGK yang menjalani terapi hemodialisis di

RS Graha Husada Bandar Lampung.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dari kualitas hidup pasien

gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis di RS Graha

Husada Bandar Lampung.

b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga pada

pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis di RS

Graha Husada Bandar Lampung.

c. Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kualitas

hidup pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis

di RS Graha Husada Bandar Lampung.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Menambah referensi ilmiah terhadap pengembangan ilmu

pengetahuan di bidang ilmu keperawatan khususnya mengenai kualitas

hidup pasien yang menajalani terapi hemodialisis dan sebagai dasar bagi

penelitian sejenis di masa depan khusunya di provinsi bandar lampung.


10

2. Manfaat Praktis

a. Untuk Pasien: Memberikan informasi mengenai adanya dukungan

keluarga yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien selama

menjalani terapi hemodialisis.

b. Untuk Tenaga Kesehatan: Menjadi acuan dalam memberikan asuhan

keperawatan yang lebih komprehensif dan tepat sasaran.

c. Untuk Rumah Sakit: Sebagai dasar untuk menyusun strategi

pelayanan yang lebih efektif guna meningkatkan kenyamanan dan

kualitas hidup pasien.

3. Bagi Institusi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai sumber kepustakaan

di Universitas Aisyah Pringsewu Lampung sebagai wacana kepustakaan

baru mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada

pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RS Graha

Husada Bandar Lampung.

E. Ruang Lingkup

Jenis Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menggunakan

desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Tujuan Penelitian ini

untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada

pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian

dilaksanakan di Unit Hemodialisis RS Graha Husada Bandar Lampung pada

september-oktober 2025. Populasi berjumlah 55 pasien gagal ginjal kronik

yang menjalani hemodialisis di RS Graha Husada Bandar Lampung. Sampel


11

diambil menggunakan teknik Total sampling dengan 55 pasien yang

menjalani hemodialisis dengan memenuhi kriteria. Data diperoleh dari rekam

medis serta dari kuesioner untuk dukungan keluarga. Pengukuran dilakukan

melalui dokumentasi medis dan wawancara langsung menggunakan

instrumen terstandar. Analisis data dilakukan secara univariat serta bivariat

menggunakan uji Chi-Square dengan kriteria Inklusi sebagai berikut :

a) Pasien HD berumur > 18 tahun

b) Telah menjalani HD > 3 bulan

c) Pasien tetap atau rutin HD 2x seminggu di RS Graha

Husada Bandar Lampung

d) Pasien yang tidak tinggal sendiri atau jauh dari keluarga

e) Pasien yang bersedia menjadi responden dengan

menandantangani surat persetujuan (informed consent).


11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Penyakit Ginjal Kronis

a. Definisi

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan kondisi yang ditandai

oleh penurunan fungsi ginjal atau laju filtrasi glomerulus (eGFR) di

bawah 60 mL/menit/1,73 m² yang berlangsung selama minimal 3

bulan, tanpa memandang penyebab utamanya. PGK mencerminkan

proses kehilangan fungsi ginjal secara bertahap yang dapat

berkembang menjadi kebutuhan terapi pengganti ginjal, seperti

dialisis atau transplantasi. Kerusakan ginjal dapat diidentifikasi

melalui kelainan patologis berdasarkan pemeriksaan pencitraan atau

biopsi ginjal, perubahan pada sedimen urin, maupun peningkatan

ekskresi albumin dalam urin ([Link] & Aeddula, 2024).

Perkembangan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) hingga mencapai

tahap akhir masih menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap

penurunan kualitas hidup serta meningkatnya angka kematian dini.

PGK merupakan kondisi yang bersifat melemahkan, sehingga

penanganan medis standar mencakup pemantauan ketat terhadap

progresivitas penyakit serta rujukan dini ke dokter spesialis untuk

mempertimbangkan terapi dialisis atau transplantasi ginjal (Kazi &

Hashmi, 2023).

11
12

b. Etiologi

Penyebab Penyakit Ginjal Kronik (PGK) bervariasi di seluruh

dunia. Beberapa penyakit utama yang paling sering menjadi

penyebab PGK dan pada akhirnya berkembang menjadi penyakit

ginjal tahap akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD) meliputi

([Link] & Aeddula, 2024) :

1) diabetes melitus tipe 2 (30%–50%)

2) diabetes tipe 1 (3,9%)

3) hipertensi (27,2%)

4) glomerulonefritis primer (8,2%)

5) nefritis tubulointerstisial kronis (3,6%)

6) penyakit ginjal herediter atau kistik (3,1%)

7) glomerulonefritis sekunder atau vaskulitis (2,1%)

8) serta kelainan sel plasma atau neoplasma (2,1%)

9) Sementara itu, nefropati sel sabit dilaporkan sebagai penyebab

kurang dari 1% kasus ESRD di Amerika Serikat.

PGK dapat dipicu oleh berbagai mekanisme patofisiologis yang

dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu: prerenal

(penurunan perfusi ginjal), intrinsik (kerusakan langsung pada

struktur ginjal seperti pembuluh darah, glomerulus, atau

tubulointerstitium), serta postrenal (akibat obstruksi aliran urin).

Angka kematian pada pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir

(ESRD) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan individu tanpa


13

kondisi tersebut. Meskipun telah dilakukan terapi dialisis secara

tepat waktu, tingkat mortalitas tetap tinggi, yaitu berkisar antara

20% hingga 50% dalam kurun waktu dua tahun (Kazi & Hashmi,

2023).

c. Stadium Penyakit Ginjal Kronik

Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik (PGK) terdiri dari lima

tahap, yang ditentukan berdasarkan kombinasi antara fungsi ginjal

(melalui estimasi laju filtrasi glomerulus/GFR) dan penanda adanya

kerusakan ginjal. Tahapan 3 hingga 5 diklasifikasikan ketika nilai

GFR berada di bawah 60 mL/menit/1,73 m², baik disertai maupun

tanpa adanya penanda kerusakan ginjal, yang dikonfirmasi pada dua

pemeriksaan terpisah dengan interval minimal 90 hari. Sementara

itu, tahap 1 dan 2 ditetapkan apabila terdapat penanda kerusakan

ginjal seperti albuminuria, kelainan sedimen urin, gangguan

elektrolit akibat disfungsi tubular, kelainan histologis, kelainan

struktural yang terlihat melalui pencitraan, atau adanya riwayat

transplantasi ginjal (Nice, 2021).

Tingkat keparahan Penyakit Ginjal Kronik (PGK)

diklasifikasikan berdasarkan nilai laju filtrasi glomerulus (GFR),

yang mencerminkan kemampuan ginjal dalam menyaring limbah

metabolik.
14

Tabel 2.1
Stage PGK menurut KDIGO
Stage Deskripsi GFR

G1 Penurunan ringan 60–89

G2 Penurunan ringan hingga 45–59

G3 Penurunan sedang hingga berat 30–44

G4 Penurunan berat 15–29

G5 Gagal Ginjal <15

Sumber: Hashmi, F, (2023)

d. Patofisiologi Klinis

Setiap nefron dalam ginjal normal memberikan kontribusi

terhadap total laju filtrasi glomerulus (GFR). Penurunan fungsi

ginjal biasanya terjadi secara bertahap dan pada tahap awal sering

kali tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Perjalanan alamiah

gagal ginjal bergantung pada penyebab dasarnya, namun umumnya

melibatkan mekanisme kompensasi awal berupa hiperfiltrasi pada

nefron yang masih berfungsi. Ginjal dapat mempertahankan nilai

GFR meskipun terjadi kerusakan progresif pada sebagian besar

nefron, karena nefron yang tersisa mengalami hiperfiltrasi dan

hipertrofi kompensasi.

Sebagai akibat dari mekanisme ini, pasien dengan gangguan

ginjal ringan sering kali tetap menunjukkan kadar kreatinin yang

normal, sehingga kondisi tersebut dapat tidak terdeteksi selama

periode waktu tertentu. Adaptasi nefron yang tersisa ini

memungkinkan ginjal untuk tetap menyaring zat-zat terlarut dalam


15

plasma secara efisien. Namun, kompensasi ini dalam jangka panjang

dapat menyebabkan kerusakan pada glomerulus dari nefron yang

tersisa. Pada tahap ini, penggunaan obat antihipertensi seperti ACE

inhibitor atau ARB dapat berperan dalam memperlambat

progresivitas penyakit dan mempertahankan fungsi ginjal.

Peningkatan kadar urea dan kreatinin dalam plasma baru akan

tampak secara signifikan setelah GFR menurun sekitar 50%. Sebagai

contoh, peningkatan kadar kreatinin plasma dari 0,6 mg/dL menjadi

1,2 mg/dL, meskipun masih berada dalam batas normal, sebenarnya

mencerminkan kehilangan sekitar 50% dari massa nefron yang

masih berfungsi.

Walaupun hiperfiltrasi dan hipertrofi nefron sisa berfungsi

sebagai respons adaptif untuk mempertahankan GFR, kondisi ini

justru menjadi penyebab utama dari progresivitas kerusakan ginjal.

Tekanan kapiler glomerulus yang meningkat dapat menyebabkan

kerusakan struktural, yang kemudian berkembang menjadi

glomerulosklerosis fokal segmental (FSGS) dan akhirnya

glomerulosklerosis global (Muhammad Idzharrusman & Johan

Budhiana, 2022).

Beberapa faktor yang dapat memperburuk cedera ginjal meliputi:

1) Paparan nefrotoksin (misalnya obat antiinflamasi

2) nonsteroid/NSAID)

3) Hipertensi sistemik
16

4) Proteinuria

5) Dehidrasi

6) Kebiasaan merokok

7) Hiperlipidemia

8) Diabetes melitus yang tidak terkontrol

9) Hiperfosfatemia

e. Penatalaksanaan

Penanganan penyakit ginjal kronik menurut National Kidney

Foundation (National Kidney Of Foundation Indonesia, 2023)

meliputi :

1. Mengendalikan penyakit dasar atau kondisi yang menjadi

penyebab utama PGK seperti diabetes melitus, hipertensi, atau

nefropati IgA

2. Memperlambat progresivitas kerusakan ginjal

3. Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular seperti infark

miokard atau stroke

4. Mengatasi komplikasi yang muncul akibat gangguan fungsi

ginjal.

Strategi pengobatan secara spesifik akan disesuaikan dengan

stadium PGK dan kondisi klinis individu, termasuk adanya

komplikasi. Oleh karena itu, pendekatan terapi harus dikonsultasikan

dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan rekomendasi yang

sesuai.
17

1. Terapi Farmakologis

Tenaga medis dapat meresepkan satu atau beberapa jenis obat

untuk menghambat progresivitas PGK. Obat-obatan tersebut

dapat meliputi penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE

inhibitor), antagonis reseptor angiotensin II (ARB), inhibitor

SGLT2, serta mineralocorticoid receptor antagonist nonsteroid

(nsMRA).

2. Terapi Gizi

Intervensi diet sangat penting, khususnya dalam mengatur

asupan natrium yang dianjurkan tidak melebihi 2300 mg per hari

(setara ±1 sendok teh garam total dari semua makanan dan

minuman). Pembatasan natrium menjadi lebih krusial pada

pasien dengan hipertensi. Selain itu, berdasarkan hasil

laboratorium, pengaturan asupan kalium, fosfor, dan kalsium

juga dapat diperlukan. Konsultasi dengan ahli gizi sangat

dianjurkan, terutama bila pasien memiliki komorbiditas seperti

hipertensi, diabetes, atau gagal jantung. Ahli gizi dapat

membantu menyusun pola makan yang tepat dan berkelanjutan

sesuai dengan kebutuhan pasien.

3. Modifikasi Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup menjadi bagian integral dari manajemen

PGK. Rekomendasi mencakup :


18

a. Berhenti merokok karena merokok mempercepat kerusakan

ginjal dan meningkatkan risiko kardiovaskular.

b. Berolahraga secara rutin, dimulai dengan aktivitas ringan

seperti berjalan kaki.

c. Menerapkan pola tidur yang cukup dan berkualitas.

d. Menurunkan berat badan bagi pasien dengan kelebihan

berat badan melalui diet sehat dan aktivitas fisik.

e. Mengelola stres dengan cara-cara yang sehat dan efektif.

Pengendalian penyakit penyerta seperti hipertensi,

hiperkolesterolemia, dan diabetes tetap menjadi prioritas utama

dalam pencegahan kerusakan ginjal lebih lanjut. Penggunaan obat

antiinflamasi nonsteroid (NSAID) perlu dihindari karena dapat

memperburuk fungsi ginjal, terutama pada dosis tinggi atau

penggunaan jangka panjang. Contoh NSAID yang harus diwaspadai

meliputi ibuprofen, indometasin, naproksen, diklofenak, celekoksib,

meloksikam, dan aspirin dosis tinggi (>325 mg/hari).

Setelah pasien mencapai tahap Penyakit Ginjal Kronik (PGK)

stadium 4, mereka perlu diberikan edukasi dan pilihan mengenai

terapi pengganti ginjal (TPG). Beberapa opsi utama yang dapat

ditawarkan meliputi ([Link] & Aeddula, 2024) :

a. Hemodialisis, yang dapat dilakukan di rumah atau di fasilitas

pelayanan kesehatan.
19

b. Dialisis peritoneal, baik dalam bentuk kontinu maupun

intermiten.

c. Transplantasi ginjal, baik dari donor hidup maupun donor yang

telah meninggal.

Bagi pasien yang memilih untuk tidak menjalani terapi

pengganti ginjal, maka pendekatan konservatif dan paliatif perlu

dijelaskan secara menyeluruh sebagai alternatif penatalaksanaan

yang berfokus pada kenyamanan dan kualitas hidup.

2. Hemodialisis

a. Definisi Hemodialisis

Dialisis merupakan salah satu bentuk terapi pengganti ginjal, di

mana fungsi penyaringan darah yang seharusnya dilakukan oleh

ginjal digantikan oleh alat medis khusus. Prosedur ini bertujuan

untuk mengeluarkan kelebihan cairan, zat terlarut, dan racun dari

tubuh. Dialisis berperan penting dalam mempertahankan

homeostasis atau kestabilan lingkungan internal tubuh, terutama

pada individu yang mengalami penurunan fungsi ginjal secara

mendadak (cedera ginjal akut/AKI) maupun penurunan bertahap dan

menetap seperti pada penyakit ginjal kronik (PGK). Terapi ini dapat

digunakan sebagai tindakan sementara dalam menangani gangguan

ginjal akut, sebagai jembatan menuju transplantasi ginjal, atau

sebagai pengobatan utama bagi pasien yang tidak memungkinkan

menjalani transplantasi (Murdeshwar & Anjum, 2023).


20

Pada prosedur hemodialisis, darah pasien dialirkan melalui

selang fleksibel menuju mesin dialisis. Di dalam mesin tersebut

terdapat sebuah filter khusus yang dikenal sebagai dialyzer atau

sering disebut juga "ginjal buatan". Dialyzer ini berfungsi untuk

menyaring darah dengan cara membuang zat sisa metabolisme dan

kelebihan cairan, sambil tetap mempertahankan komponen penting

seperti sel darah dan nutrien yang dibutuhkan tubuh. Zat limbah dan

cairan berlebih akan dialirkan ke dalam cairan khusus bernama

dialisat, yang terdapat di dalam mesin dialisis. Setelah proses

penyaringan selesai, darah yang telah bersih dikembalikan ke tubuh

pasien. Pada satu waktu, hanya sebagian kecil darah yang berada di

luar tubuh. Umumnya, satu sesi hemodialisis berlangsung selama

kurang lebih empat jam, dan dijalani tiga hingga empat kali dalam

seminggu. Selama prosedur berlangsung, pasien masih dapat

melakukan aktivitas ringan seperti membaca, tidur, atau menonton

televisi (National Kidney Of Foundation Indonesia, 2023b).

b. Tujuan Hemodialisis

Hemodialisis berfungsi menggantikan peran ginjal dengan cara

(National Kidney Of Foundation Indonesia, 2023b) :

1) Mengeluarkan limbah metabolik dan kelebihan cairan dari

tubuh, sehingga mencegah penumpukannya di dalam sistem

tubuh.
21

2) Menjaga keseimbangan kadar mineral penting dalam darah

seperti kalium, natrium, kalsium, dan bikarbonat.

3) Membantu dalam mengatur dan menjaga tekanan darah tetap

stabil.

c. Indikasi Hemodialisis

Menurut PAPDI (PAPDI, 2024) panduan indikasi dilakukannya

hemodialisis jika terjadi beberapa kondisi seperti :

1) Akut : kelebihan cairan yang refrakter, hiperkalemia (kalium

plasma >6,5 mEq/L) atau peningkatan kadar kalium secara cepat

asidosis metabolic (Ph<7,1), asidosis refrakter, tanda-tanda

uremia (ureum darah >200mg dengan gejal perikarditis,

neuropati, atau perubahan status mental), intosikasi alcohol atau

obat.

2) Kegagalan terapi untuk mengontrol kelebihan cairan

3) Laju filtrasi glomerolus (LFG)<10ml/menit dengan gejala

uremia atau malnutrisi

4) LFG<7ml/menit walaupun tanpa gejala

5) Indikasi khusus : adanya komplikasi akut (edema paru,

hiperkalemia, asidosis metabolik berulang ), pada paien diabetik

nefropati dapat dimulai lebih awal (LFG<15ml/menit)

c. Kontraindikasi Hemodialisis

Menurut (PAPDI, 2024) kontraindikasi hemodialisis :


22

1) Sulit didapatkan akses vaskular, pasien membutuhkan baik sites

akses vaskular internal maupun eksternal yang paten

2) Hemodinamik tidak stabil, pasien dengan status hemodinamik

yang tidak stabil tidak akan mampu menoleransi pengeluaran

cairan dari tubuhnya. Penurunan tekanan darah ketika darah

berada dalam sirkuit ekstrakorporeal bisa menyebabkan syok

kardiogenik.

3) Koagulopati, pasien dengan koagulopati dapat mengalami

perdarahan ketika diberikan heparin ke dalam darah yang berada

di siruit ekstrakorporeal ketika proses filtrasi hemodialisis

sedang berlangsung.

4) Alzheimer

5) Sindrom hepatorenal

6) Sirosis hepatis dengan enselopati

7) Keganasan lanjut

d. Komplikasi Hemodialisis

Hemodialisis dapat menimbulkan berbagai komplikasi, baik

akut maupun kronis, yang memengaruhi kualitas hidup dan

keselamatan pasien. Beberapa komplikasi umum antara lain

(Murdeshwar & Anjum, 2023) :

1) Hipotensi Intra-dialitik
Merupakan komplikasi tersering, terjadi akibat penurunan

tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg. Dapat menyebabkan


23

pusing, mual, atau lemas, dan berhubungan dengan peningkatan

angka kematian serta kerusakan miokardial. Penanganannya

meliputi posisi Trendelenburg, pemberian bolus NaCl 0,9%, dan

penurunan laju ultrafiltrasi.

2) Kram Otot
Penyebab belum pasti, namun sering dikaitkan dengan hipotensi,

ultrafiltrasi tinggi, atau larutan dialisis rendah natrium. Kram

dapat diatasi dengan peregangan otot dan pemberian garam

fisiologis

3) Sindrom Ketidakseimbangan Dialisis (DDS)


Terjadi akibat penurunan urea plasma yang terlalu cepat,

menimbulkan edema serebral, kejang, sakit kepala, dan

penurunan kesadaran. Pencegahannya adalah dengan

memperlambat dialisis awal dan menggunakan dialisat

hipertonik atau manitol.

4) Reaksi Terhadap Dialyzer


Reaksi tipe A (anafilaksis) terjadi akibat hipersensitivitas

terhadap etilen oksida, ditandai dengan gatal, sesak napas, dan

urtikaria. Reaksi tipe B berupa nyeri dada atau punggung akibat

aktivasi komplemen. Penanganan meliputi antihistamin, steroid,

dan epinefrin.
24

5) Hemolisis
Merupakan keadaan darurat yang ditandai dengan perubahan

warna darah, penurunan hematokrit, dan anemia akut. Dapat

disebabkan oleh kontaminan dalam dialisat atau kerusakan

mekanik. Penatalaksanaan mencakup penghentian dialisis dan

evaluasi lebih lanjut.

6) Emboli Udara
Komplikasi fatal akibat masuknya udara ke sirkulasi darah.

Ditandai dengan gejala sesak mendadak dan suara khas di dada.

Penanganannya berupa pemberian oksigen 100%, posisi lateral

kiri, dan intervensi medis segera

7) Risiko Kardiovaskular
Pasien hemodialisis memiliki risiko tinggi terhadap serangan

jantung, terutama dalam dua bulan pertama terapi. Aritmia

seperti fibrilasi ventrikel dan asistole menjadi penyebab utama

kematian mendadak.

3. Kualitas Hidup

a. Pengertian Kualitas Hidup

Kualitas hidup (Quality of Life/QoL) adalah konsep subjektif

yang mencerminkan penilaian individu terhadap kesejahteraan

hidupnya secara keseluruhan dalam kaitannya dengan kondisi fisik,

psikologis, sosial, dan lingkungan. WHO (1995) dalam (Fadhilah,

2023) mendefinisikan kualitas hidup sebagai :


25

Persepsi individu tentang posisi mereka dalam kehidupan dalam

konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup dan dalam

kaitannya dengan tujuan, harapan, standar, dan kekhawatiran

mereka.

Sementara menurut Ferrans dan Powers (1992) dalam (Fadhilah,

2023), kualitas hidup adalah evaluasi subjektif terhadap kepuasan

individu dalam berbagai aspek kehidupan yang penting bagi dirinya,

yang dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan maupun lingkungan

sosial.

Pada pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal, kualitas

hidup menjadi salah satu indikator penting keberhasilan terapi, tidak

hanya dari aspek medis, tetapi juga dari segi kesejahteraan holistik

pasien.

b. Dimensi Kualitas Hidup menurut WHOQOL-BREF

Instrumen WHOQOL-BREF adalah alat ukur kualitas hidup

yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO), yang

telah banyak digunakan dalam penelitian kesehatan, termasuk pada

pasien penyakit kronis. Instrumen ini mengukur empat domain

utama :

1) Kesehatan Fisik

Energi dan kelelahan, nyeri dan ketidaknyamanan, tidur dan

istirahat, kapasitas kerja

2) Kesehatan Psikologis
26

Perasaan positif, harga diri, berpikir, belajar, konsentrasi, citra

diri, suasana hati

3) Hubungan Sosial

Hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual

4) Lingkungan

Keuangan, keamanan fisik, akses terhadap layanan kesehatan,

informasi, kesempatan rekreasi, lingkungan rumah

c. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Banyak faktor yang memengaruhi kualitas hidup, terutama pada

individu dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal. Beberapa faktor

tersebut antara lain:

1. Faktor Fisik : Kelelahan kronis, nyeri, keterbatasan aktivitas,

dan efek samping dari pengobatan seperti hemodialisis.

2. Faktor Psikologis : Tingkat stres, kecemasan, depresi, serta

motivasi untuk sembuh.

3. Faktor Sosial : Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas

memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup.

4. Faktor Ekonomi dan Lingkungan : Kemampuan ekonomi,

kondisi tempat tinggal, akses terhadap fasilitas kesehatan, serta

stabilitas pekerjaan.

Menurut penelitian oleh Almutary et al. (2013), pasien gagal

ginjal yang menjalani hemodialisis cenderung mengalami kualitas


27

hidup yang rendah akibat kelelahan, keterbatasan sosial, dan tekanan

emosional.

Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Pasi (GGK), terutama

yang menjalani terapi hemodialisis, umumnya mengalami penurunan

kualitas hidup. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut :

1. Prosedur hemodialisis yang harus dilakukan rutin 2–3 kali

seminggu.

2. Pembatasan diet dan cairan yang ketat.

3. Efek samping seperti hipotensi, kram otot, kelelahan, serta

ketidaknyamanan psikologis.

4. Beban ekonomi yang tinggi akibat biaya pengobatan jangka

panjang.

(Mandala, 2020), mengatakan bahwa kualitas hidup pasien GGK

dipengaruhi oleh tingkat dukungan sosial, kepatuhan terhadap diet

dan pengobatan, serta kondisi emosional pasien. Dukungan dari

keluarga menjadi salah satu faktor protektif yang signifikan dalam

mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penelitian lain oleh Rohmah dan Widyatama (2021) juga

menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat dukungan keluarga,

maka semakin tinggi skor kualitas hidup pasien hemodialisis,

terutama dalam domain psikologis dan sosial.


28

d. Instrumen Pengukuran Kualitas Hidup

Beberapa instrumen yang umum digunakan untuk menilai

kualitas hidup pasien penyakit kronis adalah : WHOQOL-BREF (26

item). Di Indonesia, instrumen WHOQOL-BREF sudah banyak

diterjemahkan dan divalidasi untuk digunakan dalam konteks lokal

dan berbagai jenis penyakit kronik. Dalam buku pegangan pengguna

WHOQOL-BREF terdiri dari empat domain yaitu interaksi fisik,

psikologis, social, dan lingkungan, serta dua pertanyaan tambahan di

awal mengenai sentiment tentang kualitas hidup dan perasaan

tentang kesehatan. Kuisoner tersebut memiliki total 26 pertanyaan

yang masing-masing 5 pilihan jawaban dan skor 1 sampai 5

Tabel 2.2
Indikastor Alat Ukur Kualitas Hidup
No. Indikator Item Favourable Item Jumlah
Unfavourable
1 Fisik 10,15,16,17,18 3,4 7

2 Psikologis 5,6,7,11,19 26 6

3 Sosial 20,21,22 - 3

4 Lingkungan 8,9,10,12,13,14,23,24,25 - 8

Skor dimensi dihitung dengan menggunakan skor rata-rata pada

setiap dimensi. Skor dimensi dikalikan empat dan diterjemahkan ke

dalam skala 0-100 (arah positif) (World Health Organization,1988) :

Transformed Score = (SCORE-4) x 100/16.


29

e. Kesimpulan Tinjauan Kualitas Hidup

Kualitas hidup merupakan aspek penting dalam manajemen

pasien gagal ginjal. Perubahan fisik akibat penyakit, ditambah

tekanan emosional dan sosial, dapat menurunkan persepsi pasien

terhadap kehidupannya. Oleh karena itu, penanganan GGK perlu

mencakup pendekatan multidimensi, termasuk dukungan keluarga,

pelayanan psikososial, dan peningkatan akses terhadap layanan

kesehatan.

4. Dukungan Keluarga

a. Pengertian Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga. dapat didefinisikan sebagai perilaku positif

terhadap anggota keluarga yang sakit, ini mengacu pada bantuan

anggota keluarga lain dalam memberikan kenyamanan fisik dan

psikologis kepada pasien, seperti perhatian, rasa terima kasih, atau

bantuan dalam menerima keadaannya (Unga et al., 2019 ; Nugraha,

Rahmah, & Budhiaji 2020).

Dukungan keluarga merupakan aspek penting bagi orang yang

menderita gangguan kesehatan, dimana keluarga berpartisipasi

dalam fungsi keperawatan kesehatan anggotanya untuk mencapai

kesehatan yang optimal (Novitasari, 2018). Yuliana (2019),

menyatakan bahwa dukungan keluarga berimplikasi pada kesehatan

dan kesejahteraan yang berjalan beriringan.


30

Dukungan yang kuat terkait dengan kematian yang lebih rendah,

pemulihan penyakit yang lebih mudah, kinerja kognitif,

kesejahteraan fisik dan emosional. Dukungan keluarga. yaitu proses

berkesinambungan yang terjadi sepanjang hidup seseorang, selama

fase kehidupan yang berbeda, sifat dan jenis dukungan sosial

keluarga pun berbeda.

b. Jenis Dukungan Keluarga

Jenis dukungan menurut friedman, 2016 dalam (Ngantung,

2020) memiliki berbagai bentuk bantuan, antara lain:

1) Dukungan informasional

Dukungan informasional yaitu pendampingan informasi,

artinya kedudukan keluarga sebagai pemberi informasi, dimana

keluarga menjelaskan tentang penyampaian rekomendasi, saran,

informasi yang dapat digunakan untuk mengungkap suatu

masalah. Bantuan ini meliputi bimbingan, gagasan, saran,

arahan, dan pemberian informasi.

2) Dukungan penilaian atau penghargaan

Dukungan penilaian yaitu sebuah ukungan asesmen dimana

keluarga berfungsi sebagai sumber dan validator identitas

anggota keluarga, termasuk menawarkan dukungan, pujian, dan

perhatian.
31

3) Dukungan instrumental

Dukungan instrumental yaitu keluarga merupakan sumber

pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya dalam hal

kebutuhan keuangan, makan, minum, dan istirahat.

4) Dukungan emosional

Dukungan emosional yaitu khususnya keluarga sebagai

lingkungan yang aman dan tenang untuk rileks dan

menyembuhkan, serta membantu mengelola emosi. Dukungan

yang ditunjukkan dalam bentuk kasih sayang, kepercayaan,

perhatian, mendengarkan, dan didengarkan merupakan contoh

dukungan emosional.

c. Manfaat Dukungan Keluarga

Sepanjang siklus hidup, anggota keluarga memberikan bantuan

terus menerus kepada anggota keluarga lainnya. Individu yang

memiliki dukungan keluarga yang kuat akan merasa dicintai,

diperhatikan, dan sebagai motivator, terutama bagi seseorang yang

memiliki penyakit kronis, karena dapat bermanfaat bagi kesehatan

dan terapi yang akan diterima individu tersebut (Friedman, 2016)

dalam (Fadhilah, 2023).

Dalam psikologi, dukungan keluarga mengacu pada dukungan

informal dan bantuan dari anggota keluarga. Namun, dukungan

social keluarga memungkinkan keluarga berfungsi dengan

keragaman kecerdasan dan kognisi di semua fase siklus kehidupan.


32

Hasilnya,kesehatan dan adaptasi keluarga meningkat. Karena tingkat

bantuan biasanya berkurang selama pengasuhan, dukungan keluarga

mampu mempertahankan posisi keluarga sebagai pengasuh kerabat

yang sakit atau menerima pengobatan. Akibatnya, keluarga dapat

membantu meringankan penderitaan dan meningkatkan kesehatan

dan kesejahteraan semua anggota keluarga (Panjaitan & Perangin-

angin, 2020).

d. Manfaat Dukungan Keluarga Bagi Pasien Cuci Darah

1. Meningkatkan kepatuhan terhadap regimen (diet, pembatasan

cairan, obat, dan jadwal HD). Banyak studi menunjukkan

dukungan atau perceived social support berkorelasi positif

dengan kepatuhan.

2. Meningkatkan Kualitas Hidup (HRQoL) lebih baik, baik

komponen fisik maupun mental.

3. Menurunkan gejala psikologis lebih ringan seperti depresi,

kecemasan, kelelahan serta tidur lebih baik. Dukungan sosial

yang lebih tinggi terkait skor gejala yang lebih rendah.

4. Meningkatkan ketahanan psikologis (reliensi) menjadikan arah

hubungan cenderung dari dukungan sosial/ ketahanan keluarga.

5. Meningkatkan self-care dan self-efficacy sehingga pasien lebih

percaya diri merawat diri dan mengikuti anjuran klinis.

6. Membantu pengendalian asupan cairan dan diet, (melalui

pengawasan dan dukungan sehari-hari), yang berkaitan dengan


33

IDWG lebih terkendali. Inferensi berbasis : dukungan keluarga

meningkatkan kepatuhan diet/ cairan sehingga membantu

penekanan IDWG yang berlebih.

7. Intervensi berpusat pada keluarga (edukas atau pendampingan)

terbukti memperbaiki kesehatan mentalpasien dan caregiver.

8. Di Indonesia, beberapa penelitian lokal juga menemukan

hubungan positif antara dukungan keluarga dengan kepatuhan

dan kualitas hidup pasien HD (Farid & Mulyaningsih, 2023).

e. Faktor yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga

Menurut (Purnawan dalam Suparyanto, 2012 , Setiadi, 2008)

dalam (Permana & Suzan, 2023) faktor-faktor yang mempengaruhi

dukungan keluarga adalah :

1) Faktor Internal

a) Tahap perkembangan

Komponen usia, dalam contoh ini pertumbuhan dan

perkembangan, dapat mempengaruhi dukungan, sehingga

setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan

respon yang bervariasi terhadap perubahan kesehatan.

b) Pendidikan atau tingkat pengetahuan

Pengetahuan, latar belakang pendidikan, dan

pengalaman sebelumnya memengaruhi keyakinan seseorang

akan dukungan. Bakat kognitif memengaruhi gaya berpikir

seseorang, termasuk kapasitas untuk memahami aspek


34

terkait penyakit dan menerapkan informasi kesehatan untuk

mengelola kesehatan seseorang.

c) Faktor emosi

Faktor emosional memengaruhi persepsi tentang

bantuan dan cara menerapkannya. Individu yang memiliki

reaksi stress terhadap setiap perubahan dalam hidupnya

lebih cenderung bereaksi terhadap indikator penyakit yang

berbeda, mungkin dengan berpikir bahwa kondisi tersebut

akan membahayakan hidupnya.

d) Spiritual

Kualitas hidup spiritual seseorang dapat diamati dari

bagaimana dia menjalani kehidupannya, termasuk nilai dan

keyakinan yang diterapkan, hubungan dengan keluarga atau

teman, dan kapasitas untuk menemukan harapan dan tujuan

hidup.

2) Faktor eksternal

a) Praktik keluarga

Cara keluarga memberikan bantuan akan berdampak

pada bagaimana penderita mengelola kesehatannya.

Misalnya, jika seorang anak selalu dilatih oleh orang tuanya

untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, dia

akan melakukan hal yang sama ketika memiliki anak.


35

b) Faktor Sosio Ekonomi

Risiko penyakit dapat ditingkatkan oleh sosial dan

psikologis dan memengaruhi cara seseorang

mengidentifikasi dan merespons kondisinya. Stabilitas

pernikahan, gaya hidup, dan lingkungan kerja adalah contoh

dari faktor psikososial. Seseorang biasanya akan mencari

penerimaan dan dukungan dari kelompok sosial mereka,

yang akan mempengaruhi pandangan kesehatan mereka dan

bagaimana mereka melaksanaannya. Semakin besar status

ekonomi seseorang, semakin mudah dia menerima gejala

penyakit yang dialaminya, dan dia akan mencari perawatan

ketika dia mencurigai ada masalah dengan kesehatannya.

c) Latar Belakang Budaya

Latar belakang budaya memengaruhi pandangan, nilai,

dan perilaku individu, serta cara menerapkan kesehatan

pribadi.

f. Cara Mengukur Dukungan Keluarga

Untuk mengungkap variabel dukungan keluarga, dapat

menggunakan skala dukungan keluarga yang diadaptasi dan

dikembangkan dari teori Friedman yang telah dimodifikasi oleh

Hezlin Ivana Marbun (2017) yang digunakan dalam penelitiannya

untuk mengetahui dukungan keluarga pada pasien hemodialisis.

Aspek-aspek yang digunakan untuk mengukur dukungan keluarga


36

adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan

penilaian/penghargaan, dan dukungan informasional. Hezlin Ivana

Marbun (2017) menggunakan kuisoner yang berjumlah 20

pertanyaan yang memenuhi aspek-aspek tersebut dan menggunakan

skala likert.

Tabel 2.3
Indikator Alat Ukur Dukungan Keluarga

No. Indikator No Pertanyaan Jumlah


1 Dukungan Instrumental 1,2,3,4,5 5
2 Dukungan Informasional 6,7,8,9,10 5

3 Dukungan Emosional 11,12,13,14,15 5


4 Dukungan Penilaian 16,17,18,19,20 5

Pada pengisian skala ini, sampel diminta untuk menjawab

pertanyaan yang ada dengan memilih salah satu jawaban dari

beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Skala ini menggunakan

skala model likert yang terdiri dari pernyataan dari empat alternatif

jawaban yaitu 1= tidak pernah, 2= kadang-kadang, 3= sering ,

4=selalu.

B. Penelitian Terkait

Penelitian ini mengangkat tema tentang hubungan dukungan keluarga

dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal (PGK) yang menjalani terapi

hemodialisis. Maka dari itu, penting untuk meninjau hasil-hasil penelitian

terdahulu yang berkaitan dengan variabel-variabel dalam studi ini, seperti

dukungan keluarga, kualitas hidup. Berikut adalah 3 penelitian yang relevan

dan berasal dari 5 tahun terakhir :


37

1. Ayu Inayatul Fadhilah. (2023)

Penelitian yang dia angkat berjudul, hubungan dukungan keluarga

dan tingkat pendapatan dengan kualitas hidup pasien yang menjalani

hemodialisis di RSI Sultan Agung Semarang. Dengan hasil penelitian

bahwa terdapat Nilai korelasi sebesar 0,537 dengan p value = 0.001

(p<0.05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga

dengan kualitas hidup. Pada tingkat pendapatan dengan kualitas hidup

nilai korelasi 0,431 dengan p value = 0,000 yang menunjukkan bahwa

ada hubungan antara dua variabel tersebut. Pada pasien hemodialisis,

dukungan keluarga dan tingkat pendapatan berhubungan dengan kualitas

hidup. Perawat memainkan peran penting dalam memberikan support

kepada pasien dan keluarga mereka.

2. Nessy Anggun P dan Safitri Dara (2022)

Penelitian ini berjudul Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas

hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa : literature

review.

Dengan hasil penelitian bahwa hubungan dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di

pengaruhi oleh empat komponen yaitu: dukungan informational yang di

berikan oleh keluarga dapat mempengaruhi kulitas hidup pada pasien

gagal ginjal kronik, dukungan penilaian atau penghargaan yang

didapatkan oleh pasien dari keluarga menunjukan suatu peningkatan


38

kualitas hidup dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan

dukungan,dukungan instrumental dapat kategori baik untuk kualitas

hidup pasien gagal ginjal kronik dimana pasien di dukung biaya

pengobatan dan lainya,dukungan emosional yang diberikan keluarga

berupa semangat,kehangatan dan bantuan emosional dapat meningkatkan

kulaitas hidup. Semakin tinggi dukungan keluarga maka akan semakin

meningkat kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang di pengaruhi

oleh beberapa faktor antara lain: faktor usia,faktor jenis kelamin, faktor

pendidikan, faktor perkawinan, faktor emosional, faktor spiritual, faktor

sosial ekonomi atau pengahasilan, faktor praktik keluarga dan faktor latar

belakang budaya dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pasien gagal

ginjal kronik yang menjalani hemodalisa.

3. Muhammad, I. dan Johan, B. (2022)

Penelitian ini berjudul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan

Kualitas Hidup Pasien Gagal ginjal Kronik Di RSUD Sekarwangi.

Dengan hasil penelitian bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal kronik

di Ruang Hemodialisa RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi tidak

mendapatkan dukungan dari keluarga dan memiliki kualitas hidup yang

baik. Dukungan keluarga mempunyai hubungan yang signifika dengan

kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik di Ruang Hemodialisa RSUD

Sekarwangi Kabupaten Sukabumi.


39

C. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan visualisasi hubungan antara berbagai variabel

untuk menjelasakan suatu fenomena, digambarkan dengan lengkap dan

menyuluruh dengan alur dan skema yang menjelaskan sebab akibat suatu

fenomena. Sumber kerangka teori adalah dari paparan 1 atau lebih teori yang

terdapat pada tinjauan pustka. Pemilihan teori dapat menggunakan salah satu

teori atau memodifikasi dari berbagai teori, selama teori yang dipilih relevan

dengan keseluruhan substansi penelitian yang akan dilakukan (Masturoh,

2018).

Chronic Kidney Dipengaruhi oleh : Bentuk Dukungan


Desease Keluarga :
Dukungan Keluarga
1. Dukungan Instrumental
2. Dukungan Informasional
3. Dukungan Emosional
Hemodaisis 4. Dukungan Penilaian
Kualitas Hidup

1. Fisik
2. Psikologis
3. Sosial
4. Lingkungan. Faktor yang mempengaruhi
dukungan keluarga :
Efek samping dan
komplikasi HD :
1. Faktor Internal : tahap
perkembangan
1. Hipertensi
pendidikan/ tingkat
2. Anemia
pengetahuan, faktor
3. Endocarditis
emosi, spiritual.
4. Kram
2. Faktor Eksternal :
5. Mual dan
praktik keluarga, faktor
Muntah
sosio, ekonomi, latar
6. Sakit Kepala
belakang budaya.

Sumber:Takesi, A (2023) ; Nessy, A (2022) ; Muhammad(2022).


40

Gambar 2.1
Kerangka Teori

Keterangan : : yang diteliti


: yang tidak ditelit

D. Kerangka Konsep

Kerangka hubungan antara konsep-konsep yang akan di ukur atau

diamati melalui penelitian yang akan dilaakukan. Diagram dalam kerangka

konsep harus menunjukan hubungan antara variabel-variabel yang akan

diteliti. Kerangka yang baik dapat memberikan informasi yang jelas kepada

peneliti dalam memilih desain penelitian (Masturoh, 2018). Kerangka konsep

penelitian ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Keluarga Kualitas Hidup

Gambar 2.2
Kerangka Konsep

E. Hipotesis

Hipotesis ini merupakan jawaban sementara berdasarkan pada teori yang

belum dibuktikan dengan data atau fakta. Pembuktian dilakukan dengan

pengujian hipotesis melalui uji statistik. Dalam hal ini hipotesis menjadi

panduan dalam menganalisis hsil penelitian. Hasil pengujian yang diperoleh

dapat disimpulkan benar atau salah, berhubungan atau tidak, diterima atau

ditolak.
41

Ha :

Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat

kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di

RS Graha Husada Lampung.

Ho :

Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara dukungan

keluarga dengan tingkat kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang

menjalani terapi hemodialisis di RS Graha Husada Lampung.


42

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah metode yang digunakan peneliti untuk melakukan

suatu penelitian yang memberikan arah terhadap jalannya penelitian.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, Penelitian kuantitatif adalah

jenis penelitian yang menggunakan pendekatan sistematis untuk

mengumpulkan dan menganalisis data dalam bentuk angka atau statistik.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis, menemukan

hubungan antar variabel, serta membuat generalisasi berdasarkan data yang

diperoleh dari sampel yang representatif terhadap populasi.

Menurut Sugiyono (2021), penelitian kuantitatif didefinisikan sebagai

metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan

untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengumpulan data

menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau

statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu penelitian

Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November hingga

Desember 2025.
43

2. Tempat

Tempat penelitian ini akan dilaksanakan di Unit Hemodialisis RS Graha

Husada Bandar Lampung.

C. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain Analitik dengan menggunakan

pendekatan Cross-Sectional.

Pendekatan cross-sectional adalah salah satu jenis pendekatan penelitian

kuantitatif non-eksperimental yang digunakan untuk mengetahui hubungan

atau pengaruh antar variabel dengan cara melakukan pengukuran hanya satu

kali pada satu waktu tertentu. Dalam pendekatan ini, peneliti tidak

memberikan perlakuan (intervensi), tetapi hanya melakukan observasi dan

pengukuran terhadap variabel-variabel yang diteliti secara bersamaan

(Sugiyono, 2021).

D. Subyek Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penellitian ini adalah semua pasien penyakit ginjal

kronik yang menjalani terapi hemodialisis secara rutin 2 (dua) kali

seminggu di Rumah Sakit Graha Husada sejumlah 55 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti, (Arikunto,

2019).
44

a. Besar Sampel

Besar sampel adalah jumlah subjek (responden) yang

diikutsertakan dalam suatu penelitian sebagai representasi dari

populasi (Sugiyono, 2021).

Dalam penelitian ini jumlah populasi adalah 55 orang,

sehingga sesuai dengan teori bahwa bila popualasi kurang dari 100

maka sebaiknya mengambil keseluruhan/ total populasi (Sugiyono,

2021), oleh karena itu besar sampel dalam penelitian ini adalah

seluruh pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RS Graha

Husada Bandar Lampung dan memenuhi kriteria inklusi dan

ekslusi yang dapat dijadikan subjek penelitian.

b. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk

menetukan sampel dalam penelitian, teknik pengambilan sampel

dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling, yaitu suatu

teknik pengambilan sampel sama dengan populasi karena jumlah

populasi yang kurang dari 100, seuluruh populasi dijadikan

responden (Sugiyono, 2021). Jadi sampel penelitian ini adalah

seluruh pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis

rutin di Rumah Sakit Graha Bandar Lampung.

c. Kriteria sampel

Kriteria sampel adalah syarat-syarat atau karakteristik tertentu

yang digunakan untuk menentukan siapa saja yang boleh (inklusi)


45

dan siapa saja yang tidak boleh (eksklusi) diikutsertakan dalam

penelitian (Sugiyono, 2021). Penetapan kriteria ini bertujuan untuk

memastikan bahwa sampel yang digunakan benar-benar

representatif terhadap populasi target, serta untuk mengurangi

variabel perancu yang dapat memengaruhi validitas hasil

penelitian.

Kriteria penelitian yang dipakai sebagai berikut :

1) Kriteria Inklusi :

f) Pasien HD berumur > 18 tahun

g) Telah menjalani HD > 3 bulan

h) Pasien tetap atau rutin HD 2x seminggu di RS Graha

Husada Bandar Lampung

i) Pasien yang tidak tinggal sendiri atau jauh dari keluarga

j) Pasien yang bersedia menjadi responden dengan

menandantangani surat persetujuan (informed consent).

2) Kriteria Eksklusi :

a) Pasien HD yang mengalami komplikasi intra dialisis

seperti kram dan hipertensi

b) Pasien yang mengalami penurunan kesadaran

c) Pasien yang tidak kooperatif dan tidak komunikatif

d) Pasien yang di rawat inap di RS Graha Husada Bandar

Lampung.
46

E. Variabel Penelitian

Variabel adalah suatu atau bagian dari individu yang dapat diukur (swarjan,

2015). Dalam penelitian ini memiliki 2 (dua) variabel, yaitu :

1. Variabel Independen (bebas)

Adalah variabel yang menyebabkan adanya suatu perubahan terhadap

variabel yang lain, variabel independen dalam penelitian ini adalah

dukungan keluarga.

2. Variabel Dependen

Merupakan variabel yang mengalami perubahan sebagai akibat dari

perubahan variabel independen, variabel dependen dalam penelitian ini

adalah kualitas hidup.

F. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional merupakan uraian detail mengenai variabel yang

diteliti, mencakup cara pengukuran, instrumen yang digunakan, serta

indikator yang menjadi acuan. Definisi ini memberikan gambaran jelas

mengenai langkah-langkah teknis dalam mengukur variabel agar penelitian

dapat dilakukan secara sistematis dan konsisten (Masturoh, 2018).


47

Tabel 3.1
Defenisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
Dependent Persepsi pasien Kuesioner Mengisi kuisoner 1. Kurang : Ordinal
Dukungan terhadap dukungan dengan 20 20-40
Keluarga perhatian, keluarga Hezlin pertanyaan
bantuan, dan Ivana Marbun, 2. Cukup :
keterlibatan 2017 (modifikasi 41-60
keluarga dalam dari teori
mendukung Fredman, 1998) 3. Baik : 61-
proses 80
pengobatan
penyakit gagal
ginjal kronik.
Independent Persepsi pasien Kuisoner Mengisi kuisoner 1. Buruk : 0- Ordinal
Kualitas mengenai WHOQOL- dengan 26 25
Hidup kondisi fisik, BREFF pertanyaan 2. Cukup :
psikologis, 26-50
sosial, dan 3. Baik : 51-
lingkungan 75
selama menjalani 4. Sangat
terapi gagal baik : 76-
ginjal kronik. 100

G. Instrumen Penelitian

1. Instrumen

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan peneliti untuk

mengumpulkan data. Alat instrumen yang akan dihgunakan dalam

penelitian ini adalah kuisoner yang berisi sejumlah pertanyaan terkait

dengan variabel yang akan diteliti :

a. Variabel kualitas hidup peneliti mengadopsi kuisoner WHOQOL-

BREFF (Meiliana, 2020) yang terdiri dari empat domain : interaksi

fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dan total 26 pertanyaan

kuisoner. Masing-masing memiliki pilihan jawaban dan skor dari 1

samapi 5. Skor dimensi dihitung dengan Skor dimensi dihitung


48

dengan menggunakan skor rata-rata pada setiap dimensi. Dengan

menggunakan prosedur dalam buku pegangan pengguna WHOQOL

skor dimensi dikalikan empat dan diterjemahkan ke dalam skala 0-

100 (arah positif) (World Health Organization, 1998) : Transformed

score = (SCORE − 4) × 100 / 16

b. Variabel dukungan keluarga, diperoleh dari penelitian sebelumnya

oleh (Hezlin Ivana Marbun, 2017) yang digunakan dalam

penelitiannya untuk mengetahui dukungan keluarga pada pasien

hemodialisis. Kuisoner ini menggunakan skala Likert terdiri dari 20

pertanyaan.

2. Uji Validitas

Prinsip validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti

keterandalan instrumen dalam mengumpulkan data (Nursalam, 2015). Uji

validitas digunakan untuk mengukur instrumen yang akan digunakan

dalam pengumpulan data. Pernyataan dinyatakan valid karena diperoleh r

hitung > r tabel (Masturoh, 2018).

a. Dukungan Keluarga

Berdasarkan hasil uji validitas dalam penelitian yang dilakukan

(Hezlin Ivana Marbun, 2017) didapatkan nilai r = 0,97 sehingga alat

ukur ini dinyatakan valid.

b. Kualitas Hidup

Berdasarkan hasil uji validitas yang dilakukan oleh Nurcayati (2011)

dalam versi Bahasa Indonesia WHOQOL-BREF yang dibuat oleh


49

tim dari World Health Organization didapatkan nilai r = 0,390-0,798,

sehingga alat ukur ini dinyatakan valid.

3. Uji Reliabilitas

Reliabilitas yaitu kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan jika

kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang

berbeda (Nursalam, 2015). Uji reliabilitas instrumen penelitian

merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui dapat atau tidaknya

suatu kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian.

Analisis Alpha Cronbach digunakan dalam uji reliabilitas penelitian ini.

Jika suatu variabel memiliki nilai Alpha Cronbach >0,60 maka dapat

disimpulkan bahwa variabel tersebut dapat dikatakan reliabel atau

konsisten dalam mengukur (Putri, 2015).

a. Uji reliabilitas instrument penelitian dukungan keluarga yang

dilakukan oleh Hezlin Ivana Marbun (2017) didapatkan nilai

cronbach’s alpha = 0,85.

b. Uji reliabilitas instrument penelitian kualitas hidup pada

kuesioner WHOQoL-BREF versi Indonesia oleh Nurcayati

(2011) nilai cronbach’s alpha sebesar α= 0, 941 sehingga

pertanyaan dikatakan reliabel.

H. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yaitu teknik yang digunakan untuk

mengumpulkan data, metode menunjukkan suatu cara sehingga dapat

diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, observasi, tes,


50

dokumentasi dan sebagainya. Pendekatan pengumpulan data penelitian ini

yaitu kuesioner dengan metode skala untuk menilai variabel yang akan

diteliti. Dalam penelitian ini digunakan kuesioner dengan skala model Likert.

Responden diminta untuk mengungkapkan pemikirannya terhadap pertanyaan

atau pernyataan dengan menyetujui atau tidak setuju dengan tingkat

persetujuan (1 - 5) terhadap pernyataan yang telah disiapkan peneliti

(Nursalam, 2020).

1. Sumber data

a. Data primer

Peneliti mendapatkan atau mengumpulkan data secara langsung dari

sumber data. Data primer disebut juga dengan data asli dan terkini.

(Masturoh & Anggita, 2018). Pada penelitian ini data primer

diperoleh dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada pasien

yang menjalani hemodialisis di RS Graha Husada Bandar Lampung.

b. Data sekunder

Data yang peneliti peroleh dari berbagai sumber. Data sekunder

dapat diperoleh dari surat kabar, perusahaan, laporan dan lain-lain

(Masturoh & Anggita, 2018). Pada penelitian ini tidak menggunakan

data sekunder.

2. Proses Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan di ruang hemodialisa RS Graha Husada

Bandar Lampung dengan proses sebagai berikut:


51

a. Memproses surat lamaran yang ditujukan kepada Direktur Utama RS

Graha Husada Bandar Lampung dari Fakultas Ilmu Keperawatan

Universitas Aisyah Pringsewu.

b. Setelah mendapat surat izin penelitian, peneliti bekerja sama dengan

perawat instalasi hemodialisis untuk mengidentifikasi calon

responden. Peneliti menyapa calon responden berdasarkan kriteria

dan menjelaskan tujuan, manfaat, dan proses penelitian.

c. Responden diberikan informed consent untuk ditandatangani oleh

peneliti.

d. Peneliti memberikan penjelasan mengenai cara pengisian kuesioner.

e. Pengisian kuesioner didampingi oleh peneliti dan diberikan waktu

masing-masing 15-20 menit.

f. Setelah menjawab semua pertanyaan kuesioner, peneliti

mengumpulkan dan memeriksa kembali keakuratan data.

g. Data dikumpulkan, diolah, dan dianalisis oleh peniliti.

I. Pengolahan Data

Analisis data yaitu tahapan dalam penelitian kuantitatif yang terjadi setelah

semua data terkumpul dari seluruh responden. Analisis data digunakan untuk

mengorganisir data berdasarkan variabel dan kategori responden, tabulasi

data dari seluruh responden berdasarkan variabel, menampilkan data tiap

variabel, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan

mengevaluasi hipotesis yang diberikan (Sugiyono, 2021).

1. Pengolahan Data
52

a. Editing

Editing yaitu proses memeriksaan data yang dikumpulkan selama

proses penelitian, editing data digunakan untuk mengeliminasi data

yang kurang lengkap (Budiarto, 2012; Notoatmodjo,2012).

b. Coding

Coding yaitu pemberian kode untuk mempermudah dalam tabulasi

data (Swarjana, 2016).

c. Entry Data

Entry data adalah proses yang digunakan untuk pemrosesan analisis

data yang telah diperoleh (Kartika, 2017). Dalam penelitian ini data

diproses menggunakan aplikasi SPSS untuk mendapatkan hasil dari

penelitian ini.

d. Cleaning

Cleaning adalah proses pengecekan kembali data yang sudah di entry

untuk meminimalisir kesalahan (Kartika, 2017).

e. Tabulasi (Tabulating)

Data disusun dari data mentah, kemudian disusun dan ditampilkan

dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.

2. Analisa Data

Proses menyusun secara cermat data yang diterima dari angket dan

observasi dengan mengkategorikan data ke dalam kategori-kategori, ke

dalam unit-unit dan melakukan sintesa. (Nursalam, 2015).


53

a. Analisa univariat

Analisa univariat yaitu analisis deskriptif dimana temuan pengolahan

data disajikan dalam bentuk penjelasan ilmiah data dalam bentuk

tabel atau grafik (Nursalam, 2015). Analisa Univariat dilakukan

untuk tiap variabel dengan hasil penelitian guna untuk mengetahui

hasil distribusi pada frekuensi dengan cara melihat presentase pada

masing-masing variabel (Arikunto, 2019). Analisa ini digunakan

dalam menjelaskan masing-masing variabel yang akan diteliti

meliputi karakterisktik responden pada pasien yang menjalani HD di

RS Graha Husada Bandar Lampung.

b. Analisa bivariat

Menghubungkan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel

terikat (Arikunto, 2019). Dalam analisa bivariat yang dihubungkan

yaitu dukungan keluarga dengan kualitas hidup. Peneliti akan

menggunakan uji lambda pada variabel dukungan keluarga dengan

kualitas hidup karena berupa data ordinal dengan nominal. Disini

peneliti menggunakan uji Chi-Square guna menilai ada tidaknya

korelasi antar variabel dan dilakukan dengan menggunakan sistem

komputerisasi.

Dengan mengacu pada interval kepercayaan (CI) 95% dan tingkat

signifikansi (α) sebesar 0,05, apabila nilai ρ-value < 0,05, maka

hipotesis nol (Ho) akan di tolak. Ini menunjukan bahwa statistik,

terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Sebaliknya, jika


54

nilai ρ-value > 0,05, maka akan Ho di terima, yang menunjukkan

bahwa secara statistik, tidak ada hubungan yang signifikan antara

kedua variabel tersebut (Norfai, 2021).

J. Etika Penelitian

1. Informed Consent

Sebelum penelitian, maka responden akan diberikan lembar persetujuan.

Jika calon responden menolak maka peneliti harus menghormati hak

pasien. Pada pennjelitian ini terdapat 1 pasien yang menolak menjadi

responden, sehingga peneliti harus menerima keputusan pasien.

2. Anonymity

Penelitian ini tidak mencantumkan identitas responden dan hanya

mencantumkan kode pada lembar pendataan atau hasil penelitian yang

akan ditampilkan.

3. Confidenatiality

Hanya kelompok data terpilih yang akan terungkap dalam hasil

penelitian, karena peneliti menjamin kerahasiaan semua informasi yang

diperoleh.

4. Justify

Peneliti tidak membeda-bedakan responden karena semuanya memiliki

karakteristik yang berbeda. Peneliti memperhatikan responden dengan

sikap adil dalam menentukan reponden sesuai kriteria yang sudah

ditentukan serta penelitian ini memberikan souvenir yang sama kepada

seluruh responden.
55

K. Jalannya Proses Penelitian

Proses penelitian ini merupakan urutan karya atau langkah-langkah yang

dilakukan selama penelitian dari awal hingga berakhir. Jalannya penelitian

yang dilakukan dalam penelitian ini pada dasarnya adalah sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap persiapan yaitu :

a) Pengajuan izin penelitian ke institusi pendidikan dan rumah sakit

tempat penelitian.

b) Melakukan pra survey

c) Pemilihan masalah dan membuat rumusan masalah

d) Penyusunan dan pengumpulan proposal penelitian proses bimbingan

e) Penyusun skala dan instrument penelitian

f) Presentasi proposal penelitian

2. Tahap Pelaksanaan

Proses dimana pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan

langkah-langkah :

a) Meminta surat izin dari institusi

b) Membuat surat persetujuan responden

c) Menyerahkan surat ke tempat penelitian

d) Mengumpulkan data dengan cara :

1) Mengajukan surat permohonan menjadi responden dengan

menjelaskan maksud dan tujuan dilakukan penelitian


56

2) Memberikan surat informed consent kepada respoonden yang

bersedia untuk diisi terlebih dahulu

3) Membacakan isi kuisoner dukungan keluarga dan kualitas hidup

kepada responden.

Karena di ruang HD jadwal pasien sudah rutin 2x seminggu, senin-

kamis, selasa-jumat, rabu-sabtu, 2 shift perharinya sehingga

memudahkan peneliti untuk mengambil data dari rsponden selama 1

minggu. Dengan skema shift pagi 11 pasien, sementara shift siang

6-9 pasien setiap harinya.

e) Pengolahan data melalui :

1) Penyuntingan data (Editing)

2) Memberikan kode (coding)

3) Memasukkan data (entry)

4) Mengecek kembali data (cleaning)

f) Penyusunan hasil penelitian

g) Proses bimbingan

h) Sidang hasi
57

LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2019). Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara, x, 259.


Arisandy, T., & Carolina, P. (2023). Hubungan Dukungan Keluarga dengan
Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik ( GGK ) yang Menjalani Terapi
Hemodialisa The Correlation of Family Support with Quality of Life of
Choronic Kidney Failure ( CRF ) Patients on Those Undergoing
Hemodialysis Thera. Jurnal Surya Medika, 9(3), 32–35.
Fadhilah, A. I. (2023). Hubungan dukungan keluarga dan tingkat pendapatan
dengan kualitas hidup pasien hemodialisis di rsi sultan agung semarang.
Farid, H., & Mulyaningsih. (2023). HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA
TERHADAP KEPATUHAN DIET CAIRAN PASIEN DI UNIT
HEMODIALISA. babul ilmi_jurnal ilmiah multi science kesehatan, 15(2),
1–13.
Inayati, A., Hasanah, U., & Maryuni, S. (2020). FAMILY SUPPORT WITH
QUALITY OF LIFE CHRONIC KIDNEY FAILURE PATIENTS
UNDERSTANDING. Wacana Kesehatan, 5(2), 588–595.
Kazi, A. M., & Hashmi, M. F. (2023). Glomerulonephritis. StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan. 2023 Jun 26.
[Link] 32809479 Bookshelf ID: NBK560644
Kemenkes. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana
Penyakit Ginjal Kronik. 1–289.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). (2024). KDIGO 2024
Clinical Pratice Guideline for Evaluation Management of Chronic Kidney
Desease. [Link]
Lampung, dinkes provinsi. (2023). pravalensi penyakit gagal ginjal.
Manalu, N. V. (2020). DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KUALITAS
HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI
TERAPI DI RS ADVENT BANDAR LAMPUNG. Jurnal Health Sains This.
Mandala, M. A. (2020). HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN KUALITAS
HIDUP PASIEN HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT GRAHA HUSADANo
Title.
Masturoh, L. (2018). Metodologi Penelitian: Teori dan Praktik. Yogyakarta:
Deepublish.
Muhammad Idzharrusman, & Johan Budhiana. (2022). HUBUNGAN
DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN
GAGAL GINJAL KRONIK RSUD SEKARWANGI. Jurnal Keperawatan
BSI, 10(1), 61–69.
Murdeshwar, H. N., & Anjum, F. (2023). Hemodialysis. In StatPearls [Internet]
(hal. 1 of 33). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls
Publishing; 2025 Jan. 2023 Apr 27. [Link] 33085443
Bookshelf ID: NBK563296
National Kidney Of Foundation Indonesia. (2023a). Chronic Kidney Disease
(CKD). Chronic Kidney Disease (CKD). [Link]

11
12

topics/chronic-kidney-disease-ckd
National Kidney Of Foundation Indonesia. (2023b). hemodialisis. Perawatan
Penyakit Ginjal Kronik. [Link]
Ngantung, B. S. K. (2020). HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN
KECEMASAN MENGAHADI KEMATIAN PADA LANSIA YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT PERKEBUNAN JEMBER
KLINIK.
Nice, N. I. for H. and C. E. (2021). Nice guideline. November 24, 2021.
[Link]
Panjaitan, B. S., & Perangin-angin, M. A. br. (2020). Hubungan dukungan
keluarga dengan kualitas hidup lansia. Klabat Journal of Nursing, 2(2), 35–
43.
PAPDI. (2024). Konsensus Sindrom Kardivaskular renal metabolik.
[Link] Sindrom Kardiovaskular-Renal-
[Link]
Permana, R. S. M., & Suzan, N. (2023). Peran komunikasi dalam konteks
hubungan keluarga. 5(1), 43–49.
Pernefri. (2022). Indonesian Renal Registry Annual Report 2022.
[Link]
Primasari, N. A., & Dara, S. (2022). PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISA : LITERATURE REVIEW. Prosiding
Seminar Informasi Kesehatan Nasional (SIKesNas).
[Link], S., & Aeddula, N. R. (2024). Chronic Kidney Disease. Chronic Kidney
Disease. In StatPearls. StatPearls Publishing. [Link]
30571025 Bookshelf ID: NBK535404
Siregar, W. M., Tanjung, D., & Elmeida Effendy. (2022). quasy experimental
non-equivalent control group pretest- postest design. 4, 428–438.
[Link]
Sugiyono. (2021). Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D.
Metodologi Penelitian.

Anda mungkin juga menyukai